Panduan Manual SJH IKM Halal
Panduan Manual SJH IKM Halal
MANUAL SJH
____________________________
TAHUN _______
Template Manual SJH IKM
I. PENDAHULUAN
B. Tujuan
Manual Sistem Jaminan Halal (SJH) disusun untuk menjadi pedoman dalam penerapan SJH di
perusahaan, dalam rangka menjaga kesinambungan produksi halal sesuai dengan persyaratan
sertifikasi halal MUI.
C. Ruang Lingkup
Manual SJH adalah dokumen yang menjadi panduan penerapan SJH di perusahaan. Manual SJH
ini berlaku untuk seluruh fasilitas perusahaan yang terkait dengan produksi halal, termasuk
maklon dan gudang sewa.
Template Manual SJH IKM
A. Kebijakan Halal
KEBIJAKAN HALAL
..............................................................
…................, .........................................
Pimpinan Perusahaan,
( ........................................................)
B. TimManajemen Halal
Untuk menerapkan SJH dan dalam rangka menjaga konsistensi kehalalan produk, dengan ini
ditunjuk Tim Manajemen Halal yang terdiri dari pimpinan perusahaan dan karyawanseperti
tercantum dalam Lampiran 1. Tugas Tim Manajemen Halal adalah melaksanakan dengan
sungguh-sungguh semua prosedur operasional seperti yang tertulis pada bagian C.
C. Prosedur Operasional
Dalam rangka menjaga kehalalan produk secara konsisten, kami menerapkan prosedur
operasional sebagai berikut:
1. Menjelaskan kebijakan halalpada semua karyawan. Daftar hadir harus dibuat dan disimpan
setidaknya selama dua tahun sebagai bukti sosialisasi kebijakan halal.
2. Menempel poster kebijakan halal dan edukasi halal di kantor, area produksi dan gudang
seperti tercantum dalam Lampiran 2.
3. Mengikuti pelatihan eksternal di LPPOM MUI setidaknya sekali dalam dua [Link]
pelatihan LPPOM MUI harus disimpan setidaknya selama dua tahun.
4. Melakukan pelatihan internal dengan materi seperti tercantum dalam Lampiran
3setidaknya setahun sekali. Setiap karyawan baru harus mendapatkan pelatihan ini
sebelum mulai bekerja. Daftar hadir harus dibuat dan disimpan setidaknya selama dua
tahun sebagai bukti pelaksanaan pelatihan internal.
5. Membuat Daftar Bahan Halal dengan format seperti pada Lampiran 4.
6. Membeli bahan dengan nama/merk dan produsen sesuai dengan yang tercantum dalam
Daftar Bahan Halal. Bukti pembelian (nota/kuitansi) dan contoh label kemasan (jika ada)
harus disimpan setidaknya selama 6 bulan, kecuali untuk bahan yang jarang dibeli maka
disimpan bukti pembelian terakhir.
Template Manual SJH IKM
7. Jika akan menggunakan bahan baru di luar Daftar Bahan Halal(termasuk bahan lama
dengan produsen baru), maka kami akan meminta persetujuan penggunaan bahan tersebut
ke LPPOM MUI. Pengajuan persetujuan dilakukan dengan mengisi form seperti pada
Lampiran 5 dan mengirimkan form beserta dokumen bahan (jika ada) ke LPPOM MUI
melalui email lppommuir@[Link]. Bahan baru dapat digunakan hanya setelah
mendapatkan persetujuan tertulis dari LPPOM MUI. Bukti persetujuan penggunaan bahan
baru harus disimpan setidaknya selama dua tahun. Pengecualian untuk bahan tidak kritis
yang tercantum dalam Lampiran 6 tidak dilakukan persetujuan bahan baru. Bahan baru
yang telah disetujui LPPOM MUI akan dimasukkan ke dalam Daftar BahanHalal.
8. Bahan baru yang akan digunakan untuk menghasilkan produk baru, akan dimintakan
persetujuan penggunaannya ke LPPOM MUImengikuti prosedur pada nomor 7 di atas atau
pada saat proses sertifikasi.
9. Memeriksa label bahan pada setiap pembelian atau penerimaan bahan untuk memastikan
kesesuaian nama bahan, nama produsen dan negara produsen dengan yang tercantum
dalam Daftar BahanHalal. Bahan yang boleh digunakan hanya bahan yang namanya, nama
produsen dan negara produsennya sesuai dengan Daftar Bahan Halal. Pengecualian untuk
bahan tidak kritis yang tercantum dalam Lampiran 6 tidak dilakukan pemeriksaan label.
