Optimalisasi QoS Bandwidth di Desa Sejahterah
Optimalisasi QoS Bandwidth di Desa Sejahterah
Muhammad Arbain
201810370311160
Bidang Minat
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................iii
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Load balancing merupakan salah satu fitur yang dapat digunakan untuk
mendistribusikan beban jaringan terhadap sebuah layanan pada beberapa server
atau perangkat jaringan bila ada permintaan dari pengguna jaringan [5].
Keunggulan dari penerapan load balancing adalah peningkatan performa
jaringan yang sudah ada secara keseluruhan tanpa harus menambah biaya
untuk meningkatkan bandwidth jaringan internet. Failover adalah metode yang
dapat meningkatkan efektivitas metode load balance. Failover dapat memberikan
kemampuan untuk berpindah jalur dalam proses pengiriman data jika salah satu
sistem atau perangkat jaringan mengalami permasalahan. Hal ini dapat dicapai
dengan penyediaan jalur cadangan atau backup terhadap sistem atau perangkat
jaringan yang mengalami permasalahan [6]. Metode failover diterapkan agar
koneksi internet tidak terputus meskipun salah satu jalur koneksi internet mati
atau dalam status down [7]. Load balance memiliki beberapa pilihan algoritma
dalam penerapanya, algoritma yang digunakan pada load balance dan failover di
studi kasus ini adalah Per Connection Classifier (PCC) dimana algoritma ini
bekerja dengan cara mengelompokkan lalu lintas jaringan yang melalui router [5].
2
Metode yang lain yang digunakan untuk manajemen bandwidth adalah
policy-based routing. PBR merupakan metode penandaan routing yang
ditetapkan oleh pengguna dan IP (internet protocol) sebagai parameternya.
Disimpulkan dari beberapa penelitian yang membahas metode load balance dan
policy-based routing, PBR dapat meningkatkan efektifitas distribusikan beban
trafik pada dua atau lebih jalur koneksi secara seimbang, agar trafik dapat
berjalan optimal, memaksimalkan throughput, memperkecil waktu tanggap dan
menghindari overload pada salah satu jalur koneksi [11]. Kelemahan dari metode
PBR ini adalah sering terjadi overload bandwidth pada user, sehingga metode
simple queue dibutuhkan untuk mencegah overload pada user [9].
Dari latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini akan dilakukan
“Optimalisasi QoS Bandwidth Management Server Load Balance dan Failover”.
studi kasus server local di Desa Sejahterah kecamatan Batulicin Kabupaten
Tanah Bumbu Kalimantan Selatan dengan nama layanan Arnet media. Dengan
diterapkan metode simple queue dan policy-based routing pada penelitian ini
diharapkan dapat meningkatkan efektifitas alokasi bandwidth sehingga lebih
efesien. Metode simple queue sinkronasi dengan metode load balance PCC dan
diharapkan mampu memberikan Optimalisasi jaringan dari segi efektifitas dalam
manajemen bandwidth serta dapat mempermudah dalam monitoring bandwidth
jaringan [12]. Selain itu juga diharapkan dapat mengoptimalisasi dari segi
efesiensi lalu lintas bandwidth dengan menambahkan metode policy-based
routing yang bertujuan mempersingkat jalur paket data jaringan ke alamat yang
dituju, ini juga dapat mempekecil jitter dan mempercepat proses pengiriman
paket jaringan [11].
3
Tujuan serta manfaat penulis mengangkat topik ini dalam Tugas Akhir
adalah sebagai berikut:
4
BAB II
Tinjauan Pustaka
5
Kelana Manajemen User dan dilakukan bahwa sebelum
Simpony Bandwidth di Jaringan diterapkan manajemen user dan
Hotspot Menggunakan metode pengaturan bandwidth, client
Mikrotik yang menggunakan layanan hotspot
mendapatkan kualitas bandwidth yang
tidak sesuai karena tidak adanya
manajemen user dan pembagian
bandwidth antar pemakai hotspot. Serta
perangkat keras yang digunakan
hanya masih menggunakan router dari
penyedia layanan internet. Setelah
adanya penambahan perangkat router
mikrotik dan penerapan manajemen
user dan bandwidth maka client yang
akan terhubung ke layanan hotspot
diharuskan login dengan user dan
password yang sudah disediakan,
mikrotik router berperan dalam
melakukan limitasi bandwidth simple
queue pada user hotspot tersebut,
sehingga setiap client dipastikan
mendapatkan alokasi IP Address
dan bandwidth yang stabil [14].
