IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
TESIS
PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE
HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN
KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI
KLUB PERTAMINA MAKASSAR
HERWIN
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN OLAHRAGA
JENJANG MAGISTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
TESIS
PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE
HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN
KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI
KLUB PERTAMINA MAKASSAR
HERWIN
011714553002
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN OLAHRAGA
JENJANG MAGISTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
ii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE
HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN
KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI
KLUB PERTAMINA MAKASSAR
TESIS
Untuk memperoleh Gelar Magister
Dalam Program Studi Ilmu Kesehatan Olahraga
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Oleh:
HERWIN
011714553002
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN OLAHRAGA
JENJANG MAGISTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
iii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
iv
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
v
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Tesis diuji pada:
Tanggal 3 September 2019
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Paulus Liben, dr., MS
Anggota :
1. Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., [Link].
2. Dr. Imam Subadi, dr., [Link].
3. Dr. Sulistiawati, dr., [Link].
4. Dr. Bambang Purwanto, dr., [Link].
vi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulisan tesis berjudul “ Pengaruh Latihan High Intensity
Plyometric Hurdle Hopping Terhadap Peningkatan Vertical Jump dan Ketepatan
Smash Atlet Bola Voli Klub Pertamina Makassar” dapat terselesaikan. Tesis ini
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kesehatan ([Link])
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Terselesaikannya tesis ini tidak lepas dari bantuan dan peran serta dukungan
dari berbagai pihak, untuk itu perkenankan saya menyampaikan terima kasih
sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., [Link]. selaku pembimbing utama dan Dr. Imam
Subadi dr., [Link]., selaku pembimbing, yang dengan penuh kesabaran
memberi masukan, bimbingan, motivasi, dan saran sehingga tesis ini dapat
terselesaikan.
2. Prof. Dr. Paulus Liben, dr., MS., Dr. Bambang Purwanto, dr., [Link]. dan
Dr. Sulistiawati, dr., [Link]., Selaku penguji yang selalu memberikan
masukan, motivasi dan saran sehingga tesis ini dapat terselesaikan.
3. Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp. U(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Prof. Dr. David Sontani Perdanakusuma, dr., [Link], selaku Wakil Dekan 1
Fakultas Kedokteran, yang telah memberikan kesempatan untuk menuntut
ilmu di program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Olahraga.
4. Dr. Bambang Purwanto, dr., [Link]., AIFO, selaku Koordinator
Departemen Faal dan Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., [Link]., selaku Koordinator
vii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Program Studi Ilmu Kesehatan Olahraga yang telah memberikan ijin dalam
penelitian dan memfasilitasi proses pembelajaran.
5. Prof. Dr. H. Eddy Bagus Wasito, dr., MS., [Link](K), selaku Ketua Komite
Etik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang telah memberikan
surat pernyataan kelaikan etik kepada penulis.
6. Bapak dan Ibu Dosen Departemen Ilmu Faal yang telah memberikan bekal
ilmu pengetahuannya dalam proses pembelajaran kepada penulis.
7. Karyawan dan Karyawati Departemen Ilmu Faal dan Program Pascasarjana
Fakultas Kedokteran yang telah banyak membantu dalam bidang
administrasi.
8. Bapak Fachry., selaku ketua pengurus Klub Bola Voli Pertamina Makassar
yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan mengawasi
serta membantu proses penelitian.
9. Bapak Latif, Ibu Marida, Ibu mertua dg. Satia, bapak Khairil Anwar [Link],
Adik Sari, Tiara, Hermawan Latif, istri Yanti, Ibu Dian dan seluruh keluarga
besar saya yang telah memberikan bantuan, perhatian, motivasi dan doa
sehingga penulisan tesis ini dapat terselesaikan.
10. Teman-teman Program Studi Ilmu Kesehatan Olahraga angkatan 2017,
yang telah membantu dan memberikan semangat, motivasi serta saling
memberikan doa terbaik dalam penyelesaian tesis ini.
11. Atlet Klub Bola Voli Pertamina Makassar, yang telah terlibat dan bersedia
untuk menjadi subjek dalam penelitian.
viii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Semoga segala bantuan yang telah bapak/ibu dan saudara berikan kepada
peneliti, mendapat balasan dari Allah SWT. Peneliti berharap tesis ini dapat
memberikan manfaat bagi pembaca.
ix
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
RINGKASAN
PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE
HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN
KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI
KLUB PERTAMINA MAKASSAR
Plyometric merupakan metode latihan untuk mengembangkan kondisi fisik
dengan sasaran utama power tungkai. Plyometric menggunakan pergerakan otot-
otot untuk menahan beban ke atas dan menghasilkan power atau kekuatan eksplosif.
Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam metode latihan untuk
meningkatkan vertical jump salah satunya adalah latihan plyometric . Latihan
plyometric hurdle hopping dengan intensitas sedang lebih efektif dalam
peningkatan vertical jump pada atlet bola voli dari pada plyometric depth jump. Di
sisi lain latihan plyometric meningkatkan power otot tungkai dan kemampuan
smash bola voli. Pengaruh plyometric hurdle hopping high intensity terhadap
peningkatan vertical jump dan ketepatan smash bola voli masih belum jelas.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental lapangan. Rancangan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah randomized pre test-post test control
group design. Penelitian ini terdiri dari 2 kelompok, dengan penggunaan subjek
penelitian 9 orang untuk masing masing kelompok. Besar total subjek penelitian ini
sebanyak 18 orang. Terdiri dari 9 orang pada kelompok latihan high intensity
plyometric hurdle hopping (P1) dan 9 orang pada kelompok kontrol latihan
kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m (P2). Program latihan high intensity
x
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
plyometric hurdle hopping dilaksanakan selama 4 minggu. Setelah diberikan latihan
akan diukur vertical jump dan ketepatan smash bola voli.
Rerata post test vertical jump kelompok perlakuan lebih besar dari kontrol
(65,67±11,38) cm > (60±5,81) cm. Hasil paired t-test menunjukkan bahwa
intervensi high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang
bermakna dalam meningkatkan vertical jump (p < 0,05). Hasil independent t-test
menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna dari intervensi yang diberikan (p
< 0,05). Pada hasil uji statistik ketepatan smash, rerata post test pada kelompok
perlakuan lebih besar dari kontrol (22±3,28) > (16,56±2,19). Hasil paired t-test
menunjukkan bahwa intervensi latihan high intensity plyometric hurdle hopping
memberikan pengaruh yang bermakna pada ketepatan smash (p < 0,05). Hasil mann
whitney u test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna dari
intervensi yang diberikan (p < 0,05).
Kesimpulan pada penelitian ini adalah latihan high intensity plyometric
hurdle hopping meningkatkan vertical jump smash dan meningkatkan ketepatan
smash bola voli.
xi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SUMMARY
THE EFFECT OF EXERCISE ON HIGH INTENSITY PLYOMETRIC
HURDLE HOPPING ON INCREASING VERTICAL JUMP AND
ACCURACY OF SMASH VOLLEYBALL ATHLETES
PERTAMINA CLUB MAKASSAR
Plyometric is a training method to develop physical conditions with the
main target of power leg. Plyometric uses the movement of muscles to hold the load
up and produce explosive power. When this has been developed a variety of various
training methods to improve vertical jump, one of which is plyometric training.
Medium intensity plyometric hurdle hopping exercises are more effective in
increasing vertical jumps in volleyball athletes than in plyometric depth jumps. On
the other hand plyometric training increases leg muscle power and volleyball smash
ability. The effect of plyometric hurdle hopping high intensity on increasing vertical
jump and the accuracy of volleyball smash is still unclear.
This type of research was a field experimental. The design used in this study
was randomized pre-test-posttest control group design. This study consisted of 2
groups, with the use of 9 research subjects for each group. The total size of the
subjects of this study were 18 people. Consisting of 9 people in the high intensity
plyometric hurdle hopping (P1) group and 9 people in the control group combined
chest jump training with an 18 m sprint (P2). The high intensity plyometric hurdle
hopping exercise program was held for 4 weeks. After being given training, vertical
jump would be measured and the accuracy of the volleyball smash.
xii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
The mean post-test vertical jump treatment group was greater than the
controls (65,67 ± 11,38) cm > (60 ± 5,81) cm. The paired t-test results showed that
the intervention of high intensity plyometric hurdle hopping had a significant effect
in increasing vertical jump (p <0.05). The results of the independent t-test showed
that there were significant differences from the interventions given (p <0.05). In the
smash accuracy statistical test results, the average post-test in the treatment group
was greater than the control (22 ± 3.28)> (16.56 ± 2.19). The paired t-test results
showed that the intervention intervention of high intensity plyometric hurdle
hopping had a significant effect on the accuracy of the smash (p <0.05). The results
of the mann whitney u test showed that there were significant differences from the
interventions provided (p <0.05).
The conclusion of this research was the high intensity plyometric hurdle
hopping exercise increases vertical jump smash and improves the accuracy of
volleyball smash.
xiii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
ABSTRAK
PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY PLYOMETRIC HURDLE
HOPPING TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP DAN
KETEPATAN SMASH ATLET BOLA VOLI
KLUB PERTAMINA MAKASSAR
Plyometric hurdle hopping merupakan metode latihan untuk
mengembangkan power otot tungkai.. Jenis penelitian yang dilakukan adalah
eksperimental lapangan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
randomized pre test-post test control group design. Subjek penelitian ada 18 orang
dibagi dalam kelompok perlakuan dan kontrol Intervensi latihan high intensity
plyometric hurdle hopping diberikan pada kelompok perlakuan, sedangkan latihan
kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m diberikan pada kelompok kontrol
selama 4 minggu. Pengambilan data menggunakan instrumen vertical jump test dan
ketepatan smash. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa intervensi high
intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang bermakna dalam
meningkatkan vertical jump dan ketepatan smash (p < 0,05). Hasil independent t-
test menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap hasil vertical jump dan
ketepatan smash (p < 0,05). Kesimpulan pada penelitian ini adalah latihan high
intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan vertical jump smash dan
ketepatan smash pemain bolavoli.
Kata kunci: plyometric hurdle hopping, vertical jump, ketepatan smash.
xiv
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
ABSTRACT
THE EFFECT OF EXERCISE ON HIGH INTENSITY PLYOMETRIC
HURDLE HOPPING ON INCREASING VERTICAL JUMP AND
ACCURACY OF SMASH VOLLEYBALL ATHLETES
PERTAMINA CLUB MAKASSAR
Plyometric hurdle hopping is a training method for developing leg muscle
power. The type of research conducted was experimental field. The design used in
this study was randomized to pre-post test control group design. The research
subjects were 18 people divided into treatment and control groups. Intervention
exercise high intensity plyometric hurdle hopping was given to the treatment group,
while chest jump combination exercises with 18 m sprint were given to the control
group for 4 weeks. Data retrieval uses the vertical jump test instrument and the
accuracy of the smash. The results obtained showed that the intervention of high
intensity plyometric hurdle hopping had a significant influence in increased vertical
jump and smash accuracy (p <0.05). The results of the independent t-test showed
significant differences in the results of vertical jump and smash accuracy (p <0.05).
The conclusion of this study was exercise high intensity plyometric hurdle hopping
to increase vertical jump smash and the accuracy of volleyball player smasher.
Keywords: plyometric hurdle hopping, vertical jump, smash accuracy
xv
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul...................................................................... .......................... i
Halaman Sampul Dalam ...................................................... ......................... ii
Halaman Prasyarat Gelar...................................................... ........................ iii
Halaman Pengesahan ........................................................... ........................ iv
Halaman Pernyataan Orisinalitas ......................................... ......................... v
Halaman Panitia Penguji ...................................................... ........................ vi
Halaman Ucapan Terima Kasih ........................................... ....................... vii
Ringkasan ............................................................................. ......................... x
Summary .............................................................................. ....................... xii
Abstrak ................................................................................. ...................... xiv
Abstract ................................................................................ ....................... xv
Daftar Isi............................................................................... ...................... xvi
Daftar Tabel ......................................................................... ...................... xxi
Daftar Gambar ...................................................................... ..................... xxii
Daftar Lampiran ................................................................... .................... xxiii
Daftar Singkatan................................................................... .................... xxiv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.I Latar Belakang ................................................................ ......................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................... ......................... 6
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................... ......................... 6
xvi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
1.3.1 Tujuan umum .............................................................. ......................... 6
1.3.2 Tujuan khusus ............................................................. ......................... 6
1.4 Manfaat Penelitian ......................................................... ......................... 6
1.4.1 Manfaat secara teoritis ................................................ ......................... 6
1.4.2 Manfaat praktis............................................................ ......................... 7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Latihan............................................................................ ......................... 8
2.1.1 Pengertian latihan ........................................................ ......................... 8
2.1.2 Prinsip-prinsip latihan ................................................. ....................... 11
2.2 Latihan Plyometric ......................................................... ....................... 15
2.2.1 Pengertian latihan plyometric...................................... ....................... 15
2.2.2 Prinsip-prinsip latihan plyometric ............................... ....................... 17
2.2.3 Aspek-aspek latihan plyometric .................................. ....................... 18
2.2.4 Bentuk-bentuk latihan plyometric ............................... ....................... 20
2.2.5 Biomekanika latihan plyometric dan otot-otot yang terlibat ............... 22
2.2.6 Model sistem neuromuskular latihan plyometric ........ ....................... 24
2.2.7 Sistem energi latihan plyometric ................................. ....................... 27
2.3 Plyometric Hurdle hopping ............................................ ....................... 29
2.3.1 Pengertian Hurdle hopping ......................................... ....................... 29
2.3.2 Cara atau metode latihan plyometric hurdle hopping . ....................... 29
2.4 Vertical Jump ................................................................. ....................... 30
2.4.1 Pengertian Vertical jump ............................................. ....................... 30
2.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi vertical jump ....... ....................... 32
xvii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2.5 Bola Voli ........................................................................ ....................... 32
2.5.1 Pengertian Bola voli .................................................... ....................... 32
2.5.2 Teknik dasar Bola voli ................................................ ....................... 34
2.5.3 Smash Bola voli .......................................................... ....................... 34
2.6 Ketepatan........................................................................ ....................... 35
2.6.1 Pengertian Ketepatan .................................................. ....................... 35
2.6.2 Ketepatan Smash Bola voli ......................................... ....................... 36
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konseptual ..................................................... ....................... 38
3.2 Penjelasan Kerangka Konseptual ................................... ....................... 39
3.3 Hipotesis Penelitian........................................................ ....................... 40
BAB 4 METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian ............................................................... ....................... 41
4.2 Populasi dan Sampel Penelitian ..................................... ....................... 42
4.2.1 Populasi ....................................................................... ....................... 42
4.2.2 Besar sampel ............................................................... ....................... 42
4.2.3 Teknik pengelompokkan sampel ................................ ....................... 44
4.3 Variabel Penelitian ......................................................... ....................... 44
4.3.1 Variabel bebas ............................................................. ....................... 44
4.3.2 Variabel terikat ............................................................ ....................... 44
4.3.3 Variabel kendali .......................................................... ....................... 44
4.3.4 Variabel moderator...................................................... ....................... 44
xviii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
4.4 Defenisi Operasional Penelitian ..................................... ....................... 45
4.4.1 Latihan plyometric hurdle hopping ............................. ....................... 45
4.4.2 Latihan lompat dada kombinasi sprint 18 m ............... ....................... 45
4.4.3 Vertical jump ............................................................... ....................... 45
4.4.4 Ketepatan smash bola voli .......................................... ....................... 46
4.5 Bahan dan Alat Penelitian .............................................. ....................... 46
4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................... ....................... 47
4.7 Prosedur Pengambilan Data ........................................... ....................... 47
4.7.1 Persiapan penelitian .................................................... ....................... 48
4.7.2 Prosedur pelaksanaan penelitian ................................. ....................... 49
4.7.3 Pelaksanaan pengambilan data .................................... ....................... 49
4.7.4 Prosedur pengukuran vertical jump ............................ ....................... 50
4.7.5 Prosedur pengukuran ketepatan smash bola voli ........ ....................... 51
4.8 Penentuan Dosis Awal ................................................... ....................... 53
4.9 Kerangka Operasional Penelitian ................................... ....................... 54
4.10 Analisa Data ................................................................. ....................... 57
BAB 5 HASIL PENELITIAN
5.1 Karakteristik Subjek Penelitian ...................................... ....................... 58
5.2 Vertical Jump ................................................................. ....................... 59
5.3 Ketepatan Smash ............................................................ ....................... 60
5.4 Hasil Uji Hipotesis Vertical Jump ................................. ....................... 60
5.5 Hasil Uji Hipotesis Ketepatan Smash ............................ ....................... 61
xix
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB 6 PEMBAHASAN
6.1 Pembahasan Karakteristik Subjek Penelitian ................. ....................... 63
6.2 Pengaruh Latihan High Intensity Plyometric Hurdle Hopping
Terhadap Peningkatan Vertical Jump ............................ ....................... 64
6.3 Pengaruh Latihan High Intensity Plyometric Hurdle Hopping
Terhadap Peningkatan Ketepatan Smash ....................... ....................... 67
6.4 Keterbatasan Penelitian .................................................. ....................... 69
BAB 7 PENUTUP
7.1 Kesimpulan .................................................................... ....................... 71
7.2 Saran ............................................................................... ....................... 71
DAFTAR PUSTAKA ......................................................... ....................... 72
xx
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Stretch shortening cycle (Rogers, 2008) .............. ....................... 27
Tabel 4.1 Penilaian loncat tegak (Briggs, 2013) ................. ....................... 51
Tabel 4.2 Nilai butir-butir tes ketepatan smash (Putra, 2015) ..................... 53
Tabel 4.3 Norma tes ketepatan smash (Putra, 2015) ............ ....................... 53
Tabel 4.4 Program latihan high intensity plyometric hurdle hopping ......... 55
Tabel 4.5 Program latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m ...... 56
Tabel 5.1 Rerata dan simpangan baku data variabel kendali ....................... 58
Tabel 5.2 Rerata dan simpangan baku vertical jump ........... ....................... 59
Tabel 5.3 Rerata dan simpangan baku ketepatan smash ...... ....................... 60
Tabel 5.4 Pairet t-test dan independent t-test vertical jump ....................... 60
Tabel 5.5 Pairet t-test dan independent t-test ketepatan smash ................... 62
xxi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Double leg vertical power jump ............................................... 20
Gambar 2.2 Single leg vertical power jump ................................................. 21
Gambar 2.3 Single leg tuck jump ................................................................. 21
Gambar 2.4 Muscle of hip joint .................................................................... 23
Gambar 2.5 Muscle of knee joint.................................................................. 24
Gambar 2.6 Stretch reflex (Rogers, 2008) ................................................... 26
Gambar 2.7 Hurdle hopping ........................................................................ 30
Gambar 2.8 Gerakan vertical jump .............................................................. 32
Gambar 2.9 Rangkaian Pelaksanaan smash (Yunus 1992) .......................... 35
Gambar 3.1 Kerangka konseptual penelitian ............................................... 38
Gambar 4.1 Desain penelitian ...................................................................... 41
Gambar 4.2 Sasaran tes ketepatan teknik smash .......................................... 52
Gambar 4.9 Kerangka operasional penelitian .............................................. 54
Gambar 5.1 Diagram batang rerata pre-test, post-test vertical jump .......... 61
Gambar 5.2 Diagram batang rerata pre-test, post-test ketepatan smash .... 62
xxii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Information for consent ........................................................... 79
Lampiran 2. Surat permohonan pengisian (Informed for consent) .............. 81
Lampiran 3. Informed consent. .................................................................... 82
Lampiran 4. Form pemeriksaan vital sign dan antropometri ...................... 83
Lampiran 5. Sertifikat etik .......................................................................... 84
Lampiran 6. Surat balasan ijin penelitian .................................................... 85
Lampiran 7. Data hasil penelitian ............................................................... 86
Lampiran 8. Hasil perhitungan statistik ...................................................... 88
Lampiran 9. Dokumentasi penelitian .......................................................... 97
xxiii
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR SINGKATAN
PP PBVSI : Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia
PBVSI : Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia
BTN PBVSI : Badan Tim Nasional Persatuan Bola Voli Seluruh
Indonesia
FIVB : Federation International Volley Ball
ATP : Adenosin Triphospate
C : Calsium
P : Phosphate
ADP : Adenosin diphospate
CO2 : Carbondioxide
H2O : Hidrogendioxide
cm : Centimeter
kg : Kilogram
set-up : Set Upper
SSC : Stretch Shortening Cycle
IMT : Indeks Massa Tubuh
WHO : World Health Organization
ACSF : Australian College of Sport and Fitnes
m : Meter
mmHg : Milimeter hydrargyrum
bpm : Beats per minute
xxiv
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Permainan bola voli adalah olahraga kompetitif dan rekreasi yang populer
di dunia (Anjaswati, 2018). Di Indonesia permainan bola voli merupakan olahraga
yang banyak digemari oleh masyarakat. Berbagai kejuaraan bola voli baik resmi
maupun tidak resmi banyak diselenggarakan di berbagai tingkatan dan kategori
usia. Berdasarkan Federation International Volley Ball (FIVB) pada Oktober 2015,
prestasi bola voli putri Indonesia saat ini menempati peringkat tiga di kawasan Asia
Tenggara, di bawah Filipina dan Thailand. Di tingkat dunia menempati urutan ke-
73 sedangkan bola voli putra Indonesia di tingkat dunia menempati urutan ke-52
dan urutan ke-4 dikawasan Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi
bola voli putra/putri Indonesia meningkat baik di Asia Tenggara maupun dunia. hal
tersebut berkorelasi kuat dengan pembinaan (Firmansyah, 2017), mulai dari usia
anak-anak hingga dewasa baik di tingkat sekolah maupun di klub-klub bola voli di
seluruh wilayah Indonesia.
