0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan18 halaman

Program Bimbingan Konseling 2021/2022

Diunggah oleh

wiliashellaaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan18 halaman

Program Bimbingan Konseling 2021/2022

Diunggah oleh

wiliashellaaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM

BIMBINGAN DAN KONSELING


TAHUN PELAJARAN 2021/2022
LEMBAR PENGESAHAN

Program Bimbingan dan Konseling tahun pelajaran 2021/2022 ini telah disetujui dan di
sahkan pada :

Hari : Kamis

Tanggal : 08 Juli 2021

Ketua Komite Kepala sekolah

Mengetahui,
Pengawas SD
DAFTAR ISI

Halaman Judul...............................................................................................................i
Lembar Pengesahan......................................................................................................ii
Daftar Isi......................................................................................................................iv

PROGRAM TAHUNAN..............................................................................................
A. Rasional...............................................................................................................1
B. Dasar Hukum.......................................................................................................2
C. Visi dan Misi.......................................................................................................4
D. Deskripsi Kebutuhan...........................................................................................5
E. Tujuan..................................................................................................................6
F. Komponen Program.............................................................................................7
G. Bidang Layanan.................................................................................................10
H. Rencana Kegiatan / Operasional (Action Plan).................................................12
I. Pengembangan Tema atau Topik......................................................................13
J. Rencana Evaluasi, Pelaporan dan Tindak Lanjut..............................................14
K. Anggaran Biaya.................................................................................................15
L. Program Semester..............................................................................................15
PROGRAM TAHUNAN

A. RASIONAL
Paradigma bimbingan dan konseling dewasa ini lebih berorientasi pada pengenalan
potensi, kebutuhan, dan tugas perkembangan serta pemenuhan kebutuhan dan tugas-tugas
perkembangan tersebut. Alih-alih memberikan pelayanan bagi peserta didik yang
bermasalah, pemenuhan perkembangan optimal dan pencegahan terjadinya masalah
merupakan fokus pelayanan. Atas dasar pemikiran tersebut maka pengenalan potensi
individu merupakan kegiatan urgen pada awal layanan bantuan. Bimbingan dan konseling
saat ini tertuju pada mengenali kebutuhan peserta didik, orang tua, dan sekolah.
Bimbingan dan konseling di sekolah memiliki peranan penting dalam membantu
peserta didik dalam mencapai tugas-tugas perkembangan. Dalam upaya mendukung
pencapaian tugas perkembangan tersebut, program bimbingan dan konseling
dilaksanakan secara utuh dan kolaboratif dengan seluruh stakeholder sekolah.
Dewasa ini, layanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan oleh SDN
Balesari memiliki banyak tantangan baik secara internal maupun eksternal. Dari sisi
internal, problematika yang dialami oleh sebagian besar peserta didik bersifat kompleks.
Beberapa diantaranya adalah problem terkait penyesuaian akademik di sekolah,
penyesuaian diri dengan pergaulan sosial di sekolah, ketidakmatangan orientasi pilihan
karir, dan lain-lainnya.
Dari sisi eksternal, peserta didik yang notabene berada dalam rentang usia anak
persiapan menuju remaja awal juga dihadapkan dengan perubahan-perubahan cepat yang
terjadi dalam skala global. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat dan
massif seringkali memberikan dampak negatif bagi perkembangan pribadi-sosial peserta
didik di sekolah. Sebagai contoh, akses tak terbatas dalam dunia maya seringkali
melahirkan budaya instan dalam mengerjakan tugas, maraknya pornografi, dan problem
lainnya.
Namun demikian, pada dasarnya setiap individu memiliki kecenderungan untuk
menata diri dan mencapai tujuan hidup yang lebih bermakna, tidak terkecuali peserta
didik di sekolah. Dari berbagai problem yang ada, masih terdapat harapan yang besar
terhadap keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh peserta didik. Beberapa peserta didik
memiliki potensi untuk dikembangkan bakat dan minatnya, aktif dalam kegiatan
olahraga, berbakat dalam bidang seni dan lain-lainnya. Di samping itu, daya dukung yang
tersedia di SDN Balesari dapat dikatakan berlimpah. Hal ini didukung oleh fakta bahwa
sebagian besar orang tua/wali peserta didik memiliki profesi beragam dan telah
menyatakan kesediaan untuk turut berkontribusi dengan kemampuan profesionalnya
masing-masing. Kondisi ini merupakan modal yang luar biasa dalam mendukung
keberhasilan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Begitu pula dari segi daya
dukung sarana dan prasarana yang dimiliki, SDN Balesari memiliki kecukupan fasilitas
untuk menopang kegiatan pengembangan bakat dan minat peserta didik melalui berbagai
wadah kegiatan intra maupun ekstrakurikuler

B. DASAR HUKUM
1. Pelayanan bimbingan dan konseling sebagai salah satu layanan pendidikan yang harus
diperoleh semua peserta didik telah termuat dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 89 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan
Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar dan Nomor 29 Tahun
1990 tentang Pendidikan Menengah.

