Gejala dan Pengertian Infeksi Menular Seksual
Gejala dan Pengertian Infeksi Menular Seksual
PEMBAHASAN
A. Infeksi Menular Seksual (IMS)
1. Pengertian IMS
Penyakit Menular Seksual (PMS) disebut juga Infeksi Menular
Seksual (IMS) adalah sekelompok infeksi yang ditularkan melalui
hubungan seksual. Kebanyakan PMS dapat ditularkan melalui hubungan
seksual antara penis, vagina, anus dan mulut. (Zakaria 2012).
Menurut Depkes RI (2007) Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah
penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi Menular
Seksual akan lebih beresiko bila melakukan seksual dengan berganti-ganti
pasangan baik melaui, vagina, oral, maupun anal.
2. Tanda dan gejala IMS
Menurut Handoyo (2010) gejala infeksi menular seksual dibedakan
menjadi:
a. Perempuan
Luka dengan atau tanpa sakit disekitar alat kelamin, anus, mulut atau
bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil-kecil, diikuti luka yang sangat
sakit disekitar alat kelamin.
1) Cairan tidak normal yaitu cairan dari vagina bisa gatal, kekuningan,
kehijauan, berbau, atau berlendir.
2) Sakit pada saat buang air kecil yaitu IMS pada wanita biasanya
tidak menyebabkan sakit atau burning urination.
3) Perubahan warna kulit yaitu terutama dibagian telapak tangan atau
kaki, perubahan bisa menyabar keseluruh bagian tubuh.
4) Tonjolan seperti jengger ayam yaitu tumbuh tonjolan seperti
jengger ayam seperti alat kelamin.
5) Sakit pada bagian bawah perut yaitu rasa sakit yang muncul dan
hilang yang tidak berkaitan dengan menstruasi bisa menjadi tanda
infeksi saluran reproduksi ( infeksi yang telah berpindah kebagian
1
dalam sistem reproduksi, termasuk tuba falopi dan ovarium).
6) Kemerahan yaitu pada sekitar alat kelamin atau antara kaki.
b. Laki-laki
1) Luka dengan atau tanpa rasa sakit disekitar alat kelamin, anus mulut
atau bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil-kecil, diikuti luka sangat
sakit disekitar alat kelamin.
2) Cairan tidak normal yaitu cairan bening atau berwarna berasal dari
pembukaan kepala penis atau anus.
3) Sakit pada saat buang air kecil yaitu rasa terbakar atau rasa sakit
selama atau setelah urination.
4) Kemerahan pada sekitar alat kelamin, kemerahan dan sakit dikantong
zakar.
3. Jenis IMS berdasarkan kuman penyebab
Menurut Depkes RI (2007) Jenis Infeksi Menular Seksual (IMS)
berdasarkan penyebab antara lain:
1. Infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri:
a. Gonorhoe
1) Penyebab : Neisseria gonorhoe
2) Masa inkubasi : Selama 2-10 hari
3) Gejala : Infeksi yang menyerang pada selaput lendir ureta
pada laki-laki serta leher rahim dan uretra pada wanita.
Pada laki-laki berupa rasa gatal dan panas pada saat BAK, keluar
cairan atau nanah kental berwarna kuning kehijauan serta spontan
dari uretra ujung penis tampak merah, bengkak dan menonjol keluar.
Pada perempuan sebagian besar tidak menimbulkan keluhan atau
keluar cairan keputihan berwaarna kuning kehijauan dan kental,
kadang-kadang disertai rasa nyeri saat BAK.
4) Komplikasi
Yang sering terjadi pada laki-laki adalah pada testis atau buah zakar,
saluran sperma sehingga bisa menimbulkan penyempitan. Pada
2
wanita bisa terjadi penjalaran infeksi kerahim dam saluran telur
sehingga dapat menyebabkan kemandulan. Bila mengenai ibu hamil
dapat menularkan ke bayi saat melahirkan sehingga menyebabkan
infeksi pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan (Depkes RI,
2007).
b. Sifilis (Raja Singa)
Menurut Ardiyantoro dan Kumalasan (2010), sifilis disebut
juga raja singa, Mai de Naples, morbus gallicus, lues venerea.
