BAB II
KERANGKA TEORI
II.A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Manajemen Pemasaran
“Manajemen adalah istilah yang bermakna manusia atau kumpulan
manusia yang melakukan kegiatan manajemen, yang terpisah yang pekerja
sebagai SDM yang dikelola manajemen” (Hoesada, 2013). Pengertian
manajemen pemasaran menurut Kotler dan Armstrong dalam buku
Principles of Marketing (2008 : 10) “Manajemen pemasaran sebagai seni
dan ilmu memilih target pasar dan membangun hubungan yang
menguntungkan dengan target pasar itu”.
American Marketing Association (AMA) mengutip pada buku Kotler
dan Keller (dalam Hadithya 2017), mendefinisikan tentang manajemen
pemasaran ‘Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian
proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai
kepada pelanggan dan untuk mengelolahubungan pelanggan dengan cara
yang melebihkan keuntungan organisasi dan pemangkukepentingannya’.
Menurut Kotler dan Amstrong (dalam Arif 2017) ‘Pemasaran adalah
analisis, perencanaan, implementasi, menciptakan, membangun dan
memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk
mencapai tujuan sasaran’.
9
10
Pasar dalam pengertian konkrit adalah suatu tempat bertemunya antara
penjual dan pembeli, serta tempat terjadinya pertukaran antara barang yang
dihasilkan dengan jasa-jasa yang diperlukan. Ada yang mempersamakan
pemasaran itu dengan analisis pasar (market analysis). Sebenarnya istilah itu
tidak tepat karena analisis pasar merupakan bagian dari pemasaran. Melihat
hal tersebut, maka dalam istilah itu sebenarnya terkandung suatu pengertian
yang luas.
Menurut Philip Kotler dalam bukunya Manajemen Pemasaran
(2009:5) Mendefinisikan Manajemen pemasaran adalah sebagai berikut :
“Seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan memilih, mempertahankan, serta
menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan
mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul”.
Menurut pengertian ini, proses pemasaran tidak hanya meliputi bidang
bisnis saja, tetapi mempunyai dimensi sosial dan manajerial yang luas dan
dinamis, yang dilakukan oleh perusahaan agar para konsumen merasa puas.
Pemasaran merupakan serangkaian prinsip untuk memilih pasar sasaran
(target market), mengevaluasi kebutuhan konsumen, mengembangkan
barang dan jasa, pemuas keinginan, memberikan nilai kepada konsumen dan
laba bagi perusahaan.
Pemasaran merupakan konsep kunci keberhasilan suatu bisnis dimana
pemasaran dengan memperhatikan keinginan dan kebutuhan konsumen
untuk tercapainya kepuasan dan memberikan dampak positif bagi
perusahaan di era persaingan bisnis yang begitu ketat. Pemasaran
11
merupakan salah satu bidang fungsional yang sangat penting dalam suatu
organisasi bisnis sebagai penunjang utama, bagi kelangsungan hidup
operasional suatu dunia usaha.
Pemahaman pemasaran bagi pihak pemasar sangat penting dalam
rangka pengenalan kebutuhan dan keinginan pelanggan, penentuan pasar
sasaran mana yang dapat dilayani dengan sebaik-baiknya oleh perusahaan,
serta merancang produk, jasa dan program yang tepat untuk melayani pasar
tersebut.
“Jadi manajemen pemasaran adalah kegiatan perencanaan, pengarahan
dan pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian
dari perusahaan”.
Dapat disimpulkan bahwa Menejemen Pemasaran adalah penganalisa,
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program – program yang
bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan
maksud untuk mencapai tujuan perusahaan. Titik berat diletakan pada
penawaran perusahaan dalam menemuhi kebutuhan dan keinginan pasar
serta menentukan harga, mengadakan komunikasi, dan distribusi yang
efektif untuk memberitahu, mendorong, serta melayani pasar.
Kegiatan nya bertujuan menimbulkan pertukaran yang di inginkan,
baik yang menyangkut barang dan jasa, atau benda – benda lain yang dapat
memenuhi kebutuhan psikologis, sosial, dan kebudayaan. Proses pertukaran
dapat ditimbulkan baik oleh penjual maupun oleh pembeli yang
menguntungkan kedua pihak. Penentuan produk, harga, promosi, dan
12
distribusi untuk mencapai tanggapan yang efektif disesuaikan dengan sikap
dan prilaku konsumen dan sebaliknya sikap dan prilaku konsumen
dipengaruhi sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang sesuai
ditawarkan perusahaan.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa seseorang manajer
pemasaran tidak hanya berfungsi untuk menetukan dan meningkatkan
permintaan pasar, tetapi juga berubah dan mengurangi permintaan tersebut
dengan menciptakan dan mengkomunikasian nilai konsumen. Jadi, manajer
pemasaran berusaha mengatur tingkat, waktu dan susunan dari permintaan
yang ada, agar dapat membantu organisasi mencapai sasarannya.
2. Pengertian Buaran Pemasaran
Dalam melaksanakan aktivitas pemasaran, setiap perusahaan berupaya
untuk menetapkan strategi pemasaran dan target marketnya. Aktivitas
pemasaran tersebut dimulai sejak memproduksi suatu produk sampai produk
tersebut diterima oleh pelanggan. Semua aktivitas yang dilakukan di bidang
pemasaran ditunjukan untuk menentukan produk, pasar, harga, dan promosi.
Lamb, Hair, dan Mc Daniel (2006) menjelaskan bahwa “bauran
pemasaran adalah strategi produk, promosi, dan penentuan harga yang
bersifat unik serta dirancang untuk menghasilkan pertukaran yang saling
menguntungkan dengan pasar yang dituju”.
Bauran pemasaran pada dasarnya terdiri atas empat bidang strategi
pemasaran, yaitu :
13
a. Keputusan pemasaran yang akan mengubah ide dasar dari barang atau
jasa keseluruhan.
b. Keputusan promosi yang akan mengomunikasikan informasi yang
berguna pada pasar tujuan.
c. Keputusan distribusi mengenai pengiriman produk kepada konsumen.
d. Keputusan harga yang menyatakan nilai pertukaran yang dapat diterima
pada barang atau jasa.
Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan
perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya dalam pasar sasarannya.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa produk, harga, distribusi,
promosi saling berhubungan dimana masing-masing elemen di dalamnya
saling memengaruhi. Kegiatan-kegiatan ini perlu dikontribusikan secara
efektif dan efisien sehingga perusahaan atau organisasi tidak hanya memilih
kombinasi yang baik saja, tetapi juga harus mengoordinasikan berbagai
macam elemen dari bauran pemasaran tersebut untuk melaksanakan
program pemasaran.
Ada banyak strategi yang dapat di pilih oleh perusahaan untuk
memenangkan persaingan, salah satunya adalah bauran pemasaran
(marketing mix) yang telah dianggap sebagai inti dari strategi yang
dilaksanakan oleh suatu perusahaan dan pesaing bisnisnya. Karena
posisinya tersebut maka bauram pemasaran telah menjadi salah satu faktor
utama dalam pemasaran ini.
14
Menurut Philip Kotler & Armstrong dalam bukunya Dasar – dasar
Pemasaran (2008:79) “Bauran pemasaran adalah seperangakat alat
pemasaran taktis yang dapat dikendalikan produk, harga, tempat (distribusi),
dan promosi yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan
tanggapan yang diinginkan perusahaan dalam pasar sasaran”.
Tugas pemasar adalah menyusun program pemasaran atau rencana
untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh perusahaan. Program
pemasaran terdiri dari sejumlah keputusan mengenai kombinasi alat
pemasaran yang akan dipergunakan. “Kombinasi pemasaran adalah
kumpulan alat-alat pemasaran yang dipergunakan oleh perusahaan untuk
mencapai tujuan pemasarannya didalam pasar sasaran” menurut Sumarni
Murti dan Soeprihanto dalam bukunya Pengantar Bisnis (2003:19-20).
