100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
32 tayangan21 halaman

Pemahaman TB Resistensi Obat di RSUD Jayapura

Diunggah oleh

Viona Nussy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
32 tayangan21 halaman

Pemahaman TB Resistensi Obat di RSUD Jayapura

Diunggah oleh

Viona Nussy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

TB – RO LTR
DI POLI VCT
RSUD JAYAPURA

Natanael Oscar Rumbino, [Link]


2024086026059

Preseptor Akademik Preseptor Klinik

Agnes A. Suyanto, [Link]., Ns., MPH


NIP NIP

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2024
BAB I
KONSEP PENYAKIT

A. Definisi

TB resistensi obat atau TB-RO merupakan Tuberkulosis yang disebabkan oleh M.


tuberkulosis yang telah resisten terhadap obat antI TB (OAT).

1.1 Kategori resistensi OAT

Kategori resistensi terhadap OAT dibagi dalam empat jenis yaitu:

1) Monoresisten : Presisten terhadap salah satu OAT, Misalnya resisten isoniazid


(H). atau Pasien mengalami resistensi terhadap OAT lini pertama.

2) Poli resisten : pasien resisten terhadap lebih dari satu jenis OAT lini pertama
kecuali kombinasi INH dan

Rifampisin.

3) Multi drug resistant (MDR) : resisten terhadap sekurang- kurangnya INH dan
Rifampisin.

4) Extensively drug resistant (XDR) : TB MDR disertai resisten terhadap salah satu
obat golongan fluoroquinolon dan sekurangkurangnya salah satu dari OAT injeksi lini
kedua (Kapreomisin, Kanamisin, dan Amikasin

Secara umum resistensi terhadap OAT dibagi menjadi resistensi primer dan resistensi
sekunder,

1) Resisten primer terjadi apabila pasien sebelumnya

tidak pernah mendapat pengobatan OAT atau telah mendapat pengobatan OAT kurang
dari satu bulan.

2) Resisten Sekunder Resisten sekunder atau initial terjadi apabila kita tidak tahu
pasti apakah pasien sudah ada riwayat pengobatan OAT sebelumnya atau belum pernah
resistensi

pasien terhadap pengobatan dan pemastian selesainya terapi. Cara lain untuk mencegah
TB resisten adalah menghindari paparan dengan pasien TB resisten obat di tempat-tempat
tertutup atau penuh sesak seperti TB resisten obat di tempat-tempat tertutup atau penuh
sesak seperti rumah sakit, penjara, atau tempat penampungan tunawisma. Orang-orang
yang bekerja di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan dimana pasien TB datang
hampir setiap hari maka sebaiknya berkonsultasi terkait pengendalian infeksi dan
kesehatan kerja
B. Etiologi

2.2.3 Penyebab TB resistensi obat


Resisten terhadap obat anti-TB dapat terjadi karena salah menggunakan atau
salah mengelola obat. Tindakan tersebut contohnya yaitu:
1) Pasien tidak menyelesaikan pengobatan sesuai saran
2) Petugas kesehatan memberikan pengobatan yang tidak tepat baik dalam
3) hal dosis ataupun lama terapi
4) Obat untuk terapi yang sesuai tidak tersedia
5) Rendahnya kualitas obat
TB resisten obat lebih sering terjadi pada pasien yang tidak menggunakan
obat secara teratur, tidak meminum semua obatnya, kembali mengidap
penyakit TB setelah terapi dan pulang dari negara dengan prevalensi TB
resisten obat yang tinggi.

