PPK TW
PPK TW
TERAPI WICARA
RS SANSANI PEKANBARU
GANGGUAN BICARA DAN BAHASA PADA ANAK
F80.8
1. Definisi
Gangguan bahasa adalah gangguan yang mencakup kemampuan untuk mengartikan atau
mengungkapkan informasi melalui simbol-simbol yang dapat [Link] bahasa dibagi
menjadi gangguan seseorang untuk memahami (reseptif/ komprehensif), atau memproses dan
memproduksi komunikasi (ekspresif). Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk memahami, termasuk
keterampilan visual (membaca, sign language comprehension) dan auditory (mendengar). Bahasa
ekspresif adalah kemampuan untuk memproduksi simbol komunikasi. Luaran dapat berupa visual
(menulis, bahasa isyarat) atau auditory (bicara).Gangguan bicara adalah gangguan pada kemampuan
untuk mengungkapkan informasi dalam bentuk bahasa verbal (kata-kata).
2. Etiologi
1. Faktor biologi
- Gangguan pendengaran
- Kelainan organ bicara dan bahasa
- Retardasi mental
- Kelainan genetik atau kromosom
- Gangguan perkembangan bahasa, gangguan bahasa spesifik (Specific Language
Impairment)
- Autisme
- Mutisme selektif
- Afasia reseptif
- Sindroma Landau-Kleffner (sangat jarang)
- Penyakit metabolik dan neurodegeneratif
2. Faktor lingkungan
- Lingkungan yang sepi
- Status sosial ekonomi
- Teknik pengajaran yang salah
- Sikap orangtua
- Lingkungan yang kurang memberikan stimulasi
- Child abuse
- Pemakaian bahasa bilingual
3. Bentuk Klinis
Kecurigaan adanya gangguan perkembanganbahasa menurut Aram DM
1. Pada usia 6 bulan anak tidak mampu memalingkan mata serta kepalanya terhadap suara
yang datang dari belakang atau samping.
2. Pada usia 10 bulan anak tidak memberi reaksi terhadap panggilan namanya sendiri.
3. Pada usia 15 bulan tidak mengerti dan memberi reaksi terhadap kata-kata jangan, dada dan
sebagainya.
4. Pada usia 18 bulan tidak dapat menyebut 10 kata tunggal.
5. Pada usia 21 bulan tidak memberi reaksi terhadap perintah (misalnya duduk, kemari,
berdiri)
1
6. Pada usia 24 bulan tidak bisa menyebut bagian-bagian tubuh.
7. Pada usia 24 bulan belum mampu mengetengahkan ungkapan terdiri dari 2 buah kata.
8. Setelah usia 24 bulan hanya mempunyai perbendaharaan kata yang sangat sedikit.
9. Pada usia 30 bulan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh anggota keluarga.
10. Pada usia 36 bulan belum dapat mempergunakan kalimat-kalimat sederhana.
11. Pada usia 36 bulan tidak bisa bertanya dengan menggunakan kalimat-kalimat sederhana.
12. Pada usia 36 bulan ucapannya tidak dimengerti oleh orang diluar keluarganya.
13. Pada usia 31/2 tahun selalu gagal menyebut kata akhir (ca untuk cat, ba untuk ban, dll)
14. Setelah usia 4 tahun tidak lancar baerbicara .
15. Setelah usia 7 tahun masih ada kesalahan ucapan.
16. Pada usia berapa saja terhadap hipernasalitas dan hiponatalitas, sangat keras dan tidak dapat
didengar serta terus menerus memperdengarkan suara serak.
2
4. Kriteria Diagnosis
Anamnesis
Riwayat perkembangan bahasa yang terlambat (reseptif, ekspresif)
Riwayat perkembangan lain seperti motorik, personal sosial, dan kognitif
Riwayat keterlambatan bicara dan bahasa dalam keluarga
Faktor risiko/penyebab gangguan bicara
Pemeriksaan Fisis
1. TB. PB, Lingkar kepala
2. Pemeriksaan organ bicara ( ada tidaknya tounge tie, labiopalatoschizis)
3. Pemeriksaan THT ( tuli konduksi, tuli sensorineural, otitis media, atresia choanae)
4. Pemeriksaan craniofacial (hidrosefalus, hidransefali, kraniosinostosis, katarak)
5. Evaluasi perilaku, mengamati anak saat bermain sangat membantu dalam mengidentifikasi
gangguan tingkah laku, sebagai contoh:
a. Cara berkomunikasi dengan cara lain seperti isyarat, atau penggunaan kode-kode yang
dapat dimengerti oleh lawan komunikasinya pada anak dengan gangguan pendengaran.
b. Bicara meracau dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang lain pada anak autisme
c. Cemas, pemalu, tidak percaya diri serta tidak mampu bicara pada situasi sosial tertentu
pada anak dengan mutisme selektif
5. Diagnosis Banding
- Gangguan pendengaran
- Retardasi Mental
- Autisme
[Link] Penunjang
1. Tes pendengaran
2. Tes IQ
3. Pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi dan faktor risiko
[Link]
-Cari faktor penyebab, bila mungkin diatasi.
-Terapi Wicara
Guna meningkatkan kemampuan bahasa dan bicaranya. Memaksimalkan modalitas yang ada
untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Ad.A. Konsultasi
Psikiater anak
Bila ada gangguan bahasa dan tingkah laku.
