0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan10 halaman

Penyebab dan Dampak Obesitas

Diunggah oleh

Keysha Aqilah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan10 halaman

Penyebab dan Dampak Obesitas

Diunggah oleh

Keysha Aqilah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1 OBESITAS

1. ETIOLOGI
 Faktor Genetik
Faktor genetic merupakan faktor keturunan yang berasal dari orang tuanya. Pada
penelitian, anak-anak dari orang tua yang mempunyai berat badan normal ternyata
bisa mempunyai 10% resiko obesitas, Misalnya salah satu orang tuanya menderita
obesitas, maka peluangnya meningkat menjadi 40-50%, dan apabila kedua orang
tuanya menderita obesitas maka peluang yang akan terjadi pada keturunannya
menjadi 70-80%.
 Faktor Lingkungan
 Pola makan meliputi jumlah, jenis, jadwal makan, dan penglahan bahan
makan. Pada jumlah asupan energi yang masuk kedalam tubuh secara
berlebih akan menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas. Jadwal
makan yang tidak teratur, tidak sarapan, dan suka mengemil biasanya
sering dihubungkan dengan kejadian obesitas.
 Pola aktivitas fisik, pola hidup sedentary (kurang gerak) menyebabkan
energi yang dikeluarkan tidak maksimal sehingga bisa terjadi peningkatan
resiko obesitas. Pada masa sekarang dimana teknologi yang sudah
berkembang bisa mempengaruhi berkurangnya aktivitas fisik pada tubuh.
 Faktor Obat-obatan dan Hormonal
 Obat-obatan seperti jenis steroid yang digunakan untuk terapi asma,
osteoatritis, dan alergi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan nafsu
makan yang meningkat sehingga bisa terjadi faktor resiko terjadi obesitas.
Terdapat obat-obatan yang mengandung hormone untuk meningkatkan
kesuburan dan sebagai alat kontrasepsi sehingga terjadi penumpukkan
lemak dalam tubuh maka akan terjadi obesitas.
 Hormonal yang berperan dalam obesitas yaitu hormone leptin, ghrelin,
tiroid, insulin, dan estrogen. Pada hormone leptin yang dihasilkan lemak
berfungsi untuk memberi sinyal agar berhenti makan atau yang berperan
sebagai dalam mengontrol nafsu makan. Hormon ghrelin berperan dalam
meningkatkan nafsu makan. Hormon estrogen berperan dalam
metabolisme energi, pada Wanita yang sudah menopause mengalami
penuruna metabolisme basal tubuh, sehingga biasanya mereka cenderung
terjadi peningkatan berat badan. Hormon insulin bersifat anabolik dan
memudahkan masuknya glukosa kedalam sel otot dan lemak. Ketika
asupan meningkat pada karbohidrat dan lemak akan merangsang insulin
untuk menjadi lemak terutama lemak visceral.

2. EPIDEMIOLOGI
Meskipun terdapat pengecualian di antara subpopulasi sebagaimana dirinci lebih
lanjut di bawah ini, data dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional, yang
menggunakan pengukuran tinggi dan berat badan, menunjukkan bahwa peningkatan
prevalensi obesitas baik pada orang dewasa maupun anak-anak selama beberapa
dekade terakhir belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. memudar di
Amerika Serikat (AS). Menurut data terbaru AS (2017-2020), prevalensi obesitas
berat yang disesuaikan dengan usia (BMI ≥ 40 kg/m2) adalah 9,2% (30), dan
persentase orang dewasa dengan obesitas adalah 42,4% (30) dan 20,9 % (31) di
kalangan remaja (BMI ≥ persentil ke-95 dari grafik pertumbuhan spesifik usia dan
jenis kelamin).