C. Patofisiologi

Multi drug resistant tuberculosis (TB MDR) paling banyak


didahului oleh infeksi tuberkulosis yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis dan mengalami kekebalan obat
akibat dua faktor yaitu:
1. Faktor Mikroorganisme
Virulensi kuman menjadi lebih tinggi dengan daya tahan yang tinggi. Keadaan
yang menimbulkan tingginya faktor virulensi ini adalah sifat kuman yang dapat
menginfeksi
tubuh pejamu walaupun dalam jumlah yang kecil dan kemampuan
kuman
Mycobacterium tuberculosis yang dapat bermutasi sehingga dapat menahan
diri terhadap reaksi peradangan oleh makrofag pada tubuh pejamu. Kuman
Mycobacterium tuberculosis memiliki protein yang dapat menimbulkan apoptosis
makrofag yang seharusnya memfagosit kuman. Hal ini akan menimbulkan
kerusakan jaringan yang semakin luas. Kuman ini juga dapat mensintesis protein
dan menimbulkan perubahan struktur kuman sehingga kuman menjadi lebih
resisten terhadap pemberian antibiotik yang sebelumnya sudah digunakan.
2. Faktor Klinis
Mekanisme terjadinya TB MDR terjadinya akibat faktor
penyelenggara kesehatan, faktor obat dan faktor pasien. Faktor
penyelenggara kesehatan antara lain disebabkan oleh
keterlambatan diagnosis, petugas yang kurang terlatih,
pemantauan pengobatan yang tidak sesuai serta adanya fenomena
addition syndrome yaitu suatu obat yang ditambahkan pada satu
paduan yang telah gagal, jika kegagalan ini terjadi akibat
kuman yang telah resisten pada paduan yang pertama maka
penambahan obat ini akan meningkatkan resistensi. Faktor obat
antara lain paduan,dosis dan lama pengobatan yang tidak sesuai,
serta toksisitas dan efek samping yang mungkin terjadi.
Faktor pasien yang berperan dalam TB MDR ini adalah
ketidaktaatan pasien dalam mengkonsumsi obat, ketiadaan PMO
(Pengawas Minum Obat), kurangnya pengetahuan pasien terhadap
infeksi tuberkulosis dan adanya gangguan penyerapan obat. Pada
beberapa keadaan TB MDR sering terjadi pada pasien yang
terinfeksi HIV
D. Manifestasi Klinik

Gejala Respiratorik :

1. Batuk kering yang berangsur-angsur menjadi produktif lebih


dari 3 minggu, kadangkadang bercampur dengan dahak
2. Sesak napas dan nyeri dada
b. Gejala Sistemik :

1. Demam terutama dimalam hari


2. Berkeringat dingin malam hari tanpa aktivitas atau sebab yang jelas
3. Penurunan napsu makan
4. Penurunan berat badan

E. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada penderita stadium lanjut menurut
Depkes (2005):
a. Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
b. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial
c. Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau retraktif) pada paru.
d. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan: Kolaps
spontan karena kerusakan jaringan paru
e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian,ginjal dan
sebagainya.
[Link] Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). Penderita yang
mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap dirumah sakit. Penderita TBC paru
dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa
mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus sembuh.
Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT tidak diperlukan, tapi cukup
diberikan pengobatan simtomatis. Bila pendarahan berat, penderita harus dirujuk ke
unit spesialistik (Depkes, 2005).
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiologi : Gambaran thorax menunjukkan adanya lesi
berupa infiltrat, fibroinfiltrat/ fibrosis, konsolidasi/ kalsivikasi,
tuberkuloma, dan kavitas.
2. Bronchografi : Merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat
kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.
3. Laboratorium :
- Darah : leukositosis/ leukopenia, LED meningkat
- Sputum : BTA S/P/S, kultur sputum gram sensitivity,
sputum media LJ, DST, GeneXpert

- Test Tuberkulin : Mantoux test (indurasi lebih dari 10-15 mm)


Saat ini uji kepekaan [Link] secara tepat ( rapidtest) sudah
direkomendasikan oleh WHO untuk digunakan sebagai penampisan.
Metode yang tersedia adalah:
a. Line probe assey ( LPA )
-Pemeriksaan molekuler yang di dasarkan pada PCA
-Dikenal dengan Hain test/ Genotiype MDRTB plus
-Hasil pemeriksaan dapat di peroleh dalam waktu kurang lebih 24 jam
-Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dari [Link]
yang resisten terhadap rifampisi ( R ) ternyata juga resisten terhadap
isoniasis ( H ) sehingga tergolong MDR
b. Gene Xpert Hasil pemeriksaan dapat diketahui dalam waktu kurang lebih
1-2 jam

