0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan9 halaman

Kromatografi Lapis Tipis untuk Ni(II)

Diunggah oleh

Tria Audina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan9 halaman

Kromatografi Lapis Tipis untuk Ni(II)

Diunggah oleh

Tria Audina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA PEMISAHAN
PERCOBAAN IV
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

NAMA : TRIA AUDINA DEWI


NIM : J1B112026
KELOMPOK : III (TIGA)
ASISTEN : MUTIA FARIDA

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHU ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015
PERCOBAAN 4

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

I. TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan percobaan dari praktikum ini adalah untuk menentukan kadar


Ni(II) dalam cuplikan dengan menggunakan metode kromatografi lapis
tipis.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Analisis kuantitatif penyusun-penyusun yang telah dipisahkan pada


lempeng lapisan tipis pada umumnya dilakukan dengan pengukuran rapatan
(fotodensitas) dan luas bercak, yakni dengan fotodensitas lempeng itu.
Prosedur macam ini meminta bercak-bercak yang diperoleh dengan
menggunakan campuran standar yang kuantitas-kuantitasnya diketahui,
yang harus diuji secara kromatografi pada lempeng contoh. Medium
pemisahannya berupa lapisan barangkali setebal 0,1-0,3 mm zat padat
adsorben pada lempeng kaca, plastik dan aluminium. Lempeng yang kazim
berukuran 20x5 cm. Zat padat yang lazim adalah alumina, gel silika, dan
selulosa. Lempeng kaca dana lembar plastik maupun aluminium yang telah
dilapis sebelumnya dapat dipotong-potong dengan gunting ke ukuran yang
diminati, dan agaknya mayoritas ilmuwan menggunakan ini sekarang
(Underwood dan Day, 1990).
Kromatografi lapis tipis merupakan kromatografi adsorpsi dan
adsorben bertindak sebagai fase stasioner. Empat macam adsorben yang
umum dipakai adalah silika gel (asam silikat), alumina (aluminium oxide),
kieselguhr (diatomeus earth), dan selulosa. Dari keempat jenis adsorben
tersebut, yang paling banyak dipakai adalah silika gel dan masing-masing
terdiri dari bebrapa jenis yang mempunyai nama perdangangan bermacam-
macam. Kromatografi lapis tipis merupakan kromatografi adsorpsi dan
adsorben bertindak sebagai fase stasioner (Adnan, 1997).
Nikel sebagai suatu logam yang bersifat polar dapat dipisahkan secara
kromatografi lapis tipis karena nikel adalah logam putih perak yang keras.
Nikel bersifat liat, dapat ditempa dan sangat kukuh. Logam ini melebur pada
HCl encer dan pekat dan H2SO4 [Link] nikel(II) yang stabil,
diturunkan dari nikel(II) oksida (NiO) yang merupakan zat berwarna hijau.
Garam nikel yang berwarna hijau karena disebabkan oleh warna dari
kompleks heksakuonikelat(II) (Svehla, 1989).
Sampel ditotolkan sekitar 50 µl pada plat kormatografi lapis tipis
dengan mikropipet yang distandardisasi. Di mana konsentrasi zat
maksimum yang digunakan sekitar 30-40 mg/ml. Faktor koreksi digunakan
untuk fosfolipid di ujung pipet setelah penotolan. Hal itu berlaku pada suatu
plat, kuantitas lipid total adalah masing-masing jenis fosfolipid akan
dipisahkan sedikitnya 04-0-5 µg dari fosfor. Baku pembanding sejumlah 15-
50µg ditotolkan bersama-sama dengan sampel. Kromatografi dikembangkan
dengan asam asetat-kloroform-metanol-air (25:15:4:2). Perubahan-
perubahan yang ekstrim seperti kelembaban udara dapat mempengaruhi
penyesuaian volume air dalam mengembangkan bahan pelarut. Jika tidak,
kondisi seperti yang digambarkan oleh Skipski (1963). Rata-rata memakan
waktu selama 2 hari (Skipski, 1964).
Umumnya campuran senyawa organik ditotolkan lebih dekat dengan
salah satu sisi lempeng dalam bentuk larutan, biasanya beberapa mikroliter
yang mengandung beberapa mikrogram senyawa-senyawa. Dapat digunakan
syring hipodemik atau pipet kaca kecil. Noda contoh dikeringkan dan
kemudian sisi lempeng itu dicelupkan ke dalam fase gerak yang sesuai.
Pelarut akan merayap ke atas sepanjang lapisan tipis padat pada lempeng
itu, dan bersama dengan gerakan itu, zat-zat contoh terlarut diangkut dengan
laju yang bergantung pada kelarutan mereka dalam fase gerak itu dan pada
interaksi mereka dengan zat padat. Setelah garis depan pelarut yang
bermigrasi sekitar 10 cm, lempeng itu diambil, dikeringkan dan noda-noda
zat terlarutnya diperiksa dalam kromatografi kertas. Sering dilakukan
eksperimen dua dimensi yang menggunakan dua fasa gerak yang berbeda,
disini digunakan lempeng bujur sangkar bukannya lempeng sempit
(Underwood dan Day, 1990).
Posisi zat-zat terlarut yang telah terpisah dapat dilacak dengan
berbagai metode. Zat-zat berwarna dapat dilihat langsung bila dipandang
langsung dengan fasa stasioner sebagai latar belakang. Spesi tak berwarna
biasanya dapat dideteksi dengan menyemprot lempang itu dengan suatu
reagensia yang tepat yang menghasilkan bercak berwarna dalam daerah
spesi-spesi itu berada. Beberapa senyawa akan berpendar dalam cahaya
ultraviolet dan dapat ditentukan tempatnya dengan cara demikian. Cara lain
jika bahan berpendar dimasukkan dalam adsorben, maka zat terlarut dapat
diamati sebagai bercak gelap pada latar belakang berpendar bila diperiksa
dibawah cahaya ultraviolet. Bercak yang dicari tempatnya dengan metode
ini dapat disketsa dengan menandainya dengan sebuah jarum (Basset, 1994)