1 Manajemen Dengan adanya sistem manajemen
Frendi Bandwidth Bandwidth menggunakan metode simple
Aquaris Menggunakan Metode queue, masing-masing komputer client
2 Simple dapat memperoleh Bandwidth secara
Misinem Queue Pada Dinas merata dan adil sesuai dengan
Komunikasi Dan pembagian yang diinginkan serta
Informatika Kota manajemen bandwidth dengan
Palembang menggunakan mikrotik RB951UI-2Hnd
lebih mudah dikarenakan ada aplikasi
untuk mengatur maupun untuk remote
client yaitu menggunakan aplikasi
Winbox dan dalam metode simple queue
yang diterapkan pada mikrotik RB951UI-
2Hnd dapat menyelesaikan permasalahan
yang terjadi pada pembagian upload dan
download untuk mengakses internet yang
dibutuhkan [1].
6
memberikan pelayanan berbeda kepada lalu lintas jaringan. Parameter QoS adalah
delay, jitter, packet loss, throughput. QoS sangat ditentukan oleh kualitas jaringan
yang digunakan. Beberapa parameter ini akan dijelaskan sebagai berikut:
7
menunjukkan persamaan:
𝑥 100% (2)
(paket dikirim−paket diterima)
Packet loss = paket dikirim
d. Throughput
Throughput merupakan parameter QoS yang menunjukkan suatu
kecepatan rata-rata bandwidth yang sebenarnya, diukur dengan satuan waktu
tertentu pada kondisi jaringan tertentu untuk melakukan pengiriman paket
dengan ukuran tertentu juga. Hasil throughput diambil dari jumlah paket
data yang dikirim dibagi dengan jumlah waktu yang diperlukan saat
pengiriman paket data. Persamaan (4) merupakan persamaan throughput
yang menunjukkan persamaan:
8
gambar ke 4 di bawah ini.
BAB III
Metologi Penelitian
Pada bab ini, akan dijelaskan metode penelitian yang digunakan dalam studi
mengenai optimalisasi QoS (Quality of Service) dalam manajemen bandwidth pada
server dengan fitur Load Balance dan Failover menggunakan Simple Queue dan Policy-
based Routing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah NDLC (Network
Design Life Cycle) yang melibatkan perencanaan, desain, implementasi, dan evaluasi.
Metode NDLC yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Perencanaan: Tahap perencanaan meliputi identifikasi masalah, tujuan
penelitian, serta pengumpulan data yang diperlukan. Pada tahap ini, juga
dilakukan pemilihan server dengan fitur Load Balance dan Failover sebagai
objek penelitian.
2. Desain: Pada tahap ini, dilakukan perancangan jaringan yang meliputi
konfigurasi Simple Queue dan Policy-based Routing untuk optimalisasi QoS dan
manajemen bandwidth pada server dengan fitur Load Balance dan Failover.
Desain ini melibatkan penentuan parameter dan aturan yang diperlukan.
3. Implementasi: Tahap implementasi melibatkan penerapan desain yang telah
dibuat pada server yang diteliti. Pada tahap ini, konfigurasi Simple Queue dan
9
Policy-based Routing diimplementasikan dan diuji coba.
4. Evaluasi: Tahap evaluasi melibatkan pengumpulan data sebelum dan setelah
implementasi metode optimalisasi. Data-data tersebut mencakup pengukuran
kualitas layanan, penggunaan bandwidth, serta keberhasilan dalam menerapkan
Load Balance dan Failover. Data-data ini akan dianalisis dan dibandingkan
untuk mengukur keberhasilan dari metode yang diimplementasikan.
Relevansi: Metodologi penelitian ini memiliki relevansi penting karena melibatkan
penggunaan NDLC sebagai panduan dalam merancang, mengimplementasikan, dan
mengevaluasi metode optimalisasi QoS dan manajemen bandwidth pada server
dengan fitur Load Balance dan Failover. Melalui penggunaan metode ini, peneliti
dapat menyusun langkah-langkah yang sistematis dan terukur dalam menjalankan
penelitian.