G. Penatalaksanaan
Pada dasarnya strategi pengobatan pasien TB MDR mengacu kepada
strategi DOTS. Dasar pengobatan terutama untuk keperluan membuat
regimen obat-obat anti TB, WHO guidelines membagi obat MDR-TB
menjadi 5 group berdasarkan potensi dan efikasinya, sebagai berikut (World
Health Organization, 2008) :
1. Grup pertama, pirazinamid dan ethambutol, karena paling efektif dan dapat
ditoleransi dengan baik. Obat lini pertama yang terbukti sebaiknya digunakan
dan digunakan dalam dosis maksimal.
2. Grup kedua, obat injeksi bersifat bakterisidal, kanamisin (amikasin), jika alergi
digunakan kapreomisin, viomisin. Semua pasien diberikan injeksi sampai jumlah
kuman dibuktikan rendah melalui hasil kultur negative
3 Grup ketiga, fluorokuinolon, obat bekterisidal tinggi, misal levofloksasin.
Semua pasien yang sensitif terhadap grup ini harus mendapat kuinolon dalam
regimennya
4. Grup empat, obat bakteriostatik lini kedua, PAS (paraaminocallicilic acid),
ethionamid, dan sikloserin. Golongan obat ini mempunyai toleransi tidak
sebaik obat- obat oral lini pertama dan kuinolon.
5. Grup kelima, obat yang belum jelas efikasinya, amoksisilin, asam
klavulanat, dan makrolid baru (klaritromisin). Secara in vitro menunjukkan
efikasinya, akan tetapi
data melalui uji klinis pada pasien MDR TB masih minimal.
Ada tiga cara pendekatan pembuatan regimen didasarkan atas riwayat obat TB yang
pernah dikonsumsi penderita, data drug resistance surveillance (DRS) di suatu area, dan
hasil DST dari penderita itu sendiri. Berdasarkan data di atas mana yang dipakai, maka
dikenal pengobatan dengan regimen standar, pengobatan dengan regimen standar yang
diikuti dengan regimen yang sesuai dari hasil DST individu penderita tersebut, dan
pengobatan secara empiris yang diikuti dengan regimen yang sesuai dari hasil DST
individu penderita tersebut.
Menurut WHO guidelines 2008 membuat pentahapan tersebut sebagai brikut (World
Health Organization, 2008):
Tahap 1 : gunakan obat dari lini pertama yang manapun yang masih menunjukkan efikasi
Tahap 2 : tambahan obat di atas dengan salah satu golongan obat injeksi berdasarkan hasil
uji sensitivitas dan riwayat pengobatan
Tahap 3 : tambahan obat-obat di atas dengan salah satu obat golongan fluorokuinolon
Tahap 4 : tambahkan obat-obat tersebut di atas dengan satu atau lebih dari obat golongan
4 sampai sekurang-kurangnya sudah tersedia 4 obat yang mungkin efektif
Tahap 5 : pertimbangkan menambahkan sekurang-kurangnya 2 obat dari golongan 5
(melalui proses konsultasi dengan pakar TB MDR) apabila dirasakn belum ada 4 obat
yang efektif dari golongan 1 sampai 4.
Selain itu, ada beberapa butir dalam pengobatan MDR TB yang dianjurkan oleh WHO
(2008) sebagai prinsip dasar, antara lain (World Health Organization, 2008) :
(1) Regimen harus didasarkan atas riwayat obat yang pernah diminum penderita.
(2) Dalam pemilihan obat pertimbangkan prevalensi resistensi obat lini pertama dan
obat lini kedua yang berada di area / negara tersebut.

(3) Regimen minimal terdiri 4 obat yang jelas diketahui efektifitasnya.


(4) Dosis obat diberikan berdasarkan berat badan.
(5) Obat diberikan sekurnag-kurangnya 6 hari dalam seminggu, apabila mungkin
etambutol,pirazinamid, dan fluoro kuinolon diberikan setiap hari oleh karena
konsentrasi dalam serum yang tinggi memberikan efikasi.

