0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan6 halaman

PBL Pedagogik: Meningkatkan Daya Kritis Siswa

Diunggah oleh

abdullah68
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan6 halaman

PBL Pedagogik: Meningkatkan Daya Kritis Siswa

Diunggah oleh

abdullah68
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Contoh Analisa Materi PBL Pedagogik

Nama : Samber Nyowo


Kelas : 1 A PAI tahun 2024
LPTK : UIN Raden Mas Said Surakarta
Tema : Pembelajaran berbasis CTL dalam Meningkatkan Daya Kritis Siswa
Sub Tema : Elemen fikih (judi online)

1. Identifikasi Masalah
Tantangan yang dihadapi umat beragama saat ini adalah menyangkut
masalah kemanusiaan universal. Oleh sebab itu agama dituntut mampu
memberikan jawaban terhadap problem kemanusiaan secara menyeluruh yang
menyangkut keadilan, pemenuhan kesejahteraan, pelestarian alam dan
sebagainya.
Siswa dihadapkan pada berbagai masalah sosial keagamaan, sehingga
pembelajaran perlu menghadirkan isu-isu kegamaan yang dihadapi oleh siswa.
Pendekatan kontektual perlu dihadirkan dalam pembelajaran, karena
pendekatan ini tidak hanya memperdalam pemahaman siswa tentang
kompleksitas isu-isu sosial dan keagamaan, tetapi juga membantu mereka
mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan empati.
Kurangnya daya kritis siswa dalam melihat setiap isu yang berkembang
sehingga siswa terjebak pada keikutsertaannya dalam menyebaran berita
hoaks, terlibat kasus bulliying, kekerasan dan lain sebagainya. Hal itu
disebabkan karena kurangnya daya kritis siswa dalam melakukan pengamatan
dan pembacaan.
Maka masalah yang dapat diidentiffikasi adalah
1. Daya kritis siswa di zaman digital perlu untuk diasah melalui pembelajaran
di dalam kelas maupun di luar kelas, mengingat bahwa siswa dalam realitas
dihadapkan pada fenomena sosial yang komplek
2. Menghadirkan permasalahan atau isu-isu yang dihadapi siswa dalam
kehidupan sehari-hari masih dipandang kurang dalam proses
pembelajaran pendidikan agama Islam, sehingga perlu menghadirkan
pembelajaran yang kontekstual

