0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan111 halaman

Masker Gel Peel-Off Antioksidan Melinjo

Uji antioksidan

Diunggah oleh

Kim KimH
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan111 halaman

Masker Gel Peel-Off Antioksidan Melinjo

Uji antioksidan

Diunggah oleh

Kim KimH
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN

MASKER GEL PEEL- OFF DARI EKSTRAK DAUN MELINJO


(Gnetum gnemon L.)

SKRIPSI

Disusun oleh:

Nama : Rustiadyfa Azzahra

NIM : G20170029

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS SAINS, FARMASI DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MATHLA’UL ANWAR
BANTEN
2022
LEMBAR PERSETUJUAN

Setelah membaca naskah skripsi ini dengan seksama, menurut pertimbangan


kami, telah memenuhi persyaratan ilmiah sebagai suatu skripsi dan layak untuk
diseminarkan dan disidangkan.
Pandeglang,…………….. 2022

Mengetahui dan menyetujui:

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

apt. Dimas Danang Indriatmoko,[Link] apt. Ranny Puspitasari,[Link]


NIK.0409078301 NIDN.

i
LEMBAR PENGESAHAN

FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN


MASKER GEL PEEL- OFF DARI EKSTRAK DAUN MELINJO
(Gnetum gnemon L.)

Dipersiapkan dan diajukan oleh :


Nama : Rustiadyfa Azzahra
NIM : G.20.17.0029

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji


Pada tanggal........................................ 2022

Susunan Dewan Penguji


Ketua Sidang :
Pembimbing Utama : apt. Dimas Danang Indriatmoko,[Link]
Pembimbing Pendamping : apt. Ranny Puspitasari,[Link]
Ketua Penguji : Nurullah Asep Abdillah,[Link].,M.S
Anggota Penguji : apt. Eneng Elda Ernawati, M. Farm

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh
gelar Sarjana Farmasi
Tanggal, 2022

Ketua Program Studi Farmasi

apt. Dimas Danang Indriatmoko, M. Farm


NIK. 104103200598

Mengetahui,
Dekan

Lambang Satria Himmawan, [Link]., [Link]


NIK. 104103200324

ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Rustiadyfa Azzahra
NIM : G.20.17.0029
Program studi : Farmasi
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang telah saya buat dengan judul

“FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN MASKER

GEL PEEL- OFF DARI EKSTRAK DAUN MELINJO (Gnetum gnemon L.)”,

adalah asli (orisinil) atau tidak plagiat (menjiplak) dan belum pernah

diterbitkan/dipublikasikan di manapun dan dalam bentuk apapun.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada

paksaan dari pihak manapun juga. Apabila dikemudian hari ternyata saya

memberikan keterangan palsu dana atau ada pihak lain yang mengklaim bahwa

skripsi yang telah saya buat adalah hasil karya milik seseorang atau badan

tertentu, saya bersediaan diproses baik secara pidana maupun perdata dan

kelulusan saya dari Fakultas Sains dan Kesehatan Universitas Mathla’ul Anwar

Banten.

Dibuat di : Pandeglang

Pada tanggal : Februari 2022

yang menyatakan,

Rustiadyfa Azzahra

iii
ABSTRAK

Tanaman melinjo (Gnetum gnemon L) adalah salah satu tanaman di Indonesia


yang termasuk dalam kelompok suku Gnetaceae. Tanaman ini memiliki sumber
antioksidan terutama pada bagian daunnya yang dapat dimanfaatkan untuk
perawatan kesehatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan
ekstrak menjadi sediaan masker gel peel-off dari daun melinjo kemudian diuji
aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Ekstraksi dengan metode maserasi
bertingkat menggunakan tiga pelarut yaitu n-heksan, etil asetat dan etanol 96%,
lalu dilakukan uji antioksidan pada ekstrak dengan menggunakan metode DPPH.
Hasil ekstraksi menunjukkan bahwa dari ke tiga pelarut, yang menghasilkan
aktivitas antioksidan terbaik yaitu ekstrak etil asetat dengan nilai rata rata IC 50
35,602 ppm. Hasil penelitian menunjukkan F0 warna sediaan putih keruh berbau
asam dengan pH 5,3, waktu yang dibutuhkan untuk sediaan mengering selama 23
menit 33 detik, dengan daya sebar sebesar 6 cm, F1 warna sediaan hijau muda
bebau khas daun melinjo dengan pH 5,4, waktu yang dibutuhkan untuk sediaan
mengering selama 26 menit 10 detik, dengan nilai viskositas sebesar 3.374 cps
dengan dayas sebar sebesar 6,5 cm, F2 warna sediaan hijau tua berbau khas daun
melinjo dengan pH 5,5, waktu yang dibutuhkan untuk sediaan mengering selama
25 menit 30 detik, dengan nilai viskositas sebesar 3.849 cps dengan daya sebar
sebesar 5,5 cm. Hasil IC50 antioksidan F0 yaitu 183,350 ppm (lemah), hasil IC 50
F1 yaitu 39,648 ppm (sangat kuat), hasil IC50 F2 yaitu 32,611 ppm (sangat kuat),
dan hasil IC50 masker gel peel-off merek X yaitu 10,067 ppm (sangat kuat).

Kata Kunci : Antioksidan, DPPH, Gnetum gnemon L, spektropotometer UV-Vis

iv
ABSTRACT

Melinjo plant (Gnetum gnemon L) is one of the plants in Indonesia that belongs to
the Gnetaceae tribe. This plant has a source of antioxidants, especially in the
leaves which can be used for skin health care. This study aims to formulate the
extract into a peel-off gel mask preparation from melinjo leaves and then test its
antioxidant activity using the DPPH method. Extraction by graded maceration
method used three solvents, namely n-hexane, ethyl acetate and 96% ethanol, then
the antioxidant test was carried out on the extract using the DPPH method. The
extraction results showed that of the three solvents, the one that produced the best
antioxidant activity was ethyl acetate extract with an average IC50 value of
35,602 ppm. The results showed F0 the color of the preparation was cloudy white
with a sour smell with a pH of 5.3, the time required for the preparation to dry
was 23 minutes 33 seconds, with a dispersion of 6 cm, F1 the color of the
preparation is light green with a distinctive melinjo leaf odor with a pH of 5.4, the
time required for the preparation to dry is 26 minutes 10 seconds, with a viscosity
value of 3,374 cps with a spreading power of 6.5 cm, F2 the color of the
preparation is dark green with a distinctive smell of melinjo leaves with a pH of
5.5, the time required for the preparation to dry is 25 minutes 30 seconds, with a
viscosity value of 3,849 cps with a spread of 5.5 cm. The results of IC 50
antioxidant F0 are 183.350 ppm (weak), IC 50 F1 results are 39.648 ppm (very
strong), IC50 F2 results are 32.611 ppm (very strong), and IC 50 results for peel-off
gel mask brand X are 10.067 ppm (very strong).
Keywords: Antioxidant, DPPH, Gnetum gnemon L, UV-Vis spectrophotometer.

v
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum [Link]

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya yang tidak pernah berhenti dan selalu

memberi kekuatan dalam hidup penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi yang berjudul “Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Masker

Gel Peel-Off dari Ekstrak Daun Melinjo (Gnetum gnemon L.)”. Shalawat serta

salam selalu tercurah kepada junjungan alam yakni Nabi Muhammad SAW,

kepada keluarga, sahabat, serta kita sebagai umatnya semoga diberikan

syafaatnya, Aamiin.

Dalam menyelesaikan skripsi, penulis banyak mengalami kesulitan dan

permasalahan, baik suka dan duka. Namun dengan adanya semangat, dukungan,

bimbingan dan bantuan pada saat penyusunan dan persiapan penelitian, penulis

dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini

penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Lambang Satria Himmawan, [Link]., [Link]., selaku Dekan Fakultas

Sains, Farmasi dan Kesehatan Universitas Mathla’ul Anwar Banten.

2. Bapak apt. Dimas Danang Indriatmoko, [Link].,selaku Ketua Program Studi

Farmasi Fakultas Sains, Farmasi dan Kesehatan Universitas Mathla’ul Anwar

Banten, dan juga selaku pembimbing I yang telah memberikan masukan dan

arahan dalam penyusunan hingga selesainya penyusunan skripsi penelitian

ini.

vi
3. Ibu apt. Ranny Puspitasari [Link]. Selaku dosen pembimbing II yang telah

memberikan masukan dan arahan dalam penyusunan hingga selesainya

penyusunan skripsi penelitian ini.

4. Bapak Nurullah Asep Abdillah [Link].,M.S. selaku ketua penguji yang telah

menguji dan memberi masukan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Ibu apt. Eneng Elda Ernawati,[Link] selaku anggota penguji yang telah

menguji serti member masukan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Dosen dan Staf Fakultas Sains, Farmasi dan Kesehatan Universitas Mathla’ul

Anwar Banten.

7. Kedua Orangtua dan keluarga tercinta yang telah tulus memberikan motivasi

baik dari segi materil serta moril selama kuliah sampai penyusunan skripsi

skripsi ini.

8. Teman-teman seperjuangan, terkhusus kepada teman-teman program Studi

Farmasi angkatan 2017 yang setia menemani penulis serta memberikan

semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi masih jauh dari

kesempurnaan. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari

semua pihak. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan

memberi sumbangan bagi dunia ilmu pengetahuan juga menambah motivasi untuk

meneliti lebih lanjut.

Wassalamualaikum Wr Wb
Pandeglang, ……….. 2022
Penulis,

Rustiadyfa Azzahra

vii
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................... iii
ABSTRAK............................................................................................................. iv
ABSTRACT .......................................................................................................... v
KATA PENGANTAR.......................................................................................... vi
DAFTAR ISI.........................................................................................................viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ x
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 6
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 7
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 8


2.1 Tanaman Melinjo ................................................................................. 8
2.1.1 Klasifikasi ................................................................................ 8
2.1.2 Kandungan Kimia dan Manfaat ............................................... 9
2.1.3 Morfologi ................................................................................. 10
2.2 Kulit .................................................................................................... 10
2.2.1 Anatomi Kulit .......................................................................... 10
2.2.2 Fungsi Kulit ............................................................................. 11
2.2.3 Jenis-jenis Kulit ....................................................................... 12
2.3 Masker ................................................................................................. 14
2.3.1 Jenis-jenis Masker ................................................................... 14
2.3.2 Masker Gel Peel-off ................................................................. 17
2.3.3 Mekanisme Kerja Masker ........................................................ 18
2.3.4 Evaluasi Sediaan Masker Gel .................................................. 19
2.4 Antioksidan .......................................................................................... 21
2.4.1 Fungsi Antioksidan .................................................................. 22
2.4.2 Mekanisme Kerja Antioksidan ................................................. 23
2.5 DPPH.................................................................................................... 24
2.6 Kerangka Pemikiran ............................................................................ 26
2.7 Hipotesis Penelitian ............................................................................. 27
2.8 Penelitian Relavan ............................................................................... 27

BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 29


3.1 Jenis penelitian .................................................................................... 29
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................. 29
3.3 Alat dan Bahan Penelitian ................................................................... 29
3.3.1 Alat Peenlitian ................................................................................. 29

viii
3.3.2 Bahan Penelitian .............................................................................. 29
3.4 Cara Kerja ............................................................................................ 30
3.4.1 Deskripsi Cara Kerja ....................................................................... 30
[Link] Persiapan Sampel Daun Melinjo (Gnetum gnemon) .................. 30
[Link] Ekstraksi Daun Melinjo Metode Maserasi Kinetik Bertingkat... 30
[Link] Uji Aktivitas Antioksidan Daun Melinjo Ekstrak Daun Melinjo 31
[Link] Skrinning Fitokomia ................................................................... 32
[Link] Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off .................................... 34
[Link] Uji Aktivitas Antioksidan Masker Gel Peel-Off......................... 34
[Link] Evaluasi Sediaan Masker Gel-Off............................................... 35
3.5 Diagram Alir Penelitian ....................................................................... 37
3.6 Analisis Data ........................................................................................ 42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................ 43


4.1 Hasil Penelitian .................................................................................... 43
4.1.1Determinasi Tumbuhan Daun Melinjo...............................................43
4.1.2Simplisia Dan Ekstrak Daun Melinjo.................................................43
4.1.3Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Melinjo..............................43
4.1.3.1Ekstrak N-heksan..........................................................................43
4.1.3.2Ekstrak Etil Asetat.........................................................................45
4.1.3.3Ekstrak Etanol 70%.......................................................................47
4.1.4Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-Off .............................................49
4.1.5Uji Aktivitas Antioksidan Masker Gel Peel-Off.................................49
[Link] Formulasi Basis............................................................................49
[Link] Masker Gel Peel-Off Merek X.....................................................50
[Link] Formulasi 1...................................................................................51
[Link] Formulasi 2 ..................................................................................52
4.2Pembahasan .............................................................................................53
4.2.1 Determinasi Tumbuhan ....................................................................53
4.2.2 Simplisia Dan Ekstrak Daun Melinjo ...............................................53
4.2.3 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Melinjo ............................55
4.2.4 Skrinning Fitokimia ..........................................................................57
4.2.5 Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-Off ....................61
[Link] Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off ..................................62
[Link] Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-Off .....................................62
4.2.6 Uji Aktivitas Antioksidan Masker Gel Peel-Off ...............................65

BAB V PENUTUP................................................................................................67
5.1 Kesimpulan ...........................................................................................67
5.2 Saran .....................................................................................................67
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 69
LAMPIRAN ........................................................................................................ 77

ix
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1 Tingkat Kekuatan Antioksidan .......................................................... 26
2.2 Penelitian relavan ................................................................................. 27
3.1 Formulasi sediaan masker gel ............................................................. 34
4.1 Determinasi Tumbuhan........................................................................ 43
4.2 Simplisia Dan Ekstrak Kental Daun Melinjo ...................................... 43
4.3 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak N-heksan.............................. 44
4.4 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etil Asetat ........................... 45
4.5 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol 70% ......................... 47
4.6 Skrinning Fitokimia ...........................................................................…48
4.7 Hasil Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-Off ........................................49
4.8 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi Basis ............................... 50
4.9 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Masker Gel Peel-Off Merek X ........ 50
4.10 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi 1 ...................................... 51
4.11 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi 2 ...................................... 52

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1.1 Gambar Senyawa Flavonoid ............................................................. 3
2.1 Tanaman melinjo ............................................................................... 8
2.2 Reaksi DPPH Dengan Senyawa Antioksidan ................................... 25
2.3 Kerangka Pemikiran .......................................................................... 27
3.1 Diagram Alir Penelitian Secara Umum ............................................. 38
3.2 Diagram Alir Uji Alkaloid ................................................................. 39
3.3 Diagram Alir Uji Saponin .................................................................. 39
3.4 Diagram Alir Uji Flavonoid .............................................................. 40
3.5 Diagram Alir Uji Tannin ................................................................... 40
3.6 Diagram Alir Uji Steroid dan Terpenoid ........................................... 40
3.7 Diagram Alir Uji Antioksidan Ekstrak .............................................. 41
3.8 Diagram Alir Uji Antioksdian Masker Gel Peel-Off ........................ 42
4.1 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak N- heksan Inhibisi 1 ....................... 44
4.2 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak N- heksan Inhibisi 2 ........................ 44
4.3 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak N- heksan Inhibisi 3 ........................ 45
4.4 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etil Asetat % Inhibisi 1 ................... 46
4.5 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etil Asetat % Inhibisi 2 ................... 46
4.6 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etil Asetat % Inhibisi 3 ................... 46
4.7 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etanol 70% % Inhibisi 1 ................. 47
4.8 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etanol 70% % Inhibisi 2 ................. 48
4.9 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etanol 70% % Inhibisi 3 ................. 48
4.10 Kurva Uji Antioksidan Formulasi Basis ............................................ 50
4.11 Kurva Uji Antioksidan Masker Gel Peel-Off Merek X ..................... 51
4.12 Kurva Uji Antioksidan Formulasi 1 .................................................. 52
4.13 Kurva Uji Antioksidan Formulasi 2 .................................................. 52
4.14 Reaksi Alkaloid Dengan Pereaksi Mayer .......................................... 58
4.15 Reaksi Alkaloid Dengan Pereaksi Wagner ........................................ 58
4.16 Reaksi Flavonoid ............................................................................... 59
4.17 Reaksi Tannin .................................................................................... 60
4.18 Reaksi Saponin .................................................................................. 61
4.19 Reaksi Steroid dan Terpenoid ............................................................ 61

xi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Oksidan atau biasa yang disebut dengan radikal bebas merupakan molekul

yang tidak stabil. Menurut Cooper, molekul-molekul tersebut hanya mengandung

satu atau lebih elektron bebas (Maysyuhara,2009). Radikal bebas dapat

berdampak pada bagian luar tubuh seperti kulit yang dapat menyebabkan

kerusakan pada kulit, yakni menyerang sel-sel kulit karena adanya elektron bebas

tersebut. Salah satu dampak yang timbul akibat radikal bebas, yakni penuaan.

Proses menua merupakan suatu proses fisiologis dan terjadi pada semua organ

tubuh manusia, termasuk kulit. Proses menua pada kulit ditandai oleh munculnya

keriput, sisik, kering, dan pecah-pecah. Selain tampak kusam dan berkerut, kulit

menjadi lebih cepat tua dan muncul flek-flek hitam. Menurut survei, penyebab

utama penuaan yang dialami rang Indonesia adalah aktivitas berlebihan dibawah

sinar matahari yang merupakan salah satu penyebab radikal bebas (Bogadenta,

2012).

Radikal bebas dapat masuk kedalam tubuh dan menyerang sel-sel yang

sehat dan menyebabkan sel-sel tersebut kehilangan fungsi dan strukturnya (Konda

dkk, 2020). Efek negatif radikal bebas terhadap tubuh dapat dicegah dengan

senyawa yang disebut antioksidan. Antioksidan memiliki kemampuan

memberikan elektron, mengikat, dan mengakhiri reaksi berantai radikal bebas

(Angamuthu et al., 2016).

