0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan16 halaman

Peningkatan Hasil Belajar dengan Media Gambar

Diunggah oleh

choirunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan16 halaman

Peningkatan Hasil Belajar dengan Media Gambar

Diunggah oleh

choirunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas

1. Review Artikel Kuantitatif


(a. PTK,
a). Judul ada kalimat Peningkatan, Meningkatkan
b). Ada siklus penelitian, siklus1 siklus 2 dst..
c). Kesimpulan terdapat peningkatan

(b. Ekpesrimen (membandingkan)


a). Judul kalimat Pengaruh, penerapan, efektivitas,
b). Membandikan antara model, atau metode
c). Kesimpulannya terdapat pengaruh, metode a lebih baik dibanding metode b

(c. Korelasi
a). Judul Hubungan
b), melihat hubungan antar variabel
c), terdapat korelasi yang signifikan
REVIEW ARTIKEL

a) PTK

Artikel 1
Judul Pemanfaatan Media Gambar untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Sekolah Dasar
Jurnal Ainara Journal (Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Bidang Ilmu Pendidikan)
Volume dan Halaman Vol. 4 No. 3 Halaman 143-150
Tahun 2023
Penulis Theresia Wea Wora, Anselmus Boy Baunsele, Adry Gabriel Sooai,
Merpiseldin Nitsae
Reviewer Choirunnisa
Tanggal 13 Oktober 2024
Tujuan Penelitian Telah dilakukan penelitian menggunakan media gambar yang bertujuan
untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sekolah dasar
Subjek Penelitian Sampel yang diteliti adalah siswa kelas V SDI Kobelete
Kajian Teori Media Gambar

Berbagai langkah telah dilakukan guru untuk meningkatkan hasil


belajarsiswa, salah satunya adalah pemanfaatan media pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan berbagai komponen yang dapat
secara maksimal membantu proses pembelajaran untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Peningkatan pemahaman siswa terhadap suatu
materi pembelajaran telah banyak dilakukan misalnya
menggunakan berbagai bahan di lingkungan sekitar sebagai bahan
pembelajaran (Baunsele et al., 2020), video pembelajaran (Ardiman
et al., 2021; Manullang et al., 2023; Rahmandani et al., 2022),
modul interaktif (Yuliana et al., 2023), dan media gambar (Kemijan,
2018).

Hasil Belajar

Telah banyak dilakukan pembelajaran memanfaatkan media


gambar. Astuti dalam penelitiannya di SDN Negeri 3
Mataram Baru Lampung Timur ditemui bahwa dengan
menggunakan media gambar maka kemampuan menyimak para
siswa semakin meningkat (Astuti et al., 2022), begitu juga yang terjadi
di SDN 28 Dompu bahwa dengan menggunakan media gambar maka
kemampuan menulis siswa juga akan semakin meningkat (Hasan,
2021). Hal ini menjadi dasar peneliti untuk melakukan penelitian
dengan memanfaatkan media gambar dalam proses pembelajaran.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa SDI
Kobelete dalam memahami materi pelajaran Agama Katolik
khususnya materi pokok Perjalanan Hidup Daud. Materi pelajaran
ini bersifat naratif sehingga jika menggunakan ceramah, guru
cenderung untuk lebih aktif di kelas. Selain itu materi pembelajaran
ini belum banyak diteliti dengan penerapan berbagai metode, model
maupun strategi pembelajaran. Penggunaan media gambar pada
proses pembelajaran diharapkan mampu membantu siswa memahami
secara baik materi yang diajarkan ini karena pada penelitian ini
siswa akan lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga minat
belajar siswa akan semakin meningkat.
Latar Belakang Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan
menggunakan dua siklus pembelajaran. Tahapan pembelajaran
diantaranya perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Siklus kedua akan dilaksanakan jika siklus pertama belum mencapai
KKM. Pengumpulan data penelitian menggunakan lembar observasi
keaktifan siswa dan tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penggunaan media gambar mampu
meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari hasil observasi
penelitian setelah digunakan media gambar, keaktifan siswa mengalami
peningkatan dari 61% pada siklus I menjadi 78% pada siklus II.
Selanjutnya pada hasil tes mengalami peningkatan dari 74,4% pada
siklus I menjadi 81% pada siklus [Link] penelitian hasil ini,
media gambar dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam
pembelajaran sehingga akan membantu meningkatkan hasil
belajarsiswa.
Hasil Penelitian Tabel 2. Data hasil observasi aktivitas belajar siswa per aspek
menggunakan media gambar No, Aspek yang dinilai, Siklus I, Siklus II,
Jumlah Siswa, %, Kualifikasi, Jumlah Siswa, %, Kualifikasi. 1.
Kesiapan mengikuti pelajaran 350% Cukup 467% Aktif 2. Menyimak
penjelasan guru 467% Sangat 6100% Sangat . 3. Menyimak gambar
yang diberikan 467% Aktif 583% Sangat. 4. Menceritakan ulang gambar
yang diamati 350% Cukup 350% Cukup. 5. Keaktifan saat pembelajaran
berlangsung 350% Cukup 467% Aktif 6. Menyimak tugas 583% Sangat
6100% Sangat Rata-rata 61% Cukup 78%Aktif. Berdasarkan data
Gambar 2, dapat dilihat bahwa untuk kelima siswa yang diajarkan
menggunakan media gambar, terlihat pada penelitian ini terjadi
peningkatan nilai siswa. Hal ini menggindikasikan bahwa dengan
adanya pemanfaatan media pembelajaran seperti media maka siswa
dapat mengalami peningkatan pemahaman.
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, media gambar sangatlah
membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Materi
yang bersifat naratif dapat dengan mudah dipahami dengan bantuan
media gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan
menggunakan media gambar makakeaktifan siswa yang teramati
pada siklus I sebesar 61%dengan kategori cukup aktif mengalami
peningkatan keaktifan menjadi 78% dengan kategori aktifpada siklus II.
Sedangkan ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah 40% dan
meningkat menjadi 100% pada siklus II. Nilai rata-rata siklus I adalah
74,4 dan untuk siklus II adalah 81.
Daftar Pustaka Baunsele, A. B., Wora, T. W., Sooai, A. G., & Nitsae, M. (2023).
Pemanfaatan Media Gambar untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Sekolah Dasar. Ainara Journal (Jurnal Penelitian Dan PKM Bidang
Ilmu Pendidikan), 4(3), 143–150. [Link]