2. ”Konselor” sebagai salah satu jenis tenaga kependidikan dalam Undang-Undang


Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada
Bab I Pasal 1 angka 6 dinyatakan bahwa “pendidik adalah tenaga kependidikan yang
berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor,
instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta
berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan”.

3. Pelayanan konseling yang merupakan bagian dari kegiatan pengembangan diri telah
termuat dalam struktur kurikulum yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
untuk Satuan Pendidikan Dasar Menengah.

4. Beban kerja Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor pada Pasal 54 ayat (6)
Peraturan Pemerintah republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru yang
menyatakan bahwa beban kerja Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor yang
memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan adalah mengampu bimbingan
dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu
atau lebih satuan pendidikan. Lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 54 ayat (6) yang
dimaksud dengan “mengampu layanan bimbingan dan konseling” adalah pemberian
perhatian, pengarahan, pengendalian, dan pengawasan kepada sekurang-kurangnya
150 (seratus lima puluh) peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk
pelayanan tatap muka terjadwal di kelas dan layanan perseorangan atau kelompok bagi
yang dianggap perlu dan memerlukan.

5. Penilaian kinerja Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor pada Pasal 22 ayat (5)
Peraturan bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian
Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 tahun 2010 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dinyatakan bahwa
penilaian kinerja guru bimbingan dan konseling atau konselor dihitung secara
proporsional berdasarkan beban kerja wajib paling kurang 150 (seratus lima puluh)
orang Konseli dan paling banyak 250 dua ratus lima puluh) orang Konseli per tahun.

6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2008


tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, yang menyatakan
bahwa kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan
formal dan nonformal adalah: (i) sarjana pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan
dan konseling; (ii) berpendidikan profesi konselor. Kompetensi konselor meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional, yang berjumlah 17 kompetensi dan 76 sub kompetensi.

7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun


2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP/MTs, Nomor 69 Tahun
2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMA/MA, dan Nomor 70
Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK/MAK, yang
memberikan kesempatan kepada peserta didik belajar berdasarkan minat mereka.
Struktur kurikulum memperkenankan peserta didik melakukan pilihan dalam bentuk
pilihan kelompok peminatan, lintas minat atau pendalaman minat.

8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 111 Tahun 2014 tentang bimbingan
dan konseling pada pendidikan dasar. Dalam permendiknas tersebut menyebutkan
bahawa Komponen layanan Bimbingan dan Konseling memiliki 4 (empat) program
yang mencakup: (a) layanan dasar; (b) layanan peminatan dan perencanaan individual;
(c) layanan responsif; dan (d) layanan dukungan system. Bidang layanan bimbingan
dan konseling mencakup : (a) bidang layanan pribadi, (b) bidangan layanan belajar, (c)
bidang layanan sosial, (d) bidang layanan karir

C. VISI DAN MISI

1. Visi dan Misi SDN BALESARI


a. Visi

b. Misi
Berdasarkan visi yang telah dirumuskan, untuk mewujudkannya diperlukan suatu
misi berupa kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Adapun Misi yang dirumuskan
berdasar visi adalah sebagai berikut :
1. Merancang pembelajaran yang menarik dan menyenangkan yang mampu
memotivasi peserta didik untuk selalu belajar dan menemukan pembelajaran;
2. Menciptakan suasana pembelajaran yang lebih bermakna dan kondusif;
3. Membangun lingkungan sekolah yang bertoleransi dalam kebhinekaan global,
mencintai budaya lokal dan menjunjung nilai gotong royong;
4. Mengembangkan program sekolah yang membentuk ide dan gagasan cepat
tanggap terhadap perubahan yang terjadi untuk merancang inovasi;
5. Mengembangkan kemandirian, nalar kritis dan kreativitas yang memfasilitasi
keragaman minat dan bakat peserta didik;
6. Menumbuhkembangkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama sesuai
agama yang dianut siswa serta menanamkan nilai budi pekerti pada semua
warga sekolah.

