PROPOSAL PENELITIAN
KUALITAS NUTRIEN LEGUM SIRATRO (Macroptilium atropurpureum)
YANG DIBERI PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS BONGGOL PISANG
PADA LEVEL YANG BERBEDA
OLEH:
FERDINANDUS PETRUS DOU
192388031
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PAKAN TERNAK
JURUSAN PETERNAKAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG
2022
HALAMAN PENGESAHAN
KUALITAS NUTRIEN LEGUM SIRATRO (Macroptilium atropurpureum)
YANG DIBERI PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS BONGGOL PISANG
PADA LEVEL YANG BERBEDA
OLEH:
FERDINANDUS PETRUS DOU
192388031
Kupang, …………..2022
Menyetujui
Pembimbing Utama Pembimbing Anggota
Dosen Dosen
NIP. NIP.
Mengesahkan
Ketua Jurusan Peternakan Ketua Program Studi
Aholiab Aoetpah., [Link]., [Link], Ph.D. Dr. Cytske Sabuna, [Link]., [Link].
NIP. 19700821 199703 1 001 NIP. 19690823 200501 2 001
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian
dengan judul “KUALITAS NUTRIEN LEGUM SIRATRO (Macroptilium
atropurpureum) YANG DIBERI PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS
BONGGOL PISANG PADA LEVEL YANG BERBEDA”. Penulis sangat
menyadari bahwa proposal penelitian tidak mungkin diselesaikan tanpa
bantuan, bimbingan, uluran kasih, dan dorongan semangat yang penulis terima
dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis dengan rendah hati mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. selaku pembimbing utama
2. selaku pembimbing anggota yang telah meluangkan waktu dan pikiran
untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan proposal
penelitian.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan, oleh karena itu
penulis menyampaikan permohonan maaf kepada setiap pembaca apabila
dalam membaca proposal penelitian ini menemukan kekeliruan dalam
penulisan. Penulis mengharapkan setiap kritikan, saran dan masukan dari
pembaca yang bersifat membangun demi penyempurnaan proposal penelitian
ini. Penulisan proposal penelitian ini terlaksana dengan baik karena berkat
dukungan dan bantuan dari berbagai [Link] proposal penelitian ini
bermanfaat.
Terima Kasih.
Kupang, .......... 2022
Penulis
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................3
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................3
1.4 Manfaat Penelitian ..............................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................4
2.1 Potensi Tanaman Siratro (macroptilium atropurpureum) Sebagai
Pakan Ternak ......................................................................................4
2.2 Pupuk Organik Cair ............................................................................6
2.3 Potensi Bonggol Pisang (Musa acuminate) Sebagai Materi Pupuk
Organik Cair (POC) ............................................................................7
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................9
3.1 Lokasi dan Waktu ...............................................................................9
3.2 Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian ............................9
3.3 Parameter yang Dianalisis ................................................................10
3.4 Hipotesis ...........................................................................................12
3.5 Prosedur Kerja ..................................................................................12
3.6 Rancangan Penelitian ........................................................................14
3.7 Analisis Data .....................................................................................14
3.8 Rancangan Kegiatan .........................................................................14
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................15
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan curah hujan dan hari hujan, wilayah Nusa Tenggara Timur
(NTT) memiliki curah hujan yang rendah dan hari hujan yang pendek,
menyebabkan NTT menjadi wilayah beriklim kering dengan empat bulan basah
pada bulan Desember-Maret dan delapan bulan kering, bahkan pada bulan
Agustus-September sering tidak turun hujan (BPS NTT 2014). Kondisi wilayah
NTT yang beriklim kering ini mengakibatkan musim kemarau lebih panjang
jika dibandingkan dengan musim hujan. Keadaan ini berpengaruh terhadap
ketersediaan serta kualitas dari hijauan terutama rumput-rumputan yang ada di
NTT sebagai pakan ternak utama ternak ruminansia. Untuk mengatasi
rendahnya ketersediaan dan kualitas dari rumput-rumputan ini maka
penggunaan hijauan jenis leguminosa perlu dilakukan. Salah satu hijauan
leguminosa yang bisa digunakan adalah legume siratro (macroptilium
atropurpureum). Meskipun penggunaanya belum terlalu signifikan, namun
penggunaan tanaman ini bermanfaat juga untuk ternak.