1) Penyebab : Troponema pallidum
2) Macam sifilis :
a) Sifilis stadium I (sifilis primer)
Sifilis ini timbul antara 2-4 minggu setelah kuman masuk,
ditandai dengan adanya benjolan kecil merah biasanya 1 buah
kemudian menjadi lika atau koreng yang tidak disertai rasa
nyeri. Lokasi pada laki-laki biasanya pada alat kelamin
sedangkan pada wanita selain pada alat kelamin luar bisa juga
pada vagina maupun leher rahim. Tempat lain yang bisa terkena
adalah pada bibir, lidah, sekitar dubur.
b) Stadium II (sifilis sekunder)
Stadium ini terjadi setelah 6-8 minggu dan bisa berlangsung
sampai 9 bulan. Kelainan dimulai dengan adanya gejala nafsu
makan yang menurun, demam, sakit kepala, nyeri sendi.
Stadium ini disebut the grea imitator of the skin deseases
karena mempunyai tanda dan gejala menyerupai penyakit kulit
lain berupa bercak –bercak merah, benjolan kecil-kecil seluruh
tubuh, tidak gatal, kebotakan rambut dan sebagainya.
c) Stadium HI (sifilis tersier)
Umumnya timbul antara 3-10 tahun setelah infeksi. Diandai
dengan dua macam kelainan yaitu berupa kelainan yang bersifat
destruktif pada kulit,selaput lendir, tulang sendi dan adanya
3
radang yang terjadi secara perlahan-lahan pada jantung, sistem
pembuluh darah dan syaraf.
3) Komplikasi
Menurut Ardhiyantoro dan Kumalasari (2010) komplikasi
sifilis
yaitu:
a. Dapat menimbulkan kerusakan berat pada otak dan jantung jika
tidak diobati.
b. Selama kehamilan dapat ditularkan pada bayi dalam
kandungan dan dapat menyebabkan keguguran atau lahir cacat.
c. Memudahkan penularan HIV.
c. Ulkus molle
Disebabkan oleh infeksi bakteri hameophillusducreyi yang menular
karena hubungan seksual.
1) Gejala
a. Luka-luka dan nyeri tanpa radang jelas
b. Benjolan mudah pecah dilipatan paha disertai sakit
2) Komplikasi:
a. Luka dan infeksi hingga mematikan jaringan disekitarnya.
b. Tertular HIV
d. Granuloma inguinale
1. Penyebab
Menurut Handoyo (2010), sebuah luka kecil dibagian kemaluan
akan menyebar lama-kelamaan membentuk sebuah masa
granulomatus (benjolan-benjolan kecil) yang bisa menyebabkan
kerusakan berat organ-organ kemaluan.
2. Gejala
Menurut Depkes RI (2007), pada stadium awal dimulai
dengan adanya plenting kecil yang akan pecah dalam waktu
singkat kemudian menjadi luka, tidak nyeri dan sembuh sendiri
4
pada waktu singkat. Dalam waktu antara 1-4 minggu setelah luka
tersebut sembuh akan timbul pembengkakan kelenjar lipat paha
yang disertai rasa nyeri, keras, berbentk seperti sosis.
3. Komplikasi
Stadium lanjut pada laki-laki dapat menyababkan
pembengkakan pada penis dan scrotum (elefanitasi scrotum)
sedang pada wanita menyebabkan pembengkakan bibir kemaluan
(elephantiasis labiae/esthiomene).
2. Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan Virus
a. Herpes Genetalis
Menurut Adhiyantoro dan Kumalasari (2010), herpes genetalis
disebabkan virus herpes simplex tipe 1 dan 2 dengan masa inkubasi
antara 4-7 hari setelah virus berada dalam tubuh, dimulai dengan rasa
terbakar atau kesemutan pada tepat masuknya virus. Bagian tubuh
yang paling banyak terinfeksi adalah kepala penis dan preputium
(bagian yang disunat) serta bagian luar alat kelamin, vagina dan
serviks.
