0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan29 halaman

Optimalisasi QoS Bandwidth di Desa Sejahterah

Diunggah oleh

Muhammad Arbain 160
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan29 halaman

Optimalisasi QoS Bandwidth di Desa Sejahterah

Diunggah oleh

Muhammad Arbain 160
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Optimalisasi QoS Bandwidth Management Server Load Balance Failover

Menggunakan Simple Queue dan Policy-based Routing


(Studi kasus: Server Local di Desa Sejahterah)

Proposal Tugas Akhir

Diajukan Untuk Memenuhi


Persyaratan Guna Meraih Gelar Sarjana
Informatika Universitas Muhammadiyah Malang

Muhammad Arbain
201810370311160

Bidang Minat

Sistem dan Keamanan Jaringan

PROGRAM STUDI INFORMATIKA


FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


2023
i
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN...................................................................................i

DAFTAR ISI..........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

1.1 LATAR BELAKANG....................................................................................1

1.1 RUMUSAN MASALAH...............................................................................3

1.2 TUJUAN PENELITIAN................................................................................3

1.3 BATASAN PENELITIAN.............................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................5

2.2 Analisa Kebutuhan.........................................................................................6

2.2.1 Spesifikasi Sistem....................................................................................6

2.2.2 Spesifikasi Perangkat Lunak....................................................................7

2.2.3 Spesifikasi perangkat keras......................................................................7

2.3 Rancangan Sistem Jaringan pada Server local Arnet media..........................8

2.4 Skenerio Pengujian.......................................................................................10

BAB III KESIMPULAN......................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


QoS adalah kemampuan untuk menggambarkan suatu tingkatan pencapaian
didalam suatu system komunikasi data. “Mekanisme pengaturan bandwidth
dengan tujuan mencegah terjadinya monopoli penggunaan bandwidth sehingga
semua client bisa mendapatkan jatah bandwidth masing-masing” [1]. Penggunaan
internet secara masal mengakibatkan menurunnya performansi jaringan ini juga
dapat mempengaruhi QoS. Salah cara untuk mengurangi penurunan performansi
pada jaringan dengan melakukan manajemen bandwidth.

Management Bandwidth, adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk


mengelola dan mengoptimalkan jaringan dengan menerapkan layanan Quality of
Service (QOS) untuk menetapkan tipe-tipe lalu lintas jaringan. Masalah yang
masih terus dihadapi para network enginner pada masa kini khususnya di
Indonesia adalah padatnya lalu lintas jaringan, sehingga dibutuhkannya
pengelolaan jaringan serta alokasi bandwidth yang lebih efisien [2]. Bandwidth
adalah nilai komsumsi transfer data yang dihitung dalam bits per second, antara
server dan client dalam waktu tertentu. Secara umum bandwidth adalah luas atau
rentang frekuensi yang digunakan oleh sinyal dalam media transmisi [1]. Case
study dari penelitian akan mengambil sampel data serta akan diimplementasikan
pada server local mikrotik yang menggunakan 2 ISP (Internet Service Provider)
ISP pertama mengunakan indihome paket internet 200mbps, ISP kedua
menggunakan WMS (Warehouse Management System) paket internet 20 mbps
dimana kedua menggunakan ISP dari PT. Telkom. Adapun yang menjadi
pembeda serta menjadikan studi kasus ini unik selain ukuran bandwidth iyalah
ketentuan layanan yang berbeda. Layanan indihome memiliki ketentuan batas
FUP (Fair Usage Policy) yang artinya adalah kebijakan batas pemakaian wajar
dimana jika pemakaian bandwidth melebihi pemakaikan wajar atau melebihi
3000GB maka kecepatan internet akan dikuragi 50% dari paket layanan [3],
sedangkan WMS tidak memiliki kententuan FUP pada layanannya [4] namun
WMS memiki kekurang dimana jitter atau ping dalam WMS tidak stabil dan
sangat fluktuatif. Hal ini akan berpengaruh pada kestabilan akses terhadap
berbagai layanan yang ada di internet.

Load balancing merupakan salah satu fitur yang dapat digunakan untuk
mendistribusikan beban jaringan terhadap sebuah layanan pada beberapa server
atau perangkat jaringan bila ada permintaan dari pengguna jaringan [5].
Keunggulan dari penerapan load balancing adalah peningkatan performa
jaringan yang sudah ada secara keseluruhan tanpa harus menambah biaya
untuk meningkatkan bandwidth jaringan internet. Failover adalah metode yang
dapat meningkatkan efektivitas metode load balance. Failover dapat memberikan
kemampuan untuk berpindah jalur dalam proses pengiriman data jika salah satu
sistem atau perangkat jaringan mengalami permasalahan. Hal ini dapat dicapai
dengan penyediaan jalur cadangan atau backup terhadap sistem atau perangkat
jaringan yang mengalami permasalahan [6]. Metode failover diterapkan agar
koneksi internet tidak terputus meskipun salah satu jalur koneksi internet mati
atau dalam status down [7]. Load balance memiliki beberapa pilihan algoritma
dalam penerapanya, algoritma yang digunakan pada load balance dan failover di
studi kasus ini adalah Per Connection Classifier (PCC) dimana algoritma ini
bekerja dengan cara mengelompokkan lalu lintas jaringan yang melalui router [5].

