0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan24 halaman

Panduan RDS pada Neonatus: Gejala & Penanganan

Diunggah oleh

Senicaturpuspa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan24 halaman

Panduan RDS pada Neonatus: Gejala & Penanganan

Diunggah oleh

Senicaturpuspa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN ANAK

RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktek Profesi Keperawatan

Di Ruang Sekar Dalu Perinatologi

RSUD BLAMBANGAN

Oleh :

NI KOMANG AYU PUTRI APRILIA


2024.04.029

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI

BANYUWANGI

2024
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan berikut disusun oleh :

Nama : Ni Komang Ayu Putri Aprilia

NIM : 202404029

Judul LP : Respiratory Distress syndrom (RDS)

Telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada :

Hari :

Tanggal :

Disusun Oleh :

Ni Komang Ayu Putri Aprilia


2024.04.029

Disahkan Oleh :

Pembimbing Institusi Pembimbing Lahan/CI

( ) ( )
NIK. NIK.

Kepala Ruangan
Perinatologi

( )
NIK.
LEMBAR KONSULTASI

Nama : Ni Komang Ayu Putri Aprilia


NIM : 202404029
Judul LP dan Askep : Respiratory Distress Syndrome
Tanggal
REVISI Pembimbing Paraf
Bimbingan
BAB 1

