PERBANDINGAN PRESTASI MESIN PADA VARIASI
DIAMETER EXHAUST MANIFOLD
( STUDI EKSPERIMENTAL PADA DYNAMOMETER
TYPE PRONY BRAKE )
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan sebagai Syarat untuk Memenuhi Pelaksanaan Skripsi pada Jurusan S-1
Teknik Mesin Konsentrasi Otomotif Sekolah Tinggi Teknologi YBS Internasional
Tasikmalaya
Oleh :
Helmi Saputra
NIM : 16170045
Pembimbing : Rachmanto Hadiputranto, ST. [Link]
NIDN : 0407126904
JURUSAN TEKNIK MESIN KONSENTRASI OTOMOTIF S-1
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI YBS INTERNASIONAL
TASIKMALAYA
2022
LEMBAR PENGESAHAN
Setelah mempelajari dan menimbang proposal yang diajukan ini, serta
kordinasi dengan tim Dosen Program Teknik Mesin Otomotif, maka saya selaku
Ketua Program Teknik Mesin Konsentrasi Otomotif STT YBSI Tasikmalaya,
menyetujui proposal ini untuk dikerjakan menjadi SKRIPSI dengan menetapkan
dosen pembimbing sebagai berikut :
1. Rachmanto Hadiputranto, ST. [Link]
Demikian persetujuan saya, atas proposal SKRIPSI yang diajukan ini.
Tasikmalaya, Juli 2022
Mengetahui dan Menyetujui,
Ketua Program Teknik Mesin Otomotif
STT YBSI Tasikmalaya
Muhammad Ghozali, ST. M.T
JURUSAN TEKNIK MESIN KONSENTRASI OTOMOTIF
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI YBSI TASIKMALAYA
PROPOSAL SKRIPSI
Nama : Helmi Saputra
NIM : 15170045
Jurusan : Teknik Mesin Konsentrasi Otomotif
Judul Skripsi : Perbandingan Prestasi Mesin Pada Variasi Exhaust Manifold
: (Studi Eksperimental Pada Dynamometer Type Prony Brake).
Tasikmalaya, Juli 2022
Yang Mengusulkan,
Helmi Saputra
NIM : 15170045
SURAT PERNYATAAN ORISINILITAS PENYUSUN SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Helmi Saputra
NIM : 15170045
Jurusan : Teknik Mesin Konsentrasi Otomotif
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat merupakan hasil
karya sendiri, tidak merupakan plagiasi dari karya orang lain dan di dalam skripsi
ini tidak memuat karya orang lain kecuali dicantumkan sumbernya sesuai
ketentuan yang berlaku.
Apabila di kemudian hari ditemukan pelanggaran atas surat pernyataan
saya ini, saya bersedia menerima sanksinya sesuai aturan yang berlaku. Demikian
surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Tasikmalaya, Juli 2022
Yang Membuat Pernyataan,
Helmi Saputra
NIM : 15170045
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Siklus kerja mesin bensin 4 langkah tentunya tidak akan berlangsung tanpa
dilengkapi dengan sistem-sistem yang bekerja secara berkesinambungan. Dari
beberapa sistem yang dimaksud, diantaranya adalah sistem pembuangan. Exhaust
manifold berlangsung saat langkah buang dan merupakan sebuah saluran buang
yang difungsikan untuk membuang gas sisa hasil pembakaran mesin (internal
combution chamber). Komponen sistem ini terdiri dari satu pipa pembuangan
Akan tetapi, untuk tujuan tertentu sistem ini dilengkapi dengan beberapa
komponen tambahan seperti exhaust manifold yang tersambung langsung dengan
bagian kepala silinder mesin.
Untuk tipe motor bakar pembakaran dalam (internal combustion engine)
dibedakan menjadi beberapa jenis. Berdasarkan langkah kerja (siklus kerja) dan
jenis bahan bakar yang digunakan, salah satunya adalah mesin bensin 4 langkah.
Seperti yang diketahui bahwa siklus kerjanya terdiri dari langkah isap, langkah
kompresi, langkah usaha dan langkah buang. Sehingga untuk menghasilkan
sebuah tenaga, jenis mesin ini memerlukan empat proses langkah turun naik
piston, dua putaran crankshaft dan satu putaran camshaft.
Exhaust Manifold berfungsi untuk mengalirkan gas hasil pembakaran
mesin pada tiap Silinder ke Exhaust Manifold dan selanjutnya ke catalytic
converter lalu ke silencer dan di teruskan ke muffler.
