LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR
ASAM BASA
Disusun Oleh :
Nama : Ratri Rahmatika
NIM : 2018411013
Dosen : Ita Emilia, [Link]., [Link]
JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asam dan basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat penting. Asam dan basa sudah
dikenal sejak zaman dulu. Istilah asam (acid) berasal dari bahasa Latin acetum yang berarti cuka.
Istilah basa (alkali) berasal dari bahasa Arab yang berarti abu. Basa digunakan dalam pembuatan
sabun. Juga sudah lama diketahui bahwa asam dan basa saling menetralkan. Di alam, asam
ditemukan dalam buah-buahan, misalnya asam sitrat dalam buah jeruk berfungsi untuk memberi
rasa limun yang tajam. Cuka mengandung asam asetat, dan asam tanak dari kulit pohon digunakan
untuk menyamak kulit. Asam mineral yang lebih kuat telah dibuat sejak abad pertengahan, salah
satunya adalah aqua forti (asam nitrat) yang digunakan oleh para peneliti untuk memisahkan emas
dan perak. Berkaitan dengan sifat asam dan basa, larutan dikelompokkan dalam tiga golongan yaitu
bersifat asam, basa dan netral.
Sifat asam-basa dari suatu larutan juga dapat ditunjukkan dengan mengukur pH nya. pH
adalah suatu parameter yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam
mempunyai pH lebih kecil dari 7. Larutan basa mempunyai pH lebih besar dari 7. Sedangkan
larutan netral mempunyai ph = 7.
Mempelajari cara menentukan pH dan sifat larutan sangat penting untuk mengetahui apakah
larutan itu bersifat asam ataupun basa. Biasanya cara yang digunakan untuk menentukan sifat dan
pH larutan adalah dengan menggunakan indikator. Indikator tersebut antara lain kertas lakmus,
larutan fenolftalein, brom timol biru, metil merah, serta metil orange.
Ada beberapa cara yang lazim digunakan para ilmuwan dan manusia dalam mengukur pH
suatu larutan, diantaranya adalah dengan menggunakan indikator universal atau kertas indikator
pH, menggunakan pH meter, menggunakan kertas lakmus ataupun melalui perhitungan dengan
mengetahui konsentrasi suatu larutan tersebut.
1,2 Tujuan
1. Untuk mengetahui sifat asam dan basa dari suatu larutan.
2. Untuk menentukan tingkat pH suatu larutan.
3. Untuk mengetahui berbagai cara yang dapat digunakan untuk mengukur pH suatu larutan.
4. Untuk mengetahui keasaaman masing-masing larutan tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Asam dan Basa
Pada tahun 1884, Svante Arrhenius (1859-1897) seorang ilmuwan Swedia yang
memenangkan hadiah nobel atas karyanya di bidang ionisasi, memperkenalkan pemikiran tentang
senyawa yang terpisah atau terurai menjadi bagian ion-ion dalam larutan. Dia menjelaskan
bagaimana kekuatan asam dalam larutan aqua (air) tergantung pada konsentrai ion-ion hidrogen di
dalamnya. (Petrucci.1987)
Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+, sedangkan basa
adalah zat yang dalam air melepaskan ion OH–. Jadi pembawa sifat asam adalah ion H+,
sedangkan pembawa sifat basa adalah ion OH–. Asam Arrhenius dirumuskan sebagai HxZ, yang
dalam air mengalami ionisasi sebagai berikut.
HxZ ⎯⎯→ xH+ + Zx-
Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh 1 molekul asam disebut valensi asam, sedangkan
ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepaskan ion H+ disebut ion sisa asam.
Basa Arrhenius adalah hidroksida logam, M(OH)x, yang dalam air terurai sebagai berikut.
M(OH)x ⎯⎯→ Mx+ + xOH–
Jumlah ion OH– yang dapat dilepaskan oleh satu molekul basa disebut valensi basa. (Yasin.
2010)
Tetapan Kesetimbangan Air
Persamaan ionisasi air dapat ditulis sebagai:
H2O(l) ←⎯⎯⎯⎯→ H+(aq) + OH–(aq)
Harga tetapan air adalah K[H2O]= [H+] [OH–]
Konsentrasi H2O yang terionisasi menjadi H+ dan OH– sangat kecil dibandingkan dengan
konsentrasi H2O mula-mula, sehingga konsentrasi H2O dapat dianggap tetap, maka harga K[H2O]
juga tetap, yang disebut tetapan kesetimbangan air atau ditulis Kw.
Jadi, Kw= [H+] [OH–]
Pada suhu 25 °C, Kw-nya adalah 1,0 × 10–14.