KONSEP PENYAKIT

1.1. Anatomi Fisiologi

Sistem pernafasan termasuk hidung, rongga hidung dan sinus, faring, laring,
laring(kotak suara), trakea (tengorokan), dan saluran yang lebih kecil yang mengarah
ke pertukaran gas di permukaan paru-paru. Saluran pernafasan terdiri dari saluran udara
yang membawa udara dari dan ke permukaan tersebut. Saluran pernapasan dapat dibagi
menjadi bagian konduksi dan bagian pernapasan. Bagian konduksi terdapat dari jalan
masuk udara dihidung ke rongga hidung ke bronkiolus terkecil dari paru – paru. Bagian
pernapasan termasuk saluran bronkiolus pernapasan dan kantung udara halus, atau
alveoli, di mana terjadi pertukaran gas. Sistem pernapasan termasuk saluran pernapasan
dan jaringan terkait, organ, dan struktur pendukung. Saluran-saluran kecil ini
menyesuaikan kondisi udara dengan menyaring, pemanasan, dan melembabkan,
sehingga melindungi bagian konduksi yang peka dan melindungi pertukaran sistem
pernapasan bawah dari partikel-partikel, patogen, dan lingkungan ekstrem.
Saluran pernafasan dari atas kebawah dapat dirinci sebagai berikut, rongga
hidung, faring, laring, trakea, percabangan bronkus, paru- paru ( bronkiolus, alveolus).
Rongga hidung dilapisi selaput lender yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan
bersambung dengan lapisan faring dan selaput lender . Faring adalah pipa berotot yang
berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesofagus pada
ketinggian tulang rawan krikoid. Faring terbagi menjadi 3 bagian yaitu nasofaring,
orofaring dan laringofaring kemudian Laring, laring berperan untuk pembentukan suara
dan untuk melindungi jalan nafas terhadap masuknya makanan dan cairan. Trakea,
merupakan lanjutan darlaring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin kartilago yang
terdiri dari tulangtulang rawan yang terbentuk seperti C. Bronkus merupakan
percabangan trachea. Setiap bronkus primer bercabang 9 sampai 12 kali untuk
membentuk bronki sekunder dan tersier dengan diameter yang semakin kecil . Struktur
mendasar dari paru-paru adalah percabangan bronchial yang selanjutnya secara
berurutan adalah bronki, bronkiolus, bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorik,
duktus alveolar, Nose, Nasal Cavity, Oral Cavity, Pharynx, Larynx, Trachea, Bronchi,
Lungs dan alveoli. Dibagian bronkus masih disebut pernafasan extrapulmonar dan
sampai memasuki paru-paru disebut intrapulmonary. Terakhir adalah Paru-paru yang
berada dalam rongga torak, yang terkandung dalam susunan tulang-tulang iga dan
letaknya disisi kiri dan kanan mediastinum yaitu struktur blok padat yang berada
dibelakang tulang dada. Paru-paru berbentuk seperti spins dan berisi udara dengan
pembagian udara Antara Paru kanan, yang memiliki tiga lobus Dan paru kiri dua
lobus(Wulandari Kai et al., 2020)
1.2. Definisi Respiratory Distres Syndom
Neonatus adalah bayi yang lahir dari 0 sampai 28 hari, waktu ini merupakan
salah satu paling rentan untuk kelangsungan hidup anak (Sari & Muhammadiyah
Pelembang, 2016). Gagal nafas pada neonatus merupakan masalah klinis yang sangat
serius, yang berhubungan dengan tingginya morbiditas, mortalitas, dan biaya
perawatan. Sindroma gagal nafas (respiratory distress sindrom, RDS) adalah istilah
yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan
penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru atau
tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru (Sriyana Herman, 2020)
Sindrom gawat napas RDS (Respiratory Distress Syndrom) adalah istilah yang
digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan
penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru.
(Febri Agrina et al., 2017)
Respiratory Distress Syndrom (RDS) atau Sindrom Distres Pernapasan
merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea, frekuensi pernapasan yang
lebih dari 60 kali per menit, adanya sianosis, adanya rintihan pada saat ekspirasi serta
ada retraksi dinding dada saat inspirasi. Penyakit ini merupakan penyakit membran
hialin dimana terjadi perubahan atau kurangnya komponen surfaktan pulmoner.
Komponen ini merupakan suatu zat aktif pada alveoli yang dapat mencegah kolapsnya
paru. Fungsi surfaktan itu sendiri adalah merendahkan tegangan permukaan alveolus
sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara pada akhir ekspirasi.
Penyakit ini sering terjadi pada bayi prematur mengingat produksi surfaktan yang
kurang (Efriza Putri, 2022)
1.3. Klasifikasi
1) Dibagi menjadi dua stadium yaitu :
Ditandai dengan adanya perubahan pada pembukaan parenkim paru, edema
interstisial atau eleveoar, penekanan pada bronkiolus terminalis, dan kerusakan
pada sel alveolar.
2) Fibroproliferatif
Ditandai dengan adanya lerusakan pada sel alveolar tipe tekanan puncak
inspirasi, penurunan complinance paru, hipoksemia, penurunan fungsi
kapasitan residual, fibrolisis interstisial, dan peningkatan ruang ventilasi.
Pada foto thorax menurut kreteria Bomsel ada 4 stadium RDS yaitu:
a) Stadium 1
Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara.
b) Stadium 2
Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan gambaran
air broncogram udara terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer
menutupi bayangan jantung dengan penurunan aerasi paru.
c) Stadium 3
Kumpulan alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru
terlihat lebih opaque (white lung) dan bayangan jantung hampir tidak
terlihat , bronchogram udara lebih luas.
d) Stadium 4
Seluruh thorak sangat opaque (white lung) sehingga jnatung tidak dapat
terlihat. ( Warman, Waskito, & Romadhon, 2012).
1.4. Etiologi
Penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yang terdiri dari faktor ibu,
faktor plasenta, faktor janin dan faktor [Link] ibu meliputi hipoksia pada
ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida empat atau lebih,
sosial ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu
pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, dan lain-
lain. Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil,
plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit
leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir,gemeli, prematur, kelainan
kongenital pada neonatus dan lain-lain. Faktor persalinan meliputi partus lama, partus
dengan tindakan dan lain-lain. Sindroma gagal nafas adalah perkembangan imatur
pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan pada paru-paru-paru.
Sementara afiksia neonatorum merupakan gangguan pernafasan akibat
ketidakmampuan bayi beradaptasi terhadap asfiksia. Biasanya masalah ini disebabkan
karena adanya masalah-masalah kehamilan dan pada saat persalinan (Aprilia Kadi et
al., 2024)
1.5. Manifestasi Klinis
Berat atau ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi
oleh tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan , semakin
berat gejala klinis yang ditunjukan. Gejala dapat tampak beberapa jam setelah
kelahiran. Kasus RDS kemungkinan besar terjadi pada bayi yang lahir prematur.
Menurut (Febri Agrina et al., 2017) Gejala utama Gawat napas / distress
respirasi pada neonatus yaitu:
1. Takipnea laju napas > 60 kali per menit ( normal laju napas 40 kali per menit
2. Sianosis sentral pada suhu kamaryang menetap atau memburuk pada 48-96
jam kehidupan dengan x - ray thorak yang spesifik
3. Retraksi cekungan pada stemum dan kosta pada saat inspirasi
4. Grunting : suara merintih saat ekspirasi
5. Pemapasan cuping hidung
Menurut (Sriyana Herman, 2020) tanda - tanda yang mungkin ditunjukkan oleh
bayi yang mengalami RDS di antaranya :
1. Napas cepat
2. Lubang hidung melebar ketika bernapas 12
3. Retraksi (ketika bayi bernafas dengan cepat, kulit tertarik diantara tulang
rusuk atau di bawah tulang rusuk).
4. Bising saat bernafas dan berdengkur.
5. Bibir, bantalan kuku, dan kulit berwarna kebiruan karena kekurangan
oksigen, yang disebut dengan sianosis.
Biasany Biasanya gejala a gejala RDS akan memburuk pada RDS akan
memburuk pada hari ketiga. Saat bayi hari ketiga. Saat bayi membaik, ia memerlukan
lebih sedikit oksigen ia memerlukan lebih sedikit oksigen dan bantuan mek dan
bantuan mekanis untuk bernapas. Gejala anis untuk bernapas. Gejala RDS mungkin
tampak seperti kondisi kesehatan lainnya.
[Link]
RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat
yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran
nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu
dan mencapai max pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein
(10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga
tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi.
Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia,
retensi CO2 dan asidosis.(Febri Agrina et al., 2017)
Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme anerobik dengan penimbunan asam
laktat asam organic>asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris > transudasi kedalam
alveoli terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik > lapisan
membrane hialin.
Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantun, penurunan
aliran darah keparum, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang
menyebabkan terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada
bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya
stress intrauterine seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar. Vulnus punctum
terjadi akibat penusukan benda tajam, sehingga menyebabkan contuiniutas jaringan
[Link] umumya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses peradangan
atau inflamasi. Dalam hal ini ada peluang besar terjadinya infeksi hebat (Wulandari Kai
et al., 2020).
1.7. Pathway
Kelahiran Prematur