Ahli THT
Untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran
Ahli syaraf anak
Untuk mengetahui adanya kelainan neurologi
Mencari penyakit metabolik dan gangguan organik lainnya.
Ad.B. Rujukan untuk terapi bicara
Indikasi :
1. Anak berumur 20-24 bulan belum bicara satu katapun.
2. Anak berumur 28-30 bulan belum bisa mengucapkan kata-kata
3. Anak berumur 3 tahun atau lebih bicaranya tidak bisa dimengert
3
Algoritme tatalaksana gangguan bahasa pada
Anak dengan gejala gangguan bicara dan berbahasa
Rujuk ke:
Gangguan organik alat bicara Ya Bedah Mulut /
Neuropediatri
Tidak
Gangguan Retardasi
Pendengaran Motorik : Palsi serebralis Mental
Personal Sosial : Autisme
Tidak Ya
ADHD
Tidak bicara
hanya pada Gangguan Perkembangan bicara dan berbahasa :
lingkungan Tipe ekspresif
tertentu Tipe reseptif – ekspresif Terapi wicara
Gangguan fonologi Psikiater /
Gagap Psikolog
Kelainan Suara
Mutisme Selektif
Psikiater /
Halusinasi, gangguan pikiran Skizofrenia anak Psikolog
4
9. Edukasi
- Home Program untuk terapi wicara
-Sekolah dan pendidikan Khusus
[Link]
Ad vitam : bonam
Ad sanationam: dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
[Link]
1. Glascoe FG. Developmental screening and surveillance. Dalam: Kliegman RM, Behrman
RE, Jenson HB, Stanton BF, penyunting. Nelson Textbook of pediatrics. Edisi ke-18.
Philadelphia: Saunders Elsevier; 2007. h. 74-80.
2. Narendra MB, Sularyo TS, Soetjiningsih, Suyitno H, Gde Ranuh IGN, penyunting. Buku
Ajar I Tumbuh Kembang dan Remaja. Jakarta: IDAI; 2005. h. 1-126.
3. Blackman JA. Developmental screening: Infants, toddlers, and preschoolers. Dalam:
Levine MD, Carey WB, Crocker AC, penyunting. Developmental- Behavioral Pediatrics.
Edisi ke-3. Philadelphia: Saunders; 1999. h 689-95.
4. Glascoe FG. Developmental screening. Dalam Parker S, Zuckerman B, Augustyn M,
penyunting. Developmental and behavioral pediatrics. Edisi ke-2. Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins; 2004. h 41-50.
5. Illingworth RS. The normal child. Edisi 10. India:Elsevier: 2005. h.127-89.
6. Knight JR dkk, penyunting. Bright Futures case studies for primary care clinicians: child
development and behavior. The Bright Futures Center for pediatric education in growth
and development, behavior and adolescent health. Children hospital, Boston. 2001.
7. UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial IDAI. Deteksi dan intervensi kelainan gangguan
bicara dengan ELMS-2. Yogyakarta, 2007.
8. Judith EC, Nancy TM, Roanne K, Karzon dan jay FP. Unilateral Hearing loss is associate
with worse speech language score in children. Pediatrics 2010; 125;e1348
5
CEREBRAL PALSI
G80.0-8
1. Pengertian
Cerebral Palsi merupakan suatu sindroma yang memperlihatkan kelainan pada fungsi motorik berupa
kelainan gerak dan posturkarena lesi yang statik akibat gangguan pertumbuhan, trauma atau infeksi
syaraf motorik yang terjadi pada masa pertumbuhan
[Link]
1. Riwayat perkembangan motorik
2. Riwayat perkembangan yang lain: bahasa personal sosial dan kognisi
3. Adanya faktor resiko (prenatal, perinatal, postnatal)
Faktor prenatal
a) Polihidramnion
b) Ibu dalam pengobatan hormon tiroid, esterogen, atau progesterone
c) Ibu dengan proteinuria berat atau hipertensi
d) Ibu terpapar merkuri
e) Multiple/malformasi kongenital mayor pada bayi/kelainan genetic
f) Bayi laki-laki/kehamilan kembar
g) Perdarahan pada trimester ketiga kehamilan
h) Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterine (IUGR)
i) Infeksi virus kongenital (HIV, TORCH)
j) Radiasi
k) Asfiksia intrauterin (abrupsio plasenta, plasenta previa, masalah lain pada plasenta,
anoksia maternal, kelainan umbilicus, ibu hipertensi, tosemia gravidarum)
l) DIC oleh karena kematian prenatal pada salah satu bayi kembar.