Tanaman siratro (macroptilium atropurpureum) merupakan tanaman yang
dapat tumbuh bersama rumput tanpa menekan pertumbuhan rumput. Tanaman
siratro memiliki bunga berbentuk tabung dengan warna ungu tua dan merah di
dekat dasar bunga. Tanaman siratro juga dapat meningkatkan kualitas hijauan
terutama pada kandungan protein kasar 16.60% pada umur 4 minggu. Produksi
bahan keringnya sebesar 1,60– 2,37 ton/ha/tahun. Kelebihan dari tanaman
siratro adalah memiliki kemampuan menghasilkan biji yang banyak (Putra, dkk.
2021).
Kualitas tanaman siratro perlu dipertahankan, untuk itu kandungan unsur
hara untuk tanaman harus selalu tersedia. Salah satu cara agar unsur hara tetap
tersedia maka dilakukan pemupukan. Tujuan dari pemupukan ialah untuk
memenuhi nutrisi berupa unsur hara yang dibutuhkan tanaman agar tanaman
tumbuh secara optimal dan menghasilkan tanaman dengan kualitas yang baik.
1
Pemupukan yang biasa diberikan adalah melalui daun dan pemupukan melalui
tanah pada akar tanaman. Pupuk yang sering digunakan dalam pemupukan
adalah pupuk kimia yang dibuat di pabrik dengan berbagai bahan kimia seperti
urea, phonska dan lain-lain.
Menurut Lingga dan Marsono (2008), pemberian pupuk kimia dapat
merangsang pertumbuhan khususnya batang, cabang dan daun serta berperan
dalam pembentukan klorofil. Namun, penggunaan pupuk kimia dapat
meninggalkan residu yang berpengaruh terhadap kesuburan biologis maupun
kondisi fisik tanah, tanaman serta masalah lingkungan lainnya. Untuk
mengurangi dampak penggunaan pupuk kimia maka pemupukan dapat
dilakukan dengan menggunakan pupuk organik, salah satunya adalah pupuk
organik cair.
Pupuk organik cair (POC) merupakan jenis pupuk yang mudah larut dan
berbentuk cair serta terdapat unsur hara penting bagi pertumbuhan tanaman.
Pupuk organik cair mempunyai kelebihan diantaranya, mengandung
mikroorganisme yang jarang ditemukan dalam pupuk organik padat (Syafani
dan Lilia, 2003). Hudisuwito (2007) menyatakan bahwa POC merupakan
larutan hasil pembusukan bahan organik yang berasal dari kotoran hewan dan
sisa tanaman dengan kandungan unsur haranya lebih dari satu. Kelebihan pupuk
organic cair ialah mampu mengatasi defisiensi hara, tidak bermasalah dalam
pencucian hara dan mampu menyediakan hara.
Bonggol pisang sebagai limbah dari tanaman pisang dapat digunakan
sebagai bahan pembuatan POC, karena mengandung mikroba pengurai bahan
organik yang terletak di bagian dalam ataupun dibagian luar dari bonggol pisang
(Suhastyo, 2011). Selain itu, menurut Bahtiar dkk., (2016) menyatakan bahwa
bonggol pisang banyak mengandung unsur hara seperti kalsium (𝐶𝑎), nitrogen
(𝑁), phospor (𝑃), dan kalium (𝐾). Wea (2018) dalam Kae (2021), melaporkan
bahwa POC berbahan bonggol pisang dosis 300 𝑚𝑙 dalam 1000 𝑚𝑙 air
merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan tinggi batang okra merah dan
meningkatkan jumlah daun okra merah. Sejauh ini belum ada rekomendasi
tentang penggunaan POC berbasis bonggol pisang terhadap kualitas nutrien
2
tanaman siratro (macroptilium atropurpureum), karena itu dilakukan penelitian
dengan judul “Kualitas Nutrien Legum Siratro (macroptilium atropurpureum)
yang diberi Pupuk Organik Cair Berbasis Bonggol Pisang pada Level yang
Berbeda”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh pemberian pupuk organik
cair (POC) berbasis bonggol pisang (musa acuminate) pada level yang
berbeda terhadap kualitas nutrient legume siratro (macroptilium
atropurpureum)?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengevaluasikan kualitas
nutrient dari tanaman siratro (macroptilium atropurpureum) yang diberi
Pupuk Organik Cair (POC) berbasis bonggol pisang (musa acuminate) pada
level yang berbeda.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini antara lain:
1. Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan kemampuan untuk memanfaatkan dan
pengaplikasikan pupuk organik cair berbasis bonggol pisang pada
tanaman.
2. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi tentang manfaat pupuk organic cair berbasis
bonggol pisang bagi pertumbuhan dan kualitas tanaman.
3. Bagi Lembaga
Sebagai sumber informasi dan bahan pembelajaran bagi peneliti
lainnya.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Potensi Tanaman Siratro (macroptilium atropurpureum) Sebagai
Pakan Ternak
Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman atau
tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga
(Utomo, 2012). Bahan makanan hijauan memegang peranan istimewa, karena
bahan tersebut diberikan dalam jumlah yang besar. Sebagian besar pakan
ruminansia adalah bahan pakan yang berserat tinggi dengan kecernaan rendah,
oleh karena itu harus diusahakan agar ternak sebanyak mungkin mengkonsumsi
makanan untuk mencukupi kebutuhannya akan zat-zat makanan (Mc Donald et
al., 2002).
Rumput alam pada umumnya memiliki mutu dan produksi yang rendah.
Penanaman campuran rumput unggul dan leguminosa memungkinkan daya
tampung lahan menjadi 5-10 kali lebih tinggi serta dapat memperbaiki tingkat
kesuburan tanah dan air tanah (Reksohadiprodjo, 1981). Tanaman Siratro
(macroptilium atropurpureum) adalah leguminosa penting sebagai sumber
protein dan mineral untuk ternak ruminansia serta dapat tumbuh baik pada
daerah basah dan kondisi kering. Tanaman ini memiliki perakaran yang dalam
dan biasanya tahan dengan penggembalaan berat (Congdon dan Addison, 2003).
Gambar 1. Tanaman Siratro (macroptilium atropurpureum)
4
Klasifikasi Siratro (macroptilium atropurpureum) dalam urutan
taksonnya adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Plantae
Ordo : Fabales
Subfamily : Faboideae
Suku : Phaseoleae
Subtribe : Phaseolinae
Genus : Macroptilium
Spesies : Macroptilium atropurpureums
Sajimin et al. (2010) menyatakan bahwa siratro (macroptilium
atropurpureum) merupakan jenis leguminosa herbal dan termasuk tanaman
serbaguna yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan memfiksasi N 2
yang akan diubah menjadi N tersedia yang akan digunakan oleh tanaman itu
sendiri bahkan dapat memberikan sumbangan hara pada tanah. Lebih lanjut
Yutono (1982) menegaskan bahwa tanaman siratro adalah jenis legum yang
sering digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya bakteri rhizobium dalam
tanah.
Menurut Husin (2012), siratro (macroptilium atropurpureum) merupakan
jenis tanaman tahunan dengan sistem perakaran yang dalam dan batang
membelit, menjalar dan memanjat. Utomo (2012) menyatakan bahwa tanaman
siratro merupakan legum perennial, tumbuh merayap, dari buku batangnya dapat
tumbuh akar. Daun siratro trifoliat bagian atas berwarna hijau tua dan bagian
bawah berbulu dengan warna putih perak.
Tanaman siratro (macroptilium atropurpureum) merupakan tanaman
tahunan dengan akar tunggang besar yang dalam dan batang membelit, menjalar
dan memanjat. Batang pada tanaman lebih tua berserat, diameter lebih besar dari
5 mm, dan batang yang lebih muda berdiameter sekitar 1-2 mm, kadang-kadang
membentuk nodul akar pada kondisi yang ideal. Daun berdaun tiga (trifoliate),
helai daun memanjang 2-7 × 1, 5-5 cm, hijau tua dan berbulu halus pada
permukaan atas, berwarna hijau abu. Bunga berbentuk tabung, panjang 8-9 mm,
5
dan lebar 3 mm, berwarna ungu tua dengan merah di dekat dasar bunga. Buah
polong lurus, panjang 5-10 cm, diameter 3-5 mm, mengandung sampai 12-15
biji. Buah polong akan menyebar ketika masak. Biji berbentuk bulat, coklat
muda sampai hitam, bulat pipih, 4 x 2, 5 x 2 mm, 75.000 biji/kg.
