0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan10 halaman

Etnomatematika di Candi Songgoriti

Diunggah oleh

Adi Juana Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan10 halaman

Etnomatematika di Candi Songgoriti

Diunggah oleh

Adi Juana Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal of Millenial Education (JoME)

[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

Eksplorasi Etnomatematika Artefak Candi Songgoriti Batu

Novian Rizqul Maula1) , Nopem K. Sumitro2)


1),2)
Pendidikan Matematika IKIP Budi Utomo Malang

rizqulmaula0811@[Link], [Link]@[Link]

Abstract
Ethnomatematics is mathematics that is practiced in culture, there are various types of
culture, one of which is a form of relic artifact in the form of a temple. That way it can
enrich the learning model through culture as well as the application of mathematics to a
temple to become a new innovation. This study aims to determine ethnomathematics at
Songgoriti Temple in Batu. This type of research is qualitative research with an
ethnographic approach. The data collection method used was literature study. The results
showed that there were mathematical concepts in Songgoriti Temple, which included
square pyramids, cubes, beams, squares, triangles, circles, reflections, translations, and
dilations.
Keywords: Ethnomatematics, Songgoriti Temple, Mathematical concept

Abstrak
Etnomatematika adalah matematika yang di praktekkan pada budaya, terdapat berbagai
jenis budaya, salah satunya bentuk artefak peninggalan berupa candi. Dengan begitu dapat
memperkaya model pembelajaran melalui budaya sepeti halnya penerapan matematika
pada sebuah candi untuk menjadi suatu inovasi baru. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui etnomatematika pada Candi Songgoriti di Batu. Jenis penelitian ini adalah
penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah studi pustaka, Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konsep
matematika pada Candi Songgoriti yaitu meilputi limas persegi, kubus, balok, persegi,
segitiga, lingkaran, refleksi, translasi, dan dilatasi.

Kata kunci: Etnomatematika, Candi Songgoriti, konsep Matematika

147
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

PENDAHULUAN
Pendidikan matematika adalah praktik dalam mengajar dan belajar matematika, bersama
dengan penelitian yang terkait saat ini (Ahmad et al., 2022), (Ratu et al., 2022). Matematika
merupakan ratu atau sumber ilmu dari ilmu yang lain, dengan kata lain matematika tumbuh dan
berkembang untuk dirinya sendiri sebagai suatu ilmu, serta dapat melayani kebutuhan ilmu
pengetahuan dalam pengembangan dan operasionalnya. Dapat membantu untuk bisa berfikir kritis
dengan mempelajari matematika. Otak akan berfikir teratur dengan belajar matematika dimana
memiliki kebiasaan untuk berhitung dan juga berlatih deret. Adanya matematika dapat membantu
manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan ekonomi, social dan alam, maka
diperlukan pembelajaran matematika. Matematika adalah ilmu yang membahas pola atau
keteraturan (pattern)dan tingkatan (order), hal ini menunjukkan bahwa guru matematika harus
memfasilitasi siswanya untuk belajar berfikir melalui keteraturan yang ada. Dengan guru yang
berperan mengajar para siswa yang ingin belajar matematika (Rusandi & Hidayah, 2022). Tidak
sedikit siswa yang mengatakan bahwa pelajaran matematika sangat sulit, namun ada juga beberapa
yang mengakui dirinya menyukai matematika. Karena tenaga pendidikan juga beberapa telah
melaksanakan pembelajaran dengan penggunaan media dengan bertujuan meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi.
Pembelajaran matematika jika hanya mengandalkan hafalan rumus-rumus saja akan
mengakibatkan kepada siswa menjadi kurang terampil, karena siswa tidak memahami konsep
secara langsung hanya bersifat abstrak. Diperlukannya penggunaan media atau alat dalam
pembelajaran agar siswa lebih faham. Penggunaan media pembelajaran matematika tidak hanya
menggunakan alat-alat yang bersifat matematis. Di dunia pendidikan sudah mengalami kebaruan,
khususnya pendidikan matematika, yakni dalam pemahaman matematika bisa dihubungkan dengan
budaya. Istilah yang sering kita dengar, Etnomatematika yaitu matematika yang dipraktekkan
diantara kelompok budaya yang diidentifikasi dalam kelompok buruh, kelompok anak-anak usia
tertentu, serta anak-anak dari kelas professional. Banyak peserta didik yang sulit memahami konsep
matematika karena mereka menganggap bahwa konsep matematika itu abstrak (Hasan & Budiarto,
2022). Etnomatematika adalah bidang penelitian yang mengamati bagaimana suatu kelompok
orang dalam budaya tertentu memahami, mengungkapkan, dan menerapkan konsep-konsep dan
praktik-praktik kebudayaannya, yang oleh para peneliti dianggap memiliki unsur matematis.
(Fitriani & Putra, 2022), (Talan et al., 2021).
Dengan adanya kebaruan matematika yang melibatkan kebudayaan, memunculkan inovasi
pembelajaran dalam pemahaman siswa terhadap matematika juga bisa menambah pengetahuan
siswa dalam menenal budaya terutama budayanya sendiri, sehingga etnomatematika mempuyai
peran penting yang mampu mendukung pelestarian budaya berbasis pada aktivitas sehari-hari, adat
istiadat, dan pengetahuan tradisional. Matematika berbasis budaya yang sering disebut