1
2

Antioksidan adalah zat yang mencegah sebagian besar reaksi oksidasi yang

dimulai dengan produksi radikal bebas. Secara alami tubuh memiliki antioksidan

dari dalam tubuh, sehingga pasti mengangkal oksidan. Namun apabila jumlah

oksidannya lebih banyak, terkadang jumlah antioksidan alami yang berasal dari

tubuh tidak mencukupi. Maka dari itu diperlukan asupan seimbang dari luar

tubuh. Antioksidan menangkap radikal bebas dengan demikian menunda atau

mencegah kerusakan pada sel dan jaringan tubuh organisme hidup. Berbagai

sumber kaya senyawa antioksidan seperti karotenoids, flavonoid, lutein, dan

polifenol yang ada pada sayuran dan buah-buahan (Hassan et al., 2020). Salah

satu tumbuhan yang diduga memiliki aktivitas antioksidan adalah daun melinjo

(Gnetum gnemon.L). Menurut penelitian yang sudah dilakukan menyatakan

bahwa daun melinjo memiliki aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 4,76%

dibandingkan dengan biji melinjo dan kulit melinjo (Chandra, 2012).

Melinjo (Gnetum gnemon L.) adalah salah satu tanaman lokal yang

memiliki beberapa manfaat. Melinjo banyak dibudidayakan di Indonesia, namun

pemanfaatannya sangat kurang, hanya terbatas menjadi sayur serta bahan baku

pembuatan emping (Chandra,2012). Daun melinjo diambil dari kebun melinjo

daerah Saketi, Pandeglang- Banten. Alasan umum memilih daun melinjo sebagai

sampel karena mudah di dapatkan selain itu pula dari beberapa jurnal penelitian

menyatakan bahwa daun melinjo ([Link]) memiliki kandungan senyawa

flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan.

Kandungan senyawa pada daun melinjo yang mempunyai aktivitas

antioksidan yaitu flavonoid. Flavonoid adalah metabolit sekunder dari polifenol,


3

ditemukan secara luas pada tanaman serta makanan dan memiliki berbagai efek

bioaktif termasuk anti virus, anti-inflamasi (Qinghu Wang dkk., 2016),

kardioprotektif, antidiabetes, anti kanker, (Marzouk, 2016) anti penuaan,

antioksidan (Vanessa dkk., 2014) dan lain-lain. Senyawa flavonoid adalah

senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon yang tersusun dalam

konfigurasi C6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6

(cincin benzena tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon.

(Tiang-Yang dkk, 2018).

Gambar 1.1. Senyawa Flavonoid

Ekstraksi bertingkat adalah ekstraksi memakai pelarut organik secara

bertingkat dilakukan memakai tiga pelarut menggunakan taraf kepolaran yg

berbeda-beda. Penelitian ini dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi kinetik

bertingkat menggunakan pelarut yg berbeda kepolarannya (n-heksan, etil asetat,

etanol 70%). Memilih metode maserasi kinetik bertingkat ini karena senyawa

kimia golongan lain selain flavonoid dapat terdistribusi berdasarkan kepolaran

pelarut yang digunakan. Pelarut n-heksan akan menarik senyawa non polar

begitupun dengan etil asetat menarik senyawa semi polar sehingga dengan mudah

etanol 70% menarik senyawa polar tanpa ada gangguan yang ikut terekstrak dari

senyawa golongan lain. Kemudian dilakukan pemekatan ekstrak menggunakan

rotary vacum evaporator (Sabrina, dkk. 2020). Masing-masing ekstrak kental di


4

uji antioksidan. Keuntungan dari metode ini yaitu proses ekstraksi dilakukan pada

suhu ruangan sehingga cocok untuk senyawa yang tidak tahan pemanasan dan

mudah menguap, prosedur dan peralatan yang sederhana, serta biaya yang

terjangkau sehingga sesuai untuk skala kecil maupun industry.

Penentuan nilai aktivitas antioksidan pada penelitian ini menggunakan

metode DPPH. Metode uji aktivitas antioksidan dengan DPPH 1,1-diphenyl-2-

picrylhydrazyl dipilih karena metode ini adalah metode sederhana, mudah, cepat

dan peka serta hanya memerlukan sedikit sampel untuk evaluasi aktivitas

antioksidan dari senyawa bahan alam sehingga digunakan secara luas untuk

menguji kemampuan senyawa yang berperan sebagai pendonor electron

(Molyneux, 2004).

Kosmetika merupakan bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk

digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir,serta

organ genital bagian luar, atau gigi, dan membrane mukosa mulut, terutama buat

membersihkan, menghilangkan bau serta mewangikan, melindungi, atau

memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM RI, 2011). Kosmetik terbagi menjadi

beberapa jenis meliputi krim perawatan kulit, losion, bedak, lipstik, kuteks, perias

muka dan mata, minyak rambut, lensa kontak berwarna, pewarna

rambut, deodoran, sanitizer, produk perawatan bayi, perawatan rambut serta

semua produk perlengkapan mandi. Kosmetik wajah dapat diperoleh dalam

berbagai bentuk sediaan, salah satunya dalam bentuk masker wajah gel peel off

(Vieira et al., 2009). Masker wajah merupakan kosmetik perawatan kecantikan

yang sangat popular untuk meningkatkan kualitas kulit (Yeom et al., 2011).
5

Proses pemakaian masker pada umumnya juga cukup rumit sehingga dibutuhkan

produk masker yang praktis dalam pemakaiannya (Rahim dkk., 2013). Sediaan

farmasi dalam bentuk gel banyak digunakan dalam sediaan kosmetik. Gel disukai

karena kandungan airnya cukup besar sehingga nyaman dan terasa dingin pada

kulit, mudah dioleskan, tidak berminyak, mudah dicuci, elastis serta pelepasan

obatnya baik. Masker peel off memiliki beberapa manfaat diantaranya mampu

merilekskan otot-otot wajah, membersihkan, menyegarkan, melembabkan dan

melembutkan kulit wajah (Vieira et al., 2009).

Masker wajah gel peel off merupakan salah satu jenis masker wajah yang

mempunyai keunggulan dalam penggunaanya yaitu dapat dengan mudah dilepas

atau diangkat seperti membran elastis (Rahmawanty dkk., 2015). Masker wajah

peel off dapat meningkatkan hidrasi pada kulit kemunkinan karena adanya oklusi

(Velasco et al., 2014). Penggunaan masker wajah peel off juga bermanfaat untuk

memperbaiki serta merawat kulit wajah dari masalah keriput, penuaan, jerawat

dan dapat juga digunakan untuk mengecilkan pori (Grace et al., 2015). Selain itu,

masker peel off juga dapat digunakan untuk membersihkan serta melembabkan

kulit. Kekurangan masker ini bagi yang memiliki kulit wajah yang sensitif seperti

kulit kering atau berjerawat untuk melihat kandungannya terlebih dahulu agar

tidak menimbulkan alergi di kulit wajah.

Sediaan masker berbahan alam ataupun bahan kimia mempunyai kelebihan

dan kelemahannya masing masing, untuk bahan kimia mempunyai kelebihan

yaitu reaksinya pada kulit cepat akan tetapi kelemahannya kulit akan

ketergantungan dan efeknya akan merusak kulit jika sediaan dipergunakan


6

menggunakan dosis yang melebihi aturan. Sedangkan untuk masker berbahan

alam aman digunakan akan tetapi reaksinya di wajah membutuhkan waktu relative

lama. Maka dari itu peneliti memilih membuat sediaan masker gel peel off dari

bahan alam sebab agar aman saat diaplikasikan pada kulit wajah. Fungsi

menambahkan antioksidan kedalam sediaan masker karena Antioksidan

merupakan senyawa yang dapat menangkal efek buruk dari radikal bebas. Efek

antioksidan akan lebih baik bila diformulasikan dalam bentuk sediaan topikal

seperti kosmetik dibandingkan oral, karena zat aktif dapat lebih lama berinteraksi,

dan salah satu bentuk sediaan topikal yang telah dikembangkan ialah masker gel

peel-off.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan dilakukan penelitian

mengenai formulasi dan uji aktivitas antioksidan sediaan masker gel peel off dari

ekstrak daun melinjo (Gnetum gnemon L.) yang dimana uji aktivitas antioksidan

tersebut dilakukan menggunakan metode DPPH.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana aktivitas antioksidan dari ekstrak daun melinjo ([Link]) n-

heksana, etil asetat, dan etanol 70% ?

2. Bagaimana pengaruh penambahan konsentrasi hasil ekstraksi daun melinjo

([Link]) dalam sediaan masker gel peel-off terhadap aktivitas

antioksidan ?

3. Apakah formula sediaan masker gel peel-off ekstrak daun melinjo telah

memenuhi persyaratan evaluasi sediaan?


7

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun melinjo ([Link]) n-

heksana, etil asetat, dan etanol 70%.

2. Mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi hasil ekstraksi daun melinjo

([Link]) dalam sediaan masker gel peel-off terhadap aktivitas

antioksidan.

3. Mengetahui evaluasi sediaan masker gel peel-off ekstrak daun melinjo.

1.4. Manfaat penelitian

a. Bagi peneliti, dapat memberikan informasi dan menambahkan wawasan

tentang aktivitas antioksidan dari sediaan masker gel peel-off berbahan

dasar ekstrak daun melinjo ([Link])

b. Bagi mahasiswa, dapat menambah pengalamn mahasiswa dalam melakukan

sebuah peneitian lebih lanjut

c. Bagi instansi, dapat memberikan informasi mengenai formula sediaan

masker gel pell-off berbahan dasar ekstrak daun melinjo ([Link])


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Melinjo

Gambar 2.1. Tanaman Melinjo

2.1.1 Klasifikasi

Melinjo merupakan tumbuhan yang termasuk dalam famili Gnetaceae dan

berbiji terbuka (Gymnospermae). Nama latin tanaman melinjo adalah (Gnetum

gnemon L.), atau tangkil dalam bahasa Sunda. Melinjo adalah tumbuhan berbiji

terbuka berbentuk pohon (Gymnospermae) yang berasal dari Asia tropis,

Melanesia dan Pasifik Barat. Melinjo juga dikenal dengan nama tangkil (Sunda)

atau bago (Melayu dan Tagalog), belinjo, mlinjo (Jawa) dan Khalet (Kamboja).

Tanaman melinjo banyak ditanam di pekarangan sebagai peneduh atau pembatas

pekarangan terutama yang menggunakan buah dan daun.

Tanaman melinjo dalam taksonomi tumbuhan dapat diklasifikasikan sebagai

berikut :

Kingdom : Plantae

Sub kingdom : Viridiplantae

Infra kingdom : Streptophyta

8
9

Super divisi : Tracheophyta

Sub divisi : Spermatophytina

Kelas : Gnetopsida

Sub kelas : Gnetidae

Ordo : Ephedrales

Family : Gnetaceae

Genus : Gnetum L.

Spesies : Gnetum gnemon L

2.1.2 Kandungan Kimia dan Manfaat

Melinjo (Gnetum gnemon L.) adalah produk lokal dengan berbagai manfaat.

Melinjo sudah banyak dibudidayakan di Indonesia, namun tingkat

pemanfaatannya sangat buruk, dan terbatas hanya sebagai bahan baku sayuran dan

tablet. Menurut studi Pudjiatmoko (2007), aktivitas antioksidan komponen fenolik

Merrill Lynch setara dengan antioksidan sintetik butylated hydroxytoluene

(BHT).

Daun melinjo memiliki kandungan senyawa aktif seperti alkaloid,

flavonoid, steroid dan tanin (Kining, 2015).

Tanaman melinjo merupakan salah satu jenis produk pangan yang sangat

melimpah di Indonesia, mulai dari daun muda, bunga, biji hingga kulitnya

memiliki banyak manfaat bagi konsumen. Menurut Voondan Kueh (1999), semua

makanan yang berasal dari tanaman melinjo memiliki kandungan gizi yang tinggi,

seperti karbohidrat 6,60%, protein 4,20%, kalsium 94,00 mg, vitamin C1 500 mg

dan sebagainya. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah biji
10

melinjo yang dapat diolah menjadi serpihan selain dimakan dengan cara direbus.

Kulit biji melinjo dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kulit melinjo,

dan daun melinjo biasanya direbus menjadi lalapan atau lauk pauk.

2.1.3 Morfologi

Melinjo (Gnetum gnemon L) merupakan tumbuhan di daerah tropis, antara

lain India, Semenanjung Malaysia, Indonesia, dan Kepulauan Fiji di Pasifik

(Mulyanto, 1994). Tanaman ini dapat tumbuh pada berbagai kondisi tanah seperti

lempung, berpasir dan tanah berkapur sehingga cocok untuk ditanam dan

dikembangkan di Indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh di dataran rendah hingga

ketinggian 1200 m dpl. Melinjo dapat dipanen pada umur 5-7 tahun, dapat hidup

pada umur 100 tahun atau lebih, dan masih berbuah (Subroto, G, dsb., 2015).

2.2 Kulit

2.2.1 Anatomi Kulit

Kulit adalah organ terbesar tubuh manusia, terhitung sekitar 15% dari berat

badan orang dewasa. Kulit melakukan banyak fungsi penting, termasuk mencegah

serangan fisik, kimia dan biologis eksternal, serta mencegah kehilangan air yang

berlebihan dari tubuh dan berperan dalam pengaturan suhu (Kanitakis, 2002).

Sistem kulit dibentuk oleh kulit dan struktur turunannya. Kulit terdiri dari

tiga lapisan: epidermis, dermis dan jaringan subkutan (Kanitakis, 2002). Lapisan

terluar adalah epidermis, yang tersusun dari sel-sel tertentu yang disebut

keratinosit. Sel-sel ini berfungsi mensintesis keratin. Keratin adalah protein linier

panjang yang memiliki efek perlindungan. Lapisan tengah, dermis, pada dasarnya

terdiri dari protein struktural berserat yang disebut kolagen. Dermis terletak di
11

jaringan subkutan atau tubulus ginjal. Jaringan ini mengandung lobus kecil sel

lemak yang disebut adiposit. Ketebalan lapisan ini sangat bervariasi, tergantung

dari letak geografis anatomi manusia. Misal, epidermis kelopak mata paling tipis,

kurang dari 0,1 mm, sedangkan epidermis telapak kaki dan telapak kaki paling

tebal, hanya 1,5 mm. Dermis paling tebal di punggung, 30-40 kali lebih tebal dari

epidermis atas (James et al., 2011).

Kulit adalah orgsn tubuh terluas, berat total berkisar 2,7-3,6 kg dan

menerima sepertiga dari volume darah tubuh, ketebalan kulit bervariasi antara 0,5-

6,0 mm, terdiri dari sel sel dan matriks ekstraselular.

Kulit sebagai organ utama tubuh manusia terus-menerus terpapar faktor

eksternal seperti radiasi ultraviolet, polusi, asap rokok, bahan kimia beracun, dan

ion logam tertentu, bakteri patogen dan virus yang sampai batas tertentu

bertanggung jawab untuk pembentukan radikal bebas.

2.2.2 Fungsi Kulit

Kulit manusia memiliki banyak fungsi yang penting terutama sebagai

pertahanan garis depan, melindungi tubuh dari berbagai elemen yang berasal dari

luar tubuh. Kulit juga dapat menjadi factor penting dalam kesehatan mental dan

kondisi social manusia (Han, 2016).

Kulit mengandung kolam antioksidan pelindung. Ini termasuk antioksidan

enzimatik seperti glutathione peroksidase, superoksida dismutase dan katalase,

dan berat molekul rendah nonenzimatik. antioksidan seperti vitamin E isoform,

vitamin C, glutathione (GSH), asam urat, dan ubiquinol. Antioksidan kuat lainnya

yang terdapat di dalam kulit adalah askorbat, asam urat, karotenoid dan
12

sulphydrils. Antioksidan yang larut dalam air dalam plasma adalah glukosa,

piruvat, asam urat, asam askorbat, bilirubin dan glutathione, dan larut dalam

lemak adalah alfa-tokoferol, ubikuinol-10, likopen, ß-karoten, lutein, zeaxanthin

dan alfa-karoten. Secara umum, permukaan kulit, epidermis, mengandung

konsentrasi antioksidan yang lebih tinggi daripada dermis. Alphatocopherol

adalah antioksidan paling menonjol di kompartemen lipofilik, sedangkan vitamin

C dan GSH memiliki kelimpahan tertinggi di sitosol. Antioksidan non-enzimatik

hidrofilik, termasuk asam L-askorbat, GSH, dan asam urat adalah antioksidan

utama di kulit manusia dibandingkan dengan basis molar yang setara. Konsentrasi

kulit dan epidermis mereka secara keseluruhan lebih dari 10 hingga 100 kali lipat

lebih besar daripada yang ditemukan untuk vitamin E atau ubi quinol.

Keratinosit dan serat kulit mengandung tingkat milimolar GSH, α-tokoferol,

askorbat, dan enzim perbaikan DNA. Stratum corneum (SC) ditemukan

mengandung antioksidan hidrofilik dan lipofilik. Vitamin C dan E (baik αγ dan α-

tokoferol) serta GSH dan asam urat ditemukan ada di SC. Anehnya, mereka tidak

terdistribusi secara merata, tetapi dalam mode gradien, dengan konsentrasi rendah

di lapisan luar, yang meningkat menuju lapisan SC yang lebih dalam.

2.2.3 Jenis Kulit

Kulit halus, cerah dan sehat adalah dambaan setiap orang untuk menjaga

kepercayaan diri (I. H. Ginsburg,1996). Kulit yang cantik mencerminkan bahwa

pemilik sangat memperhatikan miliknya kesehatan pribadi karena kesehatan kulit

bermanfaat penanda kondisi kesehatan seseorang saat ini (A. C. Little et al.,

2011). Kulit merupakan “selimut” yang menutupi permukaan kulit tubuh dan
13

memiliki fungsi utama sebagai pelindung berbagai macam gangguan dan eksternal

stimulasi (R. I. Tranggono and F. Latifah, 2007).

Kulit merupakan organ terbesar bagi tubuh manusia. Kulit memiliki peran

yang sangat penting, oleh karena itu kulit harus selalu dijaga kesehatan (E. A.