10
Gambar 0.1 Rancangan Sistem Jaringan pada Server local Arnet media
No Software Fungsi
1 Software untuk melakukan remote GUI ke
Mikrotik Winbox v.3.3.1
router mikrotik
2 Windows 11 OS Sebagai sistem operasi client
3 Iperf Sebagai manipulasi client
5 CMD Software untuk menjalankan Iperf
6 Wireshark Software untuk menjalankan Iperf
11
CPU : IPQ-4019 716MHZ
RAM : 1GB
1. Mikrotik GX4 1
Main Storage : 512M
Ethernet : 5 Ports Gigabit
CPU: QCA9531 650MHz
Mikrotik Rb952ui RAM: 64Mb
2. 1
5ghz ac
Main Storage/NAND 16MB
Modem ZTE
Modem pada Modem Huawei
3 3
server
Modem cisco
HUB LS108G 10/100/1000Mbps Auto-Negotiation RJ45 port
4 gigabit port 1 supporting Auto-MDI/MDIX
pada server
HTB Converter berfungsi sebagai converter dari kabel
5 HTB Converter 10 Lan ke kabel fiber optic dan sebaliknya
12
mengelompokkan lalu lintas jaringan yang melalui router [5]. Berikut adalah flowchart
cara kerja dari load balancing metode PCC dalam memproses dan meneruskan paket
yang berasal dari komputer client.
13
bandwidth dalam studi kasus Servel local arnet media dengan mengabungkan dua
metode Management bandwidth simple queue dan policy-based routing dalam suatu
sistem infastruktur jaringan, dimana kedua metode dapat saling melengkapi kelemahan
masih-masih.
14
Gambar 0.4Implementasi Policy-Base Routing
15
BAB IV
Hasil dan Pembahasan
Pada bab ini, akan dipresentasikan hasil penelitian serta pembahasan terkait
optimalisasi QoS (Quality of Service) dalam manajemen bandwidth menggunakan
Simple Queue dan Policy-based Routing pada server dengan fitur Load Balance dan
Failover. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan meningkatkan efisiensi
penggunaan bandwidth serta kualitas layanan pada server dengan konfigurasi Load
Balance dan Failover.
Bab 4 dalam skripsi ini menjadi tahap krusial yang mengungkapkan temuan dan
analisis yang diperoleh dari penelitian mengenai optimalisasi QoS, manajemen
bandwidth, serta penggunaan Simple Queue dan Policy-based Routing pada server
dengan fitur Load Balance dan Failover. Melalui bab ini, pembaca akan mendapatkan
pemahaman yang mendalam tentang hasil penelitian, interpretasi data, dan dampak yang
terjadi.
Selain itu, bab ini juga memiliki relevansi penting karena menyajikan
perbandingan dan pembandingan hasil penelitian ini dengan penelitian-penelitian
sebelumnya yang terkait dengan QoS, manajemen bandwidth, serta konfigurasi Load
Balance dan Failover. Dengan membandingkan hasil penelitian ini dengan penelitian
lain, kita dapat menggali wawasan lebih lanjut, mengidentifikasi perbedaan, dan
memperkuat keabsahan temuan yang diperoleh.
Bab ini juga membahas secara rinci mengenai data yang dikumpulkan selama
penelitian, metode analisis yang digunakan, serta interpretasi hasil yang diperoleh.
Pembaca akan memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana penggunaan
Simple Queue dan Policy-based Routing dalam manajemen bandwidth dapat
meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya jaringan dan kualitas layanan yang
disediakan oleh server dengan fitur Load Balance dan Failover.
Selain itu, bab ini juga akan membahas saran dan rekomendasi yang dapat
diterapkan untuk optimalisasi QoS dan manajemen bandwidth pada server dengan fitur
Load Balance dan Failover. Rekomendasi yang disajikan dalam bab ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pengetahuan dan praktik dalam
bidang QoS,manajemen bandwidth, serta konfigurasi Load Balance dan Failover.