Exhaust Manifold ini di sambungkan pada saluran buang melalui bagian
komponen mesin yaitu kepala silinder menggunakan sambungan baut dan mur,
Exhaust Manifold sendiri juga sangat berperan penting terhadap performa yang
dihasilkan oleh mesin.
Untuk mengetahui pengaruh variasi diameter exhaust manifold terhadap prestasi
mesin motor bakar 4 langkah, maka dilakukan penelitian ini.
Oleh karena itu, untuk mengetahui pengaruh terhadap prestasi mesin perlu
dilakukan pengujian dan analisis lebih lanjut. Maka dari itu peneliti mengajukan
judul ” Perbandingan Prestasi Mesin Pada Variasi Diamater Exhaust Manifold
( Study Eksperimental Pada Dynamometer Type Prony Brake )”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, terdapat beberapa
rumusan masalah penelitian yang akan dianalisa, antara lain :
1. Bagaimana prestasi mesin pada diamater exhaust manifold Standart ?
2. Bagaimana prestasi mesin pada diamater exhaust manifold variasi yang
di perkecil ?
3. Bagaimana perbandingan prestasi mesin pada diameter exhaust manifold
standart dan variasi yang di perkecil ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang dikehendaki dari pelaksanaan penelitian ini, antara lain :
1. Mengetahui prestasi mesin pada diameter exhaust manifold standart.
2. Mengetahui prestasi mesin pada diameter exhaust manifold variasi yang di
perkecil.
3. Mengetahui perbandingan prestasi mesin pada diameter exhaust manifold
standart dan variasi yang di perkecil.
1.4 Batasan Masalah
Beberapa batasan masalah yang ditentukan peneliti dengan maksud untuk
lebih memperjelas ruang lingkup pembahasan, antara lain :
1. Proses pengujian menggunakan Prony Brake Dynamometer.
2. Jenis motor bakar yang digunakan saat pengujian adalah motor bensin 4
langkah (1 silinder) tipe OHV dengan kondisi standar.
3. Jenis bahan bakar yang digunakan saat pengujian yaitu pertalite dengan nilai
oktan 90.
4. Proses pengujian menggunakan Exhaust Manifold Standart dan Exhaust
Manifold Variasi yang di perkecil.
1.5 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan peneliti untuk mendapatkan hasil sesuai
tujuan penelitian yang dimaksud, antara lain :
1. Melakukan pengkajian awal dengan mencari referensi teori-teori yang
berkaitan dengan penelitian.
2. Melakukan penelitian secara eksperimental dan dilanjutkan dengan proses
analisis data hasil pengujian, dihitung secara manual menggunakan rumus
perhitungan baku yang berkaitan.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini, antara lain :
1. Bab I Pendahuluan
Uraian pada bab ini yaitu tentang latar belakang sebagai dasar penelitian,
rumusan masalah penelitian yang ditemukan, tujuan penelitian yang dikehendaki,
penetapan batasan-batasan masalah penelitian, metode penelitian dan tentunya
sistematika penulisan skripsi yang digunakan.
2. Bab II Landasan Teori
Uraian pada bab ini yaitu tentang teori-teori yang menjadi dasar dan
penunjang pelaksanaan penelitian. Berisi teori-teori motor bakar, terutama yang
berkaitan dengan bahan penelitian yaitu Exhaust Manifold pada sistem
pembuangan. Dijelaskan juga mengenai Prony Brake Dynamometer beserta
variabel-variabel yang dapat menunjukkan sejauh mana tingkat prestasi mesin
atau kinerja mesin. Selain itu, tentunya rumus-rumus perhitungan baku yang
dibutuhkan saat proses pengolahan data hasil pengujian.
3. Bab III Pengujian dan Pengambilan Data
Uraian pada bab ini yaitu tentang beberapa persiapan yang harus
dilakukan sebelum proses pengujian. Hal itu mencakup persiapan Prony Brake
Dynamometer, Exhaust Manifold yang menjadi bahan uji dan hal lain yang tidak
kalah pentingya yaitu prosedur pengujian.
4. Bab IV Analisis dan Pembahasan
Uraian pada bab ini yaitu tentang data hasil pengujian yang nantinya
digunakan sebagai bahan penelitian lanjutan. Proses analisis data dilakukan
dengan cara perhitungan manual menggunakan rumus perhitungan baku yang
berkaitan sesuai tujuan penelitian.
5. Bab V Penutup
Uraian pada bab ini yaitu tentang kesimpulan hasil penelitian yang
menunjukkan kinerja atau prestasi mesin menggunakan Exhaust Manifold dengan
Variasi Diameter Exhaust Manifold yang berbeda, juga saran mengenai penelitian
sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian lain yang berkaitan dan perlu
ditindak lanjuti.
