0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan3 halaman

Tiga Perspektif Keputusan Konsumen

Diunggah oleh

alvikajustin2001
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan3 halaman

Tiga Perspektif Keputusan Konsumen

Diunggah oleh

alvikajustin2001
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1. a.

Model keputusan konsumen dapat dibedakan menjadi tiga perspektif utama: perspektif
pengambilan keputusan, perspektif eksperensial, dan perspektif pengaruh perilaku.

Perspektif pengambilan keputusan melihat konsumen sebagai individu rasional yang melalui tahapan
logis, mulai dari pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian,
hingga evaluasi pasca pembelian. Dalam perspektif ini, proses pembelian dianggap sebagai tindakan
terencana yang memaksimalkan utilitas atau manfaat yang diharapkan. Perspektif eksperensial melihat
konsumen lebih fokus pada emosi dan pengalaman yang diperoleh selama proses konsumsi. Keputusan
pembelian sering kali didorong oleh aspek perasaan, estetika, atau kesenangan, sehingga pengalaman
subjektif sangat mempengaruhi keputusan mereka. Dalam pendekatan ini, keputusan tidak selalu logis
dan bisa sangat dipengaruhi oleh mood atau suasana hati saat berbelanja. Perspektif pengaruh perilaku
lebih menekankan pengaruh faktor eksternal atau lingkungan terhadap perilaku konsumen. Faktor-
faktor seperti norma sosial, tekanan kelompok, iklan, dan promosi dapat memengaruhi keputusan tanpa
adanya proses evaluasi yang panjang dari konsumen. Dalam perspektif ini, keputusan sering kali tidak
disadari dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali konsumen.

b. Sebagai contoh, dalam perspektif pengambilan keputusan, seseorang membeli mobil baru setelah
mempertimbangkan berbagai aspek seperti harga, fitur keselamatan, konsumsi bahan bakar, dan merek.
Keputusan ini rasional dan mengikuti langkah-langkah yang terstruktur, sehingga termasuk dalam
perspektif ini. Dalam perspektif eksperensial, konsumen mungkin membeli tiket konser atau liburan
spontan ke tempat wisata. Keputusan ini lebih didorong oleh keinginan untuk mendapatkan
pengalaman atau kepuasan emosional tanpa mempertimbangkan aspek rasional. Pengalaman dan
perasaan positif yang diharapkan dari pembelian ini menjadikannya termasuk dalam perspektif
eksperensial. Dalam perspektif pengaruh perilaku, seseorang mungkin membeli produk tertentu karena
pengaruh iklan atau dorongan dari teman. Misalnya, seorang remaja membeli sepatu merek tertentu
karena hampir semua teman di sekolahnya memiliki sepatu itu, meskipun ia sebenarnya tidak
membutuhkan sepatu baru. Faktor lingkungan dan tekanan kelompok berperan dominan dalam
keputusan ini, sehingga sesuai dengan perspektif pengaruh perilaku.

2. a. Kedua iklan Nike pada Gambar 1 dan Gambar 2 menggunakan pesan motivasi yang kuat sebagai
daya tarik untuk konsumen. Gambar 1 menunjukkan kaos dengan tulisan “DAMN I’M GOOD,” yang
memberikan kesan percaya diri dan kebanggaan. Sementara itu, Gambar 2 menampilkan seorang atlet
dengan tulisan “MAKE YOURSELF PROUD.” Keduanya mengedepankan pesan tentang pencapaian
pribadi dan kepercayaan diri. Faktor internal konsumen yang digunakan sebagai daya tarik dalam iklan
ini adalah kebutuhan akan pengakuan diri, kepercayaan diri, dan motivasi untuk meraih prestasi. Pesan
ini mendorong konsumen untuk merasa termotivasi dan percaya pada kemampuan mereka, sehingga
mereka tertarik untuk membeli produk yang dapat mendukung atau memperkuat citra diri tersebut.
b. Faktor internal konsumen seperti kepercayaan diri, motivasi, dan harga diri sangat mempengaruhi
keputusan mereka dalam memilih produk. Dalam konteks ini, konsumen yang memiliki dorongan kuat
untuk meningkatkan harga diri dan pencapaian cenderung tertarik pada produk yang dapat menunjang
citra positif tersebut. Ketika konsumen melihat iklan dengan pesan yang membangkitkan semangat dan
memberi dorongan untuk bangga pada diri sendiri, mereka akan merasa bahwa produk Nike adalah
representasi dari nilai-nilai tersebut. Faktor-faktor ini memicu konsumen untuk mengambil keputusan
pembelian karena mereka merasa bahwa produk Nike dapat mendukung mereka dalam mencapai
tujuan pribadi atau menguatkan citra diri yang positif.

