0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
253 tayangan35 halaman

Upaya Kepolisian Cegah Senjata Tajam

Diunggah oleh

Lowian Raya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
253 tayangan35 halaman

Upaya Kepolisian Cegah Senjata Tajam

Diunggah oleh

Lowian Raya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA KEPOLISIAN DALAM MENCEGAH PENYALAHGUNAAN

SENJATA TAJAM DI KOTA MANADO

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Untuk Ujian Proposal Skripsi

Oleh :

JESSICA VALLENCIA KOJONGIAN


NIM. 210711010033

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


RISET DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
FAKULTAS HUKUM
MANADO
2024
LEMBAR PERSETUJUAN
PROPOSAL SKRIPSI

Proposal Skripsi berjudul “Upaya Kepolisian Dalam Mencegah


Penyalahgunaan Senjata Tajam Di Kota Manado” oleh Jessica V. Kojongian,
NIM. 210711010033, untuk diuji oleh Panitia Ujian Proposal Skripsi yang
Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi
Manado.

Manado, Oktober 2024

DOSEN PEMBIMBING

Altje A. Musa, SH, MH Hironimus Taroreh, SH, MH


NIP. 19640823 1991032001 NIP. 19660125 1992031002

MENGETAHUI/MENYETUJUI :
DEKAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Dr. Emma V.T. Senewe, SH, MH


NIP. 19630714 199003 2 002
KATA PENGANTAR

Segala kemuliaan hanya bagi Allah Maha Besar, karena atas Kasih dan

Anugerah- Nya sehingga penyusunan proposal skripsi ini dapat diselesaikan dengan

baik sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Fakultas Hukum

Universitas Sam Ratulangi Manado.

Penulisan proposal skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar Sarjana pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Sam Ratulangi Manado. Judul yang penulis angkat adalah “Upaya

Kepolisian Dalam Mencegah Penyalahgunaan Senjata Tajam Di Kota Manado”

Khusus sembah sujud dan terima kasih penulis haturkan kepada Orangtua

tercinta Papa dan Mama dan keluarga, yang tak pernah lelah dan bosan-bosannya

memberikan didikan, arahan, motivasi, dan kasih sayang yang tulus bahkan yang selalu

mendoakan keberhasilan, dan selalu memberikan nasehat, didikan, bahkan kasih

sayang bagi penulis.

Melalui kesempatan ini juga, penulis menghaturkan rasa terima kasih yang

setinggi-tingginya kepada yang terhormat:

1. Dekan Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Dr. Emma V.T. Senewe, SH,

MH.

2. Para Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado, yakni:

- Dr. Dani R. Pinasang, SH, MHum, Wakil Dekan Bidang Akademik dan

Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado.


- Dr. Caecilia J.J. Waha, SH, MH, Wakil Dekan Bidang Keuangan dan

Administrasi Umum Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado.

- Debby Telly Antow, SH, MH, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan

Alumni Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado.

3. Dr. Cornelis D. Massie, SH., MH, Selaku Kaprodi Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Sam Ratulangi Manado.

4. Para Dosen Pembimbing dalam penyusunan skripsi ini, berkat petunjuk dan arahan

mereka, baik menyangkut teknis penulisan, maupun terutama materi skripsi ini

sehingga dapatlah, masing-masing:

Altje A. Musa, SH, MH dan Hironimus Taroreh, SH, MH

5. Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan arahan selama penulis

duduk di bangku kuliah Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado.

6. Para Guru besar dan seluruh Staf Dosen Fakultas Hukum Universitas Sam

Ratulangi Manado yang telah menuntun dan membimbing penulis sejak mengikuti

perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado.

7. Pimpinan dan Staf Tata Usaha yang telah membantu penulis dalam penyelesaian

administrasi dan bimbingan selama perkuliahan.

8. Teman-teman Angkatan 2021, terima kasih untuk persahabatan yang boleh terjalin.

9. Teman-teman KKT, yang telah bersama-sama dengan penulis dalam mengikuti

kuliah kerja terpadu.

10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil.
Segala upaya untuk menyelesaikan dan menyajikan tulisan ini telah diusahakan

dengan baik, namun penulis menyadari penulisan proposal skripsi ini jauh dari

sempurna, untuk itu sangat diharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penulisan

skripsi ini.

