0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan11 halaman

Sifat dan Metode Invers Matriks

Diunggah oleh

FiQar Ithang Raqif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan11 halaman

Sifat dan Metode Invers Matriks

Diunggah oleh

FiQar Ithang Raqif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Aljabar Linier Elementer 38

INVERS MATRIK

A. Mencari A-1 menggunakan Matrik Elementer


Matrik bujur sangkar, A=[aij] dengan i=1, 2, ..., n dan j=1, 2, ..., n, disebut mempunyai
invers jika terdapat matrik A-1, sehingga
AA-1=A-1A=I,
dimana I matrik satuan

Jika A mempunyai invers, maka A disebut matrik tak singular. Dan jika tidak
mempunyai invers disebut matrik singular.

Jika A mempunyai invers, maka invers-nya tunggal (unik). Untuk menunjukkan hal ini,
perhatikan penjelasan di bawah ini:

Andaikan B dan C invers dari A, maka dipenuhi hubungan BA=I dan CA=I, sehingga
B=IB=(CA)B=C(AB)=CI=C
Jadi, B = C, atau kedua invers matrik tersebut tunggal.

Sifat-sifat invers matrik:


a. (A+B)-1=A-1+B-1
b. (AB)-1=B-1A-1
c. (kA)-1=(1/k)A-1, dimana k: skalar (bilangan riil)
−1
 
−n −1 −1
= 1A 44A 2 Κ4 A−1  
d. A 43 =  1AA4 2Κ43A  , jika n = 1,2, Κ
sebanyak n kali  sebanyak n kali 

Untuk mendapatkan invers suatu matrik, salah satu metode yang dapat dilakukan adalah
menggunakan matrik elementer.

Definisi: Matrik elementer adalah matrik bujursangkar yang diperoleh dari matrik
satuan yang sesuai, yang dikenai hanya oleh satu Operasi Baris Elementer.

Contoh Matrik Elementer:


1 0 0  1 0 − 5 1 0 0 
1 0 
E1 =   , E 2 = 0 0 1 , E3 = 0 1 0  , E 4 = 0 0 0
   
0 − 3 0 1 0 0 0 1  0 1 0

E1 diperoleh dari matrik satuan berordo 2x2 yang dikenai satu Operasi Baris Elementer
yang pertama, yaitu mengalikan baris kedua dengan konstanta –3. E2 diperoleh dari
matrik satuan 3x3 yang dikenai satu Operasi Baris Elementer yang kedua, yaitu
menukar baris kedua dengan baris ketiga. Sedangkan E3 dikenai Operasi Baris
Elementer yang ketiga, yaitu Menjumlahkan kelipatan –5 baris ketiga dengan baris
pertama. Sedangkan matrik E4 bukan matrik elementer, karena tidak mungkin
melakukan operasi baris elementer sehingga matrik satuan menjadi matrik yang baris
keduanya menjadi baris nol.
Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
Aljabar Linier Elementer 39

Perkalian matrik elementer dengan sebarang matrik yang sesuai dari sebelah kiri, akan
mempunyai pengaruh, sebagaimana melakukan operasi baris elementer terhadap matrik
tersebut.

Contoh:
 1 3 0 − 3  1 3 0 −3 
Jika A =  0 2 − 4 4  , didapat E 2 A = − 2
  1 −1 5 
− 2 1 − 1 5   0 2 −4 4 
 11 − 2 5 − 28 

dan E 3 A =  0 2 −4 4 
− 2 1 −1 5 

Perkalian matrik elementer dengan sebarang matrik asalkan memenuhi syarat perkalian
dua matrik dari sebelah kanan mempunyai efek sebagaimana operasi kolom elementer
dikenakan pada matrik tersebut.

