MAKALAH FILSAFAT SAINTEK
SARANA BERPIKIR ILMIAH; BAHASA, MATEMATIKA, STATISTIKA
Dosen Pengampu:
Bahriddin Abapihi, [Link]., [Link].
OLEH:
NAMA : IRMAWATI
NIM : F1A2 23 035
PROGRAM STUDI STATISTIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2024
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan YME, atas segala
kebesaran dan kelimpahan nikmat yang diberikan-Nya, sehingga penyusun dapat
menyelesaikan makalah tentang sarana berfikir ilmiah.
Dalam penulisan makalah ini, berbagai hambatan telah kami alami. Oleh
karena itu terselesaikannya makalah ini tentu saja bukan karena kemampuan
penyusun semata-mata. Namun, karena adanya bantuan dan dukungan dari pihak-
pihak yang terkait.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari pengalaman dan
pengetahuan masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penyusun sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran dari berbagai pihak agar makalah ini lebih
baik dan bisa lebih bermanfaat.
Kendari, 1 November 2024
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... II
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................ ... ...................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3
2.1 Pengertian Sarana berpikir ilmiah ..................................................................... 3
2.2 Tujuan Sarana Berpikir Ilmiah .......................................................................... 3
2.3 Fungsi Sarana Berpikir Ilmiah .......................................................................... 4
2.4 Bahasa Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah ............................................................ 4
2.5 Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah .................................................... 6
2.6 Statistika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah......................................................... 7
BAB III PENUTUP ............................................................................................... 9
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 9
3.2 saran ................................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia makhluk yang berakal, akal membedakan manusia dengan
makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan bahkan jin dan malaikat.
Manusia mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan hidupnya dalam
kehidupan sehari-hari dengan menggunakan akalnya. Manusia dapat membuat
peralatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemampuan manusia
membuat peralatan bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan begitu saja,
tetapi telah melalui proses pengalaman. Pengalaman-pengalaman yang telah
dilalui menjadi dasar bagi pembentukan pengetahuan. Dengan pengetahuan
yang telah dimiliki manusia dapat membuat peralatan tersebut.
Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman untuk membuat alat
menyebabkan manusia terus mengembangkan pengetahuannya, untuk
mengembangkan pengetahuannya tersebut dibutuhkan juga alat. Alat yang baik
memungkinkan manusia memperoleh pengetahuan baru melalui aktivitas
berpikir yang benar.
Makalah ini ditulis untuk membahas dan memahami tentang sarana
berpikir ilmiah, meliputi: pengertian sarana berpikir ilmiah, tujuan sarana
berpikir ilmiah, fungsi sarana berpikir ilmiah, bahasa sebagai sarana berpikir
ilmiah, logika sebagai sarana berpikir ilmiah, matematika sebagai sarana
berpikir ilmiah, dan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan Pengertian Sarana berpikir ilmiah!
2. Apa tujuan sarana berpikir ilmiah?
3. Apa fungsi sarana berpikir ilmiah?
4. Bagaimana bahasa menjadi sarana berpikir ilmiah?
5. Jelaskan matematika sebagai sarana berpikir ilmiah?
6. Jelaskan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah?
1
1.3 Tujuan Penulisan
1. mengetahui Pengertian Sarana berpikir ilmiah
2. mengetahui tujuan sarana berpikir ilmiah
3. mengetahui fungsi sarana berpikir ilmiah
4. mengetahui bahasa menjadi sarana berpikir ilmiah
5. memahami matematika sebagai sarana berpikir ilmiah
6. memahami statistika sebagai sarana berpikir ilmiah
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sarana Berpikir Ilmiah
Pengertian sarana berpikir ilmiah Surisumantri (2003:165), ”Sarana ilmiah
pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai
langkah yang harus ditempuh”. Sarana ilmiah merupakan suatu alat, dengan alat
ini manusia melaksanakan kegiatan ilmiah. Pada saat manusia melakukan tahapan
kegiatan ilmiah diperlukan alat berpikir yang sesuai dengan tahapan tersebut.
Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya karena manusia berpikir
mengikuti kerangka berpikir ilmiah dan menggunakan alat-alat berpikir yang
benar.
