DISTILASI
Zat cair merupakan bahan homogen, yang memiliki volume tertentu dan
bentuknya tergantung pada tempat dimana zat cair ini berada. Daya ikat antar
molekul zat cair tidak sekuat zat padat yang dapat membentuk kerangka kristal.
Meskipun demikian, suatu cairan memiliki suatu daya untuk menahan bahan ini
bersifat seperti gas karena volume (atau diperlihatkan dengan densitasnya)
hampir tidak dipengaruhi oleh perubahan temperatur atau tekanan (tabel 3.1).
Tabel 3.1 Pengaruh temperatur terhadap densitas
Senyawa T (°C) Densitas (g/ml)
n-Oktana ,C18H18 25 0,70
(cair) 110 0,63 (10 % turun)
n-Butana, C4H10 25 0,0024
(gas) 110 0,0018 (25 % turun)
Air 4 1,00
80 0,97 (turun 3 %)
3.1. Konsep titik didih
uap Bila suatu cairan diletakkan dalam ruang tertutup maka akan terjadi
suatu keadaan dimana sebagian molekul masuk ke dalam fasa uap,
dan juga, molekul-molekul fasa uap akan masuk kembali ke dalam
cairan fasa cair. Pada suatu saat, kesetimbangan fasa terjadi, dimana
molekul-molekul keluar dan masuk kembali ke fasa cair memiliki
kecepatan sama.
Molekul-molekul yang berada dalam keadaan uap memiliki
suatu tekanan, disebut sebagai tekanan uap. Tekanan uap suatu
zat cairan
Gambar 3-1 Hubungan antara tekanan uap (skala log) dengan
temperatur untuk (A) benzena, (B) air dan (C) bromobenzena
tergantung pada temperatur, dan nilai ini tetap pada suhu
tertentu.
Jika temperatur zat cair dinaikkan hingga pada suatu keadaan dimana tekanan uap
melebihi tekanan udara luar maka akan terlihat permukaan zat cair mulai mendidih.
Titik didih suatu zat dapat didefinisikan sebagai temperatur dimana tekanan uap cairan
sama dengan tekanan udara luar. Jika tekanan udara diturunkan, suhu yang diperlukan
untuk menyamakan tekanan uap dengan tekanan udara luar akan turun pula. Harga
titik didih lebih peka terhadap perubahan tekanan udara dari pada titik leleh. Pada
umumnya, titik didih zat cair akan turun sekitar 0,5°C dengan penurunan tekanan
10mmHg. Atas dasar konsep ini, jika titik didih hendak digunakan sebagai kriteria
identifikasi, maka dalam melaporkannya, harus disertakan tekanan udara saat
analisisnya.
Aluran log tekanan uap dari zat cair dan titik didihnya merupakan suatu garis
lurus (gambar 3-1). Grafik seperti ini sangat berguna dalam memperkirakan harga titik
didih suatu zat cair pada sembarang tekanan. Suatu contoh, bromobenzene akan
mendidih pada suhu 70°C untuk tekanan 40 mmHg, sementara pada tekanan atmosfer
(760mmHg) mendidih pada 165°C. Fenomena perubahan seperti ini merupakan dasar
dari distilasi vakum (sub bab 3.6).
Senyawa-senyawa dari suatu golongan tertentu, seperti pada hidrokarbon,
menunjukkan suatu hubungan spesifik antara titik didih (atau tekanan uap) dengan
berat molekulnya. Semakin besar molekul maka semakin besar pula energi kinetik yang
diperlukan untuk melemparkan molekul-molekul ini keluar dari fasa cair menuju fasa
uapnya. Akibatnya, semakin berat suatu molekul maka titik didihnya akan lebih besar
(gambar 3-2)
Gambar 3-2 Hubungan jumlah atom
karbon (pada alkana) dengan titik didih
3.2. Distilasi Zat Cair Murni
Distilasi adalah suatu proses pemurnian senyawa organik cair, yakni suatu proses
yang didahului dengan penguapan cairan (dengan memanaskannya), kemudian
mengembunkan uap yang terbentuk sehingga mencair kembali. Teknik distilasi
dapat dibedakan ke dalam lima jenis, yaitu destilasi sederhana, destilasi
bertingkat, destilasi azeotro, destilasi uap, dan destilasi vakum.
1. Distilasi sederhana
Teknik pemisahan kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang
memiliki perbedaan titik didih yang jauh.
2. Distilasi bertingkat
Untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik
didih yang dekat.