1. Gejala:
1) Bintil-bintil berkelompok seperti anggur berair dan nyeri pada
kemaluan, kemudian pecah dan meninggalkan luka yang kering
berkerak, lalu hilang dengan sendirinya.
2) Dapat muncul lagi seperti gejala awal biasanya hilang timbul,
kambuh apbila ada faktor pencetus, misalnya karena stres,
menstruasi, makan/minum beralkohol, hubungan seks
berlebihan, dan menetap seumur hidup.
3) Membesarnya kelenjar getah bening diselangkangan.
4) Susah buang air kecil.
2. Komplikasi:
1) Rasa nyeri berasal dari syaraf
2) Tertular pada bayi dan menyebabkan lahir muda, cacat, bayi,
5
lahir mati.
3) Radang tenggorokan (faringitis)
4) Infeksi selaput otak (meningitis)
5) Tertular HIV
6) Kanker leher rahim
b. Kondiloma akuiminata
1) Penyebab
Kondiloma akuiminata disebabkan oleh virus human
papilloma tipe 6 dan 11 dengan masa inkubasi 2-3 bulan setelah
kumanmasuk kedalam tubuh.
2) Gejala
Gejala yaitu terlihat adanya satu atau beberapa kutil (lesi)
didaerah kemaulan dan lesi ini dapat membesar.
Menurut Depkes RI (2007) gejala pada wanita hamil dapat
membesar sampai dubur dan mirip jengger ayam atau bunga kol.
Pada laki-laki mengenai alat kelamin dan sluran BAK bagian
dalam. Kadang-kadang kutil tidak terlihat sehingga tidak disadari
tidak biasanya laki-laki baru menyadari setelah dia menulari
pasangannya.
3) Komplikasi :
Menurut Depkes RI (2007), komplikasi kondoloma
akuminata yaitu kanker leher rahim atau kanker kulit disekitar
kulit kelamin.
3. Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan jamur yaitu:
a. Kandidiasis
1) Penyebab
Infeksi kandidiasis disebabkan oleh jamur candidia albican yang
pada umumnya terdapat di susu dan vagina.
2) Gejala
Gejalanya berupa keputihan menyerupai keju disertai lecet serta
6
rasa gatal dan iritasi didaerah bibir kemaluan dan berbau khas.
Menurut Depkes RI (2007) gejala kandidiasis yaitu : pada keadaan
normal jamur ini terdapat dikulit maupun didalam kemaluan
perempuan. Tetapi pada keadaan tertentu jamur ini meluas
sedemikian rupa hingga menimbulkan keputihan. Gejalanya
berupa keputihan berwarna seperti susu, bergumpal, disertai rasa
gatal panas dan kemerahan pada kelamin dan sekitarnya.
4. Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan parasit
a. Trikomonas vaginalis
Trikomonas adalah infeksi saluran urogenetalia yang dapat
bersifat akut atau kronik dan disebabkan oleh tricomonas vaginalis
1) Penyebab
Tricomonas vaginalis merupakan yang berflagela dengan masa
inkubasi sekitar 1 minggu, tapi dapat berkisar 4-28 hari.
2) Gejala
Wanita gatal-gatal dan rasa panas, vagina sekret vagina yang
banyak, berbau dan berbusa (sekret yang berbusa merupakan
bentuk klasik dari trikomonas sebanyak 12%, disuria dengan
pruritusedema vulva, perdarahan kecil-kecil pada permukaan
serviks.
7
melakukan himenektomi dan pemberian 10 antibiotika. Darah dari
vagina dan rongga rahim dilakukan drainase, penderita tidur posisi
Fowler.
2. Atresia labium minus
Disebabkan karena membran urogenitalis tidak menghilang.
Ostium uretra tetap ada demikian juga dengan liang vagina. Koitus
dapat dilakukan, kehamilan dapat terjadi. Saat persalinan
memerlukan sayatan kecil untuk melahirkan kepala bayi. Pada
umumnya bedah rekonstruksi sederhana dapat menyelesaikan
masalah ini.
