0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan42 halaman

Rangkaian RL dan RC dalam RLC Seri

Praktikum Rangkaian Listrik

Diunggah oleh

ghufroninformatika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan42 halaman

Rangkaian RL dan RC dalam RLC Seri

Praktikum Rangkaian Listrik

Diunggah oleh

ghufroninformatika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL III

RANGKAIAN LISTRIK
RANGKAIAN RL DAN RC PADA RLC SERI

Disusun Oleh:
Kelompok VIII

Iqbal Ramadhoni (230491100007)


Muhammad Gufron (230491100035)
Nur Lina (230491100036)
Fauzin N.H. (230491100037)
Fatir Muhibin (230491100038)

LABORATORIUM MEKATRONIKA DASAR


PROGRAM STUDI TEKNIK MEKATRONIKA
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
BANGKALAN
2024
MODUL III
RANGKAIAN LISTRIK
RANGKAIAN RL PADA RLC SERI

3.1. Tujuan Praktikum


Berikut merupakan tujuan praktikum Rangaiah Listrik Modul ketiga yaitu
berjudul Rangkaian RL pada RC seri, maka praktikan diharapkan:
1. Mahasiswa dapat mempelajari efek perubahan frekuensi terhadap
impedansi pada rangkaian RL seri.
2. Mahasiswa dapat mempelajari efek perubahan frekuensi terhadap arus pada
rangkaian RL seri.
3. Mahasiswa dapat mempelajari efek perubahan frekuensi terhadap
impedansi pada rangkaian RC seri.
4. Mahasiswa dapat mempelajari efek perubahan frekuensi terhadap arus pada
rangkaian RC seri.

3.2. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum rangkaian RL dan RC
pada RLC seri meliputi:
1. Software Multisim
2. Laptop dan PC

