0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan52 halaman

Panduan Lengkap Jenis Oli dan Grease

Diunggah oleh

sholeh rozak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai XLS, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan52 halaman

Panduan Lengkap Jenis Oli dan Grease

Diunggah oleh

sholeh rozak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai XLS, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

I. OIL
1. Fungsi Oli Pelumas Secara Umum
Pelumas, penyekat, pendingin, bantalan, anti karat, pembersih, pemindah tenaga.
(Di jelaskan masing-masing fungsi diatas)
2. Jenis dan Klasifikasi Oli
> Klasifikasi CA, CB, CC, CD, CE, CF, CG, CH ( Api = American Petroleum Institute)

> Kekentalan ( SAE 10 - 50 ) = Society Automotive Engineer


Example Example
Shell Rimula X Shell Sirius X
Shell Rimula X 10 W 15W-40 Shell Rimula X 10 W

SAE Viscosity Grade 10 W 15W-40 SAE Viscosity Grade 10 W

Kinematics Viscosity Kinematics Viscosity

@ 40 C, cST 43.5 100.1 @ 40 C, cST 101

100 C, cST 7,0 14.5 100 C, cST 11

Viscosity Index 100 135 Density @ 15 C, kg/l 0,885

Density @ 15 C, kg/l 0,885 0,890 Flash Point, C 218

Flash Point, C 219 226 Pour Point, C 219

Pour Point, C -33 -27 TBN-E, mg KOH/g -18

Api service CF All Grades Api service CF 4

> Hydraulic Oil ISO - VG ( International Standards Organization - Viscosity Grade )


Example Kekentalan (viscosity) Hydraulic Oil
Shell Tellus Oil 22 32 37 46 68 100

ISO Oil Type HM HM HM HM HM HM

ISO Viscosity Grade 22 32 37 46 68 100

Kinematic Viscosity

@ 0 C, cST 180 338 440 580 1040 1790

@ 40 C, cST 22 32 37 46 68 100

@ 100 C, cST 4.3 5.4 5.9 6.7 8.6 11.1

Viscosity Index (IP226) 100 99 99 98 97 96

Density @ 15 C, kg/l 0.866 0.875 0.875 0.879 0.886 0.891

Flash Point, C 204 209 212 218 223 234

1
Pour Point, C -30 -30 -30 -30 -24 -24

1
evelopment Wara - Adaro

pemindah tenaga.

roleum Institute)

Sirius X
40

40

139

14

0,890

230
226

-18

CF 4

n - Viscosity Grade )
l

1
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

> Gear Oil AGMA, GL-I s/d GL-8A (SAE 60 ~ 250 )


Example
Shell Spirax A 80W 80W-90 85W-140 90 140
SAE Viscosity Grade 80W 80W-90 85W-140 90 140
Kinematics Viscosity
@ 40 C, cST 73.5 154,0 432,0 185,0 559,0
100 C, cST 9,0 15.8 29.9 17.2 32.7
Viscosity Index 85 85 98 99 89

Density @ 15° C, kg/l 0.885 0,900 0.908 0.909 0.918

Flash Point, ° C 154 166 212 170 199

Pour Point, ° C -36 -27 -15 -18 -9

Api Service Class GL-5

> Automatic Transmission Oil ( ATF ).


Example
Shell Donax TX TX
Kinematics Viscosity
@ 40 C, cST 33.2
100 C, cST 7.2
Viscosity Index 189

Density @ 15° C, kg/l 0,847

Flash Point, ° C 152

Pour Point, ° C -45

> Brake Oil.


Example
Shell Donax YB Specific Limit Typical data

Colour Amber FMVMVSS

Kinematics Viscosity @ 100°C, cST All 1,5 min. 2.3 No.116

Density @ 15° C, kg/l 1.075

Minimum Boiling Point, °C 270 DOT 3 , 4

Equilibrium Reflux Boiling Point ERBP, °C 23,0 (SAE205 min) 275

Wet ERBP, °C 155 (SAE140 min.) 175 SAE J1703

pH 7,0 - 11,5 9.2

2
Vapour Lock Temperature 260

2
2
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

3. Standard Kekentalan Hydraulic Oil


ISO - VG ( International Standards Organization ).

4. Standard Kekentalan Engine Oil


SAE ( Society Automotive Engineers )

5. Multi Grade Oil


Oli yang mempunyai sifat kekentalan, dapat menyesuaikan dengan perubahan temperatur.

Contoh : 15W40, ( Untuk ambeient temp -10 C oli tsb mempunyai kekentalan SAE 15 W -

dan pada suhu 100 C, kekentalannya SAE 50.

6. Pengertian Kontaminasi dan Deteriorasi


> Kontaminasi adalah peristiwa rusaknya oli karena pengaruh dari luar.

> Detiriorasi adalah peristiwa rusaknya oli karena pengaruh didalam oli itu sendiri.

> Internal Contamination,…..Wearing in part or engine component.

> External Contamination, Water, fuel, dirts, ashs etc

> Deterioration,…degrade of quality of oil cause oxidation, high temp, high load -

low temp, nitration etc.

7. Aplikasi Oli terhadap pengaruh temperature.


> Lihat dan pelajari pada OMM ( Operation and Maintenance Manual ).

8. Pengertian Oxidation dan Demulsibility


> Oxidation adalah peristiwa kimia yang terjadi pada suhu >50 C, yang menyebabkan -

reaksi antara, Oli + Oksigen Karbondioksida + Air

( CxHx + O2 CO2 + H2O )

> Demulsibility adalah sifat kemampuan oli untuk memisahkan dari air.

9. Viscosity Index ( VI )
> Adalah suatu angka yang menunjukkan kesetabilan viscosity oli thd perubahan suhu.

> VI = 1 ~ 29 Rendah

> VI = 30 ~ 79 Sedang

> VI = 80 ~ 100 Tinggi

> VI = 100 ~ UP Sangat baik

( Standard Industri yang disarankan adalah VI antara 90 ~ 100 ).

3
nt Wara - Adaro

temperatur.

mp, high load -

3
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

10. Mengapa oli harus diganti ?


> Karena sifat-sifat yang dibutuhkan oleh standard pelumasan sudah habis atau turun.

