0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan69 halaman

PBL Tingkatkan Hasil Belajar PAI SD

Diunggah oleh

Nurkholis Nurkholis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan69 halaman

PBL Tingkatkan Hasil Belajar PAI SD

Diunggah oleh

Nurkholis Nurkholis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning

(PBL) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan


Agama Islam dan Budi Pekerti pada Kelas V
SD Negeri 18 Bungo Pasang

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Lokakarya PPG PAI Batch 1 2024

OLEH :

Nurkholis
NIM. 2424010216

LEMBAGA PENDIDIKAN TENAGA KEPENDIDIKAN (LPTK)


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
1446 H/ 2024 M
ii

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian : Penerapan Model Pembelajaran Problem Based


Learning (PBL) dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti pada Kelas V SD Negeri 18 Bungo
Pasang
Bidang Kajian : Model Pembelajaran
Peneliti
1. Nama : Nurkholis, SIQ., [Link].I
: 199312102019021001
2. NIP
: Penata Muda Tingkat I/III b
3. Pangkat/Gol/NIP
: Laki-Laki
4. Jenis Kelamin : Pendidikan Agama Islam
: SD Negeri 18 Bungo Pasang
5. Bidang Studi
:
Komp. Salingka Bungo Permai II Kel. Bungo
6. Instansi
Pasang, Kec. Koto Tangah
7. Alamat Rumah

Mengetahui, Padang, 7 Oktober 2024


Kepala Sekolah/Pimpinan Peneliti

Yulherdi, [Link] Nurkholis, SIQ., [Link].I


NIP. 196506101986101001 NIP. 19920901 201902 1 001
ii

ABSTRAK
Nurkholis: Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam pada Kelas V SDN 18
Bungo Pasang.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran


Problem Based Leraning meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di SD N
18 Bungo Pasang.
Penggunaan model pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran PAI. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai
sebelum diterapkannya model pembelajaran problem based learning adalah 46,
banyaknya siswa yang mendapat nilai diatas 70 (KKM) adalah 30% dari hasil siklus I
rata-rata nilai memperoleh 69, banyaknya siswa yang mendapat nilai 70 adalah 60%,
hasil observasi aktifitas siswa adalah 70 (cukup) dan hasil observasi aktifitas guru 69, 4
(cukup). Setelah siklus II diperoleh rata-rata nilai 86, siswa yang mendapat diatas 70
adalah 90%, hasil observasi aktifitas siswa adalah 90 (baik).

Kata Kunci : problem based learning (PBL), Hasil Belajar, Pendidikan Agama Islam
(PAI)
iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat

menyelesaikan proposal PTK yang berjudul ” Penerapan Model Pembelajaran Problem

Based Learning (PBL) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam pada

kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang”.

Dalam penyusunan penelitian ini peneliti banyak mendapat sumbangan pikiran,

bimbingan, saran dan dorongan dari berbagai pihak karena itu sudah sepantasnya pada

kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Bapak Kepala SD Negeri 18 Bungo Pasang yang telah membantu dalam memberikan

berbagai informasi untuk kelancaran selesainya penelitian ini.

2. Bapak dan ibuk majelis guru SD Negeri 18 Bungo Pasang yang telah memberikan

kemudahan dalam penyelesaian laporan proposal PTK ini.

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada gading yang tidak retak oleh karena itu,

peneliti dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun dari pembaca

untuk meningkatkan penelitian ini. Akhir kata, semoga pembaca dan kita semua

mendapatkan manfaat dari karya ini. Aamin...

Padang, 16 Agustus 2024


Penulis

Nurkholis
NIM: 2424010216
iv
i

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN..................................................................................... i
ABSTRAK...................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR................................................................................................. iii
DAFTAR ISI................................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah...................................................... 3
C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 4
D. Manfaat Penelitian................................................................................ 4
BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA TEORI
A. Kajian Teori.......................................................................................... 6
1. Model Pembelajaran.......................................................................6
2. Tinjauan Hasil Belajar....................................................................11
3. Pendidikan Agama Islam................................................................14
4. Konsep Iman ..................................................................................15
B. Penelitian Terdahulu............................................................................. 19
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian......................................................................................20
B. Variabel Penelitian................................................................................20
C. Populasi dan Sampel............................................................................. 21
D. Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data......................................21
E. Prosedur Tindakan................................................................................ 23
F. Teknik Analisa Data..............................................................................23
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah proses untuk

mempersiapkan manusia untuk hidup yang sempurna dan bahagia mencintai

tanah airnya, sehat jasmani, budi pekertinya yang sempurna (akhlak), teratur

fikirannya, mahir dalam pekerjaannya, dan manis dalam ucapan lisan dan

tulisannya. Pendidikan Islam adalah pendidikan jasmani dan rohani yang

didasarkan pada hukum-hukum Islam untuk membentuk kepribadian utama

menurut standar Islam.1 Tujuan utama pendidikan Islam adalah untuk membina

dan mendasari kehidupan anak-anak dengan nilai-nilai agama. Selain itu,

pendidikan agama Islam bertujuan untuk memberi siswa pengetahuan tentang

agama Islam sehingga mereka dapat menerapkan syariat Islam sesuai dengan apa

yang mereka ketahui.

Dalam kurikulum Pendidikan Islam dirancang berdasarkan nash Al-

Qur’an dan Al Hadis, yang bertujuan agar manusia mendapat kesejahteraan

didunia dan tetap dekat dengan Khaliknya. Kurikulum Pendidikan Islam

dirancang agar kehidupan duniawi dan ukhrawi menjadi milik umat-Nya dengan

modal iman, amal dan takwa kepadanya-Nya. Disinilah perbedaan prinsipil

kurikulum Pendidikan Islam dengan kurikulum lain yang mempunyai

kecendrungan.2

1
Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Sukses Offset,2011), h. 23
2
Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek (Jakarta:Rajawali Pers,2014), h. 46
1
2

Dalam proses belajar-mengajar terjadi interaksi antara berbagai elemen,

termasuk guru, siswa, tujuan, bahan, metode, dan lain-lain. Masing-masing

elemen mempengaruhi satu sama lain untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Siswa adalah komponen yang paling penting dalam kegiatan belajar-mengajar,

karena merekalah yang harus mencapai tujuan penting dalam pembelajaran. Guru

harus memahami siswa mereka untuk dapat menciptakan lingkungan

pembelajaran yang tepat untuk mereka.

Pada dasarnya, hasil belajar adalah kemampuan yang berupa

keterampilan dan perilaku baru yang diperoleh melalui pengalaman atau latihan.

Hasil belajar pada diri seseorang seringkali tidak langsung terlihat tanpa

seseorang melakukan tindakan untuk menunjukkan kemampuan yang mereka

peroleh melalui belajar. Pendidikan Agama Islam adalah pelajaran yang ada di

semua sekolah, baik negeri maupun swasta, dan memberikan pengetahuan afektif

dan kognitif. Guru PAI memiliki tanggung jawab besar dalam mencapai tujuan

pembelajaran selain memberikan instruksi.

Selain memiliki banyak kelebihan dalam belajar Pendidikan Agama Islam,

masih ada tantangan dalam pembelajaran PAI. Tantangan tersebut termasuk

penguasaan kelas dan penerapan model pembelajaran yang tepat. Untuk

mengatasi masalah ini, penulis melakukan penelitian di SD Negeri 18 Bungo

Pasang.

Hasil observasi awal penulis di SD Negeri 18 Bungo Pasang

menunjukkan bahwa banyak siswa tidak memperhatikan apa yang dikatakan

guru selama penjelasan. Siswa cenderung pasif saat pelajaran berlangsung,


3

mereka mengantuk dan bosan saat guru menjelaskan materi, dan banyak siswa

masih gagal mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang diharapkan,

yaitu 70 atau lebih. 71% siswa masih gagal mencapai KKM.

Berdasarkan keadaan ini, model pembelajaran baru harus diciptakan

untuk menarik siswa dan meningkatkan hasil belajar PAI siswa. Model

pembelajaran berbasis masalah ini menggunakan pendekatan pembelajaran siswa

pada masalah nyata. Masalah nyata dapat didefinisikan sebagai masalah yang

sering dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.3

Berdasarkan deskripsi diatas peneliti akan melakukan sebuah penelitian

mengenai kegiatan belajar-mengajar yang diselenggarakan di SD Negeri 18

Bungo Pasang dengan mengangkat judul:“ Penerapan Model Pembelajaran

Problem Based Learning (PBL) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan

Agama Islam pada kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang”.

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

1. Pembatasan

Permasalahan yang akan dikaji pada penelitian ini dibatasi pada hal-hal

berikut;

1) Model pembelajaran yang dipilih adalah Problem Based Leraning.

2) Materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam penelitian ini

dibatasai pada materi Peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada.

3) Menggunakan dua Variabel yaitu variebk terikat (Y) dalam hal ini

Hasil Belajar siswa Kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang Semester I

3 Richard I. Arends, Learning To Teach/Belajar Untuk Mengajar (Yogyakarta: PustakaBelajar, 2007), h. 41-
42
4

tahun ajaran 2024/2025.

Sedangkan sebagai Variabel bebasnya (X) adalah model Problem Based

Learning (PBL).

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar identifikasi masalah diatas, maka penulis membuat

rumusan masalah yaitu: Apakah penerapan model pembelajaran Problem

Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama

Islam di kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan model

pembelajaran Problem Based Learningdapat meningkatkan hasil belajar

Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 18 Bungo Pasang.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti:

Memperluas pengetahuan penulis tentang penerapan model pembelajaran

berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam

di SD Negeri 18 Bungo Pasang.

2. Bagi guru:

Mendapatkan ide-ide untuk membantu sekolah, terutama guru Pendidikan

Agama Islam, memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan prestasi

siswa di SD Negeri 18 Bungo Pasang.

3. Bagi pembaca:
5

Membaca lebih lanjut tentang masalah hasil belajar Pendidikan Agama

Islam di SD Negeri 18 Bungo Pasang untuk memperluas pengetahuan dan

wawasan.

4. Bagi siswa:

Memastikan bahwa siswa di kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang mencapai

prestasi akademik yang memuaskan dalam mata pelajaran Pendidikan

Agama Islam dan Budi Pekerti.


BAB II

KERANGKA TEORI

A. Landasan Teori

1. Model Pembelajaran

a. Pengertian Model Pembelajaran

Strategi menurut Kemp (1995) adalah suatu kegiatan pembelajaran

yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai

secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapatnya Kemp, Dick and Carey

(1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran adalah sutau perangkat

materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk

menimbulkan hasil belajarpada peserta didik atau siswa.4 Upaya

mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah di susun dalam

kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun dapat tercapai secara optimal,

maka diperlukan suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan strategi

yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bisa terjadi satu strategi pembelajaran

menggunakan beberapa metode.

