0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Bab Iv

Diunggah oleh

widi wirasta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Bab Iv

Diunggah oleh

widi wirasta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

GEOLOGI DAERAH PENELITIAN


4.1 Pola Pengaliran
Pola pengaliran merupakan rangkaian aliran-aliran sungai pada daerah lemah
terhadap erosi mengambil bagian secara aktif serta daerah rendah tempat air
permukaan mengalir dan berkumpul ( Howard, 1967). Untuk mengidentifikasikan
pola pengaliran yang terdapat pada daerah penelitian yaitu dengan menggunakan data
sekunder yaitu berupa data DEM ( Digital Elevation Model). Kemudian dari data
tersebut dihubungkan dengan data yang didapat dilapangan agar diketahui apakah
pola pengaliran tersebut merupakan pola pengaliran sebenarnya. Berdasarkan
klasifikasi (Howard,1967) dari hasil analisis data DEM kemudian data yang
didapatkan dari hasil observasi lapangan maka diketahui bahwa pada daerah
penelitian terdapat 2 jenis pola pengaliran yaitu pola pengaliran Dendritik dan Sub-
dendritik.

Gambar: Peta pola pengaliran serta klasifikasi pola pengaliran daerah penelitian
Pola pengaliran dendritik dicirikan dengan bentuk alirannya menyererupai
batang pohon, kemudian resistensi batuan atau omogenitas tanah yang seragam dan
biasanya control stuktur pada daerah tersebut kurang berkembang. Kemudian pola
pengaliran Sub-dendritik terbentuk dari aliran cabang sungai yang relatif tegak lurus
terhadap sungai induk Subsekuen yang melengkung. Pola pengaliran sub-dendritik
merupakan ubahan dari pola pengaliran Dendritik.

Tabel: Pola pengaliran yang terdapat pada lokasi penelitian

4.2 Geomorfologi
Geomorfologi pada daerah penelitian terdiri atas berbagai jenis geomorfologi dan
telah mengalami perubahan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
terubahkan oleh tenaga eksogen, endogen maupun aktifitas penambangan yang
mengakibatkan perubahan pada aspek geomorfologi. Aspek geomorfologi akibat
tenaga eksogen yaitu berupa pelapukan dan erosi pada litologi satuan batuan yang
kemudian terkikiskan. Sedangkan akibat dari gaya endogen berupa adanya kontrol
stuktur yang bekerja pada pembentukannya yaitu berupa lipatan. Biasanya pada
batuan yang memiliki sifat ducktile dengan litologi bauan berupa batu pasi, batu
lempung yang muda mengalami erosi atau pengikisan.
255000 255500 256000 256500 257000

70
65

65
70
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN

9806500
80 FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI

65

80

95
75

80
65

D2
80

90
75
PETA LOKASI PENGAMATAN
9806000 LOKASI PENELITIAN

65
®

75
90 90

1:10.000

90
85 LOUISE M MALAU
85
90
Legenda
9805500

D1
90
90 a. Contur Index Perbukitan Terkikis
47,5 b. Interval Contur 5 m

85
D2

90
Dataran Terdenudasi
85
90

10
0
10 105
5
G S atu Struktur (S)
Geo A sp ek e o mo r an
95

85 mo r fo lo
0 gi Perbukitan Dataran
95 10 fo lo
80 gi Denudasi (D1) Denudasi(D2)
95 Perbukitan yang mudah D ataran atau lem bah yang

D1
M orfologi
terkikis atau terdenudasi m engalam i pengikisan
75
Relief 1m- 45m
9805000

45 m -150 m

Morfometri
Elevasi (E) 90-105 65-90
75
Pola Pengaliran Sub-dendritik Dendritik
95
Bentuk Lembah V V-U

