0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan19 halaman

Memahami Resiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Diunggah oleh

doninugroho114
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan19 halaman

Memahami Resiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Diunggah oleh

doninugroho114
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA


LAPORAN PENDAHULUAN
“RESIKO BUNUH DIRI”

A. Kasus/ Masalah Utama


Resiko Bunuh Diri

B. Proses Terjadinya Masalah

1. Pengertian Resiko Bunuh Diri


Videbeck (2008) mendefinisikan bunuh diri sebagai tindakan yang dilakukan
dengan segaja untuk membunuh diri sendiri. Definisi yang serupa diberikan oleh
Keliat (2011) bahwa bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan
oleh seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Sedangkan percobaan bunuh diri
adalah tindakan aktif untuk melukai diri sendiri untuk mengakhiri kehidupannya.
Stuart (2006) membagi perilaku bunuh diri menjadi tiga kategori, yaitu:
1) Ancaman bunuh diri
Peringatan verbal atau non verbal bahwa orang tersebut
mempertimbangkan untuk bunuh diri. Ancaman menunjukkan ambivalensi
seseorang tentang kematian. Kurangnya respon positif akan diasumsikan
sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri (Stuart, 2006).
Dalam tahap ini orang tersebuh sudah secara aktif memikirkan tentang
rencana bunuh diri namun tidak diikuti dengan percobaan bunuh diri
(Keliat, 2011)
2) Upaya bunuh diri
Semua tindakan yang dilakukan oleh individu terhadap dirinya sendiri yang
dapat menimbulkan kematian bila tidak dicegah (Stuart, 2006). Sedangkan
Videbeck (2008) mendefinisikan upaya bunuh diri sebagai suatu tindakan
bunuh diri yang gagal dilakukan atau tidak dapat dilakukan hingga selesai,
atau dapat juga diartikan sebagai tindakan bunuh diri yang selesai
dilakukan tetapi individu berhasil diselamatkan.
3) Bunuh diri

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 1


Tindakan yang mungkin terjadi setelah tanda peringatan diabaikan atau
terlewatkan. Bunuh diri melibatkan ambivalensi mengenai keinginan untuk
hidup dan keinginan untuk mati (Videbeck, 2008). Apabila seseorang yang
melakukan upaya bunuh diri tidak ditemukan atau ditolong tepat waktu
maka kemungkinan orang tersebut akan mati
2. Rentang Respon Resiko Bunuh Diri
Rentang respon resiko bunuh diri Stuart (2009) :
--Adaptif-------------------------------------------------------------------Maladaptif--

Self Growt Indirect self Self Suicide


enhancement promoting destruktive injury
risk taking

Pada umumnya tindakan bunuh diri merupakan cara ekspresi orang yang penuh
stress.
Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya :
 Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari
suicide, atau sebuah metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/
tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak akan mengungkapkan
idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat perlu
menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang
keinginan untuk mati
 Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan
perencanaan yang konkrit untuk melakukan bunuh diri.
 Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan
dan hasrat yan dalam , bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya .
 Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif
yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya
mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan untuk
melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada fase ini pada
umumnya tidak mematikan, misalnya meminum beberapa pil atau
menyayat pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi karena
individu memahami ambivalen antara mati dan hidup dan tidak
berencana untuk mati. Individu ini masih memiliki kemauan untuk hidup,
ingin di selamatkan, dan individu ini sedang mengalami konflik mental.

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 2


Tahap ini sering di namakan “Crying for help” sebab individu ini sedang
berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.
 Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai
indikasi individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum
obat yang mematikan . walaupun demikian banyak individu masih
mengalami ambivalen akan kehidupannya.
 Suicide. Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri . hal ini telah
didahului oleh beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya. 30% orang
yang berhasil melakukan bunuh diri adalah orang yang pernah
melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Suicide ini yakini
merupakan hasil dari individu yang tidak punya pilihan untuk mengatasi
kesedihan yang mendalam.