> Adanya Oxidation yang tidak dapat dihindari.

> Adanya Contamination dan Deterioration.

> Angka TBN ( Total Base Number ) turun.

11. Cara Penanganan Oli


> Storage, …..keep out off from direct sun shines and rains.

> Filling Methode, Jangan membiarkan pipa isap pump menyentuh bagian dasar -

dari drum, harus dijaga kebersihan pipa outlet.

Pipa dan pompa harus selalu bersih, jangan sampai bercampur -

dengan pemompaan oli lain jenis ataupun solar.

12. Pengertian dan fungsi additive ( additive asli dari oli) dan tambahan
> Additive adalah zat campuran yang ditambahkan pada base oil untuk mempertinggi -

ketahanan dan kemapuan oli.

> Fungsi additive diantaranya adalah :

> Detergent (pembersih), membersihkan engine dari hasil reaksi -

oksidasi dan menghentikan pembentukan kerak dari material -

yang tidak dapat dilarutkan. Bahan detergent yang digunakan -

diantaranya, sulfonates, phenats, phosponates atau salycilates.

> Penetral asam ( neutralize acid ).

Penetral asam yang dihasilkan oleh proses pembakaran akibat,

kandungan sulfur didalam fuel. Bahan yang digunakan adalah -

Basa Alkali (KOH).

> Pencegah oksidasi, membantu mencegah naiknya viscosity.

( pnenates sulfide, aromatic amines, sulfurid esters, hindered phenols )

> Pencegah terbentuknya endapan lumpur.

( polyisobutenyl succinimides and polyisobutenyl succinic esters)

> Pencegah keausan (alkaline detergents, zinc dithiophosphates, -

alkaline dithicarbamates)

> Pencegah oli menjadi kental (pour point dispersants).

( polymethacrylates, styrene based polysters, alkyl naphthalenes).

4
> Viscosity Index (pencegah menurunnya viscosity pada high temp).

4
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

13. Arti dan Tujuan TBN


> Arti TBN (Total Base Number), adalah angka yang menunjukkan banyaknya kandungan -

Basa di dalam oli.

> Tujuan dimasukkanya basa di dalam oli adalah untuk menetralkan asam yang timbul -

di dalam oli karena pengaruh kandungan sulfur pada fuel.

> Reaksi kimianya adalah sbb :

CxHxS + O2 + N2 pada proses pembakaran, diantaranya akan menjadi sbb:

H2O, CO2, SO2, CO, Nox , dan SO2 yang sempat turun ke oil pan akibat -

kebocoran ring piston, akan bereaksi dengan uap air yang ada di oli pan, -

sehingga akan terjadi reaksi sebagai berikut : SO2 + H2O H2SO4

H2SO4, merupakan asam dan akan merusak daya lumas oli dan menimbulkan,

korosi, maka harus dinetralkan dengan basa, dan basa yang dipakai adalah -

KOH,….sehingga reaksi berikutnya adalah :

H2SO4 + 2KOH K2SO4 + 2H2O, sehingga akan dihasilkan lagi bentuk -

uap air dan endapan K2SO4, pada oil pan.

Lama-kelamaan kandungan basa akan habis di dalam oli, dan dikatakan angka -

TBN-nya sudah turun, dan angka minimal yang diijinkan di indonesia adalah 12.

14. Pengertian Synthetic Oil


> Synthetic Oil adalah base stock oil yang dihasilkan dari proses reaksi bahan kimia -

dengan komposisi spesifik sehingga menghasilkan base stock oil dengan kualitas -

yang terencana dan ter-prediksi kehandalannya. Sehingga oli ini sangat bermutu tinggi,

dan mempunyai Viscosity Index yang lebih tinggi dari Mineral Base Stocks Oil yang -

HVI-nya paling tinggi sekalipun.

Contoh : Top One, Power Up, Omega, bahkan beberapa produsen oli besar di dunia juga-

memproduksi oil synthetic, seperti Shell, Bp, Esso.

II. GREASE
1. Fungsi Grease secara umum adalah :
> Sebagai pelumas padat.

> Sebagai pelindung karat.


2. Standard Kekentalan Grease
> NL-GI ( National Lubricating Grease Institute )

5
dengan angka kekentalan dari : 000, 00, 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6,

5
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

> Example Grease Classification


> Shell Albida Grease HDX2

THICKENER NL GI TEMP BASE OIL EP WATER SOLID


RANGE VISCOSITY RESISTANCE LUBRICANT
LITHIUM -20'C 40'C 100'C MoS2
***
COMPLEX 2 TO 460 32,0
+150' cST cST
C

Shell Albida Grease HDX2

Colour Black

NLGI Consistency 2

Soap Type Lithium

Base Oil

Kinematics Viscosity

@ 40 C, cST 460

100 C, cST 32,0

Cone Penetration
265/295
Worked @ 25 C, 0,1 mm

Dropping Point, C 260

Pumpability, Long Distance Poor

3. Aplikasi Grease
> Pada dasarnya aplikasi grease, adalah berbeda didalam penggunaanya, dan -

mengacu standard spesifikasinya, serta menurut petunjuk factory grease tersebut.

Misalnya, grease bagiann dalam, luar, untuk bearing, gear, terbuka, tertutup dll.

Contoh : Shell Albida HD2, adalah grease untuk aplikasi high performance high -

temperature - extreme pressure.

Contoh : Shell Albida HDX2, adalah grease untuk apilkasi high performance -

extreme pressure multi purpose.

Contoh : Shell Maleaus GL, adalah grease untuk aplikasi, free extreme pressure -

open gear lubrication.

Contoh : Shell Retinax Grease LX, adalah grease untuk aplikasi, high temp -

6
wheel bearing grease.

6
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

4. Handling Grease
> Simpan ditempat yang terlindung dari panas matahari dan hujan.

> Gunakan grease sesuai spesifikasi yang direkomendasikan.

> Grease drum harus tertutup rapat.

