PROPOSAL PENELITIAN
Potensi Senyawa Capsaicin Dari Biji Cabai Merah (Capsicum
Annum L) Sebagai Anti Inflamasi Untuk Mengatasi Rheumatoid
Arthritis
OLEH:
SOFIA SALSABILA HASIBUAN
NPM 2108260161
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
TAHUN 2023
LEMBAR PENGESAHAN
Proposal Penelitian dengan Judul :
Potensi Senyawa Capsaicin Dari Biji Cabai Merah (Capsicum Annum L) Sebagai Anti
Inflamasi Untuk Mengatasi Rheumatoid Arthritis
oleh:
sofia salsabila hasibuan
2108260161
Proposal Penelitian ini telah diperiksa dan disetujui untuk dilanjutkan ke penulisan skripsi
atau program kreativitas mahasiswa
Disetujui oleh Dewan Penguji
Pembimbing
(dr. Munauwarus Sarirah, [Link])
Penguji
()
Ditetapkan di : Medan
Tanggal :
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Peradangan atau inflamasi merupakan suatu respon proteksi pada daerah luka akibat
kerusakan jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang bersifat merusak, atau
agen mikroba. Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit yang banyak diderita orang
yang berusia di ata 50 tahun dan pada umumnya disebabkan oleh auto imun.
Penyakit ini ditandai dengan peradangan (inflamasi) pada lapisan sinovium sendi, hal
tersebut menyebabkan kerusakan sendi dalam jangka panjang, rasa sakit yang
berkepanjangan, kehilangan fungsi dan [Link] RA umumnya menggunakan
obat sintesis namun dalam jangka panjang memiliki efek samping bagi tubuh.
Status klinis pasien RA telah membaik dalam beberapa tahun terakhir karena
kemajuan medis dalam diagnosis dan pengobatan, yang memungkinkan pengurangan
aktivitas penyakit dan mencegah komplikasi sistemik. Hasil yang paling menjanjikan
diperoleh dengan mengembangkan obat antirematik pemodifikasi penyakit (DMARDs), yang
termasuk dalam kelompok obat sintetik konvensional, biologis, dan bertarget. Selain itu,
pengembangan obat yang sedang berlangsung telah menghasilkan molekul dengan profil
efikasi dan keamanan yang lebih baik, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan sampai RA
berubah menjadi patologi yang dapat disembuhkan.
Pengobatan RA dapat menjadi tantangan mengingat derajat gejala bisa sangat berbeda antar
pasien, serta respons terhadap pengobatan juga tidak sama. Selain itu, juga berisiko efek samping. ada
beberapa pilihan pengobatan, antara lain DMARD, Agen Biologik, Janus Kinase Inhibitor, Corticosteroid,
dan NSAID
Capsaicin adalah senyawa yang memberikan rasa pedas pada cabai merah. Studi yang
dilakukan oleh Oyagbemi A et al menyebutkan senyawa Capsaicin ternyata mampu
menghambat pertumbuhan sel kanker, Selain itu beberapa sifat farmakologis dan fisiologis
(penghilang rasa sakit, pencegahan kanker, efek kardiovaskular yang menguntungkan, dan
efek pencernaan. Beberapa studi pada hewan dan sel-sel manusia telah menunjukkan bahwa
capsaicin memiliki potensi sifat anti-inflamasi. Ini mungkin berguna dalam mengurangi
peradangan yang terjadi pada RA secara efisien mengobati nyeri tanpa efek samping yang
terlihat pada penggunaan obat oral.
Capsaicin sendiri dapat menghambat pelepasan zat-zat pro-inflamasi seperti sitokin
dan prostaglandin dalam kultur sel. Hal ini bisa menjadi indikasi potensialnya dalam
mengurangi peradangan pada RA.