Anatomi fisiologi belum sempurna Paru-paru belum Peningkatan tegangan di


menghasilkan surfaktan aveolar
dalam jumlah yang cukup

Kolaps dan tidak mampu


Respiratory Distres Syndrom (RDS) menahan sisa udara
fungsional pada akhir
espirasi

Produksi Surfaktan B1 (Breath) B2 (Blood) B3 (Brain) B4 (Bledder) B5 (Bowel) B6 (Bonel)


menurun

Produksi surfaktan Sirkulasi ↓ Perfusi ke Ventilasi paru- paru Lemak sub Defisiensi
Atelectasis Paru Penurunan aliran
menurun pernafasan menjadi organ vital terganggu kutan tipis pertahanan
darah menyebabkan
terganggu paru-paru menurunanya diri lemah
Kolaps dan volume vaskuler Penggunaan energi
Atelectasis paru Suhu tubuh
tisdak mampu Fungsi otak ↓ yang maksimal dan udara
Kurangnya oksigen MK :
menahan sisa udara untuk bernafas berbeda
ke jaringan Resiko
fungsiomal pada akhir
kolabs Pelepasan Infeksi
espirasi Ggn fungsi vasopressin dan
MK: gangguan serebral reabsorbsi air dari Refleks menghisap Kulit teraba
hipoksia perfusi jaringan duktus kolektivus lemah dingin
Difusi terganggu
perifer
Penurunan
kesadaran, Intake nutrisi MK:
Ventilasi paru-paru MK : gangguan kelemahan otot, oliguria tidak adekuat Hiportermi
terganggu pertukaran gas dilatasi pupil,
kejang, letargi
MK: Resiko MK:
MK : pola nafas Ketidak Defisit
tidak efektif MK: Resiko seimbangan cairan nutrisi
Cedera
1.8. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada respiratory distress syndrome menurut (Febri


Agrina et al., 2017), antara lain:

1) Tes Kematangan Paru


Paru janin berhubungan dengan cairan amnion, maka jumlah fosfolipid
dalam cairan amnion dapat untuk menilai produksi surfaktan,sebagai
tolakukur kematangan paru tolak ukur kematangan paru.
2) Tes Biokimia
Tes biokimia dilakukan dengan shake test dengan cara mengocok cairan
amnion yang dicampur ethanol akan terjadi hambatan pembentuka
gelembung oleh unsure yang lain dari cairan amnion seperti protein,garam
emped dan asam lemak empedu dan asam lemak bebas. Bila didapatkan ring
ring yang utuh dengan pengenceran lebih dari 2 kali (cairan kali (cairan
amnion:ethanol)merupakan indikasi maturitas paru janin. Pada kehamilan
normal, mempunyai prediksi positip yang tepat dengan resiko yang kecil
untuk resiko yang kecil untuk terjadinya neonatal RDS.
3) Analisa gas darah
Gas darah menunjukkan asidosis metabolic dan respiratorik bersamaan
dengan hipoksia. Asidosis muncul karena atelectasis alveolus atau
over distensi jalan napas terminal.
4) Darah rutin dan hitung jenis
Leukositosis menunjukkan adanya infeksi. Neutropenia menunjukkan
infeksi bakteri. Trombositopenia menunjukkan adanya sepsis.
5) Glukosa darah
Menilai keadaan hipoglikemia, karena hipoglikemia dapat menyebabkan
atau memperberat takipnea.
6) Pulse oximetry
Menilai hipoksia dan kebutuhan tambahan oksigen
7) Radiografi Thoraks
Pada bayi dengan RDS menunjukkan reticular granular atau gambaran
ground-glass bilateral, difus, air bronchograms, dan ekspansi paru
yang jelek. Gambaran air bronchograms yang mencolok mencolok
menunjukkan bronkiolus yang terisi udara didepan alveoli yang kolap.
Bayangan jantung bias normal atau [Link] mungkin
dihasilkan oleh asfiksi prenatal, dia prenatal, diabetes maternal maternal,
paten, tductus arteriosus arteriosus (PDA), kemungkinan kelainan jantung
[Link] ini mungkin berubah dengan terapi surfaktan dini dan
ventilasi mekanik yang surfaktan dini yang adekuat.
1.9. Penatalaksanaan