Simple queue merupakan metode melimit bandwidth berdasarkan data


rate dengan cara membagi uplod dan download tiap user. Dari Beberapa
penelitian yang menerapkan manajemen bandwidth dalam penelitiannya dapat
disimpulkan metode simple queue cukup efektif jika diterapkan pada jaringan
skala menengah seperti komplek perumahan atau desa [8]. Simple queue
mendapatkan delay dengan rata-rata sebesar 0,0302839119 ms, throughput
memiliki rata-rata sebesar 858,6 kbps, dan loss memiliki rata-rata 1,308%
dengan kategori standarisasi tiphon ini dikatakan memuaskan. TIPHON
merupakan standar penilaian parameter QoS yang dikeluarkan oleh badan standar
ETSI (European Telecommunications Standards Institue) [9]. Pada penelitian
yang lain metode simple queues dinilai lebih sederhana dalam proses
konfigurasinya, tidak dapat ditembus oleh apps download manager, namun
banyak bandwidth yang terbuang [10].

2
Metode yang lain yang digunakan untuk manajemen bandwidth adalah
policy-based routing. PBR merupakan metode penandaan routing yang
ditetapkan oleh pengguna dan IP (internet protocol) sebagai parameternya.
Disimpulkan dari beberapa penelitian yang membahas metode load balance dan
policy-based routing, PBR dapat meningkatkan efektifitas distribusikan beban
trafik pada dua atau lebih jalur koneksi secara seimbang, agar trafik dapat
berjalan optimal, memaksimalkan throughput, memperkecil waktu tanggap dan
menghindari overload pada salah satu jalur koneksi [11]. Kelemahan dari metode
PBR ini adalah sering terjadi overload bandwidth pada user, sehingga metode
simple queue dibutuhkan untuk mencegah overload pada user [9].

Dari latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini akan dilakukan
“Optimalisasi QoS Bandwidth Management Server Load Balance dan Failover”.
studi kasus server local di Desa Sejahterah kecamatan Batulicin Kabupaten
Tanah Bumbu Kalimantan Selatan dengan nama layanan Arnet media. Dengan
diterapkan metode simple queue dan policy-based routing pada penelitian ini
diharapkan dapat meningkatkan efektifitas alokasi bandwidth sehingga lebih
efesien. Metode simple queue sinkronasi dengan metode load balance PCC dan
diharapkan mampu memberikan Optimalisasi jaringan dari segi efektifitas dalam
manajemen bandwidth serta dapat mempermudah dalam monitoring bandwidth
jaringan [12]. Selain itu juga diharapkan dapat mengoptimalisasi dari segi
efesiensi lalu lintas bandwidth dengan menambahkan metode policy-based
routing yang bertujuan mempersingkat jalur paket data jaringan ke alamat yang
dituju, ini juga dapat mempekecil jitter dan mempercepat proses pengiriman
paket jaringan [11].

1.1 RUMUSAN MASALAH


Dari uraian latar belakang didapatkan rumusan masalah yaitu, bagaimana
cara meningkatkan efektifitas serta mengoptimalisasikan management bandwidth
dan efesiensi lalu lintas bandwidth pada server lokal di Desa Sejahterah dengan
sistem load balance dan failover system menggunakan metode manajemen
bandwidth simple queue dan policy-based routing.

1.2 TUJUAN PENELITIAN

3
Tujuan serta manfaat penulis mengangkat topik ini dalam Tugas Akhir
adalah sebagai berikut:

1. Mengoptimalisasikan manajemen bandwidth pada server lokal mikrotik dengan


sistem loadbalance dan failover pada jaringan server local di Desa Sejahterah
menggunakan metode simple queue dan policy based routing.

2. Melakukan analisis performa QoS (Quality of Service) metode yang sudah


diimplementasikan pada jaringan yang dikelola oleh server lokal (Arnet Media)
di Desa Sejahterah.

1.3 BATASAN PENELITIAN


Pada penelitian ini memiliki beberapa batasan yaitu sebagai berikut:
1 Analisis dan pengumpulan data terbatas pada metode yang digunakan dan
implementasi jaringan dilakukan hanya pada Studi kasus server lokal di
Desa Sejahterah (Arnet Media).
2 Implementasi dan pegujian terbatas pada metode yang diusulkan peneliti
yaitu implementasi metode simple queue, dan Sistem Pemisahan lalu
lintas koneksi (Policy-based Routing System) untuk penyelesaian masalah
pada server lokal di Desa Sejahterah (Arnet Media).

4
BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1 Tinjauan Pustaka


Table 0.1 Tinjauan Pustaka

Authors Title Kesimpulan

Subandri1, Manajemen Internet penerapan 2 (Dua) ISP yang berbeda


Sabar Service Provider menjadi satu jalur dengan
Hanadwiputra2, dengan Menggunakan menggunakan metode policy based
Zaenal Mutaqin Metode Policy Based route untuk di Gedung Serba Guna
S3, Iman Nur Route studi Kasus: Istanaku sebagai berikut:
Arifin4 Gedung Serba Guna [Link] adanya system jaringan
Istanaku dengan penerapan policy based
route, jaringan internet di Gedung
Serba Guna Istanaku menjadi lebih
stabil walaupun dengan memiliki 2
(Dua) jalur ISP yang berbeda.
[Link] adanya monitoring, dapat
melihat beban trafik pada 2 (Dua) jalur
ISP tersebut.
[Link] terhadap infrastruktur
internet berguna untuk mengoordinasi
setiap jalur akses internet agar
pengguna tamu yang menggunakan
wifi internet di Gedung Serba Guna
Istanaku dan kantor Staf [11]
Damar Eko Implementasi Load Dari kasus tersebut memang PBR
Cahyono Balance tidak seefektif ECMP dalam
Menggunakan Metode pembagian beban jalur, namun metode
Policy Based Route PBR memiliki keunggulan untuk
(PBR) Pada Politeknik menghilangkan masalah yang terdapat
Sawunggalih Aji pada metode ECMP (dalam kasusi ni).
Kutoarjo Dan kelemahan PBR sendiri adalah
kebalikan dari kelebihan metode ECMP
(gampang terjadi overload) [13].
Bambang Simple Queue Untuk Berdasarkan penelitian yang telah

