Pengetahuan Masyarakat tentang Vaksin COVID-19
Pengetahuan Masyarakat tentang Vaksin COVID-19
PROPOSAL PENELITIAN
C01418077
2022
BAB I
PENDAHULUAN
:
Artinya : Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, "(Ya Tuhanku),
sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha
Penyayang di antara semua penyayang.”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, identifikasi masalahnya yaitu :
1. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala seksi Kelurahan Limba U 2
menyatakan bahwa sebagian masyarakat memiliki kendala untuk melakukan
vaksinasi karena ada penyakit komorbid
2. Masyarakat cemas dengan adanya reaksi efek samping yang timbul dari
vaksinasi
3. Masyarakat belum memahami kegunaan dari vaksinasi ini
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan diteliti
ini adalah “bagaimana tingkat pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam
penerimaan vaksinasi Covid 19?”
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan dan
perilaku masyarakat terhadap penerimaan vaksinasi covid-19.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Manfaat dari penelitian ini secara teoritis untuk pengembangan
wawasan pengetahuan peneliti tentang tingkat pengetahuan dan perilaku
masyarakat dalam penerimaan vaksinasi Covid 19.
1.5.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Kelurahan Limba U 2
Manfaat penelitian ini untuk pihak kelurahan diharapkan dapat
menambah informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan
pengetahuan terkait dengan pemberian vaksinasi.
2. Bagi Masyarakat
Manfaat penelitian ini untuk masyarakat diharapkan dapat menjadi
tambahan informasi serta pengetahuan yang dapat menambah
wawasan pemahaman tentang vaksin Covid-19.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat menjadi rujukan dan acuan bagi penelitian
selanjutnya dalam permasalahan yang serupa serta menghasilkan
informasi yang berguna dalam bidang kesehatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Covid-19
2.1.1 Definisi
COVID-19 ialah penyakit menular yang bisa ditularkan antar manusia dan
hewan. Gejala corona virus disease 19 umumnya menyerang pernapasan akut
yang mengakibatkan penderita menjadi sesak nafas, batuk, dan demam. COVID-19
juga bisa menyebabkan penderita mengalami pneumonia, komplikasi lainnya bisa
mengakibatkan kerusakan pada ginjal dan dapat menyebabkan kematianpada
kasus yang parah (Syakurah & Moudy, 2020 ; Iswandi & Roro, 2020 ; Basuki,
Faizah, Pitaloka, & Suhartono, 2021).
2.1.2 Etiologi
Pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease2019) yang disebabkan oleh virus
SARSCoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronaviru s-2) menjadi peristiwa
yang mengancam kesehatan masyarakat secara umum dan telah menarik perhatian
dunia. Penularan virus SARS-CoV-2 dari hewan ke manusia utamanya disebabkan
oleh konsumsi hewan yang terinfeksi virus tersebut sebagai sumber makanan
manusia, utamanya hewan kelelawar.
2.1.3 Patofisiologi
Proses penularan COVID-19 disebabkan oleh pengeluaran droplet yang
mengandung virus SARS-CoV-2 ke udara oleh pasien terinfeks i pada saat batuk
ataupun bersin. Droplet di udara selanjutnya dapat ter hirup oleh manusia lain di
dekatnya yang tidak terinfeksi COVID-19 melalui hidung ataupun mulut. Droplet
selanjutnya masuk menembus paruparu dan proses infeksi pada manusia yang
sehat berlanjut (Shereen, Khan, Kazmi, Bashir, & Siddique, 2020; Wei et al., 2020).
Secara klinis, representasi adanya infeksi virus SARS-CoV-2 pada manusia
dimulai dari adanya asimtomatik hingga pneumonia sangat berat, dengan sindrom
akut pada gangguan pernapasan, syok septik dan kegagalan multiorgan, yang
berujung pada kematian (Guan et al., 2020).
2.1.4 Epidemiologi
Hingga 28 Maret 2020, jumlah kasus infeksi COVID-19 terkonfirmasi
mencapai 571.678 kasus. Awalnya kasus terbanyak terdapat di Cina, namun saat ini
kasus terbanyak terdapat di Italia dengan 86.498 kasus, diikut oleh Amerika dengan
85.228 kasus dan Cina 82.230 kasus. Virus ini telah menyebar hingga ke 199
negara. Kematian akibat virus ini telah mencapai 26.494 kasus. Tingkat kematian
akibat penyakit ini mencapai 4-5% dengan kematian terbanyak terjadi pada
kelompok usia di atas 65 tahun. Indonesia melaporkan kasus pertama pada 2 Maret
2020, yang diduga tertular dari orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Kasus di
Indonesia pun terus bertambah, hingga tanggal 29 Maret 2020 telah terdapat 1.115
kasus dengan kematian mencapai 102 jiwa. Tingkat kematian Indonesia 9%,
termasuk angka kematian tertinggi.
Berdasarkan data yang ada umur pasien yang terinfeksi COVID-19 mulai dari
usia 30 hari hingga 89 tahun. Menurut laporan 138 kasus di Kota Wuhan, didapatkan
rentang usia 37–78 tahun dengan rerata 56 tahun (42-68 tahun) tetapi pasien rawat
ICU lebih tua (median 66 tahun (57-78 tahun) dibandingkan rawat non-ICU (37-62
tahun) dan 54,3% laki-laki. Laporan 13 pasien terkonfirmasi COVID-19 di luar Kota
Wuhan menunjukkan umur lebih muda dengan median 34 tahun (34-48 tahun) dan
77% laki laki.
2.1.5 Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis pasti atau kasus terkonfirmasi ditentukan berdasarkan hasil
pemeriksaan ekstraksi RNA virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2
(SARS-CoV-2). COVID-19 menggunakan reverse transcription polymerase chain
reaction (RT-PCR) untuk mengekstraksi 2 gen SARS-CoV-2. Contoh uji yang dapat
digunakan adalah dari sampel berupa swab tenggorok. Swab nasofaring baik untuk
evaluasi influenza tetapi untuk virus corona lain swab nasofaring yang diambil
menggunakan swab dari dacron atau rayon bukan kapas. Pemeriksaan ulang perlu
dilakukan untuk menentukan respons terapi seiring proses perbaikan klinis. Bila
didapatkan perbaikan klinis dan hasil RTPCR negatif 2 kali berturut turut dalam 2-4
hari negatif pasien dinyatakan sembuh.
2.1.6 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan
pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 5-
6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada kasus COVID-19 yang berat
dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan
kematian. Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan pada sebagian besar kasus
adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas, dan hasil
rontgen menunjukkan infiltrat pneumonia luas di kedua paru (Kemenkes, 2020).
2.1.7 Penatalaksanaan
Berbagai penelitian baik untuk pencegahan dan pengobatan telah
dikembangkan untuk menanggulangi pandemi ini. Salah satunya adalah dengan
mencegah penyebaran Covid-19 melalui vaksinasi Covid-19 untuk menciptakan
kekebalan kelompok (Herd Immunity) agar masyarakat menjadi lebih produktif dalam
menjalankan aktivitas kesehariannya (Kemkes, 2021).
Terobosan terbaru saat ini yang dilakukan untuk mengatasi pandemi covid-
19 adalah dengan melakukan vaksinasi untuk menciptakan herd immunity pada
masyarakat. Namun program vaksinasi ini sendiri mengalami berbagai hambatan
seperti adanya penolakan dari masyarakat, ketakutan dengan dampak akibat
vaksinasi (KIPI), beredarnya hoax terkait vaksinasi, dan lain sebagainya. Fakta
dilapangan menunjukkan masih sering ditemukan masyarakat yang menolak untuk
ambil bagian dalam program vaksinasi yang dilakukan karena takut dampak dari
vaksin yang disuntikkan dalam tubuh serta masih adanya keraguan mengenai
efektivitas vaksin yang disuntikkan karena banyaknya vaksin yang ada.
2.1.8 Pencegahan
Social distancing merupakan salah satu langkah pencegahan dan
pengendalian infeksi virus Corona dengan menganjurkan orang sehat untuk
membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. ada
pula istilah lain yang berkaitan dengan upaya pencegahan infeksi COVID-19, yaitu
protokol isolasi mandiri. Isolasi mandiri adalah protokol yang mewajibkan setiap
orang untuk tinggal di dalam rumah atau tempat tinggal masing-masing sambil
melakukan upaya pembatasan fisik dengan orang lain. Penggunaan masker juga
merupakan salah satu komponen penting dalam upaya pencegahan penularan
COVID-19. Masker adalah alat pelindung diri yang sangat penting bagi masyarakat.
2.2 Vaksin Covid-19
2.2.1 Definisi
Vaksinasi Covid-19 sebagai sebuah program kebijakan pemerintah di seluruh
dunia yang bertujuan untuk mengurangi penularan Covid-19, menurunkan angka
kesakitan, kematian akibat Covid-19 dan tercapainya kekebalan kelompok di
masyarakat (herd immunity) serta melindungi masyarakat dari penyakit Covid-19
agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi. Kekebalan kelompok hanya dapat
terbentuk apabila cakupan vaksinasi tinggi dan merata di seluruh wilayah. Upaya
pencegahan melalui pemberian program vaksinasi, jika dinilai dari sisi ekonomi,
akan jauh lebih hemat biaya, apabila dibandingkan dengan upaya pengobatan
(Arumsari & dkk, 2021)
2.2.2 Target Sasaran Vaksinasi Covid-19
Dari laman resmi satgas covid-19 dilaporkan, hingga pertengahan Juni 2021
dari target sasaran vaksinasi covid-19 tahap 1 (dosis 1) sebanyak 181.554.465
penduduk, tercapai sebanyak 22.873.342 (12,60%) penduduk yang mendapatkan
vaksinasi ke-1, sedangkan untuk vaksinasi covid-19 tahap 2 (dosis 2) tercapai
sebanyak 12.212.906 (6,73%) penduduk (KPCPEN, 2021).
Menurut data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada 23
September 2021 total dosis vaksin Covid-19 yang telah diberikan sejak dimulainya
program vaksinasi yaitu bulan Januari 2021 hingga saat ini mencapai 83,3 juta untuk
dosis pertama atau 39,97% dari target vaksinai yaitu sekitar 208 juta penduduk.
Sedangkan dosis kedua sebanyak 47 juta dosis atau sekitar 22,56 % dari target
capaian vaksin.
2.2.3 Pengembangan Vaksin Covid-19
a) Subunit Vaksin
Vaksin subunit mencakup satu atau lebih antigen dengan imunogenisitas
kuat yang mampu menstimulasi sistem imun inang secara efisien. Secara umum,
jenis vaksin ini lebih aman dan lebih mudah untuk diproduksi, tetapi seringkali
membutuhkan penambahan bahan pembantu untuk memperoleh respon imun
protektif yang kuat. Sejauh ini, beberapa lembaga telah memprakarsai program
vaksin subunit SARS-CoV-2, dan hampir semuanya menggunakan protein sebagai
antigen.
b) Vaksin mRNA
Vaksin mRNA adalah teknologi yang berkembang pesat untuk mengobati
penyakit menular dan kanker. Vaksin berbasis mRNA mengandung mRNA yang
mengkode antigen, yang diterjemahkan dimesin seluler inang dengan vaksinasi.
Vaksin mRNA memiliki keunggulan dibandingkan vaksin konvensional, dengan tidak
adanya integrasi genom, respon imun yang meningkat, perkembangan yang cepat,
dan produksi antigen multimeric.
Berbeda dengan vaksin konvensional yang diproduksi dalam sistem kultur
sel, vaksin mRNA dirancang dalam silico, yang memungkinkan pengembangan dan
evaluasi efikasi vaksin yang cepat. Moderna Inc. sedang mempersiapkan studi fase I
dengan dukungan keuangan dari CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness
Innovations).
c) Vaksin DNA
Vaksin DNA biasanya terdiri dari molekul DNA plasmid yang mengkodekan
satu atau lebih antigen. Mereka lebih unggul dari vaksin mRNA dalam formulasi
yang diperlukan untuk stabilitas dan efisiensi pengiriman, namun mereka harus
memasukkan nukleus yang dapat membawa risiko integrasi vctor dan mutasi pada
genom inang.
d) Vaksin Live Vector
Vaksin vektor langsung adalah virus hidup (vektor) yang mengekspresikan
antigen heterolog. Mereka dikarakterisasi dengan menggabungkan imunogenisitas
yang kuat dari vaksin yang dilemahkan hidup dan keamanan vaksin subunit, dan
secara luas digunakan untuk menginduksi imunitas seluler in vivo.
e) Vaksin Peptida Sintetis atau Epitop
Vaksin ini hanya mengandung fragmen antigen utuh tertentu dan biasanya
dibuat dengan teknik sintesis kimia. Mereka lebih mudah dalam persiapan dan
kontrol kualitas. Namun, berat molekul rendah dan kompleksitas struktural dari
vaksin ini biasanya menghasilkan imunogenisitas yang rendah, sehingga modifikasi
struktural, sistem pengiriman, dan bahan pembantu juga diperlukan dalam formulasi.
2.3 Pengetahuan
2.3.1 Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba menurut Bachtiar yang dikutip dari Notoatmodjo (2015).
2.3.2 Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
1) Faktor Internal
a) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan
manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan
kebahagiaan.
b) Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
c) Umur
Bertambahnya umur seseorang, tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan
masyarakat seseorang yang lebih dewasa lebih dipercaya dari orang yang belum
tinggi kedewasaannya.
2) Faktor Eksternal
a) Lingkungan
Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan
pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau
kelompok b) Sosial budaya Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat
mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.
c. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat
yang berbeda – beda. Secara garis besarnya dibagi 6 tingkat, yakni : (Notoatmodjo,
2014).
1) Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
2) Memahami (Comprehensif)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat
mengintreprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
3) Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada
situasi yang lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang
terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki.
6) Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku
dimasyarakat.
d. Pengukuran
Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara
atau angket yang menayakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2014).
Cara mengukur pengetahuan dengan memberikan pertanyaan – pertanyaan,
kemudian dilakukan penilaian 1 untuk jawaban benar dan nilai 0 untuk jawaban
salah. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor yang
diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya prosentase kemudian
digolongkan menjadi 3 kategori yaitu kategori baik (76 -100%), sedang atau cukup
(56 – 75%) dan kurang (Arikunto, 2013).
2.4 Perilaku
2.4.1 Definisi Perilaku
Perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi
dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak
tampak, dari yang dirasakan sampai paling yang tidak dirasakan (Okviana, 2015).
Perilaku merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta
interaksi manusia dengan lingkunganya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan,
sikap dan tindakan. Perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap
stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya (Notoatmojo, 2014).
2.4.2 Jenis-Jenis Perilaku
Jenis-jenis perilaku individu menurut Okviana (2015):
1. Perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan saraf
2. Perilaku tak sadar, perilaku yang spontan atau instingtif
3. Perilaku tampak dan tidak tampak
4. Perilaku sederhana dan kompleks
5. Perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor.
2.4.3 Bentuk-bentuk perilaku
Menurut Notoatmodjo (2011), dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus, maka
perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Bentuk pasif /Perilaku tertutup (covert behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup.
Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi,
pengetahuan atau kesadaran dan sikap yang terjadi pada seseorang yang
menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
2. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau
praktik, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat orang lain.
2.4.4 Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Faktor predisposisi (predisposing factors) yang mencakup pengetahuan,
sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
a. Pengetahuan apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui
proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka
perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan.
b. Sikap Menurut Zimbardo dan Ebbesen, sikap adalah suatu predisposisi (keadaan
mudah terpengaruh) terhadap seseorang, ide atau obyek yang berisi komponen-
komponen cognitive, affective danbehavior (dalam Linggasari, 2008)
Faktor pemungkin (enabling factor),
Yang mencakup lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-
fasilitas atau sarana-sarana keselamatan kerja, misalnya ketersedianya alat
pendukung, pelatihan dan sebagainya.
Faktor penguat (reinforcement factor), faktor-faktor ini meliputi undang-
undang, peraturan-peraturan, pengawasan dan sebagainya menurut Notoatmodjo
(2007).
2.5 Penelitian Relevan
BAB III
METODE PENELITIAN