0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
141 tayangan118 halaman

Usulan Penyusunan FS RDF untuk Pengelolaan Sampah

Diunggah oleh

Yose Ra Abdul Azis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
141 tayangan118 halaman

Usulan Penyusunan FS RDF untuk Pengelolaan Sampah

Diunggah oleh

Yose Ra Abdul Azis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Usulan Teknis

Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

D
TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP KAK

D.1 TANGGAPAN TERHADAP KERANGGA ACUAN KERJA (KAK)

Kerangka Acuan Kerja (KAK) adalah panduan bagi konsultan untuk digunakan
dalam melaksanakan tugas dari Pengguna Jasa yang dalam hal ini adalah
pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF).

Kerangka Acuan Kerja menyebutkan bahwa pekerjaan yang harus dilaksanakan


Konsultan adalah Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF). Untuk itu
Konsultan menanggapi untuk menyiapkan pengajuan proposal (Administrasi,
Teknik dan Biaya) sebagai bahan pertimbangan ditunjuknya kami untuk
melaksanakan pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF).

Tanggapan terhadap Kerangka Acuan Kerja ini disusun oleh Tim Tenaga Ahli
yang diusulkan dalam pekerjaan ini berdasarkan pemahanan tenaga ahli terhadap
Kerangka acuan kerja dan pengalaman menangani pekerjaan sejenis yang
berkaitan dengan bidang pekerjaan tersebut.

Secara umum uraian di bawah ini disusun setelah tim tenaga ahli melakukan
Mempelajari Dokumen Pengadaan Langsung khususnya Kerangka Acuan Kerja
(KAK)

D.1.1 Kedudukan Kerangka Acuan Kerja

Perencanaan kegiatan sebagai sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan
kegiatan organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan kegiatan
tersebut secara menyeluruh, serta merumuskan sistem perencanaan yang
menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengordinasikan seluruh pekerjaan
hingga tercapainya tujuan kegiatan. Di samping itu, perencanaan dibuat sebagai
upaya untuk merumuskan apa yang sesungguhnya ingin dicapai dalam suatu

1
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

kegiatan serta bagaimana sesuatu yang ingin dicapai tersebut dapat diwujudkan
melalui serangkaian rumusan rencana.

Perencanaan yang baik adalah ketika apa yang dirumuskan dapat direalisasikan
dan tercapai tujuan yang diharapkan. Perencanaan yang buruk adalah ketika apa
yang dirumuskan dan ditetapkan tidak berjalan dalam implementasi, sehingga
tujuan kegiatan tidak terwujud. Oleh sebab itu, perlu adanya suatu dokumen yang
dapat menggambarkan secara umum dan memuat penjelasan mengenai kegiatan
yang akan dilaksanakan, latar belakang, maksud dan tujuan, indikator kinerja
kegiatan, satuan ukur dan jenis keluaran, cara pelaksanaan kegiatan, tempat
pelaksanaan kegiatan, pelaksana dan penangggung jawab kegiatan, jadwal
kegiatan, bahkan total biaya yang diperlukan. Dokumen tersebut adalah Kerangka
Acuan Kerja (KAK).

KAK harus dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh Perangkat Daerah di
lingkungan Pemerintah Daerah. Para pelaksana kegiatan baik pejabat maupun staf
di lingkungan Pemerintah Daerah dituntut untuk dapat mengimplementasikan
seluruh pemikiran kinerjanya dalam bentuk KAK sebelum memulai kegiatan.
Oleh karena itu, agar para pelaksana kegiatan dapat menyusun KAK dengan benar
dan cermat.

Pada dasamya suatu Kerangka Acuan Kerja adalah dokumen yang menjelaskan
tentang keinginan – keinginan pemberi pekerjaan yang harus dipenuhi oleh
penyedia jasa (Konsultan). Selama proses pelaksanaan pekerjaan, pemberi
pekerjaan akan terus memantau kinerja penyedia jasa dengan menggunakan
Kerangka Acuan Kerja sebagai tolok ukur. Baik pemberi pekerjaan maupun
penyedia jasa, kedua pihak terikat kepada Kerangka Acuan Kerja.

Penyedia jasa dapat memberikan penajaman, penguatan apa yang terkandung


didalam Kerangka Acuan Kerja Untuk memberikan pemahaman yang sama
terhadap isi kerangka acuan kerja.

Prinsip-Prinsip Penyusunan Kerangka Acuan Kerja memperhatikan antara lain:

2
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

1. Ringkas
Penjelasan yang terdapat dalam KAK harus ditulis secara ringkas, mudah
dipahami oleh pihak yang berkaitan dengan KAK tersebut (atasan, tim penilai
materi dan anggaran serta pengawas). Bagaimana KAK menjelaskan setiap
Bab dengan ringkas sehingga setiap BAB yang terkandung dalam KAK dapat
dengan mudah dipahami.
2. Jelas
KAK harus ditulis secara jelas sehingga dapat memberikan gambaran
mengenai kegiatan yang akan dilakukan, tahapan- tahapan yang harus dilalui,
pihak-pihak yang dilibatkan dalam kegiatan, sumber pembiayaan, tujuan yang
hendak dicapai dan atau hasil yang diharapkan.
3. Sistematis
Penulisan KAK harus dilakukan secara sistematis, mengikuti alur pemikiran
yang runtut dan tata urutan penulisan yang baku sehingga menghasilkan
konsepsi ideal dari kegiatan yang direncanakan tersebut
4. Terukur
KAK harus terukur, artinya kegiatan yang direncanakan dalam KAK tersebut
secara obyektif mampu dilaksanakan oleh unit organisasi yang bersangkutan,
baik ditinjau dari aspek ketersediaan SDM, sumber pembiayaan, jangka
waktu pelaksanaan dan hasil yang akan dicapai.

Untuk mendapatkan pemahaman yang sama terhadap kerangka acuan kerja maka
kami mencoba memahami dan memberi tanggapan terhadap kerangka acuan kerja
yang telah kami terima dalam rangka tercapainya hasil pekerjaan Penyusunan FS
Refuse Derived Fuel (RDF) sesuai dengan yang diharapkan.

D.1.2 Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja (KAK)

Setelah membaca dan meneliti Kerangka Acuan Kerja (KAK) ditambah dengan
penjelasan yang diberikan pada saat rapat penjelasan, konsultan berpendapat
bahwa apa yang tertera dalam Kerangka Acuan Kerja tersebut telah cukup jelas
dan dapat diterima. Hal tersebut akan tersirat pada pendekatan teknis, kebutuhan

3
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

tenaga dan rencana kerja, yang masing – masing akan dijelaskan pada bab – bab
berikutnya.

Tanggapan konsultan terhadap KAK akan mencakup syarat kejelasan dan syarat
kecukupan.
 Syarat kejelasan pada dasamya telah terpenuhi terutama pada saat dilakukan
penjelasan pekerjaan oleh pihak pengguna jasa. Forum diskusi dan tanya
jawab yang cukup leluasa telah menambah pemahaman konsultan untuk
makin mantapnya dengan kesanggupan untuk menyelesaikan pekerjaan dan
memenuhi kehendak pengguna jasa, sesuai yang dituangkan dalam KAK dan
penjelasannya.
 Syarat kecukupan pada dasamya sudah terpenuhi dalam isi KAK, yang secara
umum telah memungkinkan konsultan menggunakannya sebagai panduan
kerja. Secara detail isi KAK itu yang akan ditanggapi.

D.1.3 Tanggapan Latar Belakang

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Uraian latar belakang yang disajikan dalam Kerangka Acuan Kerja sudah memuat
beberapa pertimbangan mengapa perlu dilakukan Penyusunan FS Refuse Derived
Fuel (RDF). Telah diterangkan dengan jelas, baik pertimbangan secara umum
maupun secara lebih spesifik yang mempengaruhi perlunya dilakukan kegiatan
ini. Beberapa hal yang perlu digaris bawahi yaitu :
1. Permasalahan yang dihadapi Kota Tangerang terkait Kapasitas TPA
Rawakucing dengan luas 32 hektar sebagai tempat akhir proses penanganan
sampah di Kota Tangerang yang diperkirakan kapasitas dalam menampung
Timbulan Sampah Kota Tangerang tidak sampai 2 tahun lagi. Dengan
timbulan sampah Kota Tangerang sebesar 1.500 ton - 1.700 ton per hari dan
sebagian besar berakhir di TPA Rawa Kucing menunjukkan kemampuan
rawa kucing untuk menampung sebagai dari timbulan sampah yang
diproduksi masyarakat Kota Tangerang sudah semakin berkurang.

4
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

2. Dari permasalahan diatas perlu ada upaya untuk mengatasinya. Pengelolaan


sampah di sumber perlu dirancang secara matang agar kinerja pengurangan
sampah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan dalam Jakstrada
maupun RPJMD serta dapat memperpanjang usia operasional TPA Rawa
Kucing. Diharapkan hanya sampah residu saja yang dibuang ke TPA Rawa
Kucing. Berkaitan dengan besamya volume sampah yang harus dikelola di
sumber, maka memerlukan pengolahan sampah yang diintegrasikan dengan
teknologi yang mampu dan teruji dalam mengolah sampah dengan kapasitas
besar.
3. Salah satu solusi dari upaya untuk mengatasi masalah adalah dengan suatu
inovasi. Teknologi pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF)
merupakan sebuah upaya untuk mengolah sampah padat menjadi bahan bakar
altematif yang dapat digunakan dalam pembangkit listrik atau mengurangi
ketergantungan industri terhadap bahan bakar fosil. Keuntungan dari
teknologi pengolahan sampah menjadi RDF di antaranya pengurangan
volume sampah yang dibuang, pengurangan emisi gas rumah kaca
dibandingkan dengan pembakaran langsung sampah, dan memanfaatkan
sumber daya yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. Namun, teknologi
ini juga memerlukan investasi awal yang signifikan dalam pembangunan
infrastruktur dan teknologi pemrosesan yang canggih. Selain itu memerlukan
offtaker yang akan memanfaatkan RDF lebih lanjut baik industri semen
maupun PLTU

Dari runtutan penjelasan pada BAB Latar Belakang dengan runtun menjelaskan
permasalahan yang kemudian berusaha untuk diupakan agar ditemu kenali solusi
yang inofatif dengan mengetahui adanya Teknologi pengolahan sampah Refuse
Derived Fuel (RDF).

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Latar Belakang merupakan penjelasan mengenai dasar hukum yang terkait dan
kebijakan Pemerintah Daerah yang merupakan dasar keberadaan kegiatan/aktifitas

5
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

berkenaan berupa Peraturan Perundangan yang berlaku, Rencana Strategis


Perangkat Daerah, dan Tugas Fungsi Perangkat Daerah.

Sedangkan gambaran umum merupakan penjelasan secara singkat mengapa (why)


kegiatan tersebut dilaksanakan dan alasan penting kegiatan tersebut dilaksanakan
serta keterkaitan kegiatan yang dipilih dengan kegiatan keluaran (output) dalam
mendukung pencapaian sasaran dan kinerja program, yang pada akhimya akan
mendukung pencapaian tujuan kebijakan. Kegiatan yang dilaksanakan merupakan
penjelasan mengenai uraian kegiatan apa (what) yang akan dilaksanakan dan
batasan kegiatan. Dalam uraian mengenai Latar Belakang berisi penjelasan
mengapa kegiatan tersebut penting dilaksanakan. Untuk itu hal-hal yang harus
diperhatikan dalam uraian latar belakang ini adalah sebagai berikut:
1. didukung dengan data-data konkrit yang berkaitan dengan kegiatan tersebut,
misalnya: hasil penelitian/kajian sebelumnya yang relevan, peraturan
perundang-undangan yang digunakan sebagai landasan, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, fenomena/kondisi terakhir dan sebagainya.
a. Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Strategi dan Kebijakan
Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah
Rumah Tangga telah menetapkan target nasional pengurangan sampah
sebesar 30% dan penanganan sampah 70% pada tahun 2025. Sejumlah
aksi untuk mencapai target pengelolaan sampah nasional didorong untuk
mendukung konsep sampah menjadi energi (waste to energy) sebagai
bagian dari aksi mitigasi iklim, salah satunya adalah pengolahan sampah
menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).
b. Pemerintah Indonesia berupaya mengurangi emisi GRK sebesar 29%
pada tahun 2030 dibandingkan dengan skenario business-as-usual (atau
41% mempertimbangkan dukungan ekstemal). Strategi untuk sektor
pengelolaan sampah meliputi pengurangan sampah melalui 3R,
pengelolaan sampah yang teratur di lokasi pembuangan akhir, dan
peningkatan/konstruksi/rehabilitasi lokasi pembuangan akhir dan waste-
to-energy (WtE).

6
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

c. Pengolahan sampah menjadi RDF selain penting dalam keberlanjutan


pengelolaan sampah, juga sangat penting dalam kerangka efisiensi
sumber daya, yakni dalam pemulihan energi dari sampah. RDF memiliki
kalori bersih yang cukup baik dan kualitas yang konsisten sebagai
pengganti sebagian panas yang dihasilkan oleh bahan bakar konvensional
yang digunakan oleh industri. Melalui pemanfaatan energi dari hasil
proses pengolahan sampah, produksi RDF dari sampah juga mendukung
peningkatan ekonomi sirkular
d. Pada pertemuan Conference of the Parties (COP) 21 UNFCCC di Paris
tahun 2015, Pemerintah Indonesia telah menyatakan komitmen untuk
menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% berdasarkan
skema Business as Usual (BAU) pada tahun 2030, dan sebesar 41%
dengan dukungan intemasional. Lebih lanjut, komitmen Pemerintah
diperkuat melalui penyampaian dokumen NDC yang di�ngkatkan
(Enhanced NDC) kepada UNFCCC pada tanggal 23 September 2022
dengan target pengurangan emisi menjadi 31,89% tanpa syarat dan
43,20% apabila mendapatkan dukungan intemasional. NDC yang
di�ngkatkan ini adalah transisi menuju NDC Kedua Indonesia yang
akan diselaraskan dengan Long-Term Low Carbon and Climate
Resilience Strategy (LTS-LCCR) 2050 dengan visi mencapai Emisi Nol
Bersih (Net Zero Emission) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
e. Di dalam pemutakhiran dokumen NDC Indonesia tahun 2022, tercatat
target pengurangan emisi GRK pada tahun 2030 untuk sektor limbah
sebesar 40 juta ton CO2e dengan upaya sendiri (1,4% dari BAU) dan
sebesar 43,5 juta ton CO2e dengan dukungan intemasional (1,5% dari
BAU).
f. Salah satu strategi yang dipilih pemerintah untuk menurunkan emisi
GRK dari sektor limbah adalah meningkatkan pengelolaan sampah
domestik dengan pertimbangan bahwa permasalahan sampah merupakan
salah satu tantangan utama kabupaten/kota di Indonesia. Berikut adalah

7
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

strategi pengurangan emisi GRK di dalam dokumen ENDC Sektor


Limbah Sub Sektor Limbah Padat Domestik
g. KLHK memperkirakan potensi pemanfaatan RDF oleh PLTU sebesar
16.000 ton/hari sedangkan industri semen berpotensi untuk
memanfaatkan 8.000 ton RDF/hari. Dari kedua industri tersebut potensi
sampah yang dapat diolah sekitar 24 ribu ton/hari. Adapun total potensi
sampah di Indonesia yang
h. dapat dikelola menjadi RDF diperkirakan sebesar 26,4 ribu ton/hari
dengan potensi pengurangan emisi GRK sebesar 4,67 juta ton
CO2e/tahun (Ditjen PSLB3 KLHK, 2021)
2. mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang menjadi fokus kegiatan,
yaitu suatu hal keadaan yang akan diatasi dengan kegiatan yang
direncanakan;
a. Degradasi sampah di TPA menghasilkan produksi lindi dan gas. Emisi
ini berpotensi mengancam kesehatan manusia dan kualitas lingkungan.
Gas landfill terutama terdiri dari metana dan karbon dioksida, keduanya
adalah gas rumah kaca yang signifikan. Selain itu, biasanya mengandung
sejumlah besar gas lain pada konsentrasi rendah, beberapa di antaranya
beracun. Lindi dapat bermigrasi ke air tanah atau bahkan ke permukaan
air melalui cacat pada liner dan ini menimbulkan masalah serius karena
akuifer membutuhkan waktu yang lama untuk rehabilitasi. Konstruksi
dan pengelolaan tempat pembuangan sampah memiliki efek ekologis
yang dapat menyebabkan perubahan lanskap, hilangnya habitat dan
perpindahan fauna. Dampak dari tempat pembuangan akhir termasuk
difusi sampah ke lingkungan yang lebih luas dan kegiatan daur ulang di
tempat yang tidak memadai. Gangguan seperti lalat, bau, asap, dan
kebisingan adalah masalah umum di TPA.
b. Pemerintah setempat menghadapi tantangan dalam menyediakan
pelayanan pengelolaan sampah kepada penduduknya dan sektor
pembuangan sampah di kota-kota memberikan berkontribusi yang
signifikan terhadap total emisi gas rumah kaca di Indonesia. Teknologi

8
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

mutakhir untuk mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke


tempat pembuangan sampah semakin penting terutama mengingat masa
pakai tempat pembuangan sampah terbatas, target untuk mengurangi
emisi gas rumah kaca dan kelangkaan lahan untuk tempat pemrosesan
akhir yang baru di daerah padat penduduk.
3. menggunakan pola piramida terbalik agar penjelasan lebih mengalir dan
sistematis, yaitu diuraikan hal-hal yang bersifat umum (makro) kemudian
mengerucut ke penjelasan yang bersifat khusus (spesifik)
4. beberapa tantangan masih dihadapi pemerintah dalam implementasi
pemanfaatan RDF di Indonesia. Kondisi saat ini, pemanfaatan RDF sebagai
bahan bakar co-firing di PLTU batubara masih dalam tahap uji coba oleh PT
Indonesia Power (IP) dan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) sebagai anak
usaha PT PLN (Persero). Sementara itu, pemanfaatan RDF di industri semen
di seluruh Indonesia masih sangat kecil.
5. sebelum melakukan upaya proses pelaksanaan pembangunan RDF perlu
dilakukan studi kelayakan untuk memastikan tidak mengalami kesalahan
terhadap proyek pembangunan RDF dikarenakan menggunakan investasi
yang cukup besar. untuk memilih dan menilai tingkat kelayakan dari konsep
pengelolaan Sampah melalui RDF. Studi kelayakan perlu dilaksanakan untuk
antara lain:
a. sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan pembangunan RDF
berdasarkan penilaian kelayakan.
b. Mendapatkan kesimpulan awal untuk model desain yang akan
dikembangkan dalam pelaksanaan detail pembangunan RDF
c. untuk menilai kelayakan penerapan sistem Pengelolaan Sampah yang
advanced (PSA) yang terfokus pada pengembangan teknologi
pengolahan sampah dan fasilitas terkait, dengan tujuan melakukan
revalorisasi fraksi sampah yang berharga dan meminimalisir jumlah
sampah yang langsung ditimbun di TPA. Penilaian Kelayakan yang
dilakukan berisi kriteria untuk penilaian dan penilaian potensi untuk studi
kelayakan

9
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

6. Studi kelayakan merupakan dari tahapan kelayakan proyek yang


menindaklanjuti proses seleksi proyek dalam hal ini adalah proyek rencana
pembangunan RDF untuk menindak lanjuti hasil proses seleksi proyek
dengan indikasi kelayakan yang tinggi.
7. Studi kelayakan merupakan dokumen yang penting untuk menyatakan suatu
rencana pembangunan proyek dapat dikatakan layak untuk dilaksanakan dan
menjadi dasar perancangan teknik dalam bentuk detailed engineering design.
8. Kedudukan studi kelayakan dalam proses proyek pembangunan termasuk
proyek pembangunan RDF di Rawa Kucing dapat dilihat pada gambar
berikut:

Gambar D-1
Kedudukan Dokumen Studi Kelayakan

D.1.4 Tanggapan Maksud Dan Tujuan

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Maksud Pekerjaan dari Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) dari Kerangka
Acuan Kerja yang dilakukan adalah diperolehnya dokumen Studi Kelayakan yang
memberikan penilaian kelayakan pembangunan sarana dan prasarana RDF agar
diperoleh sarana dan prasarana secara tepat, efesien dan efektif dalam
melaksanakan aktifitas RDF.

10
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Tujuan dari pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) adalah untuk
1. Untuk menilai kelayakan suatu proyek dengan penuh ke hati hatian agar dana
yang telah di investasikan dapat menguntungkan sehingga dapat menghindari
keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang
temyata tidak menguntungkan dan
2. Menyiapkan pilihan yang paling optimal untuk pengelolaan RDF di Rawa
Kucing secara efisien serta memberikan rekomendasi kelayakan ekonomi
yang paling layak untuk dilaksanakan

Tujuan teknis dilakukannya FS. Refuse Derived Fuel (RDF) ini dengan rincian
antara lain :
1. Menganalisa sosial ekonomi
2. Menganalisa Kelayakan sarana dan prasarana
3. Menganalisa biaya dan manfaat dari model sarana dan prasarana terpilih
4. Menganalisa dampak lingkungan dan dampak sosial
5. Memaparkan maksud dan tujuan rencana pembangunan
6. Menganalisa kesesuaian kegiatan Pemanfaatan Ruang dan prioritas
pembangunan.

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Maksud dan Tujuan adalah suatu keadaan/kondisi yang ingin dicapai dengan
pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF). Maksud yang disampaikan
pada Kerangka Acuan Kerja sudah tepat karena pada dasamya maksud adalah
keadan/kondisi yang ingin dicapai bersifat strategis.

Maksud dari penyusunan Laporan Studi Kelayakan pada Pekerjaan Penyusunan


Refuse Derived Fuel (RDF) adalah diperolehnya dokumen Studi Kelayakan
Pembangunan RDF Rawa Kucing. yang memberikan penilaian dari beberapa
antematif dalam pembangunan Refuse Derived Fuel (RDF) agar diperoleh konsep
secara tepat, efesien dan efektif dalam meningkatkan Daya Tampung TPA Rawa
Kucing dan Daya guna serta hasil guna dari timbulan Sampah di Kota Tangerang.

11
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Dokumen Studi Kelayakan Penyusunan Fs Refuse Derived Fuel (RDF) juga


menjadi dasar penyusunan Dokumen perencanaan dan DED Pembangunan Refuse
Derived Fuel (RDF) .

Sedangkan tujuan dari pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)


merupakan keadaan/kondisi yang ingin dicapai yang bersifat taktis dalam
mengupayakan terdapatnya rekomendasi penyelesaian masalah yang baku,
strategis dan inovatif. Saran dari konsultan sebagai bentuk tanggapan dari Tujuan
yang disampaikan pada Kerangka Acuan Kerja antara lain:
1. Mengindentifikasi dan menganalisa kondisi ekonomi pada kawasan studi;
2. Menganalisa kelayakan dari konsep/model RDF terpilih.
3. Menganalisa biaya dan manfaat dari model RDF terpilih
4. Menganalisa dampak lingkungan dan dampak sosial dari pembangunan RDF
5. Memaparkan maksud dan tujuan rencana pembangunan RDF
6. Menganalisa kesesuaian kegiatan Pemanfaatan Ruang dan prioritas
pembangunan

D.1.5 Tanggapan Sasaran

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja


Sasaran pelaksanaan kegiatan Penyusunan Feasibility Study (FS) RDF
adalah untuk menilai kelayakan pelaksanaan proyek meliputi:
• analisis formulasi kebijakan perencanaan yang meliputi kajian terhadap
kebijakan dan sasaran perencanaan, lingkungan dan penataan ruang;
• analisis Aspek teknis yang meliputi Topografi, Geometri, Geologi dan
geoteknik, Perkerasan, Hidrologi dan drainase, Struktur Bangunan
• analisis dampak lingkungan dan keselamatan yang meliputi Lingkungan
biologi, Lingkungan fisika – kimia, Lingkungan sosial, ekonomi dan
budaya, Keselamatan
• analisis Aspek ekonomi yang meliputi Biaya-biaya proyek, Biaya
pengadaan tanah, Biaya administrasi dan sertifikasi, Biaya Perancangan,
Biaya konstruksi, Biaya Pengadaan Mesin, Biaya supervisi

12
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

• Adanya analisis Manfaat proyek yang meliputi biaya pengelolaan


sampah, tapping fee, Perkiraan Keuntungan penjualan Produk yang
dihasilkan, Reduksi perhitungan total biaya/keuntungan, Pengembangan
ekonomi (producer surplus dan consumer surplus), Penghematan dalam
pemeliharaan (maintenance benefit)
• analisis Aspek lain-lain, Aspek lain-lain meliputi aspek non ekonomi
yang dapat mempengaruhi kelayakan proyek secara keseluruhan
• analisis Evaluasi kelayakan ekonomi yang meliputi Gambaran umum
evaluasi kelayakan ekonomi, Analisis benefit cost ratio (B/C-R), Analisis
net present value (NPV), Analisis economic intemal rate of retum
(EIRR), Analisis first year rate of retum (FYRR), Analisis kepekaan
(sensitivity analysis)
• Analisis kelayakan sarana dan prasarana dengan menggunakan analisa
perhitungan kapasitas bahan baku yang diperoleh dari sampah di
Rawakucing dan metode Analitical Hierarchy Process (AHP) Pemilihan
altematif dan rekomendasi altematif terpilih

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Menurut Konsultan Sasaran dari pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel


(RDF) adalah diperolehnya kajian yang memberikan acuan pelaksanaan
pembangunan Refuse Derived Fuel (RDF) yang tepat dari sarana prasarana dan
penempatannya agar penmanfatan RDF mendapatkan keberhasilan yang
berdampak mengurangi timbulan sampah, meningkatkan kapasitas TPA Rawa
Kucing dan mengolah sampah hingga mempunyai nilai.