3. Distilasi Azeotrop
Memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang sulit
dipisahkan) biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat
memecah ikatan azeotrop tersebut, atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
4. Distilasi uap
Memisahkan zat senyawa cair yang tidak larut dalam air dan titik didihnya
cukup tinggi. Aplikasi distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk
alam seperti minyak eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk
ekstraksi minyak dari tumbuhan lainnya Distilasi uap adalah istilah umum
untuk distilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air.
5. Distilasi vakum
Memisahkan dua komponen yang titik didihnya sangat tinggi, metode yang
digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1atm
sehingga titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang
digunakan untuk mendistilasinya tidak terlalu tinggi.
Selanjutnya, cairan ini ditampung dalam suatu wadah yang telah disiapkan.
Grafik antara suhu distilasi dan jumlah distilate yang diperoleh merupakan
garis lurus (gambar 3.3)
Td
(°C)
Gambar 3.3 Grafik distilat zat murni
3.1. Distilasi Campuran Zat Cair
Destilasi digunakan untk memisahkan campuran yang memiliki
perbedaan tingkat volatilitas pada suhu dan tekanan tertentu. Proses ini
merupakan proses fisika. Sistilasi didasarkan pada perbedaan titik didih
cairan pada tekanan tertentu. Proses distilasi diawali dengan penguapan
campuran diikuti proses pendinginan dan pengembunan. Dalam suatu sistem
campuran yang mengandung dua atau lebih komponen, jumlah tekanan uap
total merupakan fungsi dari tekanan uap dan fraksi mol masing-masing
komponen pembentuknya. Hubungan ini dituliskan dalam hukum Roult,
P = PA NA + PB NB + PC NC + ... (1)
Jika suatu larutan mengandung dua komponen A dan B, titik didih akan
berlangsung bila jumlah PANA + PBNB sama dengan tekanan udara luar (Patm),
P = PANA + PBNB = Patm (2)
Andaikan satu diantara komponen pembentuk larutan ini memiliki tekanan uap
yang lebih tinggi maka uap dari sistem akan kaya dengan kompnen yang lebih
volatil (mudah menguap). Meski demikian, peralatan distilasi biasa tidak dapat
memisahkan campuran seperti ini mengingat kedua komponen terdapat dalam
fasa uap bersama-sama. Bila perbedaan tekanan uap ini sangat besar, dan P BNB
bisa diabaikan (terlalu kecil dibanding dengan PANA), maka persamaan terakhir
akan menjadi,
P = PA NA = Patm. (3)
Keadaan terakhir ini dapat diaplikasikan pada campuran tersuspensi dimana bagian
padatan yang tidak mudah menguap memilki harga PB= 0.
Gambar 3.4. Alat distilasi sederhana
3.3. Distilasi terfraksi
Bila tekanan uap masing-masing komponen pembentuk suatu campuran
saling berdekatan (selisih titik didih kecil), pemisahan dengan menggunakan
distilasi sederhana tidak dapat memberi hasil yang baik. Untuk memisahkan
komponen seperti ini dapat digunakan distilasi terfraksi (bertingkat)
Anggap suatu campuran mengandung dua komponen cair yang berada dalam
keadaan "hampir setimbang" dengan keadaan uapnya : uap akan
mengandung lebih banyak komponen yang mudah menguap. Bila uap ini
diembunkan dan diasingkan dari sistem maka suatu "sistem kesetimbangan
baru cair-uap" akan terjadi. Sistem ini akan mengandung lebih banyak
komponen yang mudah menguap. Beberapa seri kesetimbangan penguapan-
pengembunan dapat dibayangkan, sehingga pada akhir proses distilasi akan
dihasilkan suatu cairan yang mengandung komponen yang mudah menguap
dalam keadaan murni.
Gambar 3-5. Kolom untuk distilasi terfraksi:
A. kolom "Buble plate", B. Kolom kontinyu
Pemurnian zat cair seperti ini dijalankan dengan meng-gunakan berbagai jenis
kolom distilasi. Gambar 3.5 menunjukkan dua macam kolom fraksinasi yang
mudah didapatkan di bahan alam,
A : kolom terisolasi, dimana uap yang dihasilkan masuk ke
kesetimbangan baru pada proses berikutnya, B : kolom
termampatkan, dimana proses kesetimbangan uap cairan terjadi
secara kontinu.