c. Faktor-faktor seperti kepercayaan diri dan motivasi yang diangkat dalam iklan ini dapat mendorong
konsumen untuk membeli produk Nike karena produk tersebut dipersepsikan sebagai alat yang
membantu mereka meraih tujuan pribadi. Konsumen yang terpengaruh oleh pesan motivasi dalam
iklan tersebut akan merasa bahwa produk Nike tidak hanya sekadar pakaian atau sepatu olahraga,
tetapi juga simbol dari pencapaian dan semangat mereka. Ketika konsumen merasa bahwa produk
tersebut dapat membantu mereka merasa lebih percaya diri dan bangga dengan diri mereka sendiri,
mereka akan lebih cenderung untuk melakukan pembelian.

3. a. Pengetahuan konsumen adalah pemahaman, informasi, dan pengalaman yang dimiliki konsumen
tentang suatu produk, layanan, atau pasar. Pengetahuan ini mencakup pemahaman tentang manfaat,
cara kerja, risiko, dan nilai dari produk atau layanan tersebut. Pengetahuan konsumen berperan penting
dalam perilaku konsumen karena semakin banyak informasi yang dimiliki konsumen, semakin besar
kemungkinan mereka untuk membuat keputusan yang terinformasi dan rasional. Dalam konteks
transaksi non-tunai, pengetahuan konsumen dapat mendorong mereka untuk beralih dari pembayaran
tunai ke non-tunai karena mereka lebih memahami keuntungan dan kemudahan yang ditawarkan.
Pengetahuan ini juga meningkatkan rasa percaya diri konsumen dalam mencoba metode pembayaran
baru yang mungkin sebelumnya tidak mereka pahami sepenuhnya.

b. Dalam menyusun kampanye Gerakan Nasional Non Tunai (GNTT), terdapat beberapa aspek
pengetahuan produk yang perlu ditekankan untuk meningkatkan adopsi transaksi non-tunai:

• Manfaat dan Keunggulan: Menjelaskan kepada konsumen mengenai manfaat transaksi non-tunai,
seperti kemudahan dalam bertransaksi tanpa perlu membawa uang tunai, keamanan yang lebih baik,
dan kenyamanan saat melakukan pembayaran di mana saja dan kapan saja, termasuk melalui
smartphone. Dengan memahami manfaat ini, konsumen akan lebih terdorong untuk beralih ke metode
pembayaran non-tunai.
• Cara Penggunaan: Banyak konsumen mungkin ragu menggunakan transaksi non-tunai karena
kurangnya pemahaman tentang cara penggunaannya. Kampanye dapat mencakup panduan langkah
demi langkah, seperti cara mengunduh dan mengatur aplikasi e-wallet, menggunakan kartu debit atau
kredit, serta keamanan yang harus diperhatikan saat menggunakan smartphone untuk bertransaksi.
Informasi ini dapat mengurangi rasa takut atau kebingungan konsumen, sehingga mereka lebih percaya
diri untuk mencoba.
• Keamanan dan Privasi: Banyak konsumen masih khawatir tentang keamanan transaksi non-tunai,
terutama yang melibatkan aplikasi atau internet banking. Kampanye bisa menjelaskan tentang fitur
keamanan yang disediakan, seperti otentikasi dua faktor, enkripsi data, serta kebijakan perlindungan
konsumen dari pihak bank atau penyedia layanan. Informasi ini dapat membantu menghilangkan
kekhawatiran konsumen mengenai risiko kehilangan uang atau data pribadi.
• Aksesibilitas dan Kemudahan: Menginformasikan kepada konsumen bahwa transaksi non-tunai dapat
digunakan di berbagai tempat, termasuk toko ritel, transportasi, hingga pembayaran tagihan, membuat
konsumen lebih sadar akan aksesibilitas yang luas dari metode ini. Hal ini juga mendorong mereka
untuk mulai mencoba transaksi non-tunai karena mereka tahu bahwa layanan ini dapat diakses dengan
mudah.

Anda mungkin juga menyukai