0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan128 halaman

Pengaruh Hopping pada Atlet Voli

Diunggah oleh

Ningsih Purba
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan128 halaman

Pengaruh Hopping pada Atlet Voli

Diunggah oleh

Ningsih Purba
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

TESIS

PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE

HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN

KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI

KLUB PERTAMINA MAKASSAR

HERWIN

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN OLAHRAGA

JENJANG MAGISTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2019

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

TESIS

PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE

HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN

KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI

KLUB PERTAMINA MAKASSAR

HERWIN

011714553002

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN OLAHRAGA

JENJANG MAGISTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2019

ii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE

HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN

KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI

KLUB PERTAMINA MAKASSAR

TESIS

Untuk memperoleh Gelar Magister

Dalam Program Studi Ilmu Kesehatan Olahraga

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Oleh:

HERWIN

011714553002

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN OLAHRAGA

JENJANG MAGISTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2019

iii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

iv
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

v
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Tesis diuji pada:

Tanggal 3 September 2019

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Paulus Liben, dr., MS

Anggota :

1. Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., [Link].

2. Dr. Imam Subadi, dr., [Link].

3. Dr. Sulistiawati, dr., [Link].

4. Dr. Bambang Purwanto, dr., [Link].

vi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulisan tesis berjudul “ Pengaruh Latihan High Intensity

Plyometric Hurdle Hopping Terhadap Peningkatan Vertical Jump dan Ketepatan

Smash Atlet Bola Voli Klub Pertamina Makassar” dapat terselesaikan. Tesis ini

merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kesehatan ([Link])

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Terselesaikannya tesis ini tidak lepas dari bantuan dan peran serta dukungan

dari berbagai pihak, untuk itu perkenankan saya menyampaikan terima kasih

sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., [Link]. selaku pembimbing utama dan Dr. Imam

Subadi dr., [Link]., selaku pembimbing, yang dengan penuh kesabaran

memberi masukan, bimbingan, motivasi, dan saran sehingga tesis ini dapat

terselesaikan.

2. Prof. Dr. Paulus Liben, dr., MS., Dr. Bambang Purwanto, dr., [Link]. dan

Dr. Sulistiawati, dr., [Link]., Selaku penguji yang selalu memberikan

masukan, motivasi dan saran sehingga tesis ini dapat terselesaikan.

3. Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp. U(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan

Prof. Dr. David Sontani Perdanakusuma, dr., [Link], selaku Wakil Dekan 1

Fakultas Kedokteran, yang telah memberikan kesempatan untuk menuntut

ilmu di program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Olahraga.

4. Dr. Bambang Purwanto, dr., [Link]., AIFO, selaku Koordinator

Departemen Faal dan Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., [Link]., selaku Koordinator
vii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Program Studi Ilmu Kesehatan Olahraga yang telah memberikan ijin dalam

penelitian dan memfasilitasi proses pembelajaran.

5. Prof. Dr. H. Eddy Bagus Wasito, dr., MS., [Link](K), selaku Ketua Komite

Etik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang telah memberikan

surat pernyataan kelaikan etik kepada penulis.

6. Bapak dan Ibu Dosen Departemen Ilmu Faal yang telah memberikan bekal

ilmu pengetahuannya dalam proses pembelajaran kepada penulis.

7. Karyawan dan Karyawati Departemen Ilmu Faal dan Program Pascasarjana

Fakultas Kedokteran yang telah banyak membantu dalam bidang

administrasi.

8. Bapak Fachry., selaku ketua pengurus Klub Bola Voli Pertamina Makassar

yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan mengawasi

serta membantu proses penelitian.

9. Bapak Latif, Ibu Marida, Ibu mertua dg. Satia, bapak Khairil Anwar [Link],

Adik Sari, Tiara, Hermawan Latif, istri Yanti, Ibu Dian dan seluruh keluarga

besar saya yang telah memberikan bantuan, perhatian, motivasi dan doa

sehingga penulisan tesis ini dapat terselesaikan.

10. Teman-teman Program Studi Ilmu Kesehatan Olahraga angkatan 2017,

yang telah membantu dan memberikan semangat, motivasi serta saling

memberikan doa terbaik dalam penyelesaian tesis ini.

11. Atlet Klub Bola Voli Pertamina Makassar, yang telah terlibat dan bersedia

untuk menjadi subjek dalam penelitian.

viii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Semoga segala bantuan yang telah bapak/ibu dan saudara berikan kepada

peneliti, mendapat balasan dari Allah SWT. Peneliti berharap tesis ini dapat

memberikan manfaat bagi pembaca.

ix
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

RINGKASAN

PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE

HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN

KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI

KLUB PERTAMINA MAKASSAR

Plyometric merupakan metode latihan untuk mengembangkan kondisi fisik

dengan sasaran utama power tungkai. Plyometric menggunakan pergerakan otot-

otot untuk menahan beban ke atas dan menghasilkan power atau kekuatan eksplosif.

Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam metode latihan untuk

meningkatkan vertical jump salah satunya adalah latihan plyometric . Latihan

plyometric hurdle hopping dengan intensitas sedang lebih efektif dalam

peningkatan vertical jump pada atlet bola voli dari pada plyometric depth jump. Di

sisi lain latihan plyometric meningkatkan power otot tungkai dan kemampuan

smash bola voli. Pengaruh plyometric hurdle hopping high intensity terhadap

peningkatan vertical jump dan ketepatan smash bola voli masih belum jelas.

Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental lapangan. Rancangan

yang digunakan dalam penelitian ini adalah randomized pre test-post test control

group design. Penelitian ini terdiri dari 2 kelompok, dengan penggunaan subjek

penelitian 9 orang untuk masing masing kelompok. Besar total subjek penelitian ini

sebanyak 18 orang. Terdiri dari 9 orang pada kelompok latihan high intensity

plyometric hurdle hopping (P1) dan 9 orang pada kelompok kontrol latihan

kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m (P2). Program latihan high intensity
x
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

plyometric hurdle hopping dilaksanakan selama 4 minggu. Setelah diberikan latihan

akan diukur vertical jump dan ketepatan smash bola voli.

Rerata post test vertical jump kelompok perlakuan lebih besar dari kontrol

(65,67±11,38) cm > (60±5,81) cm. Hasil paired t-test menunjukkan bahwa

intervensi high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang

bermakna dalam meningkatkan vertical jump (p < 0,05). Hasil independent t-test

menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna dari intervensi yang diberikan (p

< 0,05). Pada hasil uji statistik ketepatan smash, rerata post test pada kelompok

perlakuan lebih besar dari kontrol (22±3,28) > (16,56±2,19). Hasil paired t-test

menunjukkan bahwa intervensi latihan high intensity plyometric hurdle hopping

memberikan pengaruh yang bermakna pada ketepatan smash (p < 0,05). Hasil mann

whitney u test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna dari

intervensi yang diberikan (p < 0,05).

Kesimpulan pada penelitian ini adalah latihan high intensity plyometric

hurdle hopping meningkatkan vertical jump smash dan meningkatkan ketepatan

smash bola voli.

xi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SUMMARY

THE EFFECT OF EXERCISE ON HIGH INTENSITY PLYOMETRIC

HURDLE HOPPING ON INCREASING VERTICAL JUMP AND

ACCURACY OF SMASH VOLLEYBALL ATHLETES

PERTAMINA CLUB MAKASSAR

Plyometric is a training method to develop physical conditions with the

main target of power leg. Plyometric uses the movement of muscles to hold the load

up and produce explosive power. When this has been developed a variety of various

training methods to improve vertical jump, one of which is plyometric training.

Medium intensity plyometric hurdle hopping exercises are more effective in

increasing vertical jumps in volleyball athletes than in plyometric depth jumps. On

the other hand plyometric training increases leg muscle power and volleyball smash

ability. The effect of plyometric hurdle hopping high intensity on increasing vertical

jump and the accuracy of volleyball smash is still unclear.

This type of research was a field experimental. The design used in this study

was randomized pre-test-posttest control group design. This study consisted of 2

groups, with the use of 9 research subjects for each group. The total size of the

subjects of this study were 18 people. Consisting of 9 people in the high intensity

plyometric hurdle hopping (P1) group and 9 people in the control group combined

chest jump training with an 18 m sprint (P2). The high intensity plyometric hurdle

hopping exercise program was held for 4 weeks. After being given training, vertical

jump would be measured and the accuracy of the volleyball smash.


xii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

The mean post-test vertical jump treatment group was greater than the

controls (65,67 ± 11,38) cm > (60 ± 5,81) cm. The paired t-test results showed that

the intervention of high intensity plyometric hurdle hopping had a significant effect

in increasing vertical jump (p <0.05). The results of the independent t-test showed

that there were significant differences from the interventions given (p <0.05). In the

smash accuracy statistical test results, the average post-test in the treatment group

was greater than the control (22 ± 3.28)> (16.56 ± 2.19). The paired t-test results

showed that the intervention intervention of high intensity plyometric hurdle

hopping had a significant effect on the accuracy of the smash (p <0.05). The results

of the mann whitney u test showed that there were significant differences from the

interventions provided (p <0.05).

The conclusion of this research was the high intensity plyometric hurdle

hopping exercise increases vertical jump smash and improves the accuracy of

volleyball smash.

xiii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ABSTRAK

PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE

HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN

KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI

KLUB PERTAMINA MAKASSAR

Plyometric hurdle hopping merupakan metode latihan untuk


mengembangkan power otot tungkai.. Jenis penelitian yang dilakukan adalah
eksperimental lapangan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
randomized pre test-post test control group design. Subjek penelitian ada 18 orang
dibagi dalam kelompok perlakuan dan kontrol Intervensi latihan high intensity
plyometric hurdle hopping diberikan pada kelompok perlakuan, sedangkan latihan
kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m diberikan pada kelompok kontrol
selama 4 minggu. Pengambilan data menggunakan instrumen vertical jump test dan
ketepatan smash. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa intervensi high
intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang bermakna dalam
meningkatkan vertical jump dan ketepatan smash (p < 0,05). Hasil independent t-
test menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap hasil vertical jump dan
ketepatan smash (p < 0,05). Kesimpulan pada penelitian ini adalah latihan high
intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan vertical jump smash dan
ketepatan smash pemain bolavoli.

Kata kunci: plyometric hurdle hopping, vertical jump, ketepatan smash.

xiv
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ABSTRACT

THE EFFECT OF EXERCISE ON HIGH INTENSITY PLYOMETRIC


HURDLE HOPPING ON INCREASING VERTICAL JUMP AND
ACCURACY OF SMASH VOLLEYBALL ATHLETES
PERTAMINA CLUB MAKASSAR

Plyometric hurdle hopping is a training method for developing leg muscle


power. The type of research conducted was experimental field. The design used in
this study was randomized to pre-post test control group design. The research
subjects were 18 people divided into treatment and control groups. Intervention
exercise high intensity plyometric hurdle hopping was given to the treatment group,
while chest jump combination exercises with 18 m sprint were given to the control
group for 4 weeks. Data retrieval uses the vertical jump test instrument and the
accuracy of the smash. The results obtained showed that the intervention of high
intensity plyometric hurdle hopping had a significant influence in increased vertical
jump and smash accuracy (p <0.05). The results of the independent t-test showed
significant differences in the results of vertical jump and smash accuracy (p <0.05).
The conclusion of this study was exercise high intensity plyometric hurdle hopping
to increase vertical jump smash and the accuracy of volleyball player smasher.

Keywords: plyometric hurdle hopping, vertical jump, smash accuracy

xv
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul...................................................................... .......................... i

Halaman Sampul Dalam ...................................................... ......................... ii

Halaman Prasyarat Gelar...................................................... ........................ iii

Halaman Pengesahan ........................................................... ........................ iv

Halaman Pernyataan Orisinalitas ......................................... ......................... v

Halaman Panitia Penguji ...................................................... ........................ vi

Halaman Ucapan Terima Kasih ........................................... ....................... vii

Ringkasan ............................................................................. ......................... x

Summary .............................................................................. ....................... xii

Abstrak ................................................................................. ...................... xiv

Abstract ................................................................................ ....................... xv

Daftar Isi............................................................................... ...................... xvi

Daftar Tabel ......................................................................... ...................... xxi

Daftar Gambar ...................................................................... ..................... xxii

Daftar Lampiran ................................................................... .................... xxiii

Daftar Singkatan................................................................... .................... xxiv

BAB 1 PENDAHULUAN

1.I Latar Belakang ................................................................ ......................... 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................... ......................... 6

1.3 Tujuan Penelitian ........................................................... ......................... 6

xvi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

1.3.1 Tujuan umum .............................................................. ......................... 6

1.3.2 Tujuan khusus ............................................................. ......................... 6

1.4 Manfaat Penelitian ......................................................... ......................... 6

1.4.1 Manfaat secara teoritis ................................................ ......................... 6

1.4.2 Manfaat praktis............................................................ ......................... 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Latihan............................................................................ ......................... 8

2.1.1 Pengertian latihan ........................................................ ......................... 8

2.1.2 Prinsip-prinsip latihan ................................................. ....................... 11

2.2 Latihan Plyometric ......................................................... ....................... 15

2.2.1 Pengertian latihan plyometric...................................... ....................... 15

2.2.2 Prinsip-prinsip latihan plyometric ............................... ....................... 17

2.2.3 Aspek-aspek latihan plyometric .................................. ....................... 18

2.2.4 Bentuk-bentuk latihan plyometric ............................... ....................... 20

2.2.5 Biomekanika latihan plyometric dan otot-otot yang terlibat ............... 22

2.2.6 Model sistem neuromuskular latihan plyometric ........ ....................... 24

2.2.7 Sistem energi latihan plyometric ................................. ....................... 27

2.3 Plyometric Hurdle hopping ............................................ ....................... 29

2.3.1 Pengertian Hurdle hopping ......................................... ....................... 29

2.3.2 Cara atau metode latihan plyometric hurdle hopping . ....................... 29

2.4 Vertical Jump ................................................................. ....................... 30

2.4.1 Pengertian Vertical jump ............................................. ....................... 30

2.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi vertical jump ....... ....................... 32


xvii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2.5 Bola Voli ........................................................................ ....................... 32

2.5.1 Pengertian Bola voli .................................................... ....................... 32

2.5.2 Teknik dasar Bola voli ................................................ ....................... 34

2.5.3 Smash Bola voli .......................................................... ....................... 34

2.6 Ketepatan........................................................................ ....................... 35

2.6.1 Pengertian Ketepatan .................................................. ....................... 35

2.6.2 Ketepatan Smash Bola voli ......................................... ....................... 36

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konseptual ..................................................... ....................... 38

3.2 Penjelasan Kerangka Konseptual ................................... ....................... 39

3.3 Hipotesis Penelitian........................................................ ....................... 40

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian ............................................................... ....................... 41

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian ..................................... ....................... 42

4.2.1 Populasi ....................................................................... ....................... 42

4.2.2 Besar sampel ............................................................... ....................... 42

4.2.3 Teknik pengelompokkan sampel ................................ ....................... 44

4.3 Variabel Penelitian ......................................................... ....................... 44

4.3.1 Variabel bebas ............................................................. ....................... 44

4.3.2 Variabel terikat ............................................................ ....................... 44

4.3.3 Variabel kendali .......................................................... ....................... 44

4.3.4 Variabel moderator...................................................... ....................... 44


xviii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4.4 Defenisi Operasional Penelitian ..................................... ....................... 45

4.4.1 Latihan plyometric hurdle hopping ............................. ....................... 45

4.4.2 Latihan lompat dada kombinasi sprint 18 m ............... ....................... 45

4.4.3 Vertical jump ............................................................... ....................... 45

4.4.4 Ketepatan smash bola voli .......................................... ....................... 46

4.5 Bahan dan Alat Penelitian .............................................. ....................... 46

4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................... ....................... 47

4.7 Prosedur Pengambilan Data ........................................... ....................... 47

4.7.1 Persiapan penelitian .................................................... ....................... 48

4.7.2 Prosedur pelaksanaan penelitian ................................. ....................... 49

4.7.3 Pelaksanaan pengambilan data .................................... ....................... 49

4.7.4 Prosedur pengukuran vertical jump ............................ ....................... 50

4.7.5 Prosedur pengukuran ketepatan smash bola voli ........ ....................... 51

4.8 Penentuan Dosis Awal ................................................... ....................... 53

4.9 Kerangka Operasional Penelitian ................................... ....................... 54

4.10 Analisa Data ................................................................. ....................... 57

BAB 5 HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Subjek Penelitian ...................................... ....................... 58

5.2 Vertical Jump ................................................................. ....................... 59

5.3 Ketepatan Smash ............................................................ ....................... 60

5.4 Hasil Uji Hipotesis Vertical Jump ................................. ....................... 60

5.5 Hasil Uji Hipotesis Ketepatan Smash ............................ ....................... 61

xix
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 6 PEMBAHASAN

6.1 Pembahasan Karakteristik Subjek Penelitian ................. ....................... 63

6.2 Pengaruh Latihan High Intensity Plyometric Hurdle Hopping

Terhadap Peningkatan Vertical Jump ............................ ....................... 64

6.3 Pengaruh Latihan High Intensity Plyometric Hurdle Hopping

Terhadap Peningkatan Ketepatan Smash ....................... ....................... 67

6.4 Keterbatasan Penelitian .................................................. ....................... 69

BAB 7 PENUTUP

7.1 Kesimpulan .................................................................... ....................... 71

7.2 Saran ............................................................................... ....................... 71

DAFTAR PUSTAKA ......................................................... ....................... 72

xx
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Stretch shortening cycle (Rogers, 2008) .............. ....................... 27

Tabel 4.1 Penilaian loncat tegak (Briggs, 2013) ................. ....................... 51

Tabel 4.2 Nilai butir-butir tes ketepatan smash (Putra, 2015) ..................... 53

Tabel 4.3 Norma tes ketepatan smash (Putra, 2015) ............ ....................... 53

Tabel 4.4 Program latihan high intensity plyometric hurdle hopping ......... 55

Tabel 4.5 Program latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m ...... 56

Tabel 5.1 Rerata dan simpangan baku data variabel kendali ....................... 58

Tabel 5.2 Rerata dan simpangan baku vertical jump ........... ....................... 59

Tabel 5.3 Rerata dan simpangan baku ketepatan smash ...... ....................... 60

Tabel 5.4 Pairet t-test dan independent t-test vertical jump ....................... 60

Tabel 5.5 Pairet t-test dan independent t-test ketepatan smash ................... 62

xxi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Double leg vertical power jump ............................................... 20

Gambar 2.2 Single leg vertical power jump ................................................. 21

Gambar 2.3 Single leg tuck jump ................................................................. 21

Gambar 2.4 Muscle of hip joint .................................................................... 23

Gambar 2.5 Muscle of knee joint.................................................................. 24

Gambar 2.6 Stretch reflex (Rogers, 2008) ................................................... 26

Gambar 2.7 Hurdle hopping ........................................................................ 30

Gambar 2.8 Gerakan vertical jump .............................................................. 32

Gambar 2.9 Rangkaian Pelaksanaan smash (Yunus 1992) .......................... 35

Gambar 3.1 Kerangka konseptual penelitian ............................................... 38

Gambar 4.1 Desain penelitian ...................................................................... 41

Gambar 4.2 Sasaran tes ketepatan teknik smash .......................................... 52

Gambar 4.9 Kerangka operasional penelitian .............................................. 54

Gambar 5.1 Diagram batang rerata pre-test, post-test vertical jump .......... 61

Gambar 5.2 Diagram batang rerata pre-test, post-test ketepatan smash .... 62

xxii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Information for consent ........................................................... 79

Lampiran 2. Surat permohonan pengisian (Informed for consent) .............. 81

Lampiran 3. Informed consent. .................................................................... 82

Lampiran 4. Form pemeriksaan vital sign dan antropometri ...................... 83

Lampiran 5. Sertifikat etik .......................................................................... 84

Lampiran 6. Surat balasan ijin penelitian .................................................... 85

Lampiran 7. Data hasil penelitian ............................................................... 86

Lampiran 8. Hasil perhitungan statistik ...................................................... 88

Lampiran 9. Dokumentasi penelitian .......................................................... 97

xxiii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR SINGKATAN

PP PBVSI : Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia

PBVSI : Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia

BTN PBVSI : Badan Tim Nasional Persatuan Bola Voli Seluruh

Indonesia

FIVB : Federation International Volley Ball

ATP : Adenosin Triphospate

C : Calsium

P : Phosphate

ADP : Adenosin diphospate

CO2 : Carbondioxide

H2O : Hidrogendioxide

cm : Centimeter

kg : Kilogram

set-up : Set Upper

SSC : Stretch Shortening Cycle

IMT : Indeks Massa Tubuh

WHO : World Health Organization

ACSF : Australian College of Sport and Fitnes

m : Meter

mmHg : Milimeter hydrargyrum

bpm : Beats per minute

xxiv
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Permainan bola voli adalah olahraga kompetitif dan rekreasi yang populer

di dunia (Anjaswati, 2018). Di Indonesia permainan bola voli merupakan olahraga

yang banyak digemari oleh masyarakat. Berbagai kejuaraan bola voli baik resmi

maupun tidak resmi banyak diselenggarakan di berbagai tingkatan dan kategori

usia. Berdasarkan Federation International Volley Ball (FIVB) pada Oktober 2015,

prestasi bola voli putri Indonesia saat ini menempati peringkat tiga di kawasan Asia

Tenggara, di bawah Filipina dan Thailand. Di tingkat dunia menempati urutan ke-

73 sedangkan bola voli putra Indonesia di tingkat dunia menempati urutan ke-52

dan urutan ke-4 dikawasan Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi

bola voli putra/putri Indonesia meningkat baik di Asia Tenggara maupun dunia. hal

tersebut berkorelasi kuat dengan pembinaan (Firmansyah, 2017), mulai dari usia

anak-anak hingga dewasa baik di tingkat sekolah maupun di klub-klub bola voli di

seluruh wilayah Indonesia.

