0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan29 halaman

Metode Penelitian Beton Ringan Styrofoam

Diunggah oleh

h4y2n29gbc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan29 halaman

Metode Penelitian Beton Ringan Styrofoam

Diunggah oleh

h4y2n29gbc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu penelitian


1. Tempat penelitian
Lokasi penelitian yaitu di Laboratorium Beton Pendidikan Teknik
Bangunan FKIP Universitas Sebelas Maret dan laboratorium bahan bangunan
jurusan Teknik Sipil , Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Waktu penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan bulan september sampai dengan bulan November
2013. Berikut tabel alokasi waktu kegiatan penelitian penulis lakukan :
Tabel 3.1. Jadwal pelaksanaan penelitian

Item Bulan ke
No
pekerjaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 Persiapan

2 Uji bahan

Pembuatan
3
benda uji

Perawatan
4
beton

5 Pengujian

6 Analisa data

Penyusunan
7
laporan

commit to user

28
[Link] [Link]

B. Rancangan atau desain penelitian


Penelitian yang digunakan jenis penelitian kuantitatif yaitu memberikan
suatu gambaran mengenai tinjauan penambahan limbah styrofoam untuk
menggantikan sebagian agregat kasar (split) dengan bahan tambah fly-ash
terhadap kuat tekan dan berat jenis beton ringan struktural. Gambaran ini dibuat
dengan mengadakan eksperimen terhadap sejumlah benda uji untuk
membandingkan dan mendapatkan jawaban dari maksud dan tujuan penelitian.
Penelitian kuantitatif umumnya menggunakan model-model matematika, statistik,
eksperimen dan deskripsi.
1. Studi penelitian
Studi penelitian ini yang dilakukan dengan mencari literatur penunjang
dari buku atau dari sumber lain yang ada hubungannya dengan permasalahan yang
akan diteliti.
2. Tahap penelitian
Tahap penelitian inimeliputi sebagai berikut :
a. Tahap I

Disebut sebagai tahap persiapan dan penyediaan bahan. Pada tahap ini
seluruh bahan dan peralatan yang akan digunakan dipersiapkan terlebih dahulu
agar penelitian dapat berjalan dengan lancar.

1) Penyediaan Bahan
a) Semen Tipe I
Semen yang digunakan harus memenuhi persyaratan yang
ditentukan dalam spesifikasi SK-SNI-S-04-1989-F.
b) Kerikil
Kerikil yang digunakan adalah kerikil Woro dengan diameter
berukuran maksimal 20 mm.
c) Pasir
Pasir yang digunakan adalah pasir Muntilan, Magelang. Pasir
yang digunakan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan
dalam spesifikasi SK SNI S-04-1989-F .
d) Air
commit to user

29
[Link] [Link]

Air yang digunakan adalah air yang memenuhi persyaratan yang


ditentukan dalam spesifikasi SK SNI S-04-1989-F.
e) Flyash
Flyash yang digunakan adalah mutu F dari [Link] Usaha.
2) Persiapan Alat
a) Timbangan
Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram untuk mengukur berat
bahan penyusun beton. Dan timbangan dengan ketelitian 0,1 kg
digunakan untuk mengukur berat benda uji.
b) Gelas ukur
Gelas ukur berkapasitas 250 ml digunakan untuk meneliti
kandungan zat organik dan kandungan lumpur dalam agregat.
c) Cawan aluminium
Untuk tempat penimbangan agregat.
d) Corong conik
Corong conik atau conical mould dengan ukuran diameter atas 3,8
cm, diameter bawah 8,9 cm, tinggi 7,6 cm lengkap dengan alat
penumbuk. Alat ini digunakan untuk mengukur SSD (Saturated
Surface Dry), agregat halus.
e) Mesin penggetar ayakan
Mesin ayakan ini digunakan untuk pengujian gradasi untuk
agregat halus.
f) Oven
Oven yang digunakan kemampuannya mencapai 2400 C, yang
digunakan untuk mengoven pasir.
g) Mesin Los Angeles
Mesin ini berbentuk silinder container dengan diameter 1 m dan
dilengkapi dengan bola baja. Alat ini digunakan untuk menguji
ketahanan aus (abrasi) agregat kasar.
h) Cetakan silinder

commit to user

30
[Link] [Link]

Cetakan ini terbuat dari besi, dengan ukuran diameter luar 150
mm dan tinggi 300 mm. Cetakan ini berfungsi untuk cetakan
benda uji beton.
i) Kerucut Abrams
Kerucut Abrams dari baja dengan ukuran diameter atas 10
cm, diameter bawah 20 cm, tinggi 30cm. Lengkap dengan
tongkat baja yang ujungnya dibulatkan, dengan diameter
16mm dan panjangnya 60cm. Alat ini digunakan untuk
mengukur nilai slump adukan beton.

b. Tahap II

Disebut sebagai tahap pemeriksaan bahan. Dalam penelitian ini dilakukan


pengujian terhadap agregat halus, agregat kasar dan abu terbang. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui sifat dan karakteristik dari bahan-bahan pembentuk beton
sehingga dapat dihindari pemakaian material yang tidak memenuhi syarat dalam
pembuatan beton.

1) Pengujian kadar lumpur agregat halus


a) Tujuan
Untuk mengetahui kadar kandungan lumpur dalam pasir.
b) Alat dan Bahan
(1) Gelas ukur 250 mm
(2) Cawan aluminium
(3) Timbangan
(4) Pipet
(5) Oven
(6) Pasir Oven
(7) Air Bersih
c) Langkah Kerja
(1) Menyiapkan pasir kering oven pada suhu 1100C selama 24 jam.
commit
(2) Menimbang pasir keringtooven
user 100 gram (A).