Grice and J. A. Segre, 2011). Bukan hanya kulit wajah, tapi kulit seluruh tubuh

harus terawat. Memahami struktur dan fungsi kulit bisa menjadi langkah pertama

dalam rangkaian keseluruhan upaya untuk merawat dan memelihara kulit sehat

(R. Primadiati, 2001).

Jenis kulit manusia bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan dan

keturunan (S. Husain, 1998). Oleh karena itu, kegiatan perawatan kulit akan

disesuaikan dengan kebutuhan jenis kulit. Karena jenis kulit berbeda juga punya

perawatan yang berbeda juga. Penggunaan produk kulit yang tidak sesuai dengan

klasifikasi jenis kulit akan menyebabkan kerusakan pada kulit.

Jenis-jenis kulit antara lain yaitu :

1. Normal

Kulit normal merupakan jenis kulit yang mudah dirawat. Kelenjar minyak

(kelenjar sebaceous) kulit normal biasanya bukan masalah besar, karena minyak

yang dikeluarkan seimbang, tidak terlalu banyak atau tidak cukup.

2. Dry (kering)

Kulit kering adalah jenis kulit yang kekurangan minyak. Karena jumlah

minyak yang terbatas, kulit kering biasanya kekurangan minyak, dan kelembapan

kulit akan cepat berkurang.


14

3. Oily (berminyak)

Kulit berminyak adalah kondisi di mana kelenjar sebaceous kulit

menghasilkan terlalu banyak sebum. Sebum merupakan minyak alami yang dapat

menutupi kulit dan rambut. Sekresi sebum yang berlebihan membuat kulit tampak

berkilau. Sebum sebenarnya membantu menjaga kelembapan kulit.

4. Combination (kombinasi)

Kulit kombinasi merupakan kombinasi dari beberapa jenis kulit, seperti

kulit kering dan kulit berminyak. Area berminyak biasanya di dagu, hidung, dan

dahi.

2.3 Masker

Masker adalah pembersih wajah yang efektif. Masker termasuk kosmetik

deep cleansing yaitu kosmetik deep cleansing karena dapat mengangkat sel kulit

mati. Menggunakan masker membantu melembutkan, membuka pori-pori yang

tersumbat dan membersihkan sisa kosmetik, yang tidak dapat dihilangkan dengan

deterjen biasa (Dechacare, 2011). Selain itu, penggunaan masker secara teratur

juga dapat mencegah terjadinya penuaan dini dan mengurangi munculnya kerutan

dan garis halus (Aloette, 2011).

2.3.1 Jenis-jenis Masker

Banyak jenis masker yang beredar di pasaran diantaranya yaitu:

1. Sheet mask ( Masker lembar/kain)

Sheet mask atau masker lembar adalah jenis topeng dan lebih umum

tersedia dibandingkan jenis lainnya, karena ketersediaan jangka panjang di pasar.

Dari studi terbaru yang dilakukan oleh National Purchase Diary Grup Panel Inc.
15

di Amerika Serikat, penjualan masker meningkat sekitar 60%, melebihi kategori

lain dalam bisnis perawatan kulit. Perhatian paling penting tentang masker lembar

adalah pewangi dan pewarna buatan yang berbeda, paraben, dan ester ftalay yang

digunakan bias berbahata bagi kulit . Beberapa dokter percaya bahwa masker

lembar seringkali tidak dirancang untuk kulit berminyak atau kulit yang rentan

berjerawat karena peningkatan jumlah bakteri di permukaan kulit. Selain itu,

masker lembar mencegah penguapan cepat fase air dan memperpanjang jangka

waktu yang dibutuhkan bahan untuk menembus jauh ke dalam kulit. Tergantung

mereknya, sheet mask bisa berisi berbagai bahan yang biasa digunakan, seperti

lidah buaya dan vitamin C, hingga yang lebih tidak biasa seperti mutiara, ekstrak

siput, dan rumput laut (Nilforoushzadeh et al., 2018).

2. Rinse‐off mask

Masker yang dapat dibilas terdiri dari beberapa jenis, seperti masker

pelembab, pembersih, pengencangan, pengelupasan kulit, waxy, dan lumpur.

Waxy masker biasanya digunakan untuk kulit kering untuk mengatur epidermis

tingkat hidrasi dan membatasi kehilangan air transepidermal. Keseimbangan kadar

air antara stratum korneum dan lipid permukaan kulit merupakan faktor penting

dalam penampilan kulit. Formulasi polyherbal sangat menjanjikan dalam hal ini

karena sifat kemampuan mempertahankan kelembaban dan sumber organik alami.

Bahan sintetis juga digunakan dalam pelembab, tetapi ada beberapa

kekurangannya. Misalnya propilen glikol yang digunakan sebagai humektan dapat

menyebabkan reaksi alergi, gatal-gatal, dan eksim. Petrolatum yang digunakan

sebagai agen emolien dan oklusif dapat menyebabkan kekeringan sebagai efek
16

samping. Paraben memiliki fitur antimikroba, tapi bisa menyebabkan reaksi alergi

dan ruam kulit. Diethanolamine digunakan sebagai pengemulsi tetapi mengiritasi

kulit. Diazolidinyl urea, imidazolidinyl urea, dan benzalkonium chloride

digunakan sebagai pengawet, tetapi efek sampingnya adalah dermatitis kontak.

Pelembab herbal terdiri dari lesitin kedelai, gliserin, dan lidah buaya

(mengandung barbaloin, Aloe-emodin, aloesin, asam amino, enzim, vitamin)

sebagai humektan air suling tiga kali lipat. Triticum sativum, dan Trigonella

foenum graecum sebagai agen emolien/oklusif. Cucumis sativus (mengandung

silika, vitamin C, asam folat) sebagai perekat/pelembab. Akasia sebagai

pengemulsi, Azadirachta indica (Neem) sebagai pengawet, Santalum alba untuk

pengharum, dan air mawar untuk efek pendinginan/pengharum (Kapoor S&Saraf

S,2010)

3. Peel-out Mask

Jenis masker ini membentuk lapisan pada kulit yang dapat dengan mudah

terkelupas. Sebagian besar masker peel-off berbahan dasar polivinil alkohol

(PVA) atau polyvinyl acetate (PVAc), yang menyebabkan oklusi dan efek tensor

(Velasco M et al., 2014). Berbagai bahan seperti sabun herbal, pelembab,

plasticizer, pengharum, dan pengawet bisa disematkan di dalam masker. Berbagai

formulasi digunakan untuk topeng, tetapi umumnya penerapannya dikontrol oleh

agen pengering, seperti alkohol, dan konsentrasi matriks. Alkohol, karena tekanan

uapnya yang lebih rendah daripada air, sering digunakan sebagai bahan pengering

yang mengontrol waktu aplikasi. Semakin tinggi konsentrasi alkohol semakin

sedikit waktu pengeringan yg dibutuhkan. Konsentrasi matriks menentukan


17

viskositas, film formasi, dan ketebalan aplikasi. Konsentrasi ini seharusnya

dioptimalkan untuk menyiapkan masker yang sesuai untuk aplikasi (Beringhs A et

al., 2013; Wetchakun C,2015; Ngoenkratok J et al., 2015).

4. Hydrogel Mask

Hidrogel adalah jaringan polimer 3D di mana air dapat menyerap beberapa

kali berat gel. Biasanya masker hidrogel digunakan untuk kulit sensitif dengan

efek mendinginkan dan menyejukkan. Sericin sutra tertanam dalam nanoselulosa

diaplikasikan sebagai masker wajah dan memamerkan fitur biologis yang tepat

untuk perawatan wajah (Aramwit P&Bang N, 2014).

2.3.2 Masker Gel Pell-off

Masker merupakan sediaan kosmetik untuk perawatan wajah yang memiliki

manfaat yaitu memberikan kelembaban, memperbaiki tekstur, mengencangkan,

menutrisi, meremajakan, melembutkan, membersihkan pori-pori, mencerahkan

warna kulit, merilekskan otot wajah dan menyembuhkan otot wajah. Dengan

pemakaian yang teratur, masker dapat mengurangi kerutan halus yang ada pada

wajah (Herdiana,2007).

Masker wajah peel off merupakan salah satu jenis maskr wajah yang

mempunyai keunggulan dalam penggunaannya yaitu dapat dengan mudah di lepas

atau diangkatt seperti membrane elastis (Rahmawanty dkk., 2015). Masker

pengelupasan dapat meningkatkan hidrasi kulit akibat oklusi (Velasco et al.,

2014). Penggunaan masker yang dapat dilepas secara efektif dapat memperbaiki

dan mengatasi masalah keriput, penuaan, dan jerawat pada kulit wajah, serta dapat
18

juga digunakan untuk mengecilkan pori-pori (Grace et al., 2015; Sulastri et al.,

2016).

Proses kerusakan kulit ditunjukkan dengan munculnya kerutan akibat

radikal bebas. Penuaan kulit dapat terjadi karena photoaging oleh radiasi UV.

Penuaan kulit dapat disebabkan oleh radiasi UV (photoaging) yang memicu

terbentuknya radikal bebas ROS (Reactive Oxygen Species) pada kulit. Radikal

bebas menyebabkan kerusakan oksidatif pada jaringan yang dikenal sebagai stres

oksidatif. Antioksidan dapat digunakan untuk melindungi kulit dari serangan

radikal bebas sehingga dapat menghambat proses penuaan. Kandungan

antioksidan yang tinggi pada kacang hijau berpotensi untuk diformulasikan

menjadi masker gel peel off untuk melindungi kulit kita dari radiasi sinar UV

sehingga menjadi hal baru dalam penelitian untuk mengembangkan formula baru

masker gel peel off yang mengandung ekstrak kacang hijau. Pemakaian masker

memiliki banyak manfaat tidak hanya menyegarkan, memperbaiki dan

mengencangkan kulit wajah tetapi juga melancarkan peredaran darah, merangsang

aktivitas sel kulit, mengangkat sel kulit mati, melembutkan kulit, dan memberi

nutrisi pada kulit. Masker gel peel off dapat langsung dilepas tanpa dibilas setelah

masker kering sehingga dapat mengangkat sel kulit mati (Husni & Dewi,2019)

2.3.3 Mekanisme Kerja Masker

Masker yang dioleskan pada wajah akan meningkatkan suhu kulit wajah,

sehingga melancarkan sirkulasi wajah, dan mempercepat pengiriman nutrisi ke

permukaan kulit, sehingga membuat kulit wajah tampak lebih segar. Karena

peningkatan suhu dan sirkulasi yang lancar, fungsi kelenjar kulit ditingkatkan, dan
19

kotoran serta sisa metabolisme dilepaskan ke permukaan kulit dan diserap oleh

lapisan masker kering. Cairan dari keringat dan sebagian cairan sungkup diserap

oleh stratum korneum. Walaupun sungkup mengering, stratum korneum tetap

lembut. Bahkan setelah sungkup dicabut ciri-cirinya menjadi lebih baik. Kerutan

kulit yang terlihat berkurang, sehingga kulit wajah tidak hanya mulus dan kokoh.

Setelah masker dilepas, bagian cairan yang telah diserap stratum korneum akan

menguap, mengakibatkan penurunan suhu kulit, sehingga meremajakan kulit

(Septiani et al., 2012).

2.3.4 Evaluasi Sediaan Masker Gel

Evaluasi masker gel meliputi evaluasi fisik dan evaluasi kimiawi. Evaluasi

fisik meliputi uji sensoris, uji keseragaman, uji viskositas, uji dispersi, uji adhesi,

dan uji waktu pengeringan. Saat evaluasi kimia dilakukan pengujian pH

formulasi.

1. Pengujian organoleptis

Tes sensorik meliputi warna dan bau gel Tujuan pengamatan gel secara

visual adalah mengevaluasi parameter bau dan warna untuk menghasilkan

formulasi yang estetis.

2. Pengujian homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk menghasilkan formulasi yang homogen

tanpa adanya partikel atau serat kasar. Pengujian dilakukan dengan mengoleskan

sampel pada kaca target dan mengamatinya secara visual dengan lima alat indera.

Hasil tes harus menunjukkan pengaturan yang merata.


20

3. Pengujian viskositas

Lakukan uji viskositas untuk mengetahui viskositas dosis. Viskositas suatu

formulasi dinyatakan sebagai jumlah hambatan yang harus dialirkan cairan.

Semakin tinggi viskositas zat cair, semakin besar hambatan aliran zat tersebut.

Pengukuran viskositas zat cair dilakukan dengan menggunakan alat viskometer.

Viskometer adalah alat untuk menggunakan sistem viskositas non-Newtonian.

Nilai viskositas gel yang baik berada pada kisaran 2000-4000 cps, karena pada

ketebalan ini gel dapat menyebar dengan baik pada saat digunakan.

4. Pengujian daya sebar

Uji daya sebar bertujuan untuk mengetahui kecepatan penyebaran formulasi

pada kulit dan untuk mengetahui kelembutan formulasi gel yang akan

diaplikasikan pada kulit. Dalam kisaran dispersi sungkup gel, dispersi gel yang

baik adalah 5-7 cm, yang menunjukkan konsistensi yang sangat nyaman.

5. Pengujian daya lekat

Pengujian daya lekat digunakan untuk mengetahui kemampuan masker gel

untuk melekat pada kulit. Formulasi yang baik memiliki daya rekat tinggi.

Semakin tinggi viskositasnya, semakin lama gel masker bersentuhan dengan

permukaan kulit.

6. Pengujian waktu sediaan mengering

Uji waktu pengeringan formulasi dengan memperhatikan waktu yang

diperlukan untuk mengeringkan formulasi. Waktu pengeringan formulasi dihitung

dari aplikasi masker gel peel-off hingga terbentuk lapisan yang benar-benar
21

kering. Jika mengering dalam waktu 15-30 menit setelah aplikasi, waktu

pengeringan formulasi dianggap baik.

b.4. Antioksidan

Antioksidan adalah pengawet dengan fungsi mencegah oksidasi lipid

produk. Mereka dapat bertindak mengikuti mekanisme yang berbeda, yaitu agen

pereduksi, pemulung oksigen, sinergis agen, dan agen chelating. Baru-baru ini,

produk berbasis antioksidan telah diusulkan untuk melindungi kulit (Maria &

Elena,2018).

Sistem antioksidan kulit memiliki area luas yang terpapar ke lingkungan

untuk dilindungi dan sebagai akibatnya, sangat terpapar serangan radikal eksogen,

yang membuat sistem pertahanan terus tertantang. Konsekuensinya, tata rias

memiliki peran penting dalam pencegahan dan pelemahan kulit penuaan melalui

studi zat dengan aktivitas antioksidan yang efektif, untuk dimasukkan ke dalam

produk kosmetik untuk perawatan sehari-hari (Gabriela et al.,2014). Tumbuhan

dikenal sebagai sumber penting zat fungsional. Sebagian besar dengan kapasitas

antioksidan yang terkait dengan sistem pertahanan bawaan spesies terhadap faktor

biologis (misalnya fitopatogen) dan fisik (misalnya radiasi UV) yang selalu

menyebabkan pembentukan radikal bebas. Selain itu, spesies tanaman dari

wilayah geografis seperti Amazon, seringkali secara kualitatif dan kuantitatif lebih

kaya akan senyawa antioksidan kemungkinan besar karena keanekaragaman

hayati penting yang menjadi ciri wilayah ini dengan kuat memaksa proses evolusi

untuk mendiversifikasi metabolisme sekunder tanaman.


22

b.4.1. Fungsi Antioksidan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendefinisikan antioksidan

hanya sebagai suplemen makanan yang harus dikonsumsi selain konsumsi

makanan normal dalam upaya mencegah penyakit tersebut. Antioksidan diketahui

memainkan peran kunci dalam pengaruh perlindungan yang diberikan oleh

makanan nabati. Konsumsi sayur dan buah secara teratur telah diakui dapat

mengurangi risiko penyakit kronis. Studi menunjukkan bahwa diet kaya

antioksidan memiliki dampak kesehatan yang sangat positif dalam jangka

panjang. Baru-baru ini, antioksidan telah menarik banyak perhatian dalam

kaitannya dengan radikal dan stres oksidatif, profilaksis dan terapi kanker, dan

umur panjang. Semua antioksidan bekerja bersama sebagai satu tim, (sistem

antioksidan), yang bertanggung jawab untuk mencegah efek merusak dari radikal

bebas dan produk beracun dari metabolisme mereka. Namun, antioksidan

bertindak untuk mengontrol tingkat pembentukan radikal bebas sebagai sistem

terkoordinasi di mana kekurangan pada satu komponen berdampak pada efisiensi

komponen lainnya. Empat mekanisme yang mungkin telah disarankan dimana

antioksidan berfungsi untuk mengurangi laju oksidasi lemak dan minyak. Ini

adalah sumbangan hidrogen oleh antioksidan, sumbangan elektron oleh

antioksidan, penambahan lipid ke antioksidan dan pembentukan kompleks antara

lipid dan antioksidan. Di antara komponen makanan yang memerangi penyakit

kronis, perhatian besar telah diberikan pada fitokimia, molekul yang berasal dari

tumbuhan yang diberkahi dengan kekuatan antioksidan yang stabil. Aktivitas

kumulatif dan sinergis dari molekul bioaktif yang ada dalam makanan nabati
23

bertanggung jawab atas peningkatan sifat antioksidannya (Anuj Yadav et al.,

2016).

Antioksidan berdasarkan fungsinya, menurut Siagian (2012) dibagi menjadi

4 tipe yaitu:

1. Jenis reaksi pembentukan rantai yang membentuk radikal bebas dengan

mendonasikan atom H (seperti vitamin E)..

2. Jenis pereduksi yang dapat mentransfer atom H atau oksigen dan merupakan

pemulung, seperti vitamin C..

3. Jenis pengikat logam yang dapat dikombinasikan dengan pro-oksidan, seperti

flavonoid, asam sitrat, dan ethylenediaminetetraacid (EDTA).