Model-model pembelajaran sendiri biasanya disusun berdasarkan

berbagai prinsip atau teori [Link] ahli menyusun model

pembelajaran berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Para ahli

menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran,

teori-teori psikologis, sosiologis, analisis sistem, atau teori-teori yang lain yang

mendukung.5 Joyce & Weil mempelajari modelmodel berdasarkan teori belajar

4
Syah, Muhibbin. Psikologis Pendidikan. (Bandung : (PT Remaja Rosdakarya 2010).
5 Jamaluddin, Dindin. Metode Pendidikan Anak. Bandung : Pustaka Al-Fikriis. Jurnal Saintech
6
7

yang dikelompokan menjadi empat model pembelajaran. Model tersebut

merupakan Pola Umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan

pembelajaran yang diharapkan. Joyce & Weil berpendapat bahwa model

pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk

membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang

bahan bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang

lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru

memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan

pendidikannya.

Hampir semua model pembelajaran digunakan untuk pengembangan

kemampuan berfikir(kognitif), afektif dan psikomotor tahap menengah dan

tinggi dapat digunakan dalam pembelajaran kompetensi umum-akademik.

Dalam pemilihan dan penggunaannya sudah tentu disesuaikan dengan tahap

perkembangan siswa/mahasiswa, sifat mata pelajaran, serta dukungan sarana,

fasilitas belajar serta lingkungan sekitar. Model pembelajaran yang diutamakan,

selain menekankan pengembangan kemampuan kognitif, afektif, dan

psikomotor tahap tinggi, juga menempatkan siswa sebagai subjek belajar.

Pembelajaran atau pengajaran pada dasarnya merupakan kegiatan

guru/dosen menciptakan situasi agar siswa/mahasiswa belajar. Tujuan utama

pembelajaran atau pengajaran adalah agar siswa/mahasiswa belajar. Mengajar

dan belajar merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan.

Bagaimanapun baiknya guru/dosen menagajar, apabila tidak terjadi proses

Vol. 08 - No.04-Desember 2016.


8

belajar pada para siswa/mahasiswa, maka pengajarannya tidak baik, tidak

berhasil. Sebaliknya, meskipun cara atau metode yang digunakan guru/dosen

sangat sederhana, tetapi sudah mendorong para siswa/mahasiswa banyak

belajar, pengajaran tersebut cukup berhasil.

Melalui proses belajar-mengajar tersebut terjadi perubahan,

perkembangan, kemajuan baik dalam aspek fisik, intelek, sosial-emosi maupun

sikap dan nilai. Makin besar atau makin tinggi atau makin banyak perubahan

atau perkembangan tersebut dapat dicapai oleh siswa, maka makin baiklah

proses belajar. Proses belajar mengajar disini adalah dalam rangka pendidikan

semua aktifitas dan perubahan atau perkembangan mengarah kepada lebih baik.

Perkembangan yang kearah tidak baik, itu bukan penddikan.

b. Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model pembelajaran berdasarkan masalah adalah model pembelajaran

dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik dan bermakna

kepada siswa yang berfungsi sebagai landasan bagi penyelidikan siswa,

sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh

kembangkan keterampilan yang lebih tinggi, memandirikan siswa, dan

meningkatkan kepercayaan diri sendiri.

Karakter problem based learning (PBL) adalah sebagai berikut:6 1)

Permasalahan menjadi starting point dalam belajar. 2) Permasalahan yang

diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur 3)

6
Rusman, Model-Model Pembelajaran Megembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: PT Grfindo
Persada, 2011) hal 232
9

Permasalahan membutuhkan perspektif ganda 4) Permasalahan, menantang

pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap dan kompetensi yang kemudian

membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar 5)

Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama Belajar adalah kolaborasi,

komunikasi, dan kooperatif 7) Pengembangan keterampilan inquiry dan

pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan

untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan 8) Melibatkan evaluasi dan

review pengalaman siswa dan proses belajar.

Tabel 1 Langkah-langkah model Problem Based Learning7

Fase Perilaku guru

fase 1: memberikan Guru membahas tujuan pembelajaran,


orientasi tentang mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik
permasalahannya penting, dan memotifasi siswa untuk terlibat
kepada siswa dalam kegiatan mengatasi masalah.
Fase 2: Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang
siswa untuk belajar terkait dengan permasalahannya.
Fase 3: membantu Guru mendorong siswa untuk mendapatkan
investigasi mandiriinformasi yang tepat, melaksanakan eksperimen
dan kelompok dan mencari penjelasan dan solusi.
Fase 4: Guru membantu siswa dalam merencanakan dan
mengembangkan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti
mempersentasikan laporan, rekaman radio, dan model-model, dan
membantu mereka untuk menyamaikannya
kepada orang lain.
Fase 5: menganalisis Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
dan mengevaluasi terhadap investigasinya dan proses-proses yang
proses mengatasi mereka gunakan.
masalah

Mengorganisasikan siswa untuk meneliti, Problem Based Learning

mengharuskan guru untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi diantara

7
Miterianifah, Strategi Pembelajaran Kimia, ( Jakarta: Pustaka Mulya, 2013) hal 84
10

siswa dan membantu mereka untuk menginvestigasi masalah secara bersama-

sama.

c. Kelebihan Dan Kekurangan Model Pembelajaran problem Based

Learning

Berikut beberapa kelebihan yang dimiliki oleh pembelajaran problem based

learning (PBL) sebagai berikut:8

1) Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab siswa sendiri

yang menemukan konsep tersebut.

2) Siswa secara aktif terlibat dalam proses pemecahan masalah yang

menuntut keterampilan berfikir siswa yang lebih tinggi.

3) Pengetahuan tertanam berdasarkan skema yang dimiliki siswa

sehingga siswa lebih bermakna.

4) Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah

yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini

dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap materi

yang dipelajari.

5) Menjadikan siswa lebih mandiri yang mampu memberikan aspirasi dan

menerima pendapat orang lain, menanamkan sifat sosial positif

diantara siswa

6) Pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi

terhadap temannya sehingga pencapaian ketuntasan belajar siswa


8
Anggi Oktaviarini K, Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) Untuk Meningkatkan
Kemapuan Komunikasi Matematis, Jurnal Seminar Nasional Matematika dan Pend Matematika UNY ,
2015, hal 79
11

dapat diharapkan.

Sedangkan kelemahan dari Problem Based Learning (PBL) yaitu sebagai

berikut:9

1) Bagi siswa yang malas, maka tujuan dari pendekatan Problem Based

Learning (PBL) tidak dapat tercapai.

2) Membutuhkan banyak waktu dan dana 3) Tidak semua mata pelajaran

dapat diterapkan Problem Based Learning (PBL)

2. Tinjauan Hasil Belajar

a. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar

Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh

pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan

mengkokohkan kepribadian. Dalam konteks menjadi tahu atau proses

memperoleh pengethuan, menurut pemahaman sains konvensional, kontak

manusia dengan alam diistilahkan dengan pengalaman (experience).

Pengalaman yang terjadi berulang kali melahirkan pengetahuan, (knowledge),

atau a body of knowledge. Definisi ini merupakan definisi umum dalam

pembelajaran sains secara konvensioanal, dan beranggapan bahwa

pengetahuan sudah terserak di alam, tinggal bagaimana siswa atau pembelajar

bereksplorasi, menggali dan menemukan kemudian memungutnya, untuk

memperoleh pengetahuan.10 Menurut morgan dan kawan-kawan (1986) yang

menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap

9
Ibid, hal. 79
10
Suyono, dkk, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012). 9
12

dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti

proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Manusia mempunyai

potensi perilku kejiwaan yang dapat dididik dan diubah perilakunya yang

meliputi domain kognitif, efektif dan psikomotorik. Belajar mengusahakan

perubahan perilaku dalam domain-domain tersebut sehingga hasil belajar

merupakan perubahan perilaku dalam domain kognitif, efektif dan

psikomotorik. 11

b. Ciri-ciri tes hasil belajar

Setidaknya terdapat empat karakteristik yang harus dimiliki oleh tes

hasil belajar, sehingga tes tersebut dapat dinyatakan sebagai tes yang baik.

Keempat karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:12

a) Valid: Sebuah tes dikatakan telah memiliki validitas, apabilates tersebut

dengan secara tepat, dan benar telah dapat mengungkapkan atau

mengukur yang seharusnya diungkap atau diukur lewat tes tersebut.

b) Reliabel: Ciri kedua dari tes hasil belajar yang baik adalah bahwa hasil

belajar tersebut telah memiliki reliabilitas atau bersifat reliabel.

Dinyatakan riabel apabila hasil-hasil pengukuran yang dilakukan

dengan menggunakan tes tersebut secara berulang kali pada subyek

yang sama.

c) Obyektif: Ciri ketiga dari tes hasil belajar yang baik adalah tes hasil

belajar tersebut bersifat obyektif. Bahan pelajaran yang telah diberikan

11
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011). 54
12
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, hlm. 93.
13

atau diperintahkan untuk dipelajari oleh peserta didik itulah yang

dijadikan acuan dalam pembuatan atau penyusunan tes hasil belajar.

d) Praktis: Bersifat praktis mengandung pengertian bahwa tes hasil belajar

tersebut dapat dilaksanakan dengan mudah karena tes itu: (a) bersifat

sederhana (tidak banyak menggunakan peralatan)(b) lengkap, dalam

arti bahwa tes tersebut telah dilengkapi dengan petunjuk mengenai cara

mengerjakannya, kunci jawabannya dan pedoman skoring serta

penentuan nilainya. Bersifat ekonomis mengandung pengertian bahwa

tes hasil belajar tersebut tidak memakan waktu yang panjang dan tidak

memerlukan tenaga dan biaya yang [Link] hal tersebut, ada ayat

Al-qur’an yang menjelaskan: QS. Asy-syura’ ayat 214-215:

‫۝‬
٢١٤ َۙ
‫َ اْيََْ يَ َِبْ ي ن‬
َ َ َََ‫ِْي‬
‫َ َاَْيِب يْ َ َ ب‬

‫۝‬
٢١٥ َۙ
‫َ اْ يُمْيِ بِبْ ي ن‬ َ َ َََّ َ‫َ ا ت‬
َ ‫َ ِب‬ ‫َ َْ ب َ ب‬
َ َ َ‫واْي ِ يبْ َََِا‬

Artinya : "Dan berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu yang


terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang- orang yang
mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (215) Dalam
berdakwah, kita juga harus sabar melakukannya dan bertawakkal
kepada Allah SWT. Karena kewajiban kita hanya menyampaikan dan
mengajak.”( QS. Asy-syura’ ayat 214-215)
Tafsiran ayat tersebut melaui tafsir Al-Mishbah oleh M. Quraish shihab

adalah sebagai berikut: Demikian ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW.

Dan umatnya agar tidak mengenal pilih kasih, atau memberi kemudahan

kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini berarti nabi SAW. Dan

keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban.

Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rosul SAW,

karena semua adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga atau
14

orang lain. Bila ada kelebihan yang berhak meraka peroleh, maka itu

disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi

diri dengan ilmu serta ahlak yang mulia.13

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaiman yang diharapkan,

maka perlu dioerhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah:14

1) Faktor row input (faktor murid itu sendiri) dimana setiap anak
memiliki kondisi yang berbeda-beda dalam: (1) kondisi fisiologis,
(2) Kondisi psikologis

2) Faktor environmental input (faktor lingkungan), baik itu lingkungan


alami ataupun lingkunagn sosial.

3) Faktor instrumental input, antaralain kurikulum, program/bahan


pengajaran, sarana dan fasilitas, guru (tenaga pengajar).

3. Pendidikan Agama Islam

a. Pengertian Pendidikan Agama Islam

PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran- ajaran

pokok (dasar) yang terdapat dalam agamaIslam, sehingga PAI merupakan

bagian yang terdapat dalam ajaran agama Islam. Ditinjau dari segi muatan

pendidikannya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu

komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang

bertujuan untuk pengembangan moral dan kepribadian peserta didik. Semua

13
[Link] shihab, 2002. Tafsir [Link]: Lentara Hati
14
Abu ahmadi Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: Pustaka Setia, 2005), 103.
15

mata pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus siring dan sejalan dengan

tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI.

Diberikannya mata pelajaran PAI bertujuan untuk terbentukya peserta

didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT berbudi pekerti yang

luhur (berakhlak mulia), dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam,

terutama sumber ajaran dan sendi-sendi islam lainnya, sehingga dapat

dijadikan bakal untuk mepelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran

tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin

ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut. PAI menjadi mata

pelajaran yang tidak hanya mengantarkan peserta didik dapat menguasai

berbagai kajian keislaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana peserta

didik mampu menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat

mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari ditengah- tengah masyarakat.

Pendidikan agama islam merupakan usaha sadar yang dilakukan penddik

dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan

mengamalkan ajaran islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau

pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.15

Karakteristik pendidikan Islamdi antaranya adalah: pertama, pendidikan

Islam adalah penekanan pencarian ilmu pengetahuan, penguasaan, dan

pengembangan atas dasar ibadah kepada Allah SWT. Kedua, pengakuan akan

potensi dan kemampuan seseorang, berkembang dalam suatu kepribadian.

Setiap pencari ilmu dipandang sebagai makhluk Tuhan yang dihormati dan

disantuni. Ketiga, pengalaman ilmu pengetahuan atas dasar tanggung jawab

15
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), cet. VI, h. 21
16

kepada Tuhan dan masyarakat.16

b. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Ruang lingkup pendidikan Agama Islam pada dasarnya sejalan dengan

ruang lingkup agama Islam yang mencakupi tiga aspek yaitu:

1) Hubungan Manusia dengan Penciptanya (Allah SWT) Hubungan manusia

dengan Allah SWT merupakan hubungan vertikal (garis tegak lurus)

antara makhluk dengan Penciptnya atau habluminalloh. Ruang lingkup

program pengajarannya mencakup segi Iman, Islam dan Ihsan. Sebagai

alat untuk meresapi keyakinan dan ketundukan kepada Maha Pencipta,

maka termasuk kedalam ruang lingkup ini pelajaran membaca Al-Qur’an

yang sesuai dengan segala aturannya, ibadah dan keimanan.17

2) Kedua Hubungan Manusia dengan Manusia Hubungan manusia dengan

manusia merupakan hubungan horizontal (garis mendatar) antara manusia

dengan manusia lainnya dalam suatu kehidupan bermasyarakat, berbangsa

dan bernegara menempati prioritas kedua dalam ajaran Islam. Ruang

lingkup program pengajarannya, berkisar pada pengaturan hak dan

kewajiban antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dalam

kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Dalam hal ini, bahan

pelajarannya mencakup Akhlaq, Syari’ah, Mu’amalah dan Tarikh.

Ketiga hubungan manusia dengan makhluk lain atau lingkungannya Agama

Islam banyak mengajarkan kepada kita tentang alam sekitar. Allah

menciptakan manusia sebagai Khalifah dibumi untuk mengelola dan

16
Azra, A. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. (Jakarta: PT. Logos
Wacana Ilmu, 1999), hal 54
17
Farida Jaya, Perencanaan Pembelajaran, (Medan: UIN Sumatera Utara, 2019), hal. 35
17

memanfaatkan alam yang telah dianugerahkan Allah, untuk kemaslahatan

manusia sesuai dengan garis-garis yang telah ditentukan Allah (sunnatullah)

4. Konsep Tentang Iman

a. Pengertian Iman

Term iman berasal dari Bahasa Arab dari kata dasar amana yu’minu-

imanan. Artinya beriman atau percaya. Percaya dalam Bahasa Indonesia

artinya meyakini atau yakin bahwa sesuatu (yang dipercaya) itu memang benar

atau nyata adanya.18 Iman dapat dimaknai iktiraf, membenarkan, mengakui,

pembenaran yang bersifat khusus.19 Menurut WJS. Poerwadarminta iman

adalah kepercayaan, keyakinan, ketetapan hati atau keteguhan hati.20 Abul ‘Ala

al-Mahmudi menterjemahkan iman dalam Bahasa inggris Faith, yaitu to know,

to believe, to be convinced beyond the last shadow of doubt yang artinya,

mengetahui, mempercayai, meyakini yang didalamnya tidak terdapat keraguan

apapun.

Dalam pembahasan ilmu kalam atau ilmu tauhid, konsep iman terbagi

menjadi tiga golongan, yaitu;

1) Iman adalah tasdiq didalam hati akan wujud Allah Swt. dan keberadaan

Nabi atau Rasul Allah Swt. Menurut konsep ini, iman dan kufur sematamata

adalah urusan hati, bukan terlihat dari luar, jika seseorang sudah tasdiq akan

adanya Allah Swt., maka ia sudah disebut telah beriman, sekalipun

perbuatannya belum sesuai dengan tuntunan ajaran agamnya. Konsep iman ini

banyak dianut oleh madzab murji’ah, sebagian penganut jahamiyah, dan

18
Kaelany HD, Iman, Ilmu dan Amal Saleh, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000) hlm. 58.
19
[Link] Rahman Abdul Khalid, Garis Pemisah antara Kufur dan Iman,( Jakarta, Bumi Aksara,1996)
Hlm. 2
20
WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2000) hlm. 18.
18

sebagai kecil Asy’ariyah.

2) Iman adalah tasdiq didalam hati dan diikrarkan dengan lidah. Dengan

demikian,

3) Iman adalah tasdiq didalam hati, ikrar dengan lisan dan dibuktikan dengan

perbuatan. Antara iman dan perbuatan manusia terdapat keterkaitan karena

keimanan seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya. Konsep

keimanan semacam ini diantara oleh amal mu’tazilah, khawarij, dan lain-lain.

Dalam agama Islam, adanya kepercayaan harus mendorong

pemeluknya dengan keyakinan dan kesadarannya untuk berbuat baik dan

menjauhi larangan tuhan. Oleh sebab itu, seseorang baru dianggap sempurna

imannya apabila betul-betul telah diyakinkan denganlisan dan dibuktikan

dengan amal perbuatan.

Dari uraian singkat diatas terlihat bahwa konsep iman dikalangan umat

islam, bervariasi ada yang hanya memasukkan unsure tasdiq ada yang

menambah dengan unsure ikrar tanpa mengaitkan dengan amal perbuatan

manusia, dan ada yang mengumpulkan ketiga unsure tersebut, yaitu tasdiq,

ikrar, dan amal perbuatan.

Golongan yang berpendapat bahwa iman itu dapat bertambah atau

berkurang menyatakan bahwa iman itu dapat bertambah atau berkurang pada

tasdiq dan amalnya. Tasdiq yang bertambah tentu diikuti oleh bertambahnya

frekuensi amal perbuatan dan ketaatannya bertambah atau berkurangnya tasdiq

seseorang bergantung kepada;

1) Wasilahnya. Kuat atau lemahnya dalil(bukti) yang sampai dan diterima oleh

seseorang dapat menguatkan atau melemahkan tasdiqnya.


19

2) Diri pribadi seseorang itu sendiri, dalam arti kemampuannya menyerap

dalil-dalil keimanan. Makin kuat daya serapnya, maka kuat pula tasdiqnya.

Sebaliknya, jika daya serapnya lemah atau tidak baik, tasdiqnya pun bisa

lemah pula.

3) Pengamalan terhadap ajaran agama. Seseorang yang melaksanakan

kewajiban-kewajiban agama dengan baik dan benar dan frekuensi amaliahnya

tinggi, akan merasakan kekuatan iman atau tasdiq yang tinggi pula. Makin baik

dan tinggi frekuensi amaliahnya, makin bertambah kuat iman atau tasdiqnya.21

B. Penelitian Terdahulu

1. Penelitian Ega Sasrie Pusba (2016) yng berjudul Pengaruh Penggunaan

Model Problem Based Leraning (PBL ) Terhadap Prestasi Belajar IPA

Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Sukarame Tahun Ajaran 2015-2016.

Simpulan yang diperolah dari penelitian tersebut bahwa terdapat

pengaruh positif penggunaan model Problem Based Learning (PBL)

terhadap prestasi belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri 1 Sukarame

Tahun Ajaran 2015-2016.

2. Penelitian Diana Khalida (2015) yang berjudul Pengaruh Penggunaan

Model Problem Based Leraning (PBL ) Terhadap Motivasi Belajar

Sejarah Siswa di Kelas XI Madrasah Aliyah Negeri 2 Jepara. Hasil dari

penelitian tersebut adalah adanya pengaruh penggunaan model Problem

Based Learning (PBL) terhadap Motivas Motivasi Belajar Sejarah

21
Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam, (Bandung: CV Pustaka Jaya, 2009) hal. 19-20.
20

Siswa di Kelas XI Madrasah Aliyah Negeri 2 Jepara. Adanya pengaruh

ini disebabkan penerapan Problem Based Learning (PBL) sebagai salah

satu model pembelajaran dapat membanttu siswa untuk meningkatkan

keterampilan berfikir kritis sehingga mampu merangsang motivasi

siswa dalam belajar masalah.

3. Penelitian Raudhatul Hanifa (2017) yang berjudul pengaruh Model

Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar

Siswa Pada Materi Stoikiometri di MAN 1 Pidie. Adapun kesimpulan

dari penelitian ini yaitu adanya pengaruh penggunaan model

pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar

siswa pada materi stoikiometri di MAN 1 Pidie.


21

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK).

Penelitian tindakan kelas yaitu penelitian tindakan (action researc)yang

dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelasnya.

PTK berfokus pada kelas atau berfokus pada proses belajar mengajar yang

terjadi dikelas.