Artikel 2

Judul
Peningkatan Hasil Belajar melalui Model Pembelajaran Problem Based

Learning
Jurnal Jurnal Inovasi, Evaluasi dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP)
Volume dan Halaman Vol. 4 No. 1 Halaman 61-67
Tahun 2024
Penulis Devi Widyasari, Noor Miyono, Susilo Adi Saputro
Reviewer Choirunnisa
Tanggal 13 Oktober 2024
Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar
Pendidikan Kewarganegaraan Siswa kelas V (PPKN) pada materi
keragaman di SDN Pandeanlamper 03 dengan menggunakan
model pembelajaran berbasis masalah
Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah Siswa kelas V (PPKN) di SDN
Pandeanlamper 03 berjumlah 28 peserta didik dengan jumlah 15
siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki.
Kajian Teori Problem Based Learning (PBL)

Menurut (Hotimah 2020) Problem Based Learning (PBL) merupakan


sebuah model pembelajaran untuk membantu siswa memperoleh
keterampilan yang diperlukan di era globalisasi. Sedangkan menurut
(Yuliasari 2023) mengemukakan bahwa model pembelajaran
berdasarkan masalah adalah cara mengajar guru dengan memberikan
permasalahan dalam proses belajar kepada dalam situasi dunia
[Link] tersebut sejalan dengan pendapat (Elsa yuliana et al
2023)yang menyatakan pembelajaran berbasis masalah menggunakan
masalah untuk mengajar siswa dalam meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan kepercayaan diri. Keunggulan dari
pendekatan pembelajaran berbasis masalah adalah: (1)
mempermudah pemahaman materi bagi siswa, (2) meningkatkan
pengetahuan siswa dengan mengeksplorasi konsep-konsep baru, (3)
mendorong keterlibatan aktif dalam proses belajar, (4) membantu siswa
menerapkan pengetahuan dalam situasi kehidupan nyata, dan (5)
mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta meningkatkan
keterampilan [Link] pengertian-pengertian tersebut dapat
diambil simpulan model pembelajaran berbasis masalah digunakan
untuk memberikan peningkatan keaktifan siswa dengan di hadapkan
suatu permasalahan untuk merangsang sikap berpikir kritis siswa
dan dapat memecahkan suatu permasalahan dengan menyusun
pengetahuannya sendiri. Selaras dengan pendapat-pendapat diatas
dengan menerapkan model Pembelajaran Problem Based Learning(PBL)
pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Ppkn) Siswa
akan diminta untuk terlibat secara aktif dalam menemukan
solusi terhadap masalah. Metode belajar berbasis masalah akan
meningkatkan kemampuan dan keaktifan siswa, dan peningkatan
kemampuan memecahkan masalah akan menghasilkan peningkatan
hasil belajar.