31
[Link] [Link]

(3) Mengambil tabung gelas ukur kemudian memasukan pasir


tersebut ke dalam gelas.
(4) Melakukan proses pencucian dengan cara sebagai berikut:
(a) Menuangkan air ke dalam tabung berisi pasir setinggi 12
cm dari atas permukaan
(b) Menutup tabung rapat-rapat
(c) Mengocok tabung sebanyak 10 kali
(d) Membuang airnya
(e) Percobaan ini dilakukan beberapa kali sampai airnya
jernih
(f) Menuangkan pasir ke dalam cawan aluminium, jika masih
terdapat airnya dibuang dengan pipet.
(5) Pasir dalam cawan tersebut kemudian dikeringkan dalam oven
pada suhu 1100C dalam 24 jam.
(6) Setelah 24 jam didiamkan hingga mencapai suhu kamar.
(7) Menimbamg pasir yang sudah kering oven (B)

(8) Kadar Lumpur = 100%

(9) Membandingkan dengan persyaratan SNI-S-04-1989-F, yaitu


kadar lumpur maksimum 5%. Bila kadar lumpr melebihi
5%, maka pasir harus dicuci terlebih dahulu.
Dimana : A= Berat pasir kering oven sebelum dicuci (gram)
B= Berat pasir kering oven setelah dicuci (gram)
2) Pengujian kadar air agregat halus
a) Tujuan
Untuk mengetahui jumlah kandungan air dalam agregat
khususnya agregat halus.
b) Alat dan bahan
(1) Cawan Alumunium
(2) Timbangan
(3) Oven
commit to user
(4) Pasir 100 gram

32
[Link] [Link]

c) Langkah kerja
(1) Menyiapkan alat dan bahan berupa cawan dan pasir.
(2) Menimbang cawan, kemudian menimbang pasir seberat 100
gr.
(3) Pasir dalam cawan dioven pada suhu 110°C selama 24 jam.
(4) Setelah cukup kemudian pasir yang dalam keadaan kering
oven, didiamkan sampai suhu kamar, kemudian ditimbang.
(5) Kadar Air =
䉰ĖǴ5 든5 gǴ 5v5n 䉰ĖǴ5 든5 gǴ Ė a5 ag Ė
100%
䉰ĖǴ5 든5 gǴ든5 gǴ

dengan :
Ws = berat pasi awal (gram)
Wo = berat pasir sedua dioven (gram)
(6) Sesuai dengan persyaratan SNI-S-04-1989-F, kadar air pasir
harus lebih besar dari 1-3%.
3) Pengujian kadar zat organik agregat halus
a) Tujuan
Untuk mengetahui persentasi kadar zat organik di dalam
pasir berdasarkan Tabel 3.2. sebagai berikut.

Tabel 3.2. Pengaruh Kandungan Zat Organik Terhadap


Persentase PenurunanBeton.
Warna Penurunan Kekuatan (%)
Jernih 0
Kuning Muda 0 – 10
Kuning 10 - 20
Kemerahan
Kuning Tua 20 – 30
Coklat 30 – 50
Kemerahan
Coklat Tua 50 - 100
( Sumber : Prof. Dr. Rooseno, 1994 )
b) Alat dan bahan
(1) Gelas ukur 250 mm
(2) Timbangan
commit to user
(3) Oven

33
[Link] [Link]

(4) Pasir
(5) Larutan NaOH 3%
c) Langkah kerja
(1) Menyiapkan pasir kering oven pada suhu 1100C selama 24
jam
(2) Mengambil tabung gelas ukur dan kemudian memasukan
pasir tersebut ke dalam tabung gelas ukur sebanyak 130
gram.
(3) Mengambil dan menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam
gelas ukur yang berisi pasir tersebut sehingga volume pasir
dan NaOH mencapai 200cc.
(4) Mengocok pasir dan larutan NaOH 3% selama + 10 menit.
(5) Meletakkan campuran pada tempat terlindungi selama 24
jam.
(6) Mengamati warna yang berada di atas pasir dalam gelas
ukur tersebut lalu membandingkan warna hasil pengujian
dengan warna pada tabel.3.1.
4) Pengujian Spesific Gravity agregat halus
a) Tujuan
(1) Untuk mengetahui Bulk Spesific Gravity, yaitu
perbandingan antara pasir dalam kondisi kering dengan
volume pasir total.
(2) Untuk mengetahui Bulk Spesific Gravity SSD, yaitu
perbandingan antara berat pasir jenuh dalam kondisi kering
permukaan dengan volume pasir total.
(3) Untuk mengetahui Apparent Spesific Gravity, yaitu
perbandingan antara berat kering pasir dengan volume pasir
total.
(4) Untuk mengetahui Absorbtion, yaitu perbandingan antara
berat air yang diserap dengan berat pasir kering.
b) Alat dan bahan commit to user

34
[Link] [Link]