Dengan demikian, Bab 4 ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang
16
hasil penelitian terkait optimalisasi QoS, manajemen bandwidth, serta penggunaan
Simple Queue dan Policy-based Routing pada server dengan fitur Load Balance dan
Failover. Bab ini memiliki relevansi penting dalam konteks pengembangan pengetahuan
dan praktik dalam bidang ini, serta dapat menjadi landasan untuk peningkatan efisiensi
penggunaan bandwidth dan kualitas layanan pada server dengan fitur Load Balance dan
Failover yang lebih baik.
17
Gambar 4 langkah-langkah Pengujian
Pengujian beban trafix setiap ISP diproses menggunakan software winbox, pada
penarikan beban menggunakan software iperf sebagai manipulasi client dan
pengujian dilakukan pada 10 (sepuluh) detik awal, dilaporkan setiap detik beban
trafix setiap ISP nya dan rata-rata trafix setiap ISPnya.
2. Failover
Pengujian failover dilakukan dengan menggunakan software Winbox, dengan
cara mematikan salah satu ISP dan penarikan beban menggunakan software
iperf sebagai manipulasi client durasi 20 detik.
3. Throughput
Pengujian throughput dikerjakan menggunakan software Wireshark, dengan
cara melakukan penarikan beban menggunakan software iperf sebagai
manipulasi client durasi 20 detik.
4. Packet loss
18
Pengujian packet loss dikerjakan mengunakan software Wireshark, dengan cara
melakukan penarikan beban menggunakan software iperf sebagai manipulasi
client durasi 20 detik.
5. Delay
Pengujian delay dilakukan mengunakan software Wireshark, dengan cara
melakukan penarikan beban menggunakan software iperf sebagai manipulasi
client durasi 20 detik.
6. Jitter
Pengujian jitter dilakukan mengunakan software Wireshark, dengan cara
melakukan penarikan beban menggunakan software iperf sebagai manipulasi
client durasi 20 detik.
Throughput
Hasil Tanpa Optimalisasi 11,905.54
Hasil Optimalisasi
502.00
19
bahwa hasil nilai tanpa Optimalisasi memiliki nilai throughput yang lebih besar jika
dibandingkan dengan yang telah di optimalisasi. Rata-rata nilai yang didapatkan
throughput antara sebelum dioptimalisasi dan setelah dioptimalisasi memiliki perbedaan
nilai yang cukup besar dimana hasil sebelum di Optimalisasi hanya mendapatkan nilai
502 kbps sedangkan sebelum di Optimalisasi mendapatkan hasil 11mbps, ini
dikarenakan layanan sebelum di Optimalisasi tidak dilewatkan atau tidak mendapatkan
limitasi dari metode manajemen bandwitht simple queue maka dari itu bandwitht yang
di dapatkan lebih besar namun tidak dapat dikontrol oleh teknisi jaringan.
4.2 Hasil Packet loss
Berikut ini merupakan hasil pengukuran parameter QoS packet loss berdasarkan
skenario pengujian yang telah ditentukan sebelumnya.
Packet Loss
0.036710719530
Hasil Optimalisasi
1028
Berdasarkan standarisasi TIPHON bahwa kualitas packet loss yang sangat bagus adalah
0,1%. Dari hasil penelitian pada menunjukan bahwa seluruh nilai packet loss termasuk
kategori sangat bagus pada sebelum Optimalisasi dan setelah optimaslisasi karena
memiliki nilai packet loss sebesar 0,1%, yang artinya hanya 0,1% paket yang hilang
selama proses pengiriman data, tetapi walaupun hanya sama-sama 0,1% peket yang
hilang jika di hitung secara rata-rata nya paket yang hilang setelah di Optimalisasi
terbilang lebih kecil dari pada sebelum di Optimalisasi.
20
Delay
Hasil Tanpa Optimalisasi 0.718611
Hasil pengukuran rata-rata delay menjelaskan bahwa semakin kecil nilai delay yang
dihasilkan maka semakin baik jaringan tersebut. Dapat dilihat pada Gambar bahwa data
grafik delay layanan video streaming dengan semua skenario memiliki golongan indeks
yang sangat bagus menurut standar TIPHON dengan kurang dari 150 ms. Dengan
pengujian video streaming menunjukkan antara sebelum dioptimalisasi dan dan setelah
dioptimalisasi memiliki nilai rata-rata delay yang cukup signifikan. Pada hasil
pengukuran delay yang dilewatkan setelah dioptimalisasi menunjukkan nilai yang lebih
kecil dibandingkan nilai delay pada layanan yang dilewatkan sebelum dioptimalisasi
dengan perbaikan nilai delay sebesar 0,25518 ms. Hal ini disebabkan karena setelah
dioptimalisasi sudah diterapkan metode policy-base routing yang dapat memetakan
layanan, hal ini dapat mempersingkat jalur akses paket ke tujuan.