III. FUEL

1. Jenis fuel yang digunakan pada Diesel Engine


> Untuk daerah tropis / panas adalah Fuel Light Oil ASTM D 975 No. 2

> Untuk daerah dingin / Eropa adalah Fuel Light Oil ASTM D 975 No.1

2. Kadar Sulfur pada Fuel


> Berpengaruh pada jadwal penggantian oli.

> Apabila kadar sulfur didalam fuel 0,5 ~1 %, maka jadwal penggantia oli -

adalah 1/2 X jadwal regulernya.

> Apabila kadar sulfur didalam fuel >1%, maka jadwal penggantian oli adalah -

1/4 X jadwal regulernya.

3. Fuel tercampur dengan Kerosene


> Kerosene tidak mempunyai kemampuan untuk melumasi sehingga, efek gesekan akan -

lebih besar jika fuel bercampur dengan kerosene, dan merusak komponen fuel system.

> Kerosene mempunyai kadar sulfur yang tinggi, sehingga pembentukan asam didalam -

fuel akan meningkat, dan akan mempercepat proses korosi.

4. Fuel Handling
> Penyimpanan harus terlindung dari panas matahari dan hujan.

> Main tank harus dilengkapi dengan water drain cock.

> Jika fuel didalam drum, pemasangan pompa isap tidak boleh menyentuh dasar drum -

kira-kira 20 cm dari dasar drum.

IV. WATER

1. Syarat penggunaan air Radiator


> Bersih, bening dan pH = 7

7
> Gunakan City Water.

7
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

2. Alat untuk mengukur tingkat keasaman air


> pH Tester / pH Meter

> Kertas Lakmus

3. Fungsi Anti Freeze


> Mencegah air menjadi beku ketika ambeient temperatur < 0 C.

> Anti freeze pada unit-unit Komatsu yang di-rekomendasi adalah Ethylene Glycol Base.

Contoh : AF-ACL dan AF-PTL dari Komatsu, AF engine Coolant dari Caltex,

4. Pengertian Radiator Penetran


> Adalah suatu chemical agent yang dicampurkan ke dalam air radiator untuk mencegah -

timbulnya karat pada system pendingin.

> Sebelum dicampurkan ke dalam air radiator, terlebih dahulu harus diketahui pH air -

radiator dan jenis dari radiator penetran tersebut.

V. FILTER

1. Fungsi
> Sebagai penyaring.
2. Klasifikasi
ISO > Platted Paper Element.

> Wire Mesh Filter.

> Metal Edge Filter.

SAE > Fine Filter & Coarse filter.

> Screen.

> Strainer.
3. Filtering Area
> Luas bidang penyaringan filter.
4. Mesh dan Micron
> Mesh : Jumlah pori-pori perluasan Inchi dari sebuah filter.

> Micron : Besarnya diameter pori-pori.


5. Model Filter > Catridge dan Element.
6. Jenis-jenis Air Filter > Wet Type dan Dry Type
7. Filter Handling > Tidak disimpan di daerah yang lembab, tidak penyok dan jatuh.

8
> Terbungkus rapi dan tidak terbuka packing-nya.

8
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

VI. DIESEL FUEL

> INTRODUCTION
> Fuel banyak menimbulkan efek pada engine dari sekedar menghasilkan power.
> Juga menimbulkan cost operating yang sangat besar.
> Ketidak-beruntungan kadang terjadi ketika fuel cost naik tetapi kualitas yang -
memadai dari fuel tersebut tidak tersedia atau bermutu rendah.
> Fuel yang tidak baik kualitasnya sering membuat premature engine failure.

> UNDERSTANDING FUEL

> Fuel di dalam engine adalah memproduksi power , dengan cara dikabutkan lalu
bercampur dengan udara yang bertemperatur tinggi, hasil kompresi piston di dalam
silinder, sehingga terjadi pembakaran yang bertekanan tinggi dan mendorong
piston-menuju ke bawah, dan menghasilkan power yang di transfer Crankshaft ke
Power-train.--
> Fuel yang sempurna akan terbakar secara komplit, tanpa meninggalkan residu
dan asap. Tetapi tidak fuel yang sesempurna itu.

> GET THE FACTS FUEL


> Harga bukan hanya factor ketika kita menentukan jenis fuel pada engine.
> Pengetahuan yang mendalam akan fuel, akan lebih mudah mengetahui
konsekwensi menggunakan fuel yang bermutu rendah / jelek.-

> FUEL PROPERTIES LISTED BY THEIR FUNCTIONAL EFFECTS.

> Specific Gravity


Yang dimaksud specific gravity ini adalah, volume fuel dibandingkan
dengan berat fuel, dimana jika specific gravity-nya tinggi dikatakan heavy
fuel, kalau rendah adalah light fuel.- -

> Light Fuel

Standard API Service untuk density fuel/specific gravity adalah 35 pada


suhu 15 derajat celcius, dengan density 0,8498 dan berat per-gallon
7,076 pounds. Light fuel tidak akan menghasilkan energi yang maksimal,
dan membuat umur pendek pada komponen-komponen fuel system,
karena light fuel fungsi pelumasannya/lubrication adalah rendah. Disini
yang dimaksud light fuel -berarti density-nya lebih rendah dari pada std di
atas.

9
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

> Heavy Fuels

> Heavy fuel akan menghasilkan banyak energy pada pembakaran, tetapi akan meninggalkan -

pembentukan deposit, pada ruang bakar, ring piston dan silinder liner, tentunya hal ini -

akan memperpendek umur engine, maka heavy fuel juga harus dihindari.

> Viscosity

> Viscosity berarti hambatan zat cair untuk mengalir, high viscosity pada fuel berarti fuel -

berat untuk mengalir.

> Contoh rekomendasi mengenai viscosity fuel pada engine Caterpillar, yaitu 1,4 s/d 20 cST -

dengan kenaikkan temperature 20 derajat celcius dari feed pump sampai nozzle / injector.

> Cloud Point

> Cloud point adalah titik dimana, ada asap timbul pada fuel yang disebabkan karena -

temperature drop. Dimana hal ini akan menyebabkan lilin didalam kandungan fuel akan -

terbentuk secara alami sehingga menyebabkan filter buntu dan fuel terhenti mengalir -

ke Engine.

