TUGAS 1 TAP
Nama: Wahyu nirmala
Nim: 043825073
1. Analisis PT. Tri Star Indonesia
a. Saluran Distribusi Penjualan Offline
PT. Tri Star Indonesia mengimplementasikan saluran distribusi dari produsen ke pengecer dan
kemudian ke konsumen untuk penjualan offline. Sejak bertransformasi menjadi PMDN pada 1998,
perusahaan ini dapat mendistribusikan produknya langsung ke pengecer, yang selanjutnya menjual
kepada konsumen akhir. Saluran ini memungkinkan PT. Tri Star untuk mencapai lebih banyak
konsumen tanpa tergantung pada penyalur atau sistem konsinyasi yang digunakan sebelumnya.
b. Tahap Daur Hidup Produk Sepatu Wanita
Saat ini, produk sepatu wanita dari Tri Star berada dalam fase pertumbuhan. Hal ini terlihat dari
meningkatnya penjualan dan semakin banyak konsumen yang mengenali produk ini sebagai pilihan
yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pada fase ini, kompetitor juga mulai memasuki pasar dengan
produk serupa, yang mencerminkan sifat khas dari tahap pertumbuhan, di mana produk menarik
perhatian pesaing yang melihat potensi keuntungan.
c. Strategi Pasar Sasaran PT. Tri Star
PT. Tri Star menerapkan strategi diferensiasi pasar untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen
pembeli. Ini terlihat dari pengelompokan merek berdasarkan usia dan gender: Sweetkids untuk
anak-anak, Teentop untuk remaja, Annrose untuk wanita dewasa, dan Manz untuk pria dewasa.
Strategi ini bertujuan agar PT. Tri Star dapat memenuhi kebutuhan spesifik di setiap segmen pasar,
sekaligus menciptakan loyalitas merek dengan menawarkan produk yang sesuai dengan karakteristik
dan preferensi konsumen masing-masing.
2. Menentukan Lokasi Pusat Distribusi Baru
Untuk menentukan lokasi pusat distribusi baru, perlu dihitung total biaya yang terdiri dari biaya
tetap dan biaya variabel untuk masing-masing lokasi pada tingkat produksi 30.000 unit per bulan.
Rumus Total Biaya:
Total Biaya = Biaya Tetap + (Biaya Variabel per unit x Jumlah unit)
a. Kota A: Biaya tetap = Rp40.000.000, Biaya variabel = Rp1.500 per unit
Total Biaya A = Rp40.000.000 + (Rp1.500 x 30.000) = Rp85.000.000
b. Kota B: Biaya tetap = Rp55.000.000, Biaya variabel = Rp1.300 per unit
Total Biaya B = Rp55.000.000 + (Rp1.300 x 30.000) = Rp94.000.000
c. Kota C: Biaya tetap = Rp50.000.000, Biaya variabel = Rp1.200 per unit
Total Biaya C = Rp50.000.000 + (Rp1.200 x 30.000) = Rp86.000.000
Kesimpulan: Berdasarkan perhitungan total biaya, Kota A menjadi pilihan paling ekonomis dengan
total biaya terendah sebesar Rp85.000.000 per bulan pada tingkat produksi 30.000 unit.