Konsep Kualitas Pelayanan Prima
Konsep Kualitas Pelayanan Prima
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian jasa pelayanan yang diberikan oleh Davidow dan Uttal (1992;2)
yaitu: pelayanan terhadap pelanggan merupakan segala bentuk, kegiatan, informasi
yang menambah kemampuan pelanggan untuk menyadari pentingnya nilai dari suatu
produk atau jasa inti.
Sedangkan pengertian pelayanan menurut Flora Han dan Debbie Leong
(1996), menyatakan bahwa pelayanan adalah suatu proses atas pelayanan khusus
yang terdiri dari sejumlah kegiatan tahap sebelumnya (back stage) dan tahap yang
akan datang (front stage) dimana konsumen berinteraksi dengan organisasi jasa
pelayanan
Oleh karena itu dikatakan pula bahwa jasa/pelayanan adalah setiap tindakan
atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada
dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan
kepemilikan sesuatu. Sementara itu produksi jasa dapat berkaitan dengan produk
fisik ataupun tidak. Kenyataannya pelayanan dapat merupakan suatu kerja
(penampilan) yang tidak berwujud dan cepat hilang, lebih dapat dirasakan daripada
dimiliki, serta pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi
jasa tersebut, sedangkan definisi berikutnya yang dikemukan oleh Lovelock
menyatakan bahwa pelayanan terhadap pelanggan dapat dilakukan dengan bantuan
teknologi dan bantuan telekomunikasi. Itulah sebabnya maka agar penyedia jasa
12 Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
13
selalu dalam posisi unggul dan mendapat kepercayaan penuh, maka pelayanan
pelanggan harus bersifat proaktif, up to date, efektif dan efisien.
Tjiptono (2002; 15-18) mengemukakan empat karakteristik pokok dari
jasa/pelayanan sebagai berikut:
a. Intagibility
Jasa bersifat intangible, artinya tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, dicium,atau
didengar sebelum dibeli. Konsep intangible itu sendiri memiliki dua pengertian,
yaitu:
1) Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa
2) Sesuatu yang tidak mudah didefinisikan, diformulasikan atau dipahami secara
rohaniah.
b. Inseparability
Bahwa jasa biasanya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan
dikonsumsi secara bersamaan.
c. Variability
Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan nonstandarized output, artinya
banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada siapa, kapan dan
dimana jasa tersebut dihasilkan. Ada tiga faktor yang menyebabkan variabilitas
kualitas jasa yaitu : kerjasama atau partisipasi pelanggan selama penyampaian
jasa, moral/motivasi karyawan dalam melayani pelanggan, dan beban kerja
perusahaan
d., Perishability
Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
14
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
15
Oleh karena itu pelayanan yang prima tercapai apabila pelayanan yang
dialami sudah sesuai dengan atau lebih baik dari harapan pelanggan. Atau dengan
kata lain sesuatu yang diinginkan pelanggan adalah pelayanan yang dapat
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
16
diselesaikan tepat waktu dengan kualitas yang prima sesuai kesepakatan yang telah
ditentukan sebelumnya.
Sewell dan Brown dalam Hutahaean (2005) menuturkan senyum, tutur kata,
gerak geraik, cara berpakaian dan sebagainya merupakan bagian dari usaha
memberikan pelayanan yang baik, namun hal itu baru merupakan bagian kecil. Lebih
lanjut Sewell dan Brown mengatakan, bersikap ramah kepada tamu hanyalah
merupakan 20% dari pelayanan pelanggan yang baik. Bagian yang terpenting adalah
merancang system yang memungkinkan karyawan melakukan pekerjaan yang baik
tanpa mengulang. Dengan kata lain 80% sisanya merupakan bagian terpenting yaitu
berupa pendekatan sistematis yang memungkinkan karyawan memberikan kepada
pelanggan apa yang diinginkan. Macauly dan Cook (1997 : 12 – 17), mengatakan,
pelayanan merupakan citra perusahaan. Pelayanan yang memuaskan terdiri atas tiga
komponen, dan semuanya mencerminkan citra perusahaan. Adapun kegita komponen
itu adalah :
a. Kualitas produk dari layanan yang dihasilkan
b. Cara karyawan memberikan pelayanan
c. Hubungan pribadi yang terbentuk melalui layanan tersebut.