3.3. Dasar Teori


Berikut merupakan dasar teori yang digunakan pada praktikum Rangakain
RL pada RLC Seri sebagai berikut.
3.3.1. Impedansi Rangkaian RL Seri
Impedansi listrik atau secara singkat sering disebut dengan impedansi
adalah ukuran hambatan listrik pada sumber arus bolak-balik AC (Alternating
Current). Impedansi listrik juga sering disebutkan sebagai jumlah hambatan listrik
sebuah komponen elektronik terhadap aliran arus dalam rangkaian pada frekuensi
tertentu. Sedangkan impedansi listrik atau electrical impedance didefinisikan
sebagai ukuran penolakan terhadap arus bolak-balik sinusoid. Impedansi atau
dalam bahasa Inggris disebut dengan Impedance ini biasanya dilambangkan dengan
huruf Z. Seperti yang disebutkan sebelumnya, Impedansi adalah ukuran hambatan
listrik pada sumber arus bolak-balik sedangkan yang dimaksud dengan Resistansi
adalah kemampuan suatu bahan benda untuk menghambat atau mencegah aliran
arus listrik. Impedansi pada dasarnya lebih kompleks daripada resistansi karena
adanya efek kapasitansi dan induktansi yang bervariasi dengan frekuensi arus yang
melewati rangkaian. Singkatnya, impedansi adalah bentuk resistansi yang
tergantung pada frekuensi.
Impedansi dan resistansi memiliki persamaan yaitu hambatan listrik yang
dimiliki oleh sebuah komponen terhadap arus listrik dan sama-sama menggunakan
ohm (Ω) sebagai satuan unit pengukurannya. Namun berbeda dengan resistansi,
jumlah hambatan listrik pada Impendansi akan berubah seiring dengan perubahan
frekuensi sinyal. Ini menandakan bahwa tahanan atau hambatan suatu komponen
akan bervariasi tergantung pada frekuensi sinyal yang masuk ke komponen
tersebut. Jadi sangat jelas bahwa resistansi adalah nilai dan ukuran yang tidak
tergantung pada frekuensi. Resistansi tidak memperhitungkan frekuensi sinyal yang
melewatinya, karena pada dasarnya frekuensi tidak akan mempengaruhi ketahanan
komponen yang tidak reaktif. Berbeda dengan komponen reaktif yang jumlah
hambatan listriknya dapat berubah tergantung pada frekuensi input-nya. Impedansi
akan bervariasi sesuai dengan frekuensi sinyal yang masuk. Inilah letak perbedaan
antara resistansi (resistance) dan impedansi (impedance) [1].
3.3.2. Impedansi Rangkaian RC Seri
Impedansi dalam rangkaian RC seri merupakan gabungan dari dua
komponen utama, yaitu resistansi (R) dari resistor dan reaktansi kapasitif yang
dihasilkan oleh kapasitor. Pada rangkaian ini, resistor dan kapasitor disusun secara
seri sehingga arus yang mengalir melalui kedua komponen tersebut sama.
Resistansi adalah sifat resistor yang menahan aliran arus, sementara reaktansi
kapasitif adalah hambatan yang diberikan oleh kapasitor terhadap perubahan arus
bolak-balik (AC). Besarnya reaktansi kapasitif bergantung pada frekuensi sinyal
yang melewati rangkaian, di mana reaktansi kapasitif akan semakin kecil seiring
meningkatnya frekuensi. Impedansi total dalam rangkaian RC seri menggambarkan
hambatan keseluruhan yang dialami oleh arus ketika melalui resistor dan kapasitor.
Hal ini menyebabkan adanya perbedaan fase antara tegangan dan arus dalam
rangkaian, di mana arus cenderung tertunda atau tertinggal dibandingkan tegangan,
tergantung pada frekuensi sinyal. Pada frekuensi rendah, kapasitor memiliki
reaktansi kapasitif yang besar sehingga menghalangi arus, sedangkan pada
frekuensi tinggi, reaktansi kapasitif berkurang dan memungkinkan arus mengalir
lebih mudah. Rangkaian RC seri ini banyak digunakan dalam berbagai aplikasi
elektronika, salah satunya sebagai filter. Dalam aplikasi ini, rangkaian RC seri
dapat berfungsi sebagai filter frekuensi rendah atau frekuensi tinggi, tergantung
pada konfigurasi dan nilai komponen yang digunakan. Filter ini digunakan untuk
menyaring sinyal dengan frekuensi tertentu, yang berguna dalam banyak perangkat
elektronik seperti sistem audio, komunikasi, dan kontrol sinyal [2].
3.3.3. Arus Terhadap Frekuensi Rangkaian RL
Dalam konteks arus bolak-balik (AC), frekuensi mengacu pada berapa kali
arus beralih antara positif dan negatif dalam 1 detik. Frekuensi adalah karakteristik
unik dari arus AC, yang beralih antara positif dan negatif secara berkala. Peralihan
ini tidak terjadi pada arus searah (DC). Frekuensi dinyatakan menggunakan Hertz
(Hz) sebagai satuan. Misalnya, jika arus berubah antara positif dan negatif 60 kali
per detik, kita katakan bahwa ia memiliki frekuensi 60 Hz.
Jumlah waktu yang dibutuhkan tegangan arus AC untuk mulai dari 0 (nol),
bervariasi dari positif ke negatif, dan kemudian kembali ke 0 (nol) (yaitu, jumlah
waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu siklus) dikenal sebagai periode,
dan frekuensi adalah kebalikan dari periode. Frekuensi tinggi berarti lebih banyak
gelombang per detik dan periode yang lebih pendek, sedangkan frekuensi rendah
berarti lebih sedikit gelombang per detik dan periode yang lebih lama [3].
3.3.4. Arus Terhadap Frekuensi Pada Rangkaian RC
Rangkaian RC, yang terdiri dari resistor (R) dan kapasitor (C) yang
dihubungkan secara seri, memiliki karakteristik yang bergantung pada frekuensi
sinyal yang melewatinya. Dalam rangkaian arus bolak-balik (AC), besar arus yang
mengalir dalam rangkaian sangat dipengaruhi oleh frekuensi sinyal karena interaksi
antara resistansi dan reaktansi kapasitif. Pada frekuensi rendah, reaktansi kapasitif
kapasitor sangat tinggi. Hal ini menyebabkan hambatan terhadap arus yang
mengalir lebih besar, sehingga arus yang melewati rangkaian akan lebih kecil.
Sebaliknya, pada frekuensi tinggi, reaktansi kapasitif menurun, yang berarti
hambatan terhadap arus semakin kecil. Akibatnya, arus yang mengalir melalui
rangkaian RC pada frekuensi tinggi akan lebih besar dibandingkan dengan
frekuensi rendah.
Perubahan arus terhadap frekuensi ini menjadi dasar utama dari berbagai
aplikasi rangkaian RC, terutama dalam perancangan filter frekuensi. Pada filter
frekuensi rendah (low-pass filter), rangkaian RC dirancang untuk melewatkan
sinyal dengan frekuensi rendah dan menghambat sinyal berfrekuensi tinggi.
Sebaliknya, pada filter frekuensi tinggi (high-pass filter), rangkaian RC
melewatkan sinyal dengan frekuensi tinggi dan memblokir sinyal berfrekuensi
rendah. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hubungan antara arus dan frekuensi
dalam rangkaian RC sangat penting dalam desain dan implementasi sistem
elektronika. Secara praktis, hubungan arus dengan frekuensi dalam rangkaian RC
sering digunakan untuk pengaturan sinyal dan pemilihan frekuensi dalam berbagai
perangkat komunikasi dan pengolahan sinyal. Dengan mengatur nilai resistor dan
kapasitor, insinyur dapat menentukan frekuensi batas di mana sinyal akan
dilewatkan atau ditahan dalam suatu sistem [4].
3.3.5. Function Generator
Function generator atau generator fungsi adalah alat uji elektronik yang
dapat membangkitkan berbagai bentuk gelombang. Bentuk gelombang yang dapat
dihasilkan oleh function generator diantaranya seperti bentuk gelombang Sinus
(sine wave), gelombang kotak (square wave), gelombang gigi gergaji (saw tooth
wave), gelombang segitiga (Triangular wave) dan gelombang pulsa (Pulse). Fungsi
ini sedikit berbeda dengan RF signal generator ataupun audio signal generator yang
pada umumnya hanya fokus pada pembangkitan bentuk gelombang sinus.
Function generator dapat menghasilkan frekuensi hingga 20MHz tergantung pada
rancangan produsennya. Frekuensi yang dihasilkan tersebut dapat kita atur sesuai
dengan kebutuhan kita. Selain pengaturan Frekuensi, kita juga dapat mengatur
bentuk gelombang, DC Offset dan Duty Cycle (Siklus Kerja). Sebagai pengetahuan,
DC Offset digunakan untuk mengubah tegangan rata-rata pada sinyal relatif
terhadap 0V atau Ground. Sedangkan Yang dimaksud dengan Duty Cycle atau
Siklus kerja adalah perbandingan waktu ketika sinyal mencapai kondisi ON dan
ketika mencapai kondisi OFF dalam satu periode sinyal. Dengan kata lain, siklus
kerja atau duty cycle adalah perbandingan lamanya waktu kondisi ON dan kondisi
OFF suatu sinyal pada setiap periode. Fungsi pengaturan duty cycle untuk
mengubah rasio tegangan tertinggi ke tegangan terhadap tegangan terendah pada
sinyal gelombang persegi [5]. Berikut merupakan sebuah generator yang
ditunjukkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Function Generator