Faktor perinatal
a) Bayi premature; umur kehamilan kurang dari 30 minggu
b) Berat badan lahir kurang dari 1500 gram.
c) Korioamnionitis
d) Bayi bukan letak kepala
e) Asfiksia perinatal berat
f) Keadaan hipoglikemia lama atau menetap
g) Kelainan jantung bawaan sianosis
Faktor postnatal
a) Infeksi (meningitis, ensefalitis yang terjadi pada 6 bulan pertama kehidupan.
b) Perdarahan intracranial (pada bayi premature, malformasi pembuluh darah atau
trauma kepala)
c) Leukomalasia periventricular
d) Hipoksik-iskemik (pada aspirasi meconium), HIE (hipoksik-iskemik ensefalopati)
e) Kern – icterus
f) Persistent fetal circulation atau persistent pulmonary hypertension of the newborn
g) Penyakit metabolic
h) Racun : logam berat, gas CO
3. Pemeriksaan Fisik
6
1. Umumnya ada mikrosefali
2. Adanya defisit neurologi seperti :
- Tonus otot bervariasi dari hipotoni sampai dengan hipertoni
- Refleks fisiologis yang meningkat
- Tanda-tanda spastisitas
- Sering ditemukan gerakan-gerakan yang tidaak terkontrol seperti korea, atetosis, tremor
- Refleks primitif terlambat menghilang atau meningkat intensitasnya
- Dapat ditemukan gangguan pada otot facial atau oromotor
4. Kriteria Diagnosis
1. Riwayat keterlambatan perkembangan motorik
2. Adanya defisit neurologis sesuai dengan tipe dan derajatnya
3. Riwayat perkembangan yang lain: bahasa personal sosial dan kognisi
4. Adanya faktor resiko (prenatal, perinatal, postnatal)
[Link]
1. Anamnesis
Riwayat perkembangan motorik
Riwayat kehamilan ibu
Riwayat kelahiran
Adanya faktor risiko
2. Pemeriksaan fisik
Ditemukanya kelainan neurologis sesuai dengan tipenya
Berdasarkan kelainan klinik yang lebih menonjol ditemui, dapat digolongkan sebagai :
Spastic Cerebral Palsy
a. Spastic hemiphlegia (G80.2)
b. Spastic tetraphlegia (G80.0)
c. Spastic diphlegia (G80.1)
d. Spastic paraphlegia
e. Spastic monophlegia dan triphlegi
Dyskinetik Cerebral palsy
a. Athetosis (G80.4)
b. Chorea athetosis
c. Bentuk-bentuk lain
Ataxic Cerebral palsy (G80.8)
Bentuk-bentuk campuran
3. Pemeriksaan penunjang
7
Untuk mencari faktor risiko dan untuk menyingkirkan penyebab yang masih aktif atau
progresif
6. Diagnosis Banding
Keterlambatan perkembangan motorik
[Link] Penunjang
Pemeriksaan penunjang sesuai indikasi dan faktor risiko yang mendasarinya seperti EEG, foto
kranium, CT-scan dan laboratorium, berguna untuk menyingkirkan penyakit yang masih aktif atau
progresif
[Link]
Terapi Wicara, meningkatkan kemampuan bicara meliputi oral motor dan artikulasi serta
kemampuan bahasa reseptifnya.
[Link]
Home program untuk latihan terapi wicara
[Link]
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam: dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad malam
[Link] medis
Kemampuan perkembangan motorik,bicara, dan intelektual
[Link]
1. Johnston VM. Cerebral Palsy. Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF,
penyunting. Nelson Textbook of pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia: Saunders Elsevier;
2007. h. 2494-5.
2. Palmer FB, Hoon AH. Cerebral Palsy. Dalam: Parker S, Zuckerman B. Development and
Behavioral Pediatric. Edisi ke-2. Philadelphia: Lippincott; 2005. h. 145-51.
3. Blasco PA. Motor Delays. Dalam: Parker S, Zuckerman B. Development and Behavioral
Pediatric. Edisi ke-2. Philadelphia: Lippincott; 2005. h 42-7.
4. Williams J, Venning H. Physical disability. Dalam: Polnay L. Community [Link]
ke-3. Edinburgh: Churcill; 2003. h. 503-6.
5. Falconbridge J. Counselling. Dalam: Polnay L. Community Paediatrics. Edisi ke-3.
Edinburgh: Churcill; 2003. h. 469-78.
6. Marwa OE, Sadia AT, Mohaed EA Ahmed MA Ade EM, Mohamed HM. Role of piracetam
in treatment of cerebral palsy disease. Journal of
Behavioral health. 2012;1(1): 53-58
7. Soetjiningsih, Gde Ranuh. Tumbuh Kembang Anak, Edisi 2. EGC. 2012. H.527-57.
AUTISME
8
F84.0
1. Pengertian
Autisme adalah gangguan perkembangan yang luas dan berat (pervasive) dengan karakteristik
gangguan komunikasi, interaksi sosial, dan prilaku yang gejalanya mulai tampak pada anak sebelum
usia 3 tahun.
Menurut PPDGJ-III (Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa-III) 1993, autisme digolongkan
gangguan perkembangan pervasive (Pervasive Developmental Disorder; PDD)
Menurut DSM-IV yang tergolong dalam PDD adalah
- Autistic disorder (autisme)
- Asperger syndrom
- PDD Not Otherwie Spesified (PPD –NOS)
- Childhood disintegratif disorders
- Rett Syndrom
2. Anamnesa
Gejala autisme biasanya timbul sebelum anak berusia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala-gajala bisa
sudah ada sejak lahir yang akan tampak makin jelas setelah anak mencapai 3 tahun.
1. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non verbal
Telambat bicara
Meracau dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain
Bicara tidak dipakai untuk berkomunikasi
Meniru atau membeo (echolalia)
Pandai meniru nyanyian, nada maupun kata-katanya tanpa mengerti artinya
Sebagian (20 %) anak-anak ini tetap tak dapat bicara sampai dewasa
Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan yang terdekat dan mengharapkan tangan
tersebut melakukan sesuatu untuknya
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial
Menolak / menghindar untuk bertatap mata (kontak mata tidak ada)
Tak mau menengok bila dipanggil
Seringkali menolak untuk dipeluk
Tidak ada usaha melakukan interaksi dengan orang lain, asyik main sendiri
Bila didekati untuk diajak main malah menjauh
3. Gangguan dalam bidang perilaku
Pada anak autis terdapat perilaku yang berlebihan dan kekurangan
Contoh perilaku yang berlebihan:
Hiperaktivitas motorik seperti tidak bisa diam, lari ke sana ke mari tak terarah, melompat-
lompat, berputar-putar, memukul-mukul pintu atau meja, mengulang-ulang gerakan tertentu.
Perilaku ini dapat membahayakan diri sendiri dan dapat berupa agresifitas melawan orang
lain
Perilaku yang kekurangan, contohnya:
o Duduk dia bengong dengan tatap mata yang kosong, bermain secara monoton dan kurang
variatif secara berulang-ulang.
o Duduk diam terpaku oleh sesuatu hal, misalnya bayangan atau benda yang berputar.
Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti sepotong tali, kartu, kertas,
gambar, gelang karet atau apa saja yang terus dipegangnya dan dibawa ke mana-mana
9
Tidak ada atau kurangnya empati, misalnya melihat anak menangis tidak merasa kasihan
melainkan merasa terganggu sehingga anak yang menangis tersebut mungkin didatangi dan
dipukulnya
Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata
Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum). Terutama bila tidak mendapatkan apa
yang diinginkannya, ia bisa menjadi agresif dan destruktif (merusak)
5. Gangguan dalam persepsi sensoris (tactile, auditory hipersensity )
Mencium-cium, menggigit atau menjilat mainan atau benda apa saja
Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga
Tidak menyukai rabaan atau pelukan
Merasa sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan yang kasar
6. Gangguan tidur dan makan
7. Gangguan efek dan mood (suasana hati)
8. Gangguan kejang
9. Aktivitas dan minat yang terbatas
10. Gangguan kognitif : 75-80% anak autis mengalami retardasi mental.
Gejala-gejala diatas tidak harus ada semuanya pada setiap anak, tergantung pada berat atau
ringannya keadaan autisnya.
3. Pemeriksaan Fisik
- Berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dapat normal atau abnormal
- Anak tidak menjalin interaksi soaial yang memadai seperti : kontak mata kurang atau tidak ada,
tidak mau bermain dengan teman
- Anak tidak bisa bicara, atau mengulang kata-kata tanpa arti
- Ada gerakan repetitif , stereotipik, hiperaktif, dan hipoaktif
- Skrining dengan Checklist for Autism in Toddler
[Link] Diagnosis
Menurut ICD-10 1993 & DSM IV 1994, kriteria diagnosis autisme adalah sebagai berikut :
o Harus ada setidaknya 6 gejala dari 1, 2 dan 3 dengan minimal 2 gejala dari 1 dan masing-masing
satu gejala dari 2 dan 3
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada 2 dari
gejala dibawah ini :
a. Tidak mampu menjalani interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat
kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik kurang tertuju.
b. Tak bisa bermain dengan teman sebaya
c. Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain)
d. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik
2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada satu gejala dibawah ini :
a. Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang, anak tidak
berusaha berkomunikasi secara nonverbal
b. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dapat dipakai untuk komunikasi
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang dapat meniru
3. Adanya suatu pola yang dipertahankan, diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan.
Minimal harus ada satu gejala dibawah ini :
a. Mempertahankan suatu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan
berlebihan
10
b. Terpaku pada satu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tak ada gunanya
c. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
d. Sering kali sangat terpukau pada bagian-bagian benda
o Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang
1. Interaksi sosial
2. Bicara + Bahasa
3. Cara bermain yang monoton, kurang variatif
Bukan disebabkan oleh sindroma Rett atau gangguan disintegratif masa kanak-kanak
[Link]
- Anamnesis
Riwayat gangguan perkembangan bicara dan bahasa
Riwayat gangguan komunikasi, interaksi sosial, dan prilaku
- Pemeriksaan fisikterdapat gangguan perilaku yang khas yaitu hiperaktif atau hipoaktif, gerakan
stereotipik. repetitive, echolalia, dan tidak ada kontak mata.
- Pemeriksaan penunjang
- Tes pendengaran
- Tes IQ
6. Diagnosis Banding
- Gangguan pendengaran
- ADHD
- Mental retardasi
7. Pemeriksaan Penunjang
- Tes pendengaran
- Tes IQ
[Link]
Terapi wicara bertujuan meningkatkan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif serta pragmatik dan
sosialisasi. Mengurangi masalah perilaku abnormal.
[Link]
1. Pengobatan bersifat jangka panjang
2. Sangat memerlukan kerja sama dengan keluarga
3. Terapi bicara dirumah
4. Sekolah dan pendidikan khusus
[Link]
Ad vitam : bonam
Ad sanationam: dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Dengan penatalaksanaan yang tepat dan terpadu gejala-gejala autistiknya bisa dikurangi semaksimal
mungkin. Bila anak tersebut mempunyai kecerdasan yang normal atau tinggi, tidak tertutup
kemungkinan ia bisa mencapai jenjang pendidikan yang tinggi.