III. ALAT DAN BAHAN

A. ALAT

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah plat KLT, pipet
tetes, bejana pengembang, penggaris, oven, gelas kimia, dan botol semprot.

B. BAHAN

Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini adalah larutan


cuplikan Ni(II), aseton, HCl, larutan amoniak, larutan DMG, kloroform, dan
akuades.

IV. PROSEDUR KERJA

1. Menotolkan 1 mL larutan cuplikan yang mengandung Ni (II) pada plat


dengan jarak 1 cm dari tepi.
2. Menyiapkan pengembang campuran aseton:HCl (10:2)
3. Memasukkan plat KLT tersebut kedalam bejana pengembang dan
membiarkan beberapa lama hingga fase gerak mencapai ¾ plat.
4. Mengangkat plat, memberi tanda jarak tempuh fase gerak dan
mengeringkan dalam oven yang bertemperatur 105oC
5. Setelah kering, meletakkan plat diatas gelas kimia berisi larutan amoniak
sampai plat jenuh dengan uap amoniak.
6. Kemudian menyemprot dengan larutan dimetil glioksim (DMG).
7. Menentukan harga Rf.

V. HASIL PENGAMATAN
A. Hasil Dan Perhitungan
1. Hasil

Tabel 1. Data hasil percobaan

Perlakuan Hasil
1. Cuplikan Cuplikan teradsorpsi dalam fase
Ni(II) ditotolkan pada plat diam.
KLT. Aseton 10 mL dan HCl 6 M 2 mL
2. Larutan
pengembang berupa
aseton:HCl 6 M (10:2) -
disiapkan.
3. Plat KLT
yang telah ditotol cuplikan Jarak fase gerak: 3,6 cm.
dimasukkan dalam bejana
pengembang.
4. Plat KLT Plat KLT jenuh dengan uap
diberi tanda jarak tempuh fase ammoniak.
gerak dan dikeringkan dalam Terbentuk noda berwarna merah
oven. muda.
5. Plat Jarak noda: 3,3 cm
diletakkan di atas gelas kimia Rf = Jarak tempuh noda
Jarak tempuh eluen
berisi larutan ammoniak.
= 3,3 cm
6. Larutan
3,6 cm
DMG disemprotkan ke plat
= 0,9167
KLT.
7. Jarak
noda dihitung dari tempat
pentotolan awal, kemudian
dihitung nilai Rf.

B. Pembahasan

Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar Ni(II) dalam sampel


dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Kromatografi lapis
tipis merupakan salah satu teknik pemisahan yang menggunakan suatu
adsorben yang disalutkan pada suatu lempeng kaca sebagai fase
stasionernya dan pengembang kromatografi terjadi ketika fase mobil terlapis
melewati adsorben itu. Dalam percobaan ini, digunakan silika yang
dilapiskan pada suatu plat sebagai fasa diam. Sedangkan sebagai fasa gerak
atau larutan pengembang yang digunakan adalah campuran larutan dari
pelarut organik-anorganik, yaitu n-heksana dengan HCl 6 M dengan
perbandingan 10 : 2. Digunakan n-heksana : HCl (10 : 2) sebagai fasa gerak
untuk pemisahan Ni(II) karena ion Ni(II) merupakan ion yang bersifat polar
dan berada dalam bentuk garam yang sangat mudah larut alam air atau
senyawa polar seperti n-heksana. Sehingga pada proses pemisahan,
digunakan pelarut yang mempunyai kepolaran yang hampir sama dengan
senyawa atau komponen yang dipisahkan.
Silika merupakan suatu adsorben yang bersifat polar, dengan demikian
ion nikel(II) akan ditahan berdasarkan kepolarannya. Oleh karena itu
metode ini dapat digunakan untuk memisahkan senyawa atau ion yang
bersifat polar. Ion atau senyawa akan mempunyai Rf yang spesifik, dengan
demikian melalui metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat diperoleh
informasi secara kualitatif.
Hal yang pertama dilakukan adalah silika gel tersebut ditotolkan
dengan sampel nikel(II) dengan jarak 1 cm dari tepi. Hal yang harus
diperhatikan adalah sudut penotolan sampel pada plat silika adalah 90 o
karena akan sangat mempengaruhi terhadap hasil adsorpsi. Cara penotolan
cuplikan diusahakan tegak lurus agar dihasilkan noda yang benar-benar
bulat dan cuplikan teradsorpsi secara merata pada permukaan silika.
Sebelum plat dimasukkan ke dalam bejana pengembang, plat yang telah
ditotolkan cuplikan dikeringkan sebentar dan dipastikan terlebih dahulu
bahwa cuplikan benar-benar teradsorpsi semua.
Saat memasukkan plat harus hati-hati dengan cara memasukkan secara
perlahan-lahan dan tegak lurus. Letak plat yang miring setelah dimasukkan
ke dalam bejana pengembang, akan menghasilkan proses pengembangan
yang tidak rata. Sehingga pada waktu pengukuran jarak gerak pelarut tidak
dihasilkan data yang akurat. Setelah mencapai jarak pengembangan hingga
¾ bagian plat, pengembangan dihentikan dan plat dikeluarkan serta diberi
batas pelarut dengan pensil. Saat pemberian batas awal dan akhir tidak boleh
dilakukan dengan pulpen tinta, karena penggunaan pulpen tinta akan
mengganggu hasil pemisahan, karena senyawa-senyawa yang terdapat di
dalam tinta sendiri dapat dipisahkan dengan proses kromatografi dalam
proses pembuatan tinta tersebut.
Penandaan jarak gerak cuplikan, apabila noda yang terbentuk bulat,
maka pengukuran jaraknya harus tepat di tengah-tengah noda tersebut.
Sebab pada saat penotolan cuplikan, adsorpsi cuplikan pada plat bukan tepat
di atas batas awal, tetapi berada di tengah diameter cuplikan. Kemudian plat
dikeringkan dalam oven untuk menguapkan seluruh pelarut atau fasa gerak
(larutan pengembang) yang digunakan. Temperatur yang diatur pada 105 oC
dimaksudkan untuk memastikan bahwa komponen pelarut yang mempunyai
titik didih tertinggi pun menguap dengan sempurna, sehingga dihasilkan plat
yang benar-benar kering dan bebas pelarut.
Setelah plat KLT kering, plat diletakkan di atas gelas kimia yang
berisi larutan amoniak. Hal ini dilakukan untuk memberikan suasana basa
pada plat agar ketika dilakukan identifikasi senyawa atau ion cuplikan. Cara
yang dilakukan adalah dengan menyemprotkan senyawa pengompleks agar
dapat diketahui bahwa ion nikel(II) akan membentuk kompleks yang stabil
dengan dimetilglioksim (DMG) pada suasana basa. Setelah penyemprotan
dengan pereaksi pengompleks yaitu DMG, pada plat akan terbentuk noda
berwarna merah muda yang merupakan kompleks Ni-DMG.
Reaksi yang terjadi sebagai berikut :

H
O O

H3C – C = N N = C – CH3
H3C – C = NOH
2 │ + Ni2+ Ni +2H+
H3C – C = NOH
H3C – C = N N = C – CH3

O O
H
DMG Ni-DMG
Jarak gerak cuplikan diukur untuk menentukan Rf nikel(II). Jarak
gerak pelarut yang didapatkan sebesar 3,6 cm dan jarak gerak sampel
nikel(II) sebesar 3,3 cm. Dari hasil percobaan, diperoleh nilai Rf Ni(II)
dalam cuplikan sebesar 0,9167 cm.

II. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :


1. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu teknik
pemisahan yang menggunakan suatu adsorben yang disolutkan pada
suatu lempeng kaca sebagai fase stasionernya.
2. Adsorben pada KLT bersifat polar, sehingga dapat memisahkan ion
Ni(II) yang juga berifat polar.
3. Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh nilai Rf untuk larutan cuplikan
yang mengandung ion Ni(II) sebesar 0,9167.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan, M. 1997. Teknik Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan. Penerbit


Andi. Yogyakarta.

Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Skipski, V. P. 1964. Quantitative Analysis of Phospholipids by Thin-Layer


Chromatography. Biochem. J. Hal : 374-375

Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro.
PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta.

Underwood, A. L dan Day A. R. 1990. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima.


Penerbit Erlangga. Jakarta. Hal: 531-532

Anda mungkin juga menyukai