Jitter
Hasil Tanpa Optimalisasi 435,995,000
Hasil Optimalisasi 1 21
Hasil pengukuran jitter yang dapat dilihat pada Gambar 9 bahwa data grafik jitter layanan video
streaming ini dengan kedua metode tergolong memiliki selisih indeks yang sangat besar setelah
dioptimalisasi mengahasilkan nilai yang Bagus menurut standar TIPHON yaitu antara 0-75 ms,
sedangkan yang sebelum dioptimalisasi menghasilkan 435ms yang menurut standar TIPHOP
masuk dalam kategori buruk. Pada grafik yang ditunjukkan bahwa semakin besar beban trafik
bandwidth yang diberikan maka semakin besar juga jitter-nya sehingga mengakibatkan nilai
QoS akan semakin turun. Hasil pengamatan menyatakan bahwa selisih kedua memiliki nilai
yang cukup signifikan dimana hasil pengukuran jitter yang dilewatkan setelah dioptimalisasi
menunjukkan nilai yang jauh lebih kecil dibandingkan nilai jitter pada layanan yang dilewatkan
sebelum di lakukan optimalisasi. Dengan menunjukkan perbaikan nilai jitter sebesar 435,994
ms. Hal ini juga disebabkan karena setelah dioptimalisasi sudah diterapkan metode
policy-base routing yang dapat memetakan layanan, hal ini dapat mempersingkat jalur
akses paket ke tujuan dan menguragi terjadinya miss paket pada saat pengiriman paket
ke tujuan hal ini lah yang menyebabkan delay yang relative lebih kecil dari pada
sebelum di lakukan optimalisasi.
Parameter QoS
Titel Throughput Packet Loss Delay Jitter
Hasil Optimalisasi 502 k 0,0367107% 0,463431 Ms 0,799158 Ms
Hasil Tanpa Optimalisasi 11.905,54 M 0,99,996% 0,718611 Ms 435.995.000 Ms
BAB V
KESIMPULAN
22
Policy-based Routing secara signifikan meningkatkan layanan pada server lokal
Arnet Media. Penggunaan metode tersebut memungkinkan manajemen
bandwidth yang lebih efektif dan mengoptimalkan alokasi sumber daya jaringan.
2. Optimalisasi Bandwidth Management: Dengan menerapkan metode Simple
Queue dan Policy-based Routing, manajemen bandwidth pada server load
balance failover dapat dioptimalkan. Hal ini memungkinkan pengaturan prioritas
layanan dan alokasi bandwidth yang lebih efisien.
3. Peningkatan kinerja server: Setelah melakukan optimalisasi dengan Simple
Queue dan Policy-based Routing, kinerja server lokal Arnet Media mengalami
peningkatan yang signifikan. Dalam kondisi beban jaringan yang tinggi, server
dapat mengatasi dengan lebih baik dan membagi beban secara merata.
4. Peningkatan keandalan dan ketersediaan: Implementasi server load balance
failover dengan metode optimalisasi menghasilkan peningkatan keandalan dan
ketersediaan layanan. Jika satu server mengalami kegagalan, lalu lintas jaringan
dapat secara otomatis dialihkan ke server lainnya, sehingga waktu henti layanan
dapat diminimalisir.
5. Hasil terbukti: Data yang diperoleh setelah menerapkan metode Simple Queue
dan Policy-based Routing menunjukkan hasil yang signifikan dan terbukti secara
empiris. Peningkatan layanan, manajemen bandwidth yang lebih baik, dan
kinerja server yang meningkat adalah bukti nyata keberhasilan dari optimalisasi
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
23
[3] “FUP - IndiHome Partner.” [Link] (accessed Nov. 22, 2022).