Menurut (Efriza Putri, 2022) tindakan untuk mengatasi masalah kegawatan


pernafasan meliputi :

a. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.


b. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
c. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
d. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
e. Mencegah hipotermia.
f. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.
1. Penatalaksanaan secara umum perawat
a. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering
dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
• Pantau selalu tanda vital
• Jaga patensi jalan nafas
• Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
b. Jika bayi mengalami apneu
• Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
• Lakukan penilaian lanjut
c. Bila terjadi kejang potong kejang segera periksa kadar gula darah
d. Pemberian nutrisi adekut
Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut sesuai
dengan kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas.
Menajemen spesifik atau menajemen lanjut:
a. Ganguan nafas ringan
Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada
waktu lahir tanpa gejala-gejala lain disebut “Transient Tacypnea of
the Newborn” (TTN). Terutama terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi
tersebut akan membaik dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Meskipun
demikian, pada beberapa kasus. Gangguan napas ringan merupakan tanda awal
dari infeksi sistemik.
b. Ganguan nafas sedang
• Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila masih
• sesak dapat diberikan O2 4-5 liter/menit dengan sungkup
• Bayi jangan diberi minum
• Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk
terapi kemungkinan sepsis.
- Suhu aksiler > 39˚C
- Air ketuban bercampur mekonium
- Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau ketuban
pecah dini (> 18 jam)
• Bila suhu aksiler 34- 36,5 ˚C atau 37,5-39˚C tangani untuk masalah suhu
abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam :
- Bila suhu ma sih belum stabil atau gangguan nafas belum
ada perbaikan, berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan
kemungkinan besar seposis
- Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal
ulangi tahapan tersebut diatas.
• Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2 jam
• Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan
setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis.
• Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi O2
secara bertahap. Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika
tidak dapat menyusu, berikan berikan ASI peras dengan memakai salah satu
cara pemberian minum.
• Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan.
Bila bayi kembali tampak kemerahan tanpa pemberian pemberian O2
selama 3 hari, minumbaik dan tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah
Sakit bayi dapat dipulangkan.
c. Ganguan nafas berat
• Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.
• Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis
lainnya. Terapi untuk kemungkinan besar sepsis dan tangani gangguan
nafas sedang dan dan segera dirujuk di rumah sakit rujukan.
• Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI peras
dengan menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman.
• Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas.
Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit
2. Penatalaksanaan secara medis
a. Perbaiki oksigenasi dan pertahankan volume paru optima
• Penggantian surfaktan melalui selang endotrakeal
• Tekanan Tekanan jalan napas positif positif secara kontinu kontinu melalui
melalui kanul nasal untuk mencegah kehilangan volume selama ekspirasi
• Pemantauan transkutan dan oksimetri nadi
• Fisioterapi dadaTindakan kardiorespirasi tambahan
b. Pertahankan kestabilan suhu
c. Berikan asupan cairan, elektrolit, dan nutrisi yang tepat
d. Pantau nilai gas darah arteri, Hb dan Ht serta bilirubin
e. Lakukankan transfusi darah seperlunya
f. Hematokrit guna mengoptimalkan oksigenasi Pertahankan jalur arteri untuk
mem untuk memantau PaO2 dan pen O2 dan pengambilan sampel darah
g. Berikan obat yang diperlukan
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:
• Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
• Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan
caiaran paru
• Fenobarbital
• Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
• Metilksantin (teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
• Terapi surfaktan: surfaktan sintetik diberikan melalui sisi pada tube
endotracheal dalam 2x suntikan bolus, contoh: Exosurf, Infasurf, Alveofact
• Nitric Oxide inhalasi
• Narkotik/benzodiazep untuk mengurangi nyeri dan ketidaknya nyeri dan
ketidak nyamanan pada bayi, contoh: Lorazepam dan Fentanyl dan
Fentanyl
• Sodium bicarbonat untuk metabolic acidosis
• Diuretik untuk mengurangi odema, perlu pertimbangkan risk : benefit
1.10. Komplikasi
Komplikasi jangka pendek (akut) dapat terjadi :
1) Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara (pneumothorak,
pneumomediastinum, pneumoperica opericardium, emfisema intersisiel), pada
bayi dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinis hipotensi,
apnea, atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap.
2) Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan
adanya perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul
karena tindakan invasiv seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat
respirasi.
3) Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdar perdarahan
intraventriku entrikuler terjadi terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan
frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik.
4) PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi
bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya.
Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen,
tekanan yang tinggi dalam paru, memberatnya penyakit dan kurangnya oksigen yang
menuju ke otak dan organ lain.

Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi :

1) Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik yang


disebabkan pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD
berhubungan dengan tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu
menggunakan ventilasi mekanik, adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi
vitamin A. Insiden BPD meningkat dengan menurunnya masa gestasi.
2) Retinopathy prematur Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi
yang berhubungan dengan masa gestasi gestasi, adanya hipoxia, komplikasi
intrakranial, dan adanya infeksi.
BAB 2

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Menurut (Oktaviani Suwarna et al., 2022), pengkajian merupakan langkah pertama dari
proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari klien sehingga
akan diketahui berbagai permasalahan yang ada. Adapun pengkajian pada klien dengan
diagnosa Respiratory Distres Syndrome adalah :
1) Data Subjektif (DS)
Data subjektif adalah data yang didapatkan dari klien atau keluarga klien
sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak
ditentukan oleh tim kesehatan secara independen tetapi melalui suatu interaksi atau
komunikasi (Nursalam, 2020).
Dalam hal ini data yang diperoleh dari wawancara dengan keluarga dan tim
kesehatan yang lain, dimana wawancara tersebut untuk mengetahui pada ibu
meliputi :
a. Biodata
- Nama bayi : untuk mengetahui identitas bayi
- Umur bayi : untuk memberikan asuhan yang sesuai pada bayi
- Tanggal/jam lahir : untuk mengetahui umur bayi
- Jenis kelamin : untuk penilaian data pemeriksaan klinis, misalnya
insiden seks, penyakit-penyakit seks (seks linked)
- Berat badan : untuk mengetahui berapa kilo berat badan bayi baru
lahir
- Panjang badan : untuk mengetahui panjang badan bayi
- Nama ibu/ayah : untuk mengetahui identitas orang tua bayi
- Umur : untuk mengetahui umur orang tua bayi
- Agama : untuk memberikan support kepada keluarga sesuai
agamanya
- Suku bangsa : untuk mengetahui faktor pembawa ras
- Pendidikan : untuk mengetahui tingkat pendidikan yang diperlukan
untuk memberikan KIE
- Pekerjaan : untuk mengetahui sosial ekonomi keluarga
- Alamat : untuk mengetahui tempat tinggal pasien
2) Riwayat Kehamilan Sekarang
a. Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)
Sesuai dengan hukum Naegele yaitu dari hari pertama haid terakhir ditambah
tujuh dikurangi tiga bulan ditambah satu tahun (Juniatiningsih et al., 2018).
b. Hari Perkiraan Lahir (HPL)
Untuk mengetahui taksiran persalinan
c. Keluhan pada kehamilan
Berisikan keluhan, pemakaian obat-obatan, maupun penyakit pada saat hamil,
mulai dari trimester I, II dan III.
d. Antenatal Care (ANC) yaitu pengawasan sebelum persalinan terutama
ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Untuk
mengetahui riwayat ANC teratur atau tidak, sejak hamil berapa minggu,
tempat ANC dan riwayat kehamilannya.
e. Penyuluhan
Penyuluhan apa yang pernah didapat klien perlu ditanyakan untuk mengetahui
pengetahuan apa saja yang kira-kira telah didapat klien dan berguna bagi
kehamilannya.
f. Imunisasi Tetanus Toxoid (TT)
Untuk mengetahui sudah/belum, kapan dan berapa kali yang nantinya akan
mempengaruhi kekebalan ibu dan bayi terhadap penyakit tetanus
g. Kebiasaan ibu sewaktu hamil
- Pola nutrisi
Dikaji untuk mengetahui nafsu makan, porsi makan dalam sehari, jumlah
minum dan pola makan selama ibu hamil (Wilar et al., 2020).
- Pola eliminasi
Dikaji untuk mengetahui keluhan berkemih atau defekasi ibu selama
hamil dan sebelum hamil. Perlu juga dikaji jumlah, warna, bau,
konsistensi, konstipasi, incontinensia, frekuensi BAB dan BAK klien
serta upaya mengatasi masalah yang dialami klien.
- Pola istirahat
Yakni mengkaji waktu mulai tidur dan bangun, penyulit tidur, hal yang
mempermudah tidur, gangguan tidur, pemakaian jenis obat tidur, serta
hal yang menyebabkan klien mudah terbangun.
- Pola seksualitas
Dikaji untuk mengetahui berapa kali ibu melakukan hubungan
seksualitas sebelum dan selama hamil serta keluhan dalam
melakukan hubungan seksual.
- Personal hygiene
- Mengkaji status kebersihan mulai rambut hingga kaki, frekuensi
mandi, gosok gigi, cuci rambut, hingga potong kuku.
- Psikologi sosial budaya
Kaji keadaan psikis klien saat ini, hubungan klien dengan keluarga
dan tetangga, bagaimana kehamilannya saat ini diharapkan atau
tidak. Jika kehamilan diharapkan, jenis kelamin yang diinginkan
laki-laki atau perempuan, kebiasaan minum jamu selama hamil,
pantangan makanan bagi ibu dan adat budaya yang mengikat.
- Perokok dan pemakaian obat-obatan
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu merokok atau tidak dan ibu
menggunakan obat-obatan dan alkohol yang mengakibatkan
abortus, persalinan premature, berat badan lahir rendah dan
kerusakan janin.
3) Riwayat Persalinan Sekarang
Untuk mengetahui tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak,
keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk
mengetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan atau tidak (Sari &
Muhammadiyah Pelembang, 2016).