2. Visi dan Misi Bimbingan dan Konseling


a. Visi
”Mewujudkan kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya
pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan
masalah agar individu berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia sesuai
dengan nilai religius dan nilai normatif yang ada di masyarakat.”
b. Misi
1.) Mendidik peserta didik melalui pengembangan perilaku efektif normatif,
religius dalam kehidupan keseharian dan yang terkait dengan masa depan.
2.) Memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam
lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat; atau menfasilitasi
perkembangan individu peserta didik dalam satuan pendidikan formal dan
non formal, keluarga, instansi, dunia usaha dan industri serta lembaga
masyarakat lain kearah perkembangan optimal melalui strategi upaya
pengembangan individu, serta kondisi tertentu sesuai dinamika
perkembangan masyarakat.
3.) Membantu dan memfasilitasi pengentasan masalah individu peserta didik
mengacu kepada kehidupan sehari-hari secara efektif.

D. DESKRIPSI KEBUTUHAN
Kebutuhan peserta didik/konseling dapat diidentifikasi berdasarkan asumsi teoretik
dan hasil asesmen kebutuhan yang dilakukan. Dalam melaksanakan tugasnya, guru
Bimbingan dan Konseling terlebih dahulu menyusun daftar kebutuhan (Need Assesment).
Tujuan penyusunan instrumen tersebut untuk mengetahui kebutuhan dan permasalahan
Konseling.
Berdasarkan hasil catatan guru kelas yang sekaligus sebagai pemberi layanan
bimbingan konseling, yang dicatat dalam bentuk jurnal dan laporan persentase permasalahan
pada masing-masing kelas hasilnya tergambar dalam table berikut :
Tabel Persentase Permasalahan Konselin Pada Tahun Pelajaran 2021/2022

Bidang Jumlah siswa yang Memperoleh Layanan BK


No Jumlah Persentase
Layanan 1 2 3 4 5 6
1 Peribadi 1 0 0 2 0 0 3 4.17%
2 Sosial 0 2 2 0 1 3 8 11.11%
3 Akademik 1 2 1 2 1 2 9 12.50%
4 Karir 1 1 2 0 2 0 6 8.33%

Berdasarkan profil kelas dari hasil rekap masalah dalam tahun pelajran 2021/2022 di
atas, permasalahan tertinggi terdapat pada bidang bealajar sebesar 12,5%, diikuti oleh
bidang sosial sebesar 11,11%, ,Adapun butir masalah yang paling tinggi adalah belajar.
Kesemua bidang layanan tersebut masih butuh mendaptkan layanan bimbingan dan
konseling. Adapun kebutuhan dari hasil asemen tersebut tertuang dalam table berikut :k
Tabel Deskripsi Kebutuhan dari Hasil Asesmen

Hasil Asesmen Rumusan Kebutuhan dalam Bentuk


Bidang Layanan Kebutuhan Perilaku

Pribadi Tidak memahami potensi Peserta didik memahami potensi diri


diri dengan baik
Tidak percaya diri Peserta didik perlu memiliki
kepercayaan diri yang positif
Lainnya

Sosial Interaksi dengan teman Interaksi dengan teman sebaya sesuai


sebaya dengan etika dan norma yang berlaku.

Konflik dengan teman Mengelola emosi dengan baik

Lainnya

Akademik Sulit memahami mata Keterampilan belajar yang efektif


pelajaran
Malas belajar Motivasi belajar yang tinggi

Lainnya

Karier Bingung dengan ragam Pemahaman ragam kegiatan dan


kegiatan dan pekerjaan di pekerjaan di sekitar
sekitar
Pemahaman terhadap Pemahaman sikap positif terhadap
keterkaitan belajar dengan jenis pekerjaan
sukses masa depan
Lainnya

E. TUJUAN
Berdasarkan hasil rumusan perilaku dirumuskan tujuan layanan bimbingan dan
konseling yang diklasifikasikan dalam aspek tugas perkembangan. Berikut ditampilkan
perumusan tujuan layanan

Tabel Rumusan Tujuan


Bidang
Rumusan Kebutuhan Rumusan Tujuan
Layanan

Pribadi Kemampuan memahami Peserta didik/konseli memiliki


potensi diri kemampuan memahami potensi diri

Kepercayaan diri yang tinggi Peserta didik/konseli memiliki


kepercayaan diri yang tinggi

Sosial Interaksi dengan lawan jenis Peserta didik/konseli mampu


sesuai dengan etika dan berinteraksi dengan lawan jenis sesuai
norma yang berlaku. dengan etika dan norma yang berlaku.

