0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan21 halaman

Hati dalam Tasawuf: Pemahaman dan Terapi

kalbu dalam tasawuf

Diunggah oleh

Syifa Yuniarga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan21 halaman

Hati dalam Tasawuf: Pemahaman dan Terapi

kalbu dalam tasawuf

Diunggah oleh

Syifa Yuniarga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMAHAMAN TENTANG HATI DALAM TASAWUF

Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah


Akhlak tasawuf
Dosen Pengampu:
Hj. Nur Afiyah, [Link].I, [Link]

Disusun Oleh Kelompok 8:

1. Mohammad Hoirul Robbi (24404077)


2. Muhammad Syifa Yunigara (24404087)
3. Moh. Syahrul Ilmy (24404088)

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI KEDIRI
2024
PEMAHAMAN TENTANG HATI DALAM TASAWUF
A. Pendahuluan

Kehidupan manusia didunia adalah sebagai wakil Allah SWT (Q.S.


2:30,38: 26), (H.R. bukhari-muslim dari Ibnu Umar) semuanya itu merupakan
atribut dari fungsi manusia sebagai “Khalifah Allah” di muka bumi. Secara
universal bahwa tujuan hidup manusia adalah memperoleh kebahagiaan dunia
dan akhirat. Kebahagiaan itu sendiri sangat relative sehingga masing-masing
orang akan berbeda dalam memaknai bahagia itu sendiri. Ada yang menilai
kekayaan harta benda sebagai sumber kebahagiaan hidup, kemudian yang lain
menitikberatkan pada keindahan, pengetahuan, kesusilaan, kekuasaan, budi
pekerti, keshalehan hidup, keagamaan dan sebagainya. Masing-masing orang,
setelah merenungkan serta menilai hidupnya berdasarkan aneka ragam
pengalaman yang telah dilalui serta pengetahuan yang diperolehi dari orang
lain atau bangsa lain, ternyata mempunyai pandangan yang berbeda, dimana
pandangan hidup itu dijadikan dasar guna mencapai tujuan hidupnya yaitu
untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Dalam keberagaman pandangan hidup yang berbeda, maka oleh ahli fikir
disusun secara sistematis lalu timbul falsafah hidup manusia, yang didalamnya
terdapat pokok bahasan, misalnya; darimana asal hidup, siapa pemberi hidup,
apa tujuan hidup, apa yang terjadi sesudah mati, apakah hidup bahagia itu?.
Para ahli filsafat sependapat tentang tujuan akhir yang di inginkan oleh
manusia yaitu kebahagiaan, setiap manusia ingin bahagia. Untuk mencapai
kebahagiaan itu bermaca-macam jalan yang ingin di tempuh oleh manusian
dengan melalui cara masing-masing.

Namun sesungguhnya tugas mausia bukanlah hanya mencari kebahagiaan,


yang secara tidak langsung manusia yang menjalankan fugsi haknya
dibandingkan mejalankan fungsi kewajibannya. Dengan pengertian, bahwa
manusia itu di bebani tanggung jawab dan anugerah kekuasaan untuk
mengatur dan membangun dunia ini dalam berbagai segi kehidupan, dan
sekaligus menjadi saksi dan bukti atas kekuasan Allah SWT dialam jagat raya
ini. Tugas kekhalifahan ini bagi manusia adalah tugas suci, karena Amanah
dari Allah SWT, maka menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi
merupakan pengabdian (ibadah) kepada-Nya. Bagi mereka yang beriman akan
menyadari statusnya sebagai khalifah di bumi ini, serta memahami batas
kekuasaan yang dilimpahkan kepada-Nya.1

B. Hakikat Qalbu

Qalbu jika di pahami dari bahasa bersal dari bahasa Arab yakni qalab,
Masdar dari qalaba-yaqlibu-qalban, yang artinya membalik dan memalingkan
seperti membalikkan yang di atas menjadi kebawah atau sesuatu yang di
dalam menjadi di luar. Makna kata tersebut merujuk pada sifat dasarnya yang
suka berubah-ubah, yang labil tidak konsisten. Sebagaimana yang telah
dikatakan oleh ibnu manzur “summiyah al-qalbu qalban litaqallubih”, disebut
qalb karna sifatnya yang tidak konsisten (bolak-balik). Menurutnya hal ini
karena merujuk pada sifat asalnya yang suka berbolak-balik.

Karena sifat dasar hati yang suka berbolak-balik dan tidak menetap atau
bersifat relative maka sangat perlu dilakukan pengolaan hati atau
manajemenkan qalbu agar lebih terarah dan memiliki orientasi yang bersifat
positif. Manajemenkan qalbu sangat penting dilakukan sebab qalbu memegan
peran penting dalam diri manusia, qalbu mejadi titik sentral positif maupun
negatifnya anggota badan lainnya dalam diri manusia. Sebagai sabda
Rasulullah saw.
‫اال وان في الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجس د كل ه واذ ا‬
‫فسدت فسد الجسد كله اال وهي القلب‬
Artinya:
Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging,
apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak
maka semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah qalbu.
“(HR. Bukhari no.52, tercantum pula pada hadist no.2051”)
Allah menciptakan qalbu layaknya seorang raja dalam sebuah kerajaan
yang ditaati dan dipatuhi oleh rakyatnya maka demikian qolb pada jasad
menjadi raja untuk anggota tubuh yang lain. Jika seorang raja kadang di patuhi
dan ada kalanya ditantang, namun qalbu yang menjadi raja bagi anggota badan
ia benar-benar dipatuhi. Maka jika ia baik maka baiklah seluruh jasad dan jika
ia buruk maka buruklah seluruh jasad.
Qalbu laksana cermin sedangkan pengetahuan adalah cahaya yang
memantul dalam qalbu, dalam artian qalbu-lah yang menjadi wadah
pengetahuan, sehingga baik buruknya manusia di lihat dari qalbunya, seberapa
banyak qalbu itu menyerap pengetahuan dan hakikat realitas. Baik buruknya
perbuatan di tinjau dari qalbunya sebab semua aktifitas manusia berasal dari
bisikan qalbu, yang menjadi pengendali perilaku.
Manusia yang bisa menata qalbunya secara baik hidupnya akan lebih
berbahagia, efektif, produktif dan lebih dekat kepada Allah. Sebab pikirannya
tidak condong pada hal-hal yang membuat dirinya merugi disebabkan
menghabiskan energi dan waktu pada hal-hal tidak perlu dan berguna baginya,
sehingga melainkan dirinya dari mengingat Allah swt.2

