0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan22 halaman

Pencegahan Diabetes Melitus: Penyuluhan Keperawatan

Diunggah oleh

Alifuru muda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan22 halaman

Pencegahan Diabetes Melitus: Penyuluhan Keperawatan

Diunggah oleh

Alifuru muda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

LANGKAH AWAL MENCEGAH DIABETES MELITUS

Disusun untuk memenuhi tugas Keperawatan Medikal Bedah

Disusun Oleh :

KELOMPOK 4

ROHMAN AMANULLOH (2431061009)

RIDA ANANDA KRISTANTI (2431061010)

ANASTASYA TUHUMURY (2331061005)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS

INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN MALANG WIDYA CIPTA HUSADA

TAHUN 2024
LEMBAR PENGESAHAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN DI RUANG DIPONEGORO ATAS

RSUD KANJURUHAN KABUPATEN MALANG

LANGKAH AWAL MENCEGAH DIABETES MELITUS

Telah diperiksa kelengkapannya pada :

Hari :

Tanggal :

Dosen Pembimbing Institusi Dosen Pembimbing Lahan

Wyssie Ika Sari, [Link]., Ns., Yuni Purwati, [Link].,Ns


[Link].,Ns

KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT. Atas limpahan
rahmat, ridha, dan karunia-Nya Laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dapat
diselesaikan tepat waktu. Sholawat serta salam tak lupa dihaturkan kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai suri teladan bagi umat. Sehubungan dengan adanya
mata kuliah wajib Keperawatan Jiwa, mahasiswa diharapkan dapat terjun
langsung untuk melihat fenomena kasus di lapangan. Satuan acara penyuluhan ini
disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban tertulis atas terlaksananya kegiatan.
Durasi kegiatan penyuluhan kurang lebih 30 menit.
Kelancaran kegiatan penyuluhan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak, baik secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu :
1. Ibu Wyssie Ika Sari, [Link].,Ns. [Link].,Ns selaku dosen pembimbing
institusi Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang telah memberikan bimbingan
2. Ibu Yuni Purwati, [Link].,Ns selaku dosen pemimbing lahan di Ruang
Diponegoro Atas
3. Pasien di Ruang Diponegoro Atas yang telah memberikan kesempatan
untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan ini
4. Teman-teman sekalian yang saling bahu membahu agar terlaksananya
kegiatan penyuluhan dengan baik
Laporan ini menjelaskan aktivitas PKL berupa penyuluhan yang telah
dilaksanakan. Selama berada di Ruang Diponegoro Atas. Dalam proses
pembuatan laporan tentu masih terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, kritik
dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan.

Malang, 01 November 2024

Penulis

DAFTAR ISI
Judul Halaman
Lembar Pengesahan ..................................................................................... ii
Kata Pengantar ............................................................................................. iii
Daftar Isi ........................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan ...................................................................................... 1
1.2 Tujuan Umum .................................................................................... 2
1.3 Tujuan Khusus ................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi .............................................................................................. 3
2.2 Etiologi .............................................................................................. 3
2.3 Tanda dan Gejala ............................................................................... 6
2.4 Jenis Diabetes melitus ....................................................................... 7
2.5 Penanganan ........................................................................................ 8
2.6 Peran Keluarga .................................................................................. 8
BAB III SATUAN ACARA PENYULUHAN
3.1 Tujuan Instruksional .......................................................................... 11
3.2 Sub Pokok Bahasan ........................................................................... 11
3.3 Kegiatan Penyuluhan ......................................................................... 13
3.4 Setting Tempat .................................................................................. 13
3.5 Media Penyuluhan ............................................................................. 14
3.6 Metode Penyuluhan ........................................................................... 15
3.7 Evaluasi ............................................................................................. 16
BAB IV BERITA ACARA PENYULUHAN INDIVIDU
4.1 Berita Acara Penyuluhan ................................................................... 18
LAMPIRAN .................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 20