1.2 Tujuan
Tujuan umum : mengetahui efektivitas senyawa Capsaicin sebagai antiinflamasi pada
rheumatoid arthritis
Tujuan khusus : bagaimana dosis optimal senyawa capsaicin yg dapat di gunakan
sebagai pengobatan anti inflamasi untuk reumatoid arthritis
1.3 Rumusan masalah
apakah senyawa capsaicin dari biji cabai merah memiliki efek anti inflamasi yg
signifikan pada model eksperimental rheumatoid arthritis
1.4 Manfaat
Manfaat penelitian adalah terungkapnya bahwa senyawa capsaicin dari ekstrak biji
cabai merah dalam mengatasi nyeri sendi dan anti inflamasi pada kasus rhaumatoid arthritis
dengan target zat neuropeptide P
1.5 Keutamaan riset :
Keutamaan riset ini penting karna mengingat pengobatan dari rheumatoid arthritis
yang banyak menimbulkan efek samping sehingga bisa menciptakan pengibatan alternatif
atau terobosan baru
1.6 Kontribusi terhadap ilmu pengetahuan
Memberi pengetahuan ilmiah senyawa capsaicin yang terdapat pada biji cabai merah
serta perannya sebagai antinyeri dan anti inflamasi pada kasus RA. Apabila penelitian ini
terbukti menunjukkan pengurangan ukuran edema pada tikus yang terjadi setelah pemberian
extrak biji cabai merah , maka penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi medis
tambahan dimana memiliki potensi besar untuk menjadi pengobatan lini pertama atau kedua
untuk nyeri neuropatik, dan menjadi pilihan terapi untuk banyak kondisi penyakit terkait
nyeri neuropatik lainnya khususnya pada RA.
Luaran penelitian
Luaran penelitian yang diharapkan adalah:
1. Laporan kemajuan penelitian
2. Laporan akhir penelitian
3. Artikel ilmiah.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1.7 . Artritis rematoid (rheumatoid arthritis, RA)
2.1.1. definisi rheumatoid arthritis
Artritis rematoid (rheumatoid arthritis, RA) adalah penyakit autoimun dengan gejala
utama nyeri dan peradangan sendi. RA adalah penyakit autoimun poliartikular inflamasi
multifaktorial yang digambarkan dengan sinovitis kronis, yang secara bertahap berkembang menjadi
arthralgia, erosi tulang atau tulang rawan, yang menyebabkan kecacatan (Simons et al.,
2022).Reumatoid arthritis termaksud penyakit heterogen, yang berdasarkan data yang
menggabungkan faktor risiko genetik dan autoantibodi, dapat disubklasifikasikan menjadi RA
positif dan negatif ACPA.
[Link]
Prevalensi penyakit RA di Negara Barat mencapai 1-2% , sedangkan di Asia Tenggara
menunjukkan prevalensi sekitar 0,4%. Indonesia memiliki prevalensi penyakit RA yaitu
23.3%-31.6% dari keseluruhan penduduk di Indonesia dengan kemungkinan terjadinya
penyakit RA lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.
Perkiraan prevalensi dan beban penyakit rheumatoid arthritis (RA) sangat bervariasi
antar wilayah geografis, dengan perkiraan yang umumnya lebih tinggi di negara-negara
industri dan perkotaan yang mungkin disebabkan oleh paparan terhadap faktor risiko
lingkungan, namun juga oleh faktor genetik, perbedaan demografi, dan rendahnya pelaporan
di wilayah lain di dunia. Meskipun prevalensi RA meningkat, tingkat keparahan, mortalitas,
dan penyakit penyerta terkait penyakit ini tampaknya menurun.
2.1.3 Etiologi dan faktor resiko
etiologi AR belum diketahui secara pasti, namun telah diketahui bahwa terjadinya
penyakit ini akibat adanya interaksi antara faktor genetik (endogen) dan lingkungan
(eksogen). Interaksi tersebut menyebabkan reaksi kaskade proses imunologi yang
diperkirakan sudah dimulai dari beberapa tahun sebelum gejala klinis muncul. Faktor genetik
yang diduga berperan pada patogenesis AR sangat banyak, antara lain HLA-DR4, HLA-
DRB1, PTPN22, PADI4, STAT4, TRAF1-C5 dan TNFAIP3. Faktor lingkungan yang juga
diduga berperan yaitu infeksi, merokok dan lain-lain.
2.1.4 Patofisiology rheumatoid artrhitis
Patogenesis RA rumit dan melibatkan interkoneksi terkoordinasi dari beberapa struktur imun
(yaitu sel T, sel dendritik, sel pembunuh alami, makrofag, dan sel B) dan sel non-imun (yaitu fibroblas
dan sel endotel), yang memainkan peran penting. berperan dalam mempertahankan peradangan yang
terus-menerus, yang menyebabkan berkurangnya mobilitas dan, pada akhirnya, menurunkan kualitas
hidup (Tu et al., 2021).
Pada kasus rheumatoid arthritis system imun tidak mampu lagi membedakan keduanya dan
menyerang jaringan synovial serta jaringan penyokong lain. Proses fagositosis menghasilkan enzim-
enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membrane synovial dan
akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi
tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot
akan turut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya
elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot (Aspiani, 2014).
2.1.5 Manifestasi klinis
yang khas dari AR adalah poliartritis simetris dengan distribusi sendi yang terlibat
berdasarkan keseringannya yaitu sendi pergelangan dan jari tangan (75-95%), sternoklavikular dan
manubriosternal (70%), siku (40-61%), bahu (55%), pinggul (40%), krikoaritenoid (26-86%), vertebra
(17-88%), kaki dan pergelangan kaki (13-90%) dan temporomandibular (4.7-84%)
beberapa pasien masih menunjukkan respons terbatas terhadap DMARDs, sehingga
membutuhkan target khusus dan terapi baru. [Link]
pt=9008&ct=iosChromeShare&mt=8
2.1.6 farmakoterapi
RA melibatkan penggunaan molekul aktif yang berkontribusi terhadap pengobatan
simtomatik (misalnya, obat antiinflamasi nonsteroid dan glukokortikoid) dan obat antirematik
pemodifikasi penyakit (DMARDs) yang dibagi menjadi tiga kategori besar dan menghambat respons
autoimun untuk memfasilitasi remisi: DMARD konvensional (yaitu metotreksat, hidroksiklorokuin,
sulfasalazine, leflunomide, dll.), DMARD biologis (yaitu, golimumab, etanercept, adalimumab,
infliximab, certolizumab pegol, rituximab, abatacept, anakinra, tocilizumab, dll.), dan DMARD
sintetik konvensional ( yaitu tofacitinib, upadacitinib, baricitinib dll.) (Huang et al., 2021, Radu dan
Bungau, 2021). Namun, meskipun pilihan terapi terus dikembangkan, profil keamanan dan
kemanjuran molekul aktif masih perlu ditingkatkan untuk mengurangi persentase pasien yang tidak
responsif terhadap terapi RA (Negrei et al., 2016). Evolusi toleransi dari waktu ke waktu serta
ketidakmampuan pasien untuk merespons terapi yang tersedia saat ini dapat mengubah
penatalaksanaan RA secara keseluruhan.
2.2 Cabai merah (capsicum annum l)
2.2.1 Definisi
Salah satu pengembangan dalam metode pengobatan saat ini ialah dengan
menggunakan bahan-bahan alami yang berasal dari tumbuhan dan tanaman yang sering
digunakan sebagai obat alternatif untuk mengobati masalah kesehatan. Riset mengenai
tanaman yang dapat bermanfaat sebagai obat didasarkan pada ilmu etnobotani dan
pengalaman dari masyarakat. Hal ini dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian untuk
membuktikan kebenaran secara ilmiah (Aejazuddin and I., 2016; Saini, Dhiman and Nanda,
2016).
Tanaman Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) adalah tanaman perdu dengan rasa
buah pedas yang disebabkan oleh kandungan capsaicinoids. Secara umum cabai memiliki
banyak kandungan gizi dan vitamin, diantaranya kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium,
vitamin A, B1, dan vitamin C (Rukmana, 2002).
