Bab Iv
Bab Iv
Gambar: Peta pola pengaliran serta klasifikasi pola pengaliran daerah penelitian
Pola pengaliran dendritik dicirikan dengan bentuk alirannya menyererupai
batang pohon, kemudian resistensi batuan atau omogenitas tanah yang seragam dan
biasanya control stuktur pada daerah tersebut kurang berkembang. Kemudian pola
pengaliran Sub-dendritik terbentuk dari aliran cabang sungai yang relatif tegak lurus
terhadap sungai induk Subsekuen yang melengkung. Pola pengaliran sub-dendritik
merupakan ubahan dari pola pengaliran Dendritik.
4.2 Geomorfologi
Geomorfologi pada daerah penelitian terdiri atas berbagai jenis geomorfologi dan
telah mengalami perubahan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
terubahkan oleh tenaga eksogen, endogen maupun aktifitas penambangan yang
mengakibatkan perubahan pada aspek geomorfologi. Aspek geomorfologi akibat
tenaga eksogen yaitu berupa pelapukan dan erosi pada litologi satuan batuan yang
kemudian terkikiskan. Sedangkan akibat dari gaya endogen berupa adanya kontrol
stuktur yang bekerja pada pembentukannya yaitu berupa lipatan. Biasanya pada
batuan yang memiliki sifat ducktile dengan litologi bauan berupa batu pasi, batu
lempung yang muda mengalami erosi atau pengikisan.
255000 255500 256000 256500 257000
70
65
65
70
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
9806500
80 FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
65
80
95
75
80
65
D2
80
90
75
PETA LOKASI PENGAMATAN
9806000 LOKASI PENELITIAN
65
®
75
90 90
1:10.000
90
85 LOUISE M MALAU
85
90
Legenda
9805500
D1
90
90 a. Contur Index Perbukitan Terkikis
47,5 b. Interval Contur 5 m
85
D2
90
Dataran Terdenudasi
85
90
10
0
10 105
5
G S atu Struktur (S)
Geo A sp ek e o mo r an
95
85 mo r fo lo
0 gi Perbukitan Dataran
95 10 fo lo
80 gi Denudasi (D1) Denudasi(D2)
95 Perbukitan yang mudah D ataran atau lem bah yang
D1
M orfologi
terkikis atau terdenudasi m engalam i pengikisan
75
Relief 1m- 45m
9805000
45 m -150 m
Morfometri
Elevasi (E) 90-105 65-90
75
Pola Pengaliran Sub-dendritik Dendritik
95
Bentuk Lembah V V-U
75
M orfostruktur aktif P engarus struktur dan erosi Terkikis dan tererosi kem udian
90
100
tersedim entasikan
80
M orfostruktur pasif
70
Batuan Resistensi Lemah Batuan Resistensi Lemah
95
M orfodinamika Erosi Erosi
80
95
1 00
80
Peta Indeks
BA JUB ANG
Sumber Peta :
yang didapatkan dari hasil analisa kontur yang didapat dari data DEM kemudian
DEMNAS Ina-Geoportal 2023
Sistem Koordinat : Universal Transverse Mercator
Datum : WGS 1984
Zona : 48 S
M orfostruktur aktif Pengarus struktur dan erosi Terkikis dan tererosi kem udian
tersedim entasikan
M orfostruktur pasif B atuan R esistensi Lem ah B atuan R esistensi Lem ah
M orfodinam ika Erosi Erosi
.
Table 2 klasifikasi geomorfologi gaerah penelitian (klasifikasi
varstepen,1983)
Bentuk lahan perbukitan Denudasi (D1), merupakan suatu lahan perbukitan
yang bergelombang yang terbentuk akibat dari proses dari hasil pengikisan atau
perbukitan yang punggung perbukitanna tidak beraturan yang terbentuk karena
pengaru erosi dari batuan asal yang kemudian terdendapkan. Pola pengaliran pada
daerah penelitian ini berupa pola pengaliran sub-dendritik dan untuk resistensi
batuannya biasanya sedang hingga lemah. Seperti litologi pasir, pasir mengari dan
juga lempung.
D1
4.3 Stratigrafi
Setelah dilakukan penelitian berupa pemetaan permukaan di lokasi penelitian
yaitu di salah satu IUP PT. Tambang Bukit Tambi, maka diketahui pada lokasi
tersebut terdapat dua jenis formasi satuan batuan yaitu formasi Air Benakat (Tma),
kemudian Formasi Muara Enim (Tmpm). Adapun formasi yang ditemukan didaerah
penelitian diketahui dari produk batuan yang terdapat pada daerah yang diteliti.
Penamaan pada batuan yang ditemukan dilapangan dilakukan dengan mengamati ciri
fisik serta litologi dari batuan tersebut. Kemudian untuk mengetahui lebih jelas
tentang batuan tersebut akan dilakukan dengan melalui analisis sayatan tipis pada
laboratorium.
Gambar 9. Sayap lipatan Skinklin dengan kedudukan N 130O / 15O pada lapisan
batubara.
Pada daerah lokasi penelitian dari hasil pengamatan langsung dan pengukuran
menggunakan kompas geologi kemudian setela dilakukan analisis dengan
menggunakan aplikasi dips diketahui bahwa struktur geologi yang berkembang pada
daerah tersebut berupa lipatan sinklin. Pada gambar 9 diatas dapat dilihat
kenampakan dari saap lipatan sinklin pada lapisan batubara. Dari hasil pengamatan
dilapangan diketahui bahwa lipatan tersebut berupa sinklin, dikarenakan oleh arah
strike dari singkapan tersebut saling berlawanan. Kemudian dari hasil tersebut dapat
ditarik kesimpulan sementara bahwa lipatan tersebut berupa sinklin.
Dari tabel diatas diketahui bahwa sayap lipatan 1 yaitu N 315 o E / 12O ,
kemudian sayap lipatan 2 yaitu N 151o E / 14o E.
4.5 Geologi Sejarah Daerah Penelitian
Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada Tersier awal sekitar 65 juta
tahun ang lalu yaitu fase ekstensional. Pada fase ini terjadi subduksi antara Lempeng
Eurasia dengan Lempeng samudra hindia. Akibat dari proses ini menyebabkan
terjadinya tinggian perbukitan barisan yang menyebabkan terjadinya cekungan
belakang busur, dimana salah satunya adalah cekungan sumatera selatan. Cekungan
ini diisi oleh material material yang berasal dari bukit barisan yang mengalami proses
sedimentasi sehingga terbentuk berbagai jenis formasi. Pada daerah penelitian
tepatnya di IUP Tambang Bukit Tambi terdiri dari 2 jenis Formasi yaitu Formasi Air
Benakat(Tma) dan Formasi Muara Enim(Tmpm).
Setelah fase transgesi berakhir muka air laut mulai turun dan mengakibatkan
terjadinya fase regresi (Miosen Tengah hingga pleistosen ) yang mengakibatkan
suplai sedimen di cekungan sumatera selatan meningkat. Pada fase regresi awal batu
pasir dan batu lempung prooduk dari foormasi Air Benakat terendapkan ( Miosen
Tengah-Miosen Akhir). Formasi ini terendapkan pada lingkungan pengendapan
transisi hingga laut dangkal. Kemudian pada fase yang yaitu fase regresi sama
formasi muara enim juga terendapkan dengan satuan batuan berupa batu pasir, batu
lempung, dan juga batubara berumur Miosen Akhir hingga Pliosen Awal.
Gambar 12. Batu pasir yang longsor akibat dari proses galian tambang
BAB V
ANALISIS KELURUSAN LAPISAN BATUBARA