0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan2 halaman

7 Jenis Pemborosan dalam Lean Manufacturing

Diunggah oleh

sidikhabil5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan2 halaman

7 Jenis Pemborosan dalam Lean Manufacturing

Diunggah oleh

sidikhabil5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.2.

1
Di dalam lean manufacturing terdapat prinsip utama dari lean yaitu penghapusan atau
pengurangan pemborosan (waste). Pemborosan adalah suatu aktivitas kerja dimana tidak
memberi nilai tambah bagi pelanggan (Rasshif dkk, 2023). Pemborosan juga dapat diartikan
sebagai segala sesuatu yang tidak memberikan nilai tambah bagi dari segi material, waktu,
sumber daya dan area kerja (Kulsum dkk, 2024). Terdapat 7 macam pemborosan yaitu over
production (produksi yang berlebihan), defect (produk cacat), high inventory (stok bahan baku
yang terlalu banyak), transportation (transportasi), motion (gerakan), waiting (menunggu), dan
over prcessing (proses yang berlebihan). Berikut ini penjelasan dari 7 macam pemborosan
(Sudiro, 2018):
1. Over production (Produksi yang Berlebihan)
Terjadi ketika barang diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak atau lebih cepat dari
yang dibutuhkan oleh pelanggan. Ini meningkatkan risiko barang menjadi kedaluwarsa
atau cacat, serta memerlukan lebih banyak ruang penyimpanan.
2. Defect (Produk Cacat)
Terjadi akibat proses produksi yang tidak sempurna, sehingga menghasilkan barang yang
tidak dapat diterima oleh pelanggan. Semua biaya yang telah dikeluarkan, mulai dari
pembelian bahan baku, biaya produksi, penggunaan listrik, upah tenaga kerja, hingga
transportasi, menjadi sia-sia karena produk tersebut tidak bisa dijual.
3. High Inventory (Stok Bahan Baku yang Terlalu Banyak)
Stok bahan baku yang berlebihan mengakibatkan peningkatan biaya pembelian,
penyimpanan, transportasi, dan juga dapat meningkatkan risiko cacat produk. Hal ini juga
dapat memperpanjang lead time.
4. Transportation (Transportasi)
Terjadi karena tata letak produksi yang tidak efisien dan pengorganisasian tempat kerja
yang kurang optimal, sehingga barang perlu dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain
atau antar proses.
5. Motion (Gerakan)
Terjadi karena adanya gerakan pekerja atau mesin yang tidak diperlukan dan tidak
memberikan nilai tambah pada produk.
6. Waiting (Menunggu)
Ketika seseorang atau mesin tidak aktif, keadaan ini disebut menunggu (waiting).
Menunggu dapat terjadi karena ketidakseimbangan dalam proses, sehingga pekerja atau
mesin harus menunggu untuk melanjutkan pekerjaannya.
7. Over processing (Proses yang Berlebihan)
Proses berlebihan (over processing) terjadi ketika suatu proses tidak memberikan nilai
tambah bagi produk atau pelanggan. Proses yang tidak bernilai ini dianggap sebagai
pemborosan.

Anda mungkin juga menyukai