D.1.6 Tanggapan Data Dasar

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Data dasar yang disampaikan pada Kerangka Acuan sudah Tepat dan dapat
digunakan sebagai baseline kajian Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF).

13
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Data dasar yang disampaikan pada Kerangka acuak kerja pekerjaan Penyusunan
FS Refuse Derived Fuel (RDF) antara lain:
1. Masterplan Persampahan Kota Tangerang
2. Perda No. 2 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Sampah

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Data Dasar yang disampaikan sudah tepat, seiring dengan pelaksanaan pekerjaan
data dasar lainnya diperlukan dengan berkoordinasi dengan pihak pemberi
pekerjaan agar hasil pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan.

D.1.7 Tanggapan Dasar Hukum

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Dasar hukum yang disampaikan merupakan peraturan daerah Kota Tangerang


terkait dengan pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) antara lain:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga;
3. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan
Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi
Ramah Lingkungan;
4. Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengelolaan
Sampah;

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Dasar Hukum yang disampaikan merupakan acuan hukum dalam melaksanakan


pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) namun yang disampaikan
hanya acuan peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah terkait
pengelolaan sampah, peraturan presiden terkait percepatan pembangunan instalasi

14
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

pengolah sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan dan
peraturan tentang pengelolaan sampah oleh Pemerintah Kota Tangerang.
Sebaiknya menurut konsultan ditambahkan peraturan perundangan diatasnya
sesuai dengan hirarki mulai dari Undang-Undang Dasar 1945 kemudian diikuti
Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan Peraturan Kementerian yang terkait
dengan pelaksanaan pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF). Untuk
memperkuat acuan pekerjaan konsultan akan mencari peraturan perundangan
lainnya yang terkait.

Dasar hukum dalam penyusunan Studi Kelayakan RDF antara lain:


1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah;
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan dan
Pengendalian Lingkungan;
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup;
8. Peraturan Presiden Nomor. 97 tahun 2017 tentang Kebijakan Strategi
Nasional Pengelolaan Sampah;
9. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan
Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi
Ramah Lingkungan;

15
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 Tentang


Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Persampahan (KSNP-SPP);
11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 19/PRT/M/2012 Tentang
Pedoman Penataan Ruang Kawasan Sekitar Tempat Pemrosesan Akhir
Sampah;
12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013 tentang
Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan
Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga;
13. Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 6 Tahun 2019 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Tangerang Tahun 2012 - 2032
14. Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengelolaan
Sampah;

D.1.8 Tanggapan Lingkup Kegiatan

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Lingkup Kegiatan yang disampaikan pada kerangka acuan kerja pekerjaan


Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) adalah meliputi:
1. Formulasi Kebijakan
2. Aspek Teknis
3. Aspek Lingkungan dan Keselamatan
4. Aspek Ekonomi
5. Aspek Lainnya
6. Evaluasi Kelayakan Ekonomi
7. Pemilihan Alematif.

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

16
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Menurut Konsultan Lingkup dari pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel


(RDF) merupakan lingkup kegiatan yang harus dilaksanakan oleh pelaksana
pekerjaan agar pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) hasilnya
sesuai dengan yang diharapkan.

Selain lingkup pekerjaan sebagaimana disampaikan pada Kerangka Acuan Kerja


perlu juga dijelaskan ruang-lingkup kegiatan berdasarkan tahapan. Antara lain:
1. Tahap Persiapan
Tahapan persiapan meliputi hal-hal yang harus disiapkan dalam pekerjaan
perencanaan, baik tenaga ahli dan pendukung yang sebelumnya sudah
ditunjuk agar melakukan survey awal sesuai metode yang telah ditentukan.
Dalam hal ini tidak terlepas dari mobilitas dan peralatan yang menunjang
harus sudah dalam kondisi siap digunakan.
Tahap persiapan yang dilakukan oleh Konsultan antara lain:
a. Persiapan Awal
Kegiatan ini merupakan langkah awal setelah ditandantanganinya SPMK
oleh pengguna anggaran. Pada tahap ini, program kerja yang dilakukan
oleh pihak penyedia jasa konsultansi adalah sebagai berikut:
1) Melakukan koordinasi dengan Tim teknis terkait dengan rencana dan
output yang akan dicapai dalam pelaksanaan kegiatan yang tertuang
dalam kerangka acuan kerja.
2) Koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Provinsi Banten sebagai upaya untuk memperoleh data dan
informasi terkait dengan kegiatan studi kelayakan
3) Mobilisasi tim pelaksana pekerjaan (team leader, tenaga ahli dan
tenaga pendukung)
4) Studi Literatur dan Kebijakan
Tenaga ahli melakukan desk study, guna meningkatkan pemahaman
mengenai substansi pekerjaan, khususnya mengkaji peraturan
perundangan (di tingkat pusat dan daerah) yang berkaitan dengan
Pembangunan Sarana dan Prasarana RDF. Sejalan dengan studi

17
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

literatur dan kebijakan, maka dilakukan pula pembahasan intemal


(brainstorming).
Sebelum berpijak pada proses kegiatan kajian lapangan, seluruh
tenaga ahli melakukan kajian literatur yang terkait dengan pekerjaan.
Kajian ini ditujukan untuk memantapkan pemahaman dan wawasan
Tenaga Ahli, serta mereview kembali perkembangan terbaru
mengenai Pedoman, Tata Cara dan spesifikasi teknis yang akan
dijadikan rujukan dalam penyusunan
b. Perumusan Metodologi dan Rencana Kerja
Pada kegiatan ini, Team Leader bersama seluruh tenaga ahli akan
merumuskan dan memantapkan kembali metodologi pelaksanaan
pekerjaan, serta merumuskan rencana kerja yang menekankan pada
langkah-langkah, waktu, penugasan dan produk yang dihasilkan pada
setiap langkah yang ditempuh.

Perumusan rencana kerja ini dilakukan dengan pembahasan kerangka


acuan kerja (KAK) pekerjaan guna mendapatkan kesepemahaman dan
arahan pelaksanaan pekerjaan secara menyeluruh, pendistribusian tugas,
dan brainstorming terkait dengan teknis dan materi pekerjaan
mendapatkan pemahaman yang komprehensif terkait substansi materi
pekerjaan.

Pada tahapan ini, Team Leader bersama seluruh tenaga ahli akan
merumuskan dan memantapkan kembali metodologi pelaksanaan
pekerjaan, serta merumuskan rencana kerja yang menekankan pada
langkah-langkah, waktu, penugasan dan produk yang dihasilkan pada
setiap langkah yang ditempuh
c. Persiapan pengumpulan data awal, penetapan rencana desain sementara
dan estimasi jenis pekerjaan
2. Tahap Survei

18
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Tahapan survei yang dilakukan adalah pengumpulan data terkait bahan


analisa penyusunan studi kelayakan.
Survei yang dilakukan untuk kebutuhan analisa studi kelayakan antara lain:
a. Kebutuhan Data formulasi kebijakan perencanaan
1) Data sekunder terkait dokumen pra studi kelayakan pada lokasi
kajian
2) Fungsi TPA Rawa Kucing.
3) Data kelayakan ekonomi perencanaan proyek
b. Kebutuhan data lingkungan dan tata ruang
c. Kebutuhan data aspek teknis
1) Timbulan Sampah Harian Kota Tangerang
2) Topografi
3) Geometri
4) Geologi dan geoteknik
5) Perkerasan jalan
6) Hidrologi dan drainase
7) Sosial ekonomi masyarakat
3. Analisa Perencanaan Teknis
Secara umum pekerjan study kelayakan ini harus melakukan Pengumpulan
data Sekunder dan Primer (dengan survey yang lebih detail) dan Menganalisis
secara lebih rinci beberapa altematif kemudian ditentukan rute terpilih yang
diusulkan dengan menggunakan model atau pembobotan.
Lebih detil kegiatan studi kelayakan, meliputi :
a. Formulasi kebijakan perencanaan
1) Kajian tentang kebijakan dan sasaran perencanaan
a) Kebijakan dan sasaran perencanaan umum dari proyek perlu
diformulasikan kembali dengan memperhatikan hasil dari pra
studi kelayakan (bila ada)
b) Atas dasar kebijakan dan sasaran perencanaan, perlu ditetapkan
fungsi kelas, serta ketentuan parameter perencanaan RDF,

19
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

seperti kecepatan, tingkat kinerja (level of performance), dan


kapasitas Sarana Prasarana RDF.
c) Dengan adanya ketidakpastian dan resiko yang tinggi, dapat
diusulkan untuk melaksanakan pembangunan secara bertahap,
dengan demikian ada peluang untuk memodifikasi ketentuan
perencanaan di paruh waktu.
d) Awal suatu proyek tidak harus berlangsung secepat mungkin,
karena penundaan dari awal suatu proyek biasanya dapat
meningkatkan suatu manfaat proyek dalam perhitungan
kelayakan ekonomi.
2) Kajian tentang lingkungan dan tata ruang
a) Pembangunan Sarana dan Prasarana RDF, harus dapat diterima
oleh lingkungan disekitamya, baik pada waktu pengoperasian,
maupun pada waktu pembangunan dan pemeliharaan, misalnya
 altematif lokasi tidak melalui daerah konservasi;
 altematif lokasi tidak menimbulkan dampak yang besar
pada lingkungan sekitamya;
 dampak sosial dan pengadaan tanah perlu untuk
diantisipasi;
 identifikasi keperluan penyusunan AMDAL dan UKL-UPL,
serta menyiapkan kerangka acuan kerja (KAK);
 mendukung tata ruang dari wilayah studi
b) Berbagai aspek lingkungan akibat pelaksanaan proyek yang
telah teridentifikasi, hasilnya perlu diformulasikan kembali
secara lebih teliti atas dasar analisis data primer yang lebih rinci.
c) Biaya yang diperlukan untuk menanggulangi masalah
lingkungan perlu diidentifikasi dan dirinci, karena akan menjadi
salah satu komponen biaya pada analisis ekonomi.
d) Penilaian atas kesesuaian lahan/tanah dan tata guna lahan/tanah,
serta rencana pengembangan wilayah, harus dipenuhi dalam
upaya menghasilkan rekomendasi dan keputusan pembangunan

20
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

jalan dan jembatan, selain itu, kaitannya dengan pengadaan


tanah yang tidak dapat terlepas dari adanya pertimbangan
kesesuaian lahan/tanah dan tata guna lahan/tanah yang telah
dituangkan dan ditetapkan dalam rencana umum tata ruang
(RUTR).
e) Peran dari jalan harus mendukung tata guna lahan/tanah dari
kawasan studi secara efisien,dimana :
 Kegiatan pengelolaan Sampah dengan RDF merupakan
bagian dari sistem persampahan yang tersusun dalam suatu
tingkatan hirarki;
 sistem pengelolaan Sampah dengan RDF merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari sistem persampahan di wilayah
studi;
 sistem pengelolaan Sampah dengan RDF dan tata guna
lahan/tanah dari wilayah studi membentuk satu sistem
persampahan dan tata guna lahan/tanah yang efisien
3) Formulasi altematif solusi
a) Beberapa altematif solusi yang potensial dari hasil pra studi
kelayakan diformulasikan, untuk dilakukan studi secara lebih
teliti. Altematif solusi tersebut harus sudah memenuhi kebijakan
dan sasaran perencanaan dari proyek, dapat dilaksanakan secara
teknis, dan dalam aspek lingkungan tidak ada kendala.
b) Altematif solusi harus sudah memperhatikan karakteristik
rancangan geometri, sesuai dengan fungsi dan kelas jalan yang
diusulkan, misalnya sehubungan dengan kelandaian.
c) Altematif solusi yang baik secara ekonomi adalah yang
mempunyai biaya transportasi total yang minimal, artinya
bahwa total biaya pelaksanaan, pemeliharaan dan pengoperasian
dari jalan dan jembatan adalah sekecil mungkin, misalnya:

21
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

 Reduksi/lidi yang dihasilkan lebih sedikit dengan biaya


pelaksanaan tinggi dapat menjadi altematif yang layak
secara ekonomis;
 Proses yang lebih lama dengan biaya pelaksanaan yang
lebih rendah belum tentu merupakan altematif yang paling
layak secara ekonomis;
 Proses yang lebih cepat, dapat membutuhkan biaya
pemeliharaan yang tinggi, dan mempunyai keandalan
operasi yang rendah
d) Untuk pembangunan yang bertahap, desain pembangunan sudah
harus sesuai dengan kapasitas diinginkan. Adalah sulit untuk
merubah kapasitas di kemudian hari. Untuk pembangunan
bertahap.
b. Aspek Teknis
1) Topografi
a) Peta topografi diperlukan dalam penentuan lokasi dan prakiraan
biaya proyek, yang berkaitan dengan kondisi eksisting,
kemungkinan pengadaan tanah, relokasi penduduk, kondisi
topografi (datar, berbukit atau pegunungan), jenis bangunan
pelengkap dan lain-lain
b) Rancangan dari altematif lokasi digambar pada peta topografi
dengan skala paling kecil sebesar 1: 5000 untuk jalan antar kota,
dan skala 1 : 1000 untuk jalan perkotaan. Peta ini dibuat khusus
untuk keperluan studi dan berisi segala informasi yang
diperlukan seperti garis tinggi, jalan air, penggunaan lahan/tanah
dan patok-patok pengukuran
c) Peta lokasi untuk altematif bisa dilihat dari atas menggunakan
alat drone hal ini berfungsi dalam melihat keadaan disekitar
lokasi rencana
d) Konsultan membuat laporan Data ukur survei agar dengan
mencantumkan koordinat lokasi pekerjaan

22
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

2) Geologi dan geoteknik


a) Konstruksi bangunan meneruskan beban ke tanah. kondisi
geologi dan geoteknik dapat bervariasi. Jenis tanah dasar dapat
dikelompokkan menurut karakteristik geologi agar penyelidikan
geoteknik dapat dilakukan secara terstruktur dan efisien. Dengan
demikian bangunan terbagi atas beberapa segmen yang
homogen secara geoteknik
b) Masing-masing jenis tanah perlu diteliti daya dukungnya. Bila
konstruksi akan berada pada galian, maka daya dukung tanah
yang dipakai adalah yang berada pada elevasi rencana. Bila
konstruksi akan berada pada timbunan, maka daya dukung dari
tanah timbunan perlu ditentukan sesuai jenis tanah timbunan
yang diusulkan.
c) Untuk lokasi tengah kota, analisis geologi dan geoteknik perlu
dilakukan lebih mendalam sehubungan dengan kondisi geologi
kawasan, pekerjaan tanah, ketersediaan bahan bangunan
(quarry), dan pertimbangan lainnya, yang akan mempengaruhi
aspek biaya pembangunan dan/atau pemeliharaan
d) Tanah dasar yang lembek mungkin perlu penanganan khusus
berupa stabilisasi dengan bahan tambahan, atau melalui
konsolidasi dengan mengeluarkan air tanah. Tanah lembek
dalam jumlah terbatas dapat dibuang dan diganti dengan tanah
urugan yang lebih baik. Pemilihan penanganan tergantung pada
aspek pembiayaan. Secara keseluruhan biaya pekerjaan tanah
dapat merupakan bagian yang signifikan dari biaya konstruksi
total
e) Daya dukung tanah dasar untuk keperluan perhitungan
konstruksi perkerasan dinyatakan dalam nilai CBR.
Penyelidikan untuk nilai CBR harus dilakukan dalam jumlah
yang cukup, sehingga mewakili masing-masing segmen
homogen secara signifikan

23
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

3) Hidrologi dan drainase


a) Data hujan dapat diperoleh dari rekaman stasiun pengamatan
hujan. Data hujan yang hilang atau tak terekam dapat
diperkirakan dengan metoda perkiraan. Hasil analisis merupakan
keterangan mengenai intensitas curah hujan
b) Daerah aliran sungai merupakan daerah yang seluruh air
hujannya akan mengalir lewat permukaan ke satu sungai
tertentu. Konstruksi sebaiknya tidak mengganggu pengaliran air
ini.
c) Pola drainase konstruksi sejauh mungkin harus berusaha untuk
mempertahankan penyerapan air ke dalam tanah seperti kondisi
sebelumnya. Sasaran utama bukan lagi merupakan pengaliran
air permukaan ke badan jalan terdekat dengan secepatnya.
d) Sasaran dari suatu sistem drainase jalan yang baik adalah :
 mengalirkan air hujan yang jatuh pada permukaan ke arah
luar;
 mengendalikan tinggi muka air tanah di bawah konstruksi;
 mencegah air tanah dan air permukaan yang mengarah ke
konstruksi bangunan;
 mengalirkan air yang melintas melintang kontruksi
bangunan secara terkendali;
e) Data hujan juga diperlukan untuk menentukan koreksi faktor
regional pada perhitungan tebal perkerasan dengan metoda
analisis komponen. Dalam perhitungan dimensi saluran,
salurannya dianggap sebagai saluran terbuka (open channel).
f) Data banjir didapatkan dari data yang ada pada tahun-tahun
sebelumnya. Konstruksi jalan pada dasamya tidak boleh
terendam banjir. Melalui analisis statistik dapat ditentukan tinggi
banjir rencana yang akan terjadi di sungai.
c. Aspek lingkungan dan keselamatan
1) Lingkungan biologi

24
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

a) Pengaruh terhadap flora Rencana pembangunan prasarana pada


suatu lokasi harus memperhatikan kemungkinan adanya vegetasi
asli dan vegetasi langka yang dilindungi pada rencana lokasi
pembangunan ataupun wilayah pengaruhnya. Keberadaan
vegetasi-vegetasi semacam ini dapat menjadi kendala bagi
kelanjutan pembangunan apabila diperkirakan akan timbul
gangguan dari dampak pembangunan terhadap kelangsungan
keberadaan vegetasi-vegetasi tersebut dan tidak tersedianya
altematif untuk mempertahankan keberadaan vegetasi tersebut.
Informasi mengenai keberadaan vegetasi asli atau langka
tersebut biasanya tersedia pada Balai Konservasi Sumber Daya
Alam terdekat atau Dinas Kehutanan. Selain keberadaan
vegetasi langka dan vegetasi asli, rencana pembangunan
prasarana harus memperhitungkan dampak lain terhadap
vegetasi, seperti terjadinya perubahan kerapatan dan keragaman
vegetasi. Konsultasi dengan ahli biologi dan konservasi
kehutanan sangat disarankan apabila dampak ini diperkirakan
akan terjadi.
b) Pengaruh terhadap fauna Pembangunan prasarana baru akan
berpengaruh terhadap fauna yang ada di sekitar lokasi
pembangunan. Pelaksanaan pembangunan maupun operasional
infrastruktur dapat mengganggu habitat fauna tertentu karena
jalan dapat menjadi pembatas pergerakan binatang sehingga
wilayah jelajah binatang tertentu berkurang. Selain itu, jalan
dapat membahayakan migrasi beberapa hewan melata ataupun
burung-burung yang mungkin akan mempengaruhi populasi
hewan-hewan tersebut. Pemrakarsa kegiatan harus melakukan
identifikasi secara akurat terhadap keberadaan dan perilaku
hewan tersebut sehingga dapat memberikan rekomendasi bagi
altematif solusi yang diusulkan dalam pembangunan.
2) Lingkungan fisika – kimia

25
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

a) Tanah Penelitian terhadap tanah yang meliputi kesuburan tanah


dan tata guna lahan/tanah, juga harus dilakukan dalam rencana
pembangunan prasarana baru. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana perubahan struktur tanah terhadap
pemanfaatan lahan/tanah di sekitar lokasi pembangunan
tersebut.
b) Kualitas Air merupakan komponen lingkungan yang sangat
penting bagi kehidupan. Adanya perubahan terhadap kualitas air
akan menimbulkan dampak negatif terhadap habitat dan
lingkungan disekitamya. Rencana pembangunan prasarana baru
harus memperhatikan kualitas air yang ada di sekitar lokasi
pembangunan, baik air permukaan maupun air tanah, karena
akan berpengaruh terhadap konstruksi dari jalan yang akan
dibangun tersebut.
c) Polusi udara Penilaian penetapan prakiraan dampak penting dan
nilai ambang kualitas udara mengacu pada pedoman yang
berlaku.
d) Kebisingan dan vibrasi Penilaian penetapan prakiraan dampak
penting dan nilai ambang kebisingan mengacu pada pedoman
yang berlaku.
3) Lingkungan sosial, ekonomi dan budaya
a) Kependudukan, Penilaian penetapan prakiraan dampak penting
kependudukan/sosial mengacu pada pedoman yang berlaku;
b) Perubahan mata pencaharian;
c) Pengaruh terhadap kekerabatan ;
d) Ganti kerugian dalam pengadaan tanah ;
e) Keamanan ;
f) Kesehatan masyarakat ;
g) Pendidikan ;
h) Cagar budaya dan peninggalan sejarah ;
i) Estetika visual ;

26
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

j) Perubahan pola interaksi ;


d. Aspek ekonomi
1) Biaya-biaya proyek
a) Biaya pengadaan tanah
 Tanah yang diperuntukkan bagi proyek dibebaskan melalui
mekanisme yang sesuai dengan peraturan dan perundangan
yang berlaku dengan mempertimbangkan kriteria/faktor tata
guna lahan/tanah dan kesesuaian lahan/tanah. Estimasi
biaya pengadaan tanah disesuaikan dengan Keppres Nomor
55/1993, Peraturan Kepala BPN Nomor 1/1994
b) Biaya administrasi dan sertifikasi
 Besamya biaya administrasi dan sertifikasi disesuaikan
dengan kebutuhan, dan wilayah studi, serta pertimbangan
sumber pendanaan
c) Biaya Perancangan
 Biaya perancangan meliputi biaya-biaya studi dan
penyiapan detailed engineering design (DED). Besar
anggaran biaya desain disesuaikan dengan kebutuhan dan
wilayah studi, sertapertimbangan sumber pendanaan.
d) Biaya konstruksi
Biaya konstruksi dapat meliputi, tetapi tidak terbatas pada hal-
hal berikut :
 mobilisasi dan demobilisasi proyek;
 relokasi utilitas dan pelayanan yang ada;
 jalan dan jembatan sementara;
 pekerjaan drainase;
 pekerjaan tanah;
 pelebaran perkerasan dan bahu jalan
 perkerasan berbutir dan beton semen
 perkerasan aspal;
 struktur;

27
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

 pengendalian kondisi;
 pekerjaan harian;
 pekerjaan pemeliharaan rutin;
 perlengkapan jalan dan utilitas;
 biaya tak terduga.
Untuk rincian pokok-pokok pembiayaan dapat dilihat pada spesifikasi umum
pekerjaan jalan dan jembatan.
Untuk keperluan analisis ekonomi, komponen biaya konstruksi
adalah biaya ekonomi, atau tanpa komponen pajak.
Untuk keperluan membuat owner’s estimate komponen biaya
konstruksi termasuk komponen pajak. Ini adalah harga yang
diperkirakan menjadi harga penawaran dari calon kontraktor
Harga penawaran dari kontraktor adalah atas dasar harga
satuan yang berlaku pada saat penawaran. Untuk pekerjaan
jangka panjang ada kemungkinan harga barang bangunan akan
berubah. Kenaikan harga satuan dapat diliputi dengan
perhitungan eskalasi, sesuai dengan pedoman yang berlaku
e) Biaya supervisi
 Kegiatan supervisi atau pengawasan pekerjaan adalah untuk
pengendalian terhadap mutu dan volume pekerjaan, dan
alokasi dana pelaksanaan fisik. Besaran anggaran biaya
supervisi disesuaikan dengan kebutuhan dan lokasi
pelaksanaan fisik, serta pertimbangan sumber pendanaan
f) Komponen bukan biaya proyek
 Biaya-biaya berikut berhubungan langsung dengan proyek
jalan dan jembatan, tetapi tidak diperhitungkan sebagai
komponen biaya dalam analisis ekonomi, yaitu :
 biaya operasi kendaraan dari lalulintas berhubungan
langsung dengan adanya proyek. Selisih total biaya operasi
kendaraan antara kondisi dengan proyek (with project) dan

28
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

kondisi tanpa proyek (without project) diperhitungkan


sebagai manfaat proyek
biaya pemeliharaan jalan berhubungan langsung dengan
lalulintas yang membebani jalan. Selisih total biaya
pemeliharaan jalan antara kondisi dengan proyek (with
project )dan kondisi tanpa adanya proyek (without project)
diperhitungkan sebagai manfaat proyek.
nilai dari waktu perjalanan berhubungan langsung dengan
penghematan waktu perjalanan karena adanya proyek. Selisih
total nilai waktu perjalanan antara kondisi dengan proyek (with
project) dan kondisi tanpa proyek (without project)
diperhitungkan sebagai manfaat proyek
biaya kecelakaan lalulintas berhubungan langsung dengan
lalulintas yang melewati jalan. Penurunan biaya kecelakaan,
yang menggambarkan peningkatan dalam keselamatan, akibat
adanya proyek diperhitungkan sebagai manfaat dari proyek
g) Nilai sisa konstruksi
Ada konstruksi, yang pada akhir periode studi masih
mempunyai nilai sisa (salvage value) yang signifikan, karena
mempunyai umur rencana yang lebih panjang. Agar perhitungan
biaya konstruksinya dapat dilakukan secara adil terhadap
altematif lain, maka pada akhir periode studi perlu ditentukan
umur sisa dari konstruksi, berikut nilai ekonomisnya. Nilai sisa
konstruksi ini menjadi biaya yang negatif dalam perhitungan
kelayakan ekonomi.
2) Manfaat Proyek
a) Penghematan biaya operasi pengelolaan sampah
b) Penghematan waktu pemusnahan sampah, penguraian sampah
c) Nilai Tambah yang dihasilkan sampah
3) Pengembangan ekonomi (producer surplus dan consumer surplus)

29
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Kegiatan ini untuk mengkaji dan mengetahui adanya pusat


pertumbuhan pada suatu lokasi yang dapat memacu tumbuhnya
pergerakan ekonomi, sehingga pengembangan pengelolaan sampah
sebagai sarana bahan bakar sangat dibutuhkan bagi perkembangan
suatu industri. Kegiatan kajian terhadap pengembangan ekonomi,
meliputi
a) kajian terhadap tingkat aksesibilitas yang dapat diukur dari
besar-kecilnya aliran industri antar wilayah;
b) keberadaan sistem transportasi yang ditunjang oleh kelengkapan
prasarana dan sarana perhubungan, baik regional maupun lokal
untuk memudahkan pemasaran hasil produk.
Analisis producer surplus merupakan salah satu parameter
penilai/evaluasi kelayakan proyek. Dalam hal ini kriteria
manfaat (benefit) yang digunakan adalah semua surplus yang
dinikmati oleh produsen barang dan jasa yang dijual dan
tercakup dalam daerah pengaruh proyek. Pendekatan ini
mengacu pada keadaan dimana volume lalulintas rendah yang
mengakibatkan kurangnya justifikasi surplus konsumen.
Keuntungan akibat perubahan volume dan biaya transport sangat
bergantung pada besamya keuntungan akibat perubahan harga
produk di lokasi produksi.
Konsep pendekatan consumer surplus adalah dengan
menghitung pengurangan harga yang dikeluarkan oleh
konsumen untuk memperoleh/menggunakan produk tertentu.
Selisih harga awal dengan harga baru yang harus dikeluarkan
merupakan penghematan (saving) bagi konsumen, sementara itu
sesuai dengan fungsi demand nya maka akan terdapat
penambahan volume, sehingga manfaat total adalah perkalian
jumlah volume baru dengan selisih harga yang terjadi.
Pada umumnya kedua konsep pendekatan ini digunakan untuk
perencanaan jalan antar kota (inter urban).