Indonesia bukan negara terkuat dalam cabang olahraga bola voli, baik di

level Asia Tenggara, atau bahkan Asia dan dunia (FIVB, 2016). Meskipun sudah

banyak prestasi yang sudah diraih, Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh

Indonesia (PP PBVSI) mengakui jika prestasi cabang olahraga bola voli tetap belum

maksimal. Khususnya klub bola voli pertamina makassar masih menempati urutan

ke-2 setelah kalah dari tim umi makassar pada kejuaraan terbuka piala rektor (UMI)

makassar 2017 (Munawwarah, 2017). Hasil evaluasi pengamatan dari klub bolavoli

Pertamina Makassar menunjukkan bahwa keterampilan smash belum maksimal


1
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
2
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

dalam menghasilkan poin. Faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah pada

kemampuan vertical jump dan ketepatan mengarahkan smash, sehingga perlu

dilakukan pembinaan.

Pembinaan harus dilakukan secara sistematis, berjenjang dan

berkesinambungan. Para ahli kepelatihan di dunia pada umumnya menyatakan

bahwa untuk berprestasi dalam olahraga, membutuhkan pembinaan jangka panjang,

menempuh waktu tak kurang dari 5–12 tahun. Bila pembinaan terlambat di mulai,

prestasi puncak tidak tercapai dengan baik, sehingga masa usia emas untuk

berprestasi akan berlalu (Wibowo, 2018).

Upaya peningkatan pembinaan olahraga melalui latihan merupakan sebuah

kebutuhan yang mutlak untuk dilakukan agar memperoleh peak performance.

Latihan secara kontinyu mampu menjadi cara untuk menunjang prestasi di bidang

olahraga. Ada berbagai macam variasi latihan untuk menunjang performance

tergantung kebutuhan masing masing cabang olahraga. Selain menunjang prestasi,

latihan yang baik mampu meningkatkan kemampuan fisik dan berfungsi

meminimalisasi terjadinya cidera pada olahraga (Firmansyah, 2017). Selain

perlu menguasai berbagai teknik dasar dalam permainan bola voli, seorang pemain

bola voli juga harus melakukan latihan fisik secara konsisten dan bertahap. Pemain

bola voli harus selalu melatih otot-otot tubuh seperti otot lengan, otot kaki, dan otot

perut.

Kondisi fisik merupakan unsur yang penting dan menjadi dasar dalam

pengembangan teknik, taktik, strategi, dan pengembangan mental (Kalfi, 2013).

Menurut Bompa (2015) komponen biomotorik fisik dibagi menjadi lima (1)

kekuatan (2) daya tahan (3) kecepatan (4) koordinasi (5) fleksibilitas. Pada voli

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


3
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

modern sekarang ini pemain membutuhkan daya tahan fisik yang baik, untuk

mengembangkan kecepatan dan daya ledak serta daya tahan kekuatan (Vassil and

Bazanovk, 2012) terutama daya ledak tungkai untuk mencapai ketinggian

maksimum melompat vertikal baik itu smash ataupun block sesuai dengan pendapat

bahwa bola voli adalah permainan yang sangat bergantung pada daya ledak kaki

untuk mencapai ketinggian maksimum melompat (Harmandeep et al., 2015).

Kemampuan melompat vertikal dalam hal ini power otot tungkai sangat

penting untuk sukses dalam prestasi bola voli (Vassil and Bazanovk., 2012)

khususnya dalam melakukan smash/spike tidak hanya harus mampu melompat

tinggi tetapi juga harus mencapai ketinggian dengan cepat sehingga menghasilkan

smash yang keras dan tepat pada sasaran. Untuk itu diperlukan metode latihan

khusus untuk meningkatkan kemampuan melompat vertical/power otot tungkai

atlet/pemain (Harmandeep et al., 2015). Proses pembinaan dalam olahraga tidak

bisa dilakukan secara instan, namun harus melalui proses latihan yang panjang

(Irwansyah, 2012). Olahraga bola voli membutuhkan proses yang cukup lama

untuk memiliki kemampuan melompat vertical yang tinggi. Komponen teknik, fisik

dan karateristik bola voli adalah lompatan, sehingga latihan penguatan otot

penunjang melompat harus diperhatikan untuk mengoptimalkan penampilan atlet

saat pertandingan (Pamungkas, 2016). Power otot tungkai memegang peranan

penting yang sangat berpengaruh terhadap terciptanya suatu lompatan atau vertical

jump hingga dapat melakukan smash dan blocking yang sempurna pada saat

melakukan suatu pertandingan (Cahyadinata, 2011).

Plyometric merupakan metode latihan untuk mengembangkan kondisi fisik

dengan sasaran utama power tungkai. Plyometric menggunakan pergerakan otot-

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


4
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

otot untuk menahan beban ke atas dan menghasilkan power atau kekuatan eksplosif.

Meskipun sangat bermanfaat latihan plyometric rentan terhadap risiko cidera, atau

sakit jika intensitas, volume, dan frekuensi latihan plyometric melebihi

kemampuan peserta (Faigenbaum et al., 2009). Oleh karena itu latihan ini hanya

boleh dilakukan oleh pemain yang sedang dalam kondisi prima dan di bawah

pengawasan profesional. Seorang pemain harus mempunyai tingkat kekuatan fisik,

fleksibilitas, dan propriosepsi yang cukup sebelum memulai latihan plyometric.

Fleksibilitas dibutuhkan untuk mencegah terjadinya cidera, sedangkan propriosepsi

merupakan komponen penting dalam keseimbangan, koordinasi, dan ketangkasan

tubuh, yang juga dibutuhkan untuk melakukan latihan plyometric dengan aman

(Syahputra, 2014).

Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam metode latihan untuk

meningkatkan vertical jump salah satunya adalah latihan plyometric (Pamungkas,

2016). Namun, hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan pelatih dan peneliti

mengenai bentuk plyometric yang lebih efektif untuk peningkatan vertical jump.

Latihan plyometric hurdle hopping dengan intensitas sedang lebih efektif

dalam peningkatan vertical jump pada atlet bola voli dari pada plyometric depth

jump (Kalfi, 2013). Latihan plyometric hurdle hopping juga berpengaruh terhadap

tinggi loncatan pada atlet bola voli (Pamungkas, 2016). Di sisi lain latihan

plyometric meningkatkan power otot tungkai dan kemampuan smash bola voli

(Sitevan, 2012) serta latihan plyometric dengan menggunakan kerucut dan box

memberikan pengaruh pada peningkatan loncatan dan power otot lengan sehingga

memberikan kontribusi pada saat tangan akan smash bola voli (Putra, 2018).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


5
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Jika diperhatikan pada banyak fakta seorang pemain bola voli akan lebih

mudah untuk melakukan smash dengan baik dan tepat jika memiliki lompatan yang

maksimal dan memiliki power otot lengan yang baik. Pendapat dari cabang

olahraga lain dengan menggunakan bentuk plyometric box driil, frog jump,

standing jump mengatakan bahwa latihan plyometric memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap peningkatan lompatan dan ketepatan smash atlet bulutangkis

(Irwansyah, 2012). Latihan plyometric dengan intensitas rendah belum

menunjukkan peningkatan daya ledak/power tungkai yang luar biasa (Vassil and

Bazanovk, 2012). Melompat vertikal dalam bola voli, mempunyai peran penting

sehingga ilmuwan olahraga dan pelatih sedang mencari cara terbaik memperbaiki

metode yang tepat untuk peningkatan vertical jump (Hrzenjak et al., 2016). Semua

penelitian tersebut pelaksanaan ekperimennya yang paling banyak dilakukan adalah

selama enam minggu dengan pemberian latihan tiga kali seminggu.

Berdasarkan pernyataan beberapa peneliti di atas sudah terbukti bahwa

latihan plyometric mempunyai pengaruh terhadap peningkatan vertical jump

khususnya latihan plyometric hurdle hopping intensitas sedang lebih efektif dari

plyometric depth jump. Serta plyometric terbukti memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap peningkatan ketepatan smash atlet bulutangkis. Namun, yang

belum diketahui adalah pengaruh plyometric hurdle hopping high intensity

terhadap peningkatan vertical jump dan ketepatan smash atlet bola voli. Sehingga

timbul pertanyaan bagaimana jika latihan pliometric hurdle hopping di

implikasikan dengan ketepatan smash pada permainan bola voli. Untuk menjawab

pertanyaan tersebut penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut serta mengkaji

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


6
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

lebih dalam lagi mengenai pengaruh plyometric hurdle hopping high intensity

terhadap peningkatan vertical jump dan ketepatan smash bola voli.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah latihan high intensity plyometric hurdle hopping dapat meningkatkan

vertical jump smash atlet bola voli?

2. Apakah latihan high intensity plyometric hurdle hopping dapat meningkatkan

ketepatan smash atlet bola voli?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisis pengaruh latihan high intensity plyometric hurdle hopping

terhadap peningkatan vertical jump dan ketepatan smash atlet bola voli.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Membuktikan bahwa latihan high intensity plyometric hurdle hopping

dapat meningkatkan vertical jump smash atlet bola voli.

2. Membuktikan bahwa latihan high intensity plyometric hurdle hopping

dapat meningkatkan ketepatan smash atlet bola voli.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1. Secara Teoritis

a. Agar dapat digunakan sebagai bahan informasi serta kajian penelitian

kedepan. Khususnya bagi para pemerhati peningkatan prestasi bola voli

maupun seprofesi dalam membahas peningkatan vertical jump dan

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


7
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ketepatan dalam melakukan smash atlet bola voli dengan metode

plyometric.

b. Bahan referensi dalam memberikan materi latihan kepada atlet

dilingkungan tempat latihan.

1.4.2. Secara Praktis

a. Bagi pihak pelatih agar dapat merencanakan program latihan dengan porsi

yang tepat dan menambah pengetahuan tentang bentuk latihan plyometric.

b. Bagi atlet agar dapat meningkatkan power otot tungkai.

c. Bagi peneliti agar dapat mengembangkan teori-teori yang hasilnya

berguna bagi pelatih, atlet, dan pihak-pihak yang terkait dengan prestasi

bola voli.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Latihan

2.1.1 Pengertian latihan

Menurut Martin dalam Nossek yang dikutip dari buku Sukadiyanto (2011)

mengemukakah latihan berasal dari kata training adalah penerapan dari suatu

perencanaan untuk meningkatkan kemampuan berolahraga yang berisikan materi

teori dan praktek, metode, dan aturan pelaksanaan sesuai dengan tujuan dan sasaran

yang akan dicapai.

Latihan adalah serangkaian aktifitas fisik yang terstruktur dan berirama

dengan intensitas tertentu dalam jangka waktu tertentu yang bertujuan untuk

meningkatkan kebugaran jasmani (Afriwandi, 2009). Sedangkan menurut (Hidayat,

2014) latihan adalah semua upaya yang mengakibatkan terjadinya peningkatan

kemampuan dalam pertandingan olahraga. Jadi latihan adalah serangkaian aktifitas

fisik yang terstruktur, sistematis, yang dilakukan secara berulang-ulang dengan

intensitas dan jangka waktu tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan

kemampuan dalam pertandingan olahraga.

Suharjana (2013), mengemukakan latihan yaitu suatu proses sistematis

untuk mengembangkan dan mempertahankan unsur-unsur kebugaran jasmani yang

dilakukan dalam waktu lama, ditingkatkan secara progresif, bebannya individual

dan dilakukan secara terus-menerus. Pada prinsipnya latihan merupakan suatu

proses perubahan kearah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan kualitas fisik,

kemampuan fungsional peralatan tubuh, dan kualitas psikis anak latih.

8
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
9
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Kurniawan (2015) mengemukakan latihan berasal dari kata practice adalah

aktivitas untuk meningkatkan keterampilan (kemahiran) berolahraga dengan

menggunakan berbagai peralatan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan cabang

olahraganya. Artinya, selama dalam kegiatan proses berlatih melatih agar dapat

menguasai keterampilan gerak cabang olahraganya selalu dibantu dengan

menggunakan berbagai peralatan pendukung.

Menurut Bompa (1994) latihan merupakan proses pengulangan yang

sistematis, progresif dan tujuan akhir memperbaiki prestasi olahraga. Kunci utama

dalam memperbaiki prestasi olahraga adalah sistem latihan yang di organisasikan

secara baik. Program latihan harus mengikuti konsep periodisasi, disusun dan

direncanakan secara baik berdasarkan cabang olahraga agar sistem energi atlet

mampu beradaptasi terhadap kekhususan cabang olahraga.

Menurut Bompa (1994) selama melakukan latihan, setiap olahragawan akan

mengalami banyak reaksi pengalaman yang dirasakan secara berulang-ulang,

beberapa diantaranya mungkin dapat diramalkan dengan lebih tepat dibandingkan

dengan lainnya. Bentuk pengumpulan informasi dari proses latihan termasuk

diantaranya yang bersifat faali, biokimia, kejiwaan, sosial dan juga informasi yang

bersifat metodologis. Walau semua informasi ini berbeda, tetapi datang dari sumber

yang sama yaitu olahragawan dan juga yang lainnya dihasilkan oleh proses yang

sama yakni proses latihan. Bompa dalam Suharjana (2008) mengemukakan: bahwa,

tujuan dari latihan salah satunya untuk mencapai dan memperluas perkembangan

fisik secara menyeluruh karena perkembangan fisik pada suatu tingkat yang tinggi

merupakan dasar-dasar latihan.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


10
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Latihan menurut Lakshmikrishnan dan Silvakumar (2013) adalah proses

ilmiah berbasis pedagogis terorganisir, terencana dan sistematis pada kemampuan

dan kesiapan kinerja dengan bertujuan kesempurnaan olahraga dan peningkatan

kinerja dalam konteks kompetisi olahraga. Menurut Nagarajan et al. (2013)

menjelaskan latihan adalah bentuk dasar penyusunan olahragawan melalui proses

yang sistematis, hingga jangka waktu yang panjang dengan didasarkan dan

dilaksanakan pada fakta-fakta ilmiah.

Latihan akan berjalan sesuai dengan tujuan apabila terprogram secara baik

sesuai dengan acuan yang benar. Program latihan tersebut mencakup segala hal

mengenai takaran latihan, frekuensi latihan, waktu latihan, dan prinsip-prinsip

latihan lainnya. Program latihan ini disusun secara sistematis, terukur, dan

disesuaikan dengan tujuan latihan yang dibutuhkan. Latihan fisik memerlukan

waktu yang relatif lama untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Hasil latihan fisik bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh secara instan,

tidak dapat diperoleh dalam satu atau dua minggu. Hasil latihan meningkat secara

progresif, misalnya saja peningkatan kekuatan naik berkisar 1-5 % perminggu.

Besarnya intensitas bergantung pada jenis dan tujuan latihan. Latihan aerobik

menggunakan patokan kenaikan detak jantung seperti yang dikatakan Irianto (2004)

secara umum intensitas latihan kebugaran adalah 60 % - 90 % detak jantung

maksimal dan secara khusus besarnya intensitas latihan bergantung pada tujuan

latihan.

Latihan untuk membakar lemak tubuh menggunakan intensitas 65 % - 75 %

detak jantung maksimal yang dilakukan 20-60 menit setiap latihan dan dilakukan

3-5 kali perminggu (Irianto, 2004). Faktor lain yang tidak boleh dilupakan demi

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


11
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

keberhasilan program latihan adalah keseriusan latihan seseorang, ketertiban

latihan, dan kedisiplinan latihan. Pengawasan dan pendampingan terhadap jalannya

program latihan sangat dibutuhkan.

2.1.2 Prinsip-prinsip Latihan

Adapun prinsip-prinsip latihan yang harus ditaati dan dipahami oleh pelaku

olahraga adalah sebagai berikut (Bompa, 1999) dalam (Firmansyah, 2017):

1) Prinsip beban berlebih (the overload principle)

Prinsip overload adalah prinsip latihan yang paling mendasar dan paling

penting karena tanpa penerapan prinsip overload dalam latihan, tidak mungkin

prestasi atlet akan meningkat. Menurut Asdep PTPK (2007) untuk

meningkatkan kemampuan atlet perlu latihan dengan beban lebih, yakni beban

yang “cukup menantang” atau benar-benar membebani pada wilayah ambang

batas kemampuan atlet. Ditambahkan oleh Sukadiyanto (2011) beban latihan

harus mencapai atau melampaui sedikit diatas ambang rangsang, sebab beban

yang terlalu berat akan mengakibatkan tidak mampu diadaptasi oleh tubuh,

sedangkan beban terlalu ringan tidak terpengaruh terhadap peningkatan fisik

sehingga beban latihan harus terpenuhi. Dalam peningkatan kualitas fisik,

pembebanan harus dilakukan dan disesuaikan dengan tingkat perubahan yang

terjadi pada seorang olahragawan dan berlatih dengan melawan dan mengatasi

beban latihan. Apabila seorang olahragawan telah mampu beradaptasi dengan

beban latihan yang diberikan, maka beban latihan berikut harus ditingkatkan

secara bertahap guna mencapai kualitas fisik yang maksimal dan prestasi.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


12
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2) Prinsip kekhususan (principle of specialization)

Di dalam cabang olahraga yang sama, terkadang kebutuhan latihan juga

berbeda. Contohnya pada olahraga bola voli, posisi setter dengan spiker

memiliki latihan yang berbeda. Pada dasarnya pengaruh yang ditimbulkan

akibat latihan bersifat khusus, sesuai dengan karakteristik kondisi fisik, pola

gerakan dan sistem energi yang digunakan selama latihan. Latihan ditujukan

pada unsur kondisi fisik atau teknik dasar yang dipelajari. Agar latihan dapat

memberikan pengaruh positif, maka latihan yang dilakukan harus bersifat

khusus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai. Kekhususan tersebut

menyangkut sistem energi serta pola gerakan yang sesuai dengan umur, kondisi

fisik maupun nomor/posisi yang akan ditingkatkan. Bentuk latihan yang

dilakukan harus bersifat khusus dan disesuaikan dengan masing-masing

cabang olahraga. Bentuk latihan bisa berupa pola gerakan, jenis kontraksi otot

dan dominasi otot yang bekerja saat latihan harus disesuaikan. Dalam hal ini,

kekhususan latihan yang akan dikembangkan adalah untuk meningkatkan

vertical jump dan ketepatan (accuracy). Program latihan disesuaikan dengan

kebutuhan untuk meningkatkan vertical jump dan ketepatan (accuracy).