148
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

etnomatematika merupakan sebuah pendekatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan peran
matematika dalam masyarakat multibudaya (J. D. Safitri & Rinaldi, 2021). Etnomatematika
merupakan pembelajaran matematika yang diperoleh melalui budaya (Janan et al., 2022), (A. H. I.
Safitri et al., 2021). Dengan adanya pengertian bahwa matematika merupakan bentuk budaya yang
terintegrasi pada seluruh kehhidupan masyarakat, hal tersebut menandakan bahwa dalam budaya
dapat kita temukan konsep matematika yang berbagai macam sehingga dapat memperjelas bahwa
matematika dan budaya salig berkaitan. Pada dasarnya tanpa disadari masyarakat telah melakukan
berbagai aktivitas dengan meggunakan konsep dasar matematika dan ide-ide matematis
(Rahmawati Z & Muchlian, 2019).
Unsur kebudayaan yang dapat dikaitkan dengan matematika dapat berupa peninggalan
artefak suatu daerah. Peninggalan artefak ini bisa berupa alat ataupun bangunan yang dapat dilihat
secara langsung wujudnya. Dengan begitu unsur kebudayaan berupa peninggalan artefak yang ada
di suatu daerah, misalnya Candi yang berada di Kota Batu yaitu Candi Songgoriti. Candi
Songgoriti berlokasi tepatnya di Jl. Raya Songgoriti, Songgokerto, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa
Timur. Bentuk suatu candi tidak lepas dari unsur geometri bangun datar ataupun bangun ruang,
maka dari itu bisa dikatakan bahwa candi artefak peninggalan yang ada di Kota Batu tidak lepass
dari aktivitas matematika, sekalipun aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Peneliti bertujuan
mengetahui konsep matematika yang terdapat pada Candi Songgoriti.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian
kualitatif ini memiliki tujuan mengumpulkan data sedalam-dalamnya untuk menjelaskan fenomena
tertentu yang lebih menekanakan pada luaran berupa analisis atau deskripsi. Jenis penelitian
kualitatif ini juga menggunakan pendekatan etnografi dengan lebih menekanpan pada makna
sosiologi melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural. Lokasi candi songgoriti
berada di Jl. Raya Songgoriti, Songgokerto, kec batu, Kota Batu, Jawa Timur. Penelitian
dilaksanakan dengan melakukan penelusuran seputar candi songgoriti melalui internet yakmi yang
berupa informasi di website ataupun juranal yang tersedia mengenai candi songgoriti.. Metode
pengumpulan data yang digunakan yaitu, studi pustaka. Studi pustaka bisa diartikan metode
pengumpulan data yang dalam pelaksanaan pencarian data dan informasinya melalui dokumen-
dokumen yang dapat mendukung dalam proses penulissan, dengan bentuk dokumen secara tertulis,
foto-foto, gambar maupun dokumen elektronik. Penelitian ini dengan menggunakan metode
penelitian studi pustaka melalui dokumen elektronik, dengan pemanfaatan elektronik yang bisa
akses internet dengan menelusuri berbagai informasi yang ada dengan fokus terhadap
permasalahan yang diambil oleh penulis. Langkah-langkah dalam penelitian kepustakaan ini