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas, Suharsimi, Sudardjo dan Supardi

menjelaskan (PTK) dengan memisahkan kata-kata yang tergabung di

dalamnya sebagai berikut:

B. Variabel Penelitian

a. Variabel Terikat

Varibel terikat adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk

menentukan adanya variabel bebas, yaitu faktor yang muncul atau tidak

muncul, atau berubah sesuai degan yang diperkenalkan oleh peneliti. Pada

penelitian ini yang yang menjadi variabel terikat adalah Hasil Belajar

Pendidikan Agama Islam.

Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah berupa nilai-

nilai tes yang sudah diberikan saat penelitan dengan menerapakan

pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL).

b. Varibel Bebas

21
22

Varibale bebas adala Variabel yang menyebabkan atau mem pengaruhi, yaitu

faktor -faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk

menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati. Pada

penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah Problem Based Lerning

(PBL).

C. Populasi dan Sampel

Menurut Arikunto “Populasi adalah keseluruhan objek penelitian”.22

Penelitian hanya dapat dilakukan bagi populasi terhingga dan subyeknya tidak

terlalu banyak. Populasi siswa di kelas II SD Negeri 18 Bungo Pasang, jumlah

siswa tahun pelajaran 2024-2025 sebanyak 26 siswa yang tediri dari laki-laki

12 dan perempuan 14.

Menurut Sugiyono “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang

dimiliki oleh populasi tersebut’.23 Jadi dalam penelitian ini, peneliti tidak mungkin

mengambil sampel dari semua siswa yang berjumlah 163 orang. Teknik pengambilan

sampel dilakukan secara random sampling teknik undian. Sampel yang diambil dalam

pemelitian ini kelas V yang berjumlah 26 siswa terdiri dari 12 laki-laki dan 14

Perempuan.

D. Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

1. Jenis

a) Data premier adalah data yang keluar dari mulut dikatakan oleh

seorang arau pihak yang menjadi sumber data. Ucapan subjek

tindakan yang oleh peneliti ditanya melalui angket, wawancara, atau

perilakunya diamati lansung oleh peneliti.

22
Suaharsimi Arikunto, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Rineka Cipta 2006) Hal. 130
23
D. Sugiono, Metode Peneitian Bisnis, (Bandung: Pusat Bahasa Depdiknas 2008) Hal. 118
23

b) Data sekunder adalah data yang diperolehnya tidak langsung dari

sumber data.

2. Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.

a) Data premier yaitu data yang diperoleh dari siswa sebagai subjek

penelitian, berupa nilai ulangan harian.

b) Data sekunder yaitu data yang didapt dari observer sebagai pengamat

berupa lembar observasi.

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik dan instrumen pengumpulan data yang digunakan

oleh penulis dalam mengumpulkan data yang sesuai dengan penelitian yang

dilakukan adalah:

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis

terhadap gejala- gejala yang diteliti.24 Observasi ini dilakukan

ketika proses pembelajaran berlangsung dimana ketika guru

menggunakan teknik pembelajaran make a match.

2. Tes

Tes adalah seperangkat soal atau tugas yang harus dijawab dan

dikerjakan oleh seorang tesee (responden yang mengikuti tes)

dengan tujuan untuk mengetahui suatu kompetensi atau

kemampuan, terhadap suatu materi tertentu, sesuai dengan

24
Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 52.
24

tujuan yang akan dicapai. Tes tersebut bisa berupa bentuk

uraian essay atau pilihan ganda dan dimaksudkan untuk

memperoleh peningkatan hasil belajar setelah menerapkan

pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran

make a match.

3. Dokumentasi

Teknik dokumentasi yaitu pengumpulan data dari dokumen

atau catatan- catatan yang ada di lokasi penelitian kemudian

dikutip dalam bentuk tabel, seperti arsip, daftar nilai, daftar

hadir, dan lain-lain.

E. Prosedur Tindakan

Prosedur penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini ada dua

tahap. Pertamatahap pra tindakan dan kedua tahap pelaksanaan. Penelitian

ini juga dilaksanakan melalui dua siklus yaitu siklus I dan siklus II.

Rincian tahap-tahap pada penelitian ini adalah sebagai berikut:25

1. Tahap Pra Tindakan

Pra tindakan dilakukan sebagai langkah awal untuk

mengetahui dan mencari informasi tentang permasalahan dalam

sekolah tersebut serta dalam mata pelajaran Pendidikan agama

Islam. Kegiatan yang dilakukan pada tahap pra tindakan adalah

peneliti:

25
Emzir, Metodologi Pendidikan Kuantitatif Kualitatif (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2010), hlm. 257.
25

a) Menentukan subjek penelitian

b) Peneliti meminta izin kepada kepala sekolah

c) Menentukan sumber data

d) Melakukan observasi awal

2. Tahap Tindakan

Perencanaan tindakan ini berdasarkan pada observasi awal

yang menjadi perencanaan tindakan dengan mengidentifikasi

permasalahan yang ada kemudian diambil tindakan pemecahan

masalah yang dipandang tepat. Setelah menemukan berbagai

permasalahan pada tahap pra tindakan, maka disusunlah rencana

tindakan perbaikan atas masalah yang dijumpai dalam proses

pembelajaran.

Pada tahap ini tindakan yang dilakukan adalah:

Siklus I

a. Perencanaan Tindakan (Planning)

Perencanaan tindakan dalam siklus I disusun berdasarkan

hasil observasihasil kegiatan pra tindakan. Rancangan tindakan ini

disusun dengan mencakup beberapa hal di antaranya, peneliti:

1) Mempersiapkan materi pembelajaran

2) Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran

3) Menyiapkan media pembelajaran sesuai dengan model make a


26

match

4) Menyiapkan tes siklus I

5) Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas guru,

peserta didik, dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran

b. Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Pelaksanaan tindakan adalah implementasi rencana

tindakan. Padatahap ini peneliti mempraktikkan pembelajaran

sesuai desain pembelajaran yang telah disusun dan dibantu guru

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang berperan sebagai

observer. Pada tahap ini yang dilakukan oleh peneliti yaitu:

1) Menyampaikan tujuan pembelajaran

2) Menyampaikan materi

3) Membentuk peserta didik menjadi beberapa kelompok

4) Menerapkan model make a match pada mata pelajaran

PendidikanAgama Islam

5) Tahap konfirmasi, memberi penegasan materi

6) Memberikan evaluasi terhadap tingkat penguasaan materi

kepada peserta didik

c. Pengamatan (Observing)

Tahap ketiga yaitu observasi ini dilakukan bersamaan

dengan pelaksanaan tindakan .pengamatan yang dilakukan oleh

peneliti terhadap peserta didik dalam proses pembelajaran


27

menggunakan strategi make a match. Peneliti mempersiapkan

lembar observasi yang telah disiapkan untuk mengetahui kondisi

kelas terutama hasil belajar peserta didik dalampembelajaran.

d. Refleksi (Reflecting)

Refleksi ini dilakukan pada setiap akhir dilakukannya

pembelajaran. Tujuan dan kegiatan yang dilakukan pada tahap

refleksi adalah menganalisa tindakan siklus I, mengevaluasi hasil

dari tindakan siklus I dan melakukan pemaknaan dan penyimpulan

data yang diperoleh untuk perbaikan selanjutnya.

Siklus II

a. Perencanaan tindakan (Planning)

Perencanaan tindakan dalam siklus II ini disusun berdasarkan

hasil perbaikan pada siklus I. Rancangan tindakan ini disusun

dengan mencakup beberapa hal, antara lain:

1) Mempersiapkan materi pembelajaran

2) Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran

3) Menyiapkan media pembelajaran sesuai dengan model make a

match

4) Menyiapkan tes siklus II

5) Menyiapkan lembar observasi

b. Pelaksanaan Tindakan (Acting)


28

Pelaksanaan tindakan pada siklus II merupakan perbaikan

pelaksanaan tindakan yang dilakukan berdasarkan siklus I, mulai

dari kegiatan penyampaian materi, pembagian kelompok sampai

kegiatan evaluasi.

c. Pengamatan (Observing)

Pengamatan ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan

siklus II. Pengumpulan data observasi dilakukan oleh observer yaitu guru

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui lembar observasi yang

telah dipersiapkan oleh peneliti.

d. Refleksi (Reflecting)

Peneliti kembali menganalisis dan membuat kesimpulan atas

pelaksanaanpembelajaran pada siklus II yang dilakukan berdasarkan

acuan dari beberapa pertanyaan yang dapat dilihat pada lampiran.

F. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai

berikut:

1. Data Tes

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bidang studi Pendidikan Agama

Islam kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang adalah 70. Untuk mengetahui

peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II, serta peningkatan

presentasi belajar maka digunakan rumus sebagai berikut:

1) Rata-rata Nilai
29

Ket:

∑x = Nilai siswa.

N = Jumlah siswa.

2) Persentase Ketuntasan Belajar

Ket:

KB = Persentase Ketuntasan Belajar.

F = Jumlah Siswa yang

mendapat nilai diatas 70

N = Jumlah Seluruh

Siswa.

3) Data Observasi

Data observasi yang diperoleh digunakan untuk merefleksi

tindakan yang telah dilakukan dan diolah secara deskriptif

dengan menghitung:

Rata-rata skor

Skor Pengamatan Setiap Aspek Yang Diamati pada lembar

observasi guru dan siswa:

Tabel.2
No Kriteria Skor
1 Baik(B) 3
2 Cukup(C) 2
30

3 Kurang(K) 1

Keterangan penilaian:

1. Baik bila mendapatkan nilai 81 sampai dengan 100

2. Cukup bila mendapatkan nilai 61 sampai dengan 80

3. Kurang baik bila mendapatkan nilai kurang dari


BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian tindalan kelas ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun

2024/2025, penelitian ini dilakukan di kelas V di SD Negeri 18 Bungo Pasang Kota

Padang dengan jumlah siswa sebanyak 30 siswa, terdiri dari laki-laki 12 Orang dan

perempuan 18 Orang. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada dua siklus

dilakukan mulai bulan Agustus sampai bulan Oktober tahun 2024. Pendekatan pada

penelitian tindakan kelas meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan

refleksi.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar melalui model

pembelajaran Problem Based Learning (PBL), model Pembelajaran Problembased

learning (PBL) ini akan diterapakan pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam

(PAI) dalam pokok bahasan Peristiwa Fathu Makkah dengan tujuan agar siswa dapat

menjelaskan pengertian Fathu Makkah, penyebab terjadinya peristiwa fathu makkah

dan siswa mampu menunjukkan perilaku mulia Rasulullah Saw. Dalam peristiwa

fathu makkah. Pada tahap pra siklus hasil belajar siswa khususnya pada mata

pelajaran PAI siswa kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang masih rendah. Hal tersebut

dapat dilihat dari tabel hasil belajar pada mata pelajaran PAI pra siklus dibawah ini.