BAB I
LATAR BELAKANG
1.1. Pendahuluan
Diabetes Millitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang
ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi normal serta gangguan
metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh
kekurangan hormon insulin secara relatif. Pada umumnya ada 2 tipe
diabetes, yaitu diabetes tipe 1 (tergantung insulin), dan diabetes tipe 2 (tidak
tergantung insulin), tetapi ada pula diabetes dalam kehamilan yang biasa
disebut diabetes gastointestinal. Kasus diabetes dilaporkan mengalami
peningkatan di berbagai negara berkembang termasuk di indonesia (Suyono,
2009).
Menurut PERKENI (2015) World Health Organitation (WHO)
memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM pada tahun 2000 di
Indonesia mencapai 8,4 juta jiwa dan diperkirakan meningkat menjadi 21,3
juta jiwa di tahun 2030 mendatang, dan angka tersebut terjadi di negara
berkembang, termasuk negara Indonesia. Angka kejadian DM di Indonesia
menempati urutan keempat tertinggi di dunia yaitu 8,4 juta jiwa. Tidak
menutup kemungkinan jumlah tersebut akan meningkat di tahun mendatang.
Jumlah penderita DM meningkat akibat faktor genetik, pola hidup yang
tidak sehat, prevalensi obesitas meningkat dan kurangnya kegiatan fisik atau
olahraga.
Jika diabetes millitus tidak segera ditangani akan menimbulkan
berbagai komplikasi organ tubuh seperti pada mata, ginjal, jantung,
pembuluh darah, syaraf dan lain lain. Penderita diabetes millitus
dibandingkan dengan penderita non diabetes millitus mempunyai
kecenderungan 25 kali terjadi buta, 2 kali terjadi penyakit jantung koroner, 7
kali terjadi gagal ginjal kronik, dan 5 kali menderita ulkus diabetikum
(Kozier, 2010). Diabetes militus merupakan salah satu penyakit yang dapat
meyebabkan kerusakan organ tubuh seperti kerusakan pada mata, ginjal,
jantung, dan ekstremitas serta dapat meyebabkan kematian.
1.2. Tujuan Umum

Penulis mampu memahami konsep penyakit diabetes militus dan


mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes
melittus

1.3. Tujuan Khusus


Penulis mampu menggambarkan, mengetahui, menentukan, memahami,
menjelaskan, dan mendiskripsikan :
1. Memahami definisi diabetes melitus
2. Memahami penyebab diabetes melitus
3. Memahami tanda gejala diabetes melitus
4. Memahami patofisiologi diabetes melitus
5. Memahami penanganan diabetes melitus
6. Memahami komplikasi diabetes melitus
7. Memahami pemeriksaan penunjang diabetes melitus
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Diabetes melitus (DM) merupakan sekelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik terjadinya peningkatan kadar gula darah yang tinggi
(hiperglikemia) yang diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin, resistensi
insulin atau keduanya yang berlangsung lama (kronik) dan dapat
menyebabkan kerusakan gangguan fungsi, kegagalan berbagai organ,
terutama mata, organ ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah lainnya
Smeltzer & Bare, (2008) Menurut American Diabetes Association (ADA)
2010, Diabetes Melittus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau keduanya. Diabetes melittus tipe 2 terjadi jika
insulin hasil produksi pancreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh
menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadilah gangguan pengiriman
gula ke sel tubuh. Diabetes Tipe 2 ini merupakan tipe diabetes yang paling
umum dijumpai, juga sering disebut diabetes yang dimulai pada masa
dewasa, dikenal sebagai NIDDM (Non-insulin-dependent diabetes melitus).

2.2 Etiologi
Diabetes melitus disebabkan oleh penurunan kecepatan insulin oleh
sel-sel beta pulau Langerhans pankreas. Penyebab resistensi insulin pada
diabetes melittus tipe 2 sebenarnya tidak begitu jelas namun dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu obesitas, diet tinggi lemak dan
rendah karbohidrat, kurang beraktivitas dan faktor keturunan (herediter)