6. Daftar Pustaka
Uraian pada daftar pustaka yaitu data-data sumber tercetak dan elektronik
yang menjadi bahan referensi penyusunan skripsi. Baik berupa buku, jurnal
penelitian, skripsi dan lainnya yang memang dapat dipertanggungjawabkan akan
kebenarannya.
7. Lampiran
Lampiran ini berisi informasi tambahan yang menjadi referensi lain
penyusunan skripsi dan dokumentasi penelitian sebagai bukti orisinilitas
penelitian yang dilaksanakan.
1.7 Diagram Alir
Diagram alir penelitian yang akan dilaksanaka n, yaitu :
Gambar 1.1 Diagram Alir Penelitian
Adapun uraian dari setiap tahapan penelitian yang dilaksanakan sesuai
diagram alir di atas, antara lain :
a. Tahap 1, yang mana merupakan tahap persiapan alat dan bahan penelitian
yang dibutuhkan, diantaranya :
1) Engine pada Prony Brake Dynamometer yang telah diservis dan disetel
sesuai standar pabrik.
2) Exhaust Manifold yang dijadikan sebagai bahan penelitian.
3) Tachometer untuk mengukur putaran poros.
4) Thermometer untuk mengukur suhu engine dan suhu ruangan pengujian.
5) Compression tester untuk mengetahui tekanan kompresi engine.
6) Gelas ukur untuk mengetahui jumlah pemakaian bahan bakar.
7) Stopwatch untuk mengukur waktu pengujian.
8) Beban sebagai pemberat Prony Brake Dynamometer saat pengujian.
9) Prosedur pengujian sebagai panduan saat proses pengujian berlangsung.
b. Tahap 2, yang mana merupakan tahap pengujian prestasi mesin motor 4
langkah menggunakan Prony Brake Dynamometer berdasarkan jenis exhaust
Manifold yang digunakan. Adapun data pengujian yang didapatkan antara
lain :
1) Putaran drive pulley
2) Putaran driven pulley
3) Konsumsi bahan bakar
c. Tahap 3, yang mana merupakan tahap analisis data pengujian untuk
menghasilkan kesimpulan sesuai tujuan penelitian. Adapun proses analisis
datanya dihitung secara manual menggunakan rumus baku yang berkaitan.
1.8 Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian dilaksanakan sesuai dengan tabel berikut, yaitu :
Tabel 1.1 Alokasi Waktu Pengujian dan Analisis
Bulan
Kegiatan Maret April Mei Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Studi Literatur
Proses Penelitian
(Tahap 1)
Proses Penelitian
(Tahap 2)
Proses Penelitian
(Tahap 3)
Proses
Pengetikan
Seminar Skripsi
Sidang Skripsi
Revisi
1.9 Daftar Pustaka
Sumber-sumber yang menjadi referensi penulisan skripsi, antara lain :
a. Ghozali, Muhamad. 2014. Analisis Pengaruh Penggunaan Premium dan
Gasohol terhadap Prestasi Motor Bakar dengan Alat Uji Dynamometer
Prony Brake. STT YBSI Tasikmalaya. Skripsi.
b. Hidayat, Taufiq. 2015. Pengaruh Pemasangan Sirip pada Mufler Sepeda
Motor 4 Tak Hubungannya dengan Tingkat Besaran Suhu Mesin.
Mechatronic AT-AUB Vol. 9. ISSN : 1907-3321. UNU Surakarta. Jurnal.
c. Hidayat, Taufiq. 2017. Hubungan Selubung Muffler Sepeda Motor dan
Jumlah Pemakaian Bahan Bakar Bensin. Jurnal Autindo Politeknik
Indonusa Surakarta Vol. 1 No. 5. ISSN : 2442-7918. UNU Surakarta. Jurnal.
d. Sipahutar, Riman. 2011. Studi Eksperimental Pengaruh Penggunaan
Catalytic Converter terhadap Emisi Gas Buang pada Motor Yamaha RX-
King Tahun Pembuatan 2006. Prosiding Seminar Nasional AVoER ke-3.
ISBN : 979-587-395-4. Universitas Sriwijaya. Jurnal.
e. Tarigan, Kristian dan Amin Suhadi. Pengaruh Jenis Aliran Silencer Muffler
Knalpot terhadap Tingkat Kebisingan dan Emisi Gas Buang pada
Kendaraan Roda Empat Kapasitas 1600 cc. Jurnal Ilmiah Teknobiz Vol. 5
No. 2. Universitas Pancasila. Jurnal.
f. Sularso. 1994. Dasar Perancangan dan Pemilihan Elmen Mesin. Jakarta.
