TUGAS MANAJEMEN PROYEK
Manajemen Risiko dalam Bidang Teknik Kimia
Dosen Pengampu :
Dr. Said Zul Amraini, ST., MT
Disusun Oleh:
Salwa Nabila (2307126155)
Program Studi Sarjana Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Riau
Pekanbaru
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan karunia-Nya sehingga Saya dapat menuntaskan tugas makalah yang
berjudul “Manajemen Risiko dalam Teknik Kimia” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dosen
pada mata kuliah Manajemen Proyek. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Said Zul Amraini, ST.,
MT. selaku dosen mata kuliah manajemen proyek yang telah memberikan tugas ini
sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi
yang saya tekuni. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga makalah ini bisa terselesaikan
dengan sebaik mungkin. Saya menyadari bahwa makalah yang Saya tulis ini masih
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan
Saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Pekanbaru, 14 Oktober 2024
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap proyek direncanakan, dianggarkan, dijadwalkan, dan dikendalikan
sebagai tugas yang unik, bersifat multidisiplin dan harus melihat batasan-batasan
antar departemen. Karena melintasi batas departemen ini, maka suatu proyek
memiliki kecenderungan terjadinya konflik antar kelompok karena adanya faktor
ketidakpastian. Suatu proyek harus dapat memenuhi tiga tujuan yang saling
berhubungan, 1) proyek harus dapat selesai sesuai jadwal, 2) diselesaikan sesuai
anggaran yang ada, 3) harus memenuhi spesifikasi untuk memuaskan pelanggan
(Prapti, 2007).
Tiap proyek memiliki tujuan khusus dimana dalam mencapainya ada batasan
yang harus dipenuhi, yaitu anggaran proyek yang dialokasikan, jadwal pelaksanaan
proyek, serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut sering diasosiasikan
sebagai sasaran proyek yaitu biaya, waktu, dan mutu (Bonny & James, 2013).
Risiko secara umum didefinisikan sebagai potensi terjadinya suatu peristiwa
baik yang diperkirakan maupun yang tidak dapat diperkirakan dan dapat
menimbulkan dampak bagi pencapaian tujuan. Manajemen risiko adalah bagian
penting dari strategi manajemen semua perusahaan. Proses di mana suatu organisasi
yang sesuai metodenya dapat menunjukkan risiko yang terjadi pada suatu aktivitas
menuju keberhasilan di dalam masing-masing aktivitas dari semua aktivitas. Fokus
dari manajemen risiko yang baik adalah identifikasi dan cara mengatasi risiko.
Sasarannya untuk menambah nilai maksimum berkesinambungan (sustainable)
organisasi. Tujuan utama manajemen resiko adalah mengenali semua kemungkinan
kegagalan dari suatu proyek dengan melihat kekomplekan dalam memutuskan
langkah solusi yang akan dibuat secara alami. Manajemen risiko meningkatkan
kemungkinan sukses, mengurangi kemungkinan kegagalan dan ketidakpastian
dalam memimpin keseluruhan sasaran organisasi. Solusi pemecahan masalah
dilakukan dengan meminimalkan segala macam ketidak jelasan yang muncul di
awal proyek dan melakukan evaluasi terhadap pemecahan tersebut (Afrizal, 2013).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah suatu proses yang sistematis dalam
mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan risiko yang dapat muncul
dalam suatu organisasi atau proyek. Dalam konteks teknik kimia, manajemen risiko
mencakup identifikasi potensi bahaya yang mungkin terjadi pada setiap tahap
proses kimia, mulai dari penelitian, pengembangan, produksi hingga pembuangan
limbah. Ini melibatkan penilaian probabilitas kejadiannya dan potensi dampaknya,
serta pengembangan strategi untuk mencegah atau memitigasi risiko tersebut.
Industri kimia memiliki karakteristik yang sangat unik dan kompleks, di mana
kelalaian dalam proses atau manajemen yang buruk dapat menimbulkan dampak
negatif yang luas, baik terhadap manusia maupun lingkungan. Sebagian besar
insiden industri kimia dapat dicegah dengan praktik manajemen risiko yang baik.
Secara spesifik batasan risiko suatu proyek adalah variabilitas pendapatan
sebagai dampak dari variasi Aliran kas masuk dan keluaran selama umur investasi
yang bersangkutan. Variasi ini erat hubungannya dengan ketidak tepatan dalam
mengambil prakiraan perihal, misalnya kemajuan teknologi di masa depan
penyerapan atas produk, kuantitas peralatan maupun material yang diperlukan.