1. Deskripsi Data Pra Siklus

Penelitian awal yang peneliti lakukan sebelum melaksanakan tindakan berupa

siklus baik siklus satu maupun siklus dua. Observasi yang yang dilakukan satu kali

40
41

pertemuan pada tanggal 12 Agustus 2024. Data berupa informasi yang peneliti

dapatkan, diuraikan sebagai berikut :

a. Metode pembelajaran yang diterapakan oleh selama ini berupa metode

ceramah, tanya jawab dan penugasan yang menyebabkan peserta didik

kurang fokus pada proses pembelajaran yang dilakukan.

b. Siswa masih banyak yang sibuk dengan kegiatan pribadi yang tidak ada

kaitannya dengan pelajaran, tidak memperhatikan materi ajar yang

disampaikan oleh guru.

c. Siswa tidak berani bertanya dan menyampaikan pendapatnya berkaitan

dengan materi ajar yang disampaikan.

d. Siswa masih banyak yang tidak mampu mengulangi kembali materi ajar

yang disampaikan oleh guru.

Berdasarkan hasil pengamatan sebelum pelaksanaan siklus I bahwa masih

banyak siswa yang pasif dalam kegiatan belajar, hanya sedikit yang aktif dalam

proses pembelajaran. Ketika proses pembelajaran berlangsung mengajukan

pertanyaan yang menjawab pertanyaan hanya beberapa orang saja. Hasil atau nilai

yang didapat banyak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM),

seperti yang terlihat pada tabel berikut:

Tabel 3 Rekap Hasil Belajar Pra Siklus

No Indikator Jml %

1 KKM 70 70

2 Tuntas 3 30

3 Tidak Tuntas 7 70
42

4 Rerata 46 46

Grafik 1 Rekap Hasil Belajar Pra Siklus

Berdasarkan uraian datas, menunjukkan bahwa tingkat penguasaan siswa

terhadap tujuan pembelajaran belum dapat tercapai, karena baru 30% siswa

mendapat nilai diatas rata-rata. Maka peneliti melalui model pembelajaran problem

based learning diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SD Negeri 18

Bungo Pasang Kota Padang.

2. Deskripsi Pada Siklus I

Kegiatan awal dari siklus I ini dilaksanakan berdasarkan pengamatan terhadap

pembelajaran PAI kelas V yang telah dijelaskan diatas, bahwa dalam pembelajaran

PAI kelas V masih banyak kekurangan, hal tersebut karena dalam mengajar guru

masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah dalam proses pembelajaran,

sehingga siswa masih sibuk dengan kegiatan pribadinya, kurang aktifnya siswa

dalam menjawab dan bertanya dan hasil pelajaran PAI masih kurang baik, dapat

dilihat dari hasil tes kemampuan awal yang telah dilakukan.

Berdasarkan masalah-masalah yang timbul maka direncanakan sesuatu


43

tindakan dalam proses pembelajaran. Dari tindakan yang diberikan, diharapkan dapat

meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI). Tindakan siklus I

dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2024 yang terdiri dari beberapa tahap yaitu:

Perencanaan, Pelaksaan, Tindakan, Pengamatan dan Refleksi.

a. Tahap Perencanaan

Beberapa persiapan yang diperlukan untuk melaksanakan siklus antara lain :

1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajran (RPP) dengan

menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL) pada

materi beriman kepada Allah dan rasul.

2) Mempersiapkan alat evaluasi (tes) yaitu berupa tes yang dilakukan pada

setiap akhir tindakan tiap siklus sesuai dengan ruang lingkup permasalahan

dalam pembelajaran.

3) Membuat lembar observasi siswa yang digunakan untuk mengamati

aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.

b. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti membagikan soal tes siklus I untuk dikerjakan oleh

siswa dengan soal pilihan ganda sebanyak 10 soal. Adapun hasil tes belajar siswa

setelah tindakan (siklus I) dapat dilihat pada tabel 4.5

Tabel 4 Rekap Hasil Belajar Siklus I

No Indikator Jml %
1 KKM 70 70
44

2 Tuntas 6 60
3 Tidak Tuntas 4 40
4 Rerata 69 69

Grafik : 2 Rekap Hasil Belajar Siklus I

Tabel dan grafik diatas menunjukkan bahwa tingkat penguasaan siswa

terhadap tujuan pembelajaran belum juga tercapai, karena baru 60% siswa mendapat

nilai diatas rata-rata.

c. Tahap Observasi I

Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan

menggunakan lembar observasi yang telah dibuat baik kepada guru maupun

kepada siswa. Pengamatan dilakukan untuk merekam semua hasil belajar siswa dan

aktifitas belajar siswa kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang ketika proses

pembelajaran berlangsung.

Peneliti melakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dengan menggunakan

lembar observasi siswa yang telah disediakan terlebih dahulu, berikut adalah hasil

peneliti mengenai aktifitas siswa:


45

Tabel 5 Hasil Observasi Aktifitas Siswa Siklus I

AspekYang
No Dinilai Aspek Yang Diamati Nilai Kategori

1. Menerima 1. S iswa terlihat senang 3 Baik


(ReceIing) Mengikuti proses
pembelajaran PAI
2. Siswa mampu 2 Cukup
mengidentifikasi perilaku
terpuji dari masalah yang
Didiskusikan
2. Menanggapi 1. Siswa berusaha menjawab 2 Cukup
(Responding) pertanyaan saat diskusi
2. Siswa aktif menjawab/ 2 Cukup
Menanggapi pendapat
teman-temannya
3. Penilaian 1. Siwa memberikan penilaian 2 Cukup
(Valuing) yang buruk terhadap
perilaku terpuji
2. Siswa memberikan 1 Kurang
Penilaian baik terhadap
perilaku terpuji
Mengorgani sasikan
4. 1. Siswa memberikan contoh 2 Cukup
Skor Perolehan 14

Skor Maksimum 21

Keterangan:

3: Baik
2: Cukup
1: Kurang
Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I dengan menggunakan model

pembelajaran problem based learning masih belum optimal. Hal tersebut

ditunjukkan masih ada beberapa siswa yang mengobrol dengan temannya, sibuk

sendiri seperti menggambar sehingga tidak menyimak proses tanya jawab yang
46

dilakukan teman lainnya, dan siswa belum percaya diri dalam mempersentasikan

hasil diskusi. Namun demikian siswa sudah mulai antusias memperhatikan instruksi

dari guru untuk membaca kembali materi yang sedang dipelajari untuk difahami dan

mulai semangat untuk menyiapakan pertanyaan serta jawaban apa yang

kemungkinan akan ditanyakan.

Tabel diatas juga menunjukkan bahwa dengan menggunakan model

pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan keaktifan dan hasil

belajar pendidikan agama islam siswa, nilai indikator yang dialami siswa mengalami

peningkatan dibandingkan pada observasi awal sebelum diterapkannya pembelajaran

problem based learning. Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran

problem based learning dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran

PAI untuk siklus I masih tergolong cukup.

d. Tahap Refleksi

Refleksi pembelajaran pada siklus I, dengan permasalahan sebagai berikut:

1) Masih kurangnya partisipasi siswa untuk mendengarkan dan mencari

pertanyaan karena masih banyak siswa yang sibuk dan asyik mengobrol

dengan teman lainnya.

2) Ada beberapa siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan yang

diberikan temannya karena kurangnya membaca materi yang telah

disediakan sehingga kurangnya pemahaman terhadap materi yang sedang

dipelajari

3) Masih ada beberapa siswa yang ragu-ragu dalam menyampaikan dan

menjawab pertanyaan karena masih kurangnya percaya diri dan takut salah.
47

Karena masih adanya beberapa kekurangan dalam proses pembelajaran pada

siklus I, maka diambil langkah-langkah perbaikan untuk tindakan pada siklus

berikutnya, sebagai berikut:

1) Memberikan pengertian tentang pembelajaran model problem

basedlearning

2) Memotivasi dan mengorganisasikan siswa untuk belajar, serta membantu

menyelidiki masalah yang diberikan.

3) Guru lebih rinci atau lebih jelas lagi dalam menyampaikan tujuan

pembelajaran agar siswa bisa lebih memahami materi

4) Guru membimbing siswa yang kesulitan dalam menyampaikan hasil diskusi.

Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem based learning

dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar pembelajaran pendidikan agama

Islam pada siklus I belum mencapai hasil indikator yang maksimal, dan harus di

tingkatkan pada tindakan siklus II.

3. Hasil Penelitian Siklus II

Tindakan siklus II dilaksanakan pada tanggal 2 dan 9 September 2024 yang terdiri

dari beberapa tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan, pengamatan dan

refleksi.

a. Tahap Perencanaan

Beberapa persiapan yang diperlukan untuk melaksanakan siklus antara lain:

1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajran (RPP) dengan menggunakan

model pembelajaran problem based learning (PBL) pada materi Beriman


48

kepada Allah dan Rasul.

2) Mempersiapkan alat evaluasi (tes) yaitu berupa tes yang dilakukan pada

setiap akhir tindakan tiap siklus sesuai dengan ruang lingkup permasalahan

dalam pembelajaran.

3) Membuat lembar observasi guru dan lembar observasi siswa yang

digunakan untuk mengamati aktIitas guru dan siswa dalam proses

pembelajaran.

b. Tahap Pelaksanaan

Guru memulai pelajaran dengan salam dan doa Guru menanyakan kehadiran

siswa (absensi), guru menyampaikan topic materi yang akan disampaikan bertanya

pengalaman mereka terkait dengan materi peristiwa Fathu Makkah. Guru membagi

siswa dalam 6 kelompok yang terdiri dari 3 orang dan membagi masalah yang akan

di bahas ke masing-masing kelompok.

Pada tahap ini peneliti membagikan soal tes siklus II untuk dikerjakan oleh

siswa dengan soal pilihan ganda sebanyak 10 soal. Adapun hasil tes belajar siswa

setelah tindakan (siklus II) dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 6 Rekap Hasil Belajar Siklus II

No Indikator Jml %
1 KKM 70 70
2 Tuntas 9 90
3 Tidak Tuntas 1 10
4 Rerata 86 86

Grafik : 3 Rekap Hasil Belajar Siklus II


49

Pada tabel dan grafik diatas menunjukkan bahwa tingkat penguasaan siswa

terhadap tujuan pembelajaran sudah dapat tercapai, karena telah mencapai 90% siswa

mendapat nilai diatas rata-rata dan hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran

PAI dengan menggunakan model problem based learning dapat meningkatkan hasil

belajar siswa dengan yang diharapkan.

c. Tahap Observasi

Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan

menggunakan lembar observasi yang telah dibuat untuk siswa. Pengamatan

dilakukan untuk merekam semua hasil belajar siswa dan aktifitas belajar siswa kelas

I SD Negeri 18 Bungo Pasang ketika proses pembelajaran berlangsung, pelaksaan

tindakan kelas pada tanggal 2 dan 9 September 2024.

Peneliti melakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dengan menggunakan

lembar observasi siswa yang telah disediakan terlebih dahulu, berikut adalah hasil

peneliti mengenai aktifitas siswa:

Tabel 7 Hasil Observasi Aktifitas Siswa Siklus II


50

No Aspek yang Aspek yang diamati Nilai Kategori


Dinilai

1. Menerima [Link] terlihat senang 3 Baik


(ReceIing) Mengikuti proses
pembelajaran PAI
[Link] mampu 3 Baik
mengidentifikasi perilaku
terpuji dari masalah yang
Didiskusikan
2. Menanggapi 1. Siswa berusaha menjawab 3 Baik
(Responding) pertanyaan saat diskusi
2. Siswa aktif menjawab/ 3 Baik
menanggapi pendapat teman-
Temannya
3. Penilaian 1. Siwa memberikan penilaian 2 Cukup
yang buruk terhadap perilaku
(Valuing) terpuji

2. Siswa memberikan penilaian 3 Baik


baik terhadap perilaku terpuji
4. Mengorganisasi 1. Siswa memberikan contoh 2 Cukup
perilaku terpuji selain yang
Kan diberikan di LKS
2. Siswa mengembangkan cara 2 Cukup
(organizing)
menghindari perilaku terpuji
Skor perolehan 21
Skor maksimal 24

Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus II dengan menggunakan model

pembelajaran problem based learning sudah optimal. Hal tersebut ditunjukkan

dengan tidak ada lagi siswa yang mengobrol dengan temannya dan tidak ada lagi

sibuk sendiri bahkan mampu berusaha untuk mempersentasikan hasil diskusinya,

sehingga sudah banyak yang menyimak jalannya tanya jawab yang dilakukan oleh

teman yang lainnya. Dengan demikian siswa sudah mulai antusias memperhatikan

instruksi dari guru untuk membaca kembali materi yang sedang dipelajari untuk

difahami dan mulai semangat untuk menyiapakan pertanyaan serta jawaban yang
51

kemungkinan akan ditanyakan.

Tabel diatas juga menunjukkan bahwa dengan menggunakan model

pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan keaktifan dan hasil

belajar pendidikan agama Islam siswa, nilai indikator yang dialami siswa mengalami

peningkatan dibandingkan pada observasi awal sebelum diterapkannya pembelajaran

problem based learning. Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran

problem based learning dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran

PAI untuk siklus II sudah mencapai indikator yang diharapkan meningkat.

d. Tahap Refleksi

Setelah tahap pelaksanaan dengan melakukan aktifitas guru dan siswa dalam

pembelajaran pendidikan agama islam dengan materi beriman kepada Allah dan

Rasul ada kemajuan dalam perapaan model pembelajaran problem based learning.

Aktifitas guru dapat lebih aktif, menyiapakan Rencana Pelaksanaan Pembelajran

(RPP) dan menyiapkan kelas dengan kondusif, mengadakan pra siklus sebelum

menilai dengan pertanyaan seputar lingkungan atau peristiwa yan telah dialami siswa,

pembelajaran menggukan metode ceramah dan diskusi, mengabsen kehadiran siswa,

memberikan tugas siswa, memperhatikan tugas siswa selama proses pembelajaran

berlangsung, melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, memberikan kesempatan

kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami, menanggapi

pertanyaan siswa dengan baik, mengajak siswa untuk bersama-sama menyimpulkan

materi yang telah diajarkan dan melakukan test akhir pembelajaran.

Dengan demikian dari hasil refleksi siklus II dengan menggunakan model

pembelajaran problem based learning dalam meningkatkan proses dan hasil


52

pembelajaran pedidikan agama Islam pada siklus II sudah mencapai hasil indikator

yang maksimal, untuk itu siklus dihentikan.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

a. Siklus I

Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I menggunakan model

pembelajaran problem based learning masih belum optimal, hal tersebut ditunjukkan

Masih kurangnya partisipasi siswa untuk mendengarkan dan mencari pertanyaan

karena masih banyak siswa yang sibuk dan asik mengobrol dengan teman lainnya,

ada beberapa siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan yang diberikan

temannya karena kurangnya membaca materi yang telah disediakan sehingga

kurangnya pemahaman terhadap materi yang sedang dipelajari dan masih ada

beberapa siswa yang ragu-ragu dalam menyampaikan dan menjawab pertanyaan

karena masih kurangnya percaya diri dan takut salah.

Model pembelajaran problem based learning menekankan keaktifan siswa,

siswa dituntut aktif dalam memecahkan suatu masalah (problem), model tersebut

bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus

dipelajari oleh siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis

sekaligus pemecahan masalah, serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep

penting. Guru haruus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai

keterampilan mengarahkan diri, dengan model pembelajaran problem based learning,

akan lebih mudah menangkap materi belajar mengajar yang disampaikan guru yang

akan membentuk penguasaan materi belajar akan menjadi lebih baik.

Karena masih adanya beberapa kekurangan dalam proses pembelajaran pada


53

siklus I, maka berdampak pada kurangnya tingkat pemahaman siswa, hal tersebut

bisa dilihat dari hasil data belajar pada siklus I yang baru mencapai 60% yang artinya

baru 6 orang yang mendapatkan nilai tuntas dari 10 siswa yang ada, namun data

sudah ada peningkatan prestasi siswa pada siklus I dibandingkan sebelum

perbaikan/pra siklus.

b. Siklus II

Pada siklus II siswa sudah aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bisa

mengikuti model pembelajaran problem based learning secara keseluruhan baik dari

pertanyaan dan jawaban yang diberikan serta mampu memberikan tambahan

informasi terhadap pertanyaan maupun jawaban. Guru dalam hal ini hanya

memberikan dan mengawasi terhadap jalannya proses diskusi yang dilakukan oleh

siswa.

Ada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, semua siswa

berusaha memahami materi yang diberikan oleh guru, siswa juga sangat antusias

sehingga menyimak jalannya tanya jawab yang dilakukan oleh teman yang lainnya.

Setelah dilakukan tes atau penilain diakhir pembelajaran pada siklus II, ternyata hasil

belajar siswa sudah mengalami peningkatan dalam proses pembelajaran, hal tersebut

bisa dilihat dengan adanya perolehan niali yang lebih baik bila dibandingkan siklus I

jumlah siswa yang tuntas 6 siswa mencapai ketuntasan 60%. Pada siklus II jumlah

siswa yang tuntas 9 siswa sehingga ketuntasan belajar meningkat menjadi 90% dan

hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran akhlak dengan menggunakan model

pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai

dengan yang diharapkan. Berikut dapat dilihat perbandingan kedua siklus sebagai
54

berikut:

Tabel 8 Perbr Hasil Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus I Dan Siklus II

No Aspek Hasil Belajar Jumlah Siswa

Pra Siklus Siklus I Siklus II


1 Tuntas 30 60 90

2 Belum tuntas 70 40 10

3 Rata-rata hasil 46 69 86

4 Persentase ketuntasan 30% 60% 90%

Grafik : 3 Rekap Hasil Belajar Antar Siklus

Berdasarkan perbandingan diatas maka secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa

penerapan model pembelajaran problem based learning pada pembelajaran PAI dapat

meningkatkan hasil belajar siswa dikelas I SD Negeri 18 Bungo Pasang Kota Padang. Model

pembelajaran problem based learning merupakan salah satu model mengajar guru, dimana guru

memberikan masalah ataupun masalah nyata yang dihadapi siswa dan tugas yang akan dihadapi

dalam dunia kerja kepada siswa sekaligus usahanya dalam memecahkan masalah tersebut.

Pemberian tugas merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan

penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal tersebut disebabkan karena padatnya materi
55

pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas.

Beberapa hal yang masih perlu diperbaiki pada penerapan model pembelajaran problem

based learning adaalah pada saat pelaksaan penerapan problem based learning pada awal

pembelajaran masih terdapat siswa yang kurang menyimak materi yang disampaikan guru.

Setelah dilakukan refleksi maka bermacam persoalan yang ditemukan tersebut akhirnya dapat

diperbaiki dan memperoleh hasil yang lebih baik.

Problem based learning didefinisikan sebagai lingkungan belajaryang di dalamnya

menggunakan masalah untuk belajar, siswa diharuskan mengidentifikasi satu masalah nyata.

PBL juga dapat didefinisikan sebagai sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsif

bahwa masalah kita dijadikan sebagai titik awal untuk mendapatkan ataupun mengintegrasikan

ilmu baru.

Hasil belajar dari pembelajaran problem based learning peserta didik memiliki

keterampilan penyelidikan, peserta didik memiliki keterampilan mengatasi masalah, peserta

didik mempunyai kemampuan mempelajari peran orang dewasa, dan peserta didik dapat

menjadi pembelajar yang mandiri.


56

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembelajaran pada bab sebelumya, maka

dapat disimpulkan bahwa: Pembelajaran menggunakan problem based learning

dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada bidang studi PAI di SD Negeri

18 Bungo Pasang Kota Padang. Hasil belajar siswa yang sebelum diterapkannya

model problem based learning belum memenuhi kriteria standar ketuntasan

minimal (KKM) namun setelah diterapkan model Pembelajaran problem based

learning hasil belajar siswa meningkat, terlihat pada peningkatan ketuntasan belajar

pada setiap siklus yang dilalui. Penggunaan model pembelajaran berdasarkan

masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI. Hal

tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai sebelum diterapkannya model

pembelajaran problem based learning adalah 46, banyaknya siswa yang mendapat

nilai diatas 70 (KKM) adalah 30%. Dari hasil siklus I rata-rata nilai memperoleh 69,

banyaknya siswa yang mendapat nilai diatas 70 adalah 60%, hasil observasi

aktifitas siswa adalah 70 (cukup) dan hasil observasi aktifitas guru 69,4 (cukup).

Setelah siklus II diperoleh rata-rata nilai 86, siswa yang mendapat diatas 70 adalah

90%, hasil observasi aktifitas siswa adalah 90 (Baik)

Dengan demikian, hasil belajar siswa dan hasil analisis lembar observasi

pengamatan meningkat kearah yang lebih baik dengan penerapan model

Pembelajaran problem based learning dibandingkan dengan menggunakan metode

ceramah.
57

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti mengemukakan berbagai

saran, yaitu:

1. Bagi Guru:

a. Guru PAI hendaknya dapat lebih mempelajari dan memahami secara

lebih mendalam tentang model Pembelajaran problembased learning

(PBL) dan prosedur pelaksaannya sebagai salahsatu refrensi untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

b. Guru dapat menerapakan model Pembelajaran problem basedlearning

(PBL) dalam kelas yang berbeda sehingga guru akanterbiasa

menerapkan pebelajaran yang mengembangkan aktifitas siswa

2. Bagi Peneliti:

a. Perlu pemahaman lebih mendalam akan faktor-faktor

yangmempengaruhi efektifitas pelaksnaan model Pembelajaran

problem based learning terutama berkaitan dengan pemilihanstrategi

dan media yang dapat lebih dIariasikan.

b. Penerapan model Pembelajaran problem based learning dapat dijadikan

salah satu alternatif variasi model pembelajaran dalam meningkatkan

hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam.

c. Dengan melihat hasil pembelajarandengan menggunakan model ini

dapat mencoba menggunakan model- model yang lain yang berfokus

kepada aktifitas siswa dan tidak hanya berfokus kepada keaktifan guru

saja.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad. Tauhid Ilmu Kalam, Bandung: CV Pustaka Jaya, 2009

Arends, Richard I. Learning To Teach/Belajar Untuk Mengajar, Yogyakarta: Pustaka

Belajar, 2007

Arikunto Suharsimi, dkk. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, 2008

Azra, A. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta:

PT. Logos Wacana Ilmu, 1999

Emzir, Metodologi Pendidikan Kuantitatif Kualitatif, Jakarta: PT Raja GrafindoPersada,

2010

Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 52.

Idi, Abdullah. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek, Jakarta: Rajawali Pers,

2014

Jamaluddin, Dindin. 2010. Metode Pendidikan Anak, Bandung : Pustaka Al-Fikriis.

Jurnal Saintech Vol. 08 - No.04-Desember 2016.

Jaya, Farida. Perencanaan Pembelajaran, Medan: UIN Sumatera Utara, 2019 Kaelany

HD, Iman, Ilmu dan Amal Saleh, Jakarta: Rineka Cipta, 2000

Kartini, Anggi Oktaviarini, Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

Untuk Meningkatkan Kemapuan Komunikasi Matematis, Jurnal Seminar

Nasional Matematika dan Pend Matematika UNY , 2015

Khalid, Abdul Rahman Abdul. Garis Pemisah antara Kufur dan Iman, Jakarta, Bumi

Aksara,1996

Miterianifah. Strategi Pembelajaran Kimia, Jakarta: Pustaka Mulya, 2013


Nafis, Muhammad Muntahibun. Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta: Sukses Offset,

2011

Poerwadarminta, WJS. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2000

Prasetya, Abu ahmadi Joko Tri, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia,

2005

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2010, cet. VI

Rusman. Model-Model Pembelajaran Megembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta:

PT. Grfindo Persada, 2011

Shihab, [Link], Tafsir AL-Mishbah. Jakarta: Lentara Hati, 2002

Syah, Muhibbin. Psikologis Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.2001


Lampiran
Modul Ajar Format Lengkap (Model 1)
Modul Ajar Fathu Makkah

Informasi Umum
Nama Penyusun : Nurkholis
Satuan Pendidikan : SD Negeri 18 Bungo Pasang
Tahun Penyusunan : 2024
Jenjang Sekolah : Sekolah Dasar (SD)
Kelas : V (Lima)
Alokasi Waktu : 3 x 35 JP
Kompetensi Awal : Peserta didik dapat menjelaskan peristiwa Fathu
Makkah dan sebab-sebab terjadinya fathu makkah.
Profil Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan Lil’alamin:
Profil Pelajar Pancasila : 1. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berakhlak mulia
2. Bernalar kritis : memperoleh dan memproses
informasi dan gagasan
3. Mandiri : bertanggung jawab atas proses dan
hasil belajarnya
4. Bergotong-royong
Profil Pelajar Rahmatan : 1. Berkeadaban (ta’addub); 2. Keteladanan
Lil’alamin (qudwah); 3. Kewarganegaraan dan kebangsaan
(muwaṭanah); 4. Mengambil jalan tengah
(tawassuṭ); 5. Berimbang (tawāzun); 6. Lurus dan
tegas (I’tidāl); 7. Kesetaraan (musāwah); 8.
Musyawarah (syūra); 9. Toleransi (tasāmuh); 10.
Dinamis dan inovatif (taṭawwur wa ibtikār);
Sarana & Prasarana : 1. Mushaf Al-Qur’an
2. Papan tulis
3. Spidol, serta alat tulis lainnya
4. Proyektor LCD
5. Speaker) aktif,
6. Laptop
7. PPT Interaktif
8. Vidio Pembelajaran
Target Peserta Didik : Peserta Didik Reguler
Model Pembelajaran : 1. Model pembelajaran Probem Based Learning
(PBL)
Sintak model PBL menurut Sumarmi sebagai
berikut:
1) Orientasi peserta didik pada masalah.
2) Mengorganisasikan peserta didik untuk
belajar.
3) Membimbing penyelidikan kelompok
Kompetensi Inti
A. Tujuan Pembelajaran
1. Meyakini peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan benar.
2. Membiasakan perilaku pantang menyerah sebagai bukti implementasi makna Fathu
Makkah dan Haji Wada dengan benar.
3. Menjelaskan pengertian peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan benar.
4. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya peristiwa Fathu Makkah dengan benar.
5. Menentukan perilaku mulia Rasulullah saw. dalam peristiwa Fathu Makkah dan Haji
Wada dengan tepat.
6. Menemukan perilaku terpuji dalam peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan
tepat.
7. Menghubungkan peristiwa Fathu Makkah dan Haji Wada dengan perilaku terpuji
sehari-hari dengan benar.
B. Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)
1.1.1 Peserta didik menghayati ibrah dari peristiwa Fathu Makkah
1.1.2 Peserta didik mampu menjelaskan sebab-sebab Fathu Makkah
1.1.3 Peserta didik mampu menentukan dan menemukan perilaku terpuji
Rasulullah Saw.
C. Pemahaman Bermakna
Salah satu hikmah penting yang dapat dipetik dari peristiwa Fathu Makkah.
Persatuan sangat penting bagi umat Islam, karena dengan bersatu, umat Islam dapat
menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang menghadang.
D. Pertanyaan Pemantik
Peserta didik diajak menceritakan pengalaman tentang ‘berjanji’ dengan orang tua,
teman atau guru. Guru memberikan pertanyaan ringan pentingnya janji, menepati
janji dan dampaknya.
1. Pernahkan kalian mempunya janji dengan teman?
2. Bagaimana pengalaman kalian ketika memiliki janji dengan teman?
3. Bagaimana jika perjanjian itu tidak ditepati?
E. Kegiatan Pembelajaran (Mencerminkan Penerapan Pendekatan PBL)
Pendahuluan ( 15 Menit)
a. Guru memulai pembelajaran dengan berdoa.
b. Guru mengondisikan kelas untuk siap belajar (merapikan meja dan kursi,
berdoa, absensi dan menyiapkan peralatan untuk pembelajaran)
c. Guru menanyakan kabar dan suasana hati peserta didik (kompetensi Sosial
Emosional).
d. Guru memberikan apersepsi.
e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
f. Guru membangkitkan motivasi peserta didik untuk mengikuti pembelajaran.
g. Membuat kesepakatan bersama.
Kegiatan Inti (75 Menit)
Sintak 1: Orientasi peserta didik pada masalah
 Guru mengembangkan stimulus pembelajaran dengan mengeksplorasi
permasalah pada peserta didik. Seperti memunculkan pertanyaan;
1. Pernahkan ananda mempunya janji dengan teman?
2. Bagaimana pengalaman ananda ketika memiliki janji dengan teman?
3. Bagaimana jika perjanjian itu tidak ditepati?
Sintak 2: Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar.
 Guru membagi dalam beberapa kelompok. Dalam pembagian kelompok harus
memperhatikan dan mempertimbangkan karakteristik peserta didik.
 Kelompok terdiri dari 3-5 orang tergantung kondisi aktual pembelajaran.
 Guru memberikan tugas untuk membaca dan memahami teks tentang Fathu
Makkah serta menjawab Pertanyaan sebagai bahan diskusi.
1. Apa yang dimaksud dengan Fathu Makkah?
2. Apa yang menyebabkan terjadinya peristiwa Fathu Makkah?
3. Apa isi perjanjian hudaibiyah?
4. Perilaku dan sikap seperti apa yang ditunjukkan Rasulullah ketika peristiwa
Fathu Makkah?
 Guru dapat memberikan buku sumber lain yang relevan dan lebih luas tentang
makna Fathu Makkah.
 Setiap peserta didik dalam grup akan diberikan nomor kelompok.
 Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok.
Sintak 3: Membimbing penyelidikan kelompok
 Kelompok mengerjakan dan mendikusikan jawaban yang ditugaskan.
 Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengumpulkan informasi.
 Guru membimbing peserta didik mengerjakan tugas kelompok.
Sintak 4: Megembangkan dan menyajikan hasil
 Masing-masing kelompok mendiskusikan hasil diskusinya.
 Guru memanggil salah satu nomor peserta didik dan mempresentasikan hasil
pekerjaannya.
 Guru meminta tanggapan dari teman-temannya.
 Peserta didik mengumpulkan semua hasil diskusinya tiapa kelompok kepada
guru.
Sintak 5: Analisis dan Evaluasi proses pemecahan masalah
 Guru memberikan apresiasi terhadap semua peserta didik.
 Peserta didik bersama guru berdiskusi kembali mengenai pertanyaan pemantik
mengenai materi.
Penutup
 Guru membuat kesimpulan atau rangkuman dari materi yang disampaikan dalam
satu pembelajaran.
 Mengajak semua peserta didik untuk mengakhiri pembelajaran dengan melakukan
hening sejenak dan berdoa
 Guru dan peserta didik bersama-sama mengucapkan hamdalah

F. Pelaksanaan Asesmen
Sikap

No Uraian SS S RR TS
1 Selalu menepati janji
2 Memberikan maaf kepada orang yang
menyakiti
3 Teman adalah saudara
4 Senang berteman dengan siapa saja
5 Menolong teman yang terkena musibah
Pengetahuan
Memberikan tugas tertulis.
Keterampilan
Produk
Membuat Quote perilaku saling berbagi kepada yang membutuhkan.
Dibuat secara individu pada kertas.
Contoh:
RASULULLAH ADALAH IDOLAKKU

Penilaian
No Nama Ketepatan Kerapihan
3 2 1 3 2 1

G. Pengayaan dan Remedial


Pengayaan: Remedial
 Pengayaan diberikan untuk  Remedial dapat diberikan kepada peserta
menambah wawasan peserta didik didik yang capaian kompetensi dasarnya
mengenai materi pembelajaran (KD) belum tuntas.
yang dapat diberikan kepada  Guru memberi semangat kepada peserta
peserta didik yang telah tuntas didik yang belum tuntas.
mencapai kompetensi dasar (KD).  Guru akan memberikan tugas bagi
 Pengayaan dapat ditagihkan atau peserta didik yang belum tuntas dalam
tidak ditagihkan, sesuai bentuk pembelajaran ulang, bimbingan
kesepakatan dengan peserta didik. perorangan, belajar kelompok,
 Berdasarkan hasil analisis pemanfaatan tutor sebaya bagi peserta
penilaian, peserta didik yang sudah didik yang belum mencapai ketuntasan
mencapai ketuntasan belajar diberi belajar sesuai hasil analisis penilaian.
kegiatan pembelajaran pengayaan
untuk perluasan atau pendalaman
materi
Dokumen Pendukung
Mengetahui,
Kepala Sekolah Padang, 11 Agustus 2024