4) Riwayat Penyakit
a. Riwayat penyakit saat hamil
Untuk mengetahui berbagai penyakit yang pernah dialami oleh klien pada
saat hamil seperti sakit kepala, gangguan penglihatan, pusing atau nyeri
epigastrium bagian atas (Tresnawati, 2012).
b. Riwayat penyakit sistemik
Untuk mengkaji keadaan pasien yang dapat memicu terjadinya komplikasi
pada saat hamil yaitu, jantung, ginjal, asma, hepatitis, DM, hipertensi dan
sebagainya (Varney, 2017).
c. Riwayat penyakit keluarga
Meliputi ada keluarga yang menderita penyakit yang sama atau tidak, ada
jenis penyakit herediter atau tidak dalam keluarga.
5) Data Objektif (DO)
Data objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur, informasi tersebut
biasanya diperoleh melalui kepekaan perawat “senses” selama melakukan
pemeriksaan fisik melalui 2S (sight, smell) dan HT (hearing and touch atau taste)
(Nursalam, 2019). Hal ini diperoleh dari pemeriksaan fisik yang meliputi :
a. Pemeriksaan khusus. Dilakukan dengan pemeriksaan APGAR pada menit ke-
1, ke-5, ke-10
b. Pemeriksaan umum. Untuk mengetahui keadaan umum bayi meliputi tingkat
kesadaran (sadar, penuh, apatis, gelisah, koma), pernafasan, warna kulit,
denyut jantung, suhu aksiler, postur, gerakan dan ketegangan otot.
c. Tanda-tanda vital, meliputi :
- Suhu dinilai dari temperatur normal rectal atau axilla yaitu 36,5˚C sampai
37˚C.
- Denyut jantung dinilai dari kecepatan, irama, kekuatan. Dalam satu menit
normalnya 120-160x/menit.
- Pernapasan dinilai dari sifat pernapasan dan bunyi napas. Dalam satu
menit, pernapasan normal, 40-60 x/menit
6) Pemeriksaan fisik sistematis menurut (Oktaviani Suwarna et al., 2022) adalah :
a. Kepala : untuk mengkaji ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil, adakah
mesochepal atau mekrochepal serta adakah kelainan cephal hematoma caput
succedaneum, hidrochepalus.
b. Wajah : adakah tanda-tanda paralisis (kelumpuhan otot wajah) antara lain :
wajah asimetris, peningkatan air mata, gerakan kelopak mata lambat.
c. Mata : adakah kotoran di mata, adakah warna kuning di sklera dan warna
putih pucat di konjungtiva.
d. Telinga : adakah serumen atau cairan simetris atau tidak.
e. Mulut : adakah sianosis dan bibir kering, adakah kelainan seperti labioskizis,
atau labio palatoskizis.
f. Hidung : adakah nafas cuping, kotoran yang menyumbat jalan nafas.
g. Leher : adakah pembesaran kelenjer thyroid
h. Dada : simetris atau tidak, retraksi, frekuensi bunyi jantung, adakah kelainan.
i. Abdomen : bentuk, dinding perut dan adanya benjolan, penonjolan sekitar
tali pusat, perdarahan tali pusat, adakah pembesaran hati, dan limpa. Terdapat
kembung atau tidak.
j. Genetalia : jika laki-laki apakah testis sudah turun pada skrotum, perempuan
apakah labia mayora sudah menutupi labia minora.
k. Ekstremitas : adakah oedema, tanpa sianosis, akral dingin, apakah kuku
sudah melebihi jari-jari, apakah ada kelainan polidaktili atau sindaktili.
l. Anus : apakah anus berlubang atau tidak
m. Pemeriksaan spesifik :
Beberapa reaksi alami neonates (primitive) antara lain :
1. Refleks mencari (rooting reflex)
Merupakan gerakan neonates menoleh kearah sentuhan yang
dilakukan pada pipinya. Biasanya ini merupakan stimulasi untuk
neonates saat ibu memulai untuk menyusui.
2. Refleks mengisap (sucking reflex)
Merupakan gerakan mengisap neonates ketika putting susu ibu
ditempatkan dalam mulut.
3. Refleks menelan (swallowing reflex)
Merupakan gerakan menelan ketika lidah bagian posterior diteteskan
cairan. Gerakan ini merupakan satu gerakan koordinasi dengan reflex
menghisap.
4. Refleks moro (moro reflex)
Merupakan gerakan seperti memeluk, ketika tubuh diangkat dan
diturunkan secara tiba-tiba, maka kedua lengan serta tungkainya akan
memperlihatkan gerakan ekstensi yang simetris dan diikuti oleh
gerakan abduksi.
5. Refleks leher yang tonik (tonicneck reflex)
Merupakan posisi mengadah. Apabila bayi dalam posisi berbaring
telentang dan kepala menoleh pada salah satu sisi, ekstremitas pada
sisi homolateral akan melakukan gerakan ekstensi sementara
ekstremitas pada sisi kontralateral melakukan gerakan fleksi.
6. Refleks Babinski (Babinski reflex)
Apabila memberikan rangsangan berupa goresan lembut pada telapak
kaki, maka jempol dan refleks mengarah ke atas dan jari kaki lainnya
dalam posisi terbuka. Refleks babinski akan menetap sampai usia 2
tahun.
7. Refleks menggenggam (palmar grasping reflex)
Apabila jari tangan ditempatkan pada telapak tangan bayi, maka
secara alami bayi akan menggenggam jari dengan cukup kuat.
8. Refleks melangkah (stepping reflex)
Apabila bayi diangkat dalam posisi tegak dan kedua kaki menyentuh
permukaan yang rata maka akan menstimulasi gerakan berjalan,
menari atau naiki tangga (Hasnidar, dkk, 2021).
7) Eliminasi
Dalam 24 jam pertama bayi akan mengeluarkan meconium dan dapat BAK dengan
volume 20-30 ml/hari.
8) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang adalah pemeriksaan laboratorium yang dilakukan diluar
pemeriksaan fisik untuk menunjang diagnosis penyakit, seperti pemeriksaan darah
lengkap, CRD dan GDA.

