0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan4 halaman

Asas Keahlian dan Kedaerahan dalam Pemerintahan

Diunggah oleh

ardy.genryu77
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan4 halaman

Asas Keahlian dan Kedaerahan dalam Pemerintahan

Diunggah oleh

ardy.genryu77
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

B.

ASAS KEAHLIAN (FUNGSIONAL)

Asas keahlian atau fungsional adalah suatu asas yang menghendaki setiap urusan kepentingan umum
diserahkan kepada para ahli untuk diselenggarakan secara fungsional. Penerapan asas keahlian
tersebut dapat dilihat pada pembentukan kementerian-kementerian pada level pemerintah pusat
dan dinas-dinas daerah pada level pemerintah daerah.

Kementerian dan dinas mendasarkan diri pada keahlian para pegawainya. Sebagai contoh,
Kementerian Kelautan dan Perikanan berwenang dan memiliki keahlian dalam mengelola dan
melaksanakan urusan-urusan di bidang kelautan dan perikanan. Penyelenggaraan pemerintahan
dengan menggunakan asas keahlian dapat didelegasikan dari pemerintah pusat kepada Daerah.
Pendelegasian tugas-tugas yang berkaitan dengan keahlian tersebut dapat dilaksanakan melalui
mekanisme dekonsentrasi atau tugas pembantuan.

C. ASAS KEDAERAHAN

Asas penyelenggaraan pemerintahan di Daerah atau kedacrahan merupakan konsekuensi dari Pasal
18, 18A, dan 18B Undang-Undang Dasar 1945, Perhatikan bunyi beberapa Pasal yang mengatur
tentang pemerintahan daerah di bawah ini.

Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18:

1. Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas Daerah-daerah Provinsi dan Daerah Provinsi itu
dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap Provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai
Pemerintahan Daerah yang diatur dengan undang-undang.

2. Pemerintahan Dacrah Provinsi, Dacrah Kabupaten, dan Kota mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

3. Pemerintahan Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten, dan Kota memiliki Dewan Perwakilan Daerah
yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.

4. Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala Pemerintah Daerah Provinsi,
Kabupaten, dan Kota dipilih secara demokratis.

5. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang


oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.

6. Pemerintahan Daerah berhak menetapkan peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk
melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.

7. Susunan dan tata cara penyelenggaraan Pemerintahan Daerah diatur dalam undang-undang.

Pasal 18 A:

1. Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten, dan
Kota diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.

2. Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya lainnya antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Dacrah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-
undang.
Pasal 18 B:

1. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan Pemerintahan Daerah yang bersifat khusus
atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang- undang,

2. Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan Masyarakat hukum adat beserta hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip
Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dengan undang-undang.

Perbedaan antara asas fungsional dan asas kedaerahan merupakan konsep yang penting dalam
konteks penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kedua asas ini mencerminkan pendekatan yang
berbeda dalam menjalankan pemerintahan daerah dan menghormati kearifan lokal. Berikut
penjelasan singkat tentang keduanya:

Asas Fungsional:

Orientasi pada Tugas: Asas fungsional menekankan pada pencapaian tugas-tugas pemerintahan
dengan efisiensi dan efektivitas sebagai prioritas utama. Ini berarti bahwa penyelenggaraan
pemerintahan daerah lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan pelayanan kepada masyarakat
dengan tujuan mencapai hasil yang optimal.

Pendekatan Universal: Asas fungsional cenderung mendorong standar dan prosedur yang seragam di
seluruh daerah. Hal ini dapat mengakibatkan keseragaman dalam kebijakan, peraturan, dan praktik
pemerintahan di berbagai daerah, terlepas dari perbedaan budaya atau karakteristik lokal.

Pengambilan Keputusan Berbasis Data: Pendekatan ini mendorong pengambilan keputusan yang
didasarkan pada data dan analisis objektif, dengan fokus pada hasil yang terukur.