3. Hipertrofi labium minus
Kelainan ini tidak berbahaya dan tidka berpengaruh terhadap
fertilitas. Masalah yang timbul adalah masalah estetika. Tindakan
rekonstruksi berupa pengangkatan jaringan yang berlebihan akan
cukup mengatasi masalah tersebut.
4. Duplikasi vulva
Sangat jarang ditemukan, bila terjadi biasanya diikuti dengan
kelainan congenital yang lain dan seringkali bersifat lethal.
5. Hipoplasi vulva
Bila kelainan ini terjadinya, seringkali disertai dengan tidak
berkembangnya organ reproduksi yang lain. Tanda seksual sekunder
juga tidak nampak.
6. Kelainan perineum
Bila septum urogenitalis tidak terbentuk, maka bayi tidak
memiliki lubang anus atau anus bermuara dalam sinus urogenital
sehingga terdapat lubang untuk keluar feces dan urine secara
bersama-sama
b. VAGINA
1. Septum Vagina
Septum sagital dapat ditemukan sehingga membagi vagina
8
seakan menjadi 2 ruangan kanan-kiri. Seringkali hal ini ditemukan
juga dengan kelainan pada uterus karena adanya gangguan fusi pada
duktus mulleri. Kelainan ini biasanya tidak menimbulkan keluhan,
menstruasi dapat terjadi normal. Saat hubungan seksual dapat terjadi
dyspareuni. Masalah dapat terjadi saat persalinan, karena septum
tersebut dapat menghambat penurunan kepala. Tindakan septektomi
dapat mengatasi masalah tersebut.
2. Aplasia Dan Atresia Vagina
Pada aplasia vagina, terjadi fusi dari duktus mulleri, tetapi
tidak terjadi kanalisasi atau tidak berkembang sehingga vagina tidak
terbentuk. Seringkali terdpat uterus yang rudimenter. Ovarium juga
seringkasi hipoplasi atau hanya berupa jaringan seperti pita atau
polikistik sehingga tidak menghasilkan folikel dan estrogen. Pada
aplasia vagina, hanya terdapat cekungan di introitus vagina. Keadaan
ini seringkali tidak disadari atau baru disadari saat hubungan seksual
atau saat konsultasi karena terjadi infertilitas. Tindakan vaginoplasti
dapat mengatasi masalah seksual, besar dan panjang vagina dapat
disesuaikan. Tindakan ini dilakukan saat penderita akan menikah
sehingga vagina yang dibuat dapat “dilatih” sehingga tidak
menyempit lagi.
3. Kista Vagina
Terdapat dua macam kista kongenital yaitu kista dari sisa
epitel duktus mulleri dan kista dari sisa duktus gardner (kista
Gardner) yang terletak pada bagian anterolateral vagina. TIndakan
yang dapat dilakukan adalah ekstirpasi kista.
c. Uterus dan Tuba Falopi
1. Gagal Pembentukan
Bila satu duktus tidak terbentuk,akan terjadi uterus unikornis
dengan satu tuba, satu ovarium dan satu ginjal sedangkan vagina san
serviks normal.
9
Bila kedua duktus tidak terbentuk, maka tidak terdapat
uterus, tuba dan vagina 2/3 bagian atas, sengakan vagina 1/3 bagian
bawah tetap terbentuk. Ovarium dapat terbentuk sehingga tanda seks
sekunder normal tetapi terjadi amenorea.
Tidak terbentuknya serviks tetapi uterus terbentuk merupakan
kelainan yang amat jarang dijumpai, keadaan ini disebut ginatresia
servikalis. Penderita akan mengalami gejala molimina mestrualia
dan kriptomenorea. Darah menstruasi akan tertimbun dalam rongga
uterus menimbulkan rasa nyeri. Tindakan bedah rekonstruksi dengan
memasang pipet polietilen dari rongga uterus ke vagina dan
pemberian antibiotic akan dapat mengatasi masalah ini. Pipet
tersebut diambil setelah ada epitelisasi sehingga tetap terbentuk
“jalan” dari dalam uterus ke vagina.