Mengelola emosi dengan Peserta didik/konseli memiliki


baik kemampuan mengelola emosi dengan
baik

Akademik Keterampilan belajar yang Peserta didik menguasai keterampilan


efektif belajar yang efektif

Motivasi belajar yang tinggi Peserta didik/ konseli memiliki


motivasi belajar yang tinggi

Karier Pemahaman ragam kegiatan Peserta didik/ konseli memiliki


dan pekerjaan di sekitar Pemahaman ragam kegiatan dan
pekerjaan di sekitar

Pemahaman keterkaitan Peserta didik/ konseli memiliki


belajar dengan sukses masa pemahaman keterkaitan belajar
depan dengan sukses masa depan

F. KOMPONEN PROGRAM
Komponen program meliputi adalah layanan dasar, layanan responsif, layanan peminatan
dan perencanaan individual dan dukungan sistem yang disesuai dengan hasil
asesmen kebutuhan peserta didik.
Bagi guru bimbingan dan konseling atau konselor yang bertugas di satu sekolah, maka
pada umumnya semua komponen dan bidang layanan dapat dilaksanakan. Untuk guru
bimbingan dan konseling atau konselor yang bertugas di gugus, komponen dan
bidang layanan dipilih sesuai prioritas kebutuhan peserta didik/konseling. Guru
kelas yang menjalankan fungsi sebagai guru bimbingan dan konseling, maka komponen
program disesuaikan dengan pembelajaran pada kelas masing-masing. Berikut penjelasan
mengenai masing-masing komponen
1) Layanan Dasar
Layanan dasar adalah proses pemberian bantuan kepada semua peserta didik/konseling
yang berkaitan dengan pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam bidang
pribadi, sosial, akademik, dan karir sebagai pengejawantahan tugas-tugas perkembangan
mereka. Layanan dasar merupakan inti pendekatan perkembangan yang diorganisasikan
berkenaan dengan pengetahuan tentang diri dan orang lain, perkembangan belajar, serta
perencanaan dan eksplorasi karir. Layanan dasar pada sekolah dasar dilaksanakan dalam
aktivitas yang langsung diberikan kepada peserta didik/konseling adalah bimbingan
kelompok, bimbingan klasikal, dan bimbingan lintas kelas. Aktivitas yang dilaksanakan
melalui media adalah papan bimbingan, leaflet dan media inovatif bimbingan dan
konseling. Bagi guru kelas yang menjalankan fungsi sebagai guru bimbingan dan
konseling, layanan bimbingan klasikal dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran
tematik.
2) Layanan Responsif
Layanan responsif adalah layanan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek peserta
didik, atau masalah-masalah yang dialami peserta didik/konseling yang bersumber dari
lingkungan kehidupan pribadi, sosial, akademik, dan karir. Layanan terdiri atas konseling
individual, konseling kelompok, konsultasi, konferensi kasus, referal dan advokasi.
Sementara aktivitas layanan responsif melalui media adalah konseling melalui elektronik
dan kotak masalah. Pada konteks layanan responsif di Sekolah Dasar, guru bimbingan dan
konseling atau konselor memberikan intervensi secara singkat. Pada layanan responsif juga
dilakukan advokasi yang menitikberatkan pada membantu peserta didik/konseli untuk
memiliki kesempatan yang sama dalam mencapai tugas-tugas perkembangan. Guru
bimbingan dan konseling atau konselor menyadari terdapat rintangan-rintangan bagi
peserta didik yang disebabkan oleh disabilitas, jenis kelamin, suku bangsa, bahasa,
orientasi seksual, status sosial ekonomi, pengaruh orangtua, keberbakatan, dan sebagainya.
Guru bimbingan dan konseling atau konselor harus memberikan advokasi agar semua
peserta didik/konseli mendapatkan perlakuan yang setara selama menempuh pendidikan di
Sekolah Dasar.
3) Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual Peserta Didik
Layanan peminatan dan perencanaan individual merupakan proses pemberian
bantuan kepada semua peserta didik/konseling dalam membuat dan
mengimplementasikan rencana pribadi, sosial, akademik, dan karir. Tujuan utama
layanan ini ialah membantu peserta didik belajar memantau dan memahami pertumbuhan
dan perkembangannya sendiri dan mengambil tindakan secara proaktif terhadap
informasi tersebut Layanan peminatan dan perencanaan individual berisi aktivitas
membantu setiap peserta didik untuk mengembangkan dan meninjau minat dan
perencanaan pribadi, sosial, akademik, dan karir. Aktivitas dimulai sejak peserta didik
masih di sekolah dasar dan berlanjut terus sampai di sekolah menengah. Rencana yang
telah dibuat oleh peserta didik ditinjau dan diperbaharui secara berkala dan
didokumentasikan di dalam profil peserta didik, misalnya dalam bentuk grafik. Aktivitas
layanan peminatan dan perencanaan individual yang langsung diberikan kepada peserta
didik dapat berupa kegiatan bimbingan klasikal, konseling individual, konseling
kelompok, bimbingan kelas besar atau lintas kelas, bimbingan kelompok, konsultasi dan
kolaborasi. Aktivitas peminatan dan perencanaan individual di Sekolah Dasar terintegrasi
dengan kegiatan ekstrakurikuler. Pemilihan kegiatan ekstrakurikuler juga dapat
menggambarkan minat peserta didik pada aktivitas tertentu. Guru bimbingan dan
konseling atau konselor dap at memberikan informasi tentang perencanaan pribadi,
akademik dan karir dalam pemilihan kegiatan ekstra kurikuler bagi peserta didik.
4) Dukungan Sistem
Dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata
kerja infrastruktur dan pengembangan keprofesionalan konselor secara berkelanjutan
yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik atau memfasilitasi
kelancaran perkembangan peserta didik. Aktivitas yang dilakukan dalam dukungan
sistem adalah (1) administrasi, yang di dalamnya termasuk melaksanakan dan
menindaklanjuti asesmen, kunjungan rumah, menyusun dan melaporkan program
bimbingan dan konseling, membuat evaluasi, dan melaksanakan administrasi dan
mekanisme bimbingan dan konseling, serta (2) kegiatan tambahan dan pengembangan
profesi, bagi konselor atau guru kelas yang berfungsi sebagai guru bimbingan dan
konseling, kegiatan pengembangan profesi dilaksanakan sesuai dengan tugasnya sebagai
guru kelas dengan diperkaya oleh kegiatan pelatihan atau lokakarya tentang bimbingan
dan konseling untuk memperkuat kompetensi dalam menjalankan fungsi sebagai guru
bimbingan dan konseling atau konselor. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (guru
sebagai pembelajar) bagi konselor atau guru bimbingan dan konseling dapat dilakukan
dengan moda tatap muka, daring dan kombinasi antara tatap muka dan daring.