Pradnya Paramita.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengenalan Alat Uji Dynamometer Prony Brake
Prony Breake adalah perangkat alat ukur sederhana yang ditemukan oleh
Gaspard de Pony pada tahun 1821 untuk mengukur torsi yang dihasilkan oleh
mesin, istilah “tenaga kuda rem” adalah salah satu pengukuran daya yang berasal
dari metode ini mengukur torsi. (Power dihitung dengan mengalikan torsi dengan
kecepatan rotasi). Pada dasarnya pengukuran dilakukan dengan membungkus
kabel atau serbuk disekitar poros output mesin dan mengukur kekuatan ditransfer
ke sabuk melalui gesekan. Gesekan meningkat dengan mengencangkan sabuk
sampai frekuensi rotasi poros berkurang. Dalam prakteknya tenaga mesin yang
lebih kemudian dapat diterapkan sampai batas mesin tercapai.
Dalam bentuk yang paling sederhana besin terhubung ke drum berputar melalui
sebuah poros output. Sebuah rem digesekan melilit setengah lingkaran ke drum
dan setiap akhir melekat pada neraca pegas terpisah. Sebuah substansi pra-beban
ini kemudian diterapkan ke ujung band, sehingga setiap neraca pegas memiliki
pembacaan awal dan identik. Ketika mesin sedang berjalan, gaya gesek antara
drum dan band akan menigkatkan pembacaan berlaku pada satu keseimbangan
dan penurunan itu di sisi lain. Perbedaan antara dua bacaan dikalikan dengan jari-
jari didorong drum yang sama dengan torsi. Jika kecepatan mesin diukur dengan
tachometer, tenaga kuda rem mudah dihitung. Mekanisme alternatife adalah untuk
menjepit tuas, poros dan mengukur menggunakan neraca tunggal. Torsi tersebut
kemudian terhubung dengan panjang tuas, diameter poros dan gaya yang diukur.
Perangkat ini umumnya digunakan selama rentang kecepatan mesin untuk
memperoleh kekuasaan dan kurva torsi untuk mesin.
Tipe dynamometer yang digunakan dalam pengujian prestasi motor bakar ini
adalah dynamometer mekanis dengan rem jepit atau prony breake dengan kayu.
Pada dynamometer ini penyerap daya dilaksanakan dengan memberikan gesekan
mekanis sehingga timbul panas. Panas ini dipindahkan kesekeliling (atmosfir).
Rem jepit kayu atau prony breake dibuat dalam berbagai model, salah satu
diantaranya terlihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.1 Rem jepit kayu atau prony breake
Penyerapan daya dilakukan dengan jalan mengatur gesekan yang terjadi antara
blok-blok kayu dengan rotor.
Tipe rem jepit ini biasanya digunakan untuk mengukur daya yang tidak terlalu
besar dengan putaran poros maksimum 3000 rpm. Bila putaran tersebut tinggi,
tipe rem jepit ini harus dikonstuksikan dengan sangat hati-hati.
Konstruksi dan nama-nama komponen tipe rem jepit ini bisa dilihat pada gambar
dibawah ini.
Gambar 2.2 Nama-nama komponen tipe rem jepit
2.2 Torsi
Torsi adalah gaya putar yang dihasilkan oleh crank shaft atau suatu ukuran
kemampuan motor bakar untuk menghasilkan kerja. Didalam prakteknya torsi
motor bakar berguna pada wkatu kendaraan mulai berputardan sewaktu
mempercepat laju motor bakar dan berguna untuk memperoleh kecepatan yang
tinggi, biasanya torsi (T) akan sama, berubah-rubah atau berlipat. Torsi timbul
akibat adanya gaya tangensial pada jarak sumbu dari sumbu roda berputar. Untuk
sebuah motor bakar yang beroprasi dengan kecepatan tertentu dan menerusakan
gaya, maka akan timbul gaya (F) dan jari-jari (R) dan putaran (n) dalam keadaan
konstan yang besarnya dapat ditentukan.
2.3 Putaran (Rpm)
RPM adalah singkatan dari Rotation Per Minute. RPM mesin adalah angaka yang
menunjukan berapa kali putaran poros engkol (crank shaft) dan pada pulley yang
digerakan dalam satu menit. RPM adalah indicator penting pada sebuah motor
bakar. Indicator ini biasanya berupa motor petunjuk (gauge) berbentuk lingkaran
atau busur lingkaran dengan angka-angka dan sebuah jarum petuntuk. Meter
petunjuk ini disebut RPM-Meter atau tachometer.