Indonesia bukan negara terkuat dalam cabang olahraga bola voli, baik di
level Asia Tenggara, atau bahkan Asia dan dunia (FIVB, 2016). Meskipun sudah
banyak prestasi yang sudah diraih, Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh
Indonesia (PP PBVSI) mengakui jika prestasi cabang olahraga bola voli tetap belum
maksimal. Khususnya klub bola voli pertamina makassar masih menempati urutan
ke-2 setelah kalah dari tim umi makassar pada kejuaraan terbuka piala rektor (UMI)
makassar 2017 (Munawwarah, 2017). Hasil evaluasi pengamatan dari klub bolavoli
Pertamina Makassar menunjukkan bahwa keterampilan smash belum maksimal
1
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
2
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
dalam menghasilkan poin. Faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah pada
kemampuan vertical jump dan ketepatan mengarahkan smash, sehingga perlu
dilakukan pembinaan.
Pembinaan harus dilakukan secara sistematis, berjenjang dan
berkesinambungan. Para ahli kepelatihan di dunia pada umumnya menyatakan
bahwa untuk berprestasi dalam olahraga, membutuhkan pembinaan jangka panjang,
menempuh waktu tak kurang dari 5–12 tahun. Bila pembinaan terlambat di mulai,
prestasi puncak tidak tercapai dengan baik, sehingga masa usia emas untuk
berprestasi akan berlalu (Wibowo, 2018).
Upaya peningkatan pembinaan olahraga melalui latihan merupakan sebuah
kebutuhan yang mutlak untuk dilakukan agar memperoleh peak performance.
Latihan secara kontinyu mampu menjadi cara untuk menunjang prestasi di bidang
olahraga. Ada berbagai macam variasi latihan untuk menunjang performance
tergantung kebutuhan masing masing cabang olahraga. Selain menunjang prestasi,
latihan yang baik mampu meningkatkan kemampuan fisik dan berfungsi
meminimalisasi terjadinya cidera pada olahraga (Firmansyah, 2017). Selain
perlu menguasai berbagai teknik dasar dalam permainan bola voli, seorang pemain
bola voli juga harus melakukan latihan fisik secara konsisten dan bertahap. Pemain
bola voli harus selalu melatih otot-otot tubuh seperti otot lengan, otot kaki, dan otot
perut.
Kondisi fisik merupakan unsur yang penting dan menjadi dasar dalam
pengembangan teknik, taktik, strategi, dan pengembangan mental (Kalfi, 2013).
Menurut Bompa (2015) komponen biomotorik fisik dibagi menjadi lima (1)
kekuatan (2) daya tahan (3) kecepatan (4) koordinasi (5) fleksibilitas. Pada voli
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
3
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
modern sekarang ini pemain membutuhkan daya tahan fisik yang baik, untuk
mengembangkan kecepatan dan daya ledak serta daya tahan kekuatan (Vassil and
Bazanovk, 2012) terutama daya ledak tungkai untuk mencapai ketinggian
maksimum melompat vertikal baik itu smash ataupun block sesuai dengan pendapat
bahwa bola voli adalah permainan yang sangat bergantung pada daya ledak kaki
untuk mencapai ketinggian maksimum melompat (Harmandeep et al., 2015).
Kemampuan melompat vertikal dalam hal ini power otot tungkai sangat
penting untuk sukses dalam prestasi bola voli (Vassil and Bazanovk., 2012)
khususnya dalam melakukan smash/spike tidak hanya harus mampu melompat
tinggi tetapi juga harus mencapai ketinggian dengan cepat sehingga menghasilkan
smash yang keras dan tepat pada sasaran. Untuk itu diperlukan metode latihan
khusus untuk meningkatkan kemampuan melompat vertical/power otot tungkai
atlet/pemain (Harmandeep et al., 2015). Proses pembinaan dalam olahraga tidak
bisa dilakukan secara instan, namun harus melalui proses latihan yang panjang
(Irwansyah, 2012). Olahraga bola voli membutuhkan proses yang cukup lama
untuk memiliki kemampuan melompat vertical yang tinggi. Komponen teknik, fisik
dan karateristik bola voli adalah lompatan, sehingga latihan penguatan otot
penunjang melompat harus diperhatikan untuk mengoptimalkan penampilan atlet
saat pertandingan (Pamungkas, 2016). Power otot tungkai memegang peranan
penting yang sangat berpengaruh terhadap terciptanya suatu lompatan atau vertical
jump hingga dapat melakukan smash dan blocking yang sempurna pada saat
melakukan suatu pertandingan (Cahyadinata, 2011).
Plyometric merupakan metode latihan untuk mengembangkan kondisi fisik
dengan sasaran utama power tungkai. Plyometric menggunakan pergerakan otot-
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
4
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
otot untuk menahan beban ke atas dan menghasilkan power atau kekuatan eksplosif.
Meskipun sangat bermanfaat latihan plyometric rentan terhadap risiko cidera, atau
sakit jika intensitas, volume, dan frekuensi latihan plyometric melebihi
kemampuan peserta (Faigenbaum et al., 2009). Oleh karena itu latihan ini hanya
boleh dilakukan oleh pemain yang sedang dalam kondisi prima dan di bawah
pengawasan profesional. Seorang pemain harus mempunyai tingkat kekuatan fisik,
fleksibilitas, dan propriosepsi yang cukup sebelum memulai latihan plyometric.
Fleksibilitas dibutuhkan untuk mencegah terjadinya cidera, sedangkan propriosepsi
merupakan komponen penting dalam keseimbangan, koordinasi, dan ketangkasan
tubuh, yang juga dibutuhkan untuk melakukan latihan plyometric dengan aman
(Syahputra, 2014).
Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam metode latihan untuk
meningkatkan vertical jump salah satunya adalah latihan plyometric (Pamungkas,
2016). Namun, hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan pelatih dan peneliti
mengenai bentuk plyometric yang lebih efektif untuk peningkatan vertical jump.
Latihan plyometric hurdle hopping dengan intensitas sedang lebih efektif
dalam peningkatan vertical jump pada atlet bola voli dari pada plyometric depth
jump (Kalfi, 2013). Latihan plyometric hurdle hopping juga berpengaruh terhadap
tinggi loncatan pada atlet bola voli (Pamungkas, 2016). Di sisi lain latihan
plyometric meningkatkan power otot tungkai dan kemampuan smash bola voli
(Sitevan, 2012) serta latihan plyometric dengan menggunakan kerucut dan box
memberikan pengaruh pada peningkatan loncatan dan power otot lengan sehingga
memberikan kontribusi pada saat tangan akan smash bola voli (Putra, 2018).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
5
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Jika diperhatikan pada banyak fakta seorang pemain bola voli akan lebih
mudah untuk melakukan smash dengan baik dan tepat jika memiliki lompatan yang
maksimal dan memiliki power otot lengan yang baik. Pendapat dari cabang
olahraga lain dengan menggunakan bentuk plyometric box driil, frog jump,
standing jump mengatakan bahwa latihan plyometric memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap peningkatan lompatan dan ketepatan smash atlet bulutangkis
(Irwansyah, 2012). Latihan plyometric dengan intensitas rendah belum
menunjukkan peningkatan daya ledak/power tungkai yang luar biasa (Vassil and
Bazanovk, 2012). Melompat vertikal dalam bola voli, mempunyai peran penting
sehingga ilmuwan olahraga dan pelatih sedang mencari cara terbaik memperbaiki
metode yang tepat untuk peningkatan vertical jump (Hrzenjak et al., 2016). Semua
penelitian tersebut pelaksanaan ekperimennya yang paling banyak dilakukan adalah
selama enam minggu dengan pemberian latihan tiga kali seminggu.
Berdasarkan pernyataan beberapa peneliti di atas sudah terbukti bahwa
latihan plyometric mempunyai pengaruh terhadap peningkatan vertical jump
khususnya latihan plyometric hurdle hopping intensitas sedang lebih efektif dari
plyometric depth jump. Serta plyometric terbukti memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap peningkatan ketepatan smash atlet bulutangkis. Namun, yang
belum diketahui adalah pengaruh plyometric hurdle hopping high intensity
terhadap peningkatan vertical jump dan ketepatan smash atlet bola voli. Sehingga
timbul pertanyaan bagaimana jika latihan pliometric hurdle hopping di
implikasikan dengan ketepatan smash pada permainan bola voli. Untuk menjawab
pertanyaan tersebut penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut serta mengkaji
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
6
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
lebih dalam lagi mengenai pengaruh plyometric hurdle hopping high intensity
terhadap peningkatan vertical jump dan ketepatan smash bola voli.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah latihan high intensity plyometric hurdle hopping dapat meningkatkan
vertical jump smash atlet bola voli?
2. Apakah latihan high intensity plyometric hurdle hopping dapat meningkatkan
ketepatan smash atlet bola voli?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis pengaruh latihan high intensity plyometric hurdle hopping
terhadap peningkatan vertical jump dan ketepatan smash atlet bola voli.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Membuktikan bahwa latihan high intensity plyometric hurdle hopping
dapat meningkatkan vertical jump smash atlet bola voli.
2. Membuktikan bahwa latihan high intensity plyometric hurdle hopping
dapat meningkatkan ketepatan smash atlet bola voli.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1. Secara Teoritis
a. Agar dapat digunakan sebagai bahan informasi serta kajian penelitian
kedepan. Khususnya bagi para pemerhati peningkatan prestasi bola voli
maupun seprofesi dalam membahas peningkatan vertical jump dan
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
7
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
ketepatan dalam melakukan smash atlet bola voli dengan metode
plyometric.
b. Bahan referensi dalam memberikan materi latihan kepada atlet
dilingkungan tempat latihan.
1.4.2. Secara Praktis
a. Bagi pihak pelatih agar dapat merencanakan program latihan dengan porsi
yang tepat dan menambah pengetahuan tentang bentuk latihan plyometric.
b. Bagi atlet agar dapat meningkatkan power otot tungkai.
c. Bagi peneliti agar dapat mengembangkan teori-teori yang hasilnya
berguna bagi pelatih, atlet, dan pihak-pihak yang terkait dengan prestasi
bola voli.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Latihan
2.1.1 Pengertian latihan
Menurut Martin dalam Nossek yang dikutip dari buku Sukadiyanto (2011)
mengemukakah latihan berasal dari kata training adalah penerapan dari suatu
perencanaan untuk meningkatkan kemampuan berolahraga yang berisikan materi
teori dan praktek, metode, dan aturan pelaksanaan sesuai dengan tujuan dan sasaran
yang akan dicapai.
Latihan adalah serangkaian aktifitas fisik yang terstruktur dan berirama
dengan intensitas tertentu dalam jangka waktu tertentu yang bertujuan untuk
meningkatkan kebugaran jasmani (Afriwandi, 2009). Sedangkan menurut (Hidayat,
2014) latihan adalah semua upaya yang mengakibatkan terjadinya peningkatan
kemampuan dalam pertandingan olahraga. Jadi latihan adalah serangkaian aktifitas
fisik yang terstruktur, sistematis, yang dilakukan secara berulang-ulang dengan
intensitas dan jangka waktu tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan dalam pertandingan olahraga.
Suharjana (2013), mengemukakan latihan yaitu suatu proses sistematis
untuk mengembangkan dan mempertahankan unsur-unsur kebugaran jasmani yang
dilakukan dalam waktu lama, ditingkatkan secara progresif, bebannya individual
dan dilakukan secara terus-menerus. Pada prinsipnya latihan merupakan suatu
proses perubahan kearah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan kualitas fisik,
kemampuan fungsional peralatan tubuh, dan kualitas psikis anak latih.
8
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
9
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Kurniawan (2015) mengemukakan latihan berasal dari kata practice adalah
aktivitas untuk meningkatkan keterampilan (kemahiran) berolahraga dengan
menggunakan berbagai peralatan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan cabang
olahraganya. Artinya, selama dalam kegiatan proses berlatih melatih agar dapat
menguasai keterampilan gerak cabang olahraganya selalu dibantu dengan
menggunakan berbagai peralatan pendukung.
Menurut Bompa (1994) latihan merupakan proses pengulangan yang
sistematis, progresif dan tujuan akhir memperbaiki prestasi olahraga. Kunci utama
dalam memperbaiki prestasi olahraga adalah sistem latihan yang di organisasikan
secara baik. Program latihan harus mengikuti konsep periodisasi, disusun dan
direncanakan secara baik berdasarkan cabang olahraga agar sistem energi atlet
mampu beradaptasi terhadap kekhususan cabang olahraga.
Menurut Bompa (1994) selama melakukan latihan, setiap olahragawan akan
mengalami banyak reaksi pengalaman yang dirasakan secara berulang-ulang,
beberapa diantaranya mungkin dapat diramalkan dengan lebih tepat dibandingkan
dengan lainnya. Bentuk pengumpulan informasi dari proses latihan termasuk
diantaranya yang bersifat faali, biokimia, kejiwaan, sosial dan juga informasi yang
bersifat metodologis. Walau semua informasi ini berbeda, tetapi datang dari sumber
yang sama yaitu olahragawan dan juga yang lainnya dihasilkan oleh proses yang
sama yakni proses latihan. Bompa dalam Suharjana (2008) mengemukakan: bahwa,
tujuan dari latihan salah satunya untuk mencapai dan memperluas perkembangan
fisik secara menyeluruh karena perkembangan fisik pada suatu tingkat yang tinggi
merupakan dasar-dasar latihan.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
10
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Latihan menurut Lakshmikrishnan dan Silvakumar (2013) adalah proses
ilmiah berbasis pedagogis terorganisir, terencana dan sistematis pada kemampuan
dan kesiapan kinerja dengan bertujuan kesempurnaan olahraga dan peningkatan
kinerja dalam konteks kompetisi olahraga. Menurut Nagarajan et al. (2013)
menjelaskan latihan adalah bentuk dasar penyusunan olahragawan melalui proses
yang sistematis, hingga jangka waktu yang panjang dengan didasarkan dan
dilaksanakan pada fakta-fakta ilmiah.
Latihan akan berjalan sesuai dengan tujuan apabila terprogram secara baik
sesuai dengan acuan yang benar. Program latihan tersebut mencakup segala hal
mengenai takaran latihan, frekuensi latihan, waktu latihan, dan prinsip-prinsip
latihan lainnya. Program latihan ini disusun secara sistematis, terukur, dan
disesuaikan dengan tujuan latihan yang dibutuhkan. Latihan fisik memerlukan
waktu yang relatif lama untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Hasil latihan fisik bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh secara instan,
tidak dapat diperoleh dalam satu atau dua minggu. Hasil latihan meningkat secara
progresif, misalnya saja peningkatan kekuatan naik berkisar 1-5 % perminggu.
Besarnya intensitas bergantung pada jenis dan tujuan latihan. Latihan aerobik
menggunakan patokan kenaikan detak jantung seperti yang dikatakan Irianto (2004)
secara umum intensitas latihan kebugaran adalah 60 % - 90 % detak jantung
maksimal dan secara khusus besarnya intensitas latihan bergantung pada tujuan
latihan.
Latihan untuk membakar lemak tubuh menggunakan intensitas 65 % - 75 %
detak jantung maksimal yang dilakukan 20-60 menit setiap latihan dan dilakukan
3-5 kali perminggu (Irianto, 2004). Faktor lain yang tidak boleh dilupakan demi
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
11
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
keberhasilan program latihan adalah keseriusan latihan seseorang, ketertiban
latihan, dan kedisiplinan latihan. Pengawasan dan pendampingan terhadap jalannya
program latihan sangat dibutuhkan.
2.1.2 Prinsip-prinsip Latihan
Adapun prinsip-prinsip latihan yang harus ditaati dan dipahami oleh pelaku
olahraga adalah sebagai berikut (Bompa, 1999) dalam (Firmansyah, 2017):
1) Prinsip beban berlebih (the overload principle)
Prinsip overload adalah prinsip latihan yang paling mendasar dan paling
penting karena tanpa penerapan prinsip overload dalam latihan, tidak mungkin
prestasi atlet akan meningkat. Menurut Asdep PTPK (2007) untuk
meningkatkan kemampuan atlet perlu latihan dengan beban lebih, yakni beban
yang “cukup menantang” atau benar-benar membebani pada wilayah ambang
batas kemampuan atlet. Ditambahkan oleh Sukadiyanto (2011) beban latihan
harus mencapai atau melampaui sedikit diatas ambang rangsang, sebab beban
yang terlalu berat akan mengakibatkan tidak mampu diadaptasi oleh tubuh,
sedangkan beban terlalu ringan tidak terpengaruh terhadap peningkatan fisik
sehingga beban latihan harus terpenuhi. Dalam peningkatan kualitas fisik,
pembebanan harus dilakukan dan disesuaikan dengan tingkat perubahan yang
terjadi pada seorang olahragawan dan berlatih dengan melawan dan mengatasi
beban latihan. Apabila seorang olahragawan telah mampu beradaptasi dengan
beban latihan yang diberikan, maka beban latihan berikut harus ditingkatkan
secara bertahap guna mencapai kualitas fisik yang maksimal dan prestasi.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
12
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2) Prinsip kekhususan (principle of specialization)
Di dalam cabang olahraga yang sama, terkadang kebutuhan latihan juga
berbeda. Contohnya pada olahraga bola voli, posisi setter dengan spiker
memiliki latihan yang berbeda. Pada dasarnya pengaruh yang ditimbulkan
akibat latihan bersifat khusus, sesuai dengan karakteristik kondisi fisik, pola
gerakan dan sistem energi yang digunakan selama latihan. Latihan ditujukan
pada unsur kondisi fisik atau teknik dasar yang dipelajari. Agar latihan dapat
memberikan pengaruh positif, maka latihan yang dilakukan harus bersifat
khusus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai. Kekhususan tersebut
menyangkut sistem energi serta pola gerakan yang sesuai dengan umur, kondisi
fisik maupun nomor/posisi yang akan ditingkatkan. Bentuk latihan yang
dilakukan harus bersifat khusus dan disesuaikan dengan masing-masing
cabang olahraga. Bentuk latihan bisa berupa pola gerakan, jenis kontraksi otot
dan dominasi otot yang bekerja saat latihan harus disesuaikan. Dalam hal ini,
kekhususan latihan yang akan dikembangkan adalah untuk meningkatkan
vertical jump dan ketepatan (accuracy). Program latihan disesuaikan dengan
kebutuhan untuk meningkatkan vertical jump dan ketepatan (accuracy).