Hasil Belajar PPKn

Pendidikan diartikan sebagai bentuk upaya yang sadar dan


terencana yang digunakan untuk menyiapkan siswa melalui
bimbingan, pengajaran sebagai seorang guru mempunyai peran dalam
pembelajaran (Ariyani et al 2021)salah satu tugas guru di
kelas adalah memberikan pengetahuan agar siswa dapat
menguasai materi pelajaran. Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn)
berfungsi untuk membentukan pribadi seorang siswa sebagai
warga negara Indonesia yang menempatkan hak-hak dan kewajiban
sebagai bentuk warga negara Indonesia dengan kompetensi yang sesuai
dengan nilai luhur bangsa (Magdalena et al 2020).Pendidikan
Kewarganegaraan adalah bentuk upaya memberi bekal siswa dengan
pengetahuan dan kapasitas penting mengenai 62hubungan antara
warga negara dan negara serta Pendidikan Pendahuluan Bela
Negara (PPBN). Peserta didik yang menyelesaikan pendidikan
kewarganegaraan diharapkan menjadi warga masyarakat, warga
negara, dan warga negara yang dapat diandalkan untuk mencapai
tujuan bersama bangsa dan negara. Tujuan Pendidikan
Kewarganegaraan belum tercapai dengan baik di lapangan. Terutama
dalam hal membekali siswa dengan pengetahuan dan kemampuan
dasar. Hal ini terlihat ketika pembelajaran berlangsung di kelas:
sebagian siswa belum mengembangkan kemampuan memecahkan
masalah, banyak siswa yang kesulitan memahami materi, dan kurangnya
peran serta siswa selama proses pembelajaran. Tidak adanya
dukungan dinamis siswa dalam pengalaman belajar PPKn
menunjukkan rendahnya pergerakan siswa yang pada akhirnya
mempengaruhi hasil belajar mereka (Sofian et al 2022).
Latar Belakang Berdasarkan pengamatan awal selama proses pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan di kelas V A SDN Pandeanlamper 03
pada materi keragaman terdapat beberapa temuan bahwa (1)
Pendekatan belajar yang diterapkan tidak mengarahkan siswa
untuk aktif dan memberikan dampak hasil belajar siswa tidak
optimal (2) Kurangnya pemanfaatan teknologi dalam proses
pembelajaran sehingga pembelajaran terkesan monoton. Temuan
tersebut di perkuat oleh hasil pretest pembelajaran pendidikan
kewarganegaraan bahwa terdapat 40% yang mencapai
ketuntasan terdapat 12 siswa yang belum mencapai KKM dengan
nilai minimum 40. Pendekatan dan model pembelajaran akan
memberikan pengaruh pada hasil belajar siswa, yang merujuk pada cara
siswa menghadapi proses pembelajaran dengan berbagai strategi,
model, dan metode. Hal ini dapat berdampak pada efektivitas dan
hasil belajar yang kurang optimal.(Oktaviani 2020).
Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
telah berhasil ditunjukkan dengan hasil penelitian oleh (Ariyani et al
2021)dalam artikel berjudul “Model Pembelajaran 63Problem Based
Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa SD”. Simpulan
hasil uji dalam penelitian tersebut mendeskripsikan peningkatan
signifikan dalam hasil belajar siswa setelah menerapkan model
pembelajaran berbasis masalah. Hal ini terlihat dari peningkatan
hasil belajar siswa sesudah dan sebelum penerapan model
pembelajaran berbasis masalah. Oleh karena itu, model
pembelajaran berbasis masalah efektif dalam meningkatkan hasil
belajar IPS di SD. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Sari
2023)juga menunjukkan hasil yang serupa. Penelitian tersebut
menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis
masalah secara keseluruhan memberikan peningkatkan partisipasi
siswa selama proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar.
Hasil Penelitian Tabel 2. Indikator ketercapaian hasil belajar Konservasi Nilai (0-100 )
Klasifikasi 81-100 Sangat baik 61-80 Baik 41-60 Cukup 0 –40 Perlu
bimbingan Uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis
digunakan dalam penelitian ini untuk melakukananlisis data.
Distribusidata normal atau tidak akan duji dengan uji normalitas.
data berdistribusi tidaknormal, dengan melihat nilai(sig.) < α dengan
nilai α=0.05. Variasi data penelitian akan di uji dengan
[Link] data bervarians homogen, dengan melihat nilai
(sig.) > α dengan nilai α=0.05. Sebaliknya data bervarians tidak
homogen, dengan melihat nilai (sig.) < α dengan nilai α=0.05. Selain
itu,hipotesis dibuat untuk menentukanapakah hasil belajar siswa telah
meningkat dengan penggunaanmodelPBL di kelas V A SDN
Pandeanlamper 03. Peneliti menggunakan ujipasangan sampel t.
Kriteria uji hipotesis adalah apabila nilai sig. (2-tailed) < α dengan
nilai α = 0.05 diambil keputusan bahwa H1diterima atau H0ditolak.
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di
uraikan,secara keseluruhan, diambil simpulan model pembelajaran
berbasis masalah efektif dalam memberikan peningkatan 66hasil belajar
siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya
pada materi keragaman. Model ini memberikan ruang bagi siswa
untuk aktif terlibat dalam memecahkan masalah dan memberikan
kemudahan dalam pemahaman mereka terhadap materi
pembelajaran. Hasil penelitian uji t-tes diperoleh nilai sig (2-tailed)
sebesar 0.000 < 0.05 sehingga H0 ditolak dan H1diterima. Dari
hasil uji memberikan gambaran bahwa penggunaan model
pembelajaran Problem Based Learning terbukti memberikan
peningkatan hasil belajar siswa pada materi Keragaman dalam mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Daftar Pustaka Widyasari, D., Miyono, N., & Saputro, S. A. (2024). Peningkatan Hasil
Belajar melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning. Jurnal
Inovasi, Evaluasi Dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP), 4(1), 61–
67. [Link]