Keistimewaan yang lain, setiap operasi baris elementer yang mengubah matrik satuan
menjadi matrik elementer, mempunyai lawan, yang mengubah matrik elementer
menjadi matrik satuan. Kenyataan ini ditabelkan di bawah ini:

OBE yang mengubah I menjadi E OBE yang mengubah E menjadi I


Mengalikan satu baris dengan konstanta c≠0 Mengalikan satu baris dengan 1/c
Menukar baris ke-i dengan baris ke-j Menukar baris ke-i dengan baris ke-j
Menjumlahkan kelipatan k kali baris ke-i Menjumlahkan kelipatan –k kali baris
dengan baris ke-j ke-i dengan baris ke-j

Setiap matrik elementer mempunyai invers dan inversnya adalah matrik elementer yang
diperoleh dari lawan operasinya.

Jika A matrik bujursangkar nxn, dan matrik A ekivalen baris dengan matrik satuan In,
maka dapat ditemukan m matrik elementer, sehingga jika dikalikan dengan matrik A,
maka matrik A tersebut menjadi matrik satuan, misalkan:
Em ... E2E1A=In
Karena setiap matrik elementer mempunyai invers, maka jika dilakukan perkalian
dengan invers masing-masing matrik elementer, didapat:
E1-1E2-1 ... Em-1 Em ... E2E1A= E1-1E2-1 ... Em-1 In
Atau
A= E1-1E2-1 ... Em-1 In
Persamaan di atas menyatakan bahwa matrik A mempunyai invers.

Sebaliknya jika A mempunyai invers, berarti dipenuhi hubungan:


A-1A=I
Dengan mengambil
A-1= Em ... E2E1In

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom


Aljabar Linier Elementer 40

karena matrik invers tunggal, maka diperoleh, jika A mempunyai invers, maka A
ekivalen baris dengan matrik satuan I.

Dari hasil di atas, cara praktis mendapatkan invers dari suatu matrik bujursangkar, yaitu
dengan melakukan serangkaian operasi baris elementer secara bersamaan antara matrik
A dengan matrik satuan I, dengan target mengubah matrik A menjadi matrik satuan I
dan akibatnya didapatlah perubahan matrik I menjadi matrik A-1, jika A tidak bisa
menjadi matrik satuan, berarti A tidak mempunyai invers.

Atau digambarkan sebagai berikut:

[I ΜA ]
OBE
[AΜI ] ~ −1

Contoh: Tentukan invers dari matrik berikut:


 12 − 3 7  4 1 − 2
 − 1 2   
A=  , B =  − 3 1 − 2 , C =  3 1 − 1 
 3 1  15 − 3 7  − 4 − 2 0 

Jawab:
 Μ   Μ   Μ 
 − 1 2 1 0 − b1 1 − 2 − 1 0  1 − 2 − 1 0
[AΜI ] =  Μ ~ Μ ~ Μ ~
3 1 0 1 3 1 0 1 b2 − 3b1 0 7 3 1 1 7 b2
 Μ   Μ   Μ 
 Μ   Μ 
1 − 2 Μ− 1 0  b1 + 2b2 ~ 1 0 − 17 2 7 
Μ
0 1 3 7 1 7  0 1 3 7 17 
 Μ   Μ 
− 1 7 2 7 
Jadi A −1 =  
3
 7 17 

 Μ   Μ 
 12 − 3 7 1 0 0 b2  − 3 1 − 2 0 1 0
Μ Μ
[BΜI ] = − 3 1 − 2 0
 1 0 b1 ~  12 − 3 7 1 0 0 b2 + 4b1 ~
 Μ   Μ 
 15 − 3 7 0 0 1  15 − 3 7 0 0 1 b3 + 5b1
 Μ   Μ 
 Μ   Μ 
 − 3 1 − 2 0 1 0 − 3 1 −2 0 1 0 b1 − 2b3
 0 1 − 1 Μ1 4 0 ~0 1
Μ
−1 1 4 0 b2 − b3 ~
 Μ   Μ 
 0 2 − 3 0 5 1 b3 − 2b2  0 0 − 1 − 2 − 3 1
 Μ   Μ 