2.2.2 Klasifikasi cabai merah
Klafikasi tanaman cabai merah menurut cronquist (1981) sebagai berikut
Diviso : magnoliophyta
Classis : magnoliopsida
Ordo : solanales
Familia : solanaceae
Genus : capsicum
Species : capsicum annum L
2.2.3 Mengenai Capsaicin
Capsaicin (8-metil-N-vanillyl-6-nonenamide) adalah senyawa alkaloid yang bersifat
lipofilik, tidak berwarna, dan tidak berbau, dengan rumus molekul C18H27NO3. Capsaicin
menyusun 70% senyawa Capsaicinoid yang terkandung dalam Capsicum (cabai) yang
ditanam sebagai makanan dan untuk keperluan pengobatan sejak zaman dahulu, dan
bertanggung jawab atas kepedasan buahnya. Selain itu beberapa sifat farmakologis dan
fisiologis (penghilang rasa sakit, pencegahan kanker, efek kardiovaskular yang
menguntungkan, dan efek pencernaan)(Luo, Peng, & Li, 2011).
2.2.4 Manfaat
Kandungan capsaicin dalam cabai rawit (Capsicum frutescens L.) memiliki banyak
khasiat berdasarkan beberapa hasil penelitian (Fattori et al., 2016). Capsaicin dapat
digunakan sebagai antibiotik (Zeyrek and Oguz, 2005), analgesik (Anand and Bley, 2011),
pestisida (Maliszewska and Tegowska, 2012), dan antiinflamasi (Jolayemi and Ojewole,
2013). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jolayemi dan Ojewole (2013), capsaicin
memiliki efek antiinflamasi yang sebanding dengan efek antiinflamasi diklofenak yang
diujikan ke tikus. Khasiat antiinflamasi inilah yang akan dikembangkan dalam penelitian ini.
Capsaicin sebagai anti inflamasi
2.2.5 potensi capsicin pada rheumatoid arthritis
Bioaktif telah dieksplorasi sebagai terapi tambahan untuk menghindari peradangan
dan nyeri pada arthritis, Salah satu bioaktif alami tersebut adalah capsaicin (CAP), turunan
asam homovanillic. Ini mewakili unsur pedas utama pada cabai, yang termasuk dalam genus
Capsicum annum . Penerapan CAP (alkaloid karotenoid dan lipofilik) dalam makanan dan
farmasi disebabkan oleh beragam sifat biologis seperti antioksidan, antiinflamasi, analgesik,
antinosiseptif, imunomodulator, dan pengaruh termogenik . CAP kini telah diakui sebagai
analgesik topikal yang efektif dan aman dalam praktik klinis. Selain itu, Osteoarthritis
Research Society International (OARSI) menyarankan capsaicin sebagai tambahan atau
alternatif yang menjanjikan untuk tindakan analgesik dan anti-inflamasi pada pasien yang
mengalami peradangan dan nyeri artritis berat hingga sedang bagi mereka yang tidak
menunjukkan respons yang diinginkan terhadap analgesik dan anti-inflamasi lainnya. agen
inflamasi. CAP dapat menjebak berbagai radikal bebas (radikal peroksil, molekul oksigen,
dan spesies nitrogen reaktif). Selain itu, CAP juga merupakan agonis reseptor transient
receptor potensial vanilloid 1 (TRPV1) yang kuat dan juga merupakan penghambat zat P
yang mentransfer sinyal nyeri dari kulit dan persendian ke otak. Semakin tinggi zat P
dihambat maka semakin kecil pula nyeri yang dirasakan.