(1) Conical Mould dan pemadat


(2) Volumetric flash 500 cc
(3) Timbangan
(4) Pipet
(5) Oven
(6) Cawan
(7) Pasir
(8) Air bersih
c) Langkah Kerja
(1) Menyiapkan pasir kering oven pada suhu 1100C selama 24
jam
(2) Menimbang pasir kering oven secukupnya
(3) Membuat pasir dalam keadaan SSD dengan cara :
(a) Memercikan air di atas pasir yang telah dioven, lalu
diangin-anginkan sampai kering permukaan.
(b)Memasukan pasir dalam conical mould sampai 1/3 tinggi
lalu kemudian ditumbuk dengan cara menjatuhkan
(memanfaatkan berat sendiri) temper sebanyak 15 kali.
(c) Memasukan pasir lagi dalam conical mould sampai 2/3
tinggi kemudian ditumbuk lagi dengan cara
menjatuhkan (memanfaatkan berat sendiri) temper
sebanyak 15 kali.
(d)Masukan lagi pasir hingga penuh kemudian ditumbuk
dengan cara menjatuhkan (memanfaatkan berat
sendiri) temper sebanyak 15 kali.
(e) Mengangkat conical mould hingga pasir merosot,
bila penurunan pasir mencapai 1/3 tinggi atau ± 2,5
cm maka pasir tersebut dalam keadaan kering
permukaaan.
(f) Mengambil pasir dalam keadaan SSD sebanyak 500
gram. commit to user

35
[Link] [Link]

(g)Memasukan pasir tesebut dalam volumetric flash dan


kemudian ditambah air sampai penuh dan didiamkan
selama 24 jam.
(h)Setelah 24 jam volumetric flash yang berisi tersebut
ditimbang (C).
(i) Keluarkan pasir dari volumetric flash dan masukan ke
cawan dengan membuang air dengan pipet
(4) Masukan air ke dalam cawan dengan oven bersuhu 1100C
selama 24 jam.
(5) Volumetric flash yang telah kosong dan bersih diisi air
sampai penuh dan ditimbang (B).
(6) Pasir yang telah dioven didiamkan sampai mencapai suhu
kamar kemudian ditimbang (A).
Rumus :
A
Bulk Specific Gavity =
B + 500 - C
500
Bulk Specific Gavity SSD =
B + 500 - C
A
Apparent Specific Gavity =
B+ A-C
500 - A
Absortions = X 100 0 0
A
Dimana:

A = berat kering oven (gram)


B = berat volumetric flash + air (gram)
C = berat volumetric flash + pasir + air (gram)

5) Pengujian gradasi agregat halus


a) Tujuan
Untuk mengetahui variasi diameter butiran pasir, persentase
dan modulus kehalusannya
b) Alat dan bahan
(1) Timbangan
commit to user
(2) Oven

36
[Link] [Link]

(3) Satu set alat pemeriksaan gradasi dengan diameter 9,5 mm,
4,75 mm, 2,0 mm, 0,60 mm, 0,425 mm, 0,25 mm, 0,15
mm, 0,075 mm, pan
(4) Cawan dan sikat
(5) Mesin penggetar
(6) Arloji atau pencatat waktu
(7) Pasir dalam keadaan kering oven sebanyak 300 gram
c) Langkah kerja
(1) Menyiapkan pasir kering oven pada suhu 1100 C selama 24
jam.
(2) Menimbang pasir kering oven 3000 gram.
(3) Mengambil dan menyusun sieve dengan susunan dari
bawah keatas.
(4) Meletakkan pasir ke pasir kering ke sieve kemudian mesin
penggetardinyalakan selama 5 menit.
(5) Menuangkan sisa butiran yang tertahan diayakan dan
menimbangnyasatu persatu.
(6) Menghitung persentase berat pasir yang tertinggal pada
masing-masing ayakan
(7) Menghitung modulus kehalusan, dengan menggunakan
rumus:

Modulus kehalusan = 100%
dengan:
A = Σ persentase komulatif berat pasir yang tertinggal
selain dalam pan
B = Σ persentase komulatif berat pasir yang tertinggal

6) Pengujian abrasi agregat kasar


a) Tujuan
Untuk mengetahui daya tahan agregat kasar terhadap gesekan.
b) Alat dan bahan
(1) Bejana Los Angeles
commit to user
(2) Saringan

37
[Link] [Link]

(3) Agregat kasar


(4) Oven
c) Langkah kerja
(1) Menyiapkan agregat kasar dengan diameter dan berat yang
berdasarkan susunan butir contoh yang telah di uji.
(2) Mencuci agregat kasar lalu dioven dengan suhu 1100C
selama 24 jam, kemudian ditimbang (A).
(3) Memasukkan benda uji ke dalam bejana Los Angeles
bersama bola baja sebanyak 11 buah, lalu bejana
ditutup dan diputar dengan kecepatan putaran 30-33
putaran permenit sebanyak seribu putaran.
(4) Mengeluarkan benda uji kemudian disaring dengan
menggunakan saringan 2,36 mm, sisa benda uji di atas
saringan 2,36 mm dicuci dan dioven dengan suhu 1100
selama 24 jam.
(5) Menimbang benda uji sisa yang telah kering oven (B).
(6) Menganalisa persentase berat benda uji yang hilang
dengan rumus:

Persentase berat yang hilang = 100%

Dimana :
A = berat kering oven (gram)
B = berat sisa yang kering oven (gram)
7) Pengujian Spesific Gravity Agregat Kasar
a) Tujuan
(1) Untuk mengetahui Bulk Spesific Gravity, yaitu
perbandingan antara berat kerikil dalam kondisi kering
dengan volume kerikil total.
(2) Untuk mengetahui Bulk Spesific Gravity SSD, yaitu
perbandingan antara berat kerikil jenuh dalam kondisi
kering permukaan dengan volume kerikil total.

commit to user

38
[Link] [Link]