10. Membuat formula/resep produk baku yang akan menjadi acuan/rujukan untuk bagian
produksi dalam memproduksi produk (untuk produk yang memiliki formula).
11. Melakukan produksi dengan hanya menggunakan bahan yang tercantum dalam Daftar
Bahan [Link] produk yang digunakan pada proses produksi mengacu pada formula
baku yang dijelaskan pada nomor 10.
12. Jika terlanjur ada penggunaan bahan yang tidak tercantum dalam Daftar Bahan Halal, maka
produk yang dihasilkan tidak akan dijual ke konsumen. Produk tersebut selanjutnya akan
dimusnahkan dan bukti pemusnahan produk harus disimpan.
13. Menjaga semua fasilitas produksi dan peralatan dalam keadaan bersih (bebas dari najis)
sebelum dan sesudah digunakan.
14. Menyimpan bahan dan produk di tempat yang bersih dan menjaganya supaya terhindar
dari najis.
15. Memastikan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut produk halal dalam kondisi
baik dan tidak digunakan untuk mengangkut produk lain yang diragukan kehalalannya.
16. Mendaftarkan setiap ada produk barudengan merk yang samauntuk disertifikasi halal
sebelum dipasarkan.
17. Mendaftarkan setiap ada penambahan fasilitas produksi baru untuk disertifikasi halal.
18. Melakukan audit internal setiap enam bulan sekali dengan cara memeriksa pelaksanaan
seluruh prosedur operasional dan mengisi form seperti pada Lampiran 7. Audit internal
dilakukan oleh ketua/anggota Tim Manajemen Halal yang sudah mengikuti pelatihan.
19. Melakukan rapat kaji ulang manajemen yang membahas hasil dari audit [Link] kaji
ulang manajemen dihadiri oleh ketua dan anggota Tim Manajemen Halal.
20. Jika dalam audit internal ditemukan kelemahan, yaitu ada pertanyaan yang dijawab “tidak”,
maka akan segera dilakukan perbaikan agar kelemahan tersebut tidak terulang. Bukti
perbaikan kelemahan harus disimpan setidaknya selama dua tahun.
21. Bukti pelaksanaan audit internal dan rapat kaji ulang manajemen disimpan setidaknya
selama dua tahun.
22. Form hasil audit internal yang telah terisi dikirimkan ke LPPOM MUI Provinsi Riau
melalui email lppommuir@[Link]
Template Manual SJH IKM
Untuk menerapkan Sistem Jaminan Halal dan dalam rangka menjaga konsistensi kehalalan produk,
dengan ini ditunjuk Tim Manajemen Halal sebagai berikut :
2. Anggota
3. Anggota
4. Anggota
5. Anggota
Tim Manajemen Halal telah membaca dan memahami Manual SJH serta akan melaksanakan dengan
sungguh-sungguh semua prosedur operasional seperti yang tertulis pada Manual SJH bagian C.
Demikian surat penetapan ini dibuat untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.
…................, .........................................
Pimpinan perusahaan,
(.............................................)
Template Manual SJH IKM
KEBIJAKAN HALAL
…................, .........................................
Pimpinan Perusahaan,
( ........................................................)
Mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal adalah wajib hukumnya bagi orang
Islam.
Pengertian halal haram : (i) Halal adalah Boleh. (ii) Haram adalah sesuatu yang dilarang
oleh Allah SWT dengan larangan yang tegas.
Contoh bahan haram : (i) Babi,termasuk seluruh bagian tubuhnya dan produk
turunannya (segar atau olahan), (ii) Khamr (minuman beralkohol), (iii) Hasil samping
khamr yang diperoleh hanya dengan pemisahan secara fisik, (iv) Darah, (v) Bangkai, (vi)
Bagian dari tubuh manusia, binatang buas, anjing.
Menjaga semua fasilitas produksi dan peralatan dalam keadaan bersih sebelum dan
sesudah digunakan.
Menjaga kebersihan diri sebelum dan selama bekerja sehingga tidak mengotori produk
yang dihasilkan.
Tidak boleh membawa produk tidak halal di area produksi.
Tidak boleh membawa/memelihara hewan peliharaan di area produksi.
Tidak boleh menggunakan peralatan produksi untuk kepentingan lain.