(6) Lama pengobatan minimal 18 bulan setelah terjadi konversi.


(7) Apabila terdapat DST, maka harus digunakan sebagai pedoman terapi. DST tidak
memprediksi efektivitas atau inefektivitas obat secara penuh.

(8) Pirazinamid dapat digunakan dalam keseluruhan pengobatan apabila


dipertimbangkan efektif. Sebagian besar penderita MDR TB memiliki keradangan
kronik di parunya, dimana secara teoritis menghasilkan suasana asam dan
pirazinamid bekerja aktif.
Deteksi awal adalah faktor penting untuk mencapai keberhasilan Pengobatan mendapat Obat anti
tuberkulosis lini kedua minimal 4 jenis OAT yang masih sensitif, dimana salah satunya adalah
obat injeksi. Pada tahap lanjutan semua OAT lini kedua yang dipakai pada tahap [Link]
MDR TB terdiri atas dua tahap, tahap awal dan tahap lanjutan. Pengobatan MDR TB memerlukan
waktu lebih lama daripada pengobatan TB bukan MDR, yaitu sekitar 18-24 bulan..

1. Semua pasien yang sudah terbukti sebagai TB MDR dipastikan dapat mengakses
pengobatan TB MDR yang baku dan bermutu.

2. Paduan OAT untuk pasien TB MDR adalah paduan standar yang mengandung OAT
lini kedua.
Paduan OAT tersebut dapat disesuaikan bila terjadi perubahan hasil uji kepekaan M. tuberculosis
dengan paduan baru yang ditetapkan oleh TAK. Bila diagnosis TB MDR telah
ditegakkan, sebelum pengobatan dimulai, akan dlakukan persiapan awal, termasuk pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk mengetahui data awal berbagai fungsi organ
(ginjal, hati, jantung) dan elekrolit. Jenis pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah sama
dengan jenis pemeriksaan untuk pemantauan efek samping obat.
Persiapan sebelum pengobatan dimulai adalah:

1. Pemeriksaan fisik:
a. Anamnesa ulang untuk memastikan kemungkinan adanya riwayat dan
kecenderungan alergi obat tertentu, riwayat penyakit terdahulu seperti sakit
kuning (hepatitis), diabetes mellitus, gangguan ginjal, gangguan kejiwaan,
kejang, kesemutan sebagai gejala kelainan saraf tepi (neuropati perifer). dll..

b. Pemeriksaan fisik diagnostik termasuk berat badan, fungsi penglihatan,


pendengaran, tanda-tanda kehamilan. Bila perlu dibandingkan dengan
pemeriksaan sebelumnya
saat pasien berstatus sebagai suspek TB MDR.

2. Pemeriksaan kejiwaan. Pastikan kondisi kejiwaan pasien sebelum pengobatan TB


MDR dimulai, hal ini berguna untuk menetapkan strategi konseling yang harus
dilaksanakan sebelum, selama dan setelah pengobatan pasien selesai.

3. Pemeriksaan penunjang :
a. Pemeriksaan dahak mikroskopis, biakan dan uji kepekaan [Link].
b. Pemeriksaan darah tepi lengkap, termasuk kadar hemoglobin (Hb), jumlah
lekosit.

c. Pemeriksaan kimia darah:


- Faal ginjal: ureum, kreatinin

- Faal hati: SGOT, SGPT.

- Serum kalium

- Asam Urat

- Gula Darah

d. Pemeriksaan hormon bila diperlukan: Tiroid stimulating hormon (TSH)