Harga Kw ini tergantung pada suhu, tetapi untuk percobaan yang suhunya tidak terlalu
menyimpang jauh dari 25 °C, harga Kw itu dapat dianggap tetap. Harga Kw pada berbagai suhu
dapat dilihat pada tabel berikut.(Maulana. 2013)
Pengukuran Derajat Keasaman (pH)
Untuk menyatakan tingkat atau derajat keasaman suatu larutan, pada tahun 1910, seorang ahli
dari Denmark, Soren Lautiz Sorensen memperkenalkan suatu bilangan yang sederhana. Bilangan
ini diperoleh dari hasil logaritma konsentrasi H+. Bilangan ini kita kenal dengan skala pH. Harga
pH berkisar antara 1 – 14 dan ditulis:
pH= -log [H+]
Analog dengan diatas, maka :
pOH= -log [OH–]
sedangkan hubungan antara pH dan pOH adalah:
Kw= [H+] [OH–]
pKw= pH + pOH
pada suhu 250C, pKw= pH + pOH=14
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa:
Larutan bersifat netral jika [H+] = [OH–] atau pH = pOH = 7.
Larutan bersifat asam jika [H+] > [OH–] atau pH < 7.
Larutan bersifat basa jika [H+] < [OH–] atau pH > 7.
Karena pH dan konsentrasi ion H+ dihubungkan dengan tanda negatif, maka makin besar
konsentrasi ion H+ makin kecil pH, dan karena bilangan dasar logaritma adalah 10, maka larutan
yang nilai pH-nya berbeda sebesar n mempunyai perbedaan ion H+ sebesar 10n. (Keenan. 1984)
Jadi dapat disimpulkan bahwa makin besar konsentrasi ion H+ makin kecil pH dan Larutan dengan
pH = 1 adalah 10 kali lebih asam daripada larutan dengan pH = 2.
Menentukan sifat suatu larutan juga dapat menggunakan beberapa cara lain seperti
menggunakan indikator. Indikator adalah suatu zat kimia yang warnanya tergantung pada
keasaman atau kebasaan larutan. Indikator yang biasa digunakan adalah kertas lakmus. Apabila
dicelupkan ke dalam larutan basa, kertas lakmus merah akan berubah warna menjadi biru,
sedangkan kertas lakmus biru akan berwana merah jika dicelupkan ke dalam larutan asam. Warna
lakmus semakin merah tua dengan nilai pH semakin kecil, sedangkan warna lakmus semakin biru
tua dengan nilai pH semakin besar, meskipun konsentrasi larutannya sama. Hal ini menunjukkan
kekuatan asam dan basa tiap-tiap larutan berbeda.
Cara lainnya adalah dengan menggunakan kertas indikator dan pH meter yang memiliki ketelitian
yang sangat tinggi.
Asam dan Basa yang ada pada Kehidupan
Senyawa asam banyak kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Semua senyawa asam
mempunyai rasa masam/kecut. Rasa masam/kecut ini desebabkan oleh adanya senyawa yang
bersifat asam. Buah-buahan memiliki rasa asam berkat adanya senyawa asam yang dikandungnya.
Jeruk mengandung asam sitrat sedangkan anggur mengandung asam tartrat. Air susu yang basi
mengandung asam laktat. Selain itu, senyawa asam dapat kita temukan juga dalam lambung dan
darah. Dalam lambung terdapat asam klorida yang berperan pada pencernaan makanan serta dalam
darah terdapat asam karbonat dan asam phosfat yang berperan pada pengangkutan makanan.
(Aufar. 2012)
Seperti halnya asam, basa juga banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Para ibu
rumah tangga menggunakan abu gosok untuk mencuci piring. Basa dalam abu gosok dapat bereaksi
dengan kotoran berupa lemak/minyak , sehingga menjadi larut. Sedangkan, untuk mencuci piring
yang sangat berminyak perlu menggunakan sabun. Sabun dapat melarutkan lemak dan minyak.
Para penderita magh selalu minum obat berupa magnesium hidroksida atau aluminium hidroksida.
(Aufar. 2012)
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksana pada hari kamis, tanggal 19 oktober 2018, pukul 08.00 sampai
dengan selesai. Tempat pelaksanaan di Laboratorium Terpadu MIPA universitas PGRI Palembang.
3.2 ALAT DAN BAHAN
3.2.1 Alat
ph Meter
Kertas Lakmus
labu ukur
Beker Gelas
3.2.2 Bahan
larutan buffer
Regen
aquades
3.3 Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Tuangkan larutan pada gelas beker
3. Masukkan kertas lakmus kesetiap masing-masing gelas dan lihat perubahannya
4. Setelah itu masukkan ph meter kesetiap bahan untuk melihat tingkat keasam dan basa nya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
TABEL 4.1.1 PERUBAHAN WARNA SETELAH DITETESI REGEN
N JENIS AIR WARNA AWAL WARNA SETELAH DI
O TETESI REGEN
1 Air vit putih bening warna hijau
2 Air lee mineral putih bening warna biru
3 Air galon putih bening warna kekuningan muda
4 Air galon putih bening warna hijau muda
5 Air galon putih bening warna hijau kekuninagan
TABEL 4.1.2 PENGUKURAN TINGKAT ASAM DAN BASA
NO PH METER TINGKAT KE ASAMAAN ASAM/BASA
1 Air vit 7,1 Basa
2 Air lee mineral 7,8 Basa
3 Air galon 6,9 Asam
4 Air galon 7,4 Basa
5 Air galon 7,1 Basa
4.2 PEMBAHASAN
Tingkat keasam dan basahan dapat dilihat melalui beberapa cara:
1. ph meter dengan mencelupkan ph meter kita akan mendapatkan tingkat ke asaman
yang sesuai dengan jenis air [Link] ph meter ini juga kita akan
mendapatkan data keasaman secara kualitatif detail dan terhitung.
2. Regen dengan menggunakan regen kita akan mendapatkan tingkat keasamaan
dengan cara kuantitatif kurang detail,dan juga regen mempunyai kekurangan lain
seperti kita tidak dapat mengetahui indikator keasamanya berapa tetapi kita hanya
dapat melihat apakah asam atau tidak dengan meneteskan1 tetes regen tersebut
pada masing-masing ait.
3. lakmus kertas ini juga akan memberikan data secara kuantitatif atau kurang detail
karena indikator tingkat ph atau keasamanya tidak di ketahui secara angka tetapi
warna setelah di celupkan pada airyang telah di tetesi regen tersebut.
Dari contoh di atas dapat kita ketahui bahwa msing-masing alat untuk mengukur
tingkat ke asaman mempunyai kekurangan dan [Link] kita mau mendapatkan daata
secara kualitatif saya sarankan memakai ph meter, tetapi jika anda ingin mengukur tingkat
keasaman dengan simple dan mudah tetapi tidak detail anda dapat memakai lakmus kertas
anada akan tahu tingkat keasamansetelah melihat warnanya berubah ketika telah di campur
regen yang [Link] dari masing-masing air tersebut mempunyai kadar yang berbeda-
beda,dan tingkat indikator yang berbeda-beda,asam secara umum merupakan senyawa
kimia yang di larutkan di dalam air bila di larutkan di dalam air akan menghasilkan larutan
ph lebih kecil dari 7.
Dengan berbagai rasa seperti masam ketika di larut kan dalam air jika di sentuh asam
dapat merusak kulit jika di sentuh terutama bila asam nya asam [Link] listrik asam
walaupun tidak selalu ionik ,merupakan cairan [Link] hasil pengamatan asam juga
mempunyai manfaat dan kerugian yang berdasarkan sifatnya masing-masing.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+, sedangkan basa adalah zat yang
dalam air melepaskan ion OH–. Jadi pembawa sifat asam adalah ion H+, sedangkan pembawa sifat
basa adalah ion OH–.
Untuk menyatakan tingkat atau derajat keasaman suatu larutan, pada tahun 1910, seorang
ahli dari Denmark, Soren Lautiz Sorensen memperkenalkan suatu bilangan yang sederhana.
Bilangan ini diperoleh dari hasil logaritma konsentrasi H+. Bilangan ini kita kenal dengan skala
pH. Harga pH berkisar antara 1 – 14.
5.2 Saran
Laporan praktikum yang kami buat ini masih perlu untuk di perbaiki,karena Pada
praktikum ini di perlukan ketelitian yang tinggi. Oleh sebab itu kami mengharapkan
saran,pendapat,maupun kritikan terhadap laporan kami ini,supaya laporan kami ini dapat di
sempurnakan.
DAFTAR PUSTAKA
Bandoqueen. [Link]-kimia-pengujian-ph-dengan. ( [Link]) diakses pada
tanggal 10 oktober 2018
[Link]-ph-suatu-larutan. ( [Link]) diakses pada tanggal 10
oktober 2018
[Link]-kimia-tentang-ph-indikator.( [Link]) diakses pada
tanggal 10 oktober 2018
[Link] Sari Kimia. ( [Link]) diakses pada tanggal 10 oktober 2018
Tim Redaksi [Link] [Link]:Putra Nugraha. ( [Link]) diakses pada
tanggal 10 oktober 2018