2.4 Daya (P)
Daya (Power) adalah besarnya torsi yang dihasilkan oleh motor bakar pada priode
tertentu. Daya mesin dapat diukur pada ledakan yang dihasilkan padad proses
pembakaran tanpa memperhitungkan hambatan-hambatan geekan yang mungkin
terjadi. Satu tenaga kuda adalah jumlah kerja yang dilakukan untuk mendorong
benda seberat 75kg sejauh 1m selama satu detik.
2.5 Daya Poros Efektif (Ne)
Daya poros diperoleh dari pengukuran, dihitung dalam watt (kgf/s) atau dalam PS
didefinisikan sebagai momen torsi dikalikan dengan kecepatan putaran poros
engkol atau (crank shaft).
2.6 Tekana Efektif Rata-Rata (Pe)
Tekana efektif rata-rata didefinisikan sebagai tekana efektif dari fluida kerja
terhadap torak sepanjang langkahnya untuk menghasilkan kerja persiklus.
2.7 Pemakian Bahan Bakar (mf)
Pemakaian bahan bakar dinyatakan dalam kg/jam, maka jumlah bahan bakar yang
terpakai sebanyak 10cc dalam detik.
2.8 Pemkaian bahan Bakar Spesifik (Be)
Pemakaian bahan bakar spesifik merupakan parameter penting untuk sebuah
motor yang berhubungan erat dengan efisiensi termal motor. Pemakaian bahan
bakar spesifik didefinisikan sebagai banyaknya bahan bakar yang terpakai per jam
untuk menghasilkan setiap kW daya motor.
2.9 Efisiensi Termal )
Efisiensi termal menyatakan perbandingan antara daya yang dihasilkan terhadap
jumlah bahan bakar yang diperlukan untuk jangka waktu tertentu. Efisiensi termal
juga mengindikasi seberapa besar energi dari bahan bakar dikonversikan menjadi
tenaga. Walaupun campuran bahan bakar dan udara yang masuk ke dalam silinder
lebih besar, yang berarti energi bahan bakar lebih besar, namun tidak semua
energi tersebut dikonversi menjadi mekanis. Motor bakar yang paling baik hanya
mengkonversi 1/3 energi kimianya menjadi energi mekanis.
.1 Motor Bakar
Motor bakar adalah suatu mekanisme atau konstruksi mesin yang merubah energi
panas menjadi energi mekanis. Terjadinya energi panas karena adanya proses
pembakaran, bahan bakar, udara, dan sistem pengapian. Dengan adanya suatu
konstruksi mesin, memungkinkan terjadinya siklus kerja mesin untuk usaha dan
tenaga dorong dari hasil ledakan pembakaran yang diubah oleh konstruksi mesin
menjadi energi mekanik atau tenaga penggerak. (Hidayat, 2013)
2.2 Siklus Kerja Motor Bensin 4 langkah
Pada motor bensin 4 langkah terdapat siklus yang terus berkelanjutan untuk
menghasilkan suatu tenaga dan dapat digunakan untuk menggerakkan kendaraan.
Adapun siklus tersebut merupakan langkah kerja naik turun piston. Langkah
tersebut yaitu:
1. Langkah Hisap Sewaktu piston bergerak dari TMA ke TMB, maka tekanan
diruang pembakaran menjadi hampa (vakum). Perbedaan tekanan udara luar yang
tinggi dengan tekanan hampa, mengakibatkan udara akan mengalir dan bercampur
dengan gas. Selanjutnya gas tersebut masuk melalui katup masuk yang terbuka
mengalir masuk dalam ruang cylinder.
Prosesnya adalah :
a) Piston bergerak dari Titik Mati Atas (TMA) menuju Titik Mati Bawah (TMB).
b) Katup buang tertutup dan katup masuk terbuka, bahan bakar masuk ke silinder
c) Tekanan negatif piston menghisap kabut udara-bahan bakar masuk ke silinder.
Gambar 2.1. Langkah Hisap
2. Langkah Kompresi Setelah melakukan pengisian, piston yang sudah mencapai
TMB kembali lagi bergerak menuju TMA, dimana katup masuk dan katup buang
tertutup, ini memperkecil ruangan diatas piston, sehingga campuran udara-bahan
bakar menjadi padat, tekanan dan suhunya naik. Tekanannya naik kira-kira tiga
kali lipat. Beberapa derajat sebelum piston mencapai TMA terjadi letikan bunga
api listrik dari busi yang membakar campuran udara-bahan bakar.
