0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan3 halaman

Peran PMII dalam Menghadapi Tantangan Kebangsaan

Diunggah oleh

reon3394
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan3 halaman

Peran PMII dalam Menghadapi Tantangan Kebangsaan

Diunggah oleh

reon3394
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Arif Rahman

PMII komisyariat muhammadiyah mataram

GERAKAN BERBASIS KEISLAMAN DAN KEINDONESIAAN


Pada tahun 2024 ini PMII berusia 64 tahun. Ibarat manusia, usia tersebut merupakan sosok yang
sudah tua dan matang. Lantas apa kiprah yang sudah dikontribusikan untuk negara dan bangsa
ini? Jika pada masa awal-awal kelahirannya PMII banyak melakukan peran-peran strategis
dalam turut serta menyelesaikan problem bangsa saat itu, maka bagaimana dengan sekarang?
Apakah PMII sekarang masih memiliki greget untuk tampil berkiprah di tengah-tengah
perubahan zaman yang begitu cepat dan pesat?
Jika berdirinya organisasi PMII kala itu karena hasrat kuat para mahasiswa NU untuk
menyelesaikan problem carut marutnya situasi politik bangsa Indonesia dalam kurun waktu
1950-1959, dan tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada saat
itu, maka kondisi tersebut tidak berbeda dengan sekarang. Justru persoalan bangsa saat ini lebih
kompleks dan memerlukan penyelesaian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk para
mahasiswanya. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini, apa
peran yang mesti dimainkan oleh PMII?
PROBLEM KEBANGSAAN
Problem yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini sangat kompleks, menyangkut berbagai aspek
kehidupan. Ada tiga problem besar yang mesti direspon, yaitu: korupsi, narkoba, dan terorisme.
Jika bangsa ini bisa terbebas dari tiga problem besar tersebut, maka cita-cita untuk mewujudkan
Indonesia adil, makmur dan damai bisa tercapai. Untuk mencapai cita-cita itu tentu
membutuhkan kepemimpinan yang visioner, bersih dan berwibawa. Dalam konteks ini, maka
persoalan regenerasi dan kaderisasi menjadi amat urgen untuk diperhatikan.
Kita sadar, bahwa para negarawan dan politisi negeri ini tidak lahir tanpa penempaan dan
pendidikan yang dilaluinya selama masih menjadi mahasiswa, terutama melalui organisasi ekstra
seperti HMI, PMII, GMNI, PMKRI dan seterusnya. Pada umumnya para politisi itu adalah para
aktivis dan kader-kader pilihan. Hal demikian juga berlaku bagi sistem dan pola rekrutmen
kepartaian di negeri ini. Para politisi Senayan dan para pejabat negara selama ini pada umumnya
adalah dari para aktivis saat masih berstatus mahasiswa. Dengan demikian, para aktivis memiliki
potensi besar untuk memperoleh akses di dunia politik dan pemerintahan.
Masalahnya sekarang, bagaimana pendidikan dan pengkaderan itu mampu mengantarkan mereka
ke kancah politik dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, bebas korupsi dan narkoba?
Sebab bagaimana pun, praktik-praktik yang dialami di kampus saat mereka menjadi aktivis
(BEM, MPM dan beberapa istilah jabatan fungsionaris lainnya di organisasi itu) akan terus
terbawa sampai mereka menjadi tokoh dalam masyarakat. Di sinilah maka pengkaderan dan
pembelajaran politik di kampus menjadi sangat menentukan perilaku politik mereka ke depan.
Kampus atau perguruan tinggi dengan demikian menjadi miniatur Indonesia. Jika dalam praktik
mengelola organisasi sejak dini sudah berani melanggar ketentuan AD/ART atau aturan main
lainnya, maka ini merupakan awal pengalaman yang buruk bagi seorang aktivis, dan akan
berbahaya pada masa-masa mendatang jika sudah terjun di masyarakat dan memegang jabatan
tertentu. Suatu contoh kecil adalah, ketika menangani kepanitiaan organisasi di kampus (baik
kegiatan intra maupun ekstra) mereka sudah berani melanggar aturan organisasi dan tidak
mampu mempertanggungjawabkan laporannya. Tentu kebiasaan ini akan terbawa ketika mereka
menjadi pemimpin dan pejabat publik. Maka, pendidikan karakter dan mental sejak menjadi
aktivis mahasiswa sangat diperlukan demi menghindari praktik-praktik korup seperti yang terjadi
di kalangan kebanyakan pejabat saat ini. Demikian juga kebiasaan menggunakan narkoba atau
zat adiktif lainnya yang merusak generasi bangsa.
PMII sebagai organisasi ekstra kampus yang lahir dari tradisi NU juga memiliki misi dan