> Pour Point

> Pour point adalah titik dimana, fuel menjadi beku, pour point juga ditentukan oleh -

kandungan lilin ( wax or paraffin ) didalam fuel ketika proses penyulingan ( refine ) minyak -

mentah ( crude oil ). Dengan bekunya fuel berarti suply fuel ke Engine berhenti.

> Water

> Air didalam fuel, dapat terjadi ketika proses pengiriman ataupun kondensasi ketika fuel -

di dalam tangki penyimpanan (main tank). Air garam dapat terjadi terutama pada engine -

Marine, yang dapat menyebabkan korosi secara berlebihan, juga air dapat menyebabkan -

berkurangnya pelumasan di dalam fuel system, dan menyebabkan juga endapan lumpur -

di dalam water separator.

> Sediment

> Sediment di dalam fuel, dapat terdiri dari karat,endapan, terak welding, gram, lumpur -

yang sering didapatkan di fuel tanks atau masuk melalui fuel tank. Sediment menyebabkan -

beberapa problem , seperti filter buntu, filter cepat rusak.

> Sludge and Fibers

> Kontaminasi dengan sludge dan fibers dapat terjadi ketika proses distribusi dan penyimpanan -

tranportasi lewat tongkang, distribusi melalui pipa-pipa penyalur. Kesemuanya ini adalah -

faktor-faktor penyebab adalanya sludge dan fiber di dalam fuel. Hal ini akan menyebabkan -

10
life time filter menurun, strainer buntu, filter cepat kotor.

10
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

> Vapour Pressure


> Semua zat cair termasuk fuel dapat menjadi berasap, beruap atau menjadi gas ketika
terkena panas, dengan adanya gas ini maka di dalam fuel tank akan terjadi tekanan,
tekanan ini akan mengakibatkan terputusnya suply fuel ke fuel pump, karena dalam hal ini
kadang-kadang gas menggantikan fuel yang menuju fuel pump. Untuk mencegah hal ini,
ventilasi yang baik sangat di butuhkan pada fuel tank.

> Asphaltenes

> Asphaltenes adalah komponen dari bahan asphalt yang merupakan bahan yang tidak
bisa larut di dalam diesel fuel tetapi larut pada gasoline (bensin). Asphalt menyebabkan
filter buntu, kadang-kadang juga asphalt banyak mengandung partikel metal seperti
nickel, iron, vanadium. Pembersihan turbin side pada turbocharger adalah perlu untuk
membersihkan deposit partikel-partikel tersebut. Asphlatenes atau komponen bahan
asphalt tidak terdapat pada fuel yang dihasilkan dari proses refine (penyulingan minyak
mentah).
> Microorganism in Fuel

> Air dan fuel adalah merupakan media untuk pertumbuhan bakteri. Sebuah bentuk
kehidupan yang sederhana pada air dan masuk ke dalam fuel. Mikroorganisma, fungi
ataupun bakteri di dalam fuel akan menyebabkan filter buntu dan korosi. Untuk
menghindari pertumbuhan bakteri di dalam fuel disamping jangan sampai menyimpan fuel
dalam waktu yang terlalu lama dan me-minimize kontak fuel dengan air, adalah dengan
mencampurkan semacam bahan aditive untuk membunuh atau menghambat
pertumbuhan bakteri tersebut.

> Hydrogen Sulphide


> Hydrogen sulphide merupakan gas beracun yang terdapat pada crude oil dan residual
fuels. Kandungan hydrogen sulphide yang terlalu tinggi dapat mengurangi lifetime
engine, di tambah lagi jika bereaksi dengan uap air yang timbul ketika proses
pembakaran, maka akan menghasilkan Asam Sulphat yang semakin mempercepat
proses kerusakan internal component engine dan periodical engine service akan lebih
pendek.

> Fuel Sulfur


> Sulfur adalah sebuah element yang terjadi secara naturally pada minyak mentah.
Heavy fuels biasanya kandungan sulfurnya tinggi. Harus diperhatikan dengan baik akan
kandungan sulfur pada fuel, karena kandungan yang melebihi 0,5 % akan
memperpendek umur engine dari yang seharusnya. Seperti halnya dengan kandungan
Hydrogen Disulphide, maka kandungan sulfurpun kan menyebabkan kerusakan yang
sama yaitu menyebabkan pembentukan asam sulfate (H2SO4), yang sangat berbahaya
bagi internal component engine, yaitu menyebabkan korosi yang sangat hebat, apalagi
jika pada oil engine tidak terdapat atau hanya sedikit kandungan Basa Alkalin-nya, yaitu
bahan penetral asam sulfate, maka internal component engine akan lebih cepat
kerusakannya.

11
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

> Vanadium

> Vanadium adalah metal yang biasanya terdapat pada heavy fuels. Vanadium
menyebabkan korosi yang tinggi sewaktu proses pembakaran, atau pada logam-logam
yang panas misalnya kalau di dalam komponen engine adalah terdapat pada exhaust
seat valve, exhaust valve, turbin turbocharger. Bahan vanadium yang panas ketika
pembakaran akan meleleh dan larut menempel pada exhaust valve (contoh), dan
mengambil lapisan oxide, sehingga akan mempercepat korosi pada valve. Korosi bahan
vanadium pada komponen engine dapat dicegah dengan cara membatasi exhaust
temperature, atau jangan sampai terjadi excessive exhaust temperature.

> Sodium / Sodium Chloride


> Sodium adalah, alkaline element metal. Ini adalah bahan kimia yang sangat aktif.
Sodium adalah termasuk juga kelompok garam. Material ini timbul ketika proses handling
fuel dan penyimpanannya, sodium dapat juga langsung dari air laut atau kondensasi dari
storage tank. Seperti halnya dengan vanadium sodium akan menyebabkan korosi pada
internal komponen engine pada temperature yang tinngi, terutama pada valve juga turbin
turbocharger.

> Carbon Residue


> Endapan carbon terbentuk dari hasil pembakaran yang kurang sempurna, juga
tergantung dari speed engine, semakin tinggi rpm, semakin pendek waktu pembakaran,
semakin banyak endapan carbon terjadi. Pembentukan carbon yang tinggi sewaktu
pembakaran kurang sempurna menyebabkan komponen piston group, turbin
turbochrager, valve, nozzle terjadi penumpukan carbon yang berlebihan sehingga
mempercepat kerusakan pada komponen-komponen tersebut.