Semoga Allah Maha Besar melalui Kasih Yesus Kristus senantiasa memberi

berkat kita semua. Haleluyah Amin

Manado, Oktober 2024

Penulis

Jessica Kojongian
DAFTAR ISI

Halaman
JUDUL......................................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN.....................................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI............................................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 5
C. Tujuan Penelitian.......................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian ....................................................................... 5
E. Metode Penelitian ......................................................................... 6
F. Sistematika Penulisan ................................................................... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kepolisian Negara Republik Indonesia
1. Pengertian Kepolisian………………………………………… 11
2. Tugas dan Wewenang Kepolisian……………………………. 12
B. Tinjauan Umum tentang Upaya Penanggulangan Kejahatan
1. Pengertian Penanggulangan Kejahatan……………………… 17
C. Jenis Jenis Senjata Tajam……………………………………… 20
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...... 23
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Indonesia merupakan negara hukum, hal ini tercantum di dalam Undang-

Undang Dasar Republik Indonesia Pasal 1 ayat (3) yang berbunyi “Negara Republik

Indonesia adalah negara hukum.” Maka dari itu, Indonesia menjadikan hukum

sebagai ideologi untuk menciptakan ketertiban, keamanan, keadilan, dan

kesejahteraan bagi warga negaranya. Sebagaimana hukum merupakan tiang utama

dalam menggerakkan sendi-sendi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,

hukum harus memberikan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kejahatan atau

tindak pidana bagi setiap warga negara.1

Meningkatnya kejahatan pada zaman sekarang dapat dilihat dari kurangnya

kesadaran pelaku kejahatan tindak pidana yang dilakukan oleh perseorangan maupun

bersama-sama yang dapat menggangu adanya ketertiban yang dapat meresahkan

masyarakat.2Kejahatan yang dapat meresahkan masyarakat adalah kejahatan dengan

menggunakan senjata tajam. Jenis tindak pidana ini diatur dalam kitab undang-

undang hukum pidana di indonesia. Kejahatan yang terjadi di masyarakat merupakan

sebuah pelanggaran terhadap hukum positif yaitu hukum pidana. Kejahatan dan

pelanggaran

1
Jimly Asshidiqqie, 2010, Konstitusional dan Konstitusionalisme Indonesia, Sinar Grafika,
Bandung, hlm. 69.
2
Faradila, N. (2022). Analisis Kriminologi Terhadap Kejahatan Kekerasan Yang Dilakukan
1
Secara Bersama Oleh Anak Di Kota Bukittinggi. UNES Law Review, 5(1), hlm.211-219.

2
yang diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana bisa dilihat sebagai hukum

pidana objektif yaitu suatu tindak pidana yang di golongkan menurut ketentuan

hukum itu sendiri dan hukum pidana subjektif yaitu ketentuanketentuan di dalam

hukum mengenai hak penguasa menerapkan hukum.3 Pelanggaran dan kejahatan

kemanusiaan yang terjadi dalam suatu peristiwa sengketa bersenjata merupakan

pelanggaran berat.4 Salah satu kejahatan yang meresahkan masyarakat adalah

kejahatan dengan menggunakan senjata tajam. Kejahatan bentuk ini banyak

macamnya, misalnya tindak pidana pembunuhan, penganiayaan

berat, pencurian dengan pemberatan, pengancaman,

penculikan, dan sebagainya. Dari semua jenis tindak pidana ini telah diatur dalam

Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia. Kejahatan yang terjadi di

masyarakat merupakan sebuah pelanggaran terhadap hukum positif yaitu hukum

pidana. Kejahatan dan pelanggaran yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum

Pidana bisa dilihat sebagai hukum pidana objektif, yaitu suatu tindak pidana yang

digolongkan menurut ketentuan-ketentuan hukum itu sendiri dan dapat juga dilihat

sebagai hukum pidana subjektif yaitu ketentuan-ketentuan di dalam hukum mengenai

hak penguasa menerapkan hukum.

Tindak pidana penyalahgunaan senjata tajam merupakan salah satu isu yang

sangat meresahkan masyarakat Indonesia. Tindakan kriminal menggunakan senjata

3
Hanafi, H. (2022). Penanganan Kasus Tindak Pidana Membawa Atau Menyimpan Senjata
Tajam Tanpa Ijin Oleh Jajaran Polsek Sepulu. VOICE JUSTISIA: Jurnal Hukum dan Keadilan, 6(1),
hlm.29-45
4
Astuti, M. (2021, August). Upaya Penyelesaian Damai Terhadap Pelanggaran Dan
Kejahatan Kemanusiaan Pada Masa Konflik Bersenjata. In Seminar Nasional Teknologi Edukasi
Sosial Dan Humaniora (Vol. 1, No. 1, pp. 1000-1006)
3
tajam sering terjadi dan dapat menimbulkan kepanikan serta kerugian yang cukup

besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk mencegah terjadinya tindak

pidana penyalahgunaan senjata tajam sangatlah penting. Tindak pidana

penyalahgunaan senjata tajam sangat meresahkan masyarakat, mengancam keamanan

dan keselamatan publik, serta mengakibatkan kerugian materiil dan nonmateriil yang

cukup besar.

