Kriteria Perencanaan Unit Filtrasi SNI 6774
Kriteria Perencanaan Unit Filtrasi SNI 6774
Jenis Saringan
Saringan dengan
No Unit Saringan Biasa
Pencucian Antar Saringan Bertekanan
(Gravitasi)
Saringan
1 Jumlah bak saringan N = 12 Q 0,5 *) Minimum 5 bak -
2 Kecepatan penyaringan
6 - 11 6 - 11 12 - 33
(m/jam)
3 Pencucian:
Sistem pencucian
Tanpa/dengan blower Tanpa/dengan blower Tanpa/dengan blower
dan/atau surface wash dan/atau surface wash dan/atau surface wash
36 – 50 36 – 50 72 – 198
Kecepatan (m/jam)
10 – 15 10 – 15 -
Lama pencucian
(menit)
18 – 24 18 – 24 -
Periode antara dua
pencucian (jam)
30 - 50 30 - 50 30 - 50
Ekspansi (%)
4 Media pasir:
Tebal (mm) 300 – 700 300 – 700 300 – 700
Singel media 600 – 700 600 – 700 600 – 700
Media ganda 300 – 600 300 – 600 300 – 600
Ukuran efektif, ES 0,3 – 0,7 0,3 – 0,7 0,3 – 0,7
(mm)
Koefisien 1,2 – 1,4 1,2 – 1,4 1,2 – 1,4
keseragaman, UC
Berat jenis (kg/dm3) 2,5 – 2,65 2,5 – 2,65 2,5 – 2,65
Porositas 0,4 0,4 0,4
Kadar SiO2 >95 % >95 % >95 %
5 Media antransit
Tebal (mm) 400 – 500 400 – 500 400 – 500
ES (mm) 1,2 – 1,8 1,2 – 1,8 1,2 – 1,8
UC 1,5 1,5 1,5
Berat jenis (kg/dm3) 1,35 1,35 1,35
Porositas 0,5 0,5 0,5
6 Filter bottom/dasar
saringan
1) Lapisan penyangga dari
atas ke bawah
Kedalaman (mm) 80 – 100 80 – 100 -
Ukuran butir (mm) 2–5 2–5 -
Kedalaman (mm) 80 – 100 80 – 100 -
Ukuran butir (mm) 5 – 10 5 – 10 -
Kedalaman (mm) 80 – 100 80 – 100 -
Ukuran butir (mm) 10 – 15 10 – 15 -
Kedalaman (mm) 80 – 150 80 – 150 -
Jenis Saringan
Saringan dengan
No Unit Saringan Biasa
Pencucian Antar Saringan Bertekanan
(Gravitasi)
Saringan
Ukuran butir (mm) 15 - 30 15 - 30 -
2) Filter Nozel
Lebar slot nozel (mm) < 0,5 < 0,5 < 0,5
Presentase luas slot
nozel terhadap luas > 4% >4% >4%
filter (%)
CATATAN:
*) Untuk saringan dengan jenis kecepatan menurun
**) Untuk saringan dengan jenis kecepatan konstan, harus dilengkapi dengan pengatur aliran
otomatis
Q
Q = Av A=
V
dengan pengertian:
Q adalah kapasitas pengolahan (m3 /detik)
A adalah luas bak (m2)
v adalah kecepatan penyaringan (m/detik)
Pada umumnya terdapat 2 (dua) jenis sistem saringan pipa cepat, yaitu saringan gravitasi
dan saringan bertekanan. Keduanya secara prinsip tidak memiliki perbedaan proses dan
operasi yang berarti.
Berdasarkan cara pencucian balik (back wash) terdapat 4 jenis yaitu, menggunakan Menara
air, pemompaan langsung, pencucian antar saringan (intern filter back washing / self back
washing) dan pencucian kontinue (continous back washing).