Antioksidan seluler yang mampu mendekomposisi hidroperoksida

menjadi bentuk stabil, contohnya pada manusia dikenal Super Oksida Dismutase

(SOD), katalase, glutation, peroksidase.

Antioksidan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan berperan penting

dalam menjaga kualitas makanan. Antioksidan dapat digunakan untuk mencegah

ketengikan, perubahan nilai gizi, perubahan warna dan aroma, dan kerusakan fisik

lainnya pada makanan, karena antioksidan dapat menghambat oksidasi. Fungsi

antioksidan lainnya adalah membantu menghambat proses penuaan atau anti

penuaan.

b.4.2. Mekanisme Kerja Antioksidan

Radikal bebas adalah molekul yang mengandung satu atau lebih elektron

yang tidak berpasangan di orbital terluarnya. Radikal bebas memiliki reaktivitas

dan ketidakstabilan yang tinggi. Untuk mencapai kestabilan, radikal bebas akan
24

berinteraksi dengan atom atau molekul di sekitarnya. Bereaksi untuk mendapatkan

pasangan elektron. Reaksi di dalam tubuh ini akan menimbulkan reaksi berantai

yang merusak struktur sel, jika tidak dicegah akan menimbulkan berbagai

penyakit, seperti kanker, jantung, katarak, penuaan dini dan penyakit degeneratif

lainnya. Untuk mengurangi aktivitas radikal bebas dibutuhkan antioksidan.

Antioksidan adalah senyawa yang dapat mendonasikan elektron (donor atom

hidrogen) ke radikal bebas, sehingga menghentikan reaksi berantai dan mengubah

radikal bebas menjadi bentuk yang stabil. Antioksidan dalam makanan digunakan

untuk mencegah atau menghambat proses oksidasi pada makanan, seperti lemak,

terutama yang mengandung asam lemak tak jenuh, oksida ini dapat dioksidasi

menjadi tengik, dan juga dapat digunakan untuk mencegah kecoklatan pada buah

dan sayuran. Respon (Hamid et al. al., 2010).

Mekanisme dimana antioksidan menghambat oksidasi atau mencegah reaksi

berantai radikal bebas dari lemak teroksidasi dapat disebabkan oleh empat (empat)

mekanisme reaksi (Sayuti & Yenrina, 2015), yaitu:

1. Pelepasan hydrogen dan antioksidan

2. Pelepasan electron dan antioksidan

3. Adisi lemak ke dalam cincin aromatic pada antioksidan

4. Pembentukan senyawa kompleks antara lemak dan cincin aromatic dari

antioksidan

b.5. DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl)

Salah satu radikal bebas yang dapat digunakan sebagai model dalam

pengukuran daya penangkapan radikal bebas adalah 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl


25

(DPPH). DPPH merupakan senyawa radikal bebas yang stabil sehingga apabila

digunakan sebagai pereaksi dalam uji penangkapan radikal bebas cukup dilarutkan

dan bila disimpan dalam keadaan kering dengan kondisi penyimpanan yang baik

maka akanstabil selama bertahun-tahun (Tristantini dkk, 2016). Prinsip dari

metode ini yaitu dengan pengukuran aktivitas peredaman radikal DPPH oleh

ekstrak menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 515-

520 nm sehingga akan diketahui nilai aktivitas peredaman radikal bebas yang

dinyatakan dengan nilai IC50 (Konda dkk, 2020). Mekanisme pada peredaman

radikal bebas DPPH ini didasarkan pada reduksi dari larutan metanol radikal

bebasyang berwarna. Ketika larutan DPPH yang berwarna ungu bertemu dengan

bahan pendonor elektron maka DPPH akan terreduksi, menyebabkan warna ungu

akan memudar dan digantikan warna kuning yang berasal dari gugus pikril

(Tristantini dkk, 2016).

Gambar 2.2. Reaksi DPPH dengan senyawa Antioksidan (Tristantini

dkk, 2016).

Metode DPPH sangat berguna untuk penentuan antioksidan terlarut dalam

pelarut organik (terutama alkohol). Evaluasi aktivitas antioksidan dengan metode


26

DPPH harus dijelaskan secara cermat, karena absorbansi radikal bebas DPPH

setelah reaksi dengan antioksidan akan menurun akibat cahaya, oksigen, pH, dan

jenis pelarut. Kerugian lain dari DPPH adalah tidak dapat diaksesnya ruang dan

kisaran absorbansi linier yang sempit relatif terhadap absorbansi (Apak, 2013).

Aktivitas DPPH ditentukan dengan menggunakan nilai konsentrasi efektif. Nilai

konsentrasi efektif atau disebut juga nilai IC50 merupakan konsentrasi yang

menyebabkan hilangnya 50% aktivitas DPPH. Nilai IC 50 menjadi parameter yang

dapat digunakan untuk menginterpretasikan hasil dari uji aktivitas antioksidan

dengan metode DPPH (Sari et al., 2019).Nilai IC50 dapat diperoleh melalui suatu

persamaan linear antara persen inhibisi dengan konsentrasi sampel. Semakin

rendah nilai IC50 maka daya hambat antioksidan terhadap radikal bebas semakin

tinggi (Sagala & Ripaldo, 2020). Tingkat kekuatan antioksidan senyawa uji

menggunakan metode DPPH dapat digolongkan menurut nilai IC50.

Tabel 2.1 Tingkat Kekuatan Antioksidan


Intensitas Nilai IC50
Antioksidan sangat kuat <50 ppm
Antioksidan kuat 50-100 ppm
Antioksidan sedang 101-150 ppm
Antioksidan lemah 150-200 ppm

b.6. Kerangka Pemikiran

Kerangka berfikir penelitian adalah suatu uraian atau konsep yang akan

dilakukan pada penelitian, sebelum penelitian berlangsung dibuat kerangka

konsep terlebih dahulu.


27

Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Ekstrak daun melinjo (Gnetum gnemon


L.)

Efek farmakologis : antioksidan, antibakteri, antidiabetes

Metabolit sekunder : alkaloid, flavonoid, saponin (Mukhlisah, 2014)

Formulasi Masker gel peel off ekstrak daun melinjo ([Link]) yang
dibagi menjadi beberapa konsentrasi dengan tujuan untuk mencari
formulasi mana yang terbaik.

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran

b.7. Hipotesis Penelitian

1. Aktivitas antioksidan terbaik antara ekstrak daun melinjo n-heksan, etil

asetat dan etanol 70%

2. Formulasi masker gel peel off mengandung aktivitas antioksidan.

3. Formulasi masker gel peel off mendapatkan hasil evaluasi terbaik.

b.8. Penelitian Relavan

Hasil penelitian relavan sebelumnya yang sesuai dengan penelitian ini yaitu:

Tabel 2.2. Penelitian relavan

Nama&Tahun Judul Hasil Publikasi

Sanny E dkk Formulasi masker Fraksi etil asetat kulit buah IJPS
(2015) peel off kulit buah manggis memiliki aktivitas Volume 2,
manggis (Garcinia antioksidan dengan nilai Nomor 3,
mangostana L.) IC50 19,240. Masker gel Oktober
peel off mengandung 2015
28

FEAKBM 1% dengan basis


gel PVA 14% dan HPMC
1% stabil berdasarkan hasil
pengujian organoleptis ,
homogenitas,Ph, viskositas,
daya sebar, waktu
mengering,dan stabilitas
selama 28 hari
penyimpanan pada suhu 40
derajat celcius .

Henny Lucida Formulasi Masker Ekstrak etanol kulit buah Jurnal Sains
dkk Peel-off dari kering asam kandis pada dan
(2017) Ekstrak Etanol kadar 1% menunjukkan Teknologi
Kulit Buah Asam nilai hambatan terhadap Farmasi
Kandis (Garcinia oksidasi radikal DPPH Vol. 19 No.
cowa,Roxb) dan sebesar 82,04%. Formulasi 01 (Maret
Uji Aktivitas pada sediaan gel ekstrak 2017)
Antioksidannya tersebut pada konsentrassi
1, 1,5 dan 2% menghasilkan
sediaan masker peel-off
stabil secara fisiska dengan
tingkat elastisitas yang baik
namun nilai keasamannya
rendah
Sabrina Isolasi Senyawa Hasil menunjukkan bahwa Prosiding
Salsabila dkk
Flavonoid yang ekstrak etil asetat memiliki Farmasi
(2019) Berpotensi sebagai aktivitas antioksidan lebih Volume 5,
Antioksidan pada baik dibandingkan ekstrak No. 2,
Ekstraksi n-heksan dan methanol. Tahun 2019
Bertingkat Daun
Melinjo (Gnetum
gnemon L.)
Candra Dewi Aktivitas Hasil analisis antioksidan Jurnal
dkk Antioksidan Dan menunjukkan bahwa Teknologi
(2012) Antimikroba ekstrak daun melinjo Hasil
Ekstrak Melinjo mempunyai aktivitas Pertanian,
(Gnetum gnemon antioksidan tertinggi Vol. V, No.
L.) sebesar 4,76%, kemudian 2, Agustus
diikuti biji dengan aktivitas 2012
antioksidan sebesar 3,36%,
dan aktivitas antioksidan
terendah terdapat pada kulit
melinjo sebesar 2,47%
BAB III

METODE PENELITIAN

c.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium.

c.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2021 hingga Desember 2021

di Laboratorium Terpadu, Fakultas Sains, Farmasi dan Kesehatan Universitas

Mathla’ul Anwar Bantern (FSFK-UNMA), laboratorium Universitas Pancasila,

dan uji aktivitas antioksidan di Sekolah Tinggi Analis Kimia Cilegon (STAK-

Cilegon).

c.3. Alat dan Bahan

c.3.1. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alat-alat gelas

Laboratorium, timbangan analitik, oven, hotplate, blender, pisau stainless,

dehydrator, cawan porselin, tanur laboratorium, krus silikat, labu alas bulat, alat

piknometer, spektrofotometer UV-VIS, vislometer Brookfield, stopwatch, pH

meter, aluminium foil, toples kaca, ayakan, kertas saring, dan rotary evaporator.

c.3.2. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan yaitu daun melinjo, 1,1-difenil-2 pikrilhidrazil

(DPPH), methanol, HCl 2N, pereaksi Mayer, pereaksi Wagner, serbuk

magnesium, FeCl3 1%, kloroform, asam asetat anhidrat, asam sulfat pekat, etanol

70%, n heksan, etil asetat, aquadest, etanol 95%, polivinil alcohol (PVA), propilen

glikol, phenoxyethanol, aquadest.

29
30

c.4. Cara Kerja

c.4.1. Deskripsi Cara Kerja

[Link] Persiapan Sampel Daun Melinjo (Gnetum gnemon)

Persiapan sampel daun melinjo diawali pengambilan daun melinjo dari

kebun melinjo daerah Saketi, Pandeglang-Banten. Kemudian dilakukan

determinasi pada sampel uji. Determinasi dilakukan di Pusat Biologi Bidang

Botani LIPI Cibinong. Sampel daun melinjo yang telah terkumpul disortir dan

dibersihkan dengan air untuk menghilangkan kotoran. Sampel kemudian

dikeringkan. Sampel daun kering selanjutnya dihaluskan dengan blender kering

untuk memperkecil luas permukaan sampel dan kemudian ditimbang untuk proses

ekstraksi.

[Link] Ekstraksi Daun Melinjo Metode Maserasi Kinetik Secara Bertingkat

Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi kinetik selama 24 jam

untuk setiap pelarut pada suhu kamar. Proses maserasi kinetik ini dibantu dengan

stirer untuk meningkatkan kontak antara simplisia dengan pelarut agar

penyebarannya merata. Ekstraksi pertama menggunakan pelarut n-heksan dengan

cara memasukkan serbuk simplisia kering sebanyak 333,45 g dimasukkan

kedalam Erlenmeyer, tambahkan pelarut n-heksan kemudian diekstraksi di atas

magnetic stirrer dengan putaran sedang. Ekstraksi dilakukan selama 24 jam dan

diulang sebanyak tiga kali. Setelah diekstraksi dengan pelarut n-heksana, ampas

dikeringkan terlebih dahulu sebelum diremaserasi dengan pelarut etil asetat dan

begitu seterusnya hingga pelarut terakhir yaitu etanol 70%.


31

Filtrat daun melinjo n heksan, etil asetat dan etanol 70% yang diperoleh

masing-masing dikumpulkan lalu dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu

40°C dan rotasi 60 rpm hingga diperoleh ekstrak kental daun melinjo n-heksan,

etil asetat dan etanol 70%, kemudian dimasukkan kedalam lemari pendingin agar

kualitas ekstrak tetap terjaga. Kemudian lakukan uji antioksidan pada ke tiga

ekstrak kental untuk di ketahui ekstrak kental mana yang memiliki antioksidan

terbaik untuk dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

[Link] Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Melinjo

a. Pembuatan larutan induk ekstrak daun G. gnemon konsentrasi 1000 ppm

Ekstrak daun G. gnemon ditimbang sebanyak 50 mg dan dilarutkan dengan

metanol, kemudian masukan kedalam labu ukur 50 mL dan ditambahkan metanol

sampai tanda batas

b. Pembuatan larutan konsentrasi 0, 20, 40, 60, 80, 100 ppm ekstrak daun

[Link]

Larutan induk ekstrak daun G, gnemon dipipet masing-masing sebanyak

0; 0,2 mL; 0,4 mL; 0,6 mL; 0,8 mL dan 1 mL dan kemudian masukan kedalam

labu ukur 10 mL dan tambahkan metanol sampai tanda batas.

c. Pengukuran Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun G. gnemon

Pipet masing-masing konsentrasi larutan sebanyak 2,4 mL dengan pipet dan

dimasukan ke dalam vial, kemudian tambahkan 0,6 mL larutan DPPH. Campuran

dihomogenkan dan diinkubasi selama 30 menit, serapan diukur dengan

spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang maksimal 515 nm. Aktivitas

antioksidan sampel ditentukan oleh besarnya hambatan serapan radikal bebas


32

melalui perhitungan % inhibisi dengan rumus (Handayani dkk.,2020):

% inhibisi= ¿ x 100 %
A

Keterangan:

A= Absorbansi blanko

B= Absorbansi sampel

Selanjutnya hasil pengukuran dimasukan kedalam persamaan regresi dengan

konsentrasi ekstrak sebagai sumbu x dan nilai % inhibisi sebagai sumbu y, dimana

untuk menghitung Nilai IC50 nilai y (% inhibisi) sebesar 50%.

Dari persamaan garis, dapat dihitung nilai IC50 dengan rumus:

y=ax+ b

Dimana: y = % inhibisi (50)

a = Intercept (perpotongan garis di sumbu y)

b = Slope (kemiringan)

x = Konsentrasi

[Link] Skrinning Fitokimia

a. Uji alkaloid

Sebanyak 0,5 g ekstrak ditimbang, tambahkan 1 ml asam HCL 2N dan 9 ml

aquadest. Dipanaskan diatas penangas air selama 2 menit, didinginkan lalu

disaring. Filtrat dibagi kedalam tabung reaksi dan masing masing di tetesi 10 tetes

pereaksi mayer dan 6 tetes pereaksi wagner. Apabila terbentuk endapan maka

sampel tersebut mengandung alkaloid, dengan pereaksi Mayer akan terbentuk

endapan putih atau kuning dan dengan pereaksi Wagner akan terbentuk endapan

berwarna coklat.
33

b. Uji saponin

Timbang 0,5 g sampel, masukkan ke dalam tabung reaksi, lalu tambahkan

air panas ke sampel, kemudian kocok kuat hingga terbentuk busa yang stabil,

kemudian tambahkan 1 tetes HCl 2N, jika busa tidak hilang maka positif saponin.

c. Uji flavonoid

Masukkan 0,5 g sampel ke dalam tabung reaksi. Larutkan menggunakan

etanol. Tambahkan bubuk magnesium ke dalam sampel dan berikan 1 ml HCl

pekat. Kocok sampel dan amati perubahan yang terjadi, terbentuk warna merah,

kuning, atau orange dalam larutan, yang menunjukkan adanya flavonoid.

d. Uji tannin

Timbang sampel sebanyak 0,5g. Tambahkan beberapa tetes larutan FeCl 3

1%. Perubahan yang diamati, perubahan warna biru tua atau hitam kehijauan

menunjukkan adanya senyawa tannin.

e. Uji steroid dan triterpenoid

Timbang sampel sebanyak 0,5 g, kemudian ditambahkan 2 mL kloroform.

Masing-masing tabung ditambahkan 1 mL asam asetat anhidrat lalu tambah 1 mL

asam sulfat pekat. Kemudian amati, jika larutan berwarna merah/ungu

menandakan adanya terpenoid dan jika larutan berwarna hijau menandakan

adanya steroid.
34

[Link] Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off

Table 3.1. Formulasi sediaan masker gel


Bahan Formulalsi Fungsi Standar
F0 F1 F2
Ekstrak [Link] - 0,017 g 0,035 g Zat aktif
Polivinil alkohol 14 g 14 g 14 g Gelling agent 10-16
Propilen glikol 10ml 10ml 10ml Humektan 10-25
HPMC 1g 1g 1g Gelling agent 1-4
Phenoxyl etanol 0,5ml 0,5ml 0,5 ml Pengawet <1%
Air suling ad ad100 ad100 ad100 Pelarut

Prosedur pembuatan: Polivinil alcohol (PVA) dan Hydroxypropyl methyl

cellulose (HPMC) masing-masing tambahkan aquadest panas lalu aduk hingga

mengembang secara terpisah. Setelah polivinil alcohol (PVA) dan Hydroxy

propyl methyl cellulose (HPMC) mengembang dan homogen, keduanya

dicampurkan dan diaduk dengan pengadukan yang konstan hingga homogen,

kemudian sisihkan terlebih dahulu. Kemudian ekstrak daun melinjo dan phenoxyl

ethanol yang telah dilarutkan dengan propilenglikol aduk hingga homogen, lalu

masukkan kedalam tempat PVA dan HPMC, sambil terus dilakukan pengadukan

agar tercipta gel yang homogen.