e. Tes kehamilan.
f. Foto dada/ toraks.
g. Tes pendengaran ( pemeriksanaan audiometri)
h. Pemeriksaan EKG i. Tes HIV (bila status HIV belum diketahui)
A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan pada Pasien TB MDR
1. Pengkajian
Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan TB paru
(Irman Somantri, 2009)
1) Pengkajian
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur,
agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin,
status perkawinan, dan penanggung biaya.
2) Keluhan Utama
a. Keluhan respiratoris:
• Batuk, nonproduktif/ produktif atau sputum bercampur darah
• Batuk darah, seberapa banyak darah yang keluar atau hanya
berupa blood streak, berupa garis, atau bercak-bercak darah
• Sesak napas
• Nyeri dada
b. Keluhan sistematis:
• Demam, timbul pada sore atau malam hari mirip demam influenza,
hilang timbul, dan semakin lama semakin panjang serangannya,
sedangkan masa bebas serangan semakin pendek
• Keluhan sistemis lain: keringat malam, anoreksia, penurunan
berat badan dan malaise.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian ringkas dengan PQRST dapat lebih memudahkan
perawat dalamvmelengkapi pengkajian.
a. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
penyebab sesak napas, apakah sesak napas berkurang apabila
beristirahat?
b. Quality of Pain: seperti apa rasa sesak napas yang dirasakan atau
digambarkan klien, apakah rasa sesaknya seperti tercekik atau susah
dalam melakukan inspirasi atau kesulitan dalam mencari posisi yang
enak dalam melakukan pernapasan?
c. Region: di mana rasa berat dalam melakukan pernapasan?
d. Severity of Pain: seberapa jauh rasa sesak yang dirasakan klien?
e. Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan, bertambah
buruk pada malam hari atau siang hari, apakah gejala timbul
mendadak, perlahan-lahan atau seketika itu juga, apakah timbul
gejala secara terus-menerus atau hilang timbul (intermitten), apa
yang sedang dilakukan klien saat gejala timbul, lama timbulnya
(durasi), kapan gejala tersebut pertama kali timbul (onset).
4) Riwayat penyakit Dahulu
a. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh
b. Pernah berobat tetapi tidak sembuh
c. Pernah berobat tetapi tidak teratur
d. Riwayat kontak dengan penderita TB paru
e. Daya tahan tubuh yang menurun
f. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur
g. Riwayat putus OAT.
5) Riwayat penyakit Keluarga
Secara patologi TB paru tidak diturunkan, tetapi perawat perlu
menanyakan apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga
lainnya sebagai faktor predisposisi di dalam rumah oleh anggota
keluarga lainnya sebagai faktor predisposisi di dalam rumah
a. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
penyebab sesak napas, apakah sesak napas berkurang apabila
beristirahat?
b. Quality of Pain: seperti apa rasa sesak napas yang dirasakan atau
digambarkan klien, apakah rasa sesaknya seperti tercekik atau susah
dalam melakukan inspirasi atau kesulitan dalam mencari posisi yang
enak dalam melakukan pernapasan?
c. Region: di mana rasa berat dalam melakukan pernapasan?
d. Severity of Pain: seberapa jauh rasa sesak yang dirasakan klien?
e. Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan, bertambah
buruk pada malam hari atau siang hari, apakah gejala timbul
mendadak, perlahan-lahan atau seketika itu juga, apakah timbul
gejala secara terus-menerus atau hilang timbul (intermitten), apa
yang sedang dilakukan klien saat gejala timbul, lama timbulnya
(durasi), kapan gejala tersebut pertama kali timbul (onset).
6) Riwayat penyakit Dahulu
a. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh
b. Pernah berobat tetapi tidak sembuh
c. Pernah berobat tetapi tidak teratur
d. Riwayat kontak dengan penderita TB paru
e. Daya tahan tubuh yang menurun
f. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur
g. Riwayat putus OAT.
7) Riwayat penyakit Keluarga
Secara patologi TB paru tidak diturunkan, tetapi perawat perlu
menanyakan apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga
lainnya sebagai faktor predisposisi di dalam rumah oleh anggota
keluarga lainnya sebagai faktor predisposisi di dalam rumah
8) Riwayat Pengobatan Sebelumnya
a. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya
b. Jenis, warna, dan dosis obat yang diminum.
c. Berapa lama pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan
penyakitnya
d. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir
9) Riwayat Sosial Ekonomi
a. Riwayat pekerjaan. Jenis pekerjaan, waktu, dan tempat bekerja,
jumlah penghasilan.
b. Aspek psikososial. Merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikasi
dengan bebas, menarik diri, biasanya pada keluarga yang kurang
mampu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk
sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang
banyak, masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak
bersemangat dan putus harapan.
10) Faktor Pendukung:
a. Riwayat lingkungan.
b. Pola hidup: nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat
dan tidur kebersihan diri.
c. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan
keluarga tentang penyakit, pencegahan,

d. pengobatan dan perawatannya.

