SUBJEK PPN
Dalam hal Pajak Pertambahan Nilai (PPN), ialah orang pribadi dan badan, yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan, melakukan kegiatan penyerahan dan menerima Barang/Jasa
Kena Pajak (BKP/JKP). Hal ini dapat diartikan bahwa sebenarnya seluruh orang bisa diartikan
sebagai subjek PPN atau lebih tepatnya semua orang dalam lingkup wilayah Indonesia,
merupakan subjek PPN.
Jika ditelaah lebih lanjut, subjek PPN dapat dibagi menjadi dua, yakni:
1. Pengusaha Kena Pajak (PKP), dimana PPN dipungut oleh PKP dalam hal:
- PKP melakukan penyerahan BKP
- PKP melakukan penyerahan JKP
- PKP melakukan ekspor BKP, ekspor BKP Tidak Berwujud, ekspor JKP
2. Non-PKP, dimana PPN akan tetap terutang meski yang melakukan kegiatan bukanlah
berstatus PKP, dalam hal:
- Impor BKP
- Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean
- Pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean
- Melakukan kegiatan membangun sendiri
Sementara, orang pribadi yang memanfaatkan BKP/JKP di dalam daerah pabean Indonesia, juga
merupakan subjek PPN. Namun, kewajiban subjek PPN yang memanfaatkan atau mengkonsumsi
BKP/JKP di dalam daerah pabean ini hanya sebatas pada pembayaran PPN, yang umumnya
harga yang dibayarkan oleh konsumen sudah termasuk pungutan PPN.
Kewajiban subjek PPN orang pribadi maupun non-PKP ini diatur dalam UU Nomor 42 Tahun
2009 (UU PPN) Pasal 4 Ayat (1) huruf b dan huruf e, serta Pasal 16C.
Pengusaha kecil juga merupakan subjek PPN dengan kewajiban-kewajiban yang mengikat,
utamanya apabila pengusaha kecil memilih untuk ditetapkan sebagai PKP.
OBJEK PPN
Objek PPN dapat diartikan sebagai barang dan jasa kena pajak yang terkena pungutan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN). Sejatinya semua barang dan jasa merupakan objek PPN, namun ada
beberapa pertimbangan, baik soal ekonomi maupun sosial, maka ada beberapa barang dan jasa
yang tidak dikenakan PPN, sehingga tidak termasuk dalam objek PPN.
Secara sederhana, objek PPN dikelompokan menjadi dua, yakni:
1. Barang Kena Pajak (BKP), yaitu barang berwujud berupa barang bergerak dan barang
tidak bergerak, serta barang tidak berwujud yang dikenakan PPN.
2. Jasa Kena Pajak (JKP), yaitu tiap-tiap kegiatan berupa pelayanan yang dengan
berdasarkan perikatan atau perbuatan hukum memungkinkan suatu barang atau fasilitas
atau kemudahan atau hak, tersedia untuk dipakai. Selain itu, jasa yang dilakukan untuk
menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk
dari pemesan, juga termasuk dalam kategori JKP, yang dikenakan pungutan PPN.
Dua kategori di atas ini merupakan garis besar objek PPN yang tertuang dalam peraturan
perundang-undangan. Secara spesifik, macam-macam objek PPN serta yang tidak termasuk
dalam objek PPN tertuang dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang PPN dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) atau biasa disebut UU PPN dan PPnBM
Landasan Hukum Objek PPN
Sesuai dengan namanya, objek PPN memiliki landasan hukum Undang-Undang Nomor 42
Tahun 2009 tentang PPN dan PPnBM atau biasa disebut UU PPN dan PPnBM.
Secara spesifik, pasal yang mengatur mengenai macam-macam objek PPN dalam UU PPN dan
PPnBM antara lain:
1. Pasal 4 Ayat (1), yang merinci mengenai macam-macam kegiatan yang masuk dalam
objek PPN.