3) Prinsip beban bertambah (the principle of progressive resistance)

Untuk meningkatkan beban, tidak dapat dilakukan setiap kali latihan.

Peningkatan beban latihan jangan dilakukan setiap kali latihan, sebaiknya dua

atau tiga kali latihan baru dinaikkan (Suharno, 1993). dengan peningkatan

beban yang teratur, terdapat kemampuan beradaptasi terhadap latihan

sebelumnya sehingga terjadi apa yang dinamakan superkompensasi.

Superkompensasi adalah suatu proses kenaikan kemampuan otot setelah

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


13
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

latihan. Berkaitan dengan pemberian latihan, Sudjarwo (1995) mengemukakan

bahwa pemberian latihan harus dapat dan benar-benar merupakan rangsangan

untuk menimbulkan superkompensasi otot.

Peningkatan beban secara progresif adalah peningkatan beban secara

teratur ditingkatkan secara perlahan-lahan. Dalam proses peningkatan beban,

yang perlu diperhatikan bahwa penambahan beban tidak boleh tergesah-gesah.

Penambahan beban harus menyesuaikan kemampuan atlet dan ditingkatkan

secara bertahap. Penambahan beban yang meningkat dapat diberikan dengan

menambah jumlah pengulangan atau repetisi. Saat meningkatkan beban,

seorang pelatih harus memiliki kecermatan agar beban yang ditambahkan tidak

berlebihan.

4) Prinsip individu (the principle of individuality)

Prinsip ini merupakan salah satu prinsip yang sangat penting diberikan kepada

setiap atlet, meskipun atlet mempunyai kemampuan yang sama. Dalam

merespon beban latihan untuk setiap olahraga tentu berbeda-beda, sehingga

beban latihan bagi setiap orang tidak dapat disamakan antara orang yang satu

dengan yang lainnya. (Sukadiyanto, 2011) faktor yang menyebabkan

perbedaan terhadap kemampuan anak dalam merespon beban latihan,

diantaranya adalah faktor keturunan, kematangan gizi, waktu istirahat dan

tidur, kebugaran, lingkungan, sakit cidera, dan motivasi. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa proses latihan harus direncanakan dan disesuaikan dengan

setiap individu, agar mencapai hasil yang baik.

Individualisasi adalah satu dari persyaratan utama latihan sepanjang

masa. Persyaratan individualisasi yang harus dipertimbangkan oleh pelatih

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


14
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

adalah kemampuan atlet, potensi dan karakteristik pembelajaran, dan

kebutuhan kecabangan atlet, untuk menaikkan level kerja atlet. Setiap atlet

memiliki ciri fisiologi dan psikologi yang dibutuhkan sebagai pertimbangan

pengembangan sebuah rencana latihan. Program latihan harus berubah sebagai

tujuan pencapaian program dan hal ini membuat proses program latihan

dinamis (Kraemer & Knuttgen, 2003).

5) Prinsip pengaturan latihan (the principle of arrangement exercise)

Latihan merupakan proses yang terstruktur, sistematis, dan dilakukan secara

terus-menerus. Latihan sebaiknya diatur sedemikian rupa, sehingga kelompok

otot-otot besar dulu yang dilatih, sebelum otot yang lebih kecil (Sajoto, 1998).

Tujuannya agar kelelahan pada otot kecil tidak terjadi cepat. Perlunya

penyusunan dan pengaturan dalam membuat desain latihan adalah agar otot-

otot yang lebih kecil cenderung cepat lelah dan lebih lemah dibanding otot-otot

yang besar. Oleh karena itu, dalam menetukan urutan latihan baiknya melatih

otot-otot besar terlebih dahulu dari pada otot-otot kecil.

Salah satu contohnya dengan melatih ekstremitas bagian bawah,

tungkai atas dengan otot hamstring setelah itu baru melatih otot tibialis anterior.

Pengaturan latihan beban harus memperhatikan pemberian beban terhadap otot

dan diupayakan memberikan latihan yang sama secara berurutan pada lokasi

otot yang sama. Sehingga otot dapat melakukan recovery sebelum pindah ke

latihan berikutnya.

Bila beban latihan ditingkatkan secara progresif, maka organ tubuh

akan menyesuaikan terhadap perubahan dengan baik. Hal itu antara lain

tergantung usia, usia latihan, kualitas kebugaran otot, kebugaran energi dan

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


15
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

kualitas latihannya (Sukadiyanto, 2011). Melalui proses penyesuaian dalam

menjaga kondisi fisik tingkat efisien tubuh kita untuk menentukan tuntutan

baru dari program latihan yang dilakukan. Kuncinya pada tahap ini adalah

untuk maju terus untuk menjalani latihan.

6) Prinsip kembali asal (the principle of reversibility)

Prinsip kembali asal yang diartikan sebagai kemunduran kemampuan atlet

yang diakibatkan ketidakteraturan dalam menjalankan program latihan

(Ambarukmi et al., 2007). Kemampuan atlet yang telah meningkat pada tahap

latihan akan menurun apabila atlet tidak berlatih dengan benar dan

mengembalikan prestasi semula diperlukan waktu yang cukup lama sehingga

latihan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.

2.2 Latihan Plyometric

2.2.1 Pengertian latihan plyometric

Menurut Lamusu (2011) “latihan plyometric adalah kombinasi antara

kekuatan dan kecepatan”. Selain itu Chu & Myer (2013) menyatakan bahwa

“latihan plyometric merupakan suatu bentuk latihan yang memungkinkan otot dapat

mencapai kekuatan maksimal dalam waktu yang sesingkat singkatnya”. Latihan

plyometric sangat membantu dalam mengembangkan keseluruhan sistem

neuromuscular dalam rangka menunjang pergerakan yang lebih besar. Dengan

sendirinya latihan ini sangat cocok untuk cabang olahraga yang membutuhkan

kecepatan dan daya ledak otot yang lebih besar (Lamusu, 2011). Maka latihan

plyometric adalah salah satu latihan yang cocok untuk cabang olahraga yang

membutuhkan explosive yaitu gerakan gerakan yang mengandung unsur kecepatan

dan kekuatan, misalnya olahraga bola voli yang memerlukan power otot tungkai.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


16
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Salah satu jenis metode latihan untuk meningkatkan explosive power adalah

dengan metode latihan plyometric. Widana dkk (2013) menyatakan “latihan

plyometric berusaha untuk menggunakan berat badan itu sendiri atau dengan

menggunakan beberapa alat untuk meningkatkan rangsangan latihan”. Selain

meningkatkan performance, latihan plyometric juga berguna untuk mencegah

terjadinya cidera dan mampu digunakan sebagai penyembuhan pada atlit yang

sedang menjalani rehabilitasi cidera ligamen. Plyometric adalah gerakan kontraksi

otot yang sangat kuat untuk mencapai regangan maksimal dalam waktu sesingkat-

singkatnya (Haff &Triplett, 2016). Pada saat meregang, ada tiga kontraksi yang

terjadi yaitu eksentrik, isometric dan konsentrik. Latihan plyometric mampu

meningkatkan maximum voluntary contraction (MVC) pada saat kontraksi

eksentrik, isometrik dan konsentrik (Behrens et al., 2016). Selain dapat

meningkatkan kekuatan kontraksi otot, latihan ini juga berpengaruh pada

komponen biomotor. Latihan plyometric mampu menigkatkan kekuatan, power dan

kecepatan (Chu & Myer, 2013). Latihan plyometric mampu meningkatkan fungsi

neuromuskular pada saat kontraksi statis dan dinamis (Behrens et al., 2016).

Latihan plyometric menggunakan sistem energi ATP-PC. Dalam sisi fisiologis,

plyometric mampu meningkatkan kekerasan tendon, dan mengurangi pemborosan

energi (Booth & Orr, 2016).

Plyometric adalah sebuah kombinasi kata yang berasal dari bahasa latin

yaitu plyo dan metrics yang memiliki arti peningkatan yang dapat diukur

(Wibintoro, 2009). Plyometric adalah latihan-latihan yang bertujuan

menghubungkan gerakan kecepatan dan kekuatan untuk menghasilkan gerakan-

gerakan eksplosif. Istilah ini sering digunakan dalam menghubungkan gerakan

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


17
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

lompat yang berulang-ulang atau latihan reflek regang untuk menghasilkan reaksi

yang eksplosif (Wibintoro, 2009).

2.2.2 Prinsip Latihan Plyometric

Dalam kegiatan olahraga gerakan tubuh dikaitkan dengan tiga jenis

kontraksi otot, yaitu concentric (memendek), isometric (tetap) dan eccentric

(memanjang). Latihan untuk meningkatkan tinggi lompatan (power otot tungkai)

dapat dilakukan dengan menggunakan plyometric, prinsip metode latihan

plyometric adalah otot selalu berkontraksi baik pada saat memanjang (eccentric)

maupun pada saat memendek (concentric) (Agung, 2013).

Tipe gerakan dalam latihan plyometric adalah cepat, kuat, eksplosif dan

reaktif. Latihan ini digunakan sebagai metode untuk mengembangkan kualitas fisik

harus mengikuti prinsip-prinsip yang terdiri dari:

(1) Memberi regangan (stretch) pada otot, tujuan dari pemberian regangan yang

cepat pada otot-otot yang terlibat sebelum melakukan kontraksi (gerak) secara

fisiologis untuk memberi panjang awal yang optimum pada otot, mendapatkan

tenaga elastis, menimbulkan reflek regang.

(2) Beban lebih yang meningkat, dalam latihan plyometric harus menerapkan

beban lebih (overload) dalam hal beban atau tahanan (resistive), kecepatan

(temporal) dan jarak (spatial). Tahanan atau beban yang overload biasanya

pada latihan plyometric diperoleh dari bentuk pemindahan dari anggota badan

atau tubuh yang cepat, seperti mencegah jatuh, meloncat, melambung,

memantul dan sebagainya.

(3) Kekhukusan latihan (specifity training), dalam plyometric harus menerapkan

prinsip kekhususan latihan, yaitu: kekhususan terhadap kelompok otot yang

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


18
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

dilatih atau kekhususan neuromuscular, kekhususan terhadap sistem energi

utama yang digunakan, kekhususan terhadap pola gerakan latihan (Wibintoro,

2009).

Sebelum melakukan latihan plyometric yang tepat dan efektif, hal yang

harus diperhatikan salah satunya adalah pemanasan dan pendinginan (warm up

and warm down). Pemanasan (warm up) bertujuan untuk mempersiapkan

sistem kardiorespirasi dan muskuloskletal tubuh sebelum latihan, membantu

untuk mencegah cedera serta mempersiapkan mental pemain sebelum

bertanding. Sedangkan pendinginan (warm down) bertujuan untuk mengurangi

asam laktat yang terbentuk setelah latihan juga untuk pemeliharaan mobilitas

sendi (Toit, 2009).

2.2.3 Aspek-aspek latihan plyometric

Agar latihan memberikan hasil seperti yang diharapkan, maka harus

direncanakan secara dinamik dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang

menjadi komponennya, yaitu:

(1) Volume, untuk meningkatkan power anggota gerak bawah, Radcliffe &

Ferentinos (1985) dalam Wibintoro (2009), memberikan pedoman sebagai

berikut: jangka waktu kerja anatara 4-15 detik, dikerjakan dengan intensitas

sedang sampai tinggi, repetisi antara 15-30 dalam 2-4 set dengan istirahat 2

menit.

(2) Intensitas yang tinggi, intensitas adalah faktor yang penting didalam latihan

plyometric. Kebugaran dengan kekuatan daya yang maksimal sangat perlu

untuk mendapatkan efek yang optimal dari latihan yang dilakukan. Penilaian

ulangan regangan otot adalah lebih penting dari latihan itu.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


19
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(3) Frekuensi, frekuensi adalah jumlah ulangan berapa kali latihan dikerjakan

setiap sesi atau minggunya. Olahraga yang mengutamakan power

membutuhkan pengeluaran energinya sangat tinggi, sehingga kelelahan lebih

cepat timbul dalam latihan power, maka disarankan frekuensi latihan dilakukan

3-6 per sesi latihan dan 2-4 kali per minggu.

(4) Recovery: periode istirahat antara 1-2 menit antara latihan cukup untuk system

neuromuscular yang tegang untuk kembali normal. Waktu istirahat yang cukup

diantara latihan plyometric sangat penting untuk menjamin pemulihan otot,

ligament, dan tendon yang secukupnya. Latihan plyometric yang dilakukan 2-

3 hari dalam satu minggu adalah cukup untuk menghasilkan power otot

(Wibintoro, 2009).

Latihan pliometric mempunyai pedoman yang harus dilaksanakan agar

tujuan dari latihan yang dilakukan dapat tercapai. Menurut Chu (2013) pedoman

latihan pliometric adalah sebagai berikut:

a. Durasi periode kerja : 4-30 detik

b. Intensitas kerja : maksimal

c. Durasi pulih : 1-2 menit

2.2.4 Bentuk-bentuk latihan plyometric

Latihan plyometric diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu intensitas

rendah (low intensity), intensitas sedang (moderat/medium intensity), intensitas

tinggi (high intensity) dan shock latihan (Shankar et al., 2008).

Latihan plyometric high intensity adalah latihan yang kuat dan menyeluruh

dengan fase amortisasi yang sangat cepat. Latihan plyometric high intensity yang

diberikan menurut penelitian Shankar et al. (2008) adalah berupa:

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


20
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(a) Double leg vertical power jump, dimulai dengan gerakan tubuh kebawah, lutut

fleksi kemudian melompat keatas secara kuat disertai gerakan lengan

mendorong keatas, kembali lagi dan segera ulangi.

Gambar 2.1 Double leg vertical power jump (Edell, 2009).

(b) Single leg vertical power jump, berdiri pada satu tungkai, dimulai dengan

gerakan tubuh kebawah, lutut fleksi kemudian melompat keatas secara kuat

disertai gerakan lengan mendorong keatas, kembali lagi dan segera ulangi

untuk masing masing tungkai.

Gambar 2.2 Single leg vertical power jump (Edell, 2009).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


21
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(c) Single leg tuck jump, berdiri pada satu tungkai, dimulai dengan gerakan tubuh

kebawah, lutut fleksi kemudian melompat keatas secara kuat, disertai gerakan

lengan menarik lutut salah satu sisi kearah dada. Mendarat dengan tungkai yang

sama digunakan untuk melompat, segera ulangi untuk masing-masing tungkai.

Gambar 2.3 Single leg tuck jump (Edell, 2009).

Ada beberapa bentuk gerakan dasar latihan plyometric untuk panggul dan

kaki. Bentuk latihan plyometric menurut Bompa (1994) adalah sebagai berikut:

(1) Bounding, yaitu latihan yang menekankan pada loncatan untuk mencapai

ketinggian maksimum dan jarak horizontal. Bounding dapat dilakukan dengan

dua kaki atau satu kaki secara bergantian.

(2) Hopping, gerakan hopping lebih ditekankan pada kecepatan gerakan kaki untuk

mencapai lompat-loncat setinggi-tingginya dan sejauh-jauhnya. Hopping dapat

dilakukan dengan dua kaki atau satu kaki.

(3) Jumping, adalah ketinggian maksimum sangat diperlukan dalam jumping,

sedangkan pelaksanaan merupakan faktor kedua dan jarak horizontal tidak

diperlukan dalam jumping.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


22
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(4) Leaping, adalah suatu latihan kerja tunggal yang menekankan jarak horizontal

dengan ketinggian maksimum. Bisa dilakukan dengan dua kaki atau satu kaki.

(5) Skipping, dilakukan dengan melangkah meloncat secara bergantian hopstep,

yang menekankan ketinggian dan jarak horizontal.

(6) Ricochet, semata-mata menekankan pada tingkat kecepatan tungkai dan gerakan

kaki, meminimalkan jarak vertikal dan horizontal yang memberikan kecepatan

pelaksanaan yang lebih tinggi.

2.2.5 Otot-otot yang terlibat dan biomekanika (latihan plyometric)

Otot-otot yang dominan menggerakkan tungkai saat latihan plyometric

antara lain : [Link], [Link] femoris, [Link], [Link],

[Link] anterior dan [Link] longus (Milner, 2008).

M. hamstring berfungsi menggerakkan ekstensi hip joint, dan fleksi knee

joint, otot-otot yang termasuk dalam kelompok m. hamstring adalah m. biceps

femoris, [Link] dan m. semitendinosus, m. quadriceps femoris

adalah otot penggerak fleksi hip joint dan ekstensi knee joint, terdiri dari empat otot

yang terletak pada bagian depan dan permukaan lateral dari paha, otot-otot yang

membentuk kelompok ini meliputi m. vastus lateralis, m. vastus intermedius, m.

vastus medialis, dan m. rectus femoris (Milner, 2008).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


23
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

a. Anterior view

b. Posterior view

Gambar 2.4 Muscle of hip joint

([Link]

Sedangkan m. gastrocnemius dan m. soleus terletak dibagian belakang dari

tungkai bawah yang berfungsi menggerakkan ankle joint kearah plantar fleksi. Otot

lain yang berada ditungkai bawah adalah m. tibialis anterior yang terletak pada

permukaan depan dan berfungsi sebagai dorsal fleksor kaki, sedangkan m. peroneus

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


24
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

longus terletak pada permukaan samping berfungsi sebagai plantar fleksor dan

pronator kaki (Milner, 2008).

a. Anterior view b. Posterior view

Gambar 2.5 Muscle of knee joint


([Link]

2.2.6 Model sistem neuromuskular latihan plyometric

Tujuan utama dari latihan plyometric adalah untuk meningkatkan

eksitabilitas dari sistem syaraf untuk mempengaruhi kemampuan reaktif dari sistem

neuromuskular (Shankar et al., 2008). Terdapat dua model dasar, yaitu :

a. Model mekanik (mechanical model) yaitu: energi elastis ditendon dan otot

meningkat dengan regangan cepat (seperti dalam gerakan eksentrik) dan

kemudian disimpan sementara, jika gerakan konsentris segera mengikuti, energi

yang tersimpan dilepaskan, memberikan kontribusi terhadap produksi kekuatan

total, efeknya seperti peregangan pegas yang kembali kepanjang aslinya. Pegas

dalam hal ini adalah komponen dari otot dan tendon disebut seri komponen

elastis (Shankar et al., 2008).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


25
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Model mekanik fungsi dari otot rangka terdapat beberapa komponen yaitu:

(1) Seri komponen elastis (series elastic component/SEC), saat diregangkan,

menyimpan energi elastis yang meningkatkan tenaga yang dihasilkan.

(2) Komponen kontraktil (contractile component/CC) yaitu, aktin, myosin, dan

cros-bridge adalah sumber utama kekuatan otot selama kontraksi konsentris.

(3) Komponen elastis paralel (paralel elastic component/ PEC) yaitu, epimysium,

perimysium, endomisium, dan sarcolemma memberikan suatu kekuatan pasif

dengan peregangan otot distimulasi.

Pada latihan plyometric, serabut otot yang terstimulasi adalah tipe otot fast

twitch (tipe II) terdapat dua tipe serabut otot fast twitch (tipe II) yaitu serabut otot

tipe II A dan serabut otot tipe II B, pada latihan plyometric intensitas tinggi (high

intensity) serabut otot yang terstimulasi adalah tipe II B, karena serabut ini

terstimulasi jika diberi latihan dengan beban lebih dari 70 % dari maximum heart

rate, sifat dari serabut otot tipe II B yaitu mempunyai kecepatan kontraksi yang

tinggi tetapi mudah mengalami kelelahan.

b. model neurofisiologi (neurophysiological model) yaitu model yang melibatkan

potensiasi (perubahan karakteristik) kekuatan-kecepatan komponen kontraktil

otot yang disebabkan oleh peregangan dari kontraksi otot konsentris dengan

menggunakan refleks regangan. Refleks peregangan adalah respon involunter

tubuh terhadap stimulus external yang dapat meregangkan otot-otot.

