Implementasi Manajemen Organisasi Di Stais Al-Ishlahiyah Binjai
Implementasi Manajemen Organisasi Di Stais Al-Ishlahiyah Binjai
Abstract
Every college has a goal. To achieve this goal, higher education institutions need a good organizational
structure, namely a healthy and efficient organizational structure. organizational structure is the result of the
management process, in this case as the output of the organizing process. In the process of establishing the
organizational structure, the Team must pay attention to and apply various organizational principles, namely
the formulation of clear goals, departmentalization, division of labor, delegation of authority, span of control,
organizational levels, and unity of command. The application of these principles in the organizational process
can produce a sound and efficient organizational structure. Quality tertiary education plays an important role in
nation-building, it is a means to give birth to educated-intellectuals. The number of educated people produced
by universities has accelerated the improvement of the quality of people's lives in this country. Universities are
obliged to provide a quality educational process. From that, thinkers, initiators and implementers will be born
in various fields of community life. This research uses a qualitative approach with a case study type with a
multi-case design. Collecting data through observation, interviews and documentation. Data analysis using the
Miles and Huberman data analysis model which includes four components, namely data collection, data
reduction, data presentation and drawing conclusions. Checking the wetness of the data using triangulation.
Now, educational institutions are focused on the era a very big and undeniable transformation that universities
must accept if they want to survive, struggle, and develop. Solving the problem, many ideas are explored, such
as the concept of economy and decentralization.
Keywords: Management, Organization, Effective
Abstrak
Setiap perguruan tinggi memiliki tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, lembaga perguruan tinggi
membutuhkan struktur organisasi yang baik yaitu struktur organisasi yang sehat dan efisien. struktur organisasi
merupakan hasil dari proses manajemen, dalam hal ini sebagai output dari proses pengorganisasian. Dalam
proses pembentukan struktur organisasi, Tim harus memperhatikan dan menerapkan berbagai prinsip
organisasi, yaitu perumusan tujuan yang jelas, departemenisasi, pembagian kerja, pendelegasian wewenang,
rentang kendali, level organisasi, dan kesatuan perintah. Penerapan prinsip-prinsip ini dalam proses
pengorganisasian dapat menghasilkan struktur organisasi yang sehat dan efisien. Perguran tinggi berkualitas
berperan penting dalam pembangunan bangsa, ia adalah sarana untuk melahirkan kalangan terdidik-intlektual.
Banyaknya kalangan terdidik yang dihasilkan perguruan tinggi, mempercepat peningkatan kualitas kehidupan
masyarakat di negara ini. Perguruan tinggi berkewajiban memberikan proses pendidikan bermutu. Dari itulah,
akan lahir para pemikir, penggagas dan pelaksana dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus dengan rancangan multikasus. Pengumpulan data melalui
observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dengan model analisis data Miles dan Huberman yang
mencakup empat komponen yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Pengecekan kebasahan data menggunakan triangulasi. ekarang ini, lembaga pendidikan difokuskan pada era
transformasi yang sangat besar dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa universitas harus menerimanya jika ingin
bertahan hidup, berjuang, dan mengembangkan. Memecahkan masalah tersebut, banyak ide dieksplorasi,
seperti konsep ekonomi dan desentralisasi.
Kata Kunci: Manajemen, Organisasi, Efektif
Copyright (c) 2023 Mesiono, Arie Dwi Ningsih, Rosida Hanum, Desy Ariani
Corresponding author: Mesiono
Email Address: mesiono@[Link] (Jl. William Iskandar Ps. V, Percut Sei Tuan, Kab. Deli Serdang, Sumut)
Received 03 February 2023, Accepted 09 February 2023, Published 09 February 2023
8351 Journal on Education, Volume 05, No. 03, Maret-April 2023, hal. 8350-8361
PENDAHULUAN
Lembaga pendidikan tinggi adalah suatu lembaga yang bertujuan mengambangkan potensi
manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai
manusia, naik secara individual maupun sebagai anggota masyarakat. Kegiatan untuk
mengembangkan potensi itu harus dilakukan secara berencana, terarah dan sistematik guna mencapai
tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan di atas diperlukan suatu organisasi lembaga pendidikan.
Keberhasilan suatu lembaga pendidikan dapat ditentukan berdasarkan suatu kriteria-kriteria tertentu.
Pengorganisasian suatu lembaga pendidikan tinggi tergantung beberapa aspek di antaranya adalah
jalur, jenjang, dan jenis organisasi lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan.
Pendidikan harus dilaksanakan sebaik mungkin agar dapat mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Keberhasilan pelaksanaan pendidikan ini menentukan masa depan sebuah bangsa. Jika
mutu pendidikan baik, maka sumber daya manusia juga akan meningkat. Institusi pendidikan harus
melaksanakan program pendidikan dengan sebaik mungkin agar kualitas pendidikan semakin maju.