149
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

sebagai berikut : 1) Pemilihan topik, peneliti harus menentukan topik yang ingin dibahas dalam
penelitian kepustakaan. Peneliti harus memperhatikan beberapa pertimbangan dalam pemilihan
topic yang dipilih, yakni informasi yang tersedia, waktu yang tersedia, ketertarikan peneliti dalam
suatu topic, dan kemungkinan keberhasilan. 2) Mencari dokumen penelitian, dapat membantu
peneliti memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap mengenai penelitian yang dilakukan melalui
sumber data yang akan mendukung penelitian. 3) Menentukan fokus penelitian, agar pembahasan
penelitian tidak meluas maka diperlukan pembatasan dan memperjelas bahasan-bahasan yang akan
dikaji dalam penelitian. 4) Pengumpulan sumber data, pengumpulan sumber data yang dilakukan
peneliti berupa jurnal, dan artikel yang berkaitan dengan penelitian. 5) Persiapan penyajian data,
setiap sumber yang telah dikumpulkan dianalisis oleh peneliti berdasarkan kesediaan data terkait
fokus penelitian. 6) Penyusunan laporan, peneliti menyusun luaran dalam bentuk artikel.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Secara administratif, candi songgoriti berlokasi di Desa Songgokerto, Kecamatan Batu,
Kota Batu, Jawa Timur. Van I Isseidijk adalah seorang arkeolog Belanda yang pertama kali
menemukan candi songgoriti pada tahun 1799 M. Candi songgoriti telah dilaksanakan renovasi
pada tahun 1849 M oleh arkeolog Belanda yaitu Rigg dan pada tahun 1863 M oleh Brumund.
Selanjutnya dilakukan inventarisasi situs Candi Songgoriti pada tahun 1902 oleh Knebel dan
dilanjutkan renovasi besar-besaran tahun 1921 M. Pada tahun 1938 telah dilaksanakan renovasi
terakhir untuk Candi Songgoriti.
Candi songgoriti ini terdapat dugaan pendiriannya sekitar abad ke-9 sampai ke-10 Masehi,
yakni bertepatan pada masa pemerintahan Mpu Sindok ketika masa perpindahan kekuasaan dari
Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dimana candi songgoriti ini termasuk candi tertua di Jawa Timur
meskipun belum diketahui secara pasti kapan masa pembangunannya. Didasarkan pada gaya candi
yang bentuknya serupa dengan candi-candi di Jawa Tengah dugaan masa tersebut tertuangkan.
Berdaasarkan gaya ini pula candi songgoriti terduga kuat merupakan candi yang menjadi bagian
petirtaan.
Candi songgoriti memiliki batur berbentuk persegi berukuran 14 x 10 meter, sedangkan
tubuh dan atapnya mengalami reruntuhan. Candi ini memiliki ukuran kaki dengan panjang 14,36 m
dan lebar 10,10 m, sedangkan tubuh candi mempunyai ukuran panjang 14,36 m, lebar 3,72 m, dan
tinggi 2,44 m. Untuk keadaan tubuh sekarang sebagian melami reruntuhan, reruntuhan candi
songgoriti memiliki panjang sekira 3,8 meter, lebar 3,7 meter dan tinggi kira 2,8 meter.
Selain melihat dari unsur sejarahnya, pada bangunan Candi Songgoriti ini juga ditemukan
konsep matematika yaitu berbagai macam jenis bangun ruang, bangun datar, sudut siku-siku, dan
konsep transformasi.