3) Prinsip beban bertambah (the principle of progressive resistance)
Untuk meningkatkan beban, tidak dapat dilakukan setiap kali latihan.
Peningkatan beban latihan jangan dilakukan setiap kali latihan, sebaiknya dua
atau tiga kali latihan baru dinaikkan (Suharno, 1993). dengan peningkatan
beban yang teratur, terdapat kemampuan beradaptasi terhadap latihan
sebelumnya sehingga terjadi apa yang dinamakan superkompensasi.
Superkompensasi adalah suatu proses kenaikan kemampuan otot setelah
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
13
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
latihan. Berkaitan dengan pemberian latihan, Sudjarwo (1995) mengemukakan
bahwa pemberian latihan harus dapat dan benar-benar merupakan rangsangan
untuk menimbulkan superkompensasi otot.
Peningkatan beban secara progresif adalah peningkatan beban secara
teratur ditingkatkan secara perlahan-lahan. Dalam proses peningkatan beban,
yang perlu diperhatikan bahwa penambahan beban tidak boleh tergesah-gesah.
Penambahan beban harus menyesuaikan kemampuan atlet dan ditingkatkan
secara bertahap. Penambahan beban yang meningkat dapat diberikan dengan
menambah jumlah pengulangan atau repetisi. Saat meningkatkan beban,
seorang pelatih harus memiliki kecermatan agar beban yang ditambahkan tidak
berlebihan.
4) Prinsip individu (the principle of individuality)
Prinsip ini merupakan salah satu prinsip yang sangat penting diberikan kepada
setiap atlet, meskipun atlet mempunyai kemampuan yang sama. Dalam
merespon beban latihan untuk setiap olahraga tentu berbeda-beda, sehingga
beban latihan bagi setiap orang tidak dapat disamakan antara orang yang satu
dengan yang lainnya. (Sukadiyanto, 2011) faktor yang menyebabkan
perbedaan terhadap kemampuan anak dalam merespon beban latihan,
diantaranya adalah faktor keturunan, kematangan gizi, waktu istirahat dan
tidur, kebugaran, lingkungan, sakit cidera, dan motivasi. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa proses latihan harus direncanakan dan disesuaikan dengan
setiap individu, agar mencapai hasil yang baik.
Individualisasi adalah satu dari persyaratan utama latihan sepanjang
masa. Persyaratan individualisasi yang harus dipertimbangkan oleh pelatih
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
14
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
adalah kemampuan atlet, potensi dan karakteristik pembelajaran, dan
kebutuhan kecabangan atlet, untuk menaikkan level kerja atlet. Setiap atlet
memiliki ciri fisiologi dan psikologi yang dibutuhkan sebagai pertimbangan
pengembangan sebuah rencana latihan. Program latihan harus berubah sebagai
tujuan pencapaian program dan hal ini membuat proses program latihan
dinamis (Kraemer & Knuttgen, 2003).
5) Prinsip pengaturan latihan (the principle of arrangement exercise)
Latihan merupakan proses yang terstruktur, sistematis, dan dilakukan secara
terus-menerus. Latihan sebaiknya diatur sedemikian rupa, sehingga kelompok
otot-otot besar dulu yang dilatih, sebelum otot yang lebih kecil (Sajoto, 1998).
Tujuannya agar kelelahan pada otot kecil tidak terjadi cepat. Perlunya
penyusunan dan pengaturan dalam membuat desain latihan adalah agar otot-
otot yang lebih kecil cenderung cepat lelah dan lebih lemah dibanding otot-otot
yang besar. Oleh karena itu, dalam menetukan urutan latihan baiknya melatih
otot-otot besar terlebih dahulu dari pada otot-otot kecil.
Salah satu contohnya dengan melatih ekstremitas bagian bawah,
tungkai atas dengan otot hamstring setelah itu baru melatih otot tibialis anterior.
Pengaturan latihan beban harus memperhatikan pemberian beban terhadap otot
dan diupayakan memberikan latihan yang sama secara berurutan pada lokasi
otot yang sama. Sehingga otot dapat melakukan recovery sebelum pindah ke
latihan berikutnya.
Bila beban latihan ditingkatkan secara progresif, maka organ tubuh
akan menyesuaikan terhadap perubahan dengan baik. Hal itu antara lain
tergantung usia, usia latihan, kualitas kebugaran otot, kebugaran energi dan
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
15
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
kualitas latihannya (Sukadiyanto, 2011). Melalui proses penyesuaian dalam
menjaga kondisi fisik tingkat efisien tubuh kita untuk menentukan tuntutan
baru dari program latihan yang dilakukan. Kuncinya pada tahap ini adalah
untuk maju terus untuk menjalani latihan.
6) Prinsip kembali asal (the principle of reversibility)
Prinsip kembali asal yang diartikan sebagai kemunduran kemampuan atlet
yang diakibatkan ketidakteraturan dalam menjalankan program latihan
(Ambarukmi et al., 2007). Kemampuan atlet yang telah meningkat pada tahap
latihan akan menurun apabila atlet tidak berlatih dengan benar dan
mengembalikan prestasi semula diperlukan waktu yang cukup lama sehingga
latihan harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.
2.2 Latihan Plyometric
2.2.1 Pengertian latihan plyometric
Menurut Lamusu (2011) “latihan plyometric adalah kombinasi antara
kekuatan dan kecepatan”. Selain itu Chu & Myer (2013) menyatakan bahwa
“latihan plyometric merupakan suatu bentuk latihan yang memungkinkan otot dapat
mencapai kekuatan maksimal dalam waktu yang sesingkat singkatnya”. Latihan
plyometric sangat membantu dalam mengembangkan keseluruhan sistem
neuromuscular dalam rangka menunjang pergerakan yang lebih besar. Dengan
sendirinya latihan ini sangat cocok untuk cabang olahraga yang membutuhkan
kecepatan dan daya ledak otot yang lebih besar (Lamusu, 2011). Maka latihan
plyometric adalah salah satu latihan yang cocok untuk cabang olahraga yang
membutuhkan explosive yaitu gerakan gerakan yang mengandung unsur kecepatan
dan kekuatan, misalnya olahraga bola voli yang memerlukan power otot tungkai.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
16
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Salah satu jenis metode latihan untuk meningkatkan explosive power adalah
dengan metode latihan plyometric. Widana dkk (2013) menyatakan “latihan
plyometric berusaha untuk menggunakan berat badan itu sendiri atau dengan
menggunakan beberapa alat untuk meningkatkan rangsangan latihan”. Selain
meningkatkan performance, latihan plyometric juga berguna untuk mencegah
terjadinya cidera dan mampu digunakan sebagai penyembuhan pada atlit yang
sedang menjalani rehabilitasi cidera ligamen. Plyometric adalah gerakan kontraksi
otot yang sangat kuat untuk mencapai regangan maksimal dalam waktu sesingkat-
singkatnya (Haff &Triplett, 2016). Pada saat meregang, ada tiga kontraksi yang
terjadi yaitu eksentrik, isometric dan konsentrik. Latihan plyometric mampu
meningkatkan maximum voluntary contraction (MVC) pada saat kontraksi
eksentrik, isometrik dan konsentrik (Behrens et al., 2016). Selain dapat
meningkatkan kekuatan kontraksi otot, latihan ini juga berpengaruh pada
komponen biomotor. Latihan plyometric mampu menigkatkan kekuatan, power dan
kecepatan (Chu & Myer, 2013). Latihan plyometric mampu meningkatkan fungsi
neuromuskular pada saat kontraksi statis dan dinamis (Behrens et al., 2016).
Latihan plyometric menggunakan sistem energi ATP-PC. Dalam sisi fisiologis,
plyometric mampu meningkatkan kekerasan tendon, dan mengurangi pemborosan
energi (Booth & Orr, 2016).
Plyometric adalah sebuah kombinasi kata yang berasal dari bahasa latin
yaitu plyo dan metrics yang memiliki arti peningkatan yang dapat diukur
(Wibintoro, 2009). Plyometric adalah latihan-latihan yang bertujuan
menghubungkan gerakan kecepatan dan kekuatan untuk menghasilkan gerakan-
gerakan eksplosif. Istilah ini sering digunakan dalam menghubungkan gerakan
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
17
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
lompat yang berulang-ulang atau latihan reflek regang untuk menghasilkan reaksi
yang eksplosif (Wibintoro, 2009).
2.2.2 Prinsip Latihan Plyometric
Dalam kegiatan olahraga gerakan tubuh dikaitkan dengan tiga jenis
kontraksi otot, yaitu concentric (memendek), isometric (tetap) dan eccentric
(memanjang). Latihan untuk meningkatkan tinggi lompatan (power otot tungkai)
dapat dilakukan dengan menggunakan plyometric, prinsip metode latihan
plyometric adalah otot selalu berkontraksi baik pada saat memanjang (eccentric)
maupun pada saat memendek (concentric) (Agung, 2013).
Tipe gerakan dalam latihan plyometric adalah cepat, kuat, eksplosif dan
reaktif. Latihan ini digunakan sebagai metode untuk mengembangkan kualitas fisik
harus mengikuti prinsip-prinsip yang terdiri dari:
(1) Memberi regangan (stretch) pada otot, tujuan dari pemberian regangan yang
cepat pada otot-otot yang terlibat sebelum melakukan kontraksi (gerak) secara
fisiologis untuk memberi panjang awal yang optimum pada otot, mendapatkan
tenaga elastis, menimbulkan reflek regang.
(2) Beban lebih yang meningkat, dalam latihan plyometric harus menerapkan
beban lebih (overload) dalam hal beban atau tahanan (resistive), kecepatan
(temporal) dan jarak (spatial). Tahanan atau beban yang overload biasanya
pada latihan plyometric diperoleh dari bentuk pemindahan dari anggota badan
atau tubuh yang cepat, seperti mencegah jatuh, meloncat, melambung,
memantul dan sebagainya.
(3) Kekhukusan latihan (specifity training), dalam plyometric harus menerapkan
prinsip kekhususan latihan, yaitu: kekhususan terhadap kelompok otot yang
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
18
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
dilatih atau kekhususan neuromuscular, kekhususan terhadap sistem energi
utama yang digunakan, kekhususan terhadap pola gerakan latihan (Wibintoro,
2009).
Sebelum melakukan latihan plyometric yang tepat dan efektif, hal yang
harus diperhatikan salah satunya adalah pemanasan dan pendinginan (warm up
and warm down). Pemanasan (warm up) bertujuan untuk mempersiapkan
sistem kardiorespirasi dan muskuloskletal tubuh sebelum latihan, membantu
untuk mencegah cedera serta mempersiapkan mental pemain sebelum
bertanding. Sedangkan pendinginan (warm down) bertujuan untuk mengurangi
asam laktat yang terbentuk setelah latihan juga untuk pemeliharaan mobilitas
sendi (Toit, 2009).
2.2.3 Aspek-aspek latihan plyometric
Agar latihan memberikan hasil seperti yang diharapkan, maka harus
direncanakan secara dinamik dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang
menjadi komponennya, yaitu:
(1) Volume, untuk meningkatkan power anggota gerak bawah, Radcliffe &
Ferentinos (1985) dalam Wibintoro (2009), memberikan pedoman sebagai
berikut: jangka waktu kerja anatara 4-15 detik, dikerjakan dengan intensitas
sedang sampai tinggi, repetisi antara 15-30 dalam 2-4 set dengan istirahat 2
menit.
(2) Intensitas yang tinggi, intensitas adalah faktor yang penting didalam latihan
plyometric. Kebugaran dengan kekuatan daya yang maksimal sangat perlu
untuk mendapatkan efek yang optimal dari latihan yang dilakukan. Penilaian
ulangan regangan otot adalah lebih penting dari latihan itu.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
19
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
(3) Frekuensi, frekuensi adalah jumlah ulangan berapa kali latihan dikerjakan
setiap sesi atau minggunya. Olahraga yang mengutamakan power
membutuhkan pengeluaran energinya sangat tinggi, sehingga kelelahan lebih
cepat timbul dalam latihan power, maka disarankan frekuensi latihan dilakukan
3-6 per sesi latihan dan 2-4 kali per minggu.
(4) Recovery: periode istirahat antara 1-2 menit antara latihan cukup untuk system
neuromuscular yang tegang untuk kembali normal. Waktu istirahat yang cukup
diantara latihan plyometric sangat penting untuk menjamin pemulihan otot,
ligament, dan tendon yang secukupnya. Latihan plyometric yang dilakukan 2-
3 hari dalam satu minggu adalah cukup untuk menghasilkan power otot
(Wibintoro, 2009).
Latihan pliometric mempunyai pedoman yang harus dilaksanakan agar
tujuan dari latihan yang dilakukan dapat tercapai. Menurut Chu (2013) pedoman
latihan pliometric adalah sebagai berikut:
a. Durasi periode kerja : 4-30 detik
b. Intensitas kerja : maksimal
c. Durasi pulih : 1-2 menit
2.2.4 Bentuk-bentuk latihan plyometric
Latihan plyometric diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu intensitas
rendah (low intensity), intensitas sedang (moderat/medium intensity), intensitas
tinggi (high intensity) dan shock latihan (Shankar et al., 2008).
Latihan plyometric high intensity adalah latihan yang kuat dan menyeluruh
dengan fase amortisasi yang sangat cepat. Latihan plyometric high intensity yang
diberikan menurut penelitian Shankar et al. (2008) adalah berupa:
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
20
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
(a) Double leg vertical power jump, dimulai dengan gerakan tubuh kebawah, lutut
fleksi kemudian melompat keatas secara kuat disertai gerakan lengan
mendorong keatas, kembali lagi dan segera ulangi.
Gambar 2.1 Double leg vertical power jump (Edell, 2009).
(b) Single leg vertical power jump, berdiri pada satu tungkai, dimulai dengan
gerakan tubuh kebawah, lutut fleksi kemudian melompat keatas secara kuat
disertai gerakan lengan mendorong keatas, kembali lagi dan segera ulangi
untuk masing masing tungkai.
Gambar 2.2 Single leg vertical power jump (Edell, 2009).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
21
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
(c) Single leg tuck jump, berdiri pada satu tungkai, dimulai dengan gerakan tubuh
kebawah, lutut fleksi kemudian melompat keatas secara kuat, disertai gerakan
lengan menarik lutut salah satu sisi kearah dada. Mendarat dengan tungkai yang
sama digunakan untuk melompat, segera ulangi untuk masing-masing tungkai.
Gambar 2.3 Single leg tuck jump (Edell, 2009).
Ada beberapa bentuk gerakan dasar latihan plyometric untuk panggul dan
kaki. Bentuk latihan plyometric menurut Bompa (1994) adalah sebagai berikut:
(1) Bounding, yaitu latihan yang menekankan pada loncatan untuk mencapai
ketinggian maksimum dan jarak horizontal. Bounding dapat dilakukan dengan
dua kaki atau satu kaki secara bergantian.
(2) Hopping, gerakan hopping lebih ditekankan pada kecepatan gerakan kaki untuk
mencapai lompat-loncat setinggi-tingginya dan sejauh-jauhnya. Hopping dapat
dilakukan dengan dua kaki atau satu kaki.
(3) Jumping, adalah ketinggian maksimum sangat diperlukan dalam jumping,
sedangkan pelaksanaan merupakan faktor kedua dan jarak horizontal tidak
diperlukan dalam jumping.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
22
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
(4) Leaping, adalah suatu latihan kerja tunggal yang menekankan jarak horizontal
dengan ketinggian maksimum. Bisa dilakukan dengan dua kaki atau satu kaki.
(5) Skipping, dilakukan dengan melangkah meloncat secara bergantian hopstep,
yang menekankan ketinggian dan jarak horizontal.
(6) Ricochet, semata-mata menekankan pada tingkat kecepatan tungkai dan gerakan
kaki, meminimalkan jarak vertikal dan horizontal yang memberikan kecepatan
pelaksanaan yang lebih tinggi.
2.2.5 Otot-otot yang terlibat dan biomekanika (latihan plyometric)
Otot-otot yang dominan menggerakkan tungkai saat latihan plyometric
antara lain : [Link], [Link] femoris, [Link], [Link],
[Link] anterior dan [Link] longus (Milner, 2008).
M. hamstring berfungsi menggerakkan ekstensi hip joint, dan fleksi knee
joint, otot-otot yang termasuk dalam kelompok m. hamstring adalah m. biceps
femoris, [Link] dan m. semitendinosus, m. quadriceps femoris
adalah otot penggerak fleksi hip joint dan ekstensi knee joint, terdiri dari empat otot
yang terletak pada bagian depan dan permukaan lateral dari paha, otot-otot yang
membentuk kelompok ini meliputi m. vastus lateralis, m. vastus intermedius, m.
vastus medialis, dan m. rectus femoris (Milner, 2008).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
23
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
a. Anterior view
b. Posterior view
Gambar 2.4 Muscle of hip joint
([Link]
Sedangkan m. gastrocnemius dan m. soleus terletak dibagian belakang dari
tungkai bawah yang berfungsi menggerakkan ankle joint kearah plantar fleksi. Otot
lain yang berada ditungkai bawah adalah m. tibialis anterior yang terletak pada
permukaan depan dan berfungsi sebagai dorsal fleksor kaki, sedangkan m. peroneus
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
24
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
longus terletak pada permukaan samping berfungsi sebagai plantar fleksor dan
pronator kaki (Milner, 2008).
a. Anterior view b. Posterior view
Gambar 2.5 Muscle of knee joint
([Link]
2.2.6 Model sistem neuromuskular latihan plyometric
Tujuan utama dari latihan plyometric adalah untuk meningkatkan
eksitabilitas dari sistem syaraf untuk mempengaruhi kemampuan reaktif dari sistem
neuromuskular (Shankar et al., 2008). Terdapat dua model dasar, yaitu :
a. Model mekanik (mechanical model) yaitu: energi elastis ditendon dan otot
meningkat dengan regangan cepat (seperti dalam gerakan eksentrik) dan
kemudian disimpan sementara, jika gerakan konsentris segera mengikuti, energi
yang tersimpan dilepaskan, memberikan kontribusi terhadap produksi kekuatan
total, efeknya seperti peregangan pegas yang kembali kepanjang aslinya. Pegas
dalam hal ini adalah komponen dari otot dan tendon disebut seri komponen
elastis (Shankar et al., 2008).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
25
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Model mekanik fungsi dari otot rangka terdapat beberapa komponen yaitu:
(1) Seri komponen elastis (series elastic component/SEC), saat diregangkan,
menyimpan energi elastis yang meningkatkan tenaga yang dihasilkan.
(2) Komponen kontraktil (contractile component/CC) yaitu, aktin, myosin, dan
cros-bridge adalah sumber utama kekuatan otot selama kontraksi konsentris.
(3) Komponen elastis paralel (paralel elastic component/ PEC) yaitu, epimysium,
perimysium, endomisium, dan sarcolemma memberikan suatu kekuatan pasif
dengan peregangan otot distimulasi.
Pada latihan plyometric, serabut otot yang terstimulasi adalah tipe otot fast
twitch (tipe II) terdapat dua tipe serabut otot fast twitch (tipe II) yaitu serabut otot
tipe II A dan serabut otot tipe II B, pada latihan plyometric intensitas tinggi (high
intensity) serabut otot yang terstimulasi adalah tipe II B, karena serabut ini
terstimulasi jika diberi latihan dengan beban lebih dari 70 % dari maximum heart
rate, sifat dari serabut otot tipe II B yaitu mempunyai kecepatan kontraksi yang
tinggi tetapi mudah mengalami kelelahan.
b. model neurofisiologi (neurophysiological model) yaitu model yang melibatkan
potensiasi (perubahan karakteristik) kekuatan-kecepatan komponen kontraktil
otot yang disebabkan oleh peregangan dari kontraksi otot konsentris dengan
menggunakan refleks regangan. Refleks peregangan adalah respon involunter
tubuh terhadap stimulus external yang dapat meregangkan otot-otot.
