BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah komoditas tanaman
perkebunan yang memiliki peranan penting pada perekonomian Indonesia.
Perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia mengalami peningkatan yang
pesat, terutama peningkatan luas areal perkebunan serta produksi kelapa sawit.
Perkembangan luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia semakin tinggi dalam
kurun waktu 5 tahun. Pada tahun 2019 luas lahan perkebunan kelapa sawit yaitu
14.456.611 ha dengan produksi 47.120.247 ton Crude Palm Oil (CPO) dan pada
tahun 2020 luas lahan perkebunan kelapa sawit menjadi 14.858.300 ha dengan
produksi 48.297.070 ton CPO (Ditjenbun 2021).
Di Sumatera Barat luas perkebunan kelapa sawit yaitu sekitar 390.380 ha
dengan produktivitas 1.152.187 ton. Sumatera Barat termasuk 10 daerah terluas
dalam penanaman kelapa sawit di Indonesia yang tersebar pada 6 Kabupaten yaitu
Kabupaten Pasaman Barat, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Solok Selatan, Agam
dan Sijunjung. Dharmasraya adalah salah satu kabupaten yang memiliki potensi
dalam pengembangan tanaman kelapa sawit di Sumatera Barat. Hal ini didukung
oleh letak geografis, keadaan iklim serta areal yang luas dan subur. Dharmasraya
merupakan kabupaten dengan luas perkebunan kelapa sawit terbesar kedua setelah
Kabupaten Pasaman Barat di Provinsi Sumatera Barat. Luas perkebunan kelapa
sawit di Kabupaten Dharmasraya pada tahun 2020 adalah 32.595,00 ha dengan
produksi 104.987,00 ton (Badan Pusat Statistik, 2020).
Seiring dengan pesatnya perkembangan perkebunan kelapa sawit maka
kebutuhan akan bibit kelapa sawit juga meningkat. Bibit merupakan bagian yang
penting untuk menentukan keberhasilan perkebunan kelapa sawit. Bibit yang
berkualitas menjadi modal dasar untuk mencapai produksi yang tinggi.
Pembibitan kelapa sawit sering dikenal dengan istilah double stage atau sistem
dua tahap pada pembibitan. Sistem tahap tersebut merupakan pembibitan awal
(pre nursery) dan pembibitan utama (main nursery). Pemeliharaan pada
pembibitan kelapa sawit dilakukan selama 9-12 bulan, yang mana pada fase pre
nursery berlangsung sampai bibit berumur 3 bulan, lalu bibit akan dipindahkan ke
fase main nursery yang berlangsung selama 6-9 bulan (Sunarko, 2009).
Pembibitan merupakan masa yang sangat rawan pada pertumbuhan kelapa
sawit. Hal ini disebabkan oleh sensitivitas morfologi bibit yang sangat responsif maka
dibutuhkan teknik penanganan yang tepat. Pertumbuhan vegetatif yang tepat
diperoleh melalui faktor pemeliharaan yang terdiri dari penyiraman, pemupukan,
serta pengendalian hama, penyakit, dan gulma. Dari aktivitas pemeliharaan di atas,
pengendalian hama dan penyakit memegang peranan sangat penting selama
pertumbuhan bibit agar memperoleh bibit yang homogen atau seragam sehingga
mampu melewati proses seleksi juga memperkecil biaya produksi.
Hama yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman sangat bervariasi
tergantung pada jenis dan populasi hama di lapangan. Kerugian lain yang dapat
diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit adalah biaya produksi yang harus
dikeluarkan semakin bertambah untuk memulihkan kondisi tanaman. Serangan yang
berat dapat terjadi karena kegagalan dalam melakukan deteksi pada saat serangan
awal (Pahan, 2008). Jenis hama yang sering dilaporkan menyerang tanaman kelapa
sawit diantaranya adalah ulat api (Setora nitens Walker, Darna trima Moore, Thosea
asigna van Eecke dan Thosea bisura) (Febriani et al., 2020), ulat kantung (Metisa
plana Walker dan Mahasena corbeti Tams) (Riady et al., 2020), tikus (Rattus sp.),
kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros L.) (Efendi, 2020), belalang (Valanga
nigricornis Burm.) dan semut (Setyamidjaja, 2006), sedangkan hama yang banyak
menyerang pada masa pembibitan diantaranya tungau, kumbang malam (Apogonia
expeditionis Ritsema dan Adoretus compressus Webb), kutu Aphids/ mealybug,
jangkrik dan belalang (Sunarko, 2008).
Pada pembibitan kelapa sawit diketahui hama yang menyerang bibit kelapa
sawit adalah kumbang malam. Petani memberi sebutan kumbang malam berhubungan
dengan perilaku dan aktivitas hama tersebut. Hama tersebut menyerang bibit kelapa
sawit pada malam hari dan sering mendatangi lampu penerang yang dipasang pada
pinggir pembibitan. Perilaku yang aktif pada malam hari menyulitkan petani untuk
melakukan pengendalian. Sampai saat ini para petani kelapa sawit masih
mengandalkan pengendalian secara kimiawi untuk mengendalikan kumbang malam.
Akan tetapi teknik pengendalian ini memerlukan biaya yang tinggi.
Informasi mengenai tingkat kerusakan yang disebabkan oleh hama pada masa
pembibitan masih sangat sedikit dilaporkan. Sehingga diperlukannya pengembangan
teknik pengendalian hama yang lebih efisien. Berdasarkan uraian di atas, dibutuhkan
informasi yang jelas tentang populasi dan persentase tanaman terserang hama
kumbang malam pada pembibitan kelapa sawit fase main nursery, sehingga dapat
disusun metode pengendalian yang tepat. Untuk itu penulis melakukan penelitian
dengan judul “Populasi Kumbang Malam (Coleoptera: Scarabaeidae) dan Persentase
Tanaman Terserang pada Pembibitan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Fase
Main Nursery“.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana populasi serta persentase tanaman terserang yang disebabkan oleh
kumbang malam pada pembibitan kelapa sawit (Elaeis guinesnsis Jacq.) fase main
nursery?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis, populasi dan
persentase tanaman terserang yang disebabkan oleh kumbang malam pada pembibitan
kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) fase main nursery.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan informasi berupa data tentang populasi dan
persentase tanaman terserang yang disebabkan oleh kumbang malam pada pembibitan
kelapa sawit fase main nursery. Penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan
sebagai acuan dalam memilih cara pengendalian hama kumbang malam pada
pembibitan kelapa sawit.