Tanaman ini utamanya digunakan sebagai padang gembala jangka pendek
dan permanen, tanaman ini juga dapat digunakan untuk cut and carry dan
membuat hay (biasanya bersama rumput), sifatnya yang saling membelit
mungkin akan menyulitkan panen, juga digunakan sebagai penutup tanah.
Nilainya sebagai sumber protein pada musim kering berkurang karena
kecenderungannya untuk menggugurkan daun pada kondisi yang sangat kering
(Hindriwati,2012).
2.2 Pupuk Organik Cair
Pupuk organic cair (POC) adalah pupuk yang berupa larutan hasil dari
pembusukan bahan-bahan organik. Pupuk cair dapat dimanfaatkan sebagai
aktivator untuk pembuatan kompos (Lingga dan Marsono, 2008). Pupuk organik
cair dapat dibuat dari beberapa jenis sampah organik yaitu sampah sayur baru,
sisa sayuran basi, sisa nasi, sisa ikan, ayam, kulit telur, sampah buah-buahan dan
lain-lain (Hadisuwito, 2007). Menurut Huda (2013), pupuk cair mengandung
hara mikro dan makro antara lain; nitrogen (N), phospor (P), sulfur (S), kalsium
(Ca), magnesium (Mg), dan bahan organik. Manfaatnya yaitu mendorong dan
meningkatkan pembentukan klorofil daun sehingga meningkatkan kemampuan
fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, meningkatkan daya
tahan tanaman terhadap kekeringan, merangsang pertumbuhan cabang produksi,
meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah dan mengurangi gugurnya
daun, bunga dan bakal buah.
Wenda (2017) menjelaskan bahwa aplikasi pupuk organik cair secara
langsung pada tanah mampu memperbaiki struktur tanah yang rusak dan
mikroba serta bakteri yang terkandung di dalam pupuk organik cair mampu
mengikat zat-zat yang dibutuhkan tanah dan mengembalikan kesuburan tanah
serta mampu menggemburkan tanah. Tanah yang gembur membantu
pertumbuhan akar dan mempermudah akar untuk menyerap zat-zat yang
6
dibutuhkan tanaman sehingga mampu meningkatkan produktivitas dari
tanaman.
Triyanto dan Maharani (2019) merekomendasikan pembuatan POC
berbahan bonggol pisang dengan jumlah bahan yang digunakan adalah bonggol
pisang 1 kg, EM4 2 tutup botol atau sama dengan 20 cc, gula merah 2 ons, air
beras 2liter yang difermentasikan selama 4-7 hari. Ketika digunakan untuk
pemupukan, POC tersebut dicampurkan bersama air dengan perbandingan 1:100
dengan dosis 500 ml/tanaman yang dilakukan 1 atau 2 minggu sekali.
2.3 Potensi Bonggol Pisang (Musa acuminate) Sebagai Materi Pupuk
Organik Cair (POC)
Bonggol pisang merupakan bagian dari tanaman pisang yang terletak pada
bagian bawah batang pisang yang mengembung seperti umbi. Di dalam bonggol
pisang terdapat zat pengatur tumbuh giberelin dan sitokinin. Dalam bonggol
pisang juga terdapat 77 mikrobia yang sangat berguna bagi tanaman. Mikrobia
tersebut ialah Azosprillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus,
mikrobia pelarut fosfat dan mikrobia selulotik yang dapat dimanfaatkan sebagai
pupuk cair (Maspary, 2012).