30
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

e. Aspek lain-lain
Aspek lain-lain meliputi aspek non ekonomi yang dapat mempengaruhi
kelayakan proyek secara keseluruhan. Aspek-aspek ini dapat
diperhitungkan pada waktu menentukan rekomendasi akhir dari studi ini
melalui suatu metoda multi kriteria, antara lain :
1) dapat meningkatkan nilai sampah yang tadinya tidak mempunyai
nilai;
2) dapat merupakan prasarana yang juga dibutuhkan dalam sistem
pengelolaan sampah. Manfaat ini tidak dinikmati sehari-hari tetapi
dapat merupakan manfaat yang sangat besar dalam kondisi tertentu.
Perihal ini perlu dipertimbangkan dalam menentukan kelayakan
akhir;
3) demi untuk pemerataan pembangunan, maka proyek-proyek tidak
hanya dikonsentrasikan pada wilayah tertentu saja. Suatu proyek
dengan kelayakan lebih rendah dapat juga diberi prioritas;
4) ketersediaan dana pembangunan, mungkin saja lebih kecil dari biaya
proyek.

D.1.9 Tanggapan Keluaran

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Keluaran yang disampaikan pada kerangka acuan kerja pekerjaan Penyusunan FS


Refuse Derived Fuel (RDF) adalah tersedianya laporan Penyusunan Feasibility
Study (FS) RDF sebanyak 5 buku dan dalam bentuk soft copy

Outcome dari pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) adalah:


 Membantu dalam perencanaan bisnis
 Menentukan keperluan dana
 Membantu meyakinkan investor
 Menghindari risiko operasional
 Memahami bagian-bagian proyek secara utuh

31
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

 Menemukan solusi atas masalah yang mungkin muncul.

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Menurut Konsultan keluaran dari pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel


(RDF) sangat tepat merupakan hasil yang diharapkan pada pelaksanaan pekerjaan
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

D.1.10 Tanggapan Jangka Waktu Penyelesaian Kegiatan

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Sasaran yang disampaikan pada kerangka acuan kerja pekerjaan Penyusunan FS


Refuse Derived Fuel (RDF) adalah 1 (satu) bulan

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Menurut Konsultan Jangka waktu penyelesaian kegiatan dari pekerjaan


Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) tidak mencukupi pelaksanaan
pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF). Konsultan akan
mengupayakan efektifitas pekerjaan agar dengan jangka waktu yang diberikan
menghasilkan output pekerjaan yang sesuai dengan yang diharapkan.

D.1.11 Tanggapan Personil

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Personil yang disampaikan pada kerangka acuan kerja pekerjaan Penyusunan FS


Refuse Derived Fuel (RDF) adalah pengelolaan Reduksi sampah Kota Tangerang
yang di tampung di TPA Rawa Kucing antara lain:
Jumlah Orang
No. Posisi Kualifikasi
Bulan
A. TENAGA AHLI

32
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

1. Ahli Perencanaan Wilayah/Kota Ahli Madya S-1 SKA/SKK, Sarjana 1 orang 1 bulan
Perencanaan Wilayah/Kota, pengalaman
minimal 2 Tahun di bidang Perencanaan
Wilayah dan penyusunan studi kelayakan

2. Ahli Ekonomi Ahli Madya S-1 Non SKA/SKK, Sarjana 1 orang 1 bulan
Ekonomi/Akuntansi, pengalaman minimal 3
Tahun di bidang perekonomian/akuntansi

3. Ahli Lingkungan Ahli Madya S-1 SKA/SKK, Sarjana Teknik 1 orang 1 bulan
Lingkungan, pengalaman minimal 3 Tahun di
hukum/sosial

B. TENAGA PENDUKUNG
1. Operator Komputer S-1 semua jurusan, menguasai program 1 orang 1 bulan
microsoft office

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Menurut Konsultan Personil dari pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel


(RDF) sesuai dengan personil yang dibutuhkan pada pekerjaan. Jika dibutuhkan
kami memiliki personil dengan keahlian lainnya yang dapat diperbantukan untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

D.1.12 Tanggapan Jadwal Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Jadwal Tahapan Pelaksanaan Kegiatan yang disampaikan pada kerangka acuan


kerja pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) adalah sebagai
berikut:
Bulan Ke - 1
No. Jenis Tahapan
M1 M2 M3 M4
1 Rapat Persiapan dan Koordinasi

33
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

2 Pembentukan Tim dan Rencana Kerja

3 Pengumpulan Data Primer dan Sekunder

4 Identifikasi dan Survei Lokasi

5 Analisis dan Pengolahan Data

6 Penyusunan Laporan Akhir

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Menurut Konsultan Jadwal Tahapan Pelaksanaan Kegiatan dari pekerjaan


Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) sudah tepat, sebagai bentuk
tanggapan kami menyampaikan pada bab selanjutnya yaitu Bab Jadwal
Pelaksanaan Pekerjaan

D.1.13 Tanggapan Laporan

A. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

Laporan yang disampaikan pada kerangka acuan kerja pekerjaan Penyusunan FS


Refuse Derived Fuel (RDF) adalah :
 Laporan Awal memuat detail rencana kegiatan dan metode dalam
Penyusunan Feasibility Study (FS) RDF. Laporan Awal harus diserahkan
setelah analisis kajian sebanyak 1 eksemplar.
 Laporan Akhir memuat : (Penyusunan Feasibility Study (FS) RDF). Laporan
Akhir harus diserahkan selambat-lambatnya : pada saat berakhimya Kontrak
pekerjaan sebanyak 5 (lima) eksemplar.

B. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja

34
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Menurut Konsultan Laporan dari pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel


(RDF) perlu tanggapan terhadap Laporan dengan menyampaikan usulan
sistematika.

Secara umum KAK yang diterima oleh Konsultan sudah cukup lengkap dan
memberi arahan serta panduan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan oleh
pengguna jasa. Dengan demikian menjadi komitmen dari Konsultan untuk dapat
melaksanakannya sesuai dengan standar dan rambu – rambu yang pada dasamya
telah disepakati.

Sitematika laporan akhir adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Pada prinsipnya bab ini menguraikan tentang:
 latar belakang perlunya studi kelayakan,
 maksud dan tujuan
 Target dan Sasaran
 Standar Teknis
 Dasar Hukum
 Ruang Lingkup
 Keluaran
 Sistematika Laporan.

BAB II FORMULASI KEBIJAKAN PERENCANAAN


Pada prinsipnya bab ini menguraikan tentang:
 Kebijakan dan sasaran perencanaan
 Lingkungan dan tata ruang
 Pengadaan tanah
 Formulasi altematif solusi.

BAB III KELAYAKAN LOKASI


Pada prinsipnya bab ini menguraikan tentang analisis mengenai
kesesuaian fisik lokasi dengan rencana pembangunan yang akan
dilaksanakan untuk Kepentingan Umum yang dituangkan dalam bentuk

35
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

peta rencana lokasi pembangunan.

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI


Pada prinsipnya bab ini menguraikan tentang gambaran wilayah studi
berupa analisis hasil survei lapangan antara lain:
 Topografi;
 Geografis;
 Demografi ;
 Geologi dan geoteknik;
 Hidrologi dan drainase

BAB V KONDISI PERSAMPAHAN


Pada prinsipnya bab ini menguraikan tentang :
 Survai dan analisa Timbulan sampah ;
 Survai reduksi sampah yang di terima TPA;
 Tingkat pelayanan
 Peramalan

BAB VI REKAYASA PENGELOLAAN SAMPAH


Pada prinsipnya bab ini menguraikan tentang :
 Konsep dan standar perencanaan
 Perencanaan geometri;
 Perencanaan perkerasan
 Perencanaan bangunan atas
 Perencanaan bangunan bawah

BAB VII ASPEK LINGKUNGAN DAN KESELAMATAN


Pada prinsipnya bab ini menguraikan tentang aspek yang berkaitan
antara lain:
 Lingkungan biologi
 Lingkungan fisika-kimia
 Lingkungan sosial, ekonomi dan budaya
 Keselamatan

36
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

BAB VIII ASPEK EKONOMI


Pada prinsipnya bab ini menguraikan tentang analisa perkiraan
ekonomi antara lain:
 Biaya-biaya proyek
 Manfaat Proyek

BAB IX EVALUASI KELAYAKAN EKONOMI


Pada prinsipnya bab ini menguraikan perhitungan kelayakan ekonomi
melalui formulasi:
 B/C-R, NPV, EIRR, FYRR ;
 Analisis kepekaan (sensitivity analysis)

BAB X PEMILIHAN ALTEMATIF


Pada prinsipnya bab ini menguraikan pemilihan altematif dengan
metode AHP

BAB XI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Pada prinsipnya bab ini menguraikan Kesimpulan dari hasil analisis
dan memberikan rekomendasi berdasarkan kesimpulan dari hasil
analisis

D.2 SARAN TERHADAP PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG DARI


PPK

D.2.1 Kebutuhan Tenaga Ahli dan Lama Penugasan

Berdasarkan KAK mengenai kebutuhan Tenaga Ahli dan waktu yang diperlukan
dengan sejumlah tenaga di bidang keahlian yang dapat menunjang kegiatan ini,
beberapa tanggapan yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
 Kebutuhan Tenaga Ahli
 Jumlah Tenaga Ahli yang dibutuhkan sudah sesuai.
 Kebutuhan Man Month

37
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Kebutuhan Man Month yang sudah disyaratkan dalam Form RAB memberikan
masukan bagi Konsultan bahwa kegiatan ini sudah diasumsikan dapat diselesaikan
dengan Man Month yang sudah ditetapkan, sehingga analisa teknis perhitungan
Man Month untuk tenaga ahli tidak diperlukan lagi dimana dapat membantu
prediksi kebutuhan Man Month yang nantinya dijabarkan dalam Jadwal
Pelaksanaan.

38
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

E
URAIAN PENDEKATAN, METODOLOGI DAN
PROGRAM KERJA

E.1 PENDEKATAN DAN METODE STUDI

E.1.1 Sampah

Sampah dihasilkan dari berbagai macam aktivitas baik aktivitas dalam rumah
tangga, industri, perdagangan dan jasa. Definisi sampah dapat sangat objective
karena sampah bagi satu orang bisa jadi sumberdaya yang menghasilkan bagi
orang lain. Sampah adalah bahan buangan padat atau semi padat yang dihasilkan
dari aktifitas manusia atau hewan yang dibuang karena tidak diinginkan atau
gunakan lagi. Pengertian sampah yang beragam saat ini berkembang menjadi
barang atau sisa kegiatan yang mempunyai nilai ekonomi apabila dilakukan
pengolahan secara baik mulai dari sumber sampah sampai tempat pemrosesan
akhir. Menurut Undang-undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan
Sampah, Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam
yang berbentuk padat.

A. Timbulan dan Komposisi Sampah

Timbulan Sampah adalah banyaknya sampah dalam satuan berat (kg/orang/hari)


dan volume (L/orang/hari). Ada beberapa cara untuk menghitung laju timbulan
sampah yaitu:
1. Analisis penghitungan beban (Load Count Analysis)
Analisis ini dihitung dengan mencatat jumlah masing-masing volume yang
masuk ke TPA baik volume, berat, jenis angkutan dan sumber sampah
kemudian dihitung jumlah timbulan sampah kota selama periode waktu
tertentu.
2. Analisis berat volume (Weight Volume Analysis)

1
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Analisis ini dihitung berdasarkan volume dan berat sampah. Jumlah timbulan
sampah kota dihitung selama periode tertentu.
3. Analisis kesetimbangan bahan (Material Balance Analysis) Analisis ini
menggunakan diagram kesetimbangan massa. Diagram dibuat untuk
menghitung jumlah timbulan sampah dari suatu sistem yang telah ditentukan

Komposisi sampah diperlukan untuk memilih dan menentukan cara pengoperasian


setiap peralatan dan fasilitas-fasilitas lainnya dan untuk memperkirakan kelayakan
pemanfaatan kembali sumberdaya dan energi dalam sampah, serta untuk
perencanaan fasilitas pembuangan sampah. Komposisi sampah berdasarkan
sumber sampah dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel E-1
Komposisi Sampah Berdasarkan Sumber Sampah

No Sumber Sampah Komposisi Sampah


1 Kantor Kertas Catridge printer bekas
Karton Sampah makanan
Plastik
2 Rumah Sakit Kertas Logam (jarum spuit)
Kapas bekas Perban bekas
Plastik (pembungkus spuit Potongan jari tubuh
bekas) Sisa-sisa obat
Kaca (botol obat pecahan Sampah makanan
kaca
3 Pasar Sampah organik mudah Kayu pengemas
membusuk Karet
Plastik Kain
Kertas/Karton
4 Lapangan Olah Raga Kertas Sampah makanan
Plastik Potongan rumput
5 Lapangan Terbuka Ranting/daun kering Potongan rumput
6 Jalan dan Lapangan Parkir Kertas Daun Kering
Plastik
7 Rumah Tangga Sampah makanan Logam
Kertas/karton Kain
Plastik Daun, ranting
8 Pembangunan gedung Pecahan bata Kayu
Pecahan beton Kertas
Pecahan ranting Plastik
Sumber : Direktorat Pembangunan Penyehatan Lingkungan Pemukiman

1
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

B. Pengolahan Sampah

Pengertian Pengelolaan Sampah adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan


pengendalian timbulan sampah, pengumpulan, transfer dan transportasi,
pengolahan dan pemrosesan akhir/pembuangan sampah dengan
mempertimbangkan faktor kesehatan lingkungan, ekonomi, teknologi, konservasi,
estetika, dan faktor- faktor lingkungan lainnya yang berkaitan erat dengan respons
masyarakat (PPLP, 2013). Pengertian Pengelolaan Sampah menurut UU Nomor
18 Tahun 2008 adalah suatu kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan
pengurangan sampah dapat dilakukan dengan cara:
1. Pembatasan timbulan sampah;
2. Pendauran ulang sampah;
3. Pemanfaatan kembali sampah.

Sedangkan kegiatan penanganan sampah dapat dilakukan dengan cara:


1. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai
dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;
2. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari
sumber sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat
pengolahan sampah 3R skala kawasan (TPS 3R), atau tempat pengolahan
sampah terpadu;
3. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari
tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah
3R terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir (TPA) atau tempat
pengolahan sampah terpadu (TPST);
4. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah
sampah;
5. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau
residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

C. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

2
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai


tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan,
pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan.

TPA merupakan tempat dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak
menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitamya. Karenanya diperlukan
penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat
dicapai dengan baik.

Selama ini masih banyak persepsi keliru tentang TPA yang lebih sering dianggap
hanya merupakan tempat pembuangan sampah. Hal ini menyebabkan banyak
Pemerintah Daerah masih merasa saying untuk mengalokasikan pendanaan bagi
penyediaan fasilitas di TPA yang dirasakan kurang prioritas disbanding dengan
pembangunan sektor lainnya.

Di TPA, sampah masih mengalami proses penguraian secara alamiah dengan


jangka waktu panjang. Beberapa jenis sampah dapat terurai secara cepat,
sementara yang lain lebih lambat; bahkan ada beberapa jenis sampah yang tidak
berubah sampai puluhan tahun; misalnya plastik. Hal ini memberikan gambaran
bahwa setelah TPA selesai digunakanpun masih ada proses yang berlangsung dan
menghasilkan beberapa zat yang dapat mengganggu lingkungan. Karenanya masih
diperlukan pengawasan terhadap TPA yang telah ditutup.

Pembuangan sampah mengenal beberapa metoda dalam pelaksanaannya yaitu:


1. Open Dumping
Open dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan
sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi; dibiarkan
terbuka tanpa pengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh.
Masih ada Pemda yang menerapkan cara ini karena alasan keterbatasan
sumber daya.
Cara ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi
pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkannya seperti:
a. Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus dan lainnya

3
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

b. Polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan


c. Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan sampah) yang timbul
d. Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor
2. Control Landfill
Metoda ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara
periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk
mengurangi potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Dalam
operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk
meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA.
Di Indonesia, metode control landfill dianjurkan untuk diterapkan di kota
sedang dan kecil. Untuk dapat melaksanakan metoda ini diperlukan
penyediaan beberapa fasilitas diantaranya:
a. Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan
b. Saluran pengumpul lindi dan kolam penampungan
c. Pos pengendalian operasional
d. Fasilitas pengendalian gas metan
e. Alat berat
3. Sanitary Landfill
Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara intemsional
dimana penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi gangguan
yang timbul dapat diminimalkan. Namun demikian diperlukan penyediaan
prasarana dan sarana yang cukup mahal bagi penerapan metode ini sehingga
sampai saat ini baru dianjurkan untuk kota besar dan metropolitan.
Mengingat besamya potensi dalam menimbulkan gangguan terhadap
lingkungan maka pemilihan lokasi TPA harus dilakukan dengan seksama dan
hati-hati. Hal ini ditunjukkan dengan sangat rincinya persyaratan lokasi TPA
seperti tercantum dalam SNI tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat
Pembuangan Akhir Sampah; yang diantaranya dalam kriteria regional
dicantumkan:
a. Bukan daerah rawan geologi (daerah patahan, daerah rawan longsor,
rawan gempa, dll)

4
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

b. Bukan daerah rawan hidrogeologis yaitu daerah dengan kondisi


kedalaman air tanah kurang dari 3 meter, jenis tanah mudah meresapkan
air, dekat dengan sumber air (dalam hal tidak terpenuhi harus dilakukan
masukan teknologi)
c. Bukan daerah rawan topografis (kemiringan lahan lebih dari 20%)
d. Bukan daerah rawan terhadap kegiatan penerbangan di Bandara (jarak
minimal 1,5 – 3 km)
e. Bukan daerah/kawasan yang dilindungi

Untuk dapat dioperasikan dengan baik maka TPA perlu dilengkapi dengan
prasarana dan sarana yang meliputi:
1. Prasarana Jalan
Prasarana dasar ini sangat menentukan keberhasilan pengoperasian TPA.
Semakin baik kondisi jalan ke TPA akan semakin lancar kegiatan
pengangkutan sehingga efisiensi keduanya menjadi tinggi.
Konstruksi jalan TPA cukup beragam disesuaikan dengan kondisi setempat
sehingga dikenal jalan TPA dengan konstruksi:
a. Hotmix
b. Beton
c. Aspal
d. Perkerasan situ
e. Kayu
Dalam hal ini TPA perlu dilengkapi dengan:
• Jalan masuk/akses; yang menghubungkan TPA dengan jalan umum yang
telah tersedia
• Jalan penghubung; yang menghubungkan antara satu bagian dengan
bagian lain dalam wilayah TPA
• Jalan operasi/kerja; yang diperlukan oleh kendaraan pengangkut menuju
titik pembongkaran sampah

5
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

• Pada TPA dengan luas dan kapasitas pembuangan yang terbatas biasanya
jalan penghubung dapat juga berfungsi sekaligus sebagai jalan
kerja/operasi.
2. Prasarana Drainase
Drainase di TPA berfungsi untuk mengendalikan aliran limpasan air hujan
dengan tujuan untuk memperkecil aliran yang masuk ke timbunan sampah.
Seperti diketahui, air hujan merupakan faktor utama terhadap debit lindi yang
dihasilkan. Semakin kecil rembesan air hujan yang masuk ke timbunan
sampah akan semakin kecil pula debit lindi yang dihasilkan yang pada
gilirannya akan memperkecil kebutuhan unit pengolahannya.
Secara teknis drainase TPA dimaksudkan untuk menahan aliran limpasan air
hujan dari luar TPA agar tidak masuk ke dalam area timbunan sampah.
Drainase penahan ini umumnya dibangun di sekeliling blok atau zona
penimbunan. Selain itu, untuk lahan yang telah ditutup tanah, drainase TPA
juga dapat berfungsi sebagai penangkap aliran limpasan air hujan yang jatuh
di atas timbunan sampah tersebut. Untuk itu permukaan tanah penutup harus
dijaga kemiringannya mengarah pada saluran drainase.
3. Fasilitas Penerimaan
Fasilitas penerimaan dimaksudkan sebagai tempat pemeriksaan sampah yang
datang, pencatatan data, dan pengaturan kedatangan truk sampah. Pada
umumnya fasilitas ini dibangun berupa pos pengendali di pintu masuk TPA.
Pada TPA besar dimana kapasitas pembuangan telah melampaui 50 ton/hari
maka dianjurkan penggunaan jembatan timbang untuk efisiensi dan ketepatan
pendataan. Sementara TPA kecil bahkan dapat memanfaatkan pos tersebut
sekaligus sebagai kantor TPA sederhana dimana kegiatan administrasi ringan
dapat dijalankan.
4. Lapisan Kedap Air
Lapisan kedap air berfungsi untuk mencegah rembesan air lindi yang
terbentuk di dasar TPA ke dalam lapisan tanah di bawahnya. Untuk itu
lapisan ini harus dibentuk di seluruh permukaan dalam TPA baik dasar
maupun dinding.

6
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Bila tersedia di tempat, tanah lempung setebal + 50 cm merupakan altematif


yang baik sebagai lapisan kedap air. Namun bila tidak dimungkinkan, dapat
diganti dengan lapisan sintetis lainnya dengan konsekuensi biaya yang relatif
tinggi.
5. Fasilitas Pengamanan Gas
Gas yang terbentuk di TPA umumnya berupa gas karbon dioksida dan metan
dengan komposisi hampir sama; disamping gas-gas lain yang sangat sedikit
jumlahnya. Kedua gas tersebut memiliki potensi besar dalam proses
pemanasan global terutama gas metan; karenanya perlu dilakukan
pengendalian agar gas tersebut tidak dibiarkan lepas bebas ke atmosfer.
Untuk itu perlu dipasang pipa-pipa ventilasi agar gas dapat keluar dari
timbunan sampah pada titik-titik tertentu. Untuk ini perlu diperhatikan
kualitas dan kondisi tanah penutup TPA. Tanah penutup yang porous atau
banyak memiliki rekahan akan menyebabkan gas lebih mudah lepas ke udara
bebas. Pengolahan gas metan dengan cara pembakaran sederhana dapat
menurunkan potensinya dalam pemanasan global.
6. Fasilitas Pengamanan Lindi
Lindi merupakan air yang terbentuk dalam timbunan sampah yang
melarutkan banyak sekali senyawa yang ada sehingga memiliki kandungan
pencemar khususnya zat organik sangat tinggi. Lindi sangat berpotensi
menyebabkan pencemaran air baik air tanah maupun permukaan sehingga
perlu ditangani dengan baik.
Tahap pertama pengamanan adalah dengan membuat fasilitas pengumpul
lindi yang dapat terbuat dari: perpipaan berlubang-lubang, saluran pengumpul
maupun pengaturan kemiringan dasar TPA; sehingga lindi secara otomatis
begitu mencapai dasar TPA akan bergerak sesuai kemiringan yang ada
mengarah pada titik pengumpulan yang disediakan.