75
M orfostruktur aktif P engarus struktur dan erosi Terkikis dan tererosi kem udian
90
100

tersedim entasikan
80
M orfostruktur pasif

70
Batuan Resistensi Lemah Batuan Resistensi Lemah
95
M orfodinamika Erosi Erosi

80
95

1 00
80

Peta Indeks

Gambar. Peta Geomorfologi


PE M AYUNG
M E RS AM

M UARATE M BE SIM UARAB ULI A N


M A ROSE BO ULU

BATHI N DUA PULUH EM PAT

BA JUB ANG

Penentuan geomorfologi pada daerah penelitian ini diketahui berdasarkan data


Area
Penelitian

Sumber Peta :

yang didapatkan dari hasil analisa kontur yang didapat dari data DEM kemudian
DEMNAS Ina-Geoportal 2023
Sistem Koordinat : Universal Transverse Mercator
Datum : WGS 1984
Zona : 48 S

dihubungkan dengan hasil observasi ang didapatkan langsung dilapangan. Adapun


hasil yang didapatkan dilapangan berupa kenampakan bentang lahan, kemudian
litolologi bauan, resistensi batuan dan juga stuktur ang berkembang di lokasi
penelitian. Berdasarkan klasifikasi dari Verstepen 1983, maka diketahui bahwa
geomorfologi pada daerah penelitian dibagi menjadi perbukitan denudasi (D1),
kemudian lembah atau dataran terdenudasi (D2). Dapat dilihat pada gambar diatas
Sa t Struktur (S)
G u
G eo A spek eom o r an
m or folo Perbukitan D ataran
folo gi D enudasi (D 1)
gi D enudasi(D 2)

M orfologi Perbukitan yang mudah Dataran atau lem bah yang


terkikis atau terdenudasi m engalam i pengikisan
R elief 45 m -150 m 1m - 45m
Morfometri

E levasi (E ) 90-105 65-90


Pola Pengaliran Sub-dendritik D endritik
B entuk L em bah V V-U

M orfostruktur aktif Pengarus struktur dan erosi Terkikis dan tererosi kem udian
tersedim entasikan
M orfostruktur pasif B atuan R esistensi Lem ah B atuan R esistensi Lem ah
M orfodinam ika Erosi Erosi
.
Table 2 klasifikasi geomorfologi gaerah penelitian (klasifikasi
varstepen,1983)
Bentuk lahan perbukitan Denudasi (D1), merupakan suatu lahan perbukitan
yang bergelombang yang terbentuk akibat dari proses dari hasil pengikisan atau
perbukitan yang punggung perbukitanna tidak beraturan yang terbentuk karena
pengaru erosi dari batuan asal yang kemudian terdendapkan. Pola pengaliran pada
daerah penelitian ini berupa pola pengaliran sub-dendritik dan untuk resistensi
batuannya biasanya sedang hingga lemah. Seperti litologi pasir, pasir mengari dan
juga lempung.

D1

Gambar 4. Bentuk lahan perbukitan Denudasi (D1)


Bentuk lahan lembah atau dataran Denudasi, yaitu merupakan satuan bentang
lahan yang memiliki ketinggian lebih landau dibandingkan dengan perbukitan
denudasi. Bentuk bentang lahan ini berupa lembah ataupun dataran yang memiliki
elefasi lebih rendah. Pola pengaliran pada penelitian ini berupa pola pengaliran
Dendritik dan juga memiliki resistensi batuan yang lemah. Sama halnya dengan
perbukitan terdenudasi bentang lahan ini juga terbentuk akibat tererosi dari batuan
asal. Dan juga resistensi batuan ini lebih lemah jika dibandingkan dengan bentang
lahan perbukitan denudasi. Untuk kenampakan bentang lahan dataran atau lembah
denudasi dapat dilihat pada gambar 5 .
D2

Gambar 4. Bentuk lahan Dataran atau lembah daerah terdenudasi (D2)

4.3 Stratigrafi
Setelah dilakukan penelitian berupa pemetaan permukaan di lokasi penelitian
yaitu di salah satu IUP PT. Tambang Bukit Tambi, maka diketahui pada lokasi
tersebut terdapat dua jenis formasi satuan batuan yaitu formasi Air Benakat (Tma),
kemudian Formasi Muara Enim (Tmpm). Adapun formasi yang ditemukan didaerah
penelitian diketahui dari produk batuan yang terdapat pada daerah yang diteliti.
Penamaan pada batuan yang ditemukan dilapangan dilakukan dengan mengamati ciri
fisik serta litologi dari batuan tersebut. Kemudian untuk mengetahui lebih jelas
tentang batuan tersebut akan dilakukan dengan melalui analisis sayatan tipis pada
laboratorium.