Agar dapat melaksanakan pendidikan dengan sebaik mungkin maka perlu manajemen atau
pengelolaan institusi yang baik. Manajemen ini juga mempengaruhi kredibilitas sebuah institusi
pendidikan. Institusi pendidikan yang memiliki kualitas dan akreditasi yang baik dapat dipastikan
memiliki sumberdaya dan manajemen pengelolaan pendidikan yang tertata dengan baik.
Pada institusi pendidikan tinggi seperti universitas, akademi, dan sekolah-sekolah tinggi
lainnya manajemen pendidikan diterapkan berbeda dengan institusi pendidikan menengah ataupun
dasar karena lebih kompleks. Perlu dilakukan efisiensi pada pengelolaan secara menyeluruh agar
manajemen dapat berjalan dengan baik dan institusi dapat berfokus pada pelaksanaan pendidikan.
Teknologi dengan perkembangannya yang begitu pesat dapat dimanfaatkan dalam menunjang
pengelolaan institusi pendidikan tinggi. Dengan penerapan teknologi dalam institusi maka banyak
peran dan prosedur yang dapat digantikan.
Abad 21 adalah abad perkembangan industri yang sangat pesat ditopang oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan masyarakat
teknologi yang mampu memanfaatkan berbagai aplikasi teknologi, sehingga dapat mengubah cara
berfikir, bertindak bahkan mengubah bentuk dan pola hidup manusia yang sama sekali berlainan
dengan kehidupan sebelumnya. Mesiono (2022:89) menegaskan bahwa “Many education experts
have different perspectives on the principles of education management, including the belief that the
principles of education management include eight principles, sincerity, honesty, trustworthiness,
fairness, responsibility, dynamic, practical, and flexibility” (Mesiono, 2022). Dalam masyarakat yang
seperti itu, peran lembaga pendidikan menjadi sangat dibutuhkan dalam memberikan dorongan,
bimbingan maupun fasilitas kepada siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan serta keterampilan
menggunakan teknologi.
Dalam dunia kependidikan tinggi , kita tidak akan terlepas dari organisasi. Maka, dalam
menguasai manajemen pendidikan tinggi sangat perlu untuk mengetahui seluk beluk organisasi
Implementasi Manajemen Organisasi di Stais Al-Ishlahiyah Binjai, Mesiono, Arie Dwi Ningsih, Rosida Hanum, Desy
Ariani 8352
terlebih organisasi lembaga pendidikan tinggi . Oleh karena itu, penulis membahas tentang
implementasi manajemen organisasi lembaga pendidikan tinggi. Di samping profesionalitas, pendidik
juga ditantang menghadapi beberapa kunci kesuksesan dunia pendidikan yaitu, kompetisi, karakter,
integritas serta kualitas yang tinggi.
Beberapa tantangan abad 21 yang harus disikapi pendidik dapat dijabarkan sebagai berikut; 1)
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan mendasar. Dengan kondisi ini
pendidik harus bisa menyesuaikan diri secara responsif, arif dan bijaksana. Responsif artinya pendidik
harus bisa menguasai dengan baik produk IPTEK, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan.
Tanpa pengetahuan IPTEK yang baik, maka pendidik akan menjadi tertinggal bahkan menjadi korban
IPTEK, yang pada akhirnya hanya menjadikan pendidik “pasrah” pada keadaan, 2) Krisis moral yang
melanda Indonesia. Akibat pengaruh perkembangan aplikasi teknologi, telah terjadi pergeseran nilai-
nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda serta para siswa. Melalui
pendidikan, pendidik ditantang untuk terus meningkatkan kreativitas menggunakan teknologi dalam
menanamkan kemampuan berinovasi peserta didik sekaligus menanamkan nilai-nilai moral, 3) Krisis
sosial seperti kriminalitas, kekerasan, pengangguran, dan kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat.
Akibat perkembangan industri dan kapitalisme, maka muncul masalah-masalah sosial dalam
masyarakat. Mereka yang lemah dari sisi pendidikan, akses maupun ekonomi paling rentan menjadi
korban. Merupakan tantangan pendidik untuk merespon realitas ini melalui dunia pendidikan. Sebab,
sekolah merupakan lembaga pendidikan yang telah mendapat kepercayaan dari masyarakat, sehingga
harus mampu menghasilkan peserta didik yang siap hidup dalam situasi dan kondisi yang
bagaimanapun, 4) Krisis identitas sebagaian masyarakat Indonesia. Proses informatisasi dan
industrialisasi abad 21 juga telah meradiasi identitas dan budaya bangsa Indonesia sehingga
mempengaruhi semangat kebangsaan maupun nasionalisme generasi muda. Untuk itu, pendidik
sebagai penjaga nilai-nilai serta karakter generasi muda termasuk semangat nasionalisme, harus
mampu memberikan kesadaran kepada generasi muda akan pentingnya jiwa nasionalisme dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, (Oviyanti, 2013).