G. BIDANG LAYANAN
Bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan mencakup empat bidang layanan, yaitu
bidang layanan yang memfasilitasi perkembangan pribadi, sosial, akademik, dan karir
yang merupakan satu kesatuan utuh dapat dipisahkan dalam setiap diri individu peserta
didik/konseli
1. Pribadi
Suatu proses pemberian bantuan dari guru bimbingan dan konseling atau konselor
kepada peserta didik atau konseli untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil
keputusan, dan merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab tentang
perkembangan aspek pribadinya, sehingga dapat mencapai perkembangan secara optimal
dan mencapai kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupannya.
Aspek perkembangan peserta didik/konseling yang dikembangkan meliputi (1)
memahami potensi diri dan memahami kelebihan dan kelemahannya, baik kondisi fisik
maupun psikis, (2) mengembangkan potensi untuk mencapai kesuksesan dalam
kehidupannya, (3) menerima kelemahan kondisi diri dan mengatasinya secara baik.
2. Sosial
Suatu proses pemberian bantuan dari konselor kepada peserta didik/konseling untuk
memahami lingkungannya dan dapat melakukan interaksi sosial secara positif, terampil
berinteraksi sosial, mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang dialaminya, mampu
menyesuaikan diri dan memiliki keserasian hubungan dengan lingkungan sosialnya
sehingga mencapai kebahagiaan dan kebermaknaan dalam kehidupannya.
Aspek perkembangan peserta didik/konseli yang dikembangkan meliputi (1) berempati
terhadap kondisi orang lain, (2) memahami keragaman latar sosial budaya, (3)
menghormati dan menghargai orang lain, (4) menyesuaikan dengan nilai dan norma yang
berlaku, (5) berinteraksi sosial yang efektif, (6) bekerjasama dengan orang lain secara
bertanggung jawab, dan (8) mengatasi konflik dengan orang lain berdasarkan prinsip
yang saling menguntungkan.
3. Akademik
Proses pemberian bantuan kepada peserta didik/ konseling dalam mengenali potensi
diri untuk belajar, memiliki sikap dan keterampilan belajar, terampil merencanakan
pendidikan, memiliki kesiapan menghadapi ujian, memiliki kebiasaan belajar teratur dan
mencapai hasil belajar secara optimal sehingga dapat mencapai kesuksesan,
kesejahteraan, dan kebahagiaan dalam kehidupannya. Aspek perkembangan yang
dikembangkan meliputi;
(1) Menyadari potensi diri dalam aspek belajar dan memahami berbagai hambatan belajar
(2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif
(3) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
(4) Memiliki keterampilan belajar yang efektif
(5) Memiliki keterampilan perencanaan dan penetapan pendidikan selanjutnya
(6) Memiliki kesiapan menghadapi ujian
4. Karir
Proses pemberian bantuan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor kepada
peserta didik/konseli untuk mengalami pertumbuhan, perkembangan, eksplorasi, aspirasi
dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang hidupnya secara rasional dan realistis
berdasar informasi potensi diri dan kesempatan yang tersedia di lingkungan hidupnya
sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupannya.
Aspek perkembangan yang dikembangkan meliputi :
(1) Pengetahuan konsep diri yang positif tentang karir
(2) Kematangan emosi dan fisik dalam membuat keputusan karir
(3) Kesadaran pentingnya pencapaian prestasi untuk mendapatkan kesempatan karir
(4) Kesadaran hubungan antara pekerjaan dan belajar
(5) Keterampilan untuk memahami dan menggunakan informasi karir
(6) Kesadaran hubungan antara tanggung jawab personal, kebiasaan bekerja yang baik
dan kesempatan karir
(7) Kesadaran bagaimana karir berhubungan dengan fungsi dan kebutuhan di masyarakat
(8) Kesadaran tentang perbedaan pekerjaan dan perubahan peran laki-laki - perempuan.