Tempat pengumpulan lindi umumnya berupa kolam penampung yang


ukurannya dihitung berdasarkan debit lindi dan kemampuan unit
pengolahannya. Aliran lindi ke dan dari kolam pengumpul secara gravitasi

7
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

sangat menguntungkan; namun bila topografi TPA tidak memungkinkan,


dapat dilakukan dengan cara pemompaan.
Pengolahan lindi dapat menerapkan beberapa metode diantaranya:
penguapan/evaporasi terutama untuk daerah dengan kondisi iklim kering,
sirkulasi lindi ke dalam timbunan TPA untuk menurunkan baik kuantitas
maupun kualitas pencemamya, atau pengolahan biologis seperti halnya
pengolahan air limbah.
7. Alat Berat
Alat berat yang sering digunakan di TPA umumnya berupa: bulldozer,
excavator dan loader. Setiap jenis peralatan tersebut memiliki karakteristik
yang berbeda dalam operasionalnya.
Bulldozer sangat efisien dalam operasi perataan dan pemadatan tetapi kurang
dalam kemampuan penggalian. Excavator sangat efisien dalam operasi
penggalian tetapi kurang dalam perataan sampah. Sementara loader sangat
efisien dalam pemindahan baik tanah maupun sampah tetapi kurang dalam
kemampuan pemadatan.
Untuk TPA kecil disarankan dapat memiliki bulldozer atau excavator,
sementara TPA yang besar umumnya memiliki ketiga jenis alat berat tersebut.
8. Penghijauan
Penghijauan lahan TPA diperlukan untuk beberapa maksud diantaranya
adalah: peningkatan estetika lingkungan, sebagai buffer zone untuk
pencegahan bau dan lalat yang berlebihan. Untuk itu perencancaan daerah
penghijauan ini perlu mempertimbangkan letak dan jarak kegiatan
masyarakat di sekitamya (permukiman, jalan raya, dan lainnya)
9. Fasilitas Penunjang
Beberapa fasilitas penunjang masih diperlukan untuk membantu
pengoperasian TPA yang baik diantaranya: pemadam kebakaran, mesin
pengasap (mist blower), kesehatan/keselamatan kerja, toilet, dan lain lain.

Untuk teknik Operasional TPA yang perlu dilakukan antara lain:


1. Persiapan Lahan TPA

8
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Sebelum lahan TPA diisi dengan sampah maka perlu dilakukan penyiapan
lahan agar kegiatan pembuangan berikutnya dapat berjalan dengan lancar.
Beberapa kegiatan penyiapan lahan tersebut akan meliputi:
Penutupan lapisan kedap air dengan lapisan tanah setempat yang
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kerusakan atas lapisan tersebut
akibat operasi alat berat di atasnya. Umumnya diperlukan lapisan tanah
setebal 50 cm yang dipadatkan di atas lapisan kedap air tersebut.
Persediaan tanah penutup perlu disiapkan di dekat lahan yang akan
dioperasikan untuk membantu kelancaran penutupan sampah; terutama bila
operasional dilakukan secara sanitary landfill. Pelatakan tanah harus
memperhatikan kemampuan operasi alat berat yang ada.
2. Tahapan Operasi Pembuangan
Kegiatan operasi pembuangan sampah secara berurutan akan meliputi:
a. Penerimaan sampah di pos pengendalian; dimana sampah diperiksa,
dicatat dan diberi informasi mengenai lokasi pembongkaran.
b. Pengangkutan sampah dari pos penerimaan ke lokasi sel yang
dioperasikan; dilakukan sesuai rute yang diperintahkan.
c. Pembongkaran sampah dilakukan di titik bongkar yang telah ditentukan
dengan manuver kendaraan sesuai petunjuk pengawas.
d. Perataan sampah oleh alat berat yang dilakukan lapis demi lapis agar
tercapai kepadatan optimum yang diinginkan. Dengan proses pemadatan
yang baik dapat diharapkan kepadatan sampah meningkat hampir dua
kali lipat.
e. Pemadatan sampah oleh alat berat untuk mendapatkan timbunan sampah
yang cukup padat sehingga stabilitas permukaannya dapat diharapkan
untuk menyangga lapisan berikutnya.
f. Penutupan sampah dengan tanah untuk mendapatkan kondisi operasi
control atau sanitary landfill
3. Pengaturan Lahan
Seringkali TPA tidak diatur dengan baik. Pembongkaran sampah terjadi di
sembarang tempat dalam lahan TPA sehingga menimbulkan kesan yang tidak

9
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

baik; disamping sulit dan tidak efisiennya pelaksanaan pekerjaan perataan,


pemadatan dan penutupan sampah tersebut. Agar lahan TPA dapat
dimanfaatkan secara efisien, maka perlu dilakukan pengaturan yang baik
yang mencakup:
4. Pengaturan Sel
Sel merupakan bagian dari TPA yang digunakan untuk menampung sampah
satu periode operasi terpendek sebelum ditutup dengan tanah. Pada sistem
sanitary landfill, periode operasi terpendek adalah harian; yang berarti bahwa
satu sel adalah bagian dari lahan yang digunakan untuk menampung sampah
selama satu hari. Sementara untuk control landfill ssatu sel adalah untuk
menampung sampah selama 3 hari, atau 1 minggu, atau operasi terpendek
yang dimungkinkan. Dianjurkan periode operasi adalah 3 hari berdasarkan
pertimbangan waktu penetasan telur lalat yang rata-rata mencapai 5 hari; dan
asumsi bahwa sampah telah berumur 2 hari saat ada di TPS sehingga sebelum
menetas perlu ditutup tanah agar telur/larva muda segera mati.
5. Untuk pengaturan sel perlu diperhatikan beberapa faktor:
a. Lebar sel sebaiknya berkisar antara 1,5-3 lebar blade alat berat agar
manuver alat berat dapat lebih efisien
b. Ketebalan sel sebaiknya antara 2-3 meter. Ketebalan terlalu besar akan
menurunkan stabilitas permukaan, sementara terlalu tipis akan
menyebabkan pemborosan tanah penutup
c. Panjang sel dihitung berdasarkan volume sampah padat dibagi dengan
lebar dan tebal sel. Bila volume sampah padat adalah 150 m3/hari, tebal
sel direncanakan 2 m, lebar sel direncanakan 3 m, maka panjang sel
adalah 150/(3x2) = 25 m.
d. Batas sel harus dibuat jelas dengan pemasangan patok-patok dan tali agar
operasi penimbunan sampah dapat berjalan dengan lancar.
6. Pengaturan Blok
Blok operasi merupakan bagian dari lahan TPA yang digunakan untuk
penimbunan sampah selama periode operasi menengah misalnya 1 atau 2
bulan. Karenanya luas blok akan sama dengan luas sel dikalikan

10
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

perbandingan periode operasi menengah dan pendek. Bila sel harian


berukuran lebar 3 m dan panjang 25 m maka blok operasi bulanan akan
menjadi 30 x 75 m2 = 2.250 m2
7. Pengaturan Zona
Zona operasi merupakan bagian dari lahan TPA yang digunakan untuk jangka
waktu panjang misal 1 – 3 tahun, sehingga luas zona operasi akan sama
dengan luas blok operasi dikalikan dengan perbandingan periode operasi
panjang dan menengah, bila blok operasi bulanan memiliki luas 2.250 m2
maka zona operasi tahunan akan menjadi 12 x 2.250 = 2,7 Ha
8. Persiapan Sel Pembuangan
Sel pembuangan yang telah ditentukan ukuran panjang, lebar dan tebalnya
perlu dilengkapi dengan patok-patok yang jelas. Hal ini dimaksudkan untuk
membantu petugas/operator dalam melaksanakan kegiatan pembuangan
sehingga sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Beberapa pengaturan perlu disusun dengan rapi diantaranya:
a. Peletakan tanah penutup
b. Letak titik pembongkaran sampah dari truk
c. Manuver kendaraan saat pembongkaran
d. Pembongkaran Sampah
Letak titik pembongkaran harus diatur dan diinformasikan secara jelas
kepada pengemudi truk agar mereka membuang pada titik yang benar
sehingga proses berikutnya dapat dilaksanakan dengan efisien.
Titik bongkar umumnya diletakkan di tepi sel yang sedang dioperasikan
dan berdekatan dengan jalan kerja sehingga kendaraan truk dapat dengan
mudah mencapainya. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa titik
bongkar yang ideal sulit dicapai pada saat hari hujan akibat licinnya jalan
kerja. Hal ini perlu diantisipasi oleh penanggungjawab TPA agar tidak
terjadi.
Jumlah titik bongkar pada setiap sel ditentukan oleh beberapa faktor:
1) Lebar sel
2) Waktu bongkar rata-rata

11
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

3) Frekuensi kedatangan truk pada jam puncak


4) Harus diupayakan agar setiap kendaraan yang datang dapat segera
mencapai titik bongkar dan melakukan pembongkaran sampah agar
efisiensi kendaraan dapat dicapai.
9. Perataan dan Pemadatan Sampah
Perataan dan pemadatan sampah dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi
pemanfaatan lahan yang efisien dan stabilitas permukaan TPA yang baik.
Kepadatan sampah yang tinggi di TPA akan memerlukan volume lebih kecil
sehingga daya tampung TPA bertambah, sementara permukaan yang stabil
akan sangat mendukung penimbunan lapisan berikutnya.
Pekerjaan perataan dan pemadatan sampah sebaiknya dilakukan dengan
memperhatikan efisiensi operasi alat berat.
Pada TPA dengan intensitas kedatangan truk yang tinggi, perataan dan
pemadatan perlu segera dilakukan setelah sampah dibongkar. Penundaan
pekerjaan ini akan menyebabkan sampah menggunung sehingga pekerjaan
perataannya akan kurang efisien dilakukan.
Pada TPA dengan frekuensi kedatangan truk yang rendah maka perataan dan
pemadatan sampah dapat dilakukan secara periodik, misalnya pagi dan siang.
Perataan dan pemadatan sampah perlu dilakukan dengan memperhatikan
kriteria pemadatan yang baik:
a. Perataan dilakukan selapis demi selapis
b. Setiap lapis diratakan sampah setebal 20 cm – 60 cm dengan cara
mengatur ketinggian blade alat berat
c. Pemadatan sampah yang telah rata dilakukan dengan menggilas sampah
tersebut 3-5 kali
d. Perataan dan pemadatan dilakukan sampai ketebalan sampah mencapai
ketebalan rencana
10. Penutupan Tanah
Penutupan TPA dengan tanah mempunyai fungsi maksud sebagai berikut:
a. Untuk memotong siklus hidup lalat, khususnya dari telur menjadi lalat
b. Mencegah perkembangbiakan tikus

12
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

c. Mengurangi bau
d. Mengisolasi sampah dan gas yang ada
e. Menambah kestabilan permukaan
f. Meningkatkan estetika lingkungan
Frekuensi penutupan sampah dengan tanah disesuaikan dengan
metode/teknologi yang diterapkan. Penutupan sel sampah pada sistem
sanitary landfill dilakukan setiap hari, sementara pada control landfill
dianjurkan 3 kali sehari.
Ketebalan tanah penutup yang perlu dilakukan adalah:
• Untuk penutupan sel (sering disebut dengan penutup harian) adalah
dengan lapisan tanah padat setebal 20 cm
• Untuk penutupan antara (setelah 2 - 3 lapis sel harian) adalah tanah padat
setebal 30 cm
• Untuk penutup terakhir, yang dilakukan pada saat suatu blok
pembuangan telah terisi penuh, dilapisi dengan tanah padat setebal
minimal 50 cm
11. Pemeliharaan TPA
Pemeliharaan TPA dimaksudkan untuk menjaga agar setiap prasarana dan
sarana yang ada selalu dalam kondisi siap operasi dengan unjuk kerja yang
baik.
Seperti halnya program pemeliharaan lazimnya maka sesuai tahapannya perlu
diutamakan kegiatan pemeliharaan yang bersifat preventif untuk mencegah
terjadinya kerusakan dengan melaksanakan pemeliharaan rutin.
Pemeliharaan kolektif dimaksudkan untuk segera melakukan perbaikan
kerusakan-kerusakan kecil agar tidak berkembang menjadi besar dan
kompleks.
a. Pemeliharaan Alat Bermesin
Alat berat dan peralatan bermesin seperti pompa air lindi sangat vital
bagi operasi TPA sehingga kehandalan dan unjuk kerjanya harus
dipelihara dengan prioritas tinggi. Buku manual pengoperasian dan

13
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

pemeliharaan alat berat harus selalu dijalankan dengan benar agar


peralatan tersebut terhindar dari kerusakan.
Kegiatan perawatan seperti penggantian minyak pelumas baik mesin
maupun transmisi harus diperhatikan sesuai ketentuan pemeliharaannya.
Demikian pula dengan pemeliharaan komponen seperti baterai, filter-
filter, dan lain-lain tidak boleh dilalaikan ataupun dihemat seperti banyak
dilakukan.
b. Pemeliharaan Jalan
Kerusakan jalan TPA umumnya dijumpai pada ruas jalan masuk dimana
kondisi jalan bergelombang maupun berlubang yang disebabkan oleh
beratnya beban truk sampah yang melintasinya. Jalan yang berlubang /
bergelombang menyebabkan kendaraan tidak dapat melintasinya dengan
lancar sehingga terjadi penurunan kecepatan yang berarti menurunnya
efisiensi pengangkutan; disamping lebih cepat ausnya beberapa
komponen seperti kopling, rem dan lain- lain.
Keterbatasan dana dan kelembagaan untuk pemeliharaan seringkali menjadi
kendala perbaikan sehingga kerusakan jalan dibiarkan berlangsung lama
tanpa disadari telah menurunkan efisiensi pengangkutan. Hal ini sebaiknya
diantisipasi dengan melengkapi manajemen TPA dengan kemampuan
memperbaiki kerusakan jalan sekalipun bersifat temporer seperti misalnya
perkerasan dengan pasir dan batu.
Bagian lain yang juga sering mengalami kerusakan dan kesulitan adalah jalan
kerja dimana kondisi jalan temporer tersebut memiliki kestabilan yang
rendah; khususnya bila dibangun di atas sel sampah. Cukup banyak
pengalaman memberi contoh betapa jalan kerja yang tidak baik telah
menimbulkan kerusakan batang hidrolis pendorong bak pada dump truck;
terutama bila pengemudi memaksa membongkar sampah pada saat posisi
kendaraan tidak rata / horizontal.
Jalan kerja di banyak TPA juga memiliki faktor kesulitan lebih tinggi pada
saat hari hujan. Jalan yang licin menyebabkan truk sampah sulit bergerak dan
harus dibantu oleh alat berat; sehingga keseluruhan menyebabkan waktu

14
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

operasi pengangkutan di TPA menjadi lebih panjang dan pemanfaatan alat


berat untuk hal yang tidak efisien.
Sekali lagi perlu diperhatikan untuk memperbaiki kerusakan jalan sesegera
mungkin sebelum menjadi semakin parah. Pengurugan dengan sirtu
umumnya sangat efektif memperbaiki jalan yang bergelombang dan
berlubang.
c. Pemeliharaan Lapisan Penutup
Lapisan penutup TPA perlu dijaga kondisinya agar tetap dapat berfungsi
dengan baik. Perubahan temperatur dan kelembaban udara dapat
menyebabkan timbulnya retakan permukaan tanah yang memungkinkan
terjadinya aliran gas keluar dari TPA ataupun mempercepat rembesan air
pada saat hari hujan. Untuk itu retakan yang terjadi perlu segera ditutup
dengan tanah sejenis.
Proses penurunan permukaan tanah juga sering tidak berlangsung
seragam sehingga ada bagian yang menonjol maupun melengkung ke
bawah. Ketidakteraturan permukaan ini perlu diratakan dengan
memperhatikan kemiringan ke arah saluran drainase. Penanaman rumput
dalam hal ini dianjurkan untuk mengurangi efek retakan tanah melalui
jaringan akar yang dimiliki.
Pemeriksaan kondisi permukaan TPA perlu dilakukan minimal sebulan
sekali atau beberapa hari setelah terjadi hujan lebat untuk memastikan
tidak terjadinya perubahan drastis pada permukaan tanah penutup akibat
erosi air hujan.
d. Pemeliharaan Drainase
Pemeliharaan saluran drainase secara umum sangat mudah dilakukan.
Pemeriksaan rutin setiap minggu khususnya pada musim hujan perlu
dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan saluran yang
serius.

Saluran drainase perlu dipelihara dari tanaman rumput ataupun semak


yang mudah sekali tumbuh akibat tertinggalnya endapan tanah hasil erosi

15
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

tanah penutup TPA di dasar saluran. TPA di daerah bertopografi


perbukitan juga sering mengalami erosi akibat aliran air yang deras.
Lapisan semen yang retak atau pecah perlu segera diperbaiki agar tidak
mudah lepas oleh erosi air; sementara saluran tanah yang berubah
profilnya akibat erosi perlu segera dikembalikan ke dimensi semula agar
dapat berfungsi mengalirkan air dengan baik
e. Pemeliharaan Fasilitas Penanganan Lindi
Kolam penampung dan pengolah lindi seringkali mengalami
pendangkalan akibat endapan suspensi. Hal ini akan menyebabkan
semakin kecilnya volume efektif kolam yang berarti semakin
berkurangnya waktu tinggal; yang akan berakibat pada rendahnya
efisiensi pengolahan yang berlangsung. Untuk itu perlu diperhatikan agar
kedalaman efektif kolam dapat dijaga.
Lumpur endapan yang mulai tinggi melampaui dasar efektif kolam harus
segera dikeluarkan. Alat berat excavator sangat efektif dalam
pengeluaran lumpur ini. Dalam beberapa hal dimana ukuran kolam tidak
terlalu besar juga dapat digunakan truk tinja untuk menyedot lumpur
yang terkumpul yang selanjutnya dapat dibiarkan mengering dan
dimanfaatkan sebagai tanah penutup sampah.
f. Pemeliharaan Fasilitas Lainnya
Fasilitas-fasilitas lain seperti bangunan kantor / pos, garasi dan
sebagainya perlu dipelihara sebagaimana lazimnya bangunan umum
seperti kebersihan, pengecatan dan lain-lain.
12. Pengawasan Dan Pengendalian
Pengawasan dan pengendalian kegiatan Tempat Pembuangaan Akhir antara
lain:
a. Pengawasan Kegiatan Pembuangan
b. Tujuan Pengawasan dan Pengendalian
Pengawasan dan pengendalian TPA dimaksudkan untuk meyakinkan
bahwa setiap kegiatan yang ada di TPA dilaksanakan sesuai dengan

16
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

rencana yang telah ditentukan dan dapat menjawab pertanyaan-


pertanyaan sbb:
1) Apakah sampah yang dibuang merupakan sampah perkotaan, dan
bukan jenis sampah yang lain?
2) Apakah volume dan berat sampah yang masuk TPA diukur dan
dicatat dengan baik?
3) Apakah sel pembuangan dan titik bongkar sudah ditentukan?
4) Apakah pengemudi sudah diarahkan ke lokasi yang benar?
5) Apakah truk membongkar sampah pada titik yang benar?
6) Apakah tanah penutup telah tersedia?
7) Apakah perataan dan pemadatan dilakukan sesuai rencana?
8) Apakah penutupan telah dilakukan dengan baik?
9) Apakah prasarana dan sarana dioperasikan dan dipelihara dengan
baik?
10) Tata Cara Pengawasan dan Pengendalian
c. Pengawasan dilakukan dengan kegiatan pemeriksaan / pengecekan yang
meliputi:
1) Pemeriksaan kedatangan sampah
2) Pengecekan rute pembuangan
3) Pengecekan operasi pembuangan
4) Pengecekan unjuk kerja fasilitas
Pengendalian TPA meliputi aktivitas untuk mengarahkan operasional
pembuangan dan unjuk kerja setiap fasilitas sesuai fungsinya seperti:
• Pemberian petunjuk operasi pembuangan bila petugas lapangan /operator
melaksanakan tidak sesuai dengan rencana
• Pemeriksaan kualitas pengolahan leachate dan pemberian petunjuk cara
pengoperasian yang baik
• Pendataan dan Pelaporan

Pendataan TPA
1. Data-data TPA yang diperlukan akan mencakup:

17
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

a. Data kedatangan kendaraan pengangkut sampah dan volume sampah


yang diperlukan untuk mengetahui kapasitas pembuangan harian; yang
akan digunakan untuk mengevaluasi perencanaan TPA yang telah
disusun berkaitan dengan kapasitas tampung dan usia pakai TPA. Data
ini dapat dikumpulkan di Pos Pengendali TPA dimana terdapat petugas
yang secara teliti memeriksa, mengukur dan mencatat data tersebut
dengan bantuan Form Kedatangan Truk.
b. Data kondisi instalasi pengolahan lindi khususnya kualitas parameter
pencemar untuk mengetahu efisiensi pengolahan lindi dan potensi
pencemaran yang masih ada. Data ini diperoleh melalui pemeriksaan
kualitas air lindi di laboratorium.
c. Data operasi dan pemeliharaan alat berat yang merupakan data unjuk
kerja alat berat dan pemantauan pemeliharaannya.
2. Pelaporan
Data-data di atas perlu dirangkum dengan baik menjadi suatu laporan yang
dengan mudah memberikan gambaran mengenai kondisi pengoperasian dan
pemeliharaan TPA kepada para pengambil keputusan maupun perencana bagi
pengembangan TPA lebih lanjut.
3. Pengendalian
a. Pengendalian Lalat
Perkembangan lalat dapat terjadi dengan cepat yang umumnya
disebabkan oleh terlambatnya penutupan sampah dengan tanah sehingga
tersedia cukup waktu bagi telur lalat untuk berkembang menjadi larva
dan lalat dewasa. Karenanya perlu diperhatikan dengan seksama batasan
waktu paling lama untuk penutupan tanah. Semakin pendek periode
penutupan tanah akan semakin kecil pula kemungkinan perkembangan
lalat.
Dalam hal lalat telah berkembang banyak, dapat dilakukan penyemprotan
insektisida dengan menggunakan mistblower. Tersedianya pepohonan
dalam hal ini sangat membantu pencegahan penyebaran lalat ke
lingkungan luar TPA.

18
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

b. Pencegahan Kebakaran / Asap


Kebakaran/asap terjadi karena gas metan terlepas tanpa kendali dan
bertemu dengan sumber api. Terlepasnya gas metan seperti telah dibahas
sebelumnya sangat ditentukan oleh kondisi dan kualitas tanah penutup.
Sampah yang tidak tertutup tanah sangat rawan terhadap bahaya
kebakaran karena gas tersebar di seluruh permukaan TPA. Untuk
mencegah kasus ini perlu diperhatikan pemeliharaan lapisan tanah
penutup TPA
c. Pencegahan Pencemaran Air
Pencegahan pencemaran air di sekitar TPA perlu dilakukan dengan
menjaga agar leachate yang dihasilkan di TPA dapat:
1) Terbentuk sesedikit mungkin; dengan cara mencegah rembesan air
hujan melalui konstruksi drainase dan tanah penutup yang baik;
2) Terkumpul pada kolam pengumpul dengan lancar;
3) Diolah dengan baik pada kolam pengolahan; yang kualitasnya secara
periodik diperiksa

D. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)

Definisi dan Pertimbangan Teknis

TPST atau Material Recovery Facility (MRF) didefinisikan sebagai tempat


berlangsungnya kegiatan pemisahan dan pengolahan sampah secara terpusat
(Tchobanoglous, Theisen dan Vigil,1993). Menurut Aryenti dan Darwanti (2012),
TPST adalah sebagai tempat untuk dilaksanakannya kegiatan, pemilahan,
pengumpulan, menggunakan ulang, mendaur ulang, pengolahan sampah. TPS T
dibangun di lingkungan permukiman untuk skala kawasan atau RT/RW. TPST
merupakan tempat pembuangan limbah padat untuk dilakukan pemilahan,
pemrosesan dan disimpan untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan baku dalam
pembuatan dan pemrosesan barang (Dubanowitz, 2000). Fungsi TPST adalah
sebagai tempat berlangsungnya pemisahan, pencucian/pembersihan, pengemasan,
dan pengiriman produk daur ulang sampah.

19
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

1. Kegiatan pokok dalam TPST adalah:


a. pengolahan lebih lanjut sampah yang telah dipilah di sumbemya
b. pemisahan & pengolahan langsung komponen sampah kota
c. peningkatan mutu produk recovery/recycling
2. Konsep pengelolaan TPST
Konsep pengelolaan TPST menurut Aryenti dan Darwanti (2012):
a. Aspek teknis. Pengelolaan sampah dekat dengan sumber, hal mi akan
mengurangi biaya transportasi.
b. Kelembagaan, adanya pihak yang bertanggung jawab dalam mengatur
dan mengawasi pengelolaan sampah di TPST, sehingga dapat
dipertanggungjawabkan.
c. Keuangan, adanya pihak yang mengatur keuangan TPST, sehingga
pengeluaran dan pemasukan uang dapat dipertanggungjawabkan.
d. Manajemen, adanya manajemen antara lain pembukuan yang dapat
dipertanggung jawabkan.
3. Kriteria TPST
Sarana dan prasarana adalah salah satu faktor penunjang dalam menjalankan
kegiatan pengelolaan sampah di TPST. Untuk kebutuhan sarana dan
prasarana dalam pengelolaan sampah di TPST dapat mengacu pada luasnya
daerah pelayanan (Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2009):
a. Untuk kawasan perumahan baru (cakupan pelayanan 2.000 rumah)
diperlukan TPST dengan luas 1.000 m2. Sedangkan untuk cakupan
pelayanan skala RW (200 rumah), diperlukan TPST dengan luas 200-500
m2.
b. TPST dengan luas 1.000 m2 dapat menampung sampah dengan atau
tanpa proses pemilahan sampah di sumber.
c. TPST dengan luas < 500 m2 hanya dapat menampung sampah dalam
keadaan terpilah (50%) dan sampah campur 50%.
d. TPST dengan luas < 200 m2 sebaiknya hanya menampung sampah
tercampur 20% dan sampah yang sudah terpilah 80%.