Kualitas Pendidikan merupakan isu penting yang tak pernah hilang dalam pengelolaan
pendidikan. Sebab, lembaga pendidikan yang berkualitas menjadi perhatian utama setiap lembaga
pendidikan. Segenap upaya lembaga pendidikan terus dikerahkan untuk meningkatkan kualitas
lembaga pendidikannya, (Ismail, 2020). Dalam upaya menciptakan lembaga pendidikan yang
berkualitas, perlu ada kesepakatan kerjasama antara pendidik, orang tua, administrator dan peserta
didik bahwa sekolah harus menjadi tempat yang memaksimalkan pembelajaran bagi peserta didik, di
mana, peserta didik merasa bahagia dalam proses belajar. Lingkungan pembelajaran yang bahagia,
tentunya akan menghasilkan keberhasilan akademis, (Danielsen,2010). Keberhasilan akademik yang
dimaksud adalah ketercapaian lembaga pendidikan dalam membantu merealisasikan tujuan
pendidikan nasional. Karena itu, suasana belajar juga dapat mengarahkan para siswa sebagai petunjuk
arah bagi mereka untuk dapat tumbuh dewasa sesuai dengan potensi dan konsep diri yang sebenarnya,
8353 Journal on Education, Volume 05, No. 03, Maret-April 2023, hal. 8350-8361
sehingga mereka dapat tumbuh, bersaing dan mempertahankan kehidupannya di era informatisasi dan
industrialisasi abad 21.
Perguran tinggi memiliki peranan penting dalam pembangunan bangsa, ia merupakan sebuah
sarana untuk melahirkan kaum terdidik dan intlektual guna menata kehidupan bangsa menuju arah
yang lebih baik, (Abbas,2009). Semakin banyak kalangan terdidik yang dihasilkan oleh perguruan
tinggi, maka akan ada harapan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat di negara ini berkembang
lebih cepat. Melalui perguruan tinggilah akan dihasilkan sumber daya manusia yang handal dan
berkualitas. Tugas perguruan tinggi adalah melahirkan manusia berkualitas. Dari sanalah akan lahir
para pemikir, penggagas dan pelaksana dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Oleh karena
itulah percepatan pembangunan di negara manapun sangat erat kaitannya dengan peranan dan
perkembangan perguruan tinggi di negara tersebut, (Daulay, 2012).
Adanya perkembangan jumlah perguruan tinggi di negeri ini yang begitu pesat, menunjukkan
bahwa animo masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kualitas keilmuannya semakin tinggi.
Kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan, termasuk layanan pendidikan tinggi terus
berkembang. Pada tahun 2015, jumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia berkembang dengan cepat
menjadi 19 STAIN, IAIN 25, dan 11 UIN. Sedangkan perguruan tinggi swasta bejumlah 503
STAIS, 30 Institut, dan 96 FAI.
Ki Hajar Dewantara, sebagaimana dikutip oleh Dedy Mulyasana memandang penting
diterapkannya pendekatan yang bersifat humanistik dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, ia
memandang pentingnya diterapkan lima asas pendidikan sebagai berikut; 1) Asas Kemerdekaan.
Proses penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dengan memperhatikan kemerdekaan peserta didik.
Mereka diberikan kemerdekaan tetapi tetap memperhatikan etika, aturan dan tata nilai yang berlaku.
Asas kemerdekaan bukan berarti pendidikan yang bebas nilai tetapi kemerdekaan yang dikembangkan
bersama etika, aturan dan tata nilai, 2) Asas Kodrat Alam. Proses pendidikan dilakukan sesuai dengan
kodrat alam. Artinya, proses pendidikan dikelola dengan memperhatikan hakikat dan kodrat anak
selaku manusia. Setiap anak memiliki keragaman bakat, sikap, kemampuan, minat dan kebutuhan
yang berbeda-beda. Pendidikan dikembangkan sejalan dengan hakikat dan keragaman tersebut, 3)
Akses Kebudayaan. Proses pendidikan yang baik adalah proses pendidikan yang dilakukan dengan
melakukan pendekatan budaya dan dikembangkan sejalan dengan tuntutan peradaban dan tantnagan
masa depan bangsa, 4) Asas Kebangsaan. Pendidikan dilakukan dengan memperhatikan asas
kebangsaan. Artinya bahwa pengelolaan dan pembangunan pendidikan di Indonesia dilakukan dengan
memperhatikan kepentingan dan jatidiri bangsa, 5) Asas Kemanusiaan. Pendidikan dilakukan dengan
memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan hakikat pendidikan sebagai proses
memanusiakan manusia yang dilakukan secara manusiawi. Artinya, pendidikan tidak dimaksud
mengubah anak didik menjadi mesin dan robot, tetapi mengembangkan potensi dan kemampuan anak
sejalan dengan hakikat dirinya sebagai manusia, (Mulyasana, 2015).
Implementasi Manajemen Organisasi di Stais Al-Ishlahiyah Binjai, Mesiono, Arie Dwi Ningsih, Rosida Hanum, Desy
Ariani 8354
Pendidikan juga memiliki arah baru perencanaan pendidikan harus dapat menghasilkan output
kebijakan yang dapat mengakomodasi unsur-unusr sebagai berikut; 1) Perencanaan pendidikan
haruslah merumuskan pendidikan secara luas, bukan hanya sekedar dibatasi sebagai schooling. Jika
pendidikan ditafsirkan sebagai schooling semata, akan muncul anggapan bahwa tanggung jawab
pendidikan dilimpahkan semuanya kepada tanggung jawab sekolah. Hal ini tentu menyebabkan
terasingnya pendidikan dari kehidupan nyata dan terlemparnya masyarakat dari tanggung jawab
pendidikan. Rumusan mengenai adanya jenis pendidikan formal dan non-formal perlu disempurnakan
lagi yaitu melengkapinya dengan pendidikan in-formal, di mana pendidikan informal inilah yang
justru lebih memegang peran penting dalam pembentukan tingkah laku manusia. Dalam menghadapi
era industrialisasi dan informatisasi, kebijakan Pendidikan harus menyertakan unsur pendidikan in-
formal tersebut, 2) Menghadapi tantangan informatisasi dan industrialisasi abad-21, rumusan
kebijakan pendidikan semaksimal mungkin harus melibatkan masyarakat. Hal ini karena pendidikan
pada kenyataannya tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan hidup masyarakat, atau dengan kata lain
merupakan bagian dari kebudayaan. Dengan demikian, tujuan pendidikan yang selama ini hanya
kepada pembentukan intelektual semata-mata haruslah diubah meliputi.
METODE
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan
adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Strategi pengumpulan data dilakukan dengan
cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tekinik analisis data yang digunakan adalah model
Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan. Teknik penjaminan keabsahan data yang digunakan adalah uji kredibilitas,
transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas terhadap penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi
rencana strategis dalam pengembangan budaya mutu pendidikan di STAI Syekh H. Abdul Halim
Hasan Al Ishlahiyah Binjai.
diatur menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi, dan memfokuskan
sumber daya pada tujuan.
Pengertian lain menyebutkan bahwa organisasi adalah suatu sistem interaksi antar orang yang
ditujkan untuk mencapai tujuan organisasi, dimana sistem tersebut memberikan arahan perilaku bagi
anggota organisasi. Organisasi dipandang pula sebagai satuan sosial yang dikoordinasi secara sadar,
yang tersusun atas dua orang atau lebih, yang berfungsi atas dasar yang relative terus menerus untuk
mencapai suatu tujuan atau seperangkat bersama, (Stephen, 1996).
Berbagai pengertian organisasi di atas menunjukkan bahwa organisasi mengandung unsur-
unsur yang membentuk keberadaan organisasi, seperti yang dikemukakan oleh Malayu SP Hasibuan
sebagai berikut: Manusia (human factor), artinya organisasi baru ada jika ada unsur manusia yang
bekerja sama, ada pemimpin dan ada yang dipimpin Tempat kedudukan, artinya organisasi baru ada
jika ada tempat kedudukannya Tujuan, artinya organisasi baru ada jika ada tujuan yang ingin dicapai
Pekerjaan, artinya organisasi baru ada jika pekerjaan yagn akan dikerjakan serta adanya pembagian
kerja.
Struktur, artinya organisasi baru ada jika hubungan dan kerja sama antara manusia yang satu
dengan yang lainnya Teknologi, artinya organisasi baru ada jika terdapat unsur teknis Lingkungan
(environtmental external social sistem), artinya organisasi baru ada jika ada lingkungan yang saling
mempengaruhi seperti adanya sistem kerja sama sosial. Dari berbagai definisi para ahli mengenai
organisasi, pada intinya dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah koordinasi/secara rasional
kegiatan sejumlah orang untuk mencapai tujuan bersama yang dirumuskan secara eksplisit, melalui
peraturan dan pembagian kerja serta melalui hierarkhi kekuasaan dan tanggung jawab.
Suatu lembaga adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mewujudkan nilai-nilai
dan tata cara umum tertentu dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat tertentu. Lembaga termasuk
diantara norma norma masyarakat yang paling resmi dan bersifat memaksa. Kalau kebiasaan dan tata
kelakuan disekitar suatu kegiatan yang penting menjadi terorganisir ke dalam sistem keyakinan dan
perilaku yang sangat formal dan mengikat, maka suatu lembaga telah berkembang. Oleh karena itu
suatu lembaga mencakup : 1) Seperangkat perilaku yang telah distandarisasi dengan baik, 2)
Serangkaian tata kelakuan, sikap, nilai- nilai yang mendukung dan, 3) Sebentuk tradisi, ritual, upacara
dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.
Lembaga pendidikan merupakan suatu badan atau instansi baik itu negeri maupun swasta
yang melaksanakan kegiatan mendidik atau penyelenggara usaha pendidikan. Lembaga pendidikan
tinggi di Indonesia tidak hanya lembaga, namun juga mencakup lembaga pendidikan seperti kursus
privat maupun kursus pelatihan yang mengadakan kegiatan pendidikan tinggi karena setiap lembaga
pendidikan tinggi di Indonesia memiliki tujuan, kurikulum dan lulusan yang berbeda-beda. Meskipun
demikian, lembaga pendidikan tinggi ini memiliki komponen yang sama di dalamnya. Komponen-
komponen tersebut adalah : 1) Komponen mahasiswa, Mahasiswa di sini merupakan subjek dari
belajar yang menurut jenis dan sifatnya disebut sebagai mahasiswa ,dan peserta kursus. 2) Komponen
Implementasi Manajemen Organisasi di Stais Al-Ishlahiyah Binjai, Mesiono, Arie Dwi Ningsih, Rosida Hanum, Desy
Ariani 8356
pendidik, Pendidik sendiri merupakan subjek yang memberikan pelajaran, yang dapat disebut
ssebagai pendidik , dosen maupun penyaji atau penatar, 3) Komponen kurikulum, Kurikulum
merupakan materi yang diajarkan yang memberikan ciri pada lembaga pendidikan tinggi tersebut dan
mencerminkan kualitas lulusan. 4) Komponen sarana dan prasarana, Untuk menunjang proses
pembelajaran diperlukan sarana dan prasarana yang mendukung. 5) Komponen pengelola, Pengelolan
merupakan orang-orang yang menpendidik penyelenggaraan lembaga pendidikan tinggi yang
menyangkut pengelolaan dalam memimpin, mengorganisasikan, mengarahkan, membina dan
menpendidik tatalaksana lembaga.
Dari pengertian masing-masing kata tersebut dapat diketahui definisi organisasi lembaga
pendidikan tinggi adalah koordinasi secara rasional sejumlah orang dalam membentuk institusi
pendidikan tinggi yang lebih maju. Tujuannya antara lain adalah menyiapkan mahasiswa menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat
menerapkan, mengembangkan, memperkya khanazah ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, serta
mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya
kebudayaan nasional. Demikian kompleksnya organisasi tersebut, maka dalam memberikan layanan
pendidikan kepada mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya organisasi perlu dikelola
dengan baik. Oleh sebab itu lembaga pendidikan perlu menyadari adanya pergeseran dinamika
internal (perkembangan dan perubahan peran) dan tuntutan eksternal yang semakin berkembang.
Struktur Organisasi Pendidikan Tinggi
Kemandirian sebagai tuntutan desentralisasi pendidikan tinggi pada daerah kabupaten dan
kota lebih menekankan pada kemandirian dalam mengelola dan memberdayakan berbagai
sumberdaya yang dimiliki untuk mengimplementasikan kebijakan yang sudah ditetapkan oleh otoritas
pusat dan propinsi. Melihat sumberdaya yang tersedian di daerah maka setiap saerah berbeda-beda
dalam menangani urusan pendidikan. Perbedaan ini terlihat dalam mengorganisasikan instansi
pengelolaan pendidikan tinggi sedangkan untuk pengorganisasian lembaga penyelenggara pendidikan
tinggi tetap menganut ketentuan nasional tentang jenis dan jenjang pendidikan tinggi.
Struktur Organisasi pendidikan yang pokok ada dua macam yaitu sentralisasi dan
desentralisasi. Di antara kedua struktur tersebut terdapat beberapa struktur campuran yakni yang lebih
cenderung ke arah sentralisasi mutlak dan yang lebih mendekati disentralisasi tetapi beberapa bagian
masih diselenggarakan secara sentral. Pada umumnya, struktur campuran inilah yang berlaku
dikebanyakan negara dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi dan pengajaran bagi bangsanya.
1. Struktur Sentralisasi, di negara-negara yang organisasi pendidikan tinggi dijalankan secara
sentral, yakni yang kekuasaan dan tanggung jawabnya dipusatkan pada suatu badan di pusat
pemerintahan maka pemerintah daerah kurang sekali atau sama sekali tidak mengambil bagian
dalam administrasi apapun. Segala sesuatu yang mengenai urusan-urusan pendidikan tinggi, dari
menentukan kebijakan dan syarat-syarat personal, urusan kepegawaian, sampai kepada
penyelenggaraan bangunan-bangunan pendidik tinggi , penentuan kurikulum, alat-alat pelajaran,
8357 Journal on Education, Volume 05, No. 03, Maret-April 2023, hal. 8350-8361
soal-soal dan penyelenggaraan ujian-ujian, dan sebagainya. Semuanya ditentukan dan ditetapkan
oleh dan dari pusat. Sedangkan bawahan dan pendidik tinggi hanya merupakan pelaksana-
pelaksana pasif dan tradisional semata-mata. Sesuai dengan sistem sentralisasi dalam organisasi
pendidikan tinggi ini, pendidik -pendidik dalam kekuasaan dan tanggung jawabnya, serta dalam
prosedur-prosedur pelaksanaan tugasnya sangat dibatasi oleh peraturan-peraturan dan instruksi-
instruksi dari pusat yang diterimanya melalui hierarchi atasannya. Dalam sistem sentralisasi
semacam ini, ciri-ciri pokok yang sangat menonjol adalah keharusan adanya uniformitas
(keseragaman) yang sempurna bagi seluruh daerah di lingkungan negara itu. Keseragaman itu
meliputi hampir semua kegiatan pendidikan tinggi, teutama di perpendidikan tinggi yang
setingkat dan sejenis.
2. Struktur Desentralisasi, di negara-negara yang organisasi pendidikan tinggi di-desentralisasi,
pendidikan bukan urusan pemerintah pusat, melainkan menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah dan rakyat setempat. Penyelenggaraan dan pengawasan pendidik tinggi pun berada
sepenuhnya dalam tangan penguasa daerah. Kemudian pemerintah daerah membagi-bagikan lagi
kekuasaannya kepada daerah yang lebih kecil lagi, seperti kabupaten/kota seterusnya dalam
penyelengaraan dan pembangunan pendidik tinggi , sesuai dengan kemampuan, kondisi-kondisi,
dan kebutuhan masing-msing. Tiap daerah atau wilayah diberi otonomi yang sangat luas yang
meliputi penentuan anggaran biaya, rencana-rencana pendidikan, penentuan personel/pendidik ,
gaji pendidik -pendidik pegawai pendidik tinggi , buku-buku pelajaran, juga tentang
pembangunan, pemakaian serta pemeliharaan gedung pendidik tinggi. Dengan struktur organisasi
pendidikan yang dijalankan secara desentralisasi seperti ini, rektor pendidik tinggi tidak semata-
mata merupakan seorang pendidik rektor , tetapi seorang pemimpin, profesional dengan tanggung
jawab yang luas dan langsung terhadap hasil-hasil yang dicapai oleh pendidik tinggi nya. Ia
bertanggung jawab langsung terhadap pemerintahan dan masyarakat awasan dan sosial-control
yang langsung dari pemerintahan dan masyarakat setempat. Hal ini disebabkan karena rektor
pendidik tinggi dan pendidik -pendidik adalah petugas-petugas atau karyawan-karyawan
pendidik yang dipilih, diangkat, dan diberhentikan oleh pemerintah daerah setempat.
Bentuk, Tipe Organisasi
Organisasi berdasarkan bentuknya Menurut (Hasibuan, 2001) terdiri dari : 1) Organisasi lini
(line organization); pendelegasian wewenang dilakukan secara vertikal melalui garis terpendek dari
seseorang atasan kepada bawahannya. Bentuk ini memiliki ciri; Organisasinya relatif kecil dan
sederhana, Hubungan bersifat langsung melalui garis wewenang terpendek, Pucuk pimpinan biasanya
pemilik perusahaan, Jumlah karyawan relatif sedikit dan saling mengenal, Pucuk pimpinan sumber
kekuasaan, keputusan dan kebijaksanaan organisasi, 2) Organisasi lini dan Staf; terdapat pucuk
pimpinan dan pimpinan di bawahnya serta pimpinan dibantu oleh staf. Tipe organisasi ini biasanya
digunakan untuk organisasi besar, daerah kerjanya luas, dan pekerjaannya banyak. Wewenang
pimpinan adalah mengambil keputusan, kebijaksanaan, dan berkuasa serta harus bertanggungjawab
Implementasi Manajemen Organisasi di Stais Al-Ishlahiyah Binjai, Mesiono, Arie Dwi Ningsih, Rosida Hanum, Desy
Ariani 8358
langsung tercapainya tujuan perusahaan. wewenang lini dalam struktur organisasi digambarkan
dengan garis. Adapun wewenang staf adalah hanya untuk memberikan data , informasi, pelayanan dan
pemikiran untuk membantu kelancaran tugas- tugas manejer lini. Dalam struktur organisasi
digambarkan dengan garis terputus-putus, 3) Organisasi fungsional; organisasi berdasarkan sifat dan
macam kerja yang harus dilakukan, terdapat pembagian kerja berdasarkan pada “spesialisasi’ yang
sangat mendalam dan setiap pejabat hanya mengerjakan tugas atau pekerjaan sesuai dengan
spesialisasinya; Direktur utama (Dirut) mendelegasikan wewenang kepada direktur dan direktur ini
memerintahkan tugas atau spesialisasinya kepada pelaksana, dengan demikian pelaksana atau
bawahan mempunyai beberapa orang atasan langsungnya. Terdapat dua kelompok wewenang, yaitu
wewenang lini dan wewenang fungsi, 4) Organisasi lini, Staf dan fungsional; kombinasi dari
organisasi lini,lini dan staf, dan fungsional dan biasanya diterapkan pada organisasi besar serta
kompleks. Pada tingkat Dewan Komisaris diterapkan tipe organsiasi lini dan staf, sedangkan pada
tingkat middle manager diterapkan tipe organisasi fungsional. 5) Organisasi Komite; adalah suatu
organisasi yang masing-masing anggota mempunyai wewenang yang sama dan pimpinannya kolektif;
ada pembagian tugas, wewenang semua anggota sama besar, tugas dan tanggung jawab pimpinan
dilaksanakan secara kolektif, Para pelaksana dikelompokkan menurut bidang/ komisi tugas
tertentu,Keputusan merupakan keputusan semua anggotanya. Desain struktur organisasi ada 2 model,
yaitu : 1) Desain organisasi tradisional, 2) Desain struktur organisasi kontemporer. Model pertama
terdiri dari: a) Struktur sederhana; desain struktur organisasi dengan departemenisasi rendah, rentang
kendali yang luas, wewenang terpusat pada seseorang, dan formalisasi rendah. Struktur ini biasa
digunakan oleh organisasi kecil. B) Struktur fungsional; desain struktur organisasi yang
mengelompokkan spesialisasi pekerjaan yang serupa atau terkait kedalam satu kelompok. Di-
organisasi berdasarkan fungsi operasi, keuangan, SDM, serta riset dan pengembangan produk. C)
Struktur divisional; struktur organisasi terdiri atas sejumlah unit atau divisi yang terpisah, tiap unit
atau divisi mempunyai otonomi yang relatif terbatas, dengan manejer divisi yang bertanggung jawab
atas kinerja dan yang mempunyai wewenang strategis dan operasional atas unitnya.
Model kedua terdiri dari : a) Struktur berbasis tim; Keseluruhan organisasi tersusun oleh
sejumlah kelompok kerja (tim) yang menjalankan pekerjaan organisasi tersebut dan wewenang
menejerialnya bersifat fleksibel. B) Struktur matriks dan struktur proyek; Stuktur matriks adalah
struktur organisasi yang menugaskan para spesialis dari departemen fungsional yang berbeda-beda
untuk bekerja pada satu proyek atau lebih yang dipimpin oleh para manejer proyek. Adapun struktur
proyek adalah para karyawan senantiasa ditugaskan ke sejumlah proyek. Struktur ini tidak memiliki
departemen formal tempat para karyawan kembali setelah pekerjaannya selesai, dan cenderung
menjadi desain organisasi yangsangat cair dan fleksibel. Disini manejer berfungsi sebagai fasilitator,
pembina dan pelatih. c) Unit internal yang mandiri; beberapa organisasi besar dengan banyak unit
bisnis atau divisi telah menggunakan struktur organisasi yang tidak lebih dari kumpulan unit internal
mandiri yakni unit bisnis yangterdesentralisasi yang mandiri, masing-masing memiliki produk, klien,
8359 Journal on Education, Volume 05, No. 03, Maret-April 2023, hal. 8350-8361
pesaing, dan sasaran laba sendiri. D) Organisasi tanpa batas; organisasi yang desainnya tanpa batas
batas horizontal, vertikal, atau eksternal yang dipaksakan oleh struktur yang telah ditentukan
sebelumnya. Artinya organisasi ini berusaha menghilangkan rantai komando, namun tetap memiliki
rentang kendali yang memadai.
Perguruan Tinggi yang Efektif
Terdapat dua model keefektifan organisasi, yaitu model sistem sumber daya (The System-
Resource Model), dan model tujuan (The Goal Model). Model sistem sumber daya mendefinisikan
keefektifan sebagai mampuan untuk mengeksploitasi lingkungan organisasi di dalam tindakan
memperoleh sumber daya yang langka danbernilai untuk melanjutkan fungsi organisasi.
Sedangkan model tujuan, secara sederhana mendefinisikan keefektifan sebagai tingkat atau
kemampuan organisasi merealisasikan tujuan-tujuannya. Sedangkan kompleksitas terjadi karena
organisasi mempunyai tujuan-tujuan yang sering kali saling bertentangan, mengandung keberagaman
dan ketidak- sesuaian satu tujuan dan tujuan-tu-juan lainnya. Untuk menguraikan keefektifan
perguruan tinggi, kedua model tersebut dapat disintesakan, bahwa keefektifan suatu perguruan tinggi
adalah tingkat pencapaian tujuan perguruan tinggi dalam menja-lankan fungsinya dengan
mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki.
Seperti tersurat di atas, dapat dikatakan bahwa perguruan tinggi dengan fungsi menjalankan
pendi-dikan tinggi bermaksud mencapai tujuan : 1) Mencerdaskan kehidupan bangsa, 2)
Memajukan/mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan
menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia yang
berkelanjutan, 3) Meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi globalisasi di segala bidang, 4)
Menghasilkan intelektual, ilmuwan, dan/atau professional yang berbudaya dan kreatif, toleran,
demokratis, berkarakter tang-guh, serta berani membela kebenaran untuk kepentingan bangsa.
