0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan23 halaman

Penerapan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia

TUGAS MAKALAH

Diunggah oleh

robby fadhilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan23 halaman

Penerapan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia

TUGAS MAKALAH

Diunggah oleh

robby fadhilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TINDAK PIDANA KHUSUS

DOSEN PENGAJAR: DAFRIGO AMRIZAL S. H. M.H.

PENERAPAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG


DI INDONESA

Oleh:

RENGHA REZKI EMIRAL AKBAR


NIM. 2374201020

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS PERSADA BUNDA INDONESIA


PEKANBARU
2024

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perbuatan pencucian uang disamping sangat merugikan masyarakat, juga
sangat merugikan Negara karena dapat mempengaruhi atau merusak stabilitas
perekonomian nasional atau keuangan Negara dengan meningkatkan berbagai
kejahatan. Praktik pencucian uang kotor, uang tunai atau kekayaan lain yang
berasal dari aktivitas criminal termasuk hasil korupsi guna menghilangkan asal-
usul merupakan suatu bisnis yang menggiurkan

Indonesia telah melakukan kriminalisasi terhadap pencucian uang sejak


awal tahun 2002 dengan diundangkannya Undang Undang No.15 Tahun 2002
Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (UUTPPU), dan kemudian pada Oktober
2003 diamdemen dengan Undang Undang No.25 Tahun 2003. Meskipun telah
berlaku selama lebih 4 tahun, nampaknya implementasi terhadap ketentuan ini
masih jauh dari memuaskan.

Ketika diamandemen pada tahun 2003 alasan utamanya lebih pada


kelemahan perundangan yang mengakibatkan sulit untuk diterapkan dimana hal
ini juga atas desakan Financial Action Task Force (FATF). Desakan internasional
pertama kali dikakukan pada Juni 2001 dan setelah melalui beberapa bentuk
tekanan dan penilaian FATF akhirnya pada Pebruari 2006 dinyatakan keluar dari
monitoring formal FATF.

Namun demikian ternyata hal ini bukan berarti Indonesia tidak “diawasi”
karena pada tahun 2007 FATF akan kembali melakukan review secara
menyeluruh terhadap pembangunan rezim anti pencucian uang di Indonesia
termasuk peratutan perundangan yang mendukung penegakannya.

Bila dipahami bahwa semua tindak pidana ekonomi (kejahatan keuangan)


akan bermuara pada perbuatan pencucian uang, maka seharusnya penerapan
UUTPPU terhadap perkara kejahatan ekonomi juga banyak. Tetapi pada
kenyataannya putusan pengadilan terhadap kejahatan keuangan yang dikaitkan
dengan UUTPPU tidak sampai 20 putusan, padahal kejahatan ekonomi yang

2
sampai pada pengadilan jumlahnya sangat besar (apalagi yang masih dalam tahap
penyidikan jumlahnya jauh lebih banyak) sebut saja dari korupsi, kejahatan
perbankan, illegal logging, penyelundupan dan lain-lain.

Pengakajian ini harus diawali dengan memahami kembali latar belakang dan
tujuan dilakukannya kriminalisasi terhadap perbuatan pencucian uang, baik secara
global maupun untuk kepentingan nasional, kemudian disinergikan dengan
kualitas perundangan, kesiapan aparat penegak hukum dan sikap masyarakat atas
upaya pemberantasan pencucian uang.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Tahapan dalam Pencucian Uang dan Bagaimana Dampak dari
Pencucian Uang?
2. Sanksi apa saja yang dijatuhkan kepada tersangka pelaku TPPU?
3. Apa saja kewajiban penyedia jasa keuangan?
4. Apa saja peran PPATK terkait TPPU?
5. Bagaimana Perlindungan bagi pelapor dan saksi TPPU?
6. Apa saja kasus yang terkait dengan TPPU di Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui segala
sesuatu yang berhubungan dengan Tindak Pidana Pencucian Uang dan sebagai
pemenuhan tugas mata kuliah Tindak Pidana Khusus Diluar KUHP.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengaturan Tindak Pidana Pencucian Uang Menurut Undang-Undang


Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang
Dalam Undang-Undang TPPU, hasil tindak pidana adalah harta kekayaan
yang diperoleh dari tindak pidana: korupsi, penyuapan, narkotika, psikotropika,
penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan migran, di bidang perbankan, di
bidang pasar modal, di bidang perasuransian, kepabeanan, cukai, perdagangan
orang, perdagangan senjata gelap, terorisme, penculikan, pencurian,
penggelapan, penipuan, pemalsuan uang, perjudian, prostitusi, bidang
perpajakan, di bidang kehutanan, di bidang lingkungan hidup, di bidang
kelautan dan perikanan, atau tindak pidana lain yang diancam dengan pidana
penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
dan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum
Indonesia. Pencucian uang dibedakan dalam tiga tindak pidana.
1. Tindak pidana pencucian uang aktif, yaitu setiap orang yang
menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,
menbayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri,
mengubah bentuk, menukarkan dengan uang uang atau surat berharga
atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul harta kekayaan dipidana karena tindak pidana
pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan denda paling banyak Rp. [Link],00 (sepuluh miliar
rupiah).1

1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak


Pidana Pencucian Uang, Pasal 3.