Pada temuan di Indonesia didapatkan kelebihan berat badan dan obesitas semakin
menjadi tantangan utama di Kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada usia
dewasa,Wanita lebih banyak didapatkan mengalami kelebihan berat badan dan
obesitas. Pada tahun 2018, 1 dari 5 anak yang masih sekolah (20% atau 7,6 juta), 1
dari 7 remaja pubertas (14,8% atau 3,3 juta) dan 1 dari 3 orang dewasa (35% atau
64,5 juta) di Indonesia dengan obesitas atau kelebihan berat badan. Selama beberapa
tahun terakhir, obesitas atau kelebihan berat badan terus meningkat di semua umur.
Pada data RIKERDAS menunjukan terdapat kenaikkan yang sangat pesat pada
prevalensi dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada orang dewasa (dari 28,9% di
tahun 2013 menjadi 35,4% di tahun 2018). Wanita yang kelebihan berat badan lebih
tinggi hasil presentasenya yaitu 44,4% dibandingkan dengan pria yang dengan
presentasenya 26,6%.

3. PATOFISIOLOGI
Obesitas paing sering di ceritakan dalam sejarah perawatan Kesehatan. Bahwa ada
lebih banyak faktor yang berperan selain masalah penyimpanan lemak dalam tubuh
dan metabolisme energi, dan obesitas merupakan penyebab utama pada penyakit
seperti diabetes tipe II, hiperlipidemia, aterosklerosis, dan hipertensi.

Penyebabnya bisa dari faktor lingkungan, genetik, atau lainnya. Obesitas disebabkan
Ketika ada pegeluaran energi dan asupan makanan. Pada hipotalamus mengandung
neuropeptide yang mengontrol keseimbangan energi dengan cara mengatur yang
dikeluarkan oleh energi, dan sel-seldi jaringan adiposa, lambung, pancreas, dan organ
yang mengandung mekanisme metabolisme energi. Otak berperan dalam rasa dan
penciuman dan proses seperti mengidam dan makanan yang tidak teratur yang akan
mempengaruhi dalam asupan dan pengeluaran energi. Adiposit mengeluarkan zat
yang dikenal sebagai sitokin, yang telah dikaitkan dengan patofisiologi diabetes tipe
2, penyakit kardiovaskular, beberapa jenis kanker, osteoartritis, asma, sleep apnea,
dan penyakit hati berlemak nonalkohol. Sitokin juga mendorong terjadinya
peradangan lokal dan sistemik.

Ketika ketidakseimbangan energi muncul ketika seseorang meningkatkan aktivitas


fisik atau mengurangi asupan makanan. Akibatnya, tubuh berupaya mempertahankan
aktivitas penting, menyimpan energi ekstra dalam bentuk lemak dan glikogen untuk
digunakan nanti. Hal ini memicu serangkaian peristiwa adaptif. Aktivitas ini
meminimalkan jumlah energi yang digunakan saat istirahat dan menghemat kalori
dengan memanfaatkan beberapa mekanisme psikologis dan metabolisme. Jika hal ini
terjadi, mungkin terjadi peningkatan rasa lapar, yang meningkatkan kemungkinan
kambuhnya penyakit pada individu yang mengalami obesitas dan telah mengalami
penurunan berat badan. Hal ini menjelaskan mengapa keberhasilan diet jangka
panjang jarang terjadi. Orang yang tidak lagi mengalami obesitas dianggap berbeda
secara fisik atau metabolik dengan orang yang tidak pernah mengalami obesitas
karena mereka lebih kecil kemungkinannya untuk bertambah berat badannya,
meskipun penyebab dan alasan pastinya masih belum diketahui. Hal ini memperkuat
gagasan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang perlu diawasi dan dikelola
dengan cermat.

Keseimbangan energi positif jangka panjang biasanya menghasilkan penumpukan


lemak tubuh berlebih. Meskipun kalorinya berasal dari karbohidrat, tubuh menyimpan
energi ekstra dalam bentuk lemak untuk digunakan nanti. Proses ini, yang dikenal
sebagai lipogenesis, dimungkinkan oleh konversi asetil-KoA menjadi asam lemak di
hati. Jaringan adiposa tubuh menyimpan kelebihan lipid, terutama trigliserida,
sementara jaringan lain, seperti hati, otot rangka, dan organ dalam lainnya. Oleh
karena itu, dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami obesitas dan individu
yang mengalami obesitas memiliki tingkat metabolisme istirahat yang lebih tinggi,
massa tubuh yang lebih ramping, dan lemak tubuh yang lebih banyak. Selain itu,
tekanan darah dan curah jantung lebih tinggi pada individu yang mengalami obesitas.