Prognosis penyandang autisme sangat tergantung dari diagnosis dini, berat ringannya gejala,
kecerdasan anak, umur pada saat terapi, kemampuan bicara dan terutama intensitas terapi.
Keterlibatan orang tua sangat mempengaruhi dan penting dalam membantu kemajuan
11
anaknya .Penyandang autisme dikatakan “sembuh” bila ia telah bisa membaur dan mandiri dalam
masyarakat.
[Link] Medis
- Kemampuan berkomunikasi
- Kemampuan sosialisasi
- Kemampuan kognisi
[Link]
1. Dalton R, Forman MA. Autistic Disorder. Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB,
Stanton BF, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia: Saunders
Elsevier; 2007. h. 87-8
2. Caronna EB. Autism. Dalam: Parker S, Zuckerman B. Development and Behavioral Pediatric.
Edisi 2. Philadelphia: Lippincott; 2005. h. 124-9.
3. Falconbridge J. Counselling. Dalam: Polnay L. Community Paediatrics. Edisi ke-3. Edinburgh;
Churcill; 2003. h. 469-78.
4. Tanguay PE. Pervasive developmental disorders A. 10 year- review. J. Am. Acad. Child Adolesc
Psychiatry. 2000; 39:1079-95
5. Maestro S, Muratori F. Attentional skill during the first 6 month of age in autism spectrum
disorder. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2002; 41:10
6. Brereton AV, Tonge BJ. Screening young people for autism with the developmental behavior
check-list. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2002; 41:11
7. Baird G, Charman T. A screening instrument for autism at 18 months of age: A 6- year follow up
study. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2000; 39:6
8. Alisjahbana A. Tanda awal dari autisme. Disampaikan pada konferensi nasional autism-1. Jakarta,
2-4 Juli 2003.
9. Filipek PA, Acardo PJ, Aswahwal S, Baronek GT, Cook EH, Dawson G, dkk. Practise
parameter: screening and diagnosis of autism. Neurology.2000.; 55: 468-79
10. Task Force on [Link] and statistical manual of mental disorders. Washington:
American Psychiatric Association; 1994. h 66-71.
11. Randall O, Linmarie S, Ronal NM, Patricia CL George M, Roert DM, William HC , Robert LF.
Aripiprazole in the treatment of irritability in children and adplesscents with autistic disorder.
Pediatric 2009;124;1533-1540
12. Nazni P, Wesely EG, Nishadevi V. Impact of Casein and Glutein Free Dietary Intervention on
selected Autistic Children. Iran J Pediatr 2008:18:244-250
12
ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD)
F.90.0-2
1. Pengertian
ADHD adalah kelompok gangguan tingkah laku (sindroma tingkah laku) yang terdiri dari gangguan
hiperaktif dan/atau impulsif dan/atau kurang perhatian (inatentif) yang tampak pada awal kehidupan
anak dan akan menetap setelah masa anak dan remaja, walaupun manifestasi tingkah laku berubah
tergantung rentang perkembangan
[Link]
1. Riwayat perkembangan
2. Riwayat gangguan perilaku seperti inattensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas
3. Riwayat keluarga
[Link] Fisis
Berat badan , tinggi badan, lingkar kepala bisa normal/ abnormal
Pemantauan perilaku misalnya kontak mata, hiperaktivitas, inattensi dan impulsivitas
Pemeriksaan neurologis
ADHD sering berhubungan dengan gangguan neurologis nonspesifik yang menunjukkan
imaturitas neurologis atau lemahnya koordinasi.
Tes Denver, score Conner’s scale
4. Kriteria Diagnosa
Menurut ICD 10 (1993) dan DSM IV (1994) :
A. Kurang perhatian atau inattentive
1. Kurang perhatian : terdapat minimal 6 dari gejala berikut yang menetap selama minimal 6
bulan dalam derajat yang maladaptive dan inkonsisten dengan tingkat perkembangan :
Selalu gagal memperhatikan secara detail atau melakukan kesalahan yang ceroboh dalam
pekerjaan sekolah, pekerjaan atau kegiatan lainnya.
Selalu kesulitan dalam mempertahankan perhatian dalam pekerjaan atau kegiatan
bermain.
Selalu seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan kepadanya.
Selalu tidak mengikuti perintah dan gagal untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah, koor
atau tugas di tempat kerja (bukan karena sikap melawan atau kegagalan untuk mengerti
perintah).
Selalu kesulitan dalam mengorganisir tugas atau kegiatan.
Selalu menghindari, menyatakan keengganan atau mengalami kesulitan dalam
keterlibatan dengan tugas yang membutuhkan usaha mental yang lama (seperti pekerjaan
sekolah dan PR).
Selalu kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas dan kegiatan (mis: tugas
sekolah, pensil, buku, alat-alat atau mainan)
Selalu mudah teralihkan perhatiannya oleh stimulus dari luar.
2. Hiperaktifitas impulsifitas : terdapat minimal 5 dari gejala berikut yang menetap selama
minimal 6 bulan dalam derajat yang maladaptive dan inkonsisten dengan tingkat
perkembangan :
Hiperaktifitas
13
Selalu tidak bisa diamnya tangan atau kaki atau selalu menggeliat-geliat pada waktu
duduk.