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom


Aljabar Linier Elementer 41

 Μ   Μ 
− 3 1 0 Μ4 7 − 2 b1 − b2 − 3 0 0 1
Μ
0 − 1 − 1 3 b1
0 1 0 3 7 − 1 ~0 1 0 3 7 − 1 ~
 Μ   Μ 
 0 0 −1 − 2 −3 1   0 0 − 1 − 2 − 3 1  − b3
 Μ   Μ 
 Μ1 
1 0 0 Μ− 3 0
1
3
0 1 0 3 7 − 1
 Μ 
0 0 1 2 3 − 1
 Μ 
− 1 3 0 13 
Jadi, B −1 =  3 7 − 1
 2 3 − 1
 Μ   Μ 
4 1 − 2 1 0 0 b1 − b2  1 0 − 1 1 − 1 0
Μ Μ
[C ΜI ] =  3 1 − 1 0 1 0 ~3 1 − 1 0 1 0 b2 − 3b1 ~
 Μ   Μ 
− 4 − 2 0 0 0 1 − 4 − 2 0 0 0 1 b3 + 4b1
 Μ   Μ 
 Μ   Μ 
1 0 − 1 Μ1 − 1 0 1 0 − 1Μ1 − 1 0
0 1 2 − 3 4 0 ~ 0 1 2 − 3 4 0
 Μ   Μ 
0 − 2 − 4 4 − 4 1 b3 + 2b2 0 0 0 − 2 4 1
 Μ   Μ 

Karena baris ketiga berupa baris nol yang berarti pula A tidak ekivalen baris dengan
matrik satuan I, maka pada kasus ini matrik C tidak mempunyai invers.

Jika matrik koefisien dari suatu sistem persamaan linier mempunyai invers, maka solusi
sistem persamaan linier tersebut didapat dengan mengalikan invers matrik koefisien
tersebut dengan suku konstannya, yaitu:
AX=B, jika A-1 ada, maka, X=A-1B

Contoh:
Tentukan solusi dari sistem persamaan linier, berikut:
12 x + 6 y + z = 3
− 6x − 3 y − z = 2
8x + 3 y = −1

Jawab:
Matrik koefisien sistem persamaan linier di atas adalah:
 12 6 1
− 6 − 3 − 1
 
 8 3 0 
dan matrik suku konstannya:

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom


Aljabar Linier Elementer 42

3
2
 
−1
Untuk mencari inversnya, bentuklah matrik lengkap yang diperbesar sebagai berikut:
 12 6 1 1 0 0
− 6 − 3 − 1 0 1 0 b + b ~
  2 1
 8 3 0 0 0 1 
karena target kita adalah mengubah matrik koefisien menjadi matrik satuan, maka
langkah paling mudah adalah dengan menjumlahkan baris kedua dengan baris pertama,
sehingga menjadi:
12 6 1 1 0 0 b1 − 2b2 0 0 1 − 1 − 2 0
 6 3 0 1 1 0 ~ 6 3 0 1 1 0 b2 − 3b3 ~
 
 8 3 0 0 0 1 b3 − b2 2 0 0 − 1 − 1 1
0 0 1 − 1 − 2 0  0 0 1 − 1 − 2 0  b3
0 3 0 4 4 − 3 1 3 b2 ~ 0 1 0 4 3
 4 − 1 ~
 3

2 0 0 − 1 − 1 1  1 2 b3 1 0 0 − 1 2 − 1 2 1 2  b1
1 0 0 − 1 2 − 1 2 1 2 
0 1 0 4 4 − 1
 3 3

0 0 1 − 1 − 2 0 
Sehingga invers matrik koefisiennya adalah:
− 1 2 − 1 2 1 2 
 4 4 − 1
 3 3

 − 1 − 2 0 
Jadi, solusi sistem persamaan linier adalah:
− 1 2 − 1 2 1 2   3   − 3 
X = A −1 B =  4 3 4
3 − 1  2  = 7 2 3 
 − 1 − 2 0  −1  − 7 

Contoh khas:
Encoding dan Decoding pesan-pesan rahasia
Encoding merupakan kegiatan untuk menyembunyikan pesan, sehingga orang yang
tidak berhak tidak mampu mengetahui pesan yang sebenarnya, sedangkan encoding
adalah kegiatan untuk menterjemahkan pesan yang telah diencoding, sehingga dapat
diterima pesan aslinya.