Yulherdi, [Link]. Gr Nurkholis, SIQ., [Link].I


NIP. 196506101986101001 NIP. 199312102019021001
DAFTAR NILAI
Mata Pelajaran :Pendidikan Agama Islam dan Budi Peerti
Materi :Peristiwa Fathu Makkah
Nilai : Pra Siklus

NO Nama Siswa Daftar Nilai


Nilai Keterangan
1 Adinda Mefriani Meilissa 80 Tuntas
2 Alvino Riadi 70 Tuntas
3 Anggita Putri 40 Tidak Tuntas
4 Aqsha Alwenda 70 Tuntas
5 Aqshel Alwenda 40 Tidak Tuntas
6 Aura Lovelina Rahmah 35 Tidak Tuntas
7 Cindi Putri Umaira 20 Tidak Tuntas
8 Daffa Alan Wijaya 40 Tidak Tuntas
9 Defvian Alvarez 30 Tidak Tuntas
10 Dafa Mawadef 35 Tidak Tuntas
11 Fajar Rizki Ramadhan 80 Tuntas
12 Farid Nail Putra 70 Tuntas
13 Fauziyah Lutfhiana Desra 40 Tidak Tuntas
14 Ibnu Airlangga Saputra 70 Tuntas
15 Muhammad Dzikra 40 Tidak Tuntas
16 Muhammad Zackyzess Kotoci 35 Tidak Tuntas
17 Nadhifah Adzana Adecta 20 Tidak Tuntas
18 Nadiva Salma 40 Tidak Tuntas
19 Noval Al Fakhri 30 Tidak Tuntas
20 Navisa Putri Albi 35 Tidak Tuntas
21 Rangga Afriyan 80 Tuntas
22 Rani Natasya 70 Tuntas
23 Rava Putra Rahman 40 Tidak Tuntas
24 Riri Octavia 70 Tuntas
25 Satria 40 Tidak Tuntas
26 Shazia Olisya Jasmine 35 Tidak Tuntas
27 Yumeiko Putri Natami 20 Tidak Tuntas
28 Zydhan Alfandro Aquero 40 Tidak Tuntas
29 Zizi Khumaira 30 Tidak Tuntas
30 Zulaikha Amanda 35 Tidak Tuntas

Jumlah 1380
Rerata 46
Tuntas 9 30%
Tidak Tuntas 21 70%
Guru Kolaboratif Padang, 12 September 2024
Peneliti,

Nurkholis
DAFTAR NILAI
Mata Pelajaran :Pendidikan Agama Islam dan Budi Peerti
Materi :Peristiwa Fathu Makkah
Nilai :Siklus I

NO Nama Siswa Daftar Nilai


Nilai Keterangan
1 Adinda Mefriani Meilissa 90 Tuntas
2 Alvino Riadi 75 Tuntas
3 Anggita Putri 70 Tuntas
4 Aqsha Alwenda 80 Tuntas
5 Aqshel Alwenda 80 Tuntas
6 Aura Lovelina Rahmah 80 Tuntas
7 Cindi Putri Umaira 50 Tidak Tuntas
8 Daffa Alan Wijaya 60 Tidak Tuntas
9 Defvian Alvarez 50 Tidak Tuntas
10 Dafa Mawadef 50 Tidak Tuntas
11 Fajar Rizki Ramadhan 90 Tuntas
12 Farid Nail Putra 75 Tuntas
13 Fauziyah Lutfhiana Desra 70 Tuntas
14 Ibnu Airlangga Saputra 80 Tuntas
15 Muhammad Dzikra 80 Tuntas
16 Muhammad Zackyzess Kotoci 80 Tuntas
17 Nadhifah Adzana Adecta 50 Tidak Tuntas
18 Nadiva Salma 60 Tidak Tuntas
19 Noval Al Fakhri 50 Tidak Tuntas
20 Navisa Putri Albi 50 Tidak Tuntas
21 Rangga Afriyan 90 Tuntas
22 Rani Natasya 75 Tuntas
23 Rava Putra Rahman 70 Tuntas
24 Riri Octavia 80 Tuntas
25 Satria 80 Tuntas
26 Shazia Olisya Jasmine 80 Tuntas
27 Yumeiko Putri Natami 50 Tidak Tuntas
28 Zydhan Alfandro Aquero 60 Tidak Tuntas
29 Zizi Khumaira 50 Tidak Tuntas
30 Zulaikha Amanda 50 Tidak Tuntas

Jumlah 2055
Rerata 69
Tuntas 18 60%
Tidak Tuntas 12 40%
Guru Kolaboratif Padang, 24 September 2024
Peneliti,

Nurkholis
DAFTAR NILAI
Mata Pelajaran :Pendidikan Agama Islam dan Budi Peerti
Materi :Peristiwa Fathu Makkah
Nilai :Siklus II

NO Nama Siswa Daftar Nilai


Nilai Keterangan
1 Adinda Mefriani Meilissa 95 Tuntas
2 Alvino Riadi 90 Tuntas
3 Anggita Putri 90 Tuntas
4 Aqsha Alwenda 90 Tuntas
5 Aqshel Alwenda 95 Tuntas
6 Aura Lovelina Rahmah 85 Tuntas
7 Cindi Putri Umaira 85 Tuntas
8 Daffa Alan Wijaya 85 Tuntas
9 Defvian Alvarez 85 Tuntas
10 Dafa Mawadef 60 Tidak Tuntas
11 Fajar Rizki Ramadhan 95 Tuntas
12 Farid Nail Putra 90 Tuntas
13 Fauziyah Lutfhiana Desra 90 Tuntas
14 Ibnu Airlangga Saputra 90 Tuntas
15 Muhammad Dzikra 95 Tuntas
16 Muhammad Zackyzess Kotoci 85 Tuntas
17 Nadhifah Adzana Adecta 85 Tuntas
18 Nadiva Salma 85 Tuntas
19 Noval Al Fakhri 85 Tuntas
20 Navisa Putri Albi 60 Tidak Tuntas
21 Rangga Afriyan 95 Tuntas
22 Rani Natasya 90 Tuntas
23 Rava Putra Rahman 90 Tuntas
24 Riri Octavia 90 Tuntas
25 Satria 95 Tuntas
26 Shazia Olisya Jasmine 85 Tuntas
27 Yumeiko Putri Natami 85 Tuntas
28 Zydhan Alfandro Aquero 85 Tuntas
29 Zizi Khumaira 85 Tuntas
30 Zulaikha Amanda 60 Tidak Tuntas

Jumlah 2580
Rerata 86
Tuntas 27 90%
Tidak Tuntas 3 10%
Guru Kolaboratif Padang, 24 September 2024
Peneliti,

Nurkholis
LEMBARAN OBSERVASI KEGIATAN SISWA
Lampiran :
Siklus

No Nama Aspek yang dinilai


1 2 3 4 Ket
1 Adinda Mefriani Meilissa
2 Alvino Riadi
3 Anggita Putri
4 Aqsha Alwenda
5 Aqshel Alwenda
6 Aura Lovelina Rahmah
7 Cindi Putri Umaira
8 Daffa Alan Wijaya
9 Defvian Alvarez
10 Dafa Mawadef
11 Fajar Rizki Ramadhan
12 Farid Nail Putra
13 Fauziyah Lutfhiana Desra
14 Ibnu Airlangga Saputra
15 Muhammad Dzikra
16 M. Zackyzess Kotoci
17 Nadhifah Adzana Adecta
18 Nadiva Salma
19 Noval Al Fakhri
20 Navisa Putri Albi
21 Rangga Afriyan
22 Rani Natasya
23 Rava Putra Rahman
24 Riri Octavia
25 Satria
26 Shazia Olisya Jasmine
27 Yumeiko Putri Natami
28 Zydhan Alfandro Aquero
29 Zizi Khumaira
30 Zulaikha Amanda
Jumlah
Rerata
Presentasi

Keterangan
1 Menerima Padang,
2 Menanggapi Peneliti
3 Penilaian
4 Mengorganisasikan

Nurkholis
PEMERINTAH KOTA PADANG
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SEKOLAH DASAR NEGERI 18 BUNGO PASANG
Jl. Simpang Tabing Lubuk Minturun Email : sd18 bungopasang@[Link] Kode Pos 25174

SURAT IZIN PENELITIAN


No: 421.2/ /Dikbud-KT/SDN 18 BP/2024

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Nurkholis, SIQ., [Link],I
NIP : 19931210 201902 2 001
Pangkat/Gol. : Penata Muda tk.I, ( III/b )
Guru : Bidang studi PAI & BP
Unit Kerja : SD Negeri 18 Bungo Pasang

Untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan pada semester I TP


2024/2025 di SD Negeri 18 Bungo Pasang.
Demikianlah surat izin ini dikeluarkan untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya

Padang, 15 September 2024


Kepala Sekolah

Yulherdi, [Link]., Gr
NIP. 19650610 1986101001
SURAT PERNYATAAN PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Nurkholis, SIQ., [Link],I
NIP : 19931210 201902 2 001
Pangkat/Gol. : Penata Muda tk.I, ( III/b )
Guru : Bidang studi PAI & BP
Unit Kerja : SD Negeri 18 Bungo Pasang

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
dengan judul :
“Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pada
Kelas V SD Negeri 18 Bungo Pasang” Adalah murni gagasan, penilaian dan rumusan
sendiri tanpa bantuan tidak syah dari pihak lain, kecuali arahan dari teman sejawat dan
pengawas sekolah.
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dapat dipergunakan
sebagaimana mestinya.
x0078

Padang, 11 Oktober 2024


Peneliti

Nurkholis
BERITA ACARA
SEMINAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Pada hari ini Senin Tanggal Tiga Belas Bulan November Tahun Dua Ribu Dua
Puluh Tiga, pukul 10.00 WIB bertempat di ruangan guru SDN 18 Bungo Pasang,
telah diseminarkan Penelitian Tindakan Kelas.
Judul :“Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti pada Kelas V SD Negeri 18
Bungo Pasang”
Disusun Oleh : Nurkholis, SIQ., [Link].I
NIP : 199312102019021001
Jabatan : Guru PAI dan Budi Pekerti
Instansi : UPT SD Negeri 18 Bungo Pasang

Seminar/presentasi ini dihadiri oleh Kepala Sekolah serta guru-guru SD Negeri 18


Bungo Pasang Kota Padang.
Demikian berita acara ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Mengetahui,
Kepala Sekolah Padang, 9 Oktober 2024
Guru PAI / BP

Y
Yulherdi, [Link]., Gr
NIP. 19650610 1986101001 Nurkholis

Anda mungkin juga menyukai