0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
97 tayangan14 halaman

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

Diunggah oleh

nabila.23193
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
97 tayangan14 halaman

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

Diunggah oleh

nabila.23193
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KELOMPOK

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING


Dosen Pengampu :
[Link], [Link].
Dr. Ali Shodikin, [Link].,[Link].

Disusun Oleh : Kelompok 4 (PM 2023B)


1. MUHAMMAD WILDAN IZZULHAQ (23030174006)
2. CHAESONIA ELMA NIVEDITA (23030174084)
3. NABILA ISMI HUMAIROH (23030174193)
4. RIA WATINI (23030174246)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2024
BAB I

PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning


PBL singkatan dari Problem-Based Learning atau dalam bahasa Indonesia sering
diterjemahkan sebagai Pembelajaran Berbasis Masalah. Pembelajaran Berbasis Masalah
(PBL) adalah suatu pendekatan pedagogis yang inovatif, di mana siswa diajak untuk
memecahkan masalah autentik yang relevan dengan kehidupan nyata. Melalui proses ini,
siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan konseptual, tetapi juga mengembangkan
keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi yang sangat dibutuhkan
di dunia saat ini. Arends (2007) menekankan bahwa PBL berfungsi sebagai pendorong
bagi siswa untuk melakukan investigasi mendalam. Dengan memberikan tantangan yang
bermakna, PBL mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran,
sehingga mereka menjadi pembelajar yang mandiri dan bertanggung jawab.
Boud dan Feletti (1997), serta Margetson (1994) sepakat bahwa PBL merupakan
inovasi yang signifikan dalam pendidikan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan
kemampuan kognitif siswa, tetapi juga memupuk pola pikir yang terbuka, reflektif, dan
kritis. Cotton C. (2011) menambahkan bahwa PBL dapat menjadi solusi bagi guru yang
ingin mengatasi pasivitas siswa. Pasivitas siswa adalah suatu kondisi di mana siswa
cenderung kurang aktif dalam proses pembelajaran. Mereka lebih sering menerima
informasi secara pasif daripada terlibat aktif dalam kegiatan belajar. Intinya, PBL
menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran atau sebagai pemecah masalah utama.
Dengan bekerja dalam kelompok, siswa saling berbagi ide, berdiskusi, dan mengambil
keputusan bersama. Hal ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar siswa, tetapi juga
mendorong mereka untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri.
PBL mengimplementasikan agar memfokuskan pada proses pembelajaran yang
berpusat pada siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam
menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. Dengan demikian, PBL menawarkan
alternatif yang menarik bagi guru yang ingin menciptakan lingkungan belajar yang lebih
aktif dan bermakna. Dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan
suatu pendekatan pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan kompetensi siswa
secara holistik (suatu pendekatan atau konsep yang menekankan bahwa segala sesuatu
harus dipahami sebagai suatu keseluruhan, sebagai sistem yang lebih besar daripada hanya