(3) Untuk mengetahui Apparent Spesific Gravity, yaitu


perbandingan antara berat kering kerikil dengan volume
kerikil total.
(4) Untuk mengetahui Absorbtion, yaitu perbandingan antara
berat air yang diserap dengan berat kerikil kering.
b) Alat dan bahan
(1) Kerikil
(2) Bejana dan kontainer
(3) Timbangan
(4) Oven
(5) Cawan
(6) Kerikil
(7) Air bersih
(8) Kain lap
c) Langkah kerja
(1) Mencuci kerikil lalu dikeringkan dalam oven pada suhu
1100C selama 24 jam.
(2) Mengambil kerikil kering lalu ditimbang seberat 3000
gram dan didiamkan hingga mencapai suhu kamar (A).
(3) Merendam kerikil dalam air selama 24 jam lalu keringkan
dengan kain lap agar permukaannya kering setelah itu
ditimbang (B).
(4) Memasang kontainer pada neraca, lalu menuangkan air
dalam bejana hingga kontainer terendam seluruhnya dan
mengatur posisinya agar neraca seimbang.
(5) Memasukkan kerikil ke dalam kontainer hingga
seluruhnya terendam air.
(6) Menimbang kerikil tersebut (C)
Rumus:

Bulk Specific Gavity =
commit
Bulk Specific GavitytoSSD
user =

39
[Link] [Link]


Apparent Specific Gavity =


Absortions =

Dimana:
A = berat kering oven (gram)
B = berat setelah direndam (gram)
C = berat setelah dimasukkan kontainer (gram)

8) Pengujian Gradasi Agregat Kasar


a) Tujuan
Untuk mengetahui dan menentukan variasi butir-butir kerikil.
b) Alat dan bahan
(1) Satu set ayakan
(2) Neraca
(3) Mesin penggetar
(4) Kerikil
c) Langkah kerja
(1) Ambil kerikil sebanyak 3000 gram.
(2) Kerikil dimasukkan kedalam ayakan, kemudian digetarkan
dengan mesin penggetar selama 5 menit.
(3) Timbang berat kerikil yang tertinggal diatas masing-masing
ayakan.
(4) Modulus kehalusan kerikil dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut:

M=
Dimana: M = Persentase kehalusan kerikil
A = Berat kerikil yang tertinggal komulatif (%)
B = Berat kerikil saringan terkecil (%)
C = Berat kerikil tertinggal (%)

c. Tahap III

Disebut sebagai tahap pembuatan benda uji. Langkah-langkah yang


dilakukan dalam tahap ini adalah :commit to user

40
[Link] [Link]

1) Perhitungan rencana campuran adukan beton berdasarkan data-data dari tahap


II dengan kuat tekan rencana 25 MPa dengan variasi styrofoam0%, 20%, 30%
dan 40% terhadap berat agregat kasar serta variasi persentase abu terbang 0%,
20%, 30% dan 40% terhadap berat semen.
2) Pembuatan adukan beton.
3) Pengukuran nilai slump
4) Uji slump
a) Tujuan
Memperoleh angka slump beton.
b) Alat dan bahan
(1) Cetakan dari logam tebal minimal 1,2 mm berupa kerucut
terpancung (cone) dengan diameter bagian bawah 203 mm,
bagian atas 102 mm, dan tinggi 305 mm; bagian atas dan bawah
terbuka.
(2) Tongkat pemadat dengan diameter 16 mm, panjang 600
mm, ujung dibulatkan. Dibuat dari baja yang bersih dan
bebas dari karat.
(3) Pelat logam dengan permukaan yang kokoh, rata dan kedap air.
(4) Sendok sengkung menyerap air.
(5)Mistar.
5) Beton segar yang mewakili campuran beton.
c) Langkah kerja
(1) Basahilah cetakan dan pelat dengan kain basah.
(2) Letakan cetakan diatas pelat dengan kokoh.
(3) Isikan cetakan sampai penuh dengan beton segar dalam 3
lapis, tiap lapis berisi kira-kira 1/3 isi cetakan. Setiap lapis
ditisuk dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali secara merata.
Tongkat harus masuk sampai lapisan bagian bawah tiap
lapisan. Pada lapisan pertama, penusukan bagian tepi
tongkat dimiringkan sesuai dengan kemiringan cetakan.
(4) Setelah penusukan, segera lakukan perataan permukaan
dengan tongkat. Semua sisa benda uji yang jatuh disekitar
commit to user
cetakan harus disingkirtkan.

41
[Link] [Link]

(5) Cetakan diangkat secara perlahan-lahan tegak lurus keatas.


(6) Seluruh pengujian mulai dari pengisian sampai cetakan
diangkat harus selesai dalam jangka waktu 2,5 menit.
(7) Pengukuran slump harus segera dilakukan dengan cara
mengukur tegak lurus antara tepi atas cetakan dengan tinggi
rata-rata benda uji.

6) Pembuatan benda uji


a. Benda uji dibuat dari beton segar yang mewakili campuran beton.
b. Isilah cetakan dengan adukan beton dalam 3 lapis, tiap-tiap lapis
dipadatkan
dengan 25 kali tusukan secara merata pada saat melakukan pemadatan
lapisan pertama, tongkat pemadat tidak boleh mengenai dasar cetakan
pada saatpemadatan lapisan keduaserta ketiga tongkat pemadat boleh
masuk kira-kira 25,4mm ke dalam lapisan dibawahnya.
c. Setelah selesai melakukan pemadatan, ketuklah sisi cetakan perlahan-
lahansampai rongga bekas tusukan tertutup; ratakan permukaan beton dan
tutuplahsegera dengan bahan yang kedap air serta tahan karat; kemudian
biarkan betondalam cetakan selama 24 jam dan letakkan pada tempat yang
bebas dari getaran.
d. Setelah 24 jam, bukalah cetakan dan keluarkan benda uji; untuk
perencanaancampuran beton, rendamlah benda uji dalam bak perendam
berisi air padatemperatur 25oC disebutkan untuk pematangan (curring),
selama waktu yangdikehendaki; untuk pengendalian mutu beton pada
pelaksanaan pembetonan,pematangan (curring) disesuaikan dengan
persyaratan.

1) Penutupan setelah penyelesaian


Untuk menjaga penguapan air dari beton segar, benda uji setelah selesai
harus ditutupi dengan bahan yang tidak mudah menyerap air.

commit to user
2) Pelepasan benda uji dari cetakan

42
[Link] [Link]

Pelepasan benda uji dari cetakan setelah 20 jam dan jangan lebih dari 48
jam setelah pencetakan.

d. Tahap IV

Disebut sebagai tahap perawatan (curing), yaitu perawatan terhadap beton


setelah pelepasan beton dari cetakan, yaitu dengan merendam benda uji atau
menutupi dengan karung basah selama 28 hari.

e. Tahap V

Disebut sebagai tahap pengujian. Pada tahap ini dilakukan 2 macam


pengujian, yaitu :

1) Pengujian berat jenis beton, dilakukan setelah beton berumur 28 hari.


2) Pengujian kuat tekan beton dengan mesin desak (Universal Testing Machine),
dan dilakukan setelah beton berumur 28 hari.
A. Uji Berat Jenis.
1) Pengertian berat jenis.
Berat jenis adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat dengan
massa jenis air murni. Air murni bermassa jenis 1 g/cm³ atau 1000 kg/m³. Berat
jenis tidak mempunyai satuan atau dimensi.([Link]
Dalam hal struktural ada beberapa istilah mengenai berat jenis yang dipakai pada
agregat :
a. Berat Jenis Absolut, yaitu perbandingan antara berat suatu massa
yangmasif terhadap berat air murni pada volume yang sama.
b. Berat Jenis nyata, yaitu berat yang dibandingkan adalah beratkeseluruhan
agregat (termasuk volume pori yang tidak tembus air).
c. Berat jenis pada kondisi kering permukaan (Saturated Surface Dry),yaitu
berat yang dibandingkan adalah berat pada keadaan jenuh
keringpermukaan (volume benda termasuk volume pori-pori yang tidak
tembus air).

commit to user

43
[Link] [Link]

d. Berat Jenis pada kondisi kering, yaitu berat yang dibandingkan


dalamkondisi kering (termasuk volume pori yang tembus ataupun tidak
tembus air)
2) Cara perhitungan berat jenis:
Berat jenis di peroleh dengan membagi berat benda dengan isi benda
tersebut dengan cara:

a. mengukur berat dari benda dengan timbangan


b. mengukur isi benda dengan dua cara ;
1) bila bendanya beraturan, kita menghitung isinya dengan
mempergunakan rumus yang berlaku.
2) bila bendanya tidak beraturan, maka mencari isi / volumenya
dengan mempergunakan rumus yang berlaku
3) rumus berat jenis yaitu Berat jenis = Berat / Volume.

v
Berat jenis mempunyai rumusan atau dengan satuan N/m3

denganm = massa, g = gravitasi, V = volume danW =weight (berat).

B. Uji kuat tekan.


1. Pengertian kuat tekan

Kuat tekan adalah batas kekuatan suatu material untuk menerima tekanan.
Pengertian kuat tekan beton adalah besarnya beban per satuan luas, yang
menyebabkan benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan
tertentu yang dihasilkan oleh mesin tekan (SNI-03-1974-1990).

Kuat desak beton merupakan sifat terpenting dalam kualitas beton dibanding
dengan sifat-sifat lain. Kekuatan desak beton ditentukan oleh pengaturan dari
perbandingan semen, agregat kasar dan agregat halus, air dan berbagai jenis
campuran. Perbandingan dari air semen merupakan faktor utama dalam
menentukan kekuatan beton. Semakin rendah perbandingan air semen, semakin
committertentu
tinggi kekuatan desaknya. Satu jumlah to userair diperlukan untuk memberikan

44
[Link] [Link]

aksi kimiawi dalam pengerasan beton, kelebihan air meningkatkan kemampuan


pekerjaan (mudah beton untuk dicorkan) akan menurunkan kekuatan (Chu Kia
Wang dan C. G. Salmon, 1990).

2. Cara perhitungan kuat tekan

Untuk melaksanakan pengujian kuat tekan beton diperlukan peralatan sebagai


berikut :

a. Cetakan silinder, diameter 152 mm, tinggi 305 mm.


b. Tongkat pemadat, diameter 16 mm, panjang 600 mm, dengan ujung
dibulatkan, dibuatdari baja yang bersih dan bebas dari karat.
c. Mesin pengaduk atau bak pengaduk beton kedap air.
d. Timbangan dengan ketelitian 0,3% dari berat sampel.
e. Mesin tekan, kapasitas sesuai kebutuhan.
f. Satu set alat pelapis (capping).
g. Peralatan tambahan : ember, sekop, sendok, sendok perata, dan talam.
h. Satu set alat pemeriksaan slump.
i. Satu set alat pemeriksaan berat isi beton.

Untuk mendapatkan benda uji harus diikuti beberapa tahapan sebagai berikut :

1. Pembuatan dan pematangan benda uji


2. Persiapan pengujian
a. Ambillah benda uji yang akan ditentukan kekuatan tekannya dari bak
perendam / pematangan (curring), kemudian bersihkan dari kotoran yang
menempel dengan kain lembab.
b. Tentukan berat dan ukuran benda uji.
c. Lapislah (capping) permukaan atas dan bawah benda uji dengan mortar
belerangdengan cara sebagai berikut : Lelehkan mortar belerang di dalam
pot peleleh(melting pot) yang dinding dalamnya telah dilapisi tipis dengan
gemuk. Kemudian letakkan benda uji tegak lurus pada cetakan pelapis
sampai mortar belerang cair menjadi keras dengan cara yang sama lakukan
pelapisan pada permukaancommit
[Link] user

45
[Link] [Link]

d. Benda uji siap untuk diperiksa.

Untuk melaksanakan pengujian kuat tekan beton harus diikuti beberapa tahapan
sebagai berikut:
1) Letakkan benda uji pada mesin tekan secara Centris.
2) Jalan mesin tekan dengan penambahan beban yang konstan berkisar antara
2 sampai 4kg/cm2 per detik.
3) Lakukan pembebanan sampai benda uji menjadi hancur dan catatlah beban
maksimumyang terjadi selama pemeriksaan benda uji.
4) Gambarlah bentuk pecahan dan catatlah keadaan benda uji.
Perhitungan kuat beton itu sendiri dapat di simpulkan sebagai berikut:

Kuat tekan beton = (kg/cm2)



Keterangan:
P = Beban maksimum (kg)
A = Luas penampang benda uji (cm2)

f. Tahap VI

Disebut sebagai tahap analisa data. Dari hasil pengujian yang telah
dilakukan, maka perlu dilakukan analisa data yang dihasilkan.

g. Tahap VII

Disebut sebagai tahap penarikan kesimpulan. Tahap ini didasarkan dari


analisa data pada tahap VI, sebagai jawaban dari masalah yang telah dirumuskan.

Secara skematis tahap-tahap penelitian ini dapat dilihat pada bagan alir tahapan
penelitian pada gambar bagan.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan alir penelitian ini :

commit to user

46
[Link] [Link]

Gambar 3.1. Bagan alir tahap-tahap penelitian

commit to user

47
[Link] [Link]

C. Populasi dan Sampel.


1. Populasi
Pengertian populasi adalah keseluruhan obyek-obyek yang menjadi daerah
penyelidikan yang merupakan kumpulan seluruh elemen sejenis tapi dapat
dibedakan satu sama [Link] Sugiyono (2007 :61), populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri dari atas obyek atau subyek yang mempunyai
kualitas dan karekteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah beton
Populasi dalam penelitian ini yaitu beton berbentuk silinder dengan diameter 15
cm dan tinggi 30 cm.

2. Sampel
Sampel yaitu sebagian dari populasi yang sifat dan cirinya akan diselidiki
dan dianggap mewakili seluruh populasi. Jadi sampel dalam penelitian ini adalah
beton berbentuk silinder dengan spesifikasi sebagai berikut :

a. Campuran adukan beton di rencanakan dengan mix design metode SKSNI 2002
dengan mutu beton rencana 25 Mpa.
b. Variasi styrofoam 20%, 30% dan 40% terhadap berat agregat kasar.
c. Variasi persentase abu terbang 0%, 20%, 30% dan 40% terhadap berat semen.
d. Benda uji untuk uji berat jenis dan uji kuat tekan beton berbentuk silinder dengan
diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.
e. Benda uji untuk setiap variasi adalah 3 buah, sehingga jumlah benda uji
seluruhnya adalah:

commit to user

48
[Link] [Link]

Tabel 3.3. Jumlah benda uji


% Styrofoam
% Fly-ash Jumlah
0% 20% 30% 40%
0% 3 3 3 3 12
20% - 3 3 3 9
30% - 3 3 3 9
40% - 3 3 3 9
TOTAL 39

D. Pengumpulan data
1. Sumber data
Sumber data dalam pelaksanaan penelitian ini dikelompokkan menjadi dua
bagian, yaitu :
a. Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil eksperimen dan pengamatan di
Laboratorium. Data primer dari penelitian ini adalah hasil uji di Laboratorium
berupa uji bahan, uji berat jenis beton, dan kuat tekan beton.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari referensi dan informasi penunjang
yang berhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan.
2. Teknik mendapatkan data
Data-data yang diperoleh dari hasil pengujian yang dicatat dan digunakan
sebagai bahan masukan dalam pembahasan,analisa data dan laporan penelitian.
a. Standar pengujian terhadap agregat halus

Pengujian untuk agregat halus dilaksanakan berdasarkan standar ASTM dan


disesuaikan dengan spesifikasi bahan menurut ASTM dan PBI 1971 standar
pengujian terhadap agregat halus adalah sebagai berikut:

· ASTM C-40 : Standar penelitian untuk pengujian kotoran


organik agregat halus.
· ASTM C-117 : Standar penelitian untuk pengujian agregat yang
lolos saringan No. 200 dengan pencucian (tes
kadar lumpur).
commit to user

49
[Link] [Link]

· ASTM C-128 : Standar penelitian untuk menentukan specific


gravity dari agregat halus.
· ASTM C-136 : Standar penelitian untuk analisa saringan agregat
halus dan agregat kasar.
1) Pengujian Kadar Lumpur
Pasir adalah salah satu bahan dasar beton yaitu sebagai agregathalus, dengan
demikian kualitas pasir akan mempengaruhi kualitas betonyang dihasilkan. Untuk
itu pasir yang akan digunakan dalam pembuatanbeton harus memenuhi syarat,
salah satunya adalah bersih, artinya pasirtidak mengandung lumpur lebih dari 5%
berat kering. Lumpur adalahbagian dari pasir yang lolos saringan 0,063 mm,
apabila kadar lumpurlebih dari 5% maka pasir harus dicuci lebih dahulu sebelum
digunakansebagai bahan adukan beton. Hal ini sesuai dengan Peraturan
BetonIndonesia tahun 1971 (PB NI-2 Tahun 1971).

2) Pemeriksaan Kadar Air


Dalam perhitungan rancang campuran (mix design). Kondisikadar air untuk
agregat harus dalam keadaan SSD (Saturated SurfaceDry) atau kering permukaan
dari agregat tersebut, tetapi jenuh terhadapair walaupun direndam berat tidak akan
bertambah. Sehingga air yangdipakai dalam mencampur beton tidak diserap oleh
agregat, khusus untukperekat (PC).Kenyataan dilapangan kondisi kadar air selalu
berubah,tergantung dari kondisi cuaca, sehingga tidak SSD lagi, untuk
itusebenarnya lebih baik pengujian kadar air tidak hanya kondisi SSD tapijuga
kadar air lapangan.

3) Pemeriksaan Kadar Zat Organik


Pasir umumnya diambil dari sungai, maka kemungkinan pasirkotor
sangatbesar, misalnya bercampur dengan lumpur maupun zatorganik lainnya.
Pasir sebagai agregat halus dalam adukan beton tidakboleh mengandung zat
organik terlalu banyak karena akan mengurangikekuatan beton yang dihasilkan.
Kandungan zat organik ini dapat dilihatdari percobaan warna Abrams Harner
dengan menggunakan larutanNaOH 3% sesuai PB NI-2. 1971.

commit to user

50
[Link] [Link]

4) Pemeriksaan Spesific Gravity

Mengetahui sifat-sifat bahan bangunan yang akan dipakai dalamsuatu


konstruksi adalah sangat penting karena dari sifat-sifat tersebutdapat ditentukan
langkah-langkah yang tepat untuk mengerjakanbangunan tersebut. Berat jenis
merupakan salah satu variable yang sangatpenting dalam merencanakan campuran
adukan beton karena denganmengetahui variabel tersebut dapat dihitung volume
pasir yangdiperlukan.

5) Pemeriksaan Gradasi
Gradasi adalah keseragaman diameter pasir sebagai agregat halus. Gradasi
pada pasir lebih diperhitungkan daripada agregat kasar,karena menentukan sifat
pengerjaan dan sifat kohesi campuran [Link] itu gradasi pasir sangat
menentukan pemakaian semen dalampembuatan [Link] Tjokrodumiljo
(2004:III-10), Gradasi agregat ialahdistribusi ukuran butiran dari agregat. Sebagai
pernyataan gradasi dipakainilai persentase dari berat butiran yang tertinggal atau
lewat di dalamsuatu susunan ayakan. Susunan ayakan itu ialah ayakan dengan
lubang :76 mm, 38 mm, 19 mm, 9,6 mm, 4,8 mm, 2,40 mm, 1,20 mm, 0,60
mm,0,30 mm, dan 0,15 mm.

b. Standar pengujian terhadap agregat kasar

Pengujian terhadap agregat kasar juga berdasarkan standar ASTM dan


disesuaikan dengan spesifikasi bahan menurut ASTM dan PBI 1971. Standar
pengujian terhadap agregat kasar adalah sebagai berikut:

· ASTM C-117 : Standar penelitian untuk pengujian agregat


yang lolos saringan No. 200 dengan pencucian
(tes kadar lumpur).

· ASTM C-127 : Standar penelitian untuk penelitian specific


gravity dan absorpsi dari agregat kasar.

commit to user

51
[Link] [Link]

· ASTM C-131 : Standar penelitian untuk menentukan ketahanan


agregat kasar terhadap keausan dengan mesin
Los Angeles.

· ASTM C-136 : Standar penelitian untuk analisa saringan


agregat halus dan agregat kasar.

Spesifikasi untuk agregat kasar adalah sebagai berikut:

· ASTM C-33 : Spesifikasi standar untuk agregat beton.

· ASTM C-117 : Spesifikasi standar untuk agregat kasar (bab 3,


bab 4).
1) Pengujian Abrasi
Agregat kasar merupakan salah satu bahan dasar beton yang harus
memenuhi standar tertentu untuk daya tahan keausan akibatgesekan. Standar ini
dapat diketahui dengan mengadakan pengujiandengan alat yang disebut bejana
Los Angelos. Agregat kasar harus tahanterhadap daya aus gesek, bagian yang
hilang karena gesekan tidak bolehlebih dari 50%.

2) Pengujian Spesific Gravity


Berat jenis merupakan salah satu variabel yang sangat pentingdalam
merencanakan campuran adukan beton, karena dengan variable tersebut dapat
dihitung volume agregat kasar yang diperlukan.

3) Pengujian gradasi
Gradasi dan keseragaman diameter agregat kasar sangat pentinguntuk
diketahui, karena sangat menentukan sifat pengerjaan dan sifatkohesif campuran
adukan beton. Selain itu kerikil sangat menentukanpemakaian semen dalam
pembuatan beton. Pengujian ini bertujuan untukmengetahui variasi ukuran butir
kerikil, persentase dan moduluskehalusannya.