Perhatikan urutan huruf-huruf berikut:


a b c d e f g h i j k l m n o
01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15

p q r s t u v w x y z blank
16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
Aljabar Linier Elementer 43

Pesan: “pergi ke pati ” oleh urutan huruf-huruf di atas disampaikan dengan pesan tanpa
encoding:
16 05 18 07 09 27 11 05 27 16 01 20 09 27
Jika digunakan matrik encoding:
1 2
1 3
 
maka pesan terkirim menjadi:
1 2 16 26 1 2 18 32 1 2  9  63
1 3  5  =  31 , 1 3  7  = 39 , 1 3 27  = 89 , dst
              
didapat:
26 31 32 39 63 89 21 26 59 75 41 61 63 89

Pada pihak yang menerima pesan, tentunya untuk bisa membaca pesan tersebut harus
mengubah pesan yang diterima dengan melakukan kegiatan decoding, yaitu dengan
mengalikan invers dari matrik encoding, yaitu:
 3 − 2 26 16  3 − 2 32 18  3 − 2 63  9 
− 1 1   31 =  5  , − 1 1  39 =  7  , − 1 1  89 = 27  , dst
              
sehingga pesan didapat diketahui dengan benar.

Latihan:

1. Tentukan matrik elementer yang menyebabkan matrik elementer di bawah ini


menjadi matrik satuan (atau dengan istilah lain, invers matrik elementer):
0 0 1 
a. E1 = 0 1 0
1 0 0
1 0 0
b. E 2 = 0 − 3 0
0 0 1
 1 0 0
c. E 3 = − 1 1 0
 0 0 1

Untuk soal no. 2 sampai dengan 5 gunakan metode yang diberikan pada sub bab ini
2. Tentukan invers matrik di bawah ini, jika ada:

4 3
a. A= 
1 1
 2 − 2
b. B =  
− 2 3 

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom


Aljabar Linier Elementer 44

 1 − 2
c. C =  
− 2 4 
3. Tentukan invers matrik di bawah ini, jika ada:

− 4 1 2
a. D =  − 1 1 0 
− 2 1 1 
 −1 2 1
b. E = − 3 5 2
 3 − 2 1
5 3 1
c. F = 3 2 1
4 2 1

4. Tentukan invers matrik di bawah ini, jika ada:


 6 0 0 0
12 8 0 0
a. G =  
24 8 4 0
 
48 16 4 2
1 0 2 1
1 1 4 2
b. H = 
− 1 0 0 0
 
0 0 1 1
2 0 3 0
− 2 3 0 2
c. K =  
4 1 2 1 
 
0 2 − 1 − 2

5. Tentukan invers matrik di bawah ini, jika ada:

0 0 0 0 5
−1 1 0 0 1
 
a. L = − 3 1 1 0 2
 
0 1 0 1 2
 1 0 0 0 − 1

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom


Aljabar Linier Elementer 45

1 0 0 0 0 
0 3 0 − 1 0
 
b. M = 7 − 1 1 1 0
 
 2 − 2 0 1 0
3 − 1 0 0 1 
6. Tentukan invers matrik diagonal, di bawah ini:
3 0 0 
D = 0 1 0 
0 0 − 2
7. Tunjukkan bahwa jika D matrik diagonal, maka D-1 adalah matrik diagonal yang
entri-entri pada diagonal utama adalah invers dari entri-entri pada diagonal utama
matrik D.

B. Penyelesaian Sistem Persamaan Linier menggunakan Invers Matrik


Jika Sistem Persamaan Linier:
AX=B
dengan matrik koefisien berbentuk bujursangkar dan mempunyai invers, maka Sistem
Persamaan Linier tersebut mempunyai solusi tunggal, yaitu:
A-1AX=A-1B
IX=A-1B
X=A-1B
Akibat: jika A matrik bujursangkar dan mempunyai invers, sistem persamaan linier
homogen, AX=O hanya mempunyai solusi trivial saja.