Suhastyo (2011) melaporkan bahwa bonggol pisang kepok mengandung
mikrobia pengurai bahan organik. Mikrobia pengurai tersebut terletak pada
bonggol pisang bagian dalam dan mikrobia pada bonggol pisang kapok akan
bertindak sebagai dekomposer bahan organik yang akan dikompos. Menurut
Setianingsih (2009), mikrobia pada bonggol pisang kapok berperan dalam masa
pertumbuhan vegetatif tanaman dan tanaman toleran terhadap penyakit. Kadar
asam fenolat yang tinggi membantu pengikatan ion-ion aluminium (Al), besi
(Fe) dan Ca sehingga membantu ketersediaan P pada tanah yang berguna pada
proses pembungaan dan pembentukan buah. Makmur dan Magrifa (2018),
melaporkan bahwa POC berbahan bonggol pisang dengan dosis 50 -90 ml/liter
air memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan cabai merah dimana
parameter cabang produktif berpengaruh nyata pada perlakuan 50 ml nilai rata-
rata tertinggi 21 unit, sedangkan umur berbunga paling cepat pada perlakuan 50
ml dengan nilai HST dan paling lambat pada perlakuan 90 ml dengan nilai rata-
7
rata 37,8 hari. Parameter rata-rata jumlah buah dan berat buah berpengaruh tidak
nyata dengan memberikan rata-rata tertinggi pada 50 ml dengan nilai 30 buah
dan 80 ml pada bobot berat buah dengan nilai 187 gr per pohon setiap polybag.
Menurut Suhastyo (2011), di dalam bonggol pisang terkandung C/N 2,2,
Fe 0,09 ppm dan Mg 800 ppm. Unsur kimia tersebut sangat berpengaruh
terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman khususnya pembentukan daun. Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian Subhan (2004), bahwa kandungan Mg sangat
berperan pada pembentukan daunhasil fotosintesis dan mempengaruhi warna
daun yang lebih hijau.
8
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kebun Hijauan Makanan Ternak
Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Penelitian ini akan berlangsung selama 2
bulan.
3.2 Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian
1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Timbangan pegas merk camry berkapasitas 10 kg dengan
kepekaan 0,5 kg untuk menimbang tanah.
b. Timbangan digital merk camry kapasitas 5 kg dengan skala
terkecil 1 gr yang digunakan untuk menimbang sampel.
c. Legume siratro untuk diuji lanjut kandungan nutrisinya.
d. Cangkul, digunakan untuk membersikan lahan sebagai
tempat penyimpanan polybag.
e. Jangka sorong yang digunakan untuk mengukur diameter pada
batang tanaman hijauan siratro
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu biji tanaman siratro
(macroptilium atropurpureum), tanah, POC bonggol pisang 10 kg, air
cucian beras 3 liter, gula pasir 2 kg, EM4 700 ml, dan air.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain bonggol pisang
kepok bagian dalam yang setelah di panen hasil pokoknya, air cucian
beras sebagai sumber hara, EM4 sebagai bahan untuk mempercepat
fermentasi bahan organik, gula merah sebagai sumber nutrisi untuk
mikroba dalam proses fermentas biji tanaman siratro (macroptilium
atropurpureum), lakban, polybag.
9
3.3 Parameter yang Dianalisis
Parameter yang akan dianalisis antara lain:
1. Kadar Bahan Organik
Bahan organic adalah bahan yang hilang setelah pembakaran pada suhu
105⁰C, sedangkan sisa berupa abu (mineral) yang merupakan hasil dari
pembentukan tanaman (Dwidjoseputro, 1985). Persentase bahan organik
dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
(100% − 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐴𝑏𝑢)
% 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑂𝑟𝑔𝑎𝑛𝑖𝑘 (𝐵𝑂) = × 𝐵𝐾
100
𝐵𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑂𝑟𝑔𝑎𝑛𝑖𝑘 = %𝐵𝑂 × 𝐵𝐾
2. Kadar Protein Kasar (PK)
Protein kasar merupakan senyawa organik kompleks yang mempunyai
bobot molekul tinggi dengan peranan yang sangat banyak dan berbeda-
beda di dalam anggota tubuh (Anggorodia, 1994). Metode yang
digunakan untuk menghitung kadar protein kasar dalam bahan pakan
yaitu Metode Kjeldahl. Prinsip kerja dari Metode Kjeldahl adalah protein
dan komponen organik dalam sampel didestruksi dengan menggunakan
asam sulfat dan katalis. Cara kerja Kjeldahl digunakan untuk
menganalisis kadar protein dalam bahan pakan secara tidak langsung,
karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Hasil
analisis kadar nitrogen dikalikan dengan 6,25 untuk mendapatkan nilai
protein dalam bahan pakan tersebut (kadar protein kasar = %N (Nitrogen
x 6,25).