1
sekadar jumlah dari bagian-bagiannya). Dengan memberikan kesempatan bagi siswa untuk
terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, PBL dapat meningkatkan motivasi belajar,
kreativitas, dan kemampuan adaptasi siswa terhadap perubahan.
1.2 Tujuan Model Pembelajaran Problem Based Learning
Secara umum, PBL bertujuan untuk:
1. Mengembangkan Keterampilan Kognitif Tinggi
PBL mendorong siswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, analitis, dan
evaluatif. Siswa dilatih untuk merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data,
menganalisis informasi, dan menarik kesimpulan secara mandiri. Sebagai contoh siswa
diminta untuk membuat model matematika untuk memprediksi pertumbuhan populasi
suatu kota.
2. Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah
Inti dari PBL adalah pemecahan masalah. Melalui PBL, siswa dilatih untuk
menghadapi masalah autentik, merancang solusi, dan mengimplementasikannya.
Masalah yang disajikan dalam PBL seringkali relevan dengan kehidupan sehari-hari,
sehingga siswa termotivasi untuk mencari solusi.
3. Memfasilitasi Pembelajaran Mandiri
PBL mendorong siswa untuk menjadi pembelajar aktif. Siswa bertanggung
jawab atas pembelajaran mereka sendiri, mencari informasi yang relevan, dan bekerja
sama dengan teman sejawat untuk menemukan solusi atau bahkan siswa
mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka dan menerima umpan balik dari teman
sekelas.
4. Mengembangkan Keterampilan Sosial dan Emosional
PBL menuntut siswa untuk berkolaborasi dalam kelompok. Menumbuhkan
kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi diri, membangun hubungan yang
positif, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab. Melalui interaksi sosial,
siswa belajar berkomunikasi secara efektif, menghargai perbedaan pendapat, dan
bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
5. Membuat Pembelajaran Bermakna
PBL memiliki potensi besar untuk menciptakan pengalaman belajar yang
bermakna bagi siswa. Ketika siswa terlibat dalam pemecahan masalah nyata, mereka
tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga menghubungkannya dengan
pengalaman hidup mereka sesuai situasi dunia nyata. Dengan demikian, siswa lebih

2
mudah memahami konsep-konsep abstrak dan melihat relevansi materi pelajaran
dalam kehidupan sehari-hari.
Dari beberapa tujuan PBL yang disebutkan dapat digeneralisasi menjadi tujuan yang
lebih luas, yaitu membentuk pembelajaran seumur hidup dengan maksud PBL tidak hanya
berfokus pada penguasaan materi pelajaran saat ini, tetapi juga membekali siswa dengan
keterampilan yang diperlukan untuk terus belajar sepanjang hayat. Kemudian menyiapkan
siswa untuk dunia kerja dimana keterampilan yang dikembangkan melalui PBL, seperti
kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah, sangat relevan dengan tuntutan dunia
kerja saat ini. PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang sangat komprehensif. Selain
meningkatkan prestasi akademik, PBL juga berkontribusi pada pengembangan pribadi dan
sosial siswa. Dengan demikian, PBL dapat dianggap sebagai investasi jangka panjang
dalam pengembangan sumber daya manusia.

1.3 Karakteristik Model Pembelajaran Problem Based Learning

Pembelajaran berbasis masalah merupakan proses pembelajaran yang menyajikan


suatu permasalahan dengan peserta didik dihadapkan pada suatu masalah yang dapat
menantang peserta didik untuk belajar dan bekerja keras secara kelompok dalam
memecahkan suatu permasalahan sehingga terjadi proses interaksi antara stimulus dan
respon (Widiasworo, 2018:149-150). Problem Based Learning bertujuan membantu
peserta didik mampu dalam menghadapi situasi kehidupan nyata dan mempelajari
bagaimana orang dewasa berperan (Arends, 2012:398).

Kurniawan dan Wuryandani (2017:12) menyatakan bahwa model pembelajaran


berbasis masalah merupakan “salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan pada
paradigma constructivism yang sangat mengedepankan peserta didik dalam belajar dan
berorientasi pada proses kegiatan pembelajaran”. Problem-based learning merupakan
proses pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan masalah dunia nyata sebagai
konteks berpikir agar peserta didik memiliki keterampilan dan dapat berpikir kritis dalam
memecahkan suatu permasalahan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan konsep yang
berhubungan dengan materi pelajaran yang dibahas (Lidinillah, 2018). Berdasarkan uraian
di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah merupakan model
pembelajaran dengan proses pembelajarannya peserta didik dihadapkan pada suatu
permasalahan dunia nyata dan dilakukan saat pembelajaran dimulai sebagai stimulus

3
sehingga dapat memicu peserta didik untuk belajar dan bekerja keras dalam memecahkan
suatu permasalahan.