11) Pemeriksaan Fisik


a. Keadaan Umum dan Tanda Vital

Keadaan umum pada klien dengan TB paru dapat dilakukan secara


selintas pandang dengan menilai keadaaan fisik tiap bagian tubuh.
Selain itu, perlu di nilai secara umum tentang kesadaran klien yang
terdiri atas compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, atau
koma.

TTV :

Suhu : Terjadi peningkatan suhu tubuh

Nadi : Denyut nadi meningkat seirama dengan frekuensi napas dan


suhu tubuh RR : Frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak
napas
TD : Tekanan darah biasanya sesuai dengan
[Link] Pengobatan Sebelumnya
a. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya
b. Jenis, warna, dan dosis obat yang diminum.
c. Berapa lama pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan
penyakitnya
d. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir
[Link] Sosial Ekonomi
a. Riwayat pekerjaan. Jenis pekerjaan, waktu, dan tempat bekerja,
jumlah penghasilan.
b. Aspek psikososial. Merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikasi
dengan bebas, menarik diri, biasanya pada keluarga yang kurang
mampu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk
sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang
banyak, masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak
bersemangat dan putus harapan.
[Link] Pendukung:
a. Riwayat lingkungan.
b. Pola hidup: nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat
dan tidur kebersihan diri.
c. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan
keluarga tentang penyakit, pencegahan,

d. pengobatan dan perawatannya.

[Link] Fisik

a. Keadaan Umum dan Tanda Vital

Keadaan umum pada klien dengan TB paru dapat dilakukan secara


selintas pandang dengan menilai keadaaan fisik tiap bagian tubuh.
Selain itu, perlu di nilai secara umum tentang kesadaran klien yang
terdiri atas compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, atau
koma.

TTV :

Suhu : Terjadi peningkatan suhu tubuh

Nadi : Denyut nadi meningkat seirama dengan frekuensi napas dan


suhu tubuh RR : Frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak
napas

TD : Tekanan darah biasanya sesuai dengan adanya penyulit seperti


hipertensi.
[Link] Pengobatan Sebelumnya
a. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya
b. Jenis, warna, dan dosis obat yang diminum.
c. Berapa lama pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan
penyakitnya
d. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir
[Link] Sosial Ekonomi
a. Riwayat pekerjaan. Jenis pekerjaan, waktu, dan tempat bekerja,
jumlah penghasilan.
b. Aspek psikososial. Merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikasi
dengan bebas, menarik diri, biasanya pada keluarga yang kurang
mampu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk
sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang
banyak, masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak
bersemangat dan putus harapan.
[Link] Pendukung:
a. Riwayat lingkungan.
b. Pola hidup: nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat
dan tidur kebersihan diri.
c. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan
keluarga tentang penyakit, pencegahan,

d. pengobatan dan perawatannya.

[Link] Fisik

a. Keadaan Umum dan Tanda Vital

Keadaan umum pada klien dengan TB paru dapat dilakukan secara


selintas pandang dengan menilai keadaaan fisik tiap bagian tubuh.
Selain itu, perlu di nilai secara umum tentang kesadaran klien yang
terdiri atas compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, atau
koma.

TTV :

Suhu : Terjadi peningkatan suhu tubuh

Nadi : Denyut nadi meningkat seirama dengan frekuensi napas dan


suhu tubuh RR : Frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak
napas

TD : Tekanan darah biasanya sesuai dengan adanya penyulit seperti


hipertensi.
b. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan
keluarga tentang penyakit, pencegahan,

c. pengobatan dan perawatannya.