Maraknya persebaran senjata tajam di kalangan sipil adalah sebuah fenomena

global. Tidak tertatanya pengawasan terhadap kepemilikan senjata tajam, baik legal

maupun illegal yang dimiliki oleh masyarakat umum, apparat kepolisian dan TNI,

merupakan salah satupenyebab timbulnya kejahatan- kejahatan dengan

penyalahgunaan senjata api di Indonesia. Sementara korban yang tewas akibat

kejahatan ini kebanyakan adalah warga sipil. Di Indonesia, angka pasti tentang

perdagangan senjata api, legal maupun illegal sulit diperoleh, meski peredarannya di

masyarakat sipil dipastikan meningkat tajam. Karena alasan administrasi kepemilikan

senjata api kurang tertib dan pengawasannya, maka aparat kepolisian tidak tahu pasti

berapa banyak senjata tajam yang beredar di masyarakat, sehingga kepemilikan

senjataapi sulit sekali untuk dilacak.

Bila kita lihat beberapa peristiwa kejahatan dengan menggunakan senjata api,

itu dilakukan dengan pengancaman maupun melukai bahkan menghilangkan nyawa

orang lain. Dapat diduga beberapa kemungkinan tentang status kepemilikan senjata

tajam, yaitu senjata tajam illegal (hasil penyelundupan) ataupun senjata api rakitan

atau dibuat sendiri, serta senjata organik yang dimiliki oleh instansi berwenang yang

disalahgunakan. Dari beberapa peristiwa kejahatan dengan menggunakan senjata api


4
tersebut, terdapat juga beberapa kejahatan yang para pelakunya menggunakan senjata

api mainan dalam melakukan aksi kejahatannya. Masyarakat umum ataupun sikorban

otomatis akan merasa kaget dan takut ketika melihat senjata api yang ada pada pelaku

kejahatan meskipun itu senjata mainan. Ketakutan masyarakat terhadap kejahatan

tersebut, dengan sendirinya dapat mempermudah aksi pelaku melakukan kejahatan,

sehingga menyebabkan meningkatnya tingkat kriminalitas yang terjadi dimasyarakat.

Perkembangan zaman pada saat ini mengalami kemajuan pertumbuhan yang

sangat pesat,tidak hanya didunia teknik industri dan perdagangan tetapi juga dalam

dunia hukum. Perkembangan zaman diikuti juga oleh perkembangan tingkat

kejahatan dimana perkembanagn tingkat kejahatan dipengaruhi oleh peredaran

senjata tajam ilegal. Senjata tajam pada dasarnya dapat dimiliki oleh masyrakat sipil

tetapi melalu proses yang cukup panjang. Secara normatif, Indonesia sebenarnya

termasuk negara yang cukup ketat menerapkan aturan kepemilikan senjata tajam

untuk kalangan sipil. Ada sejumlah dasar hukum yang mengatur mengenai hal ini,

mulai dari level undang- undang yakni UU Darurat No. 12 Tahun 1951, UU No 8

Tahun 1948 dan Perpu No. 20 Tahun 1960. Selebihnya adalah peraturan yang

diterbitkan oleh Kepolisian, seperti SK Kapolri No. Skep/244/II/1999 dan SK Kepala

Polri Nomor 82Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengawasan dan Pengendalian

Senjata Non-Organik.

Berdasarkan SK tahun 2004, persyaratan untuk mendapatkan senjata api

ternyata relatif mudah. Cukup dengan menyerahkan syarat kelengkapan dokumen

seperti KTP, Kartu Keluarga, dan lain-lain, seseorang berusia 24-65 tahun yang

5
memiliki sertifikat menembak dan juga lulus tes menembak, maka dapat memiliki

6
senjata api. SK tersebut juga mengatur bahwa individu pemilik senjata api untuk

keperluan pribadi dibatasi minimal setingkat Kepala Dinas atau Bupati untuk

kalangan pejabat pemerintah, minimal Letnan Satu untuk kalangan Angkatan

bersenjata, dan pengacara atas rekomendasi Departemen Kehakiman.

Kepolisian dinegara manapun selalu berada dalam sebuah dilemma

kepentingan kekuasaan yang selalu menjadi garda terdepan perbedaan pendapat

antara kekuasaan dengan masyarakatnya. Sistem Kepolisian suatu Negara sangat

dipengaruhi oleh Sistem Politik serta control social yang diterapkan. Kepolisian

beralih status menjadi Jawatan tersendiri dibawah langsung Perdana Menteri.