Menurut Arends (2012:398-399) menjelaskan bahwa karakteristik dari model


pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:

a. Masalah yang diajukan berupa permasalahan pada kehidupan dunia nyata sehingga
peserta didik dapat membuat pertanyaan terkait masalah dan menemukan berbagai
solusi dalam menyelesaikan permasalahan.
b. Pembelajaran memiliki keterkaitan antar disiplin sehingga peserta didik dapat
menyelesaikan permasalahan dari berbagai sudut pandang mata pelajaran.
c. Pembelajaran yang dilakukan peserta didik bersifat penyelidikan autentik dan sesuai
dengan metode ilmiah.
d. Produk yang dihasilkan dapat berupa karya nyata atau peragaan dari masalah yang
dipecahkan untuk dipublikasikan oleh peserta didik.
e. Peserta didik bekerjasama dan saling memberi motivasi terkait masalah yang
dipecahkan sehingga dapat mengembangkan keterampilan sosial peserta didik.

1.4 Teori yang Mendukung Problem Based Learning

Model Problem Based Learning (PBL) didukung oleh teori-teori belajar dan
perkembangan. Teori yang menjadi landasan pengembangan Model Pembelajaran
Berbasis Masalah atau Problem Based Learning (PBL) adalah teori perkembangan Piaget,
teori belajar sosial-konstruktivisme Vgotsky, teori Bruner dan discovery learning, dan
teori John Dewey.

1. Teori perkembangan kognitif Piaget


Piaget menegaskan bahwa pada dasarnya anak-anak selalu merasa ingin tahu
dan berusaha untuk memahami dunia yang ada di sekitarnya sehingga dapat
membangun representasi tentang lingkungan yang dialami. Mereka tumbuh dan
memperoleh bahasa yang lebih banyak, memiliki kapasitas memori, memiliki
representasi mental yang rumit dan abstrak mengenai dunia. Tahap perkembangan ini
merupakan motivasi mereka untuk menyelidiki dan membangun kejelasan mengenai
teori tersebut. Perspektif konstruktivis kognitif merupakan dasar pembelajaran
berbasis masalah. Piaget mengemukakan bahwa seorang pelajar dapat terlibat aktif
dalam memperoleh informasi dan membangun pengetahuan sendiri. Pengetahuan

4
bersifat dinamis sehingga ketika seorang pelajar dihadapkan pada pengalaman baru,
mereka dipaksa untuk membangun dan memodifikasi dari pengetahuan yang mereka
alami sebelumnya. Piaget menyatakan bahwa pedagogi yang bagus melibatkan anak
untuk bereksperimen, memanipulasi sesuatu, mengajukan pertanyaan dan mencari
jawaban sendiri, membandingkan hasil temuan dengan pengalamannya serta
membandingkan hasil temuannya dengan hasil temuan anak-anak yang lain (Arends,
2012:400-401).
Menurut Juwantara (2019:29), teori perkembangan kognitif Piaget
menyimpulkan bahwa manusia bukanlah mahluk hidup yang pasif dalam
perkembangan genetik. Namun, perkembangan genetik menjadi aktif karena adanya
penyesuaian terhadap lingkungan dan interaksinya dengan lingkungan. Teori
perkembangan Piaget meliputi konsep skema, asimilasi, akomodasi, organisasi, dan
ekuilibrasi.
Skema adalah representasi mental yang mengintegrasikan pengetahuan anak
tentang lingkungan sekitar. Asimilasi adalah hubungan antara informasi baru kedalam
pengetahuan yang telah ada (skema). Asimilasi merupakan proses kognitif yang
dimana individu dapat mengintegrasikan persepsi, konsep dan pengalaman baru ke
dalam skema yang telah ada dalam pikiran individu tersebut. Akomodasi adalah
pengelompokkan perilaku kognitif yang lebih tinggi dan fungsi lebih baik. Akomodasi
merupakan pembentukan skema baru atau perubahan skema lama, ini terjadi akibat
rangsangan/pengalaman baru, individu tidak mampu mengasimilasikan pengalaman
baru dengan skema yang telah ada sebelumnya sebab pengalaman baru tersebut tidak
cocok dengan skema yang telah ada sebelumnya. Organisasi adalah mengelompokkan
perilaku dan pikiran yang terisolasi ke dalam sistem yang lebih tinggi. Ekuilibrasi
menjelaskan tahapan-tahapan pemikiran anak dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Proses ini terjadi karena anak mengalami konflik kognitif ketika memahami dunia
(Juwantara, 2019:29-30).
Piaget memiliki pandangan bahwa perkembangan kognitif adalah hasil dari
hubungan antara perkembangan otak, sistem saraf dan pengalaman untuk membantu
individu beradaptasi dengan lingkungan. Menurut Piaget terdapat 4 periode utama
dalam perkembangan kognitif anak. Pertama, periode sensorimotor yaitu tahap
perkembangan kemampuan dan pemahaman persepsi; Kedua, periode praoperasional
yaitu sebagai prosedur tindakan mental terhadap objek-objek tertentu; Ketiga, periode
operasional konkret yaitu ciri perkembangan dasar dalam penggunaan logika yang