Jika diberikan beberapa Sistem Persamaan Linier, dengan matrik koefisien


bujursangkar, seperti:
AX=B1, AX=B2, ..., AX=Bk
Dan jika diketahui bahwa A mempunyai invers, maka penyelesaian serangkaian Sistem
Persamaan Linier yang demikian ini menjadi mudah dan cukup sedikit perhitungan
yang diperlukan, cukup mencari invers dan kemudian melakukan operasi perkalian
matrik, yaitu:
X=A-1B1, X=A-1B2, ..., X=A-1Bk
Dengan pengalaman ini, maka kita dapat memperbesar matrik lengkap kita untuk
beberapa Sistem Persamaan Linier untuk kasus matrik koefisien sebarang, yaitu:
[AΜB1 ΜB2 ΜΚ ΜBk ]
Contoh:
 2 1 3 0  − 2  2 
A = 1 1 2 , B1 = 2 , B2 =  3  , B3 =  0  dan diketahui: AX=B1, AX=B2,
     
1 0 2 3  2  − 2
AX=B3
a. Tentukan solusi SPL-SPL tersebut dengan cara menentukan terlebih dahulu A-1
b. Tentukan solusi SPL-SPL tersebut menggunakan matrik lengkap yang diperbesar.

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom


Aljabar Linier Elementer 46

Jawab:
 Μ   Μ 
2 1 3 1 0 0 b3 1
Μ
0 2 0 0 1
Μ
a. [AΜI ] = 1 1 2 0 1 0 ~ 1 1 2 0 1 0 b2 − b1 ~
 Μ   Μ 
1 0 2 0 0 1 b1 2 1 3 1 0 0 b3 − 2b1
 Μ   Μ 
 Μ   Μ 
1 0 2 Μ0 0 1 1 0 2 0 0 1  b1 + 2b3
0 1 0 0 Μ
1 − 1 ~ 0 1 0 0 1 − 1 ~
 Μ   Μ 
0 1 − 1 1 0 − 2 b3 − b2 0 0 − 1 1 − 1 − 1
 Μ   Μ 

 Μ   Μ 
1 0 0 Μ2 − 2 − 1 1 0 0 Μ2 − 2 − 1
0 1 0 0 1 − 1 ~ 0 1 0 0 1 − 1
 Μ   Μ 
0 0 − 1 1 − 1 − 1 − b3 0 0 1 − 1 1 1
 Μ   Μ 
2 − 2 − 1
∴ A −1 =  0 1 − 1 , sehingga solusi SPL-SPL tersebut:
− 1 1 1 
 2 − 2 − 1 0 − 7   2 − 2 − 1 − 2 − 12 6

X1 =  0      
1 − 1 2 =  − 1  , X 2 =  0    
1 − 1  3  =  1  , dan X 3 =  2 

− 1 1 1  3  5  − 1 1 1   2   7  − 4

 ΜΜ Μ   ΜΜ Μ 
2 1 3 Μ0 Μ− 2 Μ2  b3 1 0 2 Μ3 Μ2 Μ− 2
b. [AΜB1 ΜB2 ΜB3 ] = 1 1 2 2 3 0  ~ 1 1 2 2 3 0  b2 − b1 ~
 ΜΜ Μ   ΜΜ Μ 
1 0 2 3 2 − 2 b1 2 1 3 0 − 2 2  b3 − 2b1
 ΜΜ Μ   ΜΜ Μ 
 Μ Μ Μ   Μ Μ Μ 
1 0 2 3 2 − 2 1 0 2 3 2 − 2 b1 + 2b3
0 Μ Μ Μ Μ Μ Μ
1 0 −1 1 2  ~ 0 1 0 − 1 1 2  ~
 Μ Μ Μ   Μ Μ Μ 
0 1 − 1 − 6 − 6 6  b3 − b2 0 0 − 1 − 5 − 7 4 
 Μ Μ Μ   Μ Μ Μ 
 Μ Μ Μ  Μ Μ Μ 
1 0 0 − 7 − 12 6 1 0 0 − 7 − 12 6 
0 Μ Μ Μ Μ Μ Μ
1 0 − 1 1 2 ~ 0 1 0 − 1 1 2 
 Μ Μ Μ  Μ Μ Μ 
0 0 − 1 − 5 − 7 4 − b3 0 0 1 5 7 − 4
 Μ Μ Μ  Μ Μ Μ 
− 7  − 12 6
Jadi, X 1 =  − 1  , X 2 =  1  , X 3 =  2 
   