[Link] Fisik

a. Keadaan Umum dan Tanda Vital

Keadaan umum pada klien dengan TB paru dapat dilakukan secara


selintas pandang dengan menilai keadaaan fisik tiap bagian tubuh.
Selain itu, perlu di nilai secara umum tentang kesadaran klien yang
terdiri atas compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, atau
koma.

TTV :

Suhu : Terjadi peningkatan suhu tubuh

Nadi : Denyut nadi meningkat seirama dengan frekuensi napas dan


suhu tubuh RR : Frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak
napas

TD : Tekanan darah biasanya sesuai dengan adanya penyulit seperti


hipertensi.

a) Kepala

Inspeksi : Biasanya wajah tampak pucat, wajah tampak meringis,


konjungtiva

anemis, skelra tidak ikterik, hidung tidak sianosis, mukosa bibir


kering, biasanya adanya pergeseran trakea.

b) Thorak

Inpeksi : Kadang terlihat retraksi interkosta dan tarikan dinding


dada, biasanya pasien kesulitan saat inspirasi

Palpasi : Fremitus paru yang terinfeksi biasanya


lemah Perkusi : Biasanya saat diperkusi terdapat
suara pekak
Auskultasi : Biasanya terdapat bronki

c) Abdomen

Inspeksi : biasanya tampak simetris

Palpasi : biasanya tidak ada pembesaran


hepar Perkusi : biasanya terdapat suara
tympani

Auskultasi : biasanya bising usus pasien tidak terdengar

d) Ekremitas atas

Biasanya CRT>3 detik, akral teraba dingin, tampak pucat, tidak ada edema

e) Ekremitas bawah

Biasanya CRT>3 detik, akral teraba dingin, tampak pucat, tidak ada edema

[Link] Diagnostik

a. Kultur sputum: Mikobakterium TB positif pada tahap akhir penyakit.

b. Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm


terjadi 48- 72 jam).

c. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas; pada tahap dini
tampak

gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas; pada


kavitas bayangan, berupa cincin; pada klasifikasi tampak bayangan
bercak-bercak padat

dengan densitas tinggi.

d. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atatu kerusakan


paru karena TB paru.

e. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED).

f. Spirometri: penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun.


[Link] Kebiasaan Sehari-hari

a. Pola aktivitas dan istirahat

Subyektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. Sesak


(nafas pendek), sulit

tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari.

Obyektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak


(tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam
subfebris (40-41°C)

hilang timbul.

b. Pola Nutrisi

Subyektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat


badan. Obyektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/berisik, kehilangan
lemak sub kutan.

c. Respirasi

Subyektif : Batuk produktif/non produktif sesak nafas, sakit dada

Obyektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum


hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan
kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar didaerah apeks
paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim

paru dan pleural), sesak nafas, pengembangan pernafasan tidak


simetris (effusi pleura), perkusi pekak dan penurunan fremitus
(cairan pleural), deviasi trakeal

(penyebaran bronkogenik).

d. Rasa nyaman/nyeri

Subyektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang

Obyektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah,


nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga
timbul pleuritis.
e. Integritas Ego

Subyektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak


berdaya/tak ada harapan.

Obyektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah


tersinggung

f. Diagnosa Keperawatan

1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi


jalan nafas di buktikan dengan terjadinya sputum berlebih

2) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas di


buktikan dengan terjadinya penggunaan otot bantu pernafasan.