(𝑋 − 𝑌) × 𝑁 × 0.014 × 6.25
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑃𝑟𝑜𝑡𝑒𝑖𝑛 = × 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
dengan:
𝑋: Jumlah ml larutan painter untuk sampel
𝑌: Jumlah larutan painter untuk blanko
𝑁: Normalitas larutan painter
10
3. Kadar Serat Kasar (SK)
Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat yang telah dipisahkan
dengan bahan ektrak tanpa nitrogen yang terutama terdiri dari pati,
dengan cara analisis kimia sederhana (Tillman et al., 1989).
𝑌−𝑍−𝑋
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐾𝑎𝑠𝑎𝑟 = × 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
dengan:
𝑋: Berat kertas saring (gr)
𝑌: berat sampel + cawan setelah dioven (gr)
𝑍: berat sampel + cawan + kertas saring yang telah ditanur (gr)
4. Kadar Lemak Kasar (LK)
Menurut Setyono dkk. (2007), Lemak kasar atau ekstrak ether merupakan
campuran beberapa senyawa yang larut dalam pelarut lemak (ether,
petroleum benzena, petroleum ether dan karbontetrakhlorida).
𝑐−𝑏
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐿𝑒𝑚𝑎𝑘 = × 100%
𝑎
dengan:
𝑋: Berat sampel (gr)
𝑌: berat labu lemak gosong (gr)
𝑍: berat labu lemak + lemak hasil ekstraksi (gr)
5. Kadar Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Kandungan BETN suatu bahan pakan tergantung pada komponen
lainnya. Jika abu, protein kasar, ekstrak eter dan serat kasar di kurangi
dari 100, perbedaan ini disebut bahan ekstrak tanpa nitrogen (Soejono,
1990).
𝐵𝐸𝑇𝑁 = [100 − (𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑏𝑢 + 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑃𝐾 + 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑆𝐾 + 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐿𝐾)]%
11
3.4 Hipotesis
𝐻0 : Pemberian pupuk organik cair (POC) berbasis bonggol pisang
tidak berpengaruh terhadap kandungan nutrient tanaman siratro
(Macroptilium atropurpureum)
𝐻1 : Pemberian pupuk organic cair (POC) berbasis bonggol pisang
berpengaruh terhadap kandungan nutrient tanaman siratro
(Macroptilium atropurpureum)
3.5 Prosedur Kerja
Prosedur kerja dari penelitian ini yaitu:
1. Tahapan Persiapan
a. Persiapan lahan dan tanah
Persiapan lahan meliputi: Lahan dibersihkan seluas 50 m2 dan
dipagari, memasukan polibag dalam lahan dan ditentukan secara
acak. Persiapan tanah meliputi: penghancuran tanah, tanah hitam
yang diambil dipersawahan, dibersihkan dan dipisahkan dari
kotoran, tanah diayak, bila masih lembab tanah dijemur, tanah
dimasukan kedalam polibag yang berukuran 20 x 40 cm sebanyak 9
kg/polybag, ditempatkan dengan jarak 0,5 x 0,5 m.
b. Pemilihan benih Siratro
Bahan tanam legum siratro berasal dari benih siratro yang diseleksi
dari benih yang sehat dengan ciri-ciri bentuk, ukuran dan warnanya
biji siratro yang seragam, permukaan kulit benih harus bersih dan
mengkilat, tidak keriput serta bebas dari infeksi jamur.
2. Tahapan Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan penelitian ini,
yakni:
a. Pembuatan POC Bonggol Pisang
Cara untuk membuat pupuk organik cair (Triyanto dan Maharani,
2019) adalah sebagai berikut:
12
• Bonggol pisang dicincang halus atau ditumbuk halus
sebanyak 1 kg
• Menyiapkan larutan EM4 sebanyak 20 ml
• Melarutkan EM4 kedalam larutan air beras sebanyak 2 ℓ
bersama dengan gula merah 2 ons
• Semua bahan dimasukkan dalam gentong lalu diaduk
hingga rata dan larutan menjadi Satu
• Pupuk cair difermentasikan selama 7 hari
b. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam
ditengah polibag sedalam 5 cm. Biji siratro dimasukan, dan
tanahnya dipadatkan lalu melakukan penyiraman.
c. Pemberian POC bonggol pisang di aplikasikan ke tanaman
sebnyak 1 kali dalam seminggu Sebelum diberikan POC terlebih
dahulu diencerkan dengan air.
d. Pemeliharaan tanaman.