4
2. Tindak pidana pencucian uang dikenakan pula bagi mereka yang
menikmati hasil tindak pidana pencucian uang yang dikenakan kepada
setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul,
sumber lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan
yang sebenarnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut
diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana pencucian uang
dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda
paling banyak Rp. [Link],00 (lima miliar rupiah).
3. Tindak pidana pencucian uang pasif yang dikenakan kepada setiap
orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan,
pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau
menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan denda paling banyak Rp. [Link],00 (satu miliar rupiah).
Hal tersebut dianggap juga sama dengan melakukan pencucian uang.
Namun, dikecualikan bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan
kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.
Dalam Undang-Undang TPPU, dikatakan bahwa setiap orang yang
berada di dalam atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang turut serta melakukan percobaan, pembantuan, atau permufakatan jahat
untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang
sama seperti dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5.
Ketentuan di Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang TPPU dikecualikan bagi
pihak pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan. Untuk delik tindak
pidana pencucian uang seperti dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 Undang-
Undang TPPU dilakukan oleh korporasi, maka pidana dijatuhkan terhadap
korporasi dan/atau Personil Pengendali Korporasi. Di luar pengaturan Pasal 2,
Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 terdapat pasal-pasal lain yang mengatur mengenai
tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang. Tindak
pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang diatur pada

5
Pasal 11, Pasal 12, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 Undang-Undang TPPU.
1. Transaksi keuangan yang menyimpang dari profil, karakteristik, atau
kebiasaan pola transaksi dari pengguna jasa yang bersangkutan;
2. Transaksi keuangan oleh pengguna jasa yang patut diduga dilakukan
dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang
bersangkutan yang wajib dilakukan oleh pihak pelapor sesuai dengan
ketentuan undang-undang ini;
3. Transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan
menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak
pidana; atau
4. Transaksi keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh
pihak pelapor karena melibatkan harta kekayaan yang diduga berasal
dari hasil tindak pidana.
Menurut Undang-Undang TPPU, transaksi keuangan mencurigakan
adalah:
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan/PPATK (Indonesian
Financial Transaction Reports and Analysis Center/INTRAC) seperti yang
diatur dalam Pasal 1 angka (2) Undang-Undang TPPU adalah lembaga
independen dibawah Presiden Republik Indonesia yang dibentuk dalam rangka
mencegah dan memberantas tindak pidana Pencucian Uang. Dengan
dibentuknya PPATK ini, maka Indonesia telah memenuhi salah satu dari The
Forty Recommendations yang diusulkan oleh Financial Action Task Force On
Money Laundering (FATF), dalam usaha pemberantasan tindak pidana
pencucian uang di Indonesia.
Dalam Pasal ke 16 The Forty Recommendations dari FATF disebutkan
mengenai pembentukan Financial Intelligent Unit yang secara umum bertugas
menganalisis transaksi-transaksi keuangan untuk mencegah adanya transaksi
yang merupakan kegiatan pencucian uang, dan lembaga yang memiliki
kewenangan seperti Financial Intelligent Unit di Indonesia ini adalah PPATK.
Fungsi PPATK seperti yang diatur dalam Undang-Undang TPPU antara lain
adalah:
1. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;

6
2. Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK;
3. Pengawasan terhadap kepatuhan pihak pelapor; dan.
4. Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi transaksi keuangan
yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana
lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
B. Tahapan-tahapan dan dampak dari Tindak Pidana Pencucian Uang
Secara umum terdapat beberapa tahapan dalam melakukan usaha pencucian
uang yaitu sebagai berikut:
1. Placement (penempatan)
Merupakan upaya menempatkan uang tunai yang berasal dari tindak
pidana ke dalam sistem keuangan (financial system) atau upaya
menempatkan uang giral (chegue,wesel bank, sertifikat deposito dan lain-
lain) kembali ke dalam sistem keuangan terutama Sistem perbankan.
klasemen merupakan tahapan yang paling sederhana satu langkah untuk
mengubah uang yang dihasilkan dari kegiatan kejahatan ke dalam bentuk
yang kurang menimbulkan kerugian dan pada akhirnya masuk ke dalam
jaringan sistem keuangan.2
2. layering (transfer)
Merupakan upaya mentransfer harta kekayaan yang berasal dari tindak
pidana yang telah berhasil ditempatkan pada penyedia jasa keuangan
sebagai hasil upaya penempatan ke penyedia jasa keuangan yang lain.
Proses layering ini di deteksi dengan adanya laporan transaksi keuangan
yang sangat mencurigakan seperti diatur dalam pasal 13 undang-undang
tppu. sementara itu yang dimaksud dengan transaksi keuangan yang
mencurigakan adalah transaksi yang menyimpang dari profil dan
karakteristik nasabah serta kebiasaan nasabah termasuk transaksi yang patut
diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi
yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh penyedia jasa keuangan.
3. Integration (penggabungan)
Merupakan upaya menggunakan harta kekayaan yang berasal dari
tindak pidana yang telah berhasil masuk ke dalam sistem keuangan melalui

2 Yenti Ganarsih, Kriminalisasi Pencucian Uang (Money Laundring), cet. 1, (Jakarta :


Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia,2003),hal.55.

