SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PENYAKIT DIABETES MELITUS
Puput Novel Nainggolan
40190124099
PROFESI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PADALARANG
2024
SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP)
Pokok Bahasan : Edukasi Pengetahuan Mengenai Diabetes Melitus
Sub Pokok Bahasan : Pengertian, Tipe Diabetes, Tanda dan Gejala, Komplikasi, Faktor
Resiko yang Bisa Diubah, Penanganan Diabetes.
Sasaran : Ny. AD
Tanggal Pelaksanaan : Rabu, 16 Oktober 2024
Waktu Pelaksanaan : Pukul 14:00
Tempat : Ruang Maria 6 Rumah Sakit Santo Yusup
A. TUJUAN
1. Tujuan Umum :
Setelah diberikan penjelasan mengenai diabetes melitus selama 20 menit,
diharapkan pasien dan keluarga di ruangan Maria 6 Rumah Sakit Santo Yusup
mampu memahami mengenai penyakit diabetes melitus dan cara penanganannya.
2. Tujuan Khusus :
Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit, pasien dan keluarga diharapkan
mampu :
A. Mengetahui pengertian DM.
B. Mengetahui Tipe DM.
C. Mengetahui tanda dan gejala DM.
D. Mengetahui komplikasi DM.
E. Mengetahui factor resiko DM.
F. Mengetahui penanganan dari DM.
B. MATERI
A. Pengertian DM.
B. Tipe DM.
C. Tanda dan gejala DM.
D. Komplikasi DM.
E. Factor resiko DM.
F. Penanganan dari DM.
C. METODE
1. Ceramah.
2. Tanya jawab.
D. MEDIA & ALAT BANTU
1. Leaflet
E. URAIAN KEGIATAN
Langkah-langkah kegiatan :
Jenis Kegiatan Penyuluh Peserta
Pembukaan (3 menit) 1. Memberikan salam 1. Menjawab salam
2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan
dengan seksama
3. Menyampaikan tujuan
4. Melakukan kontrak waktu
Isi/inti (15 menit) 1. Menjelaskan tentang pengertian DM 1. Mendengarkan dan
2. Menjelaskan tentang tipe DM menyimak materi
3. Menjelaskan tentang tanda yang disampaikan
dan gejala DM oleh penyuluh
4. Menjelaskan tentang 2. Menjawab
komplikasi DM
pertanyaan dari
5. Menjelaskan factor resiko yang dapat
penyuluh
diubah DM 3. Mengajukan
6. Menjelaskan penanganan DM pertanyaan untuk
penyuluh
Penutup (2 menit) 1. Evaluasi dan sesi tanya jawab 1. Menjawab
Menyampaikan salam pertanyaan yang
penutup diberikan penyuluh
Menjawab/membalas
salam
F. EVALUASI
Dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan :
A. Sebutkan pengertian DM.
B. Sebutkan tipe DM.
C. Sebutkan tanda dan gejala DM.
D. Sebutkan komplikasi DM.
E. Sebutkan factor resiko DM.
F. Sebutkan penanganan dari DM.
G. Daftar Pustaka
Raharjo M. 2018. ASUHAN KEPERAWATAN NY. N DENGAN DIABETES
MELITUS DI RUANG KIRANA RUMAH SAKIT TK. III DR. SOETARTO
[Link]://[Link]/2145/1/KTI%20PAK%[Link]
20 Januari 2022.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia (SDKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
LAMPIRAN MATERI
1. Konsep Dasar Penyakit
a. Pengertian
Diabetes Mellitus (DM) merupakan kondisi kronis dimana kadar glukosa dalam tubuh
meningkat dan tubuh tidak mampu menghasilkan banyak hormon insulin atau
berkurangnya efektifitas fungsi insulin (International Diabetes Federation, 2017).
Sedangkan menurut WHO, diabetes mellitus adalah kondisi hiperglikemia kronis yang
disebabkan oleh faktor lingkungan & keturunan secara bersama-sama, mempunyai
karakteristik hiperglikemia kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikontrol.
Dalam pengertian lain, diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang
menimbulkan gangguan multi sistem dengan karakteristik terdapat hiperglikemia
akibat dari defisiensi insulin/kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner & Sudart).
Berdasarkan pengertian yang ada dapat disimpulkan bahwa Diabetes Mellitus (DM)
merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia akibat tubuh
yang tidak dapat memproduksi hormon insulin atau pun fungsi hormon insulin dalam
tubuh tidak berfungsi secara adekuat.
b. Klasifikasi
Terdapat beberapa jenis Diabetes, diantaranya:
Diabetes Melitus (DM) tipe I, merupakan DM yang terjadi akibat
kerusakan sel beta pada pankreas sehingga terjadi defisiensi produksi
insulin.
Diabetes Melitus (DM) tipe II, merupakan DM yang terjadi akibat insulin
yang diproduksi tidak dapat berfungsi dengan baik atau terjadi resistensi
insulin.
Diabetes Melitus gestasional, merupakan diabetes yang terjadi pada masa
kehamilan hingga proses melahirkan.