> Ash

> Ash adalah metal atau kontaminasi lain didalam fuel yang tidak bisa terbakar.
Penumpukan ash dapat menyebabkan over heat lokal pada permukaan logam seperti,
valve seat. Ash di dalam fuel dan ash deposits dapat menyebabkan abrasive wear pada
cylinder liner, piston rings, valve seats, injection pump, injector dan turbocharger.

> Aromatics
> Aromatics adalah perputaran structure kimia yang besar di dalam fuel dan sangat sukar
untuk terbakar. Fuel dengan aromatics yang tinggi akan memproduksi exhaust smoke
yang tinggi, dan biasanya angka cetane natural-nya rendah.

> Cetane Number or Index


> Angka Cetane Index adalah ukuran, titik nyala fuel. Angka cetane yang rendah
mengakibatkan engine sukar start. Untuk engine precombustion chamber minimum
angka cetane-nya adalah 35 dan 40 untuk engine direct injection. Angka cetane yang
terlau rendah disamping mengakibatkan susah start, juga menyebabkan adanya knocking
karena waktu pembakaran yang terlambat.

12
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

> Flash Point


> Flash point adalah, suhu terendah fuel di mana jika tekena api akan terbakar. Minimum
Flash point untuk diesel fuel adalah 38 C / 100 F. Untuk penyimpanan suhu yang
direkomendasikan adalah 10 C / 18 F di bawah flash point.

> Air
> Kandungan udara bisa terjadi di dalam fuel, bisa juga karena fuel lines bocor, terutama
suction lines. Udara di dalam fuel menyebabkan susah start, low power, smokes
problem.

> Catalytic "Fines"


> Catalytic "Fines" adalah partikel kecil yang keras yang terbentuk ketika proses refinery.
Biasanya terdiri dari aluminum dan silikon. Catalytic menyebabkan abrasive wear yang
cepat. Partikel catalytic yang lebih besar dari 2 microns akan menyebakan kerusakan
pada komponen engine terutama pada, fuel pump, injectors, piston rings dan cylinder
liners. Centrifugal treatmens adalah baik untuk mengatasi hal ini.

> Gums and Resins

> Gums and resins, adalah kandungan semacam lem dan damar yang ada di dalam fuel
yang terjadi karena adanya proses oxidation. Juga terjadi akibat penyimpanan yang
terlau lama. Kandungan gums dan resins akan menyebabkan kebuntuan pada fuel
injection lines dan mempercepat filter buntu.

> Fuel Separation


> Fuel separation adalah, proses perubahan quality fuel setelah fuel tersebut dibuat.
Dalam hal ini adalah soal penyimpanan yang kurang tepat, terkena panas berlebihan,
disimpan terlalu lama, ini akan menimbulkan apa yang dinamakan fuel degradation, atau
penurunan quality fuel. Jangan sampai menyimpan fuel lebih darri satu tahun. Untuk
mencegah ke-stabilan fuel agar tetap berkualitas selama penyimpan kadang ditambahkan
Stability Additives untuk mencegah oxidation, gums dan polymeric sediment.

> Methode of Fuel Treatment


> Settling

> Centrifuging

> Primarry Filtering

> Secondary Filtering or Final Filtering

> Heating

> Venting

13
> Additives

13
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

CRUDE OIL CHART

Fuel Properties and Characteristics Permissible Fuels As Delivered To The Fuel System
Cetane Number or Cetane Index, (ASTM D613 or
Min. 35
calculated index) ( PC Engines )

Direct Injection Engines Min. 40

Water and Sediment % Volume (ASTM D1796) Max. 0,5 %

Pour Point (ASTM D97) Min. 6 C (10 F) Below Ambeient Temperature

Cloud Point (ASTM D97) Not Higher than Ambeient Temperature

Sulfur (ASTM D2788 or D3605 or D1552) Max. 0,5%

Viscosity at 38 C (100 F) (ASTM D445) Min : 1,4 cST, Max 20 cST

API Gravity (ASTM D287) Max : 45, Min : 30

Specific Gravity (ASTM D287) Min : 0.8017, Max : 0.875

Gasoline and Naptha Fraction (Fractions boiled


Max. 35%
off below 200 C)
Kerosene and Distillate Fraction (Fraction Boiled off
Min. 30%
between 200 C)

Carbon Residue (Ramsbottom) (ASTM D524) Max. 3.5%

Destillation - 10% Max. 282 C (540 F)


- 90% Max. 380 C (716 F)
- Cracking % Min. 60%
- Residue ASTM D86,D158 or D285 Max. 10%

Reid Vapour Pressure (ASTM D323) Max. 20 psi (kPa)

Salt (ASTM D3230) Max. 100 lb per 1000 Barrels

Gums and Resins (ASTM D381) Max. 10 mg per 100 ml


Copper Strip Corrosions 3 Hrs @ 100 C (ASTM
Max. No. 3
D130)
Flashpoint C / F (ASTM D93) Must be Legal Limit

Ash % Wt. (ASTM D482) Max. 0.1%

Aromatics % (ASTM D1319) Max. 35%

Vanadium PPM (ASTM D2788 or D3605) Max. 4 PPM

Sodium PPM (ASTM D2788 or D3605) Max. 10 PPM

Nickel PPM (ASTM D2788 or D3605) Max. 1 PPM

Aluminum PPM (ASTM D2788 or D3605) Max. 1 PPM

Silicon PPM (ASTM D2788 or D3605) Max. 1 PPM

14
14
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

VI. OIL
1. Understanding Oil
> Function
> Oli berfungsi nsebagai penyedia pelumasan yang cukup memadai untuk engine,
sebagai pembersih engine, menghindarkan dari karat dan korosi, sebagai pendingin dan
penyekat, sebagai pembentuk oil film sebagai bantalan "metal to metal contact" pada
komponen engine juga untuk mengurangi gesekan dan keausan.