Setiap perusahaan selalu berusaha untuk dapat tetap hidup,
berkembang, dan mampu bersaing. Dalam rangka inilah, maka setiap
perusahaan selalu menetapkan dan menerapkan strategi dan cara
pelaksanaan kegiatan pemasarannya. Kegiatan pemasaran yang dilakukan,
diarahkan untuk dapat mencapai sasaran perusahaan dalam jangka panjang
dan share pasar tertentu serta total unit dan total volume penjualan tertentu
dalam suatu jangka tertentu.
Pengarahan kegiatan pemasaran tersebut hanya mungkin dapat
dilakukan dengan mentapkan garis-garis besar sebagai pedoman atau
patokan/ panduan umum perusahaan dalam bidang pemasaran, yang
menekankan pemberian pelayanan yang memuaskan kepada konsumen,
15
melalui kegiatan dan strategi pemasaran yang terpadu dan memungkinkan
diperolehnya keuntungan/ laba dalam jangka panjang (Assauri, 2011).
Cakupan kegiatan pemasaran ditentukan oleh konsep pemasaran yang
disebut dengan bauran pemasaran (Marketing Mix). Elemen-elemen bauran
pemasaran terdiri dari semua variabel yang dapat dikontrol perusahaan
dalam komunikasinya dengan dan akan dipakai untuk memuaskan
konsumen sasaran.
Adapun pengertian bauran pemasaran menurut Zeitmal dan Bitner
yang dikutip oleh Rati hurriyati dalam bukunya Bauran Pemasaran
(2010:48), yaitu :
“Bauran pemasaran didefinisikan sebagai unsur organisasi kontrol
yang dapat digunakan untuk memenuhi atau berkomunikasi dengan
pelanggan. Unsur-unsur ini muncul sebagai inti keputusan variabel dalam
pemasaran teks atau rencana pemasaran”.
Adapun menurut Philip kotler dalam bukunya Marketing Management
(2009:101) sebagai berikut : “Bauran pemasaran adalah merupakan
seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus
mencapai tujuan pemasarannya dipasar sasaran”.
MC Carthy dalam Kotler dan Keller dalam bukunya Manajemen
Pemasaran (2009:63) mengklasifikasikan Marketing Mix menjadi empat
kelompok yang disebut 4P tentang pemasaran yaitu Product (Produk), Price
(harga), Place (Tempat), Promotion (Promosi).
16
a. Produk (Product)
Produk adalah semua yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk
diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat
memuaskan keinginan atau kebutuhan pemakainya.
b. Harga (price)
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan pada suatu produk
tertentu.
Perusahaan dalam memasarkan produknya perlu memikirkan tengtang
harga jual produknya secara tepat, karena penetapan harga yang tidak
tepat dapat mengakibatkan pembeli tidak tertarik untuk membeli
produk tersebut.
c. Distribusi (Place)
Saluran distribusi merupakan suatu struktur yang menggambarkan
alternative saluran yang dipilih dan menggabarkan situasi pemasaran
yang berbeda dari berbagai macam perusahaan. Menurut Philip Kotler
dalam bukunya Manajemen Pemasaran (2008:140) “Saluran distribusi
adalah serangkaian organisasi yang saling ketergantungan, yang terlibat
dalam proses untuk menjadikan suatu produk atau jasa siap untuk
digunakan atau dikonsumsi”.
d. Promosi (promotion)
Promosi adalah aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk
dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya. Program
pemasaran yang efektif mencampurkan semua elemen bauran
17
pemasaran kedalam program yang terkordinasi yang dirancang untuk
mencapai sasaran pemasaran perusahaan dengan cara memberikan nilai
kepada konsumen.
Jadi dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran adalah suatu
perangkat atau unsur-unsur pemasaran yang saling terkait, dibaurkan,
diorganisir dan digunakan dengan tepat yang dapat dilakukan
perusahaan untuk mempengaruhi permintaan terhadap produknya dan
perangkat-perangkat tersebut akan menentukan tingkat keberhasilan
pemasaran bagi perusahaan sekaligus memuaskan kebutuhan dan
keinginan konsumen.
3. Pengertian Harga
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam buku Manajemen
Pemasaran (2009:57) Mengatakan bahwa “Harga Adalah salah satu elemen
bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, elemen lain
menghasilkan biaya”.
Sedangkan menurut Murti Sumarni dan John Soeprihanti dalam buku
Pengantar Bisnis (2003:281) menerangkan bahwa “Harga adalah jumlah
uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang
atau jasa beserta pelayanannya”.
Mungkin harga adalah elemen termudah dalam program pemasaran
untuk disesuaikan, fitur produk, saluran, dan bahkan komunkasi
membutuhkan lebih banyak waktu. Harga juga mengomunikasikan
positioning nilai yang dimaksudkan dari produk atau merek perusahaan ke
18
pasar. Produk yang dirancang dan dipasarkan dengan bak dapat dijual
dengan harga tinggi dan menghasilkan laba yang besar.
Dalam arti yang sempit, harga (price) adalah jumlah yang ditagihkan
atas suatu produk atau jasa. Lebih luas lagi, harga adalah jumlah semua
ninlai yang diberikan oleh perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dari
memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa. Sepanjang sejarahnya,
harga telah menjadi faktor utama yang mempengaruhi pilihan para pembeli.
Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa faktor diluar harga menjadi
semakin penting. Namun, harga tetap menjadi salah satu elemen yang paling
penting dalam menentukan pangsa pasar dan keuntungan suatu perusahaan.
Harga juga merupakan satu dari elemen bauran pemasaran yang
paling fleksibel. Tidak seperti fitur produk dan komitmen penyalur, harga
dapat berubah dengan cepat. Pada saat yang bersamaan, penetapan harga
adalah permasalahan nomor satu yang dihadapi banyak eksekutif
pemasaran, dan banyak perusahaan tidak manangani penetapan harga
dengan baik. Salah satu masalah yang sering timbul adalah persauhaan
terlalu cepat menurunkan harga untuk mendapatkan penjualan daripada
meyaakinkan pembeli bahwa produknya yang bernilai lebih layak dihargai
tinggi. Kesalahan umum lainnya termasuk penetapan harga yang terlalu
berorientasi pada biaya daripada berorientasi pada nilai bagi pelanggan, dan
penetapan harga tidak memasukkan bagian lain dalam bauran pemasaran ke
dalam perhitungannya.
19
Menurut Rudianto dalam bukunya Akuntansi Manajemen (2006:230)
“Harga jual produk perusahaan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
perusahaan dalam mencapai tujuannya, harga jual yang terlalu tinggi akan
membuat masyarakat tidak membeli produk sehingga perusahaan tidak akan
memperoleh pendapatan dan laba yang cukup”.
Harga merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam
pemasaran suatu produk karena harga adalah salah satu dari empat bauran
pemasaran. Karena harga merupakan suatu nilai tukar dari produk barang
maupun jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter. Salah satu penentu
keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan beberapa besar
keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan dari hasil penjualan produknya
baik berupa barang atau jasa. Untuk menetapkan harga terlalu tinggi akan
menyebabkan penjualan akan menurun, namun jika harga terlalu rendah
akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh oleh suatu organisasi
perusahaan.
Penetapan harga mengungkapkan keputusan-keputusan harga yang
tergantung pada serangkaian kekuatan-kekuatan lingkungan yang sangat
rumit. Perusahaan tidak hanya menetapkan satu harga tunggal, tetapi lebih
sebuah struktur penetapan harga (pricing structure) yang mencakup item-
item yang berbeda disetiap lini produk. Perusahaan menyesuaikan harga
produk supaya dapat mencerminkan perubahan-perubahan biaya dan
permintaan serta memperhitungan berubah-ubah pembeli dan situasi. Ketika
lingkungan persaingan berubah, perusahaan itu mempertimbangkan kapan
20
memprakarsai perubahan harga dan kapan menanggapi perubahan harga
dipasar.
a. Tujuan Penetapan Harga
Setiap tujuan dari penetapan harga memiliki strategi pemasaran yang
berbeda. Strategi penetapan harga harus didasari pemahaman mendalam
atas tujuan spesifik yang hendak dicapai.