Ketika muscle spindle di stimulasi, refleks regangan dirangsang,

mengirimkan impuls ke medula spinalis melalui serabut saraf Tipe Ia, setelah

bersinaps dengan alpha motor neuron di medula spinalis, impuls berjalan keserat

agonis extrafusal, menyebabkan aksi otot reflektif (Rogers, 2008).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


26
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Gambar 2.6 Stretch reflex (Rogers, 2008).

Sebagian besar latihan terjadi selama siklus stretch-shortening, yang

merupakan waktu yang dibutuhkan untuk beralih dari fase gerakan eksentrik ke

tahap konsentrik. Selama kontraksi eksentrik, otot memanjang dan menegang,

karena kekuatan lawan lebih besar dari gaya yang dihasilkan. Kontraksi konsentrik

terjadi ketika otot memendek dan menegang, karena kekuatan yang dihasilkan oleh

otot lebih besar dari gaya yang berlawanan itu. Waktu antara fase eksentrik dan fase

konsentrik disebut fase amortisasi. Kemampuan untuk mempersingkat fase

amortisasi dan juga menyerap kekuatan yang lebih besar selama kontraksi eksentrik

menyebabkan produksi kekuatan yang lebih besar pada fase konsentris (Rogers,

2008).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


27
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Tabel 2.1 Stretch-shortening cycle (Rogers, 2008)

Fase Action Physiogical event

I- eksentrik Stretch otot-otot - Energi elastis disimpan pada


agonis seri komponen elastis .
- Muscle spindle terstimulasi.

II- amortisasi Jeda antara fase I - Serabut aferen tipe Ia


dan fase III bersinapsis dengan alpha
motor neuron.
- Alpha motor neuron
mengirimkan sinyal ke group
agonis.

III- konsentrik Shortening - Energi elastis dilepaskan dari


serabut otot seri komponen elastis.
agonis - Alpha motor neuron
menstimulasi grup otot
agonis.

2.2.7 Sistem energi latihan plyometric

Energi yang diperlukan untuk suatu kegiatan atau kontraksi otot tidak dapat

diserap langsung dari makanan yang di makan, akan tetapi diperoleh dari

persenyawaan yang disebut ATP (Adenosin Triphosphate). ATP inilah yang

merupakan sumber energi yang langsung digunakan otot untuk melakukan

kontraksi (Wibintoro, 2009).

ATP merupakan suatu komponen kompleks yang tersusun atas satu

komponen adenosine dan tiga komponen phosphate. ATP ini tersimpan dalam otot

rangka dalam jumlah yang sangat terbatas. Supaya kontraksi otot tetap berlangsung,

maka ATP ini segera disintesis kembali. Proses pembentukan ATP dalam otot

secara sederhana dapat diperoleh melalui tiga cara, yaitu sebagai berikut:

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


28
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(a) sistem ATP-PC (Phosphagen System);

- ATP ADP + Pi + Energi

ATP yang tersedia dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 1-2

detik

- CP + ADP C + ATP.

ATP yang terbentuk dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 6-8

detik.

(b) Sistem glikolisis anaerobik (Lactic Acid System);

Glikogen/glukosa + ADP + Pi ATP + Asam laktat

ATP terbentuk dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 45-120 detik.

(c) Sistem Erobic (Aerobic System) dimana sistem ini meliputi oksidasi

karbohidrat dan lemak.

Glikogen + ADP + Pi + O2 CO2 + H2O + ATP

ATP yang terbentuk dapat digunakan untuk aktivitas fisik dalam waktu relatif

lama.

Plyometric merupakan gerakan yang sangat cepat dan kuat, yaitu

gerakan-gerakan yang eksplosif atau meledak, karenanya dibutuhkan energi

yang dapat digunakan secara cepat yakni ATP-PC. Hal ini biasanya dapat

dipenuhi melalui sistem energi lainnya yakni glikolisis anaerobik atau sistem

energi asam laktat. ATP-PC mempunyai peranan penting dalam pengerahan

tenaga secara cepat, karena ATP-PC mempunyai power terbesar bila

dibandingkan sistem energi yang lain (Wibintoro, 2009).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


29
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2.3 Hurdle Hopping

2.3.1 Pengertian hurdle hopping

Hurdle hopping merupakan bentuk latihan plyometric yang bertujuan

meningkatkan daya ledak tungkai dengan cara meloncati rintangan atau berupa

gawang (Pujiarti, 2015). Gerakan ini sangat diperlukan dalam cabang olahraga bola

voli. Hal ini termasuk salah satu bentuk latihan dalam plyometric, dimana langkah-

langkah lebar digunakan dalam kegiatan lari dan waktu tambahan digunakan untuk

meloncat ke udara. Latihan dengan menggunakan dua kaki lebih mengurangi beban

yang ditahan, namun untuk meningkatkan intensitas loncatan di tempat atau

loncatan maju dengan menggunakan satu kaki juga dapat digunakan. Meloncat ke

tempat yang lebih tinggi juga merupakan cara yang berguna untuk melatih aspek

vertikal dan horisontal dalam kegiatan lari. Loncatan berulang-ulang melewati

serangkaian halangan seperti lompat gawang juga merupakan latihan yang sangat

berguna untuk atlet cabang loncat.

2.3.2 Cara atau metode latihan plyometric hurdle hopping

Salah satu contoh modifikasi latihan double leg vertical power jump adalah

hurdle hopping (lompat gawang) cara melakukannya (Kalfi, 2013):

a. Loncatilah pembatas dengan kedua kaki.

b. Gerakan harus berasal dari pinggul dan lutut.

c. Jagalah tubuh agar tetap lurus dan tegak, dan jangan sampai lutut bergerak

sedikitpun atau bergerak kesisi lain.

d. Dekatkan kedua bagian lutut kebagian dada.

e. Ayunkan kedua tangan untuk menjaga keseimbangan dan meningkatkan tinggi

loncatan.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


30
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

f. Mendaratlah dengan telapak kaki bagian depan, sehingga memungkinkan

energi tersimpan dibagian elastik otot bagian kaki, dan mulailah mengulang

lagi gerakan tadi.

g. Usahakan agar jarak waktu yang dibutuhkan untuk meloncati tiap gawang

sesingkat mungkin.

Intensitas melakukan

1) Dua sampai empat set dengan menggunakan 6 sampai 8 gawang.

2) Usahakan agar tubuh benar-benar beristirahat ditiap setnya.

3) Gawang disusun berurutan, jarak antar gawang disesuaikan dengan tingkat

kemampuan.

4) Tinggi gawang harus berkisar antara 12-36 inchi, low impact 25±35 cm dan

high impact, > 35 cm (Sukadiyanto, 2005).

5) Kualitas loncatan gawang jauh lebih penting dari pada kuantitasnya.

Gambar 2.7 Hurdle hopping (loncat gawang)


([Link]

2.4 Vertical jump

2.4.1 Pengertian vertical jump

Vertical jump (lompat vertikal atau loncat tegak) adalah tes kebugaran yang

sudah umum dilakukan untuk menentukan kekuatan otot tungkai atau daya ledak

(explosive power) seorang atlet. Tes ini sering digunakan oleh atlet profesional,

terutama untuk mengetahui perkembangan seorang atlet selama pelatihan. Semakin

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


31
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

tinggi lompatan maka semakin kuat otot tungkai/daya ledak seorang atlet (Lovitt &

John, 2004). Power akan timbul apabila kekuatan otot tungkai dipadukan dengan

kecepatan, dengan kata lain kecepatan merupakan indikator adanya explosive

power. Power otot juga ditentukan oleh besarnya beban, terlalu besar beban maka

otot akan menjadi lambat untuk bergerak (Hapsoro, 2012).

Menurut sukadiyanto (2011) urutan latihan untuk meningkatkan power

tungkai diberikan setelah olahragawan dilatih unsur kekuatan dan kecepatan. Daya

ledak atau power merupakan komponen kondisi fisik dominan dalam beberapa

cabang olahraga, misalnya cabang olahraga bola basket, sepak bola, bola voli,

bulutangkis, serta yang lainnya. Hal ini sesuai dengan (Mc Cleton, 2008) bahwa

kemampuan explosive power yang dihasilkan tubuh bagian bawah benar-benar

merupakan faktor yang sangat penting dalam aktivitas beberapa cabang olahraga.

Power merupakan unsur tenaga yang sangat banyak dibutuhkan dalam

berbagai cabang olahraga khususnya bola voli explosive power sangat dominan

pada gerakan spike/smash, walaupun tidak semua cabang olahraga membutuhkan

power sebagai komponen energi utamanya.

Daya ledak otot dapat kita ukur dengan alat yang sederhana, khusus untuk

pengukuran daya ledak tungkai bisa dilakukan dengan lompat vertikal atau loncat

tegak. Loncat tegak bertujuan untuk mengukur tinggi lompatan seorang atlet.

Loncat tegak dapat dilakukan dengan cara konvensional yaitu menggunakan papan

ukur, dan dengan cara modern yaitu menggunakan alat seperti jump DF dan force

plate. Tes vertical jump yang biasa dilakukan oleh seorang atlet bola voli adalah tes

vertical jump secara konvensional (Listiyadi, 2014) dapat dilihat pada gambar

dibawah ini.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


32
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Gambar 2.8 Gerakan vertical jump (Listiyadi, 2014).

2.4.2 Faktor yang mempengaruhi tinggi vertical jump

Vertical jump dipengaruhi oleh faktor-faktor antropometri, jenis kelamin,

dan berat badan (Rudiyanto, 2012) dalam Widyasari (2016). Tinggi badan termasuk

bagian dari antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal dari

telapak kaki sampai ujung kepala, tinggi badan juga berpengaruh terhadap tinggi

vertical jump seseorang (Rudiyanto, 2012).

2.5 Bola voli

2.5.1 Pengertian bola voli

Bola voli telah berubah dalam tiga dekade terakhir dari olahraga terorganisir

menjadi sebuah olahraga yang sangat kompetitif, olahraga ini membutuhkan

kebugaran fisik tingkat tinggi, mental dan penguasaan teknik, fisiologis dan

psikologis. Permainan bola voli merupakan permainan pada tingkat persaingan

yang tinggi membutuhkan gerakan tiba-tiba cepat dan reaksi cepat. Pertandingan

bola voli tidak memiliki batas waktu dan pertandingan bisa berlangsung selama

beberapa jam, jika tim berimbang (Rao, 2016).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


33
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Permainan bola voli adalah olahraga yang dimainkan anak-anak, orang

dewasa baik pria maupun wanita (Kalfi, 2013). Menurut PBVSI (2005) bola voli

adalah olahraga yang dimainkan oleh dua tim dalam setiap lapangan dengan

dipisahkan oleh sebuah net. Tujuan dari permainan ini adalah melewatkan bola di

atas net agar dapar jatuh menyentuh lantai lapangan lawan dan untuk mencegah

usaha yang sama dari lawan. Setiap tim dapat melakukan tiga pantulan untuk

mengembalikan bola (di luar perkenaan blok). Bola dinyatakan dalam permainan

setelah bola dipukul oleh pelaku servis melewati atas net ke daerah lawan.

Permainan dilanjutkan hingga bola menyentuh lantai, bola “keluar” atau satu tim

gagal mengembalikan bola secara sempurna (PBVSI, 2005).

Dalam permainan bola voli, tim yang memenangkan reli akan mendapat

satu angka (Really Point System). Apabila tim yang sedang menerima servis

memenangkan reli akan memperoleh satu angka dan berhak melakukan servis

berikutnya, serta melakukan pergeseran satu posisi searah jarum jam (PBVSI,

2005).

Dalam setiap teknik dalam bola voli, satu tergantung pada kerja tim dan

keterampilan individu, mengumpan, menyeberangkan bola, peraturan, smash,

melompat, passing, kecepatan reaksi dan koordinasi mata pada bola (Rao, 2016).

Tujuan dari permainan adalah melewatkan bola di atas net agar dapat jatuh

menyentuh lantai lapangan dan mencegah usaha yang sama dari lawan. Setiap tim

dapan memainkan tiga pantulan untuk mengembalikan bola (diluar perkenaan blok)

(PBVSI, 2005).

Bola voli adalah olahraga intermiten yang membutuhkan pemain untuk

bersaing dalam pertandingan singkat tetapi sering latihan high intensity, diikuti oleh

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


34
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

periode rendah (Gabbett & Georgieff, 2007). Dari semua kegiatan, situasi serangan

dan blok mewakili 45% dari total tindakan permainan dan juga bertanggung jawab

untuk 80% dari poin yang diperoleh dalam pertandingan internasional (Voigt &

Vetter, 2003).

2.5.2 Teknik dasar bola voli

Dalam permainan bola voli ada berbagai teknik yang harus dikuasai oleh

setiap pemain. Suharno (1981) menyatakan teknik dasar permainan bola voli

meliputi: servis, passing, umpan(set-up), smash (spike), dan bendungan (block).

2.5.3 Smash bola voli

Dari sekian banyak teknik dasar yang ada, smash merupakan teknik yang

selalu digunakan untuk menyerang dan menghasilkan angka serta meraih

kemenangan. Karena permainan bola voli merupakan permainan cepat maka teknik

menyerang lebih dominan dibandingkan dengan teknik bertahan. Pukulan smash

juga sering disebut juga spike, dimana merupakan bentuk serangan yang paling

banyak dipergunakan dalam upaya memperoleh nilai oleh suatu tim (Putra, 2015).

Pada permainan bola voli smash dapat dilakukan dari semua posisi. Posisi

empat, tiga, dan dua, bahkan posisi belakang satu, enam, lima khusus smash tiga

meter. posisi ini yang sering dipergunakan untuk menyerang. Dari semua posisi

tersebut seorang pelatih atau guru harus memperhatikan tingkat kesulitaan dan

posisi yang paling efektif untuk menghasilkan angka sehingga mampu menyusun

tim berdasarkan tipe-tipe pemain secara tepat. Tipe-tipe pemain dalam permainan

bola voli itu antara lain tipe pemain penyerang, tipe pemain bertahan, tipe pemain

pengumpan, tipe pemain serba bias (Putra, 2015). Beberapa faktor yang

menentukan keberhasilan seseorang dalam melakukan smash adalah timing atau

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


35
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ketepatan, meliputi: a. Ketepatan saat melakukan awalan, b. Ketepatan saat

meloncat, c. Ketepatan saat memukul bola (Putra, 2015).

Gambar 2.9 Rangkaian pelaksanaan smash (Yunus, 1992).

2.6 Ketepatan (accuracy)

2.6.1 Pengertian ketepatan

Suharno (1981) dalam Irwansyah (2012) menyatakan bahwa ketepatan

adalah kemampuan seseorang untuk mengarahkan suatu gerak ke suatu sasaran

sesuai dengan tujuannya. Dengan kata lain bahwa ketepatan adalah kesesuaian

antara kehendak (yang diinginkan) dan kenyataan (hasil) yang diperoleh terhadap

sasaran (tujuan) tertentu. Ketepatan merupakan faktor yang diperlukan seseorang

untuk mencapai target yang diinginkan. Ketepatan berhubungan dengan keinginan

seseorang untuk memberi arah kepada sasaran dengan maksud dan tujuan tertentu.

Kegunaan ketepatan dalam bola voli meliputi: (1) meningkatkan prestasi atlet, (2)

gerakan anak latih dapat efektif dan efisien, (3) mencegah terjadinya cidera, (4)

mempermudah menguasai teknik dan taktik.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


36
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2.6.2 Ketepatan smash bola voli

Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketepatan smash bola

voli adalah kemampuan dalam melakukan smash kearah sasaran tertentu dengan

menggunakan tangan yang terkuat dengan mengikuti proses pelaksanaan gerakan

smash dengan baik mulai dari awalan, tumpuan, pukulan lalu mendarat dengan

kedua kaki dan juga memberikan kesimpulan bahwa kemampuan dalam

melakukan gerak ke arah sasaran tertentu dengan melibatkan beberapa faktor

pendukung dan terkoordinasi dengan baik secara efektif dan efisien (Notriya,

2018).

Suharno (1981) dalam Notriya (2018) selanjutnya hal lain yang

mempengaruhi ketepatan adalah :

1) Koordinasi tinggi berarti ketepatan yang tinggi.

2) Besar dan kecilnya sasaran.

3) Ketajaman indra dan pengaturan syaraf.

4) Jauh dan dekatnya bidang sasaran.

5) Penguasaan teknik yang benar.

6) Cepat dan lambatnya gerakan yang dilakukan.

7) Feeling anak latih dan ketelitian.

8) Kuat dan lemahnya suatu gerakan.

Suharno (1981) dalam Notriya (2018) latihan ketepatan biasanya

mempunyai ciri ciri sebagai berikut:

1) Harus ada target tertentu untuk sasaran gerak.

2) Kecermatan/ketelitian gerak sangat menonjol kelihatan dalam gerak

(ketenangan).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


37
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

3) Waktu dan frekuensi gerak tertentu sesuai dengan peraturan.

4) Adanya suatu penilaian dalam target dan latihan mengarahkan gerakan secara

teratur dan terarah.

Suharno (1981) dalam Notriya (2018) cara-cara pengembangan ketepatan

adalah sebagai berikut:

1) Frekuensi gerakan dan diulang-ulang agar otomatis.

2) Jarak sasaran mulai dari yang dekat kemudian dipersulit dengan menjauhkan

jarak.

3) Gerakan dari yang lambat menuju yang cepat.

4) Setiap gerakan perlu adanya kecermatan dan ketelitian yang tinggi dari anak

latih.

5) Sering diadakan penilaian dalam pertandingan-pertandingan percobaan

maupun pertandingan resmi. Dalam kaitannya dengan ketepatan ada masalah-

masalah yang perlu diperhatikan:

1) Faktor kecermatan dan ketelitian merupakan unsur dasar untuk peningkatan

ketepatan.

2) Melatih koordinasi berarti meningkatkan sumbangannya terhadap mutu

ketepatan.

3) Cara melatih suatu hasil teknik, unsur ketepatan perlu didahulukan dari pada

kecepatan dan kekuatan gerakan teknik itu.

4) Sikap ketenangan, kesabaran merupakan modal mental untuk mencapai

ketepatan tinggi.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN

BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konseptual Penelitian

Latihan High Intensity Plyometric


Hurdle Hopping

Cerebellum
Motor Planning

Saraf Motorik

Medula spinalis Medula spinalis

Rekrutmen Serabut otot II b Saraf Sensorik

Kontraksi otot Intrafusal


(Eksentrik-Isometrik-Konsentrik)
Stretch Shortening Cycle (SSC)

Usia

Jenis kelamin
Peningkatan Peningkatan Peningkatan
Fleksibilitas Keseimbangan Power otot tungkai Suhu otot
dan lengan
Aktifitas olahraga

Riwayat cidera

-Tinggi badan
Vertical jump meningkat -Berat badan

-Visual Ketepatan smash -Hamstring


-Pengalaman atlet meningkat -Ligament laxity

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual


Keterangan :
: Diteliti : Tidak diteliti

: Siklus
38
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
39
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN

3.2 Penjelasan Kerangka Konseptual

Plyometric adalah salah satu latihan untuk meningkatkan power, baik otot

tungkai maupun otot lengan yang merupakan kombinasi antara kekuatan dengan

kecepatan untuk mengatatasi beban dengan kecepatan kontraksi otot yang lebih

tinggi dalam waktu yang singkat. Potensi power otot seseorang dipengaruhi oleh

usia, jenis kelamin, suhu otot, aktifitas olahraga, tinggi badan, berat badan, indeks

massa tubuh, riwayat cidera, hamstring tightness dan ligament laxity pada anggota

gerak bawah. Ketika melakukan gerakan plyometric hurdle hopping terjadi

rangsangan yang menyebabkan otot teregang, maka muscle spindle juga ikut

teregang dan mengirimkan impuls di medula spinalis (Cord Posterior) melalui

afferen (saraf sensorik) dan dikirim menuju sistem saraf pusat, terjadi input

informasi gerakan yang akan diproses di dalam (Motor Planning). Setelah diproses,

saraf efferen akan membawa sinyal motorik di medula spinalis (Cord anterior)

untuk merekrut serabut otot agonis (quadriceps muscle) dan terjadi kontraksi.