[Link] Uji Aktivitas Antioksidan Masker Gel Peel-off

Prosedur pengujian aktivitas antioksidan sediaan masker gel peel-off

ekstrak daun melinjo sama dengan prosedur uji pengujian aktivitas antioksidan

ekstrak daun melinjo dengan konsentrasi 0, 25ppm, 50ppm, 75ppm,

100ppm,125ppm.
35

[Link] Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-off

Evaluasi sediaan masker gel yang telah dibuat meliputi pengamatan

organoleptis, homogenitas, pengukuran viskositas, pengukuran pH, uji

pengukuran perpanjangan dan kekuatan terhadap tarikan, total cemaran mikroba.

a. Pengamatan Organoleptis

Pengamatan dilihat perbahan-perubahan warna, bau dan bentuk dari sediaan

masker gel peel-off (Shai et al., 2009).

b. Uji homogenitas

Lakukan uji homogenitas untuk melihat apakah formulasi jadinya

homogen. Untuk tujuan ini, gel diaplikasikan pada kaca transparan, dan tiga

bagian preparasi diambil pada kaca transparan, yaitu bagian atas, tengah dan

bawah. Homogenitas tersebut ditunjukkan dengan tidak adanya butiran kasar

(Mappa et al., 2013).

c. Pengujian Viskositas

Uji viskositas formulasi masker gel peel off daun melinjo dengan

menggunakan viskometer Brookfield digital dengan nomor spindel 26 dan

kecepatan putaran 1,5 rpm.

d. Pengujian pH

Pengukuran pH dilakukan dengan cara merendam pH meter dalam

formulasi masker gel peel off, 1 g formulasi dilarutkan dalam air bervolume 10

mL, kemudian pH meter digunakan untuk mengukur pH. Nilai pH sediaan masker

gel peel off harus sesuai dengan nilai pH kulit yaitu 4,5-8,0
36

e. Pengujian Daya Sebar

Tes ini dilakukan untuk mengetahui seberapa cepat gel menyebar di kulit

saat dioleskan. Persyaratan dispersi formulasi gel berkisar antara 5-7 cm (Garg, A

et al., 2002).

f. Pengujian Daya Lekat

Ini dilakukan dengan menempatkan gel pada objek kaca dengan area yang

ditentukan. Letakkan benda kaca lainnya di atas gel. Kemudian tekan dengan

beban 1 kg selama 5 menit. Hubungkan objek kaca ke test kit dan lepaskan beban

80 gram. Catat waktu yang dibutuhkan benda kaca untuk jatuh (Liza P & Sri W,

2018).

g. Pengujian Waktu Untuk Sediaan Mengering

Sebanyak 1 g masker gel peel off dioleskan ke kulit lengan dengan panjang

7 cm dan lebar 7 cm. Kemudian, stopwatch digunakan untuk menghitung

kecepatan pengeringan masker gel yang telah dikupas untuk membentuk lapisan

film dari masker gel yang telah dikupas (Bajaj S et al., 2012).
37

3.5 Diagram Alir

Determinasi daun melinjo Daun Melinjo


(Gnetum gnemon L)

Cuci bersih
Sortasi basah
Dipotong kecil – kecil
Dikeringkan
Sortasi kering
Dihaluskan

Simplisia daun melinjo

Pembuatan ekstrak dengan metode maserasiSetiap


bertingkat menggunakan
ekstrak 3 pelarut
kental dilakukan (n-heksan, etil
uji antioksidan, asetatkent
ekstrak dan

Formulasi masker gel peel off ekstrak daun melinjo

Uji aktivitas antioksidan Evaluasi sediaan masker gel peel off

Nilai IC50 antioksidan


38

Gambar 3.1. Gambar diagram alir secara umum

Gambar 3.2 Diagram Alir Uji Alkaloid

Gambar 3.3 Diagram Alir Uji Saponin


39

Gambar 3.4 Uji Flavonoid

Gambar 3.5 Uji Tannin

Gambar 3.6 Uji Steroid dan Terpenoid


40

Gambar 3.7 Uji Antioksidan Ekstrak Daun Melinjo


41

Gambar 3.8 Uji Antioksidan Masker Gel Peel-Off


42

3.6 Analisis Data

Persentase hambatan (IC50) terhadap radikal DPPH dari masing-masing

konsentrasi larutan sampel dapat dihitung dengan rumus:

%inhibisi= ¿ x 100 %
absorbansi kontrol

Nilai persentase hambatan (%) dan konsentrasi ekstrak daun melinjo diplot

pada sumbu x dan y, sehingga didapatkan persamaan y = a + bx dengan

perhitungan regresi linear. Aktivitas antioksidan dinyatakan dengan Inhibition

Concentration 50% (IC50) yaitu konsentrasi sampel yang dapat meredam radikal

DPPH sebanyak 50%. Nilai IC50 didapatkan dari nilai x setelah mengganti y = 50
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Determinasi Tumbuhan Daun Melinjo

Determinasi tumbuhan daun melinjo yang dilakukan di Pusat Penelitian

Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya-LIPI sesuai dengan nomor

B-2996/III/KS.01.03/4/2021.

Tabel 4.1 Determinasi Tumbuhan Daun Melinjo


Sampel Jenis Suku

Daun melinjo Gnetum gnemon L. Gnetaceae

4.1.2 Simplisia dan Ekstrak Daun Melinjo

Tabel 4.2 Simplisa Dan Ekstrak Kental Daun G. gnemon


Daun Segar Simplisia Ekstral Kental
Kering Serbuk n-heksan Etil Etanol 70%
asetat
10.000 g 2.600 g 333,45 g 12,100 g 39,81 g 115,01 g
% Rendemen 3,62% 11,93% 34,49

4.1.3 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak G. gnemon

Uji aktivitas antioksidan ekstrak daun G. gnemon menggunakan metode

DPPH (1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl)

[Link] Ekstrak N-Heksan Daun G. gnemon

Uji aktivitas antioksidan ekstrak n-heksan daun [Link] yang dinyatakan

dengan nilai IC50 ditunjukan pada table 4.3

43
44

Konsentras Abs1 Abs 2 Abs 3 % inh 1 % inh 2 % inh 3 IC50


i
0 0,775 0,771 0,768 0 0 0
20 0,752 0,748 0,746 2.967 2.983 2.864
40 0,707 0,705 0,702 8.774 8.561 8.593 212.025ppm
60 0,669 0,667 0,664 13.677 13.488 13.541 212.564ppm
80 0,625 0,623 0,621 19.354 19.195 19.141 212.487ppm
100 0,606 0,603 0,601 21.806 21.789 21.744
Keterangan kekuatan antioksidan Antioksidan lemah
Tabel 4.3 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak n-heksan Daun [Link]

Berikut ini merupakan kurva uji aktivitas antioksidan ektrak n-heksan daun

[Link]

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan


Ekstrak N-heksan Daun [Link]
25
20 f(x) = 0.24129 x − 1.1618
%Inhibisi 1

15 R² = 0.985126982700853
10
5
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.1 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak N-heksan Daun [Link] %


Inhibisi 1

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan


Ekstrak N-heksan Daun [Link]
25
20 f(x) = 0.24123 x − 1.2706
% Inhibisi 2

15 R² = 0.987553747742384
10
5
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.2 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak N-heksan Daun [Link] % inhibisi
2
45

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan


Ekstrak N-heksan Daun [Link]
25
20 f(x) = 0.24154 x − 1.3158
%Inhibisi 3 15 R² = 0.98689023031261
10
5
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.3 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak N-heksan Daun [Link] % inhibisi
3

[Link]. Ekstrak Etil Asetat Daun [Link]

Uji aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat daun [Link] yang dinyatakan

dengan nilai IC50 ditunjukan pada table 4.4

Tabel 4.4 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Daun [Link]
Konsentrasi Abs 1 Abs 2 Abs 3 % inh 1 % inhi 2 % inhi 3 IC50
0 1,343 1,278 1,310 0 0 0
20 0,801 0,799 0,815 40.357 37.480 37.786
40 0,597 0,608 0,595 55.547 52.425 54.580 33.250ppm
60 0,435 0,447 0,449 67.609 65.023 65.725 37.731ppm
80 0,297 0,287 0,247 77.885 77.543 81.145 35.825ppm
100 0,132 0,127 0,127 90.171 90.062 90.305
Kekuatan antioksidan Antioksidan kuat

Berikut ini merupakan kurva uji aktivitas antioksidan ektrak etil asetat daun

[Link]
46

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan


Ekstrak Etil Asetat Daun [Link]
100
80 f(x) = 0.60983 x + 29.724
R² = 0.995419522549048
%Inhibisi 1
60
40
20
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.4 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Daun [Link] %
inhibisi 1

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan


100
Ekstrak Etil Asetat Daun [Link]
90
80 f(x) = 0.65141 x + 25.422
70 R² = 0.998614412138919
% Inhibisi 2

60
50
40
30
20
10
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.5 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Daun [Link] %
inhibisi 2

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan


Ekstrak Etil Asetat Daun [Link]
100
80 f(x) = 0.658015 x + 26.4273
R² = 0.991612899165309
%Inhibisi 3

60
40
20
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110

Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.6 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Daun [Link] %
inhibisi 3
47

[Link]. Ekstrak Etanol 70% Daun [Link]

Uji aktivitas antioksidan ekstrak n-heksan daun [Link] yang dinyatakan

dengan nilai IC50 ditunjukan pada table 4.5

Konsentrasi Abs 1 Abs 2 Abs3 % inh 1 % inh 2 % inh 3 IC50


0 0,576 0,577 0,329 0 0 0
20 0,491 0,493 0,294 14,756 14,558 10,638
40 0,450 0,453 0,287 21,875 21,491 12,765 136,802 ppm
60 0,411 0,412 0,271 28,645 28,596 17,629 137,481 ppm
80 0,385 0,387 0,264 33,159 32,928 19,756 110,518 ppm
100 0,354 0,356 0,242 38,541 38,301 26,443
Kekuatan antioksidan Antioksidan Sedang
Table 4.5 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol 70% Daun [Link]

Berikut ini merupakan kurva uji aktivitas antioksidan ektrak etil asetat daun

[Link]

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak


Etanol Daun [Link]
50
40
%Inhibisi 1

30 f(x) = 0.29427 x + 9.739


R² = 0.991825253850086
20
10
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.7 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etanol Daun [Link] % Inhibisi 1
48

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak


Etanol Daun [Link]
50
%Inhibisi 2 40
30 f(x) = 0.294615 x + 9.4979
R² = 0.990842831742661
20
10
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.8 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etanol Daun [Link] % Inhibisi 2

Kurva Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak


Etanol Daun [Link]
30
25
20 f(x) = 0.193005 x + 5.8659
%Inhibisi 3

R² = 0.963949806774551
15
10
5
0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.9 Kurva Uji Antioksidan Ekstrak Etanol Daun [Link] % inhibisi 3
Tabel 4.6 Skrinning Fitokimia

Skrinning Fitokimia Uji Pereaksi Pengamatan visual Hasil


Alkaloid Mayer, wagner Mayer:Terdapat
endapan putih atau
kuning Positif
Wagner:terdapat
endapan coklat
Flavonoid Magnesium, asam Berwarna kuning Positif
klorida
Tannin Besi III klorida Hijau kehitaman Positif
Saponin Aquadest dan asam Ada buih Positif
klorida
Fenolik Besi III klorida Warna hijau Positif
Steroid& Terpenoid Asam asetat Warna ungu Positif
49

anhidrat, asam terpenoid


sulfat

4.1.4 Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-Off

Dilakukannya uji evaluasi sediaan masker gel peel-off untuk mengetahui

apakah sediaan masker gel peel-off ekstrak daun melinjo ini memenuhi

persyaratan untuk sediaan atau tidak. Berikut adalah tabel hasil dari evaluasi

masker gel peel-off ekstrak daun melinjo.

Tabel 4.7 Hasil evaluasi sediaan masker gel peel-off ekstrak daun melinjo
Formulasi
Hasil Standar
F0 F1 F2
Organoleptis Bau : tidak Bau: aroma Bau : aroma
beraroma khas ekstrak khas ekstrak
Warna : putih daun melinjo daun melinjo
Warna:hijau Warna : hijau
muda muda
Viskositas (Cps) 2.943 3.374 3.849 2000-4000
Homogenitas Homogen Homogen Homogen
Ph 5,32 5,46 5,53 4,5-6,5
Waktu Sediaan 23 menit 26 menit 25 menit 15-30 menit
Mengering
Daya sebar 6 cm 6,5cm 5,5 cm 5-7 cm
Daya lekat 36 detik 45 detik 28 detik >1 detik

4.1.5 Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Masker Gel Peel-Off

[Link] Formulasi Basis

Uji aktivitas antioksidan formulasi basis masker gel peel-off yang

dinyatakan dengan nilai IC50 ditunjukan pada table 4.8


50

Tabel 4.8 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi Basis

konsentrasi Rata-rata absorbansi % inhibisi IC50


0 1,558 -
25 1,477 5,198
50 1,422 8,729 183,350 ppm
75 1,357 12,901 ( lemah)
100 1,212 20,297
125 1,071 31,258

Berikut ini merupakan kurva uji aktivitas antioksidan formulasi basis masker

gel peel-off

kurva uji antioksidan formulasi basis


35
30
25 f(x) = 0.254752 x − 3.4298
% inhibisi

20 R² = 0.943507750802789
15
10
5
0
20 40 60 80 100 120 140
konsentrasi

Gambar 4.10 Kurva Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi Basis Masker Gel Peel-
Off

[Link] Masker Gel Peel-Off Merek X

Uji aktivitas antioksidan formulasi masker gel peel-off merek X yang

dinyatakan nilai IC50 ditunjukkan pada tabel 4.10

Tabel 4.9 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Masker Gel Peel-Off Merek X
Konsentrasi Rata-rata absorbansi % inhibisi IC50
0 1,426 -
25 0,214 53,856
50 0,289 64,516 10,067 ppm
75 0,463 67,531 ( sangat kuat )
100 0,506 79,733
125 0,658 84,992
51

Berikut ini merupakan kurva uji aktivitas antioksidan formula masker gel peel-

off merek X

kurva uji antioksidan masker gel peel-off


merek X
90
80 f(x) = 0.309956 x + 46.8789
70 R² = 0.974429365712258
60
%inhibisi

50
40
30
20
10
0
20 40 60 80 100 120 140
konsentrasi

Gambar 4.11 Kurva Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi Masker Gel Peel-Off
Merek X

[Link] Formulasi 1

Uji aktivitas antioksidan formulasi 1 masker gel peel-off dengan ektrak etil

asetat daun [Link] sebanyak 0,017 gram yang dinyatakan dengan nilai IC50

ditunjukan pada table 4.7

Tabel 4.10 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi 1


Konsentrasi Rata-rata absorbansi % inhibisi IC50
0 1,248 -
25 0,848 32,051
50 0,465 62,740 39,648 ppm
75 0,276 77,884 (Sangat kuat)
100 0,118 90,544
125 0,076 93,910

Berikut ini merupakan kurva uji aktivitas antioksidan formulasi 1 masker gel

peel-off dengan ekstrak etil asetat daun melinjo sebanyak 0,017 gram.
52

kurva uji antioksidan formulasi 1


100
f(x) = 0.606088 x + 25.9692
80 R² = 0.904403106848053
% inhibisi 60
40
20
0
20 40 60 80 100 120 140
konsentrasi

Gambar 4.12 Kurva Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi 1 Masker Gel Peel-Off

[Link] Formulasi 2

Uji aktivitas antioksidan formulasi 2 masker gel peel-off dengan ektrak etil

asetat daun [Link] sebanyak 0,035 gram yang dinyatakan dengan nilai IC 50. Di

tunjukkan pada tabel 4.8

Tabel 4.11 Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi 2


Konsentrasi Rata-rata absorbansi % inhibisi IC50
0 1,295 -
25 0,128 46,023
50 0,279 55,289 32,611 ppm
75 0,330 74,517 (sangat kuat)
100 0,579 78,455
125 0,699 90,115
Berikut ini merupakan kurva uji aktivitas antioksidan formulasi 2 masker gel

peel-off dengan ekstrak etil asetat daun melinjo sebanyak 0,035 gram

kurva uji antioksidan formulasi 2


100
80 f(x) = 0.4454 x + 35.4748
R² = 0.967494483225188
% inhibisi

60
40
20
0
20 40 60 80 100 120 140
konsentrasi

Gambar 4.13 Kurva Uji Aktivitas Antioksidan Formulasi 2 Masker Gel Peel-Off
53

4.2 Pembahasan

4.2.1 Determinasi Tumbuhan

Determinasi dilakukan untuk mengetahui termasuk ke dalam spesies apa

tumbuhan tersebut dan terhindar dari kesalahan dalam proses pengumpulan bahan

penelitian. Determinasi dilakukan di pusat penelitian dan konservasi Lembaga

Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang beralamat di Cibinong, Bogor, Jawa

Barat, Indonesia. Dari hasil determinasi menyatakan bahwa sampel tumbuhan

dengan nomor B-2996/III/KS.01.03/4/2021 adalah tumbuhan dari jenis Gnetum

gnemon L., suku Gnetaceae. Untuk daun yang berasal dari suku Gneteceae

memiliki ciri-ciri daun sederhana, berhadapan, menyirip, dan untuk daun melinjo

itu sendiri memiliki ciri-ciri daun tunggal, berbentuk bulat oval dengan urat

jarring (urat daun menyirip). Lebar daun sekitar 10 sampai dengan 20 cm, yang

tersusun saling berhadapan, warnanya hijau gelap dan mengkilap. Tepi daun

merata, bagian dalam daun akan memiliki serabut halus berwarna keputihan.

4.2.2 Simplisia Dan Ekstrak Daun [Link]

Penelitian ini diawali dengan pembuatan simplisia daun [Link], daun

[Link] yang digunakan diambil dari perkebunan yang berlokasi di Sodong,

Kabupaten Pandeglang ,Banten. Daun [Link] sebanyak 10.000 gram pada

penelitian ini telah melalui proses sortasi, pengeringan,penghalusan dan

penyaringan dan diperoleh 2600 g seerbuk daun [Link].

Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kandungan air dalam bahan

sehingga memperpanjang daya simpan simplisia. Setelah simplisia kering

dilakukan penggilingan menggunakan blender. Pengeringan dilakukan dengan


54

dianginkan di udara terbuka. Untuk uji aktivitaas antioksidan tidak boleh

mendapat suhu tinggi dalam pengeringan karena akan merusak sampel dan

mempengaruhi hasil uji (Lusiana, 2015).

Hasil ekstraksi daun [Link] dengan metode maserasi kinetik bertingkat

menggunakan pelarut etanol 70%, etil asetat dan n-heksan, didapatkan ekstrak

kental etanol 70% sebanyak 115,01 g dengan rendemen 34,49%, kemudian

ekstrak kental etil asetat di peroleh sebanyak 39,81 g dengan rendemen 11,93%,

dan ekstrak kental n-heksan didapatkan sebanyak 12,10 g dengan rendemen

3,62%. Hasil rendemen dari suatu sampel sangat diperlukan karena untuk

mengetahui banyaknya ekstrak yang diperoleh selama proses ekstraksi. Selain itu,

data hasil rendemen tersebut ada hubungannya dengan senyawa aktif dari suatu

sampel sehingga apabila jumlah rendemen semakin banyak maka jumlah senyawa

aktif yang terkandung dalam sampel juga semakin banyak. Sebagaimana yang

telah dilaporkan bahwa tingginya senyawa aktif yang terdapat pada suatu sampel

ditunjukkan dengan tingginya jumlah rendemen yang dihasilkan (Hasnaeni dkk,

2019). Maserasi dilakukan selama 24 jam setiap pelarutnya dan diulang sebanyak

tiga kali tujuannya agar proses ekstraksi berlangsung optimal karena waktu kontak

yang cukup lama antara sampel dan pelarutnya. Filtrat hasil maserasi kemudian

diuapkan pelarutnya menggunakan rotary evaporator untuk memekatkan ekstrak.

Hasil dari pemekatan diperoleh ekstrak kental daun [Link] berwarna hijau

pekat.
55

4.2.3 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun [Link]

Uji aktivitas antioksidan ekstrak daun [Link] dilakukan dengan

menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Metode DPPH

mempunyai prinsip kerja yaitu adanya atom hidrogen dari senyawa antioksidan

yang berikatan dengan elektron bebas pada senyawa radikal sehingga

menyebabkan perubahan dari radikal bebas menjadi senyawa non-radikal

(Setiawan dkk, 2018). DPPH merupakan suatu uji yang dapat menangkal radikal

bebas untuk menentukan aktivitas antioksidan (Prasetyo dkk, 2021).

Aktivitas antioksidan dari ekstrak daun melinjo dinyatakan dalam

persentase inhibisi ekstrak terhadap radikal bebas DPPH. Perbedaan serapan

antara absorban DPPH dengan absorban sampel yang diukur dengan

spektrofotometer UV-Vis merupakan cara untuk mendapatkan persen inhibisi

ekstrak daun melinjo. Besarnya aktivitas antioksidan ditandai dengan nilai IC 50

yaitu konsentrasi larutan sampel yang dibutuhkan untuk menghambat 50% radikal

bebas DPPH (Prasetyo dkk, 2021).

Hasil dari uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% daun [Link]

dengan konsentrasi 0, 20, 40, 60, 80, 100 ppm ada pada (Tabel 4.3) dan

didapatkan nilai rata-rata IC50 sebesar 128,267 ppm. Hasil dari uji aktivitas

antioksidan ekstrak etil asetat daun [Link] dengan konsentrasi 0, 20, 40, 60,

80, 100 ppm ada pada (Tabel 4.4) didapatkan nilai rata rata IC 50 sebesar 35,806

ppm. Hasil dari uji aktivitas antioksidan ekstrak n-heksan daun [Link] dengan

konsentrasi yang sama seperti sebelumnya yaitu 0, 20, 40, 60, 80, 100 ppm ada

pada (Tabel 4.5) didapatkan nilai rata-rata IC50 sebesar 212,358 ppm.
56

Aktivitas antioksidan berdasarkan IC50 dibagi menjadi beberapa kategori

yaitu < 50 ppm (sangat kuat), 50-100 ppm (kuat), 101-250 ppm (sedang), 251-500

ppm (lemah), > 500 (tidak memiliki antioksidan). Dari hasil antioksidan ketiga

ekstrak dapat dilihat bahwa ekstrak kental etil asetat yang memiliki hasil

antioksidan yang kuat yaitu sebesar 35,806 ppm < 50 ppm, dibandingkan dengan

penggunaan pelarut n-heksan dan etanol 70%. Hal ini diduga karena didalam

sampel daun melinjo banyak terdapat senyawa bioaktif yang bersifat semi polar

jika dibandingkan dengan senyawa bioaktif yang bersifat nonpolar dan polar

sehingga pelarut semipolar (etil asetat) lebih banyak menarik komponen bioaktif

yang ada pada daun melinjo tersebut (Didit dkk, 2017). Maka ekstrak kental etil

asetat daun [Link] yang diformulasikan.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sabrina dkk (2019) dengan

pemantauan KLT terhadap tiga ekstrak daun melinjo yaitu ekstrak etanol 70%,

ekstrak etil asetat, dan ekstrak n-heksan untuk mengidentifikasi senyawa

flavonoid yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan, menyatakan bahwa

ekstrak etil asetat memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dibandingkan

dengan ekstrak n-heksan dan ekstrak metanol.

4.2.4 Skrinning Fitokimia

Hasil skrinning fitokimia pada ekstrak etil asetat daun melinjo (Gnetum

gnemon L.) menunjukkan bahwa ekstrak mengandung senyawa alkaloid, tannin,

triterpenoid, dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Seperti yang

telah diketahui bahwa keberadaan senyawa flavonoid dalam tumbuhan berkhasiat

sebagai antioksidan. Kandungan fitokimia pada suatu tanaman dipengaruhi


57

beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal seperti Gen dan

faktor eksternal diantaranya seperti cahaya, suhu, kelembaban, Ph, kandungan

unsur hara didalam tanah dan ketinggian tempat (Rino dkk, 2019). Menurut Laily

(2012), ketinggian tempat merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap

pertumbuhan suatu tanaman. Sehingga diduga bahwa perbedaan ketinggian

tempat akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Akibatnya serangkaian proses metabolisme pada tanaman tersebut juga akan

terganggu sehingga senyawa yang dihasilkan dari proses tersebut akan berbeda-

pada setiap ketinggian tempat.

[Link]. Alka

loid

Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung satu atau lebih atom

nitrogen yang biasanya dalam bentuk gabungan, Sebagian adalah bagian dari

system siklik (Harbone,2006). Berdasarkan hasil uji fitokimia, ekstrak daun

melinjo menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid. Hasil positif

alkaloid dengan menggunakan pereaksi Mayer akan menghasilkan endapan warna

putih, endapan tersebut merupakan suatu kompleks kalium-alkaloid. Pereaksi

Mayer dibuat dengan menggunakan merkurium (II) klorida ditambah dengan

kalium iodida yang kemudian akan bereaksi membentuk suatu endapan merah

merkurium (II) iodide. Kemudian jika merkurium (II) iodida ditambahkan

kembali dengan kalium iodida maka akan membentuk suatu kalium

tetraiodomerkurat (II). Pada uji alkaloid dengan pereaksi Mayer, diperkirakan

nitrogen pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari kalium
58

tetraiodomerkurat (II) membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap

(Hanifa dkk, 2021). Reaksi alkaloid dengan Mayer dapat dilihat pada gambar

berikut:

Gambar 4.14 Reaksi alkaloid dengan pereaksi Mayer

Sedangkan hasil positif alkaloid menggunakan pereaksi Wagner akan

menghasilkan endapan berwarna coklat. Pada saat proses pembuatan pereksi

Wagner, iodin akan bereaksi dengan ion I- dari kalium iodide menghasilkan ion I3-

yang mempunyai warna coklat. Pada pengujian dengan menggunakan pereaksi

Wagner, ion logam K+ akan membentuk suatu ikatan kovalen koordinat dengan

nitrogen pada alkaloid membentuk kompleks kalium-alkaloid (Hanifa dkk, 2021).

Reaksi alkaloid dengan Wagner dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 4.15 Reaksi alkaloid dengan pereaksi Wagner


59

[Link]. Flav

onoid

Flavonoid umumnya lebih mudah larut air dan pelarut polar dikarenakan

memiliki ikatan dengan gugus gula. Penambahan logam Mg dan HCl untuk

mendeteksi adanya senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid akan bereaksi dengan

Mg setelah penambahan HCl pekat dengan terjaadinya perubahan warna merah,

kuning atau orange. Hasil uji flavonoid dari ekstrak daun melinjo menunjukkan

hasil positif karena perubahan warna menjadi kuning (Rachmawaty, 2016). Suatu

flavonoid akan menghasilkan garam flavilium yang terjadi melalui penambahan

magnesium dan asam klorida pekat yang berfungsi dalam mereduksi inti

benzopiron yang terdapat pada struktur flavonoid (Adjeng dkk, 2019). Reaksi

yang terjadi dapat dilihat dari gambar berikut:

Gambar 4.16. Reaksi Flavonoid (Rachmawaty, 2016).

[Link]. Uji

tannin
60

Hasil dari uji tannin pada ekstrak daun melinjo menunjukan hasil positif.

Tannin merupakan senyawa kimia golongan fenol yang cenderung larut dalam air

dan pelarut polar. Reagen yang digunakan dalam uji tannin ini adalah FeCl 3.

Terbentuknya warna hijau kehitaman pada sampel setelah dilakukan penambahan

FeCl3 kemungkinan senyawa tannin akan membentuk kompleks ion Fe3+ (Artini

dkk, 2013). Tannin mempunyai fungsi sebagai astringen, antidiare, antibakteri,

dan antioksidan (Malangngi et al., 2012). Berikut gambar reaksi tannin:

Gambar 4.17 Reaksi tannin (Sangi dkk,2012).

[Link]. Uji

fenolik

Senyawa fenolik mempunyai fungsi sebagai antioksidan, antimikroba,

antiinflamasi, analgetik, antidiabetes, antiasmatik, dan antikanker (Andika dkk,

2020). Hasil skrining fitokimia ekstrak etil asetat daun melinjo menunjukan

bahwa mengandung senyawa fenolik dengan adanya perubahan warna dari bening

menjadi ungu.

[Link]. Uji

saponin

Saponin merupakan penurun tegangan permukaan yang kuat yang

menimbulkan busa bila dikocok dalam air (Rachmawaty, 2016). Saponin

mempunyai fungsi sebagai antioksidan, anti inflamasi, antibakteri dan anti jamur
61

(Novitasari & Putri, 2016). Hasil uji fitokimia menunjukkan baahwa ekstrak daun

melinjo mengandung senyawa saponin dengan menunjukan adanya busa yang

stabil setelah penambahan asam klorida. Berikut gambar reaksi saponin:

Gambar 4.18 Reaksi Saponin (Rachmawati, 2016)

[Link]. Uji

steroid dan terpenoid

Pada pengujian ini sampel menggunakan asam asetat anhidrat dan asam

sulfat pekat, jika menghasilkan warna ungu maka menandakan positif terpenoid

dan jika menghasilkan warna hijau berarti menandakan positif steroid

(Supriningrum dkk, 2019). Hasil uji fitokimia pada ekstrak daun melinjo

menunjukkan baahwa ekstrak daun melinjo mengandung senyawa terpenoid

karena perubahan warna menjadi warna ungu. Berikut gambar reaksi steroid dan

terpenoid:
62

Gambar 4.19 Reaksi Steroid dan Terpenoid

4.2.5 Formulasi dan Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-Off

[Link] Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off

Formulasi masker gel peel-off dilakukan berdasarkan penambahan ekstrak

etil asetat daun melinjo karena etil asetat memiliki nilai antioksidan terbaik

dengan rata-rata IC50 35,806 ppm dibandingkan dengan ekstrak n-heksan dengan

rata-rata IC50 212,358 ppm dan etanol 70% dengan rata-rata IC 50 128,267 ppm,

maka dari itu ekstrak yang digunakan untuk formulasi yaitu ekstrak etil asetat

daun melinjo. Bahan yang digunakan untuk formulasi berupa Polivinil Alkohol,

HPMC, propilen glikol, phenoxyl etanol, aquadest dan zat aktif ekstrak daun

melinjo ([Link].L).

Formulasi dibuat dengan cara membuat basis masker gel yang telah dibuat

dengan menggunakan PVA dengan jumlah yang sudah ditentukan, dan eksipien

lain berupa HPMC, propilen glikol, phenoxyl etanol dan aquadest. PVA
63

digunakan sebagai gelling agent memiliki sifat adhesive atau dapat membentuk

lapisan film yang dapat dikelupas setelah mengering. Penambahan HPMC dalam

formula berfungsi sebagai peningkat viskositas dari basis masker gel. Kemudian

propilen glikol berfungsi sebagai humektan yang memiliki kemampuan untuk

mengikat air (hidrasi), sehingga sediaan menjadi tetap lembab dan tidak kering.

Phenoxyl etanol berfungsi sebagai pengawet (Septiani dkk, 2012).

[Link] Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-Off

[Link].1 Pengamatan Organoleptis

Uji organoleptis dilakukan untuk melihat tampilan fisik sediaan dengan

cara melakukan pengamatan terhadap bentuk, warna dan bau dari sediaan masker

gel peel-off ekstrak etil asetat daun [Link]. Basis masker gel dan masker gel

ekstrak etil asetat daun [Link] secara organoleptik didapatkan bentuk semi

padat. Hal ini sesuai dengan penelitian Sutarna dkk (2013) dan Septiani dkk

(2012) yaitu bentuk masker gel yang dihasilkan berbentuk semi padat.

Warna sediaan basis masker gel peel-off berwarna putih kerena tidak ada

bahan-bahan selain warna putih atau bening dalam pembuatan basis. Pada masker

gel peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo pada konsentrasi 5% didapatkan warna

hijau muda dan pada konsentrasi 10% didapatkan warna sediaan masker yaitu

warna hijau. Hal ini dipengaruhi oleh penambahan ekstrak etil asetat daun melinjo

yang berwarna hijau.

Bau sediaan basis masker gel peel-off hamper tidak beraroma dan bau

masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo memiliki aroma khas ekstrak
64

daun melinjo. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang ditambahkan maka

semakin kuat pula aroma sediaan masker gel peel-off.

[Link].2. Uji Viskositas

Pengujian viskositas bertujuan untuk mengetahui kekentalan dari sediaan

gel. Sampel sediaan gel dimasukkan kedalam beaker glass dan diletakaan dibawah

gantungan [Link] viskositas dilakukan menggunakan alat viscometer

Brookfield digital menggunakan spindle no 26 dengan kecepatan 1,5 rpm. Hasil

yang didapatkan yaitu F0 (2.943), F1 (3.374) dan F2 (3.849) cps. Nilai viskositas

terbaik ada pada rentang 2000-4000 cps, karena dengan kekentalan tersebut gel

mampu menyebar dengan baik saat diaplikasikan (Purwati, 2016).

[Link].3 Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah sediaan yang telah dibuat

homogen atau tidak. Homogenitas menunjukkan semua sediaan masker gel peel

off ekstrak etil asetat daun melinjo dengan konsentrasi 5% dan 10% homogen

[Link].4 Pengujian pH

Uji pH dilakukan untuk melihat tingkat keasaman sediaan gel untuk

menjamin sediaan masker gel tidal menyebabkan iritasi pada kulit, pH sediaan

diukur menggunakan pHmeter. Nilai pH sediaan yang memenuhi kriteria pH

kulit dan tidak mengiritasi yaitu pH 4,5-6,5 (Okuma dkk., 2015; Nikam, 2017).

Hasil pengujian pH menunjukkan bahwa pH basis masker gel peel-off dan

masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo dengan konsentrasi 5%, 10%
65

memiliki pH sebesar 5 yang berarti memenuhi kriteria sediaan masker gel peel-off

yang sesuai dengan pH kulit.

[Link].5 Uji Waktu Sediaan Mengering

Sediaan masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo ([Link])

memiliki waktu untuk mengering sekitar 22 menit. Pengujian waktu kering

bertujuan untuk mengetahui berapa lama masker gel mengering pada permukaan

kulit dan membentuk lapisan film. Waktu sediaan kering pada masker gel peel-off

biasa digunakan adalah 15-30 menit dihitung mulai dari masker gel dioleskan

hingga masker mengering (Santoso dkk, 2020).

[Link].6 Uji Daya Sebar

Uji daya sebar dilakukan unyuk mengetahui kecepatan penyebaran gel pada

kulit wajah saat dioleskan. Daya sebar gel yang baik yaitu antar 5-7 cm (Yusuf

dkk, 2017). Hasil daya sebar basis masker gel peel-off sebesar 6 cm dan masker

gel peel-off konsentrasi 5% sebesar 6,5 cm, 10% sebesar 5,5 cm yang artinya

memenuhi daya sebar gel yang baik.

[Link].7 Uji Daya Lekat

Uji daya lekat bertujuan untuk mengetahui kemampuan gel melekat pada

kulit. Gel yang baik memiliki daya lekat yang tinggi. Penentuan daya lekat berupa

waktu yang diperlukan sampai kedua kaca obyek terlepas. Syarat daya lekat yaitu

lebih dari 1 detik (Yusuf dkk., 2017). Hasil uji daya lekatbasis masker gel peel-off

selama 36 detik, masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo dengan

konsentrasi 5% selama 45 detik, masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun

melinjo dengan konsentrasi 10% selama 28 detik.


66

4.2.6 Uji Aktivitas Antioksidan Masker Gel Peel-Off Dengan Metode DPPH

Uji aktivitas antioksidan sediaan masker gel ekstrak etil asetat daun melinjo

secara kuantitatif dengan metode DPPH. Kelebihan dari uji aktivitas antioksidan

dengan metode DPPH yaitu analisisnya mudah, cepat dan efisien, serta

memungkinkan mengetahui adanya senyawa yang bersifat sebagai antioksidan

yang dapat dilihat secara visual (Pisochi dkk,2009).