5
memadai; Keempat, periode operasional formal yaitu sebagai perolehan kemapuan
berpikir abstrak, menalar secara logis dan menarik kesimpulan dari informasi yang ada
(Chotimah dan Fathurrohman, 2018:71-86).
2. Teori belajar sosial-konstruktivisme Vgotsky
Vygotsky lebih mementingkan aspek sosial dalam pembelajaran karena
interaksi sosial dapat memunculkan ide-ide baru dalam meningkatkan intelektual
individu. Kunci dari aspek sosial pembelajaran adalah sebagai konsep dari zona
perkembangan proksimal. Vygotsky berpendapat bahwa peserta didik memiliki dua hal
yang berbeda dalam tingkat perkembangannya yaitu, tingkat perkembangan aktual dan
tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan didefinisikan sebagai fungsi
intelektual individu dan kemampuan dalam mempelajari hal tertentu sendiri serta
tingkat pengembangan potensi dapat dicapai melalui bantuan orang lain misalnya,
pendidik, orang tua dan teman sebaya yang lebih mampu. Vygotsky memberikan label
antara tingkat perkembangan aktual dan potensial yaitu sebagai zona perkembangan
proksimal. Pendidikan dari ide Vygotsky terjadi melalui interaksi sosial antara peserta
didik, pendidik, dan teman sebaya dengan tantangan yang sesuai dan perkembangan
proksimal dimana terjadi pembelajaran baru (Arends, 2012:401).
Vygotsky memiliki hipotesis bahwa kesadaran melakukan tindakan merupakan
bukti jelas bagi pengaruh pendidikan dalam perkembangan anak. Vygotsky
berpendapat bahwa anak lahir memiliki fungsi mental yang relatif dasar, misalnya anak
memiliki kemampuan dalam memahami dunia luar dan memiliki kemampuan dalam
memusatkan perhatian. Mental berfungsi dan berkembang melalui keterampilan-
keterampilan dalam berinteraksi sosial secara langsung. Teori Vygotsky merupakan
teori yang menekankan pada hakikat pembelajaran sosiokultural. Teori inti dari
pernyataan Vygotsky yang menekankan bahwa interaksi antara aspek internal dan
eksternal pembelajaran dan penekanannya dalam lingkungan sosial belajar (Chotimah
dan Fathurrohman, 2018:118-122).
3. Teori Burner dan discovery learning
Jerome Bruner beserta rekan rekannya memberi dukungan teoritis penting yang
dikenal sebagai pembelajaran penemuan, model pengajaran yang dapat membantu
peserta didik dalam memahami struktur atau ide kunci dari disiplin ilmu tertentu,
kebutuhan proses pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dan
memiliki keyakinan bahwa penemuan secara pribadi merupakan pembelajaran yang
benar. Salah satu tujuan dari pembelajaran adalah menciptakan hasil atau penemuan