Selain itu impuls yang dikirimkan medula spinalis melalui afferen sebelum

diproses di dalam (Motor Planning) juga diproses di Cerebellum untuk mengontrol

gerak dan keseimbangan ketika terjadi kontraksi otot. Kemudian efek dari

mekanisme kontraksi otot yang teregang tersebut akan membuat peningkatan

fleksibilitas, dan keseimbangan power yang dapat meningkatkan vertical jump.

Dengan meningkatnya vertical jump secara otomatis akan memberi peningkatan

pada ketepatan smash. Ketepatan smash dipengaruhi oleh faktor visual (ketajaman

mata) dan pengalaman atlet.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


40
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN

3.3 Hipotesis Penelitian

1. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan vertical jump

smash bola voli.

2. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan ketepatan smash

bola voli.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental lapangan (Maksum,

2012). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah randomized pre test-

post test control group design (Zainuddin, 2014). Untuk mengetahui perbedaan

kelompok eksperimen 1 dan 2 dilakukan dengan membandingkan skor rata-rata dari

kelompok O1 dengan O2 dan O3 dengan 04 melalui uji signifikasi (Winarno, 2011).

X1 O1 P1 O2

P S R

X2 O3 P2 O4

Gambar 4.1 Desain penelitian

Keterangan:
P : Populasi
R : Secara random sampling
S : Subjek
X1 : Kelompok high intensity plyometric hurdle hopping
X2 : Kelompok kontrol kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m
O1 : Pre test vertical jump dan ketepatan smash kelompok X1
O2 : Post test vertical jump dan ketepatan smash kelompok X1
O3 : Pre test vertical jump dan ketepatan smash kelompk X2
O4 : Post test vertical jump dan ketepatan smash kelompok X2
P1 : Perlakuan 1 (Latihan high intensity plyometric hurdle hopping)
P2 : Perlakuan 2 (Latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m)

41
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
42
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian

4.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah atlet bola voli klub Pertamina Makassar

berjumlah 30 atlet. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini berjenis kelamin

laki laki, berusia 17-28 tahun.

4.2.2 Besar sampel

Menentukan besar subjek penelitian dilakukan perhitungan dengan

menggunakan rumus Lameshow (1997).

Rumus:

2σ2(Z1-α + Z1-β)2
n≥
(µ 1-µ 2)2

2 × 0,042(1,645 + 0,84)2
n≥
(0,057)2

2 × 0,0016 × 6,175
n≥
0,0032

0,0032 × 6,175
n≥ = n ≥ 6,175
0,0032

Keterangan:
n = Besar subjek penelitian
σ = Rerata simpangan baku penelitian terdahulu (Kalfi, 2013).
SD1 = 0,06; SD2 = 0,02, maka σ = 0,04
Z1-α = Nilai standart deviasi 0,05 = 1,645
Z1-β = Nilai standart deviasi 0,2 =0,84
µ 1-µ 2 = Beda antara rerata penelitian terdahulu
µ 1 = 0,223; µ 2 = 0,166, maka µ 1-µ 2 = 0,057

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


43
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Besar subjek penelitian diperoleh n sebesar 6,175 yang kemudian

dibulatkan menjadi 7 orang. Faktor koreksi 20%, maka replikasi menjadi 1/1-f

sehingga 1/(1-0,2) x 7 = 8,75 = 9. Jadi penggunaan subjek penelitian 9 orang untuk

masing masing kelompok. Besar total subjek penelitian ini sebanyak 18 orang.

Terdiri dari 9 orang pada kelompok latihan high intensity plyometric hurdle hopping

(P1) dan 9 orang pada kelompok kontrol latihan kombinasi lompat dada dengan

sprint 18 m (P2).

a. Kriteria inklusi

1) Sehat

2) Berjenis kelamin laki-laki

3) Usia 17 s/d 28 tahun

4) Mempunyai tinggi badan 163-185 cm, berat badan 60-80 kg dan IMT

(indeks massa tubuh) normal 18,5 – 22,9 kg/m2 (WHO Asian BMI).

5) Berstatus sebagai atlet junior/senior klub bola voli Pertamina Makassar

6) Subjek bersedia mengikuti penelitian mulai awal hingga penelitian selesai

b. Kriteria drop out

1) Subjek tidak hadir mengikuti latihan maksimal 3 kali

2) Sakit selama pelatihan

3) Cidera selama pelatihan

4) Menarik diri dari subjek penelitian

4.2.3 Teknik pengelompokkan sampel

Pemilihan subjek dalam penelitian ini menggunakan random sampling,

Pengelompokkan subjek secara random berarti suatu teknik pemilihan yang

memungkinkan tiap subjek dalam populasi mendapat kemungkinan (kans) yang

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


44
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

sama untuk terpilih (Pratiknya, 2001). Jumlah subjek secara keseluruhan yaitu 18

orang, dibagi menjadi 2 kelompok 1 (P1) mendapat perlakuan latihan high intensity

plyometric hurdle hopping dan kelompok 2 (P2) kelompok kontrol mendapat

perlakuan latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m.

4.3 Varibel Penelitian

4.3.1 Variabel bebas

- Latihan high intensity plyometric hurdle hopping

4.3.2 Variabel terikat

- Vertical jump dan ketepatan smash bola voli

4.3.3 Variabel kendali

- Umur

- Jenis kelamin

- Jenis latihan

4.3.4 Variabel moderator

- BMI

- Heart rate

- Panjang tungkai diukur menggunakan meteran pita dengan sampel tidur

terlentang, diukur mulai dari pergelangan kaki (mata kaki) sampai dengan

tulang pinggul yang menonjol dengan satuan centi meter (cm) (Silvia,

2015).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


45
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4.4 Defenisi Operasional Penelitian

4.4.1 Latihan plyometric hurdle hopping

Latihan plyometric hurdle hooping dilakukan dengan intensitas tinggi, 3-4

set dengan repetisi 15-16 setiap set dan tinggi hurdle progresif setiap minggunya

mulai dari 40-55 cm serta waktu interval 2 menit.

4.4.2 Latihan lompat dada kombinasi sprint 18 meter

Lompat dada (Knee tuck jump) adalah gerakan melompat lurus ke atas

dengan mengangkat lutut dan melipat kearah dada sedangkan sprint 18 meter yaitu

lari cepat dengan jarak 18 m. Pada penelitian ini latihan lompat dada

dikombinasikan dengan sprint 18 m dilakukan dengan intensitas tinggi, 3-4 set

dengan jumlah lompat dada dan sprint 18 m tiap repetisi 3-4 : 1, repetisi 15-16 serta

waktu interval 2 menit.

4.4.3 Vertical jump

Vertical jump adalah suatu kemampuan untuk naik ke atas melawan

gravitasi dengan menggunakan kemampuan otot (Ostojic et al., 2010) atau

kemampuan melompat vertikal ke atas dengan menggunakan papan skala. Vertical

jump dilakukan dalam bentuk vertical jump test dengan berdiri di didepan papan

skala posisi menyamping lalu melompat setinggi mungkin dengan mengayun kedua

tangan ke belakang dan ke atas selanjutnya menepuk papan skala pada jangkauan

tangan setinggi mungkin. selisih yang terbesar antara tinggi jangkauan sesudah

melompat dengan tinggi jangkauan sebelum melompat, dari 3 kali percobaan adalah

ketinggian lompatan. Tinggi jangkauan diukur dalam satuan centimeter.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


46
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4.4.4 Ketepatan smash bola voli

Ketepatan smash bola voli merupakan kemampuan smasher dalam

melakukan pukulan tepat pada sasaran (titik kelemahan lawan) (Putra, 2015).

Ketepatan adalah kemampuan (jumlah skor yang diperoleh) dalam melakukan

smash sebanyak 10 kali setiap pemain yang dilakukan sesuai peraturan permainan.

Smash dilakukan oleh smasher digaris serang pada posisi tiga dengan subjek

sebagai pengumpan dengan membuang bola sendiri dalam bentuk smash normal

yang dimaksud adalah smash dengan ketinggian bola diatas net 3 meter atau lebih

dari 3 meter dengan sasaran target skor yang dipasang pada lapangan bola voli.

Garis pembatas antara target skor 2 dengan skor 1 jika bola menyentuh garis

pembatas maka skornya 1, garis pembatas skor 2 dengan 3 dan skor 1 dengan 3 jika

bola menyentuh garis pembatas maka skornya 3, kemudian garis pembatas skor 4

dengan skor 1 jika bola menyentuh garis pembatas maka skornya 4.

4.5 Bahan dan Alat Penelitian

Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a) Bola voli

b) Meteran dinding lebih dari 3 meter atau papan berskala

c) Penghapus papan tulis

d) Serbuk kapur/magnesium sulfat

e) Timbangan badan yang dilengkapi dengan pengukur tinggi badan

f) Lapangan bola voli

g) Net

h) Peluit

i) Plester

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


47
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

j) Hurdle

k) Stopwatch

l) Microtoise

m) Oximeter

n) Peralatan tulis

o) Blangko penilaian setiap subjek

p) Kamera untuk dokumentasi pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan

penelitian

4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di lapangan bola voli Klub Pertamina Makassar.

Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli 2019.

4.7 Prosedur Pengambilan Data

Prosedur penelitian digunakan untuk mengetahui tahapan yang dilakukan

selama penelitian, sehingga resiko cidera dan kegagalan penelitian dapat dihindari.

Prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:

a) Identifikasi dan perumusan masalah penelitian.

b) Menentukan subjek penelitian yang akan dilibatkan.

c) Melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan indeks massa tubuh.

d) Subjek penelitian diberi penjelasan mengenai information form consent.

e) Selanjutnya subjek penelitian mengisi biodata dan informed consent.

f) Persiapan instrumen penelitian.

g) Subjek melakukan pemanasan dan peregangan (warming up) sebelum

melakukan tes awal.

h) Pelaksanaan pre test vertical jump dan ketepatan smash bola voli.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


48
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

i) Subjek melakukan tes awal untuk menentukan dosis latihan.

j) Pelaksanan latihan high intensity plyometric hurdle hopping dan latihan

kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m.

k) Setelah latihan subjek melakukan pendinginan (cooling down).

l) Pelaksanaan post test vertical jump dan ketepatan smash bola voli

m) Analisis data penelitian.

4.7.1 Persiapan penelitian

Sebelum pelaksanaan penelitian ada beberapa persiapan yang harus

dilakukan meliputi:

1) Mengurus ijin penelitian untuk menggunakan peserta atlet bola voli klub

Pertamina Makassar sebagai subjek penelitian.

2) Mengurus ijin menggunakan fasilitas di Universitas Airlangga, seperti alat

vertical jump test, timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan.

3) Mempersiapkan sarana dan prasarana penelitian.

4) Menyiapkan pembantu pelaksana penelitian serta memberikan informasi

mengenai konsep penelitian.

5) Melakukan perekrutan subjek penelitian dengan membagikan leaflet kepada

peserta dan apabila peserta bersedia , dipilih subjek penelitian sesuai dengan

kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan dan menjelaskan kepada

subjek mengenai konsep penelitian.

6) Pengisian form kesanggupan menjadi subjek penelitian (informed consent)

oleh subjek.

7) Menyiapkan tata cara dalam pelaksanaan tes dan pengukuran untuk peneliti,

pembantu peneliti dan subjek peneliti.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


49
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

8) Pemeriksaan kesehatan fisik (tinggi badan, berat badan, tekanan darah) subjek

melalui pengisian form pemeriksaan.

4.7.2 Prosedur pelaksanaan penelitian

Prosedur pelaksanaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Menentukan subjek penelitian berdasarkan kriteria.

2) Subjek penelitian diberikan penjelasan mengenai konsep penelitian dan

information for consent. Selanjutnya subjek mengisi biodata dan informed

consent.

3) Subjek penelitian terdiri dari 18 orang dibagi menjadi dua kelompok (P1 dan

P2)

4) Pengukuran denyut nadi istirahat, tekanan darah, vertical jump dan ketepatan

smash bola voli sebelum diberi perlakuan.

5) Melakukan latihan high intensity plyometric hurdle hopping pada kelompok

P1 dan Latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m pada kelompok

kontrol P2.

6) Setelah perlakuan latihan high intensity plyometric hurdle hopping dan latihan

kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m dilakukan post test setelah istirahat

1-2 hari dengan mengukur vertical jump dan ketepatan smash bola voli.

4.7.3 Pelaksanaan pengambilan data

Pelaksanaan pengambilan data penelitian dilakukan dengan cara sebagai

berikut:

1) Pengukuran denyut nadi istirahat, tekanan darah, vertical jump dan ketepatan

smash bola voli pada masing-masing kelompok.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


50
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2) Subjek melakukan peregangan terlebih dahulu, lalu pemanasan dengan joging

3-5 putaran di tepi lapangan bola voli.

3) Melakukan latihan high intensity plyometric hurdle hopping dan latihan

kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m selama 12 kali pertemuan.

4) Pengukuran vertical jump dan ketepatan smash bola voli sebagai post test

penelitian.

4.7.4 Prosedur pengukuran vertical jump

Untuk melakukan tes vertical jump diperlukan perlengkapan sebagai

berikut: papan berskala, penghapus papan tulis, serbuk kapur/magnesium sulfat,

alat tulis. Setelah perlengkapan disiapkan, maka yang harus dilakukan adalah

persiapan pelaksanaan (Listiyadi, 2014). Ikuti langkah-langkah persiapan sebagai

berikut:

a. Papan berskala digantung pada dinding setinggi raihan atlet.

b. Sebelum melakukan loncatan, tangan ditaburi serbuk kapur.

c. Peserta berdiri didepan papan skala dengan posisi menyamping.

d. Tangan yang akan difungsikan menempuh papan skala diangkat ke atas

setinggi mungkin dan ditempelkan pada papan skala hingga membekas dan

dapat terbaca pada papan skala.

Prosedur pengambilan data pada pengukuran vertical jump (ACSF, 2013).

1) Pelaksanaannya, sampel berdiri menghadap ke dinding dengan salah satu

lengan diluruskan keatas. Lalu dicatat tinggi jangkauan tersebut.

2) Kemudian sampel berdiri dengan bagian samping tubuhnya kearah dinding

atau papan skala, dan salah satu lengan yang terdekat dengan papan skala lurus

keatas, kemudian dia mengambil sikap jongkok dengan bantuan ayunan tangan

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


51
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ke belakang dan ke atas ketika hendak melompat sehingga lututnya membentuk

sudut kurang lebih 45 derajat. Setelah itu, sampel berusaha melompat ke atas

setinggi mungkin.

3) Pada saat titik tertinggi dari lompatan, sampel segera menyentuhkan ujung jari

dari salah satu tangannya pada dinding kemudian mendarat dengan kedua kaki.

Sampel diberi kesempatan 3 kali percobaan. Untuk mengambil skor, selisih

yang terbesar antara tinggi jangkauan sesudah melompat dengan tinggi

jangkauan sebelum melompat, dari 3 kali percobaan adalah ketinggian

lompatan. Tinggi jangkauan diukur dalam satuan centimeter.

4) Setelah didapatkan ketinggian lompatan, maka kita dapat menjadikannya

sebagai indikator daya ledak otot tungkai kita dengan mencocokkan tinggi

lompatan dengan tabel 4.1 dibawah ini.

Tabel 4.1 Penilaian loncat tegak (Briggs, 2013)

Skor Pria Wanita


Excellent >70 >60
Very good 61-70 51-60
Above average 51-60 41-50
Average 41-50 31-40
Below average 31-40 21-30
Poor 21-30 11-20
Very poor <21 <11

4.7.5 Prosedur pengukuran ketepatan smash bola voli

Pelaksanaan pengambilan data pada pengukuran ketepatan smash bola voli

menggunakan tes kemampuan smash oleh (Kenny and Gregory, 2006) dalam

(Fauzi, 2011). Adapun prosedur pelaksanaan tes ketepatan smash bola voli adalah

sebagai berikut:

a. Tujuan : menilai ketepatan smash pemain bola voli

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


52
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

b. Perlengkapan : lapangan bola voli, net, bola, catatan.

c. Prosedur :

1) Sebelum melakukan tes, atlet dipersilahkan untuk melakukan percobaan

smash sebanyak 2 kali.

2) Atlet melakukan smash sebanyak 10 kali

3) Atlet melakukan smash dengan cara melempar bola sendiri dengan

ketinggian bola smash normal

4) Apabila lemparan bola/bola lambung tidak sempurna maka dapat di ulang

kembali

5) Posisi untuk melakukan smash ditengah (posisi 3)

Gambar 4.2 Sasaran Tes Ketepatan Teknik Smash

d. Penilaian :

1) Penilaian sesuai dengan jatuhnya bola didaerah sasaran.

2) Bola menyangkut di net dan keluar lapangan (out) diberi nilai 0.

3) Nilai yang diperoleh adalah skor total dari 10 kali smash yang dilakukan

4) Hasil yang dicatat berdasarkan jatuhnya bola pada setiap sasaran dengan

benar sebanyak 10 kali dengan pedoman sebagai berikut (Depdiknas,

1999) dalam (Putra, 2015) :

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


53
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Tabel 4.2 Nilai Butir-butir Tes

No Laki-laki Perempuan nilai

1 >22 >21 5

2 18-21 16-20 4

3 12-17 10-15 3

4 8-11 7-9 2

5 <7 <6 1

Tabel 4.3 Norma Tes

Klasifikasi Nilai

No Laki-laki Perempuan

1 Baik sekali 22-55 22-25

2 Baik 19-21 19-21

3 Sedang 14-18 12-18

4 Kurang 9-13 9-11

5 Kurang Sekali 5-8 5-8

4.8 Penentuan Dosis Awal

Penentuan dosis latihan didasarkan pada hasil pengukuran awal terhadap

kemampuan melakukan plyometric hurdle hopping dengan menghitung denyut nadi

istirahat. Sampel melakukan tes beban maksimal untuk penyusunan program

latihan plyometric hurdle hopping dengan cara melompat hurdle/gawang yang

sudah diatur dengan tinggi >35 cm dan 6-8 hurdle/gawang hingga mencapai 80%

training zone kontrol melalui denyut nadi.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


54
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4.9 Kerangka Operasional Penelitian


Pengukuran variabel penelitian tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh.