2.3 Tanda dan gejala


Gejala klinis dari keluhan utama dilihat dari sudut penderita diabetes
melittus sendiri, hal yang sering menyebabkan penderita datang berobat ke
dokter dan kemudian didiagnosis sebagai diabetes melittus keluhan :
1. Kelainan kulit : gatal, bisul-bisul
2. Kelainan ginekologis : keputihan
3. Kesemutan, rasa baal
4. Kelemahan tubuh
5. Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh
6. Infeksi saluran kemih
Selain itu ada beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat
perhatian dalam menegakkan diagnosis diabetes melittus. diantaranya
adalah sebagai berikut:
1. Gangguan penglihatan Pada fase permulaan penyakit diabetes melittus
sering dijumpai gangguan pengilhatan yang mendorong penderita untuk
mengganti kaca matanya berulang kali agar ia tetap dapat melihat
dengan baik. Kejadian demikian dalam jangka waktu yang pendek,
menimbulkan kecurigaan terhadap diidapnya diabetes melittus
2. Penurunan berat badan dan astenia Penurunan berat badan secara drastic
kehilangan jaringan lemak dan jaringan otot, terjadi karena kekurangan
insulin yang mengakibatkan tubuh kehilangan glukosa secara terus-
menerus. Sedangkan astenia (rasa lemah) terjadi karena badan
kehilangan air dan elektrolit yang menyertai glukosaria pada proses
diuresis melalui osmosis pada hiperglikemi.
3. Poliuria (peningkatan pengeluaran urin)
4. Polidpsi (peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat besar
dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi
ekstrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi
keluar sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi ke plasma yag
hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran
ADH dan menimbulkan rasa haus
5. Polifagis (peningkatan rasa lapar) akibat keadaan pasca absoptif yang
kronik, katabolisme protein dan lemak dan kelapran relative sel-sel
sering terjadi penurunan berat badan
6. Rasa lelah dan kelemahan otot akibat katabolisme protein di otot dan
ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa
sebagai energi. Gangguan aliran darah yang dijumpai pada pasien
diabetes lama juga berperan menimbulkan kelelahan
7. Peningkatan angka infkesi akibat peningkatan konsentrasi klukosa di
sekresi mucus, gangguan fungsi imun dan penurunan aliran darah pada
penderita diabetes kronik

2.4 Patofisiologi
Dalam proses metabolisme, insulin memegang peran yang sangat
penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel untuk selanjutnya
digunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini adalah hormone yang
dikeluarkan sel beta di pankreas. Dalam keadaan normal artinya kadar
insulin cukup dan sensitif, insulin akan ditangkap oleh reseptor insulin yang
ada pada permukaan sel otot, kemudian membuka pintu masuk sel hingga
glukosa dapat masuk sel untuk kemudian di bakar menjadi energi/tenaga.
Akibatnya kadar glukosa dalam darah normal.

2.5 Penanganan
1. Edukasi
Bagi klien yang menderita diabetes mellitus pada umumnya terjadi
karena gaya hidup dan perilaku yang tidak baik dalam pola makan yang
menderita penyakit diabetes mellitus pada umumnya terjadi karena gaya
hidup dan perilaku yang tidak baik dalam pola makan yang tida mampu.
Jadi mengharapkan bantuan untuk keluarga dan jaringan. Kelompok
kesejahteraan perlu memberikan bantuan kepada klien untuk memulai
perubahan cara hidup yang buruk dan secara efektif mendorong klien
agar mereka dapat hidup sehat dan mempertahankan pola makan yang
layak di kemudian hari.
a. Terapi gizi
Terapi gizi merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes melitus
secara menyeluruh. Keberhasilan terapi gizi untuk memenuhi terapi
gizi untuk memenuhi nutrisi melibatkan seluruh tim kesehatan
(dokter, perawat, gizi, klien dan keluarga).
b. Latihan jasmani
Kegiatan latihan jasmani secara teratur 3-4 kali dalam seminggu
selama ± 30 menit dengan jeda antar latihan fisik lebih dari 2 hari
berturut-turut. Kegiatan ini dapat memberikan manfaat menjaga
kebugaran tubuh dan dapat memberikan sensitivitas insulin,
sehingga dapat mengontrol kadar glukosa darah. Latihan fisik yang
dianjurkan berupa latihan fisik seperti jalan cepat, bersepeda santai,
jogging dan berenang.
Pemeriksaan glukosa darah di anjurkan sebelum melaukan latihan
fisik. Klien dengan kadar glukosa darah < 100 mg/dl harus
mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan jika >250 mg/dl
dianjurkan untuk menunda latihan fisik. Sedangkan pada klien
diabetes simptomatik tidak perlu melakukan pemeriksaan medis
khusus sebelum memulai aktifitas fisik intensitas ringan- sedang,
seperti berjalan. Penderita yang akan melaukan latihan fisik
intensitas tinggi atau memiliki kriteria risiko tinggi harus dilakukan
pemeriksaaan medis dan uji latih sebelum latihan fisik. Latihan
jasmani lain yang dapat dilakukan oleh penderita agar dapat
membantu menurunkan kadar glukosa dalam darah dengan
melakukan senam kaki diabetes