150
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

1. Bangun Ruang

Gambar 1. Perkiraan Rekontruksi Candi Songgoriti (Sumber : [Link])


Berdasarkan gambar perkiraan rekonstruksi Candi Songgoriti yang di rancang oleh
(Susantio : 2008) yang disesuaikan dengan bentuk candi gaya Jawa Tengah yang berbentuk
tambun, bahwasannya memiliki atap yang meruncing lebih tepatnya berbentuk limas segiempat
dengan memiliki ciri-ciri berundak-undak. Sedangkan untuk badan candi tambun memiliki bentuk
kubus dan terdapat relief tinggi dan menonjol. Untuk bagian kaki Candi Songgoriti yang masih
utuh sekarang ini terbentuk dari gabungan bentuk balok dengan dibagian tengah candi terdapat
sumber air.

Gambar 2. Konsep Bangun Ruang Balok pada Kaki Candi Songgoriti


(Sumber : [Link])

Gambar 3. Konsep Bangun Ruang Balok pada Pondasi Dasar Candi Songgoriti
(Sumber : [Link])
151
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

Berdasarkan gambar yang didapat berupa bangunan Candi Songgoriti, terlihat batu
penyusun bangunan dan penulis menganalisa bahwa batu penyusun bangunan berbentuk balok.
Dengan memperhatikan sifat-sifat balok yakni, memiliki 6 sisi, 4 sisi berbentuk persegi panjang, 2
sisi berbentuk persegi dan sejajar, memiliki 12 rusuk dengan 8 pasang rusuk yang sama panjang,
memiliki 8 titik sudut. Tidak hanya batu penyusun bangunan yang berbentuk balok, namun pada
pondasi dasar yang berada di bagian bawah batur pun tersusun oleh batu bata yang berbentuk
balok.

Gambar 4. Konsep Bangun Ruang Prisma Segiempat Terpancung atau Prisma


Trapesium pada Hiasan Kaki Candi Songgoriti (Sumber : [Link])

Berdasarkan gambar terlihat pada kaki Candi Songgoriti terdapat batu hiasan yang terletak
diatas batu penyusun batur yang berbentuk prisma segiempat terpancung, dimana batunya semakin
keatas semakin kecil. Batu hiasan tersebut memiliki sifat-sifat prisma segiempat seperti alas dan
sisi bagian atas berbentuk persegi, namun untuk batu hiasan disini bentuk sisi persegi bagian atas
lebih kecil daripada alas, memiliki 12 rusuk dan 8 titik sudut.
2. Bangun Datar

Gambar 5. Konsep Bangun Datar Persegi pada Kaki Candi Songgoriti Dan
Lubang Sumber Air Panas dan Dingin di Candi Songgoriti(Sumber : [Link])
dan (Sumber : [Link])
Terdapat beberapa balok penyusun struktur kaki pada Candi Songgoriti yang memiliki
bidang masing-masing berbentuk persegi, dikatakan persegi dimana bidang balok tersebut

152
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

bersesuaian dengan sifat-sifat persegi, antara lain memiliki 4 sisi dengan semua sisi memiliki
ukuran yang sama panjangnya. Bentuk persegi bukan hanya terdapat pada kaki candi saja, tetapi
pada lubang sumber air dingin yang bertepat pada bagian tengah Candi Songgoriti dan lubang air
panas yang berada di sekitar Candi Songgoriti memiliki bentuk persegi, dengan diberitahukan
bahwasannya air panas yang bisa menyembuhkan penyakit kulit

Gambar 6. Konsep Bangun Datar Segitiga pada Makara Candi Songgoriti


(Sumber : [Link])
Pada bangunan Candi Songgoriti ini terdapat makara yang berdasarkan informasi (Museum
Nasional Indonesia : 2019) bahwa makara memiliki peran pada sebuah candi yakni sebagai penjaga
dan pelindung bangunan dari bahaya dan makara juga terkait dengan air yang dapat menyeka dosa-
dosa. Selain itu difungsikan sebagai penolak bala terhadap energy-energi negative yang akan
memasuki candi. Terkait hal tersebut dapat ditafsirkan bahwa pendiri-pendiri candi tidak inginnya
candi terkena hal-hal yang negative dengan tetap menjaga kesucian candi. Pada Candi Songgoriti
ini makara terdapat pada setiap setiap sisi relung yang ada di bagian antara tubuh dan kaki candi,
dengan menerapkan motif flora. Untuk bentuk makara itu sendiri berbentuk segitiga jika kita lihat
dari satu sudut. Makara tersebut ketika kita ambil garis tegaknya memiliki sifat-sifat seperti
segitiga yaitu memiliki 3 sudut dan 3 sisi.