Jenis pencucian continue tidak termasuk dalam model ini, karena jaringan digunakan dan
merupakan paten penyedia jasa/barang tertentu
Dalam operasi pencucian balik, selain menggunakan air saja, saringan pasir dilengkapi
dengan perlengkapan agitasi pada media filter. Seperti agitasi pada permukaan media
saringan menggunakan udara, agitasi dibawah permukaan media saringan dengan udaea
dan agitasi dari dasar saringan menggunakan udara (air scouring)
(3) Pencucian Menggunakan Air dan Agitasi Udara pada Permukaan Media
Pastikan terdapat sistem “INTER LOCK” sehingga dalam satu saat hanya satu saringan saja dalam
keadaan operasi pencucian.
(1) Pengaturan (Setting) waktu pencucian Pengaturan waktu pencucian secara otomatis untuk
pencucian jaringan, pada saat ini banyak menggunakan “PROGRAM ABLE LOGIC CONTROLIEN
(PLC) atau komputer, yang secara otomatis memerintahkan saringan dalam mode pencucian.
Teknologi yang lama menggunakan “TIME” atau “CAM-SHAF” yang saat ini sudah jarang dipakai
Pengaturan yang perlu dilakukan adalah untuk sekwen (SEQUEN) buka-tutup katup inlet, buka-
tutup katup pencucian, buka-tutup katup pembuangan dan buka-tutup katup kearah RESERVOIR.
Pengaturan yang perlu dilakukan adalah SEKWEN (SEQUEN) buka-tutup katup inlet, buka tutup,
katup pencucian, buka-tutup katup udara, buka tuutp katup pembuangan dan buka-tutup kea rah
reservoir.
(4) Saringan dengan Pencucian Air dan Agitasi Udara pada Media Penyaring
Pengaturan yang perlu dilakukan adalah untuk SEKWEN (SEQUEN) buka-tutup/katup inlet, buka-
tutup katup pencucian, buka-tutup katup udara, buka-tutup katup pembuangan dan buka-tutup
katup kea rah reservoir.
(a) Pastikan semua katup, dan penggeraknya/ elektrik/ pneumatik berjalan baik
(b) Waktu -0, tutup katup inlet, buka katup pembuangan, tutup katup ke arah reservoir, dan
buka katup udara.
(c) Waktu – 2 menit, buka katup pencucian.
(d) Waktu – 4 menit, tutup katup udara.
(e) Amati apakah terdapat media penyaring (pasir) yang terbawa aliran pencucian, yang
menandakan kecepatan pencucian terlalu besar atau pasir terlalu kecil ukurannya.
(f) Amati apakah terdapat penerobosan (BREAK TROUGH) aliran yang besar jika media
penyaring, yang menandakan aliran yang tidak merata atau “UNDER DRAIN SYSTEM” tidak
terpasang sempurna.
(g) Waktu - 10 menit, tutup katup pencucian, buka katup ke arah reservoir tutup katup
pembuangan dan buka katup inlet.
Penentuan waktu pencucian menggunakan perbedaan tekanan antara muka air di atas sampai
dan didasar saringan (PRESSURE DIFFERENTIAL), atau menggunakan tinggi muka air di atas
saringan, atur berdasarkan umur saringan, selanjutnya akan memberikan peringatan (alarm) bisa
berupa sirene atau sinyal lampu, kemudian generator memerintahkan saringan dalam model
pencucian dengan menekan tombol.
1) Pastikan bahwa sistem aliran bekerja dengan baik, uji sistem aliran dengan mengubahubah
parameter waktu pencucian.
2) Pengaturan (setting) operasi dan SEKWEN penyaringan/ pencucian sama dengan operasi dan
sekwen saringan dengan pencucian otomatis.
(Sumber : TATA CARA PERENCANAAN UNIT PAKET INSTALASI PENGOLAHAN AIR (2014)
“Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Balitbang Kementerian Pekerjaan
Umum”
2. Ozonisasi
Ozonisasi merupakan salah satu proses pengolahan yang dapat digunakan untuk mengurangi bahan
organik pada air baku. Ozon merupakan salah satu bahan dengan potensial reduksi oksidasi yang
cukup tinggi, karena itu molekul ozon dapat bereaksi dengan berbagai senyawa dalam air (Beltrand,
J Fernando, 1995). Keunikan dari proses ozonisasi adalah hasil dekomposisi ozon berupa OH radikal
yang merupakan oksidator lebih kuat dan bersifat tidak selektif sehingga dapat mendegradasi bahan
organik dalam air kompleks dalam air (Hoigné, Bader, Haag, & Staehelin, 1985).