5
Kelana Manajemen User dan dilakukan bahwa sebelum
Simpony Bandwidth di Jaringan diterapkan manajemen user dan
Hotspot Menggunakan metode pengaturan bandwidth, client
Mikrotik yang menggunakan layanan hotspot
mendapatkan kualitas bandwidth yang
tidak sesuai karena tidak adanya
manajemen user dan pembagian
bandwidth antar pemakai hotspot. Serta
perangkat keras yang digunakan
hanya masih menggunakan router dari
penyedia layanan internet. Setelah
adanya penambahan perangkat router
mikrotik dan penerapan manajemen
user dan bandwidth maka client yang
akan terhubung ke layanan hotspot
diharuskan login dengan user dan
password yang sudah disediakan,
mikrotik router berperan dalam
melakukan limitasi bandwidth simple
queue pada user hotspot tersebut,
sehingga setiap client dipastikan
mendapatkan alokasi IP Address
dan bandwidth yang stabil [14].
1 Manajemen Dengan adanya sistem manajemen
Frendi Bandwidth Bandwidth menggunakan metode simple
Aquaris Menggunakan Metode queue, masing-masing komputer client
2 Simple dapat memperoleh Bandwidth secara
Misinem Queue Pada Dinas merata dan adil sesuai dengan
Komunikasi Dan pembagian yang diinginkan serta
Informatika Kota manajemen bandwidth dengan
Palembang menggunakan mikrotik RB951UI-2Hnd
lebih mudah dikarenakan ada aplikasi
untuk mengatur maupun untuk remote
client yaitu menggunakan aplikasi
Winbox dan dalam metode simple queue
yang diterapkan pada mikrotik RB951UI-
2Hnd dapat menyelesaikan permasalahan
yang terjadi pada pembagian upload dan
download untuk mengakses internet yang
dibutuhkan [1].

Kemudian untuk Quality of Service (QoS) dapat dikatakan sebagai


terminologi yang digunakan untuk mendefinisikan karakteristik suatu layanan
(service) jaringan [0]. Dari segi networking, QoS mengacu kepada kemampuan

6
memberikan pelayanan berbeda kepada lalu lintas jaringan. Parameter QoS adalah
delay, jitter, packet loss, throughput. QoS sangat ditentukan oleh kualitas jaringan
yang digunakan. Beberapa parameter ini akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Delay (Waktu Tunda)


Delay adalah waktu yang dibutuhkan data untuk menempuh jarak dari
asal ke tujuan. Delay dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, kongesti atau
juga waktu proses yang lama. Delay versi Telecommunications and Internet
Protocol Harmonization Over Networks (TIPHON) dikelompokkan menjadi
empat kategori seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kategori Delay


Kategori Delay
Degradasi
Sangat Bagus <150 ms
Bagus 150 ms s/d 300 ms
Sedang 300 ms s/d 450 ms
Buruk >450 ms

Persamaan (1) merupakan perhitungan delay yang menunjukkan persamaan:


total 𝑑𝑒𝑙𝑎𝑦
jumlah total paket yang diterima
Rata-rata Delay =

b. Packet Loss (Paket Hilang)


Merupakan suatu parameter yang menggambarkan suatu kondisi yang
menunjukkan jumlah total paket yang hilang, dapat terjadi karena collision dan
congestion pada jaringan. Hal ini disebabkan banyaknya variasi panjang
antrian paket dalam waktu proses paket dan waktu penghimpunan ulang paket-
paket. Packet loss versi Telecommunications and Internet Protocol
Harmonization Over Networks (TIPHON) dikelompokkan menjadi empat
kategori seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Kategori Packet Loss


Kategori Packet Loss
Degradasi
Sangat Bagus 0%
Bagus 3%
Sedang 15%
Buruk 25%

Persamaan (2) merupakan perhitungan packet loss yang

7
menunjukkan persamaan:

𝑥 100% (2)
(paket dikirim−paket diterima)
Packet loss = paket dikirim

c. Jitter (Variasi Waktu Tunda)


Jitter adalah jumlah variasi waktu kedatangan paket-paket yang
dikirimkan terus-menerus dari satu terminal (source) ke terminal lain
(destination) pada jaringan. Delay antrian pada router dan switch dapat
menyebabkan jitter [8]. Jitter versi Telecommunications and Internet Protocol
Harmonization Over Networks (TIPHON) mengelompokkan menjadi empat
kategori penurunan kinerja jaringan berdasarkan nilai jitter seperti pada Tabel
3.

Tabel 3. Kategori Jitter


Kategori Jitter
Degradasi
Sangat Bagus 0 ms
Bagus 0 ms s/d 75 ms
Sedang 75 ms s/d 125 ms
Buruk 125 ms s/d 225 ms

Persamaan (2) merupakan perhitungan jitter yang


menunjukkan persamaan:
total variasi 𝑑𝑒𝑙𝑎𝑦
Jitter = otal paket yang diterima − 1

d. Throughput
Throughput merupakan parameter QoS yang menunjukkan suatu
kecepatan rata-rata bandwidth yang sebenarnya, diukur dengan satuan waktu
tertentu pada kondisi jaringan tertentu untuk melakukan pengiriman paket
dengan ukuran tertentu juga. Hasil throughput diambil dari jumlah paket
data yang dikirim dibagi dengan jumlah waktu yang diperlukan saat
pengiriman paket data. Persamaan (4) merupakan persamaan throughput
yang menunjukkan persamaan:

jumlah data yang dikirim


Throughput waktu
= pengiriman data

Pengujian dilakukan dengan cara yang sama pada setiap metodenya


menggunakan Software winbox, Software iperf, Software CMD dan Software
Wireshark dan Setiap parameter Quality of Service diuji satu demi satu seperti

8
gambar ke 4 di bawah ini.