2. Pasal 16C, yang mengatur mengenai objek PPN yang berupa kegiatan membangun
sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau
badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain yang batasan dan tata
caranya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
3. Pasal 16D, yang mengatur tentang pengenaan PPN atas penyerahan BKP berupa aktiva
yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh PKP.
Kategori Objek PPN
Berdasarkan UU PPN dan PPnBM Pasal 4 Ayat (1), kategori yang termasuk objek PPN antara
lain:
1. Penyerahan BKP di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha.
2. Impor BKP.
3. Penyerahan JKP di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha.
4. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
5. Pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
6. Ekspor BKP berwujud oleh PKP.
7. Ekspor BKP tidak berwujud oleh PKP.
8. Ekspor JKP oleh PKP.
Untuk objek PPN berdasarkan UU PPN dan PPnBM Pasal 16C ditujukan pada kegiatan
membangun sendiri, dimana tata caranya diatur dalam PMK, yakni PMK Nomor
163/PMK.03/2012 tentang Batasan dan Tata Cara Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Atas
Kegiatan Membangun Sendiri.
Meski kegiatan membangun ini dilakukan orang pribadi dan tidak digunakan untuk kepentingan
usaha, tetap menjadi objek PPN lantaran pada dasarnya setiap barang yang mengalami
pertambahan nilai akan dikenakan PPN.
Objek PPN atas kegiatan membangun sendiri ini terbagi menjadi dua, yaitu membangun dengan
kontraktor atau benar-benar membangun sendiri. Jika kegiatan membangun menggunakan
kontraktor, maka kontraktor wajib memungut PPN, dengan catatan kontraktor yang disewa
berstatus PKP. Jika kontraktor tidak berstatus PKP, maka wajib pajak akan menanggung
kewajiban setor dan lapor PPN.
Sementara, untuk objek PPN berdasarkan UU PPN dan PPnBM Pasal 16D, dikenakan pada
penjualan barang yang sedari awal tidak diperjual belikan. Perlakuan objek PPN untuk Pasal 16D
ini diberlakukan manakala PKP mengalami kejadian likuidasi atau pembubaran, yang
mengharuskan PKP tersebut menjual aset.
PAJAK MASUKAN
Pajak masukan dalam PPN adalah pajak yang seharusnya dibayar oleh PKP atas:
- Perolehan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak
- Pemanfataan BKP/JKP tidak berwujud dari luar daerah pabean
- Impor Barang Kena Pajak telah dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak pada saat
pembelian barang kena pajak/ jasa kena pajak dalam masa pajak tertentu.
Secara lebih sederhana, bisa dikatakan bahwa pengertian pajak masukan dalam PPN adalah
pajak yang telah dipungut oleh PKP pada saat pembelian barang/jasa kena pajak dalam masa
pajak tertentu. Pajak masukan dijadikan kredit pajak oleh PKP untuk memperhitungkan sisa
pajak yang terutang.
Karakteristik Pajak Masukan
Dalam penerapan pungutan PPN, PKP mengkreditkan pajak masukan dan pajak keluaran dalam
suatu masa pajak yang sama. Apabila dalam masa pajak tersebut pajak keluaran lebih besar,
maka kelebihan pajak keluaran tersebut harus disetorkan ke kas negara.
Sebaliknya, apabila dalam masa pajak tersebut, masa pajak masukan lebih besar dari pajak
keluaran, kelebihan pajak masukan dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya. Dalam tata
cara ini, jumlah yang harus dibayarkan oleh PKP dapat berubah sesuai dengan pajak masukan
yang dibayar.
Pengkreditan Pajak Masukan
1. Pajak masukan dalam satu masa pajak dikreditkan dengan pajak keluaran untuk masa
pajak yang sama.
2. Pajak masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan pajak keluaran
pada masa pajak yang sama dapat dikreditkan pada masa berikutnya paling lama tiga
bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan.
3. PKP yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang
pajak, pajak masukan atas perolehan/impor barang modalnya dapat dikreditkan.