3.4. Tugas Pendahuluan
1. Jelaskan sesuai dengan pemahaman anda tentang rangkaian RL dan RC Seri
beserta gambarkan!
Jawab:
Adapun berikut merupakan pemahaman tentang rangkaian RL dan
RC seri sebagai berikut
a. Rangkaian RL seri
Rangkaian RL seri adalah rangkaian Listrik yang terdiri dari sebuah
resistor (R) dan induktor (L) yang dihubungkan secara seri, di mana
arus yang mengalir melalui komponen sama. Resistor berfungsi
membatasi arus sesuai dengan hukum Ohm, induktor menghasilkan
tegangan yang berlawanan dengan perubahan arus karena sifat
indeptasi. Tegangan total pada rangkaian ini merupakan
penjumlahan dari tenaga yang terjadi pada resistor dan induktor.
Menerima indeptasi antara resistansi dan indukasi terhadap arus
listrik dalam rangakan tersebut. Berikut ini merupakan gambar dari
rangkaian RL seri yang ditunjukkan pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Rangkaian RL Seri

b. Rangkaian RC seri
Rangkaian RC seri adalah rangkaian Listrik yang terdiri dari
resistor (R) dan kapasitor (C) yang dihubungkan secara seri, dimana
arus yang mengalir melalui keduanya sama. Resistor berfungsi
membatasi arus sesuai hukum Ohm, sementara kapasitor
menyimpan energi dalam bentuk muatan listrik dan tegangan pada
kapasitor bergantung pada jumlah muatan yang tersimpan. Seiring
waktu, kapasitor akan mengisi atau mengosongkan muatan,
menghasilkan perubahan tegangan yang mempengaruhi arus dalam
rangkaian. Tegangan total dalam rangkaian adalah penjumlahan
tegangan pada resistor dan kapasitor. Berikut merupakan gambaran
dari rangkaian RC seri seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Rangkaian RC Seri

2. Jelaskan sesuai dengan pemahaman anda, bagaimana efek perubahan


frekuensi terhadap arus dan impedansi pada suatu rangkaian RL dan RC
seri!
Jawab:
Adapun berikut ini merupakan efek perubahan frekuensi terhadap
arus dan inpedensi pada suatu rangkaian RL dan RC seri:
a. Efek terhadap inpedensi
Adapun berikut ini merupakan beberapa contoh dari efek terhadap
impedensi pada rangkaian RL dan RC seri.
1. impedensi terhadap berbanding terbaling terhadap frekuensi
arus dan impedensi pada rangkaian RL dan RC seri
2. pada frekuensi rendah, kapasitor memberikan impedensi yang
besar sehingga total impedensi rangkaian terhadap nilai yang
besar
3. pada frekuensi tinggi impedensi kapasitor menjadi sangat kecil,
mendeteksi nol,sehingga total impedensi mendekati nilai resistor (R)
4. Efek terhadap Arus
Efek terhadap Arus dalam rangkaian RC, sepertin halnya
RL, berbanding terbalik dengan impendesi. Pada frekuensi tinggi.
Impedensi kapasitor sehingga arus yang dalam tegangan meningkat.
Sehingga pada frekuensi rendah,impendensi meningkat sehingga berulang.
3. Hambatan dan induktansi rangkaian R-L seri masing-masing 15 Ω dan 1/2π
"H" Jika ujung-ujung rangkaian dihubungkan dengan sumber tegangan AC
50V dan 20Hz, arus listrik yang mengalir pada rangkian adalah?
Jawab:
Berikut merupakan perhitungan dari soal diatas yang dapat
ditunjukkan di bawah.
Diketahui:
R = 15 Ω
I = 1/2π H
V = 50V
F = 20Hz
Ditanya:
a. XL = ...?
b. Z =...?
c. Imax =...?
Perhitungan:
a. Reaktansi Induktif
XL = ωL
XL = 2π x 20 = 40 π rad/s
1
XL = 40π x 2𝜋 = 20 Ω

b. Impedansi

Z = √R2 + Z2

= √152 + 202
= √225 + 400
= √625
= 25 Ω
c. Kuat Atrus Maksimal
V
Imax = Z
50
Imax = 25 = 2A