20
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

e. Fasilitas TPST meliputi wadah komunal, areal pemilahan, areal


pengomposan dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang lain seperti
saluran drainase, air bersih, listrik, barrier (pagar tanaman hidup) dan
gudang penyimpanan bahan daur ulang maupun produk kompos serta
biodigester (opsional).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor


03/PRTIM/2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan
dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga
dalam pasal 32 menyebutkan bahwa persyaratan teknis TPST adalah:
1. Luas TPST , lebih besar dari 20.000 m;
2. Penempatan Lokasi TPST dapat didalam kota atau di TPA;
3. Jarak TPST ke permukiman terdekat paling sedikit 500 m;
4. Pengolahan sampah di TPST dapat menggunakan teknologi dengan ramp dan
sarana pemadatan serta penampungan lindi;
5. Fasilitas TPST dilengkapi dengan ruang pemilah, instalasi pengolahan
sampah, pengendalian pencemaran lingkungan, penanganan residu, dan
fasilitas penunjang serta zona penyangga.

Dalam membangun TPST diperlukan beberapa kriteria berdasarkan PPLP, 2013,


kriteria-kriteria dalam pembangunan TPST adalah :
1. Lokasi TPST
Lokasi sebaiknya jauh dari permukiman penduduk dan industri, dengan
pertimbangan TPST akan mendapatkan daerah penyangga yang baik dan
mampu melindungi fasilitas yang ada. Tetapi tidak menutup kemungkinan
lokasi dekat dengan permukiman atau industri, hanya saja dibutuhkan
pengawasan terhadap pengoperasian TPST sehingga dapat diterima
dilingkungan.
2. Emisi ke lingkungan
TPST yang akan dioperasikan harus melihat kemampuan lingkungan dalam
menerima dampak yang ditimbulkan dari adanya fasilitas TPST, misalnya :
kebisingan, bau, pencemaran udara, estetika yang buruk dan lain-lain.

21
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Pendekatan desain yang terbaik adalah merencanakan dengan baik penentuan


lokasi TPST, menerapkan sistem bersih lokasi dan pengoperasian yang ramah
lingkungan.
3. Kesehatan dan kemanan masyarakat
Kesehatan dan keamanan masyarakat secara umum sangat terkait
denganproses yang ada di dalam TPST. Jika proses di TPST direncanakan
dandilaksanakan dengan baik, maka dampak negatif yang akan ditimbulkan
pada masyarakat dapat diminimalkan.
4. Kesehatan dan keselamatan pekerja
Pengoperasian TPST juga menimbulkan resiko terhadap para pekerja, seperti
kemungkinan adanya paparan dari bahan-bahan toksik yang masuk ke lokasi
TPST, sehingga pekerja harus dilengkapi peralatan safety pribadi. Contoh
peralatan tersebut pakaian yang aman, sepatu boot, sarung tangan, masker dan
lain-lain.
Berdasarkan Sudiatmika (2014), Kriteria sarana dan prasarana tempat
pengolahan sampah terpadu (TPST) adalah:
a. memperhatikan aspek sosial ekonomi masyarakat sekitar;
b. memaksimalkan kegiatan pengolahan dan/atau 3R (reduce, reuse,
recycle) sampah yang menghasilkan revenue;
c. memperhatikan aspek kelayakan pembiayaan dan kewajiban pemerintah
kabupaten;
d. memperhatikan jarak pencapaian dan ketersediaan fasilitas yang ada; dan
e. memperhatikan kecukupan ketersediaan lahan termasuk untuk zona
penyangganya (bufferzone)

Rancangan TPST

TPST sebagai tempat daur ulang sampah, memerlukan fasilitas berdasarkan


komponen sampah yang masuk dan yang akan dikelola. Secara umum menurut
Direktorat PPLP, 2011 dibedakan atas:
1. Fasilitas pre-processing, merupakan tahap awal pemisahan sampah,
mengetahui jenis sampah yang masuk, meliputi proses-proses sebagai berikut

22
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

a. Penimbangan, mengetahui jumlah sampah yang masuk


b. Penerimaan dan penyimpanan, menentukan area untuk mengantisipasi
jika sampah yang terolah tidak secepat sampah yang datang ke lokasi.
2. Fasilitas pemilahan, bisa secara manual maupun mekanis. Secara manual
akan membutuhkan area dan tenaga kerja untuk melakukan pemilahan dengan
cepat, sedangkan secara mekanis akan mempermudah proses pemilahan dan
menghemat waktu. Peralatan mekanis yang digunakan antara lain:
a. Alat untuk memisahkan berdasarkan ukuran: reciprocating screen,
trommel screen, disc screen.
b. Alat untuk memisahkan berdasarkan berat jenis : air classifier, pemisahan
inersi, dan flotation.
3. Fasilitas pengolahan sampah secara fisik, setelah dipilah sampah akan
ditangani menurut jenis dan ukuran material tersebut. Peralatan yang
digunakan antara lain: hammer mill dan shear shredder.
a. Fasilitas pengolahan yang lain seperti komposting.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengelolaan Persampahan

Faktor pendorong dan penghambat operasional TPST didapatkan dari kumpulan


beberapa teori terkait pengelolaan persampahan dan penelitian terdahulu yang
dikumpulkan dan diringkas menjadi satu. Berikut adalah faktor• faktor yang
dijadikan acuan:

Tabel E-2
Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Persampahan
Sumber
No. Faktor-Faktor
1 2 3 4 5
1 Teknis
Keberadaan dan kapasitas RDF √ √ √ √
Jarak TPST ke permukiman √
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) √
2 Pembiayaan
Kemampuan pembiayaan investasi, √ √ √ √ √
operasional dan pemeliharaan
Kebijakan tarif retribusi(iuran) √ √ √ √
3 Sumber Daya Manusia
Jumlah personil/SDM √ √ √
Kualitas SDM √ √ √ √
4 Manajemen
Kewenangan dan Tupoksi Organisasi √ √ √ √ √

23
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Sumber
No. Faktor-Faktor
1 2 3 4 5
Keberadaan SOP √ √ √
Keberadaan Visi dan Misi organisasi √
5 Peran Serta Masyarakat
Kebiasaan dan budaya masyarakat √ √ √
Kemauan masyarakat √ √ √ √
6 Pemerintah
Peraturan tentang pengelolaan Sampah √ √
Komitmen pemerintah Kabupaten √ √ √ √ √
Arah pengembangan wilayah √ √ √ √

Sumber : Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan


Sampah

E.1.2 Aspek Finansial dalam Pengelolaan Sampah

Aspek finansial merupakan salah satu aspek yang cukup penting dalam
pengelolaan persampahan. Pendanaan untuk pengelolaan sampah yang tidak
mencukupi akan berdampak buruk pada kegiatan pengelolaan yang ada. Kegiatan
yang kurang pendanaan akan membuat terhambatnya program dan kegiatan yang
sudah dicanangkan pemerintah. Berbagai permasalahan yang timbul utamanya
karena keterbatasan dana dari PEMDA setempat. Sebagian besar PEMDA lebih
mengutamakan pembiayaan untuk infrastruktur yang lain dibanding pengelolaan
sampah. Sebagian besar PEMDA mengalokasikan dana untuk pengelolaan
sampah sebesar 5-20 %. Dalam SNI-03-3242-1994 yang mengatur tata cara
pengelolaan sampah dipermukiman, perkiraan perbandingan pembiayaan dari
total pengelolaan sampah yaitu : biaya pengumpulan 20-40 %, biaya
pengangkutan 40-60 % dan biaya pembuangan akhir 10-30 %.

Pembiayaan TPST berdasarkan Dep. PU (2008), terdiri dari biaya investasi, biaya
operasional yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
1. Biaya Investasi.
Biaya investasi sebenamya harus mengikuti harga satuan setempat. Untuk
perkiraan maka digunakan pengalaman dari Best Practice yaitu berkisar
antara Rp. 100 juta -250 juta per ton kapasitas.
2. Biaya Operasi
Biaya operasi TPST yang terdiri dari :

24
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

a. Biaya tetap :
1) Pegawai yang besamya sesuai dengan Upah Minimum Regional
setempat.
2) Asuransi yang berkisar 10 % dari biaya pegawai
b. Pemeliharaan :
1) Bangunan sekitar 1 % dari investasi bangunan per tahun
2) Listrik sekitar 1,5 % dari investasi listrik per tahun
3) Mesin 3 % dari nilai investasi mesin per tahun
c. Biaya Variabel:
1) Bahan bakar
2) Listrik

Analisis kelayakan ekonomi dilakukan dengan tujuan untuk memilih penyediaan


infrastruktur yang paling tepat. Ketepatan tersebut ditentukan berdasarkan lebih
besamya peningkatan kehidupan ekonomi dan sosial yang bisa dihasilkan
dibandingkan dengan altematif penyediaan infrastruktur lainnya. Dengan
penerapan analisis kelayakan ekonomi yang sesuai, penyediaan infrastruktur
publik akan mendorong pertumbuhan kehidupan ekonomi dan sosial berdasarkan
prinsip-prinsip demokrasi ekonomi sesuai dengan amanat UUD 1945.

Analisis kelayakan ekonomi digunakan untuk memastikan apakah manfaat


ekonomi yang dihasilkan dari suatu penyediaan infrastruktur memiliki nilai yang
lebih tinggi dibandingkan dengan biaya ekonominya. Tantangan dari analisis ini
adalah, pertama, tidak semua manfaat dan biaya tersebut terefleksi dalam arus kas
yang terjadi dalam rangka penyediaan infrastruktur. Sebagai contoh, wawasan
lingkungan yang diberikan oleh suatu penyediaan infrastruktur – seperti
pengurangan emisi gas rumah kaca – saat ini tidak selalu muncul dalam arus kas
pendapatan proyek. Sama halnya dengan biaya yang ditanggung oleh masyarakat
yang terdampak – seperti menurunnya pendapatan ekonomi akibat berkurangnya
pengunjung karena adanya jalan tol – tidak masuk dalam arus kas biaya proyek.

25
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Selain itu, harga layanan yang diberikan seringkali tidak mencerminkan nilai
manfaat bagi pengguna9. Dapat pula, biaya yang dikeluarkan untuk input proyek
tersebut tidak mencerminkan nilai ekonomi dan kelangkaannya karena adanya
subsidi Pemerintah. Pasar output dan input yang tidak kompetitif dan distorsi,
seperti subsidi, pengenaan pajak dan pungutan lainnya, menjadi tantangan yang
kedua akibat harga finansial yang terjadi di pasar tidak sama dengan harga
ekonominya.

Manfaat dari pelaksanaan analisis kelayakan ekonomi dengan seksama, akan


dapat membantu pemilik proyek atau PJPK dalam beberapa hal sebagai berikut
ini:
1. Mempertajam tujuan dari suatu proyek penyediaan infrastruktur;
2. Memperjelas apa yang akan terjadi bila proyek tersebut dilaksanakan
dibandingkan dengan bila proyek tersebut tidak dilaksanakan;
3. Mengevaluasi bahwa rencana penyediaan infrastruktur yang akan
dilaksanakan merupakan opsi yang terbaik dibandingkan dengan opsi lainnya;
4. Mengidentifikasi bahwa bagian-bagian dari proyek telah merupakan yang
paling efisien;
5. Mengidentifikasi para pemangku kepentingan yang mendapatkan keuntungan
atau kerugian akibat adanya proyek;
6. Mengevaluasi apakah proyek penyediaan infrastruktur yang direncanakan
dapat berkesinambungan;
7. Mendekatkan kembali fungsi penyediaan infrastruktur dengan fungsi
pelayanan umum dibandingkan dengan penyediaan fasilitas fisik (pengadaan
barang modal);
8. Memastikan bahwa penyediaan infrastruktur yang akan dilakukan
memberikan manfaat bagi masyarakat yang lebih besar dibandingkan dengan
biaya bagi masyarakat

Penyediaan Infrastruktur

26
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Tujuan penyediaan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan layanan umum


diberikan secara jelas dikaitkan dengan target-target terkait dengan kuantitas dan
kualitas layanan umum tersebut.

Identifikasi Proyek Penyediaan Infrastruktur memberikan Gambaran konkrit


mengenai proyek penyediaan infrastruktur yang memberikan informasi mengenai
layanan umum yang akan diberikan, fasilitas infrastruktur yang dibutuhkan pihak-
pihak sebagai pemangku kepentingan proyek serta struktur awal proyek.

Identifikasi proyek penyediaan infrastruktur bertujuan antara lain:


1. Rancangan bagaimana layanan umum dan dampak yang ingin dicapai, bisa
diraih menggunakan opsi-opsi fasilitas infrastruktur yang direncanakan;
2. Gambaran mengenai aspek-aspek fisik dan teknis dari opsi-opsi fasilitas
infrastruktur;
3. Kriteria awal yang dapat digunakan untuk memilih opsi fasilitas infrastruktur
yang paling tepat dalam rangka mencapai target layanan umum dan dampak
yang direncanakan;
4. Gambaran mengenai aspek kelembagaan dan struktur awal proyek;

Tanggapan pemangku kepentingan, khususnya masyarakat, mengenai dampak


dari rencana penyediaan infrastruktur serta kesesuaian dari layanan umum yang
akan diberikan

Proyeksi biaya harus berdasarkan pertimbangan teknis untuk dapat memenuhi


kebutuhan layanan sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam rangka mencapai
target-target spesifik penyelenggara infrastruktur. Selain itu, pertimbangan teknis
juga diperlukan terkait dengan ekstemalitas yang secara langsung disebabkan oleh
implementasi teknologi yang digunakan.

Analisis Finansial

27
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Proyeksi arus kas secara finansial dari rencana penyediaan infrastruktur harus
dalam kondisi berkesinambungan secara finansial atau dengan kata lain layak
secara finansial dan tidak ada kesulitan kas selama periode proyeksi.

Analisis finansial bertujuan Sinkronisasi dengan Kajian Finansial dengan


menggunakan bagian dari hasil kajian tersebut sebagai input untuk analisa Biaya
dan Manfaat.

Proyeksi biaya dan pendapatan dari penyediaan infrastruktur yang direncanakan


dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Analisis finansial dilakukan berdasarkan sudut pandang pemilik proyek,
terlepas apakah pemilik proyek tersebut berkontrak dengan pihak ketiga
untuk sebagian komponen dari penyediaan infrastruktur
2. Proyeksi biaya dan pendapatan telah memperhitungkan profitabilitas dan
kesinambungan pelaksana penyediaan infrastruktur, termasuk bila harus
melibatkan pendanaan (funding) non komersial seperti dukungan Pemerintah
Daerah (APBD), dukungan sektor (APBN) atau dukungan dari lembaga non
komersial lainnya;
3. Proyeksi arus kas dapat berupa harga riil atau harga nominal, khusus untuk
harga nominal perlu ada kejelasan inflasi untuk masing-masing jenis biaya
proyek;
4. Periode arus kas ditentukan oleh pemilik proyek atau regulator

Kelayakan Ekonomi

Suatu proyek penyediaan infrastruktur hanya layak dilaksanakan apabila manfaat


yang diterima oleh masyarakat dari proyek tersebut lebih besar dibandingkan
dengan biaya bagi masyarakat untuk proyek tersebut

Kelayakan ekonomi Memastikan kontribusi proyek penyediaan infrastruktur pada


peningkatan kinerja ekonomi dan sosial masyarakat.

Aspek Kelembagaan

28
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Kelembagaan merupakan salah satu aspek penting dalam keberhasilan


pengelolaan sampah. Pembentukan lembaga yang kuat dan aktif akan berpengaruh
besar pada berjalannya suatu program atau kegiatan. Analisis Kelembagaan
dilakukan terhadap instansi yang mempunyai kewenangan dalam pengelolaan
persampahan terutama TPST berdasarkan struktur organisasi dan Tupoksi masing-
masing bagian. Pengorganisasian pengelolaan TPST sesuai aliran proses
pengolahan sampah. Contoh Struktur organisasi TPST adalah sebagai berikut:

Gambar E-2
Contoh Struktur Organisasi Kelembagaan TPST

Kepala TPST

Sekretaris Bendahara

Seksi Diklat Seksi Daur UlangSeksi Pemilahann


Seksi Pengkomposann Seksi Pemasaran

SDM yang diperlukan untuk seluruh kerja TPST diperkirakan 5 orang untuk
pekerja lapangan, 1 orang untuk bendahara merangkap sekretaris, dan satu kepala
unit. Indikator yang dapat dijadikan acuan untuk melakukan pengukuran kinerja
dari lembaga pengelolaan sampah antara lain : jumlah petugas kebersihan, struktur
pembiayaan, potensi pembiayaan, subsidi pembiayaan, jumlah timbulan sampah,
kapsitas pengumpulan sampah, kapsitas pengangkutan sampah, kapsitas
pengolahan dan pembuangan sampah serta daur ulang.

Proyeksi Penduduk

29
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Pemilihan metode proyeksi penduduk dapat dilakukan secara statistik yaitu


dengan menggunakan rumus standar deviasi (SD) dan rumus koefisien korelasi
(r). Penggunaan koefisien korelasi dimaksudkan untuk menunjukkan tingginya
derajat hubungan antara dua variabel (x dan y) dan nilai koefisien korelasi harus
mendekati 1, sedangkan standar deviasi digunakan untuk menghomogenkan data,
standar deviasi dipilih nilai yang paling kecil (Yusuf R,2005). Metode proyeksi
jumlah penduduk 10 tahun mendatang dihitung dengan menggunakan 3 metode
sebagai bahan perbandingannya. Ketiga metode tersebut antara lain adalah

Metode Aritmatika

Rumus yang digunakan

Pn=Pt + ( K a × x )

(Pt −P 0)
Ka= II-1
t

Dimana:

Pn = Jumlah penduduk n pada tahun mendatang

P0 = Jumlah penduduk pada awal tahun data

Pt = Jumlah penduduk pada akhir tahun data

X = Selang waktu (tahun dari tahun n-tahun terakhir)

t = interval waktu tahun data (n-1)

Metode Geometri

Rumus yang digunakan:

n
Y n=P t (1+r )

30
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

( )
1
Pt ( )
t
r= −1 II-2
P0

Dimana:

Pn = Jumlah penduduk n pada tahun mendatang

P0 = Jumlah penduduk pada awal tahun data

Pt = Jumlah penduduk pada akhir tahun data

n = Jumlah tahun proyeksi

r = Rasio kenaikan penduduk rata-rata pertahun

t = Interval waktu tahun data (n-1)

Metode Least Square

Rumus yang digunakan:

Y n=a+b . X

a=¿ ¿

b=¿ ¿

Dimana:

Yn = Jumlah penduduk pada waktu n tahun mendatang

a, b = Konstanta

X = Pertambahan tahun

n = Jumlah data

Analisis Stakeholder

31
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Penelitian ini melibatkan beberapa stakeholders di dalam proses analisisnya.


Stakeholder utama diperlukan untuk mendapatkan informasi yang representatif
dimana stakeholder yang ada memilki kapasitas dan kompetensi di dalam lingkup
pengelolaan sampah. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis stakeholders untuk
dapat mengidentifikasi stakeholders utama yang layak dijadikan sebagai
narasumber.

Stakeholders adalah orang, kelompok atau institusi yang dikenai dampak dari
suatu intervensi program (baik positif maupun negatif) atau pihak-pihak yang
dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi hasil intervensi tersebut (Mc. Cracken
dalam sholihah 2008). Analisis stakeholders merupakan alat yang penting untuk
memahami konteks sosial dan institusional dari suatu program, proyek ataupun
kebijaksanaan. Alat ini dapat menyediakan informasi awal dan mendasar tentang:
1. Siapa yang akan terkena dampak dari suatu program (dampak positif maupun
negatif).
2. Siapa yang dapat mempengaruhi program tersebut (positif maupun negatif).
3. Individu atau kelompok mana yang perlu dilibatkan dalam program tersebut.
4. Bagaimana caranya, serta kapasitas siapa yang perlu dibangun untuk
memberdayakan mereka dalam berpartisipasi

32
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Gambar E-3
Pemetaan Stakeholder

Penentuan sampling dilakukan setelah stakeholders utama yang menjadi obyek


penelitian dapat teridentifikasi. Pemilihan sampling yang dinilai diharapkan dapat
merepresentasikan masing-masing kelompok stakeholders utama tersebut. Obyek
yang menjadi sampling adalah obyek yang memiliki kapasitas dan dapat
memberikan informasi yang dibutuhkan terkait dengan faktor penghambat dan
pendorong operasional TPST dan penentuan strategi peningkatan kinerja TPST.

E.1.3 Konsep Perancangan Kota

Beberapa pandangan mengenai perancangan kota, antara lain yaitu:

• Merupakan bagian dari rangakaian perencanaan kota yang menyangkut segi


tampilan fisik yang menata bentuk, tatanan, dan estetika lingkungan kota
secara satu kesatuan terpadu antara lingkungan fisik, kehidupan dan
manusianya (Guttheim, 1963).

33
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

• Merupakan suatu proses yang memberikan arahan bagi terwujudnya suatu


lingkungan binaan fisik yang layak yang sesuai dengan aspirasi masyarakat,
kemampuan sumber daya setempat, serta daya dukung lahannya
(Danisworo,1994).

• Merupakan serangkaian aktivitas berkaitan dengan perancangan lingkungan


terbangun dan bagian-bagiannya yang memiliki empat dimensi yaitu struktur,
tampilan yang sesuai, hunian yang permanen dan waktu (Lang John, 1994).

• Merupakan bagian dari proses perencanaan yang berhubungan dengan


kualitas fisik lingkungan, yaitu desain fisik dan keruangan suatu lingkungan
(Shirvani,1985). Perancangan kota merupakan kelanjutan dari perencanaan
kota, karena bagaimanapun hasil dari perencanaan kota masih dianggap
“belum selesai” atau belum dapat diimplementasikan secara penuh.

Elemen perancangan kota:


1. Tata Guna Lahan (Land Use)
Elemen tata guna lahan dalam perancangan kota merupakan elemen utama
atau elemen kunci, karena pengembangan dan pembangunan kawasan kota
baik secara horisontal maupun vertikal selalu didasarkan pada rencana tata
guna lahannya. Tata guna lahan yang berbeda-beda untuk tiap-tiap kawasan
dapat membentuk wajah kota yang berbeda-beda pula. Rencana tata guna
lahan disusun dengan ditekankan pada arahan penggunaan lahan dalam
bentuk dua dimensi dan harus memperhatikan mengenai tipe penggunaan
dalam suatu area, spesifikasi fungsi dan keterkaitan antar fungsi dengan pusat
kota, dan skala fungsinya.
2. Tata Bangunan
Bentuk dan massa bangunan merupakan elemen pengisi terhadap tata guna
lahan. Pertimbangan arahan mengenai bentuk tiga dimensi yang berkaitan
dengan tinggi dan besaran bangunan, penampilan bangunan, serta
konfigurasinya dalam suatu perancangan kota diberikan oleh elemen ini.
Yang perlu diperhatikan dalam bentuk dan massa bangunan adalah :

34
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

 Pembentukan massa bangunan yang tepat, meliputi struktur bangunan,


permukaan tanah dan penempatan objek dalam ruang.

 Pertimbangan mengenai skala yang dipergunakan yang berpengaruh


terhadap visualnya, struktur, ukuran lingkungan dan sirkulasi.

 Pembentukan ruang kota yang dapat memberikan sentuhan bentuk dan rupa
kota, skala dan rasa “enclisure”, dan jenis ruang kota.
Tata bangunan meliputi tatanan bentuk fisik bangunan yang lahir dari
pengaturan kepadatan dan ketinggian bangunan, selubung, posisi sempadan
serta komposisi bangunan. Bangunan pada dasamya ada untuk
mendefinisikan ruang, meskipun sebaliknya ruang dapat mendikte tata
bangunan dengan cara menentukan komposisi bangunan. Unsur-unsur lain
yang menentukan tata bangunan diantaranya adalah wama, material, tekstur,
dan bentuk fasade bangunan.
Dalam setiap pertemuan antar arsitek, hampir dapat dipastikan selalu muncul
ke permukaan perdebatan sengit tentang perlu tidaknya memperbincangkan
tentang identitas arsitektur dan lingkungan. Menurut (Budihardjo: 1998)
wawasan identitas diperlukan sebagai pegangan handal bagi setiap perencana
pembangunan. Di negara Barat konon masyarakat banyak yang begitu jenuh
dengan modemisasi atau arsitektur kontemporer sehingga ada istilah yang
kuno (tua) itulah yang terbaik (Old is the Best). Maka karakter-karakter
bangunan yang memiliki peninggalan bersejarah (historis) haruslah
mendapatkan pelestarian.

3. Sirkulasi dan Parkir


Elemen sirkulasi merupakan elemen yang penting dalam perancangan kota
karena dapat digunakan untuk membagi, mengarahkan, dan mengontrol pola
aktivitas (Shirvani, 1985). Elemen sirkulasi ini meliputi aspek-aspek antara
lain yaitu pencapaian terhadap suatu obyek baik obyek yang berupa bangunan
maupun yang berupa ruang terbuka, bentuk jalan masuk (gerbang),
konfigurasi bentuk (tahapan visual) jalan, hubungan antara ruang dan jalan,

35
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

serta bentuk ruangnya (Ching, 1985). Selain itu sirkulasi juga mencakup
mengenai besaran, kapasitas, dan arah yang digunakan untuk kendaraan
bermotor maupun tidak bermotor.