Menurut Arif Rahman dalam bukunya Strategi Dahsyat Marketing Mix
(2010:79) terdapat tiga kategori tujuan spesifik penetapan harga.
1) Tujuan Berorientasi Pendapatan
Hampir sebagian besar bisnis berorientasi pada pendapatan, hanya
perusahaan nirlaba yang biasanya berfokus pada titik impas.
2) Tujuan Berorientasi Kapasitas
Beberapa sektor bisnis biasanya menyelaraskan antara permintaan
dan penawaran dengan memanfaatkan kapasitas produksi
maksimal. Hotel dan penerbangan misalnya, yang akan
menurunkan harga pada saat musim sepi dan menaikkan harga saat
musim ramai atau liburan.
3) Tujuan berorientasi Pelanggan
Biasanya penetapan harga yang diberikan cukup representatif
mengakomodasi segala tipe pelanggan, segmen pasar, dan
perbedaan daya beli. Bisa dengan menggunakan sistem diskon,
bonus, dan lain-lain. Orientasi tujuan ini membantu posittioning
dan diferensiasi perusahaan.
21
Namun, dalam pelaksanaannya semua orientasi tujuan ini dapat
dilakukan dengan terintegrasi dan saling melengkapi. Selain ketiga
orientasi tersebut, harga juga bisa ditetapkan untuk mencapai tujuan
strategi seperti berikut :
1) Mempertahankan pelanggan loyal
2) Meningkatkan pelayanan
3) Mengurangi minat pesaing masuk ke sektor usaha yang sama, serta
4) Mengelola tingkat permintaan
Menurut Djaslim Saladin dalam bukunya Manajemen Pemasaran
(2006:142) mendefinisikan bahwa ada 6 (enam) tujuan yang dapat
diraih perusahaan melalui penetapan harga, yaitu :
1) Bertahan hidup (survival)
Pada kondisi tertentu, misalnya karena adanya kapasitas yang
menganggur, persaingan yang semakin gencar atau perubahan
keinginan konsumen, atau mungkin juga kesulitan keuangan, maka
perusahaan menetapkan harga jualnya dibawah biaya total produk
tersebut atau dibawah harga pasar. Tujuannya adalah untuk
bertahan hidup (survival) dalam jangka pendek. Untuk bertahan
hidup jangka panjang, harus mencari jalan keluar lainnya.
2) Memaksimalkan laba jangka pendek (maximum curent profit)
Perusahaan merasa yakin bahwa dengan volume penjualan yang
tinggi akan mengakibatkan biaya perunit lebih rendah dan
keuntungan yang lebih tinggi. Perusahaan menetapkan harga
22
serendah-rendahnya dengan asumsi pasar sangat peka terhadap
harga. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila :
a) Pasar sangat peka terhadap harga, dan rendahnya harga sangat
merangsang pertumbuhan pasar.
b) Biaya produksi dari distribusi menurun sejalan dengan
bertambahnya produksi.
c) Rendahnya harga akan melemahkan persaingan.
3) Market skiming pricing, jika ada sekelompok pembeli yang
bersedia membayar dengan harga yang tinggi terhadap produk yang
ditawarkan maka perusahaan akan menetapkan harga yang tinggi
walaupun kemudian harga tersebut akan turun.
4) Penetepan laba untuk pendapatan-pendapatan maksimal (Current
revenue pricing). Penetapan harga yang tinggi untuk memperoleh
revenue yang cukup agar uang kas cukup dan uang kas cepat
kembali.
5) Penetapan harga untuk sasaran (Target profit pricing). Harga
berdasarkan produk.
6) Penetapan harga untuk promosi (Promotional pricing). Penetapan
harga untuk suatu produk dengan maksud untuk mendorong
penjualan produk-produk lain.
Ada dua macam, yaitu :
a) Loss leader pricing, penetapan harga untuk suatu produk agar
pasar mendorong penjualan produk lainnya.
23
b) Prestice pricing, penetapan harga yang tinggi untuk suatu
produk guna meningkatkan image tentang kualitas.
Menurut Deliyanti Oentoro dalam bukunya Manajemen Pemasaran
Modern (2012:159) pada dasarnya ada 4 jenis tujuan penetapan harga,
yaitu :
1) Tujuan Berorientasi pada Laba
Asumsi teori ekonomi klasik menyatakan bahwa setiap perusahaan
selalu memilih harga yang dapat menghasilkan laba paling tinggi.
Tujuan ini dikenal dengan istilah maksimisasi laba. Dalam era
persaingan global, kondisi yang dihadapi semakin kompleks dan
semakin banyak variabel yang berpengaruh terhadap daya saing
setiap perusahaan, sehingga tidak mungkin suatu perusahaan dapat
mengetahui secara pasti tingkat harga yang dapat menghasilkan
laba maksimum. Oleh karena itu ada pula perusahaan yang
menggunakan pendekatan target laba, yakini tingkat laba yang
sesuai atau pantas sebagai sasaran laba. Ada dua jenis target laba
yang biasa digunakan, yaitu target marjin dan target ROI (Return
On Investmen).
2) Tujuan Berorientasi pada Volume
Selain tujuan berorinetasi pada laba, ada pula perusahaan yang
menetapkan harganya berdasarkan tujuan yang berorientasi pada
volume tertentu atau yang biasa dikenal dengan istilah volume
pricing objective. Harga ditetapkan sedemikian rupa agar dapat
24
mencapai target volume penjualan atau pangsa pasar. Tujuan ini
banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan penerbangan.
3) Tujuan Berorientasi pada Citra
Citra (image) suatu perusahaan dapat dibentuk melalui strategi
penetapan harga. Perusahaan dapat menetapkan harga tinggi untuk
membentuk atau mempertahankan citra prestisius. Sementara itu
harga rendah dapat digunakan untuk membentuk citra nilai tertentu
(image of value), misalnya dengan memberikan jaminan bahwa
harganya merupakan harga yang terendah disuatu wilayah tertentu.
Pada hakekeatnya baik penetapan harga tinggi maupun rendah
bertujuan untuk meningkatkan persepsi konsumen terhadap
keseluruhan bauran produk yang ditawarkan perusahaan.
4) Tujuan Stabilisasi Harga
Dalam pasar yang konsumennya sangat sensitif terhadap harga, bila
suatu perusahaan menurunkan harganya, maka para pesaingnya
harus menurunkan pula harga mereka. Kondisi seperti ini yang
mendasari terbentuknya tujuan stabilisasi harga dalam industri-
industri tertentu (misalnya minyak bumi). Tujuan stabilisasi
dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk mempertahankan
hubungan yang stabil antara harga suatu perusahaan dan harga
pemimpin industri (industry leader).
5) Tujuan-tujuan lainnya
25
Harga dapat pula ditetapkan dengan tujuan mencegah masuknya
pesaing, mempertahankan loyalitas pelanggan, mendukung
penjualan ulang, atau menghindari campur tangan pemerintah.
Tujuan-tujuan penetapan harga di atas memiliki implikasi penting
terhadap strategu bersaing perusahaan. Tujuan yang ditetapkan harus
konsisten dengan cara yang ditempuh perusahaan dalam menetapkan
posisi relatifnya dalam persaingan. Misalnya, pemilihan tujuan laba
mengadung makna bahwa perusahaan akan mengabaikan harga para
pesaing.
