OKTAL : Jurnal Ilmu Komputer dan Science
Volume 1, No. 04, April 2022
ISSN 2828-2442 (media online)
Hal 343-350
RANCANGAN ALAT MENDETEKSI ASAP DAN API
DENGAN SENSOR (GAS DAN SUHU) MENGGUNAKAN
ARDUINO UNO
Yose Rizal1*, Riswal Hanafi Siregar2
1Fakultas Teknik, Teknik Informatika, Universitas Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Indonesia
Email: 1yoserizal068@[Link] , 2*dosen00268@[Link]
(* : coressponding author)
Abstrak−Kebakaran merupakan suatu peristiwa yang tidak dikehendaki oleh setiap manusia. Kebakaran dapat
mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, baik kerugian material maupun kerugian jiwa yang ditimbulkan.
Setiap proses kebakaran selalu menimbulkan asap dan panas dan menyebabkan kenaikan temperatur pada suatu
tempat atau ruangan yang terjadi kebakaran. Sedangkan hasil proses perubahan material suatu kebakaran adalah
adanya asap gas yang berupa partikel-partikel kecil. Melalui teknologi alat pendeteksi kebakaran, bencana
kebakaran dapat dideteksi secara dini. Karena alat pendeteksi kebakaran bekerja dengan cara mendeteksi
kenaikan derajat panas dan kebocoran gas. Alat ini bekerja apabila mendeteksi salah satu atau lebih indikator
tersebut. Kemudian alarm dan led akan menyala sebagai peringatan bahwa telah terjadi kebakaran pada area
yang dipasang alat pendeteksi kebakaran. Manfaat dapat menyelesaikan masalah yang biasanya hanya ditangani
secara manual, sekarang dengan system sensor Gas dan Suhu. Penelitian ini berjudul Rancangan Alat
Mendeteksi Asap dan Api dengan Sensor (gas dan Suhu) Mengunakan Arduino Uno, Rancangan Alat ini
bertujuan untuk memberikan penangganan secara spontan bila ada Asap dan Api didalam ruangan,
mengintegrasikan sensor gas dan suhu untuk mendeteksi adanya api dan asap, Buzzer sebagai alat yang
menghasilkan bunyi jika terdektsi adanya api dan asap yang berarti terjadi kebakaran, mempercepat
penangganan terjadinya kebakaran dengan Jendela Otomatis dan Pompa Air Otomatis.
Kata Kunci: Kebakaran, Sensor, Rancangan, Alat, Deteksi.
Abstract− Fire is an event that is not desired by every human being. Fires can result in significant losses, both
material and life losses. Every fire process always produces smoke and heat and causes an increase in
temperature in a place or room where a fire occurs. While the result of the process of changing the material of
a fire is the presence of gas smoke in the form of small particles. Through fire detection technology, fire
disasters can be detected early. Because fire detectors work by detecting heat and gas leaks. This tool works
when it detects one or more of these indicators. Then the alarm and LED will light up as a warning that there
has been a fire in the area where the fire detector is installed. Benefits of being able to solve problems that
were usually only handled manually, now with Gas and Temperature sensor systems. This research is entitled
Design of a Smoke and Fire Detecting Tool with Sensors (gas and Temperature) Using Arduino Uno, the design
of this tool aims to provide spontaneous handling when there is smoke and fire in the room, integrate gas and
temperature sensors to detect fire and smoke, Buzzer as a device that produces sound if fire and smoke are
detected, which means a fire has occurred, accelerates the handling of fires with Automatic Windows and
Automatic Water Pumps.
Keywords: Fire, Sensor, Design, Tool, Detection.
1. PENDAHULUAN
Kebakaran merupakan suatu peristiwa yang tidak dikehendaki oleh setiap manusia.
Kebakaran dapat mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, baik kerugian material maupun
kerugian jiwa yang ditimbulkan. Setiap proses kebakaran selalu menimbulkan asap dan panas dan
menyebabkan kenaikan temperatur pada suatu tempat atau ruangan yang terjadi kebakaran. Hasil
proses perubahan material suatu kebakaran adalah adanya asap gas yang berupa partikel-partikel
kecil.
Melalui teknologi alat pendeteksi kebakaran, bencana kebakaran dapat dideteksi secara dini.
Karena alat pendeteksi kebakaran bekerja dengan cara mendeteksi kenaikan derajat panas, radiasi
sinar ultraviolet oleh nyala api, dan kebocoran gas. Alat ini bekerja apabila mendeteksi salah satu
atau lebih indikator tersebut. Kemudian alarm akan menyala sebagai peringatan bahwa telah terjadi
kebakaran pada area yang dipasang alat pendeteksi kebakaran.