7
penempatan atau transfer sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan
halal, untuk kegiatan bisnis yang halal atau untuk biaya kembali kegiatan
kejahatan. integration ini merupakan tipu muslihat untuk dapat memberikan
legitimasi terhadap uang hasil kejahatan.3
Berikut beberapa dampak dari pencucian uang:
1. Merongrong sektor swasta yang sah (undermining the legitimate
private sectors);
2. Mengakibatkan rusaknya reputasi negara (reputation risk);
3. Mengurangi pendapatan negara dari sumber pembayaran pajak
(Loss revenue);
4. Merongrong integritas pasar keuangan (undermining the integrity
of Financial markets);
5. membahayakan upaya privatisasi perusahaan negara yang
dilakukan oleh pemerintah (Risk of privatisasi on efforts);
6. Menimbulkan biaya sosial yang tinggi (sosial cost);
7. Timbulnya distorsi dan ketidakstabilan ekonomi (Economic
distraction and instability);
8. Mengakibatkan hilangnya kendali pemerintah terhadap kebijakan
ekonomi (loss of Control Of Economic policy);
9. Menimbulkan dampak makro ekonomi, yang mana pencucian uang
telah mendistorsi data ekonomi dan komplikasi upaya pemerintah
untuk melakukan pengelolaan terhadap kebijakan ekonomi yang
nantinya harus memainkan peran dalam upaya anti money
laundering, misal seperti pengawasan lalu lintas devisa,
pengawasan bank terhadap pelaksanaan rambu kesehatan bank,
penagihan pajak, laporan statistik dan perundang-undangan;
10. akibat kan kurangnya kepercayaan kepada pasar dan terjadinya
penipuan serta penerapan.
C. Sanksi Kepada Pelaku Tindak Pidana Pencucian Uang
Setiap Orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan,
membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar

3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak


Pidana Pencucian Uang,Pasal 1 Angka (7).

8
negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau
perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana, sebagaimana disebut dalam pengertian hasil
tindak pidana (lihat pendahuluan), yang bertujuan menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul Harta Kekayaan, dipidana karena tindak pidana Pencucian
Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling
banyak Rp. [Link],00 (sepuluh milyar rupiah).
Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber,
lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas
Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana, sebagaimana disebut dalam pengertian hasil tindak pidana (lihat
pendahuluan), dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana
penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp.
[Link],00 (lima milyar rupiah).
Setiap Orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan,
pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta
Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana,
sebagaimana disebut dalam pengertian hasil tindak pidana (lihat pendahuluan),
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling
banyak Rp. [Link],00 (satu milyar rupiah). Namun ketentuan ini tidak
berlaku bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang.
Dalam hal tindak pidana Pencucian Uang dilakukan oleh Korporasi, pidana
dijatuhkan terhadap Korporasi dan/atau Personil Pengendali Korporasi, Pidana
pokok yang dijatuhkan terhadap Korporasi adalah pidana denda paling banyak
Rp.[Link],00 (seratus milyar rupiah).
Selain itu dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa:
a. pengumuman putusan hakim;
b. pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan usaha Korporasi;
c. pencabutan izin usaha;
d. pembubaran dan/atau pelarangan Korporasi;
e. perampasan aset Korporasi untuk negara; dan/atau

9
f. pengambilalihan Korporasi oleh negara.

Dalam hal harta terpidana tidak cukup untuk membayar pidana denda,
diganti dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan.
Dalam hal Korporasi tidak mampu membayar pidana denda, pidana denda
tersebut diganti dengan perampasan Harta Kekayaan milik Korporasi atau
Personil Pengendali Korporasi yang nilainya sama dengan putusan pidana denda
yang dijatuhkan. Dalam hal penjualan Harta Kekayaan milik Korporasi yang
dirampas tidak mencukupi, pidana kurungan pengganti denda dijatuhkan terhadap
Personil Pengendali Korporasi dengan memperhitungkan denda yang telah
dibayar.
Pidana yang sama dijatuhkan terhadap setiap Orang yang berada di dalam
atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang turut serta
melakukan percobaan, pembantuan, atau Permufakatan Jahat untuk melakukan
tindak pidana Pencucian Uang.
Pejabat atau pegawai PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan), penyidik, penuntut umum, hakim, dan Setiap Orang yang
memperoleh Dokumen atau keterangan dalam rangka pelaksanaan tugasnya
menurut Undang-Undang ini wajib merahasiakan Dokumen atau keterangan
tersebut, kecuali untuk memenuhi kewajiban menurut Undang- Undang ini. Setiap
Orang yang melanggar ketentuan ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama
4 (empat) tahun. Namun pidana ini tidak berlaku bagi pejabat atau pegawai
PPATK, penyidik, penuntut umum, dan hakim jika dilakukan dalam rangka
memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Direksi, komisaris, pengurus atau pegawai Pihak Pelapor dilarang
memberitahukan kepada Pengguna Jasa atau pihak lain, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dengan cara apa pun mengenai laporan Transaksi
Keuangan Mencurigakan yang sedang disusun atau telah disampaikan kepada
PPATK. Pelanggaran atas ketentuan ini, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. [Link],00 (satu
milyar rupiah). Dalam hal tidak mampu membayar pidana denda, dipidana denda
tersebut diganti dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat)
bulan. Namun larangan ini tidak berlaku untuk pemberian informasi kepada

10
Lembaga Pengawas dan Pengatur.
Pejabat atau pegawai PPATK atau Lembaga Pengawas dan Pengatur
dilarang memberitahukan laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang akan
atau telah dilaporkan kepada PPATK secara langsung atau tidak langsung dengan
cara apa pun kepada Pengguna Jasa atau pihak lain. Pelanggaran atas ketentuan
ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda
paling banyak Rp. [Link],00 (satu milyar rupiah). Dalam hal tidak mampu
membayar pidana denda, dipidana denda tersebut diganti dengan pidana kurungan
paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan. Namun larangan ini tidak berlaku
dalam rangka pemenuhan kewajiban menurut Undang-Undang.
Setiap Orang yang melakukan campur tangan terhadap pelaksanaan tugas
dan kewenangan PPATK, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Pejabat atau pegawai PPATK yang melanggar kewajibannya, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Dalam hal pejabat atau pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, atau
hakim, yang menangani perkara tindak pidana Pencucian Uang yang sedang
diperiksa, melanggar kewajiban merahasiakan Pihak Pelapor dan pelapor,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun.
Setiap Orang yang melakukan Transaksi dengan Penyedia Jasa Keuangan
wajib memberikan identitas dan informasi yang benar yang dibutuhkan oleh
Penyedia Jasa Keuangan dan sekurang-kurangnya memuat identitas diri, sumber
dana, dan tujuan Transaksi dengan mengisi formulir yang disediakan oleh
Penyedia Jasa Keuangan dan melampirkan Dokumen pendukungnya (prinsip
mengenali Pengguna Jasa). Dalam hal identitas dan/atau dokumen pendukung
yang diberikan tidak lengkap, maka Penyedia Jasa Keuangan wajib menolak
Transaksi dengan orang tersebut.
Penyedia jasa keuangan wajib memutuskan hubungan usaha dengan
Pengguna Jasa jika:
a. Pengguna Jasa menolak untuk mematuhi prinsip mengenali Pengguna
Jasa; atau

11
b. penyedia jasa keuangan meragukan kebenaran informasi yang
disampaikan oleh Pengguna Jasa.
Setiap orang yang membawa uang tunai dalam mata uang rupiah dan/atau
mata uang asing, dan/atau instrumen pembayaran lain dalam bentuk cek, cek
perjalanan, surat sanggup bayar, atau bilyet giro paling sedikit Rp. 100.000.000,00
(seratus juta rupiah) atau yang nilainya setara dengan itu ke dalam atau ke luar
daerah pabean Indonesia wajib memberitahukannya kepada Direktorat Jenderal
Bea dan Cukai. Pelanggaran terhadap ketentuan ini, dikenai sanksi administratif
berupa denda sebesar 10% (sepuluh persen) dari seluruh jumlah uang tunai
dan/atau instrumen pembayaran lain yang dibawa dengan jumlah paling banyak
Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Akan tetapi dalam hal jumlah uang
tunai dan/atau instrument pembayaran lain yang dibawa lebih besar dan jumlah
yang diberitahukan dikenai sanksi administrative berupa denda sebesar 10%
(sepuluh persen) dari kelebihan jumlah uang tunai dan/atau instrument
pembayaran lain yang dibawa dengan jumlah paling banyak Rp. 300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah).
a. Tidak memiliki tujuan ekonomis dan bisnis yang jelas.
b. Menggunakan uang tunai dalam jumlah yang relatif besar danatau
dilakukan secara berulang-ulang di luar kewajaran.
c. Di luar kebiasaan dan kewajaran aktivitas transaksi nasabah.
Berkaitan dengan hal itu, apabila diperlukan penyedia jasa keuangan dapat
melakukan klarifikasi atau meminta dokumen pendukung transaksi yang
dilakukan oleh nasabah, dalam menetapkan transaksi keuangan mencurigakan.
Dalam pelaporan transaksi keuangan mencurigakan, yang menjadi objek
kecurigaan lebih dominan pada transaksi itu sendiri, bukan orang atau nasabah
yang melakukan transaksi. Penyampaian laporan Transaksi Keuangan
mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 Ayat 1 huruf a Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2003 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang dilakukan sesegera mungkin paling lama 3 tiga hari kerja setelah penyedia
jasa keuangan mengetahui adanya unsur transaksi keuangan mencurigakan.
Peran PPATK menurut UU no 8 tahun 2010 mengenai kedudukan terdapat

12
pada pasal 37 & 38 yaitu:
a. PPATK dalam melaksanakan tugas dan kewenanganya bersifat
independent dan bebas dari campur tagan dan pengaruh dari kekuasaan
manapun
b. PPATK bertaanggug jawab kepada presiden:
1) Setiap orang dilarang melakukan sesuatu untuk campur tangan
pelaksaan tugas dan kewenangan PPATK
2) PPATK wajib menolak atau mengabaikan segala bentuk campur
tangan dari pihak manapun dalam rangka pelaksanaan ugas dan
kewenangannya.
D. Perlindungan Terhadap Pelapor Dan Saksi Tppu
Penegak hukum sering mengalami kesukaran dalam mencari dan
menemukan kejelasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku karena
tidak menghadirkan saksi dan/atau korban disebabkan adanya ancaman, baik fisik
maupun psikis dan pihak tertentu. Padahal kita ketahui bahwa peran saksi
(korban) dalam suatu proses peradilan pidana menempati posisi kunci dalam
upaya mencari dan menemukan kejelasan tentang tindak pidana yang dilakukan
oleh pelaku. Bukan hal yang aneh apabila di Indonesia, tindakan teror atau
ancaman, baik fisik maupun psikis banyak menimpa orang-orang yang akan
memberikan kesaksian dalam suatu proses peradilan pidana, terlebih apabila
kesaksian yang akan diberikan dapat memberatkan orang yang dituduh melakukan
tindak pidana. Dalam konteks sistem peradilan pidana, secara yuridis, saksi adalah
"orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan,
penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia
lihat sendiri dan ia alami sendiri".
Definisi saksi di atas cukup luas atau umum, sehingga yang termasuk dalam
pengertian saksi bisa orang yang menjadi korban, pelapor, pengadu, maupun
orang lain yang dapat memberikan keterangan tentang suatu perkara pidana baik
di tingkat penyidikan, penuntutan, maupun di muka sidang pengadilan.
Kebanyakan undang-undang pidana khusus yang dibuat sesudah berlakunya
KUHAP tidak memberikan definisi atau pengertian saksi secara khusus, artinya,
saksi yang dimaksud dalam undang-undang tersebut mengacu pada pengertian

13
saksi yang diatur dalam KUHAP. Memang ada beberapa perundang-undangan
yang memberikan definisi saksi, walaupun tidak ada perbedaan secara mendasar
dengan yang diatur dalam KUHAP.
Dasar pertimbangan perlunya undang-undang yang mengatur perlindungan
saksi untuk segera disusun dengan jelas dapat dilihat pada bagian menimbang dan
undang-undang ini, yang antara lain menyebutkan: penegak hukum sering
mengalami kesukaran dalam mencari dan menemukan kejelasan tentang tindak
pidana yang dilakukan oleh pelaku karena tidak menghadirkan saksi dan/atau
korban disebabkan adanya ancaman, baik fisik maupun psikis dan pihak tertentu.
Padahal kita ketahui bahwa peran saksi (korban) dalam suatu proses peradilan
pidana menempati posisi kunci dalam upaya mencari dan menemukan kejelasan
tentang tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku. Bukan hal yang aneh apabila
di Indonesia, tindakan teror atau ancaman, baik fisik maupun psikis banyak
menimpa orang-orang yang akan memberikan kesaksian dalam suatu proses
peradilan pidana, terlebih apabila kesaksian yang akan diberikan dapat
memberatkan orang yang dituduh melakukan tindak pidana.
Pengaturan mengenai perlindungan bagi pelopor dan saksi dalam UU No. 8
Tahun 2010 tentang TPPU diatur dalam bab tersendiri (Bab VII). Ada 5 (lima)
pasal yang mengatur mengenai permasalahan tersebut, yaitu Pasal 39 s. d Pasal 43
UU TPPU. Pasal-pasal tersebut pada pokoknya mengatur hal-hal sebagai berikut:
1. Kewajiban untuk merahasiakan indentitas pelopor baik oleh PPATK,
penyidik, penuntut umum, maupun hakim. Adapun pelanggaran terhadap
ketentuan tersebut menimbulkan hak bagi pelapor atau ahli warisnya
untuk menuntut ganti kerugian melalui pengadilan (Pasal 39 ayat (1) dan
(2));
2. Kewajiban untuk memberikan perlindungan khusus oleh negara terhadap
setiap orang yang melaporkan terjadinya dugaan TPPU, baik dari
kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa, dan/atau
hartanya, termasuk keluarganya (Pasal 40 ayat (1));
3. Pelarangan untuk menyebut nama atau alamat pelapor, atau hal-hal lain
yang memungkinkan dapat terungkapnya identitas pelapor di sidang
pengadilan. Bahkan sebelum sidang pemeriksaan dimulai, hakim wajib

14
mengingatkan adanya pelarangan tersebut kepada saksi, penuntut umum,
dan orang lain yang terkait dengan pemeriksaan perkara tersebut (Pasal
41 ayat (1) dan (2));
4. Kewajiban untuk memberikan perlindungan khusus oleh negara terhadap
setiap orang yang memberikan kesaksian dalam pemeriksaan TPPU, baik
dari kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa, dan/atau
hartanya, termasuk keluarganya (Pasal 42 ayat (1)); dan
5. Pemberian jaminan kepada pelapor dan/atau saksi sehingga tidak dapat
dituntut baik secara perdata atau pidana atas pelaporan dan/atau
kesaksian yang diberikan oleh yang bersangkutan (Pasal 43).
Dari uraian diatas, tampak jelas, bahwa UU TPPU sangat memperhatikan
perlunya pemberian perlindungan baik terhadap pelapor maupun saksi. Jaminan
perlindungan tersebut telah diberikan pada saat pelaporan. Dengan demikian
pemberian perlindungan tersebut diberikan sebelum, selama maupun sesudah
proses pemeriksaan perkara. Secara materiil, pengaturan mengenai perlindungan
bagi korban dan saksi TPPU dalam UU TPPU tidak hanya sebatas pada
perlindungan fisik tetapi juga perlindungan hukum yang berupa perlindungan
kepada pelapor dan saksi dari adanya gugatan atau tuntutan baik secara perdata
atau pidana.
E. Contoh Kasus Terkait Tppu
Kamis 14 November 2016
Polisi Ungkap TPPU eks Kades di Lamongan, Rp 1,3 Miliar Disita
Surabaya - Seorang eks kepala desa di Paciran, Lamongan, berurusan
dengan Polda Jatim. Dia diduga melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU)
dari hasil penjualan tanah milik petani.
Tersangka adalah Imron Rosyadi, eks Kepala Desa Sidokelar, Paciran,
Kabupaten Lamongan. Penyidik Subdit Perbankan Direktorat Reserse Kriminal
Khusus Polda Jatim menetapkannya sebagai tersangka atas kasus dugaan Tindak
pidana pencucian uang (TPPU) atas penjualan lahan milik warga.
Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus AKBP Arman Asmara
Syarifuddin menerangkan, sebelum polda menangani perkara TPPU. Tersangka
sudah berurusan dengan Satreskrim Polres Lamongan, atas laporan dugaan

15
penipuan dan penggelapan uang pembayaran pembebasan tanah (jual beli tanah)
milik beberapa warga pada Juli 2016.
Pada April sampai Agustus 2014, tersangka yang saat itu menjabat Kepala
Desa Sidokelar, menangani jual beli tanah milik beberapa warga. Tanah seluas
sekitar 17.114 meterpersegi itu, dibeli oleh PT SDS, dengan nilai sekitar Rp
250.000 sampai Rp 300.000, dengan total sekitar Rp 5,045 miliar.
Pembayaran jual beli tanah dari PT SDS diserahkan ke tersangka melalui
transfer ke Bank Jatim. Ternyata, uang tersebut tidak diserahkan ke korban,
sehingga kepala desa itu dilaporkan ke Polres Lamongan. Kemudian, pada 25 Juli
2016, berkas perkara tersangka Imron Rosyadi dilimpahkan ke Pengadilan Negeri
Lamongan. Pada 14 november 2016, Kades Sidokelar itu di vonis penjara 3 tahun
9 bulan."Dari hasil penyidikan tindak pidana penipuan dan penggelapan yang
dilakukan Polres Lamongan, kami dari polda menangani dugaan tindak pidana
pencucian uang," kata AKBP Arman Asmara Syarifuddin.
Pada 23 Agustus 2016, Subdit Perbankan Ditreskrimsus menangani perkara
TPPU tersangka Imron Rosyadi. Dari hasil penyelidikan, uang jual beli tanah
milik warga senilai Rp 5miliar,digunakan untuk kepentingan pribadi tersangka.
"Uangnya digunakan tersangka untuk kerjasama bisnis batu bara sekitar Rp 4
miliar. Uang muka pembelian apartemen. Untuk pembelian mobil dan ada juga
yang dipinjamkan ke beberapaorang,"terangnya.
Penyidik juga mengamankan barang bukti uang sekitar Rp 1,3 miliar. "Uang
diamankan dari beberapa orang hingga terkumpul sekitar Rp 1,3 miliar,"
tandasnya.
Kamis, 26 Jan 2017 13:26 WIB
Jualan Faktur Palsu Rp 1,2 T, Tersangka TPPU Ini Rugikan Negara
Rp 123 M
Jakarta - Penyidik Direktorat Jenderal Pajak menyerahkan tersangka
pelaku tindak pidana pencucian uang atas hasil tindak pidana di bidang
perpajakan, Amie Hamid kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Berkas
tersebut telah dinyatakan lengkap alias P21 dan akan segera disidangkan. "Amie
Hamid membuat transaksi yang ada di dalam faktur palsu dengan nilai penjualan
Rp 1,2 triliun dengan nilai potensi PPn yang dirugikan senilai Rp 123,41 miliar,"

16
jelas dia. Dari hasil penjualan transaksi faktur fiktif tersebut, tersangka
memperoleh Rp 123,41 miliar dengan keuntungan sebesar Rp49,15miliar.
"Amie Hamid, sudah diputus tindak pidana perpajakan 2 tahun 6 bulan. Dia
didenda Rp 246 miliar. Dia dapat Rp 49 miliar dari faktur palsu, menyamarkan
dari transaksi illegal ke legal," ujar Direktur Penegakan Hukum Direktorat
Jenderal Pajak, Dadang Suwarna. Tersangka membelikan uang yang didapat dari
keuntungan tersebut untuk membeli sejumlah aset dan barang-barang. Atas hasil
perbuatan pidana itu, penyidik telah menyita sebagian aset yang dimiliki tersangka
yang diduga diperoleh dari hasil perbuatan pidana yang diperkirakan Rp 26,89
miliar.
Dari total Rp 26,80 miliar, terdiri dari uang tunai sebesar Rp 441,76 juta
yang merupakan pengembalian atas pembatalan pembelian apartemen unit 31 BD
tipe 2BR-B luas 61.4 m2, di Newmont Apartment. Delapan bidang properti baik
tanah maupun bangunan dengan taksiran nilai pasar mencapai Rp 24,5 miliar, dan
sembilan unit kendaraan dengan total nilai sekitar Rp 1,9 miliar. "Dari jumlah
yang diselamatkan atas uang yang diperoleh faktur pajak, diselamatkan RP 26,8
miliar terdiri dari uang tunai RP 441 juta itu dari pembelian apartemen. Itu
uangnya kami serahkan ke Kejaksaan sebagai bukti," ujarnya.
Atas perbuatan ini, dia mendapatkan ancaman hukuman paling lama 20 tahun
dengan denda paling banyak Rp 10 miliar. Dia diduga melanggar pasal 3 UU
nomor 8 tahun 2010.
Selasa 17 Juli 2018, 14:41 WIB
BNN Sita Aset Rp 3 Miliar Hasil Pencucian Uang Perdagangan
Narkoba
Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan pengembangan atas
kasus penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 10,39 kg. BNN mengungkap
tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan total Rp 3,9 miliar.
Kasus ini bermula pada Minggu (27/8/2017) lalu saat BNN menangkap 5
orang sindikat pengedar narkoba jaringan Indonesia-Malaysia. Salah satu pelaku
yang ditangkap ialah Irawan alias Dagot yang merupakan WN Malaysia yang jadi
narapidana di Lapas Kelas IIA Pontianak, Kalbar. "Dari pengembangan ini kita
dapat menangkap Feni sebagai pengelola uang Irawan. Pada Rabu (21/3) BNN

17
mengamankan Intan sebagai pemilik rekening. Hasil perdagangan narkoba itu
dicuci melalui tersangka (Intan) di uang dalam rekening," kata Kepala BNN Heru
Winarko di kantornya, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (17/7/2018).
Intan sendiri diamankan pada Rabu (21/3) lalu di daerah Riau. Intan
menjabat sebagai direktur sekaligus pemilik rekening PT Surya Subur Jaya dan
PT Nusa Primula Maju Jaya. Dua perusahaan itulah yang dijadikan tempat
pencucian uang. Barang bukti yang berhasil disita yaitu rekening bank swasta
sebesar Rp 526 juta, rekening di bank negeri sebesar Rp 1,6 miliar, dan satu unit
rumah di Pekanbaru Riau senilai Rp 1,8 miliar. Atas perbuatannya, tersangka
Intan diganjar hukuman maksimal 20 tahun penjara.
"Tersangka Intan diduga melakukan perbuatan melawan hukum karena
menyimpan, mentransfer, menerima, dan menikmati uang hasil kejahatan
narkotika sebagaimana dimaksud Pasal 137 huruf b UU No 35/2009 tentang
narkotika serta Pasal 3, 4, 5 ayat 1 UU No 8/2010 tentang pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana pencucian uang," kata Heru.
Rabu 28 September 2016, 18:28 WIB
BNN Ungkap Pencucian Uang Tersangka Narkotika Senilai Rp 25 Miliar
Jakarta - Direktorat TPPU Deputi Bidang Pemberantasan BNN menyidik
empat kasus pencurian uang tersangka narkotika. Hasilnya, total aset senilai Rp 25
miliar lebih dari berbagai jenis aset berhasil disita. "Total aset para tersangka Rp
[Link]," kata Direktur TPPU BNN Brigjen Rachmad Suwanto kepada
detikcom, Rabu (28/9/2016).
Aset yang disita dari para tersangka narkoba itu berupa rumah, mobil
mewah, ruko, perhiasan dan lainnya. Rahmat kemudian merinci empat kasus itu.
Pada 3 Agustus 2016, tersangka TPPU atas nama Piter Chandra Jaringan Chandra
Halim alias Akiong. Barang bukti sekitar 34.5 Kg sabu yang disimpan dalam
Hydraulic Pump berhasil diamankan. "Akiong merupakan narapidana hukuman
mati dalam kasus 1.4 juta ekstasi tahun 2011 bersama dengan terpidana mati
Freddy Budiman," ujar Rahmat. Lalu, BNN menangkap 3 orang tersangka TPPU
narkotika atas nama Ruslam dan kawan-kawan terkait jaringan Pony Tjandra pada
(19/8/2016) di Batam, Kepulauan Riau. "Tersangka Ruslan menerima uang hasil
penjualan narkotika melalui transfer ataa nama Ardi W yang dikendalikan oleh

18
tersangka Loei Kok Ming alias Koming," ujarnya.
Kemudian, BNN juga menangkap Sulaiman alias Riki di Aceh, (4/8/2016)
lalu dengan barang bukti narkotika jenis shabu sebanyak 30 Kg. Lalu pada 10
September 2016, tersangka Susanto als Wesley ditangkap di Pontianak, Kalbar
dengan barang bukti narkotika jenis shabu sebanyak 10 Kg. Kedua tersangka
tersebut terkait Jaringan Jamal yang masih [Link] keempat merupakan
tersangka Loei Kok Ming alias Koming sendiri yang akhirnya berhasil dibekuk di
Medan, (16/9/2016).
Koming merupakan residivis dalam perkara narkotika tahun 2006 dengan
vonis 2 tahun penjara. Tidak hanya itu, Pada 2008 Koming juga diproses untuk
kasus narkotika dengan barang bukti 12 ribu Inek dengan vonis 12 tahun penjara.
Lalu perkara pada 2016 terkait jaringan Tjia Sun Fen dan Pony Tjandra yang saat
ini sedang menjalani proses penyidikan BNN.
Rabu 04 Mei 2016, 10:08 WIB
Airin Rachmi Diperiksa KPK sebagai Saksi Kasus TPPU Wawan
Jakarta - Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diani menyambangi
KPK. Dia mengaku akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus Tindak Pidana
Pencucian Uang (TPPU) dengan tersangka Tubagus Chaeri Wardhana alias
Wawan. "Diperiksa TPPU, nanti ya," ucap Airin di KPK, Jalan HR Rasuna Said,
Jakarta Selatan, Rabu (4/5/2016).
Dalam jadwal pemeriksaan di KPK, penyidik juga memanggil seorang staf
BPN Serang bernama Ikhsan. Dia juga diperiksa sebagai saksi untuk kasus TPPU
Wawan. Wawan ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan TPPU pada 10
Januari 2014. Tim penyidik KPK masih meneliti sekitar 1.200 kontrak paket
pekerjaan dari 300 perusahaan yang diduga digunakan Tubagus Chaeri Wardhana
(TCW). Adik Ratu Atut Chosiyah itu diduga menggunakan ratusan perusahaan
yang diatasnamakan anak buahnya itu untuk memenangkan berbagai proyek di
Banten. "Sampai saat ini penyidik masih melakukan penelaahan 1200 kontrak
paket pekerjaan dari sekitar 300 perusahaan yang dipergunakan TCW yang
diatasnamakan pegawainya untuk mengikuti sejumlah proyek," kata Kabag
Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha, Kamis (25/3/2016).
Priharsa mengatakan 1.200 paket kontrak proyek itu dilakukan dari kurun