Diabetes Melitus tipe lainnya, diantaranya seperti kelainan genetik fungsi
sel beta dan kerja insulin, akibat adanya kelainan sistem imunologi serta
sindrom genetik lain dan akibat dari konsumsi obat atau zat kimia (Perkeni,
2015).
c. Patofisiologi
Patofisiologi DM tipe I
Pada kondisi DM tipe I terjadi reaksi autoimun yang bersifat idiopatik atau
terdapat juga beberapa faktor yang tidak diketahui penyebabnya. Reaksi
autoimun yang terjadi menyerang sel beta pankreas yang merupakan sel
penghasil insulin, akibatnya terjadi defisiensi insulin sehingga sekresi
insulin tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme. Karena produksi
insulin yang dikeluarkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme, maka mengakibatkan peningkatan produksi glukosa,
sehingga pasien dengan DM tipe I memiliki ketergantungan terhadap
insulin eksternal setiap hari untuk bertahan hidup (ADA, 2016; IDF, 2015;
Kemenkes, 2011).
Patofisiologi DM tipe II
Faktor utama dari DM tipe II adalah gaya hidup yang tidak sehat, seperti
kurangnya aktivitas fisik, konsumsi makanan tinggi gula dan rendah serat,
serta gizi yang tidak seimbang. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya
hiperinsulinemia. Untuk mengatasinya, tubuh secara alami akan
mengkompensasi agar kadar gula darah dalam tubuh tetap normal. Jika
keadaan seperti ini terus berlangsung maka tubuh akan mengalami
gangguan toleransi terhadap glukosa yang mengakibatkan kerusakan sel
beta, sehingga sel beta tidak dapat mensekresi insulin. Kerusakan sel beta
dan gangguan sekresi insulin ini yang mengakibatkan terjadinya
peningkatan kadar gula darah dalam tubuh (IDAI, 2015; Kemenkes, 2015;
Perkeni, 2015).
d. Manifestasi Klinis
Gejala yang muncul pada penderita DM tipe I dan II tidak banyak yang berbeda,
antara lain seperti :
Sering buang air kecil / poliuria, tingginya kadar gula dalam darah yang
dikeluarkan oleh ginjal selalu diikuti oleh cairan tubuh yang menyebabkan
penderita sering buang air kecil.
Merasa haus dan banyak minum / polidipsi, akibat banyaknya cairan yang
dikeluarkan oleh tubuh mengakibatkan tubuh membutuhkan banyak cairan.
Rasa lapar terus-menerus / polifagia, sel-sel dalam tubuh membutuhkan
banyak nutrisi untuk proses metabolisme yang menyebabkan peningkatan
napsu makan.
Fatigue (kelelahan), muncul akibat dari penurunan kadar glukosa dalam
sel/jaringan. Kadar gula dalam darah yang tinggi tidak dapat masuk secara
optimal akibat penurunan fungsi insulin.
Peningkatan berat badan. Pada DM tipe II terjadi peningkatan berat badan
akibat terganggunya metabolisme karbohidrat dalam tubuh karena
gangguan hormon lainnya. Seblaiknya, pada DM tipe I terjadi penurunan
berat badan.
e. Komplikasi
Komplikasi pada diabetes melitus dapat terjadi secara akut dan kronik,
diantaranya:
1) Komplikasi akut
Reaksi hipoglikemia, merupakan gejala yang timbul akibat tubuh
kekurangan kadar glukosa. Biasanya ditandai dengan gejala: rasa lapar,
gemetar, keringat dingin, pusing,dll.
Koma diabetik, komplikasi ini muncul ketika kadar glukosa dalam
tubuh terlalu tinggi. Biasanya lebih dari 600ml/dl (Setiati S,dkk,2014;
Langlais,2015).
2) Komplikasi kronik
Komplikasi vaskular
Dapat terjadi komplikasi makrovaskular seperti gangguan pada jantung
seperti terjadi aterosklerosis pada pembuluh darah besar (ditandai
dengan gejala nyeri dan rasa tidak nyaman pada dada). Sedangkan
komplikasi pada mikrovaskuler meliputi retinopati pengelihatan kabur),
nefropati (kerusakan jaringan renal), dan neuropati diabetik (gangguan
saluran pencernaan, dan disfungsi kandung kemih)
f. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diabetes secara umum bertujuan untuk meningkatkan kulitas
hidup penderita. Beberapa upaya penatalaksanaan diabetes menurut American
Diabetes Association (ADA) antara lain :
Diet / program perencanaan makan, pengaturan program diet disesuaikan
dengan kalori dan nutrisi yang dibutuhkan oleh masing-masing individu.
Latihan / aktivitas fisik, dibutuhkan untuk menurunkan berat badan dan
memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga kadar glukosa dalam darah dapat
terkendali. Aktivitas fisik baik dilakukan dengan durasi 30 menit/hari atau
150 menit/minggu dengan intensitas sedang.
Pemantauan gula darah, pemeriksaan gula darah teratur perlu dilakukan
untuk menentukan dosis dan pemilihan obat. Selain itu pemeriksaan gula
darah secara rutin juga dapat mengurangi resiko komplikasi.
Terapi farmakologis, terdapat dua jenis terapi farmakologis yaitu secara
oral dan injeksi. Obat-obatan secara oral yang diberikan biasanya
digunakan untuk memicu pengeluaran insulin dan obat-obatan untuk
peningkat sensitivitas insulin. Sedangkan melalui injeksi biasanya
digunakan dalam kondisi hiperglikemi berat atau gagal terapi per oral
dalam dosis optimal.
Edukasi, berikan pengetahuan mengenai pentingnya kepatuhan terhadap
konsumsi obat, berperilaku sehat, atau memodifikasi gaya hidup lebih sehat
agar kadar glukosa dalam darahnya dapat terkendali.