BAB III
Metologi Penelitian
Pada bab ini, akan dijelaskan metode penelitian yang digunakan dalam studi
mengenai optimalisasi QoS (Quality of Service) dalam manajemen bandwidth pada
server dengan fitur Load Balance dan Failover menggunakan Simple Queue dan Policy-
based Routing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah NDLC (Network
Design Life Cycle) yang melibatkan perencanaan, desain, implementasi, dan evaluasi.
Metode NDLC yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Perencanaan: Tahap perencanaan meliputi identifikasi masalah, tujuan
penelitian, serta pengumpulan data yang diperlukan. Pada tahap ini, juga
dilakukan pemilihan server dengan fitur Load Balance dan Failover sebagai
objek penelitian.
2. Desain: Pada tahap ini, dilakukan perancangan jaringan yang meliputi
konfigurasi Simple Queue dan Policy-based Routing untuk optimalisasi QoS dan
manajemen bandwidth pada server dengan fitur Load Balance dan Failover.
Desain ini melibatkan penentuan parameter dan aturan yang diperlukan.
3. Implementasi: Tahap implementasi melibatkan penerapan desain yang telah
dibuat pada server yang diteliti. Pada tahap ini, konfigurasi Simple Queue dan

9
Policy-based Routing diimplementasikan dan diuji coba.
4. Evaluasi: Tahap evaluasi melibatkan pengumpulan data sebelum dan setelah
implementasi metode optimalisasi. Data-data tersebut mencakup pengukuran
kualitas layanan, penggunaan bandwidth, serta keberhasilan dalam menerapkan
Load Balance dan Failover. Data-data ini akan dianalisis dan dibandingkan
untuk mengukur keberhasilan dari metode yang diimplementasikan.
Relevansi: Metodologi penelitian ini memiliki relevansi penting karena melibatkan
penggunaan NDLC sebagai panduan dalam merancang, mengimplementasikan, dan
mengevaluasi metode optimalisasi QoS dan manajemen bandwidth pada server
dengan fitur Load Balance dan Failover. Melalui penggunaan metode ini, peneliti
dapat menyusun langkah-langkah yang sistematis dan terukur dalam menjalankan
penelitian.

3.1 Analisis Sistem Jaringan pada Server local Arnet media


Pada Sistem studi kasus server local di Desa Sejahterah (Arnet Media) menggunakan
dua koneksi internet dari dua koneksi provider yang sama yakni ISP utama
menggunakan indihome dengan paket layanan 200mbps sedangkan ISP sekunder
menggunakan WMS dengan paket layanan 20mbps. Dua koneksi internet disediakan
oleh PT. Telkom Indonesia (Telkom).
Jumlah member atau user dalam server local tersebut berjumlah kurang lebih 50
kepala keluarga (rumah), yang dibagi menjadi user Hotspot, dan user PPPoE (Point-to-
Point Protocol over Ethernet), dan memiliki pilihan level member paket layanan dari
reguler, social media, gamers dan Opsional (sesuai ketentuan dan request) dari calon
member terkait. Adapun pendistribusian layanan menggunakan system host to host
dengan kabel optic dari rumah ke rumah pelangan.

10
Gambar 0.1 Rancangan Sistem Jaringan pada Server local Arnet media

3.2 Analisis Spesifikasi Perangkat Lunak


Analisis perangkat lunak bertujuan untuk mengetahui perangkat lunak apa yang
digunakan untuk melakukan pengujian jaringan pada server local di Desa Sejahterah
agar data yang didapatkan valid dan efektif dalam pengujiannya. Di bawah ini adalah
deskripsi perangkat lunak yang diperlukan untuk menjalankan tes kualitas jaringan pada
server local di Desa Sejahterah (Arnet media).
Table 0.2 Spesifikasi Perangkat Lunak

No Software Fungsi
1 Software untuk melakukan remote GUI ke
Mikrotik Winbox v.3.3.1
router mikrotik
2 Windows 11 OS Sebagai sistem operasi client
3 Iperf Sebagai manipulasi client
5 CMD Software untuk menjalankan Iperf
6 Wireshark Software untuk menjalankan Iperf

3.3 Analisis Spesifikasi perangkat keras


Berikut adalah kebutuhan perangkat keras yang digunakan dalam
infrastruktur jaringan pada server local Mikrotik di desa sejahterah:
Table 0.3 Spesifikasi perangkat Keras

No. Perangkat Jumlah Spesifikasi atau fungsi

11
CPU : IPQ-4019 716MHZ
RAM : 1GB
1. Mikrotik GX4 1
Main Storage : 512M
Ethernet : 5 Ports Gigabit
CPU: QCA9531 650MHz
Mikrotik Rb952ui RAM: 64Mb
2. 1
5ghz ac
Main Storage/NAND 16MB
Modem ZTE
Modem pada Modem Huawei
3 3
server
Modem cisco
HUB LS108G 10/100/1000Mbps Auto-Negotiation RJ45 port
4 gigabit port 1 supporting Auto-MDI/MDIX
pada server
HTB Converter berfungsi sebagai converter dari kabel
5 HTB Converter 10 Lan ke kabel fiber optic dan sebaliknya

6 Modem client 50 Modem Totolink N200RE


Hub pada host Hub pada host client berfungsi sebagai media
7 10
client penghubung client-client ke server (Arnet media)