2. Gangguan Fungsi
Uterus dengan 2 bagian simetris
1. Satu uterus dengan 2 ruangan dalam rongga uterus yang
dipisahkan oleh sekat menyeluruh (uterus septus) atau
sebagian (uterus subseptus).
2. Dua uterus yang masing-masing memiliki rongga uterus atau 1
rongga uterus dengan 2 puncak uterus.
a) Uterus bikornis bikollis (uterus didelphys)
Dua uterus terpisah, disertai dengan 2 vagina atau satu
vagina yang terbagi oleh sekat vagina menjadi 2 bagian.
b) Uterus bikornis unikolli
Uterus dnegna 1 serviks, dengan 2 fundus masing-
masing dengan rongga uterus, 1 tuba dan 1 ovarium.
c) Uterus arkuatus
Terdapat sekungan pada pundus dengan subseptus.
Uterus dengan 2 bagian tidak simetris
Terjadi akibat satu duktus mulleri berkembanga
10
sedangkan yang satu lagi tidak berkembang, sehingga terjadi
hemiuterus yang berkembang normal sedangkan yang lain
rudimenter. Bagian yang rudimenter seringkali tidak
berhubungan dengan rongga uterus yang terbentuk. Bila
endometrium dari bagian yang rudimenter berfungsi maka dapat
terjadi timbunan darah.
Seperempat wanita dengan kelainan uterus kembar tidak
akan mengalami gangguan, dapat hamil dan melahirkan secara
normal. Gangguan yang mungkin timbul adalah dismenorea,
menoragia, metroragia, dispareunia dan infertilitas. Tindakan
korektif (operasi) dapat dilakukan untuk mengatasi kelaian
uterus tersebut.
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
ginekologi yang teliti dan mengguna pemeriksaan radiologis
berupa histerisalfingograf (HSG). Bila terdapat kelainan uterus,
kelainan traktus urinarius harus diteliti. Pielografi intravena
dapat dilakukan untuk mengetahui kelainan pada traktus
urinarius.
d. Ovarium
Keadaan tidak adanya ovarium baik bilateral maupun unilateral
dengan organ reproduksi lainnya normal adalah keadaan yang sangat jarang
ditemui.
e. Sistem Genital Dan Sistem Traktus Urinarius
Dua system ini saat pertumbuhan embriologi memiliki hubungan yang
dekat sehingga dapat terjadi kelainan bersamaan pada kedua system ini,
misalnya kloaka persisten, ekstrofi kandung kemih sehingga mendorong
vagina ke daerah suprapubik dan klitoris yang terbagi 2.
11
C. Kehamilan Ganda ( Multiple Pregnency )
1. Pengertian
Kehamilan kembar adalah satu kehamilan dengan dua janin. Kehamilan
tersebut selalu menarik perhatian wanita itu sendiri, dokter dan masyarakat.
Kehamilan kembar dapat memberikan resiko yang lebih tinggi terhapap bayi
dan ibu. Oleh karena itu, dalam menghadapi kehamilan kemmbar harus
dilakukan pengawasan hamil yang lebih intensif. Frekuensi kehamilan kembar
mengikuto rumus dari Herlin, yaitu 1:89-untuk hamil kembar, 1:89 pangkat dua
untuk kehamilan tiga sedangkan kuadranplet 1:89 pangkat tiga.(Manuba,
1998:265)
Kehamilan ganda dalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Sejak
diketemukan obat-obatan dan cara induksi ovulasi.(Mochtar, 1998:259)
Ketika dua atau lebih tumbuh dalam uterus pada saat yang bersamaan, kondisi
ini dikenal sebagai kehamilan multipel.(Reeder,dkk.2011)
Kehamilan kembar adalah dua atau lebih janin yang ada didalam
kandungan selama proses kehamilan.
2. Tanda dan Gejala Kehamilan Gemelli
Menurut Dutton, dkk (2012:156) tanda dan gejala pada kehamilan
kembar adalah sebagai berikut:
1) Pada kehamilan kembar distensi uterus berlebihan, sehingga melewati batas
toleransinya dan seringkali terjadi partus prematurus. Usia kehamilan makin
pendek dan makin banyaknya janin pada kehamilan kembar.