Pilihan ini dapat diterapkan dalam 3 kondisi, yaitu :
1) Tidak ada pesaing
2) Perusahaan beroperasi pada kapasitas produksi maksimum
3) Harga bukanlah merupakan atribut yang penting bagi pembeli
Berbeda dengan tujuan laba, pemilihan tujuan volume dilandaskan
pada strategi mengalahkan atau mengatasi persaingan. Sedangkan
tujuan stabilisasi didasarkan pada strategi menghadapi atau memenuhi
tuntutan persaingan. Dalam tujuan volume dan stabilisasi, perusahaan
harus dapat menilai tindakan-tindakan pesaingnya. Dala tujuan
berorientasi pada citra, perusahaan berusaha menghindari persaingan
dengan jalan melakukan diferensiasi produk atau dengan jalan melayani
segmen pasar khusus.
26
b. Metode Penetapan Harga
Menurut Rudianto dalam bukunya Akuntansi Manajemen
(2006:232) Secara umum terdapat beberapa metode yang dapat
dipergunakan untuk menentukan harga jual suatu produk dengan
berbasis pada besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan, yaitu
sebagai berikut :
1) Metode Maksimalisasi Laba
Secara umum tujuan dari didirikannya sebuah perusahaan
adalah untuk menghasilkan laba maksimal dalam jangka panjang.
Laba maksimal dalam jangka pendek bukanlah tujuan yang baik
dari perusahaan yang ingin hidup berkesinambungan dalam jangka
panjang. Laba usaha per unit produk yang besar, tetapi tidak
diimbangi dengan volume penjualan produk yang optimal, jelas
hanya akan menghasilkan laba usaha total yang tidak optimal.
Sebaliknya, laba usaha per unit produk yang kecil tetapi diimbangi
dengan penjualan produk dalam volume yang besar, mungkin juga
tidak akan menghasilkan laba usaha total seperti yang diharapkan.
Jika faktor harga jual akan berpengaruh secara nyata terhadap
volume penjualan produk maka menghitung dan menganalisis
berbagai variasi dan alternatif harga jual dan volume penjualan
sangat diperlukan untuk melihat alternatif yang paling
menguntungkan bagi perusahaan. Kombinasi antara harga jual dan
27
volume penjualan yang paling menguntungkan harus dipilih untuk
melihat dampak optimalnya perolehan laba usaha perusahaan.
2) Metode Tingkat Pengembalian Atas Modal
Terkadang perusahaan menetapkan terlebih dulu besarnya
tingkat pengembalian atas modal yang ditanamkannya didalam
suatu bidang usaha, sebagai dasar untuk menentukan harga jual
produk yang dihasilkan perusahaan tersebut. Tingkat pengembalian
yang diharapkan oleh para penanam modal perusahaan
mengharuskan perusahaan menggunakannya sebagai dasar untuk
menetapkan harga jual produk pada kapasitas produksi yang
dimiliki perusahaan.
3) Metode Biaya Konversi
Jika suatu perusahaan memproduksi lebih dari satu produk
dengan komposisi biaya yang berbeda satu dengan lainnya maka
perusahaan tersebut dapat mempertimbangkan untuk membuatu
pilihan produksi yang paling menguntungkan bagi perusahaan.
Maksudnya, jika perusahaan memiliki 2 produk untuk dihasilkan
dengan jumlah laba per unit yang sama antara satu produk dengan
lainnya maka perusahaan harus melihat komposisi biaya diantara
kedua produk. Dengan melihat dan menganalisis komposisi biaya
masing-masing produk tersebut, perusahaan dapat memilih untuk
memproduksi salah satu produk saja yang memberikan keuntungan
total yang lebih besar bagi perusahaan.
28
4) Metode Marjin Kontribusi
Marjin kontribusi adalah selisih antara harga jual dengan biaya
produksi variabel yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk
tersebut. Marjin kontribusi bukanlah laba kotor usaha. Marjin
kontribusi dihitung dengan mengabaikan biaya tetap yang
dikeluarkan perusahaan. Jika perusahaan telah mencapai titik impas
(break even point) maka biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan
pada priode tersebut telah dibebankan dan ditutup oleh volume
impas tersebut. Itu juga berarti bahwa untuk volume penjualan
diatas volume impas perusahaan dapat mengabaikan biaya tetap
tersebut dalam menentukan harga jual produknya. Tentu saja hal itu
hanyalah salah satu alternatif yang dapat diambil perusahaan dalam
menghadapi berbagai macam persoalan didalam menentukan harga
jual produknya. Misalnya, dalam menghadapi persaingan harga
yang ketat menentukan harga jual produk untuk pesanan khusus,
menentukan harga jual produk untuk pesanan tambahan, dan
sebagainya.
5) Metode Biaya Standar
Jika perusahaan telah memiliki biaya standar yang dijadikan
tolak ukur dalam menentukan besarnya biaya produksi maka
penetuan harga jual dapat pula ditentukan berdasarkan biaya
standar yang dimiliki perusahaan. Persoalannya, seringkali realisasi
biaya produksi menyimpang dari biaya standar yang dimiliki
29
perusahaan. Jika terjadi penyimpangan realisasi biaya produksi dari
biaya standarnya maka harus segara diambil tindakan cepat untuk
merevesi keputusan harga jual yang telah ditetapkan.
Secara umum, terdapat 4 jenis perusahaan dilihat dari reaksi
yang mereka lakukan terhadap penyimpangan biaya standar, yaitu
sebagai berikut :
a) Perusahaan yang tidak merevisi standar yang telah
ditetapkannya, walaupun terjadi penyimpangan didalam
realisasi biaya produksi.
b) Perusahaan yang merevisi standar yang telah ditetapkannya
dalam batas tertentu, pada saat terjadi penyimpangan di dalam
realisasi biaya produksi.
c) Perusahaan yang merevisi standar yang telah ditetapkannya
agar lebih sesuai dengan kondisi aktual, pada saat terjadi
penyimpangan di dalam realisasi biaya produksi.
d) Perusahaan menggunakan harga pasar, pada saat terjadi
penyimpangan terhadap realisasi biaya produksi.
Dan ada 3 metode atau cara lain yang dilakukan untuk
menetapkan harga suatu produk, diantaranya adalah :
a) Pendekatan permintaan dan penawaran (supply demand
approach)
Dari tingkat permintaan dan penawaran yang ada ditentukan
harga keseimbangan (equilibrium price) dengan cara mencari
30
harga yang mampu dibayar konsumen dan harga yang diterima
produsen sehingga terbentuk jumlah yang diminta sama
dengan jumlah yang ditawarkan.
b) Pendekatan Biaya (cost oriented approach)
Menentukan harga dengan cara menghitung biaya yang
dikeluarkan produsen dengan tingkat keuntungan yang
diinginkan baik dengan mark up pricing dan break even
analysis.
c) Pendekatan Pasar (market approach)
Merumuskan harga untuk produk yang dipasarkan dengan cara
menghitung variabel-variabel yang mempengaruhi pasar dan
harga seperti siatuasi dan kondisi politik persaingan, sosial
budaya, dan lain-lain.
Menurut Djaslim Saladin dalam bukunya Intisari Pemasaran
dan Unsur-unsur Pemasaran (2006:146) mengemukakan bahwa
terdapat beberapa metode penetapan harga jual, yakni :
a) Penetapan harga mark up (mark-up pricing)
Penetapan harga menurut metode ini adalah berdasarkan biaya
keseluruhan yang telah dikeluarkan dengan mark-up tertentu
sebagai keuntungan.
b) Penetapan harga menurut tingkat sasaran (target return
pricing).