Subjek sebanyak 18 orang umur 17-28 tahun atlet Bola voli Klub
Pertamina Makassar berjenis kelamin laki-laki

Kelompok 1 (P1) Latihan high intensity Kelompok 2 kelompok kontrol (P2) Latihan
plyometric hurdle hopping kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m

Pre test vertical jump dan ketepatan smash bola voli

Penentuan dosis latihan untuk penyusunan program latihan, penetapan frekuensi


latihan, repetisi, jumlah set, interval istirahat

plyometric hurdle hopping Latihan kombinasi lompat dada 3-4


dengan interval istirahat 2 menit kali dengan sprint 18 m 1 kali
setiap set, 3-4 set, 15-16 repetisi, terhitung 1 set, 3-4 set, 15-30 repetisi,
frekuensi latihan selama 4 minggu 3 interval 2 menit, frekuensi latihan
kali setiap minggu selama 4 minggu 3 kali setiap minggu

Minggu 1 Minggu 1
15 repetisi x 3 set 15 repetisi x 3 set
Tinggi hurdle 40 cm Lompat dada 3 kali +
Jumlah hurdle 6 1 kali sprint 18 m

Minggu 2 Minggu 2
15 repetisi x 3 set 15 repetisi x 3 set
Tinggi hurdle 45 cm Lompat dada 3 kali +
Jumlah hurdle 7 1 kali sprint 18 m

Minggu 3 Minggu 3
16 repetisi x 4 set 16 repetisi x 4 set
Tinggi hurdle 50 cm Lompat dada 4 kali +
Jumlah hurdle 8 1 kali sprint 18 m

Minggu 4 Minggu 4
16 repetisi x 4 set 16 repetisi x 4 set
Tinggi hurdle 55 cm Lompat dada 4 kali +
Jumlah hurdle 8 1 kali sprint 18 m

Post test vertical jump dan ketepatan smash bola voli

Analisa data

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


55
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Tabel 4.4 Program latihan high intensity plyometric hurdle hopping


Tinggi Interval
Latihan Minggu Hari Jumlah hurdle Repetisi Set istirahat
Ke ke hurdle (cm) antar set
(menit)
1 Senin 6 40 15 3 2
2 I Rabu 6 40 15 3 2
3 Jumat 6 40 15 3 2
4 Senin 7 45 15 3 2
5 II Rabu 7 45 15 3 2
6 Jumat 7 45 15 3 2
7 Senin 8 50 16 4 2
8 III Rabu 8 50 16 4 2
9 Jumat 8 50 16 4 2
10 Senin 8 55 16 4 2
11 IV Rabu 8 55 16 4 2
12 Jumat 8 55 16 4 2
13 V Senin Post test

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


56
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Tabel 4.5 program latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m


Jumlah Jumlah Interval
Latihan Minggu lompat sprint istirahat
Hari Repetisi Set
ke ke dada 18 m antar set
tiap tiap (menit)
repetisi repetisi

1 Senin 3 1 15 3 2
2 I Rabu 3 1 15 3 2
3 Jumat 3 1 15 3 2
4 Senin 3 1 15 3 2
5 II Rabu 3 1 15 3 2
6 Jumat 3 1 15 3 2
7 Senin 4 1 16 4 2
8 III Rabu 4 1 16 4 2
9 Jumat 4 1 16 4 2
10 Senin 4 1 16 4 2
11 IV Rabu 4 1 16 4 2
12 Jumat 4 1 16 4 2
13 V Senin Post test

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


57
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4.10 Analisa Data

Analisa data hasil penelitian menggunakan program IBM SPSS versi 16.0

yang meliputi data statistik sebagai berikut:

1) Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Shapiro-Wilk. Uji normalitas

digunakan untuk melihat hasil apakah distribusi data yang diperoleh dalam

penelitian (Pre test dan Post test) berasal dari populasi berdistribusi normal.

Dalam uji normalitas berlaku ketentuan: jika p-value lebih besar dibanding

0,05, maka data dinyatakan berdistribusi normal. Sebaliknya, jika p-value lebih

kecil dibanding 0,05, maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal.

2) Uji-t berpasangan digunakan untuk menghitung perbedaan data dari 2 rerata

sampel atau subjek yang berhubungan dan untuk mengetahui apakah terdapat

pengaruh antara hasil pre test dan post test yang telah dilakukan.

3) Uji t-independent digunakan untuk membandingkan (membedakan) perubahan

rata-rata dua kelompok data yang satu tidak berhubungan atau tidak bergantung

dengan kelompok yang lain, dengan uji Mann Whitney apabila data tidak

berdistribusi normal.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 5

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian merupakan data hasil pengukuran dari penelitian yang

mencakup data variabel kendali dan terikat. Data variabel kendali yang diukur

adalah usia, tekanan darah, heart rate istirahat, panjang tungkai, berat badan, tinggi

badan, dan indeks massa tubuh. Sedangkan data variabel terikat yang diukur adalah

hasil vertival jump dan ketepatan smash. Data hasil penelitian dianalisis

menggunakan aplikasi SPSS v.16. Proses analisis data dimulai dari analisa

deskriptif, uji normalitas, uji beda (paired t-test), uji beda saling bebas (independent

t-test), dan uji Mann Whitney.

5.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik subjek penelitian diperoleh dengan analisis statistik deskriptif

yang bertujuan untuk memperoleh gambaran sampel penelitian sesuai dengan

kriteria yang dikendalikan pada kelompok latihan high intensity hurdle hopping dan

lompat dada kombinasi sprint 18 meter. Berikut adalah analisis deskriptif dari

kriteria sampel sesuai dengan variabel yang dikendalikan.

Tabel 5.1 Rerata dan simpangan baku data variabel kendali

Kontrol Perlakuan
Variabel n Simpangan Simpangan
Rerata Rerata
Baku Baku
Usia (th) 9 19,22 3,193 20,22 4,09
Tekanan Sistole
9 114,44 5,27 116,67 5
(mmHg)
Tekanan Diastole
9 77,78 4,41 74,44 5,27
(mmHg)

58
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
59
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Heart rate
9 75 3,46 70,56 4,1
(bPm)
Panjang tungkai
9 93,67 5,27 97,22 2,64
kiri (cm)
Panjang tungkai
9 93 5,29 96,56 2,28
kanan (cm)
Berat Badan (kg) 9 63,44 8,1 66,44 7,72
Tinggi Badan
9 1,74 0,06 1,77 0,04
(m)
IMT (kg/m2) 9 20,98 1,61 21,27 1,83

Berdasarkan tabel 5.1, anggota masing-masing kelompok memiliki variasi

antropometri yang seimbang, sehingga diasumsikan memiliki kemampuan yang

sama .

5.2 Vertical jump

Analisa selanjutnya adalah analisis hasil pengukuran vertical jump

berdasarkan rerata, simpangan baku,dan uji normalitas.

Tabel 5.2 Rerata dan simpangan baku vertical jump

Rerata ± Simpangan Baku Nilai p


Kelompok N
(cm)
Normalitas
Pre-test 9 58,44 ± 5,17 0,429
Kontrol
Post-test 9 60 ± 5,81 0,362
Pre-test 9 61,78 ± 10,95 0,892
Perlakuan
Post-test 9 65,67 ± 11,38 0,944

Berdasarkan tabel 5.2, data pretest-posttest variabel vertical jump pada

kelompok kontrol dan perlakuan terjadi peningkatan kemampuan vertical jump

berdasarkan nilai rerata pre test dan post test. Data hasil pengukuran vertical jump

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


60
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

pada dua kelompok tersebut juga berdistribusi normal (p > 0,05), sehingga uji

statistik menggunakan uji parametrik dalam uji hipotesis.

5.3 Ketepatan Smash

Analisa selanjutnya adalah analisis hasil pengukuran ketepatan smash

berdasarkan rerata, simpangan baku dan uji normalitas.

Tabel 5.3 Rerata dan simpangan baku ketepatan smash

Nilai p
Kelompok n Rerata ± Simpangan Baku
Normalitas
Pre-test 9 15 ± 1,5 0,447
Kontrol
Post-test 9 16,56 ± 2,19 0,940
Pre-test 9 16,89 ± 2,67 0,235
Perlakuan
Post-test 9 22 ± 3,28 0,104

Berdasarkan tabel 5.2, data pretest-posttest variabel ketepatan smash pada

kelompok kontrol dan perlakuan terjadi peningkatan kemampuan ketepatan smash

berdasarkan nilai rerata pre test dan post test. Data hasil pengukuran ketepatan

smash pada dua kelompok tersebut juga berdistribusi normal (p > 0,05), sehingga

uji statistik menggunakan uji parametrik dalam uji hipotesis.

5.4 Hasil Uji Hipotesis Vertical Jump

Data hasil pengukuran vertical jump selanjutnya dilakukan uji hipotesis

menggunakan paired t-test sebagai uji pengaruh dan independent t-test sebagai uji

perbedaan pengaruh.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


61
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Tabel 5.4 Pairet t-test dan independent t-test vertical jump

Nilai p
Kelompok N Rerata ± Simpangan Baku
Paired t-test Independent t-test
Pre-test 9 58,44 ± 5,175
Kontrol 0,005
Post-test 9 60 ± 5,81
0,001
Pre-test 9 61,78 ± 10,95
Perlakuan 0,000
Post-test 9 65,67 ± 11,38
Berdasarkan tabel 5.4 uji paired t-test menunjukkan bahwa intervensi latihan

high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang bermakna

pada kemampuan vertical jump (p < 0,05). Sedangkan berdasarkan independent t-

test pada tabel 5.4, masing-masing intervensi yang diberikan pada kelompok

kontrol dan perlakuan memberikan perbedaan yang bermakna (p < 0,05).

Pre test Post test

70
SKOR VERTICAL JUMP

65
65.67
60
61.78
(CM)

60
55 58.44
50
Kontrol Perlakuan

Gambar 5.1 Diagram batang rerata pre-test dan post-test vertical jump

Berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol

variabel vertical jump pre-test (58,44) cm < post-test (60) cm, dengan selisih

sebesar (1,56) cm dan pada kelompok perlakuan variabel vertical jump pre-test

(61,78) cm < post-test (65,67) cm, dengan selisih sebesar (3,89) cm.

5.5 Hasil Uji Hipotesis Ketepatan Smash

Data hasil pengukuran ketepatan smash selanjutnya dilakukan uji hipotesis

menggunakan paired t-test sebagai uji pengaruh dan independent t-test sebagai uji

perbedaan pengaruh.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


62
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Tabel 5.5 Pairet t-test dan mann whitney u test ketepatan smash

Rerata ±
Nilai p
Kelompok n Simpangan
Paired t-test mann whitney u
Baku
test
Pre-test 9 15 ± 1,5
Kontrol 0,003
Post-test 9 16,56 ± 2,19
0,001
Pre-test 9 16,89 ± 2,67
Perlakuan 0,000
Post-test 9 22 ± 3,28

Berdasarkan tabel 5.5 uji paired t-test menunjukkan bahwa intervensi

latihan high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang

bermakna pada ketepatan smash (p < 0,05). Sedangkan berdasarkan uji mann

whitney pada tabel 5.5, masing-masing intervensi yang diberikan pada kelompok

kontrol dan perlakuan memberikan perbedaan yang bermakna (p < 0,05).

30
Pre test Post test
SKOR KETEPATAN

20 22
SMASH

16.89 16.56
15
10

0
Kontrol Perlakuan

Gambar 5.2 Diagram batang rerata ketepatan smash

Berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol

variabel ketepatan smash pre-test (15) < post-test (16,89), dengan selisih sebesar

(1,89). dan pada kelompok perlakuan variabel ketepatan smash pre-test (16,56) <

post-test (22), dengan selisih sebesar (5,44).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 6

PEMBAHASAN

6.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik subjek pada penelitian ini diperoleh dengan analisis statistik

deskriptif yang meliputi usia, tekanan darah, heart rate istirahat, panjang tungkai,

berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh. Berdasarkan analisis deskriptif

menunjukkan bahwa subjek penelitian sesuai dengan kriteria yang dikendalikan.

Hal ini sesuai dengan tabel 5.1 menunjukkan bahwa antara kelompok kontrol dan

perlakuan pada variabel usia, tekanan darah, heart rate istirahat, panjang tungkai,

berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh nilai selisih reratanya hampir

sama karena antara kelompok perlakuan dan kontrol berasal dari subjek penelitian

yang sama (atlet bola voli).

Kriteria yang dikendalikan seperti usia dan tinggi badan pada subjek

penelitian ini di mana rentang usianya adalah 17-28 tahun, dan rentang

predominasinya adalah 17-19 tahun serta rentang tinggi badan 166-195 centi meter

. Rentang usia dan tinggi badan ini agak berbeda dengan rentang usia, tinggi badan

tim bola voli nasional putra Indonesia yaitu 20-32 tahun dan rentang

predominasinya 23-25 tahun (BTN PBVSI, 2018), rentang tinggi badan 170-195

centi meter. Kemudian, rentang usia dan tinggi badan pada subjek penelitian ini dan

tim nasional Indonesia sangat jauh berbeda dengan rentang usia dan tinggi badan

pada atlet bola voli internasional seperti juara dunia tahun 2018 di Bulgaria-Italia

yaitu Polandia (FIVB, 2018). Polandia memiliki rentang usia atlet 24-31 tahun,

tinggi badan 184-210 centi meter.

63
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
64
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

6.2 Pengaruh Latihan High Intensity Plyometric Hurdle Hopping terhadap

Peningkatan Vertical Jump.

Berdasarkan tabel 5.4 melalui uji paired t-test menunjukkan bahwa intervensi

high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang bermakna

dalam meningkatkan vertical jump (p < 0,05). Sedangkan berdasarkan independent

t-test pada tabel 5.4, masing-masing intervensi yang diberikan pada kelompok

kontrol dan perlakuan memberikan perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Selain itu

berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan bahwa kelompok perlakuan memiliki selisih

rerata pre-test dan post-test pada variabel vertical jump dengan nilai yang lebih

tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan selisih sebesar (3,89 > 1,56)

centi meter.

Hasil yang didapat membuktikan bahwa latihan high intensity plyometric

hurdle hopping lebih meningkatkan vertical jump dibandingkan latihan lompat

dada kombinasi sprint 18 meter. Latihan high intensity hurdle hopping memberikan

pengaruh lebih terhadap vertical jump disebabkan oleh kontraksi otot yang lebih

kuat dibandingkan dengan latihan lompat dada kombinasi sprint 18 meter karena

pada dasarnya jumlah lompatan dalam satu repetisi pada pada subjek penelitian ini,

kelompok perlakuan lebih banyak volumenya dibandingkan kelompok kontrol

sehingga kontraksi otot pada kelompok perlakuan lebih maksimal akibat

pengulangan gerakan lompat melompat dalam satu repetisi.

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa latihan high intensity plyometric hurdle

hopping memberikan pengaruh yang bermakna terhadap vertical jump. Hasil yang

didapatkan ini hampir sama dengan penelitian terdahulu oleh Pamungkas (2016)

dan Kalfi (2013) bahwa latihan high intensity plyometric hurdle hopping

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


65
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

berpengaruh terhadap tinggi loncatan pada atlet bola voli. Latihan high intensity

plyometric hurdle hopping meningkatkan vertical jump kemungkinan dikarenakan

hasil dari latihan high intensity plyometric hurdle hopping dapat meningkatan daya

ledak dan kekuatan kontraksi sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap

peningkatan vertical jump.

Peningkatan vertical jump akibat latihan high intensity plyometric hurdle

hopping kemungkinan juga disebabkan subyek mengalami mekanisme coping.

Pada penelitian ini subyeknya yaitu atlet dan diberikan intervensi high intensity

plyometric hurdle hopping. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping yang

diberikan selama empat minggu menyebabkan subyek penelitian mengalami

mekanisme coping. High intensity hurdle hopping yaitu latihan dengan intensitas

tinggi yaitu melompat di atas kotak atau penghalang lain setinggi

dioataso35ocmotergantung kemampuan. Hurdle hopping memerlukan kontraksi

berirama dari kelompok-kelompok otot besar dari tungkai untuk memindahkan

seluruh berat badan. Latihan ini meningkatkan otot gluteal, gastrocnemius,

guadrisep, hamstring, fuksor pinggul, otot-otot punggung bagian bawah, dan perut

(Sudarmanto et al., 2018). Akibat latihan high intensity plyometric hurdle hopping

tubuh berusaha mengembangkan mekanisme “coping” untuk melawan tekanan,

sehingga secara bertahap melakukan adaptasi terhadap stress dari latihan, sehingga

merasakan “enak” dalam menghadapi shock, kemudian terjadi adaptasi yang lebih

tinggi (Rushall & Pyke dalam Sugiharto, 2012).

Latihan plyometric adalah gerakan dari rangsangan peregangan otot secara

mendadak supaya terjadi kontraksi yang lebih kuat. Latihan tersebut dapat

menghasilkan peningkatan daya ledak dan kekuatan kontaksi. Daya ledak dan

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


66
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

kekuatan kontaksi otot merupakan cermin peningkatan adaptasi fungsional

neuromuscular. Peningkatan kontraksi otot merupakan perbaikan fungsi reflek

peregangan dari muscle spindle. Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa latihan

plyometric adalah bentuk metode latihan untuk meningkatkan daya ledak otot

dengan bentuk kombinasi latihan isometrik dan isotonik (eksentrik-konsentrik)

yang menggunakan pembebanan dinamik. Regangan yang terjadi secara mendadak

sebelum otot berkontraksi kembali atau suatu latihan yang memungkinkan otot-otot

untuk mencapai kekuatan yang maksimal dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Selain itu pola gerakan plyometric sebagian besar mengikuti konsep power chain

(rantai power) yang sebagian besar melibatkan otot pinggul dan tungkai. Gerakan

kelompok otot pinggul dan tungkai merupakan pusat power yang memiliki

keterlibatan yang besar dalam semua gerakan dalam olahraga (Susilawati, 2018).

Power merupakan kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam

waktu yang sangat cepat untuk mengatasi beban atau tahanan dengan kecepatan

kontraksi yang tinggi. Dalam lompatan, yang berperan adalah kekuatan otot tungkai

karena merupakan tumpuan dan menunjang dorongan untuk mengangkat seluruh

badan ke atas melayang di udara (Hidayat, Saichudin, & Kinanti, 2017). Serta

latihan high intensity plyometric hurdle hopping juga dapat mengembangkan

kekuatan otot kaki karena latihan ini mengandalkan kekuatan kaki “di mana kaki

harus terus melompat-lompat melompati rintangan yang ada di depan secara

berturut-turut dengan beberapa pengulangan (Susilawati, 2018). Menurut Behrens

et al., (2016) latihan plyometric dapat meningkatkan aktivasi otot volunter dengan

menginduksi adaptasi spesifik di tingkat supraspinal (tulang belakang) tergantung

pada mode kontraksi. Peningkatan ketinggian lompatan mungkin merupakan akibat

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


67
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

dari adaptasi saraf. Adaptasi saraf ini melibatkan peningkatan frekuensi

penembakan dan pengerahan α-motoneuron. Hal ini dikarenakan latihan plyometric

menyebabkan peregangan otot yang cepat (aksi eksentrik) dan pemendekan cepat

(aksi konsentris) (Johnson et al., 2011). Energi elastis yang tersimpan dalam otot

selama peregangan digunakan untuk menghasilkan lebih banyak kekuatan

mengikuti fase konsentris. Latihan plyometric dapat memfasilitasi perifer dan

adaptasi saraf pusat yang meningkatkan sendi proprioseptif dan kesadaran

kinestetik. Aktivitas quick stretch dan shortening dapat menyebabkan sensitivitas

dari spindel otot dan desensitisasi organ tendon golgi selama pembebanan eksentrik

(Swanik et al., 2002).

6.3 Pengaruh Latihan High Intensity Plyometric Hurdle Hopping terhadap

Peningkatan Ketepatan Smash

Berdasarkan tabel 5.5 melalui uji paired t-test menunjukkan bahwa

intervensi high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang

bermakna dalam meningkatkan ketepatan smash (p < 0,05). Sedangkan berdasarkan

uji mann whitney pada tabel 5.5, masing-masing intervensi yang diberikan pada

kelompok kontrol dan perlakuan memberikan perbedaan yang bermakna (p < 0,05).

Selain itu berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa kelompok perlakuan

memiliki selisih rerata pre-test dan post-test pada variabel ketepatan smash dengan

nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan selisih skor

(5,44 > 1,89).