Ketika muscle spindle di stimulasi, refleks regangan dirangsang,
mengirimkan impuls ke medula spinalis melalui serabut saraf Tipe Ia, setelah
bersinaps dengan alpha motor neuron di medula spinalis, impuls berjalan keserat
agonis extrafusal, menyebabkan aksi otot reflektif (Rogers, 2008).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
26
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Gambar 2.6 Stretch reflex (Rogers, 2008).
Sebagian besar latihan terjadi selama siklus stretch-shortening, yang
merupakan waktu yang dibutuhkan untuk beralih dari fase gerakan eksentrik ke
tahap konsentrik. Selama kontraksi eksentrik, otot memanjang dan menegang,
karena kekuatan lawan lebih besar dari gaya yang dihasilkan. Kontraksi konsentrik
terjadi ketika otot memendek dan menegang, karena kekuatan yang dihasilkan oleh
otot lebih besar dari gaya yang berlawanan itu. Waktu antara fase eksentrik dan fase
konsentrik disebut fase amortisasi. Kemampuan untuk mempersingkat fase
amortisasi dan juga menyerap kekuatan yang lebih besar selama kontraksi eksentrik
menyebabkan produksi kekuatan yang lebih besar pada fase konsentris (Rogers,
2008).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
27
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Tabel 2.1 Stretch-shortening cycle (Rogers, 2008)
Fase Action Physiogical event
I- eksentrik Stretch otot-otot - Energi elastis disimpan pada
agonis seri komponen elastis .
- Muscle spindle terstimulasi.
II- amortisasi Jeda antara fase I - Serabut aferen tipe Ia
dan fase III bersinapsis dengan alpha
motor neuron.
- Alpha motor neuron
mengirimkan sinyal ke group
agonis.
III- konsentrik Shortening - Energi elastis dilepaskan dari
serabut otot seri komponen elastis.
agonis - Alpha motor neuron
menstimulasi grup otot
agonis.
2.2.7 Sistem energi latihan plyometric
Energi yang diperlukan untuk suatu kegiatan atau kontraksi otot tidak dapat
diserap langsung dari makanan yang di makan, akan tetapi diperoleh dari
persenyawaan yang disebut ATP (Adenosin Triphosphate). ATP inilah yang
merupakan sumber energi yang langsung digunakan otot untuk melakukan
kontraksi (Wibintoro, 2009).
ATP merupakan suatu komponen kompleks yang tersusun atas satu
komponen adenosine dan tiga komponen phosphate. ATP ini tersimpan dalam otot
rangka dalam jumlah yang sangat terbatas. Supaya kontraksi otot tetap berlangsung,
maka ATP ini segera disintesis kembali. Proses pembentukan ATP dalam otot
secara sederhana dapat diperoleh melalui tiga cara, yaitu sebagai berikut:
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
28
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
(a) sistem ATP-PC (Phosphagen System);
- ATP ADP + Pi + Energi
ATP yang tersedia dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 1-2
detik
- CP + ADP C + ATP.
ATP yang terbentuk dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 6-8
detik.
(b) Sistem glikolisis anaerobik (Lactic Acid System);
Glikogen/glukosa + ADP + Pi ATP + Asam laktat
ATP terbentuk dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 45-120 detik.
(c) Sistem Erobic (Aerobic System) dimana sistem ini meliputi oksidasi
karbohidrat dan lemak.
Glikogen + ADP + Pi + O2 CO2 + H2O + ATP
ATP yang terbentuk dapat digunakan untuk aktivitas fisik dalam waktu relatif
lama.
Plyometric merupakan gerakan yang sangat cepat dan kuat, yaitu
gerakan-gerakan yang eksplosif atau meledak, karenanya dibutuhkan energi
yang dapat digunakan secara cepat yakni ATP-PC. Hal ini biasanya dapat
dipenuhi melalui sistem energi lainnya yakni glikolisis anaerobik atau sistem
energi asam laktat. ATP-PC mempunyai peranan penting dalam pengerahan
tenaga secara cepat, karena ATP-PC mempunyai power terbesar bila
dibandingkan sistem energi yang lain (Wibintoro, 2009).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
29
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2.3 Hurdle Hopping
2.3.1 Pengertian hurdle hopping
Hurdle hopping merupakan bentuk latihan plyometric yang bertujuan
meningkatkan daya ledak tungkai dengan cara meloncati rintangan atau berupa
gawang (Pujiarti, 2015). Gerakan ini sangat diperlukan dalam cabang olahraga bola
voli. Hal ini termasuk salah satu bentuk latihan dalam plyometric, dimana langkah-
langkah lebar digunakan dalam kegiatan lari dan waktu tambahan digunakan untuk
meloncat ke udara. Latihan dengan menggunakan dua kaki lebih mengurangi beban
yang ditahan, namun untuk meningkatkan intensitas loncatan di tempat atau
loncatan maju dengan menggunakan satu kaki juga dapat digunakan. Meloncat ke
tempat yang lebih tinggi juga merupakan cara yang berguna untuk melatih aspek
vertikal dan horisontal dalam kegiatan lari. Loncatan berulang-ulang melewati
serangkaian halangan seperti lompat gawang juga merupakan latihan yang sangat
berguna untuk atlet cabang loncat.
2.3.2 Cara atau metode latihan plyometric hurdle hopping
Salah satu contoh modifikasi latihan double leg vertical power jump adalah
hurdle hopping (lompat gawang) cara melakukannya (Kalfi, 2013):
a. Loncatilah pembatas dengan kedua kaki.
b. Gerakan harus berasal dari pinggul dan lutut.
c. Jagalah tubuh agar tetap lurus dan tegak, dan jangan sampai lutut bergerak
sedikitpun atau bergerak kesisi lain.
d. Dekatkan kedua bagian lutut kebagian dada.
e. Ayunkan kedua tangan untuk menjaga keseimbangan dan meningkatkan tinggi
loncatan.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
30
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
f. Mendaratlah dengan telapak kaki bagian depan, sehingga memungkinkan
energi tersimpan dibagian elastik otot bagian kaki, dan mulailah mengulang
lagi gerakan tadi.
g. Usahakan agar jarak waktu yang dibutuhkan untuk meloncati tiap gawang
sesingkat mungkin.
Intensitas melakukan
1) Dua sampai empat set dengan menggunakan 6 sampai 8 gawang.
2) Usahakan agar tubuh benar-benar beristirahat ditiap setnya.
3) Gawang disusun berurutan, jarak antar gawang disesuaikan dengan tingkat
kemampuan.
4) Tinggi gawang harus berkisar antara 12-36 inchi, low impact 25±35 cm dan
high impact, > 35 cm (Sukadiyanto, 2005).
5) Kualitas loncatan gawang jauh lebih penting dari pada kuantitasnya.
Gambar 2.7 Hurdle hopping (loncat gawang)
([Link]
2.4 Vertical jump
2.4.1 Pengertian vertical jump
Vertical jump (lompat vertikal atau loncat tegak) adalah tes kebugaran yang
sudah umum dilakukan untuk menentukan kekuatan otot tungkai atau daya ledak
(explosive power) seorang atlet. Tes ini sering digunakan oleh atlet profesional,
terutama untuk mengetahui perkembangan seorang atlet selama pelatihan. Semakin
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
31
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
tinggi lompatan maka semakin kuat otot tungkai/daya ledak seorang atlet (Lovitt &
John, 2004). Power akan timbul apabila kekuatan otot tungkai dipadukan dengan
kecepatan, dengan kata lain kecepatan merupakan indikator adanya explosive
power. Power otot juga ditentukan oleh besarnya beban, terlalu besar beban maka
otot akan menjadi lambat untuk bergerak (Hapsoro, 2012).
Menurut sukadiyanto (2011) urutan latihan untuk meningkatkan power
tungkai diberikan setelah olahragawan dilatih unsur kekuatan dan kecepatan. Daya
ledak atau power merupakan komponen kondisi fisik dominan dalam beberapa
cabang olahraga, misalnya cabang olahraga bola basket, sepak bola, bola voli,
bulutangkis, serta yang lainnya. Hal ini sesuai dengan (Mc Cleton, 2008) bahwa
kemampuan explosive power yang dihasilkan tubuh bagian bawah benar-benar
merupakan faktor yang sangat penting dalam aktivitas beberapa cabang olahraga.
Power merupakan unsur tenaga yang sangat banyak dibutuhkan dalam
berbagai cabang olahraga khususnya bola voli explosive power sangat dominan
pada gerakan spike/smash, walaupun tidak semua cabang olahraga membutuhkan
power sebagai komponen energi utamanya.
Daya ledak otot dapat kita ukur dengan alat yang sederhana, khusus untuk
pengukuran daya ledak tungkai bisa dilakukan dengan lompat vertikal atau loncat
tegak. Loncat tegak bertujuan untuk mengukur tinggi lompatan seorang atlet.
Loncat tegak dapat dilakukan dengan cara konvensional yaitu menggunakan papan
ukur, dan dengan cara modern yaitu menggunakan alat seperti jump DF dan force
plate. Tes vertical jump yang biasa dilakukan oleh seorang atlet bola voli adalah tes
vertical jump secara konvensional (Listiyadi, 2014) dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
32
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Gambar 2.8 Gerakan vertical jump (Listiyadi, 2014).
2.4.2 Faktor yang mempengaruhi tinggi vertical jump
Vertical jump dipengaruhi oleh faktor-faktor antropometri, jenis kelamin,
dan berat badan (Rudiyanto, 2012) dalam Widyasari (2016). Tinggi badan termasuk
bagian dari antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal dari
telapak kaki sampai ujung kepala, tinggi badan juga berpengaruh terhadap tinggi
vertical jump seseorang (Rudiyanto, 2012).
2.5 Bola voli
2.5.1 Pengertian bola voli
Bola voli telah berubah dalam tiga dekade terakhir dari olahraga terorganisir
menjadi sebuah olahraga yang sangat kompetitif, olahraga ini membutuhkan
kebugaran fisik tingkat tinggi, mental dan penguasaan teknik, fisiologis dan
psikologis. Permainan bola voli merupakan permainan pada tingkat persaingan
yang tinggi membutuhkan gerakan tiba-tiba cepat dan reaksi cepat. Pertandingan
bola voli tidak memiliki batas waktu dan pertandingan bisa berlangsung selama
beberapa jam, jika tim berimbang (Rao, 2016).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
33
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Permainan bola voli adalah olahraga yang dimainkan anak-anak, orang
dewasa baik pria maupun wanita (Kalfi, 2013). Menurut PBVSI (2005) bola voli
adalah olahraga yang dimainkan oleh dua tim dalam setiap lapangan dengan
dipisahkan oleh sebuah net. Tujuan dari permainan ini adalah melewatkan bola di
atas net agar dapar jatuh menyentuh lantai lapangan lawan dan untuk mencegah
usaha yang sama dari lawan. Setiap tim dapat melakukan tiga pantulan untuk
mengembalikan bola (di luar perkenaan blok). Bola dinyatakan dalam permainan
setelah bola dipukul oleh pelaku servis melewati atas net ke daerah lawan.
Permainan dilanjutkan hingga bola menyentuh lantai, bola “keluar” atau satu tim
gagal mengembalikan bola secara sempurna (PBVSI, 2005).
Dalam permainan bola voli, tim yang memenangkan reli akan mendapat
satu angka (Really Point System). Apabila tim yang sedang menerima servis
memenangkan reli akan memperoleh satu angka dan berhak melakukan servis
berikutnya, serta melakukan pergeseran satu posisi searah jarum jam (PBVSI,
2005).
Dalam setiap teknik dalam bola voli, satu tergantung pada kerja tim dan
keterampilan individu, mengumpan, menyeberangkan bola, peraturan, smash,
melompat, passing, kecepatan reaksi dan koordinasi mata pada bola (Rao, 2016).
Tujuan dari permainan adalah melewatkan bola di atas net agar dapat jatuh
menyentuh lantai lapangan dan mencegah usaha yang sama dari lawan. Setiap tim
dapan memainkan tiga pantulan untuk mengembalikan bola (diluar perkenaan blok)
(PBVSI, 2005).
Bola voli adalah olahraga intermiten yang membutuhkan pemain untuk
bersaing dalam pertandingan singkat tetapi sering latihan high intensity, diikuti oleh
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
34
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
periode rendah (Gabbett & Georgieff, 2007). Dari semua kegiatan, situasi serangan
dan blok mewakili 45% dari total tindakan permainan dan juga bertanggung jawab
untuk 80% dari poin yang diperoleh dalam pertandingan internasional (Voigt &
Vetter, 2003).
2.5.2 Teknik dasar bola voli
Dalam permainan bola voli ada berbagai teknik yang harus dikuasai oleh
setiap pemain. Suharno (1981) menyatakan teknik dasar permainan bola voli
meliputi: servis, passing, umpan(set-up), smash (spike), dan bendungan (block).
2.5.3 Smash bola voli
Dari sekian banyak teknik dasar yang ada, smash merupakan teknik yang
selalu digunakan untuk menyerang dan menghasilkan angka serta meraih
kemenangan. Karena permainan bola voli merupakan permainan cepat maka teknik
menyerang lebih dominan dibandingkan dengan teknik bertahan. Pukulan smash
juga sering disebut juga spike, dimana merupakan bentuk serangan yang paling
banyak dipergunakan dalam upaya memperoleh nilai oleh suatu tim (Putra, 2015).
Pada permainan bola voli smash dapat dilakukan dari semua posisi. Posisi
empat, tiga, dan dua, bahkan posisi belakang satu, enam, lima khusus smash tiga
meter. posisi ini yang sering dipergunakan untuk menyerang. Dari semua posisi
tersebut seorang pelatih atau guru harus memperhatikan tingkat kesulitaan dan
posisi yang paling efektif untuk menghasilkan angka sehingga mampu menyusun
tim berdasarkan tipe-tipe pemain secara tepat. Tipe-tipe pemain dalam permainan
bola voli itu antara lain tipe pemain penyerang, tipe pemain bertahan, tipe pemain
pengumpan, tipe pemain serba bias (Putra, 2015). Beberapa faktor yang
menentukan keberhasilan seseorang dalam melakukan smash adalah timing atau
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
35
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
ketepatan, meliputi: a. Ketepatan saat melakukan awalan, b. Ketepatan saat
meloncat, c. Ketepatan saat memukul bola (Putra, 2015).
Gambar 2.9 Rangkaian pelaksanaan smash (Yunus, 1992).
2.6 Ketepatan (accuracy)
2.6.1 Pengertian ketepatan
Suharno (1981) dalam Irwansyah (2012) menyatakan bahwa ketepatan
adalah kemampuan seseorang untuk mengarahkan suatu gerak ke suatu sasaran
sesuai dengan tujuannya. Dengan kata lain bahwa ketepatan adalah kesesuaian
antara kehendak (yang diinginkan) dan kenyataan (hasil) yang diperoleh terhadap
sasaran (tujuan) tertentu. Ketepatan merupakan faktor yang diperlukan seseorang
untuk mencapai target yang diinginkan. Ketepatan berhubungan dengan keinginan
seseorang untuk memberi arah kepada sasaran dengan maksud dan tujuan tertentu.
Kegunaan ketepatan dalam bola voli meliputi: (1) meningkatkan prestasi atlet, (2)
gerakan anak latih dapat efektif dan efisien, (3) mencegah terjadinya cidera, (4)
mempermudah menguasai teknik dan taktik.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
36
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2.6.2 Ketepatan smash bola voli
Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketepatan smash bola
voli adalah kemampuan dalam melakukan smash kearah sasaran tertentu dengan
menggunakan tangan yang terkuat dengan mengikuti proses pelaksanaan gerakan
smash dengan baik mulai dari awalan, tumpuan, pukulan lalu mendarat dengan
kedua kaki dan juga memberikan kesimpulan bahwa kemampuan dalam
melakukan gerak ke arah sasaran tertentu dengan melibatkan beberapa faktor
pendukung dan terkoordinasi dengan baik secara efektif dan efisien (Notriya,
2018).
Suharno (1981) dalam Notriya (2018) selanjutnya hal lain yang
mempengaruhi ketepatan adalah :
1) Koordinasi tinggi berarti ketepatan yang tinggi.
2) Besar dan kecilnya sasaran.
3) Ketajaman indra dan pengaturan syaraf.
4) Jauh dan dekatnya bidang sasaran.
5) Penguasaan teknik yang benar.
6) Cepat dan lambatnya gerakan yang dilakukan.
7) Feeling anak latih dan ketelitian.
8) Kuat dan lemahnya suatu gerakan.
Suharno (1981) dalam Notriya (2018) latihan ketepatan biasanya
mempunyai ciri ciri sebagai berikut:
1) Harus ada target tertentu untuk sasaran gerak.
2) Kecermatan/ketelitian gerak sangat menonjol kelihatan dalam gerak
(ketenangan).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
37
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
3) Waktu dan frekuensi gerak tertentu sesuai dengan peraturan.
4) Adanya suatu penilaian dalam target dan latihan mengarahkan gerakan secara
teratur dan terarah.
Suharno (1981) dalam Notriya (2018) cara-cara pengembangan ketepatan
adalah sebagai berikut:
1) Frekuensi gerakan dan diulang-ulang agar otomatis.
2) Jarak sasaran mulai dari yang dekat kemudian dipersulit dengan menjauhkan
jarak.
3) Gerakan dari yang lambat menuju yang cepat.
4) Setiap gerakan perlu adanya kecermatan dan ketelitian yang tinggi dari anak
latih.
5) Sering diadakan penilaian dalam pertandingan-pertandingan percobaan
maupun pertandingan resmi. Dalam kaitannya dengan ketepatan ada masalah-
masalah yang perlu diperhatikan:
1) Faktor kecermatan dan ketelitian merupakan unsur dasar untuk peningkatan
ketepatan.
2) Melatih koordinasi berarti meningkatkan sumbangannya terhadap mutu
ketepatan.
3) Cara melatih suatu hasil teknik, unsur ketepatan perlu didahulukan dari pada
kecepatan dan kekuatan gerakan teknik itu.
4) Sikap ketenangan, kesabaran merupakan modal mental untuk mencapai
ketepatan tinggi.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konseptual Penelitian
Latihan High Intensity Plyometric
Hurdle Hopping
Cerebellum
Motor Planning
Saraf Motorik
Medula spinalis Medula spinalis
Rekrutmen Serabut otot II b Saraf Sensorik
Kontraksi otot Intrafusal
(Eksentrik-Isometrik-Konsentrik)
Stretch Shortening Cycle (SSC)
Usia
Jenis kelamin
Peningkatan Peningkatan Peningkatan
Fleksibilitas Keseimbangan Power otot tungkai Suhu otot
dan lengan
Aktifitas olahraga
Riwayat cidera
-Tinggi badan
Vertical jump meningkat -Berat badan
-Visual Ketepatan smash -Hamstring
-Pengalaman atlet meningkat -Ligament laxity
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual
Keterangan :
: Diteliti : Tidak diteliti
: Siklus
38
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
39
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
3.2 Penjelasan Kerangka Konseptual
Plyometric adalah salah satu latihan untuk meningkatkan power, baik otot
tungkai maupun otot lengan yang merupakan kombinasi antara kekuatan dengan
kecepatan untuk mengatatasi beban dengan kecepatan kontraksi otot yang lebih
tinggi dalam waktu yang singkat. Potensi power otot seseorang dipengaruhi oleh
usia, jenis kelamin, suhu otot, aktifitas olahraga, tinggi badan, berat badan, indeks
massa tubuh, riwayat cidera, hamstring tightness dan ligament laxity pada anggota
gerak bawah. Ketika melakukan gerakan plyometric hurdle hopping terjadi
rangsangan yang menyebabkan otot teregang, maka muscle spindle juga ikut
teregang dan mengirimkan impuls di medula spinalis (Cord Posterior) melalui
afferen (saraf sensorik) dan dikirim menuju sistem saraf pusat, terjadi input
informasi gerakan yang akan diproses di dalam (Motor Planning). Setelah diproses,
saraf efferen akan membawa sinyal motorik di medula spinalis (Cord anterior)
untuk merekrut serabut otot agonis (quadriceps muscle) dan terjadi kontraksi.