3.4 Analisis rancangan sistem pada Server Local Arnet media


Pada jaringan yang sudah ada digunakan dua ISP sebagai sumber internet dalam
arsitekturnya di server lokal Arnet media, ISP pertama mengunakan indihome dengan
bandwidth sebesar 200mbps, ISP kedua menggunakan WMS (Warehouse Management
System) dengan bandwidth 20mbps, kedua ISP menggunakan layanan dari provider
yang menuju ke internet. sama dari IndiHome dibawah naungan PT. Telkom Indonesia.
Adapun pendistribusian layanan menggunakan system host to host dengan kabel
optic dari rumah ke rumah pelangan. Pada sistem jaringan di server local ini terdapat
dua metode utama yang sudah diterapkan dalam Sistem jaringan di server local (Arnet
media), Load balancing sebagai mekanisme pendistribusian beban jaringan [5], dan
failover sebagai mekanisme backup jika salah satu sistem atau perangkat jaringan
mengalami permasalahan [6]. Load balance memiliki banyak pilihan algoritma dalam
penerapanya, algoritma yang digunakan load balance pada studi kasus ini adalah Per
Connection Classifier (PCC) dimana algoritma ini bekerja dengan cara

12
mengelompokkan lalu lintas jaringan yang melalui router [5]. Berikut adalah flowchart
cara kerja dari load balancing metode PCC dalam memproses dan meneruskan paket
yang berasal dari komputer client.

Gambar 0.2 flowchart metode PCC


Keuntungan dari metode PCC
yaitu memiliki kemampuan dalam menentukan Gateway pada setiap paket data yang
masih terkait data yang sebelumnya sudah dirutekan salah satu Gateway.
3.5 Desain dan Implementasi Pengoptimalan Sistem pada server local Arnet media
Pada Sistem jaringan di server local Arnet media masih belum terdapat
mekanisme manejemen bandwidth, maka dari itu pada penelitian yang akan di lakukan
ini akan mengimplementasikan metode untuk melakukan mekanisme manajemen

13
bandwidth dalam studi kasus Servel local arnet media dengan mengabungkan dua
metode Management bandwidth simple queue dan policy-based routing dalam suatu
sistem infastruktur jaringan, dimana kedua metode dapat saling melengkapi kelemahan
masih-masih.

Gambar 0.3 Implementasi Simple Quequ

Metode simple queue memiliki kelemahan dalam pengelolan manajemen


bandwidth, dimana pengelolan parameternya hanya terbatas pada data rate (download
dan upload) tetapi memiliki kelebihan sesuai dengan namanya sangat mudah di
implementasikan dan tidak dapat ditembus oleh apps download manager, namun
banyak bandwidth yang terbuang.

14
Gambar 0.4Implementasi Policy-Base Routing

Metode policy-based routing berfungsi untuk memetakan jalur distribusikan


beban trafik yang dapat di setting ke berbagai parameter jalur distribusi dari IP address,
dan alamat port, dapat dipetakan dengan metode policy-based Routing di dalam firewall
mangle [15]. Namun kekurang dari metode PBR ini adalah sering terjadi overload
bandwidth pada user, untuk menutupi kekurang ini metode simple queue dibutuhkan
untuk mencegah overload pada user.
Sistem yang sudah di implementasi pada studi kasus server local di Desa
Sejahterah (Arnet Media) menggunakan dua koneksi internet dari dua koneksi provider
yang sama yakni ISP utama menggunakan indihome dengan paket layanan 200mbps
sedangkan ISP sekunder menggunakan WMS dengan paket layanan 20mbps. Dua
koneksi internet disediakan oleh PT. Telkom Indonesia (Telkom).
Jumlah member atau user dalam server local tersebut berjumlah kurang lebih 50
kepala keluarga (rumah), yang dibagi menjadi user Hotspot, dan user PPPoE (Point-to-
Point Protocol over Ethernet), dan memiliki pilihan level member paket layanan dari
reguler, social media, gamers dan Opsional (sesuai ketentuan dan request) dari calon
member terkait. Adapun pendistribusian layanan menggunakan system host to host
dengan kabel optic dari rumah ke rumah pelangan.

15
BAB IV
Hasil dan Pembahasan
Pada bab ini, akan dipresentasikan hasil penelitian serta pembahasan terkait
optimalisasi QoS (Quality of Service) dalam manajemen bandwidth menggunakan
Simple Queue dan Policy-based Routing pada server dengan fitur Load Balance dan
Failover. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan meningkatkan efisiensi
penggunaan bandwidth serta kualitas layanan pada server dengan konfigurasi Load
Balance dan Failover.
Bab 4 dalam skripsi ini menjadi tahap krusial yang mengungkapkan temuan dan
analisis yang diperoleh dari penelitian mengenai optimalisasi QoS, manajemen
bandwidth, serta penggunaan Simple Queue dan Policy-based Routing pada server
dengan fitur Load Balance dan Failover. Melalui bab ini, pembaca akan mendapatkan
pemahaman yang mendalam tentang hasil penelitian, interpretasi data, dan dampak yang
terjadi.
Selain itu, bab ini juga memiliki relevansi penting karena menyajikan
perbandingan dan pembandingan hasil penelitian ini dengan penelitian-penelitian
sebelumnya yang terkait dengan QoS, manajemen bandwidth, serta konfigurasi Load
Balance dan Failover. Dengan membandingkan hasil penelitian ini dengan penelitian
lain, kita dapat menggali wawasan lebih lanjut, mengidentifikasi perbedaan, dan
memperkuat keabsahan temuan yang diperoleh.
Bab ini juga membahas secara rinci mengenai data yang dikumpulkan selama
penelitian, metode analisis yang digunakan, serta interpretasi hasil yang diperoleh.
Pembaca akan memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana penggunaan
Simple Queue dan Policy-based Routing dalam manajemen bandwidth dapat
meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya jaringan dan kualitas layanan yang
disediakan oleh server dengan fitur Load Balance dan Failover.
Selain itu, bab ini juga akan membahas saran dan rekomendasi yang dapat
diterapkan untuk optimalisasi QoS dan manajemen bandwidth pada server dengan fitur
Load Balance dan Failover. Rekomendasi yang disajikan dalam bab ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pengetahuan dan praktik dalam
bidang QoS,manajemen bandwidth, serta konfigurasi Load Balance dan Failover.
Dengan demikian, Bab 4 ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang

16
hasil penelitian terkait optimalisasi QoS, manajemen bandwidth, serta penggunaan
Simple Queue dan Policy-based Routing pada server dengan fitur Load Balance dan
Failover. Bab ini memiliki relevansi penting dalam konteks pengembangan pengetahuan
dan praktik dalam bidang ini, serta dapat menjadi landasan untuk peningkatan efisiensi
penggunaan bandwidth dan kualitas layanan pada server dengan fitur Load Balance dan
Failover yang lebih baik.

4.1 Evaluasi Skenerio Pengujian

Gambar 3 Skenerio pegujian

Pada skenario pengujian menunjukkan bagaimana alur pengujian akan


dilakukan, Komponen yang diujikan pada penelitian ini adalah mikrotik router
sebagai tempat sistem atau mekanisme untuk memproses metode laod balancing
PCC failover dengan software winbox untuk mengendalikan sebuah server
mikrotik, software simple queue dan Policy-based routing. Wireshark sebagai
monitoring dan software iperf sebagai beban trafik, informasi yang didapat adalah
monitoring throughput, delay, jitter, dan packet loss. Metode yang digunakan pada
penelitian ini di antaranya load balance PCC, failover, hierarki simple queue dan
policy-based routing.

17
Gambar 4 langkah-langkah Pengujian

1. Beban Trafix setiap ISP

Pengujian beban trafix setiap ISP diproses menggunakan software winbox, pada
penarikan beban menggunakan software iperf sebagai manipulasi client dan
pengujian dilakukan pada 10 (sepuluh) detik awal, dilaporkan setiap detik beban
trafix setiap ISP nya dan rata-rata trafix setiap ISPnya.
2. Failover
Pengujian failover dilakukan dengan menggunakan software Winbox, dengan
cara mematikan salah satu ISP dan penarikan beban menggunakan software
iperf sebagai manipulasi client durasi 20 detik.
3. Throughput
Pengujian throughput dikerjakan menggunakan software Wireshark, dengan
cara melakukan penarikan beban menggunakan software iperf sebagai
manipulasi client durasi 20 detik.

4. Packet loss

18
Pengujian packet loss dikerjakan mengunakan software Wireshark, dengan cara
melakukan penarikan beban menggunakan software iperf sebagai manipulasi
client durasi 20 detik.
5. Delay
Pengujian delay dilakukan mengunakan software Wireshark, dengan cara
melakukan penarikan beban menggunakan software iperf sebagai manipulasi
client durasi 20 detik.
6. Jitter
Pengujian jitter dilakukan mengunakan software Wireshark, dengan cara
melakukan penarikan beban menggunakan software iperf sebagai manipulasi
client durasi 20 detik.

Hasil akhir yang diperoleh dalam percobaan ini adalah membandingkan


hasil yang diperoleh sebelum Impelementasi metode simple queue dan Policy-based
Routing dengan Hasil yang diperoleh sesudah Penerapan Metode simple queue dan
policy-based Routing tersebut dalam Studi kasus server lokal Arnet media di Desa
Sejahterah.

4.2 Hasil Throughput


Berikut Merupakan Hasil test perhitungan parameter QoS throughput
berdasarkan skenaria pengujian yang telah di tentukan Sebelumnya.

Throughput
Hasil Tanpa Optimalisasi 11,905.54
Hasil Optimalisasi
502.00

Hasil Optimalisasi Hasil Tanpa Opti-


malisasi

Through- 502.00 11,905.54


put

Gambar 0.5 Hasil Throughput

Hasil pengukuran throughput menjelaskan bahwa nilai throughput adalah bandwidth


aktual yang terukur pada saat melakukan proses pengiriman data. Sehingga semakin
besar nilai throughput maka semakin baik nilai QoS tersebut. Dapat dilihat pada
Gambar bahwa data grafik throughput pada layanan video streaming menunjukkan

19
bahwa hasil nilai tanpa Optimalisasi memiliki nilai throughput yang lebih besar jika
dibandingkan dengan yang telah di optimalisasi. Rata-rata nilai yang didapatkan
throughput antara sebelum dioptimalisasi dan setelah dioptimalisasi memiliki perbedaan
nilai yang cukup besar dimana hasil sebelum di Optimalisasi hanya mendapatkan nilai
502 kbps sedangkan sebelum di Optimalisasi mendapatkan hasil 11mbps, ini
dikarenakan layanan sebelum di Optimalisasi tidak dilewatkan atau tidak mendapatkan
limitasi dari metode manajemen bandwitht simple queue maka dari itu bandwitht yang
di dapatkan lebih besar namun tidak dapat dikontrol oleh teknisi jaringan.
4.2 Hasil Packet loss
Berikut ini merupakan hasil pengukuran parameter QoS packet loss berdasarkan
skenario pengujian yang telah ditentukan sebelumnya.