H. RENCANA KEGIATAN/OPERASIOAL (ACTION PLAN)


Rencana kegiatan (action plan) bimbingan dan konseling merupaan rencana yang
menguraikan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang didapat dari
hasil assesmen terhadap kondisi peserta didik/konseling serta standar kompetensi
kemandirian Konseli. Rencana kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dari beberapa
komponen, yaitu :
(a) Bidang layanan
Berisi tentang bidang layanan bimbingan dan konseling
(b) Tujuan Layanan
Berisi tentang tujuan yang akan dicapai yang berbasis hasil asesmen, tugas
perkembangan atau standar kompetensi kemandirian Konseling
(c) Komponen layanan
Terdiri dari empat komponen yaitu (1) layanan dasar, (2) layanan responsif, (3)
peminatan dan perencanaan individual, (4) dukungan system
(d) Strategi layanan
Merupakan kegiatan/strategi layanan yang dilakukan dan disesuaikan dengan
komponen layanan. Contohnya, untuk komponen layanan dasar, strategi layanan
yang dapat dilaksanakan adalah bimbingan
(e) Kelas
Berisi kelas yang akan mendapatkan layanan bimbingan dan konseling
(f) Materi,
Berisi tentang tema/topik materi yang akan dibahas untuk mencapai tujuan.
(g) Metode,
Berisi teknik/strategi kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang akan
dilakukan.
(h) Alat/media,
Berisi alat dan media yang akan digunakan misalnya power point presentation,
kertas kerja dan sebagainya.
(i) Evaluasi,
Berisi jenis dan alat evaluasi yang digunakan untuk memastikan ketercapaian tujuan
layanan.
(j) Ekuivalensi,
Berisi penyetaraan kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan dengan
jumlah jam. (secara rinci dapat dilihat pada Lampiran Permendikbud No.111 Tahun
2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah).