2) Mual dan muntah berat karena HCG meningkat
3) Palpasi abdomen mendapatkan 3 atau lebih bagian tubuh yang besar
4) Auskultasi lebih dari satu denyut jantung yang terdengar jelas dan berbeda
(nonmaternal) lebih dari 10 denyut/menit. Kecurigaan meningkat jika
keluarga memiliki riwayat kehamilan kembar
5) Penggunaan stimulator ovulasi
6) Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan kembar bertambah
sehingga dapat menyebabkan anemia dan penyakit defisiensi lain.
12
7) Frekuensi hidramnion kira-kira sepuluh kali lebih besar pada kehamilan
kembar daripada kehamilan tunggal.
8) Frekuensi pre-eklamsia dan eklamsia juga dilaporkan lebih sering pada
kehamilan kembar.
9) Solusio plasenta dapat terjadi kemudian seperti sesak nafas, sering kencing,
edema dan varises pada tungkai bawah dan vulva.
3. Jenis- Jenis Kehamilan Kembar ( Gemeli )
1. Kembar Monozigotik.
Monozigotik atau identik muncul dari suatu ovum tunggal yang dibuahi
yang kemudian membagi menjadi dua struktur yang sama, masing-masing
dengan potensi untuk berkembang menjadi suatu individu yang terpisah.
Karena berasal dari satu ovum, hamil kembar ini mempunyai ciri-ciri yaitu
jenis kelamin sama, wajah mirip, golongan darah sama, cap tangan dan kaki
sama.
Hasil akhir dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada kapan
pembelahan terjadi, dengan uraian sebagai berikut:
a. Apabila pembelahan terjadi 72 jam pertama setelah pembuahan,
maka 2 embrio, 2amnion serta 2 chorion akan terjadi dan kehamilan
diamnionik dan di chorionik. Kemungkinan terdapat dua plasenta
yang berbeda atau suatu plasenta tunggal yang menyatu.
b. Apabila pembelahan terjadi antara hari ke-4 dan ke-8 maka 2 embrio
akan terjadi, masing-masing dalam kantong yang terpisah atau 2
amnion, dengan chorion bersama, dengan demikian menimbulkan
kehamilan kembar diamnionik, monochorionik.
c. Apabila terjadi sekitar 8-13 hari setelah pembuahan dimana amnion
telah terbentuk, maka pembelahan akan menimbulkan 2 embrio
dengan kantong amnion bersama, atau kehamilan kembar
monoamnionik, monochorionik.
d. Apabila pembuahan terjadi setelah hari ke-13, yaitu setelah lempeng
embrionik terbentuk, maka pembelahannya tidak lengkap dan
13
terbentuk kembar yang menyatu atau kembar siam.
2. Kembar Dizigot.
Dizigotik atau fraternal yaitu kembar yang ditimbulkan dari dua ovum yang
terpisah. Kembar dizigotik terjadi dua kali lebih sering daripada kembar
monozigotik dan insidennya dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain
yaitu ras, riwayat keluarga, usia maternal, paritas, nutrisi dan terapi
infertilitas. Sebagian besar kehamilan kembar dizigotik mempunyai ciri-ciri
yaitu jenis kelamin mungkin berbeda, golongan darah mungkin berbeda, cap
kaki dan tangan tidak sama, dan dalam bentuk 2 plasenta, 2 chorion, dan 2
amnion.
14
yang lebih tinggi dan berbadan besar mempunyai resiko hamil kembar 25-
30% dibandingkan dengan ibu yang lebih pendek dan berbadan kecil.
5. Faktor Terapi Infertilitas
Induksi ovulasi dengan menggunakan FSH plus chorionik gonadotropin
atau chlomiphene citrat menghasilkan ovulasi ganda. Faktor resiko untuk
kehamilan ganda setelah ovarium distimulasi dengan hMG (therapy human
menopause gonadotropin) berpengaruh terhadap peningkatan jumlah
estradiol dan injeksi chorionic gonadotropin pada saat bersamaan akan
berpengaruh terhadap karakteristik sperma, meningkatkan konsentrasi dan
mortilitas sperma.