b) Eksperimen

Artikel 1
Judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Berbasis Gamifikasi dan
Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Matematika pada Siswa SDN 1
Kayuambon Kelas 4
Jurnal J.P.T (Jurnal Pendidikan Transformatif)
Volume dan Halaman Vol. 3 No. 2 Halaman 163-170
Tahun 2024
Penulis Yasmin Hadiyya Fatin Hana, AzZahra Salsabila, Muhammad Dzaky Al
Ghifary, Muhammad Asykar Mu’thi, Gunawan Santoso
Reviewer Choirunnisa
Tanggal 13 Oktober 2024
Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yang dilakukan ini adalah untuk menguji penerapan
model pembelajaran kooperatif berbasis gamifikasi dan pengaruhnya
terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas 4 SDN 1 Kayuambon
Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah siswa kelas 4 SDN 1 Kayuambon
Kajian Teori Pembelajaran kooperatif selama proses pembelajaran menitikberatkan
pada kerjasama dan interaksi. Melalui pembelajaran kooperatif, guru
tidak menjadi sumber informasi utama, namun menjadi fasilitator
bagi siswa. Oleh karena itu, siswa berpartisipasi aktif selama proses
pembelajaran (Kusumawardani et al., 2020) (Magdalena, dkk., 2024).
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa dapat memperoleh materi
pembelajaran melalui keterlibatan langsung serta mampu
meningkatkan sikap kerja sama, rasa peduli terhadap orang lain,
dan lapang dada menerima pendapat dari orang lain. Selanjutnya, J.
Johson dan Johson mengungkapkan bahwa model pembelajaran
kooperatif akan memotivasi siswa supaya lebih giat dalam belajar,
merasakan lingkungan belajar yang nyaman, mencapai hasil belajar
yang tinggi, melatih keterampilan berpikir kritis, kerja sama,
menghargai perbedaan, serta memiliki aspek psikologis yang lebih baik
(Fathurrohman, 2015)(Santoso, Sakinah, et al., 2022).Model
pembelajaran kooperatif ini dapat dipadukan dengan model
pembelajaran berbasis gamifikasi supaya siswa dapat menjalankan
proses pembelajaran secara menyenangkan. Yu-kai Chou mendefinisikan
gamifikasi sebagai “keahlian untukmemperoleh semua elemen
menyenangkan dan membuat ketagihan yang ditemukan dalam
gamifikasi dan menerapkannya ke dunia nyata atau aktivitas
produktif”, sementara Ray Wang, CEO & Analis Utama
Constellation Research, Inc., menggambarkannya sebagai “serangkaian
prinsip desain, proses dan sistem yang digunakan untuk
mempengaruhi, melibatkan dan memotivasi individu, kelompok dan
komunitas untuk mendorong perilaku dan memberikan hasil yang
diinginkan (Huang & Soman, 2013)(Yati & Santoso, 2022). Teknik
gamifikasi diadopsi untuk mendukung pembelajaran dalam berbagai
konteks dan mata pelajaran, mengatasi sikap dan perilaku
transversal seperti kolaborasi, kreativitas, dan kemandirian
(Caponetto, et al., 2014)(Santoso, Imawati, et al., 2022).
Latar Belakang Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang siswa pelajari pada
tiap satuan pendidikan. Matematika merupakan pelajaran yang
diterapkan di sekolah guna mengembangkan kepribadian serta
kemampuan siswa dan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, yang harus selalu relevan dengan kepentingan dan
kebutuhan siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa
depan (Hasratuddin, 2008)(Santoso, Sakinah, et al., 2022).
Matematika sendiri memiliki empat komponen yaitu matematika
merupakan ilmu pasti, matematika dibutuhkan dalam kehidupan
sehari –hari, matematika dapat melatih pola pikir kritis, serta
mendasari berbagai cabang ilmu lain. Hal tersebut menjadi pendukun
urgensi pembelajaran matematika khususnya dalam melatih serta
mengembangkan keterampilan literasi dan numerasi pada siswa
(Mariana dan Hasanudin, 2023).

Dalam pembelajaran matematika ini, diperlukan ketepatan


dalam penerapan model pembelajaran sehingga mampu
meningkatkan hasil belajar siswa. Penerapan model pembelajaran
165yang tidak tepat, baik dari pendekatan, model, strategi, metode, dan
teknik pembelajaran matematika dalam menyampaikan materi akan
membuat kegiatan pembelajaran dan pengajaran menjadi kurang
efisien dan efektif (Jayanti dkk., 2022)(Santoso et al., 2023).
Hal tersebut nantinya akan berpengaaruh terhadap hasil belajar
siswa. Dari penjelasan di atas, peneliti bermaksud mengadakan
penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Berbasis Gamifikasi dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar
Matematika pada Siswa SDN 1 Kayuambon Kelas 4”.
Hasil Penelitian Gambar 1. Hasil Pretest dan Post test dengan Model KonvensionalDari
data tersebut dapat terlihat peningkatannya bahwa hasil belajar
siswa belum meningkat signifikan. Maka dari itu, dapat ditarik
kesimpulannya bahwa perlu adanya meningkatkan hasil belajar dan
motivasi siswa yang lebih tinggi dan signifikan.
Kesimpulan Model pembelajaran kooperatif berbasis gamifikasi memberikan
dampak positif yang substansial bagi hasil belajar siswa apabila
dibandingkan dengan menggunakan model konvensional. Penelitian ini
menunjukkan bahwasanya hasil belajar siswa meningkat secara
signifikan setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif
berbasis gamifikasi, hal ini membuktikan efektivitas model tersebut
dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Mengingat munculnya
peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model
kooperatif berbasis gamifikasi, maka dapat disimpulkan bahwa
pendekatan ini bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih
efektif dan menarik. Dengan demikian, model ini dapat menjadi
alternatif dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Meski begitu,
dalam penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis gamifikasi
harus tetap memperhatikan karakteristik siswa, tujuan
pembelajaran, alokasi waktu, dan sarana yang tersedia supaya
pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta searah
dengan yang telah direncanakan.
Daftar Pustaka Yasmin Hadiyya Fatin Hana, Az Zahra Salsabila, Muhammad Dzaky Al
Ghifary, Muhammad Asyar Mu’thi, & Santoso, G. (2024). Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif Berbasis Gamifikasi dan Pengaruhnya
Terhadap Hasil Belajar Matematika pada Siswa SDN 1 Kayuambon
Kelas 4. Jurnal Pendidikan Transformatif, 3(2), 163–170.
[Link]