31
Perusahaan menetapkan harga jual berdasarkan persentase
yang inginkan dari investasi yang ditanam dari sejumlahlah
unit yang diharapkan terjual.
c) Penetapan harga menurut pandangan konsumen (perceived
value pricing)
Harga jual produk itu berdasarkan nilai yang di rasakan oleh
konsumen terhadap produk tersebut.
d) Penetapan harga berdasarkan harga pasar (going rate princing)
Penetapan harga jual berdasarkan harga yang telah ditetapkan
pesaing pasar.
e) Penetapan harga dalam sampul tertutup (sealed bid pricing)
Penetapan harga demikian ini biasanya dilakukan dalam
tender, dimana beberapa perusahaan diundang oleh suatu
instansi ataupun swasta untuk mengajukan penawaran dalam
amplop tertutup.
c. Faktor-faktor yang Dipertimbangkan pada saat Menetapkan
Harga
Harga yang diajukan oleh perusahaan akan gagal bila berada terlalu
tinggi untuk dapat menghasilakn permintaan dan bila terlalu rendah
untuk menghasilkan keuntungan. Persepsi pelanggan terhadap nilai-
nilai dari produk menjadi batas atas dari harga. Bila pelanggan
menganggap bahwa harga lebih besar daripada nilai produk, mereka
32
tidak akan membeli produk. Biaya produksi menetapkan batas bawah
bagi harga.
Bila perusahaan menetapkan harga di bawah biaya produksi,
perusahaan akan mengalami kerugian. Dalam penetapan harga diantara
dua keadaan ekstrm ini, perusahaan harus mempertimbangkan sejumlah
faktor internal dan eksternal lainnya, termaksud strategi dan bauran
pemasaran secara keseluruhan, kondisi pasar dan permintaan, dan
starategi serta harga dari para pesaing.
Pada akhirnya, pelangganlah yang akan memilih apakah harga
suatu produk sudah tepat. Keputusan penetapan harga, seperti
keputusan bauran pemasaran lainnya, harus dimulai dengan nilai
pelanggan. Bila para pelanggan pembeli sebuah produk, mereka
munukarkan suatu nilai (harganya) untuk mendapatkan sesuatu nilai
(keuntungan dari memiliki atau menggunakan produk). Secara efektif,
penetapan harga yang berorientasi pelanggan melibatkan pemahaman
akan nilai yang dianggap pelanggan dapat menggantikan keuntungan
yang mereka peroleh dari produk dan menetapkan harga yang
menunjukan nilai ini.
Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong dalam bukunya
Prinsip-prinsip Pemasaran Merangkum pertimbangan-pertimbangan
dalam penetapan harga.
33
Gambar 1.1
Hal-hal yang dipertimbangkan dalam penetapan harga
Pertimbangan internal dan Biaya-Biaya
Persepsi nilai oleh Produk
eksternal lainnya
pelanggan
Batas atas harga Strategi, tujuan dan bauran Batas bawah
tidak ada pemasaran harga
permintaan diatas Tidak ada
batas ini Kondisi dan permintaan pasar
keuntungan di
Strategi dan harga dari pesaing bawah harga
ini
d. Strategi Penetapan Harga dan Bauran Produk
Pada umumnya harga yang ditetapkan perusahaan disesuaikan
dengan strategi perusahaan secara keseluruhan dalam menghadapi
situasi dan kondisi yang selalu berubah, dan diarahkan untuk mencapai
tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan untuk tahun atau waktu
tersebut. Hal ini dilakukan perusahaan karena penetapan harga jual
mempunyai dampak langsung terhadap besarnya laba perusahaan,
volume penjualan, dan market share perusahaan. Disamping itu, untuk
dapat berhasilnya usaha perusahaan mencapai tujuan dan sasarannya,
harga yang ditetapkan harus didasarkan atas pertimbangan faktor yang
diluar jangkauan pengendalian pimpinan perusahaan (uncontrol-lable
faktors), seperti kebijakan pemerintahan, keadaan persaingan,
perubahan selera atau keinginan dan kebutuhan konsumen, keadaan
sosial, politik dan budaya masyarakat, serta perkembangan teknologi.
34
Oleh karena itu, tingkat harga dan syarat-syarat pembayaran tidak selalu
sama dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
Terdapatnya perubahan situasi dan kondisi pasar, terutama
perubahan yang terjadi pada faktor yang diluar jangkauan pengendalian
pimpinan perusahaan, mempengaruhi tingkat dan penetapan harga jual
yang ditetapkan perusahaan. Misalkan, pada dampak devaluasi,
perusahaan umumnya menetapkan kenaikan tingkat harga jual rata-
ratanya sebesar 25% besarnya tingkat harga jual ini ditentukan
berdasarkan pertimbangkan besarnya kenaikan harga pokok atau biaya
persatuan, harga jual dari pesaing dan kemampuan atau daya beli dari
konsumen.
Dengan dasar pertimbangan ini, tingkat perubahan harga jual tidak
selalu sebanding atau proporsional dengan tingkat perubahan harga
pokok penjualan atau biaya persatuan, umumnya, tingkat harga jual
disamping dipengaruhi oleh faktor permintaan atau daya beli konsumen
juga dipengaruhi oleh tingkat persaingan yang terdapat dipasar. Dengan
adanya keadaan pasar yang semakin lesu, yang terutama disebabkan
oleh dampak resesi, hal ini menimbulkan tingkat persaingan semakin
tajam, sehingga tingkat harga yang ditetapkan biasanya adalah tingkat
harga bersaing. Dengan demikian, tingkat harga yang ditetapkan tidak
akan jauh berbeda dengan tingkat harga para pesaing. Penetapan
strategi harga terdiri dari :
1) Strategi Keseragaman Harga
35
Pada dasarnya harga yang ditetapkan oleh perusahaan untuk
suatu produk yang dihasilkan atau dipasarkan dapat didasarkan atas
strategi harga yang sama atau seragam untuk seluruh daerah atau
segmen pasar-pasar yang dilayani (disebut single pricing), dan
strategi harga yang tidak seragam atau berbeda-beda untuk
beberapa daerah atau segmen pasar (multi pricing). Perusahaan
menetapkan harga yang berbeda atau tidak seragam umumnya
didasarkan pada pertimbangan tujuan dan sasaran yang akan
dicapai di masing-masing daerah pemasaran, serta situasi dan
kondisi di daerah tersebut.
2) Strategi Potongan Harga (Discount)
Potongan harga (Discount) sering digunakan oleh perusahaan
untuk meningkatkan jumlah penjualan dan hasil penerimaan
penjualan serta share pasar perusahaan. Perusahaan dapat
memberikan potongan harga kepada pembeli yang membeli dalam
jumlah besar (quantity discount) atau kepada pembeli yang
membayar dengan tunai (cash discount). Berdasarkan
pertimbangan ini, suatu perusahan dapat melakukan strategi
potongan harga yang berbeda untuk pedagang besar atau distributor
dan untuk subdistributor dapat diberikan potongan harga antara 5
s.d 10%, yang umumnya dikaitkan dengan rata-rata besarnya
pembelian yang dilakukan masing-masing.
36
Strategi untuk menetapkan harga produk sering berubah dan
produk itu menjadi bagian dari bauran produk. Dalam kasus ini,
perusahaan mencari sekumpulan harga yang memaksimalkan laba dari
total bauran produk. Penetapan harga sulit dilakukan karena berbagai
produk mempunyai permintaan dan biaya yang berhubungan dan
menghadapi derajat kompetisi yang berbeda.
Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong dalam bukunya
“Prinsip-Prinsip Pemasaran” terdapat 5 strategi dalam penetapan harga
bauran produk antara lain :
Strategi Penetapan Harga Produk Tambahan
Strategi Deskripsi
1. Penetapan harga lini produk 1. Menetapkan jenjang harga diantara barang-barang pada lini
2. Penetapan harga produk produk
tambahan 2. Menetapkan harga produk tambahan atau pelengkap yang dijua
3. Penetapan harga produk beserta produk utama
terikat 3. Menetapkan harga produk yang harus digunakan bersama produk
4. Penetapan harga produk utama
sampingan 4. Menetapkan harga rendah pada produk-produk sampingan untuk
5. Penetapan harga paket produk menyingkirkan mereka
5. Menetapkan harga untuk paket produk yang dijual bersama
1) Penetapan harga lini produk
Perusahaan biasanya mengembangkan lini produk dan juga
produk tunggal. Manajemen harus memutuskan jenjang harga yang
ditetapkan antara berbagai produk dalam lini.