> Base Stocks

> Base Stocks adalah bahan dasar oli, disini di bedakan atas 2 jenis, yaitu Base Mineral
yaitu dari minyak bumi dan Base Synthetic Oil berasal dari proses kimia dan vegetable
stocks. Bahan dasar oli ini menyediakan bahan basic lubrication, tetapi tanpa diberi
addtive, maka oli akan cepat rusak dan ter-detirioras dengan cepat pula.

> Mineral Oils

> Mineral stocks oil berasal dari refinery minyak mentah atau minyak bumi. Pemilihan
dari bahan dasar minyak mentah dan proses refinery akan menentukan base stocks oil
characteristic. Dengan memperbanyak kandungan parafine wax (lilin) atau Parafine
crudes, maka akan didapatkan HVI atau High Viscosity Index. Untuk MVI atau Medium
Viscosity Index adalah napthenic crudes dan untuk LVI atau Low Viscosity index adalah
kandungan wax-nya yang sedikit. Mineral Stocks oil adalah oil pelumas yang umum
digunakan, disamping baik dalam penyedian juga sangat ekonomis dipertimbangkan dari
segi biaya.

> Synthetic Oils


> Synthetics base stocks oil, terbentuk dari reaksi bahan kimia yang merupakan
komposisi bahan kimia yang spesifik untuk menghasilkan sebuah bahan pelumas yang
sifatnya dapat terprediksi dan terencana. Viscosity Index synthetic oil ini lebih tinggi
daripada mineral oil. Base synthetic oil ini sangat berkualitas, ada beberapa jenis engine
yang menggunakan oli ini untuk daerah operasi yang sangat rendah temperatur-nya.

> Additives
> Additives atau bahan tambah yang dicampurkan kedalam base oil adalah untuk
memodifikasi base oil agar mempunyai kemampuan atau performance sesuai dengan
yang dibutuhkan. Dibawah ini adalah additives yang biasa di gunakan :
Detergent

Detergents adalah additive untuk pembersih engine mencegah terjadinya deposits, dari
material-material yang tidak bisa dilarutkan. Bahan detergents yang banyak diguanakan
sekarang ini adalah metallic salts, yang antara lain jenisnya adalah sulfonats, phenats,
phosphonats atau salycylates.

15
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

Detergent

Detergents adalah additive untuk pembersih engine mencegah terjadinya deposits, dari
material-material yang tidak bisa dilarutkan. Bahan detergents yang banyak diguanakan
sekarang ini adalah metallic salts, yang antara lain jenisnya adalah sulfonats, phenats,
phosphonats atau salycylates.
Alkalinity
Untuk menetralisir asam pada oli, yang terjadi pada proses pembakaran dan oksidasi
untuk dinetralkan menjadi material yang tidak berbahaya bagi system pelumas.

Oxidation Inhibitors
Mencegah meningkatnya viscosity akibat terbentuknya asam organic dari proses oksidasi
dan terbentuknya material carbon.

Dispersant
Adalah pencegah terbentuknya endapan lumpur, dengan cara membuat material
kontaminasi tetap tersebar di dalam oli, atau dengan kata lain tetap terbentuk suspensi oli
dengan bahan kontaminasi. Dispersant agents antara lain adalah, zinc dithiphosphates,
phenates sulfides, aromatics amines, sulfurid esters, dan hindered phenols.

Anti-wear
Mengurangi gesekan, dengan membentuk oil film, di permukaan metal, dan melindungi
dari korosi. Anti-wear agent antara lain adalah, alkaline detergents, zinc dithiphosphates,
dan dithicarbamates.

Pour-point Dipersant

Menjaga oli tetap berbentuk fluid pada suhu rendah, dengan mencegah terbentuknya
gumpalan wax atau lilin. Pour-point dispersant agents antara lain adalah,
polymethacrylates, styrene based polysters, crosslinked, alkyl phenols, dan alkyl
napthanlenes.

Viscosity Index Improvers


Mencegah penurunan viscosity pada suhu yang tinggi. Material agent viscosity index
impropers antara lain,polysobutenes, polymethacrylates, styrene based polysters, styrene
based copolymers dan ethylene propylene copolymers.

> Total Base Number ( TBN ).

Pengetahuan tentang TBN, memerlukan pengetahuan tentang kandungan sulfur di dalam


fuel. Kebanyakan diesel fuel mengandung sulfur. Berapa banyak sulfur yang
terkandung didalam fuel tergantung dari proses refinery untuk melepaskan sulfur tersebut
dari fuel. Salah satu fungsi dari lubrication adalah menetralkan asam sufat, yang terjadi
akibat reaksi sulfur dengan uap air. Karena asam sulfat ini penyebab korosif yang sangat
kuat pada engine. TBN adalam basa alkali yang menetralkan asam sulfat yang terjadi
pada oli. Dengan demikian angka TBN yang tinggi berarti kandungan basa alkali pada oli
adalah tinggi.
16
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

> Ash or Sulfated Ash

Ash adalah material sisa atau endapan di dalam oil yang tidak bisa terbakar. Ash ini
terdiri dari kandungan-kandungan additive oli, atau kandungan logam-logam yang lain
sebagai sumber terbentuknya ash. Terlalu banyak kandungan ash di dalam oli akan
menyebabkan terganggunya efisiensi dan power engine.

> Viscosity

Viscosity adalah salah satu hal yang terpenting di dalam oli. Viscosity dapat berarti juga
hambatan oli untuk mengalir. Viscosity berhubungan langsung tentang baik tidaknya
pembentukan oil film di metal surface yang langsung kontak dengan metal yang lain.
Viscosity yang terlau rendah menyebabkan pembentukan oil film yang kurang sempurna,
sebaliknya viscosity yang terlalu tinggi menyebabkan beratnya oli untuk mengalir dan
kurang cepat sampai ke komponen-komponen bergerak yang segera membutuhkan
pelumasan.

1. Contamination and Degradation of Oil


> Contamination
Contamination adalah kandungan material asing yang ada di dalam oli. Ada 6 macam
kontaminasi yang sering terdapat di dalam oli, sebagai berikut :
1. Wear Elements : adalah material-material yang ada di dalam oli akibat keausan
moving part engine. Material-material tersebuat antara lain adalah, copper, iron,
aluminum, lead/tin, nickel, molybdenum, dan magnesium. Trend analysis sangat
diperlukan untuk memonitor kondisi engine. Kotoran yang masuk di dalam oli dapat
diindikasikan dengan adanya kandungan silicon yang meningkat di dalam oli.