C. Penyakit Qalbu dan Sumbernya


Penyakit hati dalam terminology tasawuf disebut amrādh al-qulūb. Imam
al-Ghazali terkadang menyebutnya sebagai al-muhlikāt yaitu penyakit yang
dapat mencelakakan atau membahayakan manusia, karena penyakit seperti ini
akan mematikan hati (āfāt al-qulūb). Secara bahasa asal kata al-maradh
menurut Ibn ‘Arabi maknanya adalah kekurangan, sehingga maradh al-qalb
maknanya hati yang kurang agamanya. Menurut Ibn Qayim hati yang sakit
ialah keluarnya hati dari kesehatan dan kenormalannya. Sehatnya hati ialah
mengetahui al-Haqq (Allah) mencintai dan mementingkan-Nya dari yang lain.
Kata penyakit itu berkisar kepada empat hal, yaitu: kerusakan, kelemahan,
kekurangan, dan kekelaman. Sedangkan menurut Ibn Anbarī, asal makna al-
maradh rusak dan berubah.
Qalbu mengalami sakit, diawali dari adanya noda-noda yang menutupi hati
berupa dosa dan maksiat. Kemudian ketika noda tersebut tidak dibersihkan
dengan taubat maka hati menjadi gelap dan sulit dimasuki cahaya petunjuk
Allah SWT. Sehingga hati akan dihuni oleh Syaithan dan menularkan
penyakit-penyakit batin berupa sombong, hasad, dendam, mudah marah, sifat
menipu, dan sifat zalim. Demikian syhwat nafsu akan mendominasi hati
dengan sifat-sifat kebinatangan. Pada akhirnya hati manusia mengalami keras
dan mati. Tanda-tanda hati mati menurut Ibn ‘Athā`illah adalah

‫من عَ لم ات م وت ا لق ل ب عدم ا ل ح زن عل ي م ا‬
‫فاتك من ا ل م وا ف ق ات و ت ر ك ا ل ن دم ع ل ي م ا‬
‫ف ع ل ته من وج و د ا لز لت‬

"Termasuk tanda-tanda matinya hati adalah tidak sedih atas terlewatkannya


kesempatan beramal dan tidak menyesal atas kesalahan-kesalahan yang
dilakukan".

Di dalam al-Qur`an dijelaskan faktor-faktor yang menubuhkan penyakit hati,


yaitu:

a. Pengaruh negatif duniawi


“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah
antara kamu serta berbangga- banggaan tentang banyaknya harta dan
anak”. (QS. Al-Hadid: 20)
b. Pengaruh hawa nafsu
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak
kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan-pun
untuk (menyembah-Nya). Mereka tidak lain hanyalah mengi-kuti
sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan
sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.
(QS. An-Najm: 23).
c. Pengaruh makhluk
“Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh
orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengi-kuti
hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa".
d. Pengaruh setan dan Iblis
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
"Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia
enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang
kafir”. (QS. Al-Baqarah: 34)
Sifat sombong dan bangga diri berasal dari Iblis dan menjadi bagian dari
penyakit hati yang menyebabkan Iblis tidak akan pernah taubat dari
kesalah-annya.
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka
semuanya kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di anta-ra mereka.”
(QS. Shaad: 82-83) Sifat menyesatkan orang lain dan dendam berasal dari
sifat buruk Iblis
D. Terapi Penyakit Qalbu

Orang-orang yang selamat hatinya dari penyakit hati disebut dalam al-
Qur`an dengan istilah qalb salim, sedangka orang-orang yang Allah sucikan
hatinya dari seluruh kotoran dan penyakit hati disebut dengan Mukhlashin.
Disucikan oleh Allah dari seluruh penyakit hati merupakan bagian dari puncak
anugerah Allah yang diberikan kepada para Nabi dan Wali Allah yang khusus.
Karena Iblis setelah dianugerahi banyak karunia dan derajat, akan tetapi dia
bukan termasuk orang yang Allah sucikan hatinya. Sehingga dia terjangkit
penyakit ‘ujub, takabbur, dan hasad, dan Allah perlihatkan kebusukan hatinya
dengan perintah sujud penghormatan kepada Adam As.

Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin mengkategorikan Syaithan,


nafsu, makhluk dan duniawi sebagai al-‘aqabah al-‘awa`iq (perintang dalam
ibadah), karena hati yang berpenyakit bagi seorang muslim, berakibat berat dan
pahitnya dalam beribadah. Bahkan ibadahnya menjadi tidak berkualitas dan di
tolak oleh Allah SWT. Terapi penyakit hati yaitu dengan memutus pengaruh-
pengaruh buruk dari Syaithan, hawa nafsu, makhluk dan pengaruh duniawi.

A. Memutus pengaruh Syaithan

Terapi paling ampuh untuk menterapi penyakit hati yang berasal dari
Syaithan adalah:

a. Dawam dzikrullah

b. Membersihkan hati dari dosa-dosa.

c. Tafaqquh fiddin (mendalami pemahaman agama Islam)

d. Meminta perlindungan kepada Allah dari Syaithan.

Noda-noda dosa dalam hati menjadikan hati tidak layak mendapatkan


cahaya Ilahi sehingga Syaithan leluasa diam di dalam hati manusia. Sehingga
dengan taubat nasuha dan memperbanyak dzikir akan membentengi hati dari
kejahatan Syaithan. Sebaliknya hati yang lalai dari mengingat Allah dan
peringatan-Nya maka Syaithan akan terus mendampinginya sampai mati.
Taubat dan tazkiyah an-nafs (membersihkan jiwa) dapat melemahkan pengaruh
Syaithan dalam hati. Sehingga tidak terjerumus kembali kepada maksiat dan
dosa yang sama.

Demikian mendalami pemahaman agama merupakan bagian yang terpen-


ting dalam memutus pengaruh Syaithan. Karena orang bodoh dalam pema-
haman agama Islam, sangat mudah di tipu oleh Syaithan meskipun lahirihanya
rajin ibadah. Ketika hati dan akal di isi pemahaman agama maka akan berhati-
hati dari segala tipu daya dan waswas Syaithan.

Sungguh seorang yang faham agama lebih berat bagi Syaithan dari pada
1000 orang yang rajin ibadah (tapi tidak faham agama). (HR. TIrmidzi, ia
berkata: hadis hasan gharib, meskipun sebagian ulama hadis mendha’ifkannya
karena adanya Rauh bin Janah yang dinilai dhaif).
Tafaqquh fiddin hanya bisa di raih apabila belajar agama dari sumbernya
atau fakarnya yaitu Al-Ulama rabbani, Mursyid hakiki. Kemudian selalu
meminta perlindungan kepada Allah dari waswas dan tipu daya
Syaithan,sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dalam al-Qur`an:

“Apabila kamu membaca Al-Qur'an, mintalah perlindungan kepada Allah dari


setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98).

Maka bagian dari terapi dari penyakit hati yaitu: taubat nasuha, dawam
dzikir, mendalami pemahaman agama dengan mempelajari ilmu tauhid, fiqih
dan tasawuf dalam bimbingan AlUlama Rabbani, dan meminta perlindungan
dari kejahatan Syaithan.

B. Memutus Pengaruh Hawa Nafsu dan Syahwatnya

Pengaruh hawa nafs dan syahwatnya kepada keduniawian begitu kuat,


karena selama hidup, manusia di uji dengannya. Sehingga dalam ilmu tasawuf
kewajiban manusia bukanlah membunuhnya tapi menundukan nafsu supaya
keinginannya beriringan dengan aturanAllah dan kehendak-Nya. Terapi penya-
kit hati dari pengaruh nafsu, yaitu:

1. Mujahadah an-nafs

2. Mentaati Rasulullah Saw dan pewarisnya sebagai Muzakki an-Nufus.

3. Menegakkan Shalat dan puasa

4. Menjaga panca indra dari yang diharamkan Allah SWT

5. Meminta perbaikan diri dan perlindungan dari keburukan nafsu kepada


Allah SWT.

Nabi Saw bersabda berkenaan pentingnya pembimbing (Mursyid) dalam


menundukan hawa nafsu (mujahadah an-nafs).

“Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma,
dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Tidaklah
sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mau
mengikuti apa yang aku bawa.” (HR. Al-Baihaqi, dan al-Khathib).

Demikian pula menegakkan shalat dengan memenuhi aturan fiqih dan


tasawuf maka akan mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Sebaliknya, manusia tidak akan mampu mengendalikan syahwat nafsunya
ketika menyinyiakan shalatnya. Memutus Pengaruh Negatif Duniawi.

Hubb ad-dunya (tergila-gila dengan dunia) meliputi: hubbul mal (gila


harta) hubbul jah (gila penghoratan), hubbul ri`sah (gila jabatan/kekuasaaan),
hubbus syahrah (gila populeritas), sampai gila birahi. Terapinya dalam ilmu
tasawuf adalah dengan menegakan maqam zuhud.

Zuhud tidak akan tegak, selama seseorang tidak mengetahui hakikat dunia
yang penuh tipuan, terbatas, menyihir, menghijab antara hamba dengan Allah,
melalaikan hati, memberatkan hisaban, menimbulkan permusuhan,
perzaliman, sampai peperangan. Selain itu hati yang tidak pernah mencicipi
kenikmatan ruhani atau halat maka selamanya hanya mengetahui
kenikmatanmateri, ragawi dan khayali. Orang yang dianugerahi anugerah
ruhani maka akan mengalihkan hati dari cinta dunia yang berlebihan akan
mencintai Allah dan Akhirat.

Terapi dari penyakit hati hubbud dunya, dengan mengetahui hakikat dunia
yaitu bahaya dunia penuh dengan tipuan akan tetapi dunia adalah lading
akhirat. Hal ini dapat diraih oleh melalui tafakkur. Kemudian zuhud akan
semakin kokoh di dalam jiwa melalui hati yang mencicipi anugerah Ilahiyah
melalui dzikir.