3. Penyebab Resiko Bunuh Diri


 Faktor Predisposisi:
Menurut Stuart (2006), faktor predisposisi resiko bunuh diri antara lain:
o Diagnosis psikiatri: Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu
beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan apektif, penyalahgunaan
zat, dan skizofrenia.
o Sifat kepribadian:
 Impulsif, agresif dan rasa bermusuhan
 Kekakuan kognitif dan negativitas
 Keputusasaan
 Harga diri rendah
o Lingkungan psikososial: Seseorang yang baru mengalami
kehilangan, perpisahan/perceraian, kehilangan yang dini dan
berkurangnya dukungan sosial, dan stres kehidupan multipel
merupakan faktor penting yang berhubungan dengan bunuh diri.
o Riwayat keluarga: Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh
diri dan riwayat keluarga yang mengalami gangguan alam perasaan
ataupun alkoholisme merupakan faktor resiko penting untuk prilaku
destruktif.
o Faktor biokimia: Data menunjukkan bahwa secara serotogenik,
apatengik, dan depominersik menjadi media proses yang dapat
menimbulkan prilaku destrukif diri.
Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 3
 Faktor Presipitasi
Riwayat presipitasi yang biasa menimbulkan Resiko Bunuh Diri menurut
Stuart (2009) adalah stres berlebihan yang dialami individu, antara lain kejadian
kehidupan yang dianggap memalukan, kehilangan pekerjaan dan orang yang
disayangi, atau ancaman pengurungan
4. Tanda dan Gejala Resiko Bunuh
Beberapa tanda dan gejala yang biasa muncul pada klien resiko bunuh
dirimenurut Stuart (2006) antara lain:
 Keputusasaan
 Menyalahkan diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berharga
 Alam perasaan tertekan
 Agitasi dan gelisah
 Insomnia menetap
 Penurunan berat badan
 Berbicara lambat, keletihan dan menarik diri
 Pikiran dan rencana bunuh diri

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 4


Model Stress Dan Adaptasi
Faktor Predisposisi

Biologis ` Psikologis Sosial budaya

Stressor Presipitasi

Kehilangan Kejadian Banyaknya Kurangnya Ketidak


kasih sayang penting dalam peran dan sumber seimbangan
secara nyata kehidupan konflik peran pendukun metabolism
atau bayangan, seseorang dapat g social, e dapat
termasuk sebagai mempengaruhi menamba menimbulka
kehilangan cinta keadaan yang berkembangnya h stress n gangguan
seseorang, mendahului depresi hingga individu. alam
fungsi tubuh, episode depresi menimbulkan perasaan.
status atau dan mempunyai keinginan untuk
harga diri. dampak pada bunuh diri.
masalah saat
ini.
Penilaian Terhadap Stressor dx

Respon Fisiologis: Respon Kognitif: Respon Respon Respon


 Sistem Perilaku: Afektif: sosial:
kardiovaskuler : Gangguan
palpitasi, TD perhatian, hilang Gelisah, Gelisah, Menarik diri
meningkat, nadi konsentrasi, ketegangan ketakutan dan
meningkat pelupa, salah fisik, tremor, meningkat, menghindar.
/menurun, pingsan. tafsir, bloking, gugup, perasaan
 Saluran perafasan : lahan persepsi bicara cepat, dangkal.
Nafas cepat, menurun, tidak ada
dangkal, dada produktifitas koordinasi,
terasa tertekan. menurun, bingung terhambat
 Neuromuskuler : dan kekhawatiran melukukan
peningkatan reflek, meningkat, aktifitas.
insomnia, obyektifitas
ketakutan, gelisah, menghilang.
kelemahan,
gerakan janggal.
 Gastrointestinal :
nafsu makan hilang,
nausea, muntah.
 Saluran Kemih :
inkontinensia,
sering kencing.
 Sistem kulit :
tangan berkeringat,
gatal-gatal, rasa
panas dingin pada
kulit, muka pucat,
keringat sekujur
Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 5
tubuh.
Sumber Koping
Dukungan sosial

Dukungan emosional Kemampuan Aset materi : Keyakinan positif :


dan bantuan yang personal :
didapatkan untuk modal ekonomi Teknik pertahanan
penyelesaian masalah ketrampilan yang dimiliki klien dan motivasi.
yang menjadi penyebab yang dimiliki
timbulnya keinginan klien.
klien untuk bunuh diri.

Mekanisme Koping

Acceptance Denial, represi, mania,


disosiasi, supresi.