Asas Kedaerahan:

Respek Terhadap Kearifan Lokal: Asas kedaerahan mengakui dan menghormati kearifan lokal, tradisi,
dan budaya yang unik dalam setiap daerah. Ini berarti bahwa pemerintahan daerah harus
mempertimbangkan faktor-faktor lokal dalam pengambilan keputusan.

Fleksibilitas: Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan di


berbagai daerah. Kebijakan dan praktik dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik
khusus masing-masing daerah.

Partisipasi Masyarakat: Asas kedaerahan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengambilan
keputusan pemerintahan daerah. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat setempat untuk turut
serta dalam menentukan arah dan prioritas pembangunan.

Penting untuk diingat bahwa dalam praktiknya, penyelenggaraan pemerintahan daerah seringkali
melibatkan kombinasi dari kedua asas ini. Asas fungsional dapat memberikan kerangka kerja yang
efisien untuk administrasi publik, sementara asas kedaerahan memastikan bahwa kearifan lokal dan
kebutuhan unik setiap daerah tetap dihormati dan diperhatikan. Sebagai pemimpin dan pengambil
keputusan di tingkat daerah, penting untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara keduanya
agar pemerintahan daerah dapat berjalan dengan baik sambil mempertahankan identitas dan
karakteristik khusus masing-masing wilayah.
Kearifan lokal di Daerah Berau, Kalimantan Timur, Indonesia, dapat mencakup berbagai aspek yang
menggambarkan budaya, tradisi, dan nilai-nilai unik masyarakat setempat. Di sini, beberapa contoh
asas kearifan lokal yang mungkin ada di Daerah Berau:

Adat dan Tradisi Lokal: Daerah Berau, seperti banyak daerah di Indonesia, mungkin memiliki beragam
adat dan tradisi lokal yang unik. Ini bisa mencakup upacara adat, ritual, tarian, musik, dan perayaan
khusus yang mencerminkan identitas kultural masyarakat Berau.

Kebudayaan Maritim: Daerah Berau berbatasan dengan laut, sehingga kehidupan maritim dan tradisi
nelayan mungkin menjadi bagian integral dari kearifan lokal. Cara hidup, pengetahuan tentang
pelayaran, perikanan tradisional, dan pengelolaan sumber daya laut dapat menjadi bagian penting
dari budaya lokal.

Pemanfaatan Sumber Daya Alam: Daerah Berau memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah,
termasuk hutan, tambang, dan sumber daya alam lainnya. Kearifan lokal mungkin melibatkan
pengetahuan tradisional tentang cara berkelola sumber daya ini secara berkelanjutan dan ramah
lingkungan.

Bahasa dan Bahasa Daerah: Bahasa dan dialek yang digunakan oleh masyarakat Berau mungkin
memiliki peran penting dalam mempertahankan kearifan lokal. Bahasa adalah kendaraan budaya dan
pengetahuan, dan berperan dalam menjaga tradisi dan komunikasi antar-generasi.

Sistem Adat: Sistem hukum adat dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat Berau juga
dapat menjadi bagian dari kearifan lokal. Ini mencakup norma-norma sosial, tata nilai, dan
mekanisme penyelesaian konflik berdasarkan adat.

Kearifan Ekologis: Daerah Berau yang kaya akan ekosistem alami mungkin memiliki pengetahuan
lokal yang berhubungan dengan ekologi dan konservasi alam. Ini dapat mencakup praktik-praktik
berkelanjutan dalam penggunaan sumber daya alam.

Seni dan Kreativitas Lokal: Seni dan kerajinan tradisional, seperti anyaman, ukiran, dan seni rupa
lokal, juga merupakan bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan keindahan dan kreativitas
budaya masyarakat setempat.

Penting untuk diingat bahwa asas kearifan lokal dapat bervariasi dari satu daerah ke daerah lain di
Kalimantan Timur, dan bahkan dalam satu daerah, tergantung pada kelompok etnis atau subkultur
yang berbeda. Memahami dan menghormati kearifan lokal adalah penting dalam pengambilan
keputusan pemerintah daerah dan pengembangan kebijakan untuk memastikan bahwa budaya dan
nilai-nilai masyarakat setempat tetap terjaga dan dihormati.