Jenjang harga harus memperhitungkan perbedaan biaya
antara produk dalam lini, ebaluasi pelanggan tentang berbagai fitur
yang berbeda, dan harga pesaing dalam banyak industri, penjual
menggunakan titik harga yang sudah ditetapkan untuk produk
37
dalam lini mereka. Tugas penjual adalah menetapkan perbedaan
kualitas anggapan yang mendukung perbedaan harga tersebut.
2) Penetapan harga produk tambahan
Banyak perusahaan menggunakan penetapan harga produk
tambahan (optional product pricing) menawarkan untuk menjual
produk tambahan atau pelengkap beserta produk utama mereka.
Menetapkan harga bagi produk tambahan ini merupakan masalah
yang sulit. Perusahaan harus memutuskan barang mana yang akan
dimasukkan dalam harga dasar dan mana yang ditawarkan berbagai
tambahan hingga beberapa tahun terakhir, strategi penetapan harga
adalah model dasar pada harga dasar untuk menarik orang dan
kemudian memberikan sebagian besar produk tambahan dengan
harga yang lebih tinggi. Model ekonomis membuang begitu banyak
kenyamanan dan kemewahan sehinggan ditolak oleh sebagian
besar pembeli.
3) Penetapan Harga Produk Terikat
Perusahaan yang membuat produk yang harus digunakan
beserta produk utama menggunakan penetapan harga produk terikat
(captive product pricing).
4) Penetapan Harga Produk Sampingan
Dalam memproduksi suatu barang sering kali ada produk
sampingan, jika produk sampingan tidak mempunyai nilai dan
diperlukan biaya mahal untuk menyingkirkan produk-produk itu,
38
hal ini akan mempengaruhi penetapan harga produk utama. Dengan
menggunakan penetapan harga produk sampingan (by-product
pricing), produsen akan mencari pasar untuk produk sampingan ini
dan harus menerima harga berapa pun yang menutupi biaya
penyimpanan dan pengirimannya, produk sampingan bisa berubah
menjadi produk yang menguntungkan.
Kadang-kadang, perusahaan tidak menyadari betapa
berharganya produk sampingan mereka. Misalnya, sebagian besar
kebun binatang tidak menyadari bahwa salah satu produk
sampingan mereka yaitu kotoran hewan penghuninya bisa menjadi
sumber pendapatan tambahan yang sempurna. Menetapkan harga
untuk produk sampingan guna membuat harga produk utama lebih
kompetitif bisa menguntungkan keberuntungan.
5) Penetapan Harga Paket Produk
Dengan menggunakan penetapan harga paket produk
(product bundle pricing), penjual sering menggabungkan beberapa
produk mereka dan menawarkan paket produk pada harga yang
lebih murah. Pemaketan harga dapat meningkatkan penjualan
produk yang mungkin tidak akan dibeli konsumen jika dijual
terpisah, tetapi harga gabungan harus cukup rendah agar konsumen
membeli paket tersebut.
39
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga
Menurut Arif Rahman dalam bukunya Strategi Dahsyat
Marketing Mix (2010:93) “Terdapat batasan yang menyebabkan
penetapan suatu harga melalui sebuah progres, yakni faktor yang
memengaruhinya”. Sebaiknya di dalam menetapkan harga suatu produk
perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi penetapan harga adalah :
1) Keadaan Perekonomian
Keadaan ini sangat mempengaruhi perusahaan dalam
menetapkan tingkat harga yang berlaku, misal pada saat inflasi
yang mengakibatkan harga-harga produk umumnya naik.
2) Penawaran dan Permintaan
Permintaan adalah sejumlah barang yang diminta oleh
konsumen pada tingkat harga tertentu, yang pada umumnya
semakin rendah harga, permintaan akan mengalami kenaikan,
sementaran penawaran kebalikannya, yakni jumlah yang
ditawarkan oleh penjual pada tingkat harga tertentu.
3) Elastisitas permintaan
Faktor lain adalah sifat permintaan pasar, yang tidak hanya
mempengaruhi harga tapi juga volume yang dapat dijual. Jika harga
naik, penjualan akan menurun, demikian pula sebaliknya.
4) Persaingan
40
Bentuk dan sifat persaingan beragam, hal ini akan
memengaruhi strategi penetapan harga. Beberapa bentuk
persaingan tersebut adalah sebagai berikut :
a) Persaingan tidak sempurna
Hal ini umumnya terjadi pada barang-barang manufaktur
yang menyebabkan barang dengan merek tertentu mengalami
kesulitan dalam pemasaran karena adanya perbedaan dari
merek. Beberapa produk logam tempa, seperti perak dan emas
memiliki pasar luas di beberapa kalangan dan daerah karena
telah dikenal memiliki prestasi dan reputasi yang baik.
Perusahaan follower biasanya cenderung menurunkan harga
untuk bisa tetap berada di peta persaingan.
b) Oligopoli
Terjadi saat beberapa orang penjual menguasai pasar
sehingga harga yang ditetapkan tinggi.
c) Monopoli
Terjadi dalam keadaan jumlah penjual yang ada di pasar
hanya satu, sehingga penentuan harga dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti permintaaan barang tersebut, harga
barang-barang subtitusi/ pengganti, dan peraturan pemerintah.
5) Biaya
Penetapan harga sering dilakukan berdasar beberapa besarnya
biaya dasar. Jika harga jual di atas biaya, marjinnya akan menjadi
41
keuntungan. Jika sebaliknya, yang terjadi adalah kerugian. Dasar
dari penentuan harga adalah biaya. Perusahaan ingin menetapkan
harga yang dapat menutup biaya yang telah dikeluarkan dan
memberikan tingkat pengembalian yang wajar atas investasi yang
ditanamkannya. Banyak perusahaan berusaha untuk menjadi
produsen berbiaya rendah sebab dapat memperbesar penjualan dan
laba.
6) Kebijakan Pemerintah
Dalam hal ini pemerintah mengenakan pajak pada perusahaan
sesuai dengan peraturan yang ada. Dengan adanya pajak tersebut
akan berpengaruh terhadap perusahaan dalam menetapkan harga,
misalnya jika pajak yang dikenakan pada perusahaan tinggi maka
harga juga dinaikkan.
4. Pengertian Penjualan
Penjualan merupakan tujuan utama dilakukanya kegiatan pemasaran.
Perusahaan dalam menghasilkan barang, mempunyain tujuan akhir yaitu
menjual barang tersebut kepada masyarakat. Oleh karena itu, pemasaran
memegang peranan penting bagi perusahaan agar produk yang dihasilkan
oleh perusahaan dapat terjual dan memberikan laba bagi perusahaan.
Kegiatan penjualan yang dilaksanakan oleh perusahaan bertujuan untuk
menjual barang yang diperlukan sebagai sumber pendapatan untuk menutup
semua biaya operasional untuk memperoleh laba.
42
Menurut Marbun dalam bukunya Kamus Manajemen (2005:230)
“penjualan adalah pemindahan hak milik atas barang yang dilakukan
penjualan kepada pembeli dengan harga yang disepakati bersama dengan
jumlah yang dibebankan kepada pelanggan dalam penjualan barang dalam
suatu priode akuntansi”.
Penjualan merupakan pengalihan hak milik atas barang dengan
imbalan uang sebagai gantinya dengan persetujuan untuk menyerahkan
barang kepada pihak lain dengan menerima pembayaran. Keberhasilan
usaha penjualan dapat dilihat dari volume penjualan yang didapat. Dengan
kata lain, apakah usaha itu dapat laba atau tidak, sangat tergantung kepada
keberhasilan penjualan itu.
Pengertian penjualan menurut Marbun dalam bukunya Kamus
Manajemen (2005:230) adalah “total barang yang terjual oleh perusahaan
dalam jangka waktu tertentu”.