6
oleh peserta didik. Pembelajaran penemuan menekankan pada penalaran induktif dan
penyelidikan dengan karakteristik metode ilmiah dan penyelesaian masalah. Bruner
memberi gambaran mengenai scaffolding (bantuan) yang dapat membantu seorang
pelajar memahami masalah di luar kapasitas perkembangannya dan dibantu oleh
pendidik atau orang yang profesional di bidang masalah yang dikaji. Dialog secara
sosial juga sangat membantu dalam proses pembelajaran Bruner, karena Bruner
percaya interaksi sosial baik di dalam sekolah ataupun di luar sekolah dapat
memberikan pemahaman atau penguasaan bahasa dan perilaku dalam penyelesaian
masalah peserta didik. Intinya seorang pendidik dalam proses pembelajarannya
menggunakan pembelajaran berbasis masalah dapat menekankan terlibatnya peserta
didik secara aktif, memiliki orientasi induktif daripada deduktif, dan penemuan atau
konstruksi peserta didik melalui pengetahuan yang mereka temukan. Ketika pendidik
menggunakan presentasi atau intruksi secara langsung maka peserta didik dapat
memberikan pendapat mengenai dunia dan ketika pembelajaran berbasis masalah
digunakan oleh pendidik dengan mengajukan pertanyaan kepada peserta didik maka
dapat memungkinkan peserta didik mencapai ide dan teori mereka sendiri (Arends,
2012:401-402).
Teori belajar Jerome Bruner yang dikenal sebagai metode penemuan merupakan
metode dimana peserta didik menemukan kembali, bukan berarti peserta didik
menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Penemuan pengetahuan yang dilakukan
secara aktif oleh peserta didik sangat sesuai dengan pembelajaran penemuan, sebab
dengan sendirinya peserta didik dapat memberikan hasil yang sangat baik. Peserta
didik berusaha melakukan pemecahan masalah yang didukung dengan pengetahuan
yang telah ada, serta mendapatkan hasil pengetahuan yang bermakna (Ilmiah,
2016:21). Dasar pemikiran teori Bruner menyatakan bahwa manusia bertindak sebagai
pelaku, pemikir dan pencipta informasi. Ada tiga proses kognitif dalam pembelajaran
yang dikemukakan oleh Bruner. Pertama, proses dalam memperoleh informasi baru
(informasi); Kedua, proses memberikan informasi yang diterima (transformasi);
Ketiga, mengukur relevansi dan akurasi pengetahuan (evaluasi) (Chotimah dan
Fathurrohman, 2018:95).
4. Teori John Dewey
John Dewey memiliki pandangan bahwa sekolah merupakan pendidikan
cerminan dari masyarakat yang sangat besar dan ruang kelas adalah laboratorium untuk
melakukan penyelidikan dan pemecahan masalah dalam kehidupan dunia nyata. Teori

7
pengajaran John Dewey mendorong pendidik untuk melibatkan peserta didik dalam
proyek berorientasi masalah dan membantu peserta didik untuk menyelidiki masalah-
masalah sosial dan pentingnya intelektual. John Dewey beserta murid-muridnya
berpendapat bahwa kegiatan belajar harus memiliki tujuan yang abstrak dan tujuan
pembelajaran dapat dicapai dengan baik apabila pendidik meminta peserta didik dalam
kelompok kecil menyelesaikan proyek yang mereka minati dan mereka pilih. Visi dari
pembelajaran memiliki tujuan atau berpusat pada masalah dengan dorongan dan
keinginan peserta didik untuk memahami situasi pembelajaran bermakna secara
pribadi, jelas dan berhubungan dengan pembelajaran berbasis masalah kontemporer
dengan filosofi pendidikan dan pengajaran Dewey (Arends, 2012:400).
Teori belajar Dewey memiliki pandangan bahwa struktur kognitif merupakan
bentuk pengalaman dan pengetahuan yang ada dalam diri setiap individu, ini berarti
bahwa setiap peserta didik memiliki faktor kognitif yang berasal dari pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki peserta didik tersebut. Belajar bergantung pada pengalaman
dan minat peserta didik sendiri sehingga dapat menambah makna pengalaman dan
kemampuan dalam mengarahkan pengalaman tersebut.

1.5 Langkah-Langkah Pembelajaran pada Model Problem Based Learning


Menurut Arends langkah-langkah PBL, yaitu sebagai berikut:
1. Mengorientasikan siswa pada masalahnya
Guru membahas tujuan dari pelajaran, menjelaskan persyaratan logistik yang
penting, dan memotivasi siswa unutuk melakukan dan terlibat dalam aktivitas
pemecahan masalah.
Guru perlu menyajikan situasi masalah dengan hati-hati atau mempunyai
prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi masalah. Guru
hendaknya menyampaikan situasi masalah kepada siswa dengan cara yang menarik dan
seakurat mungkin sebagian besar masalah kompleks memiliki solusi yang beragam dan
terkadang bertentangan. mungkin. Biasanya kemampuan melihat, merasakan, dan
menyentuh sesuatu menimbulkan minat dan motivasi penyelidikan. Pada tahap
investigasi pembelajaran, siswa akan didorong untuk bertanya memotivasi
penyelidikan. Seringkali penggunaan peristiwa yang tidak sesuai dapat menggugah
minat siswa.
2. Mengatur siswa utuk belajar

8
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengatur tugas belajar yang
berkaitan dengan masalah. Pembelajaran berbasis masalah menuntut guru untuk
mengembangkan kolaborasi antar siswa dan membantu mereka dalam menyelidiki
masalah. Pembelajaran ini juga mengharuskan guru untuk membantu mereka
merencanakan tugas investigasi dan pelaporan.
3. Membantu penyelidikan independen dan kelompok
Guru Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang tepat, melakukan
percobaan, dan mencari penjelasan dan solusi. Investigasi, baik dilakukan secara
mandiri, berpasangan, atau dalam tim belajar kecil, merupakan inti pembelajaran
berbasis masalah. Meskipun setiap situasi masalah memerlukan teknik investigasi yang
sedikit berbeda, sebagian besar melibatkan proses pengumpulan data dan eksperimen,
membuat hipotesis dan menjelaskan, dan memberikan solusi.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan pameran
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan membuat karya yang sesuai
seperti laporan, video, dan model. Tahap investigasi dilanjutkan dengan pembuatan
hasil karya dan pameran. Hasil karya lebih dari sekadar laporan tertulis. Ini termasuk
hal-hal seperti rekaman video yang menunjukkan situasi masalah dan solusi yang
diusulkan, model yang terdiri dari representasi fisik dari situasi masalah atau solusinya,
dan program komputer dan presentasi multimedia. Setelah hasil karya siswa
dikembangkan, guru mengatur pameran untuk menampilkan karya siswa secara publik.
Pameran ini harus menarik perhatian penontonnya sepeti siswa lain, guru, dan lainnya.
Pameran dapat berupa pameran sains tradisional, dimana setiap siswa menampilkan
karyanya untuk diamati dan dinilai oleh orang lain, baik secara lisan dan/atau presentasi
visual yang bertukar ide dan memberikan umpan balik.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Fase terakhir pembelajaran berbasis masalah melibatkan kegiatan yang
bertujuan membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi masalah dengan proses
berpikirnya sendiri serta keterampilan investigasi dan intelektual yang mereka gunakan.
Guru membantu siswa untuk merefleksikan penyelidikan mereka dan proses yang
mereka gunakan. Selama fase ini, guru meminta siswa untuk merekonstruksi pemikiran
dan aktivitas mereka selama berbagai fase pembelajaran.
Menurut Kunandar (2008: 358) langkah-langkah PBL adalah sebagai berikut.
1. Orientasi peserta didik kepada masalah. Dalam langkah ini siswa diberi suatu masalah
sebagai titik awal untuk menemukan atau memahami suatu konsep.

9
2. Mengorganisasikan peserta didik. Langkah ini membiasakan siswa untuk belajar
menyelesaikan permasalahan dalam memahami konsep.
3. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok. Dengan langkah ini siswa belajar
untuk bekerja sama maupun individu untuk menyelidiki permasalahan dalam rangka
memahami konsep.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya serta memamerkannya. siswa terlatih
untuk mengomunikasikan konsep yang telah ditemukan.
5. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Langkah ini dapat
membiasakan siswa untuk melihat kembali hasil penyelidikan yang telah dilakukan
dalam upaya menguatkan pemahaman konsep yang telah diperoleh.

1.6 Evaluasi pada Problem Based Learning

Evaluasi dalam Problem Based Learning (PBL) merupakan proses untuk menilai
pemahaman, keterampilan, dan pencapaian siswa dalam meyelesaikan masalah kompleks
yang menjadi fokus utama pembelajaran. Prosedur evaluasi model ini tidak hanya dengan
mengadakan tes tertulis saja, tetapi siswa dinilai dari bagaimana mereka berpartisipasi
dalam proyek, bagaimana mereka berkomunikasi dalam kelompok, bagaimana mereka
mencari informasi, dan bagaimana mereka menyajikan hasil akhir dari proyek. Oleh
karena itu, evaluasi yang cocok pada model ini adalah asesmen autentik, seperti asesmen
kinerja (Performance). Hasil kerja peserta didik dapat dinilai dengan asesmen performance
menggunakan rubric scoring, rating scale, dan daftar checklist. Hal ini karena dalam
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) tidak berfokus pada bagaimana siswa
memperoleh pengetahuan deklaratif, sehingga prosedur evaluasi secara tes tertulis tidak
cukup. Berikut ini tahap-tahap evaluasi pada model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL).

1. Identifikasi Masalah (Problem Identification)


Pada awal proses, siswa diberikan sebuah permasalahan yang harus mereka selesaikan.
Kemudian, tahap evaluasi dimulai dengan memeriksa pemahaman mereka terhadap
masalah yang diberikan. Pada tahap ini, pertanyaan evaluatif mencakup sejauh mana
siswa dapat mengidentifikasi isu-isu kunci dalam masalah, apakah mereka memahami
konteksnya, dan apakah mereka dapat merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang
relevan.
2. Pembelajaran Sendiri (Self-Directed Learning)

10
Pada tahap ini, siswa mencari informasi, merumuskan hipotesis, dan berkolaborasi
dengan teman sekelompok. Evaluasi mencakup sejauh mana siswa mampu
mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang relevan, sejauh mana mereka dapat
mengakses informasi ini, dan seberapa baik mereka dapat mengintegrasikan
pengetahuan baru ke dalam pemahaman mereka.
3. Diskusi Kelompok (Group Discussion)
Pada tahap ini, siswa berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Evaluasi mencakup
penilaian terhadap kemampuan mereka untuk berkontribusi secara konstruktif, berbagi
informasi, dan berargumentasi berdasarkan bukti yang ada. Evaluasi tahap ini juga
mencakup sejauh mana siswa dapat mengidentifikasi perbedaan pendapat dalam
kelompok dan mencari solusi bersama.
4. Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Pada tahap ini, evaluasi berfokus pada kemampuan siswa dalam merumuskan solusi
atau rekomendasi untuk masalah yang diidentifikasi. Evaluasi dapat mencakup sejauh
mana solusi yang mereka ajukan relevan, logis, dan didukung oleh bukti yang kuat.
5. Penyajian Hasil (Presentation)
Pada tahap ini, siswa diminta menyajikan hasil kerja mereka. Evaluasi mencakup
kemampuan mereka untuk berkomunikasi secara efektif, menggunakan argumen yang
meyakinkan, dan menjelaskan solusi yang telah mereka dapatkan dengan jelas.
6. Refleksi (Reflection)
Evaluasi tidak hanya mencakup proses langsung tetapi juga refleksi terhadap
pengalaman Problem Based Learning. Siswa dapat diminta untuk mengevaluasi
pembelajaran mereka, kendala yang mereka hadapi, dan cara mereka dapat
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah mereka di masa depan.
7. Evaluasi Formatif dan Sumatif (Formative and Summative Assessment)
Evaluasi Problem Based Learning dapat bersifat formatif (berlangsung selama proses
pembelajaran untuk memberikan umpan balik dan memandu siswa) atau sumatif
(dilakukan setelah selesai proyek untuk menilai pencapaian akhir). Kedua jenis
evaluasi ini dapat digunakan untuk mengukur kemajuan dan pencapaian siswa.