Rentang Respon Koping


Respon Adaptif Respon Maladaptif

5. Data yang Perlu Dikaji


Subjektif Objektif
 Menyatakan pikiran, harapan dan perencanaan  Perubahan fungsi
tentang bunuh diri kardiovaskuler.
 Memiliki riwayat satu kali atau lebih melakukan  Perubahan fungsi pernafasan.
percobaan bunuh diri.  Perubahan fungsi
neuromuskuler.
 Perubahan fungsi
gastroinestinal.
 Perubahan pada sistem kulit.
 Perubahan pola tidur
 Perilaku panik
 Depresi, cemas dan perasaan
putus asa
 Impulsivitas dan agressif

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 6


6. Pohon Masalah

Masalah utama ---------------- Resiko Bunuh Diri

Harga diri rendah


Penyebab ----------------------

7. Masalah Keperawatan
Resiko bunuh diri

8. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 7


9. Rencana Tindakan Keperawatan
Tgl No Dx Perencanaan
Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional
Resiko bunuh TUM : Klien Setelah 3× interaksi Bina hubungan saling percaya Kepercayaan dari klien
diri tidak melakukan klien menunjukan dengan merupakan hal yang
percobaan tanda-tanda percaya menggunakan prinsip mutlak serta akan
bunuh diri kepada perawat : komunikasi memudahkan dalam
TUK 1 : Klien  Ekspresi wajah terapeutik : pendekatan dan
dapat membina bersahabat  Sapa klien dengan ramah baik tindakan keperawatan
hubungan saling  Menunjukan rasa verbal maupun nonverbal yang akan dilakukan
percaya senang  Perkenalkan nama, nama kepada klien
 Ada kontak mata panggilan
 Mau berjabat dan tujuan perawat berkenalan
tangan  Tanyakan nama lengkap dan
 mau nama
menyebutkan penggilan yang disukai klien
nama  Buat kontrak yang jelas
 Mau menjawab  Tunjukan sikap jujur dan
salam menepati
 Mau duduk janji setiap kali berinteraksi

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 8


berdampingan  Tunjukan sikap empati dan
dengan perawat menerima apa adanya
 Beri perhatian kepada klien
dan
masalah yang dihadapi klien
 Dengarkan dengan penuh
perhatian
ekspresi perasaan klien
TUK 2 : Klien Setelah 5× interaksi Bantu klien mengungkapkan Menentukan
dapat mengenal klien menceritakan perasaan mekanisme koping
penyebab resiko penyebab perilaku yang menyebabkan klien yang dimiliki klien
perilaku bunuh bunuh diri yang mempunyai dalam menghadapi
diri dilakukannya : ide serta melakukan percobaan masalah serta sebagi
 Menceritakan bunuh langkah awal dalam
penyebab klien diri : menyusun strategi
melakukan  Motivasi klien untuk berikutnya
percobaan bunuh menceritakan
diri penyebab klien mempunyai ide
bunuh diri
 Dengarkan tanpa menyela

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 9


atau
memberi penilaian setiap
ungkapan
perasaan klien
TUK 3 : Klien Setelah 5× interaksi Bantu klien mengungkapkan Deteksi dini sehingga
dapat klien menceritakan tandatanda dapat mencegah
mengidentifikasi tanda-tanda saat klien perilaku bunuh diri yang tindakan yang dapat
tanda-tanda berkeinginan untuk dialaminya : membahayakan klien
perilaku bunuh bunuh diri :  Motivasi klien menceritakan
diri  Tanda Sosial : kondisi
klien mengancam emosionalnya
akan melakukan  Motivasi klien menceritakan
bunuh diri dan klien kondisi
melakukan sosialnya
hal yang tidak
biasa dilakukan
klien
Tanda Fisik : klien
mencederi diri
sendiri seperti

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 10


menyayat nadi,
minum obat
sampai over dosis,
dlsb, tatapan mata
klien tampak
menerawang eperti
memikirkan
sesuatu
 Tanda Emosional :
klien menjadi
penyendiri,
pemurung, dan
pemarah
TUK 4 : klien Setelah 6× interaksi Diskusikan dengan klien Melihat mekanisme
dapat klien menjelaskan : percobaan koping klien selama
mengidentifikasi  Perasaan saat bunuh diri yang dilakukannya ini dalam
perilaku melakukan bunuh diri selama menyelesaikan
percobaan  Efektivitas ini : masalah yang
bunuh diri yang percobaan yang  Motivasi klien menceritakan dihadapi
pernah dilakukan tindakan apa saja yang sudah
pernah dilakukan untuk

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 11


dilakukan  Tindakan yang mengakhiri
sudah pernah hidup
dilakkan untuk  Motivasi klien menceritakan
mengakhiri hidup perasaan setelah tindakan
tersebut
 Diskusikan apakah dengan
tindakan tersebut ma