Gambar 7. Konsep Bangun Datar Lingkaran Gambar 8. Konsep Bangun Datar


pada Hiasan Pinggang Arca Dewi di Candi Lingkaran pada Motif Flora di Makara
Songgoriti (Sumber : [Link]) Candi Songgoriti (Sumber:
[Link])

153
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

Pada gambar 7 terdapat hiasan pinggang pada arca dewi , semisal kita kaitkan dengan
busana yang sering digunakan orang India, maka hiasan pinggang tersebut persis dengan yang
dinamakan Aranjanam yang terbuat dari perak ataupun emas, yang berbentuk bulat sehingga
semisal digerakkan akan menghasilkan suara dari gesekan antar emas ataupun perak. Bentuk bulat
tersebut apabila dilihat pada satu sisi maka terlihat bentuk bangun datar lingkaran dengan memiliki
1 sisi lengkung saja.
Untuk makara pada Candi Songgoriti terlihat pada gambar 8 dengan menggunakan motif
flora. Motif flora pada makara dipadukan dengan motif bentuk lingkaran yang mewadahi motif
flora yang menyerupai lekukan daun.

Gambar 9. Konsep Bangun Datar Segitiga


pada Motif Ukiran Relung Candi Songgoriti
(Sumber : [Link])

Berdasarkan informasi dari [Link] bahwasannya badan Candi Songgoriti ini


membentuk diagram mandala dan setiap sisinya terdapat relung berhias lidah api dan makara yang
distilir motif flora, sebagai tempat arca. Dengan dilihatnya bentul lidah api, setelah peneliti
menganalisa bahwa bentuk lidah api tersebut memiliki bentuk dasarnya segitiga, akan tetapi pada
lidah api bentuk segitiganya dengann menggunakan garis lengkung pada sisi-sisi kakinya.
3. Transformasi

Gambar 10. Konsep Refleksi pada Kaki Candi Songgoriti (Sumber : [Link])

Dengan yang kita tahu bahwa sifat refleksi itu sendiri sesuai dengan sifat bayangan cermin,
yaitu jarak benda asli dengan cermin akan sama dengan jarak titik bayangan ke cermin, serta

154
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

ukuran dan bentuknya sama. Sehingga pada kaki Candi Songgoriti apabila dibagi secara vertikal
dengan daerah sama besar, maka akan menghasilkan bentuk-bentuk sama yang bersesuaian.

Gambar 11. Konsep Translasi pada Ukiran Kaki Candi Songgoriti (Sumber : [Link])

Dengan mengetahui sifat konsep translasi, yaitu menggeser titik/bidang sepanjang garis
lurus dengan arah dan jarak dan tidak mengubah ukuran sama sekali. Balok-balok dengan ukuran
sama dengan jarak tertentu yang merupakan hiasan pada kaki candi berderet satu jajar, hal tersebut
ada hubungannya dengan konsep translasi menurut peneliti.

Gambar 10. Konsep Dilatasi pada Kubus Kaki Candi Songgoriti (Sumber : [Link])

Dalam hal ini dilatasi adalah transformasi yang mengubah bentuk bangun geometri dengan
cara memperkecil ataupun memperbesar tanpa mengubah bentuk aslinya, hanya ukurannya yang
berbeda saja. Pada kaki Candi Songoriti dengan terbentuk dari beberapa balok, dengan setiap balok
memilki bidang persegi panjang dan persegi. Pada salah satu bidang persegi panjang terdapat pola
garis yang berbentuk persegi panjang juga, akan tetapi dengan ukuran ang lebih kecil dan hal
tersebut menurut peneliti merupakan ada kaitannya dengan konsep dilatasi.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan, terdapat beberapa etnomatematika pada Candi
Songgoriti. Etnomatematika yang didapat terdiri dari konsep bangun ruang, bangun datar, dan
konsep transformasi. Konsep-konsep tersebut didapat pada bagian-bagian Candi Songgoriti dan
relief yang ada pada Candi Songgoriti. Bangun ruang yang didapat yaitu limas segi empat terdapat