Artikel 2
Judul PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY UNTUK
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM
PEMBELAJARAN IPA PADA SISWA KELAS VIB SDN PAJJAIANG
KOTA MAKASSAR
Jurnal Jurnal Inovasi Pedagogi & Teknologi (JIPTek)
Volume dan Halaman Vol. 2 No. 1 Halaman 43-53
Tahun 2024
Penulis Nursyahrani Ananda Asamad, Abdul Rahman, Hikmawati Usman
Reviewer Choirunnisa
Tanggal 13 Oktober 2024
Tujuan Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas yang bertujuan
untuk mengetahui gambaran penerapan model pembelajaran
inquiryuntuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam
pembelajaran IPA pada siswa kelas VI B di UPT SPF SD Negeri
Pajjaiang Kota Makassar
Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas VI B dan siswa
kelas VI B yang berjumlah 30 orang
Kajian Teori Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan pembelajaran yang harus
dikuasai oleh siswa di tingkat sekolah dasar. Asrul (2013)
menjelaskan bahwa pelajaran IPA bagi siswa sekolah dasar adalah
mata pelajaran yang mempelajari tentang alam secara sistematis,
bukan sekedar memperoleh pengetahuan saja melainkan proses
penemuan ilmiah. Suharyati (2022) menyatakan IPA merupakan ilmu
yang mengkaji fenomena yang terjadi di alam melalui
pengamatan, percobaan, penyimpulan, dan pembentukan teori,
dengan serangkaian proses ilmiah seperti penelitian, pengumpulan,
dan presentasi ide. Proses pembelajarannya ditujukan untuk
mengembangkan kapasitas dalam mempelajari dan memahami alam
secara ilmiah. Proses belajar IPA membutuhkan model pembelajaran
dengan pendekatan ilmiah. Dipaparkan oleh Jufri (2017) pada
hakekatnya, IPA adalah ilmu yang sifatnya ilmiah. Sedangkan
model pembelajaran inquiryadalah proses pembelajaran yang
didasarkan pada penemuan melalui proses berpikir kritis dan
sistematis. Sutarningsih (2022, h. 117) “model Inquiry merupakan
model pembelajaran yang merangsang, mengajarkan, dan mengajak
siswadalam rangka menemukan jawaban secara mandiri
dariberbagai permasalahan”. Jika model pembelajaran
inquirydikaitkan dengan pembelajaran IPA, maka model pembelajaran
inquirymerupakan proses penemuan hal-hal baru dalam
pembelajaran IPA.

Model pembelajaran inquiry mendorong siswa untuk mampu berpikir


kritis. Ramdani dkk. (2020) mengemukakan berpikir kritis
merupakan salah satu kemampuan yangmelatih siswa agardapat
menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Rustini,
(2012) mengemukakan bahwa dengan menerapkan sintaks model
pembelajaran inquiry mampu mengembangkan kemampuan berpikir
kritis siswa. Sutarningsih (2022, h. 117) menjelaskan “model
pembelajaran inquirybertujuan untuk membantu siswa mengembangkan
keterampilan intelektualseperti mengajukan pertanyaan dan mencari
jawaban”. Bahri (2016) mengemukakan model inquiry memberikan
kesempatan bagi siswa untuk belajar aktif dalam merumuskan
masalah, menganalisis hasil serta mengambil kesimpulan. Model
pembelajaran inquiry berpusat pada siswa
Latar Belakang Penerapan model pembelajaran inquiry untuk mengembangkan
kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPA berjalan
dengan baik. Hasil observasi pada siklus I, dapat diketahui
bahwa aktivitas guru dan siswa dalam penerapan model
pembelajaran inquiry masih perlu ditingkatkan dan pencapaian
kemampuan berpikir kritis siswa masih kurang. Sehingga diperlukan
adanya peningkatan pada siklus selanjutnya. Model pembelajaran
inquiryyang diberikan oleh guru sudah mulai diresponbaik oleh
siswa. Pada siklus I siswa masih perlu 202451dibimbing oleh guru
dalam proses pembelajaran. Dari hasil refleksi siklus I perlu diadakan
perbaikan yaitu:1) Guru seharusnya memberikan motivasi siswa
untuk membangun kreatifitas dan partisipasi siswa dalam kelompok, 2)
Guru mengalami kesulitan dalam memberikan umpan balik
kepada siswa dikarenakan siswa pasif, 3) Siswa kurang aktif dan
antusias dalam proses pembelajaran, 4) Siswa mengalami
kesulitan saat menjawab tes kemampuan berpikir kritis, 5) Siswa
mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan darikelompoklain.
Oleh sebab itu, peneliti melanjutkan pada siklus II untuk
menjawab rumusan masalah penelitian
Hasil Penelitian Berdasarkan dari hasil tes kemampuan berpikir kritis IPA siswa
menunjukkan bahwa tingkat penguasaan materi pada mata pelajaran
IPA pada siklus I siswa yang tuntas hanya 12 orang sedangkan
yang tidak tuntas 18 orang dengan rata-rata ketuntasan belajar
siswa 70%. Dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran IPA
masih banyak siswa yang belum mencapai KKM 75. Terjadi
peningkatan yang positif dapat diinterpretasikan bahwa model
pembelajaran inquirytelah meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas
VI UPT SPF SD Negeri Pajjaiang 12 Kota Makassar. Keberhasilan
tindakan dari siklus I ke siklus II dikarenakan guru dapat
melaksanakan rancangan pembelajaran dengan baik sehingga dalam
mengembangkan kemampuan berpikir pada pembelajaran IPA siswa
mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Kesimpulan Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian dan pembahasan,
dapat disimpulkan bahwa gambaran model pembelajaran inquiry pada
siklus I siswa kurang aktif dalam proses 202452pembelajaran
sehingga guru kesulitan dalam memberikan umpan balik, dan
mengalami peningkatan pada siklus II dengan adanya kegiatan
eksperimen membuat siswa terlibat secara langsung dan aktif
dalam proses pembelajaran sehingga umpan balik antar guru dan
siswa menjadi lebih baik dan kemampuan berpikir kritis siswa
mencapai kategori sangat kritis. Dengan menerapkan model
pembelajaran inquirydalam pembelajaran IPA, maka kemampuan
berpikir kritis siswa di kelas VI B di UPT SPF SD Negeri
Pajjaiang Kota Makassar meningkat. Hal ini terbukti dengan
adanya peningkatan hasil tes kemampuan berpikir kritis
pembelajaran IPA siswa ditandai dengan peningkatan presentase
ketuntasan belajar dilihat dari hasil tes kemampuan berpikir
kritis siswa, pada siklus I presentase ketuntasan belajar siswa
mencapai kategori sedang pada tindakan sikus II presentase
ketuntasan belajar siswa telah mencapai kategori sangat kritis
dan mencapai indikator keberhasilan yang telahditetapkan.
Daftar Pustaka Asamad, N. A., Rahman, A., & Usman, H. (2024). PENERAPAN
MODELPEMBELAJARAN INQUIRY UNTUK
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM
PEMBELAJARAN IPA PADA SISWA KELAS VIB SDN
PAJJAIANG KOTA MAKASSAR . Jurnal Inovasi Pedagogik Dan
Teknologi, 2(1), 43–53. Retrieved from
[Link]
c) Korelasi