BAB III
METODE RISET
3.1 Prosedur Penelitian
3.1.1 Alat
1. Kandang tikus 7. Ayakan berukuran 60 mesh
2. Wadah pakan standar 8. Oven
3. Wadah air untuk minum 9. Grinder (penghalus)
4. Sarung tangan steril 10. Magnetic stirrer
5. Masker
6. Timbangan digital
3.1.2 Bahan
1. Tikus jantan galur Wistar
2. Makanan dan minuman tikus
3. Aquadest
4. Kertas label
5. Kantong teh
6. Batang akar kayu bajakah
3.2 Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah eksperimental terhadap hewan coba dengan metode Posttest
Only With Control Group Design, dengan jumlah sampel 30 ekor tikus jantan galur
Wistar berat 150-200 gr dan berumur sekitar 12– 16 minggu. Perlakuan akan
diberikan selama 30 hari.
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini rencananya dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Jl. Gedung Arca No.53
Medan, Indonesia pada bulan November 2023.
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
3.4.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah tikus jantan galur Wistar yang didapat dari
laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara.
3.4.2 Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan tikus jantan galur Wistar yang memenuhi kriteria:
a. Kriteria Inklusi
1. Tikus jantan
2. Umur 12-16 minggu
3. Berat badan 150-200 gr
4. Kondisi fisik sehat dan aktif bergerak
5. Tidak tampak kelainan fisik (anatomi)
6. Belum pernah digunakan sebagai subjek penelitian sebelumnya
b. Kriteria Eksklusi
1. Tikus dalam keadaan stress
2. Tikus dalam kondisi mati saat proses penelitian berlangsung
3.5 Besar Sampel
Sampel penelitian menggunakan rumus Federer dengan penjabaran sebagai berikut :
(n-1) (t-1) ≥ 15
(n-1) (5-1) ≥ 15
(n-1) (4) ≥ 15
4n - 4 ≥ 15
4n ≥ 19
n ≥ 4,75
Keterangan:
n = Jumlah sampel
t = Kelompok sampel
Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh bahwa masing-masing kelompok sampel
dan penelitian ini menggunakan 5 ekor tikus jantan galur wistar. Jadi, jumlah sampel
secara keseluruhan dipergunakan dalam penelitian ini 25 ekor tikus jantan galur
wistar, kemudian disiapkan tikus jantan tambahan apabila dalam penelitian tikus
jantan galur wistar tiba-tiba mati saat percobaan dilakukan, maka dibutuhkan tikus
tambahan. Jadi total sampel sebanyak 30 ekor tikus jantan galur Wistar. Ini artinya
setiap perlakukan terdiri dari 5 ekor sampel dan 1 ekor sebagai tambahan (cadangan).
3.6 Proses Pembentukan seduhan
3.6.1 Pembuatan Ekstrak Tunggal
3.6.2 Pembuatan Seduhan Teh Herbal
3.7 Indikator Capaian
Indikator pencapaian penelitian ini adalah:
1. Melakukan persiapan di antaranya penyusunan draf kerja penelitian yang akan
dilaksanakan,
2. Pelaksanaan penelitian dan pengumpulan data hasil penelitian,
3. Melakukan analisis data, melakukan penarikan kesimpulan dan laporan hasil
penelitian
3.8 Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data kualitatif dengan cara mengambil sampel kadar
gula darah tikus jantan wistar diabetes setelah dan sesudah mendapat perlakuan
dengan diberikannya seduhan the herbal akar kayu bajakah (Spatholobus liitoralis
hassk).
3.9 Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, maka akan dianalisa secara statistik dengan menggunakan
program IBM SPSS (Statistical Product and Service Solution). Data akan terlebih
dahulu diuji normalitas dan homogenitas menggunakan uji [Link].
3.10 Cara Penafsiran dan Penarikan Kesimpulan
Data yang telah terkumpul akan dianalisis dan ditafsir secara deskriptif tentang
keefektivitasan akar kayu bajakah (Spatholobus liitoralis hassk) pada tikus diabetes
yang diinduksi Streptozotocin. Diharapkan pada penelitian ini dapat digunakan
sebagai pembuktian bahwa akar kayu bajakah ampuh dalam penyembuhan penyakit
diabetes melitus.