19
waktu 2002 hingga 2013. Sebagian besar proyek itu adalah proyek di
Pemerintahan Provinsi Banten, Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, dan
Pemerintahan Kabupaten Pandeglang. "Dan ada juga (paket kontrak kerja)
instansi vertikal Kementerian PUPR," ucapnya. Namun sayangnya Priharsa belum
mengungkap berapa nilai kontrak yang tengah diteliti tersebut. "Belum bisa
disampaikan keseluruhan kontrak tersebut yang jumlahnya lebih dari 1.200
kontrak paket pekerjaan," sebut Priharsa. Adik dari Ratu Atut Chosiyah itu
memang telah ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang oleh KPK setelah
melakukan pengembangan penyidikan dalam kasus dugaan korupsi. Berbagai
korupsi yang disangkakan sebelumnya yaitu korupsi pengadaan alat kesehatan di
Tangerang Selatan serta suap sengketa Pilkada Lebak.
KPK pun menyangka Wawan melanggar Pasal 3 dan/atau Pasal 4 Undang-
undang nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Selain itu,
Wawan juga diduga melanggar Pasal 3 ayat (1) dan/atau Pasal 6 ayat (1) Undang-
undang nomor 15 tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang
nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 55 ayat
(1) ke-1 KUHPidana.
[Link] - 21/08/2018, 15:30 WIB
OJK Ajukan Kasus BPR MAMS Sebagai Tindakan Pencucian Uang ke
Bareskrim
JAKARTA, [Link] - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui
Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan telah rampung menyidik tindak
pidana perbankan Multi Artha Mas Sejahtera (MAMS). Jumlah kerugian dari
tindakan yang dilakukan oleh tersangka dengan inisial H mencapai Rp 6,28 miliar.
Ketua Departemen Penyidikan Rochmat Sunanto menjelaskan, sebagai tindak
lanjut pihaknya telah mengajukan kasus BPR MAMS ke Badan Reserse Kriminal
(Bareskrim) Polri.
Sebab, jumlah dana yang diambil cukup besar dan OJK tidak memiliki
kewenangan untuk melacak aset tersebut. "Karena OJK tidak memiliki
kewenangan melacak aset, kami menyerahkan kasus TPPU (Tindak Pidana
Pencucian Uang) ke Bareskrim Polri untuk men-tracking aset untuk apa saja dan

20
ke mana saja," ujar Rochmat ketika memberikan keterangan pers di kantornya,
Selasa (21/8/2018). Kemudian, setelah berhasil dilacak ke mana saja dana dari
hasil penggelapan tersebut dialirkan, maka barang-barang tersebut akan disita dan
diserahkan sebagai harta kekayaan milik BPR MAMS di bawah pengawasan
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). "LPS kemudian yang akan menangani
kerugian nasabah dan masyarakat," ujar Rochmat.

21
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan dikeluarkannya UU No. 25 tahun 2003 tentang pencucian uang,
berarti menganggap perbuatan pencucian uang sebagai tindak pidana (kejahatan)
yang harus ditindak tegas oleh para penegak hukum yang berwenang.
Dengan adanya perangkat hukum yang tegas hal ini bisa dijadikan sebagai
perwujudan rasa keadilan. Sanksi tindak pidana pencucian uang berupa pidana
penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan
denda paling sedikit Rp. [Link],00 (lima milyar rupiah) dan paling banyak
Rp. [Link],00 (lima belas milyar rupiah).
Selain itu pihak yang terlibat seperti pelapor dan saksi memiliki
perlindungan hukum dari kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa,
dan/atau hartanya termasuk keluarganya. Dalam kasus money laundering
kepolisian dan penuntut umum juga memiliki kesulitan dalam membuktikan
terjadinya tindak pidana pencucian uang karena modusnya yang bervariasi dan
biasanya tidak ditemukan adanya cukup alat bukti.
B. Saran
Kriminalisasi terhadap money laundering seharusnya diikuti dengan
kriminalisasi terhadap perbuatan-perbuatan yang memungkinkan terjadinya
money laudering misalnya di bidang perbankan dan pasar modal. Hal ini
penting karena money laundering tidak akan lepas dari kegiatan perbankan
dan pasar modal.

22
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan


Tindak Pidana Pencucian Uang, Pasal 3.

Yenti Ganarsih, Kriminalisasi Pencucian Uang (Money Laundring), cet. 1,


(Jakarta : Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas
Indonesia,2003).

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan


Tindak Pidana Pencucian Uang,Pasal 1 Angka (7).

23

Anda mungkin juga menyukai