Parameter pH dapat mempengaruhi stabilitas ozon dalam pembentukan OH radikal. pH yang tinggi
menunjukkan kehadiran ion hidroksida yang tinggi pula. Kehadiran ion OH- dapat menginisiasi
dekomposisi ozon sebagai langkah awal dalam pembentukan OH radikal. Pada waktu kontak ke-60
menunjukkan bahwa sisa ozon mengalami penurunan yang dapat disebabkan karena adanya
peningkatan pH yang mempengaruhi dekomposisi menjadi OH radikal dapat dilihat pada reaksi
berikut (Hoigné et al., 1985):
O3 + OH- → HO2 - + O2 –
O3 + HO2 - → OH● + O2● + O2
Selain pH, parameter yang mempengaruhi proses dekomposisi ozon membentuk OH radikal adalah
alkalinitas. Alkalinitas pada air yang berperan sebagai inhibitor dalam pembentukan OH radikal,
dimana ion karbonat dan bikarbonat akan bereaksi dengan OH radikal untuk membentuk karbonat
radikal yang akan bereaksi dengan senyawa orgnaik dan anorganik yang hadir pada laju lamban
(Hoigné et al., 1985). Bikarbonat maupun karbon merupakan penghambat reaksi berantai radikal
dan bahkan dapat menyebabkan pembentukan kembali ozon yang dapat dilihat pada reaksi berikut:
Proses ozonisasi berfungsi untuk mengoksidasi bahan organik dari senyawa kompleks menjadi
senyawa yang lebih sederhana. Penurunan bahan organik yang kompleks dan diikuti dengan nilai
BOD menunjukkan bahwa proses ozonisasi akan membentuk senyawa yang lebih bersifat
biodegradable.
(sumber: Jurnal “Efektivitas Proses Ozonisasi Studi Kasus: IPA dan Miniplant Dago Pakar” (2019)
Chindy Cinthya
Ozon dapat mengoksidasi besi dan mangan menjadi terpresipitasi dari sumber air, selain itu dapat
pula mengkoagulasi partikulat, mengontrol pertumbuhan alga, dan mampu menghancurkan
beberapa jenis pestisida. Suffet et al (1986) mengatakan bahwa ozon adalah bahan oksidan yang
efektif untuk menghilangkan bau dan rasa. Perkembangan teknologi pengolahan air bersih selama
beberapa decade terkahir memperkenalkan Advance Oxidation Process (AOP). Langleis et al (1991)
menyatakan bahwa AOP dapat mengurangi konsentrasi kontaminan dari beberapa ratus part per
million (ppm) menjadi kurang dari 5 part per billion (ppb). AOP merupakan proses pengolahan air
yang melibatkan pembangkitan hidroksil radikal (oksidan kuat) dalam jumlah yang cukup (Glaze et al
1987). AOP merupakan kombinasi pemakaian bahan kimia H2O2/O3 (peroxone), O3/UV, titanium/UV,
Fe(II)/H2O2 (Fenton) untuk membangkitkan hidroksil radikal (Black dan Veatech 2010). Mohajerani et
al (2009) menyatakan bahwa perpaduan teknologi AOP dan teknologi konvensional dapat
memperbaiki efektifitas proses pengolahan sumber air minum yang terkontaminasi.