2. Ekplorasi Penyebab Masalah Melalui Literatur Review dan Realitas


Review

a. Literatur review
Salah satu pesan besar dalam kurikulum merdeka adalah
pembelajaraan yang bersifat kontekstual. Kontekstualisasi pembelajaran
mengarah pada satu titik yaitu peserta didik sadar akan fenomena sosial yang
dihadapi di masyarakat. Kontekstualisasi merupakan proses atau tindakan
memahami atau menafsirkan sesuatu dengan mempertimbangkan konteks
atau latar belakang yang relevan. Konteks sendiri melibatkan berbagai elemen
seperti agama, budaya, ekonomi, politik, lingkungan yang mempengaruhi
perubahan hidup makna manusia.
Kesadaran perlunya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran
didasarkan adanya kenyataan bahwa sebagian besar siswa belum mampu
menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana
pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Hal ini karena pemahaman konsep
akademik yang diperoleh hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum
menyentuh kebutuhan praktis kehidupan mereka, baik di lingkungan kerja
maupun di masyarakat.
Prinsip ini menekankan pentingnya mempertimbangkan konteks sosial
dan budaya dalam memahami pengetahuan. Faktor-faktor seperti nilai-nilai
budaya, norma sosial, struktur kekuasaan, dan faktor-faktor sosial lainnya
dapat mempengaruhi pada makna setiap pengetahuan manusia.
Pembelajaran perlu bersentuhan dengan realitas sosial dengan
menggunakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran. Untuk
mendukung hal tersebut sebelumnya telah muncul gagasan yaitu metode
pembelajaran seperti Student Centered Learning (SCL), Contextual Teaching
and Learning (CTL), Independent Learning, Emancipatory Learning, Innovative
Teaching, dan lain-lain. Semua pembelajaran berpusat pada siswa (student-
centered) hal tersebut selaras dengan konsep yang diprakarsai oleh John
Dewey sejak satu abad yang lalu.
Kontekstual juga dipengaruhi oleh filosofi konstruktivisme yang digagas
oleh Mark Baldwin dan dikembangkan oleh Jean Piaget. Filsafat
konstruktivisme tentang hakikat pengetahuan mempengaruhi konsep proses
pembelajaran. Belajar tidak hanya mengingat, tetapi juga proses membangun
pengetahuan melalui pengalaman. Ada tiga jenis skenario pembelajaran
(berbasis proyek, berbasis tujuan, dan berorientasi pada penyelidikan)
(Charles, 2017).
Dalam perkembangannya, CTL memberi titik tekan pada cara berpikir
tingkat tinggi (high order thinking – HOT), transfer pengetahuan lintas disiplin,
serta pengumpulan, penganalisisan, pensintesisan informasi dan data dari
berbagai sumber dan perspektif. Menurut Blanchard (2001), strategi CTL dapat
membantu memenuhi kebutuhan masing-masing siswa yang berbeda,
meliputi: 1). Menekankan pada pemecahan masalah, 2). Menyadari perlunya
pembelajaran dalam berbagai konteks, 3). Mengajarkan siswa untuk
memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, sehingga mereka
menjadi pembelajar yang mandiri, 4). Mengajar sesuai dengan keragaman
konteks kehidupan siswa dan 5). Mendorong siswa untuk belajar dari satu
sama lain dan bersama-sama menggunakan penilaian otentik.
Menurut Darmawan (2010) bahwa dengan pola pembelajaran berbasis
masalah melaui CTL keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran
mengalami peningkatan yang berarti setelah proses belajar mengajar
diterapkan pembelajaran berbasis masalah. Siswa menjadi lebih kritis baik itu
dalam mengeluarkan pendapat, bertanya, mengidentifikasi masalah dan
memberikan solusi pada permasalahan yang ada di lingkungan sekitar siswa
Salah satu metode untuk meningkatkan daya kritis siswa yaitu dengan
pembelajaran kontekstual. Selain meningkatkan daya kritis siswa,
pembelajaran kontektual menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena
bersentuhan dengan realitas sosial.
b. Realitas review
Maraknya pelanggaran norma agama, adat dan aturan negara dalam
kehiudpan bermasyarakat seperti: perjudian, minuman keras, pelecehan
seksual, bullying dan lain-lain, disebabkan kurangnya internalisasi nilai-nilai
pendididikan agama Islam dalam diri peserta didik. Guru dalam proses
pembelajaran lebih mengutamakan kognitif, padahal tugas guru bukan hanya
mentransfer pengetahuan (transfer og knowledge) tetapi mentrasfer nilai
(transfer of value) dan budaya (transfer of culture). Internalisasi nilai-nilai
agama dapat dihadirkan dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas.
Kasus sosial marak terjadi karena berbagai faktor yang saling
berinteraksi, adapun faktor yang menyebabkan maraknya kasus sosial
kegamaan bisa disebabkan dari pertama, ketidaksetaraan ekonomi yaitu
ketidaksetaraan pendapatan dan kekayaan yang dapat menyebabkan
ketegangan sosial. Ketika ada kesenjangan yang besar antara yang kaya dan
yang miskin, hal ini dapat memicu konflik, ketidakpuasan, dan ketidakstabilan
sosial. Kedua, pengangguran dan kemiskinan, tingginya tingkat pengangguran
dan kemiskinan dapat menyebabkan peningkatan kasus kriminalitas,
tunawisma, dan masalah kesehatan mental. Ketidakamanan ekonomi juga
dapat memicu tindakan-tindakan desperatif.
Ketiga, perubahan sosial dan budaya, perubahan sosial yang cepat,
globalisasi, digitalisasi dapat menyebabkan ketidakstabilan. Ketika norma-
norma dan nilai-nilai budaya terganggu, ini bisa menimbulkan konflik antar
generasi dan antar kelompok. Keempat, media dan teknologi, terutama media
sosial, dapat mempercepat penyebaran informasi (dan disinformasi) serta
mobilisasi massa. Isu-isu sosial dapat dengan cepat menjadi viral dan memicu
respons emosional yang kuat.
Kelima Kesehatan Mental dan spiritual, lemahnya mental masayarakat
dan spiritual masyarakat mengakibatkan pilihan jalan pintas dia lakukan,
sehingga terjadi disintegrasi di masyarakat. Keenam adalah factor pendidikan,
pendidikan bisa menjadi factor penyebab kasus sosial keagamaan di
masyarakat manakala pendidikan tidak dilaksanakan sebagai mana fungsinya.
Berdasarkan pada hasil wawancara pada kepala sekolah
mengungkapkan bahwa “pembelajaran selama ini kurang menyentuh atau
belum mengkaji isu-isu yang dihadapi masyarakat, sehingga pendidikan
tercerabut dari ruhnya dalam melakukan transformasi sosial”. Hal ini juga
selaras dengan yang diungkapkan pengawas sekolah yang menyampaikan
bahwa “tujuan dari pendidikan adalah melakukan perubahan sosial, perubahan
sosial akan terwujud apabila adanya keyakinan dan kesadaran atas fenomena
sosial”. Transformasi sosial dilandaskan akar teologis yaitu berupa akidah,
keyakinan kepada sang kholik harus lebih menguatkan sistem hubungan sosial
manusia.
Transformasi sosial akan terwujud jika dilakukan melalui
kontekstualisasi, karena dengan kontektualisasilah perubahan akan terjadi
yaitu perubahan pada struktur pengetahuan menuju perubahan struktur
kehidupan di masyarakat. Pendidikan bersentuhan dengan sendi-sendi
kehidupan masyarakat baik ekonomi, sosial, budaya, politik dan lain-lain. Hal
ini lah yang akan dibangun dalam kurikulum pendidikan kita melalui kurikulum
merdeka.
Pembelajaran CTL dalam realitasnya belum sepenuhnya digunakan
oleh para guru. Pembelajaran kebanyakan masih didominasi oleh kegiatan
ceramah, sehingga siswa menjadi pasif. Model CTL diharapakan mampu
menjawab permasalahan peserta didik dan mampu meningkatkan daya kritis
siswa.