tanggung jawab melestarikan pemahaman keislaman ahl al-sunnah wa al-jama’ah (Aswaja)
yang moderat dan toleran bagi terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun dan
damai, menolak segala macam pemahaman dan gerakan Islam yang melawan dan mengubah
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
PERLU ORENTASI GERAKAN
Orientasi gerakan mahasiswa sudah saatnya untuk berubah, dari paradigma lama menuju
paradigma baru yang transformatif, artinya bagaimana pengkaderan itu mampu mengubah
perilaku dan mengantarkan mereka dari berpikir sektarianisme menuju berpikir inklusivis dan
plural. Pengkaderan dengan demikian menjadi sangat penting untuk menyiapkan para pemimpin
bangsa ke depan. Ini tentu memerlukan review kurikulum pengkaderan yang ada selama ini.
Idealnya review ini dilakukan setiap periode kepengurusan seiring dengan situasi dan kondisi
yang terus berkembang. Karena PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang memiliki ciri khas
keislaman dan keindonesiaan, maka bagaimana arah keislaman dan keindonesiaan itu
diformulasikan.
Dari aspek keislaman misalnya, bahwa wajah keislaman PMII bukanlah berwajah transnasional,
tetapi bertumpu pada konsep nation-state, corak pemikiran keislamannya bukanlah skripturalis-
fundamentalis atau ekstrem. Dengan demikian, maka PMII mesti mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai sebuah bentuk negara yang final.
Doktrin tawasuth, tawazun dan tasamuh mesti menjadi paradigma berpikir dalam berorganisasi.
Dengan demikian, PMII tidak menjadi gerakan ekstrem, baik ekstrem kiri maupun ekstrem
kanan. Pola-pola berpikir seperti ini harus menjadi perhatian dari masa ke masa sebagai bentuk
dari melestarikan perjuangan the founding fathers negeri ini.
Selain itu, PMII juga mesti mencari rumusan baru tentang bagaimana wawasan Islam
keindonesiaan yang tetap mampu memelihara khazanah dan budaya bangsa, sebab tuntutan dan
tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan
dulu dan sekarang. Pandangan-pandangan para pendahulu kita, seperti K.H. Hasyim Asy’ari,
K.H. Ahmad Shidiq, dan Gus Dur tentang wawasan kebangsaan (nation state) dengan demikian
menjadi penting untuk diaktualisasikan kembali melalui kajian-kajian rutin di kampus, latihan
kader dasar, menengah dan lanjut.
Selain itu isu-isu fundamental seperti HAM, demokratisasi, keadilan dan pengentasan
kemiskinan juga harus menjadi bagian dari kajian intensif di kampus-kampus, partisipasi dalam
penanggulangan bencana, termasuk keikutsertaan dalam penanganan pandemi covid-19 yang
terjadi saat ini, misalnya turut memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang regulasi dan
kebijakan pemerintah dan MUI dalam penanggulangan bencana atau pandemi covid-19 tersebut.
Demikian juga turut serta membantu para pemangku kebijakan atau pemerintah setempat baik
yang berupa pendidikan maupun pelayanan-pelayanan lain yang bermanfaat untuk masyarakat.
Aktivitas-aktivitas yang sudah dilakukan selama di kampus seperti pramuka, Palang Merah
Indonesia (PMI), keterampilan bela diri, menjelajah hutan dan mendaki gunung (Mapala) serta
keterampilan bermasyarakat lainnya dapat disumbangkan dalam konteks kepedulian sosial
seperti sekarang ini.
Peran PMII akan terlihat penting dan bermakna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara jika
orientasi dan sensitivitas kepeduliannya di kedepankan. Ini sejalan dengan dua ciri utama yang
menjadi pilihan namanya, yaitu ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Dua ciri utama itu juga menjadi
arah tujuan yang harus dijadikan platform pergerakan. Pilihan nama sebagai “pergerakan” bukan
“himpunan” atau “ikatan” tentu juga memiliki reasoning tersendiri. Diharapkan dengan nama
tersebut, mahasiswa dapat berkiprah dan berperan aktif dalam menegakkan kebenaran di negeri
tercinta ini. Hal ini sejalan dengan cita-cita luhur the founding fathers itu sendiri yang tertuang
dalam mars PMII, yaitu “ilmu dan bakti kuberikan, adil dan makmur kuperjuangkan….”. Ini
artinya, bahwa sebagai mahasiswa tidak bisa lepas dari pergumulan akademik-keilmuan, dan
sebagai pergerakan ia harus dinamis untuk mengusung wacana keislaman khas Indonesia. Jika
ini bisa dilakukan maka sepuluh tahun ke depan kader-kader PMII dapat mewarnai percaturan
politik Indonesia yang membanggakan.

Anda mungkin juga menyukai