6. Faktor Assited Reproductive Technology (ART)
Teknik ART didesain untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan, dan
juga meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar. Pasien pada kasus ini,
pembuahan dilakukan melalui tehnik fertilisasi in vitro dengan melakukan
seleksi terhadap ovum yang benar-benar berkualitas baik, dan dua dari empat
embrio yang ditransfer kedalam uterus.
5. Efek jnin Kembar pada Kehamilan
Di luar aspek emosional, social dan finansial,kehamilan kembar dapat di persulit
oleh:
Kelainan ringan yang menjadi lebih mengganggu.
Polihidramnios (caira amion yang berlebihan).
Pre-eklampsia (lebih sering terjadi).
Plasenta letak rendah yang mengenai daerah yang lebih luas(perdarahan
amtepartum)
Insufisiensi fetal / plasental (keadaan tidak sanggup melakukan yang
normal)
Persalinan premature akibat peningkatan tekanan intrauteri
Persalinan dapat di persulit oleh:
Malpresentasi, khususnya kembar kedua,yang sering meliputi letak lintang
atau transversal
15
Ketuban pecah dini(peningkatan tekanan intrauteri) sebelum janin pertama
mengalami engagement dalam ronggaa panggul-bahaya prolapses funikuli.
Pelepasan plasenta janin kedua sebelum waktunya(premature) yang terjadi
setelah pelahiran bayi pertama dengan di ikuti oleh penurunan ukuran
uterus.
Setelah pelahiran terdapat predisposisi untuk terjadinya:
Perdarahan maternal postpartum-akibat uterus yang teregang secara
berlebihan dan besarnya lokasi pelekatan plasenta.
Prematuritas bayi dan bahaya yang meyertainya
16
banyak makan juga bisa terjadi pada kehamilan normal.
3. Etiologi
Diabetes Melitus Gestasional (DMG) dapat merupakan kelainan herediter
dengan cara insufisiensi atau absennya insulin dalam sirklulasi darah, dan
konsentrasi gula darah tinggi. Diabetes dalam kehamilan menimbulkan banyak
kesulitan. Penyakit ini akan menyebabkan perubahan-perubahan metabolik dan
hormonal pada penderita yang juga dipengaruhi kehamilan dan persalinan.
Ibu hamil yang mempunyai risiko tinggi DM Gestasional pada umur lebih
dari 30 tahun, obesitas dengan indeks masa tubuh 30 kg/m², ada riwayat DM pada
keluarga (ibu atau ayah), pernah menderita DM gestasional sebelumnya, pernah
melahirkan anak besar >4000 gram dan adanya glukosuria (Bobak & Jensen 2004:
701)
4. Klasifikasi
Pada Diabetes Melitus Gestasional (DMG), ada dua kemungkinan yang
dialami oleh si ibu, yaitu memang telah menderita sejak sebelum hamil atau saat
hamil. Klasifikasi DM dengan kehamilan menurut Pyke ada tiga kelas, yaitu kelas
I Gestasional diabetes, yaitu diabetes yang timbul pada waktu hamil dan
menghilang setelah melahirkan. Kelas II Pregestasional diabetes,yaitu diabetes
mulai sejak sebelum hamil dan berlanjut setelah hamil. Kelas III pregestasional
diabetes yang disertai komplikasi penyakit pembuluh darah seperti retinopati,
nefropati, penyakit pembuluh darah panggul dan pembuluh perifer, 90% dari
wanita hamil yang menderita diabetes termasuk ke dalam kategori DMG (Tipe II) (
Bobak & Jensen 2004: 702)
5. Patofisiologi
Pada DMG, selain perubahan-perubahan fisiologi tersebut, akan terjadi suatu
keadaan dimana jumlah atau fungsi insulin menjadi optimal. Terjadi perubahan
kinetika insulin dan resistensi terhadap efek insulin. Akibatnya, komposisi sumber
energi dalam plasma ibu bertambah (kadar gula darah tinggi, kadar insulin tetap
tinggi).