Yose Rizal | [Link] | Page 343
OKTAL : Jurnal Ilmu Komputer dan Science
Volume 1, No. 04, April 2022
ISSN 2828-2442 (media online)
Hal 343-350
Untuk mengetahui adanya asap kebakaran, dibutuhkan alat untuk mendeteksi gas CO. Maka
dibuatlah aplikasi Arduino Uno menggunakan masukan sensor Gas dan Suhu. Sensor untuk
mendeteksi Gas dan Suhu menggunakan Gas Sensor dan Temperature Sensor. Sedangkan Arduino
Uno sebagai kontroler dan pemroses sinyal.
Sistem akan bekerja apabila sensor yang terpasang membaca melalui sensor Suhu DHT11
dan sensor Gas MQ2 adanya indikator terjadinya kebakaran sesuai pengaturan dalam Arduino Uno.
Kemudian setelah Arduino Uno mengolah data input dari salah satu sensor atau lebih maka akan
ada notifikasi pemberitahuan ditandai dengan bunyinya buzzer dan Led akan menyala. Alat ini
dibuat dengan memiliki beberapa fungsi yaitu mendeteksi asap dan api. Hal ini melibatkan Arduino
Uno, sensor gas dan sensor suhu.
Arduino merupakan perkembangan dunia elektronika semakin berkembang pesat. Begitupula
perkembangan mikrokontroler. Masih ingat dengan Z80? mikroposesor yang berkembang generasi
tahun 60an yang menjadi otak papan ketik tunggal, dan bagi yang pernah menggunakan chip ini
tentu pernah merasakan rumitnya membuat program dengan bahasa asembly, bahasa yang terdiri
dari angka 0 dan 1. Akan tetapi melihat perkembangan kontrol sekarang ini telah jauh lebih maju
dengan board yang semakin kecil dan penulisan program yang jauh lebih sederhana. Beberapa
kelebihan menggunakan Arduino Uno: open source, tidak memerlukan chip programmer, koneksi
USB, ukuran kecil dan mudah dibawa. Beberapa alasan mengapa Arduino Uno banyak digunakan
yaitu karena mudah ditemukan di pasaran, spesifikasi yang tidak terlalu rendah maupun terlalu
tinggi, dan tentunya harga yang terjangkau.
Dengan adanya Arduino Uno sebagai kontroler dan pemroses sinyal, kebakaran dapat
ditangani secara cepat dengan menggunakan dua buah sensor gas MQ2 dan sensor suhu DHT11,
yang dimana sensor akan bekerja apabila adanya asap dan panasnya api oleh kebakaran. Maka
dibuatkan rancangan alat yang dapat mendeteksi asap dan api dengan sensor gas dan suhu
menggunakan Arduino Uno.
2. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Metode Penelitian
Perancangan sistem deteksi asap dan api merupakan perancangan berbasis mikrokontroler
arduino. Perancangan ini menghasilkan sebuah prototipe yang terdiri dari tiga bagian yaitu input,
proses dan output. Membangun prototipe mula-mula dilakukan pemasangan komponen perangkat
keras pada sebuah PCB. Komponen komponen perangkat keras terdiri dari sensor gas, sensor suhu,
relay, LED, buzzer, motor servo, dc motor dan mikrokontroler arduino.
Komponen yang pertama dirancang adalah Sensor Penditeksi Api dan asap, sensor berfungsi
sebagai trigger saat adanya api di area ditempatkannya sensor. Tahap selanjutnya yaitu melakukan
pemasangan relay dengan menghubungkan ke arduino yang berfungsi untuk mengaktifkan pompa
air otomatis dalam ruangan tersebut. Lalu setelah itu pemasangan arduino uno yang berfungsi
sebagai pengontrol dari setiap komponen-komponen perangkat keras yang telah terpasang. Setelah
tahap perancangan komponen perangkat keras selesai, langkah selanjutnya perancangan perangkat
keras yang bertujuan untuk menerima masukan semua perangkat keras yang terhubung ke arduino
Uno.