 5   7  − 4

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom


Aljabar Linier Elementer 47

Latihan:
1. Tentukan solusi SPL-SPL di bawah ini menggunakan metode perkalian dengan
invers matrik koefisien
− x + 3 y − 2 z = b1
3x + 3 z = b2
2 x + y + 2 z = b3

a. b1=7, b2=-3, b3=-1


b. b1=5, b2=2, b3=-2
c. b1=3, b2=0, b3=-1
d. b1=2, b2=5, b3=3

2. Tentukan solusi SPL-SPL di bawah ini menggunakan metode perkalian dengan


invers matrik koefisien.
x + 3y = b1
2 x + 6 y + 4 z = b2
−x + 2 z = b3

a. b1=0, b2=-3, b3=0


b. b1=4, b2=2, b3=2
c. b1=-3, b2=0, b3=-1
d. b1=4, b2=5, b3=4

3. Tentukan solusi SPL-SPL pada soal no. 1 dengan menggunakan matrik lengkap
yang diperbesar.
4. Tentukan solusi SPL-SPL pada soal no. 2 dengan menggunakan matrik lengkap
yang diperbesar.
5. Tentukan solusi sistem persamaan linier di bawah ini, dengan menggunakan matrik
lengkap yang diperbesar:
x + y − z = a
2x − 3 y + 2z = b
x − y + z = c
Jika a. a=1, b=0, c=0, b. a=0, b=1, c=0, c. a=0, b=0, c=1 {soal ini menyatakan
anda diminta mencari invers matrik koefisien dari sistem persamaan linier}

Latihan Campuran:
1. Selesaikanlah persamaan matrik di bawah ini:
− 1 0 1 
 1 2 0
a. X  1 1 0  = 
− 3 1 5
 3 1 − 1 
 2 − 3
b. X1x2 
− 1 2  + [− 3] X1x2= [− 2 4]
 

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom


Aljabar Linier Elementer 48

 2 −2 2
3 − 2 5 0 1 − 1
c. X2x3
 3 2  +   X2x3 = 1 0 2 
 − 1 2  
− 4 2 − 2
1 0 1 − 1 1 0
0 1 1 2 0 − 2
d. X2x3 +X2x3  1 0 − 1 =  
   0 3 2 
1 1 0  0 2 − 1
2 3 1  1 3
  5 2  
e. 0 2 2 X3x2  = 3 0
 2 1  
2 4 1 − 4 2

2. Tunjukkan syarat yang berlaku atas matrik A dan B sehingga: (A + B)2 ≠ A2 + 2AB
+ B2, dengan catatan kedua matrik tersebut bujursangkar.
3. Jika diberikan matrik A seperti di bawah ini, tentukan syarat a, sehingga matrik A
mempunyai invers, dan tentukan pula syarat untuk a, sehingga tak mempunyai
invers:
(a − 2) 1 
a. 
 1 (a − 2)
a 0 1 
b. a 1 0
a 0 2

4. Jika invers –4A seperti matrik di bawah ini, tentukan matrik A


 − 1 1 − 14
 0 1 − 1 4 
 4

− 1 2 1 2 − 1 4 

5. Tunjukkan bahwa AB=BA jika dan hanya jika AB-1=B-1A

Mahmud ‘Imrona Sekolah Tinggi Teknologi Telkom

Anda mungkin juga menyukai