3) Ansietas berhubungan dengan kebutuhan tidak terpenuhi di buktikan


dengan ancaman terhadap kematian

4) Ketidakpatuhan berhubungan dengan efek smping program


pengobatan atau perawatan di buktikan dengan perilaku tidak
mengikuti program perawatan atau pengobatan

g. Rencana keperawatan
STANDA STANDAR STANDA
R LUARAN R
DIAGNOS KEPERAUATA INTERVEN
A N SI
KEPERAUATA INDONESIA KEPERAUATA
N (SLKI) N
INDONESIA INDONESIA
Bersihan jalan nafas Outcome setelah di berikan (SIKI) Intervensi
(SDKI)
: Manajemen
tidak tindakan 1x24 jam di jalan
efektif nafas
harapkan bersihan jalan Aktivitas
:
nafas Monitoring pola nafas
meningkat .
Kriteria Monitor bunyi
hasil : nafas
• Batuk
tambahan
efektif meningkat
Monitor sputum
(5)

Posisiskan semi fowler


Produksi

sputum menurun
(5) atau fowler
• Wheezing • Berikan oksigen

menurun (5) • Ajarkan batuk efektif

• Dipsnea membaik • Kolabirasi pemberian


(5)
bronkobilator,
• Frekuensi exspetoran, mukolitik

nafas membaik (5) Intervensi :


pemantauan
Pola nafas tidak efektifOutcome setelah di respirasi
berikan
• Monitor frekuensi,
tindakan 1x24 jam di
harapkan pola nafas irama,
membaik. kedalaman, dan
upaya jalan
Kriteria hasil : nafas

• Ventilasi semenit • Monitor pola


menurun (1)
napas (

Diameter seperti
thoraks bradipnea,

meningkat takipnea,
anterior posterior hiperventilasi,
(5) kussmaul,
cheyne- stokes,
• Tekanan
ekspirasi dan biot, ataaksik)

inspirasi menurun • Monitor saturasi


(1)

• Kedalaman nafas
membaik (5)
oksigen

• Dokumentasik
an hasil
pemantauan

• Jelaskan tujuan
dan

prosedur
pemantauan.

Ansietas Outcome setelah di


berikan Inervensi : Reduksi

tindakan 1x24 jam di ansietas


harapkan tingkat
• Indentifikasi saat
ansietas menurun.
tingkat ansietas
Kriteria hasil: berubah

• Perilaku gelisah • Monitor tanda-


menurun (5) tanda ansietas

• Frekuensi • Temani
pernafasan menurun pasien untu
(5) mengurangi
kecemasan
• Frekuensi nadi (5)
• Pahami situasi
• Tekanan darah yang membuat
menurun (5) ansietas

• Motivasi
mengidentifikasi
yang memicu
kecemasan

• Anjurkan keluarga
untuk tetap bersama
pasien

ketidakpatuhan Outcome setelah di berikan Intervensi


dukungan
tindakan 1x24 jam di
harapkan tingkat kepatuhan
kepatuhan meningkat.
program pengobatan
Kriteria hasil :
Aktivitas :
• Verbalisasi
kemampuan • Identifikasi
mematuhi kepatuhan
programm menjalani program
pengobatan
perawatan atau
• Buat
pengobatan
komitmen
meningkat (5)
menjalani program
• Verbalisasi pengobatan
dengan baik
mengikuti anjuran
Diskusikan hal-hal
meningkat (5)

yang
• Risiko
dapat
komplikasi
mendukung
penyakit/masalah
atau
kesehatan menurun
menghambat
(5)
berjalannya
• Perilaku
program
mengikuti program pengobatan

perawatan/ • Informasikan
pengobatan program
membaik (5) pengobtan yang
harus di jalani
• Perilaku
• Informasikan
menjalankan manfaat yang akan
anjuran membaik di peroleh jika
(5) teratur menjalani

program pengobatan
Anjurkan pasien dan

keluarga
melakukan
konsulta k
si e
pelayanan
kesehatan
terdek
at
DAFTAR PUSTAKA

Adriansyah, M. (2012). Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Yogyakarta: Diva Press. Depkes.
(2005). Pedoman Nasional Penanggulangan Tubercolosis. Jakarta: Departemen

Kesehatan RI.

PPNI, T. P. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: DPP PPNI.
PPNI, T. P. (2018). Standar Interνensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: DPP PPNI.
PPNI, T. P. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan : DPP PPNI.
Smeltzer SC, B. B. (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

WHO. (2014). Global Tubercolosis Report. World Health Organization.

Anda mungkin juga menyukai