Untuk mendapatkan ilmu diperlukan sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir
diperlukan untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik dan teratur. Sarana
berpikir ilmiah ada empat, yaitu: bahasa, logika, matematika dan statistika
(Suriasumantri, 2003:167). Sarana berpikir ilmiah berupa bahasa sebagai alat
komunikasi verbal untuk menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain, logika
sebagai alat berpikir agar sesuai dengan aturan berpikir sehingga dapat diterima
kebenarannya oleh orang lain, matematika berperan dalam pola berpikir deduktif
sehingga orang lain lain dapat mengikuti dan melacak kembali proses berpikir
untuk menemukan kebenarannya, dan statistika berperan dalam pola berpikir
induktif untuk mencari kebenaran secara umum.
2.2 Tujuan Sarana Berpikir Ilmiah
Harus dibedakan antara tujuan mempelajari sarana ilmiah dan tujuan
mempelajari ilmu. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah agar dapat
melakukan kegiatan penelaahan ilmiah. Untuk memaksimalkan kemampuan
manusia dalam berpikir menurut kerangka berpikir yang benar maka diperlukan
pengetahuan tentang sarana berpikir ilmiah dengan baik pula. Manusia
mempelajari ilmu agar dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang
terjadi dalam kehidupannya. Dengan ilmu yang telah dipelajarinya manusia dapat
meningkatkan kemakmuran hidupnya.
3
2.3 Fungsi Sarana Berpikir Ilmiah
Fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, dan bukan
merupakan ilmu itu sendiri.
Sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kegiatan ilmiah
secara menyeluruh dalam mencapai suatu tujuan tertentu (Suriasumantri,
2003:165). Keseluruhan tahapan kegiatan ilmiah membutuhkan alat bantu yang
berupa sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah hanyalah alat bantu bagi
manusia untuk berpikir ilmiah agar memperoleh ilmu. Sarana berpikir ilmiah
bukanlah suatu ilmu yang diperoleh melalui proses kegiatan ilmiah.
2.4 Bahasa Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lainnya adalah kemampuan
manusia berbahasa. Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, termasuk di dalamnya adalah kegiatan 5 ilmiah. Kegiatan
ilmiah sangat berkaitan erat dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik
dalam berpikir membantu untuk mengkomunikasikan jalan pikiran kepada orang
lain. Berpikir sebagai hasil kegiatan otak manusia tidak akan ada artinya apabila
tidak diketahui oleh orang lain. Cara untuk mengkomunikasikannya kepada orang
lain adalah menggunakan sarana bahasa.
Bahasa merupakan lambang serangkaian bunyi yang membentuk suatu arti
tertentu (Suriasumantri, 2003:175). Bahasa merupakan pernyataan pikiran atau
perasaan sebagai alat komunikasi manusia yang terdiri dari kata-kata atau istilah-
istilah dan sintaksis. Kata atau istilah merupakan simbol dari arti sesuatu,
sedangkan sintaksis merupakan cara menyusun kata-kata menjadi kalimat yang
bermakna (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2010:98).
Suatu obyek dapat dilambangkan dengan bunyi tertentu. Misalnya, suatu
alat berbentuk runcing yang diisi tinta dan digunakan untuk menulis
dilambangkan dengan bunyi ”pena”. Untuk melambangkan warna yang sama
dengan darah digunakan bunyi ”merah”. Dari kedua kata tersebut (pena dan
merah) dapat dibuat sebuah kalimat bermakna menjadi ”Andi membeli sebuah
pena merah”.
4
Bahasa mengandung unsur simbol, sesuatu yang diucapkan oleh manusia
merupakan kegiatan memberi simbol terhadap suatu obyek nyata dalam dunia
praktis. Agar simbol tersebut dapat memenuhi tujuan pembicara maka simbol
tersebut harus diucapkan dengan bunyi tertentu 6 yang dapat didengar oleh orang
yang dituju sehingga memudahkan pendengar untuk mengetahui dengan jelas
obyek yang dimaksud oleh pembicara. Bunyi simbol suatu obyek tidak harus sama
antara ucapan dan makna yang dikandungnya, artinya makna suatu obyek dapat
diucapkan dengan kata yang berbeda untuk daerah atau komunitas yang berbeda.
Para anggota komunitas kelompok sosial menggunakan bahasa untuk dapat
berinteraksi satu sama lainnya.
Bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, dan
sikap”. (Suriasumantri, 2003:175) Manusia dapat menyampaikan sesuatu yang
dipikirkan kepada orang lain menggunakan bahasa. Dengan bahasa, orang lain
dapat mengetahui dan mempelajari sesuatu yang sedang dipikirkan. Dengan
bahasa, manusia juga dapat mengekspresikan sesuatu yang dirasakannya kepada
orang lain. Orang lain dapat mengetahui seseorang sedang sedih atau senang
melalui bahasa yang disimbolkan.
Bahasa merupakan sarana komunikasi maka segala sesuatu yang berkaitan
dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti halnya berpikir sistematis
dalam memperoleh ilmu. Tanpa kemampuan berbahasa, seseorang tidak akan
dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan benar.
Dalam komunikasi ilmiah harus memperhatikan fungsi simbolik bahasa,
karena komunikasi ilmiah dilakukan untuk menyampaikan informasi yang berupa
pengetahuan kepada orang lain. Agar komunikasi dapat berjalan dengan baik
maka harus menggunakan bahasa yang terbebas dari unsur emotif. Unsur emotif
dalam bahasa hanya akan mengacaukan komunikasi ilmiah sehingga pesan yang
disampaikan tidak dapat diterima dengan baik oleh penerima. Komunikasi
simbolik yang bebas dari unsur emotif dapat mencegah salah informasi.
Keberadaan bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah ternyata memiliki
kelemahan-kelemahan yang melekat pada bahasa tersebut. Bahasa sulit
dilepaskan dari emosi dan sikap seseorang, sedangkan bahasa sebagai 8 sarana
5
ilmiah dituntut untuk obyektif agar informasi yang dikomunikasikan dapat
diterima dengan baik oleh orang lain. Kelemahan berikutnya adalah sulit untuk
mendefinisikan suatu obyek dengan sejelasjelasnya, terkadang karena keinginan
untuk memberikan penjelasan yang detil tentang suatu obyek, yang terjadi justru
komunikasi yang dilakukan terkesan bertele-tele dan menjadi tidak jelas.
Kelemahan bahasa juga dapat dilihat dari keberadaan beberapa kata yang
yang memiliki arti sama atau sebaliknya beberapa arti cukup menggunakan satu
kata saja. Selain itu, ada kelemahan bahasa lain yaitu bahasa sulit dilepaskan dari
emosional seseorang. Ada makna-makna tertentu yang dapat ditambahkan pada
makna sebenarnya sebagai akibat emosional seseorang.
2.5 Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal mempunyai banyak kelemahan,
karena tidak semua pernyataan dapat dilambangkan dengan bahasa. Untuk
mengatasi kelemahan-kelemahan bahasa tersebut maka digunakanlah sarana
matematika.
Matematika sebagai sarana berpikir deduktif menggunakan bahasa artifisial,
yakni murni bahasa buatan manusia. Keistimewaan bahasa ini adalah terbebas
dari aspek emotif dan efektif serta jelas terlihat bentuk hubungannya. Matematika
lebih mementingkan kelogisan pernyataanpernyataannya yang mempunyai sifat
yang jelas.
Dengan matematika, sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa dapat
dihilangkan. Lambang yang digunakan dalam matematika lebih eksak dan jelas,
lambang-lambang tersebut tidak bisa dicampuri oleh emosional seseorang, suatu
lambang dalam matematika jelas hanya mengandung satu arti sehingga orang lain
tidak dapat memberikan penafsiran selain dari maksud pemberi informasi.
Misalnya, seseorang yang mengatakan: ”Saya punya satu orang adik perempuan”,
orang lain dapat menerima bahwa orang itu mempunyai satu adik, tidak mungkin
11 orang lain akan mempunyai penafsiran bahwa orang itu mempunyai dua atau
tiga orang adik.
Matematika memungkinkan untuk melakukan pengukuran yang jelas.
Untuk membandingkan tinggi dua buah obyek yang berbeda, misal pohon jagung
6
dan pohon mangga. Dengan bahasa hanya dapat dikatakan bahwa pohon mangga
lebih tinggi dari pohon jagung, tetapi tidak tahu dengan jelas berapa perbedaan
tinggi kedua pohon tersebut. Dengan matematika maka perbedaan tinggi kedua
pohon tersebut dapat diketahui dengan jelas dan tepat. Misal, setelah diukur
ternyata tinggi pohon jagung 100 cm dan tinggi pohon mangga 250 meter, maka
dapat dikatakan bahwa pohon mangga lebih tinggi 150 cm dari pohon jagung.