4. Suatu rangkaian RC seri memiliki hambatan dan reaktansi kapasitif masing-


masing 40 Ω dan 30 Ω. Jika rangkian diberi tegangan bolak-balik,
berapakah faktor dayanya?
Jawab:
Adapun berikut merupakan perhitungan dari mencari faktor daya
dari suatu rangkian RC seri:
Diketahui:
R = 40 Ω
C = 30 Ω
Ditanya:
Cos ∞...?
a. Impetansi total

Z = √R2 + Z2
Z = √402 + 202
Z = √1600 + 900
Z = √2500
Z = 50 Ω
b. Faktor daya (Cos ∞)
R
Cos ∞ = Z
40
Cos ∞ = 50 = 0,8

5. Bila dihubungkan dengan tegangan DC 60V, kuat arus listrik yang mengalir
pada lampu pijar 1,5A. Sementara bila dihubungkan dengan tegangan AC
50V, kuat arus listrik yang mengalir pada lampu pijar 1A. Berapakah besar
reaktansi induktif lampu pijar?
Jawab:
Adapun besar reaktansi induktif lampu pijar jika dihubungkan
dengan tegangan arus DC dapat ditunjukkan sebagai berikut.
Diketahui:
Vac = 60V
Iac = 1,5A
Z = 50V
Ditanya:
Z =...?
Perhitungan:
a. Resistansi lampu pijar
Vdc
R = I dc
60
R = 1,5

= 40 Ω
b. Resitansi induktif
Vac
Z = Iac
50
Z = = 50 Ω
1
c. Impedensi total (Z) pada penyelesaian AC adalah gabungan dan
resistansi induktif.

Z = √R2 + XL 2

50 = √402 + XL 2
50 = 402 + XL 2
2500 = 1600 + XL 2
XL 2 = 2500 – 1600
= 900
XL 2 = √900
= 30 Ω
6. Sebuah induktor yang memiliki nilai induktansi sebesar 0,2H dihubungkan
secara seri dengan hambatan bernilai 220Ω, kemudian dihubungkan pula
pada tegangan AC sebesar V = 100 dan ω = 500. Tentukan :
a. Reaktansi induktif
b. Impedansi
c. Kuat arus maksimal
Jawab:
Adapun jawaban dari perhitungan reaktansi induktif, impedensi, dan
kuat arus maksimal dapat ditunjukkan sebagai brikut.
Diketahui:
L = 0,2H
R = 220 Ω
V = 100V
ω = 500 rad/s
Ditanya:
a. XL =...?
b. Z = ...?
c. I =...?
Perhitungan:
a. Reaktansi induktif
XL = ωL
XL = 500 x 0,2
= 100 Ω
b. Impedansi total

Z = √R2 + XL 2

Z = √2202 + 1002
Z = √48400 + 10000
Z = √58400
Z = 241,6 Ω
c. Kuat arus maksimal
V
I =𝑍
100
I = 241,6

I = 0,413 A

3.5. Tugas Praktikum


Berikut merupakan langkah-langkah pengukuran dan hasil praktikum
rangkaian RL dan RC pada RLC seri.
3.5.1. Percobaan Respon Frekuensi Rangkaian RL Seri
Adapun di bawah ini langkah-langkah percobaan pengukuran dan hasil
praktikum rangkaian RL dan RC pada RLC seri, sebagai berikut.
1. Buatlah rangkian RL seperti gambar dibawah ini, yang dapat dilihat pada
Gambar 3.4.

Gambar 3.4. Rangkaian RL


Berikut ini merupakan gambar rangkaian RL yang terdiri dari
hambatan pada software Multisim pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Rangkaian RL pada Multisim

Berikut merupakan langkah-langkah pengukuran RC seri pada praktikum


Rangkaian Listrik sebagai berikut.
1. Ukurlah sebuah resistor 10KOhm dengan Ohm meter. Catatlah hasil dari
pengukuran tersebut pada Tabel 3.1.
2. Aturlah AG dengan VOUT = 5 Vpp dan frekuensi = 50Hz. Ukurlah
tegangan pada sebuah resistor VR dan catat pada Tabel 3.1.
3. Ulangi langkah diatas untuk mendapatkan frekuensi seperti pada sebuah
tabel pada tiap frekuensi, lalu ukurlah VR dan catat hasil pengukuran pada
Tabel 3.1. Setelah pengukuran selesai, matikan AG.
4. Dengan harga terukur dari VR dan R. Kemudian hitung arus pada rangkaian
pada tiap frekuensi. Catat hasil pengukuran pada Tabel 3.1.
5. Dengan hasil perhitungan dari arus I dan tegangan V, hitung impedansi Z
rangkaian pada tiap frekuensi.
Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan
5V dan Frekuensi 50 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Tegangan 5V dan Frekuensi 50 Hz


Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan
5V dan Frekuensi 100 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7. Tegangan 5V dan Frekuensi 100 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 150 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.8.

Gambar 3.8. Tegangan 5V dan Frekuensi 150 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 200 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Tegangan 5V dan Frekuensi 200 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 250 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10. Tegangan 5V dan Frekuensi 250 Hz


Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan
5V dan Frekuensi 300 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.11.