Sebagian besar sel lemak di jaringan adiposa subkutan berwarna putih karena
mengandung trigliserida dan ester kolesterol. Sel lemak putih ini mengeluarkan
hormon seperti leptin dan adiponektin, yang mengatur rasa lapar. Adiposit coklat
disimpan dalam jaringan adiposa visceral, dan jaringan ini penting pada orang yang
mengalami obesitas. Adipositas visceral ini terkait dengan banyak masalah kesehatan
metabolik dan mekanis yang menyertai obesitas. Misalnya, lemak di sekitar ginjal
memberi tekanan pada ginjal dan menyebabkan hipertensi. Jaringan lunak faring yang
berlebih dapat menghalangi jalan napas saat tidur dan berhubungan dengan sleep
apneu. Kelebihan berat badan meningkatkan ketegangan pada persendian dan
meningkatkan kemungkinan terkena osteoartritis. Penyakit refluks bisa disebabkan
oleh tekanan perut yang tinggi yang disebabkan oleh kelebihan lemak visceral. Bagi
banyak orang yang mengalami obesitas, memiliki terlalu banyak jaringan adiposa
menyebabkan pelepasan adipokin proinflamasi yang berlebihan, yang mengakibatkan
peradangan sistemik tingkat rendah yang persisten. Asam lemak bebas dilepaskan
setelah hidrolisis sel-sel lemak dan kemudian dibawa oleh aliran darah ke berbagai
bagian tubuh. Resistensi insulin diperburuk oleh peningkatan jumlah asam lemak
bebas yang terdapat pada individu yang mengalami obesitas.

4. TANDA DAN GEJALA


Pada beban berat badan dan efek obesitas yang menempati ruang juga menyebabkan
penyakit penyerta. Hal ini termasuk efek merugikan yang ditimbulkan oleh adipokin
inflamasi seperti resisten terhadap sendi sinovia dan fungsi otot, serta percepatan
penyakit sendi degeneratif yang disebabkan oleh peningkatan beban pada sendi
sebagai akibat dari peningkatan adipositas. 69,70 Di antara penyakit penyerta pada
sistem pernapasan adalah obstructivw sleep apneu, yang disebabkan oleh akumulasi
jaringan adiposa berlebih di dalam saluran pernapasan bagian atas, dan hypopharynx,
yang berdampak negatif pada pernapasan dan dapat menyebabkan hypercapnia atau
hipoksia sekunder. Penyakit saluran napas reaktif, seperti asma pada wanita,
disebabkan oleh sel adiposa bronkial dan peribronkial yang berlebihan, yang
melepaskan adipokin inflamasi yang memperburuk peradangan mukosa dan
submukosa bronkus. Selain itu, orang dengan obesitas lebih mungkin mengalami
emboli paru, terutama jika mobilitas mereka berkurang.

5. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG


 Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah pemeriksaan tekanan darah dan
denyut nadi. Tujuan pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya kondisi medis
lain yang berhubungan dengan obesitas. Pada pemeriksaan tekanan darah untuk
mengetahuin adanya hipertensi dan pemeriksaan denyut nadi untuk mengetahui
ada atau tidaknya aritmia (gangguan irama jantung).
 Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan penunjang yang paling sering digunakan untuk penentuan
obesitas adalah analisis komposisi tubuh. Untuk analisis ini biasanya
digunakan alat khusus yaitu body composititon analyzer.
 Untuk melihat adanya komorbiditas penyakit yang disebabkan oleh
obesitas dibutuhkan pemeriksaan laboratorium seperti yang tercakup yaitu
glukosa darah puasa, kolestrol total, kolestrol LDL, kolestrol HDL,
trigleserida, SGOPT, SGPT, asam urat, dan HbA1c.