Matematika memberikan jawaban yang lebih eksak dan menjadikan manusia
dapat menyelesaikan masalah sehari-harinya dengan lebih tepat dan teliti.
Matematika sebagai sarana berpikir deduktif, memungkinkan manusia
untuk mengembangkan pengetahuannya berdasarkan teori-teori yang telah ada.
Misal, jumlah sudut sebuah lingkaran adalah 3600 . Dari pengetahuan ini dapat
dikembangkan, seperti besar sudut keliling lingkaran sama dengan setengah besar
sudut pusat jika menghadap busur yang sama.
2.6 Statistika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses
pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka
statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan
karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadai secara kebetulan.
Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah tidak memberikan kepastian namun
memberi tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu
kesimpulan, dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah. Langkah
yang ditempuh dalam logika induktif menggunakan statistika adalah:
a. Observasi dan eksperimen,
b. Memunculkan hipotesis ilmiah,
c. Verifikasi dan pengukuran
d. Sebuah teori dan hukum ilmiah.
Untuk mengetahui keadaan suatu obyek, seseorang tidak harus melakukan
pengukuran satu persatu terhadap semua obyek yang sama, tetapi cukup dengan
melakukan pengukuran terhadap sebagian obyek yang dijadikan sampel.
Walaupun pengukuran terhadap sampel tidak akan seteliti jika pengukuran
7
dilakukan terhadap populasinya, namun hasil dari pengukuran sampel dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Setelah melakukan observasi dan eksperimen kemudian merumuskan suatu
hipotesis untuk dilakukan verifikasi dan uji coba terhadap data dan keadaan yang
sebenarnya di lapangan. Berdasarkan pengkajian-pengkajian terhadap data dan
keadaan di lapangan tersebut dapat dirumuskan suatu kesimpulan yang nantinya
menjadi sebuah teori atau hukum ilmiah. Artinya, kesimpulan yang ditarik
bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi, tetapi telah melalui tahap-tahap berpikir
tertentu dengan melibatkan data dan fakta yang terjadi di lapangan.
8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah
dalam berbagai langkah yang akan ditempuh agar memperoleh pengetahuan dengan
benar.
Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah agar dapat melakukan
kegiatan penelaahan ilmiah dengan baik untuk memperoleh pengetahuan yang
benar sehingga dapat meningkatkan kemakmuran hidup.. Sarana berpikir ilmiah
berfungsi hanyalah sebagai alat bantu bagi manusia untuk berpikir ilmiah agar
memperoleh ilmu.
Bahasa merupakan sarana mengkomunikasikan cara-cara berpikir sistematis
dalam memperoleh ilmu. Tanpa kemampuan berbahasa, seseorang tidak akan dapat
melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan benar.
Logika sebagai sarana berpikir ilmiah mengarahkan manusia untuk berpikir
dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir yang benar. Logika membantu
manusia dapat berpikir dengan sistematis yang dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Jika ingin melakukan kegiatan berpikir dengan benar maka harus
menggunakan kaidah-kaidah berpikir yang logis. Logika dapat membedakan antara
proses berpikir yang benar dan proses berpikir yang salah.
Statistika tidak boleh dipandang sebelah mata oleh orang yang ingin mampu
melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Penguasaan statistika sangat
diperlukan bagi orang-orang yang akan menarik kesimpulan dengan sah. Statistika
harus dipandang sejajar dengan matematika. Kalau matematika merupakan sarana
berpikir deduktif maka orang dapat menggunakan statistika untuk berpikir induktif.
Berpikir deduktif dan berpikir induktif diperlukan untuk menunjang kegiatan ilmiah
yang benar sehingga akan menghasilkan suatu pengetahuan yang benar pula.
3.2 Saran
Saran dari makalah ini yaitu agar penulis dapat menambah literature lain
mengenai pengertian istilah-istilah penting yang terdapat dalam tulisan agar
pembaca dapat mudah mengerti.
9
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar & Amsal. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sumarna & Cecep. 2008. Filsafat Ilmu. Bandung: Mulia Press.
Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 2010. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan
Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Liberty. Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu.
Jakarta: PT. Bumi Aksara
10