Dari beberapa pengertian penjualan diatas dapat disimpulkan bahwa
penjualan merupakan kegiatan berupa menjual barang yang dilakukan antara
dua belah pihak (pembeli dan penjual) yang dapat dilakukan baik secara
tunai maupun secara kredit.
a. Jenis dan Bentuk Penjualan
Menurut Basu Swastha dalam bukunya Manajamen Penjualan
(1998:11) Terdapat bebarapa jenis penjualan yang bisa dikenal dalam
masyarakat diantaranya adalah :
43
1) Trade selling yaitu penjualan yang terjadi bila mana produsen dan
pedagang besar mempersilakan pengecer untuk berusaha
memperbaiki distribusi produk mereka, hal ini melibatkan para
penyalur dengan kegiatan promosi, peragaan, penyediaan dan
produk baru, jadi titik beratnya adalah para penjual melalui
penyalur bukan pada penjualan ke pembeli akhir.
2) Missionary Selling yaitu penjualan yang berusaha ditingkatkan
dengan mendorong pembeli untuk membeli barang dari penyalur
perusahaan.
3) Technical Selling yaitu berusaha meningkatkan penjualan dengan
pemberian saran dan nasihat kepada pembeli akhir dari barang dan
jasa.
4) New Business Selling yaitu berusaha membuka transaksi baru
dengan membuat calon pembeli menjadi pembeli seperti halnya
dilakukan perusahaan asuransi.
5) Responsive Selling yaitu setiap tenaga penjual diharapkan dapat
memberikan reaksi terhadap permintaan pembeli melalui route
driving and retaining. Jenis penjualan ini tidak akan menciptakan
penjualan yang besar, namun terjalin hubungan pelanggan yang
baik yang menjurus pada pembelian ulang.
Selain itu terdapat berbagai macam transaksi penjualan yang
dapat diklafikasikan sebagai berikut:
44
1) Penjualan secara tunai
Adalah penjualan yang bersifat cash and carry dimana penjual
setelah terdapat kesepakatan harga antara penjual dengan pembeli
maka pembeli menyerahkan pembayaranya secara kontan dan bisa
langsun dimiliki oleh pembeli.
2) Penjualan kredit
Adalah penjualan non cash dengan tengang waktu rata – rata
diatas 1 bulan.
3) Penjualan secara tender
Adalah penjualan yang dilaksanakan melalui prosedur tender
untuk memenuhi permintaan pihak pembeli yang membuka tender.
4) Penjualan ekspor
Adalah penjualan yang dilaksanakan dengan pihak pembeli
luar negri yang mengimpor barang yang biasanya menggunakan
fasilitas letter of credit (LC).
5) Penjualan secara konsiyasi
Adalah penjulan barang secara “Titipan” kepada pembeli yang
juga sebagai penjual apabila barang tersebut tidak terjual maka
akan dikembalikan kepada penjual.
6) Penjualan secara grosir
Adalah penjual yang tidak langsung kepada pembeli, tetapi
melalui pedagang prantara yang menjadi prantara pabrik/ importir
dengan pedagang eceran.
45
b. Fungsi dan Tujuan Penjualan
Fungsi penjualan meliputi aktivitas – aktivitas yang dilakukan
oleh penjual untuk merealisasikan penjualan seperti:
1) Menciptakan perminta
2) Mencari pembeli
3) Memberikan saran – saran
4) Membicarakan syarat – syarat penjualan
5) Memindahkan hak milik
Pada umumnya, para pengusaha mempunyain tujuan yaitu
mendapatkan laba tertentu (semanksimal mungkin) dan
mempertahankan atau bahkan berusaha meningkatkanya untuk jangka
waktu yang lama. Tujuan tersebut dapat direalisasi apabila penjualan
dapat dilaksanakan seperti yang telah dirancanakan. Menurut Basu
Swastha dalam bukunya Manajemen Penjualan (2004:404) Perusahaan
pada umumnya mempunyai 3 tujuan umum dalam penjualan yaitu:
1) Mencapai volume penjualan tertentu
2) Mendapatkan laba tertentu
3) Menunjang pertumbuhan perusahaan
c. Volume Penjualan
Volume penjualan merupakan salah satu indikator dari kinerja
perusahaan. Berhasilnya tidaknya suatu perusahaan dapat dilihat dari
kondisi volume penjualan secara keseluruhan. Volume penjualan disini
juga sebagai salah satu bentuk kinerja perusahaan dalam menjalankan
46
kegiatan usahanya, tujuan utama dari perusahaan adalah untuk
memperoleh keuntungan. Salah satunya ialah dengan meningkatkan
volume penjualan yang dihasilkan oleh perusahaan.
Menurut Freddy Rangkuti dalam bukunya Strategi promosi yang
kreatif (2009:206) “Volume penjualan juga merupakan jumlah total
yang dihasilkan dari kegiatan penjualan barang. Semakin besar jumlah
penjualan yang dihasilkan perusahaan, semakin besar kemungkinan
laba yang akan di hasilkan perusahaan. Oleh karena itu volume
penjualan merupakan salah satu hal penting yang harus di evaluasi
untuk kemungkinan perusahaan agar tidak rugi. Jadi volume penjualan
yang mengutungkan harus menjadi tujuan utama perusahaan”.
Sedangkan volume penjualan yang dikemukan oleh Freddy
Rangkuti dalam bukunya Strategi promosi yang kreatif (2009:207)
bahwa “volume penjualan adalah pencapaian yang dinyatakan secara
kuantitatif dari segi fisik atau volume atau unit suatu produk. Volume
penjualan merupakan suatu yang menandakan naik turunya tingkat
penjualan dan dapat dinyatakan bentuk unit, kilo, ataupun ton”.
Dapat di simpulkan bahwa volume penjualan merupakan jumlah
total yang dihasilkan dari kegiatan penjualan barang. Semakin besar
jumlah penjualan yang dihasilkan perusahaan, semakin besar
kemungkinan laba yang akan dihasilkan perusahaan. Oleh karena itu
volume penjualan merupakan salah satu hal penting yang harus
dievaluasi untuk agar perusahaan tidak mengalamin kerugian.
47
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penjualan
Menurut Munawir dalam bukunya Analisis Laporan Keuangan
(2002:217). Dalam praktek, kegiatan penjualan itu dipengaruhi oleh
beberapa faktor sebagai berikut :
1) Perubahan harga jual atau satuan produk
Perubahaan harga jual ini ditentukan oleh keadaan pasar yang
sulit dikendalikan oleh perusahaan sehingga akan mempengaruhi
besar kecilnya penjualan.
2) Perubahaan volume produk yang dijual atau dihasilkan
Perubahaan volume produk yang dijual mempunyai hubungan
langsung dengan kegiatan bagian [Link] kenaikkan
volume yang dijual berarti bagian penjualan bekerja secara aktif
dan perusahaan semakin efisien dalam operasional. Dan beberapa
faktor lain diantara nya :
a) Kondisi dan kemampuan penjual
Disini penjual harus dapat menyakinkan kepada
pembelinya agar dapat berhasil mencapai sasaran penjualan
yang diharapkan. Untuk maksud tersebut penjual harus
memahami bebarapa masalah penting yang sangat berkaitan,
yaitu:
(1). Jenis dan karekteristik barang yang ditawarkan.
(2). Harga produk.
48
(3). Syarat penjualan, seperti: pembayaran, pengiriman,
garansi, dan sebagainya.
Masalah – masalah tersebut biasanya menjadi pusat
perhatian pembeli sebelum melakukan pembelianya. Selain
itu, manajer perlu memperhatikan jumlah serta sifat – sifat
tenaga penjualan yang baik ini diperlukan untuk menghindari
timbulnya rasa kecewa pada para pembeli dalam pembelianya.