Artikel 1
Judul Hubungan Metode Jarimatika dengan Perkalian dalam Pembelajaran
Matematika pada Siswa Sekolah Dasar
Jurnal Journal on Education
Volume dan Halaman Vol. 6 No. 2 Halaman 11611-11620
Tahun 2024
Penulis Intan Pritama Putri, Ramanata Disurya, Farizal Imansyah
Reviewer Choirunnisa
Tanggal 13 Oktober 2024
Tujuan Penelitian Tujuan dalam penelitian ini agar siswa dapat meningkatkan kemampuan
berhitung perkaliannya
Subjek Penelitian Sampel yang diteliti adalah siswa kelas IV (A) SD Negeri 31
Palembang
Kajian Teori Jarimatika ialah singkatan dari jari dan aritmatika. jarimatika adalah
metode berhitung dengan menggunakan jari tangan ,metode ini
ditemukan oleh ibu (Septi Peni Wulandani, 2006, p. 38). meski hanya
menggunakan jari tangan, tetapi dengan metode jarimatika kita bisa
menyelesaikan operasi hitung bilangan KaBaTaKu (Kali Bagi Tambah
Kurang). Menurut pendapat Beliau metode ini sangat mudah diterima
anak–anak. mempelajarinya pun sangat mengasyikkan ,karena
jarimatika tidak membebani memori otak dan “alat” nya akan disita atau
ketinggalan karena alatnya adalah jari tangan kita sendiri. Menurut
Ayurachmawati, dkk dalam (Risma Nurjuliani, 2021, p. 29)
menyebutkan bahwa “jarimatika adalah cara sederhana dan
menyenangkan mengajar berhitung untuk anak sekolah dasar “ maksud
dari pendapat ini adalah anak-anak lebih menyenangkan dalam
menyelesaikan tugas sekolah berupa perkalian karena dengan
menggunakan cara ini siswa lebih praktis dan efisien serta mudah
untuk ia melakukannya.