Efisiensi pemisahan dengan kolom distilasi dinyatakan dengan bilangan plat
teori, yakni suatu bilangan yang menunjukkan banyaknya "kesetimbangan"
uap-cair dalam suatu seri distilasi. Sebagai contoh, kolom distilasi pada
gambar 3-5 A memiliki empat plat teoritis. Berikut beberapa jenis kolom
destilasi yang umum digunakan di laboratorium
Gambar 3.6. Jenis-jenis kolom distilasi; dari kiri: Hemple,
Vigreux, Snyder, Perforated plate
Gambar 3-7 merupakan kurva komposisi uap-cair dari sebuah campuran
yang mengandung dua komponen, X dan Y. Kurva "cair" menunjukkan
komposisi dengan titik didih cairan dengan komposisi X dan Y. Garis
horisontal yang ditarik dari titik "cair" ke bagian "uap" merupakan titik
kesetimbangan komposisi X dan Y pada fasa uap. Jadi, suatu cairan yang
semula memiliki komposisi 0,75 komponen A (komponen B = 0,25), pada
keadaan uapnya akan memiliki komposisi 0,45 komponen A. Suatu kolom
distilasi, yang mengubah komposisi B dari 0,25 menjadi 0,55, memiliki satu
plat teori. Bila uap didinginkan, suatu komposisi baru cairan akan diperoleh
(ditunjukkan dengan titik A). Komposisi uap dari campuran baru ini
ditunjukkan oleh titik B, dengan komposisi 0,82 mole fraksi Y. Distilasi yang
menghasilkan titik B ini memiliki dua plat teori.
Gambar 3-7. Kurva komposisi uap-cair untuk komponen X dan Y
Keberhasilan pemisahan dengan distilasi dari dua cairan bergantung
pada beberapa hal, seperti
1. Perbedaan tekanan uap, sesuai dengan persamaan (2) dan (3).
2. Perbedaan kalor penguapan antara dua komponen yang akan dipisahkan .
Aseton, titik didih 65° C, Huap = 7,22 kkal/mol, dapat dipisahkan dari air, titik
didih 100°C, Huap = 9,72 kkal/mol. Bagaimanapun campuran zat cair,
benzena-toluena, yang memiliki perbedaan titik didih cukup besar, sangat sulit
dipisahkan. Benzena memiliki titik didih 80°C, = 7,35
kkal/mol,sedangkan toluena, titik didih 110°C, Huap = 7,35 kkal/mol.
3. Banyaknya plat teori dari kolom distilasi.
4. Cara menggunakan kolom distilasi. Bila distilasi dilakukan terlalu cepat,
uapH
kesetimbagan sistem uap-cair tidak berlangsung dengan baik. AkIbatnya,
pemisahan komponen tidak akan berjalan sempurna.
3.4. Distilasi Uap
Jika dua larutan yang tidak saling campur ditempatkan dalam suatu wadah, maka
jumlah tekanan uap sistem sama dengan jumlah tekanan uap dari masing-masing
komponen pembentuknya. Campuran ini akan mendidih pada suhu lebih rendah
daripada titik didih kedua komponen. Hasil distilasi akan memiliki komposisi yang
tetap selama kedua fasa cair ada di dalam labu distilasi. Hal ini wajar mengingat
tekanan total tidak bergantung pada banyaknya bahan yang ada, apakah murni atau
bercampur dengan bahan yang tidak saling campur,
Ptotal = PoA + PoB
Tabel 3-2 Pengaruh uap air terhadap titik didih senyawa organik
Distlasi uap
Senyawa Td (°C) Td (°C) % H2O
n-octana, C8H18 125 89,4 -
n-Dibutil eter, 92,9 33
143
C4H9-O-C4H9
n-Oktil alkohol, 99,4 90
C8H17OH 195
29
Proses distilasi larutan dengan menggunakan sistem yang tidak saling larut
disebut distilasi uap, dimana salah satu komponen yang digunakan adalah air. Air
adalah komponen yang penting dan sering digunakan mengingat banyak
senyawaan organik tidak larut dalam air. Dengan mengalirkan uap air (komponen
pertama) ke dalam labu campuran yang mengandung senyawa organik (komponen
kedua, ketiga, dst..) akan keluar di bawah titik didih air (tabel 3-2).
Penyulingan dengan air dan uap ini biasa dikenal dengan sistem kukus. Cara ini
sebenarnya mirip dengan sistem rebus, hanya saja bahan baku dan air tidak
bersinggungan langsung karena dibatasi dengan saringan diatas air. Cara ini
adalah yang paling banyak dilakukan pada dunia industry karena cukup
membutuhkan air sedikit sehingga bisa menyingkat waktu proses produksi.
Metode kukus ini biasa dilengkapi sistem kohobasi yaitu air kondensat yang
keluar dari separator masuk kembali secara otomatis ke dalam ketel agar
meminimalkan kehilangan air. Bagaimanapun cost produksi juga diperhitungkan
dalam aspek komersial. Disisi lain, sistem kukus kohobasi lebih menguntungkan
oleh karena terbebas dari proses hidrolisa terhadap komponen minyak atsiri dam
proses difusi minyak dengan air panas. Selain itu dekomposisi minyak akibat
panas akan lebih baik dibandingkan dengan metode uap langsung (Direct Steam
Distillation). Metode penyulingan dengan sistem kukus ini dapat menghasilkan
uap dan panas yang stabil oleh karena tekanan uap yang konstan. (Lansida, 2010)
30
Gambar 3.8. Peralatan Distilasi Uap
Gambar 3.9. Jenis-jenis Kondensor (Pendingin)
3.5. Distilasi Vakum (Distilasi dengan Pengurangan Tekanan)
31
Gambar 3-10. Perubahan titik didih terhadap tekanan luar berbeda
32
Telah diuraikan sebelumnya bahwa titik didih suatu cairan (tekanan sistem) akan
berkurang bila tekanan luar (atmosfer) diturunkan.
Grafik 3-7 dapat memperkirakan secara kasar harga titik didih suatu cairan, pada
berbagai tekanan uap. Suatu contoh, senyawa yang memiliki titik didih 195°C
pada tekanan normal (Patm = 760mmHg) akan mendidih pada temperatur 95°C di
bawah tekanan luar 25mmHg. Grafik seperti ini sangat penting dikuasai sebelum
memilih sistem distilasi, apakah perlu vakum atau tidak. Sebagai contoh, apakah
saudara dapat menggunakan rotary evaporator untuk menguapkan eter ? Sebagai
catatan, sistem vakum dengan aspirator (gambar 1-15) memiliki tekanan sekitar
15mmHg, sedangkan pompa vakum dapat mencapai 0,5mmHg. Hati-hati memilih
sistem vakum!
Gambar 3.11. Peralatan distilasi Vakum (reduced pressure distillation)
31
3.6. Distilasi Azeotropik
Campuran larutan dengan titik didih konstant disebut azeotropik, dapat dibentuk
oleh pasangan-pasangan zat cair yang saling melarutkan. Tabel 3-3 merupakan
contoh pasangan senyawa yang dapat membentuk azeotrop.
Tabel 3-3 Beberapa pasangan azeotrop
Azeotrop Titik didih (°C) Komposisi
Etil alkohol - air 78,17 4,0 % air
Asam klorida - air 108,6 20,2 % HCl
Metanol - CCl4 55,7 79,4 % CCl4
Untuk komponen-komponen yang saling melarutkan, kebanyakan azeotrop
memiliki titik didih lebih kecil daripada titik didih masing- masing komponen
pembentuknya. Meski demikian, kadang-kadan
32
dijumpai pasangan, seperti air-asam klorida, memiliki azeotrop dengan titik didih
lebih tinggi dari pada titik didih kedua bahan ini.
Diasumsikan, komponen A dengan titik didih 75°C, dan komponen B dengan titik
didih 100°C, membentuk azeotrop dengan titik didih 60°C yang mengandung
50% mol A. Kurva distilasi antara satu mol komponen A dan dua mol komponen
B akan menghasilkan kurva yang ditunjukkan pada gambar 3-12. Garis
horisontal pertama akan selesai pada saat komponen A hilang membentuk
azeotrop A+B. Pemanasan selanjutnya akan membebaskan satu mol kelebihan
komponen B.
Gambar 3-12. Kurva distilasi campuran yang membentuk azeotrop
27
4. DESTILASI SKALA INDUSTRI
Pada distilasi skala industry, senyawa asli (campuran), uap, dan destilat tetap dalam
komposisi konstan. Distilasi berlangsung secara kontinyu (sinambung) dalam skala yang
besar (ratusan kilogram bahkan ton). Fraksi yang di inginkan akan dipisahkan dari sistem
secara hati-hati, dan ketika bahan awal habis maka akan ditambahkan lagi tanpa
menghentikan proses distilasi.
Distilasi mempunyai peranan yang sangat banyak dalam kehidupan manusia. Distilasi
adalah kunci utama dalam pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi. Minyak bumi
dipisahkan menjadi fraksi-fraksi tertentu didasarkan pada perbedaan titik didih. Alkohol
yang terbentuk dari proses fermentasi juga dimurnikan dengan cara distilasi.
Minyak-minyak atsiri alami yang mudah menguap dapat dipisahkan melalui distilasi.
Banyak sekali minyak atsiri alami yang dapat diperoleh dengan cara distilasi, yakni
minyak serai, minyak jahe, minyak cengkeh, dsb. Minyak kayu putih juga didapatkan
dengan cara distilasi (Anonim, 2013)
Berikut beberapa gambar pemisahan teknik destilasi yang diterapkan pada skala
industri.
28
29
30
31