Ketetapan Pemerintah tersebut menjadikan kedudukan Polisi setingkat dengan

Departemen dan kedudukan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri)

setingkat dengan Menteri.

7
Berdasarkan uraian diatas maka penulis merasa tertarik untuk menulis proposal

skripsi ini dengan memilih judul : “Upaya Kepolisian Dalam Mencegah

Penyalahgunaan Senjata Tajam Di Kota Manado”.

B. Rumusan Masalah.

1. Bagaimana upaya kepolisian dalam mencegah penyalahgunaan senjata tajam

di Kota Manado?

2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi upaya kepolisian dalam mencegah

penyalahgunaan senjata tajam?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bagaimana upaya kepolisian dalam mencegah

penyalahgunaan senjata tajam di Kota Manado.

2. Faktor–faktor apakah yang mempengaruhi upaya kepolisian dalam mencegah

penyalahgunaan senjata tajam.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara teoritis

Sebagai bahan analisis dan kajian dari contoh upaya kepolisian dalam

mencegah penyalahgunaan senjata tajam dan Sebagai bahan literatur untuk

peneliti lain yang hendak meneliti objek yang sama.

8
2. Secara praktis

Masyarakat mampu mengetahui dan membantu serta bekerja sama dengan

polri dalam rangka mengoptimalisasikan tindakan Polri dalam menanggulangi

tindak pidana penyalahgunaan senjata tajam, Sebagai bahan masukan dan

diskusi bersama anatara masyarakat, pemerintah, dan penegak hukum dalam

meretas persoalan-persoalan hukum khususnya tindak pidana penyalahgunaan

senjata tajam yang sering terjadi

D. Metode Penelitian

Metode Penelitian merupakan suatu Kegiatan Ilmiah yang didasarkan pada

metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu

atau beberapa gejala Hukum tertentu dengan jalan menganalisanya.5 Adapun metode-

metode Penelitian yang digunakan dalam Penelitian ini meliputi hal-hal sebagai

berikut:

1. Jenis penelitian

Istilah “Penelitian Hukum” terdiri dari dua kata yakni “Penelitian” dan

“Hukum”.asal kata “Penelitian” adalah “teliti” yang bearti suatu tindakan yang

penuh dengan kehati hatian dan kecermatan. Sementara “Hukum”diartikan sangat

beragam sesuai dengan sudut pandang masing –masing aliran filsafat hukum.

penelitaian hukum “legal research” bearti penemuan kembali secara teliti dan

cermat bahan hukum atau data hukum yang memecahkan permsalahan Hukum.

5
Kelik Wardiono,Metodelogi Penelitian Hukum (Pendekatan Doktrinal), UMS Press,
Surakarta, 2005 hlm.6.

9
pada dasarnya jenis penelitaian hukum dapat mengunakan 2 (dua) pendekatan

,yang terdiri atas: Penelitian Hukum Normatif (yuridis normatif), dan penelitaian
6
hukum sosiologis (yuridis empiris). Penelitian hukum normatif disubut juga

sebagai penelitian doktrinal, dimana hukum di konsepkan sebagai apa yang di

tuliskan peraturan perundang undangan (law in books), dan penelitian terhadap

sistematikan hukum dapat dilakukan pada peraturan perundang undangan tertentu

atau hukum tertulis. Sedengakan penelitian yuridis empiris bertujuan menganilis

permasalahan dilakukan dengan memadukan bahan-bahan hukum dengan data

primer yang diperoleh di lapangan. Penelitian ini menggunakan jenis dan

pendekatan penelitian hukum normatif (yuridis normatif).

2. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitaian ini adalah studi

kepustakaan yang dilakukan dengan dua cara yaitu:

a. offline:yaitu menghipun data studi kepustakaan (library research) secara

langsung dengan mengunjungi toko toko buku ,perpustakaan (baik di dalam

maupun di luar kampus universitas muhamdiyah sumatera utara) guna untuk

menghimpun data sekunder yang di butuhkan dalam penelitian dimaksud.

b. Online; yaitu studi kepustakaan (library research) yang dilakukan dengan cara

searching melaui media internet guna menghimpun data skunder yang

dibutuhhkan dalam penelitian.

6
Soerjono Soekanto dan Sri Manudji, , Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
Rajawali Pers, Jakarta, 2005, h.53.