TUK 5 : Klien Setelah 6× interaksi Diskusikan dengan klien akibat Membantu klien
dapat klien menjelaskan negatif melihat dampak yang
mengidentifikasi akibat tindakannya : cara yang dilakukan pada : ditimbulkan akibat
akibat tindakan  Diri sendiri  Diri sendiri tindakan bunuh diri
yang sudah  Orang lain  Orang lain yang dilakukan klien
dilakukan untuk  Lingkungan  Lingkungan
bunuh diri
TUK 6 : Klien Setelah 7× interaksi Diskusikan dengan klien : Menurunkan perilaku
dapat klien :  Apakah klien mau destruktif yang akan
mengidentifikasi  Menjelaskan cara mempelajari mencederai klien
cara konstruktif yang sehat untuk cara baru untuk menghilangkan
untuk menghilangkan keinginannya tanpa melakukan
tindakan destruktif terhadap

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 12


menghilangkan keinginan bunuh dirinya
keinginannya diri  Jelaskan berbagai alternatif
untuk bunuh diri yang
dapat dilakukan jika keinginan
bunuh diri muncul
 Jelaskan cara-cara sehat
untuk menghilangkan keinginan
untuk
bunuh diri : melakukan hobi
klien,
berdoa, minta bantuan orang
lain
jika muncul keinginan bunuh diri,
dan TAK
TUK 7 : Klien Setelah 9× interaksi  Diskusikan cara yang akan  Keinginan untuk
dapat klien memperagakan dipilih dan anjurkan klien bunuh diri sangat
mendemonstrsik cara mengontrol memilih cara yang mungkin rentan dan tidak
an cara perilaku destruktif sesuai dengan kondisi klien tahu kapan
mengontrol terhadap diri sendiri :  Bantu klien jika klien munculnya
keinginan untuk  Fisik : Melakukan kesulitan untuk  Meningkatkan
melakukan apa yang kepercayaan diri

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 13


bunuh diri hobi klien, ikut sudah dipilihnya klien serta
TAK menghindari
 Verbal : terjadi hal yang
Mengungkapkan tidak diinginkan
perasaan yang
membuatnya
ingin bunuh diri
pada orang lain
tanpa menyakiti
diri sendiri
 Spiritual : Berdoa
sesuai agama
TUK 8 : Klien Setelah 1× interaksi Diskusikan pentingnya peran Keluarga adalah
Mendapat keluarga : serta keluarga sebagai sistem pendukung
dukungan  Menjelaskan cara pendukung klien untuk utama bagi klien
keluarga untuk merawat klien dengan mengatasi perilaku bunuh diri
mengontrol resiko bunuh diri Diskusikan potensi keluarga
perilaku bunuh Setelah 2× interaksi untuk
diri keluarga : membantu klien mengatasi
 Mengungkapkan rasa perilaku bunuh diri
puas dalam merawat Jelaskan pengertian, penyebab,

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 14


klien akibat,
dan cara merawat klien resiko
bunuh
diri yang dapat dilakukan
keluarga
Peragakan cara merawat klien
Beri kesempatan keluarga untuk
memperagakan ulang
Beri pujian pada keluarga
setelah peragaan
Tanyakan perasaan keluarga
setelah mencoba cara yang
dilatih
TUK 9 : KLien 9.1 Setelah 10× interaksi 9.1 Jelaskan pada klien : Mensukseskan
menggunakan klien menjelaskan :  Manfaat minumobat program
obat sesuai  Manfaat  Kerugian tidak minum obat pengobatan klien
program yang minumobat  Nama obat
telah ditetapkan  Kerugian tidak  Bentuk dan warna obat
minum obat  Dosis yang diberikan
 Nama obat  Waktu pemakaian

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 15


 Bentuk dan warna  Cara pemakaian
Obat  Efek yang dirasakan
 Dosis yang
diberikan
 Waktu pemakaian
 Cara pemakaian
 Efek yang dirasakan
9.2 Setelah 11× interaksi 9.2 Anjurkan klien :
klien menggunakan  Minta dan menggunakan obat
obat sesuai program tepat
waktu
 Lapor ke perawat/dokter jika
mengalami efek yang tidak biasa
 Beri pujian terhadap
kedisiplinan
klien menggunakan obat