6. KRITERIA DIAGNOSIS
Kriteria pada obesitas atau kelebihan berat badan dinyatakan dalam bentuk Indeks
Massa Tubuh (IMT) menurut WHO. Tujuannya untuk pengukuran berat badan dan
tinggi badan yang nantinya akan digunakan dalam mentukan derajat obesitas.
Rumus :
IMT = BERAT BADAN (Kg)
TINGGI BADAN (m2)
Pengukuran IMT ini tidak dapat dilakukan pada orang hamil, binaragwan, edema,
ascites. Metode lain untuk pengukuran antropometri juga bisa dengan cara
pengukuran lingkar pinggang menurut Internasional Diabetes Federation (IDF).

7. KLASIFIKASI
Klasifikasi pada distribusi lemak didalam tubuh untk menilai resiko Kesehatan yang
membedakan perempuan dalam anropometri, terdapat dua bentuk tubuh. Penimbunan
lemak yang letaknya bagian bawah tubuh atau dibagian paha dan bokong disebut
ginoid dan penimbunan lemak bagian perut atau lemak visceral setinggi pnggang dan
penumpukkan lemak dipunggung disebut bentuk android atau yang sering dikenal
dengan obesitas abdominal atau obesitas sentral.
8. TATALAKSANA
Dalam penatalaksanaan dan pengobatan obesitas bertujuan untuk menurunkan berat
badan dan mencakup pengurangan resiko dan pengkatan Kesehatan. Dengan cara
penurunan berat badan, meningkatkan nutrisi dalam makanan, dan melakukan
aktifitas fisik dan kebugaran. Yaitu ;
 Terapi diet, terapi ini harus dimasukkan ke dalam status pasien yang
overweight. Bertujuan untuk defisit 500 – 1000 kcal/hari yang tidak
terpisahkan dari penurunan berat badan. Sebelum menyarankan defisit 500 –
1000 kcal/hari ada baiknya melakukan pengukuran kebutuhan energi basal
pada pasien terlebih dahulu. Dengan cara menggunakan rumus Harris
Benedict. Selain itu ketika asupan lemak dikurangi, asupan total kalori juga
harus dikurangi sehingga yang harus diprioritaskan diberikan untuk
mengurangi lemak jenuh. Hal tersebut untuk menurunkan konsentrasi
kolestrol-LDL.
 Aktivitas fisik, Peningkatan aktivitas fisik salah satuu komponen penting
dalam program penurunan berat badan, akan tetapi dalam aktivitas fisik tidak
menyebabkan penurunan berat badan lebih banyak dalam jangka waktu enam
bulan. Karena kebanyakan penurunan berat badan terjadi pada asupan kalori.
Salah satu kentngan dalam aktivitas fisik yaitu terjadi pengurangan resiko
kardiovaskular dan diabetes dibandingkan dengan penurnan berat badan tanpa
aktivitas fisik yang dilakukan. Pada pasien obesitas, terapi haus dimulai secara
perlahan dan intensitas ditingkatkan secara bertahap. Pasien bisa mulai
aktivitas fisik dengan berjalan selama 30 menit dengan jangka waktu 3 kali
seminggu dan dapat dinaikkan intesitasnya selama 45 menit dengan jangka
waktu 5 kali seminggu. Dengan yang dikeluarkan energi tambahan sebanak
100 – 200 kalori per hari.
 Terapi perilaku, dalam mencapai suatu penurunan dalam obesitas dan bisa
mempertahankanya dengan cara pengawasan mandiri terhadap kebiasaan
makan, aktivitas fisik, menajemen stress karena bisa merangsang otak untuk
makan, cognitive restructuring, stimulasi control, dan dukungan sosial.
 Farmakoterapi, harus dipertimbangkan sebagai strategi menajemen penyakit
yang komprehensif, dalam hal ini juga dapat membantu mencegah
perkembangan penyakit penyerta obesitas. Terapi ini di rekomendasikan pada
pasien yang BMI diatas 30 kg/m2 atau BMI diatas 27 dengan faktor resiko.
Pemantauan farmakoterapi harus dievaluasi setelah 3 bulan pertama. Jika
pengobatan memuaskan maka pengobatan dilanjutkan tetapi jika pengobatan
non-responden atau tidak bekerja dengan baik maka harus dihentikan.
 Terapi bedah, salah satu alternatif terakhir untuk pasien yang gagal dengan
farmakoterapi dan menderita komplikasi obesitas yang ekstrem. Pada terapi ini
diberikan kepada pasien yang BMI diatas 40 atau 30 dengan kondisi
komorbid.
9. KOMPLIKASI
Menurut pedoman AACE, setiap pasien dengan BMI ≥25 kg/m2 harus menjalani
evaluasi tahunan untuk masalah yang berhubungan dengan obesitas. Untuk
menentukan apakah evaluasi ini dilakukan setiap tahun, data berikut dikumpulkan
dari HCO yang terlibat: tekanan darah, kreatinin serum, hemoglobin terglikasi
(HbA1c) atau glukosa plasma puasa (FPG), kolesterol lipoprotein densitas tinggi
(HDL). ), trigliserida, hormon perangsang tiroid (TSH; lima tahun terakhir), dan
semuanya.
Berdasarkan komplikasi terkait obesitas yang tercantum dalam pedoman AACE
(American Associaton of Clinical Endocrinologists), HCO (Health Care
Organizations) melaporkan jumlah rata-rata diagnosis diabetes tipe 2, dislipidemia,
hipertensi, apnea tidur obstruktif, osteoartritis, dan penyakit hati berlemak nonalkohol
per pasien. Ukuran ini juga tidak dimaksudkan sebagai ukuran kinerja yang
berkualitas, namun digunakan untuk pelacakan operasional apakah komplikasi
teridentifikasi dan didiagnosis pada pasien dengan obesitas, dan dipengaruhi oleh
prevalensi yang mendasarinya dalam populasi. Dikombinasikan dengan pengukuran
Penilaian untuk komplikasi terkait obesitas, pengukuran ini memberikan informasi
kepada HCO mengenai apakah mereka melakukan penilaian pasien secara memadai
sesuai dengan pedoman AACE.