Gambar 5. Stratigrafi daerah penelitian


Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan maka diketahui bahwa pada daerah
penelitian terdapat beberapa jenis satuan batuan produk dari formasi yang didapatkan.
Pada formasi Muara Enim (Tmpm) yaitu berupa batu pasir dan batu lempung.
Kemudian jenis batuan yang didapat pada formasi Air Benakat (Tma) yaitu berupa
batu lempung mengari.
Satuan Batupasir Muara Enim (Tmpm)
Pada lokasi penelitian setelah dilakukan pengamatan dilapangan ditemukan
satuan batupasir yang merupakan bagian dari formasi muara enim. Batuan tersebut
tersingkap di sepanjang pinggir jalan perkebunan kelapa sawit. Batuan tersebut
memiliki struktur massif dengan warna fress abu-abu dan warna lapuk kuning
kecoklatan, adapun batuan tersebut memiliki ukuran butir ½ mm dengan derajat
pemilahan terpila baik dan memiliki kemas tertutup.

Gambar 6. Singkapan Batupasir Formasi Muara Enim

(untuk sayatan mikroskopis masi dalam proses analisis lanoratorium)

Satuan Batulempung Formasi Muara Enim


Pada lokasi pengamatan berikutnya ditemukan satuan batulempung yang
tersingkap di sepanjang jalan perkebunan kelapa sawit. Pada pengamatan ini
ditemukan singkapan batu lempung memiliki struktur massif dengan kemas tertutup
dan memiliki derajat pemilahan terpilah sedang. Pada lokasi pengamatan ditemukan
batu lempung memiliki warna fress putih keabu-abuan dan marna lapukna coklat
kemerahan. Adapun singkapan batuan ini ditemukan di timur laut pada lokasi
penelitian.

Gambar 7. Singkapan Batulempung Formasi Muara Enim

( sayatan analisis lab masih dalam proses analisis laboratorium)

Satuan Batulempung mengari pada formasi Air Benakat


Pada lokasi pengamatan ditemukan singkapan batuan berupa batulempung
mengari. Batu lempung mengari yaitu batu lempung yang memiliki struktur pelapisan
dimana pada lapisan batu lempung terdapat sisipan batu pasir halus. Batu lempung
mengari merupakan produk batuan dari Formasi Air Benakat. Singkapan tersebut
ditemukan di sepanjang lereng sungai. Satuan batuan tersebut ditemukan di daerah
barat laut pada daerah penelitian.

Gambar 8. Singkapan Batulempung Mengai Formasi Air Benakat


4.4 Struktur Geologi
Pada lokasi pengamatan di IUP PT. Tambang Bukit Tambi ditemukan beberapa
struktur geologi yang berkembang. Adapun struktur geologi dipengaruhi oleh gaya
yang bekerja pada lapisan bumi. Ada beberpa jenis gaya tektonik yang bekerja pada
lapisan permukaan bumi sebagai salah satu contoh yaitu kompresi, dimana batuan
tersebut akan membentuk struktur tergantung sifat batuan yang terkena struktur. Pada
batuan yang bersifat brittle akan membentuk sesar atau patahan. Sedangkan untuk
batuan yang bersifat ductile seperti batu sedimen akan membentuk lipatan. Pada
lokasi pengmatan struktur yang berkembang yaitu berupa lipatan.

Gambar 9. Sayap lipatan Skinklin dengan kedudukan N 130O / 15O pada lapisan
batubara.

Pada daerah lokasi penelitian dari hasil pengamatan langsung dan pengukuran
menggunakan kompas geologi kemudian setela dilakukan analisis dengan
menggunakan aplikasi dips diketahui bahwa struktur geologi yang berkembang pada
daerah tersebut berupa lipatan sinklin. Pada gambar 9 diatas dapat dilihat
kenampakan dari saap lipatan sinklin pada lapisan batubara. Dari hasil pengamatan
dilapangan diketahui bahwa lipatan tersebut berupa sinklin, dikarenakan oleh arah
strike dari singkapan tersebut saling berlawanan. Kemudian dari hasil tersebut dapat
ditarik kesimpulan sementara bahwa lipatan tersebut berupa sinklin.