Menyimpan bahan dan produk di tempat yang bersih dan menjaganya supaya terhindar
dari najis.
Memastikan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut produk halal dalam kondisi
baik dan tidak digunakan untuk mengangkut produk lain yang diragukan kehalalannya.
Template Manual SJH IKM
5. Jika akan menggunakan bahan baru di luar Daftar Bahan Halal (termasuk bahan lama dengan
produsen baru), akan meminta persetujuan penggunaan bahan tersebut ke LPPOM MUI.
6. Memeriksa label bahan pada setiap pembelian bahan atau penerimaan bahan untuk
memastikan kesesuaian nama bahan, nama produsen dan negara produsen dengan yang
tercantum dalam Daftar Bahan [Link] yang boleh digunakan hanya bahan yang
namanya, nama produsen dan negara produsennya sesuai dengan Daftar Bahan Halal.
7. Dalam proses produksi hanya menggunakan bahan dengan nama/merk dan produsen
seperti yang tercantum dalam Daftar Bahan Halal.
8. Menjaga semua fasilitas produksi dan peralatan dalam keadaan bersih (bebas dari
najis)sebelum dan sesudah digunakan.
9. Setiap pekerja menjaga kebersihan diri sebelum dan selama bekerja sehingga tidak
mengotori produk yang dihasilkan.
10. Setiap pekerja tidak boleh membawa produk tidak halal di area produksi.
11. Setiap pekerja tidak boleh membawa/memelihara hewan peliharaan di area produksi.
12. Setiap pekerja tidak boleh menggunakan peralatan produksi untuk kepentingan lain,
misalnya untuk memasak karyawan atau menyimpan produk tidak halal milik karyawan.
13. Menyimpan bahan dan produk di tempat yang bersih dan menjaganya supaya terhindar dari
najis.
14. Memastikan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut produk halal dalam kondisi baik
dan tidak digunakan untuk mengangkut produk lain yang diragukan kehalalannya.
15. Mendaftarkan setiap ada produk baru dengan merk yang samauntuk disertifikasi halal
sebelum dipasarkan.
16. Mendaftarkan setiap ada penambahan fasilitas produksi baru untuk disertifikasi halal.
Template Manual SJH IKM
Nama perusahaan :
Kelompok produk :
BAHAN PENOLONG
Daftar Bahan Halal ini dibuat sebenar-benarnya sesuai dengan seluruh bahan yang digunakan pada proses produksi.
......................, ....................................
Dibuat oleh, Diperiksa oleh, Diketahui oleh,
( ) ( ) ( )
Pimpinan Perusahaan Auditor LPPOM MUI Direktur LPPOM MUI
Template Manual SJH IKM
1. Nama/Merk/Kode Bahan : tuliskan seluruh bahan, meliputi bahan baku dan bahan
tambahan serta bahan penolong (termasuk bahan-bahan alternatif) dalam bentuk nama,
merk atau kode bahan (misalnya tepung terigu cap xxx; flavor lychee xxxx, dll).
Pengertian bahan baku dan bahan tambahan serta bahan penolong adalah sebagai berikut :
a) Bahan baku dan bahan tambahan adalah seluruh bahan yang digunakan dalam proses
pembuatan produk.
b) Bahan penolong adalah bahan yang digunakan untuk membantu proses produksi, tetapi
bahan tersebut tidak menjadi bagian dari komposisi produk (ingredient).
2. Nama dan Lokasi Produsen : tuliskan nama dan lokasi pabrik tempat memproduksi bahan
yang terdapat di kemasan, misalnya PT ABCDE Indonesia, Shugoi Co. Ltd. Jepang, dan lain-
[Link] bahan yang termasuk dalam Daftar Bahan Tidak Kritis (dapat dilihat pada
Lampiran 6), maka tidak perlu mencantumkan produsen dan dapat ditulis “-”.
3. Pemasok : tuliskan seluruh pemasok (supplier) yang memasok bahan. Untuk bahan yang
dibeli secararetail, maka dapat ditulis “toko/pasar/swalayan”. Untuk bahan yang termasuk
dalam Daftar Bahan TidakKritis (dapat dilihat pada Lampiran 6), maka tidak perlu
mencantumkan nama pemasok dan dapat ditulis “-”.
4. Lembaga Penerbit: tuliskan lembaga penerbit Sertifikat Halal untuk bahan yang
bersangkutan, yaitu MUI atau lembaga sertifikasi yang diakui MUI.
5. Nomor: tuliskan nomor sertifikat halal untuk bahan yang [Link] bahan yang
dibeli secararetail atau tidak memiliki dokumen, maka dapat ditulis “-”.
6. Masa berlaku: tuliskan tanggal berakhirnya masa berlaku Sertifikat [Link] bahan yang
dibeli secararetail atau tidak memiliki dokumen, maka dapat ditulis “-”.
7. Dokumen Lain : tuliskan jenis dokumen lain yang dilampirkan,misal spesifikasi, diagram alir
(flow process), MSDS, database LPPOM MUI (Majalah Jurnal halal, website halalmui, website
Cerol, program Halalmui di smartphone), foto kemasan, label kemasan.
8. Keterangan : tuliskan keterangan asal bahan jika tidak terdapat dokumen bahan (misalnya
bahan nabati, bahan tambang, bahan kimia), dan/atau nomor surat persetujuan penggunaan
bahan dari LPPOM MUI untuk produk pengembangan/perpanjangan (bila ada).
Template Manual SJH IKM
Bersama ini disampaikan permohonan persetujuan LPPOM MUI sehubungan dengan rencana
penggunanaan bahan baru, yaitu :
Nama bahan :
Nama produsen :
Asal Negara produsen :
Sebagai bahan pertimbangan, kami lampirkan dokumen pendukung dari bahan yang dimaksud
(sertifikat halal, spesifikasi bahan, diagram alir)*.
Demikian permohonan ini disampaikan. Atas perhatian dan bantuannya, disampaikan terima
kasih.
Pimpinan perusahaan,
(............................................)
Berikut ini merupakan contoh daftar bahan tidak kritis. Daftar bahan kritis secara lengkap
terdapat dalam Surat Keputusan LPPOM MUI Nomor SK07/Dir/LPPOM MUI/I/13 tentang
Daftar Bahan Tidak Kritis (Halal Positive List of Materials)
HASIL AUDIT
NO PERTANYAAN
YA TIDAK KETERANGAN
1. Apakah kebijakan halal telah dijelaskan pada
semua karyawan?
2. Apakah ada bukti sosialisasi kebijakan halal?
(daftar hadir sosialisasi)
3. Apakah tersedia poster kebijakan halal dan
edukasi halal di kantor, area produksi dan gudang?
4. Apakah ketua/anggota Tim Manajemen Halal telah
mengikuti pelatihan di LPPOM MUI setidaknya
sekali dalam dua tahun ?
5. Apakah ada bukti pelatihan eksternal (sertifikat
pelatihan) ?
6. Apakah pelatihan internal kepada semua
karyawan, termasuk karyawan baru, dengan
materi seperti tercantum dalam Lampiran 3 telah
dilaksanakan setidaknya setahun sekali ?
7. Apakah ada bukti pelatihan internal (daftar hadir
pelatihan) ?
8. Apakah Daftar Bahan dengan format seperti pada
Lampiran 4 telah dibuat ?
9. Apakah nama/merk bahan dan nama produsen
bahan yang dibeli sesuai dengan yang tercantum
dalam Daftar Bahan Halal ?
10. Apakah bukti pembelian (nota/kuitansi) dan
contoh label kemasan (jika ada) selalu disimpan
setidaknya selama 6 bulan ?
11. Apakah setiap ada bahan baru selalu dimintakan
persetujuan ke LPPOM MUI sebelum digunakan ?
(kecuali bahan tidak kritis pada Lampiran 6)
12. Apakah bukti persetujuan penggunaan bahan baru
dari LPPOM MUI selalu disimpan setidaknya
selama dua tahun ?
13. Apakah dilakukan pemeriksaan label bahan pada
setiap pembelian atau penerimaan bahan ? (kecuali
bahan tidak kritis pada Lampiran 6)
14. Apakah hasil pemeriksaan menunjukkan informasi
nama bahan, nama produsen dan negara produsen
yang tercantum di label sesuai dengan Daftar
Bahan Halal ?
15. Apakah ada formula/resep produk baku (untuk
Template Manual SJH IKM
lppommuir@[Link] ? *
*) Keterangan: Khusus pertanyaan mengenai audit internal dan kaji ulang manajemen, auditor
dapat memeriksa pelaksanaan audit internal dan kaji ulang manajemen pada periode
sebelumnya. Jadi pertanyaan ini tidak perlu diisi pada saat audit internal pertama.
Template Manual SJH merupakan format Manual SJH yang dibuat LPPOM MUI khusus untuk
perusahaan kecil. Perusahaan diharapkan dapat memahami isi template Manual SJH agar dapat
diterapkan di perusahaan. Jika isi template tidak sesuai dengan penerapan SJH di perusahaan, maka
perusahaan dapat memodifikasitemplate Manual SJH sesuai dengan kondisi perusahaan. Template
Manual SJH terdiri dari beberapa bagian : 1) Cover, 2) Pendahuluan, 3) Kriteria Sistem Jaminan Halal, 4)
Lampiran. Berikut penjelasan cara pengisian dari template Manual SJH:
1. Cover Manual SJH :
a) Isi “_______”dengan nama perusahaan yang mengajukan sertifikasi halal.
b) Isi tahun pembuatan penyusunan Manual SJH.
2. Pendahuluan pada halaman 1 :
a) Informasi Umum Perusahaan :
Isi “Nama Perusahaan” dengan nama perusahaan yang mengajukan sertifikasi halal.
Isi “Alamat Perusahaan” dengan alamat kantor pusat dari perusahaan.
Isi “Telp/Fax Perusahaan” dengan nomor telepon dan fax perusahaan.
Isi “Alamat Pabrik” dengan alamat pabrik yang memproduksi produk yang disertifikasi halal.
Isi “Telp/Fax Pabrik” dengan nomor telepon dan fax pabrik.
Isi “Contact Person/Email” dengan nama contact person dan email dari contact person.
Contact person adalah orang yang ditunjuk untuk komunikasi dengan LPPOM MUI.
Isi “Nama/Merk Produk” dengan nama/merk produk yang disertifikasi halal.
Isi “Jenis Produk” dengan jenis produk yang disertifikasi halal.
Isi “Daerah Pemasaran” dengan memilih daerah pemasaran untuk produk yang disertifikasi
halal, apakah provinsi, nasional atau internasional.
Isi “Sistem Pemasaran” dengan memilih sistem pemasaran untuk produk yang disertifikasi
halal, apakah retail atau non retail.
b) Tujuan: tidak perlu diisi.
c) Ruang Lingkup: tidak perlu diisi.
3. Kriteria Sistem Jaminan Halal pada halaman 2-3:
a) Kebijakan Halal pada halaman 2:
Isi “.......................” dengan nama perusahaan
Isi “….........., ..........................” dengan tempat dan tanggal/bulan/tahun sesuai dengan waktu
penetapan Kebijakan Halal. Contoh : Bogor, 5 Januari 2014
Isi “(......................)” dengan tanda tangan dan nama lengkap pimpinan perusahaan yang
mengesahkan Kebijakan Halal.
b) Tim Manajemen Halal pada halaman 2: tidak ada yang perlu diisi.
c) Prosedur Operasional pada halaman 2-3: tidak ada yangperlu diisi. Perusahaan dapat
melampirkan prosedur jika sudah tersedia prosedur yang berlaku di perusahaan terkait
penerapan SJH.
4. Lampiran pada halaman 4-13:
a) Ada 2 jenis lampiran: (i) Lampiran default daritemplate Manual SJH sebagai bahan rujukan tetapi
dapat dimodifikasi oleh perusahaan; (ii) Lampiran tambahan jika ada dokumen yang ingin
dilampirkan oleh perusahaan, misalnya Daftar Bahan, jadwal pelatihan, jadwal audit internal,
jadwal kaji ulang manajemen.
b) Lampiran 1: isi nama lengkap dari ketua dan anggota Tim Manajemen Halal serta ditandatangani.
Template Manual SJH IKM
c) Lampiran 2: tidak ada yangperlu diisi. Perusahaan dapat memodifikasi isi poster sesuai dengan
kebutuhan perusahaan.
d) Lampiran 3: tidak ada yangperlu diisi. Perusahaan dapat melengkapi lampiran dengan
pengetahuan SJH lain yang dianggap perlu untuk diketahui oleh karyawan.
e) Lampiran 4: isi data bahan yang digunakan untuk seluruh produk yang disertifikasi.
f) Lampiran 5: tidak ada yang perlu diisi. Perusahaan dapat memodifikasi surat pengantar sesuai
dengan kebutuhan perusahaan.
g) Lampiran 6: tidak ada yang perlu diisi.
h) Lampiran 7: isi daftar pertanyaan pada saat audit internal. Perusahaan dapat memodifikasi
daftar pertanyaan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.