Packet Loss

Hasil Tanpa Optimalisasi 0.99996

0.036710719530
Hasil Optimalisasi
1028

0.1 0.3 0.5 0.7 0.9 1.1


Hasil Optimalisasi Hasil Tanpa Opti-
malisasi
Packet 0.036710719530102 0.99996
Loss 8

Gambar 0.6 Hasil Packet loss

Berdasarkan standarisasi TIPHON bahwa kualitas packet loss yang sangat bagus adalah
0,1%. Dari hasil penelitian pada menunjukan bahwa seluruh nilai packet loss termasuk
kategori sangat bagus pada sebelum Optimalisasi dan setelah optimaslisasi karena
memiliki nilai packet loss sebesar 0,1%, yang artinya hanya 0,1% paket yang hilang
selama proses pengiriman data, tetapi walaupun hanya sama-sama 0,1% peket yang
hilang jika di hitung secara rata-rata nya paket yang hilang setelah di Optimalisasi
terbilang lebih kecil dari pada sebelum di Optimalisasi.

4.3 Hasil Delay


Berikut ini merupakan hasil pengukuran parameter QoS delay berdasarkan
skenario pengujian yang telah ditentukan sebelumnya.

20
Delay
Hasil Tanpa Optimalisasi 0.718611

Hasil Optimalisasi 0.463431

0.05 0.15 0.25 0.35 0.45 0.55 0.65 0.75


Hasil Optimalisasi Hasil Tanpa Optimal-
isasi
Delay 0.463431 0.718611

Hasil pengukuran rata-rata delay menjelaskan bahwa semakin kecil nilai delay yang
dihasilkan maka semakin baik jaringan tersebut. Dapat dilihat pada Gambar bahwa data
grafik delay layanan video streaming dengan semua skenario memiliki golongan indeks
yang sangat bagus menurut standar TIPHON dengan kurang dari 150 ms. Dengan
pengujian video streaming menunjukkan antara sebelum dioptimalisasi dan dan setelah
dioptimalisasi memiliki nilai rata-rata delay yang cukup signifikan. Pada hasil
pengukuran delay yang dilewatkan setelah dioptimalisasi menunjukkan nilai yang lebih
kecil dibandingkan nilai delay pada layanan yang dilewatkan sebelum dioptimalisasi
dengan perbaikan nilai delay sebesar 0,25518 ms. Hal ini disebabkan karena setelah
dioptimalisasi sudah diterapkan metode policy-base routing yang dapat memetakan
layanan, hal ini dapat mempersingkat jalur akses paket ke tujuan.

4.4 Hasil Jitter


Berikut ini merupakan hasil pengukuran parameter QoS jitter berdasarkan skenario pengujian
yang telah ditentukan sebelumnya.

Jitter
Hasil Tanpa Optimalisasi 435,995,000

Hasil Optimalisasi 1 21

100000000 300000000 500000000


Hasil Optimalisasi Hasil Tanpa Optimal-
isasi
Gambar 0.7 Hasil Jitter

Hasil pengukuran jitter yang dapat dilihat pada Gambar 9 bahwa data grafik jitter layanan video
streaming ini dengan kedua metode tergolong memiliki selisih indeks yang sangat besar setelah
dioptimalisasi mengahasilkan nilai yang Bagus menurut standar TIPHON yaitu antara 0-75 ms,
sedangkan yang sebelum dioptimalisasi menghasilkan 435ms yang menurut standar TIPHOP
masuk dalam kategori buruk. Pada grafik yang ditunjukkan bahwa semakin besar beban trafik
bandwidth yang diberikan maka semakin besar juga jitter-nya sehingga mengakibatkan nilai
QoS akan semakin turun. Hasil pengamatan menyatakan bahwa selisih kedua memiliki nilai
yang cukup signifikan dimana hasil pengukuran jitter yang dilewatkan setelah dioptimalisasi
menunjukkan nilai yang jauh lebih kecil dibandingkan nilai jitter pada layanan yang dilewatkan
sebelum di lakukan optimalisasi. Dengan menunjukkan perbaikan nilai jitter sebesar 435,994
ms. Hal ini juga disebabkan karena setelah dioptimalisasi sudah diterapkan metode
policy-base routing yang dapat memetakan layanan, hal ini dapat mempersingkat jalur
akses paket ke tujuan dan menguragi terjadinya miss paket pada saat pengiriman paket
ke tujuan hal ini lah yang menyebabkan delay yang relative lebih kecil dari pada
sebelum di lakukan optimalisasi.

Parameter QoS
Titel Throughput Packet Loss Delay Jitter
Hasil Optimalisasi 502 k 0,0367107% 0,463431 Ms 0,799158 Ms
Hasil Tanpa Optimalisasi 11.905,54 M 0,99,996% 0,718611 Ms 435.995.000 Ms

BAB V

KESIMPULAN

penelitian dilakukan untuk membandingkan penggunaan metode Simple Queue dan


Policy-based Routing sebelum dan setelah optimalisasi dilakukan pada server lokal
Arnet Media. Setelah melakukan penelitian, berikut adalah hasil kesimpulan yang dapat
diambil:
1. Peningkatan QoS (Quality of Service): Implementasi metode Simple Queue dan

