KASUS KORUPSI DI KEMENTRIAN PERTANIAN
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hari ini Jumat (13/10/2023) menampilkan tersangka atas
kasus dugaan korupsi di Kementerian Pertanian. Adalah Syahrul Yasin Limpo (SYL) Eks Menteri
Pertanian, Kasdi Subagyono, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan
Muhammad Hatta, Direktur Alat dan Mesin Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana
Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
SYL menjabat Menteri Pertanian RI untuk periode 2019 s/d 2024 di Kementerian Pertanian
Republik Indonesia.
Selanjutnya dalam periode kepemimpinan SYL selaku Menteri Pertanian, KS diangkat dan
dilantik selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian dan MH juga diangkat dan dilantik
selaku Direktur Alat dan Mesin pada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian
Kementerian Pertanian.
SYL kemudian membuat kebijakan personal yang diantaranya melakukan pungutan hingga
menerima setoran dari AS internal Kementan untuk memenuhi kebutuhan pribadi termasuk
keluarga intinya.
Kurun waktu kebijakan SYL untuk memungut hingga menerima setoran tersebut berlangsung
dari tahun 2020 s/d 2023. SYL menginstruksikan dengan menugaskan KS dan MH melakukan
penarikan sejumlah uang dari unit eselon I dan eselon II dalam bentuk penyerahan tunai,
transfer rekening bank hingga pemberian dalam bentuk barang maupun jasa.
Terdapat bentuk paksaan dari SYL terhadap para AS di Kementerian Pertanian diantaranya
dengan dimutasi ke unit kerja lain hingga difungsionalkan status jabatannya. KS dan MH selalu
aktif menyampaikan perintah SYL dimaksud dalam setiap forum pertemuan baik formal
maupun informal di lingkungan Kementerian Pertanian.
Terkait sumber uang yang digunakan diantaranya berasal dari realisasi anggaran Kementerian
Pertanian yang sudah di mark up termasuk permintaan uang pada para vendor yang
mendapatkan proyek di Kementerian Pertanian.
Atas arahan SYL, KS dan MH memerintahkan bawahannya untuk mengumpulkan sejumlah uang
di lingkup eselon I, para Direktur Jenderal, Kepala Badan hingga Sekretaris dimasing-masing
eselon I dengan besaran nilai yang telah ditentukan SYL dengan kisaran besaran mulai USD4000
s/d USD10.000.
Penerimaan uang melalui KS dan MH sebagai representasi sekaligus orang kepercayaan dari SYL
dilakukan rutin tiap bulannya dengan menggunakan pecahan mata uang asing.
Penggunaan uang oleh SYL yang juga diketahui KS dan MH antara lain untuk pembayaran cicilan
kart kredit, cicilan pembelian mobil Alphard milik SYL, perbaikan rumah pribadi, tiket pesawat
bâgi keluarga, hingga pengobatan dan perawatan wajah bagi keluarga yang nilainya miliaran
rupiah.
Penerimaan uang melalui KS dan MH sebagai representasi sekaligus orang kepercayaan dari SYL
dilakukan ruin tiap bulannya dengan menggunakan pecahan mata uang asing. Penggunaan
uang oleh SYL yang juga diketahui KS dan MH antara lain untuk pembayaran cicilan kart kredit,
cicilan pembelian mobil Alphard milik SYL, perbaikan rumah pribadi, tiket pesawat bâgi
keluarga, hingga pengobatan dan perawatan wajah bagi keluarga yang nilainya miliaran rupiah
Uang yang dinikmati SYL bersama-sama dengan KS dan MH sebagai bukti permulaan sejumlah
sekitar Rp13,9 Miliar dan penelusuran lebih mendalam mash terus dilakukan Tim Penyidik.
Terdapat penggunaan uang lain ole SYL bersama-sama dengan KS dan MH serta sejumlah
pejabat di Kementerian Pertanian untuk ibadah Umroh di Tanah Suci dengan nilai miliaran
rupiah.
Selain itu sejauh ini ditemukan juga aliran penggunaan uang sebagaimana perintah SYL yang
ditujukan untuk kepentingan partai Nasdem dengan nilai miliaran rupiah dan KPK akan terus
mendalami.
Penerimaan-penerimaan dalam bentuk gratifikasi yang diterima SYL bersama-sama KS dan MH
mash terus dilakukan penelusuran dan pendalaman ole Tim Penyidik.
Dari analisis dan kebutuhan proses penyidikan, Tim Penyidik menahan Tersangka SYL dan
Tersangka MH untuk masing-masing 20 hari pertama terhitung 13 Oktober 2023 s/d 1 November
2023 di Rutan KPK.
Para Tersangka disangkakan melanggar Pasal 12 huruf e dan 128 Undang Undana Republik
Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentano Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana
telah diubah dengan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, Sedangkan Tersangka
SYL turut pula disangkakan melanggar pasal 3 dan atau 4 Undang Undang Nomor 8 Tahun 2010
tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.