10
3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam Penelitian ini Penulis melakukan pengumpulan bahan hukum yang

mencakup :
7
a. Bahan hukum primer, yaitu Bahan hukum primer adalah bahan yang

mempunyai kekuatan hukum mengikat yang mencakup peraturan

perundang-undangan yang berlaku dan ada hubungannya dengan masalah

ini.8 Peraturan perundang-undangan tersebut adalah sebagai berikut:

(1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang

Hukum Acara Pidana

(2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara

Republik Indonesia

b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang memberikan penjelasan

bahan hukum primer, penulis menggunakan bahan hukum sekunder

meliputi; buku literatur, karya ilmiah maupun hasil penelitian, jurnal,

artikel, arsip-arsip yang mendukung dan bahan-bahan hukum lainnya yang

dimuat dalam media elektronik di internet yang berkaitan untuk dijadikan

bahan perbandingan.

7
Soerjono Soekanto, .Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta,
1986, h.10.
8
Bambang Sunggono, 2006, Metodologi Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, hlm 113.

11
c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberi penjelasan

terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus hukum dan

kamus bahasa Indonesia.

[Link] Penulisan

Untuk memberikan gambaran secara singkat materi yang dibahas dalam

penulisan proposal ini, maka secara sistematika adalah sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan

Dalam bab ini akan menjelaskan mengenai: Latar Belakang Masalah,

Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode

Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II Tinjauan Pustaka

Dalam bab ini berisi tentang Kepolisian, Penanggulangan Kejahatan dan

Senjata Tajam.

12
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kepolisian Negara Republik Indonesia

1. Pengertian Kepolisian

Dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara

Republik Indonesia dalam Pasal 1 ayat (1) dijelaskan bahwa Kepolisian adalah segala

hal ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan

perundang- undangan. Istilah kepolisian dalam Undang-undang ini mengandung dua

pengertian, yakni fungsi polisi dan lembaga polisi. Dalam Pasal 2 Undang-Undang

No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, fungsi kepolisian

sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan

ketertiban masyarakat, penegakan hukum, pelindung, pengayom dan pelayan kepada

masyarakat. Sedangkan Lembaga kepolisian adalah organ pemerintah yang

ditetapkan sebagai suatu lembaga dan diberikan kewenangan menjalankan 17

fungsinya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya Pasal 5 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian

Negara Republik Indonesia menyebutkan bahwa:

1. Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam

memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta

memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam

rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.

13
2. Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Kepolisian Nasional yang

merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1).9

2. Tugas dan Wewenang Kepolisian

Tugas polisi secara umum sebagaimana tercantum dalam Pasal 13 Undang-

Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia,

menyebutkan bahwa tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah :

a. Memberikan keamanan dan ketertiban masyarakat.

b. Menegakkan hukum.

c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat (Pasal

13 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia).

Untuk mendukung tugas pokok tersebut di atas, polisi juga memiliki tugas

tugas tertentu sebagaimana tercantum dalam Pasal 14 ayat (1) Undang–Undang No. 2

Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan pengaturan penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan

masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan.

2. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban dan

kelancaran lalu lintas di jalan.

9
Republik Indonesia.2002. Undang-Undang No. 22 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
14
Republik Indonesia Lembaran Negara RI Tahun 2002, No. 2. Sekretariat [Link].

15
3. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran

hukum masyarakat, serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan

peraturan perundang-undangan.

4. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional.

5. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.

6. Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian

khusus, penyidik pegawai negeri sipil dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.

7. Melakukan penyelidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara

pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya.

8. Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium

forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian.

9. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat dan lingkungan hidup

dari gangguan ketertiban dan/ atau bencana termasuk memberikan bantuan dan

pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

10. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani

oleh instansi/ atau pihak berwenang.

11. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingan

dalam lingkup tugas kepolisian.

12. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang undangan.

Berdasarkan dari tugas-tugas polisi tersebut dapat dikemukakan bahwa pada

dasarnya tugas polisi ada dua yaitu tugas untuk memelihara keamanan, ketertiban,

16
menjamin dan memelihara keselamatan negara, orang, benda dan masyarakat serta

mengusahakan ketaatan warga negara dan masyarakat terhadap peraturan negara.

Prioritas pelaksana tugas polri adalah penegakan hukum. Ini berarti tugas-

tugas kepolisian lebih diarahkan kepada bagaimana cara menindak pelaku kejahatan

sedangkan perlindungan dan pelayanan masyarakat merupakan perioritas kedua dari

tindakan kepolisian. Sebagai wujud dari peranan Polri, maka dalam mengambil dalam

setiap kebijakan harus didasarkan pada pedoman- pedoman yang ada. Dibawah ini

penulis menguraikan pedoman-pedoman sebagaimana yang dimaksud :

a. Peran Polri dalam Penegakan Hukum Polri merupakan bagian dari criminal justice

system selaku penyidik yang memiliki kemampuan penegakan hukum (represif)

dan kerja sama Kepolisian Internasional untuk mengantisipasi kejahatan

Internasional.