Meninggalkan kursi dalam kelas atau pada situasi lain dimana seharusnya anak tetap
duduk di kursinya.
Selalu berlari kesana kemari atau memanjat berlebihan dalam situasi yang tidak sesuai.
Selalu kesulitan bermain atau terlibat dalam kegiatan yang santai dan tenang.
Selalu “siap pergi” atau bersikap seolah-olah dikejar motor.
Selalu berbicara berlebihan.
Impulsifitas
Selalu cepat-cepat menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai diajukan.
Selalu kesulitan menunggu dalam barisan atau menunggu giliran dalam permainan atau
dalam situasi kelompok.
Selalu menyelak atau menyerobot orang lain (mis: ikut dalam percakapan orang lain atau
permainan)
B. Beberapa simptom yang menyebabkan ganggguan telah ada sebelum usia 7 tahun.
C. Beberapa simptom yang menyebabkan gangguan ada pada lebih dari 2 setting (mis: di sekolah, tempat
kerja dan di rumah).
D. Harus ada bukti jelas dari gangguan klinis yang bermakna dalam bidang social, akademis atau fungsi
pekerjaan.
E. Tidak ada secara eksklusif selama perjalanan penyakit perkembangan pervasive, skizofrenia atau
penyakit psikotik lainnya dan tidak disebabkan gangguan mood, ansietas atau gangguan kepribadian.
[Link]
1. Anamnesis
- Riwayat perkembangan
- Riwayat gangguan perilaku
- Riwayat keluarga
2. Pemeriksaan fisik.
Untuk menyingkirkan diagnosa banding
Berat badan , tinggi badan, Lingkar kepala
Gangguan perilaku misalnya kontak mata tidak ada, hiperaktivitas, inattensi dan impulsivitas
Tes Denver, score Conners scale
Pemeriksaan neurologis
3. Pemeriksaan penunjang
Tes pendengaran, tes IQ
Berdasarkan tipe :
- Attention Deficit/Hiperactivity Disorder, Predominantly Inattentive Type F90.0 : jika kriteria A(1)
dipenuhi tapi kriteria A(2) tidak, dalam 6 bulan terakhir.
- Attention Deficit/Hiperactivity Disorder, Predominantly Hiperactive Impulsive Type F90.1 : jika
kriteria A(2) dipenuhi tapi kriteria A(1) tidak, dalam 6 bulan terakhir.
- Attention Deficit/Hiperactivity Disorder, Combined Impulsive Type F 90.2 : jika kedua kriteria
A(!) dan kriteria A(2) dipenuhi dalam 6 bulan terakhir
[Link] Banding
Gangguan perkembangan pervasif (autis dan penyakit seperti autis)
Penyakit yang mempengaruhi perasaan (depresi).
Reaksi-reaksi terhadap stress (mis: gangguan stress pasca trauma)
14
Tuli
Retardasi mental
[Link] penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan hanya untuk menyingkirkan diagnosa banding
Tes psikologis. Jika dicurigai masalah akademis dilakukan tes psikologis atau diagnostik
edukasi atau bicara dan bahasa, Beberapa tes dibutuhkan untuk menyingkirkan dan juga
mengidentifikasi secara adekuat masalah belajar
[Link]
Terapi Wicara
Untuk Meningkatkan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif serta kemampuan bersosialisasi.
[Link] :
-ADHD dapat berlanjut sampai remaja, bahkan samapi dewasa.
-Pendididkan Khusus
-Home Program Terapi Wicara
[Link]
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam: dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Sebanyak 30-80% kasus tetap menunjukkan gejala ADHD pada masa-masa adolesen dan sebanyak
65% kasus sampai dewasa. Riwayat keluarga ADHD, gangguan psikososial dan komorbiditas dengan
gangguan konduk, mood dan ansietas meningkatkan resiko menetapnya ADHD.
Delikuensi atau personalitas antisosial pada masa adolesen atau dewasa terlihat pada pemantauan 25-
40% anak dengan ADHD. Pasien ADHD dilaporkan mempunyai kecenderungan mencoba narkotika
den mengalami adiksi pada masa adolesen.
Kasus-kasus yang memperlihatkan tingkah laku agresif terhadap orang dewasa, IQ yang rendah,
hubungan dengan kawan yang buruk dan menetapnya gejala ADHD mempunyai prognosa yang
kurang baik
[Link] medis
Perilaku
Prestasi Akademik
12. Kepustakaan
1. Dalton R, Forman MA. Autistic Disorder. Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB,
Stanton BF, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia: Saunders
Elsevier; 2007. h. 87-8
2. Caronna EB. Autism. Dalam: Parker S, Zuckerman B. Development and Behavioral Pediatric.
Edisi 2. Philadelphia: Lippincott; 2005. h. 124-9.
3. Daruna JH, Dalton R, Forman MA. Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Dalam: Kliegman
RM, Behrman RE, Jenson HB,Stanton BF, penyunting. Nelson Textbook of pediatrics. Edisi ke-
18. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2007. h. 100-3.
4. Parker S. Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Dalam: Parker S, Zuckerman B. Development
and Behavioral Pediatric. Edisi ke-2. Philadelphia: Lippincott; 2005. h. 124-9.
15
5. Falconbridge J. Counselling. Dalam: Polnay L. Community Paediatrics. Edisi ke-3. Edinburgh;
Churcill; 2003. h. 469-78.