Gambar 10. Analisis Streonet Lipatan dengan Softrware Dips

Tabel 3. Analisis Lipatan Sinklin

Dari tabel diatas diketahui bahwa sayap lipatan 1 yaitu N 315 o E / 12O ,
kemudian sayap lipatan 2 yaitu N 151o E / 14o E.
4.5 Geologi Sejarah Daerah Penelitian
Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada Tersier awal sekitar 65 juta
tahun ang lalu yaitu fase ekstensional. Pada fase ini terjadi subduksi antara Lempeng
Eurasia dengan Lempeng samudra hindia. Akibat dari proses ini menyebabkan
terjadinya tinggian perbukitan barisan yang menyebabkan terjadinya cekungan
belakang busur, dimana salah satunya adalah cekungan sumatera selatan. Cekungan
ini diisi oleh material material yang berasal dari bukit barisan yang mengalami proses
sedimentasi sehingga terbentuk berbagai jenis formasi. Pada daerah penelitian
tepatnya di IUP Tambang Bukit Tambi terdiri dari 2 jenis Formasi yaitu Formasi Air
Benakat(Tma) dan Formasi Muara Enim(Tmpm).

Setelah fase transgesi berakhir muka air laut mulai turun dan mengakibatkan
terjadinya fase regresi (Miosen Tengah hingga pleistosen ) yang mengakibatkan
suplai sedimen di cekungan sumatera selatan meningkat. Pada fase regresi awal batu
pasir dan batu lempung prooduk dari foormasi Air Benakat terendapkan ( Miosen
Tengah-Miosen Akhir). Formasi ini terendapkan pada lingkungan pengendapan
transisi hingga laut dangkal. Kemudian pada fase yang yaitu fase regresi sama
formasi muara enim juga terendapkan dengan satuan batuan berupa batu pasir, batu
lempung, dan juga batubara berumur Miosen Akhir hingga Pliosen Awal.

Gambar 11. Ilustrasi sejarah geologi daera penelitian


Pada miosen aktifitas tektonik kembali aktif yang mempengaruhi struktur geoologi
dimana proses tektonik berlanjut hingga terajadinya subduksi pada palung sunda
sehingga bukit barisan mengalami uplift. Han ini mengakibatkan terbentuknya lipatan
berupa sinklin dan juga antiklin. Pada gambar 11 diilustrasikan berdasarkan
pengamatan dilapangan dan juga melalui referensi dari peneliti terdahulu.
4.6 Potensi Geologi
Hasil dari proses akibat dari penambangan akan memberikan dampak yang
beragam baik terhadap masyarakat, daerah ataupun geologi daerah tersebut.. Berikut
merupakan dampak positif teradap geologi daerah penelitian.
a. Positif
Dampak positif akibat dari proses geologi pada daerah penelitian yaitu
mengakibatkkan endapan batubara yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
ekonomi baik dari masarakat dan juga bagi Negara. Pada daerah penelitian sudah
dilakukan penambangan batubara dan diketahui untuk jumlah ataupun hasil yang
didapatkan cukup besar dan memiliki cadangan yang banyak. Dari hasil pengamatan
dan hasil diskusi dengan Kepala Teknik Tambang diperusahaan penulis tertarik untuk
mengambil judul kemenerusan lapisan dikarenakan itu berdampak bagus bagi
perusahaan dimana nantinya dari data tersebut dapat juga dipakai sebagai data
penunjang untuk mengetahui cadangan batubara yang terdapat pada daerah tersebut.

Gambar 12. Potensi Batubara di daerah penelitian


b. Negatif
Pada daerah penelitian dampak yang diberikan bukan hanya dampak positif
akan tetapi memberikan dampak negative juga. Akibat dari resistensi batuan yang
bersifat lemah penggalian untuk proses penambangan dapat juga mengakibatkan
kelongsoran pada daerah sekitar galian. Untuk itu biasanya akan dilakukan
penimbunan ulang pada daerah yang telah digali. Akan tetapi dalam pross geologi
pengendapan memerlukan waktu yang cukup lama. Dan juga tanah hasil galian yang
ditimbun juga mempengaruhi litologi yang ada pada daerah penelitian
[Link] permukaan untuk menentukan formasi satuan batuan biasanya
digunaan dengan mendeskripsikan litologi satuan batuan ang ditemukan
dipermukaan. Namun jika penambangan dilakukan dalam cakupan ang luas hal ini
akan memberikan pengaruh yang besar terhadap tatanan geologi pada daerah tersebut.
Dalam jangka waktu 5-10 tahun kedepan akan merubah satuan batuan bahkan sampai
formasi pada daerah tersebut.

Gambar 12. Batu pasir yang longsor akibat dari proses galian tambang
BAB V
ANALISIS KELURUSAN LAPISAN BATUBARA

Anda mungkin juga menyukai