4. Pajak masukan yang dibayar untuk perolehan BKP/JKP harus dikreditkan dengan pajak
keluaran tempat PKP dikukuhkan.
PAJAK KELUARAN
Dalam penerapan pungutan PPN, PKP mengkreditkan pajak masukan dan pajak keluaran dalam
suatu masa pajak yang sama. Apabila dalam masa pajak tersebut pajak keluaran lebih besar,
maka kelebihan pajak keluaran tersebut harus disetorkan ke kas negara.
Sebaliknya, apabila dalam masa pajak tersebut, masa pajak masukan lebih besar dari pajak
keluaran, kelebihan pajak masukan dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya. Dalam tata
cara ini, jumlah yang harus dibayarkan oleh PKP dapat berubah sesuai dengan pajak masukan
yang dibayar.
Pengkreditan Pajak Masukan
1. Pajak masukan dalam satu masa pajak dikreditkan dengan pajak keluaran untuk masa
pajak yang sama.
2. Pajak masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan pajak keluaran
pada masa pajak yang sama dapat dikreditkan pada masa berikutnya paling lama tiga
bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan.
3. PKP yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang
pajak, pajak masukan atas perolehan/impor barang modalnya dapat dikreditkan.
4. Pajak masukan yang dibayar untuk perolehan BKP/JKP harus dikreditkan dengan pajak
keluaran tempat PKP dikukuhkan.
Pajak Keluaran dalam PPN
Berbeda dengan pajak masukan, pengertian pajak keluaran dalam PPN adalah pajak terutang
yang wajib dipungut oleh PKP saat makukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa
Kena Pajak, ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud /
ekspor Jasa Kena Pajak.
Karakteristik Pajak Keluaran
PPN disebut sebagai pajak objektif, karena dalam pemungutannya PPN memberi penekanan
pada objek yang dikenakan pajak. Pengenaan pajak keluaran diawali dengan penetapan tarif
barang. Kemudian dilanjutkan dengan pemungutan pajak oleh penjual.
PKP melakukan transasi jual beli barang artinya, PKP mengambil/memungut rupiah yang
dihasilkan dari penjualan BKP miliknya yang dibeli konsumen yang nantinya juga dapat
berfungsi sebagai kredit pajak. Batas waktu melakukan pengkreditan pajak keluaran adalah 3
bulan setelah masa pajak berakhir sehingga PKP memiliki waktu yang leluasa untuk melakukan
pengkreditan pajak.
PPN MASUKAN YANG TIDAK DAPAT DIKREDITKAN
Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan sesuai pasal 9 ayat 8 UU PPN adalah atas
pengeluaran sebagai berikut :
1. Perolehan BKP/JKP sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP. Ketentuan ini
memberikan kepastian hukum bahwa Pajak Masukan yang diperoleh sebelum pengusaha
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tidak dapat dikreditkan. Contoh : Pengusaha
A melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak pada tanggal
19 April 2010. Pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak diberikan pada tanggal 20
April 2010 dan berlaku surut sejak tanggal 19 April 2010. Pajak Masukan yang diperoleh
sebelum tanggal 19 April 2010 tidak dapat dikreditkan berdasarkan ketentuan ini.
2. Perolehan BKP/JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha.
Yang dimaksud dengan pengeluaran yang langsung berhubungan dengan kegiatan usaha
adalah pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen.
Ketentuan ini berlaku untuk semua bidang usaha, oleh karena itu, meskipun suatu
pengeluaran telah memenuhi syarat adanya hubungan langsung dengan kegiatan usaha,
masih dimungkinkan Pajak Masukan tersebut tidak dapat dikreditkan, yaitu apabila
pengeluaran dimaksud tidak ada kaitannya dengan penyerahan yang terutang Pajak
Pertambahan Nilai.
3. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon,
kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan.
4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari
luar Daerah Pabean sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Ketentuan ini memberikan kepastian hukum bahwa Pajak Masukan yang diperoleh
sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tidak dapat dikreditkan.