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan setiap hari berupa
penyiraman tanaman 1 kali sehari yaitu pada sore hari hingga
tanahnya menjadi lembab dan tidak tergenang (sebanyak 220 ml
tiap polibag). Penyiangan tanaman dilakukan bila ada gulma yang
tumbuh dan menghambat pertumbuhan legum siratro.
e. Penjarangan
Penjarangan dilakukan hari yang ke 15 setelah tanam dengan
meninggalkan 3 tanaman yang terbaik pada setiap lubang tanam.
f. Panen
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 60 hari. Pada
saat panen dilakukan pengukuran terhadap produksi hijauannya.
Pemotongan tanaman dilakukan pada batang dengan jarak ± 5 cm
dari permukaan tanah.
3. Analisis Sampel Tanaman Siratro
• Setelah 60 hari sampel (daun dan ranting muda) di ambil dan
ditimbang dari setiap unit percobaan sebanyak 600 gram
13
• Sampel di keringkan dibawah sinar matahari selama ± 4 hari
dengan dibungkus kertas koran.
• Sampel digiling halus kemudian disaring dengan diameter
saringan 1 μm
• Sampel yang telah dihaluskan dimasukan dalam plastik lip
• Sampel di analisis proksimat di laboratorium nutrisi UNHAS
Makasar.
3.6 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4
perlakuan dan 5 ulangan (Gomez, 2015), yang terdiri dari:
𝑃0 : air tanpa pupuk organik cair
𝑃1 : 1 liter pupuk cair bonggol pisang: 1 liter air
𝑃2 : 1 liter pupuk cair bonggol pisang: 2 liter air
𝑃3 : 1 liter pupuk cair bonggol pisang: 3 liter air
3.7 Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dianalisis varian berdasarkan
rancangan acak kelompok dan jika terdapat perbedaan antar perlakuan maka
akan dilanjutkan dengan uji Duncan (Gomez dan Gomez, 2008).
3.8 Rancangan Kegiatan
TahapanKegiatan Waktu Kegiatan (Bulan)
1 2 3 4 5 6
Perseiapan Penelitian
Pelaksanaan Penelitian
Analisis Data dan
PenulisanTugas Akhir
14
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodia, R. (1994). Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta: Penerbit
Gramedia.
Bahtiar, S. A. (2016). Pemanfaatan Kompos Bonggol Pisang (Musa
acuminata) Untuk Menigkatkan Pertumbuhan Dan Kandungan Gula
Tanaman Jagung Manis (Zea mays L. saccharata). Jurnal Artikel
Agritrop.
BPS NTT (Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur). 2014. Nusa
Tenggara Timur Dalam Angka. BPS NTT. Kupang.
Congdon, B. dan H. Addison. 2003. Optimising nutrition for productive and
suistainable farm forestry system. Pasture legumes under shade. A
report. Rural Indfustries Research and Development Coorporation ,
RIRIDC, Kingstom.
Dwidjoseputro. (1985). Pengantar Fisiologi Tanaman. Jakarta: Penerbit
Gramedia.
Gomes, K. A. dan A. A. Gomes. 2010. Statistical Prosedures For Agricultural
Research (Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. Alih Bahasa Oleh
E. Syamsuddin Dan J.S. Baharsyah). Edisi Kedua. Jakarta. UI Pers
Hadisuwito, S. (2007). Membuat Pupuk Kompos Cair. Jakarta: Grafindo
Persada. Huda, M. K. (2013). Pembuatan Pupuk Organik Cair Dari
Urin Sapi Dengan Aditiv Tetes Tebu (Molasse) Metode Fermentasi.
Skripsi.