6. Tanguay PE. Pervasive developmental disorders A. 10 year- review. J. Am. Acad. Child Adolesc
Psychiatry. 2000; 39:1079-95
7. Task Force on DSM-IV. Diagnostic and statistical manual of mental disorders. Washington:
American Psychiatric Association; 1994. h 66-71.
8. David M, Albert JA, Joan B, Charles C, David D, Christopher K, Jeffrey N, Randy S, Bart S,
Keith S, Scott W, Douglas K, Joachim W, Nancy JT, Donald H. Once-Daily Atomoxetine
Treatment for Children and Adolescents With Attention Deficit Hyperactivity Disorder: A
Randomized, Placebo-Controlled Study. Am J Psychiatry 2002; 159:1896–1901
RETARDASI MENTAL
F06.8
16
[Link]
Fungsi intelektual dibawah rata-rata (IQ < 70), disertai adanya kendala dalam penyesuaian
perilaku adaptif sosial dan gejalanya timbul dalam masa perkembangan (usia < 18 tahun)
[Link]
1. Riwayat gangguan perkembangan dan pertumbuhan
2. Gangguan perilaku seperti hiperaktif, temper tantrum
3. Gangguan belajar seperti belajar lebih lama dan harus diulang-ulang
4. Faktor penyebab non organik dan organik
Faktor non organik
a) Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis
b) Faktor sosiokultural
c) Interaksi anak dan pengasuh yang tidak baik
Faktor organik
a) Faktor prakonsepsi
- Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik, kelainan
neurocutaneus)
- Kelainan kromosom (X-linked, tranlokasi, fragile-X)
- Sindrom polygenic familial
b) Faktor prenatal
- Gangguan pertumbuhan otak trimester I
Kelainan kromosom (trisomy 21,18, 13, mosaik, dan lainnya)
Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV
Zat-zat teratogen (alkohol, radiasi, rokok, kokain, logam berat,
dan lainnya)
Disfungsi plasenta
Kelainan kongenital dari otak (idiopatik)
- Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV
Zat-zat teratogen
Ibu diabetes mellitus, PKU(Phenylketonuria)
Toksemia gravidarum
Disfungsi plasenta
Ibu malnutrisi
c) Faktor perinatal
- Sangat prematur
- Asfiksia neonatorum, HIE (hypoxic ischemic encephalopathy)
- Trauma lahir : perdarahan intrakranial
- Meningitis
- Kelainan metabolik : hipoglikemia, hiperbilirubinemia
d) Faktor postnatal
- Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat
- Gangguan perkembangan otak : hidrosefalus, lissencephaly
- Neurotoksin, misalnya logam berat
- CVA (Cerebrovascular accident)
- Anoksia, misalnya tenggelam
17
- Metabolik
- Gizi buruk
- Kelainan hormonal, misalnya hipotiroidosis, pseudohipoparatiroidosis
- Aminoaciduria, misalnya PKU (Phenylketonuria)
- Kelainan metabolism karbohidrat, galaktosemia, dll
- Polisakaridosis, misalnya sindrom Hurler
- Serebral lipidosis (Tay Sachs), dengan hepatomegaly (Gaucher)
- Penyakit degeneratif/metabolik lainnya
- Infeksi
- Meningitis, ensefalitis
- Subakut sklerosing panensefalitis
e) Masalah psikososial, misalnya : deprivasi maternal, kurang stimulasi,
kemiskinan, dan lainnya.
[Link] Fisis
Berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala mungkin di bawah normal
Tanda-tanda dismorfik
Tes Kemampuan Bahasa
4. Kieteria Diagnosis
Anak dicurigai RM bila perkembangannya dibawah rata-rata anak seusianya
Ada tanda-tanda dismorfik
Mungkin ditemukan penyebab kelainan organik / non organik
Skrining tes Denver anak RM perkembangan terlambat di semua bidang, kecuali kadang-
kadang pada bidang motorik kasar
Tes IQ < 70
[Link]
Anamnesis
Riwayat perkembangan terlambat
Riwayat kesulitan dalam belajar
Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda dismorfik , mikrosefali, tes Denver
Pemerisaan penunjang
Test IQ
18
[Link] Banding
Gangguan pendengaran
Autisme
[Link] penunjang
Test IQ
Pemeriksaan penunjang lain tidak rutin sesuai indikasi untuk mencari penyebab dan sesuai
faktor risiko
[Link]
Terapi Wicara untuk meningkatkan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif dengan
memaksimalkan modalitas yang ada.
RM ringan
Mampu didik diajar baca tulis
Bisa dilatih keterampilan tertentu sebagai bekal hidup dan mandiri seperti orang dewasa normal
Memerlukan bimbingan dari keluarga
RM sedang
Mampu latih bisa dilatih keterampilan tertentu (pertukangan, pertanian)
Dilatih mengurus diri sendiri
Selalu memerlukan bimbingan dan pengawasan
RM berat
Dilatih higiene dasar saja
Dilatih kemampuan bicara yang sederhana
Tidak dapat dilatih keterampilan kerja
Memerlukan pengawasan dan bimbingan seumur hidup
RM sangat berat
Kemampuan berbahasa sangat minimal
Seluruh hidup tergantung pada orang disekitarnya
[Link]
RM merupakan masalah jangka panjang
Anak memerlukan bimbingan seumur hidup
Sekolah dan pendidikan khusus
Prognosis
[Link]
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam: dubia ad mala
Ad functionam : dubia ad malam
[Link] medis
Kemampuan bicara, sosialisasi,kemandirian dan kognisi
12. Kepustakaan
19
1. Shonkoff JP. Mental Retardation. Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF,
penyunting. Nelson Textbook of pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2007. h.