2.2. Metode Pengembangan Perangkat Lunak
Dalam membangun rancangan alat Mendeteksi Asap dan Api dengan sensor Gas dan Suhu,
alat yang digunakan dalam pengembangan perangkat lunak adalah dengan menggunakan metode
waterfall. Beberapa proses diagram waterfall sebagai berikut:
Yose Rizal | [Link] | Page 344
OKTAL : Jurnal Ilmu Komputer dan Science
Volume 1, No. 04, April 2022
ISSN 2828-2442 (media online)
Hal 343-350
Gambar 1: Skema Model Waterfall
a. Analisa
Langkah ini merupakan analisa terhadap kebutuhan sistem yang diperlukan dalam
pelaksanaan proyek pembuatan aplikasi.
b. Design
Tahapan dimana dilakukan penuangan fikiran dan perancangan sistem terhadap
solusi dari permasalahan yang ada dengan menggunakan permodelan sistem yang nanti
mudah dimengerti oleh pengguna.
c. Coding
Merupakan penerjemah design dalam bahasa pemrogaman yang bisa dikenali oleh
computer.
d. Testing
Tahapan akhir dimana sistem dibangun diuji kemampuannya sehingga didapatkan
kekurangan dan kelemahan sistem yang kemudian dilakukan pengkajian ulang dan
perbaikan terhadap aplikasi tersebut agar menjadi lebih baik dan sempurna.
e. Maintenance
Tahapan dimana dilalakukan pemeliharaan terhadap aplikasi yang telah dibuat
ketika aplikasi sudah diimplementasikan kepada pengguna.
2.3 Pengertian Skala Likert
Skala Likert adalah teknik skala non-komparatif dan un- dimensional (hanya mengukur sifat
tunggal) secara alami. Responden diminta untuk menunjukkan tingkat kesepakatan melalui
pernyataan yang diberikan dengan skala ordinal. Dari kedua pengertian diatas, disimpulkan bahwa
skala Likert adalah metode perhitungan kuesioner yang dibagikan kepada responden untuk
mengetahui skala sikap suatu obyek tertentu.
Metode penelitian pada studi ini menggunakan metode pendekatan secara kualitatif dan
kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan survey terhadap beberapa responden dengan mengajukan
kuesioner berisi daftar pertanyaan kepada responden. Daftar pertanyaan bersifat tertutup dengan
jawaban alternatif yang telah disediakan. Kuesioner yang digunakan merupakan tes skala perilaku
yang mengacu pada perhitungan skala likert. Pilihan jawaban yang disediakan yaitu pernyataan
sikap sangat setuju (SS), Setuju (S), kurang setuju (KS), Tidak Setuju (TS) dan sangat tidak setuju
(TSS). Sedangkan untuk menghindari pernyataan keragu-raguan dari persepsi masyarakat , maka
kategori ragu-ragu tidak digunakan.
2.4 Teknik Pengolahan Data
Untuk menterjemahkan hasil perhitungan skala likert, digunakan analisis interval dengan
melakukan pembobotan atau skoring. Proses penentuan skor pada jawaban responden dilakukan
Yose Rizal | [Link] | Page 345
OKTAL : Jurnal Ilmu Komputer dan Science
Volume 1, No. 04, April 2022
ISSN 2828-2442 (media online)
Hal 343-350
dengan membuat klasifikasi dan kategori yang cocok tergantung kepada tanggapa responden.
Perhitungan scoring dengan perhitungan skala likert adalah sebagai berikut:
a. Skor 5 untuk jawaban sangat setuju (SS)
[Link] 4 untuk jawaban setuju (S)
c. Skor 3 untuk jawaban Ragu-ragu (N)
[Link] 2 untuk jawaban tidak setuju (TS)
e. Skor 1 untuk jawaban sangat tidak setuju (STS)
Setelah dilakukan skoring di atas, dilakukan tabbulasi atau pembuatan tabel-tabel yang
berisikan data yang telah diberi kode yang kemudian hasil pengelompokan data bisa dinyatakan
dalam bentuk tabel atau gambar.
Tabel 1: Skala Penilaian
Kondisi Skor
Sangat setuju 5
Setuju 4
Ragu-Ragu 3
Tidak setuju 2
Sangat tidak setuju 1
Tabel 2: Pemobotan dan Pemberian Kode
No. Simbol Keterangan Skala Interval
1 SS Sangat Setuju 5
2 S Setuju 4
3 N Ragu-ragu (Netral) 3
4 TS Tidak Setuju 2
5 STS Sangat Tidak Setuju 1
Tabel 3: Interval Penilaian
No. Indeks Penilaian
1 0% - 20% Sangat Tidak Setuju
2 21% - 40% Tidak Setuju
3 41% - 60% Ragu-ragu (Netral)
4 61% - 80% Setuju
5 81% - 100% Sangat Setuju
3. ANALISA DAN PEMBAHASAN
3.1 Model Perancangan
Model perancangan merupakan desain umum yang dimana setiap komponen saling
terhubung satu sama lain. Dalam model perancangan terdapat topology dari setiap komponen,
Yose Rizal | [Link] | Page 346
OKTAL : Jurnal Ilmu Komputer dan Science
Volume 1, No. 04, April 2022
ISSN 2828-2442 (media online)
Hal 343-350
dengan topology tersebut nantinya akan mempermudah dalam melakukan implementasi dilapangan
saat sistem ini akan diuji.
3.2 Aristektur Umum
Gambar 2: Topologi Sistem Sensor Asap (Gas) dan Sensor Api (suhu)
Konsep dari system ini adalah dimana aplikasi akan dibangun berbasis arduino yang akan
berjalan. Pada arduino memerintahkan untuk kontrol kedua sensor,lalu apabila sensor menditeksi
adanya api maka pada arduino akan mengirimkan pesan pada sensor,dan sensor akan memberikan
perintah pada LED dan buzzer yang akan mengaktifkan kedua output perangkat keras yaitu servo
dan pump water.
Cara kerja dari sistem ini pada bagian sensor adalah dimana saat api atau gas muncul maka
sensor akan meneima data, lalu sesnsor akan meneruskannya ke Arduino Uno. Aplikasi akan
menerjemahkan data yang dikirim oleh sensor kemudian pada aplikasi akan mengrimkan notifikasi
bahwa adanya api yang terditeksi. Disaat yang bersamaan aplikasi akan mengirimkan perintah ke
Arduino untuk menyalakan led dan alarm.
Disisi lain relay akan bekerja untuk menghubungkan sumber energi ke perangkat keras,
dalam hal ini perangkat yang akan diuji untuk dihubungkan dengan relay adalah pompa air otomatis.
Cara kerja relay pada sistem ini adalah dengan menerima input data yang dikirim dari laptop.
Berikut penjelasan lebih rinci mengenai prinsip kerja sistem yang terdapat pada gambar
[Link] Penditeksi Api dan Asap
Sensor yang dimana saya gunakan memakai sensor suhu DHT11 untuk menditeksi adanya
api dan sensor MQ2 untuk menditeksi adanya asap atau gas, Cara kerjanya adalah ketika sensor
menditeksi adanya api atau gas, maka sensor suhu atau gas akan mengirimkan data pada Arduino
dan menerjemahkannya. Saat Arduino menerima sinyal adanya api atau gas maka aplikasi akan
menerima masukan dan menampilkan pesan bahwa sesnsor menditeksi api dan gas, kemudian
aplikasi akan memerintahkan Buzzer dan Led pada Arduino untuk berbunyi dan mengaktifkan
Motor Servo (jendela otomatis) dan DC Motor (pompa air otomatis)
[Link] Uno
Arduino Uno adalah board mikrokontroler yang dimana arduino sebagai mikrokontroler
untuk menerjemahkan atau mengatur data masukan dari sensor Suhu dan Gas,yang dimana sudah
terditeksi adanya Apia atau Gas. Setelah data diterima dan diolah,Arduino akan mengirim perintah
untuk mengaktifkan kedua indikator dan kedua output. Untuk mendukung mikrokontroler agar dapat
digunakan, cukup hanya menghubungkan board Arduino Uno ke komputer dengan menggunakan
kabel USB atau listrik dengan AC yang-ke adaptor-DC atau baterai untuk menjalankannya.
Yose Rizal | [Link] | Page 347
OKTAL : Jurnal Ilmu Komputer dan Science
Volume 1, No. 04, April 2022
ISSN 2828-2442 (media online)
Hal 343-350
4. IMPLEMENTASI
4.1 Perakitan Perangkat Keras (Hardware)
Perakitan dimulai dengan menghubungkan antara komponen yang telah didesain pada
rangkaian elektronik dari hardware yang akan digunakan. Alat ini menggunakan beberapa
komponen seperti yang telah disebutkan pada BAB II diantaranya yaitu modul Sensor Gas dan Suhu,
Breadboard, Arduino Uno, Relay, LED, Buzzer, Pump Water, Motor Servo, Baterai lippo.
Perangkat tersebut dirakit berbasis pada rangkaian yang telah didisain sebelumnya, perakitan
dilakukan menggunakan kabel penghubung pada setiap komponen agar Arduino Uno dapat
menyalurkan sinyal digital menjadi analog ke setiap perangkat.
4.2 Implementasi Modul Sensor Gas
Gambar 3: Implementasi Modul Sensor Gas
Pada implementasi sensor penditeksi asap atau gas berfungsi sebagai sensor untuk
memberikan output data berupa high dan low. Modul ini akan mengirimkan data pada GPIO
Arduino Uno berupa status high apabila menditeksi adanya api, lalu arduino akan mengaktifkan
LED serta mengaktifkan motor servo. GPIO kemudian akan kembali pada status low apabila sudah
tidak menditeksi asap atau gas. Koneksi sensor dengan Arduino dapat dilihat pada table dibawah.
4.3 Implementasi Modul Sensor Suhu
Gambar 4: Implementasi Modul Sensor Suhu
Yose Rizal | [Link] | Page 348
OKTAL : Jurnal Ilmu Komputer dan Science
Volume 1, No. 04, April 2022
ISSN 2828-2442 (media online)
Hal 343-350
Pada implementasi sensor penditeksi Api atau Suhu berfungsi sebagai sensor untuk
memberikan output data berupa high dan low. Modul ini akan mengirimkan data pada GPIO Arduino
Uno berupa status high apabila menditeksi adanya api, lalu arduino akan mengaktifkan LED dan
Buzzer serta mengaktifkan Motor servo dan Pompa Air Otomatis. GPIO kemudian akan kembali
pada status low apabila sudah tidak menditeksi asap atau gas. Koneksi sensor dengan Arduino dapat
dilihat pada gambar diatas.
4.4 Pengujian Antarmuka
Gambar 5: Pengujian antarmuka
5. KESIMPULAN
Berdasarkan pengujian dan penelitian yang dilakukan pada sistem mendeteksi Asap dan Api
, kesimpulan yang dapat diambil adalah dengan diterapkannya sistem alat peringatan adanya
kebakaran kedua sensor DHT11 sebagai mendeteksi adanya api dan sensor MQ2 sebagai mendeteksi
adanya asap atau gas memudahkan penanganan dini. Bila terjadinya kebakaran maka kedua sensor
akan aktip dan membuka kedua output yaitu DC motor sebagai pompa air otomatis dan motor servo
sebagai jendela otomatis yang dapat memberikan penanganan pertama sebelum terjadinya
kebakaran yang besar.
REFERENCES
Astuti, Y. P., & Subhiyakto, E. R. (2017). Pengembangan Sistem Informasi Dengan Metode Waterfall Untuk
Pengarsipan Data Wajib Pajak. Techno. com, 16(2), 106-113.
Chusing (1992) Analisis sistem adalah proses pemeriksaan kebutuhan-kebutuhan informasi pengguna di dalam
suatu organisasi untuk menetukan tujuan-tujuan dalam spesifikasi yang di perlukan dalam merancang
sistem informasi .
Hutagalung, D. D. (2018). Rancang bangun alat pendeteksi kebocoran gas dan api dengan menggunakan sensor
MQ2 dan flame detector. Jurnal Rekayasa Informasi, 7(2).
James A O’Brien (2003) sistem adalah sekumpulan dari elemen – elemen yang berhubungan atau berkaitan
membentuk satu kesatuan yang mempunyai satu tujuan.
Kusumaningsih, D. (2016). APLIKASI PENDETEKSI KEBAKARAN MENGGUNAKAN ARDUINO UNO
R3 DENGAN SENSOR LM35DZ, FLAME SENSOR DAN MQ2. Telematika MKOM, 6(2), 110-118.
Yose Rizal | [Link] | Page 349
OKTAL : Jurnal Ilmu Komputer dan Science
Volume 1, No. 04, April 2022
ISSN 2828-2442 (media online)
Hal 343-350
Lianawati, C., Ellen, E., Ratih, R., & Yulia, Y. (2011). Perancangan Sistem Informasi Akuntansi Penjualan dan
Piutang dengan Metode Object Oriented Analysis And Design dan Unified Modelling Language pada
Perusahaan Distributor. Telematika, (13).
Mandagi, A., & Immanuel, S. (2014). Penggunaan sensor gas MQ-2 sebagai pendeteksi asap rokok. Jurnal
Teknik Dan Ilmu Komputer.
McLeod (1996) berpendapat informasi adalah data yang telah diproses atau data yang memiliki arti.
Widagdo, B. W., Handayani, M., & Suharto, A. (2021). DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP
PERILAKU PESERTA DIDIK PADA PROSES PEMBELAJARAN DARING MENGGUNAKAN
METODE PENGUKURAN SKALA LIKERT. Jurnal ESIT (E-Bisnis, Sistem Informasi, Teknologi
Informasi), 15(2).
Yose Rizal | [Link] | Page 350