Husin, M, N. 2012. Pengaruh Pupuk Organic Cair nasa terhadap nitrogen
bintil akar.
Lingga, P. dan Marsono (2008). Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Makmur dan Magrifa (2018). Respon Pemberian Berbagai Dosis Pupuk
Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Perkembangan Cabe Merah.
Jurnal Galung [Link] 7, no 1.
McDonald, P., Edwards, R.A., Greenhalgh, J.F.D. and Morgan, C.A., 2002.
Animal Nutrition, 6th Ed. Prentice Hall, London
15
Maspary. 2012. Apa Kehebatan MOL Bonggol Pisang.
[Link]
[Link]. [06 Januari 2017].
Putra, Nizar Septian Dwi dan Ir. Hanief Eko Sulistyo, MP, (2021). Keragaman
Tanaman Siratro (Macroptilium atropurpureum) Genotip Lokal
Sumbawa Sebagai Hijauan Pakan [Link] Thesis, Universitas
Brawijaya.
Reksonhadiprodjo, S., 1981. Produksi Tanaman Hijauan MakananTernak
Tropik. BPFE Universitas Gajah Mada. Yokyakarta
Sajimin, A. Fanindi Dan B.R. Prawiradiputra Balai PenelitianTernak, PO Box
221, Bogor 16002 .Produktivitas Benih Dan Sumbangan Hara Tanah
dari Leguminosa Herba Siratro (Macroptilium atropurpureum) Pada
Taraf Intensitas Cahaya Berbeda. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner.2010
Suhatyo , A.A. 2011. Studi mikrobiologi dan sifat kimia mikroorganisme
lokal (MOL).yang di gunakan pada budidaya padi metode SRI (Systrem
Of Rice Intensification). Tesis. Instituti Pertanian BogorTesis. Sekolah
Pascaserjana. Institut pertanian Bogor: Bogor.
Setianingsih. (2009). Pemanfaatan Limbah Pisang Untuk Pembuatan
Kompos. Prosinding Seminar Nasional Teknoin Bidang Teknikkimia
Dan Tekstil.
Setyono, H., Kusriningrum, S., Mustikoweni, Tri Nurhajati, Budiono, R.S.,
Agustono, M. Arief, M.A. Al-Arif, M. Lamid, A. Monica dan W. Paramita.
2007. Teknologi Pakan Ternak Analisis Proksimat, Pengolahan Pakan.
Laboratorium Makanan Ternak, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga. Surabaya.
Soejono, M. (1990). Petunjuk Laboratorium Dan Evaluasi Pakan.
Yogyakarta: Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Subhan. (2004). Penggunaan Pupuk Np Cair Dan Npk 15-15-15 Untuk
Meningkatkan Hasil Dan Kualitas Buah Tomat. Jurnal.
Suhastyo, A. A. (2011). Studi Mikrobiologi Dan Sifat Kimia Mikroorganisme
Local Yang Digunakan Pada Budidaya Padi Metode SRI (System Of
Rice Intesification). Tesis.
Syafani dan Liliana. (2003). Pelatihan Pertanian Organik. Malang: Fakultas
Pertanian Unubraw.
Tilman, H. H. (1989). Ilmu Makanan Ternak Dasat Cetakan Ke-3.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
16
Triyanto Y. dan Sri Maharani. (2019). Program Pengabdian Masyarakat
Melalui Program Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Dari Bonggol
Pisang. Jurnal Pengabdian Masyarakat Ika Bina En Pabolo Universitas
Labuhan Batu Volume 1 No. 1 , 14-15.
Utomo, R. 2012. Bahan Pakan Berserat Untuk Sapi. PT. Aji Pratama,
Yogyakarta
Wea, M. K. (2018) dalam Kae (2021). Pengaruh Pupuk Organik Cair Bonggol
Pisang Kepok (Musa acuminateL) Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Okra Merah (Abelmoschus cailei). Skripsi.
Wenda, M. S. (2017). Aplikasi Pupuk Organik Cair Dan Komposisi Media
Tanam Terhadap Hasil Tanaman Selada.
Yutono 1982. Fiksasi Nitrogen (NZ) Pada Leguminosa dalam Pertanian.
Fakultas Pertanian UGM. Yokyakarta.
17