2. Intervensi Farmakologi
Terapi farmakalogi diberikan pada waktu dengan pengaturan dan latihan
jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral
dan bentukan suntikan atau injeksi
a. Obat antiperglikemik oral
Berdasarkan cara kerja obat dapat dibagi menjadi 5 (lima) golongan,
yaitu :
1. Pemacu sekresi insulin
a) Sulfonilurea
obat ini memiliki dampak mendasar untuk memperluas
pelepasan insulin oleh sel beta pankreas. Efek super
sekunder adalah hipoglikemia dan penambahan berat badan.
Berhati-hatilah dalam menggunakan obat ini padaklien
dengan risiko hipoglikemia yang tinggi (usia lanjut,
gangguan fungsi hati dan ginjal. Contoh obat dalam kelas
ini adalah glibenclamide, glipizide, gliqoidone dan
gliclazide.
b) Glinid
Obat-obatan yang bekerja dengan cara hampir sama dengan
sulfoniluera, namun bervariasi di area reseptor, dengan
produk akhir menyembunyikan periode utama dari
perluasan emisi isnulin. Golongan ini terdiri dari 2 macam
obat yaitu Repaglinide (derivate asam benzoate) dan
Nateglinide (Derivat fenilalanin). Obat ini di absorbsi
dengan cepat setelah pemberian secara oral dan di eksresi
secara cepat melalui hati. Efek samping yang mungkin
terjadi adalah hipoglikemia
2. Peningkat sensitivitas terhadap insulin
a) Metformin
Metformin memiliki dampak mendasar dalam mengurangi
pembentukan glukosa hepatic (glkoneogenesis) dan lebih
lanjut mengembangkan pengambilan glukosa dijaringan
pinggrian. Metformin adalah keputusan pertama dalam
beberapa waktu dari diabetes mellitus tipe II. Porsi
metformin berkurang pada klien dengan gangguan
kemampuan ginjal (GFR 30-60 ml/menit /1,73 m2).
Metformin tidak boleh diberikan pada keadaan tertentu,
misalnya, kelemahan hati yang serius dan klien dengan
kecendrungan hipoksemi(misalnya, penyakit
serebrovaskular, sepsi, syok, PPOK (Penyakit Pneumonia
Obstruktif Konstan), kerusakan kardiovaskular. Efek
sekunder yang mungkin terjadi adalah sistem usus seperti
dyspepsia
b) Thaizolidinedione
Kelas obat yang mengurangi obstruksi insulin dengan
meningkatkan berapa banyak protein penggerak glukosa,
dengan cara ini memperluas pengambilan glukosa di
jaringan pinggiran. Obat ini dapat menyebabkan
pemeliharaan cairan tubuh sehingga kontra indikasi pada
klien dengan gangguan kardiovaskular karena dapat
memperparah edema atau pemeliharaan cairan. Obat yang
memiliki tempat dengan kumpulan ini adalah pioglitazone
3. Penghambat alfa glukosa
Ini bekerja dengan menghambat kerja enzim alafa glukosidase
di saluran pencernaan sehingga menghambat absorbsi glukosa
dalam usus halus. Penghambat ini tidak digunakan pada
keadaan gangguan faal hati yang berat, Irritable bowel
syndrome (IBS). Efek samping yang mungkin terjadi berupa
bloating (penumpukan gas dalam usus) sehingga akan sering