DAFTAR PUSTAKA

11
Arfah, M. H. (2022). MAKALAH PENGEMBANGAN DESAIN DAN STRATEGI
PEMBELAJARAN "PROBLEM BASED LEARNING (PBL)". Makassar: Universitas
Negeri Makassar.
Istiqomah, F., Firdaus, A., & Dewi, R. S. (2023). Analisis Perencanaan, Pelaksanaan, dan
Evaluasi Problem Based Learning dan Project Based Learning. Journal on Education,
6(1), 9245-9256.
Arends, R. I. (2012). Learning to teach ninth edition (9th ed.). New Britain, USA: Library of
Congress Cataloging
Kurniawan, M. W. & Wuri W. (2017). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah
terhadap motivasi belajar dan hasil belajar ppkn. Jurnal Civics, 14, 10-22. doi:
[Link]
Lidinillah, D. A. M. (2018). Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning).
Jurnal Pendidikan Inovatif, 1, 1-8. [Link]
TASIKMALAYA/DINDIN_ABDUL_MUIZ_LIDINILLAH_(KD-
TASIKMALAYA)-197901132005011003/132313548%20-
%20dindin%20abdul%20muiz%20lidinillah/Problem%20Based%[Link]
Juwantara, R. A. (2019). Analisis Teori Perkembangan Kognitif Piaget pada tahap anak usia
operasional konkret 7-12 tahun dalam pembelajaran matematika. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 9, [Link]: 10.18592/aladzkapgmi.v9i1.3011
Chotimah, C. & Muhammad F. (2018). Paradigma baru sistem pembelajaran dari: Teori,
Metode, Model, Media, hingga Evaluasi Pembelajaran (1sted.). Yogyakarta,
Indonesia: Ar-Ruzz Media.
Ilmiah. (2016). Perbandingan model pembelajaran discovery learning (Dl) dan: Problem
Based Learning (Pbl) berbasis assesment for learning (Afl) terhadap hasil belajar
matematika siswa kelas VII SMP al mazaakhirah baramuli kab. pinrang. (Skripsi).
Fakultas Tarbiyah & Keguruan, UIN Alauddin, Makassar.
[Link]
Suhendar, Uki, and Arta Ekayanti. (2018). Problem based learning sebagai upaya peningkatan
pemahaman konsep mahasiswa. Jurnal Dimensi Pendidikan Dan Pembelajaran 6.1 ,
15-19.
Wajdi, Fathullah. (2017). Implementasi project based learning (PBL) dan penilaian autentik
dalam pembelajaran drama indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI 17.1,
86-101.
Agustin, E., Rahadju, E. B., & Hidayat, T. (2013). PENERAPAN MODEL PROBLEM
BASED LEARNING (PBL) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VII SMP.
PHI: Jurnal Pendidikan Matematika, 7(2),, 107-116.

12
Nugraheni, S. D., Zaenuri, Z., & Wardono, W. (2019). Pembelajaran matematika dengan model
problem based learning berbasis PPLH sekolah berbantuan ICT dapat meningkatkan
kreativitas. In PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol. 2, pp, 148-155.

13

Anda mungkin juga menyukai