155
Jurnal of Millenial Education (JoME)
[Link]
e-ISSN : 2988-4543
Vol. 2, No. 2, Agustus 2023, pp. 147-156

pada perkiraan atap Candi Songgoriti yang menyerupai candi yang ada di Jawa Tengah, kubus
terdapat pada bagian badan Candi Songgoriti dengan bentuk dasarnya menyerupai kubus, balok
terdapat pada bagian kaki dan batu penyusun Candi Songgoriti, prisma segi empat terpancung atau
proisma trapezium terdapat pada hiasan batu yang ada pada kaki candi. Bangun datar yang didapat
yaitu persegi terdapat pada salah satu bidang balok yang menjadi penyusuk kaki Candi Songgoriti
dan terdapat pada bentuk lubang sumber air panas dan air dingin, segitiga terdapat pada bentuk
makara yang berada di bawah relung dan terdapat pada motif lidah api pada hiasan relung,
lingkaran terdapat pada motif pada makara dan terdapat pada hiasan pingggang yang dipakai oleh
arca dewi yang berada pada salah satu relung pada Candi Songgoriti. Tranformasi yang didapat
yaitu refleksi terdapat pada gaya atau model kaki candi, translasi terdapat pada motif balok-balok
kecil yang berjejer rapi pada kaki candi, da dilatasi terdapat pada balok penyusun kaki candi pada
salah satu bidangnya yang berbentuk persegi panjang

REFERENSI
Ahmad, A., Negara, H. R. P., & Kurniawati, K. R. A. (2022). MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR MATEMATIKA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAME TURNAMENT …. Jurnal El-
Hikam.
Fitriani, D., & Putra, A. (2022). Systematic Literature Review (SLR): Eksplorasi Etnomatematika
pada Makanan Tradisional. Journal of Mathematics Education and Learning, 2(1).
[Link]
Hasan, M. A., & Budiarto, M. T. (2022). EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA BUDAYA
MASYARAKAT SIDOARJO. MATHEdunesa, 11(2).
[Link]
Janan, T., Nurhidayati, N., & ... (2022). EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA MASJID
AL-AKBAR SURABAYA. AL JABAR ….
Rahmawati Z, Y. R., & Muchlian, M. (2019). Eksplorasi etnomatematika rumah gadang
Minangkabau Sumatera Barat. Jurnal Analisa, 5(2). [Link]
Ratu, H., Negara, P., Riska, K., & Kurniawati, A. (2022). Pengaruh Penggunaan Fasilitas Belajar
di Rumah Dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa. 5(2), 113–122.
Rusandi, H., & Hidayah, N. (2022). Upaya Guru dalam Meningkatkan Efektivitas Belajar
Mengajar ( Studi Kasus : Madrasah Tsanawiyah Nurul Yaqin ). 5(1), 63–70.
Safitri, A. H. I., Novaldin, I. D., & Supiarmo, M. G. (2021). Eksplorasi Etnomatematika pada
Bangunan Tradisional Uma Lengge. Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 5(3).
[Link]
Safitri, J. D., & Rinaldi, A. (2021). Eksplorasi Etnomatematika Pada Upacara Adat Pernikahan
Suku Lampung, Jawa dan Bali. Jurnal Maju, 8(1)(1).
Talan, K. Y. P., Nubatonis, O. E., & ... (2021). Eksplorasi Etnomatematika Dalam Aktivitas
Menenun Di Kecamatan Amarasi Barat Dan Integrasinya Dalam Pembelajaran …. … ) 1
Program Studi …, 9(September).

156

Anda mungkin juga menyukai