Prosesnya sebagai berikut :
a) Piston bergerak kembali dari TMB ke TMA.
b) Katup masuk menutup, katup buang tetap tertutup,
c) Bahan Bakar termampatkan ke dalam kubah pembakaran (combustion
chamber) sehingga suhu dan tekanan akan naik.
d) Sekitar +- 8 derajat sebelum TMA , busi mulai menyalakan bunga api dan
memulai proses pembakaran.
Gambar 2.2. Langkah Kompresi
3. Langkah Usaha dimulai ketika campuran udara/bahan-bakar dinyalakan oleh
busi. Dengan cepat campuran yang terbakar ini merambat dan terjadilah ledakan
yang tertahan oleh dinding kepala silinder sehingga menimbulkan tendangan balik
bertekanan tinggi yang mendorong piston turun ke silinder bore. Gerakan linier
dari piston ini dirubah menjadi gerak rotasi oleh poros engkol. Enersi rotasi
diteruskan sebagai momentum menuju flywheel yang bukan hanya menghasilkan
tenaga, counter balance weight pada kruk as membantu piston melakukan siklus
berikutnya.
Prosesnya sebagai berikut :
a) Ledakan tercipta secara sempurna di ruang bakar, dan Piston terlempar dari
TMA menuju TMB.
b) Katup masuk menutup penuh, katup buang menutup tetapi menjelang akhir
langkah usaha katup buang mulai sedikit terbuka.
c) Terjadi transformasi energi gerak bolak-balik piston menjadi energi rotasi pada
poros engkol.
Gambar 2.3. Langkah Usaha
4. Langkah Buang (Exhaust stroke)Pada langkah buang, piston bergerak dari
TMB menuju TMA, katup masuk tertutup dan katup buang terbuka, Langkah
buang ini menjadi sangat penting untuk menghasilkan operasi kinerja mesin yang
lembut dan efisien.
Prosesnya adalah :
a) Counter balance weight pada poros engkol memberikan gaya untuk
menggerakkan piston dari TMB ke TMA.
b) Katup buang terbuka Sempurna, katup masuk menutup penuh.
c) Gas sisa hasil pembakaran didesak keluar oleh piston melalui port exhaust
menuju knalpot.
Gambar 2.4. Langkah Buang
2.3 Definisi Muffler
Muffler adalah perangkat yang digunakan untuk mengurangi noise / kebisingan
suara yang muncul dari proses pembakaran di mesin. Muffler ini sering disebut
juga dengan “silencer”. Sedangkan keluaran dari Muffler adalah Tilepipe atau
yang sering disebut dengan “Knalpot”.
Knalpot mobil merupakan salah satu komponen yang ada pada mobil yang
berfungsi sebagai saluran pembuangan gas sisa pembakaran. Knalpot mobil juga
sangat berpengaruh terhadap kinerja mesin, jika posisi maupun konstruksinya
tidak pas maka kinerja mesin akan turun begitu juga jika kita ingin
memaksimalkan kerja mesin, banyak bengel mobil melakukan modifikasi pada
saluran buang tersebut.
10
Dalam pemasangan knalpot mobil kita tidak bisa sembarangan, ada ukuran
maksimal diameter pipa knalpot yang dibolehkan. Ukuran maksimal tersebut
untuk menjaga keseimbangan antara kecepatan gas buang dengan jumlah gas
buang. Terlalu kecil ukuran diameter berarti kecepatan gas buangnya besar hanya
jumlahnya berkurang, sedang jika terlalu besar diameter knalpot, maka kecepatan
gas buangnya rendah walaupun jumlah gas buangnya tinggi.
Dari sisi tenaga mobil, peran knalpot sangat vital. Selain melakukan service mesin
secara rutin, service kanlpot pun jangan lupa dilakukan secara berkala tujuannya
adalah untuk menjaga agar supaya knalpot selalu dalam kondisi baik. Banyak
pemakai mobil yang datang ke bengkel mobil untuk melakukan modifikasi pada
header, diameter dan panjang pipa utama serta Kolektor. Karena dengan
melakukan modifiaksi pada bagian ini maka torsi dan power bands akan berubah.
Selain itu knalpot mobil juga berfungsi untuk membentuk suara deru mesin, Ada
dua bagian dari sistem knalpot yang menetukan tone suara, yaitu resonator dan
muffler. Melakukan perubahan pada dua bagian tersebut akan mengubah karakter
suara mobil kita tanpa mengurangi performance (torsi dan Power Bands).