Gambar 3.11. Tegangan 5V dan Frekuensi 300 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 350 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.12.

Gambar 3.12. Tegangan 5V dan Frekuensi 350 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 400 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.13.

Gambar 3.13. Tegangan 5V dan Frekuensi 400 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 450 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.14.

Gambar 3.14 Tegangan 5V dan Frekuensi 450 Hz


Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan
5V dan Frekuensi 500 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.15.

Gambar 3.15. Tegangan 5V dan Frekuensi 500 Hz

Berikut merupakan tabel hasil pengukuran menggunakan Multisim


yang ditunjukkan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Hasil Percobaan Menggunakan Multisim
Frekuensi Tegangan VR, Tegangan Arus Rangkaian
V
F, (Hz) (V) Induktor VL,(V) (A)
50 5 4.998 3.94 499.803
100 5 5 3.929 500.004
150 5 5.001 3.929 500.092
200 5 4.998 15.758 499.799
250 5 4.997 19.698 499.732
300 5 4.997 23.637 499.735
350 5 4.998 27.577 499.789
400 5 4.998 31.514 499.79
450 5 4.997 35.454 499.747
500 5 4.997 39.394 499.719

3.5.2. Perhitungan Manual Mencari Tegangan Resistor, Arus Rangkaian R-


L, Dan Impedansi Rangkaian!
Berikut dibawah merupakan langkah-langkah perhitungan manual
mencari tegangan resistor, arus rangkaian R-L, dan impedansi
rangkaian RL seri frekuensi 50Hz menggunakan reaktansi induktif,
impedansi dan kuat arus maksimal.
Diketahui:
f = 50 Hz
L = 25 Hz
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 × 50
ω = 314
XL =ω×L
XL = 314 × 25
XL = 7.85 V
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z = √100002 +78,52
Z = 10000,03925 Ω
Arus rangkaian
𝑉
I =𝑍
5
I = 10000,030

I = 0,000499 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0,00049 × 78,5
VL = 0,0391 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0,000499 ×10000
VR = 4,99 V
Berikut merupakan perhitungan manual untuk rangkaian RL seri
frekuensi 100Hz menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus
maksimal. Diketahui:
f = 100 Hz
L = 25 Hz
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 ×100
ω = 628
XL =ω×L
XL = 628 × 25
XL = 15.700Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z =√100002 +15.7002
Z = 18614,24Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 10000,01

I = 0.00004215 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0.00004215 × 15.700
VL = 0,661755 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0.00004215.10000
VR = 0,4215 V
Berikut merupakan perhitungan manual untuk rangkaian RL seri
frekuensi 150Hz menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus
Diketahui:
f = 150 Hz
L = 25 Hz
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 × 150
ω = 942
XL =ω×L
XL = 942 × 25
XL = 23.550 Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z = √100002 +23.5502
Z = 10000,02 Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 10000,02

I = 0,00049 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0,00049 × 23.550
VL = 0,01153 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0,00049 × 10000
VR = 4,9 V
Berikut merupakan perhitungan manual untuk rangkaian RL seri
frekuensi 200Hz menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus
Diketahui:
f = 200 Hz
L = 25 H
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 × 200
ω = 1256
XL =ω×L
XL = 1256 × 25
XL = 31.400Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z = √100002 +31.4002
Z = 32953,90 Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 32953,90

I = 0,0001517 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0,0001517 X 31.400
VL = 0,0157V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0,0001517 × 10000
VR = 1,517 V
Adapun perhitungan manual rangkaian RL seri frekuensi 250Hz
menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus.
Diketahui:
f = 250 Hz
L = 25H
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 × 250
ω = 1570 rad/s
Tegangan Induktor
XL =ω×L
XL = 1570 × 25
XL = 39.250 Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z = √100002 +39.2502
Z = 40503,85 Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 40503,85

I = 0,00012344 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0,00012344× 39.250
VL = 4.84502 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0,00012344× 10000
VR = 1,2344 V
Adapun perhitungan manual rangkaian RL seri frekuensi 300Hz
menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus. Diketahui:
f = 300 Hz
L = 25 Hz
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 ×300
ω = 1884
Tegangan Induktor
XL =ω×L
XL = 1884 × 25
XL = 47.100Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z = √100002 +47.1002
Z = 48149,87 Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 148149,87

I = 0.00002596 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0,00002596 × 47.100
VL = 1,222 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 1,222 × 10000
VR = 12220 V
Adapun perhitungan manual rangkaian RL seri frekuensi 350Hz
menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus.
f = 350 Hz
L = 25H
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 × 350
ω = 2198
XL =ω×L
XL = 2198 × 25
XL = 54.950 Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z = √100002 +54.950 2
Z = 10000,15 Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 10000,15

I = 0.00049 A
Tegangan Induktor
VL = I x XL
VL = 10000,15 × 54.950
VL = 549508,24 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0.00049 × 10000
VR = 4,9 V
Adapun perhitungan manual rangkaian RL seri frekuensi 400Hz
menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus:
f = 400 Hz
L = 25H
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 × 400
ω = 2512
XL =ω×L
XL = 2512 × 25
XL = 62800 Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2
Z = √100002 + 628002
Z = 63591,19 Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 63591,𝟏9