Berdasarkan kegiatan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti pada


Sabtu, 21 Januari 2023 Di SD Negeri 31 Palembang. Ditemukan 50
% siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari Matematika
terutama berhitung perkalian pada pembelajaran matematika setelah
mengetahui masalah yang dialami anak tersebut ,peneliti langsung
menanyakan kepada wali kelas IV A di SD Negeri 31 Palembang
perihal masalah yang dialami anak tersebut. Dikarenakan hal ini
peneliti tertarik untuk
melakukan penelititan ini. Ditemukan faktor yang menyebabkan
kurangnya kemampuan berhitung perkalian dalam pembelajaran
matematika pada siswa kelas IV (A) SD Negeri 31 Palembang
adalah Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru terbilang
monoton /kurang menarik serta siswa juga kurang berkonsentrasi
dengan apa yang dijelaskan oleh guru didepan sehingga
menyebakan siswa tidak memiliki minat dalam memahami
pembelajaran Matematika khususnya materi perkalian ini
Latar Belakang Perkembangan bidang sains dan teknologi di masyarakat sangat cepat
dan menakjubkan. Semua hal yang menakjubkan itu juga dapat
dikatakan berhutang kepada matematika. Setiap orang yang memiliki
keuntungan dari fasilitas teknologi dan sains harus mengetahui
paling tidak sedikit matematika agar berhasil dan baik dalam
menggunakannya. Oleh karena itu, matematika tidaklah layak hanya
diperlakukan sebagai disiplin ilmu di dalam ruang–ruang kelas saja
seperti yang terasa kini. Kebanyakan pelajar di indonesia, memiliki
sudut pandang yang salah terhadap matematika karena selalu
dianggap mata pelajaran yang sangat sulit. Ini terbukti dari survei yang
dilakukan oleh Programme For International Student Assessment
(PISA) di bawah Organization Ekonomi Corporation and Development
(OECD)
yang dilakukan pada 65 negara di dunia tahun 2018 lalu, yang
mengatakan bahwa kemampuan matematika siswa–siswi di
Indonesia menduduki peringkat bawah dengan skor 379 dengan skor
rata–rata 487. Kurang dari satu persen siswa Indonesia yang memiliki
kemampuan bagus dibidang matematika ini adalah pernyataan yang
sangat mengkhawatirkan bagi dunia pendidikan Indonesia. Mereka
tidak menyadari bahwa matematika mempunyai peran yang sangat
penting dalam kehidupan sehari–hari. Contohnya saja dalam hal
transaksi jual beli yang sering dilakukan oleh masyarakat umum ,
pasti menggunakan unsur–unsur berhitung yang ada di dalam
matematika. melalui belajar matematika secara tidak langsung dapat
melatih seseorang untuk berfikir secara rasional dan lebih
menggunakan logika. Matematika juga berperan sangat penting
dalam bidang teknologi dan ilmu sains, akan tetapi nyatanya bagi pelajar
sebagian besar merasa malas dan tidak tertarik bahkan kalau bisa mereka
ingin menghindar dari pembelajaran matematika tersebut. (PISA,OECD
Dan Rahayu, 2018, p. 24 )
Hasil Penelitian Tabel 3. Hasil Data Uji Korelasi. Berdasarkan data diatas dapat kita
lihat bahwa hasil nya r = 0,864 dan p-value 0,000 < 0,05 maka Ha
diterima. Artinya Metode jarimatika dengan Perkalian siswa kelas IV A
SDN 31 Palembang ada korelasi yang signifikan. Sesuai dengan
kriteria ketentuannya apabila r hitung lebih besar dari r table maka
Ho ditolak dan
Ha diterima. Nilai N nya adalah 18 dan r table dilihat dari taraf
signifikan 5% ialah 0,468 . dapat kita simpulkan bahwa r hitung >
r table = 0,864 > 0,468 maka terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara Metode jarimatika terhadap perkalian dalam
pembelajaran matematika pada siswa kelas IV A SDN 31 Palembang.
Kesimpulan Berdasarkan data yang telah di analisis, maka dapat kita simpulkan
bahwa terdapat hubungan antara Metode jarimatika dengan Perkalian
pada siswa kelas IV A SDN 31 Palembang. Berdasarkan hasil
pengujian hipotesis penelitian yang telah dilaksanakan menunjukkan
bahwa ada hubungan yang
positif dan signifikan antara Metode Jarimatika dengan Perkalian
karena r hitung > r tabel , yakni 0,864 > 0,468. Kemudian
berdasarkan hasil analisis Korelasi diperoleh nilai 0,864 yang berarti
bahwa ada hubungan yang cukup erat antara Metode jarimatika ini
dengan Perkalian. Serta dengan
memperoleh nilai signifikan senilai 0,000 dimana 0,000 < 0,005 maka
dapat kita simpulkan bahwa Ho Ditolak dan Ha Diterima, serta dapat
kita simpulkan juga ada hubungan antara Metode jarimatika dengan
Materi perkalian siswa.
Daftar Pustaka Putri, I., Disurya, R., & Imansyah, F. (2024). Hubungan Metode
Jarimatika dengan Perkalian dalam Pembelajaran Matematika pada
Siswa Sekolah Dasar. Journal on Education, 6(2), 11611-11620.
[Link] More Citation Formats