Membiasakan diri bersedekah, infaq dan waqaf merupakan bagian dari


terapi mengikis sifat kikir. Dimana kikir pertanda hati gila terhadap materi.
Selain itu mengasingkan diri dalam beribadah di waktu yang sepi seperti
beribadah qiamullail di saat manusia tidur terlelap untuk mesngikis riya dan
gila pujian.
C. Memutus Pengaruh Negatif Makhluk

Terapi penyakit hati yang disebabkan pengaruh makhluk yaitu:

1. Bersahabat dengan orang yang Shiddiq dan shaleh.

2. Menegakkan maqam faqir dan tawakal kepada Allah supaya terhindar


penyakit Thama’ dan bersandar kepada makhluk.

3. Menegakkan maqam ridha, syukur dan qana’ah untuk menghindari


penyakit hasad dan dengki.

4. Memenuhi hak-hak mereka dalam Islam.

Islam mengajarkan umat untuk selektif dalam bersahabat dan mengi-


zinkan untuk bertransaksi dengan non muslim yang damai sekalipun. Al-
Quran memerintahkan orang yang beriman untuk selalu bersama dengan orang
yang Shadiq dan orang-orang yang diberi nikmat agama yaitu jalan yang
lurus.

Jalan yang lurus adalah jalannya orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat kepada mereka, yaitu orang-orang yang telah Allah beri nikmat dari
kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin, dan mereka itulah
teman yang [Link] menyandar-kan kata shirath kepada rafiq
(sahabat dekat) dengan orang-orang yang suluk kepada-Nya, mereka adalah
orang-orang yang telah Allah beri karunia supaya Allah hilangkan dari si
pencari petunjuk dan menelusuri jalannya takutnya sendirian dari Ahli
Zamannya (Mursyid hakiki)”.

Dampak negatif dari pergaulan dengan sesama manusia, diantaranya


thama (hati berharap yang berlebihan kepada makhluk). Thama’ istilah dalam
ilmu tasawuf yang menunjukan hati berharap kepada makhluk sehingga
mengalahkan berharap kepada Allah SWT. Meskipun asalnyapenggunaan kata
thama’ dapat dimaknai berharap kepada Allah pula, namun dalam ilmu
tasawuf dibedakan antara thama’ kepada makhluk dengan roja` kepada Allah.
Terapi dalam menghilangkan penyakit thama’ adalah meningkatkan keyakinan
kepada Allah yang kaya hakiki (Al-Ghani) lagi teramat dermawan, dan
mengetahui akibat dari thama’ berupa kehinaan, dan kekecewaan. Seseorang
yang butuh dan berharap kuat kepada sesuatu maka martabatnya jatuh menjadi
tawanan atau hamba sahaya sesuatu tersebut. Sehingga ia akan menjilat seperti
martabat anjing untuk meraih sesuatu tersebut. Sebaliknya hamba yang
harapannya hanya kepada Allah, akan meraih berbagai bentuk kemuliaan dari-
Nya.

Persaingan dalam bisnis, politik, sosial, pendidikan, dan lainnya


melahirkan penyakit hati berupa hasad (dengki). Sehingga ingin
menghilangkan atau merebut nikmat yang di terima orang lain. Muncullah
sikap saling benci dan dendam, sampai terjerumus kepada syirik untuk
menghancurkan lawannya. Sehingga kegelisahan dan ketakutan menyelimuti
dalam hati, 114 bahkan seluruh urusan duniawi mengakar didalamnya.
Akhirnya hati terhijab dari cahaya Allah dan bermunculan berbagai penyakit
hati lainnya. Sampai keimanan yang lemah tersebut keluar dari hati dan
menjadi orang yang murtad. Hal ini karena pengaruh pergaulan dengan
sesama manusiadengan tidak selektif akan menarik kepada keburukan-
keburukan yang berasal dari hawa nafsu,harta dunia, dan Syaithan.3

E. Tingkatan Penghambaan Kepada Allah


A. Syari’at
Secara etimologi syariat berarti aturan atau ketetapan yang allah
perintahkan kepada hamba-hambanya, seperti sholat, puasa, haji, zakat,
dan seluruh kebijakan. Kata syariat berasal dari kata syara’a al-syai’u yang
berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu. Atau berasal dari syari’ah
dan Syariah tersebut yang berarti suatu tempat yang dijadikan sarana untuk
yang mengambil air secara langsung sehingga yang mengambilnya tidak
memerlukan bantuan alat lain4. Syariat artinya undang-undang atu garis-
garis yang telah di tentukan. Termasuk kedalam hukum-hukum halal dan
haram, yang tersuruh dan yang terlarang, yang sunnah dan yang makruh.
Termasuk di dalamnya segala amalan yang lain: shalat, puasa, zakat dan
haji serta berjihad pada jalan Allah, menuntut ilmu dan lain-lain. Segala
perbuatan yang dikerjakan oleh seorang Islam, tidaklah keluar dari garis
suatu hukum, sekurang-kurangnya yang mubah, artinya yang
diperbolehkan mengerjakan5.
Dalam ajaran tarekat haqmaliyah seperti yang tertulis dalam
naskah layang Muslimin-Muslimat:
Aya basa opat kitu, kahiji ngaran sare'at, kadua hakekat deui,
katuluna eta tarekat ngaranna, Ka opat ngaran Ma'rifat, eta anu opat rupi,
ceuk dina unggeling Hikam, eta anu opat tadi, sing bisa ngajadi hiji,
rukunkeun sangkan kasusul. Sabab kieu ibaratna, Sare'at teh lir upami,
parahu ngambang dina luhureun sagara, hakekat lir upamana, ibarat lautan
cai, Tarekat lir upamina, diibaratkeun kemudi, pangboseh supaya tepi,
katengah-tengahna laut, Ma'rifat mah lir upamana, inten didasaring cai, eta
kitu ceuk unggeling kitab Hikam".
Artinya:
Ke empat tingkatan Ilmu, yang disebut syariat, tarekat, hakikat,
makrifat ini merupakan sumber atau induknya suatu ilmu yang harus
ditunggalkan, dirukunkan agar sampai pada tujuan. Perumpamaannya
syariat adalah perahu yang mengapung di atas samudra, hakikat adalah
ibarat lautan atau air, tarekat ibarat pengemudi dan makrifat ibarat intan
yang ada di dasar laut. Demikianlah yang tersebut dalam kitab hikam6.
Istilah Syariat di masa-masa awal Islam tampaknya mempunyai
ruang- lingkup yang luas seluas ajaran-ajaran Islam itu sendiri, tidak hanya
menyangkut aspek hukum seperti yang umum dikenal di masa-masa
kemudian, akan tetapi juga mencakup masalah kalam dan lain-lain. Tapi
dalam perkembangan selanjutnya. istilah Syariat kelihatannya mengalami
penyempitan jangkauan hingga akhirnya terbatas pada masalah-masalah
hukum.
Syariat dalam istilah syar'i hukum-hukum Allah yang disyariatkan
kepada hamba-hamba-Nya, baik hukum-hukum dalam al-Qur'an dan
sunnah nabi Saw dari perkataan, perbuatan dan penetapan. "Istilah ini
digunakan dalam al-Qur'an untuk menyebut keseluruhan agama yang
diwahyukan kepada Rasulullah saw., baik yang berkenaan dengan akidah
maupun amaliyah. Namun sejalan dengan perkembangan jaman, istilah
syariat kemudian digunakan hanya untuk merujuk sejumlah aturan
terhadap amaliyah. Istilah lain ialah fiqh. Hingga kini, amaliyah yang
berupa shalat, whudu, puasa, mandi, hukum waris, zakat, perkawinan,
muamalah, dan sebagainya, disebut (digolongkan) sebagai bagian dari
ilmu fiqh atau syariat. Akhirnya, kita mengenal ilmu yang berkenaan
dengan amaliyah yaitu syariat dan ilmu yang berkenaan dengan keyakinan
yang disebut akidah. Syariat dalam penjelasan Qardhawi adalah hukum-
hukum Allah yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil al-Qur'an dan sunnah
serta dalil-dalil yang berkaitan dengan keduanya seperti ijma' dan qiyas.
Syariat Islam dalam istilah adalah apa-apa yang disyariatkan Allah kepada
hamba-hamba-Nya dari keyakinan (aqidah), ibadah, akhlak, muamalah,
sistem kehidupan dengan dimensi yang berbeda-beda untuk meraih
keselamatan di dunia dan akhirat. "Menurut Muhammad Nafis al-Banjari,
bahwa syariat ialah ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul sehubungan
dengan perintah dan larangan, tata melakukannya pada arti dzahir.
B. Tarekat

Ada banyak definisi sebenarnya tentang tarekat. Yang jelas dari


segi bahasa tarekat adalah jalan. Sementara dari segi etimologi
sebagaimana yang dikatakan oleh Nurkholis Majid, tarekat adalah aliran
tentang jalan atau cara mendekatkan diri kepada Allah. Atau, sebagaimana
yang dikatakan oleh Dr. Mustafa Zahri, tarekat adalah suatu sistem untuk
menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan adanya
Tuhan, dalam keadaan dimana seseorang dapat melihat Tuhan dengan
mata hatinya. Atau sebagaimana menurut Muhammad Nafis, tarekat
adalah sengaja mengamalkan ilmu karena Allah7. Dalam lapangan
tasawuf, istilah ini sampai abad ke-11 (5 H) dipakai dengan pengertian:
jalan yang harus ditempuh oleh setiap calon sufi untuk mencapai
tujuannya, yaitu berada sedekat mungkin dengan Allah, atau dengan kata
lain berada di hadirat-Nya tanpa dibatasi oleh hijab (hijab berarti dinding
yang membatas,. mata batin seseorang dengan Allah). Pada jalan tersebut
terdapat sederetan maqam- maqam (stasion-stasion atau tahap-tahap) yang
harus dilalui, seperti maqam tobat zuhud sabar rida mahabbah (cinta) dan
makrifatullah (mengenal Allah dengan hati-nurani). Bila calon sufi itu
telah mencapai maqam makrifatullah, maka ia bukan lagi calon, tapi
meningkat menjadi sufi secara aktual. Sejak berdirinya organisasi-
organisasi atau kesatuan-kesatuan jemaah para sufi dengan para murid atau
pengikut masing-masing pada abad ke- 12 (6 H), istilah tarekat tidak lagi
hanya mengandung arti jalan, seperti sjemaah sufi dengan murid atau
pengikutnya tersebut8. Di dalam tarekat mencakup riyadhah-riyadhah
(latihan-latihan) atau ajaran praktis tasawuf. Tetapi perlu diketahui bahwa
riyadhah yang ideal tetap berpegang pada ajaran Rasulullah saw. Artinya,
jangan sampai menyimpang dari syariat. Jika menyimpang, maka berarti
bid'ah. sedang ulama sufi sangat menjaga agar mereka tidak terjebak
kepada bid'ah. Apa yang dituju dengan mengerjakan syariat? Apakah
ibadah itu hanya semata-mata ibadah? Siapa yang disembah? Siapa yang
dituju? Tak lain ialah keridhaan Allah SWT. Tuhan yang kita cintai. Maka
di antara makhluk dan khalik itu adalah perjalanan hidup, adalah yang
harus kita tempuh. Inilah yang dikatan tarekat (jalan). Dan iktiar kita
menempuh jalan itu dinamai suluk.

Ajaran tarekat Haqmaliyah, menyebut istilah tarekat dengan


sebutan perumpamaan perahu dalam lautan, perahu dalam pengertian
sebagai alat menuju tengah-tengah laut untuk meraih intan yang ada di
dasar lautan. Adapun hakikat alat tersebut untuk mendapatkan mutiara
adalah dengan muatabah, mujahadah, muraqabah, dan dzikir.
Adapun pengamalan dzikir dalam ajaran tarekat haqmaliyah yakni
dzikir khofi dan keluar masuknya nafas, dengan lafadz Ismu. Dzat Saat
keluarnya nafas dari hidung maka hati mengucapkan Allah dan pada saat
masuknya nafas maka hatipun mengucap Hu. Amalan dzikir tersebut biasa
dilakukan bagi setiap anggota atau seorang salik ajaran tarekat haqmaliyah
dengan bertujuan untuk melatih jiwa agar selalu waspada dan selau ingat
kepada Allah SWT. Dalam dzikir ini merupakan yang dipentingkan dalam
ajaran tarekat haqmaliyah, semakin banyak amalan dzikirnya maka akan
mampu melahirkan sifat-sifat Tuhan, seperti kasih sayang, berbuat baik,
dan jauh dari sifat-sifat tercela seperti, iri, dengki, hasut, fitnah, takabbur,
sombong dan lain-lain. Dan bahkan dzikir nafas ini selain proses
pembakaran atau peleburan sifat tercela, nantinya ketika dihadapkan
dengan sakaratul maut, dengan dzikir akan mempermudah saat keluarnya
ruh dalam badan. Pada saat itu pula, tidak ada yang dapat mampu
menolong kecuali Allah SWT, melalui dzikir dan mengingat Allah SWT
memohon pertolongan.

Karena selama hidup di dunia, siapapun yang terlalu mencintai


dunia, baik hartanya, atau kekayaan, jabatan dan orang yang selama ini
kita cintai, anak, istri, atau suami, dan saat tiba waktunya ketika datang
sakaratul maut, maka mereka itulah Tuhannya. Karena tidak terbiasa
dengan dzikir, mengingat Allah SWT, sudah dipastikan tidak akan mampu
hatinya mengucapkan kaliamat Allah. Abu Qasim al-Qusyairi berkata:

“Dzikir itu merupakan lambang kewalian, pelita penerang kalbu


untuk sampai kehadhirat-Nya, penguat iradah, tanda kebenaran permulaan
untuk sampai pada kejernihan puncak tujuan. Tidak ada sesuatupun yang
lebih mulia daripada dzikir. Padanya terhimpun segala kebaikan.
Keutamaan dan fhadilah dzikir begitu banyak dan tidak terbatas
jumlahnya”.

Secara khusus, tarekat haqmaliyah mempunyai tujuan, yang intinya


barangkali bisa dirangkum sebagai berikut:
1. Dengan mengamalkan tarekat berarti mengadakan latihan jiwa
(riyadhah) dan berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah),
membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan diisi dengan
sifat-sifat terpuji dengan melalui perbaikan budi pekerti dalam
berbagai seginya.
2. Selalu dapat mewujudkan rasa ingat kepada Allah, Dzat Yang
Maha Besar dan Kuasa atas segalanya dengan melalui jalan wirid
dan
dzikir dibarengi dengan tafakur yang secara terus-menerus
dikerjakan.
3. Dari sini timbul perasaan takut kepada Allah sehingga timbul pula
dalam diri seseorang itu suatu usaha untuk menghindarkan diri dari
segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lupa
kepada Allah.
4. Jika semua hal itu dapat dilakukan dengan penuh ikhlas dan
ketaatan kepada Allah, maka tidak mustahil akan dapat dicapai
suatu tingkat alam makrifat, sehingga dapat pula diketahui segala
rahasia dibalik tabir cahaya Allah dan Rasul-Nya secara terang
benderang.
5. Akhirnya dapat diperoleh apa yang sebenarnya menjadi tujuan
hidup ini.

Oleh karena tarekat adalah merupakan jalan atau cara untuk


mendekatkan diri kepada Allah, maka di dalam tarekat sebenarnya
berisikan tentang riyadhah-riyadhah atau amalan-amalan yang harus
dikerjakan dan bukan berisikan tentang ajaran yang mengkaji secara falsafi
tasawuf, tetapi tarekat lebih merupakan suatu amalan dan ajaran praktis
dari tasawuf. Secara umum ada tiga proses dalam tarekat untuk bisa
sampai pada hakikat, yaitu mujahadah, riyadhah, dan muhasabah.
Mujahadah artinya berjuang dengan sungguh-sungguh, berupaya secara
gigih dan berusaha dengan giat dan keras melawan hawa nafsu dan
berkonfrontasi dengan syetan, agar hubungan vertikal, horizontal, dan
diagonal tidak terganggu. Yang kedua adalah riyadhah. Riyadhah (Olah
Ruhani) bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan tugas dan kewajiban
kita sehari-hari, serta tidak harus menghilangkan pemenuhan hak-hak kita
terhadap diri, keluarga, dan masyarakat sosial.

Sebagai ajaran dan amalan praktis ajaran tarekat haqmaliyah,


dalam mengenal Allah tarekat haqmaliyah sebenarnya mempunyai cara
dan jalan tersendiri yang itu berbeda dengan jalan-jalan yang ditempuh
oleh yang lain dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.22
Adalah lumrah bila aliran tarekat mempunyai jalan lain atau cara tersendiri
untuk mendekatkan diri kepadan-Nya, karena itu disebabkan kalangan ahli
tarekat mempunyai pandangan falsafi tersendiri tentang Tuhan.

C. Hakikat

Hakikat, yaitu kebenaran sejati dan mutlak. Yang merupakan ujung


segala perjalanan, bagaimanapun jauhnya. Akhir dari segala langkah,
tujuan segala jalan (tarekat). Untuk-Nya-lah syariat dan undang-undang.
Di dalam perjalanan menuju hakikat itu, orang memulai dari dalam dirinya
sendiri. Untuk mengenal Tuhan, kenalilah diri. Perjalanan itu dimulai dari
dalam dan ke dalam. Sehinga seluruh alam dengan keindahan dan
keganjilannya, hanyalah untuk jadi saksi pencari diri. Di sini terjadilah
cara yang didapat oleh ahli suluk ahli perjalanan. Setengahnya karena
sangat asyik, dirasakannyalah bahwa dirinya tak ada. Yang ada hanya
yang ada. Yang ada ialah yang awal, tidak ada permulaan dan akhir tidak
ada kesudahan. Adapun diri sendiri dan alam seluruhnya tidaklah ada.
Sebab awalnya adam (tidak ada dan akhirnya fana)9.

Sebagaimana suatu mata rantai yang tak mungkin bisa dipisahkan


(syariat, tarekat dan hakikat), hakikat sebenarnya lebih merupakan hasil
perolehan atau prestasi setelah melalukan perjalanan panjang syariat dan
tarekat. Siapa saja yang telah menjalani kehidupan syariat dengan baik dan
benar kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur yang bisa
mendekatkan diri kepada-Nya (tarekat), maka dia akan mendapatkan satu
prestasi, yaitu hakikat. Hakikat adalah menyangkut masalah batin yang
dengan suatu tanggapan selalu tertuju kepada Allah lewat sinar cahaya
kebenaran yang terpancar pada hati.

Pada tingkat hakikat ini seorang hamba akan merasakan akan


kebenaran yang sejati dan mutlak, yang masih belum diperolehnya lewat
syariat maupun tarekat. Memang ada suatu kebenaran dalam syariat
maupun tarekat, tetapi suatu kebenaran tersebut masih belum mencapai
puncaknya. Dan kalau dikaji lebih jauh, sebenarnya dalam syariat itupun
ada suatu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perlu diketahui
bahwa kesemua hukum-hukum atau atuaran yang tertuang dalam syariat
itu mempunyai suatu tujuan, yaitu mendekatkan kepada-Nya. Tetapi upaya
dalam syariat ini adalah baru pada tahap pertama, dimana tahap berikutnya
harus ditempuh yakni dalam jalan tarekat, yang baru setelah kedua tahap
ini dilalui maka akan mencapai pada tingkat hakikat10.

Dalam ruang lingkup sufi, hakikat mengandung makna akhir


perjalanan mencapai tujuan untuk bisa melihat cahaya nan gemerlapan dari
makrifatullah yang penuh harapan. Sementara ada yang mengartikan
sebagai hasil akhir dari perjuangan melaui jalan syariat dan tarekat,
sehingga seseorang bisa melihat cahaya kebenaran. Jika seseorang telah
berhasil menempuh syariat dan tarekat, maka ia menjadi arif atau makrifat.

Ada sebuah contoh untuk menggambarkan tentang keterkaitan


antara tahapan syariat, tarekat dan hakikat ini, yaitu bisa dicontohkan
dalam masalah thaharah atau bersuci. Dalam syariat, suci adalah juga
merupakan satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam
syariat upaya bersuci dimaksudkan untuk mensucikan segi dhahir, yaitu
suci dari najis dan hadas, baik hadas kecil maupun hadas besar. Hal ini
bisa dilakukan dengan mandi atau mencuci bila yang dimaksudkan adalah
suci dari najis. Tetapi untuk menghilangkan hadas, bisa dilakukan dengan
berwudhu bila yang dimaksud adalah hadas kecil, dan bisa dengan mandi
junub bila yang dihilangkan adalah hadas besar. Dalam tarekat upaya suci
atau bersih tidak hanya sebatas itu tidak cukup bersih atau suci itu hanya
dengan mandi menghilangkan kotoran dan najis, dengan berwudhu atau
hanya dengan junub. Dalam tarekat mengupayakan bersih adalah bukan
hanya segi lahir, tetapi juga harus segi batin. Makanya upaya suci atau
pembersihan dalam tarekat adalah pada sisi dalam, yaitu bersih hati dari
hawa nafsu.

Maka setelah seseorang sudah berupaya untuk membersihkan diri


dari segi syariat dan segi tarekat, atau sudah dalam keadaan suci luar
dalam, dhahir dan batin, maka seorang tersebut akan bisa memasuki
tingkat hakikat. Dalam hakikat, suci atau bersih tidak hanya sebatas apa
yang telah diupayakan dalam syariat dan tarekat, tetapi lebih jauh dari
keduanya, bersih dan suci yang dimaksud adalah bersihnya hati dari
sesuatu selain Allah.

D. Makrifat

Makrifat artinya ialah ujung perjalanan dari ilmu pengetahuan.


Ilmu ialah usaha mengetahui keadaan suatu barang, tetapi makrifat
menanyakan sebabnya dan nilainya. Misalkan kata ilmu, dua kali dua
sama dengan empat. Maka makrifat tidak hendak mencukupkan perjalanan
sehingga itu saja. Dia masih bertanya, "mengapa jadi empat, dan siapa
yang menjadikan empat?. Orang yang mempunyai makrifat dinamai Arif.
Kumpulan pengetahuannya tentang syariat, dengan kesediaannya
menempuh jalan (tarekat) dan mencapaikan akan Hakikat, semuanya itulah
yang makrifat. Jadi makrifat adalah kumpulan ilmu pengetahuan, perasaan,
pengalaman, amal, dan ibadah. Kumpulan dari ilmu, filsafat, dan Agama.
Kumpulan dari mantiq (Logika), keindahan (Estetika), dan cinta11.

Kata-kata makrifat bila dilihat dari segi bahasa mempunyai arti


pengetahuan. all-Gazali bahkan memberikan batasan arti tentang makrifat
dari segi bahasa ini dengan arti "pengetahuan yang tidak menerima
keraguan lagi". Artinya, makrifat adalah suatu pengetahuan yang
didasarkan atas satu keyakinan yang penuh terhadap sesuatu hingga
hilanglah suatu keragu- raguan. Dengan pengertian yang demikian ini,
maka di dalam makrifat sesungguhnya tidak ada sedikit pun keragu-
raguan, yang ada dalam makrifat hanyalah satu keyakinan.

Menurut al-Gazali, makrifat adalah pengetahuan yang tidak


menerima keraguan terhadap Dzat dan Sipat Allah. Makrifat terhadap Dzat
Allah adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Esa,
Tunggal dan sesuatu yang Maha Agung, Mandiri dengan sendiri-Nya dan
tiada satu pun yang menyerupain-Nya.

Sedangkan makrifat sifat adalah mengetahui dengan sesungguhnya


Allah itu Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar
dan Maha Melihat dengan segala sifat-sifat keparipurnaan. Dari
mengetahui tentang Dzat dan Sifat Allah yang secara demikian ini, maka
selanjutnya al- Gazali pun memberi kesimpulan sabagai makrifat sebagai
berikut: “Makrifatadalah mengetahui akan rahasia-rahasia Allah, dan
mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada”.

Pandangan al-Gazali tentang makrifat ini pundiperjelas lagi dalam


pendapatnya yang mengatakan bahwa:” Makrifat adalah memandang
kepada wajah Allan SWT”.

Dari pendapat terakhir yang disampaikan oleh al-Gazali tersebut,


sebagian ahli sufi ada pula yang mengatakan bahwa, "hakikat makrifat
adalah musyahadah (penyaksian) kepada yang Haq tanpa perantara, tanpa
bagaimana dan tanpa serupa".

Menurut al-Junaidi, makrifat adalah kesadaran akan adanya


ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan (tentang Tuhan) datang.
Melalui definisi ini al-Junaid ingin menyatakan bahwa pada hakikatnya
manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Tuhan. Dimana
keadaan ini baru disadarinya ketika datang makrifat kepadanya. Dan pada
saat itu, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkenaan
dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah [Link] atau
pengetahuan tentang Tuhan, akan dapat dicapai oleh seorang sufi dalam
keadaan fana yang tertinggi. Dimana pada saat itu, segala sifat
kemanusiaan yang ada pada dirinya hilang seketika, dan semua
keinginannya pada benda- benda duniawi terhapus. Kesadaran akan
dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatan dengan Tuhan.
Dirinya telah hancur terserap pada kehendak Tuhan. Yang masih tinggal
pada dirinya hanyalah perasaan kebersatuan rohnya dalam Tuhan. Dan
pada titik inilah sesungguhnya makrifat ini muncul menguasai dirinya.
Diaman Tuhandengan segala Rahmat-Nya telah berkenan mengaugrahkan
makrifat itu kepadanya. Makrifat, lanjut menurut Al-Juanaid, merupakan
milik Tuhan, yang hanya didapatkan melaui Dia, dan akan ada bersama
dengan-Nya sendiri. Tuhan adalah subjek, dan sekaligus merupakan objek
darı makrifat. Tuhan adalah yang arif dan yang ma’ruf pada saat yang
sama. Kondisi ini juga berarti kebersatuan antara hamba dengan tuhan.

F. Kesimpulan

Tasawuf mengajarkan tentang pentingnya akhlak dan membersihkan diri


dari sifat-sifat tercela seperti iri hati, kesombongan, dan sifat-sifat buruk
lainnya. Proses ini dikenal sebagai Takhalli, di mana seseorang berupaya
untuk mengosongkan dirinya dari segala bentuk perilaku dan sifat yang dapat
menjauhkan dirinya dari Allah.

Daftar Pustaka

Anda mungkin juga menyukai