I = 0.0000785 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0.0000785 × 62800
VL = 4,926 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0,0000785× 10000
VR = 7,85 V
Adapun perhitungan manual rangkaian RL seri frekuensi 450Hz
menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus.
Diketahui:
f = 450 Hz
L = 25H
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω = 2× π × f
ω = 2 × 3,14 × 450
ω = 2826 rad/s
XL =ω×L
XL = 2826 × 25
XL = 70650 Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z = √100002 +706502
Z = 71414.21 Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 70699,2

I = 0,0000699 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0,0000699 × 70656,25
VL = 4,99 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0,0000699 × 10000
VR = 0,699 V
Adapun perhitungan manual rangkaian RL seri frekuensi 500Hz
menggunakan reaktansi induktif, impedansi dan kuat arus.
f = 500 Hz
L = 25H
R = 10kΩ
Reaktansi induktif
ω =2×π×f
ω = 2 × 3,14 × 500
ω = 3140
XL =ω×L
XL = 3140 × 25
XL = 78500 Ω
Impedansi

Z = √R2 +XL2

Z = √100002 +78500 2
Z = 79144.13 Ω
Arus rangkaian
V
I =Z
5
I = 79144.13
I = 0,0000632 A
Tegangan Induktor
VL = I × XL
VL = 0,0000632 × 78506,25
VL = 4.96 V
Tegangan Resistor
VR =I×R
VR = 0,0000632 × 10000
VR = 0,632 V
Adapun hasil perhitungan manual yang ditunjukan pada Tabel 3.2.
hasil percobaan rangkain RL.
Tabel 3.2. Hasil Percobaan Manual Rangkain RL
Arus
Tegangan Tegangan Impedansi
Frekuensi Rangkaian
V Ress Induktor Rangkaian
F, (Hz) (A)
VR, (V) VL, (V) (Ω)

50 5 4,99 V 0,0391V 0,000499 A 10000,30Ω

100 5 0,4215 V 0,661755V 0.00004215 A 18614,24Ω


Arus
Tegangan Tegangan Impedansi
Frekuensi Rangkaian
V Ress Induktor Rangkaian
F, (Hz) (A)
VR, (V) VL, (V) (Ω)

150 5 1,517 V 4,76338V 0,0001954 A 25585,20 Ω

200 5 1,517 V 4,76338V 0,0001517A 32953,90Ω

250 5 1,2344V 4.84502V 0,00012344A 40503,85 Ω

300 5 12220 V 1,222V 0.00002596A 48149,87 Ω

350 5 4.382V 4,926 V 0.0000785A 11410,30 Ω


400 5 7,85 V 4,926 V 0.0000785A 63591,19 Ω
450 5 0,699 V 0,699 V 0,0000699 A 71414.21 Ω

500 5 0,632 V 4.96 V 0,0000632 A 79144.13Ω

3.5.3. Percobaan Respon Frekuensi Rangkaian RC Seri


Adapun di bawah ini merupakan Langkah-langkah dalam percobaan
respon frekuensi dan rangkaian RL seri.
1. Buatlah rangkian RC seperti gambar dibawah rangkaian ditunjukkan
seperti Gambar 3.16.

Gambar 3.16. Rangkaian RC

Berikut ini merupakan gambar rangkaian RC yang terdiri dari


hambatan pada software Multisim, 3.17.

Gambar 3.17. Rangkaian RC pada Multisim


2. Ukurlah sebuah resistor 470 ohm dengan ohm meter. Catatlah hasil dari
pengukuran tersebut pada sebuah Tabel 3.1.
3. Aturlah AG dengan Vout = 5 Vpp dan frekuensi =. Ukurlah tegangan pada
sebuah resistor VR.
4. Dengan rangkaian yang terukur dari VR dan R. Kemudian hitung arus pada
rangkaian pada tiap frekuensi. Catat hasil pengukuran pada sebuah tabel
5. Dengan harga hasil perhitungan dari arus I dan tegangan V, hitung
impedansi Z rangkaian pada tiap frekuensi.
Berikut merupakan perhitungan rangkaian RC menggunakan
Multisim tegangan 5V dan Frekuensi 50 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.18.

Gambar 3.18. Tegangan 5V dan Frekuensi 50 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 100 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.19.

Gambar 3.19. Tegangan 5V dan Frekuensi 100 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 150 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.20

Gambar 3.20. Tegangan 5V dan Frekuensi 150 Hz


Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan
5V dan Frekuensi 200 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.21.

Gambar 3.21. Tegangan 5V dan Frekuensi 200 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 250 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.22.

Gambar 3.22. Tegangan 5V dan Frekuensi 250 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 300 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.23.

Gambar 3.23. Tegangan 5V dan Frekuensi 300 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 350 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.24.

Gambar 3.24. Tegangan 5V dan Frekuensi 350 Hz


Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan
5V dan Frekuensi 400 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.25.

Gambar 3.25. Tegangan 5V dan Frekuensi 400 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 450 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.26.

Gambar 3.26. Tegangan 5V dan Frekuensi 450 Hz

Berikut merupakan perhitungan menggunakan Multisim tegangan


5V dan Frekuensi 500 Hz ditunjukkan pada Gambar 3.27.

Gambar 3.27. Tegangan 5V dan Frekuensi 500 Hz

Berikut merupakan tabel hasil perhitungan menggunakan multisim


yang ditunjukan pada Tabel 3.3. dibawah ini.
Tabel 3.3. Hasil Percobaan Rangkain RC

Frekuensi Tegangan Ress Tegangan Induktor Arus


V Rangkaian
F, (Hz) VR, (V) VL,(V)
(Ω)
50 5 4.998 36.944 4.993
100 5 4.998 18.472 4.992
Frekuensi Tegangan Ress Tegangan Induktor Arus
V Rangkaian
F, (Hz) VR, (V) VL,(V)
(Ω)
150 5 4.998 12.317 4.997
200 5 4.998 9.236 4.992
250 5 4.998 7.39 4.99
300 5 4.997 6.158 4.996
350 5 4.998 5.278 5
400 5 4.998 4.618 4.992
450 5 4.998 4.105 4.997
500 5 4.998 3.695 4.99

3.5.4. Langkah-langkah Perhitungan Manual Mencari Tegangan Resistor,


Arus Rangkaian R-C, Dan Impedansi Rangkaian!
Adapun langkah-langkah perhitungan manual mencari tegangan
resistor, arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
Diketahui
F = 50 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 =2×𝜋×f
𝜔 = 2 × 3,14 × 50
𝜔 = 3,14
1
Xc = ωxc
1
Xc = 3,14 x 0,43

Xc = 0,740631 Ω
Impendasi

Z = √R2 +Xc2

Z = √100002 +0,7406312

Z = √100.000+0,54853
Z =10.02739 Ω
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.02734

Im = 0,498634 A
Tegangan resistor
VR =L×R
VR = 0.498634 × 10.000
VR = 4.98634 V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
Diketahui
F = 100 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 =2×𝜋×f
𝜔 = 2 × 3,14 ×100
𝜔 = 628
1
Xc = 𝜔×𝑐
1
Xc = 628 𝑥 0,43

Xc = 0,0037 Ω
Impendasi

Z =√R2 + Xc2
Z = √100002 +0,0037 2
Z =10.000,007
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.000,007

Im = 0,5 mA
Tegangan resistor
VR =L×R
VR = 0,5 × 10.000
VR =5V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
F = 150 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 = 2× 𝜋 × f
𝜔 = 2 × 3,14 × 150
𝜔 = 942
1
Xc = 𝜔𝑥𝑐
1
Xc = 942 𝑥 0,43

Xc = 0,00246 Ω
Impendasi

Z = √R2 +Xc2

Z = √100002 +2,4962

Z = 10.30679 Ω
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.30679
Im = 0,485117 A
Tegangan resistor
VR =I×R
VR = 0.485117 ×10.000
VR = 4.85177 V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R- C, dan impedansi rangkaian.
Diketahui
F = 200 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 =2×𝜋×f
𝜔 = 2 × 3,14 × 200
𝜔 = 1,256
1
Xc =𝜔×𝑐
1
Xc = 1,256 x 0,43

Xc = 1,872 Ω
Impendasi

Z = √R2 +Xc2

Z = √100002 +1,8722

Z =10.0007 Ω
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.0007
Im = 0,5
Tegangan resistor
VR =I×R
VR = 0,0005 × 10.000
VR =5V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
Diketahui
F = 250 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 =2×𝜋×f
𝜔 = 2 × 3,14 × 250
𝜔 = 1.570
1
Xc = ω×c
1
Xc = 1.570 x 0,43

Xc =1.481 Ω
Impendasi

Z = √R2 +Xc2

Z = √100002 +1.481 2
Z =10000,002 Ω
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im =
10.000.002

Im = 0,5 mA
Tegangan resistor
VR =I×R
VR = 0,0005 ×10.000
VR = 5V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
F = 300 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 =2×𝜋×f
𝜔 = 2 × 3,14 × 300
𝜔 = 1.884
1
Xc = ω×c
1
Xc = 1,884 x 0,43

Xc = 0,00123 Ω
Impendasi

Z = √R2 +Xc2

Z = √100002 +1248
Z = 10.000,0001mA
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.000,0001

Im = 0,5mA
Tegangan resistor
VR =I×R
VR = 0,0005 ×10.000
VR = 5V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
Diketahui
F = 350 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 =2×𝜋×f
𝜔 = 2 × 3,14 × 350
𝜔 = 2199
1
Xc = ω×c
1
Xc = 2.199 x 0,43

Xc = 0,00105 Ω
Impendasi

Z = √R2 + Xc2

Z = √100002 +0,00105 2
Z =10000,0001 mA
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.000,0001

Im = 0,5mA
Tegangan resistor
VR =L×R
VR = 0,0005 ×10.000
VR = 5V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
Diketahui
F = 400 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 =2× 𝜋×f
𝜔 = 2 × 3,14 × 400
𝜔 = 2.513
1
Xc = ω×c
1
Xc = 2.513 x 0,43
Xc = 0,00092 Ω
Impendasi

Z = √R2 +Xc2

Z = √100002 +0,836 2

Z =10.000,0000
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.000,0000

Im = 0,5mA
Tegangan resistor
VR =L×R
VR = 0,0005 ×10.000
VR = 5V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
ω =2×π×f
F = 450 Hz
C = 0,43 F
R = 10k
Reaktansi kapasitif
ω = 2 × 3,14 × 450
𝜔 = 2 × 827
1
Xc = ω×c
1
Xc = 2.827x 0,43

Xc = 0,00082 Ω
Impendasi

Z = √R2 +Xc2
Z = √100002 + 0,6802
Z =10.000,0000
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.000,0000

Im = 0,5mA
Tegangan resistor
VR =L×R
VR = 0,0005 ×10.000
VR = 5V
Berikut merupakan perhitungan manual mencari tegangan resistor,
arus rangkaian R-C, dan impedansi rangkaian.
F = 500 Hz
C = 0,43
R = 10k
Reaktansi kapasitif
𝜔 =2×𝜋×f
𝜔 = 2 × 3,14 × 500
𝜔 = 3.142
1
Xc = ω×c
1
Xc = 3.142 x 0,43

Xc = 0,00074 Ω
Impendasi

Z = √R2 +Xc2

Z = √100002 +0,00074 2
Z =10000,0000
Arus rangkaian
V
Im =Z
5
Im = 10.000,0000

Im = 0,5 mA
Tegangan resistor
VR =L×R
VR = 0,0005 ×10.000
VR =5V
Berdasarkan hitungan dengan berbagai rumus berikut merupakan
hasil tabel perhitungan manual yang ditunjukan pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4. Hasil Percobaan Rangkain RC
Tegangan Tegangan
Frekuensi
V Ress Induktor Arus Rangkaian Impedansi
F, (Hz)
VR, (V) VL, (V)
50 5 0,740631 10.02739 0,498634 mA 4.98634 V
100 5 3,477 10.000,007 0,5 mA 5V
150 5 2,496 10.30679 0,485117 mA 4.85177 V
200 5 1,872 10.0007 0,5 mA 5V
250 5 1,256 1,872 10.0007 mA 5V
300 5 1,884 1.248 10.000,0001 mA 0,5 V
350 5 0,836 10.000,0000 0,5mA 5V
400 5 1,084 10.000,0001 0,5mA 5V
450 5 0,836 10.000,0000 0,5mA 5V
500 5 0,364 10.000,0000 0,5mA 5V

Pada percobaan rangkaian RL dan RC seri, terlihat bahwa frekuensi


mempengaruhi tegangan pada komponen induktif (VL) dan kapasitif (VC). Pada
rangkaian RL, semakin tinggi frekuensi, reaktansi induktif (XL) meningkat,
sehingga menyebabkan tegangan pada induktor (VL) naik, sementara arus
cenderung tetap konstan. Sebaliknya, pada rangkaian RC, tegangan kapasitif
menurun seiring dengan kenaikan frekuensi karena reaktansi kapasitif (XC)
menurun. Ini menyebabkan distribusi tegangan pada resistor dan kapasitor berubah,
dengan tegangan pada kapasitor (VC) berkurang. Secara keseluruhan, frekuensi
memainkan peran penting dalam menentukan karakteristik arus dan tegangan dalam
rangkaian RL dan RC.
3.6. Kesimpulan
Berdasarkan analisis rangkaian RL dan RC seri, dapat disimpulkan bahwa
respon frekuensi sangat memengaruhi perilaku kedua rangkaian. Pada rangkaian
RL, frekuensi yang lebih tinggi menyebabkan peningkatan reaktansi induktif (XL),
yang pada akhirnya mengurangi arus yang mengalir dalam rangkaian. Sebaliknya,
pada rangkaian RC, peningkatan frekuensi menurunkan reaktansi kapasitif (Xc),
yang memungkinkan arus mengalir lebih mudah. Perubahan frekuensi juga
berdampak langsung pada impedansi rangkaian, yang menentukan besar kecilnya
arus yang dapat mengalir. Pemahaman mengenai hubungan antara frekuensi,
tegangan, arus, dan impedansi ini penting dalam perancangan sistem kelistrikan
yang efisien, terutama dalam aplikasi yang melibatkan sinyal AC.
3.7. Daftar Pustaka
[1] Ratih Listiyarini. 2018. Dasar listrik dan elektronika. Yogyakarta: CV
Budi Utama.
[2] Setiawan, A., & Wijaya, A. (2018). Analisis Impedansi pada Rangkaian RC
Seri terhadap Frekuensi Sinyal. Jurnal Teknik Elektro Universitas
Indonesia, 6(2), 123-130.
[3] Wiliam H. Hayt, Jr., Jack E. Kemmaerly, Sreven M. Durbin. 2005.
Rangakaian Listrik. Bandung: Erlangga.
[4] Pratama, D., & Santoso, B. (2020). Analisis Arus dan Frekuensi pada
Rangkaian RC. Jurnal Elektronika dan Instrumentasi, 5(1), 45-53.
Dickson Kho. 1997. Pengertian Fuction Generator. Makassar: [Link]
indo, purnama.

Anda mungkin juga menyukai