I. Pengembangan Tema / Topik Layanan Bimbingan dan Konseling


Tema/topik merupakan rincian lanjut dari identifikasi deskripsi kebutuhan peserta
didik/konseling dalam aspek perkembangan pribadi, sosial, akademik dan karier yang
dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling (RPL
bimbingan dan konseling). Tema/topik layanan diseleksi, dipetakan dan ditetapkan atas
dasar:

a. Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD) : berdasarkan hasil


assesmen tugas perkembangan dan standar kompetensi kemandirian peserta
didik/konseling yang diterbitkan oleh ABKIN.

b. Masalah: assesmen masalah, kelompok masalah, item masalah, bidang layanan


dan tingkatan kelas.

c. Bidang layanan bimbingan dan konseling: kelompok bidang layanan, tujuan


layanan pada kelompok bidang layanan, ruang lingkup bidang layanan, tingkatan
kelas.

Setelah tema atau topik dikembangkan, kegiatan berikutnya adalah menyusun RPL
bimbingan dan konseling. Materi yang dituangkan dalam RPL disajikan dengan
menggunakan beragam metode, teknik dan media bimbingan. Materi dapat bersifat
informatif dan orientatif yang membuat peserta didik mengetahui dan memahami
bagaimana cara berperilaku, mengembangkan pemikiran positif, membuat pilihan dan
mengambil keputusan bukan materi tentang suatu perilaku.

Pada SDN Balesari dikarenakan tidak memiliki konselor atau guru bimbingan dan
konseling, tema atau topik diintegrasikan oleh guru kelas dalam proses pembelajaran.

J. RENCANA EVALUASI. PELAPORAN DAN TINDAK LANJUT


1. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah penting dalam manajemen pelayanan bimbingan dan
konseling (BK). Evaluasi secara umum ditujukan untuk mengetahui tingkat
keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian tujuan program yang telah ditetapkan.
Dalam evaluasi program bimbingan dan konseling terdapat 2 (dua) jenis evaluasi,
yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi proses adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan melalui analisis hasil
penilaian proses selama kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling brlangsung.
Fokus penilaian adalah keterlibatan unsur-unsur dalam pelaksanaan kegitan
bimbingan dan konseling.
Evaluasi hasil adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan untuk memperoleh informasi
tentang keefektifan layanan bimbingan dan konseling dilihat dari hasilnya. Evaluasi
hasil pelayanan bimbingan dan konseling ditujukan pada hasil yang diacapi oleh
peserta didik yang menjalin pelayanan bimbingan dan konseling.

2. PELAPORAN
Sebagai wujud pertanggungjawaban tugas yang diberikan dari kepala sekolah.
Disamping itu laporan juga bisa dijadikan bukti keterlaksanaan suatu program,
selain itu juga bisa dijadikan dasar guna perencanaan kegiatan
pengembangan keprofesian berkelanjutan.
3. Komponen Laporan

Komponen yang harus dijelaskan daam laporan pelaksanaan program pencapaian


pelayanan BK dalam Bentuk catatan atau jurnal yang berisikan komponen, waktu,
bidang layanan, sasaran, tidak lanjut, hasil tindak lanjut. Serta persentase masing-
bidang pertahun guna bahan evaluasi tahun selanjutnya.

4. Tindak Lanjut
Kegiatan yang dilakukan setelah pelaksana layanan bimbingan dan
konseling melakukan evaluasi program, kemudian menindaklanjuti berjalannya
kegiatan pelayann yang diberikan tersebut. Kegiatan tindak lanjut ini sebagai
upaya menuntaskan bantuan, perbaikan dan atau pengembangan program BK pada
tahun pelajaran berikutnya. Kegiatan tindak lanjut dilakukan berdasarkan temuan
yang diperoleh dalam evaluasi program, maka guru BK: (1) memperbaiki hal-hal
yang masih lemah, kurang tepat atau kurang relevan dengan tujuan yang akan
dicapai; (2) mengembangkan program dengan menambah atau merubah beberapa
hal yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan atau efektifitas program.

K. ANGGARAN DAN BIAYA


Anggaran biaya menyesuaikan dengan anggaran sekolah yang dialokasikan untuk
kegiatan bimbingan dan Konseling yang sudah menjadi satu kedalam anggaran
pelaksanaan proses pembelajaran.
L. PROGRAM SEMESTERAN
SDN Balesari dikarenakan Guru kelas yang menjalankan fungsi sebagai guru
bimbingan dan konseling, maka komponen program semester disesuaikan dengan
pembelajaran pada kelas masing-masing.

Anda mungkin juga menyukai