Selain itu tabel 5.4 yang menunjukkan bahwa latihan high intensity

plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang bermakna terhadap vertical

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


68
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

jump akan mempengaruhi ketepatan smash. Sehingga, hasil vertical jump yang

didapatkan ini secara otomatis akan berpengaruh terhadap ketepatan smash. Sejalan

dengan penelitian oleh Nilamsari (2017) bahwa peningkatan daya ledak otot

(vertical jump) mempengaruhi dalam ketepatan smash. Hal ini dikarenakan, ketika

melakukan smash kaki berfungsi sebagai tumpuan badan sehingga pada saat

melakukan pengaruh kekuatan otot lengan dan daya ledak otot kaki terhadap

ketepatan smash. Kemudian posisi kaki tadi ditekuk kemudian di luruskan, hal

tersebut dapat memberikan kontribusi dorongan dan kekuatan tangan saat

melakukan smash, sehingga ketepatan smash mengalami peningkatan (Nilamsari,

2017). Hal ini terjadi karena ketika melompat tinggi dan menjangkau bola untuk

melakukan smash sebelum memukul bola hampir semua bagian otak bekerja

terutama pada korteks visualnya (Kandel et al., 2000) yang berfungsi untuk

mengidentifikasi bola, mengenai ukuran, arah, dan kecepatan kemudian

dikembangkan gerakannya oleh motor cortex sehingga menghasilkan gerakan

smash yang tepat. Sedangkan bagian otak amygdala berfungsi menyesuaikan

denyut jantung, pernapasan, dan mekanisme homeostatis lainnya serta

mengaktifkan hipotalamus untuk memotivasi smasher agar melakukan spike yang

baik. Basal ganglia ikut terlibat dalam memulai pola gerakan smash dan

memungkinkan mengingat gerakan gerakan yang dipelajari untuk memukul bola

dengan benar serta otak kecil mengatur gerakan berdasarkan informasi

proprioseptif dari reseptor sensorik perifer. Bagian otak lainnya yang terlibat

korteks parietal posterior yang berfungsi memberi smasher perasaan (feeling) dan

selama proses smash batang inti otak terlibat dalam mengatur detak jantung,

pernapasan, dan gairah (Kandel et al., 2000).

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


69
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Disamping itu selain faktor dominan visual ketepatan smash juga

dipengaruhi faktor dominan pengalaman atlet. Peningkatan ketepatan smash

dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya koordinasi tinggi, besar kecilnya sasaran,

visual (ketajaman indera dan pengaturan saraf), jauh dekatnya sasaran, penguasaan

teknik yang benar akan mempunyai sumbangan baik terhadap ketepatan

mengarahkan gerakan, cepat lambatnya gerakan, feeling dan ketelitian, kuat

lemahnya suatu gerakan (Suharno, 1981). Selain itu Sukadiyanto (2005)

menambahkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketepatan smash,

yaitu: tingkat kesulitan, pengalaman atlet, keterampilan sebelumnya, jenis

keterampilan, perasaan, dan kemampuan mengantisipasi gerak. Berdasarkan

penjelasan diatas menunjukkan bahwa ketepatan smash dipengaruhi beberapa

faktor. Faktor yang paling dominan mempengaruhi yaitu visual dan pengalaman

atlet. Hal ini sejalan dengan penelitian Pritama et al., (2014) bahwa subyek

penelitian yang memiliki koordinasi mata-tangan tinggi memiliki kemampuan

smash yang lebih baik. Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa koordinasi

mata (visual) mempengaruhi kemampuan smash yaitu pada ketepatan dalam

melakukan smash. Selain itu, tentunya pengalaman yang dimiliki atlet otomatis

juga mempengaruhi ketepatan smash. Baik pengalaman latihan maupun

pengalaman bertanding. Banyak sedikitnya pengalaman atlet akan mempengaruhi

terhadap ketepatan smash.

6.4 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah tidak mampu mengontrol beberapa hal

dengan sepenuhnya yaitu :

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


70
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

1. Asupan nutrisi subjek setiap harinya.

2. Waktu istirahat subjek setiap hari.

3. Aktivitas lain dari subjek yang memungkinkan dapat mempengaruhi hasil

penelitian.

TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN


IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB 7

PENUTUP

7.1 Kesimpulan

1. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan vertical

jump smash bola voli.

2. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan

ketepatan smash bola voli.

7.2 Saran

1. Untuk melatih kemampuan jumping smash bola voli dapat dilatih dengan

menggunakan latihan high intensity plyometric hurdle hopping.

2. Perlu dilakukan studi pengaruh latihan high intensity plyometric hurdle

hopping terhadap vertical jump, kekuatan otot lengan, dan ketepatan

smash, karena variabel tersebut saling berkaitan. Vertical jump akan

mempengaruhi kekuatan otot lengan dan selanjutnya mempengaruhi

dalam ketepatan smash bola voli.

71
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Widodo. 2013. Pengaruh Latihan Plyometric Standing Jump dan Long
Jump Terhadap Tinggi Loncatan Atlet Bola Voli Putra Usia 15 -17 Tahun
Ganevo SC Yogyakarta. Skripsi. FIK: Universitas Negeri Yogyakarta.

Asdep PTPK, Kemenegpora, 2007. Pelatihan Pelatih Fisik Level I. Jakarta:


Kemenegpora.

Afriwandi, 2009. Ilmu Kedokteran Olahraga. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.


Australian College of Sport and Fitness, 2013; Power Test-Vertical Jump.
Ambarukmi, D.H., Pasumey, P., Sidik, D.Z., Irianto, J.P., Dewanti, R.A., Sunyoto.,
Sulistiyanto, D., Harahap, Y. 2007. Pelatihan Pelatih Fisik Level I. Jakarta:
Kemenpora

Anjaswati, Dian Tri. 2018 “Produktivitas service pemain bola voli putri pada
proliga tahun 2018”. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.

Bompa, T. 1999. Periodization Training For Sport. Human Kinetics. USA.


Bompa, T. [Link] and Methodology of Training. 2nd ed, Toronto Canada:
Kendall/Publishing Company, pp 263-365.
Bompa, T. 2015. Periodization of Training. Human Kinetics. USA.
Briggs, Marc. 2013. Training For Soccer Players. Marlborough: The Crowood
Press Ltd.

Behrens, M., Mau-moeller, A., Mueller, K., Heise, S., Gube, M., Beuster,
N.,…Bruhn, S. (2016). Journal of Sciense and medicine in Sport Plyometric
training improves voluntaryactivation and strength during isometric,
concentric and accentric contractions. Journal of Science and medicine in
sport, 19(2), 170-176. ([Link]

Booth, Mark. Orr, Rhonda. 2016. Effect Of Plyometric Training on Sports


Performance. Strength and Conditioning Journal 38(1):30-37.

BTN PBVSI, 2018. Daftar Atlet Pelatnas Timnas Voli Putra-Putri Indonesia.
[Link]
putri-indonesia-untuk-asian-games-2018 diakses 2 juli 2019.

Chu. Donal A., Myer, Gregory D. 2013. Plyometrics. Human Kinetics. United
States.

72
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Cahyadinata, I. 2011. Skripsi “Pengaruh Latihan Pliometrik depth jumps, two-foot


ankle hop dan neuromuscular electrical stimulation (NMES) terhadap
peningkatan kekuatan otot Quadrisep Femoris pada atlit bola voli UMS”.
Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 1999. Petunjuk Tes Keterampilan Bola Voli.
Jakarta: Pusat Kesegaran Jasmani.
Edell, D., 2009. High Intensity. Retrieved Februari, 23, 2019 From
[Link] room/high intensity.

Firmansyah, Awang. 2017. “ Perbandingan latihan pliometric rope jumping dengan


perbedaan work interval 10, 20, 30 detik terhadap kecepatan dan
kelincahan”. Tesis. Surabaya : Universitas Airlangga Surabaya.

FIVB, 2015. [Link]


[Link] diakses pada tanggal 28 januari 2019.

FIVB, 2018. Kejuaraan Dunia Bola Voli Putra.


[Link]
dunia-voli-putra-2018-di-bulgaria-italia. Diakses pada tanggal 5 juli 2019.

Fauzi, 2011. Penyusunan Battery Test Olahraga Bola Voli. FIK, Universitas Negeri
Yogyakarta.

Faigenbaum, A. D., Kraemer, W. J., Blimkie, C. J., Jeffreys, I., Micheli, L. J., Nitka,
M., & Rowland, T. W. (2009). Youth resistance training: updated position
statement paper from the national strength and conditioning association.
The Journal of Strength & Conditioning Research, 23, S60-S79.
Gabbett, T. Georgieff B., 2007. Physiological and anthropometric characteristics
of Australian junior national, state, and novice volleyball players. J
Strength Cond Res. 2007 Aug;21(3):902-8.

Harmandeep, Singh. Kumar Satinder, Rathi Amita and Sherawat Anupriya., 2015.
“Effects of Six-Week Plyometrics on Vertical Jumping Ability of Volleyball
Players” Department of Physical Education, Guru Nanak Dev University,
Amritsar, Punjab, India. Research Journal of Physical Education Sciences.
ISSN 2320– 9011. Vol. 3(4), 1-4, April (2015).

Hrzenjak, Miroslav. Nebojsa Trajkovic,Tomislav Kristicevic., 2016. Effects of


plyometric training on selected kinematic parameters in female volleyball
players. Sport Science 9 (2016) Suppl 2: 7- 1.

Hidayat, T., Saichudin, S., & Kinanti, R. G. (2017). Pengaruh Latihan Plyometric
Depth Jump dan Jump To Box Terhadap Power Otot Tungkai pada Pemain

73
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Ekstrakurikuler Bolavoli SMK Teknologi Nasional Malang. Jurnal Sport


Science, 7(1), 66-73.

Hidayat, Syarif. 2014. Pelatihan Olahraga Teori dan [Link]:


graha Ilmu.

Hapsoro, R.A., 2012. Hubungan Power Otot Tungkai, Kelincahan, dan Power Otot
Lengan Terhadap Ketepatan Smash Semi Pada Atlet Putri Unit Kegiatan
Mahasiswa Bola Voli Unnes Tahun 2012. Skripsi. Universitas Negeri
Semarang.

Haff, G Gregory., Triplett, N Travis. 2016. Essential Strength Training and


Conditioning. Human Kinetics. US.

Irianto, Djoko Pekik. (2004). Pedoman Praktis Berolahraga. Yogyakarta: Andi


Offset.

Irwansyah, Riza. 2012. “Pengaruh Latihan Plyometric terhadap tinggi lompatan


smash dan ketepatan smash atlet bulutangkis Usia 13-17 Tahun”. Skripsi.
Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.

Johnson, B.A., Salzberg, C.L., Stevenson, D.A. 2011. A systematic review:


Plyometric training programs for young children. Journal of Strength and
Conditioning Research, 25(9): 2623-2633.

Kurniawan, F. Mylsidayu, A., 2015. Ilmu kepelatihan Dasar Bandung: Alfabeta

Kraemer, W.J. & Knuttgen, H.G., 2003. Strength training basics. Physician &
Sports Medicine, 31(8), 39-45.

Kenny, B. & Gregory, C., 2006. Volleyball steps to success. United State of
America: Human Kinetic. Inc.

Kalfi, Rizang. 2013. “Pengaruh latihan plyometric hurdle hooping dan depth jump
terhadap peningkatan vertical jump atlet bola voli klub Jibs Kids Bantul”.
Skripsi. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.

Kandel, Eric R. Schwartz, James H. Jessell, Thomas M., 2000. Principles of Neural
Science. 4/e. 318. United States of America. Inc.

Lakshmikrishnan, R. Silvakumar, K., 2013. Effect Of Weight Training And


Plyometric Training On Strength Endurance And Leg Strength Endurance
International Journal of Healt, Physical Endurance and Computer Science
in Sport. Vol. 11. No. 1. pp. 152-153.

Lovitt, Michelle dan John Speraw. 2004. Exercise For Your Muscle Type: The Smart
Way to Get Fit. New Jersey: Basic Health Publications, Inc.
74
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Listiyadi, Jeffry. 2014. “Alat pengukur tinggi lompatan seseorang dengan


sensor Ultrasonik Berbasis Mikrokontroler Atmega16”. Sriwijaya:
Politeknik Negeri Sriwijaya.

Lameshow S, 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan, Gajah Mada


University Press, Yogyakarta.

Lamusu, A. 2011. Aplikasi Cabang Olahraga Permainan Sepak Takraw di Provinsi


Gorontalo. Jurnal Health & Sport, 2 (2):149-155.

Maksum A, 2012. Metodologi Penelitian dalam olahraga, Unesa University Press,


Surabaya.

Mc Cleton, Lakeysha.,dkk. 2008. The effect of short-term VertiMax vs Dept jump


Training On Vertical Jump Performance. Journal of Strenght and
Conditional Research 22.2: p 321(5).

Milner, Clare E., 2008: Functional Anatomy For Sport And Exercise, Published in
the USA and Canada.

Munawwarah, Ahmad. 2017. Kejuaraan terbuka piala Rektor UMI.


[Link]
voli-umi-juara-piala-rektor. Diakses 21 Juni 2019.

Notriya, Suwarda Gadis. 2018. Pengaruh Latihan Memukul Bola digantung


Terhadap Ketepatan Smash Bola Voli Putri di SMA Paramarta 1 Seputih
Banyak Lampung Tengah. Skripsi. FKIP. Universitas Lampung.

Nagarajan, S. Damodharan, C. Praven, A. 2013. Effect of aerobic circuit training


and parcours Training on Selected Physiological Variables Among college
Men Student, Journal Internasional, Vol. 11, 1 PP 149-151.
Nilamsari, Icut Hetty. 2017. Pengaruh Kekuatan Otot Lengan dan Daya Ledak Otot
Kaki dengan Ketepatan Smashpada Ekstrakurikuler Bola Voli Putri SMAN
1 Kenduruan Kabupaten Tuban. Skripsi. FKIP: Universitas Nusantara PGRI
Kediri.
Ostojic, SM. Stojanovic M, Ahmetovi Z. 2010. Vertical Jump, Retrieved, Februari,
24, 2019. From [Link] jump.

Putra, Ardhana Purnama. 2015. Peningkatan Kemampuan Akurasi Smash Bola


Voli dengan Metode Target Games Peserta didik Kelas VII SMP Negeri 4
Kalasan Sleman. Skripsi. FIK: Universitas Negeri Yogyakarta.

Putra, Donny Belliyan. 2018 “pengaruh latihan plyometric terhadap peningkatan


kemampuan smash pemain bola voli SMA Negeri 1Tanjung Jabung Timur”.
Jambi : Universitas Jambi.
75
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Pamungkas, Kejora Puteri., 2016. Pengaruh Penambahan Electrical


Myostimulation (EMS) dan Latihan Hurdle Hops Terhadap Tinggi
Lompatan Pada Pemain Bola Voli. Surakarta. Universitas Muhammadiyah
Surakarta.

Pujiarti, S.A. 2015. Pengaruh Latihan Hurdle Hops dalam Peningkatan Daya
Ledak Otot Tungkai Pesilat Remaja IPSI Garuda Sakti Pekalongan. Skripsi.
FIK. Universitas Negeri Semarang.

PBVSI. 2005. Peraturan Permainan Bola voli. Senayan: Jakarta.

Pratiknya, 2001. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan,


ed. I, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Pritama, M.A., Sugiharto, Rahayu, S. 2014. Pengaruh Metode Latihan Smash dan
Koordinasi Mata Tangan Dengan Menggunakan Umpan Langsung San
Tak Langsung Umpan Pada Bulutangkis. Journal of Physical Education
And Sport, 3(1): 46-50.

Rao, N Rama Chandra Raoand Dr. RVLN Ratnakara. 2016. Specific influence of
selected plyometric training exercises on jump serve among inter collegiate
men volleyball players. International Journal of Physical Education, Sports
and Health 2016; 3(6): 143-147.

Rudiyanto, Musyafari Waluyo, Sugiharto. 2012. Hubungan Berat Badan Tinggi


Badan dan Panjang Tungkai Dengan Kelincahan. Journal of Sport Sciences
and Fitnes. JSSF 1(2) (2012). FIK, Universitas Negeri Semarang. Retrieved,
Februari, 23, 2019. From [Link]

Rogers, R., 2008; Look Before You Jump!, Retrieved Februari, 16, 2019 From
[Link]

Radcliffe J.C., dan Farentinos R.C. 1985. Plyometrics Explosive Power Training
[Link], Illionis : Human Kinetics Published, [Link]. 1-5, 15, 50-
52.

Silvia. 2015. Pengukuran Antropometri. Https//[Link]/pengukuran-


antropometri/. Diakses pada 7 September 2019.

Sukadiyanto, 2010. Pengantar Teori dan Metodelogi Melatih Fisik. Bandung: CV


Lubuk Agung . Yogyakarta.

Sukadiyanto, 2011. Pengantar Teori dan Metodelogi Melatih [Link]: CV


Lubuk Agung . Yogyakarta.

76
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Sukadiyanto, 2005. Pengantar Teori dan Metodelogi Melatih [Link]: CV


Lubuk Agung . Yogyakarta.

Sajoto, M. 1998. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dalam


Olahraga, Semarang: Dahara Prize.

Suharjana, F. 2013. Perbedaan Pengaruh Hasil Latihan Peregangan Statis


dan Dinamis Terhadap Kelentukan Togok menurut jenis kelamin anak kelas
3 dan 4 Sekolah Dasar. Skripsi. Yogyakarta : Jurusan Pendidikan Olahraga
UNY.

Suharjana. (2008). Pendidikan Kebugaran Jasmani. Pedoman Kuliah. Yogyakarta.


FIK UNY.

Suharno, 1981. Metodik Melatih Permainan Bola volley. Yogyakarta.

Suharno, 1993. Metodologi Pelatihan Bola Voli. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta


Sudjarwo, 1995. Ilmu Kepelatihan Surakarta: UNS Perss.
Shankar, R., Rajpal, H., Arora, M., 2008; Effect Of High Intensity And Low Intensity
Plyometric on Vertical Jump Height And Maximum Voluntary Isometric
Contraction in Football Players, Retrieved Februari, 16, 2019 From
[Link]

Syahputra,Irfan. (2014) [Link]


[Link] diakses pada tanggal 29 januari 2019.

Sudarmanto, E., Supriyadi, A.P., Hakiki, M.I. 2018. Journal of Soprt Science and
Education (JOSSAE), 3(2): 60-68.

Sugiharto. 2012. Fisioneurohormonal Pada Stresor Olahraga. Jurnal Sains


Psikologi, 2 (2): 54-66.

Susilawati, N. 2018. Pengaruh Latihan plyometric Hurdle Hopping Terhadap


Kemampan Daya Ledak Otot Tungkai. Jurnal Pendidikan Jasmani dan
Olahraga, 17(1): 29-34.

Swanik, K.A., Lephart, S.M., Swanik, C.B., Lephart, S.P., Stone, D.A., Fu, F.H.
2002. The effects of shoulder plyometric training on proprioception and
selected muscle performance characteristics. Journal of Shoulder Elbow
Surgery, 11(6): 579-586.

Toit, S.D., 2009; Practical Guidlines For The Warm-Up And Cool Down In Rugby,
Retrieved Februari, 16, 2019 From
[Link]
up%20and%[Link].

77
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Vassil, Karin and Boris Bazanovk., 2012.“The effect of plyometric training program
on young volleyball players in their usual training Period” Journal of
Human Sport and Exercise. January 2012. Institute of Health Sciences and
Sports, Tallinn University Estonia.

Voigt, H.F., & Vetter, K. (2003). The value of strength‐diagnostic for the structure
of jump training in volleyball. European Journal of Sport Science, 3(3), 1‐
10.
Wibowo, Setyo Dian. 2018. Profil kondisi fisik dan program latihan bolavoli
pantai putra smanor Sidoarjo.
[Link]
olahraga/article/view/25340 Vol 1 no 3. Diakses pada tanggal 29 januari
2019.

Widyasari, Galih. 2016. Pengaruh Pliometric High Intensity Terhadap Peningkatan


Power Otot Tungkai Pada Laki-Laki Dewasa Muda Di Unit Kegiatan
Mahasiswa Basket Universitas Airlangga, Surabaya.