2. Diagnosa Keperawatan
1) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan energi/kelelahan
ditandai dengan dispnea (D. 0005 hal 26)
2) Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan aliran keateri/vema (D.0009)
3) Ganguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-
kapiler (D.0003)
4) Hiportermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit (D.0140)
5) Defisit nutrisi b.d Ketidakmampuan mneghisap dan penurunan mobilitas usus
(D. 0019)
6) Resiko Cedera berhubungan dengan hipoksia jaringan (D.0136)
7) Resiko ketidakseimbangan cairan ketidakseimbangan cairan b.d imanuritas
(D.0040)
8) Resiko Infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (D.0142)
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa SLKI SIKI
1 Pola napas Pola Napas (L.01004) Manajemen Jalan Napas (I. 01011)
tidak efektif
(D.0005) Setelah dilakukan intervesi Observasi
keperawatan selama 3x24 jam, - Monitor pola napas (frekuensi,
maka pola nafas membaik kedalaman, usaha napas)
dengan kriteria hasil : - Monitor bunyi napas tambahan (mis.
- dispnea menurun Gurgling, mengi, weezing, ronkhi
- penggunaan otot bantu kering)
nafas menurun - Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
- ventilasi permenit menurun
Terapeutik
- Pertahankan kepatenan jalan napas
dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-
thrust jika curiga trauma cervical)
- Posisikan semi-Fowler atau Fowler
- Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
- Lakukan penghisapan lendir kurang
dari 15 detik
- Lakukan hiperoksigenasi sebelum
- Penghisapan endotrakeal
- Keluarkan sumbatan benda padat
dengan forsepMcGill
- Berikan oksigen, jika perlu

Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
2 Perfusi perifer Perfusi Perifer (L.02011) Manajemen Perdarahan (I. 02079)
tidak efektif
(D.0009) Setelah dilakukan intervesi Observasi
keperawatan selama 3x24 jam, - Priksa sirkulasi perifer (nadi perifer,
keadekuatan aliran darah warna, suhu)
pembuluh darah distal untuk - Monitor panas, kemerahan,dan bengkak
menunjang fungsi jaringan pada ekstermitas
meningkat dengan kriteria hasil : - Hindari pemasabgan infus atau
- Denyut nadi perifer pengambilan darah di area keterbatasan
meningkat perpusi
- Warna kulit pucat menurun
- Edema perifer menurun
- Pengisian kapiler membaik
- Turgor kulit membaik
3 Gangguan Pola Napas SLKI (L.01004) Manajemen Pemantauan Respirasi SIKI (I.
pertukaran gas 01014)
(D.0003) Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 3x24 jam Observasi
diharapkan oksigenasi dalam - Monitor frekuensi, irama, kedalaman,
batas normal dengan kriteria dan upaya nafas)
hasil: - Monitor pola napas
- Dyspnea menurun skor - Monitor adanya sumbatan jalan nafas
- Penggunaan otot bantu
napas menurun skor Terapeutik
- Pernapasan cuping hidung - Dokumentasi hasil pemantauan
menurun skor
- Bunyi nafas tambahan Kolaborasi
menuurn - Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan informasikan hasil
pemantauan
4 Hipotermi Termoregulasi SLKI (L.14134) Manajemen hipotermia (I. 14507)
(D.0140)
Setelah dilakukan intervesi Observasi
keperawatan selama 3x24 jam, - Monitor suhu tubuh
maka diharapkan masalah - Monitor tanda dan gejala akibat
hipotermi klien teratasi dengan hipotermia
kriteria hasil :
- Akral dingin menurun Terapeutik
- Kebiruan menurun - Sediakan lingkungan yang hangat
- Energik, meningkat - Ganti pakaian atau linen yang basah
- Lakukan penghangatan pasif (mis:
selimut, tutup kepala,pakainan tebal)