Asas Keahlian atau Fungsional menekankan pentingnya penunjukan para ahli atau pejabat yang
memiliki kompetensi dalam bidangnya untuk mengelola urusan pemerintahan, baik itu di tingkat
pusat maupun daerah. Dalam praktiknya, asas ini menghasilkan pembentukan kementerian-
kementerian dan dinas-dinas daerah yang mengoperasikan pemerintahan berdasarkan keahlian
pegawai mereka, sehingga mereka memiliki pengetahuan yang relevan dalam bidang tugas mereka.
Di sisi lain, Asas Kedaerahan menekankan prinsip otonomi dan tugas pembantuan kepada
pemerintah daerah, yang memungkinkan mereka untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan mereka sendiri sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan lokal, dengan pengecualian
untuk urusan yang secara khusus diatur oleh undang-undang sebagai urusan pemerintah pusat.
Dengan kata lain, Asas Kedaerahan memberikan pemerintah daerah kewenangan untuk membuat
kebijakan dan peraturan yang mencerminkan identitas dan budaya setempat.

Kearifan lokal di Daerah Berau, Kalimantan Timur, Indonesia, dapat mencakup berbagai aspek yang
menggambarkan budaya, tradisi, dan nilai-nilai unik masyarakat setempat. Di sini, beberapa contoh
asas kearifan lokal yang mungkin ada di Daerah Berau:

Adat dan Tradisi Lokal: Daerah Berau, seperti banyak daerah di Indonesia, mungkin memiliki beragam
adat dan tradisi lokal yang unik. Ini bisa mencakup upacara adat, ritual, tarian, musik, dan perayaan
khusus yang mencerminkan identitas kultural masyarakat Berau.

Kebudayaan Maritim: Daerah Berau berbatasan dengan laut, sehingga kehidupan maritim dan tradisi
nelayan mungkin menjadi bagian integral dari kearifan lokal. Cara hidup, pengetahuan tentang
pelayaran, perikanan tradisional, dan pengelolaan sumber daya laut dapat menjadi bagian penting
dari budaya lokal.

Pemanfaatan Sumber Daya Alam: Daerah Berau memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah,
termasuk hutan, tambang, dan sumber daya alam lainnya. Kearifan lokal mungkin melibatkan
pengetahuan tradisional tentang cara berkelola sumber daya ini secara berkelanjutan dan ramah
lingkungan.

Bahasa dan Bahasa Daerah: Bahasa dan dialek yang digunakan oleh masyarakat Berau mungkin
memiliki peran penting dalam mempertahankan kearifan lokal. Bahasa adalah kendaraan budaya dan
pengetahuan, dan berperan dalam menjaga tradisi dan komunikasi antar-generasi.

Sistem Adat: Sistem hukum adat dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat Berau juga
dapat menjadi bagian dari kearifan lokal. Ini mencakup norma-norma sosial, tata nilai, dan
mekanisme penyelesaian konflik berdasarkan adat.

Kearifan Ekologis: Daerah Berau yang kaya akan ekosistem alami mungkin memiliki pengetahuan
lokal yang berhubungan dengan ekologi dan konservasi alam. Ini dapat mencakup praktik-praktik
berkelanjutan dalam penggunaan sumber daya alam.

Seni dan Kreativitas Lokal: Seni dan kerajinan tradisional, seperti anyaman, ukiran, dan seni rupa
lokal, juga merupakan bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan keindahan dan kreativitas
budaya masyarakat setempat.

Penting untuk diingat bahwa asas kearifan lokal dapat bervariasi dari satu daerah ke daerah lain di
Kalimantan Timur, dan bahkan dalam satu daerah, tergantung pada kelompok etnis atau subkultur
yang berbeda. Memahami dan menghormati kearifan lokal adalah penting dalam pengambilan
keputusan pemerintah daerah dan pengembangan kebijakan untuk memastikan bahwa budaya dan
nilai-nilai masyarakat setempat tetap terjaga dan dihormati.

Anda mungkin juga menyukai