Contoh : Pengusaha A melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak pada tanggal 19 April 2010. Pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak diberikan
pada tanggal 20 April 2010 dan berlaku surut sejak tanggal 19 April 2010. Pajak
Masukan atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak
dari luar Daerah Pabean yang diperoleh sebelum tanggal 19 April 2010 tidak dapat
dikreditkan berdasarkan ketentuan ini.
5. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau ayat (9) atau
tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena
Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak.
6. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari
luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6).
7. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya ditagih
dengan penerbitan ketetapan pajak. Dalam hal tertentu dapat terjadi Pengusaha Kena
Pajak baru membayar Pajak Pertambahan Nilai yang terutang atas perolehan atau
pemanfaatan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak setelah diterbitkan ketetapan
pajak. Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar atas ketetapan pajak tersebut tidak
merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.
8. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya tidak
dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang ditemukan
pada waktu dilakukan pemeriksaan. Namun apabila pada saat pemeriksaan diketahui
adanya perolehan BKP/JKP yang telah dibukukan atau dicatat dalam pembukuan PKP,
namun Faktur Pajaknya belum atau terlambat diterima sehingga belum dilaporkan dalam
SPT Masa PPN untuk Masa ybs., maka PM dalam Faktur Pajak tersebut dapat
dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 bulan setelah berakhirnya Masa
Pajak ybs. Contoh : Pemeriksaan SPT Masa Januari 2010 dilakukan tanggal 24 Maret
2010, dan ditemukan FP tanggal 12 Januari 2010 yang baru diterima pada tanggal 22
Maret 2010, dan belum dilaporkan dalam SPT Masa PPN Januari atau Februari 2010,
namun perolehannya sudah dicatat dalam pembukuan, maka Faktur Pajak tertanggal 12
Januari 2010 tersebut tetap dapat dikreditkan dalam Masa PPN Masa Maret atau April
2010.
9. Perolehan Barang Kena Pajak selain barang modal atau Jasa Kena Pajak sebelum
Pengusaha Kena Pajak berproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2a).
10. Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan yang tidak terutang PPN atau
mendapat fasilitas PPN dibebaskan sebagaimana dimaksud dalam Ps 9 ayat (5) dan Ps
16B ayat (3). Yang dimaksud dengan “penyerahan yang tidak terutang pajak” adalah
penyerahan barang dan jasa yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4A dan yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16B. Pengusaha Kena Pajak yang dalam suatu Masa
Pajak melakukan penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang tidak terutang
pajak hanya dapat mengkreditkan Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan
yang terutang pajak. Bagian penyerahan yang terutang pajak tersebut harus dapat
diketahui dengan pasti dari pembukuan Pengusaha Kena Pajak.
PPN YANG DIBEBASKAN
PPN dibebaskan merupakan fasilitas dalam Pajak Pertambahan Nilai. Selain PPN dibebaskan ada
juga fasilitas PPN tidak dipungut. Fasilitas PPN ini dapat diberikan sebagian atau seluruhnya,
baik untuk sementara waktu maupun untuk seterusnya.
Pemberian fasilitas PPN baik PPN dibebaskan dan PPN tidak dipungut terbatas pada hal-hal
sebagai berikut:
- Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam daerah pabean.
- Penyerahan Barang Kena Pajak tertentu/penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu.
- Impor Barang Kena Pajak tertentu.
- Pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean
yang diatur dengan peraturan pemerintah.
- Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari luar daerah pabean di
dalam daerah pabean.
PPN dibebaskan memiliki kode transaksi 08 sedangkan PPN tidak dipungut memiliki kode
transaksi 07.