Elemen kota yang tidak dapat terlepas dari elemen sirkulasi adalah elemen
parkir karena elemen ini mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam visual
pada bentuk fisik dan struktur kota. Yang perlu diperhatikan dalam hal
sirkulasi dan parkir sebagai elemen perancangan kota antara lain yaitu
pembangunan gedung yang harus

dilengkapi dengan area parkir, kebijakan penggunaan ganda lahan parkir


(multi use program) untuk kegiatan yang berlainan waktu, pola parkir paket
(pembagian area per kawasan), dan pengembangan parkir pinggiran kota.
4. Ruang Terbuka Kota (Public Space)
Ruang terbuka di daerah perkotaan dapat digunakan sebagai ruang
pemenuhan kebutuhan public space masyarakat kota, misalnya ruang
rekreasi, taman, hutan kota, dan sebagainya. Ruang terbuka ini juga dapat
dijadikan sebagai tetenger kota apabila ruang terbuka tersebut memiliki nilai
spiritual, sosial, dan estetis. Namun pada perkembangannya, nilai ekonomis
menjadi nilai utama sehingga mampu menggeser keberadaan ruang terbuka,
terutama yang berupa lansekap dan taman.
Ruang publik diartikan secara umum sebagai tempat orang berkumpul dan
melakukan aktivitas dengan tujuan dan kepentingan tertentu serta untuk
saling bertemu, merasa santai, melakukan demonstrasi dan aktivitas belanja
(Carr, 1992: 50). Selain itu, ruang publik juga dapat dipergunakan sebagai
tempat pengadaan event-event spesial dan tempat pertunjukan (Carr, 1992:
128). Dari dua pengertian tersebut dapat diketahui bahwa fungsi dari ruang
publik adalah sebagai tempat pertemuan antar individu dengan masyarakat
sekitamya, antara pemerintah dengan warga, antara penduduk tempatan
dengan pendatang. Lebih lanjut lagi ditambahkan oleh Darmawan (2003: 1)
bahwa fungsi ruang publik antara lain adalah sebagai berikut:

36
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

1. Sebagai pusat interaksi, komunikasi masyarakat baik formal maupun


informal.

2. Sebagai ruang terbuka yang menampung koridor-koridor jalan yang


menuju kearah ruang publik tersebut sebagai pengikat dilihat dari
struktur kota, sekaligus sebagai pembagi ruang-ruang bangunan
disekitamya serta ruang transit bagi masyarakat yang akan pindah kearah
tujuan lain.

3. Sebagai tempat kegiatan PKL yang menjajakan barang dan jasa terutama
pada malam hari.

4. Sebagai paru-paru kota, yang mana masyarakat juga dapat


memanfaatkannya sebagai tempat olahraga, bermain dan santai.
Ruang publik seharusnya mampu mengakomodir sarana dan prasarana untuk
mendapatkan kenikmatan publik seperti taman dengan jalan, bangku, kolam
serta elemen fisik dan visual pendukung seperti trotoar, halaman rumput dan
tanaman untuk mendukung aktivitas-aktivitas rekreasi. Pengakomodiran
tersebut dapat terbentuk sedikitnya oleh dua proses yaitu secara natural dan
dengan pengembangan tertentu,yang bisa melalui penggunaan tertentu
tersebut secara berulang-ulang, misalnya dengan pemberian atraksi pada
waktu-waktu tertentu akan mendorong orang untuk berkumpul di ruang
tersebut (Carr, 1992: 50).
Syarat-syarat yang dibutuhkan ruang publik dalam mengakomodir kebutuhan
orang antara lain adalah (Carr et al, 1992: 19-20 dalam Ariyanti, 2005):

1. Comfortable, yaitu nyaman dan aman ketika beraktivitas;

2. Relaxation, yaitu bisa merasa tenang karena tekanan aktivitas sehari-hari


berkurang dengan berada di dalam ruang tersebut;

3. Passive engagement, yang umumnya merupakan aktivitas “melihat atau


mengamati” sehingga dapat menciptakan rasa dan kenikmatan sendiri

37
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

dan bisa didukung dengan penambahan atraksi-atraksi pada event-event


tertentu dan didukung dengan bentuk fisik yang membuat orang menjadi
tertarik, seperti plaza dan taman serta dengan penambahan unsur air;

4. Active engagement, kegiatan tersebut antara lain adalah bersosialisasi


dengan teman, kenalan, saudara, dan tetangga serta kegiatan rekreasi dan
piknik;

5. Discovery, perasaan tersebut dapat muncul ketika melakukan perjalanan


ke suatu tempat dan bertemu dengan orang yang berbeda di suatu tempat
yang berbeda dari yang sudah mereka kenal.

6. Responsive, yaitu dirancang dan dikelola untuk melayani kebutuhan


penggunanya;

7. Democratic, yaitu terbuka untuk semua kelompok manusia dan dapat


memberikan kebebasan untuk melakukan sesuatu;

8. Meaningfull, dapat memberikan makna tersendiri bagi manusia yang


dirasakan ketika berada didalamnya dan memberikan hubungan yang
kuat antara tempat, kehidupan pribadi dan dunia yang lebih luas.
Kriteria-kriteria yang harus dimiliki dalam suatu ruang publik antara lain
adalah(Marcus et al 1998: 23 dalam Ariyanti, 2005),:

1. Location
Lokasi terbaik suatu ruang publik secara umum dapat diartikan harus
dekat atau tidak berjarak terlalu jauh dengan masyarakat penggunanya
sehingga dapat dicapai dengan berjalan kaki. Lokasi yang dimiliki harus
dapat menarik perhatian dari calon penggunanya atau dengan kata lain
dapat dilihat oleh orang-orang secara umum yang kebetulan lewat atau
berada di daerah sekitar ruang publik tersebut. Ruang publik yang sering
digunakan biasanya berada di suatu area dengan penggunaan lahan

38
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

sebagai daerah perkantoran atau komersial (Chidister, 1986a dalam


Marcus at all, 1998: 23).

2. Size
Ukuran sebuah ruang publik bisa bermacam-macam dan tidak terdapat
aturan yang baku untuk menentukan ukuran suatu ruang publik. Namun
Kevin Lynch (1971) mengusulkan bahwa sampai pada jarak 40-80 kaki
atau sekitar 132-264 meter masih merupakan jarak yang dianggap
nyaman bagi penggunanya. Sedangkan menurut Gehl bahwa 70-100
meter merupakan jarak maksimum untuk menyaksikan even- even
tertentu dalam ruang publik.

3. Visual Complexity
Ruang publik yang mempunyai keberagaman kombinasi wama, bentuk
dan elemen lansekap seperti pohon, patung dan air mancur lebih diminati
oleh masyarakat. Atraksi juga menjadi salah satu daya tarik yang dapat
digunakan untuk mendorong orang untuk menggunakan ruang publik.

4. Uses and activity


Sebuah ruang publik hendaknya dapat mengakomodir kebutuhan
penggunanya untuk dapat bersantai dan menikmati suasana ketenangan
dan kenyamanan di sela- sela kesibukan mereka. Aktivitas-aktivitas yang
biasanya dilakukan masyarakat dalam ruang publik antara lain adalah
duduk-duduk, mengobrol, mengamati sesuatu atau hanya berdiam diri.
Elemen-elemen desain yang sebaiknya disediakan pada ruang publik
diantaranya adalah tanaman, pencahayaan, kolam air mancur, tempat duduk,
telepon, kios, halte, tempat peneduh, jam, tempat sampah, air bersih
(Rubenstein, 1992: 57-96). Ruang publik sendiri dapat mempunyai bentuk
dan jenis yang bermacam-macam, antara lain adalah taman umum, lapangan
dan plaza (ruang seperti lapangan, hanya saja permukaannya berpaving dan
biasanya dengan lokasi dekat dengan jalan raya dan bisa merupakan ruang
tertutup maupun terbuka), taman peringatan (Memmorial Park), pasar, ruang

39
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

jalan bagi pejalan kaki (pedestrian sidewalk), taman bermain, ruang


komunitas (community open space), jalan hijau dan jalan taman (greenways
and parkways), ruang lingkungan (neighbour space) (Carr, 1992: 79).
5. Pedestrian Ways
Jalur pejalan kaki atau pedestrian ways juga merupakan elemen perancangan
kota yang penting. Pedestrian ways ini tidak hanya berfungsi sebagai
penunjang sarana dan prasarana transportasi, memberi keindahan tersendiri
pada wajah kota, tetapi juga sangat mendukung perdagngan dan
meningkatkan vitalitas ruang kota. Hal yang harus diperhatikan dalam
pemenuhan elemen perancangan kota yang berupa elemen jalur pejalan kaki
ini adalah terpenuhinya interaksi antara pejalan kaki dengan jalur kendaraan,
kesesuaian fungsi dengan kebutuhan, keamanan pejalan kaki, dan
kenyamanan baik secara fisik maupun psikologis.
6. Aktivitas Pendukung
Elemen ini merupakan elemen yang mencakup segala aktivitas kota atau
kegiatan masyarakat yang mengisi ruang kota, terutama ruang publik dengan
jenis-jenis aktivitas yang dipengaruhi oleh kegiatan masyarakat, antara lain
perdagangan, pendidikan, rekreasi, transportasi, dan lain-lain. Elemen
aktivitas pendukung ini dapat digunakan untuk menghidupkan suasana dan
ruang kota.
7. Tanda dan Penunjuk (Signage)
Elemen ini memberikan wama tersendiri dan menggambarkan dinamisasi
kehidupan kota karena elemen ini dapat digunakan untuk mengisi ruang
visualisasi kota. Ada dua jenis tanda atau signage yang dapat digunakan
dalam perancangan kota, yaitu yang berupa petunjuk yang dapat
berkomunikasi secara langsung (direct) seperti penunjukan lokasi, identitas
bisnis, dan jasa pelayanan, serta dapat berupa tanda penunjuk yang tidak
langsung (indirect) berupa pembentukan citra dan karakter sebagai tanda
kawasan. Tanda yang diwujudkan dalam bentuk benda secara fungsinya
antara lain dapat berupa tanda pengenal (papan reklame) maupun tanda lalu
lintas (traffic sign).

40
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

8. Preservasi
Dalam konteks perancangan kota, preservasi ini bertujuan untuk melindungi
lingkungan dan ruang-ruang kota (Shirvani, 1985), baik berupa lingkungan
permukiman, urban places (alun-alun, plasa, area perbelanjaan) atau
lingkungan yang mempunyai ciri khas, seperti perlindungan terhadap
bangunan bersejarah.
Manfaat yang didapat dari pelaksanaan preservasi suatu lingkungan dan ruang
kota antara lain adalah :
• Secara ekonomi dapat meningkatkan nilai lahan, menjadikan obyek
wisata yang dapat menghasilkan devisa, lapangan kerja, retribusi, dan
lain-lain.
• Secara kultural dapat menjadi sumber sejarah, media pendidikan,
memperkaya estetika dan meningkatkan “sense of attachment”.
• Secara fungsional dapat bermanfaat untuk fungsi-fungsi tertentu yang
mempunyai ciri khas (klasik) karena dapat menghindarkan pengalihan
bentuk dan fungsi karena aspek komersial.
• Secara sosial dapat meningkatkan nilai lingkungan dan kontribusi bagi
restorasi masyarakat untuk membangun lingkungan

E.1.4 Pendekatan Holistik

Pemahaman secara umum maupun dalam lingkup detail terhadap semua aspek
kegiatan Reviu Rencana Aksi Daerah (RAD) SDGs mutlak diperlukan, agar
tujuan dan sasaran yang diharapkan dapat tercapai sepenuhnya. Berdasarkan
tujuan dan sasaran dari pelaksanaan pekerjaan ini, maka pendekatan umum
terpenting yang menjadi dasar pemikiran adalah berupa pendekatan
gabungan/holistik yang merupakan pendekatan yang menggabungkan antara
Pendekatan Legalistik, Teoritik, dan Empirik untuk mendapatkan hasil yang lebih
baik karena memperhatikan ketiga aspek pendekatan. Secara konseptual,
pendekatan gabungan ini dapat dilihat pada diagram di bawah.

41
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Gambar E-4
Diagram Konseptual Pendekatan Gabungan Legalistik-Teoritik-Empirik

Pendekatan Legalistik pada dasamya adalah mengakomodasikan semua legalitas


yang sudah pemah dibuat dan berlaku untuk menjadi pedoman pada
pengembangan selanjutnya. Yang menjadi pedoman tentu merupakan legalitas
yang tingkatan kekuatan hukumnya lebih tinggi. Apabila ada perbedaan diantara
legalitas yang ada, akan dipakai ketentuan yang ada pada ketetapan legalitas yang
lebih tinggi. Sedangkan apabila legalitas lebih rinci berbeda dengan apa yang akan
dikembangkan, dapat diabaikan dan dapat dibuat ketentuan transisi untuk
mengakomodasikan adanya perbedaan tersebut agar tidak menimbulkan kerugian
bagi pihak-pihak tertentu yang menjadi obyek bagi legalitas yang lebih rinci
tersebut pada waktu sebelumnya.

Karena yang dipakai dasar dalam pendekatan ini adalah aspek legalitas, maka
urutan tingkat kekuatan hukum yang digunakan juga mengikuti ketentuan legal
yang ada. Dalam kaitannya dengan Reviu Rencana Aksi Daerah (RAD) SDGs,
pendekatan ini digunakan agar apa-apa yang akan dilakukan/direncanakan tidak
melanggar ketentuan yang lebih tinggi yang sudah ada, dan dapat
mengakomodasikan ketentuan transisi jika diperlukan karena kebijakan detail
sebelumnya. Oleh karena itu kebijakan mulai dari Undang-Undang, Peraturan

42
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Pemerintah (PP), Pengganti Undang-Undang, Peraturan Presiden, Keputusan


Presiden, Peraturan Menteri, dan Keputusan Menteri yang terkait akan
diperhatikan dan diakomodasikan dalam penyusunannya.

Pendekatan Teoritik, lebih mengedepankan pada aspek teori yang ada. Pendekatan
ini banyak digunakan apabila belum ada pendekatan legalistik sama sekali atau
apabila hendak mereview atau melakukan evaluasi atas legalitas yang sudah ada.
Apabila legalitas yang lebih tinggi sudah ada tetapi legalitas di bawahnya belum
ada dan tidak banyak diatur pada legalitas yang lebih tinggi, maka pendekatan
teoritik dapat lebih diterapkan. Pendekatan teoritik yang berlebihan akan
mengakibatkan aturan menjadi tidak jelas keterkaitannya dengan peraturan
lainnya yang lebih tinggi atau peraturan lainnya yang terkait.

Pendekatan Empirik, lebih mengedepankan pada apa yang terjadi pada kenyataan
di lapangan (empirik), dan mencari solusi atas permasalahan yang terjadi di
lapangan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang terjadi di lapangan selama
ini. Pendekatan empirik yang berlebihan akan menjadikan kebijakan yang diambil
merupakan kebijakan yang ‘trial and error’ dan seringkali merupakan kebijakan
yang ‘incremental’.
Pendekatan Teknoktaris

Merujuk pada Pasal 6-7 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan,
Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah, maka pendekatan yang tepat untuk digunakan dalam
kegiatan Reviu Rencana Aksi Daerah (RAD) SDGs ini adalah pendekatan
teknokratis.

Pendekatan teknokratis yang dimaksud adalah bahwa dalam perencanaan


pembangunan daerah digunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah untuk
mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. Metode dan kerangka berpikir
ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara

43
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

sistematis terkait perencanaan pembangunan berdasarkan bukti fisik, data dan


informasi yang akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Metode dan kerangka berpikir ilmiah tersebut antara lain digunakan untuk:
9. Mereview menyeluruh kinerja pembangunan daerah periode yang lalu.
1. Merumuskan capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib dan pilihan
pemerintahan daerah masa kini.
2. Merumuskan peluang dan tantangan yang mempengaruhi capaian sasaran
pembangunan daerah.
3. Merumuskan tujuan, strategi, dan kebijakan pembangunan daerah.
4. Memproyeksikan kemampuan keuangan daerah dan sumber daya lainnya
berdasarkan perkembangan kondisi makro ekonomi.
5. Merumuskan prioritas program dan kegiatan SKPD berbasis kinerja.
6. Menetapkan tolok ukur dan target kinerja keluaran dan hasil capaian, lokasi
serta kelompok sasaran program/kegiatan pembangunan daerah dengan
mempertimbangkan SPM.
7. Memproyeksikan pagu indikatif program dan kegiatan pada tahun yang
direncanakan, serta prakiraan maju untuk satu tahun berikutnya.
8. Menetapkan SKPD penanggung jawab pelaksana, pengendali, dan evaluasi
rencana pembangunan daerah.

E.1.5 Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan

Definisi pembangunan berkelanjutan diintrepretasikan oleh beberapa ahli secara


berbeda-beda. Namun demikian pembangunan berkelanjutan sebenamya
didasarkan kepada kenyataan bahwa kebutuhan manusia terus meningkat, namun
di sisi lain ketersediaan sumberdaya alam sangat terbatas. Kondisi yang demikian
ini membutuhkan suatu strategi pemanfaatan sumberdaya alam yang efesien.
Disamping itu perhatian dari konsep pembangunan yang berkelanjutan adalah
adanya tanggungjawab moral untuk memberikan kesejahteraan bagi generasi yang
akan datang, sehingga permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan adalah
bagaimana memperlakukan alam dengan kapasitas yang terbatas namun akan

44
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

tetap dapat mengalokasikan sumberdaya secara adil sepanjang waktu dan antar
generasi untuk menjamin kesejahteraannya.

Penyusutan yang terjadi akibat pemanfaatan masa kini hendaknya disertai suatu
bentuk usaha mengkompensasi yang dapat dilakukan dengan menggali
kemampuan untuk mensubstitusi semaksimal mungkin sumberdaya yang langka
dan terbatas tersebut sehingga pemanfaatan sumberdaya alam pada saat ini tidak
mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang
(intergenerational equity).

Definisi pembangunan berkelanjutan menurut Bond et al. (2001) pembangunan


berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan dari kesepakatan multi
dimensional untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik untuk semua orang
dimana pembangunan ekonomi, sosial dan proteksi lingkungan saling
memperkuat dalam pembangunan. Bosshard (2000) mendefinisikan pembangunan
berkelanjutan sebagai pembangunan yang harus mempertimbangkan lima prinsip
kriteria yaitu: (1) abiotik lingkungan, (2) biotik lingkungan, (3) nilai-nilai budaya,
(4) sosiologi, dan (5) ekonomi. Marten (2001) mendefinisikan sebagai pemenuhan
kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kecukupan kebutuhan generasi
mendatang. Pembangunan berkelanjutan tidak berarti berlanjutnya pertumbuhan
ekonomi, karena tidak mungkin ekonomi tumbuh jika ia tergantung pada
keterbatasan kapasitas sumberdaya alam yang ada.

Ada beberapa asumsi dasar serta ide pokok yang mendasari konsep pembangunan
berkelanjutan ini, yaitu:
a) Proses pembangunan ini mesti berlangsung secara berlanjut,
terus menerus ditopang oleh sumberdaya alam, kualitas
lingkungan, dan manusia yang berkembang secara berlanjut.
b) Sumberdaya alam terutama udara, air, dan tanah memiliki
ambang batas, dimana penggunaannya akan menciutkan
kualitas dan kuantitasnya. Penciutan ini berarti berkurangnya
kemampuan sumberdaya alam tersebut untuk menopang

45
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

pembangunan secara berkelanjutan, sehingga menimbulkan


gangguan pada keserasian sumberdaya alam dengan daya
manusia.
c) Kualitas lingkungan berkorelasi langsung dengan kualitas
hidup. Semakin baik kualitas lingkungan, semakin positif
pengaruhnya pada kualitas hidup, yang antara lain tercermin
pada meningkatnya kualitas fisik, harapan hidup, turunnya
tingkat kematian dan lain sebagainya.
d) Pembangunan berkelanjutan memungkinkan generasi
sekarang untuk meningkatkan kesejahteraannya, tanpa
mengurangi kemungkinan bagi generasi masa depan untuk
meningkatkan kesejahteraannya.

Konsep pembangunan yang berkesinambungan memang mengimplikasikan batas,


bukan batas absolut akan tetapi batas yang ditentukan oleh tingkat teknologi dan
organisasi sosial sekarang ini mengenai sumberdaya lingkungan serta oleh
kemampuan biosfer menyerap pengaruh-pengaruh kegiatan manusia, akan tetapi
teknologi untuk memberi jalan bagi era baru pertumbuhan ekonomi.

Dalam definisi diatas dapat dipahami bahwa konsep pembangunan berkelanjutan


didirikan atau didukung oleh 3 pilar, yaitu: ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Ketiga pendekatan tersebut bukanlah pendekatan yang berdiri sendiri, tetapi saling
terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Secara skematis, keterkaitan antar 3
komponen dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut.

46
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Gambar E-5
Pilar Pembangunan Berkelanjutan

Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan


adalah dengan melakukan analisis biaya manfaat atau suatu proyek pembangunan.
Perencanaan pembangunan hendaknya dilakukan secara komprehensip dengan
memperhatikan tujuan-tujuan jangka panjang. Selain itu yang dapat dilakukan
untuk mengurangi eksploitasi sumberdaya secara berlebihan dan menutupi
dampak yang mungkin ditimbulkan dari eksploitasi sumberdaya tersbut adalah
memberikan harga kepada sumberdaya (pricing) dan biaya tambahan (charges).

Jadi sasaran ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan adalah peningkatan


ketersediaan dan kecukupan kebutuhan ekonomi, kelestarian aset yaitu efesiensi
dalam pembangunan sumberdaya dengan pengelolaan yang ramah lingkungan dan
tetap memperhitungkan keadilan bagi masyarakat baik saat ini maupun generasi
yang akan datang. Dalam hal ini pembangunan ekonomi tidak hanya mengejar
efesiensi dan pertumbuhan yang tinggi saja tanpa memperhatikan aspek sosial dan
lingkungan. Pandangan ekologis didasarkan kepada pertimbangan bahwa
perubahan lingkungan akan terjadi di waktu yang akan datang dan dipengaruhi
oleh segala aktifitas manusia.

47
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Tujuan pembangunan yang berkelanjutan memiliki hubungan dengan tujuan


lingkungan. Keberhasilan dan keberlanjutan pembangunan tidak akan tercapai
apabila tidak didukung oleh kondisi lingkungan hidup yang mendukung
pembangunan ekonomi dan sosial. Pembangunan akan terhambat apabila kondisi
sosial ekonomi masyarakat penuh dengan ketidak pastian. Disamping itu
pembangunan tanpa memperhatikan efesiensi penggunaan sumberdaya dan
kelestarian alam akan menyebabkan degradasi alam yang tidak dapat pulih
kembali, sehingga usaha yang dapat dilakukan adalah dengan efesiensi
penggunaan sumberdaya alam dan juga memberikan penilaian terhadap
lingkungan dengan mengevaluasi dampak lingkungan yang ditimbulkannya.
Karena bagaimanapun proses pembangunan yang berjalan sedikit ataupun banyak
akan menimbulkan ekstemalitas negatif dimana masyarakat yang akan merasakan
akibat dari kerusakan tersebut. Masyarakatlah yang menanggung beban berupa
biaya-biaya sosial yang harus ditanggung baik oleh masyarakat saat ini maupun
generasi yang akan datang.

E.1.6 Pendekatan Regional Terpadu (Pengembangan Wilayah)

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses yang mencakup pembentukan


institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri altematif, perbaikan
kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih
baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan
perusahaan-perusahaan baru.

Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk


meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam
upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya
harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena
itu, pemerintah daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan
menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang ada- harus mampu menaksir potensi
sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun
perekonomian daerah.

48
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Perbedaan kondisi daerah membawa implikasi bahwa corak pembangunan yang


diterapkan berbeda pula. Peniruan mentah-mentah pola kebijaksanaan yang
pemah diterapkan dan berhasil pada suatu daerah, belum tentu memberikan
manfaat yang sama bagi daerah lainnya. Jika akan membangun suatu daerah,
kebijakan yang diambil harus sesuai dengan kondisi (masalah, kebutuhan, dan
potensi) daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu, penelitian yang mendalam
tentang keadaan tiap daerah harus dilakukan untuk mendapatkan data dan
informasi yang berguna bagi penentuan perencanaan pembangunan daerah yang
bersangkutan.

Prinsip dasar dari pendekatan regional terpadu adalah sebagai berikut:


 Pusat Pertumbuhan. Untuk dapat memajukan kawasan-kawasan ekonomi
tertentu diperlukan zonasi-zonasi pengembangan. Dalam zonasi tersebut perlu
ditentukan pusat pertumbuhan yang dapat menciptakan pertumbuhan bagi
wilayah-wilayah dalam zonasi tersebut. Penentuan pusat tersebut dapat
mengacu pada beberapa hal antara lain: ketersediaan jaringan prasarana dan
sarana yang ada, aksesibilitas kepada wilayah-wilayah belakangnya dan
sebagainya. Di samping itu, penentuan pusat pertumbuhan juga harus
memperhatikan satuan wilayah pengembangan yang telah ditetapkan dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah.
 Integrasi Fungsional, sektor-sektor perekonomian yang banyak fungsi di
dalamnya harus temaungi dengan baik. Zona-zona yang dikembangkanpun
seharusnya dapat mengintegrasikan fungsi-fungsi zona yang ada.

A. Pendekatan Perencanaan Ekonomi Terpadu

Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan perencanaan yang teliti


mengenai penggunaan sumberdaya publik serta peran sektor swasta, seperti
petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar dan organisasi-organisasi
sosial. Melalui perencanaan pembangunan ekonomi daerah, suatu daerah dilihat
secara keseluruhan sebagai suatu unit ekonomi (economy entity) yang di dalamnya
terdapat berbagai unsur yang terkait satu sama lain.

49
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Pengertian perencanaan secara luas seperti yang didefinisikan oleh


Tjokroamidjajo (1992) adalah proses persiapan secara sistematis kegiatan-
kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara itu,
Conyers dan Hills (1994) mendefinisikan perencanaan sebagai suatu proses yang
berkesinambungan yang mencakup keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan
berbagai altematif pengguna sumberdaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu
pada masa yang akan datang. Berdasarkan definisi tersebut ada empat elemen
dasar perencanaan pembangunan, yaitu: (1) Merencanakan berarti memilih; (2)
Perencanaan merupakan alat pengalokasian sumberdaya; (3) Perencanaan
merupakan alat untuk mencapai tujuan; dan (4) Perencanaan untuk masa depan.