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 16


10. Implementasi Keperawatan

SP Tindakan Keperawatan Tindakan Keluarga


1 1. Menciptakan hubungan saling 1. Menciptakan hubungan saling
percaya yang terapeutik. percaya yang terapeutik
2. Memberikan lingkungan yang 2. Mengidentifikasi masalah klien.
aman (safety) berdasarkan 3. Melibatkan keluarga untuk
tingkatan resiko, managemen mendorong klien untuk
untuk klien yang memiliki resiko mengungkapkan perasaan klien
tinggi. 4. Melibatkan keluarga untuk
3. Membantu klien untuk mendiskusikan cara mengatasi
menurunkan resiko perilaku masalah klien
destruktif yang diarahkan pada diri 5. Melibatkan keluarga dalam
sendiri. memberikan dukungan
4. Mendorong klien untuk mekanisme koping yang positif.
mengungkapkan perasaannya. 6. Initiate Health Teaching
5. Membantu klien mengembangkan
mekanisme koping yang positif.
6. Membantu klien untuk
mengidentifikasi dan mendapatkan
dukungan sosial.
7. Initiate health teaching.
8. Membantu meningkatkan harga
diri klien.
9. Membuat jadwal kegiatan harian.
2 1. Melakukan evaluasi untuk tindakan 1. Melakukan evaluasi pada
yang telah dilakukan pada SP 1. tindakan yang telah dilakukan
2. Mendorong klien untuk pada SP1.
mengungkapkan perasaannya. 2. Melibatkan keluarga untuk
3. Membantu klien untuk mendorong klien untuk
mengidentifikasi dan mendapatkan mengungkapkan perasaan klien.
dukungan sosial dari segala 3. Melibatkan keluarga dalam
permasalahannya. mengidentifikasi permasalahan
4. Membuat jadwal kegiatan harian. klien.

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 17


4. Melibatkan keluarga untuk
mendiskusikan cara mengatasi
masalah klien.
3 1. Melakukan evaluasi untuk tindakan 1. Melakukan evaluasi untuk
yang telah dilakukan pada SP 2. tindakan yang telah dilakukan
2. Membantu klien mengembangkan pada SP2.
mekanisme koping yang positif 2. Melibatkan keluarga dalam
berhubungan dengan memberikan dukungan
permasalhannya, contoh mekanisme koping yang positif.
membantu klien menggunakan 3. Melibatkan keluarga melakukan
koping yang baik untuk mengatasi kegiatan yang berhubungan
kehilangan; ritual berduka. dengan peningkatan harga diri
3. Membantu meningkatkan harga klien.
diri klien. 4. Memberikan penguatan positif
4. Meminta klien untuk terhdapa setiap usaha keluarga
mengungkapkan perasaannya yang telah mendukung selama
saat ini. diberikannya proses keperawatan
5. Memberikan penguatan positif kepada klien.
terhadap setiap usaha klien yang
telah dilakukan untuk mengubah
perilaku hidup maladaptif.

11. Evaluasi
Berikut ini adalah tanda-tanda keberhasilan asuhan keperawatan
yang harus dicapai oleh klien dan keluarga:
a. Bagi klien yang memberikan ancaman atau melakukan percobaan
bunuh diri, keberhasilan asuhan keperawatan ditandai dengan
keadaan klien yang tetap selamat dan aman.
b. Bagi keluarga dengan anggota keluarga yang memberikan ancaman
atau melakukan percobaan bunuh diri, ditandai dengan kemampuan
keluarga untuk melindungi anggota keluarganya tersebut.
c. Bagi klien yang memberikan isyarat bunuh diri, keberhasilan asuhan
keperawatan ditandai dengan:
- Klien mampu mengungkapkan perasaannya.

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 18


- Klien mampu meningkatkan harga dirinya.
- Klien mampu menggunakan cara penyelesaian masalah.
d. Bagi klien yang memberikan isyarat bunuh diri, keberhasilan askep
ditandai dengan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan
risiko bunuh diri.
- Menyebutkan kembali tanda dan gejala bunuh diri.
- Memperagakan kembali cara-cara yang dapat dilakukan untuk
melindungi keluarga yang beresiko bunuh diri.
- Menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia dalam merawat
anggota keluarga yang berisiko bunuh diri.

Referensi
Keliat, Budi Anna. 2011. Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN (Basic Course).
Jakarta: EGC
Herdman, T. Heather. 2009. NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions
and Classification. Wiley-Blackwell
Stuart, G.W. 2009. Principles & Practice of Psychiatric Nursing. St. Louis: Mosby.
Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa Ed 5. Jakarta: EGC
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:EGC

Ahmi Choiria/0910720020/ PSIK_FKUB Page 19

Anda mungkin juga menyukai