Macam risiko proyek dapat dikelompokkan menjadi dua :
• Resiko proyek Tunggal
• Resiko kombinasi multi proyek
Manajemen resiko merupakan bagian/tidak terpisahkan dari sebuah
aktivitas proyek yang telah ditetapkan, tetapi merupakan salah satu aspek teknis
dalam program manajemen (Joni, 2012).
2.2. Strategi Manajemen Risiko
Menurut Joni (2012). Strategi manajemen resiko sangat penting ditetapkan
pada awal proyek dan resiko ditujukan pada seluruh daur hidup proyek secara
menerus. Resiko managemen mencakup beberapa kegiatan, yaitu:
• Memperkirakan resiko
• Menganalisis resiko
• Menangani resiko
• Belajar dari pengalaman
2.3. Analisis Resiko
Tujuan dari analisis dan manajemen risiko adalah membantu menghindari
kegagalan dan memberikan gambaran tentang apa yang terjadi bila pembangunan
yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan rencana analisis risiko yang dilakukan
secara sistematis dapat membantu untuk:
• Mengidentifikasi, menilai dan meranking risiko secara jelas.
• Memusatkan perhatian pada risiko utama (major risk).
• Memperjelas keputusan tentang batasan kerugian.
• Meminimalkan potensi kerusakan apabila timbul keadaan yang
paling jelek.
• Mengontrol aspek ketidakpastian.
• Memperjelas dan menegaskan peran setiap orang/badan yang
terlibat dalam manajemen risiko.
Mendefinisikan sebuah resiko proyek sebelum diputuskan dapat ditarik
menjadi kegagalan, ketika resiko dinyatakan umum sebagai potensi sebuah proyek
dan kualitas yang dikehendaki dalam rencana biaya dan jadwal anggaran. Apabila
risiko yang timbul akibat suatu aktivitas sudah teridentifikasi, maka selanjutnya
dilakukan upaya/tindakan untuk mengurangi risiko yang muncul. Tindakan ini
disebut Risk Mitigatian (Mitigasi risiko). Risk mitigation yang dapat dilakukan
dalam majemen risiko antara lain, risk retention yaitu tindakan untuk
menerima/menahan risiko karena dampak dari suatu kejadian yang merugikan
masih dapat diterima. Jika mungkin, dampak kejadian itu dapat dikurangi dengan
melakukan risk reduction walaupun dengan tindakan ini mungkin masih ada risiko-
risiko sisa (residual risk) yang perlu dilakukan penilaian lagi atau dapat juga
memindahkan risiko itu (risk transfer) kepada pihak ketiga misalnya kepada
asuransi dengan suatu biaya tertentu. Sedangkan tindakan terakhir yang dapat
dilakukan dalam mitigasi risiko adalah dengan menghindari risiko itu sendiri, jika
dampak dari risiko itu tidak dapat diterima (Norken dkk., 2012).
2.4. Klasifikasi Resiko Proyek
Menurut Prapti (2007), Secara garis besar membagi resiko menjadi dua
yaitu recognizable risk dan unmanaged assumption.
1) Recognizable risk diklasifikasikan menurut tiga faktor yaitu:
• Risk categories, dipisahkan menjadi resiko operasional, resiko finansial,
resiko manajemen proyek, resiko strategik, resiko teknologi, dan
kesalahan asumsi.
• Risk severity, berhubungan dengan akibat resiko terhadap proyek dan
bisnis.
• Risk probability, sering diindikasikan sebagai kesalahan asumsi atas
ketersediaan sumberdaya dan ketrampilan atau dengan masalah waktu
dan sinkronisasi.