Perencanaan pembangunan ekonomi daerah bisa dianggap sebagai perencanaan


untuk memperbaiki pemanfaatan sumber daya publik yang tersedia di daerah
tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam menciptakan nilai
sumber daya-sumber daya swasta secara bertanggung jawab.

Perencanaan terpadu diartikan sebagai suatu perencanaan yang disusun dengan


melibatkan unit-unit yang lebih kecil dan memperhatikan aspek-aspek bidang
lainnya. Misalnya, perencanaan yang melibatkan semua sektor ekonomi sehingga
hasilnya meliputi semua kegiatan sektor ekonomi, perencanaan yang mengikutkan
peraturan lingkungan, dan perencanaan yang melibatkan beberapa daerah atau
wilayah. Perencanaan terpadu mempunyai empat aspek, yaitu keterkaitan,
kuantitas, optimisasi, dan resiko.

B. Pendekatan Pemberdayaan Stakeholder

Membangun keseimbangan posisi tawar antar stakeholders dengan mendorong


keberpihakan pada masyarakat, membangun hubungan saling menguntungkan
antar stakeholders serta menempatkan masing-masing sesuai fungsinya yakni:
 Pemerintah sebagai fasilitator sekaligus regulator. Pemerintah jangan sampai
masih memiliki kerancuan dalam berperan sebagai provider (penyedia
layanan), bahkan hal ini masih tampak dominan ketimbang peran sebagai

50
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

fasilitator. Oleh karenanya master plan ini diharapkan dapat menonjolkan


peran Pemerintah sebagai fasilitator.
 Sektor swasta sebagai pemilik modal yang berorientasi pada keuntungan.
Akan tetapi ke depan, kepentingan pada keuntungan perlu diimbangi pula
dengan kepentingan lain yang juga memperhatikan soal lingkungan, sosial
budaya dan kepentingan masyarakat, sehingga pada gilirannya terjadi
keseimbangan dan sharing of power.

Masyarakat sebagai pelaku pembangunan dan sekaligus penerima manfaat. Pada


banyak proses pembangunan, masyarakat masih belum banyak berperan. Mereka
tidak pemah diajak bicara dalam menentukan hal-hal strategis bahkan untuk
kepentingan mereka sendiri. Oleh karenanya, master plan ini harus dapat
mengakomodasi kepentingan jangka panjang mereka yang sekaligus juga dapat
meningkatkan posisi tawar jika dibanding stakeholder lainnya.

E.2 METODOLOGI

E.2.1 Kerangka Pikir

Kerangka pikir dari Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) menggunakan


metode kajian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan diperkuat dengan
kuantitatif.
a. Statistik deskriptif
Statistik deskriptif adalah metode berkaitan dengan pengumpulan dan
penyajian suatu data sehingga memberikan informasi yang berguna. Statistik
deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap
objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi. Data yang disajikan
dalam statistik deskriptif biasanya dalam bentuk ukuran pemusatan data.
Salah satu ukuran pemusatan data yang biasa digunakan adalah mean. Selain
dalam bentuk ukuran pemusatan data juga dapat disajikan dalam bentuk salah
satunya adalah diagram pareto dan tabel.

51
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

b. Langkah-langkah analisis yang digunakan untuk pendekatan kuantitatif antara


lain sebagai berikut:
1) Analisis Deskriptif (Univariat)
Menjelaskan/mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang
diteliti.
2) Analisis Analitik
Analisis lebih lanjut setelah diperoleh analisis dari variabel yang diteliti
seperti analisis bivariat dengan pengujian statistik.
3) Analisa Prediksi
Estimasi secara kuantitatif maupun kualitatif dilakukan dengan
menggunakan logika teknik proyeksi secara matematis.

E.2.2 Pengumpulan Data


1. Sumber Primer
Pengumpulan data melalui sumber primer didapat melalu wawancara.
Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi
semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Wawancara
dapat berfungsi deskriptif maupun berfungsi eksploratif. wawancara yang
digunakan adalah wawancara semistruktural yang berarti perpaduan antara
wawancara berstruktur dan tak berstruktur. Hal yang dimaksud adalah
sebelum melakukan wawancara, pewawancara telah menyiapkan daftar
pertanyaan pokok terlebih dahulu untuk menjadi pedoman dalam
berkomunikasi dengan responden. Selanjutnya di dalam proses wawancara
tersebut dapat memunculkan pula berbagai pertanyaan baru yang diperoleh
dari jawaban yang diberikan oleh responden. Oleh sebab itu, dalam
wawancara yang berlangsung akan diperoleh data baru atau yang lebih luas
namun tetap terarah ke masalah penelitian yang sedang dikaji oleh
pewawancara

Pertanyaan yang akan disampaikan mungkin tidak berurut dan pilihan kata-
kata dalam wawancara akan disesuaikan dengan konteks informan. Terhadap
informan yang mungkin mengalami kesulitan dalam penggunaan istilah-

52
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

istilah tertentu maka akan diupayakan mencari istilah sama yang dapat
dimengertinya. Kegunaan dari wawancara ini adalah sebagai pelengkap
metoda pengumpulan data lainnya.

Wawancara dilakukan terhadap responden dengan teknik purposive sampling


yaitu dengan pemilihan responden sesuai dengan jenis informasi yang
didapatkan. Responden yang akan dijadikan narasumber terkait dengan
kelembagaan Pengelolaan RDF.
2. Sumber Sekunder
Sumber sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi. Studi dokumentasi
digunakan untuk menggali data sekunder yang diperlukan guna menunjang
kajian ini, seperti tentang gambaran umum daerah penelitian. Selain itu studi
dokumentasi juga dilakukan mendapatkan berbagai macam dokumen berupa
buku-buku, laporan hasil penelitian, kertas kerja, majalah ilmiah, bulletin,
surat kabar, brosur-brosur yang berkaitan dengan tema kajian. Studi
dokumentasi, literasi, data terkait Persampahan dan BPS.

Pengumpulan data sekunder digunakan untuk proses kajian dengan


pendekatan metode antara lain:
RRA
Rapid Rural Assassment, yaitu metode yang digunakan untuk memetakan
berbagai kondisi infrastruktur, dinamika social ekonomi, kelembagaan
persampahan, di tingkat lokasi secara cepat.
a. PRA
Participatory Rural Assassment, yaitu metode yang digunakan untuk
menginventarisasi, klasifikasi, klarifikasi, dan validasi data sekunder dan
informasi dari subyek program.
b. Mini Transecwalk
Yaitu metode pelibatan subyek program/kegiatan dalam memetakan berbegai
hal seperti (1) kondisi eksisting infrastruktur, (2) aktivitas ekonomi, (3)

53
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

rencana pengembangan infrastruktur dan aktivitas pengelolaan persampahan


yang akan datang kedalam sketsa peta.

E.2.3 Analisis Kebijakan

Kebijakan Pembangunan baiknya akan memberi dampak langsung pada perbaikan


derajat Kesejahteraan masyarakat pekerja baik itu perkerja formal maupun
nonformal. Pada dasamya formulasi kebijakan di dasarkan pada berbagai
pertimbangan politik, sosial-ekonomi, institusi, lingkungan, sumber daya, tingkat
kelayakan, disamping faktor-faktor tehnis. Faktor tehnis ini terdiri dari
kemampuan untuk melaksanakan kebijakan dan tersedianya data dan informasi
yang memadai dan dapat dipercaya.

Tujuan dari analisis kebijakan Pembangunan ini antara lain :


 Sejauh mana kebijakan-kebijakan pusat yang ada tentang Pembangunan dapat
diaplikasikan pada kebijakan pemerintah Provinsi Banten dalam
melaksanakan Pembangunan.
 Untuk melihat kebijakan yang ada di Provinsi Banten apakah sesuai dengan
petunjuk teknis dan pelaksanaan yang telah ditentukan.
 Melihat pelaksanaan dari kebijakan-kebijakan Pembangunan di Provinsi
Banten.

Lima kombinasi metode yang biasa digunakan pada analisis kebijakan Upaya
Pembangunan antara lain adalah :
 Deskriptif,
Merupakan metode yang bersifat monitoring yang menghasilkan informasi
sebab dan akibat kebijakan yang telah dirasakan
 Prediktif
Merupakan metode yang bersifat forecasting yang meramalkan akibat suatu
kebijakan dimasa mendatang
 Evaluatif
Merupakan metode yang bersifat evaluation yang memberikan informasi
tentang manfaat suatu kebijakan

54
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

 Preskriptif
Merupakan metode yang bersifat rekommendation dan pertanyaan advokatif
yang memberikan informasi tentang kemungkinan bahwa serangkaian
tindakan yang akan datang akan mendatangkan manfaat yang bemilai
 Perumusan masalah
Perumusan masalah menjadi dasar dalam melakukan pengkajian-pengkajian

Didalam melakukan analisis kebijakan harus mempunyai kepekaan terhadap


masalah dan kepekaan adanya solusi terhadap masalah tersebut.

Pada prinsipnya analisis kebijakan merupakan pengkajian praktis yang akan


menghasilkan kesimpulan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut.

Pada prinsipnya penggunaan analisis kebijakan ini adalah untuk mengetahui


apakah perubahan kontribusi sektoral yang terjadi telah di dasarkan kepada
strategi kebijakan pembangunan yang tepat, yaitu strategi yang memberikan
dampak yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan
pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan penduduk. Karena untuk melaksanakan
pembangunan dengan sumber daya yang terbatas sebagai konsekuensinya harus
difokuskan kepada pembangunan sektor-sektor yang memberikan dampak
pengganda (multiplier effect) yang besar terhadap sektor-sektor lainnya atau
perekonomian secara keseluruhan

E.3 ANALISIS STATISTIK

Langkah analisis data statistik melalui pentahapan antara lain :


 Definisi masalah
 Pengumpulan Data
 Analisis Data
 Pelaporan hasil analisis

Setelah selesai melakukan pengolahan data, maka langkah selanjutnya adalah data
dianalis. Data mentah (raw data) yang sudah susah payah kita kumpulkan tidak

55
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

akan ada artinya jika tidak dianalisis. Analisis data merupakan kegiatan yang
sangat penting dalam suatu penelitian, karena dengan analis data lah data dapat
mempunyai arti/makna yang dapat berguna untuk memecahkan masalah
penelitian. Pada umumnya analisis data bertujuan untuk:
 Memperoleh gambaran/deskripsi masing-masing variabel
 Membandingkan dan menguji teori atau konsep dengan informasi yang
ditemukan
 Menemukan adanya konsep baru dari data yang dikumpulkan
 Mencari penjelasan apakah konsep baru yang diuji berlaku umum atau hanya
berlaku pada kondisi tertentu.

Analisis data mempunyai posisi strategis dalam suatu kajian. Namun perlu
dimengerti bahwa dengan melakukan analisis tidak dengan sendirinya dapat
langsung menginterpretasikan hasil analisis tersebut. Menginterpretasikan berarti
kita menggunakan hasil analisis guna memperoleh arti/makna.

Interpretasi mempunyai dua bentuk, yaitu: arti sempit dan arti luas. Interpretasi
dalam arti sempit (deskriptif) yaitu interpretasi data yang dilakukan hanya sebatas
pada masalah penelitian yang diteliti berdasarkan data yang dikumpulkan dan
diolah untuk keperluan penelitian tersebut. Sedang interpretasi dalam arti luas
(analik) yaitu interpretasi guna mencari makna dan hasil penelitian dengan jalan
tidak hanya menjelaskan/menganalisis data hasil kajian tersebut, tetapi juga
melakukan intervensi (generalisasi) dari data yang diperoleh denagn teori-teori
yang relevan dengan hasil-hasil kajian tersebut.

Langkah-langkah analisis yang digunakan untuk pendekatan kuantitatif antara lain


sebagai berikut:
1. Analisis Deskriptif (Univariat)
Tujuan dari analisis ini adalah untuk menjelaskan/mendeskripsikan
karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. Bentuknya tergantung dari
jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai rata-rata (mean), median,
standar deviasi dan inter kuartil range, minimal dan maksimal.

56
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

2. Analisis Analitik
Setelah diketahui karakteristik masing-masing variabel dapat diteruskan
analisis yang lebih lanjut. Apabila analisis hubungan antara dua variabel,
maka analisis dilanjutkan pada tingkat bivariat. Misalnya ingin diketahui
hubungan antara berat badan denagn tekanan darah. Untuk mengetahui
hubungan dua variabel tersebut biasanya digunakan pengujian statistik. Jenis
uji statistik yang digunakan sangat tergantung pada jenis data/variabel yang
dihubungkan. Merupakan analisis yang menghubungkan antara beberapa
variabel independen dengan satu variabel dependen.
3. Analisa Prediksi
Estimasi secara kuantitatif maupun kualitatif harus dilakukan dengan
menggunakan logika teknik proyeksi secara matematis dengan memenuhi
prinsip-prinsip:
a. Menentukan objek yang akan diproyeksi secara utuh, merupakan suatu
entitas yang independen, dapat dikenali kecenderungannya sepanjang
waktu;
b. Melakukan pengamatan runtun waktu (time-series) minimal sama dengan
5 tahun;
c. Mengamati kecenderungan atau faktor pengubah secara kualitatif
maupun kuantitatif;
d. Melakukan ekstrapolasi atau prediksi ke depan, untuk mendapatkan
proyeksi kondisi masa depan;
e. Melakukan prediksi kondisi masa depan yang berkaitan dengan objek-
objek amatan.
Maka dari itu daerah dapat menggunakan metoda pendekatan lain sepanjang
menggambarkan asumsi dan kondisi masa depan yang terukur, terarah dan
dapat dipertanggungjawabkan. Langkah-langkah dalam melakukan teknik
estimasi adalah sebagai berikut:
• Menentukan objek yang akan diproyeksi secara utuh, yaitu suatu entitas
yang dapat dikenali kecenderungan (trend) perkembangannya sepanjang
waktu.

57
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

• Melakukan pengamatan runtun waktu (time-series) terhadap objek


amatan tersebut di atas, minimal sama dengan 5 tahun;
• Analisis Kuantitatif
Menentukan (beberapa) sub-objek amatan sebagaimana diatas:
• Menentukan besaran kuantitatif yang dapat digunakan (antara lain
metoda regresi dalam melakukan prediksi kondisi objek amatan
tersebut);
• Melakukan analisis regresi untuk memproyeksikan untuk 5 tahun ke
depan dengan selang amatan tiap 1 tahun;
• Memprediksi kondisi masa depan dengan cara melakukan
ekstrapolasi;
• Melakukan kajian korelasi antar objek amatan.
• Analisis Kualitatif:
• Menentukan sub-objek amatan berdasarkan butir-butir pada angka 1
di atas yang dianggap penting, diperlukan keberadaannya, dan atau
diperkirakan akan tetap ada (exist) hingga akhir tahun rencana.
• Mengkaji kecenderungan setiap sub-objek amatan, dimana sepanjang
waktu, dimana pengamatan dapat:
 Menjadi lebih besar atau lebih kecil;
 Menjadi lebih baik atau lebih buruk;
 Jenisnya menjadi semakin bervariasi atau berkurang variasinya;
 Semakin terkendali (dapat dikelola) atau semakin tidak
terkendali (tidak dapat dikelola).
• Memprediksi kondisi di masa depan, dengan cara:
 Melakukan perbandingan (comparation) dengan daerah lain
yang bertipologi sama dan tahapan perkembangannya sudah
lebih maju;
 Mengamati kecenderungan yang ada sepanjang waktu, dan
melakukan ekstrapolasi (memperpanjang kecenderungan
tersebut ke masa depan melampaui tahun pengamatan dan
memprediksi akibatnya pada objek amatan);

58
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

 Mempertajam ekstrapolasi dengan pertanyaan:


 apakah di akhir tahun proyeksi (setelah 5 tahun) objek amatan masih ada?
 apakah objek amatan semakin terkendali atau sebaliknya?
 apakah faktor pengubah yang membuat kecenderungan bekerja secara
konsisten?
 tindakan apa yang diperlukan agar faktor penentu kecenderungan atau faktor
pengubah tersebut dapat dikelola.
 Melakukan analisis keterkaitan antar objek amatan dan melakukan analisis
sebab akibat antar objek amatan tersebut.

E.3.1 Analytical Hierarchy Proces (AHP)

Analytical Hierarchy Proces (AHP) adalah analisa yang menyederhanakan suatu


permasalahan yang kompleks yang tidak terstruktur, strategis, dan dinamik
menjadi bagianbagiannya, serta menata dalam suatu hierarki AHP juga
memungkinkan pengguna untuk memberikan nilai bobot relatiif dari suatu kriteria
majemuk (atau altematif majemuk terhadap suatu kriteria) secara intuitif. Model
AHP memakai persepsi manusia yang dianggap expert sebagai input utamanya.
Kriteria ekspert lebih mengacu pada orang yang mengerti benar permasalahan
yang dilakukan, merasakan akibat suatu masalah atau mempunyai kepentingan
terhadap masalah tersebut.

Pilihan bentuk kelembagaan adalah salah satu keputusan manajemen yang paling
penting. Akibatnya, sejumlah besar penelitian telah dikhususkan untuk
pengembangan model matematika untuk menentukan lokasi Pengelolaan RDF.
Bentuk kelembagaan merupakan elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi
sistem pengelolaan persampahan pada Pengelolaan RDF dan menginisialisasi
kecukupan dari kegiatan pengelolaan persampahan relatif. Dengan demikian
bentuk kelembagaan, Pengelolaan RDF harus dipilih dengan hati-hati. Semua
faktor yang mempengaruhi untuk penentuan lokasi harus dipertimbangkan dan
direncanakan dengan baik, oleh karena itu, pemerintah harus mempertimbangkan
pentingnya topik ini dengan setiap keputusan yang diberikan dalam hal implikasi

59
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

ekonomi, sosial dan lingkungan yang kuat sebelum mengumumkan bentuk


kelembagaan yang tepat.

Kerangka kerja konseptual seleksi dapat dilakukan dengan melalui tiga tahap
utama. Pada tahap pertama, area geografis umum untuk pusat logistik
diidentifikasi berdasarkan The Centre of Gravity Principle, dengan
mempertimbangkan faktor- faktor sosial ekonomi. Tahap kedua dari proses
seleksi melibatkan identifikasi lokasi altematif yang akan digunakan untuk arus
lalu lintas kargo dalam suatu wilayah geografis. Tahap ketiga berfokus pada
pemilihan lokasi terbaik di antara altematif lokasi sebagai pusat logistik
berdasarkan pendekatan kuantitatif.

Proses dalam pengambilan keputusan sendiri saat ini telah menjadi sebuah ilmu
matematika. Metode pengambilan keputusan multi kriteria, juga dikenal sebagai
Multi-Criteria DecisionMaking (MCDM), sangat penting dalam proses
pengambilan keputusan. Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan salah
satu metode MCDM yang paling umum digunakan sebagai alat manajemen di
beberapa sektor industri, seperti pengelolaan persampahan, logistik dan juga
pendidikan, dengan tujuan menilai strategi dan kinerja (Tramarico et al., 2015).

Metode AHP dikembangkan awal tahun 1970-an oleh Thomas L. Saaty, seorang
ahli matematika dari Universitas Pittsburg. Metode AHP memiliki suatu
spesifikasi tersendiri dalam memunculkan data dari satu atau banyak ahli dengan
menggunakan skala rasio berpasangan, mengatur struktur hierarkis perbandingan
dengan kriteria dan sub-kriteria antara altematif, menemukan vektor prioritas
dalam setiap kelompok item yang dibandingkan, dan menyusun preferensi lokal
dengan dukungan subkriteria dan kriteria dari semua tingkat hierarki untuk
mendapatkan prioritas global di antara semua altematif (Lipovetsky, 2009).

Tahapan-tahapan dalam Analytical Hierarchy Proces (AHP) adalah sebagai


berikut:
4. Mengidentifikasi Permasalahan

60
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Identifikasi masalah terkait dengan tujuan dalam penelitian, yaitu belum


adanya pelebaran jalan yang menjadi salah satu penyebab masalah kemacetan
di Lokasi Penelitian.
5. Sintesa Hirarki Kriteria
Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini bersala dari sintesa tinjauan
pustaka. Setelah didapat kriteria tersebut, maka akan disusun hirarki dari
masing-masing kriteria.
6. Penyebaran Kuisioner
Penyebaran kuisioner yang berisi perbandingan variabel kuisioner terdiri dari
dua level pertanyaan, yaitu level pertama merupakan perbandingan
kepentingan variabel, level kedua merupakan perbandingan kepentingan antar
sub variabel. Hal tersebut menggunakan skala pembobotan dengan
mengkuantitatifkan pendapat atau persepsi seseorang.

Menurut Saaty (2008), penelitian dengan metode AHP ini tidak membutuhkan
jumlah sampel besar tapi cukup orang-orang kunci (key person) yang mempunyai
peranan dan mengetahui dengan baik tentang bidang yang jadi objek penelitian.
Dalam penelitian ini digunakan Metode AHP untuk mengembangkan hierarki
pemilihan lokasi penelitian terbaik berdasarkan pengetahuan dan pengalaman
beberapa orang ahli di lapangan. AHP sangat efektif dalam mengkuantifikasikan
pengetahuan kualitatif dengan mengukur dimensi intangible. Hal ini penting
karena dimensi intangible, yang dapat diukur hanya dengan penelitian kualitatif,
tidak dapat langsung diukur menggunakan skala absolut.

Skala penilaian perbandingan berpasangan antara lain :


1. Tingkat Kepentingan 1, kedua elemen sama pentingnya
2. Tingkat Kepentingan 3, elemen yang satu sedikit lebih penting daripada
elemen yang lainnya.
3. Tingkat Kepentingan 5, elemen yang satu lebih penting daripada elemen
lainnya.
4. Tingkat Kepentingan 7, Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada
elemen lainnya.

61
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

5. Tingkat Kepentingan 9, Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya


6. Tingkat Kepentingan 2,4,6,8, Nilai di antara dua nilai pertimbangan yang
berdekatan
7. Tingkat Kepentingan Kebalikan, Jika elemen i memiliki salah satu angka di
atas ketika dibandingkan elemen j, maka j memiliki nilai kebalikannya ketika
dibandingkan elemen i

Faisol et al. (2014) menyatakan bahwa terdapat beberapa prinsip yang harus
dipahami dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP, diantaranya adalah: (a)
Decomposition, yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur-unsumya
sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi, (b) Comparative
Judgment, yaitu membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada
suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya. Hasil dari
penilaian ini disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan matrix pairwise
comparison. Proses pembanding dapat dikemukakan dengan penyusunan skala
variabel seperti pada Tabel

Skala Penilaian Kriteria Berpasangan


Skala Keterangan Penilaian
1 kedua elemen sama pentingnya
3 elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya
5 elemen yang satu lebih penting daripada elemen lainnya
7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya
9 Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya
2,4,6,8 Nilai di antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan

(c) Synthesis of Priority, yaitu mencari nilai eigen vektor untuk mendapatkan
local priority, (d) Logical Consistency, yaitu menentukan tingkat konsistensi dari
hasil penilaian.

Proses AHP dapat diringkas dalam empat langkah utama (Tugba Turgut et al.,
2011):
 Langkah 1 : Definisikan masalah dan penentuan tujuannya. Pada
langkah ini, pengambil keputusan menentukan kriteria evaluasi dan altematif.
 Langkah 2 : Pembentukan setiap faktor untuk matriks
perbandingan berpasangan. Pada langkah ini, unsur-unsur nilai perbandingan

62
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

berpasangan ditentukan (oleh para ahli, kuesioner, dan lain-lain). Pertama,


kriteria dibandingkan sesuai dengan tujuan utama. Jika ada sub-kriteria, sub-
kriteria dibandingkan dengan perbandingan berpasangan sehubungan dengan
kriteria yang berkaitan. Kemudian, altematif dibandingkan terhadap kriteria.
Dengan demikian, matriks perbandingan dari model keputusan dapat
terbentuk. Langkah 3: Perhitungan nilai eigen dan vektor eigen. Perbandingan
matriks dengan kriteria n adalah nxn matriks persegi A. Unsur- unsur dari
matriks A adalah aij, yang menggambarkan nilai perbandingan kriteria i
dengan kriteria j, dan elemen aji yang menggambarkan sebaliknya sebagai
1/aij. Matriks W dihitung dengan membagi masing-masing kolom dari A ke
kolom jumlahnya. Kemudian λmax, nilai eigen utama matriks, dapat
ditemukan dengan menggunakan hubungan matematis AW = λmaxW.
Langkah 4: Penentuan altematif yang tepat, dengan menggunakan bobot dari
vektor eigen altematif.

Banyak faktor mempengaruhi penentuan lokasi. Pemilihan lokasi dapat


mengintegrasikan tiga kriteria sustainability utama, yaitu ekonomi, lingkungan,
dan sosial (Rao et al, 2015). Pada penelitian ini juga digunakan 7 (tujuh) sub
kriteria terkait untuk mengevaluasi dan memilih lokasi potensial.

Dengan melihat kondisi lokasi, nilai strategi dan faktor dominan daya saing
daerah maka Kriteria dan Sub Kriteria yang digunakan dalam struktur AHP
kegiatan ini dirumuskan sebagai berikut.