Resonator ditempatkan di belakang collector (header) atau dibelakang Catalytic
Converter (CAT). Prinsip kerja resonator adalah menggunakan metode refleksi
gelombang dan ini yang akan menentukan nada dasar suara. Semakin panjang
resonator maka semakin banyak gelombang yang
11
direfleksi / dipantulkan yang berinteraksi dengan gelombang yang datang
sehingga suara menjadi kecil.
Ada tiga jenis Muffler atau silencer untuk mendapatkan suara yang berbeda –
beda. Yaitu Chambered (ada ruangan pemisah/pembatas), Straight-Through,
Twin-Pass (Double Tail Pipe).
Umumnya untuk resonator tidak dilengkapi dengan glass wool karena gas buang
sisa pembakaran di tempat itu masih panas (pendinginan belum komplit).
Sehingga dibutuhkan pendinginan yang baik, jika tidak maka kebocoran gas akan
terjadi.
Biasanya kebocoran akan terjadi jika packing sambungan sudah terbakar,
meskipun hanya kecil tapi akan berpengaruh terhadap kinerja knalpot mobil kita.
Untuk itu selalu check exhaust manifold gasket. Sambungan Kolektor ke pipa
dibelakangnya.
2.4 Komponen dan Fungsi Sistem Pembuangan (Muffler) Pada Mobil
Sistem pembuangan terdiri dari beberapa komponen yang memiliki hubungan dan
fungsi satu sama lain, seperti pipa pembuangan yang di sebut muffer (knalpot).
Komponen-komponen sistem pembuangan pada motor roda empat:
12
Gambar 2.5. Komponen Sistem Pembuangan
1. Exhaust Manifold atau Header
Merupakan komponen pertama yang menempel pada mesin, yang berfungsi untuk
membuang gas sisa dari kepala silinder ke knalpot. Untuk material biasanya
dibuat dari besi cor dan cast iron. Masalah yang sering terjadi adalah retak karena
secara tiba-tiba tersiram air, yang dikarenakan dek pelindung yang dibawah rusak
dan berlubang.
Gambar 2.6. Header
13
2. Resonator
Komponen ini berfungsi untuk meredam suara dan membuat back pressure
(tekanan balik) kemudian penempatannya dibawah/setelah catalytic converter.
Problem yang sering timbul adalah keropos dan gepeng sampai dengan bocor.
Gambar 2.7. Resonator
3. Muffler
Yaitu berbentuk tabung yang penempatannya terakhir pada exhaust sistem
fungsinya sama dengan resonator. Problemnya juga sama yaitu keropos dan
penyok. Pada muffler juga biasanya terdapat sekat-sekat yang juga bertujuan
untuk membuat back pressure dan meredam suara.
14
Gambar 2.8. Komponen Muffler
3.1 Glaswool
Memodifikasi mobil untuk mendapatkan performa yang lebih besar. Salah satu
cara yang umum dilakukan adalah mengganti knalpot standar dengan knalpot
racing atau melebarkan lubang bagian dalam knalpot standar. Satu efek negatif
dari memodifikasi peredam knalpot standar adalah suara yang dihasilkan akan
menjadi lebih bising. Suara bising yang dihasilkan tersebut biasanya terjadi akibat
busa peredam, atau biasa disebut glasswool, yang terdapat di bagian silinder
knalpot berkurang kemampuannya.
Tugas utama busa peredam atau glasswool adalah untuk meredam suara knalpot,
yang timbul dari hasil pembakaran mesin. Tingkat kebisingan sebuah knalpot
tergantung pada ketebalan, kerapatan dan daya tahan serat busa peredam itu
sendiri. Kelebihan yang ditawarkan glasswool berkualitas bagus adalah mampu
meredam suara lebih baik dan tahan lama.
15
a. Jenis peredam suara lain adalah yang terbuat dari bahan fiberglass. Kelebihan
peredam berbahan fiber ini lebih tahan lama, karena seratnya yang terbuat dari
bahan kaca, sehingga peredam itu tidak mudah habis terbakar jika suhu knalpot
mulai panas.
Gambar 2.9. Glaswool Fiberglass
b. Jenis peredamknalpot steelwool. Seratnya berbahan dasar besi yang dililitkan
atau digumpalkan. Kelebihannya tidak akan habis terbakar oleh panas dan tidak
akan terbuang keluar. Daya tahan atau keawetan steelwool bisa mencapai dua kali
lipat dari glasswool standar atau yang berbahan [Link] hanya satu,
karena berbahan dasar besi, steelwool bisa berkarat bila sudah terlalu lama tidak
diganti.