Adapun sifat – sifat yang perlu dimiliki oleh seorang penjual
yang baik antara lain: sopan, pandai bicara, mempunyain
kepribadian yang menarik, sehat jasmani, jujur, mengetahui
cara – cara penjualan, dan sebagainya.
b) Kondisi pasar
Pasar sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadi
sasaran dalam penjualan, dapat pula mempengaruhi kegiatan
penjualanya.
Adapun faktor – faktor kondisi pasar yang perlu diperhatikan,
yaitu:
1) Jenis pasarnya
Pasar yang digunakan setiap perusahaan yaitu pasar
monopolistik dimana terdapat banyak penjual dan pembeli yang
melakukan transaksi dengan berbagai macam produk/ harga.
Adanya beberapa macam harga ini disebabkan karena penjual dapat
melakukan penawaran yang berbeda kepada pembeli.
49
2) Kelompok pembeli atau segmen pasarnya
Sesuai dengan moto perusahaan maka untuk kelompok
pembeli pihak perusahaan lebih berpihak kepada seluruh kalangan
masyarakat dari yang rendah, sedang sampai kalangan atas. Hal ini
dikarenakan pihak perusahaan selalu menerapkan harga yang
mampu dijangkau oleh pembeli dari semua kalangan.
3) Daya belinya
Daya beli pelanggan pada sebuah perusahaan di katakan cukup
tinggi apabila pihak perusahaan selalu menerapkan dan menjual
produk dengan harga terjangkau. Hal ini bisa dibuktikan dengan
melihat volume penjualan produk perusahaan selalu meningkat.
4) Frekuensi pembelian
Selain didukung dengan jumlah sektor keberbagai daerah di
Indonesia, jumlah produk yang di produksi juga tersedia banyak.
Karena selalu adanya permintaan pasar yang berakibat meningkat
nya volume penjualan produk pada setiap perusahaan.
5) Keinginan dan kebutuhan
Hal ini seperti selalu menjadi pusat perhatian pihak perusahaan
dalam membaca situasi pasar. Karena selain berhubungan dengan
supply dan demand, keinginan dan kebutuhan juga akan
mempengaruhi terhadap volume penjualan jika didalam
pelaksanaannya keinginan dan kebutuhan pelanggan tidak
terpenuhi.
50
6) Karakteristik Pasar
Pasar Potensial (potential market) memiliki berapa
karakteristik yaitu:
a) Pasar bisnis mengandung pembeli yang lebih sedikit tetapi
lebih besar dibandungkan dengan konsumen
b) Pembelian lebih besar.
c) Pelanggan dipasar bisnis lebih berorientasi geografis.
d) Permintaan turunan permintaan atas barang bisnis benar benar
berasal dari permintaan atas barang konsumsi. Karena alasan
ini, para pemasar bisnis harus secara dekat memantau pola
pembelian konsumen akhir.
e) Pembelian professional barang bisnis dibeli agen (petugas).
Pembelian yang terlatih, yang harus mengikuti kebijakan,
batasan, dan persyaratan pembelian organisasi, banyak
instrument pembelian. Contohnya: permintaan harga atas
produk yang akan dipesan, proposal pembelian dan kontrak
pembelian.
f) Permintaan berfluktuasi, permintaan atas barang cenderung
berubah ubah. Permintaan dibanyak pasar bisnis lebih tidak
elastis atau tidak tepengaruh oleh perubahan harga dalam
jangka pendek.
51
g) Dalam pembelian pasar bisnis pembeli dan penjual berkerja
lebih erat dan membangun hubungan erat dalam jangka
panjang.
h) Pembeli dipasar bisnis sering kali langsung dari produsen,
bukan lewat pedagang eceran atau pedagang besar.
i) Pembeli dipasar bisnis sering kali menyewa peralatan, bukanya
memberi langsung.
Kelompok pembelian atau segmen pasarnya:
a) Daya belinya
b) Frekuensi pembelinya
c) Keinginan dan kebutuhan
3) Modal
Akan lebih sulit bagi perusahaan untuk menjual barangnya
apabila barang yang dijual tersebut belum dikenal oleh calon
pembeli. Dalam keadaan seperti ini, perusahaan harus
memperkenalkan dulu barangnya, salah satu caranya yaitu dengan
advertising. Untuk melaksanakan maksud tersebut perusahaan
membutuhkan modal, karena hal tersebut hanya dapat dilakukan
apabila perusahaan mempunyain modal yang cukup.
4) Kondisi organisasi perusahaan
Pada perusahaan besar, biasanya masalah penjualan ini
ditangani oleh bagian penjualan, yang dipegang oleh orang – orang
tertentu/ahli dibidang penjualan. Lain halnya dengan perusahaan
52
kecil, dimana masalah penjualan ditanganin oleh orang yang juga
melakukan fungsi – fungsi lain. Hal ini disebabkan karna jumlah
tenaga kerjanya lebih sedikit, sistem organisainya lebih sederhana,
masalah – masalah yang dihadapi, serta sasaran yang dimilikinya
juaga tidak sekompleks perusahaan besar. Biasanya masalah
penjaualan ini ditanganin sendiri oleh pimpinan dan tidak diberikan
kepada orang lain.
5) Faktor lain
Faktor – faktor lain, seperti periklanan, peragaan, kampanye,
pemberian hadiah, sering mempengaruhi penjualan. Namun untuk
melaksanakanya diperlukan sejumlah dana yang tidak sedikit. Bagi
perusahaan yang bermodal kuat kegiatan ini secara rutin dapat
dilakukan. Sedangkan bagi perusahaan kecil yang mempunyain
modal relatif kecil kegiatan ini lebih jarang dilakukan.
II.B. Kerangka Pemikiran
Perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya mempunyai tujuan seperti
yang terlihat dari visi dan misinya, antara lain untuk mendapatkan volume
penjualan yang sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Untuk mencapai
tujuan tersebut diciptakan perusahaan perlu membuat kebijakan harga yang efektif
agar produk dapat dipasarkan dan diminati oleh masyarakat luas dengan harga
yang menarik dan terjangkau.
53
Kebijakan penetapan harga yang dilakukan oleh perusahaan yaitu :
1. Penetration Price
Strategi pendekatan pemasaran yang menetapkan harga jual lebih rendah
daripada harga normalnya dengan tujuan untuk mempercepat penetrasi atau
penerimaan pasar pada produk yang ditawarkan.
2. Follow the Leader Price
Penetapan harga menurut pemimpin pasar, dengan menjadikan pesaing
sebagai model dalam menetapkan harga barang.
Kerangka Pemikiran
Tujuan Perusahaan
Tujuan perusahaan
Visi & Misi
Bauran Pemasaran/ Marketing Mix
Horizontal
1. Produk
2. Harga
3. Distribusi
4. Promosi
Kebijakan Penetapan Harga
1. Penetration Price
2. Follow the Leader Price
Volume Penjualan
Laba
Feed Back
Sumber: Diolah Penulis
54
II.C. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
dimana rumusan penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
Menurut Prof. Dr. Sugioyono dalam bukunya yang berjudul Metode penelitian
Administrasi (2009:183), hipotesis adalah suatu peryataan yang bersifat sementara
tentang hubungan antara variabel – variabel yang diteliti masih perlu diuji
kebenaranya. Dalam penelitian ini variabel yang akan diuji adalah: penetapan
harga (X) dan volume penjualan (Y).
Berdasarkan permasalahan penelitian ini, maka penulis merumuskan
hipotesis sebagai berikut: Diduga ada pengaruh antara penetapan harga dengan
volume penjualan. Dengan asumsi-asumsi sebagai berikut :
Jika Ho < 1 berati terdapat hubungan antara penetapan harga dan volume
penjualan dan negatif, yang artinya penetapan harga justru akan
menurunkan volume penjualan.
Jika Ho > 1 berati terdapat hubungan antara penetapan harga dan volume
penjualan dan positif, yang artinya penetapan harga justru akan
mengakibatkan volume penjualan meningkat.