2. Dirt : Dirt atau debu/kotoran dapat datang dari hembusan udara kompresi atau carbon
bekas pembakaran, yang turun melalui oil film yang di scrap oleh piston ring menuju oil
pan. Dirt dapat juga masuk melalui gasket-gasket yang rusak di engine.
3. Soot : Soot adalah termasuk bagian dari fuel yang terbakar. Asap hitam dan air filter
yang kotor adalah indikasi adanya fuel soot. Combustion system design juga merupakan
kontribusi adanya fuel soot ini. Soot menyebabkan oli berwarna hitam, dan dijaga tetap
sebagai suspensi oleh dispersant additive. Oli akan terdegradasi dengan cepat jika fuel
soot ini meningkat dan juga mempercepat keausan.

4. Fuel : Fuel di dalam oli dikenal dengan "fuel dilution", adalah adanya kontaminasi fuel
secara langsung di dalam oli, hal ini disebabkan oleh fuel system yang tidak sempurna,
misalnya over fuel melalui nozzle, kerusakan pada plunger fuel injection pump.
5. Water : Air di dalam oli dapat dihasilkan dari uap air hasil pembakaran, juga melalui
kondensasi uap air di dalam crankcase, terutama ketika operasi di suhu lingkungan yang
rendah.
6. Ethylene glycol / anti freeze : Kontaminasi ini menunjukkan adanya kebocoran
coolant / air pendingin ke dalam oli dan problem ini harus ditangani dengan segera.
Kontaminasi ini dapat menyebakan pembentukan lumpur dan filter buntu.

17
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

> Degradation
Hal lain yang membuat oli menurun kualitasnya adalah degradation, tidak seperti kontaminasi
yaitu material yang secara langsung dapat dilihat di dalam oli melalui laboratorium.
Degradation disebabkan oleh low jacket water temperature, high humidity, oil consumption,
engine load, dan pemilihan fuel yang kurang tepat serta poor maintenance. Ada 3 hal yang
menunjukkan oli ter-degradation, yaitu oxidation products, sulfur products, dan nitration
products.

> Diagnostics Test

1. Wear Analysis : Diagnostic test yang didesign, untuk mengidentifikasi dan mengukur
contamination dan degradation. Pada wear analysis ini terdeteksi juga jenis-jenis material
kontaminasi dan selanjutnya dapat diprediksi komponen-komponen engine yang
mengalami keausaan.
2. Chemical and Physical Test : Mendeteksi adanya water, fuel dan antifreeze di
dalam oli, dan menentukan apakah kandungan tersebut melebihi batas atau tidak.

3. Oil Condition Analysis : Test ini disebut juga infrared analysis, untuk mendeteksi
dan mengukur kandungan fuel soot dan sulfur, oxidation dan nitration products. Infrared
analysis juga dapat digunakan untuk menentukan reduce, maintain or extend oil change
intervals dalam kondisi aplikasi yang khusus (operation).

18
Development Wara - Adaro

tidak seperti kontaminasi


li melalui laboratorium.
humidity, oil consumption,
tenance. Ada 3 hal yang
products, dan nitration

identifikasi dan mengukur


si juga jenis-jenis material
komponen engine yang

er, fuel dan antifreeze di


batas atau tidak.

nalysis, untuk mendeteksi


tration products. Infrared
ntain or extend oil change

18
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

VII. COOLANT

Understanding of Cooling System

30% Exhaust Gas

7% Others

30% Cooling System Heat Produces by Engine


33% Flywheell HP

>>> Function : Remove the proper amount of heat to keep the engine running at correct operating temperatures.
>>> Proper cooling system design and maintenance is an importance part of the satisfactory operation and service o
an engine. Understanding how the cooling system works can help reduce owning and operating cost.
>>> The others component of the machine that remove heat from cooling system…..after coolers, transmission oil co
hydraulic oil cooler, torque converter / retarder oil cooler..etc.

19
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

Understanding of Cooling System

Coolant Boils Depends on Three Factors, Altitude, Pressure and Anti Freeze Contents

Altitude Cooling System Pressure

feet meters 0 2 4 6 8 10 12 14 psi

14000 4300 0 14 25 40 55 70 85 95 kpa

12000 3700

10000 3000

8000 2400

6000 1800

4000 1200

2000 600

sea level 0

180 190 200 210 220 230 240 250

82 88 93 99 104 110 115 121

20
Boiling Point of Water ( Without Anti Freeze )

20
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro
Understanding of Cooling System

Cooling System Temperature


>>> Must remain high to allow the engine to operate efficientlly.
>>> Must stay low enough to prevent the coolant froom boiling.

>>> A cooling system regulates temperature by transfering heat from the engine to the coolant and , eventually , into
>>> A major factor of heat transfer is the difference between the temperature of coolant inside the radiator and
the temperature of surrounding air. High difference means increase the rate of heat transfer.

>>> If it starts, to boil or steam, coolant is phused out of the radiator's pressure relief valve.

Boiling Point of Coolant at Varying Antifreeze (Concentrations) Higher ethylene glycol concentrations is higher
% Concentrations Temperature Boil boiling point temperature. However , ethylene
20 103' Celcius glycol is less effective at transfering heat than
30 104' Celcius water. Correct concentration of ethylene glycol
40 106' Celcius is crucial.
50 108' Celcius

60 111' Celcius

>>> At sea level with Ethylene Glycol ( Antifreeze Agents)

21
21
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro
Coolant Properties

>>> Generally, a coolant mixture consist of water combined with suplemental coolant additive.
>>> Actually water source contains contaminant levels to various degrees, and this contaminants form acids or scale
that can reduce cooling system service life.