Gambar 2.10. Glaswool Stelwool
16
3.2 Saringan Knalpot (REFLECTION PERFORATOR)
Seperti saringan (seperti sarang tawon di dalam knalpot) yang berada di dalamnya
itu berfungsi untuk meredam suara knalpot agar tidak terlalu bising.
Gambar 2.11. Saringan Knalpot
3.3 Casing (SILINCER) Pada Muffler
Silincer adalah untuk memperindah tampilan mobil. Bisa juga sebagai pemanis.
Selain itu, silincer juga berguna menyaring atau lebih tepatnya “meredam” emisi
gas buang sehingga gas buang yang nantinya akan keluar dari siilncer, bisa lebih
ramah lingkungan.
Gambar 2.12. Silincer HKS
17
4. Muffler tip
Komponen ini merupakan saluran yang keluar dari muffler, dan sifatnya hanya
pipa pembuangan sisa gas. Komponen ini biasanya sering diganti untuk
menambah penampilan. Karena komponen ini langsung terlihat dan dianggap
dapat langsung mendongkrak penampilan.
2.5 Cara Kerja Muffler
Meneruskan out put pengeluaran gas buang dari ruang bakar menuju exhaust
manifold, dan menyaring kotoran atau partikel-partikel yg keluar dari exhaust
manifold.
Juga meredam suara yg keluar dari exhaust manifold menuju muffler, sehingga
suara tersebut di saring oleh gaswool dan saringan knalpot, akan menghasilkan
suara yang empuk dan mengurangi emisi gas buang yang berlebihan.
2.6 Penjelasan Tentang Konfigurasi 4-1, 4-2-1 dan 4-3
2.6.1 Penjelasan Header Konfigurasi 4-1
Header Konfigurasi 4-1 yaitu dari 4 pipa menjadi 1 pipa sudah pasti ukuran pipa
nya besar. Sehingga power band bergeser, misalnya torsi puncak di putaran 4000
RPM menjadi 5000 RPM. Jadi semakin besar ukuran pipa, semakin tinggi power
band nya. Maka dari itu Header dengan konfigurasi 4-1 tidak disarankan untuk
harian melainkan untuk kebutuhan balap. Jika mesin sudah dilakukan modifikasi
atau upgrade spesifikasi seperti kompresi
18
tinggi, maka disarankan memakai header 4-1. Tetapi kalau mesin standar dan
pakai header 4-1, torsi akan hilang.
Gambar 2.13. Header Konfigurasi 4-1
Terdapat juga konfigurasi 4-1 pendek dan 4-1 panjang. Maksudnya, panjang dan
pendek tersebut adalah panjang atau pendeknya pipa header. Seperti contoh 4-1
pendek memiliki pipa header yang lebih pendek, konfigurasi ini akan
menghasilkan atau lebih enak diputaran atas, sehingga dengan mesin standar
tetapi akan di pakai untuk putaran atas lebih enak menggunakan 4-1 pendek.
Untuk 4-1 panjang, pipa header lebih panjang yang berakibat mesin ini akan enak
di putaran menengah keatas karena gas buang lebih lama mengisi header tersebut
dibandingkan dengan 4-1 pendek.
19
Gambar 2.14. Header 4-1 panjang
Gambar 2.15. Header 4-1 pendek
20
2.6.2 Penjelasan Header Konfigurasi 4-2-1
Header Konfigurasi 4-2-1 biasanya direkomendasikan untuk harian dan masih
mendapatkan efisiensi konsumsi bahan bakar karena tenaga maupun torsi
meningkat di putaran mesin rendah. Dikarenakan sambungan dari 4 pipa menjadi
2 memang besar, tetapi dari 2 pipa menjadi 1 tidak besar. Jadi bertahap, sehingga
power band tidak berubah terlalu jauh. Karena header 4-2-1 sebenarnya sifatnya
hanya melancarkan flow saja, jadi tenaga dan torsi tetap di putaran mesin rendah.
Rata-rata mobil bawaan pabrik kebanyakan memakai header konfigurasi 4-2-1.
Gambar 2.16. Header 4-2-1
21
2.6.3 Penjelasan Header Konfigurasi 4-3
Header Konfigurasi 4-3 yaitu sambungan dari 4 pipa menjadi 3 pipa dan 1 pipa
terpisah dari resonator. Jadi suara yang dihasilkan jadi lebih keras dari header
standar. Karena header 4-3 hanya menghasilkan suara keras saja dan tidak
berpengaruh sekali di dalam tenaga mobil maka jarang sekali yang menggunakan
header
Gambar 2.17. Header 4-
22