b. Peran Polri sebagai Pengayom dan Pelindung Masyarakat Peran ini diwujudkan

dalam kegiatan pengamanan baik yang diatur dalam ketentuan perundang-

undangan (asas legalitas) maupun yang belum diatur oleh peraturan perundang-

undangan (asas oportunitas yang diwadahi dalam hukum kepolisian).

c. Peran polri sebagai pelayan masyarakat (public service). Peran ini merupakan

kemampuan Polri dalam pelaksanaan tugas Polri baik preventif maupun represif,

agar tercipta ketentraman, kedamaian dan keadilan dalam masyarakat sehingga hak

dan kewajiban masyarakat terselenggara dengan seimbang, serasi dan selaras.

17
Fungsi umum kepolisian yang berkaitan langsung dengan kewenangan

kepolisian yang berdasarkan undang-undang yang meliputi semua lingkungan kuasa

hukum, yaitu:

1) Lingkungan kuasa soal-soal (zaken gebeid), yang termasuk kompetisi hukum publik;

2) Lingkungan kuasa orang (personen gebeid);

3) Lingkungan kuasa tempat (ruimte gebeid);

4) Lingkungan kuasa waktu (tijds gebeid).

Menurut pasal 15 undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian

negara republik indonesia, wewenang kepolisian yaitu:

a. Menerima laporan dan pengaduan

b. Membantu menyelesaikan perselisian warga masyarakat yang dapat menggangu

ketertiban umum;

c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat; antara lain

pengemisan dan pergelandangan, pelacuran, perjudian, penyalagunaan obatdan

narkotika, pemabukan, perdangangan manusia, penghisapan/praktik lintah darat,

dan pungutan liar.

d. Mengawasi aliran yang menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan

kesatuan bangsa antara lain aliran kepercayaan yang bertentangan dengan filsafat

dasar Negara Republik Indonesia.

e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administrative

kepolisian;

18
f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam

rangka pencegahan;

g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;

h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang;

i. Mencari keterangan dan barang bukti;

j. Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional;

k. Mengeluarkan surat izin atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka

pelayanan masyarakat;

l. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan

pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat;

m. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu.

Selain itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan

perundang-undangan lainnya berwenang;

a. Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan

masyarakat lainnya;

b. Menyelengarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor;

c. Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor;

d. Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik;

e. Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan peledak, dan

senjata tajam;

19
f. Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha di

bidang jasa pengamanan;

g. Memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat kepolisian khusus dan petugas

pengamanan swakarsa dalam bidang teknis kepolisian;

h. Melakukan kerja sama dengan kepolisian negara lain dalam menyidik dan

memberantas kejahatan internasional;

i. Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di

wilayah indonesia dengan koordinasi instansi terikat;

j. Mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi kepolisian internasional;

k. Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas kepolisian.

B. Tinjauan Umum tentang Upaya Penanggulangan Kejahatan

1. Pengertian Penanggulangan Kejahatan

Menurut kamus besar bahasa Indonesia penanggulangan berasal dari kata

“tanggulang” yang berarti menghadapi, mengatasi. Penanggulangan adalah upaya

yang dilaksanakan untuk mencegah, mengahadapi, atau mengatasi suatu keadaan.

Upaya penanggulangan tindak pidana dikenal dengan istilah kebijakan criminal yang

dalam kepustakaan asing sering dikenal dengan berbagai istilah, antara lain penal

policy, criminal policy, adalah suatu usaha untuk menanggulagi kejahatan melalui

penegakan hukum pidana, yang rasional yaitu memenuhi rasa keadilan dan daya

guna. Dalam rangka menanggulangi kejahatan terhadap berbagai sarana sebagai

reaksi yang dapat diberikan kepada pelaku kejahatan, berupa sarana lainnya.

Apabila sarana pidana

20
dipanggil untuk menanggulangi kejahatan, berarti akan dilaksanakan politik hukum

pidana, yakni mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan

pidana yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa-

masa yang akan datang.10

Upaya penanggulangan kejahatan telah dilakukan oleh semua pihak, baik

pemerintah maupun masyarakat pada umumnya. Berbagai program serta kegiatan

yang telah dilakukan sambil terus mencari cara yang paling tepat dan efektif dalam

mengatasi masalah tersebut. Seperti yang di kemukakan oleh E.H. Sutherland dan

Cressey yang mengemukakan bahwa dalam crimeprevention dalam pelaksanaannya

ada dua metode yang dipakai untuk mengurangi frekuensi dari kejahatan yaitu :

1. Metode untuk mengurangi pengulangan dari kejahatan, merupakan suatu

cara yang ditujukan kepada pengurangan jumlah residivis (pengulangan kejahatan)

dengan suatu pembinaan yang dilakukan secara konseptual.