22
Policy-based Routing secara signifikan meningkatkan layanan pada server lokal
Arnet Media. Penggunaan metode tersebut memungkinkan manajemen
bandwidth yang lebih efektif dan mengoptimalkan alokasi sumber daya jaringan.
2. Optimalisasi Bandwidth Management: Dengan menerapkan metode Simple
Queue dan Policy-based Routing, manajemen bandwidth pada server load
balance failover dapat dioptimalkan. Hal ini memungkinkan pengaturan prioritas
layanan dan alokasi bandwidth yang lebih efisien.
3. Peningkatan kinerja server: Setelah melakukan optimalisasi dengan Simple
Queue dan Policy-based Routing, kinerja server lokal Arnet Media mengalami
peningkatan yang signifikan. Dalam kondisi beban jaringan yang tinggi, server
dapat mengatasi dengan lebih baik dan membagi beban secara merata.
4. Peningkatan keandalan dan ketersediaan: Implementasi server load balance
failover dengan metode optimalisasi menghasilkan peningkatan keandalan dan
ketersediaan layanan. Jika satu server mengalami kegagalan, lalu lintas jaringan
dapat secara otomatis dialihkan ke server lainnya, sehingga waktu henti layanan
dapat diminimalisir.
5. Hasil terbukti: Data yang diperoleh setelah menerapkan metode Simple Queue
dan Policy-based Routing menunjukkan hasil yang signifikan dan terbukti secara
empiris. Peningkatan layanan, manajemen bandwidth yang lebih baik, dan
kinerja server yang meningkat adalah bukti nyata keberhasilan dari optimalisasi
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

[1] “View of MANAJEMEN BANDWIDTH MENGGUNAKAN METODE SIMPLE QUEUE PADA


DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KOTA PALEMBANG.”
[Link] (accessed Nov. 22, 2022).
[2] B. K. Simpony, “Simple Queue Untuk Manajemen User dan Bandwidth di Jaringan Hotspot
Menggunakan Mikrotik,” JURNAL INFORMATIKA, vol. 8, no. 1, 2021, [Online]. Available:
[Link]

23
[3] “FUP - IndiHome Partner.” [Link] (accessed Nov. 22, 2022).
[4] “Layanan [Link] • [Link].” [Link] (accessed Nov. 22,
2022).
[5] T. Rahman, E. Sulistianto, A. Sudibyo, S. Sumarna, and B. Wijonarko, “Per Connection Classifier Load
Balancing dan Failover MikroTik pada Dua Line Internet,” JIKA (Jurnal Informatika), vol. 5, no. 2, pp.
195–209, Jun. 2021, Accessed: Sep. 30, 2022. [Online]. Available:
[Link]
[6] “Perbandingan Kinerja Teknologi Failover berbasis Klaster (Heartbeat) dengan Teknologi Failover
berbasis Jaringan (Keepalived) | Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.”
[Link] (accessed Sep. 30, 2022).
[7] E. Yuliansyah, S. Saputra, and I. Ali, “IMPLEMENTASI REDUNDANT LINK UNTUK
MEMINIMALISIR DOWNTIME DENGAN METODE FAILOVER (STUDI KASUS: PT KEMUNING
PERSADA),” Jurnal Publikasi Ilmu Komputer dan Multimedia, vol. 1, no. 3, pp. 230–240, Sep. 2022,
doi: 10.55606/JUPIKOM.V1I3.575.
[8] D. Teknik, K. Politeknik, and A. Selatan, “IMPLEMENTASI METODE SIMPLE QUEUE DAN
QUEUE TREE UNTUK OPTIMASI MANAJEMEN BANDWITH JARINGAN KOMPUTER DI
POLITEKNIK ACEH SELATAN,” METHOMIKA: Jurnal Manajemen Informatika & Komputerisasi
Akuntansi, vol. 2, no. 1, pp. 43–50, Apr. 2018, doi: 10.46880/JMIKA.VOL2NO1.PP43-50.
[9] A. S. Abdullah, A. Fuad, M. Jamil, J. Jati Metro, and K. Ternate Selatan, “Penerapan Metode Simple
Queue Pada Manajemen Bandwith untuk mengoptimalkan Bandwith Di Laboratorium Program Studi
Teknik Informatika,” Jurnal Informatika dan Komputer, vol. 2, no. 1, pp. 6–13, May 2019, Accessed:
Nov. 26, 2022. [Online]. Available: [Link]
[10] A. Syaifuddin, M. Yunus, R. Sundari, and S. PPKIA Pradnya Paramita Malang Jl Laksda Adi Sucipto,
“PERBANDINGAN METODE SIMPLE QUEUES DAN QUEUES TREE UNTUK OPTIMASI
MANAJEMEN BANDWIDTH JARINGAN KOMPUTER DI STMIK PPKIA PRADNYA PARAMITA
MALANG,” Jurnal Teknologi Informasi, vol. 4, no. 2.
[11] S. Informatika, J. Komputer, and D. Aplikasi, “MANAJEMEN INTERNET SERVICE PROVIDER
DENGAN MENGGUNAKAN METODE POLICY BASED ROUTE STUDI KASUS: GEDUNG
SERBA GUNA ISTANAKU,” 2021.
[12] S. Hidayatulloh and M. Mastur Rifa, “Penerapan Simple Queue Dalam Pengelolaan Bandwidth Local
Area Network (Studi Kasus: PT Sumber Berkah Niaga).” [Online]. Available:
[Link]
[13] D. E. Cahyono, “IMPLEMENTASI LOAD BALANCE MENGGUNAKAN METODE POLICY BASED
ROUTE (PBR) PADA POLITEKNIK SAWUNGGALIH AJI KUTOARJO”, [Online]. Available:
[Link].
[14] B. K. Simpony, “Simple Queue Untuk Manajemen User dan Bandwidth di Jaringan Hotspot
Menggunakan Mikrotik,” Jurnal Informatika, vol. 8, no. 1, pp. 87–92, Apr. 2021, doi:
10.31294/JI.V8I1.9385.
[15] R. Pambudi and M. A. Muslim, “Implementasi Policy Base Routing dan Failover Menggunakan Router
Mikrotik untuk Membagi Jalur Akses Internet di FMIPA Unnes,” Jurnal Teknologi dan Sistem Komputer,
vol. 5, no. 2, p. 57, May 2017, doi: 10.14710/jtsiskom.5.2.2017.57-61.

24
25
iii

Anda mungkin juga menyukai