3. Analisis Penentu Penyebab Masalah


Kemampuan berpkikir kritis telah menjadi hal yang sangat diperhatikan
dalam perkembangan berpikir siswa. Hal itu dapat terjadi karena kemampuan
berpikir kritis siswa merupakan hal yang terpenting pada abad XXI saat ini.
Pada abad XXI siswa dituntut mampu mengikuti perkembangan zaman yang
sesuai dan baik bagi dirinya, salah satu mengikuti perkembangan zaman yaitu
dengan mengembangkan kemampuan berpikir siswa yang dengan baik
Namun yang saat ini sering dijumpai adalah, kemampuan berpikir kritis
siswa- siswi Indonesia masih terbilang rendah. Hal itu diketahui berdasarkan
hasil program for international student assessment (PISA) 2012, skor literasi
Indonesia adalah 382 dengan peringkat 64 dari 65 negara. Soal yang
digunakan terdiri atas 6 level (level 1 terendah dan level 6 tertinggi). Siswa di
Indonesia hanya mampu menjawab pada level 1 dan level 2. Pada data PISA
yang telah dipaparkan hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam
menjawab soal yang mengacu pada kemampuan berpikir kritis masih sangat
rendah.
Permasalahan rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa juga terjadi
pada kegiatan pembelajaran beberapa sekolah di Indonesia. Hal tersebut
dapat terjadi sebab pada sebagian pembelajaran di kelas kurang mendukung
daya analisis siswa, menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa serta
kemampuan berpikir kritis siswa juga rendah karena siswa kurang mengikuti
pembelajaran dengan baik. Fakta lainnya bahwa kemampuan berpikir kritis
siswa yang rendah dapat terlihat dari beberapa hal yang terjadi saat kegiatan
pembelajaran berlangsung. Materi pembelajaran yang cenderung
mengedepankan hafalan.
Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa kurang dari sepertiga guru
melibatkan siswa dalam pembelajaran yang kompleks, sehingga membatasi
peluang siswa untuk membangun pemikiran kritis dan pemecahan masalah.
Hampir 70% dari tugas siswa adalah pembelajaran yang dangkal. Kegiatan
seperti tanya jawab sederhana, mencatat, atau hanya mendengarkan guru
mendominasi aktivitas siswa, sedangkan aktivitas yang melibatkan pemikiran
lebih dalam jarang dilakukan.
Perlu melakukan terobosan dalam model pembelajaran untuk
meningkatkan daya kritis siswa, yaitu dengan pembelajaran kontekstual. Salah
satu penyebab kurangnya daya kritis siswa disebabkan oleh pembelajaran
berbasis realitas sosial atau kontektual dan model pembelajaran yang kurang
tepat.
4. Penetapan Solusi Masalah, Evaluasi dan Refleksi terhadap Pemecahan
Masalah, langkah dan solusinya
a. Penetapan solusi masalah
Penentu masalah kurangnya daya kritis siswa yaitu terletak pada proses
pembelajaran yang kurang mengedepankan cara berfikir siswa. Daya kritis
siswa dapat dipacu dengan melakukan kajian-kajian terhadap isu atau
fenomena sosial yang hadir di sekitar peserta didik melalui pembelajaran
kontekstual.
Solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan seperti yang telah
disampaikan pada ekplorasi masalah dan penyebab masalah yaitu dengan
melalui pembelajaran kontekstual dengan menghadirkan permasalahan yang
dihadapi oleh peserta didik melalui model pembelajaran cotektual teaching and
learning (CTL). Model CTL menjadi sarana untuk meningkatkan daya kritis
siswa
Elemen fikih menjadi salah satu materi pembelajaran yang dipilih dalam
melakukan pembelajaran kontekstual. Menurut Dirjen Pendis Nomor 3211
tahun 2022 tujuan mata pelajaran fiqih untuk peserta didik, supaya peserta
didik dapat menjalankan kewajiban beragama dengan baik terkait hubungan
dengan Allah, maupun sesama manusia dan alam semesta.
Dari situ dapat disimpulkan bahwa tujuan dari mata pelajaran fiqih yaitu
supaya pemahaman agama yang dimiliki peserta didik dapat terinternalisasi
dalam diri peserta didik dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Evaluasi dan Refleksi