2. Metode untuk mencegah the first crime, merupakan satu cara yang ditujukan untuk

mencegah terjadinya kejahatan yang pertama kali (the first crime) yang akan

dilakukan oleh seseorang dan metode ini juga dikenal sebagai metode prevention

(preventif).

Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa upaya penanggulangan

kejahatan mencakup aktivitas preventif dan sekaligus berupaya untuk memperbaiki

perilaku seseorang yang telah dinyatakan bersalah (sebagai seorang narapidana)

dilembaga

21
10
Sudarto. Kapita Selekta Hukum Pidana. [Link]. 1986. hlm. 22

22
permasyarakatan. Dengan kata lain upaya penanggulangan kejahatan dapat dilakukan

secara preventif dan represif.11

a. Upaya Preventif

Penanggulangan kejahatan secara preventif dilakukan untuk mencegah

terjadinya atau timbulnya kejahatan yang pertama kali. Mencegah kejahatan lebih

baik daripada mencoba untuk mendidik penjahat menjadi lebih baik kembali,

sebagaimana semboyan dalam kriminologi yaitu usaha-usaha memperbaiki penjahat

perlu diperhatikan dan diarahkan agar tidak terjadi lagi kejahatan ulangan. Sangat

beralasan bila upaya preventif diutamakan karena upaya preventif dapat dilakukan

oleh siapa saja tanpa suatu keahlian khusus dan ekonomis. Barnest dan Teeters

menunjukkan beberapa cara untuk menanggulangi kejahatan yaitu:

1. Menyadari bahwa akan adanya kebutuhan-kebutuhan untuk mengembangkan

dorongan-dorongan sosial atau tekanan-tekanan sosial dan tekanan ekonomi yang

dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang ke arah perbuatan jahat.

2. Memusatkan perhatian kepada individu-individu yang menunjukkan potensialitas

kriminal atau sosial, sekalipun potensialitas tersebut disebabkan gangguan-

gangguan biologis dan psikologis atau kurang mendapat kesempatan sosial

ekonomis yang cukup baik sehingga dapat merupakan suatu kesatuan yang

harmonis.

b. Upaya Represif

11
Atmasasmita, Romli. 1984. Bunga Rampai Kriminologi. Rajawali. Jakarta. hlm. 66

23
Upaya represif adalah suatu upaya penanggulangan kejahatan secara

konsepsional yang ditempuh setelah terjadinya kejahatan. Penanggulangan dengan

upaya represif dimaksudkan untuk menindak para pelaku kejahatan sesuai dengan

perbuatannya serta memperbaikinya kembali agar mereka sadar bahwa perbuatan

yang dilakukannya merupakan perbuatan yang melanggar hukum danmerugikan

masyarakat, sehingga tidak akan mengulanginya dan orang lain juga tidak akan

melakukannya mengingat sanksi yang akan ditanggungnya sangat berat. Dalam

membahas sistem represif, tentunya tidak terlepas dari sistem peradilan pidana kita,

dimana didalam sisitem peradilan pidana paling sedikit terdapat 5 (lima) sub- sistem

yaitu sub-sistem kehakiman, kejaksaan, kepolisian, pemasyarakatan, dan

kepengecaraan yang merupakan suatu keseluruhan yang terangkai dan berhubungan

secara fungsional.

C. Jenis Jenis Senjata Tajam

Senjata adalah suatu alat yang digunakan untuk melukai, membunuh atau

menghancurkan suatu benda. Senjata digunakan untuk menyerang maupun untuk

mempertahankan diri, dan juga untuk mengancam dan melindungi. Apapun yang

dapat digunakan untuk merusak psikologi dan tubuh manusia dapat dikatakan senjata.

Senjata bisa sederhana seperti pentungan atau komples seperti peluru kendali balistik.

Adapun jenis-jenis senjata tajam antara lain:

a. Badik Makassar

24
Badik Makassar memiliki kale (bilah) yang pipih, battang (perut) buncit dan tajam

serta cappa (ujung) yang runcing. Badik yang berbentuk seperti ini di sebut badik

sari. Badik sari terdiri atas bagian pangulu (gagang badik), sumpa kale (tubuh

badik) dan banoang (sarung badik). Lain Makassar lain pula Bugis, di daerah ini

badik di sebut dengan kawali, seperti Kawali Raja (Bone) dan Kawali Rangkong

(Luwu).