2) Unmanaged assumption sebagai sesuatu yang layak atau tidak tepat dan
dapat menjadi bahaya yang besar. Asumsi harus dikelola dalam berbagai
cara sebagai resiko karena dalam kenyataan asumsi adalah sumber baru dari
resiko. Oleh karena itu asumsi harus didokumentasikan dan dimonitor untuk
menjamin bahwa mengubah keadaan tidak meniadakan asumsi dan
mengubahnya menjadi resiko. Asumsi proyek diturunkan dari tiga sumber
yaitu:
• Experiencebased assumption
• Brainstorming-based assumption identification
• Converting low risk into assumption
Tah and Carr (2000) mengklasifikasikan resiko dalam dua kelompok yaitu
primary risk, dan secondary risk. Dengan menggunkan hierarchical risk
breakdown structure resiko dibedakan menjadi dua, yaitu:
• Internal risk, dibedakan menjadi local risk dan global risk
• External risk, dibedakan menjadi lima kategori seperti: economic risk,
physical risk, political risk, technological risk, social risk
2.5. Proses Manajemen Resiko
Menurut Prapti (2007), Proses manajemen resiko meliputi empat fase
proses, yaitu:
1) Identifikasi resiko. Menganalisis proyek untuk mengidentifikasi sumber
resiko.
2) Penilaian resiko. Penilaian mengenai pengaruh yang ditimbulkan,
kemungkinan yang terjadi, dan pengendaliannya.
3) Mengembangkan respon terhadap resiko termasuk kemungkinan untuk
mengurangi kerusakaan, dan mengembangkan perencanaan kontingensi.
4) Mengendalikan respon terhadap resiko yang meliputi perbaikan strategi
resiko, monitoring dan melakukan penyesuaian perencanaan untuk resiko
baru, serta melakukan perubahan manajemen.
Dalam manajemen resiko ketika proyek berjalan, aspek penting yang harus
diperhatikan berkenaan dengan pengaruhnya terhadap resiko proyek harus
menekankan pada:
1) Hubungan dan konsistensi work breakdown structure.
2) Manajemen kejadian yang paling utama (milestone) dan akurasi
pengawasan.
3) Keberhasilan prosedur verifikasi.
4) Mengubah sistem pengendalian.
Secara garis besar fase-fase manajemen proyek digambarkan dalam tabel berikut:
Ketika kita ingin mendefinisikan sebuah proyek yang harus dilakukan
adalah mengidentifikasi batasan-batasan atas penjadwalan proyek (project
schedule), cost suatu proyek (project cost), dan performance project (dalam
terminologi skope/cakupan dan kualitas proyek). Manajemen resiko dapat
dilakukan pada saat negosiasi kontrak proyek (ketika proyek belum dijalankan)
dan pada saat proyek berjalan. Manajemen resiko pada tahap dilakukan negosiasi
kontrak proyek meliputi:
• Menggunakan profil resiko proyek yang dihasilkan dari analisis
resiko untuk mengidentifikasi ketrampilan dan teknik manajemen
untuk meminimalisasi resiko yang melekat pada proyek.
• Mengidentifikasi, mereview, dan menginterpretasikan informasi
dalam lingkungan proyek yang berguna untuk menjamin
keberlangsungan dan keberhasilan mendapatkan outcome dari
proyek tersebut.
• Mengetahui kapan, bagaimana, dan dengan siapa melakukan
negosiasi yang memungkinkan memfasilitasi kemajuan proyek dan
kemampuan mendapatkan outcome.
(Prapti, 2007).
Suatu proyek tidak lepas dari resiko yang bersumber dari internal dan
external organisasi karena adanya ketidakpastian. Manajemen proyek bertujuan
agar tercapai penyelesaian proyek yang tepat waktu, tepat anggaran, tepat
spesifikasi dengan kata lain performance proyek sangat dipengaruhi oleh kriteria
atau spesifikasi performance yang ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu
diperlukan manajemen resiko yang baik untuk mencapai performance proyek
(Bonny & James, 2013).
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal, Y. (2013). MENGAPA PROYEK PERANGKAT LUNAK GAGAL .
Jurnal Sistem Informasi , 4 (1), 1-6.
Bonny F. S, & James. A. (2013). RESIKO PADA PROYEK-PROYEK
DERMAGA DI SULAWESI UTARA. Jurnal Ilmiah MEDIA
ENGINEERING , 3 (2), 2087-9334.
Joni, I. G. (2012). RESIKO MANAJEMEN PROYEK . Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
, 16 (1), 48-55.
Norken N. I, dkk., (2012). MANAJEMEN RISIKO PADA PROYEK
KONSTRUKSI DI PEMERINTAH KABUPATEN JEMBRANA. Jurnal
Ilmiah Teknik Sipil , 16 (2), 202-211.
Prapti, M. S. (2007). MANAJEMEN RESIKO PROYEK: SUATU KAJIAN
TEORITIS. Jurnal Teknik Industri, 11 (2), 74-83.