Prinsip dari metode uji aktivitas antioksidan DPPH adalah pengukuran

aktivitas antioksidan secara kuantitatif yaitu dengan melakukan pengukuran

penangkapan radikal DPPH pleh suatu senyawa yang mempunyai aktivitas

antioksidan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis sehingga dengan

demikian akan diketahui nilai aktivitas peredaman radikal bebas yang dinyatakan

dengan IC50 (Inhibitory Concentration) (Rajauria dkk., 2007).

Hasil optimasi Panjang gelombang menggunakan alat spektrofotometer UV-

Vis menunjukkan bahwa serapan maksimum DPPH memiliki warna ungu yang

ditunjukkan oleh pita absorpsi dalam methanol pada Panjang gelombanag

maksimum, larutan uji masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo diukur

serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada Panjang gelombang

maksimum. Didapatkan absprbansi, persentase inhibisi kemudian dihitung

menggunakan rumus. Perhitungan potensi antioksidan dengan pereaksi DPPH

dengan menghitung IC50 untuk masing-masing sampel dengan menggunakan

rumus persamaan garis regresi linear yang diperoleh dari grafik hubungan antara

kinsentrasi dengan %inhibisi DPPH.


67

Nilai IC50 masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo formulasi 1

sebesar 39,648 ppm, dan nilai IC50 masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun

melinjo formulasi 2 sebesar 32,611 ppm. Berdasarkan sifat antioksidan dengan

berdasarkan nilai IC50 maka nilai aktivitas antioksidan masker gel peel-off ekstrak

etik asetat daun melinjo dinyatakan memiliki aktivitas antioksidan, sedangkan

untuk sediaan masker gel peel-off merek X memiliki aktivitas antioksidan sangat

kuat yaitu sebesar 10,067 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masker gel

peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo formulasi 1 dan formulasi 2 memiliki

aktivitas antiokidan sangat kuat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai

berikut:

1. Nilai aktivitas antioksidan IC50 ekstrak etil asetat memiliki kriteria

aktivitas antioksidan sangat kuat

2. Formulasi masker gel peel-off berbahan ekstrak etil asetat daun melinjo

(G. gnemon) dengan konsentrasi 5%, 10%, dapat diformulasikan menjadi

sediaan masker gel peel-off. Nilai ektivitas antioksidan IC50 masker gel
68

peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo (G. gnemon) dengan konsentrasi

5% mendapatkan nilai IC50 sebesar 39,648 ppm dan konsentrasi 10%

mendapatkan nilai IC50 sebesar 32,611 ppm yang berarti kedua formulasi

memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat.

3. Formulasi sediaan masker gel peel-off dengan konsentrasi 5% dan 10%

keduanya memenuhi syarat evaluasi sediaan.

5.2 Saran

Saran yang dapat diajukan untuk penelitian ini yaitu :

1. Formulasi masker gel peel-off ekstrak etil asetat daun melinjo ([Link])

dibuat dengan konsentrasi yang berbeda

2. Perlu dilakukaan penelitian lebih lanjut dengan berbagai uji bioaktivitas

seperti uji antibakteri terhadap sediaan masker gel peel-off ekstrak etik

asetat daun melinjo ([Link]).

3. Perlu dilakukan penelitian mengenai aktivitas antioksidan masker gel peel-

off ekstrak etil asetat daun melinjo ([Link]) menggunakan metode

selain DPPH, seperti metode FRAP


DAFTAR PUSTAKA

Adjeng, S.N.T., Hairah, S., Herman, S., Ruslin., Fitrawan, L.O.M., Ali, N.F.M., &
Sabarudin. 2019. Skrining Fitokimia dan Evaluasi Sediaan Sabun Cair
Ekstrak Etanol 96% Kulit Buah Salak Pondoh (Salacca zalacca (Gaertn.)
Voss.) Sebagai Antioksidan. Jurnal Pharmauho. 5(2): 21-24

Afif Permadi., Sutanto ., Sri Wardatun.(2018). Perbandingan Metode Ekstraksi


Bertingkat Dan Tidak Bertingkat Terhadap Flavonoid Total Herba Ciplikan
(Physalis angulata L.) Secara Kolorimetri. Program Studi Farmasi, FMIPA,
Universitas Pakuan.

Allemann, I. B., & Baumann, L. (2008). Antioxidants Used in Skin Care


Formulations, 1–8.

Andika, B., Halimatussakdiah, & Amna, U. 2020. Analisis Kualitatif Senyawa


Metabolit Sekunder Ekstrak Daun Gulma Siam (Chromolaena odorata L.) di
Kota Langsa, Aceh. Jurnal Kimia Sains dan Terapan. 2(2): 1-6

Angamuthu, J., Ganapathy, M., Evanjelene, V.K. 2016. Evaluation of Antioxidant


Activity of Phyllanthus acidus. World Journal of Pharmacy and
Pharmaceutical Sciences. 5 (10) : 1011-1016

Ani, H., A. Y. Chaerunisa., A, Subarnas. Artikel tinjauan : Antioksidan untu kulit.


Program Studi Pascasarjana Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran,
Bandung. Farmaka Volume 16 Nomor 2

Anuj, Y., R Kumari, A. Yadav, J.P. Mishra, S. Srivatva and S. Prabha. (2016).
Antioxidants and its functions in human body - A Review. Research in
Environment and Life Sciences , 9(11) 1328-1331.

Apak, R., Gorinstein, S., Böhm, V., Schaich, K.M., ÖzyÜrek, M., & Güçlü, K.,
2013. Methods of Measurement and Evaluation of natural antioxidant
capacity/activity (IUPAC Technical Report). Pure and Applied Chemistry.
85(5) : 957-998

Aramwit P dan Bang N. (2014). The characteristics of bacterial nanocellulose gel


releasing silk sericin for facial treatment . BMC Biotechnol , 14(1):1.

Artini, P.D., Astuti, K.W., & Warditiani, N. K. 2013 Uji Fitokimia Ekstrak Etil
Asetat Rimpang Bangle (Zingiber purpureum RoxB.). Jurnal Farmasi
Undaya, 2(4).1-7.

Astri, S., A. Y. Chaerunisaa. (2016). Formulasi Masker Gel Peel Off Untuk
Perawatan Kulit Wajah. Farmaka , Volume 14 Nomor 3.

69
70

Beringhs A, Rosa JM, Stulzer HK, Budal RM, Sonaglio D. (2013). Green clay
and aloe vera peel‐off facial masks: response surface methodology applied
to the formulation design. AAPS PharmSciTech , 14 (1):445–455.

Bogadenta A.2012. Manajemen Pengelolaan Apotek. Yogyakarta: D-Medika

BPOM RI. 2011. Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika. Peraturan Kepala Badan
Pengawasan Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.
[Link]. 11. 07517. Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik
Indonesia. Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2000). Parameter Standard Umum


Ekstrak Tanaman Obat, cetakan pertama, Direktorat Jendral Pengawasan
Obat dan Makanan, Jakarta.

Depkes RI. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I) Jilid 1. (2000).

Dewi, Chandra., R. Utami, dan N. H. Riyadi. (2012). Aktivitas Antioksidan dan


Antimikroba Ekstrak Melinjo (Gnetum Gnemon L.). Universitas Sebelas
Maret. Surakarta.

Didit Purwanto, Syaiful Bahri , Ahmad Ridhay. (2017). Uji Aktivitas Antioksidan
Ekstrak Buah Purnajiwa (Kopsia Arborea Blume.) dengan berbagai pelarut.
Jurnal Riset Kimia Kovalen 3(1): 24 – 32

Gabriela, S. T. M., A. B. Arantes, G. Sacchetti, A. Spagnoletti, P. Ziosi, E.


Scalambra, S. Vertuani, S. Manfredini. (2014). Antioxidant Activity of
Cosmetic Formulations Based on Novel Extracts from Seeds of Brazilian
Araucaria angustifolia (Bertoll) Kuntze. Journal of Cosmetics,
Dermatological Sciences and Applications , 4, 190-202.

Garg, A., D. Aggarwal, S. Garg & A. K. Sigla. 2002. Spreading of Semisolid


Formulation. Pharmaceutical Technology. USA

Grace, F.X., C. Darsika, K.V. Sowmya, K. Suganya, and S. Shanmuganathan.


(2015). Preparation and Evaluation of Herbal Peel Off Face Mask.
American Journal of PharmTech Research. (5): 33-336.

Grace, F.X., C. Darsika, K.V. Sowmya, K. Suganya, and S. Shanmuganathan.


2015. Preparation and Evaluation of Herbal Peel Off Face Mask. American
Journal of PharmTech Research. (5): 33-336.

Hajji S, Chaker A, Jridi M, Maalej H, Jellouli K, Boufi S & Nasri M. 2016.


Structural analysis, and antioxidant and antibacterial properties of chitosan-
poly (vinyl alcohol) biodegradable films. Environ Sci Pollut Res Int.
23(15):10-20.
71

Hamid, et all. (2010). Antioxidants: Its medicinal and pharmacological


Applications. African Journal of Pure and Applied Chemistry. Vol. 4(8), pp.
142-151.

Handayani, S., Kurniawati, I., Rasyid, F.A. 2020. Uji Aktivitas Antioksidan
Ekstrak Daun Karet Kebo (Ficus elastic) dengan metode Peredaman
Radikal Bebas DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazil). Galenica Journal of
Pharmacy. 6(1): 141-150

Hanifa, N.I., Wirasisya, D.G., Muliani, A.E.,Utami, S.B., & Sunarwidhi, A.L.
2021. Phytochemical Screening of Decoction and Ethanolic Extract of
Amomum dealbatum Roxb. Leaves. Jurnal Biologi Tropis. 21 (2): 510- 518

Harbone. J.B. 2006. Metode Fitokimia. Edisi ke-2. Terjemahan Kosasih


Padmawinata & Iwong Sudiro. Institut Teknologi Bandung. Bandung

Hasnaeni , Wisdawati, Suriati Usman. (2019). Pengaruh Metode Ekstraksi


Terhadap Rendemen Dan Kadar Fenolik Ekstrak Tanaman Kayu Beta-Beta
(Lunasia amara Blanco). Jurnal Farmasi Galenika 5 (2): 175-182

Herdiana, Y. (2007). Formulasi Gel Uudesilenil Fenilalanin Dalam Aktivitas


Sebagai Pencerah Kulit. Universitas Padjajaran .

Ismarani, D., L. Pratiwi & I. Kusharyanti, (2014). Formulasi Gel Pacar Air
(Impatiens balsamina Linn.)terhadap Propionibacterium acnes dan
Staphylococcus epidermidis. Pharm Sci Res , 1(1):30–45.

Kapoor S, Saraf S. (2010). Formulation and evaluation of moisturizer containing


herbal extracts for the management of dry skin. Pharmacogn J , 409-417.

Kining, E. (2015). Aktivitas Antibiofilm Ekstrak Air Daun Melinjo, Daun


Singkong Dan Daun Pepaya Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa
Secara In Vitro. Institut Pertanian Bogor.

Konda, J.P., Siampa, J.P., Tallei, T.E. 2020. Aktivitas Antioksidan Ekstrak
Metanol Biji Langsat (Lansium domesticum var. pubescens) dan Duku
(Lansium domesticum var. domesticum) dengan Metode DPPH. Jurnal
Ilmiah Sains. 20 (2) : 113-121

Lai-Cheong, J. E., & McGrath, J. A. (2017). Structure and function of skin, hair
and nails. Medicine (United Kingdom), 45(6), 347–351.

Laily AN, Suranto, Sugiyarto. (2012). Characteristices of Carica pubescens of


Dieng Plateau Central Java According To Its Morphology, Antioxidant And
Protein Pattern. Nusantara Bioscience 4 No. 1, halaman 16- 21
72

Liza. P, S. Wahdaningsih. (2018). Formulasi Dan Aktivitas Antioksidan Masker


Wajah Gel Peel Off Ekstrak Metanol Buah Pepaya (Carica papaya L.).
Pharmacy Medical Journal. Vol.1 No.2

Lusiana. 2015. Potensi Antioksidan Ekstrak Etanol Jamur Tiram Putih (Pleurotus
ostreatus). Jurnal Gradien. 11(1): 1066 106

Maesaroh, K., Kurnia, D & Anshori, J.A. (2018). Perbandingan Metode Uji
Aktivitas Antioksidan DPPH, FRAP dan FIC Terhadap Asam Askorbat,
Asam Galat dan Kuersetin. Jurnal Departemen Kimia, FMIPA. Universitas
Padjajaran Vol. 6 No. 2: 93-100

Malangngi, L.P., Meiske, S.S., dan Jessy J.E.P. 2012. Penentuan Kandungan
Tanin dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Buah Alpukat (Persea
Americana Mill). Jurnal Mipa Unsrat Online 1. Manado: Jurusan Kimia
FMIPA Unsrat. Hal: 5

Mappa, T, [Link] & Novel Kojong. 2013. Formulasi Gel Ekstrak Daun
Sasaladahan ( Peperomia pellucida (L.) H.B.K) dan Uji Efektifitas
Terhadap Luka Bakar Pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus). Pharmacon
Jurnal Ilmiah Farmasi - UNSRAT 2 (02): 49-55.

Maria Luisa Soto, M. P. (2018). Personal-Care Products Formulated with Natural


Antioxidant Extracts. Journal of Cosmetics , 5-13.

Maryam, F., Taebe, B., & Toding, D. P. 2020. Pengukuran Parameter Spesifik dan
Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun Matoa (Pometia pinnata J.R & G. Forst).
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia. 6(1): 1-12

Marzouk, M.M. (2016). Flavonoid Constituents And Cytotoxic Activity Of


Erucaria Hispanica (L.) Druce Growing Wild In Egypt. Arabian Journal Of
Chemistry, 9, 411–415

Masaki, H. (2010). Role of antioxidants in the skin: anti-aging effect. Journal of


Dermatological Science , 58, 85-90.

Maysuhara S.2009. Rahasia Cantik, Sehat, dan Awet Muda. Yogyakarta: Pustaka
Panasea.

Mersy, T. Tanamal, P. M. Papilaya, dan A. Smith. (2017). Analisis Kandungan


Senyawa Flavonoid Daun Melinjo (Gnetum gnemon L.) Berdasarkan
Perbedaan Ketinggian Tempat. Seminar Nasional Biologi & Pembelajaran
Biologi, Program Sarjana, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP,
Universitas Pattimura Ambon.
73

Mohammad Ali. N., M. Amir Amirkhani , P. Zarrintaj, A. S. Moghaddam, T.


Mehrabi, S. Alavi, M. M. Sisakht. (2018). Skin care and rejuvenation by
cosmeceutical facial mask. JCD Cosmetic Dermatology , 1-10.

Molyneux, P. (2014). The use of the stable free radical diphenylpicrylhydrazyl


(DPPH) for estimating antioxidant activity. Journal of Science Technology,
26(2), 211-219.

Molyneux, P. 2004. The use of the stable free radikal diphenyl picrylhydrazyl
(DPPH) for estimating antioxidant activity. Journal Science of Technology
26(2):211-219.

Mukhlisah, N, A. 2014. Pengaruh level ekstrak daun melinjo (Gnetum


gnemonLinn) dan lama penyimpanan yang berbeda terhadap kualitas telur
itik. Fakultas pertanian, Universitas Hasanudin Makasar.

Ngoenkratok J, Worachuen P, Puapermpoonsiri U, Silaon W. (2015). The


influence of ethanol content on physical characteristics and mechanical
properties of facial peel off mask contained the ethanolic extract of Centella
asiatica (Linn.) Urban. Isan J Pharm Sci , 11(1):347–352.

Nikam, S., 2017, Anti-acne Gel of Isotretinoin: Formulation and Evaluation,


Asian J. Pharm. Clin. Res., 10 (11):257-266

Novitasari, A.E & Putri, D.Z. 2016. Isolasi dan Identifikasi Saponin pada Ekstrak
Daun Mahkota Dewa dengan Ekstraksi Maserasi. Jurnal Sains. 6(12): 10-14

Okuma, C.H., Andrade, T.A.M., Caetano, G.F., Finci, L.I., Maciel, N.R., Topan,
J.F., Cefali, L.C., Polizello, A.C.M., Carlo, T., Rogerio, A.P., Sapadaro,
A.C.C., Isaac, V.L.B., Frade, M.A.C., dan Rocha-Filho, P.A., 2015,
Development of lamellar gel phase emulsion containing marigold oil
(Calendula officinalis) as a potential modern wound dressing, Eur. J.
Pharm. Sci., 71:62-72.

P, Morganti., M,Gianluca., C, Hong-Duo & A Gagliardini. Beauty Mask: Market


and Environment. Journal of Clinical and Cosmetic Dermatology , 3 (2):
2576-2826.

Patihul. [Link] E. M. Dewi. (2019). Formulation of Peel-off Gel Mask Containing


Mung Bean (Vigna radiata (L.)Wilczek) Extract. Indonesian Journal of
Pharmaceutics , Vol 1, Issue 2 (46-51).

Pisoschi, A.M & Negulescu G.P. (2011). Methode for Total Antioxidant Activity
Determination: A Review. Biocem & Anal Biochem 1:106
74

Pisoschi, A.M & Negulescu G.P. 2011. Methods for Total Antioxidant Activity
Determination: A Review. Biochem & Anal Biochem 1:106

Prasetyo, E., Kharomah, N.Z.W., & Rahayu, T.P. 2021. Uji Aktivitas Antioksidan
menggunakan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) terhadap Ekstrak
Etanol Kulit Buah Durian (Durio zibethinnus L.) dari Desa Alasmalang
Kabupaten Banyumas. Jurnal Pharmascience. 08(01): 75-82

Purwati & Verryanti, (2016), Aktivitas Antioksidan dan Evaluasi Fisik Sediaan
Masker Gel Peel-Off Dari Ekstrak Kulit Terung Ungu (Salonum melongena
L.). Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal, 1 (2),10-21

Qinghu, W., Jinmei, J., Nayintai, D., Narenchaoketu, H., Jingjing, H.,
Baiyinmuqier, B. (2016). AntiInflammatory Effects, Nuclear Magnetic
Resonance Identification And HighPerformance Liquid Chromatography
Isolation Of The Total flavonoids From Artemisia Frigida, Journal Of Food
And Drug Analysis, 24, 385-391
Rahmawanty, Dina, Nita, Yulianti, dan Mia. Fitriana. (2015). Formulasi dan
Evaluasi Masker Wajah Peel-Off Mengandung Kuersetin Dengan Variasi
Konsentrasi Gelatin dan Gliserin. Media Farmasi , 12 (1): 17-32.