b. Celurit

Clurit adalah alat pertanian yang berfungsi sebagai alat potong yang berbentuk

melengkung menyerupai bulan sabit. Meskipun memiliki bentuk yang sama

dengan arit/sabit, clurit lebih mengacu pada senjata tajam sedangkan Arit atau

Sabit cenderung bersifat sebagai alat pertanian. Clurit merupakan senjata khas dari

suku Madura Provinsi Jawa Timur digunakan sebagai senjata carok. Legenda

senjata ini adalah 22 senjata yang biasa digunakan oleh tokoh yang bernama

Sakera yang kontra dengan dengan penjajah Belanda. Kini senjata clurit sering di

gunakan masyarakat Madura untuk carok. Sebelum di gunakan clurit di isi dulu

dengan asma/khodam dengan cara melafalkan doa-doa sebelum melakukan carok.

c. Senjata Api

Menurut Bambang Semedi (2008:18) senjata api diartikan sebagai berikut:

Setiap alat yang sudah terpasang ataupun yang belum, yang dapat di operasikan

atau yang tidak lengkap, yang di rancang atau di ubah, atau yang dapat di ubah

dengan mudah agar mengeluarkan proyektil akibat perkembangan gas-gas yang di

hasilkan dari penyalaan bahan yang mudah terbakar di dalam alat tersebut, dan

25
termasuk

26
perlengkapan tambahan yang dirancang atau di masudkan untuk di pasang pada

alat demikian.

Lebih lanjut dijabarkan dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9

Tahun 1976 yang menyatakan :Senjata api adalah salah satu alat untuk melaksanakan

tugas pokok angkatan bersenjata di bidang pertahanan dan keamanan, sedangkan bagi

instansi pemerintah di luar Angkatan bersenjata, senjata api merupakan alat khusus

yang penggunannya diatur melalui ketentuan instruksi Presiden Nomor 9 Tahun

1976, yang menginstruksikan agar para menteri (pimpinan lembaga pemerintah dan

non pemerintah) membantu pertahanan dan keamanan agar dapat mencapai sasaran

tugasnya.

Penyalahgunaan senjata api rakitan merupakan tindakan yang melanggar

hukum dan menggangu keamanan serta kesejahteraan masyarakat dan negara. Di

indonesia banyak sekali di jumpai pengrajin senjata api yang di rakit untuk digunakan

kepentingan pribadi dan kelompok dalam melakukan aksi tawuran maupun aksi

kejahatan seperti perampokan. Adapun untuk pihak swasta kepemilikan senjata api di

perbolehkan untuk tujuan khusus, seperti olahraga, dan perlindungan diri yang

diberikan kepada pejabat pemerintahan, dan juga kepada pihak swasta. Pemberian

izin yang ketat serta prosedur yang keras di peruntuhkan agar tidak terjadi

penyalahgunaan senjata api secara melawan hukum.

27
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, M. (2021, August). Upaya Penyelesaian Damai Terhadap Pelanggaran Dan

Kejahatan Kemanusiaan Pada Masa Konflik Bersenjata. In Seminar Nasional

Teknologi Edukasi Sosial Dan Humaniora (Vol. 1, No. 1, pp. 1000-1006)

Faradila, N. (2022). Analisis Kriminologi Terhadap Kejahatan Kekerasan Yang

Dilakukan Secara Bersama Oleh Anak Di Kota Bukittinggi. UNES Law

Review, 5(1), hlm.211-219.

Hanafi, H. (2022). Penanganan Kasus Tindak Pidana Membawa Atau Menyimpan

Senjata Tajam Tanpa Ijin Oleh Jajaran Polsek Sepulu. VOICE JUSTISIA:

Jurnal Hukum dan Keadilan, 6(1), hlm.29-45

Jimly Asshidiqqie, 2010, Konstitusional dan Konstitusionalisme Indonesia, Sinar

Grafika, Bandung, hlm. 69.

Kelik Wardiono, Metodelogi Penelitian Hukum (Pendekatan Doktrinal), UMS Press,

Surakarta,

Soerjono Soekanto dan Sri Manudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan

Singkat, Rajawali Pers, Jakarta, 2005, h.53.

Sunggono, Bambang. Metodologi Peneliltian Hukum. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

2006.

Sudarto, Hukum Pidana, Purwokerto: Fakultas Hukum Universitas Jendral Soedirman

Purwokerto, 1986.

28
Hanafi, H. (2022). Penanganan Kasus Tindak Pidana Membawa Atau Menyimpan

Senjata Tajam Tanpa Ijin Oleh Jajaran Polsek Sepulu. VOICE JUSTISIA:

Jurnal Hukum dan Keadilan, 6(1), hlm.29-45

Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara

Pidana

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

29

Anda mungkin juga menyukai