Dengan demikian berdasarkan pandangan diatas, pengertian mutu pelayanan
konsumen, menunjukkan pengertian yang kuat antara kualitas pelayanan dan kualitas
pelayanan pelanggan. Kualitas pelayanan konsumen terhadap suatu kualitas
pelayanan sangat dipengaruhi oleh pelayanan yang diberikan dan dialaminya,
sedangkan keinginan konsumen sangat dipengaruhi oleh informasi yang
diperolehnya.
Salah satu langkah untuk menciptakan pelayanan yang prima, diperlukan
penguasaan terhadap usaha yang dilakukan dan memahami pandangan serta
kebutuhan pelanggan terhadap pelayanan yang akan diterima. Melalui proses
komunikasi dengan pelanggan dengan baik, diharapkan penyedia jasa akan
mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat disediakan pengguna jasa dalam rangka
memenuhi keinginan pelanggan. Oleh sebab itu dalam menyelenggarakan kegiatan
pelayanan, perlu diperhatikan hubungan antara penyedia jasa dan pengguna jasa
diusahakan komunikatif.
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
17
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
18
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
19
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
20
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
21
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
22
Sesuai dengan prosedur kebijakan lama pemberian ijin penanaman modal dapat
dilaksanakan terlebih dahulu dengan penerbitan akta pendirian oleh notaris, namun
hal ini jarang dilakukan karena sesuai dengan pendapat beberapa notaris yang
dihubungi penulis, para notaris kurang menguasai tentang Daftar Negatif Investasi
(DNI) yang ada, sehingga kebanyakan notaris akan merasa aman bila akta notaris
yang dibuatnya berdasarkan surat persetujuan dari BKPM. Karena menyangkut pasal
3 akta pendirian tentang maksud dan tujuan, bidang usaha yang akan dilakukan
khusus untuk PMA harus sesuai dengan persetujuan pemerintah terkait dengan DNI
Bila digambarkan dengan alur proses perizinan dalam rangka Penanaman Modal
Asing adalah sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
23
SURAT Notaris
PERSETUJUAN PERSIAPAN
Penanaman Modal
Departemen
Hukum dan HAM
Notaris
SURAT
Departemen PERSETUJUAN
Hukum dan HAM
Penanaman Modal
KONSTRUKSI
BKPM:
1. APIT Pemda Provinsi/Kabupaten :
2. RPTKA/TA.01 1. Izin Lokasi
3. SP Pabean Barang Modal 2. Hak Atas Tanah
4. SP Pabean Bahan Baku 3. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
5. Usulan Fasilitas PPh Badan 4. Izin Gangguan (HO/UUG)
BKPM
3
Gambar 2.1
Prosedur Pelayanan Perizinan Penanaman Modal Asing: Dasar Hukum SK Kepala
BKPM No. 57/2004 Jo PERKA BKPM No. 1/2008
Dari Gambar 2.1. dapat kita lihat bahwa sesuai dengan aturan yang lama
maka investor asing mempunyai dua pilihan, namun karena kondisi sebagaimana
disebutkan sebelumnya maka investor asing dalam pendirian perusahaan PMA akan
menentukan pilihan dengan datang ke BKPM terlebih dahulu untuk mengajukan
permohonan Surat Persetujuan dalam rangka Penanaman Modal Asing ke BKPM.
Dan dengan Surat Persetujuan BKPM tersebut baru dibuatkan akta pendirian oleh
Notaris.