E. Analisis Data
Analisa data yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
pengaruh penambahan bahan tambah
commit
styrofoamdan
to user flyashterhadap kuat tekan dan

52
[Link] [Link]

berat jenis beton yaitu dengan analisa regresi. Namun sebelumnya diadakan
pengujian prasyarat analisis berupa uji normalitas, dan uji homogenitas.
1. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Normalitas Data

Analisa data alah cara untuk mengolah data, menguji hipotesis, dan untuk
memperoleh kesimpulan.
Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah data-data pada variabel
penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk
membuktikan bahwa data-data pada variabel penelitian berasal dari populasi yang
berdistribusi normal, maka uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan SPSS , yaitu dengan menggunakan uji statistik Shapiro wilk. Untuk
menerima atau menolak hipotesa, maka perlu membandingkan (nilai Sig.) dengan
melihat kriteria dibawah ini:
Ho = data berdistribusi normal
Ha = data berdistribusi tidak normal
Pengambilan keputusan/kriteria:
Jika probabilitas (nilai sig.) > 0.05 ; maka Ho diterima.
Jika probabilitas (nilai sig.) < 0.05 ; maka Ho ditolak.

b. Uji homogenitas

Uji homogenitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa dua atau


lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang
sama. Untuk membuktikan bahwa data pada variabel penelitian berasal dari
populasi yang memiliki variansi sama, maka uji homogenitas yang digunakan
pada penelitian ini menggunakan SPSS 16, yaitu dengan menggunakan uji
statistik homogeneity of variance. Untuk menerima atau menolak hipotesis, maka
perlu membandingkan (nilai Sig.) dengan melihat kriteria dibawah ini:

Ho = data berasal dari populasi yang mempunyai varian serupa (homogen)


Ha = data berasal dari populasi yang mempunyai varian yang tidak serupa ( tidak
commit to user
homogen)

53
[Link] [Link]

Pengambilan keputusan/kriteria:

Jika probabilitas (nilai Sig.) > 0.05 ; maka Ho di terima.

Jika probabilitas (nilai Sig.) < 0.05 ; maka Ho di tolak.


c. Uji Analisa regresi

Analisa regresi dalam program SPSS 16 adalah dengan menggunakan


Regression (Linier dan Curve Estimation). Analisa ini merupakan gambaran dari
variabel bebas dalam penelitian yang dilaksanakan dengan variabel terikat yang
dipengaruhi oleh variabel bebas yang ada.

Bentuk umum dari persamaan regresi terdiri dari dua golongan yaitu linier
(polinom pangkat satu) dan non linier (polinom pangkat lebih dari satu). Bentuk
umum dari persamaan regresi seperti terlihat dalam persamaan-persamaan di
bawah ini (Sudjana, 1996:312-315):

Persamaan linier

Yc = a + bx

Persamaan polinom pangkat dua

Yc = a + bx + cx2

Persamaan polinom pangkat tiga

Yc = a + bx + cx2 + dx3

Persamaan polinom pangkat k (k ³ 2)

Yc = a0 + a1x + a2x2 + a3x3 + … + akxk

Untuk menghitung konstanta a (a0, a1, …) b, c, dan d, maka diperlukan


persamaan normal dari tiap-tiap persamaan garis regresi tersebut. Persamaan
normal untuk tiap-tiap persamaan garis regresi adalah sebagai berikut:

commit to user

54
[Link] [Link]

1) Persamaan normal linier

(å Y ) (å X ) - (å Y)(å XY)
2

a=
n å X (å X)
2 2

nå XY - (åY)(åX)
xåX2 - (åX)
b= 2

2) Persamaan normal polinom pangkat dua

SY = n.a + bSX + cSX2

SXY = aSX + bSX2 + cSX3

SX2Y = aSX2 + bSX3 + cSX4

3) Persamaan normal polinom pangkat tiga

SY = n.a + bSX + cSX2 + dSX3

SXY = aSX + bSX2 + cSX3 + dSX4

SX2Y = aSX2 + bSX3 + cSX4 + dSX5

SX3Y = aSX3 + bSX4 + cSX5 + dSX6

4) Persamaan normal polinom pangkat k

SY = n.a0 + a1SX + a2SX2+ … + akSXk

SXY = a0SX + a1SX2 + a3SX3+ … + akSXk+1

SX2Y = a0SX2 + a1SX3 + a3SX4+ … + akSXk+2

SX3Y = a0SX3 + a1SXk+1 + a2SXk+2+ …+ akSX2k

Keterangan:

Y = Variabel terikat (kuat desak beton dan berat jenis beton)

commit to user
X = Variabel bebas (variansi persentasestyrofoamdan flyash)

55
[Link] [Link]

n = Jumlah yang diteliti


a0, a1, …, ak, b, c, d = konstanta.

2. PengujianHipotesis
a. Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama untuk mengetahui pengaruh penambahan Styrofoam dan
flyashterhadap berat jenis beton ringan struktural. Untuk mengetahui pengaruh
penambahan Styrofoam dan flyashterhadap berat jenis beton menggunakan
persamaan regresi yaitu dengan menggunakan program SPSS 16 dengan uji
Regression (Liniear)berganda.

b. Hipotesis Kedua
Hipotesis kedua untuk mengetahui pengaruh penambahan Styrofoam dan
flyashterhadap kuat tekan beton ringan struktural. Untuk mengetahui pengaruh
penambahan Styrofoam dan flyashterhadap kuat tekan beton pada beton ringan
struktural menggunakan persamaan garis regresi yaitu dengan menggunakan
program SPSS 16 dengan uji Regression (Liniear).Untuk membuktikan bahwa
data-data pada variabel penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal,
maka uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan program
SPSS, yaitu dengan menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov.
Untuk membuktikan bahwa data pada variabel penelitian berasal dari
populasi yang memiliki variansi sama, maka uji homogenitas yang digunakan
pada penelitian ini menggunakan SPSS 16, yaitu dengan menggunakan uji
statistik homogeneity of variance.

commit to user

56

Anda mungkin juga menyukai