Minimum Acceptable Water Charateristic for use in Engine Cooling System


Properties Limits ASTM Test Methods
Chloride (Cl), gr/gal (ppm) 2,4 (40) max D512b, D512d, D4327

Sulfate (SO4), gr/gal (ppm) 5,9 (100) max D516b, D516d, D4327

Total Hardness, gr/gal (ppm) 10 (170) max D1126b

Total Solids, gr/gal (ppm) 20 (340) max D1888a

pH 5,5 - 9,0 D1293

>>> High chloride contents are usually found in coastal areas.


>>> High sulfate contents are usually found in areas around coal mining operation.

>>> Water can be used in a coolant mixture if contaminant levels are not excessive.

22
22
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro
Coolant Properties

>>> Antifreeze , include anti foam, protection against metal corrosion ( Additive ).

Protection Temperature for Antifreeze Concentrations


Protection to: Concentration
o o
-15 C (5 F) 30% antifreeze, 70% water
o o
-24 C (-12 F) 40% antifreeze, 60% water
o o
-37 C (-34 F) 50% antifreeze, 50% water
o o
-52 C (-62 F) 60% antifreeze, 40% water
Ethylene Glycol-based antifreeze

Even when an over concetration does occur, inhibitor can drop out of solution.
This over concentration can causethe following problems in cooling system:

>>> reduction in heat transfer due to chemical deposits, chemical precipitates and silica gel.

>>> premature water pump seal leakage or failure due to precipitates and chemical deposits on the seal face.

23
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro
Functional Effects of Cooling System

Coolant mixtures must be formulated to minimize the possibility of problems like :


>>> Pitting and cavitation erosion
>>> Rust
>>> Acidity-alkalinity imbalance
>>> Galvanic and electrolitic corrosion
>>> Scale and deposit formation
>>> Aeration

Corrosion is a chemical or electrochemical action that gradually wears away metal surfaces -
in the cooling system.

>>> Type of corrosion are pitting and cavitation errosion, rust, acidity-alkalinity imbalance, and
galvanic and electrolytic corrosion.

>>> 1 Ampere of current flowing for thirty hours remove one ounce of iron.

>>> Cavitation……occur when explosion of air bubbles remove metal oxide of cylinder wall.

24
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro
Functional Effects Cylinder wall Cylinder wall Cylinder wall

Coolant Coolant Coolant


Inside Cylinder Inside Cylinder
Inside Cylinder

Bubble in Cylinder wall Bubble Explosions Metal Oxide Remove


Cylinder wall pitting/cavitation

Coolant
Eventually, a pit can become deep to break through the
cylinder wall and allow coolant to leak in to cylinder

>>> Condition that create bubbles :


- Low pressure in cooling system (system leaks).
- Flexing in cylinder wall after combustion pocess.
- Multiplies vibration when engine is run cold.

Piston
- Multiplies vibration when the engine is lugged.

25
Piston

25
Functions Effects Mechanic Development Wara-Adaro
Functional Effects of Cooling System
Rust
>>> Caused by oxidation witih the cooling syetem.
>>> Heat and moist air accelerate this rust process.
>>> Rusting leaves residual scale deposits that can clog the cooling system.
>>> Accelerate wear and reduces the efficiency of heat transfer.

Acidity- 14,0
Progressively More
Alkalinity
Avoid Alkaline Corrosion of
Imbalance
Aluminum and Solder Material
11,0
10,5
Range
Desired
8,5

7,0
Progressively More

Acidic Corrosion of

Avoid Ferrous and Aluminum

Material
pH Level 1,0

26
26
Functional Effects Mechanic Development Wara - Adaro
Functional Effects of Cooling System
Galvanic and Electrolity Corrosion

Galvanic Corrosion Occurs when :


>>> Electrical current flowing through coolant between different metal.
>>>The coolant acts as an electrical conductor between metals that are coupled together.
>>> Galvanic corrosion occurs on the least resistant metal.

Electrolity Corrosion
>>> Occurs when the source of current flow through the coolant is external.
>>> Cause by bad grounding between engine and chasiss.
>>> Should be 0.3 ohm resitance between electrical component and battery negative.
>>> Aluminum material parts are susceptible to electrolytic corrosion.

Current Flow Galvanic Corrosion Electrolyte Corrosion


Current Flow
AL Fe
Fe

AL
Corrosion Area
Coolant Coolant

27
lopment Wara - Adaro

27
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

Scale and Deposit Formation


>>> The general Charateristics of Water Including :
>>> pH level, calcium and magnesium hardness, total hardness and temperature -
that determines scale and deposit formation.

>>> Common scale deposits in acooling system include :


>>> Calcium carbonat, calcium sulfate, iron, copper, silica, lead.

>>> Scale and deposits reduce heat transfer ( cooling system efficiency).

Aeration
Aeration become when air leakage into the cooling system.
>>> Causes foaming/bubbles in cooling system.
>>> Foaming and bubbles promotes pitting cooling system component ( water pump )
>>> Bubbles and foam increase significantly if the exhaus gas enter the cooling system.

28
lopment Wara - Adaro

e-

ump )
ystem.

28
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro
Coolant-Related Failures
>>> Overheating typically causes cracking of cylinder heads and cylinder block, and seizure of pistons.
>>> Overcooling typically causes sludge formation and carbon build-up.

>>> Overheating can be traced to many different source :


>>> Low coolant level, plugged radiator core, system leaking, loose fan belts.
>>> Engine overload, failure water pump/ thermostat, restriction of inlet / exhaust air flow.

>>> Cylinder Head : Warped and cracked because overheating.


>>> Cylinder Block : Cavitation and erosion, excessive pitting in the water passage.
>>> Piston : Seizure in piston skirt area, because overheating,
>>> Valve : Deposit carbon in the valve stem because overcooling.
>>> Crankcase : Sludge formation because overcooling

29
Wara - Adaro

e of pistons.

w.

29
Maintenance Basic Mechanic Development Wara - Adaro

VIII. Technical Term

UMUM
Engine Low Idle
Engine High Idle
Rated Speed
Stall Speed
Hydraulic Stall Speed
Full Stall Speed
Modulating Time
Compression Pressure
Blow by Pressure
Engine Hunting
Turbocharger Play
Boost Pressure
Hydraulic Drift
Internal Leakage of Pump
Relief Pressure
Safety Pressure

Anda mungkin juga menyukai