Sedangkan pada Gambar 2.2 dimana ini adalah konsep pelayanan dengan
sistem PTSP, dapat diketahui untuk mendirikan perusahaan Perseroan Terbatas (PT)
dalam rangka penanaman modal asing dilakukan dengan berbagai opsi. Opsi
pertama, pada tahap persiapan atau permohonan untuk mendirikan perusahaan PT
dapat dilakukan terlebih dahulu dengan pembuatan akta notaris yang ditindak lanjuti
dengan pengesahan badan hukum oleh Menteri Hukum dan HAM kemudian
mengajukan izin prinsip bagi perusahaan yang memperoleh fasilitas fiskal dari
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
24
pemerintah berdasarkan bidang usahanya sesuai dengan Permen Keuangan No. PMK
176 tahun 2010. Opsi kedua, setelah mendapatkan akta notaris dan pengesahan badan
hukum dari Kementerian Hukum dan HAM dapat melakukan pendaftaran ke BKPM.
Opsi ketiga melakukan pendaftaran ke BKPM terlebih dahulu kemudian mengurus
akta pendirian perusahaan di Notaris dan pengesahannya oleh Menteri Hukum dan
HAM. Opsi keempat adalah dengan melakukan pendaftaran dan bila tidak
memerlukan atau tidak mendapat fasilitas fiskal selanjutnya bila perizinan daerah
lainnya telah lengkap dapat mengajukan permohonan izin usaha tetap.
PENDAFTARAN PENDAFTARAN
Penanaman Modal Penanaman Modal
PERSIAPAN
PENANAMAN MODAL ASING
Departemen
Departemen Departemen
Departemen Hukum dan HAM
Hukum dan HAM Hukum dan HAM
Hukum dan HAM
PENDAFTARAN
IZIN PRINSIP Penanaman Modal
Penanaman Modal
PTSP BKPM
1. APIT
dengan
2. RPTKA/TA.01 penghubung
KONSTRUKSI
PTSP PDPPM/PDKPM
1. Izin Lokasi
1. SP Pabean Barang Modal 2. Hak Atas Tanah
2. SP Pabean Bahan Baku 3. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
3. Usulan Fasilitas PPh Badan 4. Izin Gangguan (HO/UUG)
IZIN USAHA
KOMERSIAL
BIDANG USAHA YANG DAPAT MEMPEROLEH BIDANG USAHA TANPA FASILITAS FISKAL 5
DAN MEMBUTUHKAN FASILITAS FISKAL
Gambar 2.2
Prosedur Pelayanan Perizinan Penanaman Modal Asing:
PER PRES NO. 27 Tahun 2009 TGL. 23 Juni 2009
Dengan adanya empat opsi ini sebagaimana terdapat dalam Gambar 2.2
diharapkan dapat memberikan pilihan dan kemudahan kepada investor atau calon
investor cara mana yang bisa ditempuh sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan
kondisi yang bersangkutan.
Sedangkan alur proses perizinan Penanaman Modal Dalam Negeri sesuai
dengan kebijakan lama dapat dilihat pada Gambar 2.3 sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
25
Notaris
Departemen
Hukum dan HAM
PERSIAPAN
SURAT PERSETUJUAN
Penanaman Modal
KOMERSIAL
IZIN USAHA TETAP
Gambar 2.3
Prosedur Pelayanan Perizinan Penanaman Modal Dalam Negeri: Dasar Hukum SK
Kepala BKPM NO. 57/2004 Jo PERKA BKPM NO. 1/2008
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
26
PERSIAPAN
Departemen Departemen
Hukum dan HAM Hukum dan HAM
IZIN PRINSIP
Penanaman Modal
PTSP BKPM
1. APIT dengan
penghubung
2. RPTKA/TA.01
KONSTRUKSI
PTSP PDPPM/PDKPM
1. SP Pabean Barang Modal
1. Izin Lokasi
2. SP Pabean Bahan Baku
2. Hak Atas Tanah
3. Usulan Fasilitas PPh Badan
3. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
4. Izin Gangguan (HO/UUG)
KOMERSIAL
IZIN USAHA
BIDANG USAHA YANG DAPAT MEMPEROLEH
DAN MEMBUTUHKAN FASILITAS FISKAL BIDANG USAHA TANPA FASILITAS FISKAL
6
Gambar 2.4
Prosedur Pelayanan Perizinan Penanaman Modal Daslam Negeri: PER PRES NO. 27
Tahun 2009 TGL. 23 Juni 2009
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
27
Notaris
PERSIAPAN
PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI
DILUAR KEWENAGAN PEMERINTAH
Departemen
Hukum dan HAM
IZIN PRINSIP
Penanaman Modal
1. APIT
KONSTRUKSI
2. RPTKA/TA.01
PTSP PDPPM/PDKPM
1. SP Pabean Barang Modal 1. Izin Lokasi
KOMERSIAL
IZIN USAHA
BIDANG USAHA YANG DAPAT MEMPEROLEH BIDANG USAHA TANPA
DAN MEMBUTUHKAN FASILITAS FISKAL FASILITAS FISKAL 10
Sumber : Prosedur Perizinan Penanaman Modal, Presentasi Deputi Bidang Pengembangan Iklim
Penanaman Modal, Desember 2009
Gambar 2.5
Prosedur Pelayanan Perizinan Penanaman Modal Penanaman Modal Dalam Negeri: PER
PRES NO. 27 Tahun 2009 Tgl. 23 Juni 2009
Dari Gambar 2.3, 2.4, dan 2.5 menunjukkan bahwa untuk pendirian
perusahaan dalam rangka penanaman modal dalam negeri yang bidang usahanya
tidak memperoleh fasilitas fiskal dapat langsung mengajukan IUT kepada BKPM
atau Perangkat Daerah Propinsi bidang Penanaman Modal (PDPPM) atau Perangkat
Daerah Kabupaten/Kota bidang Penanaman Modal (PDKPM), ini merupakan
simplifikasi penanaman modal. BKPM tetap menerbitkan persetujuan pendaftaran
dan Izin Usaha sedang persetujuan lainnya dilakukan oleh daerah, khusus untuk
penanaman modal dalam negeri tertentu sesuai dengan Perpres No. 27 Tahun 2009
pada pasal 8 disebutkan antara lain:
a. Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas propinsi
b. Urusan pemerintahan di bidang penanaman modal yang meliputi:
1) Penanaman modal terkait dengan sumber daya alam yang tidak terbarukan
dengan tingkat resiko kerusakan lingkungan yang tinggi
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
28
2) Terkait dengan bidang industri yang merupakan prioritas tinggi pada sekala
nasional
3) Terkait pada fungsi pemersatu dan penghubung antar wilayah atau ruang
lingkupnya lintas propinsi
4) Terkait pada pelaksanaan strategi pertahanan dan keamanan nasional
Dari keempat kebijakan yang diterbitkan, kebijakan yang sangat
berpengaruh bagi pelaksanaan pelayanan perizinan di BKPM adalah Peraturan
Kepala BKPM No. 12 tahun 2009 tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan
Penanaman Modal. Keempat kebijakan tersebut adalah sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
29
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
30
Model IIIA
- IP/IU Jika PMDN dengan lokasi lintas provinsi/kewenangan
(PMDN) Perubahan Pemerintah (ada IP/IU)
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
31
(Lanjutan)
SK 57/04 PERKA
jo. PERKA No.12 KETERANGAN
1/P/08 Tahun 2009
MERGIN SURVIVING (Note: IU Merger berdasarkan
MERGER (B)
G (A) (B) bidang usaha)
1. IU Merger IU IU
a. IU Merger IU a. IU
2. SP ← Tidak ada proses apapun
b. Perluasan b. SP
Model IIID Perluasan
a. IU Merger a. IU IU
IP b. SP IP/PPM Perlu ubah SP-II (IP/PPM) sebelum
Perlua merger/cabut
3.
b. san
RPTKA, TA-
01, Tidak Kewenangan dicabut oleh Menteri Tenaga Kerja dan
menerbitkan Transmigrasi
IMTA
Izin Pabean Izin Pabean Hampir tidak ada perbedaan , penyebutan keringan dan
(Verifikasi (Verifikasi Master pembebasan bea masuk terkait dengan diterbitkannya PMK No.
Master List) List) 176 Tahun 2009
Note:
(*) Menggunakan Form. Izin Prinsip (Lamp-III) dengan dilampiri lampiran sesuai Form. Izin
Prinsip Perluasan (Lamp-V).
(**) Diberi catatan sebagai PPM Perluasan.
(***) Diberi catatan sebagai PMDN.
(****) Diberi catatan sebagai PMA.
Sumber: Sosialisasi Pelayanan Perizinan Penanaman Modal Sesuai Perka BKPM No. 12 Tahun
2009, Presentasi Direktorat Pelayanan Aplikasi BKPM, Januari 2010
Format dan bentuk form aplikasi untuk semua jenis permohonan berubah,
kecuali hanya form izin Kantor Perwakilan Perusahaan Asing (KPPA), tidak banyak
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
32
berubah. Demikian juga format izin yang dikeluarkan oleh BKPM juga berbeda.
Penggunaan sistem SPIPISE menuntut para pemroses perizinan paperless, sebab
konsep surat perizinan hanya bisa di print out di tempat Pejabat yang menanda
tangani surat persetujuan. Lebih lanjut untuk melihat perbandingan antara Pedoman
dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modal sesuai dengan Surat Keputusan
Kepala BKPM No. 57 Tahun 2004 jo Perubahannya Peraturan Kepala BKPM No. 12
Tahun 2009 dengan Peraturan yang baru yaitu Peraturan Kepala BKPM No. 12
Tahun 2009 dapat dilihat dalam Tabel. 2.1.
Dari Tabel 2.1 diatas model pendirian perusahaan yang sebelumnya dikenal
dengan Model I PMA/PMDN sekarang dikenal dengan Pendaftaran Penanaman
Modal. Karena form aplikasinya lebih sederhana maka bentuk dan data yang dimuat
dalam surat persetujuan juga lebih sederhana. Sebelumnya surat persetujuan
pendirian perusahaan sebanyak 4 lembar sekarang menjadi 1 lembar dan maksimal 2
lembar halaman saja.
Dalam kerangka yang baru maka persetujua yang dahulunya ada menjadi
tidak ada atau disimplifiakasi adalah: Model III/a adalah perubahan status dari PMA
menjadi PMDN; III/b atau perubahan status dari Non PMA/PMDN atau PMDN
menjadi PMA, Model III/C atau perubahan jangka waktu pelaksanaan proyek, Model
III/d atau merger, kesemuanya dalam aturan baru ditampung dalam perubahan izin
prinsip. Sedangkan surat persetujuan yang dahulu tidak berstandar dan tidak
menggunakan sistem informasi elektronik atau tidak tersimpan dengan data
elektronik maka dengan sistem baru ini dimasukkan dalam model pelapran
pencatatan dengan menggunakan SPIPISE sehingga tidak ada surat persetujuan yang
tidak secara langsung tersimpat otomatis dalam data base BKPM.
Bila ada kasus Merger (Model III/D) maka pada prosedur sekarang langsung
di proses menjadi Izin Usaha sedangkan dengan prosedur sebelumnya diproses
dahulu dari dengan aplikasi Model III/D dan selanjutnya bila perusahaan seluruh
proyeknya sudah mulai produksi komersial baru mengajukan Izin Usaha. Diharapkan
dapat terjadi efisiensi bagi perusahaan. Demikian juga seluruh permohonan izin
perubahan yang sudah memperoleh izin usaha dapat diproses langsung perubahan
Izin Usahanya. Pengajuan Perubahan Status dari Perusahaan PMA Menjadi PMDN
dahulu diproses Model III/A dan bila akan mulai produksi komersial baru
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
33
mengajukan Izin Usaha, pengajuan sekarang bila perusahaan sudah memiliki Izin
Usaha Tetap maka di Proses sebagai Perubahan IUT. Demikian juga untuk
perubahan status dari non PMA/PMDN atau PMDN menjadi PMA langsung
mengajukan Izin Perluasan apabila telah memiliki Izin Usaha Tetap sebelumnya.
Permohonan Perpanjangan jangka waktu penyelesaian proyek (dulu Model III/C)
sekarang diproses sebgai izin perubahan. Izin ketenagakerjaan tidak diproses lagi
oleh BKPM karena pelimpahan kewenangan dari Menakertrans telah ditarik kembali
dan yang menlaksanakan Depnakertrans. Untuk Pencatatan prinsipnya masih sama
karena pada kedua sistem masih diketik manual.
Dalam pelaksanaan pelayanan perizinan dari tabel diatas izin-izin baru yang
sudah berjalan dengan optimal menggunakan sistem SPIPISE adalah Pendaftaran,
Izin Prinsip Perluasan dan Izin Prinsip Perubahan serta Izin Usaha. Untuk sistem
yang lama yang menggunakan sistem aplikasi komputer adalah Model I (Pendirian
perusahaan), Model II (Perluasan Penanaman Modal) dan Model III (Perubahan
Penanaman Modal) sedangkan izin lainya umumnya belum dapat dilaksanakan
dengan SPIPISE.
Penerbitan Perka No. 12 Tahun 2009 tentang Pedoman dan Tata Cara
Permohonan Penanaman Modal, sesuai dengan hasil wawancara dengan beberapa
pejabat BKPM diharapkan dapat meningkatkan masuknya investor asing ke
Indonesia.
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
34
hukum dari BKPM atas pelaksanaan surat persetujuan penanaman modal yang telah
diterbitkan BKPM. Sistem SPIPISE adalah perangkat elektronik atau peralatan
teknologi yang digunakan dalam memproses perizinan di BKPM.
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
35
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
36
Gambar 2.6.
Kerangka Pemikiran
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
37
registrasi. Dari hal-hal tersebut diatas maka kerangka berpikirnya dapat digambarkan
sebagaimana dalam Gambar 2.6
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
38
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
39
yang terpadu. Desain dengan 5 dimensi tersebut telah melalui uji coba psikometri
empirik yang konsisten sehingga dapat diaplikasikan dalam pelayanan organisasi
dengan sedikit perubahan kecil.
Dalam penelitian Wahyu Waryadi (2001) menggunakan 5 dimensi yaitu
tangibility (bukti fisik), reliability, responsiveness, assurance dan empaty yang
terdiri dari 24 atribut untuk menganalisis kualitas pelayanan investor/calon investor
terhadap kualitas pelayanan perizinan di BKPMD Propinsi DKI Jakarta dan dari
penelitiannya menyimpulkan dimensi yang menghasilkan kualitas pelayanan
tertinggi adalah dimensi assurance yaitu adanya kesanggupan dan jaminan dari
aparat/petugas dalam memberi kemudahan. Kemudian berikutnyadimensi
responsiveness yaitu kesanggupan secara cepat dan tanggap dalam melayani dan
nilai kualitas pelayanan terendah adalah dimensi emphaty, karena kurangnya
ketegasan dan kemampuan untuk menunjukan pelayanan yang dapat diandalkan.1
Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Efrimal Yoesdi
(2005) empat tahun kemudian pada lokasi yang sama dan menggunakan 5 dimensi
yang sama yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty bahwa
scoring dengan skala likert 5 menghasilkan kesimpulan dari ke 5 dimensi tersebut,
dimensi paling tinggi adalah dimensi tangibel dan terendah adalah dimensi
reliability.2
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hutahaean Rahmady
Effendy (2005) ditambahkan dua dimensi yaitu dimensi transparency dan fairness,
sehngga secara keseluruhan dimensi tersebut adalah peralatan dan teknologi yang
digunakan, kebersihan dan kenyamanan kantor, penampilan dan kerapian petugas,
lokasi kantor pelayanan, kemampuan petugas menangani permasalahan, Kemampuan
petugas untuk menepati janji waktu pelayanan, pemberian pelayanan yang tepat dan
akurat, permasalahan disampaikan secara cepat, pelayanan diberikan secara cepat,
tanggap mencari pemecahan masalah, keluhan yang ditangani secara cepat, jam
kantor yang cukup dalam melayani, pengetahuan dan kemampuan menjawab
pertanyaan pengguna jasa, keramahan serta kesopanan petugas, memahami situasi
1
Kualitas pelayanan Investor/Calon Investor terhadap Kualitas Pelayanan Perizinan Investasi di
BKPMD Propinsi DKI Jakarta, 116, 2001
2
Kualitas Pelayanan Perizinan Penanaman Modal pada Badan Penanaman Modal dan
Pendayagunaan Kekayaan dan Usaha Daerah (BPM&PKUD) Provinsi DKI Jakarta, 112-113, 2005
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
40
dan kondisi pengguna jasa, mengerti kebutuhan spesifik pengguna jasa, perhatian
kepada pengguna jasa secara personal, proses pelayanan dapat dipantau oleh
pengguna jasa, sistem dan prosedur pelayanan yang terbuka, penetapan bea dan
tagihan, pungutan yang sama untuk komoditas yang sama, prioritas pelayanan yang
adil bagi semua pengguna jasa, sanksi atas pelanggaran yang diberikan tanpa pilih
kasih. Uji realibilitas terhadap faktor-faktor yang disampaikan Hutahaean tersebut
sesuai hasil penelitian dengan formula alpha crombach menunjukkan hasil untuk
setiap variabel mendekati nilai satu, yaitu variabel diharapkan sebesar 0,978 dan
variabel minimal diharapkan sebesar 0,979 serta variabel dirasakan 0.974 dengan
demikian nilai alpha crombach menunjukkan nilai diatas 0,7 dan dinyatakan bahwa
variabel yang digunakan memiliki status reliable.
Penelitian tentang evaluasi kualitas pelayanan perizinan pendaftaran
penanaman modal yang dilaksanakan di BKPM dengan adanya Peraturan Kepala
BKPM No. 12 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penyelenggaraan dan Pembinaan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Pelayanan Penanaman Modal, dilakukan
dengan menaganalisis melalui 6 (enam) dimensi yaitu tangible (bereujud) , reliability
(kenadalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (keyakinan) transparency
(transparansi) dan Fairness (keadilan). Dan dengan melakukan sedikit modifikasi
yang disesuaikan dengan karakteristik jenis pelayanan yang diberikan BKPM. Untuk
menambah kelengkapan pertanyaan dalam kuesioner khususnya mengenai atribut-
atribut yang akan dinilai maka sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu
dikonsultasikan dengan beberapa pejabat BKPM termasuk dengan unit kerja yang
telah melakukan tes indeks kualitas pelayanan di BKPM untuk mendapatkan
masukan, koreksi dan tambahan hal-hal yang ingin diketahui atas penelitian ini,
sehingga menurut beberapa pejabat yang dihubungi hasil penelitian ini dapat
memberikan manfaat secara langsung pada pelayanan yang ada.
Dalam penelitian ini tidak menggunakan dimensi empati karena berdasarkan
pengamatan beberapa ahli statistik sivitas akademika fakultas ekonomi Universitas
Indonesia penggunaan atribut yang termasuk dalam dimensi empati dalam pelayanan
yang dilakukan di BKPM dipandang kurang relevan dengan substansi pelayanan
yang ada.
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
41
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
42
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
43
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
44
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.
45
Universitas Indonesia
Evaluasi kualitas..., Agus Joko Saptono, FE UI, 2010.