PPN YANG TIDAK DIPUNGUT
Jika dibaca sekilas, mungkin Anda akan merasa bingung apa sebenarnya perbedaan
fasilitas PPN tidak dipungut dan PPN dibebaskan. Jika mengacu pasal 2 dan pasal 3 dan pasal
16B UU PPN, perbedaan PPN dibebaskan dan PPN tidak dipungut sebagai berikut:
Pajak masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak/perolehan Jasa Kena Pajak
yang atas penyerahannya tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai dapat dikreditkan. Sedangkan
pajak masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak/perolehan Jasa Kena Pajak
yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai tidak dapat
dikreditkan.
FAKUR PAJAK
Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak Pengusaha Kena Pajak (PKP), yang melakukan
penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP).
Artinya, ketika PKP menjual suatu barang atau jasa kena pajak, ia harus menerbitkan Faktur
Pajak sebagai tanda bukti dirinya telah memungut pajak dari orang yang telah membeli
barang/jasa kena pajak tersebut.
Perlu diingat bahwa barang/jasa kena pajak yang diperjualbelikan, telah dikenai biaya pajak
selain harga pokoknya.
PKP adalah bisnis/perusahaan/pengusaha yang melakukan penyerahan barang kena pajak
dan/atau JKP yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PKP harus dikukuhkan terlebih
dahulu oleh DJP, dengan beberapa persyaratan tertentu.
Perlu diingat, Faktur Pajak harus dibuat oleh PKP untuk setiap penyerahan BKP dan/atau JKP,
ekspor BKP tidak berwujud, dan ekspor JKP.
Jenis-jenis Faktur Pajak
1. Faktur Pajak Keluaran adalah faktur pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak saat
melakukan penjualan terhadap barang kena pajak, jasa kena pajak, dan atau barang kena
pajak yang tergolong dalam barang mewah;
2. Faktur Pajak Masukan adalah faktur pajak yang didapatkan oleh PKP ketika melakukan
pembelian terhadap barang kena pajak atau jasa kena pajak dari PKP lainnya;
3. Faktur Pajak Pengganti adalah penggantian atas faktur pajak yang telah terbit sebelumnya
dikarenakan ada kesalahan pengisian, kecuali kesalahan pengisian NPWP. Sehingga,
harus dilakukan pembetulan agar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya;
4. Faktur Pajak Gabungan adalah faktur pajak yang dibuat oleh PKP yang meliputi seluruh
penyerahan yang dilakukan kepada pembeli barang kena pajak atau jasa kena pajak yang
sama selama satu bulan kalender;
5. Faktur Pajak Digunggung adalah faktur pajak yang tidak diisi dengan identitas pembeli,
nama, dan tandatangan penjual yang hanya boleh dibuat oleh PKP Pedagang Eceran;
6. Faktur Pajak Cacat adalah faktur pajak yang tidak diisi secara lengkap, jelas, benar,
dan/atau tidak ditandatangani termasuk juga kesalahan dalam pengisian kode dan nomor
seri. Faktur pajak cacat dapat dibetulkan dengan membuat faktur pjak pengganti;
7. Faktur Pajak Batal adalah faktur pajak yang dibatalkan dikarenakan adanya pembatalan
transaksi. Pembatalan juga harus dilakukan ketika ada kesalahan pengisian NPWP dalam
faktur pajak.
Ada pula dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan faktur pajak. Yaitu
dokumen yang tidak memiliki format sebagaimana faktur pajak pada umumnya, tetapi tetap
dipersamakan kedudukannya.
Contohnya adalah tagihan listrik, tagihan pemakaian air, tagihan telepon selular, dan lain
sebagainya.
Fungsi Faktur Pajak
Faktur Pajak sangat berguna bagi PKP. Dengan adanya faktur pajak maka PKP memiliki bukti
bahwa PKP telah melakukan penyetoran, pemungutan hingga pelaporan SPT Masa PPN sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
Faktur pajak dapat dibetulkan. Jadi jika PKP melakukan suatu kesalahan dalam proses pengisian,
maka PKP dapat melakukan pembetulan. Jika tidak dilakukan pembetulan sama sekali, maka hal
ini akan merugikan PKP yakni pada saat auditor memeriksa pajak PKP.