5 Defisit nutrisi Status nutrisi membaik (.14134) Manajemen nutrisi (I. 03119)
(D.0019)
Setelah dilakukan intervesi Observasi
keperawatan selama 3x24 jam, - Identifikasi status nutrisi
diharapkan setatus nutrisi - Identifikasi alergi dan intoleran
membaik dengan kriteria hasil : makanan
- Berat badan membaik - Identifikasi perlunya pengunaan selang
- Index masa tubuh (IMT) nasogastrik
membaik - Monitor hasil laboratorium

Terapeutik
- Hentikan pemberian makan melalui
selang nasofastik jika asupan oral dapat
ditoleransi
-

4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan
oleh perawat maupun tenaga medis lain untuk membantu pasien dalam proses
penyembuhan dan perawatan serta masalah kesehatan yang dihadapi pasien yang
sebelumnya disusun dalam rencana keperawatan (Nursalam, 2018).

5. Evaluasi Keperawatan
Menurut Nursalam (2018), evaluasi keperawatan terdiri dari dua jenis yaitu :
a) Evaluasi formatif
Evaluasi ini disebut juga evaluasi berjalan dimana evaluasi dilakukan sampai
dengan tujuan tercapai.
b) Evaluasi somatif
Merupakan evaluasi akhir dimana dalam metode evaluasi ini menggunakan
SOAP.
DAFTAR PUSTAKA

Aprilia Kadi, F., Anggia Paramita, A., Eva Rakhmilla, L., Ilmu Kesehatan Anak, D.,
Studi Pendidikan Dokter, P., & Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran, D.
(2024). Kejadian Respiratory Distress Syndrome pada Bayi Lahir Prematur di
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (Vol. 26, Issue 1).
Efriza Putri. (2022). GAMBARAN FAKTOR RISIKO RESPIRATORY DISTRESS
SYNDROME PADA NEONATUS DI RSUP DR M. DJAMIL PADANG EFRIZA 1
., PUTRI,UM 2 ., GUSMIRA. 1(2).
Febri Agrina, M., Toyibah, A., Poltekkes Kemenkes Malang, J., Besar Ijen No, J., &
Malang, C. (2017). Tingkat Kejadian Respiratory Distress Syndrome (RDS). 3(2),
125–131.
Juniatiningsih, A., Aminullah, A., & Firmansyah, A. (2018). Profil Mikroorganisme
Penyebab Sepsis Neonatorum di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo Jkarta. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 10(1).
Nursalam. (2020, January). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan
Praktis Edisi 5. Salemba Medika.
Oktaviani Suwarna, N., Yuniati, T., Imam Cahyadi, A., Hanggono Achmad, T., Agustian
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
D., & Hasan Sadikin, R. (2022). Faktor Risiko Kejadian Sepsis Neonatorum
Awitan Dini di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. In Sari
Pediatri (Vol. 24, Issue 2).
Sari, E., & Muhammadiyah Pelembang, S. (2016). “Temu Ilmiah Hasil Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat” FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
DENGAN KEJADIAN SEPSIS PADA NEONATORUM DI RUMAH SAKIT
MOEHAMMAD HOESIN PALEMBANG.
Sriyana Herman. (2020). Buku Acuan Persalinan Kurang Bulan (Prematur).
Wilar, R., Antolis, Y., Tatura, S. N. N., & Gunawan, S. (2020). Jumlah Trombosit dan
Mean Platelet Volume Sebagai Faktor Prognosis pada Sepsis Neonatorum.
12(1).
Wulandari Kai, M., Kep, St., Sisri Novrita Ns Ni Made Sri Muryani, Mt., Fathiya Luthfil
Yumni, Mk., Siti Fatimah, Mk., Riri Safitri, Mb., Miskiyah SKM, Ms., Rika
Hairunisyah, Mb., & Ns Lalu Rodi Sanjaya, Ss. (2020). BUKU AJAR ANATOMI
FISIOLOGI.

Anda mungkin juga menyukai