menimbulkan flatus. Guna mengurangi efek samping pada
awalnya dapat diberikan dengan dosis kecil. Contohnya obat
golongan ini adalah acarbose
4. Penghambat absorb gula
a) DPP-IV Inhibitor
Ini bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi glukosa
melalui urine. Obat golongan ini dapat menurunkan berat
badan dan tekanan darah. Efek samping dari pemberian obat
ini adalah infeksi salurankemih dan genital
b) Obat antihiperglikemia injeksi
1) Insulin
2.6 Komplikasi
Menurut (Laurentia, 2015) komplikasi yang timbul pada diabetus melitus
adalah :
a) Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit
jantung, stroke, aterosklerosis, dan tekanan darah tinggi.
b) Kerusakan saraf atau neuropati
Kadar gula darah yang berlebihan dapat merusak saraf dan pembuluh
darah halus. Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya sensasi
kesemutan atau perih yang biasa berawal dari ujung jari tangan dan
kaki, lalu menyebar ke bagian tubuh lain. Neuropati pada sistem
pencernaan dapat memicu mual, muntah, diare, atau konstipasi
c) Kerusakan mata terutama dibagian retina
Retinopati muncul saat terjadi masalah pada pembuluh darah di retina
yang dapat mengakibatkan kebutaan jika dibiarkan. Glaukoma dan
katarak juga termasuk komplikasi yang mungkin terjadi pada
penderita diabetes
d) Gangren
Sulistriani (2013) menyatakan faktor yang berpengaruh terhadap
kejadian gangrene pada penderita DM diantaranya adalah neuropati,
tidak terkontrol gula darah (hiperglikemi yang berkepanjangan akan
menginisiasi terjadinya hiperglisolia (keadaan dimana sel kebanjiran
masuknya glukosa akibat hiperglikemia kronik), hiperglisolia kronik
akan mengubah homeostasis biokimiawi sel yang kemudian
berpotensi untuk terjadinya perubahan dasar terbentuknya komplikasi
DM.
Gangren adalah rusak dan membusuknya jaringan, daerah yang
terkena gangren biasanya bagian ujung-ujung kaki atau tangan.
Gangren kaki diabetik luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman
dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi dipembuluh darah
sedang atau besar ditungkai, luka gangren merupakan salah satu
komplikasi kronik DM.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Smelzer dan Bare, pemeriksaan penunjang untuk penderita
diabetes melitus antara lain :
a) Pemeriksaan Vaskuler
1) Pemeriksaan Radiologi yang meliputi : gas subkutan, adanya
benda asing, osteomelietus.
2) Pemeriksaan Laboratorium
a) Pemeriksaan darah yang meliputi : GDS (Gula Darah
Sewaktu), GDP (Gula Darah Puasa)
b) Pemeriksaan urine , dimana urine diperiksa ada atau
tidaknya kandungan glukosa pada urine tersebut
BAB III
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Langkah Awal Mencegah Diabetes Melitus