Wibintoro, G.N., 2009; Perbedaan Pengaruh Latihan Pliometrik Dengan Istirahat


1 : 5 dan Istirahat 1 : 10 Terhadap Peningkatan Power Otot Tungkai Pada
Pemain Putri Usia 10-14 Tahun Club Bola voli Vita Surakarta. Skripsi.
Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Hal 12 – 17.
Widana, I.K.S., Dantes, N. Marhaeni, A.A.I.N. 2013. Pengaruh Latihan Plyometric
dan Fleksibilitas Togok terhadap Prestasi Lompat Jauh Pada Siswa Kelas
VII SMP Negeri 5 Negara. Jurnal Pendidikan Dasar, (3).
Winarno, 2011. Metodologi Penelitian Dalam Pendidikan Jasmani, Media
Cakrawala Utama Press, Malang.
Yunus, Muhammad. 1992. Olahraga Pilihan Bola voli. Jakarta: Depdikbud
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Zainuddin, M. 2014. Metode Penelitian. Surabaya: Lemlit Unair.

78
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Lampiran 1:

PENJELASAN UNTUK MENDAPATKAN PERSETUJUAN

(Information for Consent)

Penjelasan dan informasi yang diberikan antara lain:

1. Penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh

latihan high intensity plyometric hurdle hopping terhadap peningkatan

vertical jump dan ketepatan smash atlet bola voli.

2. Penelitian ini dilakukan pada subyek penelitian yaitu atlet laki-laki yang

berstatus sebagai atlet bola voli klub pertamina makassar junior-senior

dengan rentang umur 17-28 tahun yang sehat memiliki indeks massa tubuh

normal (18,5-22,9 kg/m2) dan mampu melakukan aktivitas fisik intensitas

tinggi dengan melakukan pukulan smash bola voli.

3. Subjek diikutsertakan karena subjek dapat mengetahui pentingnya latihan

untuk meningkatkan vertical jump dan ketepatan smash yang mendukung

dalam permainan bola voli dan mendapatkan berbagai macam informasi

tentang metode latihan, salah satunya dengan latihan plyometric hurdle

hopping.

4. Subjek diukur tinggi badan menggunakan microtoise, berat badan diukur

menggunakan timbangan dalam satuan kilo gram, vertical jump diukur

menggunakan papan skala dalam satuan centimeter dan ketepatan smash

bola voli diukur dengan menggunakan tes kemampuan smash oleh (Kenny

and Gregory, 2006) dalam (Fauzi, 2011).

5. Subjek diberi latihan sebanyak 12 kali pertemuan.

79
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

6. Untuk menghindari terjadinya risiko cedera, selama pengukuran dan latihan

berlangsung akan didampingi oleh tenaga medis dan fisioterapi.

7. Subjek mungkin akan merasakan kelelahan, kram otot, dan cedera jika tidak

melakukan pemanasan dan peregangan dengan baik, subjek dapat langsung

diperiksa oleh tenaga fisioterapi dan peneliti sepenuhnya bertanggung

jawab atas semua biaya yang akan dibebankan.

8. Seluruh pengukuran dan pelaksanaan latihan akan dilakukan oleh ahli dan

pelatih pada bidang olahraga tersebut.

9. Penelitian ini bersifat bebas dan tanpa paksaan, subjek bebas mengundurkan

diri sewaktu-waktu sebagai sampel dari penelitian ini jika merasa dirugikan

tanpa adanya sanksi yang memberatkan.

10. Jika terdapat insiden dalam pengambilan data, peneliti memberikan

kompensasi sebesar kerugian yang diderita subjek.

11. Untuk melindungi subjek penelitian dari risiko mendapatkan perlakuan

diskriminatif yang tidak diinginkan oleh pihak manapun, semua catatan,

baik nama dan alamat subjek yang bersifat pribadi dirahasiakan

sepenuhnya.

12. Subjek mendapat uang transpor dan cenderamata setelah kegiatan penelitian

berakhir yaitu setelah 12 kali pertemuan.

13. Apabila terdapat sesuatu yang ingin ditanyakan setelah penjelasan ini,

silahkan menghubungi peneliti melalui telepon: 082349134478.

Surabaya, .......................2019

Hormat saya,
Pemberi Penjelasan Penerima Penjelasan

80
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(Herwin) (.................................)

Lampiran 2:

SURAT PERMOHONAN PENGISIAN (Informed for Consent)

Lampiran : 1 (satu) Pernyataan Persetujuan


Perihal : Pemberitahuan Informed for Consent
Kepada, Yth:
Atlet Bola voli Klub Pertamina
Di Makassar
Dengan hormat,
Dengan ini menyampaikan bahwa, saya:
Nama : Herwin [Link] [Link]
Pendidikan : Peserta Program Pascasarjana (S2) Ilmu Kesehatan
Olahraga, Universitas Airlangga Surabaya
Judul Penelitian : pengaruh latihan high intensity plyometric hurdle
hopping terhadap peningkatan vertical jump dan
ketepatan smash atlet bola voli

Pembimbing : 1. Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., [Link], AIFO.


2. Dr. Imam Subadi, dr., [Link].

Dengan ini meminta kesediaan saudara untuk ikut berpartisipasi dalam


penelitian saya. Dimana tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh
latihan high intensity plyometric hurdle hopping terhadap peningkatan vertical
jump dan ketepatan smash atlet bola voli. Penelitian ini bersifat bebas dan tanpa
paksaan, saudara dapat mengundurkan diri sewaktu-waktu sebagai subjek dari
penelitian ini jika merasa dirugikan tanpa ada sanksi apapun yang memberatkan.

Jika saudara setuju silahkan mengisi dan menandatangani informed consent


yang telah terlampir. Atas partisipasi dan kerjasama saudara, saya ucapkan banyak
terima kasih.

Surabaya, ......................2019

Hormat saya,

81
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Herwin

Lampiran 3:

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN


SEBAGAI SUBJEK PENELITIAN
(Informed Consent)

Yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama :
Tempat, tanggal lahir :
Alamat :
No, Telp/HP :
Dengan ini saya menyatakan bahwa, setelah memperoleh penjelasan
sepenuhnya dan menyadari tujuan, manfaat serta risiko yang mungkin timbul dalam
penelitian yang berjudul:
“Pengaruh latihan high intensity plyometric hurdle hopping terhadap peningkatan
vertical jump dan ketepatan smash atlet bola voli”
Dengan sukarela saya setuju untuk diikutsertakan dan bersedia menjadi
subjek, dengan catatan bila suatu waktu saya merasa dirugikan dalam bentuk
apapun, maka saya akan mengundurkan diri dan membatalkan persetujuan ini tanpa
sanksi apapun dikemudian hari. Seluruh kerugian yang mungkin dapat saya alami
akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari peneliti.
Makassar, ......................2019
Penanggung Jawab Hormat saya,
Penelitian Yang membuat pernyataan

Herwin (.....................................)

Wali Atlet Saksi


82
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

(.....................................) (.....................................)
Lampiran 4:

83
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Lampiran 5
84
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Sertifikat Etik

85
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Lampiran 6
Surat Balasan Ijin Penelitian

86
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
Lampiran 7 :

Data Hasil Penelitian

Kelompok latihan high intensity plyometric hurdle hopping (P1)


No HR PT (cm) Vertical Jump Ketepatan
Nama Usia TD Resting BB TB IMT (cm) Δ Smash Δ
(mmHg) (bpm) R L (kg) (m) (kg/m2) Pre Post Selisih Pre Post Selisih
test test (cm) test test (cm)
1. suk 19 120/70 75 100 10 74 1,81 22,6 79 84 5 21 29 8
1
2. mul 26 120/80 74 99 10 73 1,79 22,8 71 76 5 20 25 5
0
3. zulka 28 120/80 73 98 99 73 1,80 22,5 70 73 3 19 23 4

4. Lao 18 110/70 62 95 96 55 1,71 18,8 66 69 3 18 20 2

5. wan 17 120/70 70 93 94 56 1,74 18,5 59 61 2 16 22 6

6. sah 19 110/70 67 95 94 63 1,70 21,7 58 64 6 15 19 4

7. zulki 21 120/80 73 96 97 72 1,78 22,7 56 60 4 15 20 5

8. fad 17 110/70 69 95 95 61 1,78 19,3 55 59 4 14 21 7

9. ric 17 120/80 72 98 99 71 1,78 22,4 42 45 3 14 19 5

86
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Kelompok latihan lompat dada kombinasi sprint 18 m (P2)

No HR PT (cm) IMT Vertical Ketepatan


Nama Usia TD Resting BB TB (kg/m2) Jump (cm) Δ Smash Δ
(mmHg) (bpm) R L (kg) (m) Pre Post Selisih Pre Post Selisih
test test (cm) test test (cm)
1. waw 26 120/80 76 93 94 72 1,78 22,7 68 70 2 18 20 2

2. irs 19 120/80 77 100 100 77 1,84 22,7 65 68 3 16 19 3

3. faf 23 110/70 75 97 98 61 1,74 20,1 60 61 1 16 18 2

4. fajr 17 120/80 69 96 96 61 1,73 20,4 58 60 2 15 16 1

5. risw 17 110/80 74 90 91 55 1,72 18,6 57 60 3 15 17 2

6. andr 17 110/70 77 89 90 59 1,66 21,4 57 58 1 14 15 1

7. rick 17 110/80 70 99 100 72 1,78 22,7 55 56 1 14 16 2

8. lut 19 110/80 78 88 89 55 1,71 18,8 54 53 -1 14 13 -1

9. ast 18 120/80 79 85 85 59 1,66 21,4 52 54 2 13 15 2

87
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Lampiran 8:

Hasil Perhitungan Statistik

Descriptives
95% Confidence Interval for Mean

N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum

Usia plyometric hurdle


9 20,22 4,086 1,362 17,08 23,36 17 28
hopping

lompat dada sprint 9 19,22 3,193 1,064 16,77 21,68 17 26

Total 18 19,72 3,594 ,847 17,93 21,51 17 28


Tekanan_darah_sistole plyometric hurdle
9 116,67 5,000 1,667 112,82 120,51 110 120
hopping
lompat dada sprint 9 114,44 5,270 1,757 110,39 118,50 110 120
Total 18 115,56 5,113 1,205 113,01 118,10 110 120
Tekanan_darah_diastole plyometric hurdle
9 74,44 5,270 1,757 70,39 78,50 70 80
hopping
lompat dada sprint 9 77,78 4,410 1,470 74,39 81,17 70 80
Total 18 76,11 5,016 1,182 73,62 78,61 70 80
Heart_rate plyometric hurdle
9 70,56 4,096 1,365 67,41 73,70 62 75
hopping
lompat dada sprint 9 75,00 3,464 1,155 72,34 77,66 69 79
Total 18 72,78 4,333 1,021 70,62 74,93 62 79

88
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Panjang_tungkai_kanan plyometric hurdle


9 96,56 2,297 ,766 94,79 98,32 93 100
hopping
lompat dada sprint 9 93,00 5,292 1,764 88,93 97,07 85 100
Total 18 94,78 4,360 1,028 92,61 96,95 85 100
Panjang_tungkai_kiri plyometric hurdle
9 97,22 2,635 ,878 95,20 99,25 94 101
hopping
lompat dada sprint 9 93,67 5,268 1,756 89,62 97,72 85 100
Total 18 95,44 4,435 1,045 93,24 97,65 85 101
Berat_badan plyometric hurdle
9 66,44 7,715 2,572 60,51 72,38 55 74
hopping
lompat dada sprint 9 63,44 8,095 2,698 57,22 69,67 55 77
Total 18 64,94 7,825 1,844 61,05 68,84 55 77
Tinggi_badan plyometric hurdle
9 1,7656 ,03941 ,01314 1,7353 1,7958 1,70 1,81
hopping
lompat dada sprint 9 1,7356 ,05833 ,01944 1,6907 1,7804 1,66 1,84
Total 18 1,7506 ,05070 ,01195 1,7253 1,7758 1,66 1,84
IMT plyometric hurdle
9 21,267 1,8330 ,6110 19,858 22,676 18,5 22,8
hopping
lompat dada sprint 9 20,978 1,6107 ,5369 19,740 22,216 18,6 22,7
Total 18 21,122 1,6805 ,3961 20,287 21,958 18,5 22,8
Vertical_jump_pretest plyometric hurdle
9 61,78 10,952 3,651 53,36 70,20 42 79
hopping
lompat dada sprint 9 58,44 5,175 1,725 54,47 62,42 52 68
Total 18 60,11 8,485 2,000 55,89 64,33 42 79

89
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Vertical_jump_posttest plyometric hurdle


9 65,67 11,380 3,793 56,92 74,41 45 84
hopping
lompat dada sprint 9 60,00 5,809 1,936 55,53 64,47 53 70
Total 18 62,83 9,237 2,177 58,24 67,43 45 84
Ketepatan_smash_pretest plyometric hurdle
9 16,89 2,667 ,889 14,84 18,94 14 21
hopping
lompat dada sprint 9 15,00 1,500 ,500 13,85 16,15 13 18
Total 18 15,94 2,313 ,545 14,79 17,09 13 21
Ketepatan_smash_posttest plyometric hurdle
9 22,00 3,279 1,093 19,48 24,52 19 29
hopping

lompat dada sprint 9 16,56 2,186 ,729 14,88 18,24 13 20

Total 18 19,28 3,893 ,918 17,34 21,21 13 29

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Kelompok Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Usia plyometric hurdle hopping ,284 9 ,035 ,792 9 ,016

lompat dada sprint ,306 9 ,015 ,752 9 ,006


Tekanan_darah_sistole plyometric hurdle hopping ,414 9 ,000 ,617 9 ,000
lompat dada sprint ,356 9 ,002 ,655 9 ,000
Tekanan_darah_diastole plyometric hurdle hopping ,356 9 ,002 ,655 9 ,000
lompat dada sprint ,471 9 ,000 ,536 9 ,000
Heart_rate plyometric hurdle hopping ,193 9 ,200* ,902 9 ,261

90
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

lompat dada sprint ,169 9 ,200* ,894 9 ,221


Panjang_tungkai_kanan plyometric hurdle hopping ,195 9 ,200* ,939 9 ,575
lompat dada sprint ,159 9 ,200* ,945 9 ,641
Panjang_tungkai_kiri plyometric hurdle hopping ,194 9 ,200* ,919 9 ,382
lompat dada sprint ,138 9 ,200* ,942 9 ,599
Berat_badan plyometric hurdle hopping ,278 9 ,043 ,834 9 ,050
lompat dada sprint ,285 9 ,033 ,860 9 ,095
Tinggi_badan plyometric hurdle hopping ,310 9 ,013 ,868 9 ,117
lompat dada sprint ,136 9 ,200* ,948 9 ,668
IMT plyometric hurdle hopping ,287 9 ,031 ,759 9 ,007
lompat dada sprint ,191 9 ,200* ,886 9 ,182
Vertical_jump_pretest plyometric hurdle hopping ,157 9 ,200* ,970 9 ,892
lompat dada sprint ,201 9 ,200* ,924 9 ,429
Vertical_jump_posttest plyometric hurdle hopping ,168 9 ,200* ,977 9 ,944
lompat dada sprint ,209 9 ,200* ,916 9 ,362
Ketepatan_smash_pretest plyometric hurdle hopping ,205 9 ,200* ,897 9 ,236
lompat dada sprint ,192 9 ,200* ,926 9 ,447
Ketepatan_smash_posttest plyometric hurdle hopping ,180 9 ,200* ,863 9 ,104
lompat dada sprint ,156 9 ,200* ,976 9 ,940
Delta_1_selisih_Vetical_jump plyometric hurdle hopping ,203 9 ,200* ,948 9 ,663
lompat dada sprint ,215 9 ,200* ,889 9 ,195
Delta_2_selisih_Ketepatan_s plyometric hurdle hopping ,192 9 ,200* ,965 9 ,850
mash lompat dada sprint ,320 9 ,009 ,810 9 ,026

*. This is a lower bound of the true significance.

91
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

a. Lilliefors Significance Correction

Test of Homogeneity of Variances


Levene Statistic df1 df2 Sig.

Vertical_jump_pretest 4,413 1 16 ,052


Vertical_jump_posttest 3,210 1 16 ,092
Ketepatan_smash_pretest 6,891 1 16 ,018
Ketepatan_smash_posttest ,848 1 16 ,371

Paired Samples Statistics


Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 Kontrol_Vertical_jump_pretest 58,44 9 5,175 1,725

Kontrol_Vertical_jump_posttest 60,00 9 5,809 1,936


Pair 2 Perlakuan_Vertical_jump_pret
61,78 9 10,952 3,651
est
Perlakuan_Vertical_jump_postt
65,67 9 11,380 3,793
est
Pair 3 Kontrol_Ketepatan_smash_pre
15,00 9 1,500 ,500
test
Kontrol_Ketepatan_smash_po
16,56 9 2,186 ,729
sttest
Pair 4 Perlakuan_Ketepatan_smash_
16,89 9 2,667 ,889
pretest

92
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Perlakuan_Ketepatan_smash_
22,00 9 3,279 1,093
posttest

Paired Samples Correlations


N Correlation Sig.

Pair 1 Kontrol_Vertical_jump_pretest
& 9 ,981 ,000
Kontrol_Vertical_jump_posttest
Pair 2 Perlakuan_Vertical_jump_pret
est &
9 ,994 ,000
Perlakuan_Vertical_jump_postt
est
Pair 3 Kontrol_Ketepatan_smash_pre
test &
9 ,877 ,002
Kontrol_Ketepatan_smash_po
sttest
Pair 4 Perlakuan_Ketepatan_smash_
pretest &
9 ,844 ,004
Perlakuan_Ketepatan_smash_
posttest

93
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Paired Samples Test


Paired Differences

95% Confidence Interval

Std. Std. Error of the Difference

Mean Deviation Mean Lower Upper t df Sig. (2-tailed)

Pair 1 Kontrol_Vertical_jump_pretest -
-1,556 1,236 ,412 -2,506 -,605 -3,776 8 ,005
Kontrol_Vertical_jump_posttest
Pair 2 Perlakuan_Vertical_jump_prete
st -
-3,889 1,269 ,423 -4,865 -2,913 -9,191 8 ,000
Perlakuan_Vertical_jump_postt
est

Pair 3 Kontrol_Ketepatan_smash_pret
est -
-1,556 1,130 ,377 -2,424 -,687 -4,128 8 ,003
Kontrol_Ketepatan_smash_pos
ttest
Pair 4 Perlakuan_Ketepatan_smash_
pretest -
-5,111 1,764 ,588 -6,467 -3,755 -8,693 8 ,000
Perlakuan_Ketepatan_smash_
posttest

94
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Group Statistics
Kelompok N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Delta_1_selisih_Vertical_jump plyometric hurdle hopping 9 3,89 1,269 ,423

lompat dada sprint 9 1,56 1,236 ,412


Delta_2_selisih_Ketepatan_sma plyometric hurdle hopping 9 5,11 1,764 ,588
sh lompat dada sprint 9 1,56 1,130 ,377

Independent Samples Test


Levene's Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of

Sig. (2- Mean Std. Error the Difference

F Sig. t df tailed) Difference Difference Lower Upper

Delta_1_selisih_Vertical_jump Equal variances


,050 ,827 3,951 16 ,001 2,333 ,591 1,081 3,585
assumed

95
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Equal variances not


3,951 15,989 ,001 2,333 ,591 1,081 3,585
assumed

Ranks

Kelompok N Mean Rank Sum of Ranks

Delta_2_selisih_Ketepatan_ plyometric hurdle hopping 9 13,61 122,50


smash lompat dada sprint 9 5,39 48,50

Total 18

Test Statisticsa

Delta_2_selisih
_Ketepatan_sm
ash

Mann-Whitney U 3,500
Wilcoxon W 48,500
Z -3,339
Asymp. Sig. (2-tailed) ,001
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,000b

a. Grouping Variable: Kelompok


b. Not corrected for ties.

96
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

97
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
Lampiran 9

Dokumentasi Penelitian

Penjelasan prosedur penelitian

Pengisian Informed Consent

97
Pengukuran tinggi badan dan berat badan

Pengukuran heart rate resting dan tekanan darah

98
Pengukuran Panjang tungkai dan panjang lengan

99
Pemanasan

Vertical Jump Test

100
Accuracy Smash Test

101
Latihan plyometric hurdle hopping

Latihan knee tuck jump kombinasi sprint 18 m

102

Anda mungkin juga menyukai