[4] “Layanan [Link] • [Link].” [Link] (accessed Nov. 22,
2022).
[5] T. Rahman, E. Sulistianto, A. Sudibyo, S. Sumarna, and B. Wijonarko, “Per Connection Classifier Load
Balancing dan Failover MikroTik pada Dua Line Internet,” JIKA (Jurnal Informatika), vol. 5, no. 2, pp.
195–209, Jun. 2021, Accessed: Sep. 30, 2022. [Online]. Available:
[Link]
[6] “Perbandingan Kinerja Teknologi Failover berbasis Klaster (Heartbeat) dengan Teknologi Failover
berbasis Jaringan (Keepalived) | Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.”
[Link] (accessed Sep. 30, 2022).
[7] E. Yuliansyah, S. Saputra, and I. Ali, “IMPLEMENTASI REDUNDANT LINK UNTUK
MEMINIMALISIR DOWNTIME DENGAN METODE FAILOVER (STUDI KASUS: PT KEMUNING
PERSADA),” Jurnal Publikasi Ilmu Komputer dan Multimedia, vol. 1, no. 3, pp. 230–240, Sep. 2022,
doi: 10.55606/JUPIKOM.V1I3.575.
[8] D. Teknik, K. Politeknik, and A. Selatan, “IMPLEMENTASI METODE SIMPLE QUEUE DAN
QUEUE TREE UNTUK OPTIMASI MANAJEMEN BANDWITH JARINGAN KOMPUTER DI
POLITEKNIK ACEH SELATAN,” METHOMIKA: Jurnal Manajemen Informatika & Komputerisasi
Akuntansi, vol. 2, no. 1, pp. 43–50, Apr. 2018, doi: 10.46880/JMIKA.VOL2NO1.PP43-50.
[9] A. S. Abdullah, A. Fuad, M. Jamil, J. Jati Metro, and K. Ternate Selatan, “Penerapan Metode Simple
Queue Pada Manajemen Bandwith untuk mengoptimalkan Bandwith Di Laboratorium Program Studi
Teknik Informatika,” Jurnal Informatika dan Komputer, vol. 2, no. 1, pp. 6–13, May 2019, Accessed:
Nov. 26, 2022. [Online]. Available: [Link]
[10] A. Syaifuddin, M. Yunus, R. Sundari, and S. PPKIA Pradnya Paramita Malang Jl Laksda Adi Sucipto,
“PERBANDINGAN METODE SIMPLE QUEUES DAN QUEUES TREE UNTUK OPTIMASI
MANAJEMEN BANDWIDTH JARINGAN KOMPUTER DI STMIK PPKIA PRADNYA PARAMITA
MALANG,” Jurnal Teknologi Informasi, vol. 4, no. 2.
[11] S. Informatika, J. Komputer, and D. Aplikasi, “MANAJEMEN INTERNET SERVICE PROVIDER
DENGAN MENGGUNAKAN METODE POLICY BASED ROUTE STUDI KASUS: GEDUNG
SERBA GUNA ISTANAKU,” 2021.
[12] S. Hidayatulloh and M. Mastur Rifa, “Penerapan Simple Queue Dalam Pengelolaan Bandwidth Local
Area Network (Studi Kasus: PT Sumber Berkah Niaga).” [Online]. Available:
[Link]
[13] D. E. Cahyono, “IMPLEMENTASI LOAD BALANCE MENGGUNAKAN METODE POLICY BASED
ROUTE (PBR) PADA POLITEKNIK SAWUNGGALIH AJI KUTOARJO”, [Online]. Available:
[Link].
[14] B. K. Simpony, “Simple Queue Untuk Manajemen User dan Bandwidth di Jaringan Hotspot
Menggunakan Mikrotik,” Jurnal Informatika, vol. 8, no. 1, pp. 87–92, Apr. 2021, doi:
10.31294/JI.V8I1.9385.
[15] R. Pambudi and M. A. Muslim, “Implementasi Policy Base Routing dan Failover Menggunakan Router
Mikrotik untuk Membagi Jalur Akses Internet di FMIPA Unnes,” Jurnal Teknologi dan Sistem Komputer,
vol. 5, no. 2, p. 57, May 2017, doi: 10.14710/jtsiskom.5.2.2017.57-61.
24
25
iii