125-9
2. Kastner W. Mental Retardation: Behavioral Probelms Palsy. Dalam: Parker S, Zuckerman B.
Development and Behavioral Pediatric. Edisi ke-2. Philadelphia: Lippincott; 2005. h. 234-7
3. Coulter DL. Mental Retardation: Diagnostic Evaluations. Dalam: Parker S, Zuckerman B.
Development and Behavioral Pediatric. Edisi ke-2. Philadelphia: Lippincott; 2005. h. 238-41
4. Williams J, Venning H. Physical disability. Dalam: Polnay L. Community Paediatrics. Edisi ke-3.
Edinburgh: Churcill; 2003. h. 503-6.
5. Falconbridge J. Counselling. Dalam: Polnay L. Community Paediatrics. Edisi ke-3. Edinburgh:
Churcill; 2003. h. 469-478
6. Soetjiningsih, Gde Ranuh. Tumbuh Kembang Anak, Edisi 2. EGC. 2012. H.511-26
20
SINDROMA DOWN
Q90
[Link]
Sindroma Down (Down Syndrome) adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan
mental anak yang diakibatkan adanya gangguan perkembangan kromosom 21 yang dapat dikenal
dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas
[Link]
- Didapatkan keterlambatan pada semua aspek perkembangan anak, baik motorik, bahasa, personal
sosial dan kognisi.
- Adanya faktor resiko seperti infeksi intra uterin, paparan radiasi, usia ibu > 35 tahun
.
[Link] Fisis
Penderita dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol.
Kepala, muka dan leher :
Paras muka yang hampir sama seperti muka orang Mongol.
Hipertelorisme dan lipatan epicantus.
Mata sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds), white
Brushfield spots di sekililing lingkaran di sekitar iris mata, medial epicanthal folds,
keratoconus, strabismus, katarak, dan retinal detachment.
Sela hidung yang datar.
Protruding tongue, hypoplasia maxilla, keterlambatan pertumbuhan gigi, hypodontia, juvenile
periodontitis, dan kadang ada bibir sumbing
Low set ear.
Didapatkan brachycephalic, sutura dan fontanela yang terlambat menutup.
Abdomen dan pelvis :
Pada sistim pencernaan dapat ditemui kelainan berupa sumbatan pada esofagus (esophageal
atresia) atau duodenum (duodenal atresia).
Tulang ileum dan sayapnya melebar disertai sudut asetabular yang lebih lebar, terdapat pada
87% kasus.
Ekstremitas :
Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya
serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar. Tapak
tangan hanya terdapat satu garisan urat (simian crease).
Tampilan kaki : Kaki agak pendek dan jarak di antara ibu jari kaki dan jari kaki kedua agak
jauh terpisah dan tapak kaki.
Genital :
Hypogenitalism (penis, scrotum, dan testes kecil), hypospadia, cryptorchism, dan
keterlambatan perkembangan pubertas.
Kulit :
Kulit lembut, kering dan tipis, xerosis, atopic dermatitis, palmoplantar hyperkeratosis, dan seborrheic
dermatitis.
4. Kriteria Diagnosis
Anamnesis : perkembangan terlambat
21
Pemeriksaan fisik : gambaran dismorfik yang khas
Pemeriksaan kromosom
[Link]
Anamnesis
Perkembangan terlambat, adanya faktor resiko
Pemeriksaan Fisik
Gambaran Dismorfik yang khas
Pemeriksaan Penunjang
tes kromosom
[Link] Banding
Hipotiroid Kongenital
Fragile X Syndrom
Prader Wili Syndrom
CMV Kongenital
[Link] penunjang
Pemeriksaan Kromosom
Tes fungsi Tiroid
Pemeriksaan Radiologi, USG, ECG sesuai indikasi
Tes IQ
[Link]
Terapi Wicara untuk meningkatkan kemampuan bahasa resptif dan ekpresif serta
memaksimalkan modalitas yang dimiliki.
[Link]
Masalah perkembangan anak,pengobatan,pendidikan dan prognosa
[Link]
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam: dubia ad malam
Ad functionam : dubia ad malam
[Link] medis
Kemampuan bicara, sosialisasi,kemandirian dan kognisi
12. Kepustakaan
1. Hardy, Olga, Worley, Gordon, [Link]., Hypothyroidism in Down Syndrome : Screening Guidelines
and Testing Methodology, 2004, NCBI Articles, PMC2683266
2. Leshin, Len, Pediatric Health Update on Down Syndrome dalam Down Syndrome Vision for 21st
Century, Cohen, William I, Lynn, Nadel, Madnick, Myra E, Willey Liss, New York, 2005.
3. Nelson, Behrman, Kliegman, Arvin, Ilmu Kesehatan Anak edisi 15. Jakarta : Penerbit EGC. 2000
4. Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak Edisi 2. Jakarta : Penerbit EGC. 2014
22
23