Artikel 2
Judul HUBUNGAN PENGELOLAAN KELAS DAN BUDAYA BELAJAR
DENGAN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN DI SDN BUTUNG1
MAKASSAR
Jurnal Jurnal Inovasi Pembelajaran dan Pendididkan
Volume dan Halaman Vol. 2 No. 2 Halaman 563-573
Tahun 2024
Penulis Abdul Saman, Muhammad Faisal, Ariati Rusli
Reviewer Choirunnisa
Tanggal 13 Oktober 2024
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan
positif signifikan antara pengelolaan kelas, budaya belajar terhadape
fektifitas pembelajaran
Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini yaitu peserta didik kelas V yang mana
populasinya berjumlah 70 siswa yaitu seluruh peserta didik kelas tinggi
SDN 1 Butung Makassar, dengan sampel yang berjumlah 32 siswa dari
kelas V SDN 1 Butung Makassar
Kajian Teori Peneliti menerapkan aspek berdasarkan teori yang dipaparkan oleh
Hidayat (2019), Hidayat mengemukakan terdapat indikator dalam
pengelolaan kelas yaitu kodisi nonfisi kmeliputi perhatian siswa, suasa
kelas, dan kondisi fisik siswa. Pengelolaan kelas merupakan bagian dari
manajemen kelas agarkelas berjalan sesuai dengan perencanaan
pembelajaran. Pengelolaan kelas memiliki aspek penting dalam
mengefektifkan pembelajaran yaitu guru menciptakan suasana belajar
yang tepat, mengatur kelas seperti pengaturan tempat duduk, mengelola
kegiatan pembelajaran sehingga kegiatan belajar dapat terlaksana seperti
yang diharapkan. Hasil penelitian yang diperoleh untuk pengelolaan
kelasdi SDN I Butung Makassar menunjukkan siswa berada kategori
sedang. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi hasil penelitian dapat
berupa pengaruh dari faktor internal dan eksternal. Meningkatnya hasil
belajar siswa pada penelitian ini sejalan dengan
(Nurkancana,dalamWijaya,2017) evaluasi terhadap hasil belajar suatu
pedoman yang tepat digunakan untuk menetapkan frekuensi tes adalah
susunan dari pada bahan pelajaran. Apabila suatu bahan pelajaran terdiri
dari empat unit, maka tes terhadap bahan pelajaran tersebut paling
sedikit harus dilaksanakan setiap akhir dari pada suatu unit. Selain itu,
penyusunan soal soal merupakan hal yang sangat penting pula dalam
proses evaluasi. Sebab tepat tidaknya data yang diperoleh sangat
tergantung kepada baik tidaknya soal-soal yang akan digunakan
Latar Belakang Berdasarkan observasi awal dikelas V SDN Butung 1 Makassar
ditemukan fakta bahwa budaya belajar dan pengelolaan kelas yang
dilakukan oleh guru belum dilakukan secara maksimal .Ketika kegiatan
belajar mengajar berlangsung, guru masih melaksanakan pembelajaran
dengan suasana kelas yang monoton. Ketika kegiatan belajar mengajar
berlangsung sudah ada kontrol dari guru, hanya saja lebih terfokus pada
pengaturan guru berupa tindakan korektif, sedangkan pengelolaan fisik
belum dilakukan, misalnya guru tidak membuka jendela agar terjadi
sirkulasi udara yang baik, tidak mengecek satu persatu kesulitan siswa
dalam mengerjakan tugasnya. SDN Butung 1 Makassar terus berusaha
mengembangkan mutu pendidikan dengan berbagai cara yakni
mengutamakan proses pembelajaran yang efektif yaitu melalui budaya
belajar dan pengelolaan kelas. Upaya meningkatkan mutu pendidikan
dalam pembelajarannya SDN 1 Butung sudah mengimplementasikan
budaya belajar dan pengelolaan kelas dengan tujuan mencapai hasil
yang diinginkan,seperti suasana kelas tidak sunyi, adanya keharmonisan
antar guru baik didalam kelas maupun diluar kelas. Namun pada
kenyataannya proses pembelajaran ada guru yang asik berbicara
dengan sesama guru sementara proses mengajar di kelas sedang
berlangsung.
Hasil Penelitian Tabel 3.4 Tabel korelasi budaya belajar dengan efektifitas pembelajaran.
Berdasarkan hasil tabel uji korelasi diatas, ditemukan nilai signifikansi
antara budaya belajar (X2) dengan efektifitas pembelajaran (Y) yaitu
sebesar 0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil (kurang dari) 0,05 yang
artinya terdapat hubungan yang signifikan antara budaya belajar dan
efektifitas pembelajaran. Pada nilai korelasi pearson diatas yaitu sebesar
0,720 dimana angka tersebut bernilai positif maka korelasi pearson
bernilai positif yang berarti hubungan tersebut berjalan searah, semakin
tinggi budaya belajar maka semakin tinggi pula efektifitas pembelajaran
siswa kelas V, begitupun sebaliknya.
Kesimpulan Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian, maka dapat
dikemukakan kesimpulan peneliti sebagai berikut: 1. Gambaran
pengelolaan kelas diketahui pada kategori sedang, hasil uji analisis
menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara budaya belajar
dan efektifitas pembelajaran, semakin tinggi budaya belajar maka
semakin tinggi pula efektifitas pembelajaran siswa kelas V SDN 1
Butung Kota Makassar. [Link] budaya belajar di kelas V SDN I
Butung Makassar pada kategori sedang. Hasil analisis data efektifitas
pembelajaran menunjukkan bahwa efektifitas pembelajaran siswa kelas
V SDN I Butung Makassar mendominasi kategori sedang. 3. Efektifitas
pembelajaran siswa bernilai positif berarti hubungan tersebut berjalan
searah, semakin tinggi budaya belajar maka semakin tinggi pula
efektifitas pembelajaran siswa kelas VSDN 1 Butung Kota Makassar.
Hasildari efektifitas pembelajaran berada pada kategori sedang. 4. Hasil
penelitian menunjukkan terdapat hubungan pengelolaan kelas, budaya
belajar terhadap efektifitas pembelajaran peserta didik. Nilai koefisien
korelasi membuktikan bahwa hubungan antara pengelolaan kelas dan
efektifitas pembelajaran peserta didik tersebut tergolong kuat dan searah
yang artinya semakin meningkat pengelolaan kelas maka keaktifan
belajar peserta didik juga semakin meningkat.
Daftar Pustaka Abdul Saman, Muhammad Faisal, & Ariati Rusli. (2024). HUBUNGAN
PENGELOLAAN KELAS DAN BUDAYA BELAJAR DENGAN
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN DI SDN BUTUNG 1
MAKASSAR. INDOPEDIA (Jurnal Inovasi Pembelajaran Dan
Pendidikan), 2(2), 563–573. Retrieved from
[Link]

Anda mungkin juga menyukai