3. Ultraviolet
Desinfeksi UV merupakan proses berbasis energi, dimana rasio inaktivasi ditentukan oleh dosis UV
yang diterapkan melalui unit desinfektan. Dosis UV (mJ/cm2) dihitung dengan iradiasi atau laju
fluensi yang dikirimkan ke sel mikroba (mW/cm2) lalu dikalikan dengan waktu pemaparan (Bolton et
al, 2015). Desinfeksi udara dan permukaan yang terkena biokontaminasi dapat diasumsikan sebagai
aplikasi radiasi UV yang lebih mudah dan dapat diprediksi dibandingkan dengan pengolahan air
(Gora et al, 2019). Namun, untuk mencapai nilai inaktivasi yang valid misalnya 99,99% dengan
desinfektor udara atau permukaan UV, ada beberapa factor mempengaruhi yang dapat
dikelompokan menjadi dua kategori yaitu karakteristik mikroba yang melekat dam karakteristik
media target (Raeszadeh & Adeli, 2020: Ulfa et al, 2020)
4. Ultra Filtrasi
Ultrafiltrasi (UF) merupakan proses pemisahan menggunakan membran dengan ukuran pori-pori
berkisar antara 0,1-0,001 µm (mikron). Biasanya, membran UF akan menghilangkan kotoran dari zat
yang mempunyai berat molekul tinggi, material koloid, serta molekul polimer organik atau
anorganik. Zat organik dengan berat molekul rendah dan ion-ion seperti natrium, kalsium,
magnesium klorida, serta sulfat tidak dapat dipisahkan oleh membran UF. Karena hanya zat dengan
berat molekul tinggi yang dapat dihilangkan atau dipisahkan, maka perbedaan tekanan osmotik di
permukaan membran UF diabaikan. Tekanan operasi rendah sehingga cukup untuk mencapai tingkat
fluks yang tinggi dari membran ultrafiltrasi. Fluks membran UF didefinisikan sebagai jumlah air yang
disaring atau diproduksi per satuan luas permukaan membran per satuan waktu. Umumnya fluks
dinyatakan sebagai galon per meter persegi per hari (GFD) atau sebagai meter kubik per meter
persegi per hari. Membran ultrafiltrasi (UF) dapat memiliki fluks sangat tinggi tetapi dalam banyak
aplikasi praktis fluks bervariasi antara 50 sampai 200 GFD pada tekanan operasi sekitar 50 psi.
Sedangkan, membran reverse osmosis (RO) hanya memproduksi antara 10-30 GFD pada 200-400 psi.
Ultrafiltrasi berfungsi seperti reverse osmosis, yaitu merupakan proses pemisahan secara aliran
lintas (cross-flow). Air yang akan diolah dialirkan secara tangensial ke sepanjang permukaan
membran, sehingga menghasilkan dua aliran. Aliran air yang yang masuk dan meresap melalui
membran disebut aliran air olahan (permeate). Jumlah dan kualitas air olahan akan tergantung pada
karakteristik membran, kondisi operasi, serta kualitas air bakunya. Aliran lainnnya yaitu aliran air
buangan (reject) atau disebut concentrate, dimana di dalam aliran air buangan mengadung zat atau
kotoran yang telah dipisahkan oleh membran sehingga konsentrasinya menjadi lebih pekat. Oleh
karena itu di dalam pemisahan secara aliran silang (cross-flow), membran itu sendiri tidak bertindak
sebagai kolektor ion, molekul, atau koloid tetapi hanya bertindak sebagai penghalang. Di dalam
proses penyaringan dengan menggunakan filter konvensional, media penyaring atau filter cartridge,
hanya menghilangkan padatan tersuspensi dengan menjebak kotoran dalam poripori media filter.
Oleh karena itu filter ini menjadi tempat deposit dari padatan tersuspensi dan harus sering
dibersihkan atau diganti. Filter konvensional umumnya digunakan untuk pengolahan awal sebelum
proses pengolahan dengan sistem membran, yaitu untuk menghilangkan padatan tersuspensi yang
relatif besar, sedangkan proses penyaringan dengan membran digunakan untuk menghilangkan
partikel dan padatan terlarut. Di dalam proses ultrafiltrasi, untuk beberapa aplikasi, tidak
menggunakan filtrasi awal (prefilter) sehingga modul ultrafiltrasi digunakan untuk memisahkan
padatan tersuspensi atau material emulsi koloid.