Rumusan Kriteria, Sub Kriteria dan Deskripsi


Kriteria Sub Kriteria Deskripsi
Teknis Keselamatan dan Kesehatan Dukungan terhadap kondisi dan faktor yang dapat
Kerja (K3) berdampak pada keselamatan dan kesehatan tenaga kerja
maupun orang lain
Keberadaan dan kapasitas RDF Dukungan keberadaan dan kapasitas RDF pada
Kabupaten/Kota di Provinsi Banten (mass Balance)
Optimalisasi Sarana dan dukungan terhadap Optimalisasi Sarana dan Prasarana
Prasarana TPST TPST
Pembiayaan beban biaya Mempengaruhi biaya yang dikeluarkan masyarakat
secara merata dalam memperoleh pelayanan
Kemampuan Pembiayaan Mempertimbangkan Kemampuan Pembiayaan Investasi,
Investasi, Operasional dan Operasional dan Pemeliharan dalam menentukan Bentuk
Pemeliharan Kelembagaan

63
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Kriteria Sub Kriteria Deskripsi


Kemudahan Share Kapital fleksibilitas untuk mendapatkan investasi
Investasi
Kelembagaan Manajemen Diperlukan untuk mendukung SDM yang profesional dan
SOP yang ideal dan Mendukung tujuan Organisasi
Pengelolaan sampah terpadu dapat lebih mudah melaksanakan pengelolaan sampah
dan terintegrasi terpadu dan terintegrasi
fleksibilitas kelembagaan fleksibilitas kelembagaan sesuai dengan kondisi Provinsi
Banten
Peran Serta Kebiasaan dan budaya kelembagaan yang lebih mudah untuk mengatasi
Masyarakat masyarakat kebiasaan dan budaya masyarakat
Kemauan Masyarakat kemauan masyarakat yang mempengaruhi keberadaan
TPST dan kegiataan Operasional TPST
mendukung fungsi Pelayanan lokasi akan mengefisienkan fungsi pelayanan yang akan
dikembangkan
Meningkatkan peran Dapat meningkatkan peran masyarakat dalam
Masyarakat pengelolaan Persampahan
Peran Pemerintah Kekuatan Peraturan Daerah Pentingknya peraturan Daerah Provinsi Banten
Komitmen Kabupaten/Kota pentingnya komitmen Kabupaten/kota terutama
dikarenakan kebutuhan TPST
Keseuaian dengan perencanaan kesesuaian dengan perencanaan pembangunan dan
Pembangunan Spasial dan mendukung capaian rencana pembangunan
Sektoral
Sumber : Kesepakatan Rumusan Kriteria

Untuk menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap


tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya maka diperlukan matrik pebandingan
berpasangan.

Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk


kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan
dengan semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan
prioritas secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan
matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan
didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil
keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen
lainnya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria
dari level paling atas hirarki dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen
yang akan dibandingkan.

Hasil perbandingan dari masing-masing elemen akan berupa angka dari 1 sampai
9 yang menunjukkan perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila

64
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil
perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisa
membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada
sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan. Jika untuk aktivitas i
mendapat satu angka dibanding dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai
kebalikannya dibanding dengan i.

Trace Precedence Kriteria Berpasangan


Skala
Kriteria Kriteria
9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Teknis Pembiayaan
Teknis Kelembagaan
Teknis Peran Serta
Masyarakat
Teknis Peran Pemerintah
Pembiayaan Kelembagaan
Pembiayaan Peran Serta
Masyarakat
Pembiayaan Peran Pemerintah
Pembiayaan Manajemen. Usaha
Kelembagaan Peran Serta
Masyarakat
Kelembagaan Peran Pemerintah
Peran Serta Peran Pemerintah
Masyarakat

Sumber : Hasil Kesepakatan Konsep

Trace Precedence Sub Kriteria Berpasangan


Skala
Sub Kriteria Sub Kriteria
9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Teknis
Keselamatan dan
Keberadaan dan
Kesehatan Kerja
kapasitas RDF
(K3)
Keberadaan dan Optimalisasi Sarana
kapasitas RDF dan Prasarana TPST

Optimalisasi Sarana
beban biaya
dan Prasarana TPST
Pembiayaan
Kemampuan
Pembiayaan
beban biaya Investasi,
Operasional dan
Pemeliharan
beban biaya Kemudahan Share
Kapital Investasi

65
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Skala
Sub Kriteria Sub Kriteria
9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kemampuan
Pembiayaan
Kemudahan Share
Investasi,
Kapital Investasi
Operasional dan
Pemeliharan
Kelembagaan
Pengelolaan sampah
Manajemen terpadu dan
terintegrasi
fleksibilitas
Manajemen
kelembagaan
Pengelolaan sampah
fleksibilitas
terpadu dan
kelembagaan
terintegrasi
Peran Serta Masyarakat
Kebiasaan dan Kemauan
budaya masyarakat Masyarakat

Kebiasaan dan mendukung fungsi


budaya masyarakat Pelayanan

Kebiasaan dan Meningkatkan peran


budaya masyarakat Masyarakat

Kemauan mendukung fungsi


Masyarakat Pelayanan

Kemauan Meningkatkan peran


Masyarakat Masyarakat

mendukung fungsi Meningkatkan peran


Pelayanan Masyarakat
Peran Pemerintah
Kekuatan Peraturan Komitmen
Daerah Kabupaten/Kota
Keseuaian dengan
Kekuatan Peraturan perencanaan
Daerah Pembangunan
Spasial dan Sektoral
Keseuaian dengan
Komitmen perencanaan
Kabupaten/Kota Pembangunan
Spasial dan Sektoral
Sumber : Hasil Kesepakatan Konsep

66
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Trace Precedence Berpasangan Antar Lokasi Berdasarkan Kriteria


Skala
Lokasi Lokasi
9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Teknis
Lokasi 1 Lokasi 2
Lokasi 1 Lokasi 3
Lokasi 2 Lokasi 3
Sosial Ekonomi
Lokasi 1 Lokasi 2
Lokasi 1 Lokasi 3
Lokasi 2 Lokasi 3
Lingkungan dan sosial
Lokasi 1 Lokasi 2
Lokasi 1 Lokasi 2
Pembangunan Jangka Panjang
Lokasi 1 Lokasi 2
Lokasi 1 Lokasi 3
Lokasi 2 Lokasi 3
Sumber : Hasil Kesepakatan Konsep

AHP didasarkan atas 3 prinsip dasar yaitu:


c. Dekomposisi
Dengan prinsip ini struktur masalah yang kompleks dibagi menjadi bagian- bagian
secara hierarki. Tujuan didefinisikan dari yang umum sampai khusus. Dalam
bentuk yang paling sederhana struktur akan dibandingkan tujuan, kriteria dan
level altematif. Tiap himpunan altematif mungkin akan dibagi lebih jauh menjadi
tingkatan yang lebih detail, mencakup lebih banyak kriteria yang lain. Level
paling atas dari hirarki merupakan tujuan yang terdiri atas satu elemen. Level
berikutnya mungkin mengandung beberapa elemen, di mana elemen-elemen
tersebut bisa dibandingkan, memiliki kepentingan yang hampir sama dan tidak
memiliki perbedaan yang terlalu mencolok. Jika perbedaan terlalu besar harus
dibuatkan level yang baru.
d. Perbandingan penilaian/ pertimbangan (comparative judgments)
Dengan prinsip ini akan dibangun perbandingan berpasangan dari semua elemen
yang ada dengan tujuan menghasilkan skala kepentingan relatif dari elemen.
Penilaian menghasilkan skala penilaian yang berupa angka. Perbandingan
berpasangan dalam bentuk matriks jika dikombinasikan akan menghasilkan
prioritas.

67
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

e. Sintesa Prioritas
Sintesa prioritas dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan prioritas
dari kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkannya ke tiap elemen
dalam level yang dipengaruhi kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau dikenal
dengan prioritas global yang kemudian digunakan untuk memboboti prioritas
lokal dari elemen di level terendah sesuai dengan kriterianya.

AHP didasarkan atas 3 aksioma utama yaitu :


1. Aksioma Resiprokal
Aksioma ini menyatakan jika PC (EA,EB) adalah sebuah perbandingan
berpasangan antara elemen A dan elemen B, dengan memperhitungkan C sebagai
elemen parent, menunjukkan berapa kali lebih banyak properti yang dimiliki
elemen A terhadap B, maka PC (EB,EA)= 1/ PC (EA,EB). Misalnya jika A 5 kali
lebih besar daripada B, maka B=1/5 A.
2. Aksioma Homogenitas
Aksioma ini menyatakan bahwa elemen yang dibandingkan tidak berbeda terlalu
jauh. Jika perbedaan terlalu besar, hasil yang didapatkan mengandung nilai
kesalahan yang tinggi. Ketika hirarki dibangun, kita harus berusaha mengatur
elemen- elemen agar elemen tersebut tidak menghasilkan hasil dengan akurasi
rendah dan inkonsistensi tinggi.
3. Aksioma Ketergantungan
Aksioma ini menyatakan bahwa prioritas elemen dalam hirarki tidak bergantung
pada elemen level di bawahnya. Aksioma ini membuat kita bisa menerapkan
prinsip komposisi hirarki.

Langkah selanjutnya setelah hasil kuesioner terkumpul adalah dengan melakukan


tabulasi jawaban responden untuk masing-masing pemyataan. Jawaban yang
dipilih adalah jawaban yang paling banyak muncul. Setelah jawaban terpilih,
langkah berikutnya adalah membahas jawaban tersebut dengan para ahli (expert)
untuk menentukan jawaban yang paling tepat, sebelum diolah ke dalam expert
choice.

68
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Contoh Matrik Perbandingan Aij


No. 1 2 3 4 5
1 1 1,00 1,00 1,00 2,00 6,00
2 1,00 1 1,00 1,00 2,00 6,00
3 1,00 1,00 1 0,11 0,11 3,22
4 1,00 1,00 9,00 1 0,11 12,11
5 0,50 0,50 9,00 9,00 1 20,00
4,50 4,50 21,00 12,11 5,22

Setelah mendapatkan nilai dari matrik perbandingan Aij maka dilakukan


normalisasi nilai kriteria dengan membagi nila Aij dengan jumlah kolom nilai Aij.

Contoh matrik normalisasi


1 2 3 4 5
1 0,22 0,22 0,05 0,08 0,38 0,9576
2 0,22 0,22 0,05 0,08 0,38 0,9576
3 0,22 0,22 0,05 0,01 0,02 0,5225
4 0,22 0,22 0,43 0,08 0,02 0,9769
5 0,11 0,11 0,43 0,74 0,19 1,5854
5,0000

Untuk mendapatkan nilai bobot masing-masing kriteria hasil dari pengisian


kuesioner adalah dengan membagi jumlah normalisasi dari tiap kriteria dengan
jumlah semua jumlah normalisasi kriteria yang disebut dengan vektor prioritas

Contoh hasil nilai vector


Jumlah Vektor
No. Kriteria
Normalisasi Prioritas
1 Teknis 0,96 0,1915
2 Pembiayaan 0,96 0,1915
3 Kelembagaan 0,52 0,1045
4 Peran Serta Masyarakat 0,98 0,1954
5 Peran Pemerintah 1,59 0,3171
1,0000

Setiap jawaban atau pengisian kuesioner perlu dilakukan pengujian untuk


mengetahui apakah jawaban dari responden konsisten pada pengisian tiap-tiap
kriterianya dengan menggunakan nilai eigen untuk menghasilkan rasio
konsistensi. Nilai eigen diperoleh dari nilai Aij dibagi dengan nilia vektor priritas
kriteria.

Contoh Matrik Nilai Eigen


1 2 3 4 5
1 0,191522 0,191522 0,104503 0,195372 0,634161
2 0,191522 0,191522 0,104503 0,195372 0,634161
3 0,191522 0,191522 0,104503 0,021708 0,035231
4 0,191522 0,191522 0,940526 0,195372 0,035231

69
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

1 2 3 4 5
5 0,095761 0,095761 0,940526 1,75835 0,31708

Dari hasil ninai eigen dapat diperoleh nilai Nmax yang merupakan total nilai
eigen dibagi dengan vektor prioritas dari kriteria.

Contoh Nilai Nmax


No. TNE TNE/VP
1 1,31708 6,876907
2 1,31708 6,876907
3 0,544486 5,21025
4 1,55417 7,95494
5 3,207479 10,11566
Nilai Eigen Maksimum 7,406933

Setelah mendapatkan nilai Nmax maka dapat diperoleh nilai Ci (indeks


konsistensi) dengan rumus =(Nilai Eigen maksimum-total jumlah
normalisasi)/( total jumlah normalisasi -1).

Dari nilai Ci (indeks konsistensi) diperoleh nilai CR (Rasio Konsistensi) dengan


membagi nilai Ci (indeks konsistensi) dengan nilai Ri, nilai Ri tergantung pada
tabel jumlah kriteria seperti tabel dibawah ini:

Nilai Ri
n 2 3 4 5
Ri 0 0,58 0,9 1,12

Jika nilai CR (Rasio Konsistensi) kurang dari atau sama dengan 0,1 (CR≤0,1)
maka jawaban kuesioner dianggap konsisten.

70
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

71
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

F JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

F.1 PROGRAM KERJA

Program kerja adalah langkah-langkah pengerjaan atau rangkaian kegiatan untuk


melaksanakan dan menyelesaikan penyusunan
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)
, yang disusun berdasarkan lingkup pekerjaan, pendekatan, kerangka
studi, dan metodologi yang digunakan. Secara garis besar program kerja ini dibagi
menjadi 4 (empat) tahap, yaitu: persiapan, pendataan, analisis, dan perumusan.

F.1.1 Persiapan

Penyusunan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) diawali dengan proses


persiapan yang meliputi kegiatan:
1. Mobilisasi Personel dan Peralatan Pendukung
Konsultan melakukan mobilisasi personel tenaga ahli dan tenaga pendukung
yang dilibatkan serta peralatan pendukung yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)
2. Menyiapkan Data Awal
Konsultan menyiapkan data awal yang diperlukan yaitu data mengenai
peraturan perundang-undangan terkait yang berlaku. Berdasarkan jenis
datanya data awal ini merupakan data sekunder. Teknik pengumpulan data
sekunder yang digunakan dalam menyiapkan data awal ini adalah survei ke
instansi terkait dan/atau pencarian data digital berbasis intemet dari sumber
yang resmi dan terpercaya (instansi yang berwenang mengeluarkan data
tersebut).
3. Penajaman Rencana Kerja
Rencana kerja berisi program kerja dan jadwal pelaksanaan pekerjaan.
Program kerja merupakan langkah-langkah pengerjaan atau rangkaian
kegiatan untuk melaksanakan dan menyelesaikan penyusunan
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)
Kota Tangerang. Jadwal pelaksanaan pekerjaan

1
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

merupakan program kerja yang didistribusikan terhadap jangka waktu


pelaksanaan pekerjaan. Penajaman rencana kerja dilakukan melalui
pendalaman kerangka acuan kerja (KAK) serta pendetailan dan penajaman
metodologi yang diusulkan.
4. Review Regulasi
Review regulasi dilakukan untuk memperoleh kerangka hukum penyusunan
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) Kota Tangerang berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Metode analisis yang
digunakan dalam melakukan review regulasi ini adalah metode content
analysis, yaitu suatu metode analisis yang memanfaatkan seperangkat
prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari buku atau dokumen
dengan menarik inferensi-inferensi dari data pada aspek-aspek tertentu dari
konteksnya dan menjustifikasi inferensi tersebut dalam hubungan dengan
faktor-faktor tetap yang ada dalam sistem yang menjadi objek analisis.
Pemilihan metode analisis ini didasari oleh pertimbangan bahwa data yang
digunakan merupakan dokumen peraturan perundang-undangan yang berlaku
yang berkaitan dengan penyusunan
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)
.
5. Persiapan Survei
Proses persiapan survei yang dilakukan dalam penyusunan
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)
Kota Tangerang ini meliputi kegiatan:
a. Mengidentifikasi jenis data yang dibutuhkan.
b. Menyiapkan pedoman teknis pelaksanaan survei yang dilengkapi dengan
perangkat survei termasuk tabel checklist data.
c. Menyusun jadwal pelaksanaan survei dan pembagian tugas personel
pelaksana survei.
d. Menyiapkan perijinan survei.
6. Pelaporan Pendahuluan
Pada tahap persiapan dilakukan penyusunan draft laporan pendahuluan yang
akan didiskusikan dengan pengguna jasa dan stakeholder terkait dalam rapat
pembahasan pendahuluan untuk memperoleh masukan dan saran.

2
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Berdasarkan masukan dan saran dalam rapat pembahasan pendahuluan


tersebut konsultan melakukan finalisasi laporan pendahuluan yang hasilnya
berupa laporan pendahuluan yang akan diserahkan kepada pengguna jasa
sebagai pelaporan pertama.
Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan dalam tahap persiapan ini
antara lain adalah: tersusunnya kerangka penyusunan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, tersusunnya hasil tinjauan literatur dan
tinjauan kebijakan, dan tersusunnya pedoman teknis pelaksanaan survei
beserta jadwal pelaksanaannya. Waktu yang dialokasikan untuk
menyelesaikan tahap ini kurang lebih 1 (satu) bulan atau 30 (tiga puluh) hari
kalender terhitung sejak penandatanganan kontrak dan diterbitkannya surat
perintah mulai kerja (SPMK).

F.1.2 Pendataan

Tahap pendataan dalam penyusunan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)


meliputi kegiatan:
1. Pengumpulan Data
Berdasarkan jenis dan teknik pengumpulannya, data perumahan dan kawasan
permukiman yang dibutuhkan dalam penyusunan
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)
Kota Tangerang meliputi:
a. Data Primer
Teknik pengumpulan data primer yang digunakan adalah penyebaran
kuesioner, wawancara mendalam (depth interview), dan pengamatan
langsung di lapangan (observasi).
b. Data Sekunder
Teknik pengumpulan data sekunder yang digunakan adalah survei ke
instansi terkait dan/atau pencarian data digital berbasis intemet dari
sumber yang resmi dan terpercaya (instansi yang berwenang
mengeluarkan data tersebut). Data sekunder yang dibutuhkan
2. Identifikasi Isu Strategis

3
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan dalam tahap pendataan ini
antara lain adalah: terkumpulnya data yang dibutuhkan, Waktu yang
dialokasikan untuk menyelesaikan tahap ini kurang lebih 1 (satu) bulan atau
30 (tiga puluh) hari kalender sejak penyerahan laporan pendahuluan.

F.1.3 Analisis

Tahap analisis dalam penyusunan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)


meliputi kegiatan:
1. Kajian Kebijakan
Kajian kebijakan dilakukan melalui beberapa analisis sebagai berikut:
a. Analisis implikasi kebijakan pembangunan
b. Analisis implikasi kebijakan pembangunan
2. Analisis Kondisi Sosial, Budaya, dan Kependudukan
Analisis kondisi sosial, budaya, dan kependudukan dilakukan melalui
beberapa analisis
3. Analisis Kondisi Perekonomian
4. Evaluasi

F.1.4 Perumusan

Tahap perumusan dalam penyusunan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)


meliputi kegiatan:
1. Perumusan Tujuan, Kebijakan, dan Strategi
2. Perumusan Target dan Indikator
3. Perumusan Program/kegiatan

F.2 Pelaporan

Laporan yang dihasilkan dari pekerjaan


Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)
ini terdiri atas:
1. Laporan Pendahuluan
a. Laporan Pendahuluan memuat:

4
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

b. Pemahaman konsultan terhadap pelaksanaan studi yang harus dilakukan.


c. Pendekatan dan metodologi pelaksanaan dan alat analisis yang akan
dipergunakan.
d. Organisasi pelaksanaan dan tenaga pelaksana yang akan ditempatkan
dalam studi ini.
e. Rencana kerja dan jadwal pelaksanaan studi.
f. Instrumen (perangkat) dan jadwal pelaksanaan pengumpulan data
2. Laporan Antara
a. Evaluasi target-target dan sasaran Kajian hasil Survei.
b. Analisis berbagai kendala dan masalah dalam upayaPencapaian Analisa
Kelayakan pengelolaan Sampah RDF.
c. Kesimpulan dan rekomendasi upaya mengatasi kendala dan
permasalahan dalamPencapaian Analisa Kelayakan pengelolaan Sampah
RDF.
d. Hasil penyempumaan dari Konsep Laporan Antara dengan
memperhatikan berbagai masukan dan hasil diskusi/pembahasan dengan
pemberi pekerjaan
3. Laporan Akhir
a. Evaluasi target-target dan sasaran Kajian hasil Survei hasil kesepakatan
dari pembahasan Laporan Antara.
b. Analisis berbagai kendala dan masalah dalam upayaPencapaian Analisa
Kelayakan pengelolaan Sampah RDF.
c. Kesimpulan dan rekomendasi upaya mengatasi kendala dan
permasalahan dalamPencapaian Analisa Kelayakan pengelolaan Sampah
RDF.
d. Hasil penyempumaan dari Konsep Laporan Akhir dengan
memperhatikan berbagai masukan dan hasil diskusi/pembahasan dengan
pemberi pekerjaan

5
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

F.2.1 ORGANISASI DAN PERSONIL

Bagian ini menguraikan pemahaman konsultan tentang organisasi pelaksana


pekerjaan serta tugas dan tanggung jawab tenaga ahli dalam melaksanakan dan
menyelesaikan pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF).
Organisasi Pelaksana Pekerjaan

Organisasi pelaksana kegiatan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) pada


dasamya menunjukkan mekanisme hubungan kerja antara pengguna jasa (pemberi
kerja) dengan konsultan pelaksana (penyedia jasa) serta menunjukkan mekanisme
hubungan kerja intemal tim konsultan sendiri. Organisasi yang melibatkan kedua
unsur tersebut disusun sebagai upaya untuk memudahkan koordinasi dalam
pelaksanaan kegiatan. Dalam kegiatan Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan
Jangka Menengah, sebagai pengguna jasa adalah Dinas Lingkungan Hidup Kota
Tangerang, dan sebagai pelaksana pekerjaan (penyedia jasa) adalah tim konsultan.

Untuk menjamin kualitas teknis pekerjaan yang dilakukan oleh konsultan,


pengguna jasa menunjuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), menunjuk Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), dan membentuk Tim Teknis. PPK, PPTK dan
Tim Teknis pekerjaan Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) ini
bertanggung jawab dan bertugas untuk memberikan saran, nasehat, rekomendasi,
serta ikut memantau dan mengawasi kualitas teknis pekerjaan yang dilakukan oleh
konsultan. Sedangkan untuk melaksanakan kegiatan agar dapat berjalan dengan
baik dan benar serta memperoleh hasil seperti yang diharapkan, maka Konsultan
(Penyedia Jasa Konsultansi) membentuk tim pelaksana kegiatan yang dipimpin
oleh seorang Team Leader dengan anggota tim terdiri atas beberapa tenaga ahli.

Adapun Struktur Organisasi Pelaksana pekerjaan


Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)
adalah sebagai berikut:

6
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

Organisasi Pelaksana Pekerjaan

DLH KOTA TANGERANG


PENGGUNA ANGGARAN

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Tim Teknis


Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan

TEAM LEADER

Ahli Perencanaan

TENAGA AHLI TENAGA PENDUKUNG

F.3 JADWAL PELAKSANAAN

Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan Berita Acara Aanwijing, serta
rencana metodologi pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan dalam pekerjaan
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF) ini, maka Konsultan selanjutnya
menyusun jadwal Pelaksanaan Pekerjaan. Dengan adanya hal tersebut diharapkan
agar dalam pelaksanaan pekerjaan nanti dapat berjalan dengan lancar dan dapat
diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Jadwal pelaksanaan pekerjaan ini menggambarkan bahwa setiap pekerjaan /


kegiatan berisikan substansi yang saling melengkapi, sehingga keberhasilan
pekerjaan secara keseluruhan sangat tergantung pada pencapaian keberhasilan
tahapan sebelumnya. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini Konsultan mengusulkan

7
Usulan Teknis
Penyusunan FS Refuse Derived Fuel (RDF)

suatu penjadwalan pelaksanaan pekerjaan secara bertahap, baik di kantor maupun


di lapangan, sampai dengan selesainya pekerjaan dalam bentuk laporan. Jadwal
pelaksanaan pekerjaan disusun atas dasar alokasi waktu yang disyaratkan dalam
KAK dan juga disusun dengan mempertimbangkan keterlibatan tenaga ahli dalam
memberikan hasil-hasil telaahan disiplin ilmu yang relevan dengan studi.
BULAN I
NO. URAIAN KEGIATAN
M1 M2 M3 M4
Tahap Persiapan dan Inventarisasi Data Awal X X X
a. Persiapan dan Mobilisasi Tim Pelaksana
Pekerjaan
1) Mobilisasi Tim Pelaksana Pekerjaan
2) Pemahaman KAK
3) Penajaman Pendekatan, Metodologi, dan
Metode Analisis Pekerjaan
4) Kajian Literature
5) Penyusunan Rencana Kerja dan Jadwal
1
Pelaksanaan Pekerjaan
6) Penyiapan Instrumen/Perangkat dan Jadwal
Pengumpulan Data
b. Persiapan Survey
1) Koordinasi Intemal
2) Penyiapan Checklist Data Sekunder
3) Penyiapan Perangkat Observasi dan
Wawancara
c. Penyusunan Laporan Pendahuluan

Tahap Pengumpulan Data / Informasi X


a. Pengumpulan Data
2 1) Pengumpulan Data Sekunder
2) Pengumpulan Data Primer
b. Kompilasi data

Analisis Data / Informasi X


3 a. Analisa Hirarki Proses
b. Penentuan Analisa Rangking

Tahap Penyusunan Laporan Antara dan Akhir X X


a. Perumusan kesimpulan dan rekomendasi
hasil analisis
4
b. Penyusunan Laporan Antara
c. Pembahasan dan PerbaikanLaporan
d. Penyerahan Laporan Akhir

Anda mungkin juga menyukai