Rajauria, G., Jaiswal, A.K., Abu-Ghannam, N. & Gupta, S. 2012. Antimicrobial,


Antioxidant and Free Radical-Scavenging Capacity of Brown Seaweed
Himanthalia Elongata from Western Coast of Ireland. Journal of Food
Biochemistry. Doi:10.1111/j. 1745-4514.2012.00663.x

Raven Rahman Rafiqi*, E. a. Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Fenolik Total


Berbagai Fraka Dari ekstrak etanol Daun Melinjo (Gnetum gnemon L.). J.
Kim. Unand (ISSN No. 2303-3401), Vol. 6 Nomor 1, Maret 2017 www6,
27-32(2017).

Reis Mansur, M. C. P. P., Leitão, S. G., Cerqueira-Coutinho, C., Vermelho, A. B.,


Silva, R. S., Presgrave, O. A. F., Santos, E. P. (2016). In vitro and in vivo
evaluation of efficacy and safety of photoprotective formulations containing
antioxidant extracts. Brazilian Journal of Pharmacognosy, 26(2), 251–258.

Rekso, G.T dan Sunarni, A. (2007). Karakteristik Hidrogel Polivinil Alkohol


Kitosan Hasil radiasi Sinar Gamma. Jakarta: Pusat Aplikasi Teknologi
Isotop dan Radiasi (PATIR)- BATAN.

Rino H.H. Katuuk , Sesilia A. Wanget , Pemmy Tumewu. (2019). Pengaruh


Perbedaan Ketinggian Tempat Terhadap Kandungan Metabolit Sekunder
Pada Gulma Babadotan (Ageratum conyzoides L.)
75

Rowe, R. C., P. J. Sheskey, dan M. E. Quinn. (2009). Handbook of


Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition. USA: Pharmaceutical Press. Pp.
326-329; 441-444; 592-594; 596-598.

Sabrina S. U., K. Mulkiya & L. Syafnir. (2019). Isolasi Senyawa Flavonoid yang
Berpotensi sebagai Antioksidan padaEkstraksi Bertingkat Daun Melinjo
(Gnetum gnemon L.). Prosiding Farmasi Volume 5, No. 2 , 716-725.

Sabrina, S.U., Mulkiya,K., & Syafnir, L. 2019. Isolasi Senyawa Flavonoid yang
Berpotensi sebagai Antioksidan pada Ekstraksi Bertingkat Daun Melinjo
(Gnetum gnemon L.). Prosiding Farmasi. 5(2):717-725

Sagala, Z & Ripaldo, F. 2020. Uji Aktivitas Inhibitor Enzim Tirosinase dan Uji
Antioksidan Ekstrak Etanol Buah Harendong (Melastoma malabathricum
L.) Secara In vitro. Indonesian Natural Research Journal. 5(1): 1-16

Santoso, I., Prayoga,T., Agustina,I., & Rahayu, W.S. Formulasi Masker Gel Peel-
Off Perasan Lidah Buaya (Aloe vera L.) Dengan Gelling Agent Polivinil
Alkohol. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia. 2(1):17-25.

Sari, D. M., Anwar, E., Nurjanah., & Arifianti, A. E., 2019. Antioxidant and
Tyrosinase Inhibitor Activities of Ethanol Extract of Brown Seaweed
(Turbinaria conoides) as Lightening Ingredient. Pharmacognosy Journal.
11(1): 379-382

Sayuti, K. dan Yenrina, R. (2015). Antioksidan Alami dan Sintetik. Padang:


Andalas University Press. 81.

Septiani, S., Wathoni, N., dan Mita, S.R. (2012). Formulasi Sediaan Masker Gel
Antioksidan dari Ekstrak Etanol Biji Melinjo (Gnetum gnemon Linn.).
Jurnal Unpad , 1(1): 4-24.

Setiawan, F., Yunita, O., & Kurniawan, A. 2018. Uji Aktivitas Antioksidan
Ekstrak Etanol Kayu Secang (Caesalpinia sappan) Menggunakan Metode
DPPH, ABTS, dan FRAP. Media Pharmaceutica Indonesiana. 2(2)

Shai, A., H. I. Maibach & R. Baran.2009. Handbook of Cosmetic Skin Care


Second Edition. Informa UK. USA

St. Maryam, Muzakkir Baits, Ainun Nadia. (2015). Pengukuran Aktivitas


Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.)
Menggunakan Metode Frap (Ferric Reducing Antioxidant Power). Jurnal
Fitofarmaka Indonesia , Vol. 2 No.2.
76

Supriningrum, R., Fitri H., & Liya. 2017. Karakterisasi dan Skrining Fitokimia
daun Singkil (Premna corymbosa Rottl & Wild). Jurnal Ilmiah Ibnu Sina.
2(2): 241

Sutarna, T.H., [Link] & R. Anggiani. 2013. Formulasi Sediaan Masker Gel
Dari Ekstrak Etanol Daun Teh Hijau (Camellia sinensis L.) Dan Madu
Hitam (Apisdorsata) Sebagai Antioksidan. Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi.
1(1):17-23

Sutarna, T.H., [Link] & R. Anggiani.2013. Formulasi Sediaan Masker Gel


Dari Ekstrak Etanol Daun The Hijau (Camellia sinensis L.) dan Madu
Hitam (Apisdorsata) Sebagai Antioksidan. Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi.
1 (1), 17-23

Sutriningsih dan I. W. Astuti. (2016). Uji Antioksidan Dan Formulasi Sediaan


Masker Gel Peel-Off Dari Ekstrak Biji Alpukat (Persea americanaMill.)
Dengan Perbedaan Konsentrasi PVA (Polivinil Alkohol). Indonesia Natural
Research Pharmaceutical Journal Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta , Vol.
1, No. 2, 67-75.

Tian-yang., Wang., Qing Li., Kai-shun Bi. (2018). Bioactive flavonoids In


Medicinal Plants: Structure, Activity And Biological Fateasian. Journal Of
Pharmaceutical Sciences, 13, 12–23

Tirzitis, G. and Bartosz, G. (2010). Determination of antiradical and antioxidant


activity : basic principles and new insights (review). Acta Biochimica
Polonica, 57(1), 139-142

Tristantini, D., Ismawati, A., Pradana, B.T., Jonathan, J.G. 2016. Pengujian
Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH pada Daun Tanjung
(Mimusops elengi L). Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia
“Kejuangan”. G:1-7

Vanessa, M. Munhoza, R. L., José R.P., João, A.C., Zequic, E., Leite, M., Gisely,
C., Lopesa, J.P., Melloa. (2014). Extraction Of Flavonoids From Tagetes
Patula: Process Optimization And Screening For Biological Activity. Rev
Bras Farmacogn, 24, 576-583

Velasco M, Vieira R, Fernandes A, et al. (2014). Short‐term clinical of peel‐off


facial mask moisturizers . Int J Cosmet Sci , 36 (4):355–360.

Vieira, R.P., A.R. Fernandes, T.M. Kaneko, V.O. Consiglieri, C.A.S.O. Pinto, et
al. 2009. Physical and Physicochemical Stability Evaluation of Cosmetic
Formulations Containing Soybean Extract Fermented by Bifidobacterium
animalis. Brazilian Journal of Pharmaceutical Sciences. 45 (3): 515-525.
77

Wetchakun C. (2015). Effect of alcohol and co‐film former on the physical and
mechanical properties of facial mask formulations. Isan J Pharm Sci ,
11(5):25–32.

Yeom, G., D.M. Yun, Y.W. Kang, J.S. Kwon, I.O. Kang, and S.Y, Kim. 2011.
Clinical efficacy of facial masks containing yoghurt and Opuntia humifusa
Raf. (F-YOP). J. cosmet Sci. 62 (5): 505-514.

Youngson, R., 2005, Antioksidan: Manfaat Vitamin C dan E Bagi Kesehatan, alih
bahasa Susi Purwoko, Arcan Jakarta

Yusuf, A.L., Nurawaliah, E., dan Harun, N., 2017, Uji Efektivitas Gel Ekstrak
Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera L.) sebagai Antijamur Malassezia
furfur, Kartika: Jurnal Ilmiah Farmasi, 5 (2):62-67.

Zikra Azizah, Z. E. (2017). Uji Aktivitas Antioksidan dan Penetapan Kadar


Vitamin C Ekstrak Buah Naga Merah Keunguan (Hylocereus lemairei
(Hook.) Britton & Rose) Secara Spektrofotometri UV-Vis. Jurnal Farmasi
Higea, Vol. 9, No. 1 hal 41-47.
78

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Perhitungan % Inhibisi Ekstrak Etanol 70% Daun G. gnemon
Absorbansi 1

0,576−0,491
% Inhibisi 20 ppm= ×100=14,756 %
0,576

0,576−0,450
% inhibisi 40 ppm= ×100=21,875 %
0,576

0,576−0,411
% inhibisi 60 ppm= × 100=28,645 %
0,576

0,576−0,385
% inhibisi 80 ppm= × 100=33,159 %
0,576

0,576−0,354
% inhibisi 100 ppm= × 100=38,541 %
0,576

Absorbansi 2

0,577−0,493
% inhibisi 20 ppm= ×100=14,558 %
0,577

0,577−0,453
% inhibisi 40 ppm= ×100=21,491%
0,577
0,577−0,412
% inhibisi 60 ppm= ×100=28,596 %
0,577
0,577−0,387
% inhibisi 80 ppm= × 100=32,928 %
0,577
0,577−0 , ,356
% inhibisi 100 ppm= ×100=38,301 %
0,577
79

Absorbansi 3
0,329−0,294
% inhibisi 20 ppm= × 100=10,638 %
0,329
0,329−0,287
% inhibisi 40 ppm= × 100=12,765 %
0,329
0,329−0,271
% inhibisi 60 ppm= ×100=17,629 %
0,329
0,329−0,264
% inhibisi 80 ppm= × 100=19,756 %
0,329
0,329−0,242
% inhibisi 100 ppm= ×100=26,443 %
0,329

Perhitungan IC50
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 1 Diperoleh nilai y=0,2943+9,739
(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−9,737)
IC50 =
0,2943
= 136,802 ppm
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 2 Diperoleh nilai y=0,2946+9,4979
(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−9,4979)
IC50 = = 137,481 ppm
0,2946
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 3 Diperoleh nilai y=0,193+5,8659
(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−5,8659)
IC50 =
0,193
= 110,518 ppm
80

136,802+ 137,481+ 110,518


Rata-rata IC50 = =128,267 ppm
3
Lampiran 2
Perhitungan % Inhibisi Ekstrak Etil Asetat Daun [Link]
Absorbansi 1
1,343−0,801
% inhibisi 20 ppm= ×100=40,357 %
1,343
1,343−0,597
% inhibisi 40 ppm= × 100=55,547 %
1,343
1,343−0,435
% inhibisi 60 ppm= ×100=67,609 %
1,343
1,343−0,297
% inhibisi 80 ppm= ×100=77,885 %
1,343
1,343−0,132
% inhibisi 100 ppm= ×100=90,171 %
1,343
Absorbansi 2
1,278−0,799
% inhibisi 20 ppm= ×100=37,480 %
1,278
1,278−0,608
% inhibisi 40 ppm= × 100=52,425 %
1,278
1,278−0,447
% inhibisi 60 ppm= ×100=65,023 %
1,278
1,278−0,287
% inhibisi 80 ppm= ×100=77,543 %
1,278
1,278−0,127
% inhibisi 100 ppm= ×100=90,062 %
1,278

Absorbansi 3
1,310−0,815
% inhibisi 20 ppm= ×100=37,786 %
1,310
1,310−0,595
% inhibisi 40 ppm= × 100=54,580 %
1,310
81

1,310−0,449
% inhibisi 60 ppm= ×100=65,725 %
1,310
1,310−0,247
% inhibisi 80 ppm= ×100=81,145 %
1,310
1,310−0,127
% inhibisi 100 ppm= ×100=90,305 %
1,310
Perhitungan IC50
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 1 Diperoleh nilai y=0,6098 x +29,724
(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−29,724)
IC50 =
0,6098
= 33,250 ppm
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 2 Diperoleh nilai y=0,6514 x+ 25,422
(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−25,422)
IC50 = = 37,731 ppm
0,6514
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 3 Diperoleh nilai y=0,658 x +26,427
(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−26,427)
IC50 =
0,658
= 35,825 ppm
33,250+ 37,731+ 35,825
Rata-rata IC50 yaitu
3
= 35,602 ppm
Lampiran 3
Perhitungan % Inhibisi Ekstrak N-heksan Daun [Link]
Absorbansi 1
0,775−0,752
% inhibisi 20 ppm= ×100=2,967 %
0,775
82

0,775−0,707
% inhibisi 40 ppm= ×100=8,774 %
0,775
0,775−0,669
% inhibisi 60 ppm= ×100=13,667 %
0,775
0,775−0,625
% inhibisi 80 ppm= ×100=19,354 %
0,775
0,775−0,606
% inhibisi 100 ppm= ×100=21,806 %
0,775
Absorbansi 2
0,771−0,748
% inhibisi 20 ppm= ×100=2,983 %
0,771
0,771−0,705
% inhibisi 40 ppm= × 100=8,561 %
0,771
0,771−0,667
% inhibisi 60 ppm= ×100=13,488 %
0,771
0,771−0,623
% inhibisi 80 ppm= ×100=19,195 %
0,771
0,771−0,603
% inhibisi 100 ppm= ×100=21,789 %
0,771
Absorbansi 3
0,768−0,746
% inhibisi 20 ppm= ×100=2,864 %
0,768
0,768−0,702
% inhibisi 40 ppm= × 100=8,593 %
0,768
0,768−0,664
% inhibisi 60 ppm= × 100=13,541 %
0,768
0,768−0,621
% inhibisi 80 ppm= ×100=19,141 %
0,768
0,768−0,601
% inhibisi 100 ppm= ×100=21,744 %
0,768
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 1 Diperoleh nilai y=0,2413+1,1618
(50)−a
Rumus IC50 =
b
83

Maka
(50−1,1618)
IC50 =
0,2413
= 212,025 ppm
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 2 Diperoleh nilai y=0,2412 x +1,2706
(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−1,2706)
IC50 = = 212,564 ppm
0,2412
Berdasarkan Grafik Regresi Linear inhibisi 3 Diperoleh nilai y=0,2415 x +1,3158
(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−1,3158)
IC50 =
0,2415
= 212,487 ppm
212,025+212,564+ 212,487
Rata-rata IC50 = 212,358 ppm
3

Lampiran 4
84

Perhitungan % inhibisi formulasi

% inhibisi uji antioksidan formulasi basis masker gel peel-off

1,558−1,477
% inhibisi 25 ppm= ×100=5,198
1,558

1,558−1,422
% inhibisi 50 ppm= × 100=8,729
1,558

1,558−1,357
% inhibisi 75 ppm= ×100=12,901
1,558

1,558−1,212
% inhibisi 100 ppm= × 100=20,297
1,558

1,558−1,071
% inhibisi 125 ppm= × 100=31,258
1,558

Berdasarkan Grafik Regresi Linear Diperoleh nilai y=0,2548 x −3,4298


(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−3,4298)
IC50 =
0,2548
= 183,350 ppm

% inhibisi uji aktivitas antioksidan formulasi 1 masker gel peel-off


85

1,248−0,848
% inhibisi 25 ppm= ×100=32,051
1,248

1,248−0,465
% inhibisi 50 ppm= ×100=62,740
1,248

1,248−0,276
% inhibisi 75 ppm= ×100=77,884
1,248

1,248−0,118
% inhibisi 100 ppm= ×100=90,544
1,248

1,248−0,076
% inhibisi 125 ppm= ×100=93,910
1,248

Berdasarkan Grafik Regresi Linear Diperoleh nilai y=0,6061 x +25,969


(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−25,969)
IC50 =
0,6061
= 39,648 ppm

% inhibisi uji aktivitas antioksidan formulasi 2 masker gel peel-off


86

1,295−0,699
% inhibisi 25 ppm= ×100=46,023
1,295

1,295−0,579
% inhibisi 50 ppm= ×100=55,289
1,295

1,295−0.330
% inhibisi 75 ppm= ×100=74,517
1,295

1,295−0,279
% inhibisi 100 ppm= ×100=78,455
1,295

1,295−0,128
% inhibisi 125 ppm= ×100=90,115
1,295

Berdasarkan Grafik Regresi Linear Diperoleh nilai y=0,4454 x+ 35,475


(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−35,475)
IC50 =
0,4454
= 32,611 ppm

% inhibisi uji aktivitas antioksidan masker gel peel-off merek X


87

1,426−0,658
% inhibisi 25 ppm= ×100=53,856
1,426

1,426−0,506
% inhibisi 50 ppm= ×100=64,516
1,426

1,426−0,463
% inhibisi 75 ppm= ×100=67,531
1,426

1,426−0,289
% inhibisi 100 ppm= ×100=79,733
1,426

1,426−0,214
% inhibisi 125 ppm= × 100=84,992
1,426

Berdasarkan Grafik Regresi Linear Diperoleh nilai y=0 ,31 x+ 46,879


(50)−a
Rumus IC50 =
b
Maka
(50−46,879)
IC50 =
0 ,31
= 10,067 ppm
88
89
90
91
92
93
94
95

Pembuatan Ekstrak

Pembuatan Masker Gel Peel-Off


96

Uji Antioksidan Sediaan Masker Gel Peel-Off

Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel Off


97
98

Anda mungkin juga menyukai