Melalui difusi terfasilitasi dalam membran plasenta, dimana sirkulasi janin
juga ikut terjadi komposisi sumber energi abnormal (menyebabkan kemungkinan
terjadi berbagai komplikasi). selain itu terjadi juga hiperunsilinemia sehingga janin
17
juga mengalami gangguan metabolik (hipoglikemia, hipomagnesemia,
hipokalsemia, hiperbilirubinemia, dan sebagainya).
Jika pada pemeriksaan berat badan ditemukan bayinya besar sekali, maka
perlu dilakukan induksi pada minggu ke 36-38 untuk mencegah terjadinya
komplikasi saat persalinan. Proses persalinan ini harus dalam pengawasan ketat
oleh dokter spesialis kebidanan dan dokter spesialis penyakit dalam. Biasanya,
setelah bayi baru lahir maka kadar gula darah akan kembali normal, apabila tidak,
maka perludilanjutkan pemberian antidiabetes oral sampai jangka waktu tertentu.
Pada kehamilan normal terjadi banyak perubahan pada pertumbuhan dan
perkembangan fetus secara optimal. Pada kehamilan normal, kadar glukosa darah
ibu lebih rendah secara bermakna, hal ini disebabkan oleh pengambilan glukosa
sirkulasi meningkat, produksi glukosa dari hati menurun, produksi alanin (salah
satu precursor glukoneogenesis) menurun, aktifitas ekstresi ginjal meningkat, efek-
efek hormon gestasional (kortisol, human plasenta lactogen, ekstrogen, dan lain-
lain), dan perubahan metabolisme lemak dan asam amino.
6. Manifestasi klinis
1) Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya
serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula
banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
2) Polidipsy (banyak minum)
Hal ini disebabkan oembakaran terlalu banyak dan kehilangan banyak cairan
karena poliuri. Di samping itu, efek dari dehifrasi intraseluler sehingga reseptornya
yang ada di sel memberikan asosiasi sebagai rasa haus SSP sehingga klien banyak
minum.
3) Polipagy (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami
starvasi (lapar). sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi
walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada
sampai pembuluh darah.
Di samping trias diabetik di atas, gejala lain yang menyertai adalah
penurunan berat badan, kesemutn, gatal, pandangan kabur, pruitus valvae pada
18
wanita, lemas, lekas lelah, dan tenaga kurang. Hal ini disebabkan kehabisan
glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusaha mendapat peleburan
zat dari bagian tubuh yang lain, yaitu lemak dan protein. Karena terus merasakan
lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan termasuk yang
berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak
makan akan tetap kurus.
7. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik memiliki kriteria diagnosis sebagai berikut.
1) Gejala klasik DM + gula darah sewaktu ≤200 mg/dl. Gula darah sewaktu
merupakan hasil pemeriksaan saat pada sutau hari tanpa memerhatikan waktu
makan terakhir.
2) Kadar gula darah puasa 126 mg/dl. Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori
tambahan sedikitnya 8 jam.
3) Kadar gula darah 2 jam pada TTGO 200 mg/dl. TTGO dilakukan dengan standar
WHO, mengunakan beban glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang
dilarutkan dalam air.
4) Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994):
a. Tiga hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari
(dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani
seperti biasa.
b. Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan,
minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.
c. Diperiksa kadar glukosa darah ketika puasa.
d. Diberikan glukosa 75g (orang dewasa), atau 1,75 g/Kg BB (anak-anak),
dilarutkan dalam 250 ml air, dan diminum dalam waktu 5 menit.
e. Berpuasa kembali sampai pengambilan semple darah untuk pemeriksaan 2
jam setelah minum larutan glukosa selesai.
f. Diperiksa kadar glukosa darh 2 jam sesudah beban glukosa.
g. Selama proses pemeriksaan subjek yang diperiksa tetap teristirahat dan tidak
merokok. Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau
DMG maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT (Toleransi Glukosa
19
Tergaggu) atau GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu) dari hasil yang
diperoleh.
h. TGT glukosa darah plasma 2 jam setelah pembebanan antara 140-199 mg/dL.
20