10. PROGNOSIS
Obesitas memiliki tingkat kesakitan dan kematian yang sangat tinggi. Pasien yang
mengalami obesitas memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke dan kejadian buruk
pada jantung. Standar hidup juga rendah. Faktor yang meningkatkan morbiditas
meliputi: usia timbulnya obesitas, jumlah adipositas sentral, tingkat keparahan
obesitas, jenis kelamin, dan komorbiditas yang terkait.
DAFTAR PUSTAKA
Business Bliss Consultants FZE. Pathophysiology and Common Complications of Obesity.
Retrieved from [Link]
[Link]?vref=1
Redinger R. N. The pathophysiology of obesity and its clinical manifestations.
Gastroenterology & hepatology, 3(11), 856–863.
Fitch, A. K., & Bays, H. E. (2022). Obesity definition, diagnosis, bias, standard operating
procedures (SOPs), and telehealth: An Obesity Medicine Association (OMA) Clinical
Practice Statement (CPS) 2022. Obesity pillars, 1, 100004.
[Link]
Lin, X., & Li, H. (2021). Obesity: Epidemiology, Pathophysiology, and
Therapeutics. Frontiers in endocrinology, 12, 706978.
[Link]
Purnell JQ. Pengertian, Klasifikasi, dan Epidemiologi Obesitas. [Diperbarui 2023 4 Mei].
Dalam: Feingold KR, Anawalt B, Blackman MR, dkk., editor. Endoteks [Internet].
Dartmouth Selatan (MA): [Link], Inc.; 2000-. Tersedia dari: [Link]
[Link]/books/NBK279167/?
_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
Thoma, M. E., Hediger, M. L., Sundaram, R., Stanford, J. B., Peterson, C. M., Croughan, M.
S., Chen, Z., Buck Louis, G. M., & ENDO Study Working Group . Comparing apples and
pears: women's perceptions of their body size and shape. Journal of women's health, 21(10),
1074–1081. [Link]
Panuganti KK, Nguyen M, Kshirsagar RK. Obesity. [Updated 2023 Aug 8]. In: StatPearls
[Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan-. Available from:
[Link]
_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc

Anda mungkin juga menyukai