Tujuan tersebut, ketika dirumuskan ulang oleh setiap perguruan tinggi, sangat mungkin terjadi
inter-pretasi yang beragam, sehingga dapat berakibat rumusan tujuan perguruan tinggi dalam
mengemban fungsi pendidikan tinggi juga bervariasi rumusan isinya, meskipun semua diharapkan
tetap mengacu pada dan tidak bias dari tujuan pendidikan tinggi tersebut.
Dan berkenaan dengan keefektifan perguruan tinggi, setiap perguruan tinggi diharapkan dapat
menjadi perguruan tinggi yang efektif, yang dapat mewujudkan keempat unsur tujuan pendidikan
tinggi tersebut, dengan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki seperti dosen sebagai tenaga
pendidik dan tenaga kependidikan yang merupakan unsur sumber daya manusia perguruan tinggi;
disamping sumber daya material, mesin termasuk fasilitas dan energi, uang, dan informasi termasuk
data yang dimiliki perguruan tinggi.
Berdasarkan pendekatan sistem dapat dikatakan bahwa segala bentuk sumber daya yang
dimiliki perguruan tinggi merupakan komponen input yang terlibat dan digunakan di dalam proses
pendidikan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang cerdas, menghasilkan intelektual, ilmuwan,
dan/atau profe-sional yang berbudaya dan kreatif, toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta
Implementasi Manajemen Organisasi di Stais Al-Ishlahiyah Binjai, Mesiono, Arie Dwi Ningsih, Rosida Hanum, Desy
Ariani 8360
KESIMPULAN
Organisasi lembaga pendidikan tinggi adalah koordinasi secara rasional sejumlah orang
dalam membentuk institusi pendidikan. Tujuannya antara lain adalah menyiapkan peserta didik
menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat
menerapkan, mengembangkan, memperkya khanazah ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, serta
mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya
kebudayaan nasional. Struktur peorganisasi pendidikan tinggi yang pokok ada dua macam yaitu
sentralisasi dan desentralisasi. Di antara kedua struktur tersebut terdapat beberapa struktur campuran
yakni yang lebih cenderung ke arah sentralisasi mutlak dan yang lebih mendekati disentralisasi tetapi
beberapa bagian masih diselenggarakan secara sentral. Kriteria keberhasilan berfungsi untuk
menentukan nilai suatu aspek dalam suatu komponen tertentu. Pengelolaan suatu lembaga pendidikan
yang efektif dan efisien merupakan syarat mutlak keberhasilan penorganisasi tersebut. Kualitas
sebuah lembaga pendidikan tinggi juga hakikatnya diukur dari kualitas proses pembelajarannya,
disamping output dan outcome yang dihasilkan. Oleh karena itu kriteria mutu dan keberhasilan
pembelajaran seharusnya dibuat secara rinci, sehingga benar-benar measurable and observable (dapat
diukur dan diamati).
REFERENSI
Amirin, Tatang M. (2011). Manajemen [Link]: UNY Press.
Fattah, Nanang. (1996). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Robbins, Stephen P. 1996. Perilaku Organisasi Edisi ke 7 (Jilid II). Jakarta : Prehallindo
Hasibuan, Malayu. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia:PengertianDasar, Pengertian, dan
Masalah. Jakarta: PT. Toko Gunung Agung
Mesiono, Model Of Education Management Using Qualitative Research Methods At A Private School
in Medan, KuramveUygulamadaEğitimYönetimi Educational Administration: Theory and
Practice 2022, Cilt 28, Sayı2, ss: 88-93 2022, Volume 28, Issue 2, pp: 88-93 w [Link]
Fitri Oviyanti. “Tantangan Pendidikan Islam di Era Global.” Nadwa; Jurnal Pendidikan Islam, Vol.7,
No. 2 (2013)
Feiby Ismail, dan Mardan Umar, (2020), Implementasi Penjaminan Mutu di Lembaga Pendidikan
Islam ;Studi Multisitus di MAN Model 1 Manado, MAN 1 Kotamobagu dan MAN 1 Kota
Bitung. Jurnal Ilmiah Iqra, Vol. 14, No. 1.
8361 Journal on Education, Volume 05, No. 03, Maret-April 2023, hal. 8350-8361
[Link], O. Samdal, J. Hetland, and B. Wold, (2010), School-related social support and
students'perceived life satisfaction,” The Journal of Educational Research, vol. 102, No. 4,
303- 320, DOI: 10.3200/JOER.102.4.303-320.
Abbas, Syahrizal, (2009), Manajemen Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana Prenada Media Goup.
Daulay,Haidar Putra, (2012), Pendidikan Islam Dalam Mencerdaskan Bangsa, Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Mulyasana, Dedy, (2015), Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing, Bandung; PT. Remaja
Rosdakarya.