Pokok bahasan : Pencegahan Diabetes Melitus

Sasaran : Pasien Rawat Inap

Tempat : Ruang Diponegoro Atas

Hari / tanggal : Selasa, 05 November 2024

Waktu : 09.00 – 09.20 WIB

Penyuluh : Rida

3.1 Tujuan Instruksional


1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan tentang pencegahan diabetes melitus,
pasien serta keluarga pasien mampu mengerti dan memahami hal-hal
mengenai diabetes melitus serta penanganannya.

2. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah diberikan penyuluhan selama 20 menit, sasaran dapat :
1. Memahami definisi diabetes melitus
2. Memahami penyebab diabetes melitus
3. Memahami tanda gejala diabetes melitus
4. Memahami patofisiologi diabetes melitus
5. Memahami penanganan diabetes melitus
6. Memahami komplikasi diabetes melitus
7. Memahami pemeriksaan penunjang untuk diabetes melitus

3.2 Sub Pokok Bahasan


1. Pengertian diabetes melitus
2. Etiologi diabetes melitus
3. Tanda gejala diabetes melitus
4. Patofisiologi diabetes melitus
5. Penanganan diabetes melitus
6. Komplikasi diabetes mellitus
7. Pemeriksaan penunjang diabetes melitus

3.3 Kegiatan penyuluhan


Tahap Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan warga Metode Media

Pembuka 2 menit 1. Memberi salam 1. Menjawab salam Ceramah


an 2. Memperkenalkan
2. Mendengarkan
diri
dan bertanya
3. Melakukan
mengenai tujuan
kontrak waktu
pokok materi
4. Menyampaikan
mengenai
tujuan
diabetes melitus
penyuluhan yang
jika ada dan
akan diberikan
kurang mengerti
5. Membagikan
kurang jelas.
leaflet
3. Menerima leaflet
Penyaji 15 1. Menjelaskan 1. Masyarakat Ceramah Leaflet
menit definisi diabetes mendengarkan Dan
melitus dan menyimak diskusi
2. Menjelaskan materi yang
penyebab disampaikan
diabetes melitus 2. Masyarakat
3. Menjelaskan bertanya
tanda gejala mengenai hal-hal
diabetes melitus yang belum jelas
4. Menjelaskan dan kurang di
patofisiologi mengerti
diabetes melitus mengenai
5. Menjelaskan diabetes melitus
penanganan
diabetes melitus
6. Menjelaskan
komplikasi dari
diabetes melitus
7. Menjelaskan
pemeriksaan
penunjang
diabetes melitus
Penutup 2 me 1. Memberi 1. Masyarakat Diskusi
nit kesempatan memperhatikan
kepada keluarga 2. Masyarakat
dan pasien untuk memberi
bertanya pertanyaan
2. Bertanya kepada
peserta
penyuluhan
bagaimana
perasaanya
setelah diberi
penyuluhan
3. Menyimpulkan
materi
penyuluhan
4. Menutup
pertemuan dan
memberi salam
3.4 Setting Tempat

KETERANGAN :
: Penyaji
P

: Audien

3.5 Media Penyuluhan


1. Leaflet

3.6 Metode Penyuluhan


1. Ceramah
2. Diskusi
3. Tanya jawab
PRE-TEST
1. Apa diabetes melitus itu?
2. Faktor apa saja penyebab diabetes melitus?
3. Sebutkan 5 saja tanda dan diabetes melitus?
4. Apa saja komplikasi diabetes melitus?
5. Bagaimana cara penanganan gngguan jiwa?
6. Bagaimana komplikasi dari diabetes melitus?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk diabetes melitus?
POST TEST
1. Apa diabetes melitus itu?
2. Faktor apa saja penyebab diabetes melitus?
3. Sebutkan 5 saja tanda dan diabetes melitus?
4. Bagaimana patofisiologi diabetes melitus?
5. Bagaimana cara penanganan gngguan jiwa?
6. Bagaimana komplikasi dari diabetes melitus?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk diabetes melitus?

3.7 Evaluasi
1. Evaluasi struktur
Diharapkan penyuluhan berjalan sesuai yang telah direncanakan dan
diharapkan.
2. Evaluasi proses
Diharapkan peserta penyuluhan tepat sasaran dan dapat mengikuti sampai
penyuluhan selesai dilaksanakan.
3. Evaluasi hasil
Diharapkan peserta penyuluhan mampu mengerti apa yang telah dijelaskan
oleh penyaji dan mampu menjalankan proses pencegahan dan pengobatan
yang telah disediakan oleh penyaji.
BAB IV
BERITA ACARA KEGIATAN PENYULUHAN KELOMPOK

Tema Penyuluhan : Langkah Awal Mencegah Diabetes Melitus

Hari/ Tanggal : Selasa, 05 November 2024

Pukul : 09.00 - 09.20 WIB

Tempat : Ruang Diponegoro Atas

Pemateri : Rida Ananda Kristanti

Jumlah Peserta : 10 orang

Malang, 05 November
2024

Preceptor Klinik Pemateri

(Yuni Purwati, [Link].,Ns) (Rida Ananda Kristanti)


DAFTAR PUSTAKA

Kozier, B. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep Proses dan


Praktik. Edisi VII. Volume 1. Jakarta : EGC

PERKENI (2015). Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus

Smeltzer & Bare . (2008). Textbook of Medical Surgical Nursing Vol.2.

Smeltzer, Bare. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bruner &
Suddarth. Jakarta

Suyono, S., 2009. Diabetes Melitus di Indonesia : Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid III Edisi V. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran

Tjokroprawiro, A., 2011. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes Mellitus.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai