BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pengelasan merupakan salah satu proses yang penting
dalam industry logam, permesinan dan manufaktur. Hal ini dikarenakan
tidak semua kontruksi dapat dicetak atau melalui proses casting. Prosedur
pengelasan terlihat sangat sederhana tetapi sebenarnya banyak terdapat
masalah-masalah yang terjadi dilapangan pada saat proses pengelasan itu
dilakukan.
Pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Norman) adalah
ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang
dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Mengelas adalah suatu
aktifitas menyambung dua bagian logam atau lebih dengan cara
memanaskan atau menekan atau gabungan dari keduanya sedemikian rupa
sehingga menyatu seperti benda utuh. Penyambungan bisa dengan atau
tanpa bahan tambah (filler metal) yang sama atau berbeda titik cair
maupun strukturnya (Saputra Ismy et al., 2020).
Panas tersebut dihasilkan oleh lompatan ion listrik yang terjadi
antara katoda dan anoda ujung elektroda dan permukaan plat yang akan
dilas. Panas yang dihasilkan dari lompatan ion listrik ini besarnya dapat
mencapai 4000 derajat C sampai 4500 derajat C. Sumber tegangan yang
digunakan pada pengelasan SMAW ini ada dua macam yaitu AC (Arus
1
bolak balik) dan DC (Arus searah). Proses terjadinya pengelasan ini karena
adanya kontak antara ujung elektroda dan material dasar sehingga terjadi
hubungan pendek, saat terjadi hubungan pendek tersebut tukang las
(welder) harus menarik elektroda sehingga terbentuk busur listrik yaitu
lompatan ion yang menimbulkan panas.
Panas akan mencairkan elektroda dan material dasar sehingga
cairan elektrode dan cairan material dasar akan menyatu membentuk
logam lasan (weld metal). Untuk menghasilkan busur yang baik dan
konstan tukang las harus menjaga jarak ujung elektroda dan permukaan
material dasar tetap sama. Adapun jarak yang paling baik adalah sama
dengan 1,5 x diameter elektroda yang dipakai (Mardiyanto, 2019).
Didalam pengelasan besar arus sangat mempengaruhi energy yang
yang dihasilkan dengan adanya aliran kuat arus pada suatu pengantar
energy yang berasal dari energy listrik dapat diubah menjadi energy panas.
Panas yang terjadi selama proses pengelasan digunakan untuk melelehkan
logam induk. Energi yang dihasilkan merupakan daya yang di pakai
selama waktu tertentu. (Cary, H. B., 1994).
Permasalahan yang sering dialami dalam pengelasan diantara
adalah timbulnya lonjatan tegangan yang besar disebabkan oleh perubahan
struktur mikro pada daerah las yang menyebabkan turunya kekuatan bahan
akibat adanya tegangan sisa dan adanya cacat retakan akibat proses
pengelasan. Kemudian kegagalan pada pengelasan dikarenakan kualitas
2
sambungan las yang ditimbulkan dari temperature puncak las dan
temperature terdistribusikan tidak sama pada kedua logam di sambung.
Pengelasan yang sering digunakan dalam dunia kontruksi
secara umum adalah pengelasan dengan menggunakan metode
pengelasan dengan busur nyala logam terlindung atau biasa disebut
Shielded Metal Arc Welding (SMAW). Metode SMAW banyak
digunakan pada masa ini karena penggunaannya lebih praktis, lebih
mudah pengoperasiannya, dapat digunakan untuk segala macam
posisi pengelasan dan lebih efisien (Mardiyanto, 2019).
Arus las merupakan parameter las yang langsung mempengaruhi
penembusan dan kecepatan pencairan logam induk. Penyetelan kuat arus
pengelasan akan mempengaruhi hasil las. Bila arus yang digunakan terlalu
rendah akan menyebabkan sukarnya penyalaan busur listrik. Busur listrik
yang terjadi menjadi tidak [Link] yang terjadi tidak cukup untuk
melelehkan elektroda dan bahan dasar sehingga hasilnya merupakan rigi-
rigi las yang kecil dan tidak rata serta penembusan kurang dalam.
Sebaliknya bila arus tinggi maka elektroda akan mencair terlalu cepat dan
akan menghasilkan permukaan las yang lebih lebar dan penembusan yang
dalam sehingga menghasilkan kekuatan tarik yang rendah dan menambah
kerapuhan dari hasil pengelasan.
Dari permasalahan diatas maka penulis akan membahas lebih
dalam tentang “ Analisa Pengaruh Kuat Arus Pada Pengelasan SMAW
Terhadap Sambungan Stainless Steel”.
3
1.2 Perumusan Masalah
Adapub beberapa perumusan masalah yang akan di bahas pada
penelitian ini diantaranya :
1. Bagaimana pengaruh variasi jenis kampuh las listrik SMAW terhadap
kekuatan Tarik pada pengelasan Sambungan Stainless Steel?
2. Bagaimana pengaruh variasi kuat arus dan bentuk kampuh V pada
pengelasan SMAW terhadap kekuatan impact sambungan butt joint
pada Stainless Steel?
1.3 Batas Masalah
Untuk mencegah permasalahan dari pembahasan utama, maka
diperlukan pembatasan masalah agar meneliti lebih spesifik. Batasan
masalah yang diberikan sebagi berikut:
1. Material yang digunakan Stainless Steel 304.
2. Pengujian dilakukan dengan mesin uji tarik.
3. Proses pengelasan mengunakan SMAW (Shielded Metal Arc Welding).
4. Bentuk lasan adalah butt joint dengan posisi pengelasan dasar (flat).
5. Pengelasan dilakukan tanpa adanya pre heating dan post heating.
6. Arus yang digunakan adalah 60 A, 90 A, 120 A.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui seberapa pengaruh kuat arus pada sambungan las
dengan variasi arus 60 ampere, 90 ampere, dan 120 ampere.
4
2. Untuk mengetahui sifat mekanis dari pengaruh variasi arus pengelasan,
pengaruh kekuatan tarik, pengaruhg regangan dan pengaruh elastisitas.
3. Untuk mengetahui ketangguhan dan kekerasan dengan elektroda
E7081 dengan menggunakan bahan Stainless Steel 304.
4. Untuk mengetahui bagaimana Pengaruh variasi jenis kampuh las listrik
SMAW terhadap kekuatan Tarik pada pengelasan Stainless Steel 304.
1.5 Manfaat Penelitian
Sebagai peran nyata pengembangan teknologi khususnya
pengelasan, maka penulis berharap dapat mengetahui manfaat dari
penelitian ini, sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui kuat arus yang paling kuat kekuatan tarik yang
paling tinggi.
2. Untuk mendapatkan kampuh yang tepat dari pengelasan beda
Stainless Steel 304 dengan sifat mekanik yang terbaik.
3. Sebagai informasi penting guna meningkatkan ilmu pengetahuan bagi
penelitian dalam bidang pengujian bahan, kekuatan las dan bahan
teknik dengan menggunakan mesin las SMAW.
4. Data yang diperoleh dari penelitian ini dapat dipergunakan sebagai
pembanding dan referensi pembuatan material lainnya baik skala besar
maupun skla kecil.
5
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengelasan
Proses penyambungan yang paling sering digunakan pastilah
pengelasan dalam dunia industry. Untuk penampung yang sangat tebal
digunakan metode-metode terak listrik, nosel mampu habis
(counsumeable-nozzele), busur benam (submarget arc). Pelat-pelat yang
relative tipis disambung dengan memakai busur api metal dilindungi gas
CO2 dan busur api logam manual. Pipa-pipa berdinding tebal sering diberi
akar halus dipenetrasi rata dimasukkan dengan menggunakan bahan sisi
pas yang dapat habis E.B. dan proses busur api tungsten menyatukan akar.
Proses-proses pengelasan yang dipakai serupa yang dipakai terhadap
L.C.S apa bila pengerjaan pengelasan Stainless Steel-Stainless Steel busur
tinggi dengan tarikan yang lebih tinggi, masalah yang besar adalah apa
yang dikenal sebagai kurang lapisan las (underbead) atau peretakan diarea
yang keras. Ini retak yang terjadi berbatasan dengan batas peleburan di
daerah yang di pengaruhi oleh panas. Ini sering kali mulai pada akar atau
kaki las temu dan las sudut dan berjalan sejajar dengan batas peleburan,
namun retak-retak mungkin tersembunyi di bawah permukaan plat.
Keretakan kadang-kadang bias juga terjadi setelah pengelasan dan
pemeriksaan.
Berdasarkan defenisi dari Deutche Industrie Normen (DIN) las
adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang
dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari defenisi tersebut dapat
6
dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari
beberapa batang logam dengan menggunakan energy panas.
Pengelasan adalah suatu aktifitas menyambungkan dua bagian
benda atau lebih dengan cara memanaskan atau menekan atau gabungan
dari keduanya sedemikian rupa sehingga menyatu seperti benda utuh.
Penyambungan bias dengan bahan tambahan (filler metal) yang sama
berbeda titik cair maupun strukturnya (Daryanto2013). Mengelas bukan
hanya memanaskan dua bagian benda sampai mencair dan membiarkan
membeku kembali, tetapi membuat lasan yang utuh dengan cara
memberikan bahan tambahan atau elektroda pada waktu dipanaskan
sehingga mempunyai kekuatan seperti yang di hendaki. Kekuatan
sambungan las dipengaruhi beberapa factor antara lain : prosedur
pengelasan, bahan, elektroda, dan jenis kampuh yang digunakan.
2.2 Las SMAW (Shildead Metal Arc Welding)
Pengertian SMAW (Shielded Metal Arc Welding) atau las busur
logam terlindung adalah suatu proses pengelasan busur listrik dimana
energi panas untuk pengelasan dibangkitkan oleh busur listrik yang
terbentuk antara elektroda logam yang terbungkus dan benda kerja. Logam
induk dalam pengelasan ini mengalami pencairan akibat pemanasan dari
busur listrik yang timbul antara ujung elektroda dan permukaan benda
kerja. Pengaturan besar kuat arus pengelasan akan sangat mempengaruhi
hasil pengelasan. Bila arus yang digunakan terlalu rendah akan
menyebabkan sukarnya busur listrik untuk mulai menyala dan busur listrik
7
yang terjadi menjadi tidak stabil. Dan panas yang terjadi tidak cukup untuk
melelehkan elektroda dan juga bahan dasar las, sehingga hasil alur las
yang nampak kecil dan tidak rata serta penembusan kurang dalam.
Sebaliknya, bila arus terlalu besar maka elektroda akan meleleh terlalu
cepat dan akan menghasilkan permukaan las yang terlalu lebar dari yang
diharapkan dan penembusan yang terlalu dalam sehingga mengakibatkan
kekuatan tarik yang rendah dan bahan dasar las menjadi semakin rapuh
(Arifin, 1997). Kekuatan hasil lasan dipengaruhi oleh tegangan busur,
besar arus, kecepatan pengelasan, dan polaritas listrik (Suharto, 1991).
Penentuan besarnya arus dalam penyambungan logam menggunakan las
busur mempengaruhi efisiensi pekerjaan dan bahan las (Donnelley, 2004).
Dalam hasil penelitiannya, Raharjo dan Rubijanto (2012), menyebutkan
bahwa kekerasan sambungan las tertinggi di daerah HAZ karena ukuran
butir daerah ini sangat halus dan kecil.
Logam pengisi yang ada di dalam elektroda dibungkus oleh slag
yang akan menjadi pelindung logam lasan saat proses pengelasan
berlangsung. Las SMAW biasa disebut juga dengan istilah las MMA
(Manual Metal Arc) atau stick welding. Diagram proses pengelasan
SMAW dapat dilihat pada ilustrasi berikut.
8
Gambar 2.1 Las SMAW (Shielded Metal Arc Welding)
Kata shielded metal arc welding (SMAW) merujuk pada proses
penyambungan dua buah logam atau penambahan logam pada permukaan
logam yang ada. Masing-masing kata dalam SMAW memiliki makna,
shielded maksudnya kemampuan untuk menghilangkan udara di sekitar
lasan agar terhindar dari efek-efek yang menurunkan kualitas lasan.
Dalam hal lain, kata shielded di sini juga dapat ditunjukkan pada
inti elektroda yang terbungkus dengan flux. Kata metal maksudnya adalah
inti dari elektroda berupa logam atau batang konduktor yang kemudian
mencair dan mengisi kolam las; arc atau busur mengacu pelepasan plasma
yang merubah energi listrik menjadi panas. Sedangkan kata welding
menunjukkan penyambungan logam dilakukan secara fusi.
Aksi perlindungan pada pengelasan SMAW dan klasifikasi
bagian/lapisan pengelasan SMAW diilustrasikan pada gambar dibawah.
Ada dua mekanisme yang bekerja untuk mencegah efek merugikan pada
kolam las yang disebabkan oleh gas yang terkandung di udara. Pertama
adalah perpindahan paksa udara oleh gas yang dihasilkan oleh pembakaran
dan dekomposisi penutup elektroda. Kedua adalah aksi selimut pada
9
logam lasan dengan fluks atau terak, yang mencegah difusi konstituen
udara ke dalam logam cair.
(Mardiyanto, 2019)
Gambar 2.2 Lapisan pengelasan SMAW
2.3 Elektroda
Elektroda adalah bahan yang digunakan untuk melaksanakan
pengelasan listrik, fungsinya ialah sebagai nyala api yang ditimbulkan dari
pembakaran. Ada beberapa jenis kawat las dengan spesifikasinya masing
masing, tapi kebanyakan orang melakukan pengelasan dengan kawat las
yang tanpa dia sadari jenis kawat las yang dia gunakan sudah sesuai
dengan prosedur atau belum. Padahal elektroda tersebut yang khususnya
tipe SMAW mempunyai kode spesifikasi tersendiri yang tertulis di bagian
kardus pembungkus kawat las, dari kardus tersebut kita dapat melihat
berapa arus yang harus kita gunakan pada saat pengelasan. Akan tetapi
kebanyakan pengelas menghiraukan dan lebih sering memakai
pengalaman dan insting mereka dalam melakukan pengelasan seperti
menentukan elektroda dan besarnya arus listrik. Kebanyakan orang yang
10
tidak terlalu mengetahui tentang pengelasan. Ada beberapa jenis elektroda
atau kawat las yang biasanya di gunakan pada material yang berbeda. Ada
beberapa hal pada perbedaan berbagai jenis kawat las listrik atau elektroda
ini salah satunya besaran arus listrik yang 7 digunakan pada proses
pengelasan. Pada pengelasan sendiri setiap bahan berbeda maka besar arus
listrik yang digunakan akan berbeda juga agar sesuai dengan hasil yang
diinginkan
Elektroda atau sering disebut juga kawat las adalah benda yang
digunakan untuk melakukan pengelasan listrik. Busur nyala akan timbul
ketika ujung elektroda sebagai pembakar bersinggungan dengan logam
induk, kemudian menghasilkan banyak panas untuk melelehkan dan
melebur logam pengelasan.
Secara umum elektroda bisa dibedakan 3 macam yaitu :
a. Elektroda Berselaput/salutan
Elektroda berselaput adalah bahan inti kawat yang dilapisi salutan
(flux) dari bahan kimia tertentu disesuaikan dengan jenis pengelasan.
Elektroda ini disebut juga consumable electrode, karena bisa habis saat
digunakan mengelas. Kawat las smaw yang biasa kita pakai sehari-hari
adalah termasuk elektroda berselaput. Elektroda berselaput terdiri dari
dua bagian dengan fungsi yang berbeda, yaitu:
1) Bagian inti elektroda, berfungsi sebagai penghantar arus listrik dan
sebagai bahan tambah. Bahan inti elektroda dibuat dari logam ferro
11
dan non ferro, seperti: Stainlas Stell karbon, Stainlas Stell paduan,
aluminium, kuningan dan lain-lain.
2) Bagian salutan elektroda, berfungsi untuk: memberikan gas
pelindung pada logam yang dilas, melindungi kontaminasi udara
pada waktu logam dalam keadaan cair, membentuk lapisan terak
yang melapisi hasil pengelasan dari oksidasi udara selama proses
pendinginan, mencegah proses pendinginan agar tidak terlalu
cepat, memudahkan penyalaan dan mengontrol stabilitas busur.
Flux adalah bagian yang melapisi inti kawat las yang terbuat
dari campuran bahan kimia khusus dengan persentase yang berbeda-
beda untuk tiap jenis [Link] bahan kimia pembuat flux
misalnya: selulosa, kalsium karbonat (Ca C03), titanium dioksida
(rutil), kaolin, kalium oksida mangan, oksida besi, serbuk besi, besi
silikon, besi mangan dan [Link] fluks pada kawat inti
bisa dengan cara destrusi, semprot atau celup. Tebal selaput berkisar
antara 70% sampai 50% dari diameter elektroda tergantung dari jenis
[Link] waktu pengelasan, selaput elektroda ini akan turut
mencair dan menghasilkan gas CO2 yang melindungi cairan las, busur
listrik dan sebagian benda kerja terhadap udara luar. Udara luar yang
mengandung O2 dan N akan dapat mempengaruhi sifat mekanik dari
logam Ias. Cairan selaput yang disebut terak akan terapung dan
membeku melapisi permukaan las yang masih panas.
12
Elektroda yang telah dibuka dari bungkusnya, harus disimpan
di dalam kabinet pemanas atau oven dengan suhu 15 derajat lebih
tinggi dari suhu udara luar, sebab lapisan tersebut sangat peka terhadap
kelembaban. Apabila dibiarkan lembab, maka pada saat digunakan
bisa menyebabkan hal-hal sebagai berikut:
1) Salutan mudah terkelupas, sehingga sulit untuk dinyalakan.
2) Percikan yang berlebihan.
3) Busur tidak stabil.
4) Asap yang berlebihan
b. Elektroda Polos
Elektroda polos adalah jenis elektroda tanpa lapisan flux. Elektroda
ini disebut juga dengan „non consumable electrode‟ karena tidak bisa
mencair saat digunakan pengelasan. Jenis elektroda ini terbuat dari
bahan logam tungsten atau wolfram yang mempunyai sifat tahan panas
dan tidak bisa mencair / meleleh. Yang termasuk salah satu jenis
elektroda ini dapat kita temui pada pengelasan TIG atau GTAW, atau
biasanya kita menyebut las argon. Pengelasan ini
menggunakan elektroda tungsten yang berfungsi untuk melelehkan
logam induk dengan pengisi menggunakan filler metal. Sedangkan gas
argon digunakan sebagai pelindungnya.
c. Elektroda Terbungkus
Pengelasan dengan menggunakan las busur listrik memerlukan
kawat las (elektroda) yang terdiri dari satu inti terbuat dari logam yang
13
dilapisi lapisan dari campuran kimia. Fungsi dari elektroda sebagai
pembangkit dan sebagai bahan tambah. Elektroda terdiri dari dua
bagian yaitu bagian yang berselaput (fluks) dan tidak berselaput yang
merupakan pangkal untuk menjepitkan tang las. Fungsi dari fluks
adalah untuk melindungi logam cair dari lingkungan udara,
menghasilkan gas pelindung, menstabilkan busur. Bahan fluks yang
digunakan untuk jenis E7016 adalah serbuk besi dan hidrogen rendah.
Jenis ini kadang disebut jenis kapur. Jenis ini menghasilkan
sambungan dengan kadar hidrogen rendah sehingga kepekaan
sambungan terhadap retak sangat rendah, ketangguhannya sangat
memuaskan. Hal yang kurang menguntungkan adalah busur listriknya
kurang mantap, sehingga butiran yang dihasilkan agak besar
dibandingkan jenis lain. Dalam pelaksanaan pengelasan memerlukan
juru las yang sudah berpengalaman. Sifat mampu las fluks ini sangat
baik maka biasa digunakan untuk konstruksi yang memerlukan tingkat
pengaman tinggi. Spesifikasi elektroda untuk Stainlas Stell karbon
berdasarkan jenis dari lapisan elektroda (fluks), jenis listrik yang
digunakan, posisi pengelasan dan polaritas pengelasan terdapat tabel
2.1 dibawah ini:
14
Tabel 2.1 Spesifikasi elektroda terbungkus dari Stainlas Stell lunak
Klasifika Jenis fluks Posisi Jenis Kekuat Kekuat Perpan
si listrik an tarik an luluh janga
AWS/A (Kg/m (Kg/m
STM m2) m2)
E 6010 Natrium selukosa F,V,OH, DC+ 43,6 35,2 22
tinggi H
E 6011 AC / DC+ 43,6 35,2 22
Kalium selukosa F,V,OH,
E 6012 tinggi H AC / DC- 47,1 38,7 17
E 6013 Natrium tipania F,V,OH, AC / DC+ 47,1 38,7 17
tinggi H
E 6020 AC / DC / 43,6 35,2 25
Kalium tapinia F,V,OH, DC+
E 6027 rendah H 43,6 35,2 25
AC / DC /
Oksida besi tinggi H,S,F DC+
Serbuk besi oksida H,S,F
besi
E 7014 Serbuk besi tipania F,V,OH, AC / DC+ 17
H
E 7015 Natrium hydrogen DC+ 22
rendah F,V,OH,
E 7016 H AC / DC+ 22
Kalium hydrogen
E 7018 rendah F,V,OH, AC / DC+ 50,6 42,2 22
H
E 7024 Serbuk besi AC / DC+ 17
hydrogen rendah F,V,OH,
E 7028 H AC / DC+ 22
Serbuk besi
H,S,F
Serbuk besi
hydrogen rendah H,S,F
(Saputra Ismy et al., 2020)
Kekutan tarik pada kelompok E 60 setelah dilaskan 60.000 Psi atau
42,2 kg/mm2, Kekutan tarik pada kelompok E 70 setelah dilaskan
70.000 Psi atau 49,2 kg/mm2.
15
Dimana. Arti simbol :
F : datar
V : vertical
OH : atas kepala
H : horizontal
S : hozontal las sudut
Berdasarkan jenis elektroda dan diameter kawat inti elektroda
dapat ditentukan arus dalam ampere dari mesin las seperti pada table
2.2 di bawah ini:
Table 2.2 Spesifikasi Arus Menurut Tipe Elektroda Dan Diameter
Dari Elektroda
Diameter Tipe Elektroda dan Ampere Yang Digunakan
Mm Inch E 6010 E 6014 E7018 E7024 E7027 E7028
2,5 3/32 - 80-125 70-100 70-145 - -
3,2 1/8 80-120 110-160 115-165 140-190 125-185 140-190
4 3/32 120-160 150-210 150-220 180-250 160-245 180-250
5 3/16 150-200 200-275 200-275 230-305 210-300 230-250
5,5 7/32 - 260-340 360-430 275-375 250-350 275-365
6,3 ¼ - 330-415 315-400 335-430 300-420 335-430
8 5/16 - 90-500 375-470 - - -
(Saputra Ismy et al., 2020)
16
Misal elektroda / kawat las dengan kode AWS E7018-H8R artinya
kekuatan tariknya 70ksi, mengandung mengandung “iron powder-iron
oxide-iron powder-iron oxide”, mengandung sedikit hidrogen (low
hydrogen), ketahanan terhadap uap air dan untuk
dipakai pada pengelasan mild steel.
E : Elektroda las listrik (E7018 diameter 3,2 mm)
70 : Tegangan tarik minimum dari hasil pengelasan (70.000 Psi) atau
sama dengan 492 MPa
Gambar 2.3 Elektroda terbungkus
A. Standart Kawat Las Listrik
Standar yang di tentukan AWS (American Welding Society)
adalah standar umum yang sering digunakan oleh para pelaku industri
pengelasan, Dimana standar ini digunakan untuk menentukan
elektroda dan besaran arus yang di pakai. AWS adalah badan resmi
pengelasan di Amerika Serikat. Lembaga ini telah menentukan Standar
yang telah digunakan sebagai standar pengelasan di banyak negara.
Kode standar dari badan ini ditandai dengan kode E XXXX yang
berarti:
1) E singkatan dari kawat las atau elektroda 9.
17
2) XX (dua angka pertama) sebagai kekuatan tarik dari kawat las,
satuannya adalah kilo pound square inch. Biasanya juga
menggunakan satuan lb/in².
3) X (angka ketiga) sebagai posisi pengelasan. Angka 1 artinya bahwa
elektroda dapat digunakan pada segala posisi, angka 2 diartikan
dengan elektroda hanya dapat digunakan diposisi vertikal atau
horizontal dan pada angka 3 diartikan elektroda cuman bisa
digunakan diposisi flat saja.
4) X (angka keempat) sebagai jenis pelapis dan arus yang akan
digunakan dikawat las. Spesifikasi ini berlaku di pengelasan Mild
Steel, sedangkan spesifikasi diproses las seperti Low Alloy Steel
dan Stainless Steel mmpunyai kode tambahan lagi. Untuk para
pengelas harus mengetahui kode kode yang tercantum pada kotak
kemasan kawat las tersebut agar mereka dapat mengetahui
kegunaan atau spesifikasi dari kawat las tersebut.
B. Besar Arus Listrik Yang Masuk
Besarnya arus pengelasan yang diperlukan tergantung pada
diameter elektroda, tebal bahan yang dilas, jenis elektroda yang
digunakan, geometri sambungan, diameter inti elektroda, posisi
pengelasan. Daerah las mempunyai kapasitas panas tinggi maka
diperlukan arus yang tinggi. Arus las merupakan parameter las yang
langsung mempengaruhi penembusan dan kecepatan pencairan logam
induk. Makin tinggi arus las makin besar penembusan dan kecepatan
18
pencairannya. Besar arus pada pengelasan mempengaruhi hasil las bila
arus terlalu rendah maka perpindahan cairan dari ujung elektroda yang
digunakan sangat sulit dan busur listrik yang terjadi tidak stabil. Panas
yang terjadi tidak cukup untuk melelehkan logam dasar, sehingga
menghasilkan bentuk rigi-rigi las yang kecil dan tidak rata serta
penembusan kurang dalam. Jika arus 10 terlalu besar, maka akan
menghasilkan manik melebar, butiran percikan kecil, penetrasi dalam
serta peguatan matrik las tinggi.
2.4 Stainless Steel Paduan Rendah
Stainless Steel paduan rendah adalah Stainless Steel paduan yang
mempunyai kadar karbon sama dengan Stainless Steel lunak, tetapi
ditambah dengan sedikit unsur-unsur paduan. Penambahan unsur ini dapat
meningkatkan kekuatan Stainless Steel tanpa mengurangi keuletannya.
Stainless Steel paduan banyak digunakan untuk kapal, jembatan, roda
kerta api, ketel uap, tangki-tangki dan dalam permesinan.
Stainless Steel paduan rendah dibagi menurut sifatnya yaitu
Stainless Steel tahan suhu rendah, Stainless Steel kuat dan Stainless Steel
tahan panas (Wiryosumarto, 2010).
a. Stainless Steel tahan suhu rendah. Stainless Steel ini mempunyai
kekuatan tumbuk yang tinggi dan suhu transisi yang renda, karena itu
dapat digunakan dalam kontruksi untuk suhu yang lebih rendah dari
suhu biasa.
19
b. Stainless Steel kuat. Stainless Steel ini dibagi dalam dua kelompok
yaitu kekuatan tinggi dan kelompok ketangguhan tinggi. Kelompok
kekuatan tinggi mempunyai sifat mampu las yang baik karena kadar
karbonnya rendah. Kelompok ini sering digunakan dalam kontruksi
las. Kelompok yang kedua mempunyai ketangguhan dan sifat mekanik
yang sangat baik. Kekuatan tarik untuk Stainless Steel kuat berkisar
antara 50 sampai 100 kg/mm2.
c. Stainless Steel tahan panas adalah Stainless Steel paduan yang tahan
terhadap panas, asam dan mulur. Stainless Steel tahan panas yang
terkenal adalah Stainless Steel paduan jenis Cr-Mo yang tahan pada
suhu 6000C. Pengelasan yang banyak digunakan untuk Stainless Steel
paduan rendah adalah las busur elektroda terbungkus, las busur rendam
dan las MIG (las logam gas mulia). Perubahan struktur daerah las
selama pengelasan, karena danya pemanasan dan pendinginan yang
cepat menyebabkan daerah HAZ menjadi keras. Kekerasan yang
tertinggi terdapat pada daerah HAZ.
2.5 Pengujian Tarik
Proses pengujian tarik bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik
benda uji. Pengujian tarik untuk kekuatan tarik daerah las dimaksudkan
untuk mengetahui apakah kekuatan las mempunyai nilai yang sama, lebih
rendah atau lebih tinggi dari kelompok raw materials. Pengujian tarik
untuk kualitas kekuatan tarik dimaksudkan untuk mengetahui berapa nilai
kekuatannya dan dimanakah letak putusnya suatu sambungan las.
20
Pembebanan tarik adalah pembebanan yang diberikan pada benda dengan
memberikan gaya tarik berlawanan arah pada salah satu ujung benda.
Penarikan gaya terhadap beban akan mengakibatkan terjadinya perubahan
bentuk (deformasi) bahan tersebut. Proses terjadinya deformasi pada bahan
uji adalah proses pergeseran butiran kristal logam yang mengakibatkan
melemahnya gaya elektromagnetik setiap atom logam hingga terlepas
ikatan tersebut oleh penarikan gaya maksimum. Pada pengujian tarik
beban diberikan secara kontinu dan pelan–pelan bertambah besar,
bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan mengenai perpanjangan yang
dialami benda uji dan dihasilkan kurva teganganregangan.
Dimana:
Pmaks = Beban (kg)
Tegangan Ultimate (Mpa)
Ao = Luas Mula-Mula (mm2)
(Aji, 2019)
Gambar 2.4 Kurva Tegangan
21
Pada pengujian tarik beban diberikan secara kontinu dan pelan–
pelan bertambah besar, bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan
mengenai 12 perpanjangan yang dialami benda uji dan dihasilkan kurva
teganganregangan. Tegangan dapat diperoleh dengan membagi beban
dengan luas penampang mula benda uji
Dimana:
σu = Tegangan nominal (kg/mm2 )
Fu = Beban maksimal (kg)
Ao = Luas penampang mula dari penampang batang (mm2)
Regangan (persentase pertambahan panjang) yang diperoleh
dengan membagi perpanjangan panjang ukur (ΔL) dengan panjang ukur
mula-mula benda uji.
Dimana: ε = Regangan (%)
L = Panjang akhir (mm)
Lo = Panjang awal (mm)
Pembebanan tarik dilakukan terus-menerus dengan menambahkan
beban sehingga akan mengakibatkan perubahan bentuk pada benda berupa
pertambahan panjang dan pengecilan luas permukaan dan akan
22
mengakibatkan kepatahan pada beban. Persentase pengecilan yang terjadi
dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:
Dimana:
q = Reduksi penampang (%)
Ao = Luas penampang mula (mm2)
A1 = Luas penampang akhir (mm2)
(Aji, 2019)
Gambar 2.5 Batas Ealastis Dan Tegangan Luluh
2.6 Besar Arus Listrik
Besarnya arus pengelasan yang diperlukan tergantung pada
diameter elektroda, tebal bahan yang dilas, jenis elektroda yang
digunakan, geometri sambungan, diameter inti elektroda, posisi
pengelasan. Daerah las mempunyai kapasitas panas tinggi maka
diperlukan arus yang tinggi. Arus las merupakan parameter las yang
langsung mempengaruhi penembusan dan kecepatan pencairan logam
23
induk. Makin tinggi arus las makin besar penembusan dan kecepatan
pencairannya. Besar arus pada pengelasan mempengaruhi hasil las bila
arus terlalu rendah maka perpindahan cairan dari ujung elektroda yang
digunakan sangat sulit dan busur listrik yang terjadi tidak stabil. Panas
yang terjadi tidak cukup untuk melelehkan logam dasar, sehingga
menghasilkan bentuk rigi-rigi las yang kecil dan tidak rata serta
penembusan kurang dalam. Jika arus terlalu besar, maka akan menghasilak
manik melebar, butirran percikan kecil, penetrasi dalam serta penguatan
matrik las tinggi seperti yang ditunjukan pada gambar 2.5
Tabel 2.3 Hubungan diameter elektroda dan arus pengelasan
Diameter Kawat Las (mm) Arus Las (Ampere)
1.6 25-45
2.4 60-90
3.25 91-130
4.0 135-180
5.0 155-240
(Aji, 2019)
Gambar 2.6 Pengaruh Arus Listrik Dan Kecepatan Pengelasan
24
A. Struktur Mikro Daerah Las-Lasan
Daerah las-lasan terdiri dari tiga bagian yaitu: daerah logam las,
daerah pengaruh panas atau heat affected zone disingkat menjadi HAZ
dan logam induk yang tak terpengaruhi panas.
Daerah logam las adalah bagian dari logam yang pada waktu
pengelaan mencair dan kemudian membeku. Komposisi las terdiri dari
komponen logam induk dan bahan tambahan dari elektroda. Karena
logam las dalam proses pengelasain ini mencair kemudian membeku,
maka kemungkinan besar terjadi pemisahan komponenyang
menyebabkan terjadinya struktur yang tidak homogeny, ketidak
homogenanya struktur akan menimbulkan struktur ferit kasar dan
bainit atas yang menurunkan ketangguhan logam las. Pada daerah ini
struktur mikro yang terjadi adalah struktur cor. Struktur mikro di
logam las dicirikan dengan adanya struktur berbutir panjang (columnar
grains). Struktur ini berawal dari logam induk dan tumbuh kearah
tengah daerah logam las.
Pada garis lebur ini sebagian dari logam dasar ikut mencair selama
proses pembekun logam las tumbuh poada butir-butir logam induk
dengan sumbu kristal yang sama. Penambahan unsur paduan pada
logam las menyebabkan struktur mikro cenderung berbentuk bainit
dengan sedikit ferit batas butir, kedua macam struktur mikro tersebut
juga dapat berbentuk, jika ukuran butir austenitnya besar. Waktu
pendinginan yang lama akan meningkatkan ukuran batas butir ferit,
25
selain itu waktu pendinginan yang lama akan menyebabkan terbentuk
ferit widmanstatten. Struktur mikro logam las biasanya kombinasi dari
struktur mikro dibawah ini:
1) Batas butir ferit, terbentuk pertama kali pada transformasi
austenite-ferit biasanya terbentuk sepanjang batas austenite pasa
suhu 100 – 650°C.
2) Ferit widmanstatten atau ferrite with aligned second phase,
struktur mikro ini terbentuk pada suhu 750-650°C di sepanjang
batas butir austenite, ukurannya besar dan pertumbuhannya cepat
sehingga memenuhi permukaan butirnya.
3) Ferit acicular, berbentuk intragranular dengan ukuran yang kecil
dan mempunyai orientasi arah yang acak. Biasanya ferit acicular
ini terbentuk sekitar suhu 650°C dan mempunyai ketangguhan
paling tinggi di bandingkan struktur mikro yang lain.
4) Bainit, merupakan ferit yang tumbuh dari batas butir austenite dan
terbentuk pada suhu 400-500°C. Bainit mempunyai kekerasan yang
lebih tinggi dibandingkan ferit, tetapi lebih rendah dibanding
martensit.
5) Martensit akan terbentuk, jika proses pengelasan dengan
pendinggin sangat cepat, struktur ini mempunyai sifat sangat keras
dan getas sehingga ketangguhan rendah.
26
a. Daerah pengaruh panas atau heat affected zona (HAZ)
Daerah pengaruh panas atau heat affected zone (HAZ)
adalah logam dasar yang bersebelahan dengan logam las yang
selama proses pengelasan mengalami siklus termal pemanasan dan
pendinginan cepat sehingga daerah ini yang paling kritis dari
sambungan las. Secara visual daerah yang dekat dengan garis lebur
las maka susunan struktur logam nya semakin kasar. Pada daerah
HAZ terdapat tiga titik yang berbeda, titik 1 dan 2 menunjukkan
temperature pemanasan mencapai daerah berfasa austenite dan ini
disebut dengan transformasi menyeluruh yang artinya struktur
mikro Stainlas Stell mula-mula ferit+ferlit kemudian
bertransformasi menjadi austenite 100 . Titik 3 menunjukkan
temperature pemanasan, daerah itu mancapai daerah berfasa ferit
dan austenite dan ini yang disebut transformasi sebagai yang
artinya srtuktur mikro Stainlas Stell mula-mula ferit+perlit berubah
menjadi ferit dan austenite.
b. Logam induk
Logam induk adalah bagian logam dasar di mana panas
dan suhu pengelasan tidak menyebabkan terjadinya perubahan-
perubahan struktur dan sifat. Disamping ketika pembagian utama
tersebut masih ada satu daerah pengaruh panas yang disebut batas
las.
27
B. Diagram CCT (continuous cooling transformation)
Pada proses pengelasan, transformasi austenite menjadi ferit
merupakan tahap yang paling penting karena akan mempengaruhi
struktur logam las, hal ini di sebabkan karena sifat-sifat mekanis
material ditentukan pada tahap tersebut. Factor-faktor yang
mempengaruhi transformasi austenite menjadi ferit adalah masukan
panas, komposisi kimia las, kecepatan pendinginan dan bentuk
sambungan las. Struktur mikro dari Stainlas Stell pada umumnya
tergantung dari kecepatan pendinginannya dari suhu daerah austenite
sampai suhu kamar. Karena perubahan struktur ini maka dengan
sendirinya sifat-sifat mekanik yang dimiliki Stainlas Stell juga akan
berubah. Hubungan antara kecepatan pendinginan dan struktur mikro
yang terbentuk biasanya digambarkan dalam diagram yang
menghubungkan waktu, suhu dan transformasi, diagram tersebut
dikenal dengan diagram CCT (continuous cooling transformation).
(Khotasa, 2016)
Gambar 2.8 diagram CCT untuk Stainlas Stell ASTM 4340
28
Contoh diagram CCT ditunjukkan dalam gambar di atas, dari
diagram di atas dapat dilihat bahwa bila kecepatan pendingin naik
berarti waktu pendinginan dari suhu austenite turun, struktur akhir
yang terjadi berubah campuran ferit+perlit ke campuran ferit-perlit-
bainit-martensit, kemudian bainit-martensit dan akhirnya pada
kecepatan yang tinggi sekali struktur akhirnya adalah marensit.
2.7 Heat Input
Pencairan logam induk dan logam pengisi memerlukan energy
yang cukup. Energy yang dihasilkan dalam operasi pengelasan dihasilkan
dari bermacam-macam sumber tergantuk pada proses pengelasannya.
Pada pengelasan busur listrik, sumber energy berasal dari listrik yang di
ubah menjadi energy panas. Energy panas ini sebenarntanya hasil
kolaborasi dari arus las, tegangan las dan kecepatan pengelasan. Parameter
ketiga yaitu kecepatan pengelasan ikut mempengaruhi energy pengelasan
karena proses pemanasannya tidak diam akan tetapi bergerak dengan
kecepatan tertentu. Kualitas hasil pengelasan dipengaruhi oleh energy
panas yang berarti dipengaruhi tiga parameter yaitu arus las, tegangan las
dan kecepatan pengelasan. Hubungan antara tiga parameter itu
menghasilkan energy pengelasan yang sering disebut heat infut. Persaman
dari heat infut hasil dari penggabungan ketiga parameter dapat dituliskan
sebagai berikut:
Dimana :
29
HI = kecepatan pengelasan (j/mm)
E = tegangan pengelasan (V)
I = arus pengelasan (A)
Dari persamaan itu dapat dijelaskan bebera pengertian antara lain,
jika kita menginginkana masukan panas yang tinggi maka parameter yang
dapat diukur yaitu arus las dapat di perbesar atau kecepatan las di
perlambat. Besar kecilnya arur las dapat diukur langsung pada mesin las.
Tegangan las umumnya tidak dapat di atur secara langsung pada mesin
las, tetapi pengaruhnya terhadap masukan panas tetap ada. Untuk
memperoleh masukan panas yang sebenarnya dari suatu proses
pengelasan, persamaan satu dikalilkan dengan efisiansi proses pengelasan
(η) sehingga persamaannya menjaadi:
Efisiensi masing-masing proses pengelasan dapat dilihat dari table
di bawah ini:
Table 2.4 efisiensi proses pengelasan
Proses pengelasan Efisiensi ( )
Submerged arc welding (SAW) 95
Gas Metal Welding (GMAW) 90
Flux Cored Arc Welding (FCAW) 90
Shielded Metal Arc Welding (SMAW) 90
Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) 70
30