Selain itu impuls yang dikirimkan medula spinalis melalui afferen sebelum
diproses di dalam (Motor Planning) juga diproses di Cerebellum untuk mengontrol
gerak dan keseimbangan ketika terjadi kontraksi otot. Kemudian efek dari
mekanisme kontraksi otot yang teregang tersebut akan membuat peningkatan
fleksibilitas, dan keseimbangan power yang dapat meningkatkan vertical jump.
Dengan meningkatnya vertical jump secara otomatis akan memberi peningkatan
pada ketepatan smash. Ketepatan smash dipengaruhi oleh faktor visual (ketajaman
mata) dan pengalaman atlet.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
40
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
3.3 Hipotesis Penelitian
1. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan vertical jump
smash bola voli.
2. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan ketepatan smash
bola voli.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental lapangan (Maksum,
2012). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah randomized pre test-
post test control group design (Zainuddin, 2014). Untuk mengetahui perbedaan
kelompok eksperimen 1 dan 2 dilakukan dengan membandingkan skor rata-rata dari
kelompok O1 dengan O2 dan O3 dengan 04 melalui uji signifikasi (Winarno, 2011).
X1 O1 P1 O2
P S R
X2 O3 P2 O4
Gambar 4.1 Desain penelitian
Keterangan:
P : Populasi
R : Secara random sampling
S : Subjek
X1 : Kelompok high intensity plyometric hurdle hopping
X2 : Kelompok kontrol kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m
O1 : Pre test vertical jump dan ketepatan smash kelompok X1
O2 : Post test vertical jump dan ketepatan smash kelompok X1
O3 : Pre test vertical jump dan ketepatan smash kelompk X2
O4 : Post test vertical jump dan ketepatan smash kelompok X2
P1 : Perlakuan 1 (Latihan high intensity plyometric hurdle hopping)
P2 : Perlakuan 2 (Latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m)
41
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
42
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
4.2 Populasi dan Sampel Penelitian
4.2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah atlet bola voli klub Pertamina Makassar
berjumlah 30 atlet. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini berjenis kelamin
laki laki, berusia 17-28 tahun.
4.2.2 Besar sampel
Menentukan besar subjek penelitian dilakukan perhitungan dengan
menggunakan rumus Lameshow (1997).
Rumus:
2σ2(Z1-α + Z1-β)2
n≥
(µ 1-µ 2)2
2 × 0,042(1,645 + 0,84)2
n≥
(0,057)2
2 × 0,0016 × 6,175
n≥
0,0032
0,0032 × 6,175
n≥ = n ≥ 6,175
0,0032
Keterangan:
n = Besar subjek penelitian
σ = Rerata simpangan baku penelitian terdahulu (Kalfi, 2013).
SD1 = 0,06; SD2 = 0,02, maka σ = 0,04
Z1-α = Nilai standart deviasi 0,05 = 1,645
Z1-β = Nilai standart deviasi 0,2 =0,84
µ 1-µ 2 = Beda antara rerata penelitian terdahulu
µ 1 = 0,223; µ 2 = 0,166, maka µ 1-µ 2 = 0,057
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
43
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Besar subjek penelitian diperoleh n sebesar 6,175 yang kemudian
dibulatkan menjadi 7 orang. Faktor koreksi 20%, maka replikasi menjadi 1/1-f
sehingga 1/(1-0,2) x 7 = 8,75 = 9. Jadi penggunaan subjek penelitian 9 orang untuk
masing masing kelompok. Besar total subjek penelitian ini sebanyak 18 orang.
Terdiri dari 9 orang pada kelompok latihan high intensity plyometric hurdle hopping
(P1) dan 9 orang pada kelompok kontrol latihan kombinasi lompat dada dengan
sprint 18 m (P2).
a. Kriteria inklusi
1) Sehat
2) Berjenis kelamin laki-laki
3) Usia 17 s/d 28 tahun
4) Mempunyai tinggi badan 163-185 cm, berat badan 60-80 kg dan IMT
(indeks massa tubuh) normal 18,5 – 22,9 kg/m2 (WHO Asian BMI).
5) Berstatus sebagai atlet junior/senior klub bola voli Pertamina Makassar
6) Subjek bersedia mengikuti penelitian mulai awal hingga penelitian selesai
b. Kriteria drop out
1) Subjek tidak hadir mengikuti latihan maksimal 3 kali
2) Sakit selama pelatihan
3) Cidera selama pelatihan
4) Menarik diri dari subjek penelitian
4.2.3 Teknik pengelompokkan sampel
Pemilihan subjek dalam penelitian ini menggunakan random sampling,
Pengelompokkan subjek secara random berarti suatu teknik pemilihan yang
memungkinkan tiap subjek dalam populasi mendapat kemungkinan (kans) yang
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
44
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
sama untuk terpilih (Pratiknya, 2001). Jumlah subjek secara keseluruhan yaitu 18
orang, dibagi menjadi 2 kelompok 1 (P1) mendapat perlakuan latihan high intensity
plyometric hurdle hopping dan kelompok 2 (P2) kelompok kontrol mendapat
perlakuan latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m.
4.3 Varibel Penelitian
4.3.1 Variabel bebas
- Latihan high intensity plyometric hurdle hopping
4.3.2 Variabel terikat
- Vertical jump dan ketepatan smash bola voli
4.3.3 Variabel kendali
- Umur
- Jenis kelamin
- Jenis latihan
4.3.4 Variabel moderator
- BMI
- Heart rate
- Panjang tungkai diukur menggunakan meteran pita dengan sampel tidur
terlentang, diukur mulai dari pergelangan kaki (mata kaki) sampai dengan
tulang pinggul yang menonjol dengan satuan centi meter (cm) (Silvia,
2015).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
45
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
4.4 Defenisi Operasional Penelitian
4.4.1 Latihan plyometric hurdle hopping
Latihan plyometric hurdle hooping dilakukan dengan intensitas tinggi, 3-4
set dengan repetisi 15-16 setiap set dan tinggi hurdle progresif setiap minggunya
mulai dari 40-55 cm serta waktu interval 2 menit.
4.4.2 Latihan lompat dada kombinasi sprint 18 meter
Lompat dada (Knee tuck jump) adalah gerakan melompat lurus ke atas
dengan mengangkat lutut dan melipat kearah dada sedangkan sprint 18 meter yaitu
lari cepat dengan jarak 18 m. Pada penelitian ini latihan lompat dada
dikombinasikan dengan sprint 18 m dilakukan dengan intensitas tinggi, 3-4 set
dengan jumlah lompat dada dan sprint 18 m tiap repetisi 3-4 : 1, repetisi 15-16 serta
waktu interval 2 menit.
4.4.3 Vertical jump
Vertical jump adalah suatu kemampuan untuk naik ke atas melawan
gravitasi dengan menggunakan kemampuan otot (Ostojic et al., 2010) atau
kemampuan melompat vertikal ke atas dengan menggunakan papan skala. Vertical
jump dilakukan dalam bentuk vertical jump test dengan berdiri di didepan papan
skala posisi menyamping lalu melompat setinggi mungkin dengan mengayun kedua
tangan ke belakang dan ke atas selanjutnya menepuk papan skala pada jangkauan
tangan setinggi mungkin. selisih yang terbesar antara tinggi jangkauan sesudah
melompat dengan tinggi jangkauan sebelum melompat, dari 3 kali percobaan adalah
ketinggian lompatan. Tinggi jangkauan diukur dalam satuan centimeter.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
46
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
4.4.4 Ketepatan smash bola voli
Ketepatan smash bola voli merupakan kemampuan smasher dalam
melakukan pukulan tepat pada sasaran (titik kelemahan lawan) (Putra, 2015).
Ketepatan adalah kemampuan (jumlah skor yang diperoleh) dalam melakukan
smash sebanyak 10 kali setiap pemain yang dilakukan sesuai peraturan permainan.
Smash dilakukan oleh smasher digaris serang pada posisi tiga dengan subjek
sebagai pengumpan dengan membuang bola sendiri dalam bentuk smash normal
yang dimaksud adalah smash dengan ketinggian bola diatas net 3 meter atau lebih
dari 3 meter dengan sasaran target skor yang dipasang pada lapangan bola voli.
Garis pembatas antara target skor 2 dengan skor 1 jika bola menyentuh garis
pembatas maka skornya 1, garis pembatas skor 2 dengan 3 dan skor 1 dengan 3 jika
bola menyentuh garis pembatas maka skornya 3, kemudian garis pembatas skor 4
dengan skor 1 jika bola menyentuh garis pembatas maka skornya 4.
4.5 Bahan dan Alat Penelitian
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a) Bola voli
b) Meteran dinding lebih dari 3 meter atau papan berskala
c) Penghapus papan tulis
d) Serbuk kapur/magnesium sulfat
e) Timbangan badan yang dilengkapi dengan pengukur tinggi badan
f) Lapangan bola voli
g) Net
h) Peluit
i) Plester
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
47
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
j) Hurdle
k) Stopwatch
l) Microtoise
m) Oximeter
n) Peralatan tulis
o) Blangko penilaian setiap subjek
p) Kamera untuk dokumentasi pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan
penelitian
4.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di lapangan bola voli Klub Pertamina Makassar.
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli 2019.
4.7 Prosedur Pengambilan Data
Prosedur penelitian digunakan untuk mengetahui tahapan yang dilakukan
selama penelitian, sehingga resiko cidera dan kegagalan penelitian dapat dihindari.
Prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:
a) Identifikasi dan perumusan masalah penelitian.
b) Menentukan subjek penelitian yang akan dilibatkan.
c) Melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan indeks massa tubuh.
d) Subjek penelitian diberi penjelasan mengenai information form consent.
e) Selanjutnya subjek penelitian mengisi biodata dan informed consent.
f) Persiapan instrumen penelitian.
g) Subjek melakukan pemanasan dan peregangan (warming up) sebelum
melakukan tes awal.
h) Pelaksanaan pre test vertical jump dan ketepatan smash bola voli.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
48
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
i) Subjek melakukan tes awal untuk menentukan dosis latihan.
j) Pelaksanan latihan high intensity plyometric hurdle hopping dan latihan
kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m.
k) Setelah latihan subjek melakukan pendinginan (cooling down).
l) Pelaksanaan post test vertical jump dan ketepatan smash bola voli
m) Analisis data penelitian.
4.7.1 Persiapan penelitian
Sebelum pelaksanaan penelitian ada beberapa persiapan yang harus
dilakukan meliputi:
1) Mengurus ijin penelitian untuk menggunakan peserta atlet bola voli klub
Pertamina Makassar sebagai subjek penelitian.
2) Mengurus ijin menggunakan fasilitas di Universitas Airlangga, seperti alat
vertical jump test, timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan.
3) Mempersiapkan sarana dan prasarana penelitian.
4) Menyiapkan pembantu pelaksana penelitian serta memberikan informasi
mengenai konsep penelitian.
5) Melakukan perekrutan subjek penelitian dengan membagikan leaflet kepada
peserta dan apabila peserta bersedia , dipilih subjek penelitian sesuai dengan
kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan dan menjelaskan kepada
subjek mengenai konsep penelitian.
6) Pengisian form kesanggupan menjadi subjek penelitian (informed consent)
oleh subjek.
7) Menyiapkan tata cara dalam pelaksanaan tes dan pengukuran untuk peneliti,
pembantu peneliti dan subjek peneliti.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
49
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
8) Pemeriksaan kesehatan fisik (tinggi badan, berat badan, tekanan darah) subjek
melalui pengisian form pemeriksaan.
4.7.2 Prosedur pelaksanaan penelitian
Prosedur pelaksanaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Menentukan subjek penelitian berdasarkan kriteria.
2) Subjek penelitian diberikan penjelasan mengenai konsep penelitian dan
information for consent. Selanjutnya subjek mengisi biodata dan informed
consent.
3) Subjek penelitian terdiri dari 18 orang dibagi menjadi dua kelompok (P1 dan
P2)
4) Pengukuran denyut nadi istirahat, tekanan darah, vertical jump dan ketepatan
smash bola voli sebelum diberi perlakuan.
5) Melakukan latihan high intensity plyometric hurdle hopping pada kelompok
P1 dan Latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m pada kelompok
kontrol P2.
6) Setelah perlakuan latihan high intensity plyometric hurdle hopping dan latihan
kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m dilakukan post test setelah istirahat
1-2 hari dengan mengukur vertical jump dan ketepatan smash bola voli.
4.7.3 Pelaksanaan pengambilan data
Pelaksanaan pengambilan data penelitian dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1) Pengukuran denyut nadi istirahat, tekanan darah, vertical jump dan ketepatan
smash bola voli pada masing-masing kelompok.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
50
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2) Subjek melakukan peregangan terlebih dahulu, lalu pemanasan dengan joging
3-5 putaran di tepi lapangan bola voli.
3) Melakukan latihan high intensity plyometric hurdle hopping dan latihan
kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m selama 12 kali pertemuan.
4) Pengukuran vertical jump dan ketepatan smash bola voli sebagai post test
penelitian.
4.7.4 Prosedur pengukuran vertical jump
Untuk melakukan tes vertical jump diperlukan perlengkapan sebagai
berikut: papan berskala, penghapus papan tulis, serbuk kapur/magnesium sulfat,
alat tulis. Setelah perlengkapan disiapkan, maka yang harus dilakukan adalah
persiapan pelaksanaan (Listiyadi, 2014). Ikuti langkah-langkah persiapan sebagai
berikut:
a. Papan berskala digantung pada dinding setinggi raihan atlet.
b. Sebelum melakukan loncatan, tangan ditaburi serbuk kapur.
c. Peserta berdiri didepan papan skala dengan posisi menyamping.
d. Tangan yang akan difungsikan menempuh papan skala diangkat ke atas
setinggi mungkin dan ditempelkan pada papan skala hingga membekas dan
dapat terbaca pada papan skala.
Prosedur pengambilan data pada pengukuran vertical jump (ACSF, 2013).
1) Pelaksanaannya, sampel berdiri menghadap ke dinding dengan salah satu
lengan diluruskan keatas. Lalu dicatat tinggi jangkauan tersebut.
2) Kemudian sampel berdiri dengan bagian samping tubuhnya kearah dinding
atau papan skala, dan salah satu lengan yang terdekat dengan papan skala lurus
keatas, kemudian dia mengambil sikap jongkok dengan bantuan ayunan tangan
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
51
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
ke belakang dan ke atas ketika hendak melompat sehingga lututnya membentuk
sudut kurang lebih 45 derajat. Setelah itu, sampel berusaha melompat ke atas
setinggi mungkin.
3) Pada saat titik tertinggi dari lompatan, sampel segera menyentuhkan ujung jari
dari salah satu tangannya pada dinding kemudian mendarat dengan kedua kaki.
Sampel diberi kesempatan 3 kali percobaan. Untuk mengambil skor, selisih
yang terbesar antara tinggi jangkauan sesudah melompat dengan tinggi
jangkauan sebelum melompat, dari 3 kali percobaan adalah ketinggian
lompatan. Tinggi jangkauan diukur dalam satuan centimeter.
4) Setelah didapatkan ketinggian lompatan, maka kita dapat menjadikannya
sebagai indikator daya ledak otot tungkai kita dengan mencocokkan tinggi
lompatan dengan tabel 4.1 dibawah ini.
Tabel 4.1 Penilaian loncat tegak (Briggs, 2013)
Skor Pria Wanita
Excellent >70 >60
Very good 61-70 51-60
Above average 51-60 41-50
Average 41-50 31-40
Below average 31-40 21-30
Poor 21-30 11-20
Very poor <21 <11
4.7.5 Prosedur pengukuran ketepatan smash bola voli
Pelaksanaan pengambilan data pada pengukuran ketepatan smash bola voli
menggunakan tes kemampuan smash oleh (Kenny and Gregory, 2006) dalam
(Fauzi, 2011). Adapun prosedur pelaksanaan tes ketepatan smash bola voli adalah
sebagai berikut:
a. Tujuan : menilai ketepatan smash pemain bola voli
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
52
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
b. Perlengkapan : lapangan bola voli, net, bola, catatan.
c. Prosedur :
1) Sebelum melakukan tes, atlet dipersilahkan untuk melakukan percobaan
smash sebanyak 2 kali.
2) Atlet melakukan smash sebanyak 10 kali
3) Atlet melakukan smash dengan cara melempar bola sendiri dengan
ketinggian bola smash normal
4) Apabila lemparan bola/bola lambung tidak sempurna maka dapat di ulang
kembali
5) Posisi untuk melakukan smash ditengah (posisi 3)
Gambar 4.2 Sasaran Tes Ketepatan Teknik Smash
d. Penilaian :
1) Penilaian sesuai dengan jatuhnya bola didaerah sasaran.
2) Bola menyangkut di net dan keluar lapangan (out) diberi nilai 0.
3) Nilai yang diperoleh adalah skor total dari 10 kali smash yang dilakukan
4) Hasil yang dicatat berdasarkan jatuhnya bola pada setiap sasaran dengan
benar sebanyak 10 kali dengan pedoman sebagai berikut (Depdiknas,
1999) dalam (Putra, 2015) :
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
53
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Tabel 4.2 Nilai Butir-butir Tes
No Laki-laki Perempuan nilai
1 >22 >21 5
2 18-21 16-20 4
3 12-17 10-15 3
4 8-11 7-9 2
5 <7 <6 1
Tabel 4.3 Norma Tes
Klasifikasi Nilai
No Laki-laki Perempuan
1 Baik sekali 22-55 22-25
2 Baik 19-21 19-21
3 Sedang 14-18 12-18
4 Kurang 9-13 9-11
5 Kurang Sekali 5-8 5-8
4.8 Penentuan Dosis Awal
Penentuan dosis latihan didasarkan pada hasil pengukuran awal terhadap
kemampuan melakukan plyometric hurdle hopping dengan menghitung denyut nadi
istirahat. Sampel melakukan tes beban maksimal untuk penyusunan program
latihan plyometric hurdle hopping dengan cara melompat hurdle/gawang yang
sudah diatur dengan tinggi >35 cm dan 6-8 hurdle/gawang hingga mencapai 80%
training zone kontrol melalui denyut nadi.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
54
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
4.9 Kerangka Operasional Penelitian
Pengukuran variabel penelitian tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh.
Subjek sebanyak 18 orang umur 17-28 tahun atlet Bola voli Klub
Pertamina Makassar berjenis kelamin laki-laki
Kelompok 1 (P1) Latihan high intensity Kelompok 2 kelompok kontrol (P2) Latihan
plyometric hurdle hopping kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m
Pre test vertical jump dan ketepatan smash bola voli
Penentuan dosis latihan untuk penyusunan program latihan, penetapan frekuensi
latihan, repetisi, jumlah set, interval istirahat
plyometric hurdle hopping Latihan kombinasi lompat dada 3-4
dengan interval istirahat 2 menit kali dengan sprint 18 m 1 kali
setiap set, 3-4 set, 15-16 repetisi, terhitung 1 set, 3-4 set, 15-30 repetisi,
frekuensi latihan selama 4 minggu 3 interval 2 menit, frekuensi latihan
kali setiap minggu selama 4 minggu 3 kali setiap minggu
Minggu 1 Minggu 1
15 repetisi x 3 set 15 repetisi x 3 set
Tinggi hurdle 40 cm Lompat dada 3 kali +
Jumlah hurdle 6 1 kali sprint 18 m
Minggu 2 Minggu 2
15 repetisi x 3 set 15 repetisi x 3 set
Tinggi hurdle 45 cm Lompat dada 3 kali +
Jumlah hurdle 7 1 kali sprint 18 m
Minggu 3 Minggu 3
16 repetisi x 4 set 16 repetisi x 4 set
Tinggi hurdle 50 cm Lompat dada 4 kali +
Jumlah hurdle 8 1 kali sprint 18 m
Minggu 4 Minggu 4
16 repetisi x 4 set 16 repetisi x 4 set
Tinggi hurdle 55 cm Lompat dada 4 kali +
Jumlah hurdle 8 1 kali sprint 18 m
Post test vertical jump dan ketepatan smash bola voli
Analisa data
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
55
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Tabel 4.4 Program latihan high intensity plyometric hurdle hopping
Tinggi Interval
Latihan Minggu Hari Jumlah hurdle Repetisi Set istirahat
Ke ke hurdle (cm) antar set
(menit)
1 Senin 6 40 15 3 2
2 I Rabu 6 40 15 3 2
3 Jumat 6 40 15 3 2
4 Senin 7 45 15 3 2
5 II Rabu 7 45 15 3 2
6 Jumat 7 45 15 3 2
7 Senin 8 50 16 4 2
8 III Rabu 8 50 16 4 2
9 Jumat 8 50 16 4 2
10 Senin 8 55 16 4 2
11 IV Rabu 8 55 16 4 2
12 Jumat 8 55 16 4 2
13 V Senin Post test
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
56
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Tabel 4.5 program latihan kombinasi lompat dada dengan sprint 18 m
Jumlah Jumlah Interval
Latihan Minggu lompat sprint istirahat
Hari Repetisi Set
ke ke dada 18 m antar set
tiap tiap (menit)
repetisi repetisi
1 Senin 3 1 15 3 2
2 I Rabu 3 1 15 3 2
3 Jumat 3 1 15 3 2
4 Senin 3 1 15 3 2
5 II Rabu 3 1 15 3 2
6 Jumat 3 1 15 3 2
7 Senin 4 1 16 4 2
8 III Rabu 4 1 16 4 2
9 Jumat 4 1 16 4 2
10 Senin 4 1 16 4 2
11 IV Rabu 4 1 16 4 2
12 Jumat 4 1 16 4 2
13 V Senin Post test
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
57
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
4.10 Analisa Data
Analisa data hasil penelitian menggunakan program IBM SPSS versi 16.0
yang meliputi data statistik sebagai berikut:
1) Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Shapiro-Wilk. Uji normalitas
digunakan untuk melihat hasil apakah distribusi data yang diperoleh dalam
penelitian (Pre test dan Post test) berasal dari populasi berdistribusi normal.
Dalam uji normalitas berlaku ketentuan: jika p-value lebih besar dibanding
0,05, maka data dinyatakan berdistribusi normal. Sebaliknya, jika p-value lebih
kecil dibanding 0,05, maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal.
2) Uji-t berpasangan digunakan untuk menghitung perbedaan data dari 2 rerata
sampel atau subjek yang berhubungan dan untuk mengetahui apakah terdapat
pengaruh antara hasil pre test dan post test yang telah dilakukan.
3) Uji t-independent digunakan untuk membandingkan (membedakan) perubahan
rata-rata dua kelompok data yang satu tidak berhubungan atau tidak bergantung
dengan kelompok yang lain, dengan uji Mann Whitney apabila data tidak
berdistribusi normal.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB 5
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian merupakan data hasil pengukuran dari penelitian yang
mencakup data variabel kendali dan terikat. Data variabel kendali yang diukur
adalah usia, tekanan darah, heart rate istirahat, panjang tungkai, berat badan, tinggi
badan, dan indeks massa tubuh. Sedangkan data variabel terikat yang diukur adalah
hasil vertival jump dan ketepatan smash. Data hasil penelitian dianalisis
menggunakan aplikasi SPSS v.16. Proses analisis data dimulai dari analisa
deskriptif, uji normalitas, uji beda (paired t-test), uji beda saling bebas (independent
t-test), dan uji Mann Whitney.
5.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Karakteristik subjek penelitian diperoleh dengan analisis statistik deskriptif
yang bertujuan untuk memperoleh gambaran sampel penelitian sesuai dengan
kriteria yang dikendalikan pada kelompok latihan high intensity hurdle hopping dan
lompat dada kombinasi sprint 18 meter. Berikut adalah analisis deskriptif dari
kriteria sampel sesuai dengan variabel yang dikendalikan.
Tabel 5.1 Rerata dan simpangan baku data variabel kendali
Kontrol Perlakuan
Variabel n Simpangan Simpangan
Rerata Rerata
Baku Baku
Usia (th) 9 19,22 3,193 20,22 4,09
Tekanan Sistole
9 114,44 5,27 116,67 5
(mmHg)
Tekanan Diastole
9 77,78 4,41 74,44 5,27
(mmHg)
58
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
59
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Heart rate
9 75 3,46 70,56 4,1
(bPm)
Panjang tungkai
9 93,67 5,27 97,22 2,64
kiri (cm)
Panjang tungkai
9 93 5,29 96,56 2,28
kanan (cm)
Berat Badan (kg) 9 63,44 8,1 66,44 7,72
Tinggi Badan
9 1,74 0,06 1,77 0,04
(m)
IMT (kg/m2) 9 20,98 1,61 21,27 1,83
Berdasarkan tabel 5.1, anggota masing-masing kelompok memiliki variasi
antropometri yang seimbang, sehingga diasumsikan memiliki kemampuan yang
sama .
5.2 Vertical jump
Analisa selanjutnya adalah analisis hasil pengukuran vertical jump
berdasarkan rerata, simpangan baku,dan uji normalitas.
Tabel 5.2 Rerata dan simpangan baku vertical jump
Rerata ± Simpangan Baku Nilai p
Kelompok N
(cm)
Normalitas
Pre-test 9 58,44 ± 5,17 0,429
Kontrol
Post-test 9 60 ± 5,81 0,362
Pre-test 9 61,78 ± 10,95 0,892
Perlakuan
Post-test 9 65,67 ± 11,38 0,944
Berdasarkan tabel 5.2, data pretest-posttest variabel vertical jump pada
kelompok kontrol dan perlakuan terjadi peningkatan kemampuan vertical jump
berdasarkan nilai rerata pre test dan post test. Data hasil pengukuran vertical jump
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
60
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
pada dua kelompok tersebut juga berdistribusi normal (p > 0,05), sehingga uji
statistik menggunakan uji parametrik dalam uji hipotesis.
5.3 Ketepatan Smash
Analisa selanjutnya adalah analisis hasil pengukuran ketepatan smash
berdasarkan rerata, simpangan baku dan uji normalitas.
Tabel 5.3 Rerata dan simpangan baku ketepatan smash
Nilai p
Kelompok n Rerata ± Simpangan Baku
Normalitas
Pre-test 9 15 ± 1,5 0,447
Kontrol
Post-test 9 16,56 ± 2,19 0,940
Pre-test 9 16,89 ± 2,67 0,235
Perlakuan
Post-test 9 22 ± 3,28 0,104
Berdasarkan tabel 5.2, data pretest-posttest variabel ketepatan smash pada
kelompok kontrol dan perlakuan terjadi peningkatan kemampuan ketepatan smash
berdasarkan nilai rerata pre test dan post test. Data hasil pengukuran ketepatan
smash pada dua kelompok tersebut juga berdistribusi normal (p > 0,05), sehingga
uji statistik menggunakan uji parametrik dalam uji hipotesis.
5.4 Hasil Uji Hipotesis Vertical Jump
Data hasil pengukuran vertical jump selanjutnya dilakukan uji hipotesis
menggunakan paired t-test sebagai uji pengaruh dan independent t-test sebagai uji
perbedaan pengaruh.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
61
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Tabel 5.4 Pairet t-test dan independent t-test vertical jump
Nilai p
Kelompok N Rerata ± Simpangan Baku
Paired t-test Independent t-test
Pre-test 9 58,44 ± 5,175
Kontrol 0,005
Post-test 9 60 ± 5,81
0,001
Pre-test 9 61,78 ± 10,95
Perlakuan 0,000
Post-test 9 65,67 ± 11,38
Berdasarkan tabel 5.4 uji paired t-test menunjukkan bahwa intervensi latihan
high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang bermakna
pada kemampuan vertical jump (p < 0,05). Sedangkan berdasarkan independent t-
test pada tabel 5.4, masing-masing intervensi yang diberikan pada kelompok
kontrol dan perlakuan memberikan perbedaan yang bermakna (p < 0,05).
Pre test Post test
70
SKOR VERTICAL JUMP
65
65.67
60
61.78
(CM)
60
55 58.44
50
Kontrol Perlakuan
Gambar 5.1 Diagram batang rerata pre-test dan post-test vertical jump
Berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol
variabel vertical jump pre-test (58,44) cm < post-test (60) cm, dengan selisih
sebesar (1,56) cm dan pada kelompok perlakuan variabel vertical jump pre-test
(61,78) cm < post-test (65,67) cm, dengan selisih sebesar (3,89) cm.
5.5 Hasil Uji Hipotesis Ketepatan Smash
Data hasil pengukuran ketepatan smash selanjutnya dilakukan uji hipotesis
menggunakan paired t-test sebagai uji pengaruh dan independent t-test sebagai uji
perbedaan pengaruh.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
62
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Tabel 5.5 Pairet t-test dan mann whitney u test ketepatan smash
Rerata ±
Nilai p
Kelompok n Simpangan
Paired t-test mann whitney u
Baku
test
Pre-test 9 15 ± 1,5
Kontrol 0,003
Post-test 9 16,56 ± 2,19
0,001
Pre-test 9 16,89 ± 2,67
Perlakuan 0,000
Post-test 9 22 ± 3,28
Berdasarkan tabel 5.5 uji paired t-test menunjukkan bahwa intervensi
latihan high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang
bermakna pada ketepatan smash (p < 0,05). Sedangkan berdasarkan uji mann
whitney pada tabel 5.5, masing-masing intervensi yang diberikan pada kelompok
kontrol dan perlakuan memberikan perbedaan yang bermakna (p < 0,05).
30
Pre test Post test
SKOR KETEPATAN
20 22
SMASH
16.89 16.56
15
10
0
Kontrol Perlakuan
Gambar 5.2 Diagram batang rerata ketepatan smash
Berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol
variabel ketepatan smash pre-test (15) < post-test (16,89), dengan selisih sebesar
(1,89). dan pada kelompok perlakuan variabel ketepatan smash pre-test (16,56) <
post-test (22), dengan selisih sebesar (5,44).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB 6
PEMBAHASAN
6.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Karakteristik subjek pada penelitian ini diperoleh dengan analisis statistik
deskriptif yang meliputi usia, tekanan darah, heart rate istirahat, panjang tungkai,
berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh. Berdasarkan analisis deskriptif
menunjukkan bahwa subjek penelitian sesuai dengan kriteria yang dikendalikan.
Hal ini sesuai dengan tabel 5.1 menunjukkan bahwa antara kelompok kontrol dan
perlakuan pada variabel usia, tekanan darah, heart rate istirahat, panjang tungkai,
berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh nilai selisih reratanya hampir
sama karena antara kelompok perlakuan dan kontrol berasal dari subjek penelitian
yang sama (atlet bola voli).
Kriteria yang dikendalikan seperti usia dan tinggi badan pada subjek
penelitian ini di mana rentang usianya adalah 17-28 tahun, dan rentang
predominasinya adalah 17-19 tahun serta rentang tinggi badan 166-195 centi meter
. Rentang usia dan tinggi badan ini agak berbeda dengan rentang usia, tinggi badan
tim bola voli nasional putra Indonesia yaitu 20-32 tahun dan rentang
predominasinya 23-25 tahun (BTN PBVSI, 2018), rentang tinggi badan 170-195
centi meter. Kemudian, rentang usia dan tinggi badan pada subjek penelitian ini dan
tim nasional Indonesia sangat jauh berbeda dengan rentang usia dan tinggi badan
pada atlet bola voli internasional seperti juara dunia tahun 2018 di Bulgaria-Italia
yaitu Polandia (FIVB, 2018). Polandia memiliki rentang usia atlet 24-31 tahun,
tinggi badan 184-210 centi meter.
63
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
64
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
6.2 Pengaruh Latihan High Intensity Plyometric Hurdle Hopping terhadap
Peningkatan Vertical Jump.
Berdasarkan tabel 5.4 melalui uji paired t-test menunjukkan bahwa intervensi
high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang bermakna
dalam meningkatkan vertical jump (p < 0,05). Sedangkan berdasarkan independent
t-test pada tabel 5.4, masing-masing intervensi yang diberikan pada kelompok
kontrol dan perlakuan memberikan perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Selain itu
berdasarkan gambar 5.1 menunjukkan bahwa kelompok perlakuan memiliki selisih
rerata pre-test dan post-test pada variabel vertical jump dengan nilai yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan selisih sebesar (3,89 > 1,56)
centi meter.
Hasil yang didapat membuktikan bahwa latihan high intensity plyometric
hurdle hopping lebih meningkatkan vertical jump dibandingkan latihan lompat
dada kombinasi sprint 18 meter. Latihan high intensity hurdle hopping memberikan
pengaruh lebih terhadap vertical jump disebabkan oleh kontraksi otot yang lebih
kuat dibandingkan dengan latihan lompat dada kombinasi sprint 18 meter karena
pada dasarnya jumlah lompatan dalam satu repetisi pada pada subjek penelitian ini,
kelompok perlakuan lebih banyak volumenya dibandingkan kelompok kontrol
sehingga kontraksi otot pada kelompok perlakuan lebih maksimal akibat
pengulangan gerakan lompat melompat dalam satu repetisi.
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa latihan high intensity plyometric hurdle
hopping memberikan pengaruh yang bermakna terhadap vertical jump. Hasil yang
didapatkan ini hampir sama dengan penelitian terdahulu oleh Pamungkas (2016)
dan Kalfi (2013) bahwa latihan high intensity plyometric hurdle hopping
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
65
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
berpengaruh terhadap tinggi loncatan pada atlet bola voli. Latihan high intensity
plyometric hurdle hopping meningkatkan vertical jump kemungkinan dikarenakan
hasil dari latihan high intensity plyometric hurdle hopping dapat meningkatan daya
ledak dan kekuatan kontraksi sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap
peningkatan vertical jump.
Peningkatan vertical jump akibat latihan high intensity plyometric hurdle
hopping kemungkinan juga disebabkan subyek mengalami mekanisme coping.
Pada penelitian ini subyeknya yaitu atlet dan diberikan intervensi high intensity
plyometric hurdle hopping. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping yang
diberikan selama empat minggu menyebabkan subyek penelitian mengalami
mekanisme coping. High intensity hurdle hopping yaitu latihan dengan intensitas
tinggi yaitu melompat di atas kotak atau penghalang lain setinggi
dioataso35ocmotergantung kemampuan. Hurdle hopping memerlukan kontraksi
berirama dari kelompok-kelompok otot besar dari tungkai untuk memindahkan
seluruh berat badan. Latihan ini meningkatkan otot gluteal, gastrocnemius,
guadrisep, hamstring, fuksor pinggul, otot-otot punggung bagian bawah, dan perut
(Sudarmanto et al., 2018). Akibat latihan high intensity plyometric hurdle hopping
tubuh berusaha mengembangkan mekanisme “coping” untuk melawan tekanan,
sehingga secara bertahap melakukan adaptasi terhadap stress dari latihan, sehingga
merasakan “enak” dalam menghadapi shock, kemudian terjadi adaptasi yang lebih
tinggi (Rushall & Pyke dalam Sugiharto, 2012).
Latihan plyometric adalah gerakan dari rangsangan peregangan otot secara
mendadak supaya terjadi kontraksi yang lebih kuat. Latihan tersebut dapat
menghasilkan peningkatan daya ledak dan kekuatan kontaksi. Daya ledak dan
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
66
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
kekuatan kontaksi otot merupakan cermin peningkatan adaptasi fungsional
neuromuscular. Peningkatan kontraksi otot merupakan perbaikan fungsi reflek
peregangan dari muscle spindle. Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa latihan
plyometric adalah bentuk metode latihan untuk meningkatkan daya ledak otot
dengan bentuk kombinasi latihan isometrik dan isotonik (eksentrik-konsentrik)
yang menggunakan pembebanan dinamik. Regangan yang terjadi secara mendadak
sebelum otot berkontraksi kembali atau suatu latihan yang memungkinkan otot-otot
untuk mencapai kekuatan yang maksimal dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Selain itu pola gerakan plyometric sebagian besar mengikuti konsep power chain
(rantai power) yang sebagian besar melibatkan otot pinggul dan tungkai. Gerakan
kelompok otot pinggul dan tungkai merupakan pusat power yang memiliki
keterlibatan yang besar dalam semua gerakan dalam olahraga (Susilawati, 2018).
Power merupakan kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam
waktu yang sangat cepat untuk mengatasi beban atau tahanan dengan kecepatan
kontraksi yang tinggi. Dalam lompatan, yang berperan adalah kekuatan otot tungkai
karena merupakan tumpuan dan menunjang dorongan untuk mengangkat seluruh
badan ke atas melayang di udara (Hidayat, Saichudin, & Kinanti, 2017). Serta
latihan high intensity plyometric hurdle hopping juga dapat mengembangkan
kekuatan otot kaki karena latihan ini mengandalkan kekuatan kaki “di mana kaki
harus terus melompat-lompat melompati rintangan yang ada di depan secara
berturut-turut dengan beberapa pengulangan (Susilawati, 2018). Menurut Behrens
et al., (2016) latihan plyometric dapat meningkatkan aktivasi otot volunter dengan
menginduksi adaptasi spesifik di tingkat supraspinal (tulang belakang) tergantung
pada mode kontraksi. Peningkatan ketinggian lompatan mungkin merupakan akibat
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
67
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
dari adaptasi saraf. Adaptasi saraf ini melibatkan peningkatan frekuensi
penembakan dan pengerahan α-motoneuron. Hal ini dikarenakan latihan plyometric
menyebabkan peregangan otot yang cepat (aksi eksentrik) dan pemendekan cepat
(aksi konsentris) (Johnson et al., 2011). Energi elastis yang tersimpan dalam otot
selama peregangan digunakan untuk menghasilkan lebih banyak kekuatan
mengikuti fase konsentris. Latihan plyometric dapat memfasilitasi perifer dan
adaptasi saraf pusat yang meningkatkan sendi proprioseptif dan kesadaran
kinestetik. Aktivitas quick stretch dan shortening dapat menyebabkan sensitivitas
dari spindel otot dan desensitisasi organ tendon golgi selama pembebanan eksentrik
(Swanik et al., 2002).
6.3 Pengaruh Latihan High Intensity Plyometric Hurdle Hopping terhadap
Peningkatan Ketepatan Smash
Berdasarkan tabel 5.5 melalui uji paired t-test menunjukkan bahwa
intervensi high intensity plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang
bermakna dalam meningkatkan ketepatan smash (p < 0,05). Sedangkan berdasarkan
uji mann whitney pada tabel 5.5, masing-masing intervensi yang diberikan pada
kelompok kontrol dan perlakuan memberikan perbedaan yang bermakna (p < 0,05).
Selain itu berdasarkan gambar 5.2 menunjukkan bahwa kelompok perlakuan
memiliki selisih rerata pre-test dan post-test pada variabel ketepatan smash dengan
nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan selisih skor
(5,44 > 1,89).
Selain itu tabel 5.4 yang menunjukkan bahwa latihan high intensity
plyometric hurdle hopping memberikan pengaruh yang bermakna terhadap vertical
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
68
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
jump akan mempengaruhi ketepatan smash. Sehingga, hasil vertical jump yang
didapatkan ini secara otomatis akan berpengaruh terhadap ketepatan smash. Sejalan
dengan penelitian oleh Nilamsari (2017) bahwa peningkatan daya ledak otot
(vertical jump) mempengaruhi dalam ketepatan smash. Hal ini dikarenakan, ketika
melakukan smash kaki berfungsi sebagai tumpuan badan sehingga pada saat
melakukan pengaruh kekuatan otot lengan dan daya ledak otot kaki terhadap
ketepatan smash. Kemudian posisi kaki tadi ditekuk kemudian di luruskan, hal
tersebut dapat memberikan kontribusi dorongan dan kekuatan tangan saat
melakukan smash, sehingga ketepatan smash mengalami peningkatan (Nilamsari,
2017). Hal ini terjadi karena ketika melompat tinggi dan menjangkau bola untuk
melakukan smash sebelum memukul bola hampir semua bagian otak bekerja
terutama pada korteks visualnya (Kandel et al., 2000) yang berfungsi untuk
mengidentifikasi bola, mengenai ukuran, arah, dan kecepatan kemudian
dikembangkan gerakannya oleh motor cortex sehingga menghasilkan gerakan
smash yang tepat. Sedangkan bagian otak amygdala berfungsi menyesuaikan
denyut jantung, pernapasan, dan mekanisme homeostatis lainnya serta
mengaktifkan hipotalamus untuk memotivasi smasher agar melakukan spike yang
baik. Basal ganglia ikut terlibat dalam memulai pola gerakan smash dan
memungkinkan mengingat gerakan gerakan yang dipelajari untuk memukul bola
dengan benar serta otak kecil mengatur gerakan berdasarkan informasi
proprioseptif dari reseptor sensorik perifer. Bagian otak lainnya yang terlibat
korteks parietal posterior yang berfungsi memberi smasher perasaan (feeling) dan
selama proses smash batang inti otak terlibat dalam mengatur detak jantung,
pernapasan, dan gairah (Kandel et al., 2000).
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
69
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Disamping itu selain faktor dominan visual ketepatan smash juga
dipengaruhi faktor dominan pengalaman atlet. Peningkatan ketepatan smash
dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya koordinasi tinggi, besar kecilnya sasaran,
visual (ketajaman indera dan pengaturan saraf), jauh dekatnya sasaran, penguasaan
teknik yang benar akan mempunyai sumbangan baik terhadap ketepatan
mengarahkan gerakan, cepat lambatnya gerakan, feeling dan ketelitian, kuat
lemahnya suatu gerakan (Suharno, 1981). Selain itu Sukadiyanto (2005)
menambahkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketepatan smash,
yaitu: tingkat kesulitan, pengalaman atlet, keterampilan sebelumnya, jenis
keterampilan, perasaan, dan kemampuan mengantisipasi gerak. Berdasarkan
penjelasan diatas menunjukkan bahwa ketepatan smash dipengaruhi beberapa
faktor. Faktor yang paling dominan mempengaruhi yaitu visual dan pengalaman
atlet. Hal ini sejalan dengan penelitian Pritama et al., (2014) bahwa subyek
penelitian yang memiliki koordinasi mata-tangan tinggi memiliki kemampuan
smash yang lebih baik. Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa koordinasi
mata (visual) mempengaruhi kemampuan smash yaitu pada ketepatan dalam
melakukan smash. Selain itu, tentunya pengalaman yang dimiliki atlet otomatis
juga mempengaruhi ketepatan smash. Baik pengalaman latihan maupun
pengalaman bertanding. Banyak sedikitnya pengalaman atlet akan mempengaruhi
terhadap ketepatan smash.
6.4 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini adalah tidak mampu mengontrol beberapa hal
dengan sepenuhnya yaitu :
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
70
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
1. Asupan nutrisi subjek setiap harinya.
2. Waktu istirahat subjek setiap hari.
3. Aktivitas lain dari subjek yang memungkinkan dapat mempengaruhi hasil
penelitian.
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB 7
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
1. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan vertical
jump smash bola voli.
2. Latihan high intensity plyometric hurdle hopping meningkatkan
ketepatan smash bola voli.
7.2 Saran
1. Untuk melatih kemampuan jumping smash bola voli dapat dilatih dengan
menggunakan latihan high intensity plyometric hurdle hopping.
2. Perlu dilakukan studi pengaruh latihan high intensity plyometric hurdle
hopping terhadap vertical jump, kekuatan otot lengan, dan ketepatan
smash, karena variabel tersebut saling berkaitan. Vertical jump akan
mempengaruhi kekuatan otot lengan dan selanjutnya mempengaruhi
dalam ketepatan smash bola voli.
71
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Widodo. 2013. Pengaruh Latihan Plyometric Standing Jump dan Long
Jump Terhadap Tinggi Loncatan Atlet Bola Voli Putra Usia 15 -17 Tahun
Ganevo SC Yogyakarta. Skripsi. FIK: Universitas Negeri Yogyakarta.
Asdep PTPK, Kemenegpora, 2007. Pelatihan Pelatih Fisik Level I. Jakarta:
Kemenegpora.
Afriwandi, 2009. Ilmu Kedokteran Olahraga. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Australian College of Sport and Fitness, 2013; Power Test-Vertical Jump.
Ambarukmi, D.H., Pasumey, P., Sidik, D.Z., Irianto, J.P., Dewanti, R.A., Sunyoto.,
Sulistiyanto, D., Harahap, Y. 2007. Pelatihan Pelatih Fisik Level I. Jakarta:
Kemenpora
Anjaswati, Dian Tri. 2018 “Produktivitas service pemain bola voli putri pada
proliga tahun 2018”. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Bompa, T. 1999. Periodization Training For Sport. Human Kinetics. USA.
Bompa, T. [Link] and Methodology of Training. 2nd ed, Toronto Canada:
Kendall/Publishing Company, pp 263-365.
Bompa, T. 2015. Periodization of Training. Human Kinetics. USA.
Briggs, Marc. 2013. Training For Soccer Players. Marlborough: The Crowood
Press Ltd.
Behrens, M., Mau-moeller, A., Mueller, K., Heise, S., Gube, M., Beuster,
N.,…Bruhn, S. (2016). Journal of Sciense and medicine in Sport Plyometric
training improves voluntaryactivation and strength during isometric,
concentric and accentric contractions. Journal of Science and medicine in
sport, 19(2), 170-176. ([Link]
Booth, Mark. Orr, Rhonda. 2016. Effect Of Plyometric Training on Sports
Performance. Strength and Conditioning Journal 38(1):30-37.
BTN PBVSI, 2018. Daftar Atlet Pelatnas Timnas Voli Putra-Putri Indonesia.
[Link]
putri-indonesia-untuk-asian-games-2018 diakses 2 juli 2019.
Chu. Donal A., Myer, Gregory D. 2013. Plyometrics. Human Kinetics. United
States.
72
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Cahyadinata, I. 2011. Skripsi “Pengaruh Latihan Pliometrik depth jumps, two-foot
ankle hop dan neuromuscular electrical stimulation (NMES) terhadap
peningkatan kekuatan otot Quadrisep Femoris pada atlit bola voli UMS”.
Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 1999. Petunjuk Tes Keterampilan Bola Voli.
Jakarta: Pusat Kesegaran Jasmani.
Edell, D., 2009. High Intensity. Retrieved Februari, 23, 2019 From
[Link] room/high intensity.
Firmansyah, Awang. 2017. “ Perbandingan latihan pliometric rope jumping dengan
perbedaan work interval 10, 20, 30 detik terhadap kecepatan dan
kelincahan”. Tesis. Surabaya : Universitas Airlangga Surabaya.
FIVB, 2015. [Link]
[Link] diakses pada tanggal 28 januari 2019.
FIVB, 2018. Kejuaraan Dunia Bola Voli Putra.
[Link]
dunia-voli-putra-2018-di-bulgaria-italia. Diakses pada tanggal 5 juli 2019.
Fauzi, 2011. Penyusunan Battery Test Olahraga Bola Voli. FIK, Universitas Negeri
Yogyakarta.
Faigenbaum, A. D., Kraemer, W. J., Blimkie, C. J., Jeffreys, I., Micheli, L. J., Nitka,
M., & Rowland, T. W. (2009). Youth resistance training: updated position
statement paper from the national strength and conditioning association.
The Journal of Strength & Conditioning Research, 23, S60-S79.
Gabbett, T. Georgieff B., 2007. Physiological and anthropometric characteristics
of Australian junior national, state, and novice volleyball players. J
Strength Cond Res. 2007 Aug;21(3):902-8.
Harmandeep, Singh. Kumar Satinder, Rathi Amita and Sherawat Anupriya., 2015.
“Effects of Six-Week Plyometrics on Vertical Jumping Ability of Volleyball
Players” Department of Physical Education, Guru Nanak Dev University,
Amritsar, Punjab, India. Research Journal of Physical Education Sciences.
ISSN 2320– 9011. Vol. 3(4), 1-4, April (2015).
Hrzenjak, Miroslav. Nebojsa Trajkovic,Tomislav Kristicevic., 2016. Effects of
plyometric training on selected kinematic parameters in female volleyball
players. Sport Science 9 (2016) Suppl 2: 7- 1.
Hidayat, T., Saichudin, S., & Kinanti, R. G. (2017). Pengaruh Latihan Plyometric
Depth Jump dan Jump To Box Terhadap Power Otot Tungkai pada Pemain
73
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Ekstrakurikuler Bolavoli SMK Teknologi Nasional Malang. Jurnal Sport
Science, 7(1), 66-73.
Hidayat, Syarif. 2014. Pelatihan Olahraga Teori dan [Link]:
graha Ilmu.
Hapsoro, R.A., 2012. Hubungan Power Otot Tungkai, Kelincahan, dan Power Otot
Lengan Terhadap Ketepatan Smash Semi Pada Atlet Putri Unit Kegiatan
Mahasiswa Bola Voli Unnes Tahun 2012. Skripsi. Universitas Negeri
Semarang.
Haff, G Gregory., Triplett, N Travis. 2016. Essential Strength Training and
Conditioning. Human Kinetics. US.
Irianto, Djoko Pekik. (2004). Pedoman Praktis Berolahraga. Yogyakarta: Andi
Offset.
Irwansyah, Riza. 2012. “Pengaruh Latihan Plyometric terhadap tinggi lompatan
smash dan ketepatan smash atlet bulutangkis Usia 13-17 Tahun”. Skripsi.
Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Johnson, B.A., Salzberg, C.L., Stevenson, D.A. 2011. A systematic review:
Plyometric training programs for young children. Journal of Strength and
Conditioning Research, 25(9): 2623-2633.
Kurniawan, F. Mylsidayu, A., 2015. Ilmu kepelatihan Dasar Bandung: Alfabeta
Kraemer, W.J. & Knuttgen, H.G., 2003. Strength training basics. Physician &
Sports Medicine, 31(8), 39-45.
Kenny, B. & Gregory, C., 2006. Volleyball steps to success. United State of
America: Human Kinetic. Inc.
Kalfi, Rizang. 2013. “Pengaruh latihan plyometric hurdle hooping dan depth jump
terhadap peningkatan vertical jump atlet bola voli klub Jibs Kids Bantul”.
Skripsi. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Kandel, Eric R. Schwartz, James H. Jessell, Thomas M., 2000. Principles of Neural
Science. 4/e. 318. United States of America. Inc.
Lakshmikrishnan, R. Silvakumar, K., 2013. Effect Of Weight Training And
Plyometric Training On Strength Endurance And Leg Strength Endurance
International Journal of Healt, Physical Endurance and Computer Science
in Sport. Vol. 11. No. 1. pp. 152-153.
Lovitt, Michelle dan John Speraw. 2004. Exercise For Your Muscle Type: The Smart
Way to Get Fit. New Jersey: Basic Health Publications, Inc.
74
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Listiyadi, Jeffry. 2014. “Alat pengukur tinggi lompatan seseorang dengan
sensor Ultrasonik Berbasis Mikrokontroler Atmega16”. Sriwijaya:
Politeknik Negeri Sriwijaya.
Lameshow S, 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta.
Lamusu, A. 2011. Aplikasi Cabang Olahraga Permainan Sepak Takraw di Provinsi
Gorontalo. Jurnal Health & Sport, 2 (2):149-155.
Maksum A, 2012. Metodologi Penelitian dalam olahraga, Unesa University Press,
Surabaya.
Mc Cleton, Lakeysha.,dkk. 2008. The effect of short-term VertiMax vs Dept jump
Training On Vertical Jump Performance. Journal of Strenght and
Conditional Research 22.2: p 321(5).
Milner, Clare E., 2008: Functional Anatomy For Sport And Exercise, Published in
the USA and Canada.
Munawwarah, Ahmad. 2017. Kejuaraan terbuka piala Rektor UMI.
[Link]
voli-umi-juara-piala-rektor. Diakses 21 Juni 2019.
Notriya, Suwarda Gadis. 2018. Pengaruh Latihan Memukul Bola digantung
Terhadap Ketepatan Smash Bola Voli Putri di SMA Paramarta 1 Seputih
Banyak Lampung Tengah. Skripsi. FKIP. Universitas Lampung.
Nagarajan, S. Damodharan, C. Praven, A. 2013. Effect of aerobic circuit training
and parcours Training on Selected Physiological Variables Among college
Men Student, Journal Internasional, Vol. 11, 1 PP 149-151.
Nilamsari, Icut Hetty. 2017. Pengaruh Kekuatan Otot Lengan dan Daya Ledak Otot
Kaki dengan Ketepatan Smashpada Ekstrakurikuler Bola Voli Putri SMAN
1 Kenduruan Kabupaten Tuban. Skripsi. FKIP: Universitas Nusantara PGRI
Kediri.
Ostojic, SM. Stojanovic M, Ahmetovi Z. 2010. Vertical Jump, Retrieved, Februari,
24, 2019. From [Link] jump.
Putra, Ardhana Purnama. 2015. Peningkatan Kemampuan Akurasi Smash Bola
Voli dengan Metode Target Games Peserta didik Kelas VII SMP Negeri 4
Kalasan Sleman. Skripsi. FIK: Universitas Negeri Yogyakarta.
Putra, Donny Belliyan. 2018 “pengaruh latihan plyometric terhadap peningkatan
kemampuan smash pemain bola voli SMA Negeri 1Tanjung Jabung Timur”.
Jambi : Universitas Jambi.
75
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Pamungkas, Kejora Puteri., 2016. Pengaruh Penambahan Electrical
Myostimulation (EMS) dan Latihan Hurdle Hops Terhadap Tinggi
Lompatan Pada Pemain Bola Voli. Surakarta. Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Pujiarti, S.A. 2015. Pengaruh Latihan Hurdle Hops dalam Peningkatan Daya
Ledak Otot Tungkai Pesilat Remaja IPSI Garuda Sakti Pekalongan. Skripsi.
FIK. Universitas Negeri Semarang.
PBVSI. 2005. Peraturan Permainan Bola voli. Senayan: Jakarta.
Pratiknya, 2001. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan,
ed. I, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Pritama, M.A., Sugiharto, Rahayu, S. 2014. Pengaruh Metode Latihan Smash dan
Koordinasi Mata Tangan Dengan Menggunakan Umpan Langsung San
Tak Langsung Umpan Pada Bulutangkis. Journal of Physical Education
And Sport, 3(1): 46-50.
Rao, N Rama Chandra Raoand Dr. RVLN Ratnakara. 2016. Specific influence of
selected plyometric training exercises on jump serve among inter collegiate
men volleyball players. International Journal of Physical Education, Sports
and Health 2016; 3(6): 143-147.
Rudiyanto, Musyafari Waluyo, Sugiharto. 2012. Hubungan Berat Badan Tinggi
Badan dan Panjang Tungkai Dengan Kelincahan. Journal of Sport Sciences
and Fitnes. JSSF 1(2) (2012). FIK, Universitas Negeri Semarang. Retrieved,
Februari, 23, 2019. From [Link]
Rogers, R., 2008; Look Before You Jump!, Retrieved Februari, 16, 2019 From
[Link]
Radcliffe J.C., dan Farentinos R.C. 1985. Plyometrics Explosive Power Training
[Link], Illionis : Human Kinetics Published, [Link]. 1-5, 15, 50-
52.
Silvia. 2015. Pengukuran Antropometri. Https//[Link]/pengukuran-
antropometri/. Diakses pada 7 September 2019.
Sukadiyanto, 2010. Pengantar Teori dan Metodelogi Melatih Fisik. Bandung: CV
Lubuk Agung . Yogyakarta.
Sukadiyanto, 2011. Pengantar Teori dan Metodelogi Melatih [Link]: CV
Lubuk Agung . Yogyakarta.
76
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Sukadiyanto, 2005. Pengantar Teori dan Metodelogi Melatih [Link]: CV
Lubuk Agung . Yogyakarta.
Sajoto, M. 1998. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dalam
Olahraga, Semarang: Dahara Prize.
Suharjana, F. 2013. Perbedaan Pengaruh Hasil Latihan Peregangan Statis
dan Dinamis Terhadap Kelentukan Togok menurut jenis kelamin anak kelas
3 dan 4 Sekolah Dasar. Skripsi. Yogyakarta : Jurusan Pendidikan Olahraga
UNY.
Suharjana. (2008). Pendidikan Kebugaran Jasmani. Pedoman Kuliah. Yogyakarta.
FIK UNY.
Suharno, 1981. Metodik Melatih Permainan Bola volley. Yogyakarta.
Suharno, 1993. Metodologi Pelatihan Bola Voli. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta
Sudjarwo, 1995. Ilmu Kepelatihan Surakarta: UNS Perss.
Shankar, R., Rajpal, H., Arora, M., 2008; Effect Of High Intensity And Low Intensity
Plyometric on Vertical Jump Height And Maximum Voluntary Isometric
Contraction in Football Players, Retrieved Februari, 16, 2019 From
[Link]
Syahputra,Irfan. (2014) [Link]
[Link] diakses pada tanggal 29 januari 2019.
Sudarmanto, E., Supriyadi, A.P., Hakiki, M.I. 2018. Journal of Soprt Science and
Education (JOSSAE), 3(2): 60-68.
Sugiharto. 2012. Fisioneurohormonal Pada Stresor Olahraga. Jurnal Sains
Psikologi, 2 (2): 54-66.
Susilawati, N. 2018. Pengaruh Latihan plyometric Hurdle Hopping Terhadap
Kemampan Daya Ledak Otot Tungkai. Jurnal Pendidikan Jasmani dan
Olahraga, 17(1): 29-34.
Swanik, K.A., Lephart, S.M., Swanik, C.B., Lephart, S.P., Stone, D.A., Fu, F.H.
2002. The effects of shoulder plyometric training on proprioception and
selected muscle performance characteristics. Journal of Shoulder Elbow
Surgery, 11(6): 579-586.
Toit, S.D., 2009; Practical Guidlines For The Warm-Up And Cool Down In Rugby,
Retrieved Februari, 16, 2019 From
[Link]
up%20and%[Link].
77
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Vassil, Karin and Boris Bazanovk., 2012.“The effect of plyometric training program
on young volleyball players in their usual training Period” Journal of
Human Sport and Exercise. January 2012. Institute of Health Sciences and
Sports, Tallinn University Estonia.
Voigt, H.F., & Vetter, K. (2003). The value of strength‐diagnostic for the structure
of jump training in volleyball. European Journal of Sport Science, 3(3), 1‐
10.
Wibowo, Setyo Dian. 2018. Profil kondisi fisik dan program latihan bolavoli
pantai putra smanor Sidoarjo.
[Link]
olahraga/article/view/25340 Vol 1 no 3. Diakses pada tanggal 29 januari
2019.
Widyasari, Galih. 2016. Pengaruh Pliometric High Intensity Terhadap Peningkatan
Power Otot Tungkai Pada Laki-Laki Dewasa Muda Di Unit Kegiatan
Mahasiswa Basket Universitas Airlangga, Surabaya.
Wibintoro, G.N., 2009; Perbedaan Pengaruh Latihan Pliometrik Dengan Istirahat
1 : 5 dan Istirahat 1 : 10 Terhadap Peningkatan Power Otot Tungkai Pada
Pemain Putri Usia 10-14 Tahun Club Bola voli Vita Surakarta. Skripsi.
Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Hal 12 – 17.
Widana, I.K.S., Dantes, N. Marhaeni, A.A.I.N. 2013. Pengaruh Latihan Plyometric
dan Fleksibilitas Togok terhadap Prestasi Lompat Jauh Pada Siswa Kelas
VII SMP Negeri 5 Negara. Jurnal Pendidikan Dasar, (3).
Winarno, 2011. Metodologi Penelitian Dalam Pendidikan Jasmani, Media
Cakrawala Utama Press, Malang.
Yunus, Muhammad. 1992. Olahraga Pilihan Bola voli. Jakarta: Depdikbud
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Zainuddin, M. 2014. Metode Penelitian. Surabaya: Lemlit Unair.
78
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Lampiran 1:
PENJELASAN UNTUK MENDAPATKAN PERSETUJUAN
(Information for Consent)
Penjelasan dan informasi yang diberikan antara lain:
1. Penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh
latihan high intensity plyometric hurdle hopping terhadap peningkatan
vertical jump dan ketepatan smash atlet bola voli.
2. Penelitian ini dilakukan pada subyek penelitian yaitu atlet laki-laki yang
berstatus sebagai atlet bola voli klub pertamina makassar junior-senior
dengan rentang umur 17-28 tahun yang sehat memiliki indeks massa tubuh
normal (18,5-22,9 kg/m2) dan mampu melakukan aktivitas fisik intensitas
tinggi dengan melakukan pukulan smash bola voli.
3. Subjek diikutsertakan karena subjek dapat mengetahui pentingnya latihan
untuk meningkatkan vertical jump dan ketepatan smash yang mendukung
dalam permainan bola voli dan mendapatkan berbagai macam informasi
tentang metode latihan, salah satunya dengan latihan plyometric hurdle
hopping.
4. Subjek diukur tinggi badan menggunakan microtoise, berat badan diukur
menggunakan timbangan dalam satuan kilo gram, vertical jump diukur
menggunakan papan skala dalam satuan centimeter dan ketepatan smash
bola voli diukur dengan menggunakan tes kemampuan smash oleh (Kenny
and Gregory, 2006) dalam (Fauzi, 2011).
5. Subjek diberi latihan sebanyak 12 kali pertemuan.
79
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
6. Untuk menghindari terjadinya risiko cedera, selama pengukuran dan latihan
berlangsung akan didampingi oleh tenaga medis dan fisioterapi.
7. Subjek mungkin akan merasakan kelelahan, kram otot, dan cedera jika tidak
melakukan pemanasan dan peregangan dengan baik, subjek dapat langsung
diperiksa oleh tenaga fisioterapi dan peneliti sepenuhnya bertanggung
jawab atas semua biaya yang akan dibebankan.
8. Seluruh pengukuran dan pelaksanaan latihan akan dilakukan oleh ahli dan
pelatih pada bidang olahraga tersebut.
9. Penelitian ini bersifat bebas dan tanpa paksaan, subjek bebas mengundurkan
diri sewaktu-waktu sebagai sampel dari penelitian ini jika merasa dirugikan
tanpa adanya sanksi yang memberatkan.
10. Jika terdapat insiden dalam pengambilan data, peneliti memberikan
kompensasi sebesar kerugian yang diderita subjek.
11. Untuk melindungi subjek penelitian dari risiko mendapatkan perlakuan
diskriminatif yang tidak diinginkan oleh pihak manapun, semua catatan,
baik nama dan alamat subjek yang bersifat pribadi dirahasiakan
sepenuhnya.
12. Subjek mendapat uang transpor dan cenderamata setelah kegiatan penelitian
berakhir yaitu setelah 12 kali pertemuan.
13. Apabila terdapat sesuatu yang ingin ditanyakan setelah penjelasan ini,
silahkan menghubungi peneliti melalui telepon: 082349134478.
Surabaya, .......................2019
Hormat saya,
Pemberi Penjelasan Penerima Penjelasan
80
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
(Herwin) (.................................)
Lampiran 2:
SURAT PERMOHONAN PENGISIAN (Informed for Consent)
Lampiran : 1 (satu) Pernyataan Persetujuan
Perihal : Pemberitahuan Informed for Consent
Kepada, Yth:
Atlet Bola voli Klub Pertamina
Di Makassar
Dengan hormat,
Dengan ini menyampaikan bahwa, saya:
Nama : Herwin [Link] [Link]
Pendidikan : Peserta Program Pascasarjana (S2) Ilmu Kesehatan
Olahraga, Universitas Airlangga Surabaya
Judul Penelitian : pengaruh latihan high intensity plyometric hurdle
hopping terhadap peningkatan vertical jump dan
ketepatan smash atlet bola voli
Pembimbing : 1. Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., [Link], AIFO.
2. Dr. Imam Subadi, dr., [Link].
Dengan ini meminta kesediaan saudara untuk ikut berpartisipasi dalam
penelitian saya. Dimana tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh
latihan high intensity plyometric hurdle hopping terhadap peningkatan vertical
jump dan ketepatan smash atlet bola voli. Penelitian ini bersifat bebas dan tanpa
paksaan, saudara dapat mengundurkan diri sewaktu-waktu sebagai subjek dari
penelitian ini jika merasa dirugikan tanpa ada sanksi apapun yang memberatkan.
Jika saudara setuju silahkan mengisi dan menandatangani informed consent
yang telah terlampir. Atas partisipasi dan kerjasama saudara, saya ucapkan banyak
terima kasih.
Surabaya, ......................2019
Hormat saya,
81
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Herwin
Lampiran 3:
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN
SEBAGAI SUBJEK PENELITIAN
(Informed Consent)
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama :
Tempat, tanggal lahir :
Alamat :
No, Telp/HP :
Dengan ini saya menyatakan bahwa, setelah memperoleh penjelasan
sepenuhnya dan menyadari tujuan, manfaat serta risiko yang mungkin timbul dalam
penelitian yang berjudul:
“Pengaruh latihan high intensity plyometric hurdle hopping terhadap peningkatan
vertical jump dan ketepatan smash atlet bola voli”
Dengan sukarela saya setuju untuk diikutsertakan dan bersedia menjadi
subjek, dengan catatan bila suatu waktu saya merasa dirugikan dalam bentuk
apapun, maka saya akan mengundurkan diri dan membatalkan persetujuan ini tanpa
sanksi apapun dikemudian hari. Seluruh kerugian yang mungkin dapat saya alami
akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari peneliti.
Makassar, ......................2019
Penanggung Jawab Hormat saya,
Penelitian Yang membuat pernyataan
Herwin (.....................................)
Wali Atlet Saksi
82
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
(.....................................) (.....................................)
Lampiran 4:
83
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Lampiran 5
84
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Sertifikat Etik
85
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Lampiran 6
Surat Balasan Ijin Penelitian
86
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
Lampiran 7 :
Data Hasil Penelitian
Kelompok latihan high intensity plyometric hurdle hopping (P1)
No HR PT (cm) Vertical Jump Ketepatan
Nama Usia TD Resting BB TB IMT (cm) Δ Smash Δ
(mmHg) (bpm) R L (kg) (m) (kg/m2) Pre Post Selisih Pre Post Selisih
test test (cm) test test (cm)
1. suk 19 120/70 75 100 10 74 1,81 22,6 79 84 5 21 29 8
1
2. mul 26 120/80 74 99 10 73 1,79 22,8 71 76 5 20 25 5
0
3. zulka 28 120/80 73 98 99 73 1,80 22,5 70 73 3 19 23 4
4. Lao 18 110/70 62 95 96 55 1,71 18,8 66 69 3 18 20 2
5. wan 17 120/70 70 93 94 56 1,74 18,5 59 61 2 16 22 6
6. sah 19 110/70 67 95 94 63 1,70 21,7 58 64 6 15 19 4
7. zulki 21 120/80 73 96 97 72 1,78 22,7 56 60 4 15 20 5
8. fad 17 110/70 69 95 95 61 1,78 19,3 55 59 4 14 21 7
9. ric 17 120/80 72 98 99 71 1,78 22,4 42 45 3 14 19 5
86
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Kelompok latihan lompat dada kombinasi sprint 18 m (P2)
No HR PT (cm) IMT Vertical Ketepatan
Nama Usia TD Resting BB TB (kg/m2) Jump (cm) Δ Smash Δ
(mmHg) (bpm) R L (kg) (m) Pre Post Selisih Pre Post Selisih
test test (cm) test test (cm)
1. waw 26 120/80 76 93 94 72 1,78 22,7 68 70 2 18 20 2
2. irs 19 120/80 77 100 100 77 1,84 22,7 65 68 3 16 19 3
3. faf 23 110/70 75 97 98 61 1,74 20,1 60 61 1 16 18 2
4. fajr 17 120/80 69 96 96 61 1,73 20,4 58 60 2 15 16 1
5. risw 17 110/80 74 90 91 55 1,72 18,6 57 60 3 15 17 2
6. andr 17 110/70 77 89 90 59 1,66 21,4 57 58 1 14 15 1
7. rick 17 110/80 70 99 100 72 1,78 22,7 55 56 1 14 16 2
8. lut 19 110/80 78 88 89 55 1,71 18,8 54 53 -1 14 13 -1
9. ast 18 120/80 79 85 85 59 1,66 21,4 52 54 2 13 15 2
87
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Lampiran 8:
Hasil Perhitungan Statistik
Descriptives
95% Confidence Interval for Mean
N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum
Usia plyometric hurdle
9 20,22 4,086 1,362 17,08 23,36 17 28
hopping
lompat dada sprint 9 19,22 3,193 1,064 16,77 21,68 17 26
Total 18 19,72 3,594 ,847 17,93 21,51 17 28
Tekanan_darah_sistole plyometric hurdle
9 116,67 5,000 1,667 112,82 120,51 110 120
hopping
lompat dada sprint 9 114,44 5,270 1,757 110,39 118,50 110 120
Total 18 115,56 5,113 1,205 113,01 118,10 110 120
Tekanan_darah_diastole plyometric hurdle
9 74,44 5,270 1,757 70,39 78,50 70 80
hopping
lompat dada sprint 9 77,78 4,410 1,470 74,39 81,17 70 80
Total 18 76,11 5,016 1,182 73,62 78,61 70 80
Heart_rate plyometric hurdle
9 70,56 4,096 1,365 67,41 73,70 62 75
hopping
lompat dada sprint 9 75,00 3,464 1,155 72,34 77,66 69 79
Total 18 72,78 4,333 1,021 70,62 74,93 62 79
88
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Panjang_tungkai_kanan plyometric hurdle
9 96,56 2,297 ,766 94,79 98,32 93 100
hopping
lompat dada sprint 9 93,00 5,292 1,764 88,93 97,07 85 100
Total 18 94,78 4,360 1,028 92,61 96,95 85 100
Panjang_tungkai_kiri plyometric hurdle
9 97,22 2,635 ,878 95,20 99,25 94 101
hopping
lompat dada sprint 9 93,67 5,268 1,756 89,62 97,72 85 100
Total 18 95,44 4,435 1,045 93,24 97,65 85 101
Berat_badan plyometric hurdle
9 66,44 7,715 2,572 60,51 72,38 55 74
hopping
lompat dada sprint 9 63,44 8,095 2,698 57,22 69,67 55 77
Total 18 64,94 7,825 1,844 61,05 68,84 55 77
Tinggi_badan plyometric hurdle
9 1,7656 ,03941 ,01314 1,7353 1,7958 1,70 1,81
hopping
lompat dada sprint 9 1,7356 ,05833 ,01944 1,6907 1,7804 1,66 1,84
Total 18 1,7506 ,05070 ,01195 1,7253 1,7758 1,66 1,84
IMT plyometric hurdle
9 21,267 1,8330 ,6110 19,858 22,676 18,5 22,8
hopping
lompat dada sprint 9 20,978 1,6107 ,5369 19,740 22,216 18,6 22,7
Total 18 21,122 1,6805 ,3961 20,287 21,958 18,5 22,8
Vertical_jump_pretest plyometric hurdle
9 61,78 10,952 3,651 53,36 70,20 42 79
hopping
lompat dada sprint 9 58,44 5,175 1,725 54,47 62,42 52 68
Total 18 60,11 8,485 2,000 55,89 64,33 42 79
89
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Vertical_jump_posttest plyometric hurdle
9 65,67 11,380 3,793 56,92 74,41 45 84
hopping
lompat dada sprint 9 60,00 5,809 1,936 55,53 64,47 53 70
Total 18 62,83 9,237 2,177 58,24 67,43 45 84
Ketepatan_smash_pretest plyometric hurdle
9 16,89 2,667 ,889 14,84 18,94 14 21
hopping
lompat dada sprint 9 15,00 1,500 ,500 13,85 16,15 13 18
Total 18 15,94 2,313 ,545 14,79 17,09 13 21
Ketepatan_smash_posttest plyometric hurdle
9 22,00 3,279 1,093 19,48 24,52 19 29
hopping
lompat dada sprint 9 16,56 2,186 ,729 14,88 18,24 13 20
Total 18 19,28 3,893 ,918 17,34 21,21 13 29
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Kelompok Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Usia plyometric hurdle hopping ,284 9 ,035 ,792 9 ,016
lompat dada sprint ,306 9 ,015 ,752 9 ,006
Tekanan_darah_sistole plyometric hurdle hopping ,414 9 ,000 ,617 9 ,000
lompat dada sprint ,356 9 ,002 ,655 9 ,000
Tekanan_darah_diastole plyometric hurdle hopping ,356 9 ,002 ,655 9 ,000
lompat dada sprint ,471 9 ,000 ,536 9 ,000
Heart_rate plyometric hurdle hopping ,193 9 ,200* ,902 9 ,261
90
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
lompat dada sprint ,169 9 ,200* ,894 9 ,221
Panjang_tungkai_kanan plyometric hurdle hopping ,195 9 ,200* ,939 9 ,575
lompat dada sprint ,159 9 ,200* ,945 9 ,641
Panjang_tungkai_kiri plyometric hurdle hopping ,194 9 ,200* ,919 9 ,382
lompat dada sprint ,138 9 ,200* ,942 9 ,599
Berat_badan plyometric hurdle hopping ,278 9 ,043 ,834 9 ,050
lompat dada sprint ,285 9 ,033 ,860 9 ,095
Tinggi_badan plyometric hurdle hopping ,310 9 ,013 ,868 9 ,117
lompat dada sprint ,136 9 ,200* ,948 9 ,668
IMT plyometric hurdle hopping ,287 9 ,031 ,759 9 ,007
lompat dada sprint ,191 9 ,200* ,886 9 ,182
Vertical_jump_pretest plyometric hurdle hopping ,157 9 ,200* ,970 9 ,892
lompat dada sprint ,201 9 ,200* ,924 9 ,429
Vertical_jump_posttest plyometric hurdle hopping ,168 9 ,200* ,977 9 ,944
lompat dada sprint ,209 9 ,200* ,916 9 ,362
Ketepatan_smash_pretest plyometric hurdle hopping ,205 9 ,200* ,897 9 ,236
lompat dada sprint ,192 9 ,200* ,926 9 ,447
Ketepatan_smash_posttest plyometric hurdle hopping ,180 9 ,200* ,863 9 ,104
lompat dada sprint ,156 9 ,200* ,976 9 ,940
Delta_1_selisih_Vetical_jump plyometric hurdle hopping ,203 9 ,200* ,948 9 ,663
lompat dada sprint ,215 9 ,200* ,889 9 ,195
Delta_2_selisih_Ketepatan_s plyometric hurdle hopping ,192 9 ,200* ,965 9 ,850
mash lompat dada sprint ,320 9 ,009 ,810 9 ,026
*. This is a lower bound of the true significance.
91
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
a. Lilliefors Significance Correction
Test of Homogeneity of Variances
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Vertical_jump_pretest 4,413 1 16 ,052
Vertical_jump_posttest 3,210 1 16 ,092
Ketepatan_smash_pretest 6,891 1 16 ,018
Ketepatan_smash_posttest ,848 1 16 ,371
Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
Pair 1 Kontrol_Vertical_jump_pretest 58,44 9 5,175 1,725
Kontrol_Vertical_jump_posttest 60,00 9 5,809 1,936
Pair 2 Perlakuan_Vertical_jump_pret
61,78 9 10,952 3,651
est
Perlakuan_Vertical_jump_postt
65,67 9 11,380 3,793
est
Pair 3 Kontrol_Ketepatan_smash_pre
15,00 9 1,500 ,500
test
Kontrol_Ketepatan_smash_po
16,56 9 2,186 ,729
sttest
Pair 4 Perlakuan_Ketepatan_smash_
16,89 9 2,667 ,889
pretest
92
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Perlakuan_Ketepatan_smash_
22,00 9 3,279 1,093
posttest
Paired Samples Correlations
N Correlation Sig.
Pair 1 Kontrol_Vertical_jump_pretest
& 9 ,981 ,000
Kontrol_Vertical_jump_posttest
Pair 2 Perlakuan_Vertical_jump_pret
est &
9 ,994 ,000
Perlakuan_Vertical_jump_postt
est
Pair 3 Kontrol_Ketepatan_smash_pre
test &
9 ,877 ,002
Kontrol_Ketepatan_smash_po
sttest
Pair 4 Perlakuan_Ketepatan_smash_
pretest &
9 ,844 ,004
Perlakuan_Ketepatan_smash_
posttest
93
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Paired Samples Test
Paired Differences
95% Confidence Interval
Std. Std. Error of the Difference
Mean Deviation Mean Lower Upper t df Sig. (2-tailed)
Pair 1 Kontrol_Vertical_jump_pretest -
-1,556 1,236 ,412 -2,506 -,605 -3,776 8 ,005
Kontrol_Vertical_jump_posttest
Pair 2 Perlakuan_Vertical_jump_prete
st -
-3,889 1,269 ,423 -4,865 -2,913 -9,191 8 ,000
Perlakuan_Vertical_jump_postt
est
Pair 3 Kontrol_Ketepatan_smash_pret
est -
-1,556 1,130 ,377 -2,424 -,687 -4,128 8 ,003
Kontrol_Ketepatan_smash_pos
ttest
Pair 4 Perlakuan_Ketepatan_smash_
pretest -
-5,111 1,764 ,588 -6,467 -3,755 -8,693 8 ,000
Perlakuan_Ketepatan_smash_
posttest
94
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Group Statistics
Kelompok N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Delta_1_selisih_Vertical_jump plyometric hurdle hopping 9 3,89 1,269 ,423
lompat dada sprint 9 1,56 1,236 ,412
Delta_2_selisih_Ketepatan_sma plyometric hurdle hopping 9 5,11 1,764 ,588
sh lompat dada sprint 9 1,56 1,130 ,377
Independent Samples Test
Levene's Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence Interval of
Sig. (2- Mean Std. Error the Difference
F Sig. t df tailed) Difference Difference Lower Upper
Delta_1_selisih_Vertical_jump Equal variances
,050 ,827 3,951 16 ,001 2,333 ,591 1,081 3,585
assumed
95
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Equal variances not
3,951 15,989 ,001 2,333 ,591 1,081 3,585
assumed
Ranks
Kelompok N Mean Rank Sum of Ranks
Delta_2_selisih_Ketepatan_ plyometric hurdle hopping 9 13,61 122,50
smash lompat dada sprint 9 5,39 48,50
Total 18
Test Statisticsa
Delta_2_selisih
_Ketepatan_sm
ash
Mann-Whitney U 3,500
Wilcoxon W 48,500
Z -3,339
Asymp. Sig. (2-tailed) ,001
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,000b
a. Grouping Variable: Kelompok
b. Not corrected for ties.
96
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
IR-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
97
TESIS PENGARUH LATIHAN HIGH INTENSITY……. HERWIN
Lampiran 9
Dokumentasi Penelitian
Penjelasan prosedur penelitian
Pengisian Informed Consent
97
Pengukuran tinggi badan dan berat badan
Pengukuran heart rate resting dan tekanan darah
98
Pengukuran Panjang tungkai dan panjang lengan
99
Pemanasan
Vertical Jump Test
100
Accuracy Smash Test
101
Latihan plyometric hurdle hopping
Latihan knee tuck jump kombinasi sprint 18 m
102