Melalu implementasi CTL, diharapkan dapat meningkatkan daya kritis
siswa. Adapun kelebihan dari pembelajaran (Contextual Theaching Learning)
menjadi lebih bermakna artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal
ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang
ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan
berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
Sebagai bahan evaluasi dan refleksi bahwa setiap model pembelajaran
yang digunakan tidak ada yang sempurna, pasti ada kelebihan dan
kekurangannya. Adapun kelebihan dari pembelajaran kontekstual (Contextual
Theaching Learning) adalah lebih produktif dan mampu menumbuhkan
penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut
aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntut untuk menemukan
pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa
diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan ”menghafal”. Model
pembelajaran CTL menjadikan siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran
dan pengetahuan siswa lebih berkembang sesuai dengan pengalaman yang
dialaminya serta meningkatkan daya kritis siswa.
Kelemahan pembelajaran kontekstual (Contextual Theaching Learning),
guru lebih intensif dalam membimbing karena dalam metode CTL guru tidak
lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas
sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan
dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang
sedang berkembang, sebab kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi
oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya.
Langkah selanjutnya adalah guru dapat terus melakukan inovasi dalam
pembelajaran sehingga pembelajaran lebih efektif dan efisien. Selalu
menghadirkan dan mengintegrasikan setiap permasalahan yang dihadapi
peserta didik akan menjadikan pendidikan lebih bermakna.

c. Langkah-Langkah Solusi
Untuk meningkatkan daya kritis siswa yaitu dengan mengintegrasikan
materi pembelajaran dengan permsalahan nyata ayng dihadapi siswa,
sehingga mendorong siswa untuk berfikir kritis. Elemen fikih dipilih dalam tema
pembelajaran, karena fikih adalah materi yang banyak bersentuhan langsung
dengan pola kehidupan sosial masyarakat. Untuk menyelesaikan masalah
tersebut solusinya adalah
1. Siswa diberi kertas kerja untuk menyampaikan masalah yang terjadi
disekitarnya berkaitan dengan ibadah, akidah, akhlak atau yang lainnya.
2. Mengambil salah satu permasalahan atau isu yang sedang dialami siswa
tentang elemen fikih yaitu judi online
3. Memahami dan menganalisis perjudian yaitu judi online
4. Membuat modul ajar
Adapun langkah-langkah untuk mengimplementasikan pembelajaran
kontekstual melalui model CTL meliputi: konstruktivisme (contructivism),
menemukan (Inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning
community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), penilaian yang
sebenarnya (authentic assessment)
1. Bertanya (Questioning),
Guru menyampaikan pertanyaan tentang marakanya judi online dan
hukumnya
2. Masyarakat belajar (Learning Community)
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk mengidentifikasi
macam-macam judi online, hukum judi online, pencegahan judi online dari
berbagai sumber referensi
3. Menemukan (Inquiry),
Siswa menemukan jawaban atas permasalahan dari hasil identifikasi dan
diskusi kelompok
4. Pemodelan (Modeling),
Guru memberikan ilustrasi akibat dari judi online, melalui drama atau role
playing yang dilakukan oleh guru dan siswa
5. Konstruktivisme (Contructivism),
siswa dapat menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri
melalui proses pembelajaran yang telah dilakukan
6. Refleksi (Reflection),
Guru bersama siswa melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah
dilakukan
7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Guru melakukan peneliaian autentik berupa penilaian proses dan
penilaian hasil

Anda mungkin juga menyukai